Hubungan Pengetahuan Gizi Terhadap Kejadian Anemia pada Pasien Hemodialisis di Rumah Sakit Royal Prima

nutritional knowledge anemia hemodialysis chronic kidney disease hemoglobin

Authors

  • Yohana Maya Faith Sinaga
    yohana0205sinaga@gmail.com
    PUI Phyto Degenerative dan Lifestyle Medicine, Universitas Prima Indonesia, Indonesia
  • Putri Handayani PUI Phyto Degenerative dan Lifestyle Medicine, Universitas Prima Indonesia, Indonesia
  • Linda Chiuman PUI Phyto Degenerative dan Lifestyle Medicine, Universitas Prima Indonesia, Indonesia
October 16, 2026

Downloads

Anemia merupakan komplikasi penyakit ginjal kronik yang dapat mengganggu kondisi kesehatan pasien hemodialisis. Pengetahuan gizi penting untuk mendukung pemilihan makanan dan pengelolaan kebutuhan nutrisi, tetapi hubungannya dengan anemia perlu dikaji. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan pengetahuan gizi dengan kejadian anemia pada pasien hemodialisis di Rumah Sakit Royal Prima. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain observasional analitik potong lintang pada April–Juli 2026. Sebanyak 85 responden dipilih secara purposif dari populasi 108 pasien. Pengetahuan gizi diukur menggunakan kuesioner terstruktur, sedangkan kadar hemoglobin diperoleh melalui rekam medis. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji Chi-Square, dan Cramer’s V. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah laki-laki (60,0%), dengan rerata lama hemodialisis 18,46 bulan. Rerata kadar hemoglobin mencapai 11,49 ± 1,623 g/dL, dan 43 responden (50,6%) mengalami anemia. Uji Chi-Square menunjukkan hubungan bermakna antara pengetahuan gizi dan kejadian anemia (?² = 63,849; p < 0,001), dengan kekuatan hubungan sangat kuat (Cramer’s V = 0,867). Temuan ini mendukung relevansi pengetahuan gizi dalam pengelolaan pasien, meskipun anemia bersifat multifaktorial dan hubungan tersebut tidak membuktikan sebab-akibat. Kesimpulannya, pengetahuan gizi berhubungan secara signifikan dengan kejadian anemia pada sampel penelitian. Edukasi gizi individual dapat dipertimbangkan sebagai bagian pelayanan hemodialisis, disertai evaluasi klinis dan penelitian lanjutan yang mengendalikan faktor perancu untuk memperjelas hubungan kedua variabel yang diteliti.