PENGEMBANGAN MODEL
PROBLEM BASED LEARNING BERBASIS
MULTIMEDIA INTERAKTIF MATA PELAJARAN SISTEM REM TEKNIK KENDARAAN RINGAN DI SMK
Sultan1,
Purnamawati2, Moh.
Ahsan S. Mandra3
Fakultas Teknik dan Bisnis,
Universitas Muhammadiyah Sinjai1 dan Fakultas
Teknik, Universitas Negeri Makassar, Makassar, Indonesia 2,3
sultan_al@ymail.com1,
|
|
Abstract |
|
|
Received: |
05-03-2022 |
Introduction: Education is a relationship
that occurs between
educators (teachers) and students (students). Objectives: This
development research aims to (1) develop an Problem
Based Learning in the brake system subjects of SMK students. Methods:
This development research uses the Borg & Gall which was revised into
seven stages, namely: Analysis, Planning, Develop Preliminary Product, Test
Phase I, Product Revision, Test Phase II and Implementation. Results:
The results of developing interactive learning media through expert validity,
media validation results are 91.01 very valid categories, program validation
is 90.97 very valid categories and material validation results are 89.16
valid categories, expert validation results and the trial stage have met
aspects media validity and practicality. The implementation stage shows that
the results of student responses from the media display aspect obtained an
average score of 90.6 in the very good category and the material aspect
obtained an average score of 86.5 in the good category, while the teacher's
response from the media display aspect obtained a total an average score of
92.7 in the very good category and the material aspect obtained a total score
of 92.59 in the very good category. The results of student learning observations
show that students' learning mastery has met the standard of completeness,
namely 84.72 and the results of student activities obtained a score of 88.39
which is in the active category. Conclusion: Based on the research,
that the interactive learning media developed was feasible, practical and
effective to be used to increase learning motivation and activeness of
students in the learning process. |
|
Accepted: |
05-03-2022 |
|
|
Published: |
20-03-2022 |
|
|
Keywords: |
Development; Interactive Learning Media;
Light Vehicle Engineering Brake System. |
|
|
|
Abstrak |
|
|
Kata Kunci: |
Pengembangan, Media Pembelajaran
Interaktif, Sistem Rem
Teknik Kendaraan Ringan |
Pendahuluan: Pendidikan merupakan suatu hubungan yang terjadi antara pendidik (guru) dan peserta didik (siswa) Tujuan: Penelitian
pengembangan ini bertujuan, (1) mengembangkan
model Problem Based Learning berbasis multimedia interaktif
pada mata pelajaran sistem rem siswa SMK. Metode: Penelitian
pengembangan ini menggunakan model Borg
& Gall yang direvisi
menjadi tujuh tahap, yaitu: Analysis,
Planning, Develop Preliminary Product, Uji Coba Tahap I,
Revisi Produk, Uji Coba Tahap II dan Impelementation. Hasil: Hasil
pengembangan media pembelajaran
interaktif melalui validitas ahli, hasil validasi media sebesar 91,01 kategori sangat
valid, validasi program sebesar
90,97 kategori sangat valid dan hasil
validasi materi sebesar 89,16 kategori valid, hasil validasi ahli dan tahap uji coba telah memenuhi
aspek kevalida dan kepraktisan media. Tahap implementasi menunjukkan bahwa hasil respon
peserta didik dari aspek tampilan
media diperoleh total skor
rata-rata penilaian 90,6 kategori
sangat baik dan aspek materi diperoleh total skor rata-rata penilaian 86,5 kategori baik, sedangkan respon pendidik dari aspek tampilan media diperoleh total skor rata-rata penilaian 92,7 kategori sangat baik dan aspek materi diperoleh total skor rata-rata penilaian 92,59 kategori sangat baik. Hasil pengamatan belajar peserta didik menunjukkan ketuntasan belajar peserta didik telah memenuhi
standar ketuntasan yakni 84,72 dan hasil aktivitas peserta didik diperoleh skor 88.39 berada pada kategori aktif. Kesimpulan:
Berdasarkan penelitian, bahwa media pembelajaran interaktif yang dikembangkan telah layak, praktis dan efektif digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar dan keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran. |
Corresponding Author: Sultan
E-mail: sultan_al@ymail.com
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan
suatu hubungan yang terjadi antara pendidik (guru) dan peserta didik (siswa). Melalui pendidikan peserta didik dipersiapkan
menjadi manusia yang cerdas dan berguna bagi nusa dan bangsa,
serta diharapkan dapat mengembangkan potensinya untuk menjadi lebih baik.
Dalam upaya menumbuhkan, memajukan, serta mencerdaskan kehidupan bangsa maka penyelengaraan dan pelaksanaan proses pendidikan harus terus ditingkatkan.
