JUDUL: KONTRIBUSI ADVERSITY QUOTIENT DAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA SMK NEGERI SE-KABUPATEN BULELENG
Dewa Putu Teguh Tresnahadi1, Sugilar2, Mery Noviyanti3
Program Pascasarjana Universitas Terbuka
[email protected]1, [email protected]2, [email protected]3
|
|
Abstract |
|
|
Received: |
29-09-2022 |
Introduction: Learning achievement is one of the problems in the world of education. Students' achievement in learning mathematics is influenced by many factors, one of which is adversity quotient and motivation to learn mathematics. Adversity Quotient is the intelligence possessed by a person to be able to survive and struggle to face all the obstacles and challenges that are given to him. Motivation to learn mathematics is a desire or urge to learn mathematics. Methods: This research is a research that uses a quantitative approach. The research will be conducted with a descriptive path analysis design. The population in this study were all students of State Vocational Schools in Buleleng Regency in grades X, XI, and XII in the 2021/2022 academic year. Results: The data of this research are: (1) Adversity Quotient data collected using Adversity Quotient questionnaire, (2) mathematics learning motivation data collected by mathematics learning motivation questionnaire, and (3) mathematics learning achievement data collected by semester test scores. Conclusion: The results of this study are (1) Adversity Quotient provides a direct and significant contribution to mathematics learning motivation by 37.94%, (2) Adversity Quotient contributes directly and significantly to mathematics learning achievement by 48.30% and indirectly through mathematics learning motivation is 16.83%, (3) mathematics learning motivation contributes directly and significantly to mathematics learning achievement by 44.35%, (4) Adversity Quotient and mathematics learning motivation contribute simultaneously and significantly to mathematics learning achievement of 57.40%. |
|
Accepted: |
11-10-2022 |
|
|
Published: |
17-10-2022 |
|
|
Keywords: |
Adversity Quotient; Motivasi Belajar; Prestasi Belajar |
|
|
|
Abstrak |
|
|
Kata kunci: |
Adversity Quotient; Motivasi Belajar; Prestasi Belajar |
Pendahuluan: Prestasi belajar merupakan salah satu masalah dalam dunia pendidikan. Prestasi belajar matematika siswa dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah adversity quotient dan motivasi belajar matematika. Adversity Quotient merupakan kecerdasan yang dimiliki seseorang untuk mampu bertahan dan berjuang menghadapi segala rintangan dan tantangan yang diberikan kepadanya. Motivasi belajar matematika merupakan keinginan atau dorongan untuk belajar matematika. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian akan dilakukan dengan desain analisis jalur deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMK Negeri di Kabupaten Buleleng kelas X, XI, dan XII tahun pelajaran 2021/2022. Hasil: Data penelitian ini adalah: (1) data Adversity Quotient dikumpulkan dengan menggunakan angket Adversity Quotient, (2) data motivasi belajar matematika dikumpulkan dengan angket motivasi belajar matematika, dan (3) data prestasi belajar matematika dikumpulkan dengan nilai ulangan semester. Kesimpulan: Hasil penelitian ini adalah (1) Adversity Quotient memberikan kontribusi langsung dan signifikan terhadap motivasi belajar matematika sebesar 37,94%, (2) Adversity Quotient memberikan kontribusi langsung dan signifikan terhadap prestasi belajar matematika sebesar 48,30% dan secara tidak langsung melalui motivasi belajar matematika sebesar 16,83%, (3) motivasi belajar matematika memberikan kontribusi secara langsung dan signifikan terhadap prestasi belajar matematika sebesar 44,35%, (4) Adversity Quotient dan motivasi belajar matematika memberikan kontribusi secara simultan dan signifikan terhadap prestasi belajar matematika sebesar 57,40 %. |
Corresponding Author: Dewa Putu Teguh Tresnahadi
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan sesuatu yang penting dalam kemajuan suatu bangsa. Perkembangan pembangunan suatu bangsa pasti diikuti pula dengan pengembangan terhadap pendidikannya. (Kurniawan, 2016) menyatakan bahwa “Pendidikan adalah mengalihkan nilai-nilai, pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan kepada generasi muda sebagai usaha generasi tua dalam menyiapkan fungsi hidup generasi selanjutnya, baik jasmani maupun rohani”. (Widiansyah, 2018) menyatakan bahwa “Pendidikan merupakan faktor yang amat penting dalam kehidupan manusia, maka proses pengembangan sumber daya manusia harus dilaksanakan dengan meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap serta nilai-nilai sehingga mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya”. Cockroft (Yeni, Yeni, 2015) pelajaran matematika amat penting untuk diajarkan karena banyak bidang kehidupan memerlukan matematika sebagai alat bantunya.
