SELF CARE DAN KUALITAS HIDUP IBU HAMIL
DIMASA PANDEMI COVID-19 DI PUSKESMAS CHRISTINA M. TIAHAHU AMBON
Christy N M Hitijahubessy1*, Grenny Z Rahakbauw2, �Jois Nari3
Poltekkes Kemenkes Maluku1,2,3
[email protected], [email protected], [email protected]
|
|
Abstract |
|
|
Received: |
03-09-2022 |
Corona
Virus 19 is a vulnerable disease for those who have weak immune systems or
who are at higher risk, including pregnant women. During pregnancy, part of
the immune system is suppressed because it must be supplied for the needs of
the baby. The IgG transfer process begins in the first trimester of pregnancy
and ends in the third trimester. Function of Receptor (FcRn)
is a receptor produced by the syncytiotrophoblast
that functions to bind antibodies (IgG) which will be transferred from mother
to fetus through the placenta. FcRn expression
depends on gestational age which is more expressed in the third trimester.
This condition makes pregnant women more susceptible to infection with the
COVID-19 virus which can have serious consequences for pregnant women. The
Social Distancing program also has an impact on women's desire to reduce the
frequency of prenatal visits. This also has an impact on not detecting fetal
well-being on a regular basis and pregnancy danger signs that are not known
to the mother. This study aims to determine the effect of self
care on the quality of life of pregnant women during the Covid-19
pandemic. The research method uses a quasi-experimental one group pretest
posttest design, in which the research subjects are first given a pretest
(pretest) and then given treatment using a module. Furthermore, a final test
(posttest) was given to determine the extent of the effect of self-care on
improving the quality of life of pregnant women during the Covid-19 pandemic.
The results of the statistical test of improving the quality of life showed
the value of Z = 4.689 physically, 3.908 psychologically, 4.143 in social
relations, and 4.587 in the environment, p value = 0.000 (p < 0.005),
indicating the effect of self care on improving the
quality of life of pregnant women in the time of the Covid-19 Pandemic. In
conclusion, self-care has a significant effect on the quality of life of pregnant
women during the Covid-19 pandemic. |
|
Accepted: |
10-09-2022 |
|
|
Published: |
22-09-2022 |
|
|
Keywords: |
Selfcare, Kualitas hidup, Ibu Hamil, Pandemi Covid-19 |
|
|
|
Abstrak |
|
|
Kata
kunci: |
Selfcare, Quality of
life, Pregnant Women, Covid-19 Pandemic |
Penyakit Corona Virus
19 merupakan penyakit
yang rentan bagi mereka yang memiliki sistem kekebalan lemah atau yang berada pada risiko yang lebih tinggi, termasuk ibu hamil. Pada masa kehamilan sebagian sistem kekebalan ikut tertekan karena harus disuplai untuk kebutuhan bayi.� Proses
transfer IgG dimulai sejak
trimester I kehamilan dan� berakhir� di�
trimester� ketiga.
Function of� Receptor
(FcRn) merupakan� reseptor� yang�
dihasilkan�
oleh sinsitiotrofoblast��� yang�
berfungsi�
mengikat antibodi
(IgG) yang akan ditransfer
dari ibu ke janin� melalui �plasenta. Ekspresi� FcRn tergantung�
pada� usia� kehamilan� yang�
lebih banyak� diekspresikan� di�
trimester ketiga. Kondisi
ini mengakibatkan wanita hamil lebih rentan terhadap infeksi virus COVID-19
yang dapat berdampak serius bagi wanita
hamil. Program Social Distancing juga berdampak pada keinginan wanita untuk mengurangi frekuensi kunjungan prenatal. Hal ini
