KEPEMIMPINAN KRISTEN YANG EFEKTIF BERDASARKAN IMAN DAN VISI ILAHI

 

Djone Georges Nicolas1, Timothy Amien Rk2, Soneta Sang S. Siahaan3, Lasino J.W. Putro4, Abdon A. Amtiran5

1,2,3Sekolah Tinggi Teologi Katharos Indonesia, Bekasi, Indonesia

4,5Sekolah Tinggi Theologia IKAT, Jakarta, Indonesia

[email protected]1,[email protected]2, [email protected]3,[email protected]4, [email protected]5

 

 

Abstract

Received:

02-05-2022

Introduction: Leadership is a very crucial factor in the sustainability of an organization, because through the role of a leader and the way he leads, the fate of any organization is at stake. The fact is that it is found that some Christian leaders do not have a vision in their leadership, so they are less effective in achieving the goals of the organization they lead, even though without a clear vision it is impossible to get the desired results. Purpose: The purpose of this research is to analyze and find effective leadership based on faith and divine vision. Methods: The method used is descriptive qualitative with a literature study approach by collecting data through journals, various books, interviews and documents that are related to the topic being studied. Results: First, effective Christian leadership comes from leaders who have living faith. Second, effective Christian leadership comes from leaders who have a vision. Conclusion: effective Christian leadership is leadership in which the active leader connects vision and faith, because these two things are basically interconnected so that they cannot be separated, because a leader who has strong faith sees the presentday situation, but also sees the future state.

Accepted:

03-05-2022

Published:

20-05-2022

Keywords:

christian leadership, effective, faith, divine vision

 

Abstrak

Kata kunci:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

kepemimpinan kristen; efektif; iman; visi ilahi

Pendahuluan: Kepemimpinan merupakan faktor yang sangat krusial dalam keberlangsungan sebuah organisasi, oleh karena melalui peran seorang pemimpin dan cara dia memimpin, nasib organisasi apa pun dipertaruhkan. Kenyataan bahwa ditemukan sebagian pemimpin Kristen yang tidak memiliki visi dalam kepemimpinannya, sehingga kurang efektif dalam rangka mencapai tujuan organisasi yang dipimpinnya, padahal tanpa visi yang jelas mustahil memperoleh hasil yang diimpikan. Tujuan: Tujuan Penelitian ini adalah menganalisa dan menemukan kepemimpinan yang efektif berdasarkan iman dan visi Ilahi. Metode: Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur dengan pengumpulan data melalui jurnal-jurnal, berbagai buku, wawancara serta dokumen yang memiliki keterkaitan dengan topik yang dikaji. Hasil: Pertama, kepemimpinan Kristen yang efektif berasal dari pemimpin yang memiliki iman yang hidup. Kedua, kepemimpinan Kristen yang efektif berasal dari pemimpin yang memiliki visi. Kesimpulan: kepemimpinan Kristen yang efektif adalah kepemimpinan di mana pemimpin aktif menghubungkan visi dan iman, oleh karena kedua hal tersebut pada dasarnya saling berhubungan sehingga tidak dapat dipisahkan, sebab seorang pemimpin yang beriman teguh melihat keadaan yang nampak hari, namun juga melihat keadaan masa depan.

Corresponding Author: Djone Georges Nicolas

E-mail: [email protected]

 

PENDAHULUAN

Kepemimpinan merupakan faktor yang sangat krusial dalam keberlangsungan sebuah organisasi, oleh karena melalui peran seorang pemimpin dan cara dia memimpin, nasib organisasi apa pun dipertaruhkan. Menurut (Suherman, 2019), kepemimpinan adalah keahlian atau kecakapan mempengaruhi orang secara pribadi maupun secara kelompok dalam rangka mendapatkan visi atau tujuan, dan pemimpin yang efektif dalam kepemimpinannya adalah dia yang memberi pengaruh kepada mereka yang dipimpinnya dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan sehingga berdampak pula pada efektivitas organisasi dalam segi kinerja (Nanjun Deswaraswamy, 2014). Sebab kekuatan seorang pemimpin terdapat di dalam tanggung jawabnya dalam penyampaian visi dan misi organisasi.

