PENGARUH DISIPLIN KERJA TERHADAP PROFESIONALISME GURU
Sriyanto Tri Atmojo
Universitas Kanjuruhan Malang, Indonesia
|
|
Abstract |
|
|
Received: |
29-10-2022 |
Introduction: Teachers are at the forefront of coloring the world of education in the country because teachers are directly involved and deal directly with students. Therefore, a teacher must have a high spirit and spirit of professionalism because without professionalism there is no meaning. Purpose: The objectives of this study are: To find out and analyze the partially significant influence between work disciplines on teacher professionalism. Methods: This study uses quantitative methods with the research location in SMP Negeri 2 Tegaldlimo, Banyuwangi Regency. The research population was all teachers of SMPN 2 Tegaldlimo Banyuwangi Regency, amounting to 33 people. The sample of this study is the total population. The data collection technique uses a questionnaire (questionnaire) with a closed system. Data analysis using multiple regression analysis. Results: The results showed that partially work discipline had a significant effect on teacher professionalism at SMP Negeri 2 Banyuwangi Regency. Conclusion: Based on data analysis and hypothesis testing, it can be concluded that: Partially teachers, this means that if all teachers in work discipline significantly influence the professionalism of SMP Negeri 2 Tegaldlimo Banyuwangi Regency have high work discipline, the professionalism of teachers in SMP Negeri 2 Banyuwangi Regency will be high also, and vice versa. |
|
Accepted: |
07-11-2022 |
|
|
Published: |
10-11-2022
|
|
|
Keywords: |
Work Discipline; Teacher Professionalism; Education |
|
|
|
Abstrak |
|
|
Kata kunci: |
Disiplin Kerja; Profesionalisme Guru; Pendidikan
|
Pendahuluan: Guru berada di garda terdepan dalam mewarnai dunia pendidikan ditanah air karena guru yang terlibat langsung dan berhadapan langsung dengan siswa. Karena itu seorang guru harus memiliki jiwa dan semangat profesionalisme yang tinggi karena tanpa profesionalime tidak ada artinya. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah: Ingin mengetahui dan menganalisis pengaruh yang signifikan secara parsial antara disiplin kerja terhadap profesionalisme guru. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan lokasi penelitian di SMP Negeri 2 Tegaldlimo Kabupaten Banyuwangi. Populasi penelitian adalah semua guru SMPN 2 Tegaldlimo Kabupaten Banyuwangi yang berjumlah 33 orang. Sample penelitian ini merupakan total population.Teknik pengumpulan data mengunakan angket (kuesioner) dengan sistem tertutup. Analisis data dengan menggunakan analisis regresi berganda. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial disiplin kerja berpengaruh secara signifikan terhadap profesionalisme guru di SMP Negeri 2 Kabupaten Banyuwangi. Kesimpulan: Berdasarkan analisis data dan uji hipotesis dapat disimpulkan bahwa : Secara parsial guru, ini berarti apabila semua guru di disiplin kerja berpengaruh secara signifikan terhadap profesionalisme SMP Negeri 2 Tegaldlimo Kabupaten Banyuwangi mempunyai disiplin kerja yang tinggi maka profesionalisme guru SMP Negeri 2 Kabupaten Banyuwangi akan tinggi pula, demikian pula sebaliknya. |
Corresponding Author: Sriyanto Tri Atmojo
E-mail: sriantotriatmojo@gmail.com
PENDAHULUAN
Kemajuan dan keberhasilan pendidikan disuatu sekolah sangat ditentukan oleh seorang guru. Guru berada di garda terdepan dalam mewarnai dunia pendidikan ditanah air karena guru yang terlibat langsung dan berhadapan langsung dengan siswa. Karena itu seorang guru harus memiliki jiwa dan semangat profesionalisme yang tinggi karena tanpa profesionalime tidak ada artinya (Mahmud, 2018).
Dalam jurnal manajemen pendidikan Educational Leadership edisi maret 1993 yang telah diolah oleh (Supriadi, 2017) dalam (Lukman, Kusmintardjo, & Sultoni, 2017) menjadi guru profesional dituntut memiliki lima hal, yaitu : 1.) Guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya. Ini berarti bahwa komitmen tertinggi guru adalah pada kepentingan siswanya. 2.) Guru menguasai secara mendalam bahan/mata pelajaran yang diajarkannya serta cara mengajarkanya kepada para siswa. Bagi guru, hal ini merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. 3.) Guru bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai teknik evaluasi, mulai cara pengamatan dalam perilaku siswa sampai tes hasil belajar. 4.) Guru mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari pengalamannya. Artinya harus selalu ada waktu untuk guru guna mengadakan refleksi dan koreksi terhadap apa yang telah dilakukannya (Sastrawan, 2016). Untuk bisa belajar dari pengalaman, ia harus tahu mana yang benar dan salah, serta baik dan buruk yang berdampak pada proses belajar siswa. 5.) Guru seyogyanya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya, misalnya PGRI dan organisasi profesi lainya.
