HUBUNGAN ANTARA PENDAPATAN KELUARGA DAN POLA ASUH GIZI DENGAN STATUS GIZI ANAK BALITA DI TK NEGERI PEMBINA TEBING TINGGI

Intan Permata Sari Br Sembiring

Universitas Prima Indonesia Medan, Indonesia

Intanprmt05@gmail.com

 

Keywords

Abstract

Family income, parenting style, nutritional status, children under five

 

Nutritional status is a crucial health indicator, especially for children under five years old, who are a vulnerable group in terms of health and nutrition. The objective of this study is to determine the relationship between income levels, nutritional parenting patterns, and the nutritional status of toddlers at TK Negeri Pembina Tebing Tinggi. This research adopts a quantitative approach with an observational analytical design using a cross-sectional study. The population for this study consists of all toddlers at TK Negeri Pembina Tebing Tinggi, totaling 60 individuals. Sample selection employs the Slovin formula, resulting in a sample size of 52. Data analysis includes both univariate and bivariate analyses. Research findings reveal that the nutritional intake (energy, protein, carbohydrates, and fats) for toddlers at TK Negeri Pembina Tebing Tinggi averages 1439.69 kcal/hr, 26.71 gr/hr, 230.7 gr/hr, and 55.04 gr/hr, respectively. The majority of families in the study have an income ranging from Rp. 1,500,000 to Rp. 2,500,000. Most toddlers at TK Negeri Pembina Tebing Tinggi exhibit a good nutritional parenting pattern. There is no significant relationship between family income and the nutritional status of toddlers at TK Negeri Pembina Tebing Tinggi (p > 0.05). However, a significant relationship exists between nutritional parenting patterns and the nutritional status of toddlers at TK Negeri Pembina Tebing Tinggi (p < 0.05). In conclusion, this study provides insights into factors influencing the nutritional status of toddlers, advocating for improved policies and more effective interventions in the future. The implications involve enhancements in health policies and nutritional services.

 

Kata Kunci

Abstrak

Pendapatan Keluarga, Pola Asuh, Status Gizi, Anak Balita

Status gizi merupakan indikator kesehatan yang penting karena anak usia di bawah lima tahun merupakan kelompok yang rentan terhadap kesehatan dan gizi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan tingkat pendapatan dan pola asuh gizi dengan status gizi balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan analitik observasional dengan desain cross-sectional study. Adapaun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah semua balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi sebanyak 60 orang. pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus slovin dengan jumlah sampel sebanyak 52 sampel. Analaisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan asupan nutrisi (energi, protein, karbohidrat dan lemak) pada anak balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi rata-rata energi sebesar 1439, 69 kkal/hr, protein 26,71 gr/hr, karbohidrat 230,7 gr/hr dan asupan lemak 55,04 gr/hr. Pendapatan keluarga pada sampel dalam penelitian ini mayoritas di angka Rp. 1.500.000 – Rp. 2.500.000. Mayoritas pola asuh gizi anak balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi ada pada kategori baik. Tidak ada hubungan antara pendapatan keluarga dengan status gizi anak balita di TK Negeri Pemnina Tebibg Tinggi p = > 0,05. Ada hubungan antara pola asuh gizi dengan status gizi anak balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi p = < 0,05.  Dapat di simpulkan dari Penelitian ini memberikan pemahaman tentang faktor-faktor yang memengaruhi status gizi anak balita, mendorong perbaikan kebijakan dan intervensi yang lebih efektif di masa mendatang. Implikasi melibatkan perbaikan kebijakan kesehatan dan pelayanan gizi.

 

Corresponding Author: Intan Permata Sari Br Sembiring   

E-mail: Intanprmt05@gmail.com

 

Description: https://jurnal.syntax-idea.co.id/public/site/images/idea/88x31.png

 

 

PENDAHULUAN

Peningkatan derajat kesehatan masyarakat sangat diperlukan dalam mengisi pembangunan yang dilaksanakan oleh bangsa Indonesia. Salah satu upaya peningkatan derajat kesehatan adalah perbaikan gizi masyarakat. Salah satu indikator kesehatan yang dinilai keberhasilan pencapaiannya dalam Millenium Development Goals (MDGs) adalah status gizi balita (Susilowati & Himawati, 2017). Status gizi balita diukur berdasarkan umur, berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) (Rochmawati et al., 2023).

Pada dasarnya, obesitas adalah masalah kesehatan masyarakat, tetapi hanya metode medis dan layanan kesehatan yang dapat menanganinya. Kurang Energi Protein (KEP), anemia besi, gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY), kurang vitamin A (KVA), dan obesitas adalah masalah gizi utama di Indonesia dan negara berkembang (SAMMUDRA et al., 2015).

Karena anak-anak di bawah lima tahun rentan terhadap masalah gizi dan kesehatan, status gizi mereka sangat penting sebagai indikator kesehatan. Kualitas hidup mereka di kemudian hari akan dipengaruhi oleh masalah gizi yang mereka alami di awal kehidupan mereka (Susanti & Kholisoh, 2018). Kurang gizi pada balita menyebabkan gangguan pertumbuhan fisik dan pengurangan produktivitas dan kecerdasan ketika mereka dewasa (Dini, 2022).