Hasil survey prestasi belajar yang dirilis oleh (PISA) pada tahun 2019 menyatakan bahwa prestasi belajar matematika siswa masih sangat kurang, dimana Indonesia hanya mampu bertengger di posisi ke-72 dari 77 negara dalam hal prestasi belajar dengan skor membaca: 371, matematika: 379, dan sains: 396 (Margenatha, 2021). Di tingkat Asia, Indonesia memperoleh peringkat ke-13. Sedangkan di Asia Tenggara, Indonesia berada pada peringkat ke-5 (Wibowo, Deni, & Simatupang, 2022).
Salah satu daerah yang menjadi kajian adalah Kabupaten Buleleng yang merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Bali. Kabupaten Buleleng merupakan daerah yang memiliki ekonomi yang dapat dikatakan menengah serta memiliki prestasi-prestasi siswa SMK dengan kategori menengah. Sehingga siswa-siswa tersebut cocok untuk dijadikan subjek penelitian. Kelemahan-kelemahan siswa yang tampak adalah kurangnya siswa dalam menerapkan suatu konsep matematika (Rosnawati, 2013). Selain itu pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan juga masih sangat kurang, bahkan masih ada siswa yang masih belum mengetahui suatu konsep matematika yang diajarkan. Oleh sebab itu kelemahan-kelamahan siswa terletak pada prestasi belajar.
Berdasarkan masalah-masalah yang telah dipaparkan di atas. Penelitian lebih lanjut mengenai prestasi belajar perlu dikaji lebih dalam. (Nurfadila, Ananda, & Aprinawati, 2021) berpendapat bahwa prestasi belajar memiliki beberapa fungsi, diantaranya adalah sebagai indikator daya serap serta indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai siswa, serta sebagai bahan infromasi dan inovasi dalam bidang pendidikan.
Prestasi belajar dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah kemampuan siswa dalam menghadapi masalah atau yang disebut Adversity Quotient. Stoltz (Huda & Mulyana, 2017) Adversity Quotient adalah skill dalam diri seseorang dalam mencapai tujuan merubah dengan cara mengubah suatu kesulitan yang dialami menjadi suatu peluang. Adversity Quotient yang tinggi dalam diri siswa cenderung daapat mengatasi kesulitan dan masalah dengan baik sehingga berdampak baik pada prestasi belajarnya. Terdapat pula faktor lain yang dapat menentukan prestasi belajar yaitu motivasi belajar (US, 2015). (Uno Hamzah, 2017) menyatakan bahwa “Motivasi belajar merupakan dorongan internal dan eksternal pada siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung”. Siswa dengan motivasi belajar yang tinggi cenderung memiliki dorongan yang tinggi dalam belajar, sehingga berdampak baik pada prestasi belajarnya.
Motivasi belajar siswa dipengaruhi oleh banyak faktor. Diantaranya adalah kemampuan seseorang dalam mengatasi masalah atau kesulitan. (Hanifa, 2017) berpendapat bahwa motivasi belajar siswa yang tinggi berbanding lurus dengan kemampuan siswa dalam bertahan menghadapi kesulitan yang tinggi, yang kita sebut dengan Adversity Quotient. Siswa dengan Adversity Quotient yang tinggi lebih dapat bertahan dalam menghadapi masalah yang diberikan kepada siswa tersebut, oleh sebab itu suatu masalah besar tidak akan menghalangi siswa tersebut untuk tetap giat dan gigih dalam belajar (Khasanah, 2012).
