STRATEGI PENGEMBANGAN DAYA TARIK WISATA BAHARI KELURAHAN TOGOLOBE PULAU HIRI

Betly Taghulihi  

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun Maluku Utara

Email: betlytaghulihi18@gmail.com

 

Abstract

Received:

02-06-2022

This study aims to develop a strategy for developing a marine tourism attraction in Togolobe Village, Hiri Island. Hiri Island is one of the sub-districts in the city of Ternate. On Hiri Island there are several interesting tourist attractions such as underwater tourist attractions, hole stones, shark shows and several other tourist attractions. One of the tourist attractions that are in great demand by local tourists at this time is the shark show in Kelu Togolobe. This shark is very unique because it can appear on the beach and play with the surrounding community. What makes this shark interesting is the process of calling by giving food to the sea so that in about 10 minutes the shark will immediately come swimming to the shore. The research output target is the formulation of a strategic concept of developing marine tourism attraction in Togolobe Village, Hiri Island, to become a reference for tourism development on Hiri Island. The findings in this study conclude that there are 4 alternative strategies and programs for developing marine tourism attractions; (1). Develop tourism products. Making connecting tour packages, fishing attractions and seeing dolphins. (2) improve the safety and comfort of tourists by implementing CHSE, (3). Provide tourism facilities (toilet, parking lot, TIC, homestay, port repair), Promote and expand network (4). Improving the quality of human resources through formal and informal education channels.

Accepted:

10-06-2022

Published:

20-06-2022

Keywords:

Development Strategy; Tourist Attraction; Marine

 

Abstrak

Kata kunci:

Strategi Pengembangan; Daya Tarik Wisata; Bahari

Pulau hiri terdapat beberapa objek wisata yang menarik seperti daya tarik wisata bawah laut, batu lobang, pertunjukkan hiu dan beberapa daya tarik wisata lainnya. Salah satu atraksi wisata yang banyak diminati wisatawan lokal pada waktu sekarang ini adalah pertunjukan hiu yang ada di kelu togolobe. Hiu ini sangat unik sebab bisa muncul di tepian pantai dan bermain dengan masyarakat sekitar. Yang membuat hiu ini menarik adalah proses pemanggilan dengan memberikan makanan ke laut sehingga sekitar 10 menit hiu akan segera datang berenang ke tepian. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun strategi pengembangan daya tarik wisata bahari Kelurahan Togolobe Pulau Hiri. Pulau Hiri adalah salah satu kecamatan yang ada di kota ternate. Jenis penelitian ini merupakan gabungan antara kualitatif dan kuantitatif yang dilakukan dengan pengumpulan data dan pengamatan langsung (observasi), wawancara mendalam (depth interview), penyebaran angket (kuesioner) dan dokumen. Temuan dalam penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi alternatif dan program pengembangan daya tarik wisata bahari ada 4 diantaranya; (1). Mengembangkan produk wisata. Membuat paket wisata connecting tour, atraksi memancing dan melihat lumba – lumba. (2) meningkatkan keamanan dan kenyamanan wisatawan dengan menerapkan CHSE, (3). Menyediakan fasilitas pariwisata (toilet, tempat parkir, TIC, homestay, perbaikan pelabuhan), Melakukan promosi dan memperluas jaringan (4). Meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui jalur pendidikan formal dan informal.

Corresponding Author: Nama author 

E-mail: (Calibri (Body), Font Size 10)

 

PENDAHULUAN

Secara ekonomi peran pariwisata bagi Indonesia tidak dapat diragukan lagi karena pariwisata memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap peningkatan perekonomian, memperluas lapangan pekerjaan dan menambah devisa negara(Islamiyah, 2018). Pariwisata menjadi primadona bagi setiap daerah sehingga perhatian pemerintah paling besar juga terfokus pada pengembangan pariwisata (Rani, 2014).

Negara berkembang menurut (Damanik, Sims, & Stolz, 2002) salah satu isu utama kajian pembangunan pariwisata adalah kontribusi sektor pariwisata bagi perluasan peluang kerja. Sektor pariwisata di Negara berkembang memiliki efek berantai dalam penciptaan kesempatan kerja. Pekerjaan langsung tercipta dari pembangunan infrastruktur seperti hotel, restoran, sarana rekreasi, kerajinan tangan, dan fasilitas lainnya. Semakin berkembang industri pariwisata semakin tinggi variasi pekerjaan yang diciptakan (Suharto, Damanik, Baiquni, & Fandeli, 2014).