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mempersiapkan peserta didik untuk
siap dalam memasuki dunia kerja sesuai dengan program keahlian yang dimilikinya. Pada prosesnya pendidikan kejuruan menekankan pada teori, dan pengembangan pengetahuan dan pelatihan yang menuntut peserta didik memiliki keterampilan tertentu agar menjadi modal utama dalam mengikuti persaingan untuk mendapatkan suatu pekerjaan sesuai bidang keahliannya. Undang Undang Republik
Indonesia Nomor 20 Tahun
2003, tentang Sistem
Pendidikan Nasional Bab II Pasal 3, menyebutkan bahwa salah satu tujuan didirikan
SMK yaitu membekali peserta didik dengan
kompetensi yang dibutuhkan untuk bekerja. Selanjutnya, disebutkan bahwa tingkat pekerjaan
bagi lulusan SMK adalah untuk mengisi
lowongan pekerjaan yang ada di dunia usaha dan dunia industri (DUDI) sebagai tenaga kerja tingkat
menengah.
Permasalahan SDM, pendidikan
memegang peran yang sangat penting dalam proses meningkatkan kualitas mutu pendidikan. Peningkatan kualitas pendidikan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas SDM itu sendiri. Media pembelajaran mempunyai peranan penting dalam meningkatkan
kemampuan peserta didik baik dalam
aspek akademis maupun dalam aspek
kompetensi. Menurut (Rusmiyati,
2014) Media adalah segala
sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pendidik ke peserta didik sehingga
dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian peserta didik sedemikian
rupa sehingga proses belajar mengajar bisa terjadi. Media pembelajaran adalah alat atau bentuk
stimulus yang berfungsi untuk
menyampaikan pesan pembelajaran.Bentuk-bentuk stimulus bisa
dipergunakan sebagai media
di antaranya adalah hubungan interaksi manusia, gambar bergerak atau tidak,
tulisan, dan suara yang direkam
(Rusman,
2013).
Peningkatan penggunaan
multimedia pembelajaran harus
ditingkatkan untuk mewujudkan tujuan dari pendidikan. Penggunaan komputer dalam pembelajaran merupakan aplikasi teknologi dalam pendidikan. Pada dasarnya teknologi dapat menunjang proses pencapaian tujuan pendidikan. Namun sementara ini, komputer sebagai
produk teknologi khususnya di sekolah-sekolah kurang dimanfaatkan secara optimal, hanya sebatas word
processing saja. Proses pendidikan
bersifat dinamis dan terus berkembang sesuai dengan perkembangan
zaman dan perkembangan teknologi,
juga dapat diartikan seluruh usaha yang dilakukan oleh orang dewasa termasuk di dalamnya pendidik, membantu peserta didik mencapai
tujuan yang diinginkan.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007, Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru pasal 1 ayat 1 menyatakan bahwa setiap pendidik
wajib memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi tenaga pendidik yang berlaku secara nasional. Proses pembelajaran kompetensi sistem rem membutuhkan pemahaman yang kuat baik teori
maupun praktik. Teori yang disampaikan pendidik terkadang membuat peserta didik kurang memahami
secara maksimal karena penyampaian materi oleh pendidik selama ini masih
berorentasi pada pembelajaran
berpusat pada guru (teacher centered) inilah yang menjadi permasalahan klasik pembelajaran kompetensi dasar ini. Dari data yang diperoleh dari tata usaha SMKN 3 BONE menunjukan bahwa nilai peserta didik,
di bawah KKM sekitar 30%, nilai yang sesuai KKM sekitar 50% dan nilai diatas KKM sekitar 20%. Sebagian peserta didik harus
mengikuti remedial supaya nilainya bisa mencapai
atau melebihi KKM. Dari
data yang diperoleh menunjukkan
bahwa nilai peserta didik masih
rendah.
Menghadapi era persaingan
teknologi yang semakin pesat khususnya dalam bidang otomotif,
maka generasi mudah dituntut untuk memiliki kompetensi daya saing tak hanya
dalam kanca Nasional akan tapi, juga dalam kanca Internasional.
Maka harus dilakukan pengembangan media dan
model pembelajaran yang inovatif
dan interaktif. Pengembangan
model problem based learning berbasis multimedia interaktif dengan menggunakan komputer menjadi salah satu solusi dalam
rangka mencapai tujuan pendidikan yakni meningkatkan kualitas pembelajaran. Pengembangan model problem based learning
berbasis multimedia interaktif
merupakan suatu penyusunan dan produksi multimedia yang
akan digunakan pada SMK khususnya pada Jurusan Teknik Kendaraan Ringan.
