ANALISIS FAKTOR RISIKO
DALAM PENGGUNAAN PESTISIDA TERHADAP KELUHAN
KESEHATAN PADA PETANI SAWAH DI GAMPONG LAYAN KECAMATAN TANGSE KABUPATEN
PIDIE TAHUN 2022
Firman Ihsan 1, Radhiah Zakaria 2 Zukifli
3
Universitas Muhammadiyah Aceh
1
Email: [email protected]
|
|
Abstract |
|
|
Received: |
05-06-2022 |
Pesticides
are materials that can be widely used in various sectors, especially in the
agriculture or plantation, forestry, fisheries, and food agriculture sectors.
The use of pesticides in the agricultural sector aims to eliminate nuisance
plants, fungi, insects, rodents, and other organisms so as to have an impact
on increasing agricultural production. From the results of interviews with
researchers in Gampong Layan, it was found that
most of the respondents had worked as farmers for more than 10 years, and
routinely carried out spraying activities and some of them did not understand
and did not use complete PPE. high health complaints on farmers and lack of
knowledge in the use of pesticides. The population in this study were all
rice farmers in Gampong Layan, Tangse
District in 2022 as many as 133 farmers. The sample in the study was 57
farmers. Data collection was carried out from February 26 to March 1, 2022
using a questionnaire through interviews. Data analysis used the Chi-Square
test with the SPSS 21 program.
The results showed that there were 64.9% of respondents
with health complaints, 64.9% of respondents who did not use PPE, and 63.2%
of respondents who did not use pesticides properly. ,
respondents with less knowledge were 73.7%, respondents with disapproval
attitudes were 66.7%, respondents who had long exposure contact 2
hours/activity were 68.4% and respondents with advanced age were 64.9%. It is
recommended that farmers always use PPE to avoid the negative impact on the
use of pesticides. It is suggested to farmers who use pesticides to be
careful because it will have a negative impact, especially when used at high
concentrations, the time of use and the type of pesticide. |
|
Accepted: |
13-06-2022 |
|
|
Published: |
20-06-2022 |
|
|
Keywords: |
Pesticides;
Knowledge; Attitude; Age; Length of Exposure. |
|
|
|
Abstrak |
|
|
Kata kunci: |
Pestisida; Pengetahuan; Sikap; Umur; Lama Kontak Paparan. |
Pestisida adalah bahan yang dapat digunakan secara luas pada berbagai sektor, terutama di sektor pertanian atau perkebunan, kehutanan, perikanan, dan pertanian pangan. Penggunaan pestisida pada sektor pertanian bertujuan untuk menghilangkan tanaman pengganggu, jamur, serangga, binatang pengerat, dan organisme lainnya sehingga berdampak pada naiknya produksi pertanian. Dari hasil wawancara peneliti di Gampong Layan didapatkan bahwa kebanyakan responden sudah lebih dari
10 tahun bekerja sebagai petani, dan rutin melakukan kegiatan penyemprotan dan diantaranya belum mengerti dan belum menggunakan APD yang lengkap. tingginya keluhan Kesehatan
pada petani serta kurangnya pengetahuan dalam penggunaan pestisida. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
petani sawah di Gampong
Layan Kecamatan Tangse Tahun 2022 sebanyak 133 Petani. Sampel dalam penelitian sebanyak 57 petani. Pengumpulan data yang dilakukan
dari tanggal 26 februari � 01 Maret 2022 dengan menggunakan kuesioner melalui wawancara. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan
program SPSS 21. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat responden dengan keluhan kesehatan sebesar 64,9%, responden yang tidak memakai APD sebesar 64,9%, responden yang tindakan penggunaan pestisida tidak baik sebesar
63,2%, responden dengan pengetahuan kurang sebesar 73,7%, responden dengan sikap tidak setuju sebesar 66,7%, responden yang
lama kontak paparan
≥ 2jam/kegiatan sebesar
68,4% dan responden dengan
umur dewasa lanjut sebesar 64,9%. Disarankan petani untuk selalu menggunakan APD agar terhindar dari dampak buruk
pada penggunaan pestisida.
Disarankan kepada para petani dalam pengguna pestisida harus berhati-hati karena akan berdampak
negatif terutama bila digunakan pada konsentrasi yang tinggi, waktu penggunaan dan jenis pestisida |
Corresponding Author: Firman Ihsan�
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Pestisida adalah salah satu bahan yang dapat digunakan secara luas pada berbagai sektor, terutama di sektor pertanian/perkebunan, kehutanan, perikanan, dan pertanian pangan(Arwin &
Suyud, 2016). Penggunaan pestisida pada sektor pertanian bertujuan untuk menghilangkan tanaman pengganggu, jamur, serangga, binatang pengerat, dan organisme lainnya sehingga berdampak pada naiknya produksi pertanian (Rahmasari & Musfirah, 2020)
Penggunaan pestisida di dunia
mencapai 3,5 juta ton per tahunnya. Penggunaan pestisida dengan jenis highly toxic kebanyakan dipergunakan di
negara- negara berkembang termasuk
Indonesia(KUSUMA & Purba, 2019). Secara global
WHO memperkirakan terjadinya
keracunan pestisida menyebabkan 300.000 kematian per tahunnya dan kebanyakan terjadi di negara-negara berpenghasilan
rendah dan menengah(Minaka, Sawitri, & Wirawan, 2016).
