STRATEGI PENGEMBANGAN DAYA TARIK WISATA
BAHARI KELURAHAN TOGOLOBE PULAU HIRI
Betly Taghulihi
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun Maluku
Utara
Email: betlytaghulihi18@gmail.com
|
|
Abstract |
|
|
Received: |
02-06-2022 |
This
study aims to develop a strategy for developing a marine tourism attraction
in Togolobe Village, Hiri
Island. Hiri Island is one of the sub-districts in
the city of Ternate. On Hiri Island there are
several interesting tourist attractions such as underwater tourist attractions,
hole stones, shark shows and several other tourist attractions. One of the
tourist attractions that are in great demand by local tourists at this time
is the shark show in Kelu Togolobe.
This shark is very unique because it can appear on the beach and play with
the surrounding community. What makes this shark interesting is the process
of calling by giving food to the sea so that in about 10 minutes the shark
will immediately come swimming to the shore. The research output target is
the formulation of a strategic concept of developing marine tourism
attraction in Togolobe Village, Hiri
Island, to become a reference for tourism development on Hiri
Island. The findings in this study conclude that there are 4 alternative
strategies and programs for developing marine tourism attractions; (1).
Develop tourism products. Making connecting tour packages, fishing
attractions and seeing dolphins. (2) improve the safety and comfort of
tourists by implementing CHSE, (3). Provide tourism facilities (toilet, parking
lot, TIC, homestay, port repair), Promote and expand network (4). Improving
the quality of human resources through formal and informal education
channels. |
|
Accepted: |
10-06-2022 |
|
|
Published: |
20-06-2022 |
|
|
Keywords: |
Development Strategy; Tourist Attraction;
Marine |
|
|
|
Abstrak |
|
|
Kata kunci: |
Strategi Pengembangan;
Daya Tarik Wisata; Bahari |
Pulau hiri terdapat
beberapa objek wisata yang menarik seperti daya tarik wisata bawah laut, batu lobang, pertunjukkan hiu dan beberapa daya tarik wisata
lainnya. Salah satu atraksi wisata yang banyak diminati wisatawan lokal pada waktu sekarang ini adalah pertunjukan
hiu yang ada di kelu togolobe. Hiu ini sangat unik sebab bisa
muncul di tepian pantai dan bermain dengan masyarakat sekitar. Yang membuat hiu ini menarik
adalah proses pemanggilan
dengan memberikan makanan ke laut
sehingga sekitar 10 menit hiu akan
segera datang berenang ke tepian. Penelitian ini
bertujuan untuk menyusun strategi pengembangan daya tarik wisata bahari
Kelurahan Togolobe Pulau Hiri. Pulau Hiri adalah salah satu kecamatan yang ada di kota ternate. Jenis penelitian ini merupakan gabungan antara kualitatif dan kuantitatif yang
dilakukan dengan pengumpulan data dan pengamatan
langsung (observasi), wawancara mendalam (depth interview),
penyebaran angket (kuesioner) dan dokumen. Temuan dalam
penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi alternatif dan program
pengembangan daya tarik wisata bahari ada 4 diantaranya; (1). Mengembangkan
produk wisata. Membuat paket wisata connecting tour, atraksi memancing
dan melihat lumba lumba. (2) meningkatkan keamanan dan kenyamanan wisatawan
dengan menerapkan CHSE, (3). Menyediakan fasilitas pariwisata (toilet, tempat
parkir, TIC, homestay, perbaikan pelabuhan), Melakukan promosi dan memperluas
jaringan (4). Meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui jalur pendidikan formal dan informal. |
Corresponding Author: Nama author
E-mail: (Calibri
(Body), Font Size 10)
PENDAHULUAN
Secara ekonomi peran pariwisata bagi Indonesia tidak dapat diragukan lagi karena pariwisata
memberikan pengaruh yang
sangat besar terhadap peningkatan perekonomian, memperluas lapangan pekerjaan dan menambah devisa negara(Islamiyah,
2018). Pariwisata menjadi
primadona bagi setiap daerah sehingga
perhatian pemerintah paling
besar juga terfokus pada pengembangan pariwisata (Rani, 2014).
