PEMANFAATAN MEDIA KOMUNIKASI DENGAN TEORI SYSTEM INFORNATION PROCESSING PADA APLIKASI �JOGO MALANG�

 

Muhammad Syuhada

STIK-Lemdiklat Polri

[email protected]

 

 

Abstract

Received:

02-09-2022

In the era of the industrial revolution 4.0, almost all aspects of human life cannot be separated from the use of computer technology as a communication medium / Computer Mediated Communication in meeting the needs of our lives. Polresta Malang City is here to provide excellent police services to the community with easy, fast and cheap digitization with the Jogo Malang application. The purpose of this research is the method of this paper is the result of a literature study sourced from books, articles, journals, and juxtaposed with the results of interviews from the initiators of the Jogo Malang Application about the use of communication media used as data collection techniques. The data obtained were analyzed descriptively by the author using the System Information Processing theory approach. The results of this study on the features in the Jogo Malang Application have utilized the Social Information Processing Theory because in its implementation during the Covid-19 pandemic, the Jogo Malang application is currently This has created intimacy/familiarity between the Police and the Community, where people feel helped without face-to-face/Face to Face to the nearest Police station but through Computer Mediated Communication on the Jogo Malang Application Channel, they can interactively get all the existing Police services with prime, easy , fast and cheap.

Accepted:

13-09-2022

Published:

17-09-2022

Keywords:

System Information Processing; Computer Mediated Communication; Face to Face; Jogo Malang; Sympathy Makota

 

Abstrak

Kata kunci:

System Information Processing; Computer Mediated Communication; Face to Face; Jogo Malang; Simpati Makota

Di era revolusi industri 4.0 ini hampir semua aspek kehidupan manusia tidak bisa lepas dari pemanfaatan teknologi komputer sebagai media komunikasi/Computer Mediated Communication dalam memenuhi kebutuhan hidup kita. Polresta Malang Kota hadir dalam memberikan pelayanan Kepolisian yang prima kepada masyarakat dengan digitalisasi yang mudah, cepat dan murah dengan Aplikasi Jogo Malangnya. Tujuan penelitian ini adalah Metode Makalah ini merupakan hasil studi pustaka yang bersumber pada buku, artikel, jurnal, dan disandingkan dengan hasil wawancara dari penggagas Aplikasi Jogo Malang tentang penggunaan nedia komunikasi yang digunakan sebagai teknik pengumpulan datanya. Data yang diperoleh dianalisis deskriptif oleh penulis dengan menggunakan pendekatan teori System Infornation Processing Hasil dari penelitian ini pada fitur-fitur yang ada di dalam Aplikasi Jogo Malang tersebut telah meanfaatkan Teori Social Information Processing karena pada pelaksanaanya di masa pandemi Covid-19 saat ini Aplikasi Jogo Malang tersebut telah menciptakan keintiman/keakraban antara Polisi dan Masyarakat, dimana masyarakat merasa terbantu dengan tanpa tatap muka/Face to Face ke kantor Polisi terdekat tetapi melalui Computer Mediated Communication pada Channel Aplikasi Jogo Malang sudah bisa interaktif mendapatkan segala layanan Kepolisian yang ada dengan prima, mudah, cepat dan murah.

Corresponding Author: Muhammad Syuhada

E-mail: [email protected]

https://jurnal.syntax-idea.co.id/public/site/images/idea/88x31.png

 

PENDAHULUAN

Perkembangan peradaban umat manusia sejak dulu hingga saat ini yang digitalisasi telah melalui beberapa tahap revolusi yang semuanya itu adalah untuk mempermudah segala aspek kehidupan manusia tersebut agar menjadi lebih cepat, murah dan mudah (Fajrin, 2019). Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa saat ini kita telah masuk pada era Revolusi Industri 4.0 atau yang sering disebut dengan cyber physical system, Revolusi Industri 4.0 merupakan revolusi yang menitikberatkan pada otomatisasi serta kolaborasi antara teknologi siber. Revolusi 4.0 ini sendiri muncul di abad ke-21 dengan ciri utama yang ada adalah penggabungan antara informasi serta teknologi komunikasi ke dalam bidang industry (Pangestika et al., 2020).