Masa balita adalah bagian penting dari proses tumbuh kembang manusia karena perkembangan dan pertumbuhan yang terjadi selama periode ini sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak di masa mendatang (Uce, 2018). Usia ini disebut sebagai "masa keemasan" karena cepat dan tidak dapat diulang.

Kualitas dan jumlah makanan yang dikonsumsi keluarga sangat dipengaruhi oleh pendapatan (Hanum, 2018). Pendapatan keluarga adalah komponen penting yang dapat mempengaruhi status gizi balita karena hal ini menyangkut daya beli keluarga untuk memenuhi kebutuhan konsumsi makan mereka (Dewi Taurisiawati & Yona Desni, 2019). Dengan demikian, persentase pendapatan keluarga akan meningkat seiring dengan tingkat pendapatan yang lebih tinggi (Putra et al., 2013).

angka kemiskinan di tingkat nasional diperkirakan akan meningkat menjadi 9,7 persen pada akhir 2020, setara dengan 1,3 juta orang baru yang masuk ke dalam kategori miskin (Goma et al., 2022). Bahkan dalam kondisi terburuk, kemiskinan meningkat menjadi 12,4 persen, setara dengan 8,5 juta orang miskin baru (Ihsani & Rohman, 2022).

Selain pendapatan, status gizi balita sangat bergantung pada pola asuh orang tua atau pengasuhnya terhadap makanan yang baik, zat gizi, dan kesehatan fisik mereka. Karena pemberian makan ibu atau pengasuh sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan anak, baik secara positif maupun negatif, ibu adalah orang yang paling dekat dengan anak (Ngewa, 2021).

Pola asuh merupakan faktor yang erat kaitannya dengan pertumbuhan dan perkembangan anak balita. Masa anak usia balita adalah dimana anak masih sangat membutuhkan suplai makanan dan gizi dalam jumlah yang cukup memadai (Manumbalang et al., 2017). Kekurangan gizi pada masa ini dapat menyebabkan gangguan tumbuh kembang secara fisik, mental, sosial dan intelektual yang sifatnya menetap dan bibawa terus sampai dewasa. Masa anak usia 12 – 59 bulan (balita) adalah masa anak-anak yang tergantung pada perawatan dan pengasuhan ibunya. Oleh karena itu pengasuh kesehatan dan makanan pada tahun pertama kehidupan sangat penting untuk perkembangan anak (Herlina, 2019).

Masa balita, juga dikenal sebagai "masa emas" dalam kehidupan seseorang, membutuhkan perhatian ekstra dari orang tua. Pola asuh orang tua sangat penting, terutama dalam hal pemberian gizi seimbang untuk membangun dasar pertumbuhan anak yang optimal (Maranay, 2021). Gizi yang seimbang akan menentukan kualitas sumber daya manusia yang akan datang. Oleh karena itu, untuk membentuk generasi yang baik sejak dini, pola asuh harus lebih diperhatikan dan tidak dapat diabaikan (Nurjanah, 2017).

Secara global, ada 6,9 % balita kurus (wasting), 2,1% balita sangat kurus (severe wasting), dan 5,6% balita gizi lebih (overweight). Secara nasional, proporsi status gizi kurus dan sangat kurus pada balita turun dari 12,1% pada tahun 2013 menjadi 10,2% pada tahun 2018. Proporsi status gizi lebih pada balita juga turun dari 11,8% pada tahun 2013 menjadi 8% pada tahun 2018.

evaluasi status nutrisi remaja Turki berhubungan dengan jenis kelamin dan status sosioekonomi, ditemukan bahwa remaja dari kelompok ekonomi menengah dan tinggi lebih kurus dan lebih pendek dibandingkan dengan remaja dari kelompok ekonomi menengah dan tinggi (Prawirohartono, 2021). Selain itu, hasil pengukuran antropometri remaja dari kelompok ekonomi menengah sama dengan remaja dari kelompok ekonomi tinggi. anak-anak prasekolah yang berasal dari keluarga berpenghasilan rendah lebih cenderung mengalami obesitas dan kelebihan berat badan (Banjarnahor et al., 2022).

Penelitian terdahulu “Hubungan Pendapatan Keluarga Dengan Kejadian Stunting” menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pendapatan keluarga dan kejadian stunting pada balita. Sebagian besar keluarga yang memiliki balita stunting memiliki pendapatan di bawah Upah Minimum Regional (UMR), sementara keluarga yang balitanya tidak mengalami stunting cenderung memiliki pendapatan di atas UMR. Hal ini menyoroti peran pendapatan keluarga sebagai faktor penting dalam mencegah stunting, dengan implikasi bahwa ketidakcukupan ekonomi dapat menjadi penyebab utama terjadinya stunting pada anak. Dengan mengetahui keterkaitan ini, langkah-langkah intervensi dan kebijakan dapat diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga dan secara efektif mengurangi risiko stunting pada balita (Agustin & Rahmawati, 2021).