Berdasarkan Undang-Undang Guru dan Dosen No. 14 tahun 2005 pada Pasal 10 dijabarkan bahwa seorang guru dituntut memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian dan kompetensi social (Manik & Syafrina, 2018).
Menurut (Nurhamidah, 2018) mengatakan guru perlu memaksimalkan pengembangan personal dan profesional sehingga pada saatnya nanti, guru dapat mengambil peran dalam proses perkembangan orang lain. Selain itu guru harus belajar berinteraksi secara produktif dengan anggota profesi lain serta para pemangku kepentingan dalam bidang pendidikan untuk memaksimalkan potensi siswa (Firdianti, 2018).
Disiplin dalam bekerja perlu terus digelorakan dihati para guru, mengingat guru merupakan salah satu pilar terdepan didalam proses pembelajaran yang notabene keberhasilan proses pendidikan (Situmeang, 2018). Dengan tata tertib yang baik, semangat kerja, moral kerja, efisiensi dan efektifitas dalam bekerja maka dalam memberikan layanan proses pembelajaran pada peserta didik tentu akan berhasil pula.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan lokasi penelitian di SMP Negeri 2 Tegaldlimo Kabupaten Banyuwangi. Populasi dalam penelitian ini adalah semua guru SMP Negeri 2 Tegaldlimo Kabupaten Banyuwangi yang berjumlah 33 orang guru, semua populasi dijadikan sebagai sample penelitian mengingat jumlahnya yang tidak mencapai 100 orang. Dasar keputusan penetapan jumlah sample tersebut karena tidak bertentangan dengan pendapat Arikunto dan Roscoe. (Arikunto, 2019) berpendapat apabila subyeknya kurang dari seratus lebih baik diambil semua sehingga penelitianya merupakan populasi. Menurut Roscoe dalam (Tarsito, 2014) bahwa ukuran sample yang layak dalam penelitian adalah antara 30 sampai 500. Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan angket (questioner) dengan sistem tertutup. Analisis data dengan menggunakan analisis regresi berganda
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Uji Parsial (uji t)
a. Pengaruh Disiplin Kerja Terhadap Profesionalisme Guru
Dasar pengambilan keputusan uji t;
- Jika thitung < ttabel, maka ho diterima
- Jika thitung > ttabel, maka ha diterima
Tabel 1. Coefficientsa
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
t |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
1.120 |
.456 |
|
2.457 |
.020 |
|
Disiplin_Kerja_X1 |
.417 |
.111 |
.525 |
3.760 |
.001 |
|
|
a. Dependent Variable: Profesionalisme_Guru_Y |
||||||
Nilai ttabel dilihat pada taraf signifikansi 0,05 dimana df = jumlah sampel – jumlah variable = 33 – 4 = 29. Dari nilai df tersebut dapat diketahui nilai ttabel adalah sebesar 1,69. Besarnya thitung variable X1 terhadap Y adalah 3,760 (thitung > ttabel). dengan demikian maka Ha diterima. .Kesimpulannya adalah ada pengaruh variable Disiplin Kerja terhadap Profesionalisme Guru.
Dasar pengambilan keputusan uji signifikansi;
a. Jika nilai probabilitas lebih kecil atau sama dengan nilai probabilitas Sig. (0,05 ≤ Sig.), maka Ho diterima.
b. Jika nilai probabilitas lebih besar atau sama dengan nilai probabilitas Sig. (0,05 ≥ Sig.), maka Ha diterima
Dari tabel Coeffesients diatas diketahui bahwa variable X1 mempunyai nilai Sig. sebesar 0,20. Jika dibandingkan dengan nilai α, nilai α lebih besar dari nilai Sig. (0,05 > 0,001). Maka Ha diterima. Kesimpulannya adalah variable Disiplin kerja berpengaruh signifikan terhadap variabel Profesionalisme Guru.
B. Pembahasan Temuan Penelitian
a. Pengaruh disiplin kerja terhadap profesionalisme guru
Hasil uji statistic uji t yang telah dilakukan dapat dijelaskan bahwa disiplin kerja (X1) berpengaruh signifikan secara parsial terhadap profesionalisme guru (Y). Hal ini berarti hipotesis yang disampaikan dalam penelitian ini bahwa ada pengaruh yang signifikan secara parsial antara disiplin kerja terhadap profesionalisme guru di SMP Negeri 2 Tegaldlimo Kabupaten Banyuwangi diterima.