METODE PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan dengan desain deskriptif analisis jalur (Path Analysis). Analisis jalur merupakan suatu analisis pola hubungan antar variabel dan hubungan antar variabel. Pada penelitian ini, analisis jalur juga digunakan dalam hal mengetahui pengaruh langsung serta pengaruh tidak langsung antar variabel-variabel bebas dan variabel terikat. Penelitian ini mengambil populasi di SMK Negeri se-Kabupaten Buleleng kelas X, XI, dan XII pada tahun ajaran 2021/2022. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini menggunakan dua jenis angket. Angket yang digunakan adalah angket Adversity Quotient dan angket motivasi belajar matematika. Sebelum pembuatan instrumen, telebih dahulu dibuat kisi-kisi dari instrumen angket tersebut. Kisi-kisi ini yang menjadi acuan dalam pembuatan instrumen angket. Angket yang telah tersusun diuji validitas dan reliabilitasnya. Butir angket yang digunakan dalam penelitian adalah butir angket yang dinyatakan valid dan reliabel. Angket mengukur persepsi Adversity Quotient dan motivasi belajar matematika siswa. Data prestasi belajar diambil dari nilai ulangan umum. Data tersebut dikumpulkan dan diolah untuk menentukan besarnya koefisien jalur.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1. Pengujian Hipotesis 1
Uji signifikansi koefisien p_x2x1 dilakukan dengan menguji H_0: tidak terdapat kontribusi secara langsung dan signifikan antara Adversity Quotient terhadap motivasi belajar matematika melawan H_a: terdapat kontribusi secara langsung dan signifikan antara Adversity Quotient dengan motivasi belajar matematika.
H_0:p_x2x1=0
H_a:p_x2x1≠0
Pengujian menggunakan menggunakan uji t, penarikan kesimpulan didasarkan pada: jika sig<0,05 maka H_0 ditolak dan H_a diterima, dan begitupun sebaliknya. Hasil dari analisis jalur adalah p_x2x1=0,616. Hasil yang didapatkan adalah nilai koefisien korelasi R_x2x1 sebesar 0,616. Hasil uji 2 sisi juga mendapatkan nilai sig=0,000<0,005. Sehingga adanya hubungan yang kuat Adversity Quotient terhadap motivasi belajar matematika.
Berdasarkan hasil analisis jalur diperoleh koefisien jalur X_1 terhadap X_2=p_x2x1=0,616, sehingga koefisien jalur yang diperoleh signifikan. Adapun kontribusi langsung Adversity Quotient (X_1) dan motivasi belajar matematika (X_2) adalah sebesar
(p_x2x1 )^2×100%=(0,616)^2×100%=37,94%
Serta hubungan antara variabel X_1 terhadap X_2 sebesar R_x1x2=0,616.
2. Pengujian Hipotesis 2
Uji signifikansi koefisien p_yx1 dilakukan dengan H_0: tidak terdapat kontribusi secara langsung dan signifikan antara Adversity Quotient terhadap prestasi belajar matematika melawan H_a: terdapat kontribusi secara langsung dan signifikan antara Adversity Quotient dengan prestasi belajar matematika.
H_0:p_yx1=0
H_a:p_yx1≠0
Pengujian menggunakan menggunakan uji t, penarikan kesimpulan didasarkan pada: jika sig<0,05 maka H_0 ditolak dan H_a diterima, dan begitupun sebaliknya. Hasil dari analisis jalur adalah p_yx1=0,695. Hasil yang didapatkan adalah nilai koefisien korelasi R_yx1 sebesar 0,695. Hasil uji 2 sisi juga mendapatkan nilai sig=0,000<0,005. Sehingga adanya hubungan yang kuat Adversity Quotient terhadap prestasi belajar matematika.
Berdasarkan hasil analisis jalur diperoleh koefisien jalur X_1 terhadap Y=p_yx1=0,695, sehingga koefisien jalur yang diperoleh signifikan. Adapun kontribusi langsung Adversity Quotient (X_1) dan prestasi belajar matematika (Y) adalah sebesar
(p_yx1 )^2×100%=(0,695)^2×100%=48,30%
Serta hubungan antara variabel X_1 terhadap Y sebesar R_x1y=0,695.
3. Pengujian Hipotesis 3
Uji signifikansi koefisien p_yx2 dilakukan dengan H_0: tidak terdapat kontribusi secara langsung dan signifikan antara motivasi belajar matematika dengan prestasi belajar matematika dan H_a: terdapat kontribusi secara langsung dan signifikan antara motivasi belajar matematika dengan prestasi belajar matematika.
H_0:p_yx2=0
H_a:p_yx2≠0
Pengujian menggunakan menggunakan uji t, penarikan kesimpulan didasarkan pada: jika sig<0,05 maka H_0 ditolak dan H_a diterima, dan begitupun sebaliknya. Hasil dari analisis jalur adalah p_yx2=0,666. Hasil yang didapatkan adalah nilai koefisien korelasi R_yx2 sebesar 0,666. Hasil uji 2 sisi juga mendapatkan nilai sig=0,000<0,005. Sehingga adanya hubungan yang kuat motivasi belajar matematika terhadap prestasi belajar matematika.