Negara berkembang menurut (Damanik,
Sims, & Stolz, 2002) salah satu isu utama
kajian pembangunan pariwisata adalah kontribusi sektor pariwisata bagi perluasan peluang kerja. Sektor pariwisata
di Negara berkembang memiliki
efek berantai dalam penciptaan kesempatan kerja. Pekerjaan langsung tercipta dari pembangunan
infrastruktur seperti
hotel, restoran, sarana rekreasi, kerajinan tangan, dan fasilitas lainnya. Semakin berkembang industri pariwisata semakin tinggi variasi pekerjaan yang diciptakan (Suharto,
Damanik, Baiquni, & Fandeli, 2014).
Industri pariwisata dapat meningkatkan hubungan persahabatan antar bangsa dan Negara (Mahfuzh,
2020). Pariwisata juga berpengaruh positif terhadap adat istiadat,
kebudayaan, tata cara keagamaan, cara berpikir masyarakat dan peningkatan pengetahuan oleh karena itu pariwisata
merupakan peradaban yang dapat mempengaruhi seluruh aspek kehidupan
(Sulistyadi,
Eddyono, & Entas, 2019).
Dampak negatif ketika industri pariwisata mulai berkembang yaitu membutuhkan lahan yang luas sehingga menyebabkan
tanah masyarakat bisa habis terjual,
selain itu pengaruh negatif lainnya seperti menyebabkan kerawanan sosial, kriminal dan berbagai penyakit sosial yang mengganggu ketertiban dan ketentraman sehingga dalam situasi tidak aman
maka pariwisata akan terancam itulah
sebabnya menjaga keamanan merupakan usaha yang sangat penting bagi kelangsungan hidup pariwisata (Benu &
Moniaga, 2016).
Pariwisata sangat berpengaruh
terhadap lingkungan alam dan sosial budaya, sebab itu
dalam pembangunan pariwisata perlu dipikirkan kebijakan yang akan ditempuh bukan
saja keinginan untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar besarnya pada aspek ekonomi tetapi juga adanya upaya pelestarian
lingkungan hidup baik lingkungan fisik (tangible) maupun lingkungan sosial budaya (intangible)(Kemendikbud,
2015). Dengan terwujudnya
lingkungan yang lestari maka industri pariwisata
akan berlangsung secara berkelanjutan. Sebaliknya, rusaknya lingkungan hidup maka pariwisata akan menjadi surut(Manik,
2018). Dengan demikian
pelestarian lingkungan hidup diharapkan terselenggara secara berkelanjutan.
Maluku utara (Malut) adalah
salah satu provinsi yang terletak di bagian Timur
Indonesia. Mempunyai 10 (sepuluh)
kabupaten kota membuat provinsi ini menjadi salah satu destinasi favorit apalagi setelah Kementerian Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif menetapkan
salah satu kabupaten di Malut yaitu Kabupaten
Morotai menjadi destinasi prioritas (Abdul Hakim
& Hd, 2018). Hal ini ini merupakan angin
segar bagi pelaku wisata yang ada di kabupaten morotai secara khusus industri
pariwisata dan juga masyarakat.
Potensi wisata yang ada di morotai membuat wisatawan penasaran untuk berwisata di morotai.
Selain morotai, di Malut juga terdapat banyak sekali potensi
alam pegunungan maupun bahari, sejarah dan budaya yang tersebar di 10 kabupaten kota ini. Salah satu kota yang ada di Malut adalah
kota ternate. Kota ternate merupakan
pusat perbelanjaan dan pintu masuk bagi
semua pengunjung yang akan berkunjung ke Malut. Kota ternate mempunyai 1 (satu) bandara dan beberapa pelabuhan yang menghubungkan akses antar pulau
di malut.
Di kota ternate terdapat potensi alam bahari
dan pegunungan.