Industri pariwisata dapat meningkatkan hubungan persahabatan antar bangsa dan Negara (Mahfuzh, 2020). Pariwisata juga berpengaruh positif terhadap adat istiadat, kebudayaan, tata cara keagamaan, cara berpikir masyarakat dan peningkatan pengetahuan oleh karena itu pariwisata merupakan peradaban yang dapat mempengaruhi seluruh aspek kehidupan (Sulistyadi, Eddyono, & Entas, 2019).

Dampak negatif ketika industri pariwisata mulai berkembang yaitu membutuhkan lahan yang luas sehingga menyebabkan tanah masyarakat bisa habis terjual, selain itu pengaruh negatif lainnya seperti menyebabkan kerawanan sosial, kriminal dan berbagai penyakit sosial yang mengganggu ketertiban dan ketentraman sehingga dalam situasi tidak aman maka pariwisata akan terancam itulah sebabnya menjaga keamanan merupakan usaha yang sangat penting bagi kelangsungan hidup pariwisata (Benu & Moniaga, 2016).

Pariwisata sangat berpengaruh terhadap lingkungan alam dan sosial budaya, sebab itu dalam pembangunan pariwisata perlu dipikirkan kebijakan yang akan ditempuh bukan saja keinginan untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar – besarnya pada aspek ekonomi tetapi juga adanya upaya pelestarian lingkungan hidup baik lingkungan fisik (tangible) maupun lingkungan sosial budaya (intangible)(Kemendikbud, 2015). Dengan terwujudnya lingkungan yang lestari maka industri pariwisata akan berlangsung secara berkelanjutan. Sebaliknya, rusaknya lingkungan hidup maka pariwisata akan menjadi surut(Manik, 2018). Dengan demikian pelestarian lingkungan hidup diharapkan terselenggara secara berkelanjutan.

Maluku utara (Malut) adalah salah satu provinsi yang terletak di bagian Timur Indonesia. Mempunyai 10 (sepuluh) kabupaten kota membuat provinsi ini menjadi salah satu destinasi favorit apalagi setelah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menetapkan salah satu kabupaten di Malut yaitu Kabupaten Morotai menjadi destinasi prioritas (Abdul Hakim & Hd, 2018). Hal ini ini merupakan angin segar bagi pelaku wisata yang ada di kabupaten morotai secara khusus industri pariwisata dan juga masyarakat. Potensi wisata yang ada di morotai membuat wisatawan penasaran untuk berwisata di morotai.

Selain morotai, di Malut juga terdapat banyak sekali potensi alam pegunungan maupun bahari, sejarah dan budaya yang tersebar di 10 kabupaten kota ini. Salah satu kota yang ada di Malut adalah kota ternate. Kota ternate merupakan pusat perbelanjaan dan pintu masuk bagi semua pengunjung yang akan berkunjung ke Malut. Kota ternate mempunyai 1 (satu) bandara dan beberapa pelabuhan yang menghubungkan akses antar pulau di malut.

   Di kota ternate terdapat potensi alam bahari dan pegunungan.  Selain itu objek wisata sejarah juga sangat banyak di kota ternate hal ini dikarenakan terlihat beberapa benteng peninggalan portugis yang terpampang di kota ternate. Kota ternate merupakan kota kepulauan yang terdiri dari 3 pulau besar dan 5 pulau kecil (Mulyono & Putro, 2019). Ibukota ternate adalah ternate tengah dengan wilayah administratif terdiri dari 8 kecamatan dan 78 kelurahan. Pusat pemerintahan berada di terbesarnya yaitu pulau ternate (Kota Ternate dalam angka, 2021).

Selama 5 (lima) tahun terakhir meskipun dalam masa pandemi covid 19 yang membuat sektor pariwisata mengalami penurunan yang sangat signifikan di seluruh wilayah Indonesia bahkan di dunia namun kunjungan wisatawan ke objek wisata di kota ternate tetap terlihat normal. Hal itu terlihat dalam data kunjungan wisatawan yang diambil oleh Dinas Pariwisata Kota Ternate seperti pada tabel dibawah ini:

 

Tabel 1.1 Kunjungan Wisatawan dalam 5 Tahun Terakhir

No

Nama Objek Wisata

2017

2018

2019

2020

2021/Bulan Agustus

1.

Batu Angus

16.168

11.731

14.475

11.361

10.144

2.

Pantai Sulamadaha

38.208

27.196

15.379

12.987

35.183

3.

