HUBUNGAN ANTARA NATIONAL INSTITUTE OF
HEALTH STROKE SCORE (NIHSS) DAN LETAK LESI PADA PASIEN STROKE INFARK DI RUMAH
SAKIT UMUM DAERAH DR. SOEDARSO PONTIANAK
Muhammad Alif Irsyam1, Dyan Roshinta Laksmi
Dewi2, Muhammad In’am Ilmiawan3
1Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Tanjungpura,
Pontianak, Kalimantan Barat
2Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soedarso,
Pontianak, Kalimantan Barat
3Departemen Patologi
Anatomi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tanjungpura,
Pontianak, Kalimantan Barat
muhamad.alif.irsyam@gmail.com, dyan.roshinta@gmail.com, m.in'ilmiawan@gmail.com
|
|
Abstract |
|
|
Received: |
29-03-2022 |
Introduction: Knowledge of the classic signs of early ischemia or the
appearance of bleeding on computed tomography (CT) is required for
satisfactory imaging studies. Computerized Tomography
Scanning (CT-scan) without contrast of the head is the gold standard
examination to determine the type of stroke pathology, location, and
extension of the lesion and to exclude non-vascular lesions. The National
Institute of Health Stroke Scale (NIHSS) is a systematic assessment tool that
quantitatively measures stroke-associated neurologic deficits. The NIHSS is
used as a clinical assessment tool to evaluate the severity of stroke
patients, determine appropriate treatment, and predict patient outcomes. Objective:
This study aims to determine the relationship between the National Institute
of Health Stroke Score (NIHSS) and the location of lesions in patients with
stroke infarcts at the Regional General Hospital dr. Soedarso
Pontianak. Methods: This study applies an analytical research design
with a cross-sectional design. Assessing the relationship between the
National Institute of Health Stroke Score (NIHSS) and the location of the
lesion in stroke infarct patients. Results: In this study, there was
no effect of the NIHSS score on the location of the lesion in stroke infarct
patients. The incidence of infarct stroke lesions occurred most often in the
subcortical area, which occurred in 12 people. Stroke infarct patients
experienced neurological deficits in the moderate category, which occurred in
10 people. Conclusion: There is no relationship between NIHSS and
lesion location in stroke infarct patients at Dr. Hospital. Soedarso Pontianak. There is no relationship between
NIHSS and lesion location in patients with stroke infarct at Dr. Hospital. Soedarso Pontianak. |
|
Accepted: |
07-04-2022 |
|
|
Published: |
20-04-2022 |
|
|
Keywords: |
Stroke; NIHSS; Infarct location. |
|
|
|
Abstrak |
|
|
Kata kunci: |
Stroke; NIHSS; Letak infark. |
Pendahuluan:
Pengetahuan tentang tanda-tanda klasik iskemia awal atau gambaran
perdarahan di computed tomography (CT) tanpa kontras diperlukan untuk
studi pencitraan yang memuaskan. Computerized Tomography Scanning (CT-scan) tanpa kontras pada
kepala merupakan pemeriksaan baku emas untuk menentukan jenis patologi
stroke, lokasi, dan ekstensi lesi serta menyingkirkan lesi non vaskular. National Institute of Health Stroke Scale
(NIHSS) adalah alat penilaian sistematis yang mengukur kuantitatif stroke
yang terkait dengan defisit neurologik. NIHSS digunakan sebagai alat
penilaian klinis untuk mengevaluasi derajat keparahan pasien stroke,
menentukan pengobatan yang tepat, dan memprediksi hasil pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan National Institute of Health Stroke Score (NIHSS) dan letak lesi
pada penderita stroke infark di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Soedarso
Pontianak. Metode: Penelitian ini menerapkan
rancangan penelitian analitik dengan desain penelitian potong lintang. Menilai hubungan National Institute Of Health Stroke Score
(NIHSS) dan letak lesi pada pasien stroke infark. Hasil: Pada penelitian ini, tidak
ditemukan pengaruh skor NIHSS terhadap letak lesi pada pasien stroke infark.