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah, bagaimanakah
pengembangan model problem based learning
berbasis multimedia interaktif
pada mata pelajaran sistem rem siswa SMK, Apakah model problem based learning berbasis multimedia interaktif mata pelajaran sistem rem Valid digunakan untuk siswa SMK, Apakah model problem based learning berbasis multimedia interaktif
mata pelajaran sistem rem Praktis digunakan untuk siswa SMK, Apakah model problem based learning berbasis multimedia interaktif
mata pelajaran sistem rem Efektif digunakan untuk siswa SMK.
Perkembangan teknologi
yang semakin pesat sangat berdampak terhadap proses pembelajaran di Sekolah khususnya pengunaan media pembelajaran yang semakin membatu pendidik dan peserta didik dalam
pembelajaran. Menurut (Leow
& Neo, 2014) Multimedia interaktif
adalah bagian inti dari lingkungan belajar yang berpusat pada peserta didik (students centered) yang dikembangkan dengan menggabungkan beberapa demensi multimedia seperti gambar, video, audio,
animasi dan simulator dan lain sebagainya.
Menurut (Munir,
2012) menyatakan bahwa
multimedia interaktif adalah
suatu tampilan multimedia
yang dirancang agar tampilannya
memenuhi fungsi menginformasikan pesan dan memiliki interaktifitas dengan penggunanya. Pengertian ini merujuk pada kemampuan multimedia
interaktif untuk berkomunikasi dengan penggunanya.
Menurut (Milovanovic,
Obradovic, & Milajic, 2013) multimedia interaktif
penekanannya adalah pada penggunaan Komputer/Laptop yaitu perangkat lunak multimedia dalam pembelajaran yang digunakan untuk memberikan keleluasaan kepada peserta didik dalam
memilih setiap pembahasan materi yang mereka ingingkan, penggunaan multimedia interaktif memberikan interaktifitas antara pengguna media dengan perangkat Komputer/Laptop yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Penggunaan perangkat Komputer dalam proses belajar menggunakan Microsoft
Power Point dalam proses pembelajaran
memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk aktif
dalam proses pembelajaran dimana dalam pembelajaran,
aktivitas peserta didik sering terjadi
tanya jawab sehingga dapat meningkatkan daya ingat mereka tentang
materi yang diberikan, kemudian dalam presentase dengan menggunakan media Microsoft
Power Point yang mampu menyajikan
teks, gambar, animasi, audio dan lain-lain sehingga
menimbulkan pengertian dan ingatan yang kuat (Widyarsih,
Daningsih, & Marlina, n.d.).
Pengembangan model problem based learning berbasis multimedia interaktif akan memerikan keaktifan peserta didik dalam
proses belajar dan memberikan
kemampuan dalam menganalisis kerusakan kendaraan. Proses pembelajaran tidak hanya fokus
terhadap kemampuan peserta didik untuk
mengetahui semua teori yang telah berikan akan tetapi
kemampuan peserta didik dalam menganalisis
sebuah problem
dalam kegiatan praktek juga jauh lebih penting, dengan pengembangan model PBL berbasis
multimedia interaktif dihapkan
nantinya dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalammenyelesaikan
suatu masalah (Tight,
Mok, Huisman, & Morphew, 2009).
Menurut (Gunantara,
Suarjana, & Riastini, 2014) PBL didefinisikan sebagai pendekatan pembelajaran yang dimulai dengan penyajian masalah, dirancang dalam konteks materi
yang relevan untuk dipelajari guna mendorong pengetahuan dan pemahaman konsep mencapai pemikiran kritis, memiliki kemandirian belajar, berpartisipasi dalam keterampilan kerja kelompok atau indivudu
untuk memecahkan sebuah masalah. Menurut (Purnamawati,
Hasanah, & Nuridayanti, 2017) PBL adalah suatu inovasi pembelajaran
yang bertujuan untuk memandirikan peserta didik dalam belajar,
mengembangkan pemikiran kritis, kreatif dan inovatif. PBL dilakukan dalam pembelajaran praktikum, yaitu proses pemelajaran melibatkan aktipitas yang kompleks, bukan sekedar transper of knowledge dari pendidik
kepeserta didik. Namun setiap pembelajaran,
harus diupayakan untuk dapat mengantarkan
peserta didik pada penguasaan kompetensi yang dicanangkan, termasuk nilai-nilai dan sikap yang melandasinya.
Menurut (Jossy,
2011) Rem merupakan salah satu dari bagian
kendaraan yang mempunyai peranan penting untuk kenyamanan dan keselamatan pengendara mobil atau sepeda
motor. Rem adalah suatu piranti untuk memperlambat
atau menghentikan gerakan roda yang berputar. Menurut (Z
Furqon & Pramono, 2021). Sistem Rem
pada kendaraan merupakan suatu komponen yang sangat penting untuk keamanan
dalam berkendara, tidak berfungsinya rem dapat menimbulkan bahaya dan keamanan berkendara jadi terganggu. Sistem pengereman mobil dirancang untuk mengontrol kecepatan/laju kendaraan, dengan tujuan meningkatkan
keselamatan dan untuk memperoleh pengendaraan yang aman.