Danau Tolire Besar

30.831

30.296

21.136

19.726

12.341

Total

85.207

69.223

50.990

44.074

57.668

Sumber: Dinas Pariwisata Pariwisata Kota Ternate, Tahun 2021

 

Berdasarkan tabel 1.1 diatas, minat wisatawan domestik dan lokal sangat tinggi meskipun tahun 2020 terjadi penurunan kunjungan namun pada tahun 2021 terjadi peningkatan kembali. Hal ini berarti kota ternate masih menjadi destinasi favorit yang dipilih oleh wisatawan domestik dan wisatawan lokal.

Pulau Hiri adalah salah satu kecamatan yang ada di kota ternate. Di pulau hiri terdapat beberapa objek wisata yang menarik seperti daya tarik wisata bawah laut, batu lobang, pertunjukkan hiu dan beberapa daya tarik wisata lainnya. Salah satu atraksi wisata yang banyak diminati wisatawan lokal pada waktu sekarang ini adalah pertunjukan hiu yang ada di kelu togolobe. Hiu ini sangat unik sebab bisa muncul di tepian pantai dan bermain dengan masyarakat sekitar. Yang membuat hiu ini menarik adalah proses pemanggilan dengan memberikan makanan ke laut sehingga sekitar 10 menit hiu akan segera datang berenang ke tepian.

Pertunjukan atraksi hiu ini memang menarik tetapi perlu disusun strategi agar wisatawan yang berkunjung tidak akan bosan berada di lokasi objek serta masyarakat dapat memanfaatkan peluang ini untuk meningkatkan pendapatan dan perekonomian di lokasi dekat objek.

Penelitian ini akan menyusun strategi pengembangan daya tarik wisata bahari kelurahan togolobe agar dapat memberi manfaat kepada masyarakat sebagai pelaku usaha jasa dan memberikan kepuasan kepada wisatawan selaku pemakai jasa wisata.

Tujuan Penelitian untuk Menyusun Strategi Pengembangan Daya Tarik Wisata Bahari di Kelurahan Togolobe Pulau Hiri.

 

METODE PENELITIAN

1.    Gambaran Umum Kelurahan Togolobe

Jenis penelitian ini merupakan gabungan antara kualitatif dan kuantitatif  yang dilakukan dengan pengumpulan data dan pengamatan langsung (observasi), wawancara mendalam (depth interview), penyebaran angket (kuesioner) dan dokumen.

Penyajian hasil analisis data dapat dilakukan secara formal maupun secara informal. Alat yang dipakai untuk menyusun faktor – faktor strategis adalah matriks SWOT. Penelitian ini bersifat mengeksplorasi dan merumuskan kebijakan dan program – program berdasarkan kondisi internal berupa kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses) yang dimiliki serta situasi eksternal berupa peluang (opportunities) dan ancaman (threats).

Penggunaan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini adalah dengan mencocokan realita empirik dengan teori yang berlaku menggunakan metode deskriptif (Moleong, 2005). Hasil analisis data disajikan secara verbal dengan teknik deskriptif interpretatif artinya hasil analisis dipaparkan sebagaimana adanya dan pada bagian tertentu diinterpretasikan sesuai dengan teori dan kerangka pikiran yang berlaku umum. Hasil penelitian atau analisis disajikan dalam bentuk laporan ilmiah.

Kelurahan Togolobe adalah salah satu kelurahan yang terletak di Pulau Hiri. Kelurahan ini berada tepat di pintu masuk pulau hiri. Togolobe berasal dari kata “Togo” artinya umpan ikan dan “Lobe” artinya alat penerang sehingga arti togolobe adalah mencari umpan ikan dengan memakai alat penerang di malam hari. Secara geografis Togolobe berdekatan dengan pantai dan laut (Subuh, 2020). Luas wilayah Togolobe adalah 9,64 ha. Kelurahan ini terbentuk memanjang dari arah utara menuju timur yang berbatasan dengan Kelurahan Mado. Secara administratif kelurahan ini termasuk dalam wilayah kecamatan pulau hiri.

Adapun jumlah penduduk sebanyak 439 jiwa dengan jumlah kepala keluarga 107. Jumlah laki – laki 213 orang dan perempuan 226 orang. Masyarakat di kelurahan Togolobe sebagian besar berprofesi sebagai petani dan nelayan.

2.   Daya Tarik  Wisata di Kelurahan Togolobe

Menurut  (Indonesia, 2010) daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau kunjungan wisatawan.