Tak terkecuali dalam bidang hubungan antara sesama kita atau kita kenal dengan komunikasi saat ini seakan tidak bisa lepas dari pemanfatan komputer atau gadget yang selalu kita bawa kemanapun kita pergi sebagai suatu alat utama dalam memediasi komunikasi kita. Dalam perspektif ilmu komunikasi hal tersebut kita kenal dengan istilah Computer Mediated Communication (CMC) dimana teknologi informasi berbasis komputer menjadi alat yang memediasi kita dalam berkomunikasi (Enggarwati, 2021). Computer Mediated Communication (CMC) sendiri merupakan inti dari teori System Information Processing (SIP) yang akan kita bahas dalam makalah ini.

Kepolisian Negara republik Indonesia (POLRI), berdasarkan Undang-undang No.2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia Pasal 13 menyebutkan bahwa tugas pokok Kepolisian adalah Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat; Menegakkan hukum; dan Memberikan Perlindungan, Pengayoman, dan Pelayanan Kepada Masyarakat. Salah-satu tugas pokoknya yang mengharuskan berkomunikasi langsung dengan masyarakat adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat, sehingga Polri harus bisa memberikan pelayanan pelayanan prima kepada masyarakat dengan pemanfaatan Computer Mediated Communication (CMC) karena pada hakikatnya hal ini sudah menjadi tuntutan dari masyarakat di era Revolusi Industri 4.0 untuk pelayanan menjadi lebih cepat, mudah dan murah sehingga kepuasan dan kepercayaan masyarakat kepada Polri menjadi meningkat. Selain itu munculnya Peraturan Presiden No. 95 Tahun 2018, tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) menjadi dasar bagi semua institusi Pemerintah khususnya Polri yang mempunyai sektor pelayanan kepada masyarakat untuk berbenah pelayanannya dari manual menjadi digitalisasi berbasis elektronik.

Berdasarkan penjelasan umum di latar belakang ini, maka kami selaku penulis Makalah berusaha membahas penerapanteori System Information Processing (SIP) dengan contoh riil pada tugas Polri dalam hal memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan pengalaman berdinas penulis saat menjabat sebagai Kasat Intelkam Polresta Malang Kota, sehingga penulis mengambil tulisan pada tugas membuat Makalah ini dengan judul PEMANFAATAN MEDIA KOMUNIKASI DENGAN TEORI SYSTEM INFORNATION PROCESSING PADA APLIKASI �JOGO MALANG�

Agar terfokus dan akurat serta tidak ambigu, maka tujuan penulisan Makalah ini secara umum adalah bersifat menjelaskan dan menjabarkan. Sehingga pembaca secara khusus mengetahui jawaban dari rumusan masalah diatas. Dengan rincian sebagai berikut1. Untuk mengetahui tentang Teori System Information Processing (SIP). 2. Untuk mengetahui Aplikasi Jogo Malang. 3. Untuk mengetahui penerpan System Information Processing (SIP) dalam Aplikasi Jogo Malang

 

METODE PENELITIAN

Metode Makalah ini merupakan hasil studi pustaka yang bersumber pada buku, artikel, jurnal, dan disandingkan dengan hasil wawancara dari penggagas Aplikasi Jogo Malang tentang penggunaan nedia komunikasi yang digunakan sebagai teknik pengumpulan datanya. Data yang diperoleh dianalisis deskriptif oleh penulis dengan menggunakan pendekatan teori System Infornation Processing.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Teori System Information Processing (SIP)

Pengertian Teori System Information Processing (SIP)

Social Information Processing Theory (SIP) atau lebih dikenal juga dengan sebutan Teori pemrosesan informasi sosial adalah sebuah teori dalam persepektif ilmu komunuikasi yang menjelaskan bagaimana komunikator yang bertemu melalui komunikasi berbasis teks dengan mediasi komputer (Computer - Mediated Communication CMC) sehingga mengembangkan kesan interpersonal dan relasi.