Pengembangan Model Problem Based Learning Berbasis
Multimedia Interaktif
memiliki sepuluh langkah pelaksanaan pengembangan yaitu sebagai berikut: (1) penelitian awal pengumpulan informasi (research and information collecting),
(2) perencanaan (planning),
(3) pengembangan produk awal (develop
preliminary), (4) uji coba awal
(preliminary field testing), (5) revisi produk awal
(main product revision), (6) uji coba lapangan awal
(main field testing), (7) revisi produk operasional
(operasional
product revision), (8) uji coba lapangan produk operasional (operational
field testing), (9) revisi produk
akhir (final
product revision) , dan (10) diseminasi dan implementasi (dissemination
and implementation) produk hasil
pengembangan.

Gambar 1. Model Pengembangan Borg&Gall
METODE
PENELITIAN
Jenis penelitian adalah Pengembangan atau R&D (Research
and Development). Perangkat pembelajaran
yang dikembangkan berupa
multimedia pembelajaran interaktif Sistem Rem.
Adapun prosedur yang digunakan
dalam pengembangan produk mengadaptasi model pengembangan Borg&Gall, yang terdiri dari sepuluh
tahapan namun dilakukan penyederhanaan menjadi tujuh tahapan
pelaksanaan seperti yang terlihat pada Gambar 2.

Gambar
2. Desain Model Pengembangan
Subjek dalam penelitian ini yaitu peserta
didik kelas XI Prodi Teknik
Kendaraan Ringan SMK Negeri
3 Bone tahun ajaran 2017/
2018 yang terdiri dari 25
orang. Objek dalam penelitian ini adalah model problem based learning (PBL) berbasis multimedia interaktif
mata pelajaran Sistem Rem Teknik Kendaraan Ringan kelas XI SMK Negeri 3
Bone.
Penelitian pengembangan
model Problem Pased Learning (PBL)
berbasis multimedia interaktif
pada mata pelajaran Sistem Rem Teknik Kendaraan Ringan kelas XI, telah dilaksanakan di SMK Negeri 3 Bone tahun
ajaran 2017/2018. Waktu penelitian
dan pengembangan dilaksanakan
kurang lebih selama tiga bulan.
Validasi penelitian
dan pengembangan meliputi tahap penilaian yang dilakukan oleh ahli materi dan ahli media. Setelah divalidasi produk kemudian melalui revisi tahap I. Hasil revisi tahap I kemudian diuji cobakan dengan
cara digunakan oleh pendidik dalam pembelajaran di kelas. Selama penggunaan dalam pembelajaran di kelas peneliti berperan sebagai observer.
Data
yang diperoleh melalui instrumen penilaian dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Statistik deskriptif menggambarkan (mendeskripsikan) atau menyimpulkan data baik secara numerik
(misal menghitung
rata-rata) atau secara grafis (dalam bentuk
tabel atau grafik).
Kelayakan media dapat diketahui berdasarkan analisis data yang diperoleh dari penilaian validator, pendidik dan peserta didik. Data yang berupa masukan, koreksi saran dan kritik terhadap produk yang dihasilkan,
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Proses Pengembangan
Model Problem Based Learning Berbasis Multimedia Interaktif Sistem Rem
a.
Tahap
analisis (Analysis)
Tahap ini bertujuan untuk menetapkan dan mendefinisikan kebutuhan-kebutuhan pembelajaran dengan menganalisis tujuan dan batasan materi serta menganalisis
kelayakan dan syarat-syarat
pengembangan. Dengan meliputi analisis peserta didik, analisis tugas, analisis konsep, perumusan pembelajaran.
b.
Tahap
Perencanaan
Tahap perencanaan dilakukan dengan mengumpulkan data awal dan membuat diagram alur atau flowchart
dan dilengkapi dengan storyboard, buku
panduan, dan modul/bahan ajar yang menjadi acuan dalam mendesain
media.
c.
Desain
produk awal
Desain
produk awal merupakan tahap desain atau pembuatan
multimedia interaktif. Proses pembuatan
dilakukan dengan membuat button interaktif pada setiap slide, setelah
pembuatan dan penempatan button interaktif
selasai. Setelah itu membuat tampilan
branda, tampilan SK dan KD,
pendahuluan, tujuan pembelajaran, bantuan, profil, materi, latihan, reprensi dan penutup semua tampilan
menu didesain secara interaktif. Setelah semua desain produk
awal media interaktif selesai dilakukan tahap validasi ahli, materi dan media. Produk multimedia interaktif yang
dinyatakan valid/layak oleh
tim validator, selanjutnya dilakukan tahap uji coba kelompok kecil
dan kelompok besar. Tahap akhir dari
pengembangan multimedia interaktif
adalah tahap impelementasi terhadap peserta didik dan pendidik.
d.