insidensi lesi stroke infark terjadi paling sering pada daerah subkortikal,
yaitu terjadi pada 12 orang. pasien stroke infark terjadi defisit neurologis
tersering pada kategori sedang, yaitu terjadi pada 10 orang. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara NIHSS dan Letak Lesi pada penderita stroke infark di RSUD Dr. Soedarso
Pontianak. Tidak terdapat hubungan
antara NIHSS dan Letak Lesi pada penderita stroke infark di RSUD Dr. Soedarso
Pontianak. |
Corresponding Author: Muhammad
Alif Irsyam
E-mail: (Calibri (Body), Font Size 10)
PENDAHULUAN
Stroke menjadi
istilah yang tidak terdengar asing lagi bagi sebagian besar masyarakat. Hal ini
disebabkan oleh cukup tingginya angka kejadian stroke yang tidak memandang
status ekonomi, gender, maupun usia. (Pandji, 2010) Stroke adalah
penyebab utama kecacatan jangka panjang pada orang dewasa, dan penyebab
kematian nomor dua di dunia. Menurut World Health Organization (WHO),
Stroke merupakan serangan mendadak dari kemunduran neurologis fokal sekunder
akibat peristiwa vaskular yang berlangsung lebih dari 24 jam
( Wittenauer R, Smith, 2012).
Berdasarkan
data yang dilaporkan oleh Riskesdas tahun 2018, prevalensi stroke di Indonesia
sebesar 10,9% per 1000 penduduk Indonesia yang mengalami stroke dan pada
wilayah/ Kalimantan Barat memiliki prevalensi sebesar 5,8% per 1.000 penduduk
terdiagnosis dan 9,82 per 1000 penduduk terdiagnosis dan atau gejala
(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia,
2018).
Pencitraan
berperan dalam menentukan jenis stroke yang diderita pasien dan setelah itu
menentukan jenis terapi yang akan dilakukan. Pencitraan memainkan peran yang
penting dalam trombolisis (Yueniwati, 2016). Pengetahuan tentang tanda-tanda klasik iskemia awal atau gambaran
perdarahan di computed tomography (CT) tanpa kontras diperlukan untuk
studi pencitraan yang memuaskan (Yueniwati, 2016). Computerized Tomography Scanning (CT-scan) tanpa kontras pada kepala merupakan pemeriksaan baku emas untuk
menentukan jenis patologi stroke, lokasi, dan ekstensi lesi serta menyingkirkan
lesi non vaskular (Laksmidewi, 2019).
National
Institute of Health Stroke Scale (NIHSS) adalah alat penilaian sistematis yang mengukur kuantitatif stroke
yang terkait dengan defisit neurologik. NIHSS digunakan sebagai alat penilaian
klinis untuk mengevaluasi derajat keparahan pasien stroke, menentukan
pengobatan yang tepat, dan memprediksi hasil pasien. Dalam National Stroke
Foundation guidelines, NIHSS direkomendasikan sebagai alat yang valid untuk
menilai tingkat keparahan stroke di unit gawat darurat
( Kwah LK, 2014)
Skala ini
menunjukkan keandalan dan validitas yang sangat baik dan telah digunakan dalam
sebagian besar uji coba stroke untuk mengevaluasi hasil neurologis. Selain itu,
ada bukti yang menunjukkan bahwa NIHSS dikaitkan dengan hasil akhir setelah
stroke dalam hal lama perawatan, tingkat bertahan hidup, dan tujuan pemulangan
( Boone M, 2012).
Saat ini belum
diketahui apakah letak lesi di otak pada penderita stroke infark memberikan
pengaruh terhadap NIHSS, oleh karena itu peneliti tertarik untuk mencari
pengaruh letak lesi terhadap derajat keparahan stroke yang diukur dengan NIHSS
pada penderita stroke infark.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini
menerapkan rancangan penelitian analitik dengan desain penelitian potong lintang.
Penelitian ini dilakukan pada bulan April tahun 2021 sampai bulan September
tahun 2021 dan bertempat di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soedarso Pontianak.
Penelitian ini melibatkan 23 partisipan dengan kiteria pasien yang terdiagnosis
stroke infark akut oleh dokter spesialis saraf setempat dan telah dikonfirmasi
melalui pemeriksaan CT Scan. Pasien yang diintubasi, mengalami amputasi pada
bagian ekstremitas, mengalami Joint Fusion, dan tidak bersedia menjadi
partisipan dieksklusikan dalam penelitian ini. Pemilihan sampel dilakukan
dengan metode non-probability sampling, yaitu dengan cara consecutive sampling.