juga berdampak pada tidak
terdeteksinya kesejahteraan
janin secara berkala dan tanda bahaya kahamilan yang tidak diketahui oleh ibu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh self care terhadap kualitas hidup ibu hamil
dimasa Pandemi Covid-19. Metode penelitian menggunakan quasi experimental dengan
one group pretest posttest design, yang mana subyek
penelitian terlebih dahulu diberikan tes awal (pretest) selanjutnya diberikan perlakuan dengan menggunakan Modul.�
Selanjutnya diberikan
tes akhir (posttest) untuk mengetahui sejauh mana pengaruh selfcare terhadap peningkatan kulaitas hidup ibu hamil dimasa
Pandemi Covid-19. Hasil uji statistik
peningkatan kualitas hidup� menunjukkan
nilai Z = 4,689 secara fisik, 3,908 secara psikologis, 4,143 dalam hubungan sosial, dan 4,587 dalam lingkungan, nilai p = 0,000 ( p < 0,005), menunjukkan� adanya pengaruh self care terhadap peningkatan kualitas hidup ibu hamil di masa Pandemi Covid-19. Kesimpulannya,
selfcare berpengaruh secara
signifikan terhadap kualitas hidup ibu hamil di masa Pandemi Covid-19. |
Corresponding Author: Christy N M Hitijahubessy�
E-mail:
[email protected]
PENDAHULUAN
Pandemi penyakit Corona
virus-2019 (COVID-19) merupakan penyakit
infeksi yang menyerang sistem pernapasan manusia. Penyakit ini menyebar luas
ke seluruh dunia hingga menyebabkan krisis kesehatan global sekaligus merupakan tantangan terbesar yang pernah dihadapi masyarakat diseluruh dunia. Penyakit ini sangat rentan bagi lansia
dan mereka yang memiliki sistem kekebalan lemah yang berada pada risiko yang lebih tinggi, termasuk ibu hamil. Pada masa kehamilan sebagian sistem kekebalan ikut tertekan karena
harus disuplai untuk kebutuhan bayi.� Proses
transfer IgG dimulai sejak
trimester I� kehamilan� dan� berakhir� di� trimester�
ke-3 (Nasiru,
2010). Function of Receptor (FcRn) merupakan reseptor yang dihasilkan oleh sinsitiotrofoblast
yang berfungsi mengikat antibodi (IgG) yang akan ditransfer dari ibu ke janin
melalui plasenta. Ekspresi FcRn tergantung
pada usia kehamilan yang lebih banyak diekspresikan
di trimester III (mencapai efisiensi
maksimum). Kondisi ini mengakibatkan wanita hamil lebih
rentan terhadap infeksi virus COVID-19 yang dapat
berdampak serius bagi wanita hamil.
Virus ini dengan cepat menyebar ke seluruh dunia dan karena penyebaran virus yang cepat, Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO) telah mengidentifikasinya
sebagai penyakit pandemi menular.
World
Health Organization (2020) melalui Komite Darurat untuk penanganan Covid-19 menyebutkan bahwa prevalensi pasien terpapar corona virus trus meningkat. Data yang dihimpun WHO
sampai dengan 31 Juli 2020 yaitu secara global 18.902.735 kasus
(278.291) 709.511 kematian (6.815). Badan Penanggulangan Bencana Nasional
Indonesia mencatat data kasus
terkonfirmasi sampai dengan Agustus 2020 sebanyak 121.226 kasus dengan kematian 5593. Sementara di Provinsi Maluku per Agustus 2020 terdapat 1.135 kasus terkonfirmasi yang diuraikan sebagai berikut 364 kasus terkonfirmasi yang masih dalam perawatan, 748 orang dinyatakan sembuh dan 23 orang meninggal dunia (TIM Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Maluku, 2020). Dari 364 kasus
terkonfirmasi 276 kasus berada di wilayah Kota Ambon (BNPB, 2020). Sedangkan dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mencatat
terjadi peningkatan angka kehamilan selama Pandemi Virus Corona hingga mencapai 500.000 kehamilan (BKKBN, 2020).