Validasi
ahli
Tahap pengembangan,
multimedia yang dikembangkan divalidasi
oleh dua orang ahli yakni Ahli Materi dan Ahli Media.
Validator dalam multimedia pembelajaran
interaktif Validator ahli
juga melakukan validasi terhadap instrumen penelitian yang digunakan. Data kualitatif berupa saran dan komentar dari validator yang selanjutnya dapat digunakan sebagai masukan untuk perbaikan
produk dan instrumen yang digunakan.
Adapun hasil penilaian validator dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Validasi Instrumen Penelitian

Berdasarkan data pada Tabel
1 Hasil validasi instrumen penelitian menujukan bahwa, instrumen validasi media sebesar 88,75 kategori layak, instrumen validasi meteri sebesar 88,75 kategori layak, instrumen pendidik sebesar 90,62 kategori sangat layak, instrumen peserta didik sebesar 92,19 kategori sangat layak, instrumen aktivitas peserta didik sebesar
90,28 kategori layak dan soal evaluasi sebesar
89,77 kategori layak secara umum validasi
instrumen penelitian layak/valid untuk digunakan dalam mengumpulkan data penelitian.
Validasi media dan materi
dapat dilihat pada Tabel 2 berikut.
Tabel 2 Validasi
Media dan Materi
|
No |
Aspek Penilaian |
Validator I |
Validator II |
Rerata % |
Kategori |
|
A |
Media Interaktif |
|
|
|
|
|
1 |
Kualitas Gambar |
80 |
80 |
80 |
Cukup Valid |
|
2 |
Kualitas Vidio |
87,5 |
87,5 |
87,5 |
Valid |
|
3 |
Keserasian Warna |
887,5 |
93,5 |
92,62 |
Sangat valid |
|
4 |
Keserasian Warna |
100 |
100 |
100 |
Sangat valid |
|
5 |
Button Interaktif |
93,75 |
93,75 |
93,75 |
Sangat valid |
|
6 |
Resolusi |
87,5 |
87,5 |
87,5 |
Valid |
|
7 |
Navigasi |
87,5 |
87,5 |
87,5 |
Valid |
|
8 |
Program |
95 |
95 |
95 |
Sangat valid |
|
9 |
Fitur Games |
100 |
100 |
100 |
Sangat valid |
|
B |
Program |
|
|
|
|
|
11 |
Pemograman |
95 |
100 |
97,5 |
Sangat valid |
|
12 |
Interaksi |
75 |
75 |
75 |
Valid |
|
13 |
Buku Manual |
87,5 |
87,5 |
87,5 |
Valid |
|
14 |
Efisiensi |
91,66 |
91,66 |
91,66 |
Sangat Valid |
|
15 |
Fungsi Tombol |
100 |
100 |
100 |
Sangat Valid |
|
16 |
Kualitas Fisik |
87,5 |
87,5 |
87,5 |
Valid |
|
C |
|
|
|
|
|
|
1 |
Kualitas Materi Pembelajaran |
90,62 |
90,62 |
90,62 |
Sangat valid |
|
2 |
Kualitas Bahasa |
87,5 |
87,5 |
87,5 |
Valid |
|
3 |
Ketepatan Latihan |
91,66 |
83,33 |
87,8 |
valid |
Berdasarkan Tabel 2 menunjukan bahwa validasi media dan meteri secara umum menunjukan
bahwa produk multimedia
yang dikembangakan dapat diuji coba dan dimplementasiskan terhadap peserta didik dan pendidik, dimana nilai rereta pada aspek media sebesar 91,01 kategori sangat valid, validasi
program sebesar 90,97 kategori
sangat valid dan hasil validasi
materi sebesar 89,16 kategori valid hasil validasi media dan materi termasuk dalam kategori sangat valid/layak serta memenuhi syarat kelayakan penggunaan suatu media pembelajaran.
Tahap Uji Coba
Uji coba kelompok besar
(diperluas) melibatkan 20 peserta didik.