Kelurahan Togolobe mempunyai daya tarik wisata yang menarik yaitu pertunjukkan atraksi hiu. Hiu yang merupakan golongan ikan seharusnya berada di laut dalam tetapi menariknya hiu ini malah lebih sering muncul di permukaan serta ke tepian pantai untuk bermain – main di air. Hal ini menjadi peluang bagi masyarakat setempat untuk memanfaatkan hiu menjadi atraksi wisata ketika berkunjung ke pulau hiri (Tanlain, Jeddawi, & Djunaedi, 2019). Munculnya hiu di permukaan  membuat masyarakat di Togolobe mengaitkan dengan sejarah masa yang diyakini menurut legenda pasukan Kesultanan Hiri bergabung dengan beberapa kesultanan lainnya untuk melakukan ekspansi wilayah kesultanan, semua pasukan menggunakan satu kapal namun pada saat di tengah lautan kapal mengalami kebocoran sehingga membuat semua pasukan tenggelam. Karena jarak yang terlalu jauh untuk berenang ke tepian pantai dari tengah laut membuat pasukan kewalahan namun tiba – tiba muncullah hiu dan menolong para pasukan untuk dibawa ke daratan dengan selamat. Semenjak saat itu para pasukan memberitahukan kepada seluruh masyarakat bahwa hiu itu tidak jahat dan tidak boleh dimakan. Hal inilah yang membuat masyarakat pulau hiri sampai sekarang tidak pernah memakan hiu bahkan jika saat masyarakat mencari ikan dan menemukan hiu, maka hiu itu langsung dilepaskan kembali.

Atraksi hiu yang ada di Kelurahan Togolobe dipertunjukkan hampir setiap hari, berawal dari salah satu masyarakat sekaligus pemilik homestay hiri di tepi pantai togolobe membuang insang ikan dan darah ikan dilaut membuat hiu muncul dipermukaan. Pemilik homestay ini mengira bahwa hal ini biasa saja namun lama kelamaan hiu terus bermunculan dan semakin banyak muncul di permukaan. Pemilik homestay akhirnya terinspirasi untuk membuat pertunjukkan atraksi hiu.

Beberapa wisatawan lokal mengaku sangat senang karena melihat hiu yang muncul di tepian pantai namun ada juga yang merasa was – was jika tiba – tiba hiu akan berubah menjadi jahat.

Dalam pengembangan atraksi hiu ini perlu adanya strategi untuk membuat atraksi ini menjadi lebih terkenal bahkan bisa bermanfaat untuk masyarakat sekitar togolobe. Oleh sebab itu beberapa strategi akan disusun berdasarkan analisis SWOT untuk mengukur kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman sehingga pengembangan atraksi wisata hiu dapat terarah sesuai dengan hasil kajian.

Sebelum menentukan strategi pengembangan daya tarik wisata bahari Togolobe perlu terlebih dahulu menentukan faktor – faktor yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman.

A.     Faktor Kekuatan – kekuatan (Strengths)

1.       Lokasi yang dekat dengan pintu masuk Kota Ternate

2.      Terdapat pantai di Togolobe

3.      Jarak dekat dengan Pelabuhan Pulau Hiri

4.      Terdapat Lumba – Lumba di sekitar Togolobe

5.      Terdapat Hiu di Pantai Togolobe

B.     Faktor Kelemahan – kelemahan (Weaknesses)

1.       Masyarakat sepenuhnya belum memanfaatkan potensi wisata di sekitar untuk menjadi sumber penghasilan

2.      Pelabuhan lokasi menuju Pulau Hiri belum memadai.

3.      Kurang tersedianya sarana prasarana pariwisata (TIC, Homestay, Toilet Umum)

4.      Kurang tersedianya sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan dan keterampilan di bidang pariwisata.

5.      Kurangnya Homestay di Kelurahan Togolobe.

6.      Tidak ada pusat informasi pariwisata

C.      Faktor Peluang – peluang (Opportunity)

1.       Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Teknologi dan informasi yang semakin maju akan membantu menyebarkan informasi untuk promosi dan pemasaran.