Social Information Processing Theory (SIP) diperkenalkan pada 1992 oleh Joseph Walther, dan teori ini menjelaskan bagaimana aspek-aspek dari proses komunikasi berinteraksi dengan fitur teknologi media untuk mendorong pengembangan afinitas dan daya tarik dalam lingkungan online. Sejak itu, teori ini digunakan untuk menjelaskan kesan online dan proses formasi relasi online di berbagai macam konteks sosial dan tugas, termasuk kelompok kerja internasional, situs kencan, dan wahana jejaring sosial.

Atau dapat diartikan sebagai komunikasi manusia yang terjadi melalui penggunaan dua atau lebih perangkat elektronik. Meskipun istilah ini secara tradisional diartikan sebagai komunikasi yang terjadi melalui format media komputer (seperti: pesan instan, email, chat room, online forum, social network services), hal ini juga telah diaplikasikan ke dalam bentuk media interaksi berbasis teks lainnya seperti pesan teks. Penelitian pada Computer Mediated Communication (CMC) sebagian besar berfokus pada efek sosial dari berbagai jenis komunikasi yang menggunakan media teknologi komputer. Banyak studi terbaru kini telah melibatkan jejaring sosial berbasis internet yang didukung oleh perangkat lunak sosial.

Social Information Processing (SIP) tidak membantah bahwa alat yang dimediasi komputer membatasi jumlah isyarat non-verbal (format berbasis teks, seperti email dan pesan instan yang bergantung pada pesan yang diketik, bukan yang visual dan/atau audio) yang tersedia bagi komunikator. Teori ini justru menyarankan bahwa komunikator beradaptasi dengan setiap pembatasan terhadap mereka oleh media. Teori ini menyatakan bahwa pesan-pesan yang diketik setara dengan saluran verbal dalam tatap muka (face-to-face), sehingga menolak klaim bahwa alat yang dimediasi komputer kurang berguna untuk pembentukan kesan dan hubungan interpersonal. Dengan demikian, karena komunikator harus bergantung pada pesan yang diketik sebagai saluran utama mereka, isyarat verbal yang dikandungnya adalah pengaruh kuat terhadap pembentukan kesan dan hubungan interpersonal berikutnya.

Bangunan Teori System Information Processing (SIP)

Pada bangunan teoriSocial Information Theory (SIP) memiki premis-premisyang dikemukakan oleh penemunya yaitu Joseph Walter bahwaPremis Mikro Komunikasi Computer Mediated Communication (CMC) lebih efektif dan bisa melebihi Komunikasi Face to face (FtF) dimana diawal munculnya teori ini Joseph Walter merasa pesimis bahwa teorinya bisa mencapai hipersonal komunikasi, tetapi setelah melakukan beberapa kali riset bersama mahasiswanya dan dengan munculnya Facebook menjadikan yakin bahwa teori ini akan menjadi lebih baik dengan beberapa keunggulan dibandingakan dengan Komunikasi Face to Face (FtF)dan didukung oleh Martin Tanis dan Tom Postmes (Theory, 2022).

Tetapi teori ini bukan tanpa kritik, Robert Tokunaga menyatakan bahwa teori ini cacat budaya dan lebih individualistik dengan Premis Makronya karena merupakan suatu hal yang berbeda dibandingakan teori-teori komunikasi sebelumnya. Robert Tokunaga menyatakan bahwa kritiknya bahwa Computer Mediated Communication (CMC) tidak bisa seefektif komunikasi Face to face (FtF).