Berdasarkan hasil analisis jalur diperoleh koefisien jalur X_2 terhadap Y=p_yx2=0,666, sehingga koefisien jalur yang diperoleh signifikan. Adapun kontribusi langsung motivasi belajar matematika (X_2) dan prestasi belajar matematika (Y) adalah sebesar
(p_yx2 )^2×100%=(0,666)^2×100%=44,35%
Serta hubungan antara variabel X_2 terhadap Y sebesar R_x2y=0,666.
4. Pengujian Hipotesis 4
Sebelumnya telah membuktikan bahwa motivasi belajar matematika terhadap prestasi belajar matematika memberikan kontribusi secara langsung dan signifikan. Selain itu, telah dibuktikan bahwa Adversity Quotient berkontribusi langsung dan signifikan terhadap motivasi belajar matematika. Sehingga, Adversity Quotient juga memberikan kontribusi secara tidak langsung terhadap prestasi belajar matematika melalui motivasi belajar matematika. Adapun kontribusi tidak langsung variabel X_1 terhadap Y melalui X_2 adalah sebesar
(p_x2x1 )^2×(p_yx2 )^2×100%=(0,616)^2×(0,666)^2×100%=16,83%
5. Pengujian Hipotesis 5
Untuk menguji kontribusi Adversity Quotient dan motivasi belajar matematika terhadap prestasi belajar matematika secara simultan adalah dengan menentukan nilai R Square dari model tersebut. Berdasarkan hasil pengujian dengan SPSS didapatkan adalah dengan nilai R Square sebesar 0,574. Adapun kontribusi Adversity Quotient dan motivasi belajar matematika terhadap prestasi belajar matematika secara simultan sebesar
R_x1x2y^2×100%=0,574×100%=57,40%
Serta hubungan antara variabel X_1 dan X_2 terhadap Y sebesar R_x1x2y=0,758.
B. Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan Adversity Quotient berkontribusi secara langsung dan signifikan terhadap motivasi belajar matematika dengan koefisien jalur sebesar 0,616. Hasil tersebut menunjukkan bahwa Adversity Quotient berkontribusi sebesar 37,94% terhadap motivasi belajar matematika.
Siswa dengan kemampuan untuk tetap gigih berjuang dalam menghadapi segala permasalahan dalam matematika menjadi penuh dengan dorongan dalam dirinya untuk melaksanakan aktivitas belajar (Kusuma, 2017). Karena dalam diri siswa tersebut terpupuk keinginan yang pantang menyerah dan tetap berjuang dalam menghadapi suatu permasalahan. Sedangkan pada individu yang mudah untuk menyerah, bersikap pasrah, pesimis, serta sikapnya negatif, Adversity Quotient yang rendah tertanam dalam diri individu tersebut. Seorang individu yang memiliki suatu kecerdasan dalam menghadapi setiap rintangan lebih memiliki hasrat untuk melaksanakan kegiatan belajar karena hambatan-hambatan yang dialaminya dapat diubah menjadi peluang (Kusuma, 2017). Sedangkan seorang individu yang tidak memiliki kecerdasan dalam menghadapi setiap setiap rintangan lebih rendah hasrat untuk melaksanakan kegiatan belajarnya karena hambatan-hambatan sulit yang dialaminya memembuatnya mudah untuk menyerah.
Hasil menunjukkan bahwa Adversity Quotient terhadap prestasi belajar matematika memberikan kontribusi secara langsung dan signifikan yaitu sebesar 48,30%. Secara tidak langsung, Adversity Quotient memberikan kontribusi sebesar 16,83% terhadap prestasi belajar matematika melalui motivasi belajar matematika. Secara total Adversity Quotient memberikan kontribusi seebesar 65,13% terhadap prestasi belajar matematika. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa Adversity Quotient adalah hal yang penting dalam meningkatkan prestasi belajar matematika siswa.
