KEPEMIMPINAN
KRISTEN YANG EFEKTIF BERDASARKAN IMAN DAN VISI ILAHI
Djone
Georges Nicolas1, Timothy Amien Rk2, Soneta Sang S. Siahaan3, Lasino
J.W. Putro4, Abdon A. Amtiran5
1,2,3Sekolah Tinggi Teologi Katharos Indonesia,
Bekasi, Indonesia
4,5Sekolah Tinggi Theologia IKAT, Jakarta, Indonesia
[email protected]1,� [email protected]2, [email protected]3,� [email protected]4, [email protected]5
|
|
Abstract |
|
|
Received: |
02-05-2022 |
Introduction:
Leadership is a very crucial factor in the sustainability of an organization,
because through the role of a leader and the way he leads, the fate of any
organization is at stake. The fact is that it is found that some Christian
leaders do not have a vision in their leadership, so they are less effective
in achieving the goals of the organization they lead, even though without a
clear vision it is impossible to get the desired results. Purpose: The
purpose of this research is to analyze and find effective leadership based on
faith and divine vision. Methods: The method used is descriptive
qualitative with a literature study approach by collecting data through
journals, various books, interviews and documents that are related to the
topic being studied. Results: First, effective Christian leadership
comes from leaders who have living faith. Second, effective Christian
leadership comes from leaders who have a vision. Conclusion: effective
Christian leadership is leadership in which the active leader connects vision
and faith, because these two things are basically interconnected so that they
cannot be separated, because a leader who has strong faith sees the presentday situation, but also sees the future state. |
|
Accepted: |
03-05-2022 |
|
|
Published: |
20-05-2022 |
|
|
Keywords: |
christian
leadership, effective, faith, divine vision |
|
|
|
Abstrak |
|
|
Kata kunci: |
kepemimpinan kristen;
efektif; iman; visi ilahi |
Pendahuluan: Kepemimpinan merupakan faktor yang sangat krusial dalam keberlangsungan sebuah organisasi, oleh karena melalui peran seorang pemimpin dan cara dia memimpin,
nasib organisasi apa pun dipertaruhkan. Kenyataan bahwa ditemukan sebagian pemimpin Kristen yang tidak memiliki visi dalam kepemimpinannya, sehingga kurang efektif dalam rangka mencapai tujuan organisasi yang dipimpinnya, padahal tanpa visi yang jelas mustahil memperoleh hasil yang diimpikan. Tujuan: Tujuan Penelitian
ini adalah menganalisa dan menemukan kepemimpinan yang efektif berdasarkan iman dan visi Ilahi. Metode: Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur dengan pengumpulan data melalui jurnal-jurnal, berbagai buku, wawancara serta dokumen yang memiliki keterkaitan dengan topik yang dikaji. Hasil:
Pertama, kepemimpinan
Kristen yang efektif berasal
dari pemimpin yang memiliki iman yang hidup. Kedua, kepemimpinan Kristen yang efektif
berasal dari pemimpin yang memiliki visi. Kesimpulan: kepemimpinan
Kristen yang efektif adalah
kepemimpinan di mana pemimpin
aktif menghubungkan visi dan iman, oleh karena kedua hal tersebut pada dasarnya saling berhubungan sehingga tidak dapat dipisahkan,
sebab seorang pemimpin yang beriman teguh melihat keadaan yang nampak hari, namun juga melihat keadaan masa depan. |
Corresponding Author: Djone
Georges Nicolas
E-mail:
[email protected]
PENDAHULUAN
Kepemimpinan merupakan faktor yang sangat krusial
dalam keberlangsungan sebuah organisasi, oleh karena melalui peran seorang
pemimpin dan cara dia memimpin, nasib organisasi apa pun dipertaruhkan. Menurut
(Suherman, 2019), kepemimpinan adalah keahlian atau kecakapan mempengaruhi orang secara
pribadi maupun secara kelompok dalam rangka mendapatkan visi atau tujuan, dan
pemimpin yang efektif dalam kepemimpinannya adalah dia yang memberi pengaruh
kepada mereka yang dipimpinnya dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan
sehingga berdampak pula pada efektivitas organisasi dalam segi kinerja (Nanjun
Deswaraswamy, 2014).