Pada perkembangannya saat ini ternyata dapat kita rasakan bersama bahwa Premis yang dikemukakan oleh penemu teori ini yaitu Joseph Walter benar dan ternyata Computer Mediated Communication (CMC) tidak hanya mempu dalam tataran Interpersonal Komunikasi tetapi juga dapat melebihi menjadi Hipersonal Komunikasi, apalagi saat ini kita bisa merasakan dengan munculnya berbagai aplikasi kmputer yang bisa live streaming dan video call, tentu ini bisa melebihi daripada komunikasi Face to face (FtF).

Tradisi Teori System Information Processing (SIP)

Dalam mengawali idenya tentang tradisi teori komunikasi, Craig terlebih dahulu menggambarkan dengan jelas apa yang dimaksudkannya dengan tradisi (Utari, 2011). Menurutnya tradisi adalah something handed down from the past, but no living tradition is statis. Traditions are constantly changing. Sesuatu yang sudah kita miliki sejak dulu (waktu sebelumnya), yang tidak statis tetapi terus berkembang sesuai dengan jaman. Lebih jauh Craig menegaskan bahwa traditions are not homogeneous. Every tradition is characterized by a history of argument about beliefs and values that are important to the tradition. Ini lebih menjelaskan bahwa dalam memelihara suatu tradisi peran nilai nilai yang sudah ada menjadi hal utama yang harus diperhatikan.

Untuk setiap tradisi yang diungkapkannya Craig memberikan indikator dari masing-masing antara lain dengan karakteristik definisi komunikasi dan hubungan yang terbentuk karena definisi tersebut. Perlu ditekankan di sini dalam memandang penempatan masing-masing tradisi keilmuan komunikasi Craig mendasarkan pada konsep praktek komunikasi sehari hari dan sesuai dengan perkembangan dari tradisi itu sendiri.

Biarpun sedikit terlambat di banding ilmuwan lain, Littlejohn mulai merespon ide Craig untuk menghilangkan sekat �multidisiplin� kajian teori komunikasi pada bukunya Human Communication Theory Edisi 7 (2002). Dalam buku ini baru sedikit saja ide Tujuh Tradisi dalam Teori Komunikasi dimunculkan. Kejelasan dari pemahaman Littlejohn tentang Tujuh Tradisi dalam Teori Komunikasi ini dilakukannya dengan merubah secara besar-besaran bukunya Theory of Human Communication Edisi 8 (2005). Dalam menjelaskan teori komunikasi dari Littlejohn tidak lagi berdasarkan tingkatan atau levels komunikasi tetapi pengelompokan suatu teori komunikasi dilakukan berdasarkan pengelompokkan di masing-masing tradisi.

Hal ini disebut Littlejohn sebagai Metamodel atau model dari model telah ada. Metamodel ini menyediakan pola-pola yang koheren yang dapat menolong menyatukan definisi isu-isu dan asumsi-asumsi yang ada dalam teori komunikasi. Sisi lain yang perlu diperhatikan juga adalah konsep definisi suatu teori. Teori tidak hanya dipandang sebagai suatu penjelasan atau proses belaka, melainkan harus dilihat sebagai suatu statement atau argumen yang mendukung suatu pendekatan.

Melalui pemikiran Craig ini Littlejohn meyakini bahwa Perspektif Tujuh Tradisi Teori Komunikasi dapat berguna sebagai a guide and tool for looking at the assumption, perspectives and focal points of communication theories to be able to see their similarities and differences (2008: 33). Karena Littlejohn berpegang pada konsep kesamaan dan perbedaan dari masing-masing teori dalam suatu tradisi maka menurutnya ke tujuh tradisi dalam teori komunikasi itu dapat dimulai dari semiotik, phenomenologi, cybernetic, psikologisosial, sosio-kultural, critical dan rhetorika. Berikut Tujuh Persepektif Tradisi Komunikasi:

(Griffin et al., 2009)

Berdasarkan pemikiran Griffin ini maka tradisi psikologi sosial dan cybernetic berada di tradisi yang paling bersifat obyektif, sedangkan phenomenology dan critical paling bersifat interpretif.