KepemimpinanKristen yang terdapat di dalam organisasigerejamenurut (Elisabeth Sitepu, 2019), tidakbisa dipisahkan daricarapenangananpekerjaan yang Tuhan percayakan kepada para hamba-Nya, sebab terdapat dua dimensi dalam gereja: yakni sebagai organisme maupun organisasi yang dihadapkan dengan persoalan-persoalan administrasi dan juga rohani. Kepemimpinan Kristen adalah kepemimpinan yang berdasarkan rencana dan kehendak Allah yang memanggil dan menetapkan seorang pemimpin. Oleh karena itu, kepemimpinan Kristen selazimnya merupakan kepemimpinan yang efektif oleh karena terdorong oleh iman dan visi yang jelas berasal dari Allah.

(Rivo Manansang, 2020) mengungkapkan bahwa GPdI bumi Papua di kota Jayapura secara khusus mengalami masalah dalam kepemimpinan pada periode tertentu yang berhubungan dengan karakter dan visi pemimpin, yang berdampak negatif pada pertumbuhan gereja karena tampak perkembangan gereja-gereja lokal yang lamban dalam perkembangannya sehingga sejumlah daerah di Jayapura belum dapat dijangkauoleh organisasi GPdI secara resmi. Hal tersebut menunjukkan bahwa fakta terdapat pemimpin di dalam kepemimpinannya yang tidak memiliki visi menjadi pekerjaan rumah yang sangat penting dan bahkan genting untuk dievaluasi di dalam kepemimpinan Kristen, sebab tanpa visi yang jelas keberlangsungan organisasi pasti terancam. Oleh karena itu, (Daniel Ronda, 2009) berpandangan bahwa Kepemimpinan seorang gembala sebagai pemimpin bukan tentang perkara aktivitas manajemen, tetapi tentang membawa orang yangdipimpin mengalami pertumbuhan.

Visi berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia dapat dipahami sebagai kemampuan melihat pada inti masalah, atau pun pandangan ke depan. Visi memberikan pengharapan, oleh karena itu keseimbangan antara menentukan sebuah visi yang mungkin tercapai tidak hanya dibatasi pada sebuah garis tipis. Sebab, jika sebuah visi dianggap terlalu besar sehingga tidak mungkin direalisasikan, visi itu tidak akan membangkitkan inspirasi sebuah organisasi. Sebaliknya, visi itu justru mematahkan semangatnya karena visi yang tidak mengandung tantangan tidak akan membangkitkan motivasi yang diperlukan untuk berusaha mencapai tujuannya.

������������ Kasih karunia mengubah visi pemimpin Kristen dan membuat tujuan rohani yang hendak dicapai menjadi lebih jelas. Yesus Kristus terus-menerus berbicara kepada pengikut-Nya mengenai arti pentingnya pekerjaan mereka, dan memberi kesempatan bagi orang awam untuk mengambil bagian dalam sesuatu yang luar biasa sebagai contoh dengan memanggil mereka yang sedang memperbaiki jala itu dengan tawaran menjadikan mereka penjala manusia(Matius 4:19), merupakan suatu bukti bahwa melalui panggilan tersebut, sebagai seorang pemimpin yang penuh kasih karunia, Ia melihat keadaan saat itu dan juga keadaan masa depan. Itulah visi yang lebih penting dari apa yang sedang dikerjakan para nelayan pada saat itu. (Dudung Juhana dan Reni Ambarsari, 2012) menyampaikan bahwa kepemimpinan visioner harus ditingkatkan agar rencana yang pada dasarnya strategis dan dirancang dalam jangka panjang dapat menjadi andalan sehingga dapat mengoptimalkan kemampuan para pegawai demi kepentingan pencapaian tujuan. (Ari Yunus Hendrawan, Mambang, Riang Hati Waruwu, 2021) berpandangan berkaitan dengan peran kepemimpinan yang visioner di dalam sektor akademik, bahwa pemimpin berfungsi mensosialisasikan visi dan misi kepada Civitas Akademika agar dapat diimplementasikan untuk memperoleh hasil yang maksimal. (Triyono, 2016) berhubungan dengan kepemimpinan dalam profesi kepolisian memperoleh hasil bahwa tanggung jawab pemimpin yang efektif adalah memenuhi target yang telah dipercayakan oleh pusat, namun pengertian pemimpin akan kepentingan kerja sama dengan bawahannya sebagai faktor pendukung pencapaian visi, misi dan tujuan organisasi, dengan memperhatikan kesejahteraan mereka.