Dengan hasil penelitian ini berarti mendukung hasil penelitian yang telah dilakukan oleh (Supriadi, 2017) dalam tesisnya yang menyatakan bahwa peningkatan disiplin kerja guru akan mengakibatkan meningkatnya kinerja guru. Demikian pula hasil penelitian ini juga mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh (Aritonang, 2005) yang menghasilkan kesimpulan bahwa disiplin kerja memberikan sumbangan sebesar 77,60 persen terhadap kinerja guru.
Namun hasil penelitian ini tidak mendukung atau menolak hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh (SetiawaSetiawan, 2013) yang menyatakan bahwa disiplin kerja secara parsial tidak berpengaruh terhadap kinerja. Demikian pula hasil penelitian ini juga menolak hasil penelitian yang dilakukan oleh (Arianto, 2013) yang menyimpulkan bahwa kedisiplinan kerja tidak berpengaruh terhadap kinerja.
Disiplin kerja pada hakekatnya adalah sikap kerja yang dimiliki oleh karyawan yang tumbuh dari dalam diri dan menjadi suatu kebiasaan yang pada gilirannya akan menjadi suatu budaya. Disiplin kerja dapat dilihat dalam hal masuk kerja. Pada Karyawan yang berdisiplin kerja baik dapat dipastikan mereka tidak akan terlambat masuk kerja. Demikian pula dalam hal pulang kerja mereka tidak akan meninggalkan tempat kerja sebelum waktunya pulang. Disiplin kerja juga dapat dilihat pada waktu bekerja. Pada karyawan yang berdisplin kerja tinggi dapat dipastikan akan selalu bersungguh-sungguh dalam setiap melakukan pekerjaan, selalu menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan waktu atau jam yang telah ditentukan bahkan berusaha selalu menyelesaikan pekerjaan sebelum waktu yang telah ditentukan, dan berusaha menjadi yang terbaik. Karyawan yang berdisiplin kerja yang tinggi dapat dilihat pula pada kepatuham pada tata tertib. Karyawan yang berdisiplin kerja cenderung patuh pada tata tertib, selalu memperhatikan prosedur kerja yang telah ditetapkan, tidak meninggalkan tempat kerja selama jam kerja.
Disiplin kerja guru dapat diciptakan disebuah sekolah melalui aturan atau tata tertib seorang guru dalam bekerja. Aturan yang berlaku disekolah lama kelamaan akan menjadi sebuah pembiasaan disekolah yang pada akhirnya menjadai sebuah budaya disekolah (Rohman, 2018). Namun ada pula tanpa upaya pembiasaan seorang guru menjadi disiplin dalam bekerja karena memang karakternya suka disiplin dalam bekerja. Pada dasarnya disiplin kerja seorang guru juga sama dengan disiplin kerja seorang karyawan, hanya perbedaannya terletak pada apa yang diolah atau digelutinya. Seorang guru mengolah atau menggeluti anak manusia yang mempunyai pikiran, jiwa dan perasaan, sedang karyawan mengolah dan menggeluti benda mati. Walaupun yang digeluti dan diolah tidak sama namun baik guru maupun karyawan harus memiliki disiplin kerja yang tinggi dan memiliki profesionalisme yang tinggi pula.
Profesionalisme guru merupakan suatu sikap dan tindakan guru yang ditunjukkan dalam keseharian pada proses pembelajaran bersama siswa yang mencerminkan seorang guru yang baik, menjadi panutan dan memberikan inspirasi bagi siswanya (Nurtanto, 2016). Potret guru yang baik, menjadi panutan dan dapat memberikan inspirasi pada siswanya bisa terwujud manakala guru itu memiliki 4 kompetensi yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial. Pada dasarnya seorang guru yang memiliki disiplin kerja yang tinggi akan memiliki kompetensi pedagogic yang tinggi pula karena ia akan bekerja sesuai prosedur atau aturan seperti membuat perangkat pembelajaran, membuat program dan rencana pembelajaran, melaksanakan evaluasi, menganalisis maupun mengadakan program remidi dan program perbaikan, karena ia ingin berusaha mendapatkan hasil yang terbaik dari proses pembelajaran yang ia berikan pada peserta didiknya. Disamping itu seorang guru yang berdisiplin kerja tinggi akan selalu berusaha dekat dengan siswa dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik siswa dan berusaha memahami kesulitan belajar siswa sekaligus berusaha untuk membimbingnya.
Seorang guru yang memiliki disiplin kerja yang tinggi juga memiliki kompetensi profesional yang tinggi pula karena itu ia selalu bekerja efektif maupun efisien sehingga ia berusaha menyelesaikan pekerjaanya sebelum waktunya, karena itu pula seorang guru yang memiliki displin kerja yang tinggi berupaya menggunakan teknologi informasi dalam bekerja dan dalam proses pembelajaran agar lebih efisien waktu dan efektif hasilnya. Artinya seorang guru yang memiliki kompetensi profesional yang baik akan mampu memanfaatkan sumber-sumber belajar disekitarnya menjadi media pembelajaran yang baik dan efektif dalam proses pembelajaran bersama siswa.