Mencermati dari penjelasan diatas dimana maka Social Information Processing Theory berada dalam teritorial tradisi Cybernatic / Sibernetika. Hal ini didasarkan pada Norbert Wiener yang menciptakan kata sibernetika untuk menggambarkan bidang ini kecerdasan buatan. Istilah ini merupakan transliterasi dari kata Yunani untuk "pengemudi" atau "gubernur," dan ini menggambarkan cara umpan balik menghasilkan informasi pemrosesan mungkin di kepala kita dan di komputer laptop kita. Dalam buku EM Griffin A FIRST LOOK AT COMMUNICATION THEORY, Halaman 43 disebutkan bahwa Sibernatika adalah Studi tentang pemrosesan informasi, umpan balik, dan kontrol dalam sistem komunikasi.

Selama Perang Dunia II, Wiener mengembangkan sistem penembakan antipesawat yang menyesuaikan lintasan masa depan dengan memperhatikan hasil kinerja masa lalu. Miliknya konsep umpan balik berlabuh tradisi sibernetik, yang menganggap komunikasi sebagai tautan yang menghubungkan bagian-bagian terpisah dari sistem apa pun, seperti sistem komputer, sistem keluarga, sistem organisasi, atau sistem media.

Tradisi cybernetika selalu melihat hubungan, bagian-bagian dan sistem yang ada. Isu yang dibicarakan; information resources, message, transmitter, signal, channel, receiver, destignation, feedback dan noise. Isu selalu membicarakan noise dan kegagalan pesan sampai karena overload informasi dengan rumus = Kapasitas Saluran = Informasi + Noise.

Dalam tradisi sibernatika dicontohkan bahwa komunikasi menggunakan media dan perlu pemrosesan informasi serta tidak terjadi Face to Face hal ini harus berada dalam satu chanel agar bisa terlaksana komunikasi (Oktarina & Abdullah, 2017). Tentu saja penjelasan ini sama dengan prinsip kerja pada computer mediated communication yang menjadi dasar dalam prinsip Social Information Processing Theory.

Tetapi pada sumber lain dijelaskan bahwa sebelum berkembang menjadi sebuah Komunikasi yang hipersonal, teori ini masuk dalam tradisi Socio-Psychological / Sosial-psikologis, hal ini didasarkan pada bahwa kedekatan dan keintiman seseorang dengan lainnya dinilai dari intensitas komunikasinya sesama, seperti pada komunikasi seseorang melalui chat email ataupun telepon. Dimana meskipun seorang yang berada jauh tidak melakukan Face to face (FtF) tetapi intens berkounikasi melalui jejaring sosial email, maka akan terciptakan kedekatan antar sesamanya. Tentunya hal ini terjadi hanya pada tataran impersonal komunikasi dan jika sudah memasuki kepada ranah interpersonal dan hipersonal maka juga bisa dikatankan masuk kedalam tradisi sibernatika dengan segala keterbukaan dan dampak dari sebuah isu yang dilempar ke jejaring sosial yang dapat sebagai tolak ukur reaksi dari masyarakat.

Kesimpulanya disini adalah bahwa Teori System Information Processing (SIP) masuk dalam tradisi Sosio psikologikal, hal ini didasarkan pada bahwa kedekatan dan keintiman seseorang dengan lainnya dinilai dari intensitas komunikasinya sesama, seperti pada komunikasi seseorang melalui chat email ataupun telepon. Tetapi jika melihat dampak dan perkembangannya teori ini juga bisa dikategorikan sebagai Tradisi Sibernatika karena ada pemrosesan Informasi dan pemanfaatan media komputer untuk mengecek dampak dari sebuah isu yang dilemparkan ke publik.