2.      Pariwisata alternatif mengembangkan desa wisata yang menjadi tren wisatawan pasca pandemi covid 19

3.      Terdapat beberapa objek wisata di kelurahan lain yang saling berdekatan

4.      Keramahtamahan masyarakat pulau hiri

5.      Dana desa untuk desa wisata

D.     Faktor Ancaman – ancaman  (Threats)

1.       Situasi politik

2.      Penyakit Menular seperti pandemi covid 19

3.      Masyarakat yang mudah terprovokasi hal negatif

4.      Gelombang yang tinggi

5.      Persaingan antar daerah tujuan wisata

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

1.    Strategi dan Program Pengembangan

Berdasarkan analisis matrik SWOT strategi alternatif pengembangan daya tarik wisata bahari kelurahan togolobe adalah sebagai berikut:

A.   Strategi Strength Opportunity (SO)

 Merupakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang.

a.    Connecting Tour. Masyarakat di Kelurahan Togolobe dapat memanfaatkan peluang untuk menawarkan daya tarik wisata yang ada di kelurahan lainnya yang cukup terkenal yaitu Air Biru Faudu dan Batu Lobang Tomajiko. Hal ini dilakukan agar wisatawan yang berkunjung ke Pulau Hiri mempunyai lama tinggal sehingga pemanfaatan homestay di kelurahan Togolobe dapat dapat sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat.

b.    Pengembangan Desa Wisata.

Pariwisata alternatif (Desa Wisata) menjadi destinasi trend pasca pandemi covid 19. Dengan jarak tempuh sekitar 15 menit dari Kota Ternate (Gate) membuat wisatawan tidak merasa bosan di perjalanan. Masyarakat di Kelurahan Togolobe bisa memanfaatkan rumah tinggal mereka untuk dijadikan homestay bahkan bisa menambah atraksi lain selain atraksi pertunjukan hiu yaitu atraksi melihat lumba – lumba dan memancing.

B.  Strategi Strength Threats (ST)

Merupakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman, menghasilkan strategi peningkatan keamanan dan kenyamanan daya tarik. Masyarakat perlu menerapkan proses CHSE (cleanliness, Healthy, Safety, Environment). Selain itu meskipun gelombang tinggi di bulan tertentu, tetapi dapat diatasi oleh penyedia transportasi laut (disediakan pelampung masing – masing penumpang) karena jarak dekat dengan pelabuhan sulamadaha tempat wisatawan menuju pulau hiri.

C.  Strategi Weaknesses Opportunity (WO)

Merupakan strategi yang meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang menghasilkan strategi pengembangan sarana dan prasarana pariwisata dan strategi promosi. Program yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

a.       Memperbaiki pelabuhan penghubung antara sulamadaha dan pulau hiri. Pelabuhan sulamadaha tidak ada tangga untuk turun ke speed boat atau perahu kayu, sehingga jika air laut surut maka para pemakai jasa transportasi harus bergelantungan di ban mobil atau melompat. Hal dapat menjadi kendala bagi wisatawan karena akses tidak memungkinkan.

b.      Menyediakan dan memelihara fasilitas kamar mandi atau toilet. Pembangunan fasilitas kamar mandi atau toilet pada tempat strategis yang sering dilalui wisatawan.

c.       Menyediakan fasilitas parkir.

d.      Menyediakan akomodasi berupa homestay agar wisatawan yang ingin berlama – lama di destinasi dapat menggunakan fasilitas tersebut.

e.       Menyediakan pusat informasi pariwisata agar wisatawan yang berkunjung ke Pulau Hiri mendapat informasi yang jelas dan akurat.

 

D. Strategi Weaknesses Threats (WT)

Merupakan strategi yang meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman yang menghasilkan strategi pengembangan sumber daya manusia pariwisata melalui program sebagai berikut:

1.       Membentuk Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) (Wijaya, Zulkarnain, & Sopingi, 2018). Pembentukan Pokdarwis harus melibatkan berbagai komponen masyarakat lokal. Melalui organisasi tersebut akan dapat mempermudah dalam melakukan perencanaan, pengelolaan dan kontrol terhadap kepariwisataan di kelurahan togolobe.

2.      Meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) pariwisata. Hal ini dapat dilakukan melalui jalur pendidikan formal maupun informal.  Jalur formal dilakukan melalui pendidikan pada lembaga – lembaga pendidikan mulai dari sekolah kejuruan sampai tingkat magister. Sedangkan jalur informal dapat dilakukan melalui pelatihan – pelatihan tentang kepariwisataan. Peningkatan SDM dapat dilakukan melalui kerjasama dengan pihak pemerintah (Dinas Pariwisata, Perguruan Tinggi (Universitas Khairun), serta Industri pariwisata (Hotel, Restoran, dll).