Penelitian terdahulu Penelitian mengenai pola asuh gizi dan status gizi anak usia sekolah pada anak buruh migran di Desa Sumbersalak, Kabupaten Jember, menyimpulkan bahwa mayoritas anak tersebut memiliki status gizi normal, meskipun sebagian kecil mengalami stunting. Pola asuh gizi yang diterapkan oleh pengasuh sebagian besar baik, namun masih terdapat beberapa aspek yang tidak sesuai, seperti pemberian menu sesuai visual piring makanku, pemberian jajanan bergizi, dan kebiasaan mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan anak. Analisis menunjukkan adanya hubungan antara pola asuh gizi yang kurang dengan kejadian stunting, dengan odds ratio sebesar 8,00, menunjukkan bahwa anak dengan pola asuh gizi yang kurang memiliki risiko 8,00 kali lebih tinggi mengalami stunting dibandingkan dengan anak yang mendapatkan pola asuh yang baik (Marpaung et al., 2021).

Berdasarkan penelitian terdahulu Penelitian kali ini berhubungan Antara Pendapatan Keluarga Dan Pola Asuh Gizi Dengan Status Gizi Anak Balita di Tk Negeri Pembina Tebing Tinggi.

Studi literatur yang mengeksplorasi hubungan antara pola asuh dan status gizi pada balita memberikan wawasan yang penting terkait pertumbuhan dan perkembangan anak pada tahap awal kehidupan. Dalam konteks ini, penelitian menunjukkan bahwa pola asuh gizi, termasuk kebiasaan makan dan sanitasi rumah tangga, memainkan peran kunci dalam menentukan status gizi anak. Faktor-faktor seperti pendidikan orang tua, tingkat ekonomi keluarga, dan intervensi gizi yang melibatkan pendidikan orang tua juga diidentifikasi sebagai elemen penting yang berkontribusi terhadap pemahaman dan implementasi praktik gizi yang baik. Selain itu, penelitian menyoroti dampak lingkungan sosial dan ekonomi terhadap kemampuan keluarga dalam memberikan makanan bergizi kepada anak, menekankan perlunya pendekatan holistik dalam meningkatkan gizi anak di berbagai lapisan masyarakat. Implikasinya, studi literatur ini dapat membantu merancang strategi intervensi yang lebih terarah, termasuk program pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, guna meningkatkan pola asuh gizi dan kesehatan anak pada tingkat global.

Berdasarkan uraian diatas dapat dilihat bahwa pemberian nutrisi yang baik kepada balita untuk mencapai gizi seimbang perlu menjadi perhatian khusus bagi semua kalangan. Pemberian nutrisi yang baik dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya tingkat pendapatan keluarga dan pola asuh gizi. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai hubungan tingkat pendapatan dan pola asuh gizi dengan status gizi balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan tingkat pendapatan dan pola asuh gizi dengan status gizi balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi. Dari hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai literatur mengenai hubungan tingkat pendapatan dan pola asuh gizi dengan status gizi balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi.

Manfaat dari Penelitian ini mengenai hubungan antara pendapatan keluarga, pola asuh gizi, dan status gizi anak balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi memberikan manfaat signifikan dalam perbaikan kesehatan anak, pengembangan kebijakan kesehatan, peningkatan kesadaran masyarakat, pengembangan riset lanjutan, peningkatan kualitas pendidikan, dan optimalisasi sumber daya. Temuan ini dapat membantu merancang intervensi kesehatan yang lebih efektif, mendukung pengembangan kebijakan kesehatan yang terarah, meningkatkan kesadaran orang tua, memotivasi perubahan perilaku positif, dan memberikan dasar bagi penelitian lanjutan yang lebih mendalam. Dengan demikian, hasil penelitian memiliki dampak positif yang luas terhadap kesejahteraan anak balita dan pembangunan masyarakat di masa depan.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan analitik observasional dan desain cross-sectional, yang merupakan jenis penelitian kuantitatif. Fokus penelitian adalah pada waktu pengukuran atau pengamatan data pada satu waktu atau periode yang sama untuk variabel bebas dan terikat. Lokasi penelitian adalah TK Negeri Pembina Tebing Tinggi di Jl. Sutomo No. 3A, kel. Tebing Tinggi Lama, Kec. Tebing Tinggi Kota, Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara 20623. Waktu penelitian dimulai pada bulan Januari 2023 dengan pembuatan proposal, dan pengambilan data akan dilakukan pada bulan Februari-Mei 2023. Analisis data akan dilakukan menggunakan sistem komputer, yaitu SPSS (System Paket Sosial Science), yang melibatkan analisis univariat dan analisis bivariat. Analisis univariat, atau analisis persentase, digunakan untuk menjelaskan distribusi frekuensi masing-masing dari variabel bebas dan terikat. Peneliti menggunakan distribusi variabel untuk melakukan analisis ini. Sementara itu, analisis bivariat akan membahas interaksi antara variabel independen dan variabel dependen. Variabel independen melibatkan pendapatan keluarga dan pola asuh, termasuk praktik pemberian makanan, rangsangan psikososial, praktik kebersihan, sanitasi lingkungan, dan pemanfaatan layanan kesehatan. Status gizi balita merupakan variabel dependen. Uji statistik Chi-Square dalam SPSS akan digunakan untuk menentukan hubungan antara data dan nilai total, dengan nilai p signifikan ditetapkan pada 0.05.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Distribusi Karakteristik Sampel

Dalam penelitian ini karakteristik sampel meliputi jenis kelamin, usia, berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala anak.