Penggunaan pestisida sudah menjadi bagian
yang tidak dipisahkan dari aktivitas petani dan sektor pertanian. Menggunakan pestisida merupakan suatu aktivitas yang termasuk dalam tugas pekerjaan(Afrianto, 2014). Berdasarkan
data Kementerian Pertanian Republik
Indonesia pada tahun 2016, tercatat
ada 3.247 formulasi pestisida yang digunakan untuk sektor pertanian
dan kehutanan. Pestisida disatu sisi dianggap
mampu mengendalikan hama dan penyakit tanaman oleh sektor pertanian, di sisi lain, penggunaan pestisida dapat mengakibatkan dampak negatif yang sangat besar, yakni pencemaran
lingkungan dan gangguan pada
kesehatan (Hanifa
Maher Denny, n.d.).
Penggunaan pestisida yang tidak bijaksana dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, salah satunya misalnya keracunan(Fikri, Sulandjari, & Dahlia, 2021). Keracunan pestisida pada petani terkait dengan beberapa faktor yaitu: faktor dari
dalam tubuh (internal) dan dari luar tubuh
(eksternal)(Hayati,
Kasman, & Jannah, 2018). Faktor dalam tubuh misalnya
umur, jenis kelamin, genetik, status gizi, kadar hemoglobin, tingkat pengetahuan dan status kesehatan(Damayanti, 2018). Sedangkan faktor dari luar
tubuh mempunyai peranan yang besar antara lain : banyaknya pestisida yang digunakan, jenis pestisida, dosis pestisida, frekuensi penyemprotan, pemakaian APD, cara penanganan pestisida, kontak terakhir dengan pestisida, ketinggian tanaman, suhu lingkungan, waktu penyemprotan (Yuantari, 2009).
Indonesia mencatat kejadian keracunan pestisida yang sangat tinggi Dari hasil pemantauan cholinesterase
darah terhadap 347 pekerja di bidang pertanian di Jawa Tengah ditemukan 23,64% pekerja keracunan sedang dan 35,73 keracunan berat(Adrianto & Yuwono, 2018). Hampir semua
penyakit kronis yang diderita oleh petani diakibatkan oleh penggunaan pestisida semprot yang dilepaskan ke udara,
yang apabila dihirup melalui hidung dan masuk melalui mulut
maka zat-zat beracun tersebut dapat masuk ke
paru-paru dan merusaknya,
dan dengan cepat pestisida masuk ke dalam darah
dan menyebar racun ke seluruh tubuh
(Amaliyah, 2017).
Laporan tahunan pusat data dan informasikan obat dan makanan tanggal 31 Desember 2019 oleh
BPOM menyatakan terdapat
7.143 data yang dikumpulkan oleh rumah
sakit di Indonesia. Kemudian
dilakukan tahap verifikasi data dan pembersihan
data dengan hasil akhir berjumlah 6.205 data keracunan. Kasus keracunan terjadi di semua kelompok usia dengan kasus
keracunan tertinggi pada kelompok usia 20-24 tahun dengan jenis
kelamin terbanyak perempuan sebanyak 477 kasus dan laki-laki sebanyak 392 kasus. Diikuti dengan kelompok usia >= 60 tahun dengan jenis
kelamin laki-laki sebanyak 436 kasus, perempuan sebanyak 269 kasus dan kelompok usia 25-29 tahun dengan jenis kelamin
perempuan sebanyak 359 kasus, laki-laki sebanyak 323 kasus (Obat & Indonesia, 2014).
Petani dan penjamah pestisida sangat rentan terpapar bahaya pestisida. Pestisida adalah salah satu kelompok bahan beracun yang berbahaya (B3) dan merupakan persistent
organic pollutants (POPS), yang seharusnya penggunaan dilakukan sesuai prosedur yang sehat dan aman. Telah banyak bukti penelitian
menunjukan adanya gangguan kesehatan pada masyarakat akibat paparan pestisida, dari yang ringan sampai berat hingga
menimbulkan kematian(Ropen &
Sugiarto, 2021).
Berdasarkan data Dinas Pertanian
Aceh (2017), memberikan beberapa
contoh upaya yang dilakukan dalam pengelolaan hama dan penyakit yang menyerang tanaman pertanian seperti pengendalian hama pada tanaman bawang merah. Kegiatan
pengendalian hama ini selain menggunakan
pestisida kimia juga mengedepankan terhadap penggunaan agens hayati dan pestisida nabati yang digunakan sebelum penanaman dan dalam masa penanaman sehingga dapat mengurangi serangan OPT di Lapangan dan mendapatkan hasil produksi yang bebas bahan kimia.
Untuk petani Aceh di Gayo Lues dan Bener Meriah khususnya petani bawang merah
hampir 60% yang melakukan cara-cara bercocok tanam yang ramah
lingkungan dengan penggunaan agens hayati dan pestisida nabati, sedangkan pada petani di Kota Langsa sekitar 60% petani menggunakan pestisida nabati untuk dapat
membasmi keong mas yang berefek positif untuk lahan pertanian.
Persentase penggunaan pestisida pembasmi keong mas bisa dikatakan 60% berhasil, akan tetapi rekod
penggunaan pestisida tertinggi yang berefek negatif terdapat di Kabupaten Aceh Utara hampir 80% petani menggunakan penyemprotan pestisida kimia untuk membasmi
hama-hama sehingga mengakibatkan petani keracunan pestisida .
Penggunaan pestisida umumnya digunakan oleh petani untuk meningkatkan
hasil panennya. Petani dapat terpapar
pestisida mulai dari proses pencampuran pestisida sampai panen tanaman yang sebelumnya dirawat. Selain terpapar pestisida petani juga rawan terkena paparan
dari penggunaan pupuk dalam proses perawatan tanaman yang dapat menimbulkan efek pada kesehatan dan sering dikaitkan dengan timbulnya gejala dermatitis(Astuti & Widyastuti, 2017).