Adversity Quotient merupakan potensi yang menyangkut intelektual siswa yang merupakan kemampuan seseorang untuk bertahan dalam menghadapi kesulitan kemudian mengatasinya sehingga dapat terus bertahan untuk mecapai kesuksesan, misalnya dalam menyelesaikaan permasalahan matematika hingga berhasil mendapatkan prestasi yang diharapkan (Leonard & Amanah, 2017). Salah satu faktor dominan pemebentuk Adversity Quotient adalah sikap gigih dan tidak mudah pasrah. Dalam belajar matematika sikap ini sangatlah penting untuk ditumbuhkembangkan. Suatu kesulitan memang perlu kiranya diberikan kepada siswa agar siswa dapat terlatih untuk mengasah kemampuan Adversity Quotient yang dimilikinya (Baedowi, 2012). Dalam aplikasinya dapat diterapkan guru saat menyusun materi dan metode pembelajaran.
Hasil penelitian menyatakan motivasi belajar matematika memiliki suatu kontribusi yang langsung serta signifikan terhadap prestasi belajar matematika. Hal tersebut tercermin dari nilai koefisien jalur dan koefisien korelasi motivasi belajar matematika sebesar 0,666 serta berkontribusi sebesar 44,35% terhadap prestasi belajar matematika.
Motivasi belajar merupakan suatu dorongan internal (dalam diri) maupun eksternal (luar diri) pada siswa yang sedang belajar untuk melakukan aktivitas belajar. Motivasi merupakan suatu dorongan untuk melaksanakan aktivitas. Motivasi yang terdapat dalam diri siswa dapat menjadi suatu penggerak bagi siswa untuk melakukan aktivitas belajar untuk meraih suatu pencapaian belajar. Motivasi belajar tidak terlepas dari sifat gigih dan tekun siswa untuk menghadapi segala tantangan belajar demi mencapai hasil atau prestasi belajar yang baik. Siswa yang memiliki motivasi belajar matematika yang tinggi, lebih cenderung memiliki sikap gigih dan tekun dalam mempelajari matematika, selalu terdorong dalam menghadapi masalah-masalah matematika yang diberikan kepada dirinya yang nantinya berdampak kepada prestasi belajarnya yang baik pula. Siswa yang memiliki prestasi belajar yang rendah, lebih cenderung tidak memiliki dorongan dan semangat dalam belajar, mudah menyerah ketika mengalami kesulitan belajar, dan bersikap acuh terhadap pelajaran matematika.
Adversity Quotient koefisien determinasinya sebesar 0,758 dan motivasi belajar matematika determinasinya sebesar sebesar 0,574 terhadap prestasi belajar matematika. Hal tersebut menunjukkan bahwa Adversity Quotient dan motivasi belajar matematika terhadap prestasi belajar matematika secara simultan memberikan kontribusi sebesar 57,40%. Adversity Quotient dan motivasi belajar matematika merupakan dua hal yang mempengaruhi prestasi belajar matematika. Dengan Adversity Quotient yang baik dapat membuat siswa melihat suatu permasalahan matematika menjadi suatu hal yang menantang bagi dirinya. Ketika siswa dihadapkan pada persoalan matematika yang susah, siswa dapat bertahan dan berjuang mencari jalan agar siswa dapat menyelesaikan permasalahan matematika dengan sebaik-baiknya. Kemampuan siswa dalam bertahan dan berjuang untuk menyelesaikan permasalahan ini juga mempengaruhi daya dorong siswa untuk bergerak atau motivasi. Jika Adversity Quotient dari siswa tergolong rendah, siswa lebih cenderung untuk putus asa ketika menghadapi permasalahan matematika yang menurut siswa tidak dapat dikerjakan, selain itu siswa juga beranggapan bahwa matematika merupakan suatu pelajaran yang sulit untuk dipelajari. Hal tersebut juga berdampak pada dorongan siswa dalam belajar matematika serta prestasi belajar matematika siswa tersebut.