Tabel 3 Hasil Uji Coba
Media
|
No |
Aspek Penilaian |
Rerata % |
Kategori |
|
A |
Materi |
|
|
|
1 |
Tampilan |
88.12 |
Baik |
|
2 |
Bahasa |
89.37 |
Baik |
|
3 |
Kualitas Isi |
90 |
Baik |
|
B |
Media Interaktif |
|
|
|
1 |
Pemrograman |
85.62 |
Baik |
|
2 |
Tampilan |
90.62 |
Sangat Baik |
|
3 |
Kualitas Isi |
87.91 |
Baik |
|
4 |
Respon Penggunaan
media |
88.33 |
Baik |
Hasil
uji coba media terhadap peserta didik menunjukan
respon yang baik dalam penggunaan multimedia interaktif dimana aspek materi menunjukan
item tampilan sebesar 88,12
kategori baik, bahasa sebesar 89,37 kategori baik dan kualitas isi sebesar
90 kategori baik sedangkan pada aspek media menunjukan item pemerograman sebesar 85,62 kategori baik, tampilan sebesar 90,62 kategori sangat baik, kualitas isi sebesar 87,91 kategori baik dan respon pengguanan media sebesar 88,33 kategori baik. Secara umum
hasil uji coba menunjukan bahwa multimedia interaktif baik digunakan dalam proses belajar mengajar.
Tabel 4 Uji Coba Pendidik
|
Aspek Penilaian |
Guru
I |
Guru
II |
Guru
III |
Rerata % |
Kategori |
|
|
A |
Materi |
|
|
|
|
|
|
1 |
Tampilan |
91.66 |
100 |
100 |
97.22 |
Sangat
Baik |
|
2 |
Bahasa |
91.66 |
91.66 |
91.66 |
91.66 |
Sangat
Baik |
|
3 |
Kualitas Isi |
91.66 |
91.66 |
83.33 |
88.88 |
Baik |
|
B |
Media
Interaktif |
|
|
|
|
|
|
1 |
Pemrograman |
100 |
75 |
100 |
91.66 |
Sangat
Baik |
|
2 |
Tampilan |
91.66 |
91.66 |
100 |
94.44 |
Sangat
Baik |
|
3 |
Kualitas Isi |
91.66 |
91.66 |
91.66 |
91.66 |
Sangat
Baik |
|
4 |
Respon Penggunaan
media |
92.18 |
90.62 |
92.18 |
91.66 |
Sangat
Baik |
Hasil
uji coba pendidik melibatkan 3 orang dari sekolah yang berbeda, menunjukan bahwa aspek materi menunjukan
item tampilan sebesar 92,77
kategori sangat baik, item bahasa sebesar 91,66 kategori sangat baik dan item kualitas isi sebesar
88,88 kategori baik, sedangkan aspek media menunjukan item program sebesar
91,66 kategori sangat baik,
item tampilan sebesar 94,44
kategori snagat baik, kualitas isi sebesar 91,66 kategori sangat baik, dan respon penggunaan media sebasar 91,66 kategori sangat baik. Secara umum
uji coba media terhadap pendidik menunjukkan bahwa multimedia sangat baik digunakan dalam proses pembelajaran.
Tahap Impelementasi
multimedia Interaktif
Pada
tahap implementasi dilakukan secara terbatas pada sekolah yang ditunjuk, dengan melibatkan seluruh peserta didik Jurusan
Teknik Kendaraan Ringan
(TKR I) SMK 3 Bone. Pada tahap ini
melibatkan kelas XI TKR I
yang berjumlah 25 orang.
Pada tahap implementasi perlu dilakukan pengaturan kelas agar tidak menggangu proses belajar mengajar peserta didik. Sedangakan untuk tenaga pendidik melibatkan 3 orang, satu pendidik akan fokus
dalam memberikan pelajaran Sistem Rem dua orang lainya akan melakukan pengamatan aktifitas peserta didik selama
proses belajar berlangsung.
Adapun hasil impelementasi
media dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 5 Impelementasi
media terhadap peserta didik
|
No |
Aspek Penilaian |
Rerata % |
Kategori |
|
A |
Materi |
|
|
|
1 |
Tampilan |
90 |
Baik |
|
2 |
Bahasa |
91.5 |
Sangat Baik |
|
3 |
Kualitas Isi |
86.5 |
Baik |
|
B |
Media Interaktif |
|
|
|
1 |
Pemrograman |
90.5 |
Sangat Baik |
|
2 |
Tampilan |
89 |
Baik |
|
3 |
Kualitas Isi |
90.66 |
Sangat Baik |
|
4 |
Respon Penggunaan
media |
89.26 |
Baik |
Hasil
impelementasi media terhadap
peserta didik menunjukan aspek materi pada item tampilan sebesar 90 kategori baik, item bahasa sebesar 91,5 kategori sangat baik dan item kualitas isi sebesar 86,5 kategori baik, sedangkan aspek media pada item pemerograman sebesar 90,5 kategori sangat baik, item tampilan sebesar 89 kategori baik, item kualitas isisebesar 90,66 kategori sangat baik dan item respon penggunaan media sebesar 89,26 kategori baik. Secara umum
hasil impelementasi
multimedia interaktif menunjukan
respon yang sangat baik dan
sangat memenuhi syarat kepraktisan suatu media pembelajaran. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa multimedia interaktif sangat praktis digunakan dalam proses belajar mengajar.