Distribusi Karakteristik Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin

 

Tabel 1 Distribusi Karakteristik Sampel

Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin

n

%

Laki-Laki

23

44,2

Perempuan

29

55,8

Total

52

100

Sumber : Data Primer diolah 2023

 

Tabel 1 menjelaskan distribusi karakteristik sampel berdasarkan jenis kelamin, sampel dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 23 orang dengan persentase sebesar 44,2%, dan sampel dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 29 orang responden dengan persentase sebesar 55,8% dari total seluruh sampel sebanyak 52 orang. Dari hasil ini terlihat bahwa mayoritas sampel berjenis kelamin perempuan.

Distribusi Karakteristik Sampel Berdasarkan Usia

 

Tabel 2 Distribusi Karakteristik

Sampel Berdasarkan Usia

Usia

n

%

40 – 50 Bulan

10

19,2

51 – 60 Bulan

40

76,9

>60 Bulan

2

3,8

Total

52

100

Sumber : Data Primer diolah 2023

 

Tabel 2 menjelaskan distribusi karakteristik sampel berdasarkan usia, sampel dengan usia 40 -50 bulan sebanyak 10 orang dengan persentase sebesar 19,2%, sampel dengan usia 51 – 60 bulan sebanyak 40 orang dengan persentase sebesar 76,9% dan sampel dengan usia >60 bulan sebanyak 2 orang dengan persentase sebesar 3,8% dari total seluruh sampel sebanyak 52 orang. Dari hasil ini terlihat bahwa mayoritas sampel berusia 51 – 60 bulan.

Distribusi Karakteristik Sampel Berdasarkan Berat Badan (BB)

 

Tabel 3 Distribusi Karakteristik Sampel

Berdasarkan Berat Badan (BB)

Berat Badan (BB)

n

%

10 Kg – 20 Kg

39

75

21 Kg – 30 Kg

13

25

Total

52

100

Sumber : Data Primer diolah 2023

Tabel 3 menjelaskan distribusi karakteristik sampel berdasarkan berat badan, sampel dengan berat badan 10 Kg – 20 Kg sebanyak 39 orang dengan persentase sebesar 75%, sampel dengan berat badan 21 Kg – 30 Kg sebanyak 13 orang dengan persentase sebesar 25% dari total seluruh sampel sebanyak 52 orang. Dari hasil ini terlihat bahwa mayoritas berat badan sampel sampel 10 Kg – 20 Kg.

Distribusi Karakteristik Sampel Berdasarkan Tinggi Badan (TB)

 

Tabel 4 Distribusi Karakteristik Sampel

Berdasarkan Tinggi Badan (TB)

Tinggi Badan (TB)

n

%

0.50 – 1 m

7

13,5

> 1 m

45

86,5

Total

52

100

Sumber : Data Primer diolah 2023

Tabel 4 menjelaskan distribusi karakteristik sampel berdasarkan tinggi badan, sampel dengan tinggi badan 0,50 – 1 m sebanyak 7 orang dengan persentase sebesar 13,5%, sampel dengan tinggi badan > 1 m sebanyak 45 orang dengan persentase sebesar 86,5% dari total seluruh sampel sebanyak 52 orang. Dari hasil ini terlihat bahwa mayoritas tinggi badan sampel sampel > 1 m.

Distribusi Karakteristik Sampel Berdasarkan Lingkar Kepala

 

Tabel 5 Distribusi Karakteristik Sampel

Berdasarkan Lingkar Kepala

Lingkar Kepala

n

%

40 – 50 Cm

45

86,5

> 50 Cm

7

13,5

Total

52

100

Sumber : Data Primer diolah 2023

Tabel 5 menjelaskan distribusi karakteristik sampel berdasarkan lingkar kepala, sampel dengan lingkar kepala 40 50 cm sebanyak 45 orang dengan persentase sebesar 86,5%, sampel dengan lingkar kepala > 50 cm sebanyak 7 orang dengan persentase sebesar 13,5% dari total seluruh sampel sebanyak 52 orang. Dari hasil ini terlihat bahwa mayoritas lingkar kepala sampel sampel 40 – 50 Cm.

Analisis Deskriptif Asupan Nutrisi Balita

Berikut ini hasil deskriptif dari asupan nutrisi balita yang terdiri dari energi, protein, karbohidrat dan lemak.

 

Tabel 6 Asupan Nutrisi

Nutrisi

Mean

SD

Min

Max

Energi (kkal)

1439,67

113,244

1128

1799

Protein (gr)

26,71

7,516

17

57

Karbohidrat (gr)

230,75

25,055

198

319

Lemak (gr)

54,04

9,858

38

90

Sumber : Data Primer diolah 2023

Tabel 6 menjelasakan tentang asupan nutrisi pada anak balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi. Diketahui bahwa rata-rata asupan nutrisi pada anak TK Negeri Pembina yaitu energi sebesar 1439,67 kkal, rata-rata asupan protein sebanyak 26,71 gram, rata- rata asupan karbohidrat sebanyak 230,75 gram dan rata-rata asupan lemak sebanyak 54,04 gram.