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan form National Institute of
Health Stroke Score (NIHSS) untuk mengukur tingkat keparahan stroke dan
Hasil CT Scan untuk menilai letak lesi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada hasil
penelitian, usia termuda pasien stroke infark adalah.28 tahun sedangkan usia
tertua adalah 78 tahun. Kelompok usia pasien stroke infark tersering adalah
kelompok usia 55 – 66 Tahun yaitu sebanyak 14 orang (60,87%). Kelompok usia
lainnya yaitu 43 - 54 tahun sebanyak 3 orang (13,04%), dan 67-78 tahun sebanyak
3 orang (13,04%). Usia rata-rata pasien adalah 57,52 tahun.
Hal ini
sejalan dengan penelitiaan yang dilakukan Misbach dimana profil usia pasien
stroke tersering adalah 45-64 tahun sebesar 51,3%, diatas 65 tahun 35,8% dan
dibawah 45 tahun adalah sebesar 12,9% dengan usia rata-rata pasien 58,8 tahun.(Misbach
J, 2000) Hasil yang
serupa juga ditemukan pada penelitian yang dilakukan Kesuma dengan pasien
stroke infark memiliki usia rata-rata 61 tahun dengan rentang usia 45 – 75
tahun.(
Kesuma NMTS, 2019) Hal ini
sejalan dengan hasil RISKESDAS tahun 2018 Kalimantan Barat yang menyebutkan
bahwa prevalensi stroke usia lanjut usia lebih banyak dibandingkan dengan usia
muda yaitu sebesar 27% (55 – 64 tahun), 41,82% (65 – 74 tahun), dan 54,22%
(≥ 75 tahun).(
Kesuma NMTS, 2019) Hasil ini
memberikan gambaran bahwa orang yang memiliki umur lebih tua lebih mudah untuk
terkena stroke iskemik dibandingkan dengan usia muda. Hal ini berkaitan dengan
teori degeneratif yang menyebabkan perubahan pada struktur dan fungsi pembuluh
darah seperti diameter lumen, ketebalan dinding, kekuatan dinding dan fungsi
endotel yang mendasari aterosklerosis. (Sidharta
P, 2010)
Jenis kelamin
pasien stroke infark pada penelitian ini lebih sering terjadi pada perempuan,
yaitu 13 orang (56,52%), sedangkan pada laki-laki sebanyak 10 orang (43,48%).
Hasil yang serupa juga ditemukan pada penelitian yang dilakukan Durga dimana
perbandingan presentase pasien stroke infark perempuan dan laki-laki adalah
58:41.(43) Hasil penelitian yang dilakukan Muharram memperoleh hasil yang
berbeda yaitu subjek dengan jenis kelamin laki-laki lebih banyak dibandingkan
dengan perempuan yakni sebanyak 68,8%.(Sari
IM, 2016)
Pada masa
kanak-kanak dan dewasa awal, pria memiliki insiden stroke iskemik yang lebih
tinggi dan hasil fungsional yang lebih buruk daripada wanita. Pada usia paruh
baya, tingkat stroke iskemik mulai meningkat pada wanita, seiring dengan
timbulnya menopause dan hilangnya hormon seksual wanita. Setelah usia
paruh baya, angka stroke terus meningkat pada wanita, dengan beberapa laporan
insiden stroke yang lebih tinggi pada wanita lanjut usia (usia >85 tahun)
dibandingkan dengan pria lanjut usia.(Roy-O’Reilly
M, 2018)
Dari hasil
analisis uji Fischer Exact didapatkan nilai probabilitas adalah sebesar 0,465
yang mana lebih dari 0,05 yang berarti secara statistik tidak terdapat pengaruh
skor NIHSS terhadap letak lesi pada pasien stroke infark. Menurut penelitian
yang dilakukan Lyden memberikan faktor-faktor yang mempengaruhi dari nilai
NIHSS. Dua faktor ditemukan mendasari NIHSS, sesuai dengan belahan otak kiri
dan kanan menggunakan analisis faktor yang
mewakili fungsi otak kiri dan kanan. Kemudian dilakukan penyempurnaan
dari 2 faktor tersebut dengan
penyelesaian 4 faktor yang merupakan turunan faktor tersebut yang menghasilkan
kecocokan yang lebih baik. Masing-masing faktor hemisfer dibagi menjadi 2
subfaktor, satu mewakili kortikal dan yang lainnya mewakili fungsi motorik.