Berdasarkan data Dinas Pertanian
Aceh tahun menunjukkan Kabupaten Aceh Utara sebagai penggunaan pestisida paling tinggi terutama pada petani bawang. Berdasarkan dari data Dinas Pertanian Aceh selain Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Pidie juga tinggi dalam penggunaan pestisida pada petani sawah dan Gampong Layan termasuk salah satu contoh gampong
yang menggunakan pestisida dalam aktivitas pertaniannya.
Risiko berdasarkan Jenis Pestisida yang Digunakan Dalam penggunaan pestisida perlu diperhatikan jenis pestisida yang digunakan. Dalam aturannya dianjurkan bahwa penggunaan pestisida pada satu tanaman adalah satu jenis saja.
Namun dikarenakan banyak ragamnya dan organisme pengganggu tanaman yang sering menyerang tanaman, petani cenderung menggunakan beberapa jenis pestisida baik secara berkala
maupun sekaligus. penggunaan pestisida yaitu tepat jenis,
dimana jenis pestisida yang digunakan harus sesuai dengan
sasaran yang akan di basmi (Eka Lestari Mahyuni,
2014). Berdasarkan penelitian
Mwabulambo et al.
(2018) menunjukkan bahwa petani yang kurang lengkap menggunakan APD akan memiliki risiko
penghambatan kolinesterase
dan gejala kesehatan neurologis yang lebih besar dibandingkan petani dengan penggunaan
APD yang lengkap. Istianah
& Yuniastuti (2017) menyatakan
bahwa sebesar 72,9% responden yang mengalami keracunan pestisida sebagian besar menggunakan APD tidak lengkap. Sebesar 60,9% petani hortikultura di Desa Pancasari Buleleng memiliki keluhan kesehatan yang spesifik yang berkaitan dengan penggunaan pestisida dan pemakaian APD. Penggunaan APD lebih banyak digunakan hanya pada saat penyemprotan dan sangat jarang
pada saat pencampuran dan pasca penyemprotan padahal potensi terpapar pestisida tetap tinggi (Minaka
et al., 2016).
Gampong Layan merupakan
salah satu Gampong yang terdapat di Kabupaten Pidie dengan mata
pencaharian penduduk sebagian besar merupakan petani. Hampir seluruh masyarakatnya bekerja setiap harinya di sawah dan melakukan aktivitas pertanian. Dari hasil wawancara dan observasi ada survey awal kepada 10 responden didapatkan 7 diantara 10 responden mengalami keluhan dengan gejala terbanyak sering bernapas pendek dan kemampuan sembuh dari batuk-batuk
berkurang, mendadak pusing, gatal-gatal pada kulit dan sensitivitas lidah berkurang dalam merasakan manis dan asin. Dari hasil wawancara juga didapatkan bahwa kebanyakan responden sudah lebih dari
10 tahun bekerja sebagai petani, dan�� rutin melakukan kegiatan penyemprotan dan diantaranya belum mengerti dan belum menggunakan APD yang lengkap. tingginya keluhan Kesehatan pada petani serta kurangnya pengetahuan dalam penggunaan pestisida. Berdasarkan hasil survey awal peneliti tertarik
untuk meneliti tentang �Analisis Faktor risiko dalam
penggunaan pestisida terhadap keluhan Kesehatan pada petani di Gampong Layan Kecamatan Tangse Tahun 2022�.
METODE
PENELITIAN
Jenis penelitian ini bersifat Deskriptif
Analitik dengan Desain Cross Sectional Study. Cross Sectional adalah
suatu rancangan penelitian observasional yang dilakukan untuk mengetahui hubungan variabel independen dengan variabel dependen dimana pengukurannya dilakukan pada satu waktu atau
secara bersamaan (Indra dan
Cahyaningrum, 2019). Yang bertujuan
untuk mengetahui faktor risiko penggunaan
pestisida terhadap keluhan kesehatan pada petani di Gampong Layan Kecamatan Tangse tahun 2022.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Bab ini menjelaskan tentang hasil penelitian,
uraian dimulai dengan analisa univariat dan analisa bivariat. Analisa univariat menggambarkan secara deskriptif untuk melihat distribusi frekuensi variabel-variabel yang diteliti baik variabel
dependen atau independen yaitu: keluhan kesehatan, pemakaian APD, tindakan penggunaan pestisida, pengetahuan, sikap, lama kontak paparan dan umur. Analisa bivariat digunakan untuk mengetahui hipotesis dengan menggunakan uji statistik chi-square untuk melihat hubungan
antara variabel independen (variabel bebas) dengan varibel
dependen ( variabel
terikat).
Hasil pengumpulan data yang dilakukan dari tanggal 26 Februari sampai 01 Maret 2022 terhadap 57 sampel di Gampong Layan Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie tahun 2022. Teknik pengumpulan
data dilakukan dengan wawancara langsung kepada responden menggunakan kuesioner maka diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 6.1
DISTRIBUSI
FREKUENSI KELUHAN KESEHATAN DI GAMPONG LAYAN �KECAMATAN TANGSE
KABUPATEN PIDIE TAHUN
2022
|
No |
Keluhan Kesehatan |
Frekuensi |
% |
|
1 |
Ada Keluhan |
37 |
64,9 |
|
2 |
Tidak Ada Keluhan |
20 |
35,1 |
|
Total |
57 |
100 |
|
Sumber : Data Primer ( DiolahTahun 2022)
Berdasarkan tabel 6.1 dari 57
responden yang mengatakan ada keluhan kesehatan
sebanyak 37 (64,9%) dan responden
yang mengatakan tidak ada keluhan kesehatan
sebanyak 20 (35,1%) di Gampong
Layan Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie tahun 2022.