Hasil penelitian (Wang et
al., 2020) menunjukkan bahwa
belum ada informasi yang valid tentang penularan corona virus pada wanita
hamil dan komplikasinya, namun mengingat wabah sebelumnya (SARS dan MERS),
serta perubahan mental dan fisik selama kehamilan,
wanita hamil lebih mungkin terpengaruh
oleh virus. Komplikasi parah
juga telah dilaporkan dalam epidemi virus SARS dan
MERS, termasuk intubasi trakea, rawat inap
di unit perawatan intensif,
gagal ginjal, dan kematian selama kehamilan (Chen et
al., 2020). Beberapa studi
menunjukkan bahwa gejala� klinis, hasil laboratorium,
dan kriteria radiografi
pada wanita hamil dengan COVID-19 serupa dengan orang dewasa yang terkena lainnya, tetapi risiko pengembangan
penyakit COVID-19 pada wanita
hamil tinggi dan ada kemungkinan komplikasi pada kehamilan dan infeksi pada bayi baru lahir (Fakari
& Simbar, 2020). Perilaku perawatan diri dan perawatan kesehatan dilakukan oleh individu untuk menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan dan pencegahan penyakit. Mencegah dan mengelola penyakit dengan menggunakan pedoman perawatan diri dapat menjadi
solusi yang menjanjikan untuk mencegah atau mengatasi penyakit pernapasan, khususnya COVID-19 (Masjoudi et
al., 2020). Perawatan diri
kehamilan didefinisikan sebagai ketaatan terhadap program dan prinsip perawatan untuk memastikan kesehatan ibu dan janin selama
kehamilan, saat melahirkan, dan pada masa nifas. Pedoman perawatan diri dapat digunakan
sebagai cara praktis untuk mengurangi
kemungkinan infeksi virus
corona dan mengurangi stres
yang ditimbulkannya, meningkatkan
kualitas hidup ibu hamil, mengurangi
biaya perawatan kesehatan terkait kehamilan, dan menurunkan angka kematian. Dengan mengikuti pedoman perawatan diri, ibu hamil
juga dapat menghindari stres yang dengan sendirinya dapat menghilangkan kemungkinan penurunan berat badan pada bayinya yang merupakan penyebab paling signifikan dari pertumbuhan dan perkembangan bayi yang tidak tepat dan kematiannya. Selain itu, aktivitas perawatan diri selama kehamilan dapat memastikan kesehatan ibu dan janin selama kehamilan,
persalinan, dan masa nifas (Moulaei et
al., 2021).
Program
Social Distancing juga berdampak pada keinginan wanita untuk mengurangi frekuensi kunjungan prenatal. Ibu
hamil merupakan individu yang unik karena� tidak hanya berpikir
untuk merawat dirinya sendiri tetapi memiliki kekhawatiran tentang bagaimana cara merawat kehamilannya dan bagaimana menjalankan rencana persalinannya pada saat wabah virus corona baru berakhir (Masjoudi et
al., 2020). Tujuan penelitian
ini yaitu guna Menganalisis pengaruh selfcare terhadap kualitas ibu hamil
di masa pandemic Covid 19.
METODE
PENELITIAN
Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Menurut (Sugiyono, 2018) pendekatan kuantitatif
merupakan metode penelitian yang berlandaskan pendekatan positivistic
(data konkrit) dimana data penelitian berupa angka-angka yang akan diukur menggunakan statistic sebagai alat uji penghitungan, berkaitan dengan masalah yang diteliti untuk menghasilkan
suatu kesimpulan. Penelitian ini menggunakan pendekatan quasi experimental dengan one group pretest posttest design.
Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini berlokasi
di wilayah kerja Puskesmas
Christina Martha Tiahahu Kelurahan
Ahusein, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon. Penelitian ini berlangsung pada Bulan Agustus � September 2021.
Populasi dan Sampel
1.
Populasi
Populasi merupakan
wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
kemudian ditarik kesimpulanya. Populasi dalam penelitian ini adalah semua
ibu hamil yang melaksanakan pemeriksaan kehamilan di Puskesmas Christina Martha Tiahahu.
2.
Sampel
Pemilihan
sampel dilakukan secara consecutive
sampling. Kriteria inklusi pemilihan sampel meliputi ibu hamil �trisemester ke-3 ��berusia 20-35 tahun, telah menikah, tidak
dalam kondisi kehamilan beresiko, mampu membaca, menulis dan berbahasa Indonesia dan�
bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil pemeriksaan
maka ditetapkan 32
orang ibu hami sebagai
sampel yang disesuaikan dengan kriteria penelitian.