Stroke otak kiri mendapat skor 4 poin lebih tinggi pada NIHSS daripada stroke
otak kanan dengan volume yang lebih besar (Lynden
P, 2004). Faktor 1 mewakili fungsi kortikal hemisfer kiri, dan faktor 2 umumnya
mewakili fungsi kortikal hemisfer kanan. Tatapan (item 2) dan bidang visual
(item 3) berada di belahan kanan karena efek pengganggu dari afasia dan
pengabaian (lebih mungkin untuk menunjukkan pemotongan bidang visual yang
jelas). Demikian pula, item wajah dan sensorik (masing-masing item 4 dan 8)
berada di belahan kanan karena afasia mengganggu pemeriksaan. Faktor 3 dan 4
masing-masing mewakili fungsi motorik hemisfer kiri dan kanan. Penentuan faktor
sangat mirip dengan hasil sebelumnya, meskipun Lyden mempertahankan kelemahan
wajah karena pemuatannya yang lebih besar dalam analisis ini dan tidak pada
analisis sebelumnya. Disartria sarat dengan faktor 1 (fungsi kortikal hemisfer
kiri), tetapi sebelumnya sarat dengan faktor 3 (fungsi motorik hemisfer kiri)
(Lynden
P, 1999).
Faktor usia
juga mempengaruhi dari hasil dari NIHSS. Penelitian yang dilakukan Naess
menunjukkan pasien yang lebih tua menunjukkan skor NIHSS yang lebih tinggi
(pada awal dan 7 hari) dan, pada hari ke 7, lebih banyak perburukan dan
kematian neurologis. Namun, analisis regresi linier menunjukkan bahwa skor
NIHSS 7 hari yang lebih tinggi dikaitkan dengan skor NIHSS yang lebih tinggi
saat masuk dan perburukan neurologis, tetapi tidak dengan usia 80.(Naess
H, 2014)
Komorbid dari
pasien stroke infark juga mempengaruhi dari hasil dari NIHSS. Penelitian yang
dilakukan Geng menunjukkan adanya DM (Diabetes Melitus) serta peningkatan kadar
glukosa dikaitkan dengan hasil jangka panjang yang lebih buruk dan hasil akut.
Studi terbesar yang melaporkan hubungan DM dengan hasil akut termasuk 1.088
pasien (Geng
HH, 2017). Dalam penelitian Roquer, DM dikaitkan dengan END (Early Neurological
Deterioration) (didefinisikan sebagai peningkatan 4 pada skor NIHSS selama
72 jam pertama setelah stroke). Studi-studi ini menunjukkan bahwa DM atau kadar
glukosa yang tinggi saat masuk berhubungan dengan hasil yang lebih buruk pada
fase akut dan subakut.(Roquer
J, 2014)
Salah satu
studi dengan 1.116 pasien termasuk (210 dengan END), Chung menganalisis hubungan antara perbedaan nilai
dari tekanan darah dan END disajikan dalam waktu 72 jam setelah onset stroke.
Rata-rata, tekanan darah sistolik dan diastolik maksimum dan minimum serta
perbedaan antara maksimum dan minimum, derivasi standar dan koefisien variasi
dianalisa. Analisis statistik menunjukkan bahwa semua parameter, kecuali
rata-rata tekanan darah diastolik, secara independen terkait dengan END
(Chung
J-W, 2015). Gill juga menemukan hubungan antara tekanan darah
sistolik dan END dalam kohort 327 pasien stroke iskemik. Secara spesifik,
Ditemukan bahwa penurunan tekanan darah sistolik 24 jam setelah trombolisis
secara independen terkait dengan peningkatan skor NIHSS pada 24 jam setelah
trombolisis. Semua temuan tersebut menunjukkan bahwa tekanan darah (baik
diastolik dan sistolik) mempengaruhi hasil, dengan tekanan darah sistolik yang
tinggi dan penurunan tekanan darah diastolik dikaitkan dengan hasil yang lebih
buruk.(Gill
D, 2016)
Penelitian
yang dilakukan Yu dengan kohort 339 pasien mengamati bahwa pengobatan awal
statin dikaitkan dengan hasil yang baik (skor mRS 0 hingga 3) pada 10 hari,
serta penggunaan obat antihipertensi, antiplatelet, dan statin secara
bersamaan, tetapi tidak dengan penggunaan obat antihipertensi, antiplatelet,
dan statin. obat antiplatelet saja.( Yu
AYX, 2009) Selanjutnya,
penelitian Tsivgoulis. menemukan bahwa penggunaan statin sebelum stroke secara
independen terkait dengan pemulihan neurologis klinis awal dalam kohort mereka
yang terdiri dari 1.660 pasien, meskipun tidak terkait dengan hasil 3 bulan
yang baik.(Tsivgoulis
G, 2015)
Pada
penelitian ini, waktu penilaian NIHSS pada setiap pasien saat didiagnosis
stroke infark berbeda-beda, hal ini disebabkan hasil CT Scan yang dikeluarkan
bagian Radiologi RSUD Dr. Soedarso memiliki rentang yang tidak menentu dari
saat dilakukan pemeriksaan. Namun tatalaksana awal stroke dilakukan sehingga
akan mempengaruhi nilai dari NIHSS tersebut.