Analisis Univariat Gambaran Pendapatan Keluarga

 

Tabel 7 Distribusi Pendapatan Keluarga

Pendapatan

Keterangan

n

%

< Rp. 1.500.000

Rendah

10

19,2

Rp. 1.500.000 – Rp. 2.500.000

Sedang

25

48,1

> Rp. 2.500.000

Tinggi

17

32,7

Total

 

52

100

Sumber : Data Primer diolah 2023

 

Tabel 7 menjelaskan distribusi karakteristik sampel berdasarkan pendapatan keluarga, sampel dengan pendapatan keluarga <Rp. 1.500.000 sebanyak 10 orang dengan persentase sebesar 19,2%, sampel dengan pendapatan keluarga Rp. 1.500.000 – Rp. 2.500.000 sebanyak 25 orang dengan persentase sebesar 48,1% dan sampel dengan pendapatan keluarga > Rp, 2.500.000 sebanyak 17 orang dengan persentase sebesar 32,7% dari total seluruh sampel sebanyak 52 orang. Dari hasil ini terlihat bahwa mayoritas pendapatan keluarga dalam penelitian ini sebanyak Rp. 1.500.000 – Rp. 2.500.000.

Gambaran Pola Asuh Gizi

 

Tabel 8 Distribusi Karakteristik Sampel

Berdasarkan Pola Asuh Gizi

Pola Asuh Gizi

n

%

Baik

33

63,5

Sedang

19

36,5

Total

52

100

Sumber : Data Primer diolah 2023

Tabel 8 menjelaskan distribusi karakteristik sampel berdasarkan pola asuh gizi, sampel dengan pola asuh gizi baik sebanyak 33 orang dengan persentase sebesar 63,5% dan sampel dengan pola asuh gizi sedang sebanyak 19 orang dengan persentase sebesar 36,5% dari total seluruh sampel sebanyak 52 orang. Dari hasil ini terlihat bahwa mayoritas pola asuh pada anak baik.

Gambaran Satus Gizi Anak

 

Tabel 9 Distribusi Karakteristik Sampel

Berdasarkan Status Gizi Anak

Status Gizi Anak

n

%

Gizi Kurang

44

84,6

Gizi Normal

8

15,4

Total

52

100

Sumber : Data Primer diolah 2023

Tabel 9 menjelaskan distribusi karakteristik sampel berdasarkan status gizi anak, sampel dengan status gizi kurang sebanyak 44 orang dengan persentase sebesar 84,6% dan sampel dengan status gizi normal sebanyak 8 orang dengan persentase sebesar 15,4% dari total seluruh sampel sebanyak 52 orang. Dari hasil ini terlihat bahwa mayoritas status gizi anak kurang.

Analisis Bivariat

Hubungan Tingkat Pendapatan Keluarga Dengan Status Gizi Anak Balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi

Hasil penelitian tentang hubungan tingkat pendapatan keluarga dengan status gizi anak balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi disajikan pada tabel 10 berikut:

 

Tabel 10 Hubungan Tingkat Pendapatan Keluarga Dengan

Status Gizi Anak Balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi

Pendapatan Keluarga

Status Gizi Anak

Total

Keterangan

Gizi Kurang

Gizi Normal

n

%

n

%

n

%

< Rp. 1.500.000

9

17,3

1

1,9

10

19,2

 

 

P= 0,862

Rp. 1.500.000 – Rp. 2.500.000

21

40,4

4

7,7

25

48,1

Rp. > 2.500.000

14

26,9

3

5,8

17

32,7

Total

44

84,6

8

15,4

52

100

Sumber : Data Primer diolah 2023

 

Tabel 10 menjelaskan tentang hubungan tingkat pendapatan keluarga dengan status gizi anak balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi, dari hasil tabel silang dapat dilihat bahwa jika pendapatan keluarga < Rp. 1.500.000 status gizi anak yang kurang sebanyak 9 orang dengan persentase sebesar 17,3% dan gizi anak yang normal sebanyak 1 orang dengan persentase sebesar 1,9%, jika pendapatan keluarga Rp. 1.500.000 – Rp. 2.500.000 status gizi anak yang kurang sebanyak 21 orang dengan persentase sebesar 10,4% dan gizi anak yang normal sebanyak 4 orang dengan persentase sebesar 7,7%, dan jika pendapatan keluarga > Rp. 2.500.000 status gizi anak yang kurang sebanyak 14 orang dengan persentase sebesar 26,9% dan gizi anak yang normal sebanyak 3 orang dengan persentase sebesar 5,8%.

Dari hasil uji chi-square  didapatkan hasil nilai p-value sebesar 0,862 > 0,05 yang berarti tidak ada hubungan tingkat pendapatan keluarga dengan status gizi anak balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi.