Sebab kekuatan seorang pemimpin terdapat di dalam tanggung jawabnya dalam
penyampaian visi dan misi organisasi.
Kepemimpinan�
Kristen yang terdapat di dalam organisasi� gereja�
menurut (Elisabeth
Sitepu, 2019), tidak� bisa
dipisahkan dari� cara� penanganan�
pekerjaan yang Tuhan percayakan kepada para hamba-Nya, sebab terdapat
dua dimensi dalam gereja: yakni sebagai organisme maupun organisasi yang
dihadapkan dengan persoalan-persoalan administrasi dan juga rohani.
Kepemimpinan Kristen adalah kepemimpinan yang berdasarkan rencana dan kehendak
Allah yang memanggil dan menetapkan seorang pemimpin. Oleh karena itu,
kepemimpinan Kristen selazimnya merupakan kepemimpinan yang efektif oleh karena
terdorong oleh iman dan visi yang jelas berasal dari Allah.
(Rivo
Manansang, 2020) mengungkapkan bahwa GPdI bumi Papua di kota Jayapura secara khusus
mengalami masalah dalam kepemimpinan pada periode tertentu yang berhubungan
dengan karakter dan visi pemimpin, yang berdampak negatif pada pertumbuhan
gereja karena tampak perkembangan gereja-gereja lokal yang lamban dalam
perkembangannya sehingga sejumlah daerah di Jayapura belum dapat dijangkau� oleh organisasi GPdI secara resmi. Hal
tersebut menunjukkan bahwa fakta terdapat pemimpin di dalam kepemimpinannya
yang tidak memiliki visi menjadi pekerjaan rumah yang sangat penting dan bahkan
genting untuk dievaluasi di dalam kepemimpinan Kristen, sebab tanpa visi yang
jelas keberlangsungan organisasi pasti terancam. Oleh karena itu, (Daniel Ronda, 2009)
berpandangan bahwa Kepemimpinan seorang gembala
sebagai pemimpin bukan tentang perkara aktivitas manajemen, tetapi tentang
membawa orang yang� dipimpin mengalami
pertumbuhan.
Visi berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia dapat
dipahami sebagai kemampuan melihat pada inti masalah, atau pun pandangan ke
depan. Visi memberikan pengharapan, oleh karena itu keseimbangan antara
menentukan sebuah visi yang mungkin tercapai tidak hanya dibatasi pada sebuah
garis tipis. Sebab, jika sebuah visi dianggap terlalu besar sehingga tidak
mungkin direalisasikan, visi itu tidak akan membangkitkan inspirasi sebuah
organisasi. Sebaliknya, visi itu justru mematahkan semangatnya karena visi yang
tidak mengandung tantangan tidak akan membangkitkan motivasi yang diperlukan
untuk berusaha mencapai tujuannya.