Hasil pengamatan
aktifitas peserta didik yang dilakukan pendidik selama proses belajar mengajar juga menunjukan hasil yang baik seperti yang terlihat pada tabel berikut.
Tabel 6 Aktifitas Peserta Didik
|
No |
Aspek Penilaian |
Nilai |
Kategori |
|
1 |
Pengamat I |
89.28 |
Baik |
|
2 |
Pengamat II |
85.71 |
Baik |
|
3 |
Pengamat III |
85.71 |
Baik |
|
4 |
Pengamat IV |
87.5 |
Baik |
|
Scala Rating (Nilai rata-rata) |
88.39 |
Baik |
|
Hasil
impelementasi yang dilakukan
terhadap pendidik menunjukan hasil sebagai berikut.
Tabel 7 Impelementasi
Media Terhadap Peserta Didik
|
No |
Aspek Penilaian |
Guru I |
Guru II |
Guru III |
Rerata % |
Kategori |
|
A |
Materi |
|
|
|
|
|
|
1 |
Tampilan |
91.66 |
91.66 |
91.66 |
91.66 |
Sangat Baik |
|
2 |
Bahasa |
91.66 |
91.66 |
91.66 |
91.66 |
Sangat Baik |
|
3 |
Kualitas Isi |
91.66 |
91.66 |
100 |
94.44 |
Baik |
|
B |
Media Interaktif |
|
|
|
|
|
|
1 |
Pemrograman |
100 |
87.5 |
87.5 |
91.66 |
Sangat Baik |
|
2 |
Tampilan |
91.66 |
83.33 |
100 |
91.66 |
Sangat Baik |
|
3 |
Kualitas Isi |
91.66 |
100 |
91.66 |
94.44 |
Sangat Baik |
|
4 |
Respon Penggunaan
media |
92.18 |
92.18 |
93.75 |
92.7 |
Sangat Baik |
Implementasi media terhadap
pendidik menunjukan aspek materi pada item tampilan sebesar 91,66 kategori sangat baik, item bahasa sebesar 91,66 kategori sangat baik dan item kualitas isi sebesar
94,44 kategori sangat baik,
sedangkan aspek media pada
item pemerograman sebesar
91,66 kategori sangat baik,
item tampilan sebesar 91,66
kategori sangat baik, item kualitas isisebesar 94,44 kategori sangat baik dan item respon penggunaan media sebesar 92,7 kategori sangat baik. Hasil impelementasi media terhadap pendidik menunjukan hasil yang sangat baik, pendidik lebih mudah dalam
melaksanakan proses mengajar
dengan menggunakan
multimedia interaktif, menunjukan
bahwa penggunaan multimedia
interakrif praktis digunakan dalam proses belajar mengajar.
Hasil
evaluasi pembelajaran yang diperoleh peserta didik setelah menggunakan
multimedia interaktif menunjukan
hasil yang baik dan meningkatkan nilai rereta peserta didik dibadingkan sebelum menggunakan multimedia interaktif adapun hasilnya sebagai berikut.
Tabel 8 Hasil Evaluasi
Peserta Didik
|
Nama |
Guru I |
Guru II |
Guru III |
Rerata % |
Kategori |
|
Jumlah Nilai Rerata |
Pre-Test 64,28 |
Post-Test 84,84 |
Praktek 84,6 |
Rerata 84,72 |
Ket Tuntas |
Hasil
pre test sebelum menggunakan multimedia interaktif sebesar 64,28 artinya nilai rerata
peserta didik belum mencapai KKM proses pembelajaran belum tuntas. Sedangkan hasil post test peserta didik sebesar 84,84 pada kategori baik dan hasil praktek sebesar
84,6 kategori baik sehingga nilai rerata yang diperoleh sebesar 84,72 kategori baik,
Apabila hasil evaluasi pre test dan evaluasi post test dibandingkan maka hasil evaluasi yang dilakukan mengalami peningktan sebesar 20,56%. Nilai rerata yang diperoleh sebesar 84,72 menunjukan kategori baik pada tingkat keefektifan suatu media pembelajaran, sehingga multimedia interktif Sistem Rem dinyatakan efektif untuk digunakan
dalam proses belajar mengajar tingkat SMK khususnya Teknik Kendaraan Ringan. Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian yang telah dilaksanakan sebelumnya dimana penelitian, (Purnamawati
et al., 2017) penelitian tentang aplikasi model pembelajaran problem-posing,
penelitian ini menunjukan bahwa, motivasi belajar peserta didik meningkat
dengan pembelajaran
problem-posing, hasil belajar
peserta didik mengalami peningkatan, ada pengaruh yang signifikan dengan menggunakan model
problem-posing. Hasil peneliatian yang dilakukan oleh (Supiandi
& Julung, 2016) menunjukan bahwa PBL memberikan pengaruh yang signifikan dalam proses pembelajaran, keterlibatan peserta didik dalam pemecahan
masalah dapat meningkatkan prestasi dan hasil belajar, Hasil penelitian (Rizaldi,
Jufri, & Jamaluddin, 2020) simulasi madia interaktif dalam pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan peningkatan hasil belajar antara kelas eksperimen dengan kelas bukan
eksperiman.