Oleh karena itu, penulis sependapat dengan (Hendrawan et al., 2020) dan (Triyono, 2016) bahwa kepemimpinan yang efektif harus mensosialisasikan dan mengimplementasikan visi dan misi kepada pengikut dalam rangka mencapai tujuan organisasi, hanya kepemimpinan dalam Kekristenan dan secara khusus dalam gereja merupakan kepemimpinan yang harus tampil berbeda dari kepemimpinan yang ada pada umumnya, yaitu kepemimpinan yang didasarkan pada iman yang berhubungan dengan kasih karunia Allah, dengan visi yang jelas karena berasal dari Allah demi tercapai rencana dan kehendak-Nya. Sebab tanpa iman sebagai dasar, visi dan misi seorang pemimpin Kristen sulit diimplementasikan sehingga mustahil mencapai efektivitas. Maka, tujuan dalam penelitian ini penulis hendak menganalisa kepemimpinan Kristen yang efektif berdasarkan iman dan visi.

 

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur dengan pengumpulan data melalui jurnal-jurnal, berbagai buku, wawancara serta dokumen yang memiliki keterkaitan dengan topik yang dikaji. Wawancara yang dilakukan adalah dengan sejumlah pemimpin gereja di wilayah kota Jakarta. Menurut (Sugiyono, 2017) wawancarabertujuan memperoleh permasalahan secara lebih terbuka. Analisis data dilakukan dengan menelaah seluruh data yang diperoleh dari para narasumber dan kemudian direduksi untuk mendapat inti maupun proses, serta pernyataan tetap yang sesuai dengan tujuan penelitian (Moleong J., 2013) Responden yang diwawancara dalam penelitian ini berjumlah 6 orang, yakni: Pendeta A. Abednego Simanjuntak Ketua Pemuda GBI Parakletos Cengkareng Jakarta, Pendeta Heri Setiawan Wakil Wakil Gembala GBI Kapuk Jakarta, Pendeta Paulus Willem Gembala GKPJ Kelapa Jakarta, Pendeta Sherley Ketua Pemuda GBI Kedaung Tangerang, Suyanto, Mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Kairos Jakarta, Yosua Ketua Pemuda GPIA Moderland.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Seorang pemimpin Kristen yang efektif adalah seorang ahli cuaca dan seorang penentu cuaca, seorang yang berfungsi sebagai seorang yang mengamati dan memahami pola perubahan yang terjadi di dalam organisasiyang dipimpinnya, sehingga dapat menciptakan atmosfer yang bermanfaat di dalamnya menurut (Heri Setiawan, 2022). Setiap organisasi memiliki sebuah �iklim�, maka seorang pemimpin Kristen yang cakap tahu bagaimana memberikan reaksi terhadap berbagai kondisi dan situasi yang terjadi di dalam organisasi yang dipimpinnya, baik dalam kondisi badai, tenang, penuh tekanan, petir, maupun guruh, sebab itu diperlukan kepemimpinan yang mempunyai visi yang jelas (Alfons Abednego Simanjuntak, 2022).

Seorang pemimpin Kristen yang efektif pada dasarnya kekuatannya terletak pada imannya kepada Allah, sebab tanpa keyakinan yang kokoh akan panggilannya sebagai imamat yang Rajani, ia akan sulit melaksanakan tanggung jawabnya sebagai pemimpin ketika menghadapi tantangan dan rintangan menurut (Sherley, 2022) yang adalah ketua pemuda GBI Poris Tangerang. Seorang pemimpin Kristen dalam kepemimpinannya agar efektif harus mempersiapkan dirinya menghadapi keadaan buruk apa pun bentuknya, hal itu akan mungkin apa bila dia tetap fokus pada Tuhan yang dia layani dan pada visi yang Tuhan berikan padanya (Suyanto, 2022). Menurut (Yosua, 2022), seperti suhu matahari adalah sumber panas terpenting dalam atmosfer bumi, begitu pula seorang pemimpin karena imannya dan tujuan atau visi yang dipegangnyadapat menguasai atmosfer organisasi dengan jalan memberikan energi yang membakar dan membesarkan api yang sudah menyala di dalam hati mereka yang di bawah pimpinannya sebagai orang-orang percaya. Pendeta senior (Paulus Willem, 2022) menyampaikan bahwa tanpa visi, kepemimpinan seorang pemimpin Kristen sama saja dengan pemimpin yang omong kosong

Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan, dapat diperoleh hasil bahwa kepemimpinan Kristen yang efektif sangat bergantung pada kualitas iman sang pemimpin kepada Allah yang telah memanggilnya dan juga pada visi yang dimilikinya. Maka, kepemimpinan Kristen yang efektif berasal dari pemimpin yang memiliki visi Kedua, kepemimpinan Kristen yang efektif berasal dari pemimpin yang memiliki visi. Hal itu searah dengan (James Wesley Banatau, 2019) yang memberi penekanan pada kepentingan kepemimpinan dalam gereja di mana para pemimpin dituntut kemampuan dalam menggabungkan kembali eklesiologi dengan misiologi dikarenakan gereja dipandang pertama-tama oleh misi yang diberikan Allah.Dan misi Allah selalu berhubungan dengan visi-Nya.

 

Kepemimpinan Kristen yang efektif berasal dari pemimpin yang memiliki iman yang hidup

Seorang pemimpin Kristen pertama-tama perlu memiliki kesadaran akan Siapa yang telah memanggil dia dan Siapa yang dia layani. Sebab setiap orang yang dipanggil oleh Allah harus pegang setiap janji-Nya, sebab tanpa Allah seorang pemimpin dalam kepemimpinannya tidak dapat mencapai hasil yang diharapkan (Yohanes 15:5). Oleh karena itu iman seorang pemimpin Kristen harus sepenuhnya berharap dan bergantung kepada Tuhan agar melalui keteguhan imannya para pengikut-Nya pun tetap berkobar dalam pertandingan iman dalam mengiring Kristus, sebab seorang pemimpin dalam kepemimpinannya harus dapat menjadi teladan dalam imannya. Itu searah dengan (Katarina, 2018) yang berpendapat bahwa antara kepemimpinan dunia dan kepemimpinan Kristen (rohani) ada perbedaan, yakni kesadaran bahwakeberadaankepemimpinan seorang pemimpin Kristen berlangsungatasrencanaAllah dan meniadakan ambisipribadi.

Dalam sebuah kesempatan, Paulus menulis surat untuk membesarkan hati Timotius seorang pemimpin muda dalam gereja mula-mula, yang berbunyi: �Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu� (2 Timotius 1:6). Maka, kobarkan karunia Allah menjadi tantangan yang dihadapi oleh setiap pemimpin, sebab pemimpin Kristen berfungsi sebagai imam yang sepenuhnya menjadikan Allah bagian pusakanya. Perintah-perintah yang tertulis dalam Imamat 6:8-13 adalah perintah yang ditujukan kepada imam-imam (pemimpin) untuk menjaga agar api tidak padam, sebab api di atas altar harus tetap menyala.

Tidak perlu menjadi seorang pramuka untuk mengetahui bahwa nyala api, jika tidak dijaga, perlahan-lahan akan padam. Nyala api yang berada di atas altar dalam Imamat 6 itu berasal dari Allah, sama hal dengan iman yang juga berasal dari Roh Allah (1 Korintus 12:3) sehingga menjaga api tetap menyala tidaklah berbeda dengan menjaga iman seorang pemimpin tetap tertuju kepada Allah sebagai sumber segala sesuatu: itulah iman yang hidup, yang terus menerus berkobar. Maka seorang pemimpin sebagai imam perlu dan penting melakukan dua hal untuk menjaga agar api tetap menyala: Membersihkan serpihan sisa-sisa bakaran yang lama-kelamaan bisa menumpuk dan menutupi, atau setidaknya mengaburkan tujuan- tujuan, metode-metode, dan bahkan orang-orangnya. Berikutnya, menambahkan kayu ke dalam api, untuk menjaga agar api tidak padamkarena kekurangan bahan bakar.

�������� Itu bicara tentang iman yang diperbaharui dari hari ke hari, iman yang menyingkirkan dan mengalahkan segala bentuk kotoran yang coba mengacaukan keyakinan kepada Allah dan rencana-Nya. Sebab kekacauan tidak hanya menimbulkan penderitaan, tetapi juga dapat memadamkan kehidupansuatu organisasi, kecuali jika organisasi itu memperoleh bahan bakar baru. Bahan bakar suatu organisasi Kristiani adalah iman yang hidup sehingga memelihara api Roh Kudus di dalamnya. Pemimpin yang imannya hidup pasti efektif dalam kepemimpinannya sehingga mempengaruhi semangat mereka yang ada dalam organisasinya. Maka, (Kasmir, 2016) menyampaikan bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang bisa menemukan jalan untuk menyegarkan dan memperbarui modal mental dan material serta sumber daya manusia yang dimiliki organisasinya.