Hubungan Pola Asuh Gizi Dengan Status Gizi Anak Balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi

Hasil penelitian tentang hubungan pola asuh gizi dengan status gizi anak balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi disajikan pada tabel 11 berikut:

 

Tabel 11 Hubungan Pola Asuh Gizi Dengan Status Gizi

Anak Balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi

Pola Asuh Gizi

Status Gizi Anak

Total

Keterangan

Gizi Kurang

Gizi Normal

n

%

n

%

n

%

Baik

25

48,1

8

15,4

33

63,5

 

P= 0,020

Sedang

19

36,5

0

0

19

36,5

Total

44

84,6

8

15,4

52

100

Sumber : Data Primer diolah 2023

 

Tabel 11 menjelaskan tentang hubungan pola asuh gizi dengan status gizi anak balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi, dari hasil tabel silang dapat dilihat bahwa jika pola asuh gizi pada anak baik maka status gizi anak yang kurang sebanyak 25 orang dengan persentase sebesar 48,1% dan status gizi anak yang normal sebanyak 8 orang dengan persentase sebesar 15,4%, dan jika pola asuh gizi pada anak sedang maka status gizi anak yang kurang sebanyak 19 orang dengan persentase sebesar 36,5% dan tidak ada anak dengan status gizi normal.

Dari hasil uji chi-square  didapatkan hasil nilai p-value sebesar 0,020 < 0,05 yang berarti ada hubungan pola asuh gizi dengan status gizi anak balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi.

Pembahasan

Hubungan Tingkat Pendapatan Keluarga Dengan Status Gizi Anak Balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi

            Hasil penelitian tentang hubungan tingkat pendapatan keluarga dengan status gizi anak balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi menunjukkan pendapatan keluarga <Rp. 1.500.000 sebanyak 10 orang dengan persentase sebesar 19,2%, sampel dengan pendapatan keluarga Rp. 1.500.000 – Rp. 2.500.000 sebanyak 25 orang dengan persentase sebesar 48,1% dan sampel dengan pendapatan keluarga > Rp, 2.500.000 sebanyak 17 orang dengan persentase sebesar 32,7% dari total seluruh sampel sebanyak 52 orang. Dari hasil ini terlihat bahwa mayoritas pendapatan keluarga dalam penelitian ini sebanyak Rp. 1.500.000 – Rp. 2.500.000.

Dari hasil tabel silang dapat dilihat bahwa jika pendapatan keluarga < Rp. 1.500.000 status gizi anak yang kurang sebanyak 9 orang dengan persentase sebesar 17,3% dan gizi anak yang normal sebanyak 1 orang dengan persentase sebesar 1,9%, jika pendapatan keluarga Rp. 1.500.000 – Rp. 2.500.000 status gizi anak yang kurang sebanyak 21 orang dengan persentase sebesar 10,4% dan gizi anak yang normal sebanyak 4 orang dengan persentase sebesar 7,7%, dan jika pendapatan keluarga > Rp. 2.500.000 status gizi anak yang kurang sebanyak 14 orang dengan persentase sebesar 26,9% dan gizi anak yang normal sebanyak 3 orang dengan persentase sebesar 5,8%.

Dari hasil uji chi-square  didapatkan hasil nilai p-value sebesar 0,862 > 0,05 yang berarti tidak ada hubungan tingkat pendapatan keluarga dengan status gizi anak balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Adelya (2022) yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara pendapatan keluarga dengan status gizi pada anak SD Negeri 120 Kabupaten Bengkulu Utara. Namun hasil yang berbeda pada penelitian yang dilakukan Erma (2020) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara pendapatan keluarga dengan status balita di desa Tambang wilayah kerja Puskesmas Tambang Kabupaten Kampar.

Tingkat pendapatan merupakan faktor yang menentukan kualitas dan kuantitas makanan yan dikonsumsi. Kemampuan keluarga untuk membeli bahan makanan tergantung pada besar kecilnya pendapatan, keluarga dengan pendapatan terbatas kemungkinan besar akan kurang dapat memenuhi kebutuhan makananya terutama untuk memenuhi kebutuhan zat gizi dalam tubuh. Umumnya jika pendapatan naik, jumlah dan jenis makanan cenderung ikut bervariasi. Tingkat penghasilan ikut menentukan jenis pangan apa yang akan dibeli dengan adanya tambahan uang. Semakin tinggi penghasilan, semakin besar pula persentase dari penghasilan tersebut dipergunakan untuk membeli buah, sayur mayur dan berbagai jenis bahan pangan lainnya. jadi penghasilan merupakan factor penting bagi kualitas dan kuantitas antara penghasilan dan gizi jelas ada hubungan yang menguntungkan. Pengaruh peningkatan penghasilan terhadap perbaikan kesehatan dan kondisi keluarga lain yang mengadakan interaksi dengan status gizi yang berlawanan hampir universal (Kasumayanti & Zurrahmi, 2020). Pendapatan yang rendah dapat mempengaruhi banyak hal seperti pola konsumsi makanan kurang bergizi, pemeliharaan kesehatan dan lainnya. Keluarga dengan pendapatan rendah akan memilih jenis pangan yang kurang mutu dan keragaman pangan yang mengakibatkan kebutuhan asupan zat gizi didalam tubuh kurang sehingga dapat mempengaruh keadaan gizi anak. Namun demikian tidak menutup kemungkinan bahwa keluarga yang berpenghasilan rendah dapat mengkonsumsi makanan yang mempunyai nilai gizi baik (Nurida & Maritasari, 2022).