Selain itu objek wisata sejarah
juga sangat banyak di kota
ternate hal ini dikarenakan terlihat beberapa benteng peninggalan portugis yang terpampang di kota ternate. Kota
ternate merupakan kota kepulauan yang terdiri dari 3 pulau besar
dan 5 pulau kecil (Mulyono
& Putro, 2019). Ibukota ternate
adalah ternate tengah dengan wilayah administratif terdiri dari 8 kecamatan dan 78 kelurahan. Pusat
pemerintahan berada di terbesarnya yaitu pulau ternate (Kota Ternate dalam
angka, 2021).
Selama 5 (lima) tahun terakhir meskipun dalam masa pandemi covid 19 yang membuat sektor pariwisata mengalami penurunan yang sangat signifikan
di seluruh wilayah Indonesia bahkan
di dunia namun kunjungan wisatawan ke objek
wisata di kota ternate tetap terlihat normal. Hal itu terlihat dalam
data kunjungan wisatawan
yang diambil oleh Dinas Pariwisata
Kota Ternate seperti pada tabel
dibawah ini:
Tabel 1.1 Kunjungan Wisatawan
dalam 5 Tahun Terakhir
|
No |
Nama
Objek Wisata |
2017 |
2018 |
2019 |
2020 |
2021/Bulan Agustus |
|
1. |
Batu
Angus |
16.168 |
11.731 |
14.475 |
11.361 |
10.144 |
|
2. |
Pantai
Sulamadaha |
38.208 |
27.196 |
15.379 |
12.987 |
35.183 |
|
3. |
Danau Tolire Besar |
30.831 |
30.296 |
21.136 |
19.726 |
12.341 |
|
Total |
85.207 |
69.223 |
50.990 |
44.074 |
57.668 |
|
Sumber: Dinas Pariwisata
Pariwisata Kota Ternate, Tahun
2021
Berdasarkan tabel 1.1 diatas, minat wisatawan
domestik dan lokal sangat tinggi meskipun tahun 2020 terjadi penurunan kunjungan namun pada tahun 2021 terjadi peningkatan kembali. Hal ini berarti kota ternate masih menjadi destinasi
favorit yang dipilih oleh wisatawan domestik dan wisatawan lokal.
Pulau Hiri adalah salah satu kecamatan yang ada di kota ternate. Di pulau hiri terdapat beberapa
objek wisata yang menarik seperti daya tarik wisata
bawah laut, batu lobang, pertunjukkan hiu dan beberapa daya tarik wisata
lainnya. Salah satu atraksi wisata yang banyak diminati wisatawan lokal pada waktu sekarang ini adalah pertunjukan
hiu yang ada di kelu togolobe. Hiu ini sangat unik sebab bisa
muncul di tepian pantai dan bermain dengan masyarakat sekitar. Yang membuat hiu ini menarik
adalah proses pemanggilan dengan memberikan makanan ke laut
sehingga sekitar 10 menit hiu akan
segera datang berenang ke tepian.
Pertunjukan atraksi hiu ini memang
menarik tetapi perlu disusun strategi agar wisatawan yang berkunjung tidak akan bosan
berada di lokasi objek serta masyarakat
dapat memanfaatkan peluang ini untuk
meningkatkan pendapatan dan
perekonomian di lokasi dekat objek.
Penelitian ini akan menyusun strategi pengembangan daya tarik wisata bahari
kelurahan togolobe agar dapat memberi manfaat
kepada masyarakat sebagai pelaku usaha jasa dan memberikan kepuasan kepada wisatawan selaku pemakai jasa wisata.
Tujuan Penelitian untuk Menyusun Strategi Pengembangan
Daya Tarik Wisata Bahari di Kelurahan Togolobe Pulau Hiri.
METODE
PENELITIAN
1.
Gambaran Umum Kelurahan Togolobe
Jenis penelitian ini merupakan gabungan
antara kualitatif dan kuantitatif yang dilakukan
dengan pengumpulan data dan
pengamatan langsung (observasi), wawancara mendalam (depth interview), penyebaran
angket (kuesioner) dan dokumen.
