Kontribusi Beban Panas Internal dari Sistem Pencahayaan Terhadap Peningkatan Temperatur Udara dalam Ruang Ibadah

artificial lighting thermal comfort kupang city

Authors

September 15, 2026

Downloads

Kota Kupang memiliki iklim sabana tropis dengan temperatur udara berkisar antara 26°C hingga 35°C sepanjang tahun, sehingga kenyamanan termal menjadi faktor penting dalam perancangan bangunan, terutama pada bangunan ibadah dengan kapasitas penghuni yang besar. Gereja Santo Yosep Pekerja Penfui Kupang menjadi fokus penelitian karena wilayah Nusa Tenggara Timur menempati urutan pertama jumlah umat kristiani di Indonesia dengan 2,9 juta jiwa, dan Kota Kupang menduduki peringkat pertama dengan 789.042 umat (85,11% dari total populasi). Penelitian ini bertujuan menganalisis kontribusi beban panas internal dari sistem pencahayaan terhadap peningkatan temperatur udara dalam ruang ibadah. Metode yang digunakan adalah eksperimental terkontrol dengan mengisolasi efek panas lampu dari variabel manusia dan panas matahari, yaitu dengan mengosongkan ruang ibadah, mematikan AC, menutup seluruh jendela dan pintu, kemudian menyalakan sistem penerangan sebagai variabel bebas, sementara temperatur udara dalam ruang sebagai variabel terikat diukur secara kontinu menggunakan CO2/Temp/RH Data Logger selama 1 jam operasional lampu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pencahayaan 1.575 watt (menggunakan BF=1,05) menyumbang beban panas internal sebesar 8,8 W/m² dan berpotensi meningkatkan temperatur udara dalam ruang sebesar 2,1°C setelah 1 jam operasional lampu. Kenaikan temperatur ini cukup signifikan dan dapat menyebabkan ketidaknyamanan termal bagi pengguna ruang ibadah. Oleh karena itu, diperlukan penambahan sistem pendingin ruangan berupa AC, kipas angin, serta pengaturan bukaan dan sirkulasi udara yang tepat untuk mengatasi permasalahan kenyamanan termal dalam ruang gereja.