Representasi Kearifan Lokal Jepang pada Film Demon Slayer
DOI:
https://doi.org/10.58344/jii.v5i5.7748Keywords:
kearifan lokal Jepang, semiotika Peirce, film anime, representasi budaya, Demon SlayerAbstract
Perkembangan anime sebagai media global menunjukkan bahwa film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana komunikasi budaya yang merepresentasikan nilai dan identitas suatu masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana kearifan lokal Jepang direpresentasikan dalam film Demon Slayer melalui pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan paradigma konstruktivis, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi mendalam terhadap elemen visual dan naratif film serta studi literatur. Analisis dilakukan melalui identifikasi tanda, klasifikasi ikon, indeks, dan simbol, serta interpretasi makna budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kearifan lokal Jepang seperti gaman, omoiyari, dan harmoni sosial direpresentasikan secara implisit melalui sinematografi, kostum, dialog, dan alur cerita. Ikon terlihat pada latar dan visual budaya, indeks pada hubungan sebab-akibat dalam narasi, dan simbol pada nilai sosial serta motif visual. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa budaya Jepang dalam film Demon Slayer direpresentasikan melalui tanda-tanda semiotik dalam bentuk ikon, terutama terkait dengan latar tempat, kostum tradisional, dan elemen visual yang menyerupai realitas budaya Jepang. Indeks terutama berkaitan dengan hubungan sebab-akibat dalam alur cerita yang mencerminkan nilai perjuangan, tanggung jawab, dan pengorbanan. Sementara itu, simbol berkaitan dengan penggunaan bahasa, motif visual, serta nilai-nilai sosial yang merepresentasikan identitas, etika, dan kearifan lokal Jepang.
References
Network, A. N. (2024). Demon Slayer: Infinity Castle film draws 2.2 million viewers in 10 days. Anime News Network.
Analisis semiotika pesan moral dalam anime Demon Slayer: Mugen Train (2022). (artikel/paper lokal). repositori universitas.
Andriani, D. I. (2022). Semiotic analysis on Kimetsu no Yaiba movie posters. E- Journal Universitas Batam, 5(2), 78–89.
Adelia, I., & Suryandari, N. (2024). Komunikasi Antarbudaya dalam Komunitas Cosplay: Eksplorasi Adaptasi Budaya Jepang di Surabaya. Jurnal Media Akademik, 3(6).
Artha, P. A., & Arsal, T. (2024). Fanatisme Pada Anime terhadap Pergeseran Perilaku Konservasi Budaya Lokal di Kota Semarang. SOCIA: Jurnal Ilmu-Ilmu
Befu, H. (2001). The Japanese sense of self. Westview Press.
Bordwell, D., & Thompson, K. (2019). Film art: An introduction (12th ed.). McGraw-Hill Education.
Braun, V., & Clarke, V. (2006). Using thematic analysis in psychology. Qualitative Research in Psychology, 3(2), 77–101. https://doi.org/10.1191/1478088706qp063oa Sosial, 21(1).
Chandler, D. (2007). Semiotics: The basics (2nd ed.). Routledge.
Clements, J. (2023). Anime: A history (2nd ed.). British Film Institute Publishing.
Dall, A. (2019). Kimono: The art and evolution of Japanese fashion. Thames & Hudson.
Deo Gustirandra Putra. (2022). Analisis semiotika Peirce terhadap nilai budaya Jepang pada film animasi 'Koe no Katachi'. (Tesis). Universitas Gadjah Mada Repository.
Denzin, N. K., & Lincoln, Y. S. (2018). The SAGE Handbook of Qualitative Research (5th ed.). Sage Publications.
Denzin, N. K. (2012). Triangulation in qualitative research. London: Sage Publications.
Eco, U. (1976). A theory of semiotics. Indiana University Press.
FamilyMart Japan. (2024). Kimetsu no Yaiba × FamilyMart collaboration campaign announcement. FamilyMart Co., Ltd.
Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures. Basic Books.
Gordon, A. (2014). A modern history of Japan: From Tokugawa times to the present (3rd ed.). Oxford University Press.
Gultom, D. S., & Satria, P. (2024). Anime & perkembangannya. University of North Sumatra, Faculty of Computer Science and Information Technology.