Penyajian hasil analisis data dapat dilakukan secara formal maupun secara informal. Alat yang
dipakai untuk menyusun faktor faktor strategis adalah matriks SWOT. Penelitian ini bersifat mengeksplorasi dan merumuskan kebijakan dan program
program berdasarkan kondisi
internal berupa kekuatan
(strengths) dan kelemahan (weaknesses) yang dimiliki serta situasi eksternal berupa peluang (opportunities)
dan ancaman (threats).
Penggunaan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini adalah dengan mencocokan
realita empirik dengan teori yang berlaku menggunakan metode deskriptif (Moleong,
2005). Hasil analisis data disajikan secara verbal dengan teknik deskriptif
interpretatif artinya hasil analisis dipaparkan sebagaimana adanya dan pada bagian tertentu diinterpretasikan sesuai dengan teori
dan kerangka pikiran yang berlaku umum. Hasil penelitian atau analisis disajikan dalam bentuk laporan
ilmiah.
Kelurahan Togolobe adalah salah satu kelurahan yang terletak di Pulau Hiri. Kelurahan
ini berada tepat di pintu masuk pulau hiri.
Togolobe berasal dari kata Togo artinya umpan ikan dan Lobe artinya alat penerang sehingga
arti togolobe adalah mencari umpan ikan dengan memakai alat penerang di malam hari. Secara
geografis Togolobe berdekatan dengan pantai dan laut (Subuh,
2020). Luas wilayah Togolobe adalah 9,64 ha. Kelurahan ini terbentuk memanjang
dari arah utara menuju timur
yang berbatasan dengan Kelurahan Mado. Secara administratif kelurahan ini termasuk
dalam wilayah kecamatan pulau hiri.
Adapun jumlah penduduk sebanyak 439 jiwa dengan jumlah
kepala keluarga 107. Jumlah laki laki
213 orang dan perempuan 226 orang. Masyarakat di kelurahan Togolobe sebagian besar berprofesi sebagai petani dan nelayan.
2.
Daya Tarik Wisata
di Kelurahan Togolobe
Menurut (Indonesia,
2010) daya tarik
wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau kunjungan wisatawan.
Kelurahan Togolobe mempunyai daya tarik wisata yang menarik yaitu pertunjukkan
atraksi hiu. Hiu yang merupakan golongan ikan seharusnya berada di laut dalam tetapi menariknya
hiu ini malah
lebih sering muncul di permukaan serta ke tepian
pantai untuk bermain main di air. Hal ini menjadi peluang bagi masyarakat setempat untuk memanfaatkan hiu menjadi atraksi wisata ketika berkunjung
ke pulau hiri (Tanlain,
Jeddawi, & Djunaedi, 2019). Munculnya hiu di permukaan membuat masyarakat di Togolobe mengaitkan dengan sejarah masa yang diyakini menurut legenda pasukan Kesultanan Hiri bergabung dengan beberapa kesultanan lainnya untuk melakukan
ekspansi wilayah kesultanan,
semua pasukan menggunakan satu kapal namun pada saat di tengah lautan kapal mengalami
kebocoran sehingga membuat semua pasukan
tenggelam. Karena jarak
yang terlalu jauh untuk berenang ke tepian pantai
dari tengah laut membuat pasukan
kewalahan namun tiba tiba muncullah
hiu dan menolong para pasukan untuk dibawa
ke daratan dengan selamat. Semenjak saat itu
para pasukan memberitahukan
kepada seluruh masyarakat bahwa hiu itu tidak
jahat dan tidak boleh dimakan. Hal inilah yang membuat masyarakat pulau hiri sampai sekarang
tidak pernah memakan hiu bahkan
jika saat masyarakat mencari ikan dan menemukan hiu, maka hiu itu
langsung dilepaskan kembali.
Atraksi hiu yang ada di Kelurahan Togolobe dipertunjukkan hampir setiap hari,
berawal dari salah satu masyarakat sekaligus pemilik homestay hiri di tepi pantai
togolobe membuang insang ikan dan darah ikan dilaut membuat hiu muncul dipermukaan.
Pemilik homestay ini mengira bahwa hal
ini biasa saja namun lama kelamaan hiu terus
bermunculan dan semakin banyak muncul di permukaan. Pemilik homestay akhirnya terinspirasi untuk membuat pertunjukkan
atraksi hiu.