Tabel
6.2
DISTRIBUSI FREKUENSI PEMAKAIAN APD DI
GAMPONG
LAYAN KECAMATAN TANGSE KABUPATEN PIDIE
TAHUN 2022
|
No |
Pemakaian
APD |
|
Frekuensi |
% |
|
1 |
Memakai |
|
20 |
35,1 |
|
2 |
Tidak Memakai |
|
37 |
64,9 |
|
Total |
|
57 |
100 |
|
Sumber : Data Primer ( DiolahTahun
2022)
�� Berdasarkan tabel 6.2 dari 57 responden yang ada memakai APD sebanyak 20 (35,1%) dan responden
yang tidak memakai APD sebanyak 35 (64,9%) di Gampong
Layan Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie tahun 2022.
Tabel 6.3
DISTRIBUSI FREKUENSI TINDAKAN PENGGUNAAN
PESTISIDA
DI GAMPONG
LAYAN KECAMATAN TANGSE KABUPATEN PIDIE TAHUN 2022
|
No |
Tindakan Penggunaan Pestisida |
Frekuensi |
% |
|
1 |
Baik |
21 |
36,8 |
|
2 |
Tidak Baik |
36 |
63,2 |
|
Total |
57 |
100 |
|
Sumber
:
Data Primer
( DiolahTahun 2022)
Berdasarkan tabel 6.3 dari 57 responden yang tindakan penggunaan pestisida baik sebanyak 21 (36,8%)
dan responden yang tindakan penggunaan pestisida tidak baik sebanyak 36 (63,2%)
di Gampong Layan Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie tahun 2022.
Tabel 6.4
DISTRIBUSI FREKUENSI PENGETAHUAN DI GAMPONG
LAYAN KECAMATAN TANGSE
KABUPATEN PIDIE TAHUN
2022
|
No |
Pengetahuan |
Frekuensi |
% |
|
1 |
Baik |
15 |
26,3 |
|
2 |
kurang Baik |
42 |
73,7 |
|
Total |
57 |
100 |
|
Sumber
:
Data Primer
( DiolahTahun 2022)
Berdasarkan tabel 6.4 dari 57 responden yang berpengetahuan baik sebanyak 15 (26,3%) dan responden
yang berpengetahuan kurang baik sebanyak 42 (73,7%)
di Gampong Layan
Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie tahun 2022.
Tabel 6.5
DISTRIBUSI FREKUENSI SIKAP DI GAMPONG LAYAN KECAMATAN TANGSE �KABUPATEN PIDIETAHUN 2022
|
No |
Sikap |
Frekuensi |
% |
|
1 |
Positif |
19 |
33,3 |
|
2 |
Negatif |
38 |
66,7 |
|
Total |
57 |
100 |
|
Sumber : Data Primer ( DiolahTahun 2022)
Berdasarkan tabel 6.5 dari 57 responden yang memiliki sikap positif sebanyak 19 (33,3%)
dan responden yang memiliki sikap negatif sebanyak 38 (66,7%)
di Gampong Layan
Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie tahun 2022.
Tabel 6.6
DISTRIBUSI FREKUENSI LAMA KONTAK PAPARAN DI
GAMPONG
LAYAN KECAMATAN TANGSE
KABUPATEN PIDIE TAHUN
2022
|
No |
Lama Kontak Paparan |
Frekuensi |
% |
|
1 |
≥2 jam/kegiatan |
39 |
68,4 |
|
2 |
<2 jam/kegiatan |
18 |
31,6 |
|
Total |
57 |
100 |
|
Sumber : Data Primer ( DiolahTahun 2022)
Berdasarkan tabel 6.6 dari 57 responden yang lama kontak paparan ≥2
jam/kegiatan sebanyak
39 (68,4%) dan responden yang lama kontak paparan <2 jam/kegiatan sebanyak 18 (31,6%) di Gampong
Layan Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie tahun 2022.
Tabel 6.7
DISTRIBUSI FREKUENSI UMUR DI GAMPONG LAYAN KECAMATAN
�TANGSE KABUPATEN PIDIE TAHUN 2022
|
No |
Umur |
Frekuensi |
% |
|
1 |
Dewasa |
20 |
35,1 |
|
2 |
Dewasa Lanjut |
37 |
64,9 |
|
Total |
57 |
100 |
|
Sumber : Data Primer ( DiolahTahun 2022)
Berdasarkan tabel 6.7 dari 57
responden yang berumur dewasa sebanyak 20 (35,1%)
dan responden yang berumur dewasa lanjut sebanyak 37 (64,9%)
di Gampong Layan
Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie tahun 2022.
Tabel 6.8
HUBUNGAN
PEMAKAIAN APD DENGAN KELUHAN KESEHATAN DI GAMPONG LAYAN KECAMATAN TANGSE KABUPATEN PIDIE TAHUN 2022
|
No |
Pemakaian APD |
Keluhan Kesehatan |
Total |
P Value |
||||
|
Ada Keluhan |
Tidak Ada Keluhan |
|||||||
|
n |
% |
n |
% |
N |
% |
|
||
|
1 |
Memakai |
9 |
45,0 |
11 |
55,0 |
20 |
100 |
0,040 |
|
2 |
Tidak Memakai |
28 |
75,6 |
9 |
24,3 |
37 |
100 |
|
|
|
Jumlah |
37 |
64,9 |
20 |
35,0 |
57 |
100 |
|
Sumber : Data
Primer ( Diolah Tahun 2022)
Tabel 6.8 menjelaskan hasil analisis hubungan pemakaian APD dengan keluhan kesehatan, menunjukan bahwa proporsi responden yang ada keluhan kesehatan lebih dominan pada responden yang tidak memakai APD sebesar 75,6% dibandingkan pada responden yang memakai APD sebesar 45,0% sedangkan proporsi responden yang tidak ada keluhan kesehatan
lebih dominan pada responden yang memakai APD sebesar 55,0% dibandingkan pada responden yang tidak memakai APD sebesar 24,3%.