Paradigma Teori System Information Processing (SIP)

Berdasarkan penjelasan tradisi diatas maka dapat kita ketahui bahwa Paradigma dari Social Information Processing Theory (SIP) yang bertradisi sibernatika dan sosio-psikologikal adalah masuk teritorial yang bersifat obyektif dimana kita kenal bahwa obyektif atau lebih kita kenal dengan paradigma positivistik. Selain itu dalam buku EM Griffin A FIRST LOOK AT COMMUNICATION THEORY Halaman 25 disebutkan bahwa Social Information Processing Theory (SIP) masuk dalam ranah teritorial Obyektif. Dimana kita kenal secaara luas bahwa obyektif adalah ciri khas pada pemikiran yang Berparadigma Positivistik.

 

Aplikasi Jogo Malang

Penjelasan tentang Aplikasi Jogo Malang

Aplikasi Jogo Malang merupakan suatu terobosan kreatif secra mudah, murah dan cepat yang dilakukan oleh Polresta Malang Kota dengan pemanfaatan teknologi informasi berbasis komputer atau Computer Mediated communication (CMC) yang bisa diunduh di smartphone setiap orang melalui Play store secara gratis, harapan diluncurkannya aplikasi ini adalah masayarakat Kota Malang bisa mendapatkan segala layanan kepolisian secara online tanpa harus datang ke kantor Polisi terdekat disekitarnya.

Terobosan ini sudah dilakukan oleh jajaran Polresta Malang Kota (Makota), yang digagas dan diluncurkan oleh Kapolresta saat itu yang dihabat oleh Kombes. Pol. Dr. Leonardus H Simarmata P, S.I.K pada awal Februari Tahun 2020, saat pandemi corona belum merebak di Indonesia, hingga saat ini masa pandemi yang belum berahir aplikasi ini menjadi andalan dalam mengurangi interaksi dengan sesama. Tujuan utama dari diluncurkannya aplikasi mobile tersebut demi membantu memberikan pelayanan prima bagi masyarakat. Sejak awal diluncurkannya, aplikasi ini digadang-gadang sebagai andalan Polri, khususnya Polresta Malang Kota dalam melayani masyarakat. Menariknya, dengan aplikasi tersebut pelayanan Polri untuk warga Kota Malang bisa berlangsung selama 24 jam dalam sehari dan tujuh hari dalam seminggu. Sehingga Warga tak perlu datang ke kantor Polresta Malang Kota, atau Polsek terdekat untuk melakukan pelaporan. Cukup melalui aplikasi smartphone ini, masyarakat bisa mengadu kepada polisi.

Aplikasi ini memiliki beberapa fitur yang selalu dikembangkan untuk update dengan perkembangan masyarakat terkini. Semua layanan Kepolisian yang ada dapat dilakukan melalui aplikasi ini tanpa hasus datang langsung untuk proses tindak lanjutnya datang langsung ke Polresta Malang Kota untuk mengambil hasilnya saja dikarenakan ada akun yang berisikan informasi data identitas pengguna yang terhubung pada database Polresta Malang Kota.

Ada beberapa fitur dalam aplikasi ini yang tidak hanya terkait dengan layanan kepolisian, tetapi juga pengaduan, informasi penting, tentang perkembangan Covid 19 di kota Malang dan masih banyak lagi yang lainnya yang akan penulis jelaskan pada sub bab bahasan selanjutnya. Salah satu fitur andalan yang ditawarkan oleh aplikasi ini adalah Punnic Buttom on Hand (PBoH) dan telah mendapat apresiasi dari Kementrian Pemberdayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) karena Sejak pertama kali dikenalkan pada masyarakat, Panic Button sudah menerima ratusan panggilan dengan beragam pengaduan, seperti tindakan pengrusakan, pengeroyokan, pencurian, sampai keluhan terkait lalu lintas (Button, 2022). Beberapa kali, aplikasi ini juga berhasil mengungkap aksi pencurian. Seperti pencurian scaffolding atau tangga besi rakitan di Jalan Bingkil, Kecamatan Sukun, Kota Malang, beberapa waktu lalu. Dua pelaku berinisial MS (36), dan BA (21), dapat dibekuk polisi dari hasil penyelidikan usai korban memanfaatkan fitur PboH pada aplikasi Jogo Malang.