Beberapa wisatawan lokal mengaku sangat senang karena melihat
hiu yang muncul di tepian pantai namun
ada juga yang merasa was
was jika tiba tiba hiu akan
berubah menjadi jahat.
Dalam pengembangan atraksi hiu ini
perlu adanya strategi untuk membuat atraksi
ini menjadi lebih terkenal bahkan bisa bermanfaat
untuk masyarakat sekitar togolobe. Oleh sebab itu beberapa
strategi akan disusun berdasarkan analisis SWOT untuk mengukur kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman sehingga pengembangan atraksi wisata hiu dapat terarah
sesuai dengan hasil kajian.
Sebelum menentukan
strategi pengembangan daya tarik wisata bahari
Togolobe perlu terlebih dahulu menentukan faktor faktor yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman.
A.
Faktor
Kekuatan kekuatan (Strengths)
1.
Lokasi
yang dekat dengan pintu masuk Kota Ternate
2.
Terdapat
pantai di Togolobe
3.
Jarak dekat dengan Pelabuhan Pulau Hiri
4.
Terdapat
Lumba Lumba di sekitar Togolobe
5.
Terdapat
Hiu di Pantai Togolobe
B.
Faktor
Kelemahan kelemahan
(Weaknesses)
1.
Masyarakat
sepenuhnya belum memanfaatkan potensi wisata di sekitar untuk menjadi sumber
penghasilan
2.
Pelabuhan
lokasi menuju Pulau Hiri belum
memadai.
3.
Kurang
tersedianya sarana prasarana pariwisata (TIC,
Homestay, Toilet Umum)
4.
Kurang
tersedianya sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan dan keterampilan di bidang pariwisata.
5.
Kurangnya
Homestay di Kelurahan Togolobe.
6.
Tidak ada pusat informasi
pariwisata
C.
Faktor
Peluang peluang
(Opportunity)
1.
Kemajuan
teknologi informasi dan komunikasi. Teknologi dan informasi yang semakin maju akan membantu
menyebarkan informasi untuk promosi dan pemasaran.
2.
Pariwisata
alternatif mengembangkan desa wisata yang menjadi tren wisatawan
pasca pandemi covid 19
3.
Terdapat
beberapa objek wisata di kelurahan lain yang saling berdekatan
4.
Keramahtamahan
masyarakat pulau hiri
5.
Dana desa untuk desa
wisata
D.
Faktor
Ancaman ancaman (Threats)
1.
Situasi
politik
2.
Penyakit
Menular seperti pandemi covid 19
3.
Masyarakat
yang mudah terprovokasi hal negatif
4.
Gelombang
yang tinggi
5.
Persaingan
antar daerah tujuan wisata
HASIL
DAN PEMBAHASAN
1.
Strategi dan Program Pengembangan
Berdasarkan analisis matrik SWOT strategi alternatif pengembangan daya tarik wisata bahari
kelurahan togolobe adalah sebagai berikut:
A.
Strategi Strength Opportunity (SO)
Merupakan strategi
yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang.
a.
Connecting
Tour. Masyarakat di Kelurahan Togolobe
dapat memanfaatkan peluang untuk menawarkan
daya tarik wisata yang ada di kelurahan lainnya yang cukup terkenal yaitu Air Biru Faudu dan Batu Lobang Tomajiko. Hal ini dilakukan agar wisatawan yang berkunjung ke Pulau
Hiri mempunyai lama tinggal sehingga pemanfaatan homestay di kelurahan
Togolobe dapat dapat sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat.
b.
Pengembangan
Desa Wisata.
Pariwisata alternatif (Desa Wisata) menjadi
destinasi trend pasca pandemi covid 19. Dengan jarak tempuh sekitar
15 menit dari Kota Ternate
(Gate) membuat wisatawan tidak merasa bosan
di perjalanan. Masyarakat di Kelurahan
Togolobe bisa memanfaatkan rumah tinggal mereka untuk dijadikan homestay bahkan bisa menambah
atraksi lain selain atraksi pertunjukan hiu yaitu atraksi
melihat lumba lumba dan memancing.