Sumber Data
Sumber data dalam penelitian
berasal dari data primer
dan data sekunder. Data primer bersumber
dari data pemeriksaan ibu hamil di wilayah kerja Pusksesmas Christina Martha Tiahahu. Data sekunder berasal dari Pusksesmas Christina Martha Tiahahu maupun instansi lain yang mendukung penelitian ini.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data berkaitan dengan ketepatan instrument pengumpulan data. Instrumen pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan kusioner, wawancara, observasi di lapangan. Kuesioner
terdiri dari data demografi yang berisi umur, pendidikan, status perkawinan,
riwayat kehamilan. Untuk mengukur self care dipakai Selfcare quetionare versi bahasa Indonesia yang telah diuji
validitas dan reabilitas oleh peneliti, sedangkan Kualitas hidup diukur� menggunakan WHOQOL BREF versi Bahasa Indonesia.
Analisa Data
Sebelum penelitian dilaksanakan terlebih
dahulu dilakukan uji etik oleh Komite Etik Poltekkes Kemenkes Maluku. Analisis
data meliputi analisis uniavariat (umur, pendidikan, pekerjaan, riwayat
kehamilan, selfcare dan kualitas
hidup); analisis bivariat menggunakan Wilcoxon
untuk mengetahui pengarih selfcare terhadap kualitas hidup ibu hamil dimasa
Pandemi Covid-19.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Individu
Karakteristik merupakan ciri-ciri atau sifat-sifat yang melekat pada diri seseorang, yang dapat digambarkan melalui sikap dan perilakunya. Perilaku pada diri seseorang tidak timbul dengan
sendirinya, tetapi merupakan akibat dari pengalaman pribadi serta nilai-nilai
atau norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat.
Karakterisktik responden diukur� berdasarkan umur, pendidikan, pekerjaan, riwayat kehamilan. Tabel 1 menggambarkan distribusi frekuensi karakteristik responden (ibu hamil) berikut ini.
Tabel 1. Karakteristik
Responden
|
Karakteristik |
Frekuensi
(n) |
Persentase (%) |
|
Umur |
||
|
< 20 Tahun |
3 |
9,4 |
|
20-30 Tahun |
21 |
65,6 |
|
>30 Tahun |
8 |
25 |
|
Total |
32 |
100 |
|
Pendidikan |
||
|
Pendidikan Dasar |
4 |
12,5 |
|
Pendidikan Menengah |
15 |
46,9 |
|
Pendidikan Tinggi |
13 |
40,6 |
|
Total |
32 |
100 |
|
Pekerjaan |
||
|
Bekerja |
11 |
34,4 |
|
Tidak Bekerja |
21 |
65,6 |
|
Total |
32 |
100 |
|
Riwayat Kehamilan |
||
|
Primigravida |
18 |
56,3 |
|
Multgravida |
14 |
43,8 |
|
Total |
32 |
100 |
Sumber: Data Primer 2021
Tabel 1 menjelaskan bahwa mayoritas responden berada pada range usia 20-30 tahun� (65,6%), berpendidikan menengah (46,9%), tidak bekerja (65,6%),
primigravida (56,3%). Manuaba (2017) menyatakan bahwa usia muda lebih
mudah mengalami cemas, karena kesiapan
mental dan jiwa yang belum matang serta kurangnya
pengalaman. Hal ini juga ditegaskan oleh (Notoatmodjo,
2012) juga menjelaskan semakin cukup umur,
tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang
dalam berpikir sehingga individu tersebut siap untuk
merawat diri dan kehamilannya selama masa Pandemi Covid 19.
Menurut (Notoatmodjo,
2012), pendidikan secara
umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan. Pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan perawatan dirinya. Pada umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang semakin mudah dalam
menerima informasi. Sampai saat ini,
pengetahuan tentang infeksi COVID-19 dalam hubungannya dengan kehamilan dan janin masih terbatas dan belum ada rekomendasi
spesifik untuk penanganan ibu hamil dengan COVID-19.
Berdasarkan data yang terbatas
tersebut dan beberapa contoh kasus pada penanganan Coronavirus sebelumnya
(SARS-CoV dan MERS-CoV) dan
beberapa kasus COVID-19, dipercaya bahwa ibu hamil memiliki
risiko lebih tinggi untuk terjadinya
penyakit berat, morbiditas dan mortalitas dibandingkan dengan populasi umum. Efek samping pada janin berupa persalinan
preterm juga dilaporkan pada ibu
hamil dengan infeksi COVID-19 (Aziz, 2020).