3.      Mengadakan penyuluhan sadar wisata bagi masyarakat kelurahan togolobe. Masyarakat diberikan penyuluhan terkait pentingnya sapta pesona pariwisata. Dengan sosialisasi sapta pesona secara teratur dan terprogram akan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pariwisata.

 

 

KESIMPULAN

Bersadarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa strategi alternatif dan program pengembangan daya tarik wisata bahari yaitu (1). Mengembangkan produk wisata. Membuat paket wisata connecting tour, atraksi memancing dan melihat lumba – lumba. (2) meningkatkan keamanan dan kenyamanan wisatawan dengan menerapkan CHSE, (3). Menyediakan fasilitas pariwisata (toilet, tempat parkir, TIC, homestay, perbaikan pelabuhan), Melakukan promosi dan memperluas jaringan (4). Meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui jalur pendikan formal dan informal.

 

Bibliografi

 

Abdul Hakim, S. E., & Hd, P. (2018). STUDI POTENSI DAN PROSPEK PENGEMBANGAN PARIWISATA DI KOTA TERNATE, MALUKU UTARA (STUDI DINAS PARIWISATA KOTA TERNATE).

Benu, Noortje M., & Moniaga, Vicky R. B. (2016). Dampak ekonomi dan sosial alih fungsi lahan pertanian hortikultura menjadi kawasan wisata Bukit Rurukan di Kecamatan Tomohon Timur, Kota Tomohon. Agri-Sosioekonomi, 12(3), 113–124.

Damanik, David, Sims, Robert, & Stolz, Gόnter. (2002). Localization for one-dimensional, continuum, Bernoulli-Anderson models. Duke Mathematical Journal, 114(1), 59–100.

Indonesia, R. (2010). Undang-Undang Pariwisata Nomor 10 Tahun 2010 Tentang Kepariwisataan. Jakarta: Republik Indonesia.

Islamiyah, Wahyuni. (2018). Studi Eksploratif tentang Faktor-Faktor Pendukung Pengembangan Kawasan Wisata Religi Makam KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Kabupaten Jombang. Universitas Airlangga.

Kemendikbud, Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta. (2015). Jurnal Widya Prabha: arti penting pemahaman kawasan cagar budaya-no. 04/IV/2015. Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta.

Mahfuzh, M. Dzakwan. (2020). KERJASAMA INDONESIA SINGAPURA DALAM BIDANG PARIWISATA DAN PENGARUHNYA TERHADAP JUMLAH KUNJUNGAN WISATAWAN SINGAPURA KE INDONESIA. FISIP UNPAS.

Manik, Karden Eddy Sontang. (2018). Pengelolaan lingkungan hidup. Kencana.

Moleong, L. J. (2005). Metodologi Penelitian Kualitatif, edisi 21 (revisi), PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.

Mulyono, Prieta Firdayani, & Putro, Haryono. (2019). Analisis Ketahanan Air Di Kota Ternate Provinsi Maluku Utara. Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering, 10(2), 120–125.

Rani, Deddy Prasetya Maha. (2014). Pengembangan potensi pariwisata kabupaten sumenep, madura, jawa timur (studi kasus: pantai lombang). Jurnal Politik Muda, 3(3), 412–421.

Subuh, Rahmah D. O. (2020). Strategi Pengembangan Kampung Wisata Berbasis Masyarakat Kepulauan Di Pulau Hiri. Humano: Jurnal Penelitian, 10(2), 417–425.

Suharto, Bambang, Damanik, Janianton, Baiquni, M., & Fandeli, Chafid. (2014). Mobilitas Kelas Baru Di Dunia Industri Pariwisata. Jurnal Kawistara, 4(3).

Sulistyadi, Yohanes, Eddyono, Fauziah, & Entas, Derinta. (2019). Pariwisata Berkelanjutan dalam Perspektif Pariwisata Budaya di Taman Hutan Raya Banten. Uwais Inspirasi Indonesia.

Tanlain, Ari Akbar, Jeddawi, Murtir, & Djunaedi, Slamet. (2019). PENGEMBANGAN PARIWISATA BAWAH LAUT DI KOTA TERNATE PROVINSI MALUKU UTARA. VISIONER: Jurnal Pemerintahan Daerah Di Indonesia, 11(5), 799–820.

Wijaya, Surya Arif, Zulkarnain, Zulkarnain, & Sopingi, Sopingi. (2018). Proses Belajar Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) Dalam Pengembangan Kampoeng Ekowisata. Jurnal Pendidikan Nonformal, 11(2), 88–96.