Ritual Keo Rado dalam Masyarakat Bajawa: Tinjauan Teologi Penciptaan terhadap Makna Kehidupan dan Eksistensi Manusia setalah Kematian
Main Article Content
Ritual Keo Rado di komunitas Bajawa, Kabupaten Ngada, Flores, merupakan praktik tradisional yang mencerminkan pemahaman lokal tentang kematian, hubungan dengan leluhur, dan keberlanjutan eksistensi setelah mati. Ritual ini tidak hanya berfungsi sosial-budaya, tetapi juga mengandung pandangan dunia kosmologis. Studi ini bertujuan menganalisis makna ritual Keo Rado dalam terang teologi penciptaan, khususnya mengenai martabat manusia sebagai ciptaan Tuhan dan pemahaman tentang kehidupan setelah kematian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui riset pustaka, yang berfokus pada literatur antropologi dan teologi yang berkaitan dengan budaya masyarakat Ngada, ritual kematian tradisional, dan teologi penciptaan. Analisis dilakukan melalui refleksi teologis interpretatif dan kontekstual tentang makna simbolis yang ada dalam ritual tersebut. Studi ini menemukan bahwa ritual Keo Rado mencerminkan kesadaran mendalam akan hubungan yang saling terkait antara manusia, alam, leluhur, dan Sang Pencipta. Dalam perspektif ini, kematian tidak dipahami sebagai akhir dari eksistensi tetapi sebagai transisi menuju dimensi kehidupan lain yang tetap terhubung dengan komunitas dan sumber kehidupan ilahi. Penelitian ini menyiratkan bahwa tradisi budaya lokal dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan teologi kontekstual, khususnya dalam memahami makna kehidupan manusia, kematian, dan harapan akan kehidupan setelah kematian.
Barker, J. (2022). Christianity and indigenous cosmologies in Southeast Asia. Religions, 13(4), 312. https://doi.org/10.3390/rel13040312
Bevans, S. B. (2002). Model-Model Teologi Kontekstual. Ledalero.
Colombijn, F., & Cote, J. (2022). Urban rituals and communal identity in Indonesian society. Journal of Southeast Asian Studies, 53(1), 45–67. https://doi.org/10.1017/S0022463422000078
Geertz, C. (1992). Kebudayaan dan Agama. Kanisius.
Hauken, A. (2005). Teologi Dasar: Dasar-Dasar Teologi Katolik. Kanisius.
Howell, S. (2021). Ritual, cosmology, and social order in eastern Indonesian communities. Oceania, 91(2), 178–195. https://doi.org/10.1002/ocea.5278
Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Rineka Cipta.
Kraft, K. (2020). Contextual theology and cultural engagement in postcolonial Asia. Missiology: An International Review, 48(2), 115–130. https://doi.org/10.1177/0091829619899632
Lina, P. (2022). Mata Golo, the Keo Rado Ritual, and the Death of Jesus Christ. Journal of Asian Orientation and Theology, 4(1), 1–26. https://doi.org/10.24071/jaot.v4i1.4483
Lon, Y. S. (2015). Makna Ritual Kematian dalam Budaya Masyarakat Ngada di Flores. Jurnal Ledalero, 14(2).
Neonbasu, G. (2018). Relasi Kosmologis dalam Budaya Flores. Jurnal Undana, 12(3). https://ejournal.undana.ac.id/index.php/jk/article/view/136
Riyanto, A. (2018). Relasionalitas. Kanisius.
Schiller, A. (2022). Death ritual and cosmological meaning in Austronesian societies. Journal of the Royal Anthropological Institute, 28(1), 89–107. https://doi.org/10.1111/1467-9655.13654
Schröter, S. (1998). Ritual Kematian Orang Ngada di Flores Tengah. Yayasan Obor Indonesia.
Singgih, E. G. (2000). Iman dan Politik. BPK Gunung Mulia.
Swain, T., & Trompf, G. (2021). Religion, culture, and identity in Melanesian and Indonesian communities. Exchange, 50(3), 201–220. https://doi.org/10.1163/1572543X-12341583
Tule, P. (2004). Longing for the House of God: Dwelling in the Cosmology of the Ngada People. Ledalero.
Vischer, L. (2023). Inculturation and liturgical practice in Catholic communities of eastern Indonesia. Theological Studies, 84(1), 55–75. https://doi.org/10.1177/00405639221148762
Winangun, Y. W. (1990). Masyarakat Bebas Struktur: Liminalitas dan Komunitas menurut Victor Turner. Kanisius.