Jumlah sel
darah merah dan kadar hemoglobin dapat mempengaruhi reoksigenasi selama stroke
iskemik akut dan, pada gilirannya, tingkat kerusakan neurologis. Penelitian
Turcato menganalisis pengaruh variasi ukuran sel darah merah (Red Blood Cell
Distribution Width/RDW) pada hasil stroke dalam kohort 316 pasien stroke
iskemik. Turcato menganalisis hubungan RDW dengan kurangnya perbaikan
neurologis pada 7 hari (tidak ada skor NIHSS 0, atau skor NIHSS 4 dari
baseline). Turcato menemukan bahwa pasien dengan RDW 14,5%
menunjukkan penurunan
skor NIHSS secara signifikan lebih rendah pada 24 jam dan 7 hari dari awal
dibandingkan dengan pasien dengan RDW <14,5%
(
Turcato G, 2017). Studi lain, yang mencakup 602 pasien, menemukan bahwa RDW tidak terkait
dengan NIHSS atau perubahan NIHSS pada 24 jam. Namun demikian, RDW dikaitkan
dengan kelangsungan hidup 1 tahun dan hasil fungsional 3 bulan yang lebih baik
pada pasien yang lebih tua (≥75 tahun)
(Pinho
J, 2018). Di sisi lain, penelitian Furlan menganalisis pengaruh konsentrasi
hemoglobin darah (Hemoglobin Concentration/HGB) pada tingkat keparahan
stroke dan hasil setelah stroke iskemik dalam kohort besar dari 9.230 pasien
stroke iskemik. Furlan menemukan bahwa HGB tinggi, tetapi bukan HGB rendah,
merupakan prediktor independen dari peningkatan mortalitas 7 hari dibandingkan
dengan HGB normal. Singkatnya, tampaknya ketersediaan oksigen yang tinggi pada
fase akut stroke dikaitkan dengan hasil akut dan subakut yang lebih buruk,
meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan.(Furlan
JC, 2016)
Beratnya
derajat klinis strok sangat berkorelasi dengan ukuran otak yang mengalami
infark. Bila bagian otak yang mengalami kerusakan lebih besar cenderung untuk
memiliki efek kerusakan yang lebih berat. Infark yang terletak di area kortikal
dengan ukuran kecil berhubungan dengan hasil ketergantungan independen atau
ringan. Sebaliknya, infark yang terletak dan berhubungan dengan daerah
subkortikal dengan ukuran lebih besar berhubungan dengan ketergantungan berat
atau total. kualitas hidup pasien stroke iskemik akut berdasarkan kadar ADL
skor BI berhubungan dengan ukuran infark (Yusrika
MU, 2020).
Defisit
neurologis pada 7 hari berkorelasi tinggi dengan ukuran infark yang diukur
dengan CT pada 7-10 hari. Hasil pasien pada 3 bulan juga berkorelasi dengan
ukuran lesi CT pada 7-10 hari. Defisit neurologis yang ada saat masuk juga
berkorelasi kuat dengan ukuran lesi CT 7-10 hari. Bagi pasien stroke, ini
menunjukkan bahwa pemeriksaan neurologis pertama bisa menjadi prediktor
kehilangan jaringan berikutnya seperti yang ditunjukkan oleh pengukuran CT.