Hasil uji statistik dengan menggunakan chi-square diperoleh nilai p value 0,040 < 0,05 berarti
(Ho) ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan pemakaian APD dengan keluhan kesehatan di Gampong Layan Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie tahun 2022.
Tabel 6.9
HUBUNGAN TINDAKAN
PENGGUNAAN PESTISIDA DENGAN KELUHAN KESEHATAN �DI GAMPONG
LAYAN KECAMATAN TANGSE
KABUPATEN PIDIE TAHUN
2022
|
No |
Tindakan Penggunaan Pestisida |
Keluhan Kesehatan |
Total |
P Value |
||||
|
Ada Keluhan |
Tidak Ada Keluhan |
|||||||
|
n |
% |
n |
% |
N |
% |
|
||
|
1 |
Baik |
10 |
47,6 |
11 |
52,3 |
21 |
100 |
0,048 |
|
2 |
Tidak Baik |
27 |
75,0 |
9 |
25,0 |
36 |
100 |
|
|
|
Jumlah |
37 |
64,9 |
20 |
35,0 |
57 |
100 |
|
Sumber : Data
Primer ( Diolah Tahun 2022)
Tabel 6.9 menjelaskan hasil analisis hubungan tindakan penggunaan pestisida dengan keluhan kesehatan, menunjukan bahwa proporsi responden yang ada keluhan kesehatan
lebih dominan pada responden yang tindakan penggunaan pestisida tidak baik sebesar 75,0% dibandingkan pada responden yang tindakan penggunaan pestisida baik sebesar 47,6% sedangkan proporsi responden yang tidak ada keluhan kesehatan lebih dominan pada responden yang tindakan penggunaan pestisida baik sebesar 52,3% dibandingkan pada responden yang tindakan penggunaan pestisida tidak baik sebesar 25,0%.
Tabel 6.10
HUBUNGAN
PENGETAHUAN DENGAN KELUHAN KESEHATAN DI GAMPONG
LAYAN �KECAMATAN TANGSE KABUPATEN PIDIE TAHUN 2022
|
No |
Pengetahuan |
Keluhan Kesehatan |
Total |
P Value |
||||
|
Ada Keluhan |
Tidak Ada Keluhan |
|||||||
|
n |
% |
n |
% |
N |
% |
|
||
|
1 |
Baik |
5 |
33,3 |
10 |
66,6 |
15 |
100 |
0,005 |
|
2 |
Kurang Baik |
32 |
76,1 |
10 |
23,8 |
42 |
100 |
|
|
|
Jumlah |
37 |
64,9 |
20 |
35,0 |
57 |
100 |
|
Sumber :
Data Primer ( Diolah Tahun
2022)
Tabel 6.10 menjelaskan hasil analisis hubungan pengetahuan dengan keluhan kesehatan, menunjukan bahwa proporsi responden yang ada keluhan kesehatan lebih dominan pada responden yang memiliki pengetahuan kurang baik sebesar 76,1% dibandingkan pada responden yang memiliki pengetahuan baik sebesar 33,3% sedangkan proporsi responden yang tidak ada keluhan kesehatan lebih dominan pada responden yang memiliki pengetahuan baik sebesar 66,6% dibandingkan pada responden memiliki pengetahuan kurang baik sebesar 23,8%.
Hasil uji statistik
dengan menggunakan
chi-square di peroleh nilai
p value 0,005 < 0,05 berarti (Ho) ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan pengetahuan dengan keluhan kesehatan di Gampong Layan Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie tahun 2022.
Tabel 6.11
HUBUNGAN SIKAP DENGAN KELUHAN KESEHATAN DI
GAMPONG
LAYAN���� KECAMATAN TANGSE KABUPATEN
PIDIE TAHUN 2022
|
No |
Sikap |
Keluhan Kesehatan |
Total |
P Value |
||||
|
Ada Keluhan |
Tidak Ada Keluhan |
|||||||
|
n |
% |
n |
% |
N |
% |
|
||
|
1 |
Positif |
8 |
42,1 |
11 |
57,8 |
19 |
100 |
0,018 |
|
2 |
Negatif |
29 |
76,3 |
9 |
23,6 |
38 |
100 |
|
|
|
Jumlah |
37 |
64,9 |
20 |
35,0 |
57 |
100 |
|
�
Sumber : Data
Primer ( Diolah Tahun 2022)
Tabel 6.11 menjelaskan hasil analisis hubungan sikap dengan keluhan kesehatan, menunjukan bahwa proporsi responden yang ada keluhan kesehatan lebih dominan pada responden yang memiliki sikap negatif sebesar 76,3% dibandingkan pada responden yang memiliki sikap positif sebesar 42,1% sedangkan proporsi responden yang tidak ada keluhan kesehatan lebih dominan pada responden yang memiliki sikap positif sebesar 57,8% dibandingkan pada responden memiliki sikap negatif sebesar 23,6%.