������������ Kasih karunia mengubah visi
pemimpin Kristen dan membuat tujuan rohani yang hendak dicapai menjadi lebih
jelas. Yesus Kristus terus-menerus berbicara kepada pengikut-Nya mengenai arti pentingnya pekerjaan mereka, dan
memberi kesempatan bagi orang awam untuk mengambil bagian dalam sesuatu yang
luar biasa sebagai contoh dengan memanggil mereka yang sedang memperbaiki jala
itu dengan tawaran menjadikan mereka penjala manusia� (Matius 4:19), merupakan suatu bukti bahwa
melalui panggilan tersebut, sebagai seorang pemimpin yang penuh kasih karunia,
Ia melihat keadaan saat itu dan juga keadaan masa depan. Itulah visi yang lebih
penting dari apa yang sedang dikerjakan para nelayan pada saat itu. (Dudung Juhana dan Reni Ambarsari, 2012) menyampaikan bahwa kepemimpinan visioner harus ditingkatkan agar
rencana yang pada dasarnya strategis dan dirancang dalam jangka panjang dapat
menjadi andalan sehingga dapat mengoptimalkan kemampuan para pegawai demi kepentingan
pencapaian tujuan. (Ari Yunus Hendrawan,
Mambang, Riang Hati Waruwu, 2021) berpandangan
berkaitan dengan peran kepemimpinan yang visioner di dalam sektor akademik,
bahwa pemimpin berfungsi mensosialisasikan visi dan misi kepada Civitas
Akademika agar dapat diimplementasikan untuk memperoleh hasil yang maksimal. (Triyono, 2016)
berhubungan dengan kepemimpinan dalam profesi kepolisian memperoleh hasil bahwa
tanggung jawab pemimpin yang efektif adalah memenuhi target yang telah
dipercayakan oleh pusat, namun pengertian pemimpin akan kepentingan kerja sama
dengan bawahannya sebagai faktor pendukung pencapaian visi, misi dan tujuan
organisasi, dengan memperhatikan kesejahteraan mereka.
Oleh karena itu, penulis sependapat dengan (Hendrawan et
al., 2020) dan (Triyono, 2016) bahwa kepemimpinan yang efektif harus
mensosialisasikan dan mengimplementasikan visi dan misi kepada pengikut dalam
rangka mencapai tujuan organisasi, hanya kepemimpinan dalam Kekristenan dan
secara khusus dalam gereja merupakan kepemimpinan yang harus tampil berbeda dari
kepemimpinan yang ada pada umumnya, yaitu kepemimpinan yang didasarkan pada
iman yang berhubungan dengan kasih karunia Allah, dengan visi yang jelas karena
berasal dari Allah demi tercapai rencana dan kehendak-Nya. Sebab tanpa iman
sebagai dasar, visi dan misi seorang pemimpin Kristen sulit diimplementasikan
sehingga mustahil mencapai efektivitas. Maka, tujuan dalam penelitian ini
penulis hendak menganalisa kepemimpinan Kristen yang efektif berdasarkan iman
dan visi.
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan
pendekatan studi literatur dengan pengumpulan data melalui jurnal-jurnal,
berbagai buku, wawancara serta dokumen yang memiliki keterkaitan dengan topik
yang dikaji. Wawancara yang dilakukan adalah dengan sejumlah pemimpin gereja di
wilayah kota Jakarta. Menurut (Sugiyono, 2017)
wawancara� bertujuan memperoleh
permasalahan secara lebih terbuka. Analisis data dilakukan dengan menelaah
seluruh data yang diperoleh dari para narasumber dan kemudian direduksi untuk
mendapat inti maupun proses, serta pernyataan tetap yang sesuai dengan tujuan
penelitian (Moleong J., 2013)
Responden yang diwawancara dalam penelitian ini berjumlah 6 orang, yakni:
Pendeta A. Abednego Simanjuntak Ketua Pemuda GBI Parakletos Cengkareng Jakarta,
Pendeta Heri Setiawan Wakil Wakil Gembala GBI Kapuk Jakarta, Pendeta Paulus
Willem Gembala GKPJ Kelapa Jakarta, Pendeta Sherley Ketua Pemuda GBI Kedaung
Tangerang, Suyanto, Mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Kairos Jakarta, Yosua
Ketua Pemuda GPIA Moderland.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Seorang pemimpin Kristen yang efektif adalah
seorang ahli cuaca dan seorang penentu cuaca, seorang yang berfungsi sebagai
seorang yang mengamati dan memahami pola perubahan yang terjadi di dalam
organisasi� yang dipimpinnya, sehingga
dapat menciptakan atmosfer yang bermanfaat di dalamnya menurut (Heri Setiawan, 2022).