Hubungan Pola Asuh Gizi Dengan Status Gizi Anak Balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi

Hasil penelitian tentang hubungan pola asuh gizi dengan status gizi anak balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi menunjukkan pola asuh gizi baik sebanyak 33 orang dengan persentase sebesar 63,5% dan sampel dengan pola asuh gizi sedang sebanyak 19 orang dengan persentase sebesar 36,5% dari total seluruh sampel sebanyak 52 orang. Dari hasil ini terlihat bahwa mayoritas pola asuh pada anak baik.

Dari hasil tabel silang dapat dilihat bahwa jika pola asuh gizi pada anak baik maka status gizi anak yang kurang sebanyak 25 orang dengan persentase sebesar 48,1% dan status gizi anak yang normal sebanyak 8 orang dengan persentase sebesar 15,4%, dan jika pola asuh gizi pada anak sedang maka status gizi anak yang kurang sebanyak 19 orang dengan persentase sebesar 36,5% dan tidak ada anak dengan status gizi normal.

Dari hasil uji chi-square  didapatkan hasil nilai p-value sebesar 0,020 < 0,05 yang berarti ada hubungan pola asuh gizi dengan status gizi anak balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Yunita (2021) yang mengatakan bahwa pola asuh ibu berhubungan dengan status gizi balita di Kampung Tarung Kota Waikabubak Kabupaten Sumba Barat, tetapi hasil ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan Sitti (2022) yang hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan pola asuh orang tua dengan status gizi balita.

Pola asuh adalah jenis interaksi antara orang tua dan anaknya yang mencakup bagaimana orangtua memenuhi kebutuhan anak seperti makanan dan perawatan psikologis, serta bagaimana anak dapat bersosialisasi dengan lingkungan dan mengikuti norma masyarakat. Selain itu, interaksi antara orangtua dan anak juga menentukan pendidikan karakter anak (Salimar et al., 2011). Menurut Putri (2019), pola asuh dipengaruhi oleh usia kedua orang tua, pendidikan, pekerjaan, dan jumlah anak. Orang tua menggunakan banyak variasi dan model dalam mendidik dan mengasuh anak mereka, yang menghasilkan pola perilaku dan sikap yang berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan anak. Anak-anak yang menerima pengasuhan berkualitas tinggi mengalami status gizi yang lebih baik dan mengalami kesakitan yang lebih rendah (Arisman, 2010).

Penelitian mengenai hubungan antara pendapatan keluarga, pola asuh gizi, dan status gizi anak balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi memiliki implikasi penting untuk pengembangan ilmu terkait dan masyarakat. Secara ilmiah, penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman tentang keterkaitan faktor-faktor tersebut, memperkaya literatur mengenai gizi balita, dan menjadi dasar bagi penelitian lebih lanjut dalam mengidentifikasi variabel-variabel yang dapat mempengaruhi status gizi anak. Bagi masyarakat, penelitian ini memberikan wawasan mengenai pentingnya peran pendapatan keluarga dan pola asuh gizi dalam menjaga kesehatan anak balita. Implikasi praktisnya mencakup potensi perbaikan kebijakan kesehatan dan pelayanan gizi di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi serta upaya pencegahan untuk meningkatkan status gizi anak balita. Melalui pemahaman lebih mendalam dari penelitian ini, diharapkan dapat diterapkan langkah-langkah konkret dalam meningkatkan kesehatan dan gizi anak balita di tingkat sekolah dan masyarakat luas.

 

KESIMPULAN

Hasil penelitian mengenai keterkaitan antara pendapatan keluarga, pola asuh gizi, dan status gizi anak balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi menyimpulkan beberapa hal penting. Mayoritas sampel dalam penelitian ini adalah perempuan dengan rentang usia 51-60 bulan. Analisis asupan nutrisi pada anak balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi menunjukkan rata-rata energi sebesar 1439,69 kkal/hr, protein 26,71 gr/hr, karbohidrat 230,7 gr/hr, dan lemak 55,04 gr/hr. Pendapatan keluarga pada sampel mayoritas berada di kisaran Rp. 1.500.000 – Rp. 2.500.000. Meskipun mayoritas pola asuh gizi anak balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi dikategorikan baik, status gizi anak-anak tersebut berdasarkan indeks massa tubuh (IMT) menunjukkan kategori gizi kurang. Analisis statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara pendapatan keluarga dan status gizi anak balita (p > 0,05). Namun, terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi dengan status gizi anak balita (p < 0,05) di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi. Temuan ini memberikan wawasan penting terkait faktor-faktor yang memengaruhi status gizi anak balita di lingkungan TK tersebut, dengan potensi implikasi pada perbaikan kebijakan kesehatan dan pelayanan gizi di masa mendatang. Pengembangan prospek kedepan juga memerlukan pendekatan berkelanjutan. Pengimplementasian langkah-langkah di atas harus disertai dengan sistem monitoring dan evaluasi yang baik untuk mengukur dampaknya dan melakukan penyesuaian sesuai kebutuhan.

 

BIBLIOGRAFI

Agustin, L., & Rahmawati, D. (2021). Hubungan Pendapatan Keluarga dengan Kejadian Stunting. Indonesian Journal of Midwifery (IJM), 4(1), 30.

 

Banjarnahor, R. O., Banurea, F. F., Panjaitan, J. O., Pasaribu, R. S. P., & Hafni, I. (2022). Faktor-faktor risiko penyebab kelebihan berat badan dan obesitas pada anak dan remaja: Studi literatur. Tropical Public Health Journal, 2(1), 35–45.