B. Strategi
Strength Threats (ST)
Merupakan strategi yang menggunakan
kekuatan untuk mengatasi ancaman, menghasilkan strategi peningkatan
keamanan dan kenyamanan daya tarik. Masyarakat perlu menerapkan proses CHSE
(cleanliness, Healthy, Safety, Environment). Selain itu meskipun gelombang
tinggi di bulan tertentu, tetapi dapat diatasi oleh penyedia transportasi laut (disediakan pelampung masing masing penumpang)
karena jarak dekat dengan pelabuhan
sulamadaha tempat wisatawan menuju pulau hiri.
C. Strategi
Weaknesses Opportunity (WO)
Merupakan strategi yang meminimalkan
kelemahan untuk memanfaatkan peluang menghasilkan strategi pengembangan
sarana dan prasarana pariwisata dan strategi promosi.
Program yang dapat dilakukan
adalah sebagai berikut:
a.
Memperbaiki
pelabuhan penghubung antara sulamadaha dan pulau hiri. Pelabuhan sulamadaha tidak ada tangga untuk
turun ke speed boat atau perahu kayu,
sehingga jika air laut surut maka
para pemakai jasa transportasi harus bergelantungan di ban mobil atau melompat. Hal dapat menjadi kendala
bagi wisatawan karena akses tidak
memungkinkan.
b.
Menyediakan
dan memelihara fasilitas kamar mandi atau toilet. Pembangunan
fasilitas kamar mandi atau toilet pada tempat strategis yang sering dilalui wisatawan.
c.
Menyediakan
fasilitas parkir.
d.
Menyediakan
akomodasi berupa homestay
agar wisatawan yang ingin berlama lama di destinasi dapat menggunakan fasilitas tersebut.
e.
Menyediakan
pusat informasi pariwisata agar wisatawan yang berkunjung ke Pulau
Hiri mendapat informasi yang jelas dan akurat.
D. Strategi
Weaknesses Threats (WT)
Merupakan strategi yang meminimalkan
kelemahan dan menghindari ancaman yang menghasilkan
strategi pengembangan sumber
daya manusia pariwisata melalui program sebagai berikut:
1.
Membentuk
Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) (Wijaya,
Zulkarnain, & Sopingi, 2018). Pembentukan Pokdarwis harus melibatkan berbagai komponen masyarakat lokal. Melalui organisasi tersebut akan dapat mempermudah
dalam melakukan perencanaan, pengelolaan dan kontrol terhadap kepariwisataan di kelurahan togolobe.
2.
Meningkatkan
kualitas sumber daya manusia (SDM) pariwisata. Hal ini dapat dilakukan melalui jalur pendidikan
formal maupun informal. Jalur formal dilakukan
melalui pendidikan pada lembaga lembaga pendidikan mulai dari sekolah kejuruan
sampai tingkat magister. Sedangkan jalur informal dapat dilakukan melalui pelatihan pelatihan tentang kepariwisataan. Peningkatan SDM dapat dilakukan melalui kerjasama dengan pihak pemerintah
(Dinas Pariwisata, Perguruan
Tinggi (Universitas Khairun), serta
Industri pariwisata (Hotel,
Restoran, dll).
3.
Mengadakan
penyuluhan sadar wisata bagi masyarakat
kelurahan togolobe.
Masyarakat diberikan penyuluhan
terkait pentingnya sapta pesona pariwisata.
Dengan sosialisasi sapta pesona secara
teratur dan terprogram akan dapat meningkatkan
kesadaran masyarakat terhadap pariwisata.
KESIMPULAN
Bersadarkan uraian diatas maka dapat
disimpulkan bahwa strategi alternatif dan program pengembangan
daya tarik wisata bahari yaitu
(1). Mengembangkan produk wisata. Membuat paket wisata connecting tour, atraksi memancing dan melihat lumba lumba. (2) meningkatkan keamanan dan kenyamanan wisatawan dengan menerapkan CHSE, (3). Menyediakan
fasilitas pariwisata
(toilet, tempat parkir,
TIC, homestay, perbaikan pelabuhan),
Melakukan promosi dan memperluas jaringan (4). Meningkatkan kualitas sumber daya manusia
melalui jalur pendikan formal dan informal.