Setiap organisasi memiliki sebuah �iklim�, maka seorang pemimpin Kristen yang
cakap tahu bagaimana memberikan reaksi terhadap berbagai kondisi dan situasi
yang terjadi di dalam organisasi yang dipimpinnya,
baik dalam kondisi badai, tenang,
penuh tekanan, petir, maupun guruh, sebab itu
diperlukan kepemimpinan yang mempunyai visi yang jelas (Alfons Abednego
Simanjuntak, 2022).
Seorang pemimpin
Kristen yang efektif pada dasarnya kekuatannya terletak pada imannya kepada
Allah, sebab tanpa keyakinan yang kokoh akan panggilannya sebagai imamat yang
Rajani, ia akan sulit melaksanakan tanggung jawabnya sebagai pemimpin ketika
menghadapi tantangan dan rintangan menurut (Sherley, 2022)
yang adalah ketua pemuda GBI Poris Tangerang. Seorang pemimpin Kristen dalam
kepemimpinannya agar efektif harus mempersiapkan dirinya menghadapi keadaan
buruk apa pun bentuknya, hal itu akan mungkin apa bila dia tetap fokus pada
Tuhan yang dia layani dan pada visi yang Tuhan berikan padanya (Suyanto, 2022).
Menurut (Yosua, 2022),
seperti suhu matahari adalah sumber panas terpenting dalam atmosfer bumi, begitu
pula seorang pemimpin karena imannya dan tujuan atau visi yang dipegangnya� dapat menguasai atmosfer organisasi dengan jalan memberikan energi yang membakar dan membesarkan api yang sudah menyala di dalam hati mereka
yang di bawah pimpinannya sebagai orang-orang percaya. Pendeta senior (Paulus Willem,
2022) menyampaikan bahwa
tanpa visi, kepemimpinan seorang pemimpin Kristen sama saja dengan pemimpin
yang omong kosong
Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan, dapat
diperoleh hasil bahwa kepemimpinan Kristen yang efektif sangat bergantung pada
kualitas iman sang pemimpin kepada Allah yang telah memanggilnya dan juga pada
visi yang dimilikinya. Maka, kepemimpinan Kristen yang efektif berasal dari pemimpin
yang memiliki visi Kedua, kepemimpinan Kristen yang
efektif berasal dari pemimpin yang memiliki visi. Hal itu searah dengan (James Wesley
Banatau, 2019)
yang memberi penekanan pada kepentingan kepemimpinan dalam gereja di mana para
pemimpin dituntut kemampuan dalam menggabungkan kembali eklesiologi dengan
misiologi dikarenakan gereja dipandang pertama-tama oleh misi yang diberikan
Allah.� Dan misi Allah selalu berhubungan
dengan visi-Nya.
Kepemimpinan Kristen yang efektif berasal dari pemimpin yang memiliki
iman yang hidup
Seorang pemimpin Kristen pertama-tama perlu
memiliki kesadaran akan Siapa yang telah memanggil dia dan Siapa yang dia
layani. Sebab setiap orang yang dipanggil oleh Allah harus pegang setiap
janji-Nya, sebab tanpa Allah seorang pemimpin dalam kepemimpinannya tidak dapat
mencapai hasil yang diharapkan (Yohanes 15:5). Oleh karena itu iman seorang
pemimpin Kristen harus sepenuhnya berharap dan bergantung kepada Tuhan agar
melalui keteguhan imannya para pengikut-Nya pun tetap berkobar dalam
pertandingan iman dalam mengiring Kristus, sebab seorang pemimpin dalam
kepemimpinannya harus dapat menjadi teladan dalam imannya. Itu searah dengan (Katarina, 2018)
yang berpendapat bahwa antara kepemimpinan dunia dan kepemimpinan Kristen
(rohani) ada perbedaan, yakni kesadaran bahwa�
keberadaan� kepemimpinan seorang
pemimpin Kristen berlangsung� atas� rencana�
Allah dan meniadakan ambisi�
pribadi.�
Dalam sebuah kesempatan, Paulus menulis surat untuk
membesarkan hati Timotius seorang pemimpin
muda dalam gereja
mula-mula, yang berbunyi: �Karena itulah kuperingatkan
engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan
tanganku atasmu� (2 Timotius 1:6). Maka, kobarkan karunia Allah menjadi
tantangan yang dihadapi oleh setiap pemimpin, sebab pemimpin Kristen berfungsi
sebagai imam yang sepenuhnya menjadikan Allah bagian pusakanya.