 

Dewi Taurisiawati, R., & Yona Desni, S. (2019). Pola makan dan pendapatan keluarga dengan kejadian kekurangan energi kronik (KEK) pada ibu hamil trimester II. Holistik: Jurnal Kesehatan, 13(1), 7–18.

 

Dini, J. (2022). Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Status Gizi pada Anak Usia Dini. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 6(4), 3024–3033.

 

Goma, E. I., Sunimbar, S., & Angin, I. S. (2022). Analisis Geologi Kejadian Longsor Di Desa Wolotolo Kecamatan Detusoku Kabupaten Ende. JPG (Jurnal Pendidikan Geografi), 9(2).

 

Hanum, N. (2018). Pengaruh pendapatan, jumlah tanggungan keluarga dan pendidikan terhadap pola konsumsi rumah tangga nelayan di Desa Seuneubok Rambong Aceh Timur. Jurnal Samudra Ekonomika, 2(1), 75–84.

 

Herlina, S. (2019). Hubungan lingkungan pengasuhan dan pekerjaan ibu terhadap perkembangan bayi 6-12 bulan. Jurnal Kesmas Asclepius, 1(2), 136–145.

 

Ihsani, S. F., & Rohman, M. F. (2022). Distribusi Pendapatan dan Kemiskinan di Indonesia: Kasus Kebijakan Sentralisasi, Desentralisasi, dan Pandemi Covid-19. Jurnal Ekonomi-Qu, 12(1), 1–22.

 

Kasumayanti, E., & Zurrahmi, Z. R. (2020). Hubungan pendapatan keluarga dengan status gizi balita di desa tambang wilayah kerja Puskesmas Tambang Kabupaten Kampar tahun 2019. Jurnal Ners, 4(1), 7–12.

 

Manumbalang, S. T., Rompas, S., & Bataha, Y. B. (2017). Hubungan Pola Asuh Dengan Status Gizi Pada Anak Di Taman Kanak-Kanak Kecamatan Pulutan Kabupaten Talaud. Jurnal Keperawatan, 5(2).

 

Maranay, H. (2021). GAMBARAN POLA ASUH, PENDIDIKAN IBU, PENGETAHUAN IBU DAN TINGGI BADAN ORANG TUA PADA ANAK BALITA STUNTING DI WILAYAH PUSKESMAS MOTAHA, KAB. KONAWE SELATAN. Poltekkes Kemenkes Kendari.

 

Marpaung, R. V. P., Samodra, Y. L., & Harjosuwarno, S. S. (2021). Hubungan Pola Asuh Terhadap Status Gizi Pada Anak Tk Di Kota Yogyakarta. Jurnal Ilmiah Kesehatan Media Husada, 10(1), 1–9.

 

Ngewa, H. M. (2021). Peran Orang Tua Dalam Pengasuhan Anak. EDUCHILD (Journal of Early Childhood Education), 1(1), 96–115.

 

Nurida, L., & Maritasari, D. Y. (2022). Faktor Resiko Kejadian Gizi Kurang Pada Anak Balita. Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia (JIKSI), 3(2).

 

Nurjanah, S. (2017). Pola Asuh Orangtua Dalam Membentuk Karakter Anak Usia Dini di Desa Adi Karya Mulya Kecamatan Panca Jaya Kabupaten Mesuji Tahun 2017. IAIN Metro.

 

Prawirohartono, E. P. (2021). Stunting: Dari Teori Dan Bukti Ke Implementasi Di Lapangan. UGM PRESS.

 

Putra, H. P., Taufiq, A. R., & Juliani, A. (2013). Studi Hubungan antara Tingkat Pendidikan dan Pendapatan Keluarga terhadap Sikap dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga (studi kasus di Desa Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta). Jurnal Sains & Teknologi Lingkungan, 5(2), 91–101.

 

Rochmawati, D. R., Hatimatunnisani, H., & Veranita, M. (2023). Mengembangkan Strategi Bisnis di Era Transformasi Digital. Coopetition: Jurnal Ilmiah Manajemen, 14(1), 101–108.

 

SAMMUDRA, S. B., Fatonah, S., & Setiyajati, A. (2015). Hubungan Tingkat Pengetahuan Orang Tua Tentang Gizi dengan Kejadian Kurang Energi Protein pada Anak Sekolah Usia 6-12 Tahun di SDN Bomo II Kecamatan Punung Kabupaten Pacitan. Universitas Sahid Surakarta.

 

Susanti, E., & Kholisoh, N. (2018). Konstruksi Makna Kualitas Hidup Sehat (Studi Fenomenologi pada Anggota Komunitas Herbalife Klub Sehat Ersand di Jakarta). LUGAS Jurnal Komunikasi, 2(1), 1–12.

 

Susilowati, E., & Himawati, A. (2017). Hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang gizi balita dengan status gizi balita di wilayah Kerja Puskesmas Gajah 1 Demak. Jurnal Kebidanan, 6(13), 21–25.

 

Uce, L. (2018). Pengaruh Asupan Makanan Terhadap Kualitas Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia Dini. Bunayya: Jurnal Pendidikan Anak, 4(2), 79–92.