Bibliografi
Abdul Hakim, S. E., & Hd, P. (2018). STUDI
POTENSI DAN PROSPEK PENGEMBANGAN PARIWISATA DI KOTA TERNATE, MALUKU UTARA
(STUDI DINAS PARIWISATA KOTA TERNATE).
Benu, Noortje M., & Moniaga, Vicky R.
B. (2016). Dampak ekonomi dan sosial alih fungsi lahan pertanian hortikultura
menjadi kawasan wisata Bukit Rurukan di Kecamatan Tomohon Timur, Kota Tomohon. Agri-Sosioekonomi,
12(3), 113124.
Damanik, David, Sims, Robert, & Stolz,
Gόnter. (2002). Localization for one-dimensional, continuum, Bernoulli-Anderson
models. Duke Mathematical Journal, 114(1), 59100.
Indonesia, R. (2010). Undang-Undang
Pariwisata Nomor 10 Tahun 2010 Tentang Kepariwisataan. Jakarta: Republik
Indonesia.
Islamiyah, Wahyuni. (2018). Studi
Eksploratif tentang Faktor-Faktor Pendukung Pengembangan Kawasan Wisata Religi
Makam KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Kabupaten Jombang. Universitas
Airlangga.
Kemendikbud, Balai Pelestarian Cagar Budaya
Daerah Istimewa Yogyakarta. (2015). Jurnal Widya Prabha: arti penting
pemahaman kawasan cagar budaya-no. 04/IV/2015. Balai Pelestarian Cagar
Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta.
Mahfuzh, M. Dzakwan. (2020). KERJASAMA
INDONESIA SINGAPURA DALAM BIDANG PARIWISATA DAN PENGARUHNYA TERHADAP JUMLAH
KUNJUNGAN WISATAWAN SINGAPURA KE INDONESIA. FISIP UNPAS.
Manik, Karden Eddy Sontang. (2018). Pengelolaan
lingkungan hidup. Kencana.
Moleong, L. J. (2005). Metodologi
Penelitian Kualitatif, edisi 21 (revisi), PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.
Mulyono, Prieta Firdayani, & Putro,
Haryono. (2019). Analisis Ketahanan Air Di Kota Ternate Provinsi Maluku Utara. Jurnal
Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering, 10(2),
120125.
Rani, Deddy Prasetya Maha. (2014).
Pengembangan potensi pariwisata kabupaten sumenep, madura, jawa timur (studi
kasus: pantai lombang). Jurnal Politik Muda, 3(3), 412421.
Subuh, Rahmah D. O. (2020). Strategi
Pengembangan Kampung Wisata Berbasis Masyarakat Kepulauan Di Pulau Hiri. Humano:
Jurnal Penelitian, 10(2), 417425.
Suharto, Bambang, Damanik, Janianton,
Baiquni, M., & Fandeli, Chafid. (2014). Mobilitas Kelas Baru Di Dunia
Industri Pariwisata. Jurnal Kawistara, 4(3).
Sulistyadi, Yohanes, Eddyono, Fauziah,
& Entas, Derinta. (2019). Pariwisata Berkelanjutan dalam Perspektif
Pariwisata Budaya di Taman Hutan Raya Banten. Uwais Inspirasi Indonesia.
Tanlain, Ari Akbar, Jeddawi, Murtir, &
Djunaedi, Slamet. (2019). PENGEMBANGAN PARIWISATA BAWAH LAUT DI KOTA TERNATE
PROVINSI MALUKU UTARA. VISIONER: Jurnal Pemerintahan Daerah Di Indonesia,
11(5), 799820.
Wijaya, Surya Arif, Zulkarnain, Zulkarnain,
& Sopingi, Sopingi. (2018). Proses Belajar Kelompok Sadar Wisata
(POKDARWIS) Dalam Pengembangan Kampoeng Ekowisata. Jurnal Pendidikan
Nonformal, 11(2), 8896.