 

Kepemimpinan Kristen yang efektif berasal dari pemimpin yang memiliki visi Ilahi

�������� Visi yang dimaksud secara jelas yaitu visi yang berasal dari dari Allah dan bertujuan mewujudkan rencana Allah melalui kepemimpinan tersebut. Bukan agenda manusiawi maupun ambisi pribadi dengan tujuan mencapai hasrat dan keinginan daging. Maka, (Katarina, 2018) berpendapat bahwa apa bila seorang gembalasidangsebagai pemimpin jemaat kurang menyadaripanggilannya, itu dapat mempengaruhimotivasimaupun fokus pelayanannya,sehingga hasil yang diperoleh melalui pelayanannya tidak sesuai harapan. Sebaliknya sebagai teladan, salah satu ciri kepemimpinan Yesus adalah memberi pengaruh dengan menularkanvisimaupunmisikepadapengikut-Nya, yakni murid-murid-Nya (Katarina, 2018) Demikian juga (Yahya Usat, 2019) berkata bahwa kepemimpinan yang bekerja secara profesional yang mengandung unsur bagaimana mengelola visi dan misi, dan juga strategi organisasi, tetapi juga Sumber Daya Manusia yang dipimpin dan menunjukkan tanggung jawab atas keselamatan dan kemajuan mereka adalah kepemimpinan yang efektif.

����������� Oleh karena Kepemimpinan merupakan proses yang melibatkan banyak orang dan untuk kepentingan banyak orang, visi menjadi penggerak pemimpindalam melaksanakan kepemimpinannya. Seperti halnya Musa ketika dipanggil Allah dengan tujuan yang jelas, untuk membebaskan bangsa Israel dari tanah Mesir (Keluaran 3:10 (TB)). Demikian juga Yesus Kristus hadir di dunia dengan visi yang jelas dari Allah yang adalah Bapa-Nya untuk menjadi korban keselamatan dengan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Matius 20:28 (TB)).

��������� Kepemimpinan Kristen yang efektif adalah kepemimpinan yang didasarkan pada visi atau tujuan Ilahi yang selalu berhubungan dengan keselamatan dan pembebasan mereka yang terbelenggu oleh kuasa dosa dan sistem dunia ini. Bagi umat percaya, kepemimpinan adalah tindakan iman dan iman berhubungan dengan visi Allah. Seorang pemimpin yang penuh kasih karunia mencari hati Allah, bukan hanya tangan-Nya, sebab ia sadar bahwa ketika dia fokus menjalani visi Allah, dengan sendirinya Tangan Allah turut bekerja dalam rangka penggenapan visi yang telah ditetapkan-Nya. Maka kepemimpinan Kristen tidak dapat dilepaskan dari kehendak tetapi juga dari caranya berkarya melalui pemimpin yang Dia pilih. Maka kepemimpinan yang memiliki visi adalah kepemimpinan yang taat sepenuhnya kepada arahan dan tujuan Allah, kepemimpinan oleh Roh dan bukan daging, kepemimpinan yang fokus kepada masa depan yang penuh dengan harapan walaupun harus melewati proses yang tidak mudah ketimbang kepemimpinan yang memakai segala cara dan serba instan, asal memenuhi apa yang diinginkan sang pemimpin. Pemimpin yang dipenuhi kasih karunia Allah bersedia berkorban, karena sadar bahwa meskipun secara pribadi ia tidak memanen hasilnya, namun orang lain menikmati manfaat dari apa yang dilakukannya sesuai dengan kehendak dan agenda Ilahi. Itulah efektivitas kepemimpinan Kristen, kepemimpinan yang produktif dalam proyek Ilahi.

 

KESIMPULAN

������������� Kepemimpina Kristen yang efektif adalah kepemimpinan di mana pemimpin aktif menghubungkan visi dan iman, oleh karena kedua hal tersebut pada dasarnya saling berhubungan sehingga tidak dapat dipisahkan, sebab seorang pemimpin yang beriman teguh melihat keadaan yang nampak hari, namun juga melihat keadaan masa depan.Yaitu: Pertama, kepemimpinan Kristen yang berasal dari pemimpin yang memiliki iman yang hidup, dan Kedua, kepemimpinan Kristen yang berasal dari pemimpin yang memiliki visi Ilahi.Kepemimpinan Kristen yang dipenuhi oleh kasih karunia Allah berjalan pada jalur yang benar (iman), mengejar akhir yang benar (visi dan tujuan Allah).