Hasil uji statistik dengan menggunakan chi-square diperoleh nilai p value 0,018
< 0,05 berarti (Ho) ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan sikap dengan keluhan kesehatan di Gampong Layan Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie tahun 2022.
Tabel 6.12
HUBUNGAN
LAMA KONTAK PAPARAN DENGAN KELUHAN KESEHATAN
�DI GAMPONG LAYAN KECAMATAN TANGSE
KABUPATEN PIDIE TAHUN 2022
|
No |
Lama Kontak Paparan |
Keluhan Kesehatan |
Total |
P Value |
||||
|
Ada Keluhan |
Tidak Ada Keluhan |
|||||||
|
n |
% |
n |
% |
N |
% |
|
||
|
1 |
≥2 jam/kegiatan |
29 |
74,3 |
10 |
25,6 |
39 |
100 |
0,039 |
|
2 |
<2 jam/kegiatan |
8 |
44,4 |
10 |
55,5 |
18 |
100 |
|
|
|
Jumlah |
37 |
64,9 |
20 |
35,0 |
57 |
100 |
|
Sumber :
Data Primer ( Diolah Tahun
2022)
Tabel 6.12 menjelaskan hasil analisis hubungan lama kontak paparan dengan keluhan kesehatan, menunjukan bahwa proporsi responden yang ada keluhan kesehatan lebih dominan pada responden yang lama kontak paparan ≥2 jam/kegiatan sebesar 74,3% dibandingkan pada responden yang lama kontak paparan <2 jam/kegiatan sebesar 44,4% sedangkan proporsi responden yang tidak ada keluhan kesehatan lebih dominan pada responden yang lama kontak paparan <2 jam/kegiatan sebesar 55,5% dibandingkan pada responden lama kontak paparan ≥2 jam/kegiatan sebesar 25,6%.
Hasil uji statistik dengan menggunakan chi-square diperoleh nilai p value 0,039 < 0,05 berarti (Ho) ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan lama kontak paparan dengan keluhan kesehatan di Gampong Layan Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie tahun 2022.
Tabel 6.13
HUBUNGAN UMUR
DENGAN KELUHAN KESEHATAN DI GAMPONG LAYAN KECAMATAN TANGSE
KABUPATEN PIDIE TAHUN 2022
|
No |
Umur |
Keluhan Kesehatan |
Total |
P Value |
||||
|
Ada Keluhan |
Tidak Ada Keluhan |
|||||||
|
n |
% |
n |
% |
N |
% |
|
||
|
1 |
Dewasa |
8 |
40,0 |
12 |
60,0 |
20 |
100 |
0,008 |
|
2 |
Dewasa Lanjut |
29 |
78,3 |
8 |
21,6 |
37 |
100 |
|
|
|
Jumlah |
37 |
64,9 |
20 |
35,0 |
57 |
100 |
|
Sumber : Data
Primer ( Diolah Tahun 2022)
Tabel 6.13 menjelaskan
hasil analisis hubungan umur dengan
keluhan kesehatan, menunjukan bahwa proporsi responden yang ada keluhan kesehatan
lebih dominan pada responden yang berumur dewasa lanjut sebesar
78,3% dibandingkan pada responden
yang berumur dewasa sebesar 40,0% sedangkan proporsi responden yang tidak ada keluhan
kesehatan lebih dominan pada responden yang berumur dewasa sebesar 60,0%dibandingkan pada responden
yang berumur dewasa lanjut sebesar 21,6%.
Hasil uji statistik
dengan menggunakan
chi-square diperoleh nilai
p value 0,008 < 0,05 berarti (Ho) ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan umur dengan keluhan
kesehatan di Gampong Layan Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie tahun 2022.
Berdasarkan tabel 6.8 hasil uji statistik dengan menggunakan chi-square di peroleh nilai p value 0,040 <
0,05 berarti (Ho) ditolak.
Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan pemakaian APD dengan keluhan kesehatan di Gampong Layan Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie tahun 2022.
Alat Pelindung Diri atau APD dapat
didefinisikan sebagai alat yang mempunyai kemampuan melindungi seseorang dalam pekerjaannya, yang fungsinya mengisolasi pekerja dari bahaya tempat
kerja. Metode pengendalian potensi cedera terhadap paparan bahan-bahan berbahaya atau bentuk-bentuk energi yang ditemukan di lingkungan tempat kerja umumnya
diklasifikasikan menjadi tiga kategori, dimana semuanya saling berkaitan, yaitu pengendalian rekayasa, pengendalian administratif dan alat pelindung diri (Rijanto, 2011).
Untuk menghindari kontaminasi secara langsung dengan pestisida dapat diminimalisir dengan menggunakan alat pelindung diri seperti :
topi, masker, baju lengan panjang,
celana panjang kacamata dan lain-lain. Pentingnya
menggunakan alat pelindung oleh petani dan cara mengaplikasikan pestisida secara tepat diharapkan dapat mengurangi paparan yang dapat mengenai pengguna secara langsung dan mengurangi resiko ( Dwi, 2015). APD merupakan kewajiban yang harus digunakan petani saat sedang
melakukan pencampuran maupun penyemprotan pestisida agar terhindar dari bahaya yang dapat ditimbulkan oleh pestisida (Cahyono, 2010).
Berdasarkan tabel 6.9 hasil uji statistik dengan menggunakan chi-square diperoleh nilai p value 0,048
< 0,05 berarti (Ho) ditolak.
Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan tindakan penggunaan pestisida dengan keluhan kesehatan di Gampong Layan Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie tahun 2022.