Selfcare
Ibu Hamil
Selfcare bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan seseorang, memperbaiki kebersihan diri seseorang, memperbaiki personal hygiene yang kurang,� mencegah penyakit, menciptakan keindahan, meningkatkan rasa percaya diri (Hidayat
& Hastuti, 2016). Gambaran selfcare ibu
hamil yang melakukan pemeriksaan kehamilan di Puskesmas Ch M. Tiahahu sebeluam dan setelah diberikan Modul tertuang dalam tabel 2 berikut:
Tabel 2. Distribusi
Selfcare Ibu Hamil dimasa Pandemi Covid-19 di Puskesmas
Ch.M. Tiahahu (n=32)
|
Kategori |
Selfcare |
|||
|
Pre |
Post |
|||
|
N |
% |
N |
% |
|
|
Baik |
4 |
12,5 |
24 |
75 |
|
Cukup |
6 |
18,8 |
8 |
25 |
|
Kurang |
22 |
66,8 |
0 |
0 |
|
Total |
32 |
100 |
32 |
100 |
Hasil Analisis SPSS versi 22
Tabel 2 menjelaskan bahwa rerata selfcare ibu hamil� sebelum
intervensi dalam kategori kurang (66,8%) dan setelah intervensi meningkat� menjadi Baik (75%). Selfcare merupakan suatu proses kognitif yang aktif yang mana seseorang berupaya untuk mempertahankan kesehatannya atau mengatasi penyakitnya (Rockwell
& Riegel, 2001). Menurut Orem dalam (Alligood
& Tomey, 2014), salah satu faktor yang mempengaruhi selfcare
yaitu status kesehatan.
Status kesehatan yang dimaksud
antara lain status kesehatan
saat ini, dan status kesehatan dahulu (riwayat kesehatan dahulu) serta persepsi
tentang kesehatan
masing-masing individu.
Penularan ibu-janin dari COVID-19 tidak terdeteksi pada sebagian besar kasus yang dilaporkan (Herbawani,
2021). Namun pemantauan
kehamilan yang cermat dengan COVID-19 dan langkah-langkah
untuk mencegah infeksi neonatal tetap diperlukan. Ibu yang terinfeksi berisiko lebih tinggi memiliki� komplikasi
pernapasan berat.
Hasil penelitian yang direview oleh
Grady tentang konsep perilaku selfcare pada kelompok penyakit kronis menunjukkan hasil yang baik dalam meningkatkan
kemampuan diri seseorang (Grady,
2008). Penelitian ini
didukung hasil penelitian (Kordi et
al., 2017), pemberian selfcare mampu meningkatkan kualitas hidup pasien, bahkan dapat menurunkan biaya pengobatan dan meningkatkan kemandirian pasien.
Kualitas Hidup Ibu Hamil
Kondisi kehamilan menyebabkan penurunan kekebalan parsial karena perubahan fisiologi pada saat kehamilan, sehingga mengakibatkan ibu hamil lebih rentan
terhadap infeksi virus.
Oleh karena itu, pandemi COVID-19 sangat mungkin menyebabkan konsekuensi yang serius bagi ibu
hamil. Gambaran kulitas hidup ibu hamil
yang melakukan pemeriksaan kehamilan di Puskesmas Ch M. Tiahahu sebelum dan setelah diberikan Modul tertuang dalam tabel 3 berikut:
Tabel 3. Kualitas
Hidup Ibu Hamil dimasa Pandemi Covid-19
|
Kualitas Hidup |
Pre |
|||||
|
Med |
SD |
Min-Max |
95%
C |
|||
|
L |
U |
|||||
|
Fisik |
44 |
3,40 |
44-56 |
45,7 |
48,2 |