Perintah-perintah yang tertulis dalam Imamat 6:8-13 adalah perintah yang
ditujukan kepada imam-imam (pemimpin) untuk menjaga agar api tidak padam, sebab api di atas altar harus tetap menyala.
Tidak perlu menjadi seorang pramuka untuk
mengetahui bahwa nyala api, jika tidak dijaga, perlahan-lahan akan padam. Nyala
api yang berada di atas altar dalam Imamat 6 itu berasal dari Allah, sama hal
dengan iman yang juga berasal dari Roh Allah (1 Korintus 12:3) sehingga menjaga
api tetap menyala tidaklah berbeda dengan menjaga iman seorang pemimpin tetap
tertuju kepada Allah sebagai sumber segala sesuatu: itulah iman yang hidup,
yang terus menerus berkobar. Maka seorang pemimpin sebagai imam perlu dan penting
melakukan dua hal untuk menjaga agar api tetap menyala: Membersihkan serpihan
sisa-sisa bakaran yang lama-kelamaan bisa menumpuk dan menutupi, atau
setidaknya mengaburkan tujuan- tujuan, metode-metode, dan bahkan orang-orangnya. Berikutnya, menambahkan kayu ke dalam api, untuk menjaga agar api
tidak padam� karena kekurangan bahan
bakar.
�������� Itu
bicara tentang iman yang diperbaharui dari hari ke hari, iman yang
menyingkirkan dan mengalahkan segala bentuk kotoran yang coba mengacaukan
keyakinan kepada Allah dan rencana-Nya. Sebab kekacauan tidak hanya menimbulkan
penderitaan, tetapi juga dapat memadamkan kehidupan� suatu organisasi, kecuali jika organisasi itu
memperoleh bahan bakar baru. Bahan bakar suatu organisasi Kristiani adalah iman
yang hidup sehingga memelihara api Roh Kudus di dalamnya. Pemimpin yang imannya
hidup pasti efektif dalam kepemimpinannya sehingga mempengaruhi semangat mereka
yang ada dalam organisasinya. Maka, (Kasmir, 2016) menyampaikan bahwa pemimpin yang efektif adalah
pemimpin yang bisa menemukan jalan untuk menyegarkan dan memperbarui modal
mental dan material serta sumber daya manusia yang dimiliki organisasinya.
Kepemimpinan Kristen yang efektif berasal dari pemimpin yang memiliki
visi Ilahi
�������� Visi yang
dimaksud secara jelas yaitu visi yang berasal dari dari Allah dan bertujuan
mewujudkan rencana Allah melalui kepemimpinan tersebut. Bukan agenda manusiawi
maupun ambisi pribadi dengan tujuan mencapai hasrat dan keinginan daging. Maka,
(Katarina, 2018) berpendapat bahwa apa bila seorang gembala� sidang�
sebagai pemimpin jemaat kurang menyadari�
panggilannya, itu dapat mempengaruhi�
motivasi� maupun fokus
pelayanannya,� sehingga hasil yang
diperoleh melalui pelayanannya tidak sesuai harapan. Sebaliknya sebagai
teladan, salah satu ciri kepemimpinan Yesus adalah memberi pengaruh dengan
menularkan� visi� maupun�
misi� kepada� pengikut-Nya, yakni murid-murid-Nya (Katarina, 2018) Demikian juga (Yahya Usat, 2019)
berkata bahwa kepemimpinan yang bekerja secara profesional yang mengandung
unsur bagaimana mengelola visi dan misi, dan juga strategi organisasi, tetapi
juga Sumber Daya Manusia yang dipimpin dan menunjukkan tanggung jawab atas keselamatan
dan kemajuan mereka adalah kepemimpinan yang efektif.