 

Kegunaan Aplikasi Jago Malang

Aplikasi Jogo Malang ini memeliki menfaat atau kegunaan yang ditawarkan kepada masyarakat Kota Malang melalui beberpa ditur layanannya yang bisa digunakan oleh setiap pengunnuhnya.

 

Penerpan Teori System Information Processing (SIP) dalam Aplikasi Jogo Malang

Kita ketahui melalui beberapa literatur dan penjelasan dari Dosen Pengajar mata pelajaran Teori dan Perspektif ilmu Komunikasi Dr. Ilham Prisgunanto, SS, M.Si bahwa inti dari teori System Information Processing (SIP) adalah adanya pemrosesan input informasi dengan menggunakan media teknologi informasi yaitu komputer atau kita kenal dengan Computer Mediated communication (CMC) melalui satu channel/saluran kemudian diolah dan menjadi output yang lebih berguna untuk dikembalikan lagi menjadi feedback yang bermanfaat kepada penginput informasi awal. Tak terlupakan juga pada teori ini menghasilkan hubungan keintiman/kedekatan sebagai tujuan utama antara orang yang berkomunikasi meskipun tidak secara langsung tetapi sama bekualitasnya dengan secara langsung/Face to Face (FtF).

Dilihat dari sistem kinerjanya aplikasi Jogo Malang ini hakikatnya telah memanfaatkan Teori System Information Processing (SIP) dalam sistem kinerjanya. Dimana ada media Komputer Computer Mediated communication (CMC) atau dalam hal ini adalah aplikasi Jogo Malang itu sendiri yang digunakan untuk berkomunikasi, dimana ada proses dari informasi informasi masyarakat yang kemudian diterima oleh Petugas Polisi dari masyarakat ditindak lanjuti sebagai wujud feedbeck kepada masyarakat yang melakukan pelaporan berupa informasi penting, produk surat negara (SIM, SKCK, SP2HP), bukti daftar vaksinasi, SIM, SKCK ataupun tindakan Kepolisian lainnya yg berupa pencegahan dan penindakan gangguan sosial bahkan bencana alam serta non alam.

Selain itu kuwalitas keintiman/kedekatan masyarakat dengan Polisi dapat tercapai melalui aplikasi Jogo Malang ini dimana antara kehadiaran/pertemuan lansung on the spot antara Polisi dengan masyarakat memiliki nilai yang sama dengan pertemuan melalui aplikasi Jogo Malang ini yang any time dan any where karena apa yang diharapkan masyarakat telah tercapai (Catherina, Boer, Talia, & Cecilia, 2020). Hal inilah yang menjadikan peulis makalah menyatakan bahwa tujuan dari penerapan Teori System Information Processing (SIP) dapat dipenuhi melalui penggunaan aplikasi Jogo Malang ini.

 

KESIMPULAN

Social Information Processing Theory (SIP) atau lebih dikenal juga dengan sebutan Teori pemrosesan informasi sosial adalah sebuah teori dalam persepektif ilmu komunuikasi yang menjelaskan bagaimana komunikator yang bertemu melalui komunikasi berbasis teks dengan mediasi komputer / computer mediated communication (CMC) sehingga mengembangkan kesan interpersonal dan relasi.

Teori ini masuk dalam tradisi Sosio psikologikal, hal ini didasarkan pada bahwa kedekatan dan keintiman seseorang dengan lainnya dinilai dari intensitas komunikasinya sesama, seperti pada komunikasi seseorang melalui chat email ataupun telepon. Tetapi jika melihat dampak dan perkembangannya teori ini juga bisa dikategorikan sebagai Tradisi Sibernatika karena ada pemrosesan Informasi dan pemanfaatan media komputer untuk mengecek dampak dari sebuah isu yang dilemparkan ke publik.