 

BIBLIOGRAFI

 

Alfons Abednego Simanjuntak. (2022). Wawancara Dengan Pendeta A. Abednego Simanjuntak Ketua Pemuda GBI Parakletos Cengkareng Jakarta Jakarta, Senin 10 Mei 2022 jam 13.25 wib.

Ari Yunus Hendrawan, Mambang, Riang Hati Waruwu,dan E. W. P. (2021). Peran Kepemimpinan Visioner yang Melayani dalam Mendidik dan Menghasilkan Calon Pemimpin yang Memiliki Karakter Kuat pada Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Pemimpinan Indonesia, 4(2), 577-597.

Daniel Ronda. (2009). Kepemimpinan Model Gembala. Jurnal Jaffray, 7(2), 18.

Dudung Juhana dan Reni Ambarsari. (2012). Pengaruh Kepemimpinan Visioner dan Pengembangan Karier terhadap Kepuasan Kerja Serta Implikasinya pada Kinerja Pegawai Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Jawa Barat. Jurnal Ekonomi, Bisnis & Entrepreneurship, 6(1), 15-25.

Elisabeth Sitepu. (2019). Kepemimpinan Kristen Dalam Gereja. Jurnal Pendidikan Religius, 1(1), 7�11.

Hendrawan, A., Laras, T., Sucahyowati, H., & Cahyandi, K. (2020). Peningkatan kepemimpinan transformasional dengan organizational citizenship behavior (OCB). Proceeding of The URECOL, 78�89.

Heri Setiawan. (2022). Wawancara Dengan Pendeta Heri Setiawan Wakil Wakil Gembala GBI Kapuk Jakarta, Senin 9 Mei 2022 jam 17.05 wib.

James Wesley Banatau, H. W. (2019). Pengaruh Gaya Kepemimpinan Kristen Pelayan Tuhan Terhadap Pencapaian Hasil Program Kerja di GKII Jemaat Rhema Makassar. In Repository Sekolah Tinggi Theologi aJaffray.

Kasmir. (2016). Manajemen Sumber Daya Manusia (Teori dan Praktek). Raja Grafindo Persada.

Katarina, K. S. (2018). Keteladanan Kepemimpinan Yesus dan Implikasinya bagi Kepemimpinan Gereja pada Masa Kini. Evangelikal: Jurnal Teologi Injili Dan Pembinaan Warga Jemaat, 2(2), 87�98.

Moleong J. (2013). Metodologi Penelitian Kualitatif. PT Remaja Rosda Karya.

Nanjun Deswaraswamy. (2014). Leadership Style. Journal Advances in Management, 7(2), 345.

Paulus Willem. (2022). Wawancara Dengan Pendeta Paulus Willem Gembala GKPJ Kelapa Jakarta, Senin 11 Mei 2022 jam 16.00 wib.

Rivo Manansang, J. S. (2020). Hubungan Karakter Kepemimpinan dan Kepemimpinan Visioner Gembala Dengan Pertumbuhan Gereja. EPIGRAPHE: Jurnal Teologi Dan Pelayanan Kristiani, 4(2), 236�250.

Sherley. (2022). Wawancara Dengan Pendeta Sherley Ketua Pemuda GBI Kedaung Tangerang, Senin 9 Mei 2022 jam 20.40 wib.

Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Bisnis (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, Kombinasi dan R&D

Suherman, U. D. (2019). Pentingnya Kepemimpinan Dalam Organisasi. AKSY: Jurnal Ilmu Akuntansi Dan Bisnis Syariah, 1(2), 259�274.

Suyanto. (2022). Wawancara Dengan Suyanto, Mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Kairos Jakarta, Senin 11 Mei 2022 jam 12.15.

Triyono. (2016). Gaya Kepemimpinan yang Efektif dalam Upaya Meningkatkan Produktifitas Anggota Polresta Bandar Lampung. Jurnal Manajemen Magister, 2(2), 195-207.

Yahya Usat. (2019). Kepemimpinan Blusukan: Model KepemimpinanKristen Yang Membumi. Integritas: Jurnal Teologi, 1(2), 93-100.

Yosua. (2022). Wawancara Dengan Yosua Ketua Pemuda GPIA Moderland, Senin 11 Mei 2022 jam 10.47 wib.