Korelasi volume defisit-infark klinis juga memberikan insentif untuk analisis
lebih lanjut dan peningkatan skala pemeriksaan neurologis.(Thomas
Brott, 1989)
Pada
penelitian ini ukuran infark dari setiap pasien berbeda-beda, hal ini
ditunjukkan dalam hasil foto CT Scan yang dikeluarkan oleh bagian Radiologi
RSUD Dr. Soedarso. Pada penelitian ini, ukuran lesi dihitung dengan hasil foto
CT Scan yang didokumentasikan dihitung menggunakan aplikasi Autocad. Rerata
ukuran otak berdasarkan perhitungan aplikasi tersebut adalah 120,141 cm2.
Ukuran lesi terbesar yaitu 47,994 cm2 pada ukuran otak sebesar 169,266 cm2
sedangkan ukuran lesi terkecil 0.116 cm2 pada ukuran otak sebesar
182,744 cm2.
Tabel
1. Distribusi Subjek Penelitian
|
Karakteristik |
Frekuensi |
% |
|
Usia (Tahun) |
|
|
|
≤ 30 |
1 |
4,3 |
|
31-42 |
2 |
8,7 |
|
43-54 |
3 |
13,0 |
|
55-66 |
14 |
60,9 |
|
67-78 |
3 |
13,0 |
|
Jenis Kelamin |
|
|
|
Laki-Laki |
10 |
43,5 |
|
Perempuan |
13 |
56,5 |
|
NIHSS |
|
|
|
Ringan |
2 |
8,7 |
|
Sedang |
10 |
43,5 |
|
Sedang Berat |
5 |
21,7 |
|
Berat |
6 |
26,1 |
|
Letak Lesi |
|
|
|
Lesi Kortikal |
7 |
30,4 |
|
Lesi Subkortikal |
12 |
52,2 |
|
Lesi Multipel |
4 |
17,4 |
Sumber refrensi data tabel: Data Hasil Penelitian
“Usia rata-rata subjek penelitian adalah 57,52 tahun. Usia termuda subjek
penelitian adalah 28 tahun dan yang tertua adalah 78 tahun. Persentase usia terbesar subjek penelitian adalah sebesar 60,87% pada kelompok usia 55-66 tahun sedangkan presentase terkecil sebesar 4,35% pada kelompok usia kurang
dari 30 tahun. Jumlah pasien stroke infark berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 13 orang dengan presentase 56,5% sedangkan jumlah pasien stroke infark berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 10 orang dengan presentase 43,5%. Nilai skor
NIHSS subjek penelitian memiliki rerata nilai 16,78 dengan rentang nilai dari
3 hingga 38. Sebagian besar
subjek penelitian memiliki nilai NIHSS pada kategori sedang dengan jumlah 10 pasien dengan presentase
43,5% Sebagian besar subjek
penelitian mengalami infark berdasarkan hasil CTScan pada daerah subkortikal yaitu sebanyak 12 orang dengan presentase 52,2 %.
KESIMPULAN
Kesimpulan dari pebelitian ini adalah Tidak
terdapat hubungan antara NIHSS dan Letak Lesi pada penderita stroke infark di
RSUD Dr. Soedarso Pontianak. Tidak terdapat hubungan antara NIHSS dan Letak Lesi pada penderita stroke infark di RSUD
Dr. Soedarso Pontianak.
BIBLIOGRAFI
Pandji D. Stroke Bukan Akhir dari Segalanya. Jakarta: PT.
Elex Media Komputindo; 2010.
Wittenauer R, Smith L. Ischaemic and
Haemorrhagic Stroke. World Health Organization; 2012 p. 46. (Priority Medicines
for Europe and the World Update Report). Report No.: 7.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Laporan Riskesdas Provinsi Kalimantan Barat. Jakarta: Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan; 2018.
Yueniwati Y. Pencitraan Pada Stroke. Malang: UB
Press; 2016.
Laksmidewi AAAP, Pramaswari AAAA. Neurologi
Berkarya. Denpasar: Udayana University Press; 2019.
Kwah LK, Diong J. National Institutes of
Health Stroke Scale (NIHSS). Elsevier BV. 2014;60(61):1.