KESIMPULAN
Proses pengembangan
multimedia interaktif meliputi
tahap Analysis,
Planning, Develop Preliminary product, Uji coba tahap I, Revisi Produk Uji coba tahap II, dan Implementation.
Hasil validasi
ahli materi dan
media menunjukan aspek materi sebesar 89,16 dengan kategori valid dan aspek media sebesar 90,86 dengan kategori sangat valid. Kepraktisan multimedia interaktif
dilihat dari hasil rerata respon
penggunaan media peserta didik sebesar 88,58 pada kategori praktis dan pendidik sebesar 92,64 pada kategori sangat praktis. Keefektifan media interaktif dapat hasil rerata
evaluasi peserta dididk. Hasil evaluasi menunjukkan 84,72 dengan kategori efektif dan telah memenuhi KKM, Aktivitas peserta didik menunjukan 88,39. Produk multimedia interaktif dinyatakan efektif.
Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan kepada kepada tenaga pendidik
mampu mendesain media yang serupa atau melebihi
media ini guna untuk mendapatkan media pembelajaran yang tepat digunakan di Sekolah khusus dalam Teknik Kendaraan Ringan.
BIBLIOGRAFI
Gunantara, Gede, Suarjana, I. Made, &
Riastini, Putu Nanci. (2014). Penerapan model pembelajaran problem based
learning untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas
V. Mimbar PGSD Undiksha, 2(1).
Jossy, K. M. (2011). Brake and Dynamometer.
SSAS Institute of Technology.
Leow, Fui Theng, & Neo, Mai. (2014).
Interactive multimedia learning: Innovating classroom education in a Malaysian
university. Turkish Online Journal of Educational Technology-TOJET, 13(2),
99–110.
Milovanovic, Marina, Obradovic, Jasmina,
& Milajic, Aleksandar. (2013). Application of interactive multimedia tools
in teaching mathematics--examples of lessons from geometry. Turkish Online
Journal of Educational Technology-TOJET, 12(1), 19–31.
Munir, Prof Dr. (2012). Multimedia
konsep & aplikasi dalam pendidikan.
Purnamawati, Purnamawati, Hasanah, Hasanah,
& NURIDAYANTI, NURIDAYANTI. (2017). Application of Problem-Posing
Learning Model on Electrical Engineering Subject in SMK 2 Makassar.
Rizaldi, Dedi Riyan, Jufri, A. Wahab, &
Jamaluddin, Jamaluddin. (2020). PhET: Simulasi interaktif dalam proses
pembelajaran fisika. Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 5(1),
10–14.
Rusman. (2013). Model- Model
Pembelajaran Mengembangakan Profesionalisme Guru. Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada.
Rusmiyati, Ida. (2014). Penggunaan
Multimedia Dalam Pembelajaran Bahasa Sastra Indonesia Di SMP Negeri 2 Bawen
Kabupaten Semarang. Jurnal Teknologi Pendidikan Dan Pembelajaran, 2(2).
Supiandi, Markus Iyus, & Julung,
Hendrikus. (2016). Pengaruh model problem based learning (PBL) terhadap
kemampuan memecahkan masalah dan hasil belajar kognitif siswa biologi SMA. Jurnal
Pendidikan Sains, 4(2), 60–64.
Tight, Malcolm, Mok, Ka Ho, Huisman,
Jeroen, & Morphew, Christopher. (2009). The Routledge international
handbook of higher education. Routledge.
Widyarsih, Nia, Daningsih, Entin, &
Marlina, Reni. (n.d.). KELAYAKAN POWERPOINT BERBASIS FLASH STRUKTUR DAN FUNGSI
JARINGAN PADA TUMBUHAN DI KELAS XI SMA. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran
Khatulistiwa, 7(12).
Z Furqon, S. T., & Pramono, Joko.
(2021). Pemeliharaan Sasis dan Pemindah Tenaga Kendaraan Ringan SMK/MAK
Kelas XII. Program Keahlian Teknik Otomotif. Kompetensi Keahlian Teknik
Kendaraan Ringan Otomotif (Edisi Revisi). Penerbit Andi.