Seorang guru yang memiliki disiplin kerja yang tinggi pada dasarnya memiliki kompetensi kepribadian yang utuh dan stabil, karena itu seorang guru yang mempunyai disiplin yang kuat pada dasarnya akan dapat memberikan contoh kebaikan pada siswa seperti membuang sampah pada tempatnya, bertutur kata yang sopan pada setiap orang, taat beribadah, menghormati dan menghargai orang lain sehingga guru yang mempunyai kompetensi kepribadian yang baik akan dapat memberikan inspirasi bagi siswa.
Seorang guru yang nemiliki disiplin kerja yang tinggi cenderung memiliki kompetensi social yang baik. Kompetensi social terjalin baik dengan siswa, dengan sesama guru, dengan atasan, dengan wali murid maupun dengan masyarakat sekitar sekolah. Kompetensi sosial bisa terjalin dengan baik karena guru mampu bertutur kata de baik dengan siswa, dengan atasan dan semua orang yang menjadi bagian masyarakat lingkungan dimana dia bekerja.
Jadi seorang guru yang bekerja dengan disiplin kerja yang tinggi cenderung akan mempunyai profesionalisme yang lebih baik daripada seorang guru yang bekerja kurang disiplin.
KESIMPULAN
Berdasarkan analisis data dan uji hipotesis dapat disimpulkan bahwa : Secara parsial disiplin kerja berpengaruh secara signifikan terhadap profesionalisme guru, ini berarti apabila semua guru di SMP Negeri 2 Tegaldlimo Kabupaten Banyuwangi mempunyai disiplin kerja yang tinggi maka profesionalisme guru SMP Negeri 2 Kabupaten Banyuwangi akan tinggi pula, demikian pula sebaliknya.
BIBLIOGRAFI
Arianto, Dwi Agung Nugroho. (2013). Pengaruh kedisiplinan, lingkungan kerja dan budaya kerja terhadap kinerja tenaga pengajar. Jurnal Economia, 9(2), 191–200.
Arikunto, Suharsimi. (2019). Prosedur penelitian suatu pendekatan praktik.
Aritonang, Keke T. (2005). Kompensasi kerja, disiplin kerja guru dan kinerja guru SMP kristen BPK Penabur Jakarta. Jurnal Pendidikan Penabur, 4(4), 1–16.
Firdianti, Arinda. (2018). Implementasi manajemen berbasis sekolah dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Gre Publishing.
Lukman, Lukman, Kusmintardjo, Kusmintardjo, & Sultoni, Sultoni. (2017). Keefektifan Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Produktivitas Guru. Prosiding Seminar Nasional Mahasiswa Kerjasama Direktorat Jenderal Guru Dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud 2016.
Mahmud, Amirudin. (2018). Guru Tak Boleh Sejahtera-Catatan dan Refleksi Seorang Pendidik. Deepublish.
Manik, Sudarmin, & Syafrina, Nova. (2018). Pengaruh Kompetensi Terhadap Kinerja Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Riau. Jurnal Ilmiah Ekonomi Dan Bisnis (JIEB), 15(1), 16.
Nurhamidah, Ilin. (2018). Problematika kompetensi pedagogi guru terhadap karakteristik peserta didik. Jurnal Teori Dan Praksis Pembelajaran IPS, 27–38.
Nurtanto, Muhammad. (2016). Mengembangkan kompetensi profesionalisme guru dalam menyiapkan pembelajaran yang bermutu. Prosiding Seminar Nasional Inovasi Pendidikan.
Rohman, Fatkhur. (2018). Peran Pendidik dalam Pembinaan Disiplin Siswa di Sekolah/Madrasah. Ihya Al-Arabiyah: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Arab, 4(1).
Sastrawan, Ketut Bali. (2016). Profesionalisme guru dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran. Jurnal Penjaminan Mutu, 2(02), 65–73.
SetiawaSetiawan, Agung. (2013). (2013). Pengaruh disiplin kerja dan motivasi terhadap kinerja karyawan pada rumah sakit umum daerah kanjuruhan malang. Jurnal Ilmu Manajemen, 1(4), 1245–1253.
Situmeang, Rusmin Nuryadin. (2018). Konsep Pendidikan Akhlak Menurut Perspektif Pemikiran Shafiyurrahman Al Mubarakfuri.
Supriadi, Supriadi. (2017). Pengaruh gaya kepemimpinan kepala madrasah dan disiplin kerja terhadap kinerja guru di MTs Dinniyah Putri Lampung. UIN Raden Intan Lampung.
Tarsito, Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Alfabeta. Bandung.