����������� Oleh karena Kepemimpinan merupakan proses yang melibatkan banyak orang
dan untuk kepentingan banyak orang, visi menjadi penggerak pemimpin� dalam melaksanakan kepemimpinannya. Seperti
halnya Musa ketika dipanggil Allah dengan tujuan yang jelas, untuk membebaskan
bangsa Israel dari tanah Mesir (Keluaran 3:10 (TB)). Demikian juga Yesus
Kristus hadir di dunia dengan visi yang jelas dari Allah yang adalah Bapa-Nya
untuk menjadi korban keselamatan dengan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan
bagi banyak orang (Matius 20:28 (TB)).
��������� Kepemimpinan Kristen yang efektif
adalah kepemimpinan yang didasarkan pada visi atau tujuan Ilahi yang selalu
berhubungan dengan keselamatan dan pembebasan mereka yang terbelenggu oleh
kuasa dosa dan sistem dunia ini. Bagi umat percaya, kepemimpinan adalah
tindakan iman dan iman berhubungan dengan visi Allah. Seorang pemimpin yang
penuh kasih karunia mencari hati Allah, bukan hanya tangan-Nya, sebab ia sadar
bahwa ketika dia fokus menjalani visi Allah, dengan sendirinya Tangan Allah
turut bekerja dalam rangka penggenapan visi yang telah ditetapkan-Nya. Maka
kepemimpinan Kristen tidak dapat dilepaskan dari kehendak tetapi juga dari
caranya berkarya melalui pemimpin yang Dia pilih. Maka kepemimpinan yang
memiliki visi adalah kepemimpinan yang taat sepenuhnya kepada arahan dan tujuan
Allah, kepemimpinan oleh Roh dan bukan daging, kepemimpinan yang fokus kepada
masa depan yang penuh dengan harapan walaupun harus melewati proses yang tidak
mudah ketimbang kepemimpinan yang memakai segala cara dan serba instan, asal
memenuhi apa yang diinginkan sang pemimpin. Pemimpin yang dipenuhi kasih
karunia Allah bersedia berkorban, karena sadar bahwa meskipun secara pribadi ia
tidak memanen hasilnya, namun orang lain menikmati manfaat dari apa yang
dilakukannya sesuai dengan kehendak dan agenda Ilahi. Itulah efektivitas
kepemimpinan Kristen, kepemimpinan yang produktif dalam proyek Ilahi.
KESIMPULAN
������������� Kepemimpina
Kristen yang efektif adalah
kepemimpinan di mana pemimpin
aktif menghubungkan visi dan iman, oleh karena kedua hal
tersebut pada dasarnya saling berhubungan sehingga tidak dapat dipisahkan, sebab seorang pemimpin
yang beriman teguh melihat keadaan yang nampak hari, namun
juga melihat keadaan masa depan.� Yaitu: Pertama, kepemimpinan Kristen yang berasal
dari pemimpin yang memiliki iman yang hidup, dan Kedua, kepemimpinan Kristen yang berasal
dari pemimpin yang memiliki visi Ilahi.� Kepemimpinan
Kristen yang dipenuhi oleh kasih
karunia Allah berjalan pada
jalur yang benar (iman), mengejar akhir yang benar (visi dan tujuan Allah).
BIBLIOGRAFI
Alfons Abednego
Simanjuntak. (2022). Wawancara Dengan Pendeta A. Abednego Simanjuntak Ketua
Pemuda GBI Parakletos Cengkareng Jakarta Jakarta, Senin 10 Mei 2022 jam 13.25
wib.
Ari Yunus Hendrawan,
Mambang, Riang Hati Waruwu,� dan E. W. P.
(2021). Peran Kepemimpinan Visioner yang Melayani dalam Mendidik dan
Menghasilkan Calon Pemimpin yang Memiliki Karakter Kuat pada Masa Pandemi Covid-19.