Berdasarkan Dari tradisi diatas dapat kita ketahui bahwa Paradigma dari Social Information Processing Theory (SIP) yang bertradisi Sosial psikologikal dan cybernatic adalah masuk teritorial yang bersifat obyektif dimana kita kenal bahwa obyektif atau lebih kita kenal dengan paradigma positivistik. Tetapi munculnya penelitian dari beberapa ahli komunikasi yang tidak terfokus kepada efektifitas TfT dibanding CMC dimana lebih kedalam dampak dari CMC menjadikan terjadinya pergesean Paradigmanya menujunkepada post positivistik.

Institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan salah satu institusi di Negara ini yang bisa kita bilang cukup aktif dalam menggunakan memanfaatan Social Information Processing Theory (SIP) dalam setiap pelaksanaan tugas-tugasnya. Ditambah lagi dengan lahirnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 95 Tahun 2018 tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE), semakin mendorong Polri untuk terus berbenah dalam setiap pelaksanaan tugas-tugasnya untuk selalu memanfaatkan perkembangaan elektronik.

Aplikasi Jogo Malang merupakan suatu terobosan kreatif secra mudah, murah dan cepat yang dilakukan oleh Polresta Malang Kota dengan pemanfaatan teknologi informasi berbasis komputer atau Computer Mediated communication (CMC) yang bisa diunduh di smartphone setiap orang melalui Play store secara gratis, harapan diluncurkannya aplikasi ini adalah masayarakat Kota Malang bisa mendapatkan segala layanan kepolisian secara online tanpa harus datang ke kantor Polisi terdekat disekitarnya.

Aplikasi Jogo Malang ini memeliki menfaat atau kegunaan yang ditawarkan kepada masyarakat Kota Malang melalui beberpa ditur layanannya yang bisa digunakan oleh setiap pengunnuhnya.

 

 

BIBLIOGRAFI

 

Button, Panic. (2022). Panic Button, Cara Cepat Atasi Kejahatan di Kota Malang.

 

Catherina, Casey, Boer, Rino F., Talia, Mei, & Cecilia, Stephanie. (2020). Pembentukan Konsep Keintiman Berdsarkan Social Information Processing Theory pada Komunitas Sehatmental. id. Jurnal Komunikasi, 14(1), 63�72.

 

Enggarwati, Refi Erlita. (2021). Komunikasi New Normal dalam pembelajaran selama pandemi Covid-19 di prodi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. UIN Sunan Ampel Surabaya.

 

Fajrin, Rakhil. (2019). Urgensi Telaah Sejarah Peradaban Islam Memasuki Era Revolusi Industri 4.0. Intizam, Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 2(2), 107�119.

 

Griffin, Emory A., Crossman, Joanna, Bordia, Sarbari, Mills, Colleen, Maras, Steven, Pearse, Guy, Kelly, Paul, & Shanahan, Dennis. (2009). A First Look at Communication Theory, Em Griffin. Details: Boston: McGraw-Hill Higher Education, 230�265.

 

Oktarina, Yetty, & Abdullah, Yudi. (2017). Komunikasi dalam perspektif teori dan praktik. Deepublish.

 

Pangestika, Maria, Hohary, Musraino, Agus, Yohanes Hendro, Widyawati, Nugraheni, Herawati, Maria Marina, Sutrisno, Alfred Jansen, Handoko, Yoga Aji, Simamora, Liska, Zebua, Damara Dinda Nirmalasari, & Nadapdap, Hendrik Johannes. (2020). Smart Farming: Pertanian di Era Revolusi Industri 4.0. Penerbit Andi.

 

Theory. (2022). Social information processing (theory).

 

Utari, Prahastiwi. (2011). Perspektif Tujuh Tradisi dalam Teori Komunikasi. Jurnal Kommas, 4(2).