Hasanuddin University. Asri, R. A., & Taqdir, T. (2024). Representasi Kepemimpinan Tokoh Utama dalam Anime “Dr. Stone”: Analisis Semiotika Peirce. NAWA: Journal of Japanese Studies, 2(2).
Ito, K. (2012). A genealogy of the Japanese ghost story. In J. McRoy (Ed.), Japanese horror cinema (pp. 25–36). Palgrave Macmillan. https://doi.org/10.1057/9781137019882_3
Intertextual folk cultural phenomenon of the Demon Slayer (Kimetsu no Yaiba) (2022). — kajian transmedia dan transcultural consumption.
Kompare, R., & Tomc, H. G. (2023). Analysis of movie genres experiencing when changing post-production stylistic elements of the media.
Laksana, S. I. (2024). A Peircean Semiotic Analysis of Icons, Indexes, and Symbols in Baran Bo Odar’s Who Am I. EDUKASI KULTURA Jurnal Bahasa Sastra dan Budaya, 12(1).
Napier, S. J. (2020). Anime from Akira to Howl’s Moving Castle: Experiencing contemporary Japanese animation (2nd ed.). Palgrave Macmillan.
Nye, J. S. (2004). Soft power: The means to success in world politics. PublicAffairs.
Oricon News. (2023). Demon Slayer: Mugen Train surpasses box office records in Japan and globally. Oricon.
Peirce, C. S. (1931–1958). Collected Papers of Charles Sanders Peirce. Harvard University Press.
Pratista, H. (2020). Memahami film (Edisi revisi). Salemba Humanika.
Patioran, A. P., Niode, B., & Rengkung, F. R. D. (2024). Peran Diplomasi Anime dalam Menyebarkan Budaya Jepang di Indonesia. POLITICO: Jurnal Ilmu Politik, 12(2).
Puspitasari, A., Wiradharma, G., Prasetyo, M. A., & Rakasiwi, A. (2024). Persuasi Pariwisata Jepang melalui Content Tourism Film Anime: Perspektif Komunikasi Massa Penggemar Anime. IDEA: Jurnal Studi Jepang.
Ramdhan, A., & Prayoga, C. (2023). Identitas visual budaya Jepang dalam manga Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba. INSIDE: Jurnal Desain Interior, 1(1), 1–21.
Sugimoto, Y. (2021). An introduction to Japanese society (5th ed.). Cambridge University Press.
Suharso, P. (2021). Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Representasi Budaya pada Media Film di Indonesia. Jurnal Ilmu Komunikasi dan Kajian Media, 5(2), 112–123.
Supiarza, H. (2021). Semiological studies of symbolism in anime and popular media: methodological reflections. Cinematology Journal, 3(1), 23–41.
Sartini. (2018). Menggali Kearifan Lokal Nusantara: Sebuah Kajian Filsafati. Jurnal Filsafat, 28(1), 15–26.
Seaton, P. (2019). Japan’s escape from Asia? The role of the “anime tourist” in national identity construction. Asian Anthropology, 18(3), 255–272. https://doi.org/10.1080/1683478X.2019.1638092
Sobur, A. (2016). Semiotika komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Usman, K. P. M., & Harini, Y. N. A. (2024). Analisis mise en scène dalam film pendek Tilik (2018).
Wisanggeni, W. P. (2019). Soft power Jepang di dalam anime Samurai Champloo sebagai bentuk diplomasi kebudayaan. LUGAS: Jurnal Komunikasi, 3(2), 64–72.
Wulandari, A. E., Konety, N., & Nidatya, N. (2024). Representasi Unsur Kebudayaan Jepang pada Era Taish? dalam Anime Kimetsu no Yaiba. Jurnal Sakura: Sastra, Bahasa, Kebudayaan dan Pranata Jepang, 6(2).
Yunus, R. N., & Aswar, L. (2024). Semiotic study of the animation film 'Mother's Power' (application of C. S. Peirce). IJMEAL: International Journal of Media and Educational Arts & Literature, 1(4).
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Kezia Sarah Suatan, Jefri Audi Wempi

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International (CC-BY-SA). that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work.