Menurut penelitian (Manalu, 2014) Tingginya keluhan kesehatan petani dikarenakan bahwa selama itu
petani terpapar pestisida yang digunakan untuk menyemprot tanaman pertaniannya. Racun pestisida ini masuk ke
dalam tubuh bisa melalui kulit
karena petani tidak pernah menggunakan
sarung tangan, dan terhirup lalu masuk
melalui sistem pernafasan karena petani tidak menggunakan
masker. Selain itu penyemprotan dilakukan secara berlawanan arah dengan arah
angin, sehingga pestisida yang disemprotkan berbalik terbawa angin ke arah
petani. Seharusnya penyemprotan dilakukan searah dengan arah
angin. Sehingga dampak dari penggunaan
pestisida yang salah menyebabkan
petani sering merasa pusing, dan badan terasa lemah.�
Berdasarkan tabel 6.10 hasil uji statistik dengan menggunakan chi-square diperoleh nilai p value 0,005
< 0,05 berarti (Ho) ditolak.
Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan pengetahuan dengan keluhan kesehatan di Gampong Layan Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie tahun 2022.
Pengetahuan yang cukup mengenai pestisida sangat penting dimiliki oleh seseorang yang akan mengaplikasikan pestisida, khususnya petani penyemprot pestisida, karena dengan pengetahuan
yang cukup para petani penyemprot dapat melakukan pengelolaan pestisida dengan cara yang dianjurkan, sehingga risiko keracunan dapat dihindari (Isnawan, 2013).
Pengetahuan yang dimaksud dalam hal ini
adalah sesuatu yang dimengerti dan dipahami oleh seorang petani mengenai cara penggunaan
pestisida, dosis pestisida yang sesuai, jenis pestisida yang digunakan, pengelolaan pestisida setelah digunakan, serta penggunaan alat pelindung diri sebagai upaya pencegahan
terjadinya dampak negatif yang ditimbulkan dari penggunaan pestisida dalam kegiatan pertanian (Minaka, 2016).
Banyak pengguna pestisida yang tidak mengetahui bahaya dan dampak negatif terutama bila digunakan
pada konsentrasi yang tinggi,
waktu penggunaan dan jenis pestisida. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan dan informasi petani mengenai pestisida. Sehingga pengetahuan petani tentang pestisida masih sangat kurang (Suparti, 2016).
Berdasarkan tabel 6.11 hasil uji statistik dengan menggunakan chi-square di peroleh nilai p value 0,018 <
0,05 berarti (Ho) ditolak.
Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan sikap dengan keluhan kesehatan di Gampong Layan Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie tahun 2022.
Menurut Notoatmodjo
(2012), seseorang telah setuju terhadap objek, maka akan
terbentuk pula sikap positif terhadap obyek yang sama. Apabila sikap positif
terhadap suatu program atau objek telah
terbentuk, maka diharapkan akan terbentuk niat untuk melakukan program tersebut. Bila niat itu betul-betul
dilakukan, hal ini sangat bergantung dari beberapa aspek
seperti tersediannya sarana dan prasarana serta kemudahankemudahan lainnya, serta pandangan orang lain disekitarnya.
Niat untuk melakukan tindakan, misalnya menggunakan alat pelindung diri secara baik
dan benar pada saat melakukan penyemprotan pestisida, seharusnya sudah tersedia dan praktis sehingga petani mau menggunakannya.
Hal ini merupakan dorongan untuk melakukan tindakan secara tepat sesuai
aturan kesehatan sehingga resiko terjadinya keracunan pestisida dapat dicegah atau dikurangi
pelindung diri secara lengkap dan benar.
Berdasarkan tabel 6.12 hasil uji statistik dengan menggunakan chi-square diperoleh nilai p value 0,039
< 0,05 berarti (Ho) ditolak.
Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan lama kontak paparan dengan keluhan kesehatan di Gampong Layan Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie tahun 2022.
Semakin lama bekerja menggunakan pestisida semakin tinggi pula faktor risiko terjadinya
penumpukan racun dalam tubuh dan pada akhirnya akan menyebabkan
terjadinya keracunan kronis. Semakin lama kontak dengan pestisida
sehingga resiko keracunan terhadap pestisida semakin tinggi. Penurunan aktivitas kolinesterase dalam plasma darah karena keracunan pestisida akan berlangsung mulai seseorang terpapar hingga 2 minggu setelah melakukan penyemprotan (Anggraini, 2014).
Berdasarkan tabel 6.13 hasil uji statistik dengan menggunakan chi-square diperoleh nilai p value 0,008
< 0,05 berarti (Ho) ditolak.
Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan umur dengan
keluhan kesehatan di Gampong Layan Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie tahun 2022.
Usia merupakan fenomena alam, semakin lama seseorang hidup maka usia
semakin bertambah. Semakin bertambah usia seseorang maka semakin banyak
hal yang dialaminya, bertambahnya usia seseorang metabolisme tubuh akan menurun
dan akibatnya menurun aktivitas kolinesterase darah sehingga mempermudah terjadinya keluhan kesehatan yaitu keracunan pestisida. Usia berkaitan dengan kekebalan tubuh seseorang dalam mengatasi tingkat toksisitas suatu zat, semakin bertambah
usia seseorang maka sistem kekebalan
di dalam tubuh akan semakin berkurang.
Usia merupakan Unchangeable Risk Factors, yaitu faktor risiko
tidak dapat berubah atau tetap
(Isnawan, 2013).
Petani penyemprot pestisida yang berusia >50 tahun risiko keracunan
pestisida sangat berpotensi
terjadi. Ditambah lagi pekerjaan sebagai penyemprot sudah dijalankan selama berpuluh-puluh tahun. Usia berkaitan
dengan kekebalan tubuh dalam mengatasi
tingkat toksisitas suatu zat, semakin
tua umur seseorang maka efektivitas sistem kekebalan di dalam tubuh akan semakin
berkurang. Hal ini berarti pekerja memiliki resiko tinggi terjadinya keracunan pestisida.
KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa keenam variabel memiliki hubungan dengan keluhan kesehatan di Gampong Layan Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie tahun 2022. Yaitu: Ada hubungan antara pemakaian APD dengan keluhan kesehatan di Gampong Layan Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie tahun 2022. nilai P Value = 0,040. Ada hubungan
antara tindakan penggunaan pestisida dengan keluhan kesehatan di Gampong Layan Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie tahun 2022. nilai P Value = 0,048.
Ada hubungan antara pengetahuan dengan keluhan kesehatan di Gampong Layan Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie tahun 2022. nilai P Value = 0,005. Ada hubungan
antara sikap dengan keluhan kesehatan di Gampong Layan Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie tahun 2022.nilai P Value = 0,018. Ada hubungan
antara lama kontak paparan dengan keluhan kesehatan di Gampong Layan Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie tahun 2022.nilai P Value =
0,039. Ada hubungan antara umur dengan keluhan
kesehatan di Gampong Layan Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie tahun 2022.nilai P Value = 0,008.
BIBLIOGRAFI
�
Adrianto, Hebert, & Yuwono, Natalia.
(2018). Pengantar Blok Penyakit Tropis: Dari Zaman Kuno Hingga Abad 21
Terkini. Pustaka Abadi.
Afrianto, Defri. (2014). Pengaruh
penyuluhan terhadap pengetahuan, sikap dan tindakan petani paprika di desa
Kumbo-Pasuruan terkait penggunaan alat pelindung diri (APD) dari bahaya
pestisida tahun 2014.
Amaliyah, Nurul. (2017). Penyehatan
makanan dan minuman-A. Deepublish.
Arwin, Nella Mutia, & Suyud, Suyud.
(2016). Pajanan pestisida dan kejadian anemia pada petani holtikultura di
Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut tahun 2016. Berita Kedokteran Masyarakat,
32(7), 245�250.
Astuti, Widi, & Widyastuti, Catur Rini.
(2017). Pestisida organik ramah lingkungan pembasmi hama tanaman sayur. Rekayasa:
Jurnal Penerapan Teknologi Dan Pembelajaran, 14(2), 115�120.
Damayanti, Ni Wayan Uki. (2018). KADAR
HEMOGLOBIN (HB) BERDASARKAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG ANEMIA PADA SISWI SMA
NEGERI 1 TEMBUKU, BANGLI. Politeknik Kesehatan Denpasar.
Fikri, Muhamad Rom Ali, Sulandjari,
Kuswarini, & Dahlia, Endah. (2021). RESPON PETANI TERHADAP PENYULUHAN
PENGGUNAAN PESTISIDA SECARA BAIK DAN BENAR DI KELOMPOK TANI MUKTI DESA CIBUNTU
KABUPATEN PURWAKARTA. Jurnal Agrimanex: Agribusiness, Rural Management, and
Development Extension, 2(1).
Hanifa Maher Denny, H. M. D. (n.d.). Pedoman
Penggunaan Pestisida Secara Aman dan Sehat di Tempat Kerja Sektor Pertanian
(Bagi Petugas Kesehatan).
Hayati, Ridha, Kasman, Kasman, &
Jannah, Raudatul. (2018). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Penggunaan Alat
Pelindung Diri pada Petani Pengguna Pestisida. Promotif: Jurnal Kesehatan
Masyarakat, 8(1), 11�17.
KUSUMA, VYRNA SISTIKA, & Purba, Imelda
Gernauli. (2019). HUBUNGAN KARAKTERISTIK PETANI DAN FAKTOR LINGKUNGAN DENGAN
KELUHAN KESEHATAN SUBYEKTIF PADA PETANI PENYEMPROT PESTISIDA DI DESA SIRING
AGUNG KECAMATAN PAGAR GUNUNG KABUPATEN LAHAT TAHUN 2019. Sriwijaya
University.
Minaka, IADA, Sawitri, Anak Agung Sagung,
& Wirawan, Dewa Nyoman. (2016). Hubungan penggunaan pestisida dan alat
pelindung diri dengan keluhan kesehatan pada petani hortikultura di buleleng,
bali. Public Health and Preventive Medicine Archive, 4(1),
94�103.
Obat, Badan Pengawas, & Indonesia,
Makanan Republik. (2014). Laporan Tahunan 2014. Yogyakarta.
Rahmasari, Dani Aulia, & Musfirah,
Musfirah. (2020). Faktor Yang Berhubungan Dengan Keluhan Kesehatan Subjektif
Petani Akibat Penggunaan Pestisida Di Gondosuli, Jawa Tengah. Jurnal
Nasional Ilmu Kesehatan, 3(1), 14�28.
Ropen, Ropen, & Sugiarto, Sugiarto.
(2021). Faktor Yang Berhubungan dengan Kejadian Anemia Pada Petani Sayur. Indonesian
Journal of Health Community, 2(1), 28�34.
Yuantari, Maria Goretti Catur. (2009). Studi
Ekonomi Lingkungan Penggunaan Pestisida Dan Dampaknya Pada Kesehatan Petani Di
Area Pertanian Hortikultura Desa Sumber Rejo Kecamatan Ngablak Kabupaten
Magelang Jawa Tengah (Environmental Economic Study Of Pesticide Using And It�s
Effect On The Heal. program Pascasarjana Universitas Diponegoro.