Boone M, Chillon J-M, Bugnicourt J-M. NIHSS
and Acute Complications After Anterior and Posterior Circulation Strokes.
2012;(8):87–93.
Misbach J, Wendra A. Clinical Pattern of
Hospitalized Strokes in 28 Hospitals in Indonesia. 2000;29–34.
Kesuma NMTS, Dharmawan DK, Fatmawati H. Gambaran
Faktor Rsiko dan Tingkat Risiko Stroke Iskemik Berdasarkan Stroke Risk
Scorecard di RSUD Klungkung. 2019;10(3):720–9.
Sidharta P., Mardjono M. Neurologi Klinis
Dasar. Jakarta: Dian Rakyat; 2010.
Sari IM, Islam MS. Perbandingan Antara
Derajat Fungsional Neurologis Dengan Kadar Faktor Von Willebrand Pada Pasien
Stroke Trombotik Akut. 2016;02(01):1–8.
Roy-O’Reilly M, McCullough LD. Age and Sex
Are Critical Factors in Ischemic Stroke Pathology. 2018;159(8):3120–31.
Lynden P, Claesson L, Havstad S. Factor
Analysis of the National Institutes of Health Stroke Scale in Patients With
Large Strokes. 2004;61(11):1677–80.
Lynden P, Mei L, Marler J, Jackson C.
Underlying Structure of the National Institutes of Health Stroke Scale.
American Heart Association. 1999;30(11):2347–54.
Naess H, Gjerde G, Waje-Andreassen U.
Ischemic stroke in patients older and younger than 80 years.
2014;129(6):399–404.
Geng HH, Wang Q, Li B, Cui BB, Jin YP, Fu
RL. Early Neurological Deterioration During the Acute Phase As A Predictor of
Long-term Outcome After First-ever Ischemic Stroke. 2017;96(51):1–7.
Roquer J, Rodríguez-Campello A,
Cuadrado-Godia E, Giralt-Steinhauer E, Jiménez-Conde J, Dégano IR, et al.
Ischemic Stroke in Prediabetic Patients. 2014;261(10):1866–70.
Chung J-W, Kim N, Kang J, Park SH, Kim W-J,
Ko Y. Blood Pressure Variability and The Development of Early Neurological
Deterioration Following Acute Ischemic Stroke. 2015;33(10):2099–106.
Gill D, Cox T, Aravind A, Wilding P,
Korompoki E, Veltkamp R, et al. A Fall in Systolic Blood Pressure 24 Hours
after Thrombolysis for Acute Ischemic Stroke Is Associated with Early
Neurological Recovery. 2016;25(6):1539–43.
Yu AYX, Keezer MR, Zhu B, Wolfson C, Côté
R. Pre-stroke Use of Antihypertensives, Antiplatelets, or Statins and Early
Ischemic Stroke Outcomes. 2009;27(4):398–402.
Tsivgoulis G, Kadlecová P, Kobayashi A,
Czlonkowska A, Brozman M, Švigelj V, et al. Safety of Statin Pretreatment in
Intravenous Thrombolysis for Acute Ischemic Stroke. STROKEAHA. 2015;46(9):2681–4.
Turcato G, Cappellari M, Follador L, Dilda
A. Red Blood Cell Distribution Width Is an Independent Predictor of Outcome in
Patients Undergoing Thrombolysis for Ischemic Stroke. 2017;43(1):30–5.
Pinho J, Marques SA, Freitas E, Araújo J,
Taveira M, Alves JN, et al. Red Cell Distribution Width as A Predictor of
1-year Survival in Ischemic Stroke Patients Treated With Intravenous
Thrombolysis. 2018;164:4–8.
Furlan JC, Fang J, Silver FL. Acute
Ischemic Stroke and Abnormal Blood Hemoglobin Concentration. 2016;134(2):123–30.
Yusrika MU, Nuartha AABN, Wijayanti IAS,
Asih MW, Sujatmiko SS. The Correlation Between Location and Size of Infarction
Toward the Quality of Life in Acute Ischemic Stroke Patients at Sanglah General
Hospital, Bali, Indonesia. 2020;11(2):717–21.
Thomas Brott, John R. Marler, Charles P.
Olinger, Harold P. Adams Jr., Thomas Tomsick. Measurements of Acute Cerebral
Infarction: Lesion Size by Computed Tomography. 1989;20(7):871–5.