|
|
Psikologis |
44 |
3,07 |
31-50 |
42,1 |
44,3 |
|
|
Hubungan Sosial |
31 |
7,37 |
25-44 |
32,8 |
38,1 |
|
|
Lingkungan |
31 |
1,06 |
25-31 |
30,4 |
31,1 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||
|
|
POST |
|||||
|
Fisik |
69 |
10.88 |
44-81 |
63,9 |
71,8 |
|
|
Psikologis |
69 |
16.36 |
31-75 |
52,3 |
64,1 |
|
|
Hubungan Sosial |
53 |
18.23 |
25-81 |
47,4 |
60,5 |
|
|
Lingkungan |
63 |
1487 |
31-75 |
50,0 |
60,8 |
|
Sumber: Data� Analisis
SPSS versi 22
Tabel 3. Menjelaskan bahwa kualitas hidup aspek fisik
ibu hamil sebelum intervensi yaitu 44 (CI 95% = 45,77-48,23) SD=3,408,� hal ini artinya kualitas
hidup aspek fisik digolongkan kurang baik. Setelah
intervensi� meningkat rerata nilai 69 (CI 95% = 63,98-71,83)
SD=10.888,� hal
ini artinya kualitas hidup aspek fisik digolongkan
baik. Kualitas hidup aspek psikologis
ibu hamil sebelum intervensi yaitu 44 (CI 95% = 42,11-44,32) SD=3,077,� hal ini artinya kualitas
hidup aspek psikologis digolongkan kurang baik. Setelah
intervensi meningkat rerata nilai 69 (CI 95% =
52,32-64,12) SD=16.362,�
hal ini artinya kualitas hidup aspek psikologis
digolongkan baik. Kualitas hidup aspek hubungan sosial 31 (CI 95% = 32.87-38.19) SD=3287, dapat diartikan bahwa kualitas hidup aspek ibu
hamil sebelum intervensi tergolong kurang baik. Setelah
intevensi meningkat rerata nilai menjadi
53 (CI 95% = 47.42-60-58) SD=18.239,� hal ini artinya kualitas
hidup aspek hubungan sosial digolongkan cukup baik.� Kualitas hidup aspek lingkungan 31 (CI 95% =
30.43-31.09) SD= 1061, dapat diartikan
kualitas hidup aspek� lingkungan ibu hamil tergolong
kurang. Setelah� intervensi
meningkat rerata nilai menjadi 63 (CI 95% =
50.04-60-86) SD=14.871,� hal ini artinya
kualitas hidup aspek hubungan sosial digolongkan cukup baik.
Kondisi kehamilan menyebabkan penurunan kekebalan parsial karena perubahan fisiologi pada saat kehamilan, sehingga mengakibatkan ibu hamil lebih rentan
terhadap infeksi virus.
Oleh karena itu, pandemi COVID-19 sangat mungkin menyebabkan konsekuensi yang serius bagi ibu
hamil. Perubahan fisiologis dan imunologis yang terjadi sebagai komponen normal kehamilan dapat memiliki efek sistemik yang meningkatkan risiko komplikasi obstetrik dari infeksi pernapasan
pada ibu hamil (Schwartz,
2020).
Pengaruh
Selfcare Terhadap Kualitas Hidup Ibu Hamil Di Masa Pandemi Covid 19
Selfcare (perawatan diri) ibu hamil terhadap
kualitas hidup perlu ditingkatkan terlebih pada masa pendemi Covid
19. Indikator yang digunakan
untuk menggambarkan kualitas hidup ibu hamil terdiri
dari; 1) kualitas hidup fisik, 2) kualitas hidup psikologis, 3) kualitas hidup hubungan social, dan kualitas hidup lingkungan. Tabel 4 menggambarkan pengaruh selfcare terhadap kualitas hidup ibu hamil.