Penelitian ini berimplikasi pada guru yang mana diharapkan mampu merancang kegiatan pembelajaran yang mampu mengakomodasi aspek kecerdasan siswa yaitu Adversity Quotient, serta dalam proses belajar dapat membangun motivasi. Motivasi merupakan hal yang berkaitan dengan Adversity Quotient. Motivasi belajar matematika dapat ditingkatkan dengan menumbuhkembangkan Adversity Quotient dari siswa. Dengan Adversity Quotient dan motivasi belajar yang baik, niscaya prestasi belajar siswa juga akan baik. Hal yang patut disadari oleh siswa adalah prestasi belajar mereka dapat dipengaruhi oleh aspek kecerdasan mereka. Untuk mencapai suatu prestasi maksimal dalam belajar matematika bergantung dari bagaimana siswa melihat suatu hal atau permasalahan yang siswa alami sebagai suatu tantangan atau teka-teki yang menarik untuk dipecahkan bukan merupakan suatu beban pikiran
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa: (1) Adversity Quotient memberikan kontribusi langsung sebesar 37,94% pada motivasi belajar matematika. (2) Adversity Quotient memberikan kontribusi langsung sebesar 48,30% pada prestasi belajar matematika. (3) Motivasi belajar matematika memberikan kontribusi langsung sebesar 44,35% pada prestasi belajar matematika. (4) Adversity Quotient memberikan kontribusi tidak langsung sebesar 16,83% pada prestasi belajar matematika lewat motivasi belajar matematika. (5) Adversity Quotient dan motivasi belajar matematika memberikan kontribusi secara simultan sebesar 57,40% terhadap prestasi belajar matematika.
BIBLIOGRAFI
Baedowi, Ahmad. (2012). Calak Edu 2: Esai-Esai Pendidikan 2008-2012 (Vol. 1). Pustaka Alvabet.
Hanifa, Yennisa. (2017). Emotional quotient dan adversity quotient dengan kecemasan menghadapi dunia kerja. Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi, 5(1), 25–33.
Huda, Tesa Nurul, & Mulyana, Agus. (2017). Pengaruh adversity quotient terhadap prestasi akademik mahasiswa angkatan 2013 fakultas psikologi UIN SGD Bandung. Psympathic: Jurnal Ilmiah Psikologi, 4(1), 115–132.
Khasanah, Ningrum. (2012). Hubungan adversity quotient dengan motivasi belajar siswa kelas XI IPS dan bahasa pada mata pelajaran matematika di SMA Takhassus al-Quran Wonosobo. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.
Kurniawan, Jaka. (2016). Pengaruh adversity quotient terhadap motivasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMAN 09 pontianak. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Khatulistiwa, 6(3).
Kusuma, Maria Immaculata Murwantini. (2017). Hubungan Antara Harga Diri Dan Efikasi Diri Dengan Motivasi Belajar Pada Peserta Kursus Di Lembaga Kursus Dan pelatihan Adi Tiara. Universitas Mercu Buana Yogyakarta.
Leonard, Leonard, & Amanah, Niky. (2017). Pengaruh adversity quotient dan kemampuan berpikir kritis terhadap prestasi belajar matematika.
Margenatha, Rizky. (2021). STRATEGI KOMUNIKASI SEKOLAH DALAM MEMPERTAHANKAN KUALITAS PENDIDIKAN DI MASA PANDEMI (Studi Kasus SMAN 1 Brebes). Universitas Pancasakti Tegal.
Nurfadila, Nurfadila, Ananda, Rizki, & Aprinawati, Iis. (2021). Analisis Kebiasaan Belajar Siswa Berprestasi di SD Negeri 013 Muara Jalai. Jurnal Review Pendidikan Dasar: Jurnal Kajian Pendidikan Dan Hasil Penelitian, 7(3), 194–197.
Rosnawati, Rosnawati. (2013). Kemampuan penalaran matematika siswa SMP Indonesia pada TIMSS 2011. Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan Dan Penerapan MIPA, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 18, 1–6.
Uno Hamzah, B. (2017). Teori Motivasi & Pengukurannya (Jakarta: PT. Bumi Aksara.
US, Supardi U. S. Supardi. (2015). Pengaruh adversity qoutient terhadap prestasi belajar matematika. Formatif: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA, 3(1).
Wibowo, Gendut Hery, Deni, D. A. R., & Simatupang, Haposan. (2022). PENGUATAN ALUTSISTA SEBAGAI PILAR KEKUATAN MILITER INDONESIA. NUSANTARA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial, 9(5), 1688–1695.
Widiansyah, Apriyanti. (2018). Peranan sumber daya pendidikan sebagai faktor penentu dalam manajemen sistem pendidikan. Cakrawala-Jurnal Humaniora, 18(2), 229–234.
Yeni, Yeni, Ety Mukhlesi. (2015). (2015). Kesulitan belajar matematika di sekolah dasar. Jurnal Pendidikan Dasar (JUPENDAS), 2(2).