Jurnal Pemimpinan Indonesia, 4(2), 577-597.
Daniel Ronda. (2009).
Kepemimpinan Model Gembala. Jurnal Jaffray, 7(2), 18.
Dudung Juhana dan Reni
Ambarsari. (2012). Pengaruh Kepemimpinan Visioner dan Pengembangan Karier terhadap
Kepuasan Kerja Serta Implikasinya pada Kinerja Pegawai Dinas Pertambangan dan
Energi Provinsi Jawa Barat. Jurnal Ekonomi, Bisnis & Entrepreneurship,
6(1), 15-25.
Elisabeth Sitepu.
(2019). Kepemimpinan Kristen Dalam Gereja. Jurnal Pendidikan Religius, 1(1),
7�11.
Hendrawan, A., Laras,
T., Sucahyowati, H., & Cahyandi, K. (2020). Peningkatan kepemimpinan
transformasional dengan organizational citizenship behavior (OCB). Proceeding
of The URECOL, 78�89.
Heri Setiawan. (2022).
Wawancara Dengan Pendeta Heri Setiawan Wakil Wakil Gembala GBI Kapuk
Jakarta, Senin 9 Mei 2022 jam 17.05 wib.
James Wesley Banatau,
H. W. (2019). Pengaruh Gaya Kepemimpinan Kristen Pelayan Tuhan Terhadap
Pencapaian Hasil Program Kerja di GKII Jemaat Rhema Makassar. In Repository
Sekolah Tinggi Theologi aJaffray.
Kasmir. (2016). Manajemen
Sumber Daya Manusia (Teori dan Praktek). Raja Grafindo Persada.
Katarina, K. S.
(2018). Keteladanan Kepemimpinan Yesus dan Implikasinya bagi Kepemimpinan
Gereja pada Masa Kini. Evangelikal: Jurnal Teologi Injili Dan Pembinaan
Warga Jemaat, 2(2), 87�98.
Moleong J. (2013). Metodologi
Penelitian Kualitatif. PT Remaja Rosda Karya.
Nanjun Deswaraswamy.
(2014). Leadership Style. Journal Advances in Management, 7(2),
345.
Paulus Willem. (2022).
Wawancara Dengan Pendeta Paulus Willem Gembala GKPJ Kelapa Jakarta, Senin 11
Mei 2022 jam 16.00 wib.
Rivo Manansang, J. S. (2020).
Hubungan Karakter Kepemimpinan dan Kepemimpinan Visioner Gembala Dengan
Pertumbuhan Gereja. EPIGRAPHE: Jurnal Teologi Dan Pelayanan Kristiani, 4(2),
236�250.
Sherley. (2022). Wawancara
Dengan Pendeta Sherley Ketua Pemuda GBI Kedaung Tangerang, Senin 9 Mei 2022 jam
20.40 wib.
Sugiyono. (2017).
Metode Penelitian Bisnis (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, Kombinasi dan
R&D
Suherman, U. D.
(2019). Pentingnya Kepemimpinan Dalam Organisasi. AKSY: Jurnal Ilmu
Akuntansi Dan Bisnis Syariah, 1(2), 259�274.
Suyanto. (2022). Wawancara
Dengan Suyanto, Mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Kairos Jakarta, Senin 11 Mei
2022 jam 12.15.
Triyono. (2016). Gaya
Kepemimpinan yang Efektif dalam Upaya Meningkatkan Produktifitas Anggota
Polresta Bandar Lampung. Jurnal Manajemen Magister, 2(2),
195-207.
Yahya Usat. (2019).
Kepemimpinan Blusukan: Model KepemimpinanKristen Yang Membumi. Integritas:
Jurnal Teologi, 1(2), 93-100.
Yosua. (2022). Wawancara
Dengan Yosua Ketua Pemuda GPIA Moderland, Senin 11 Mei 2022 jam 10.47 wib.