�
Tabel. 4 Selfcare dan Kualitas Hidup Ibu Hamil Di Masa Pandemi
Covid-19
|
Sesudah-Sebelum |
|
Kualitas
Hidup Fisik |
Kualitas
Hidup Psikologis |
Kualitas
Hidup Hubungan Sosial |
Kualitasi
Hidup Lingkungan |
||||||||
|
n |
M
Rank |
Sum
Rank |
n |
M
Rank |
Sum
Rank |
n |
M
Rank |
Sum
Rank |
n |
M Rank |
Sum
Rank |
||
|
Neg |
2 |
1,50 |
3,0 |
7 |
4,00 |
28,0 |
1 |
5,50 |
5,50 |
0 |
,00 |
,00 |
|
|
Pos |
27 |
16,00 |
432,0 |
20 |
17,50 |
350,0 |
23 |
12,80 |
294,5 |
27 |
14,00 |
378,0 |
|
|
Ties |
3 |
|
|
5 |
|
|
8 |
|
|
5 |
|
|
|
Sumber : Data�
Analisis SPSS versi
22
�
Tabel 4. menjelaskan bahwa berdasarkan data hasil uji Wilcoxom sign ranks terdapat perubahan kualitas hidup ibu hamil sebelum
dan setelah intervensi.� Hasil uji negatif� ranks menunjukkan
nilai n 2 artinya 2 dari 32 responden mengalami penurunan kualitas hidup secara fisik setelah
diberikan modul, positive
ranks dengan nilai n 27 artinya 27 dari 32 sampel tersebut mengalami peningkatan kualitas hidup secara fisik� dan Ties�
dengan nilai n 3 artinya 3 dari 32 responden tidak� mengalami perubahan kualitas hidup secara fisik
setelah diberikan modul. mean ranks atau rata-rata peningkatannya sebesar 16,00 dan
sum of ranks atau jumlah
ranking positif nya sebesar 432,00 berarti tidak adanya kesamaan
kualitas hidup fisik� ibu hamil sebelum dan setelah diberikan intervensi.�
Hasil uji negatif� ranks menunjukkan
nilai n 7 artinya 7 dari 32 responden mengalami penurunan kualitas hidup secara psikologis setelah diberikan intervensi, positive ranks dengan
nilai n 20 artinya 20 dari 32 sampel tersebut mengalami peningkatan kualitas hidup secara psikologis� dan Ties�
dengan nilai� n� 5 artinya 5 dari 32 responden tidak mengalami perubahan kualitas hidup secara psikologis. mean ranks atau rata-rata peningkatannya sebesar 17,50 dan sum of ranks atau
jumlah ranking positif nya sebesar 350,00 berarti tidak adanya
kesamaan kualitas hidup psikologis� ibu
hamil sebelum dan setelah diberikan intervensi.
Hasil uji negatif� ranks menunjukkan
nilai n 1 artinya 1 dari 32 responden mengalami penurunan kualitas hidup dalam hubungan sosial setelah diberikan intervensi, positive
ranks dengan nilai n 23 artinya 23 dari 32 sampel tersebut mengalami peningkatan kualitas hidup dalam hubungan sosial dan Ties dengan nilai n 8 artinya 8 dari 32 responden tidak mengalami perubahan kualitas hidup� dalam hubungan sosial. mean ranks atau rata-rata
peningkatannya sebesar
12,80 dan sum of ranks atau jumlah
ranking positif nya sebesar 294,5 berarti tidak adanya kesamaan
kualitas hidup dalam hubungan sosial ibu hamil
sebelum dan setelah diberikan intervensi.
Hasil uji
positive ranks dengan nilai
n 27 artinya 27 dari 32� sampel
tersebut mengalami peningkatan kualitas hidup lingkungan� dan ties dengan nilai n 5 artinya 5 dari 32 responden tidak mengalami perubahan kualitas hidup. mean ranks atau rata-rata peningkatannya sebesar 14.00 dan
sum of ranks atau jumlah
ranking positif nya sebesar 378,00 berarti tidak adanya kesamaan
kualitas hidup lingkungan ibu hamil sebelum dan setelah diberikan modul.
Hasil� uji� statistik�� peningkatan� kualitas hidup� menunjukkan nilai Z = 4,689 secara fisik, 3,908 secara psikologis, 4,143 dalam hubungan sosial,� dan 4,587 dalam lingkungan, nilai p = 0,000 ( p < 0,005), menunjukkan� adanya pengaruh selfcare terhadap� peningkatan kualitas hidup ibu hamil di masa Pandemi Covid-19.
Hasil wawancara dengan responden bahwa rerata ibu hamil
takut untuk memeriksakan kehamilan mereka di fasilitas kesehatan disebabkan karena beberapa hal diantaranya, mereka takut dilakukan
skreening virus covid-19 dan dinyatakan
reaktif yang mengakibatkan harus dilakukan isolasi mandiri terpisah dari keluarga
serta berdampak� menularkan
kepada janin yang dikandung mereka. Selain itu mereka
mengeluh sering pusing dan sakit kepala yang mengakibatkan ketidakmampuan dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) darah ditemukan 7 orang (22%) ibu mengalami anemia dengan rerata kadar Hb 8-9 gr/dl.
KESIMPULAN
Terdapat pengaruh yang signifikan antara selfcare terhadap kualitas hidup Ibu Hamil di masa Pandemi di Puskesmas Ch. M. Tiahahu
BIBLIOGRAFI
Alligood, M. R., & Tomey, A. M. (2014).
Nursing theorists and their work. St. Louis, MO. Mosby Inc.
Aziz, M. A. (2020). Rekomendasi
Penanganan Infeksi Virus Corona (Covid-19) Pada Maternal (Hamil, Bersalin Dan
Nifas) Revisi 2. Pokja Infeksi Saluran Reproduksi Perkumpulan Obstetri dan
Ginekologi Indonesi a Tahun2020, 3�15.
Chen, Y., Li, Z., Zhang, Y., Zhao, W.,
& Yu, Z. (2020). Maternal health care management during the outbreak of
coronavirus disease 2019. Journal of Medical Virology, 92(7),
731�739. https://doi.org/10.1002/jmv.25787
Fakari, F. R., & Simbar, M. (2020).
Coronavirus pandemic and worries during pregnancy; a letter to editor. Archives
of Academic Emergency Medicine, 8(1), e21�e21.
Grady, K. L. (2008). Self-care and quality
of life outcomes in heart failure patients. Journal of Cardiovascular
Nursing, 23(3), 285�292.
https://doi.org/10.1097/01.JCN.0000305092.42882.ad
Herbawani, C. K. (2021). Dampak COVID-19
pada Kesehatan Ibu Hamil: Literature Review. Jurnal Kesehatan Metro Sai
Wawai, 13(2), 76�85. https://doi.org/10.26630/jkm.v13i1.2253
Hidayat, I. R., & Hastuti, Y. D.
(2016). Gambaran Self Care Management Klien Hipertensi Di Kelurahan Pudak
Payung Semarang. Faculty of Medicine.
Kordi, M., Heravan, M. B., Asgharipour, N.,
Akhlaghi, F., & Mazloum, S. R. (2017). Does maternal and fetal health locus
of control predict self-care behaviors among women with gestational diabetes? Journal
of Education and Health Promotion, 6. https://doi.org/10.4103/jehp.jehp_12_16
Masjoudi, M., Aslani, A., Khazaeian, S.,
& Fathnezhad-Kazemi, A. (2020). Explaining the experience of prenatal care
and investigating the association between psychological factors with self-care
in pregnant women during COVID-19 pandemic: a mixed method study protocol. Reproductive
Health, 17(1), 1�7. https://doi.org/10.1186/s12978-020-00949-0
Moulaei, K., Sheikhtaheri, A., Ghafaripour,
Z., & Bahaadinbeigy, K. (2021). The development and usability assessment of
an mHealth application to encourage self-care in pregnant women against
COVID-19. Journal of Healthcare Engineering, 2021.
https://doi.org/10.1155/2021/9968451
Nasiru, U. A. (2010). Assessment of
Maternofoetal Transfer of Antitetanus Immunoglobulin G in Jos University
Teaching Hospital (JUTH), Jos. Shiraz E-Medical Journal, 11(2),
91�96.
Notoatmodjo, S. (2012). Promosi
kesehatan dan perilaku kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Rockwell, J. M., & Riegel, B. (2001).
Predictors of self-care in persons with heart failure. Heart & Lung,
30(1), 18�25. https://doi.org/10.1067/mhl.2001.112503
Schwartz, D. A. (2020). An analysis of 38
pregnant women with COVID-19, their newborn infants, and maternal-fetal
transmission of SARS-CoV-2: maternal coronavirus infections and pregnancy
outcomes. Archives of Pathology & Laboratory Medicine, 144(7),
799�805. https://doi.org/10.5858/arpa.2020-0901-SA
Sugiyono. (2018). Metode Penelitian
kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta.
Wang, D., Hu, B., Hu, C., Zhu, F., Liu, X.,
Zhang, J., Wang, B., Xiang, H., Cheng, Z., & Xiong, Y. (2020). Clinical
characteristics of 138 hospitalized patients with 2019 novel
coronavirus�infected pneumonia in Wuhan, China. Jama, 323(11),
1061�1069. https://doi.org/10.1001/jama.2020.1585