HUBUNGAN ANTARA PENDAPATAN KELUARGA DAN
POLA ASUH GIZI DENGAN STATUS GIZI ANAK BALITA DI TK NEGERI PEMBINA TEBING
TINGGI
Intan Permata Sari Br
Sembiring
Universitas Prima Indonesia
Medan, Indonesia
Intanprmt05@gmail.com
|
Keywords |
Abstract |
|
Family income, parenting style, nutritional
status, children under five |
Nutritional status is
a crucial health indicator, especially for children under five years old, who
are a vulnerable group in terms of health and nutrition. The objective of
this study is to determine the relationship between income levels,
nutritional parenting patterns, and the nutritional status of toddlers at TK
Negeri Pembina Tebing Tinggi. This research adopts a quantitative approach
with an observational analytical design using a cross-sectional study. The
population for this study consists of all toddlers at TK Negeri Pembina
Tebing Tinggi, totaling 60 individuals. Sample selection employs the Slovin
formula, resulting in a sample size of 52. Data analysis includes both
univariate and bivariate analyses. Research findings reveal that the
nutritional intake (energy, protein, carbohydrates, and fats) for toddlers at
TK Negeri Pembina Tebing Tinggi averages 1439.69 kcal/hr, 26.71 gr/hr, 230.7
gr/hr, and 55.04 gr/hr, respectively. The majority of families in the study
have an income ranging from Rp. 1,500,000 to Rp. 2,500,000. Most toddlers at
TK Negeri Pembina Tebing Tinggi exhibit a good nutritional parenting pattern.
There is no significant relationship between family income and the
nutritional status of toddlers at TK Negeri Pembina Tebing Tinggi (p >
0.05). However, a significant relationship exists between nutritional
parenting patterns and the nutritional status of toddlers at TK Negeri
Pembina Tebing Tinggi (p < 0.05). In conclusion, this study provides
insights into factors influencing the nutritional status of toddlers,
advocating for improved policies and more effective interventions in the
future. The implications involve enhancements in health policies and
nutritional services. |
|
Kata Kunci |
Abstrak |
|
Pendapatan
Keluarga, Pola Asuh, Status Gizi, Anak Balita |
Status
gizi merupakan indikator kesehatan yang penting karena anak usia di bawah
lima tahun merupakan kelompok yang rentan terhadap kesehatan dan gizi. Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan tingkat
pendapatan dan pola asuh gizi dengan status gizi balita di TK Negeri Pembina
Tebing Tinggi. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan analitik observasional
dengan desain cross-sectional study. Adapaun yang menjadi populasi dalam
penelitian ini adalah semua balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi
sebanyak 60 orang. pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus
slovin dengan jumlah sampel sebanyak 52 sampel. Analaisis data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitian
menunjukkan asupan nutrisi (energi, protein, karbohidrat dan lemak) pada anak
balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi rata-rata energi sebesar 1439, 69
kkal/hr, protein 26,71 gr/hr, karbohidrat 230,7 gr/hr dan asupan lemak 55,04
gr/hr. Pendapatan keluarga pada sampel dalam penelitian ini mayoritas di
angka Rp. 1.500.000 – Rp. 2.500.000. Mayoritas pola asuh gizi anak balita di
TK Negeri Pembina Tebing Tinggi ada pada kategori baik. Tidak ada hubungan
antara pendapatan keluarga dengan status gizi anak balita di TK Negeri
Pemnina Tebibg Tinggi p = > 0,05. Ada hubungan antara pola asuh gizi
dengan status gizi anak balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi p = <
0,05. Dapat di simpulkan dari Penelitian ini
memberikan pemahaman tentang faktor-faktor yang memengaruhi status gizi anak
balita, mendorong perbaikan kebijakan dan intervensi yang lebih efektif di
masa mendatang. Implikasi melibatkan perbaikan kebijakan kesehatan dan
pelayanan gizi. |
Corresponding Author: Intan Permata Sari Br
Sembiring
E-mail: Intanprmt05@gmail.com
PENDAHULUAN
Peningkatan
derajat kesehatan masyarakat sangat diperlukan dalam mengisi pembangunan yang
dilaksanakan oleh bangsa Indonesia. Salah satu upaya peningkatan derajat
kesehatan adalah perbaikan gizi masyarakat. Salah satu indikator kesehatan yang
dinilai keberhasilan pencapaiannya dalam Millenium
Development Goals (MDGs) adalah status gizi balita (Susilowati
& Himawati, 2017). Status gizi balita diukur berdasarkan
umur, berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) (Rochmawati
et al., 2023).
Karena
anak-anak di bawah lima tahun rentan terhadap masalah gizi dan kesehatan,
status gizi mereka sangat penting sebagai indikator kesehatan. Kualitas hidup
mereka di kemudian hari akan dipengaruhi oleh masalah gizi yang mereka alami di
awal kehidupan mereka (Susanti
& Kholisoh, 2018). Kurang gizi pada balita menyebabkan
gangguan pertumbuhan fisik dan pengurangan produktivitas dan kecerdasan ketika
mereka dewasa (Dini,
2022).
Masa
balita adalah bagian penting dari proses tumbuh kembang manusia karena
perkembangan dan pertumbuhan yang terjadi selama periode ini sangat penting
untuk pertumbuhan dan perkembangan anak di masa mendatang (Uce,
2018). Usia ini disebut sebagai "masa keemasan" karena
cepat dan tidak dapat diulang.
Kualitas
dan jumlah makanan yang dikonsumsi keluarga sangat dipengaruhi oleh pendapatan (Hanum,
2018). Pendapatan keluarga adalah komponen penting yang dapat
mempengaruhi status gizi balita karena hal ini menyangkut daya beli keluarga
untuk memenuhi kebutuhan konsumsi makan mereka (Dewi
Taurisiawati & Yona Desni, 2019). Dengan demikian, persentase pendapatan
keluarga akan meningkat seiring dengan tingkat pendapatan yang lebih tinggi (Putra et
al., 2013).
angka
kemiskinan di tingkat nasional diperkirakan akan meningkat menjadi 9,7 persen
pada akhir 2020, setara dengan 1,3 juta orang baru yang masuk ke dalam kategori
miskin (Goma et
al., 2022). Bahkan dalam kondisi terburuk, kemiskinan meningkat
menjadi 12,4 persen, setara dengan 8,5 juta orang miskin baru (Ihsani
& Rohman, 2022).
Selain
pendapatan, status gizi balita sangat bergantung pada pola asuh orang tua atau
pengasuhnya terhadap makanan yang baik, zat gizi, dan kesehatan fisik mereka.
Karena pemberian makan ibu atau pengasuh sangat berpengaruh terhadap
pertumbuhan anak, baik secara positif maupun negatif, ibu adalah orang yang
paling dekat dengan anak (Ngewa,
2021).
Pola
asuh merupakan faktor yang erat kaitannya dengan
pertumbuhan dan perkembangan anak balita. Masa anak usia balita adalah dimana
anak masih sangat membutuhkan suplai makanan dan gizi dalam jumlah yang cukup
memadai (Manumbalang et al., 2017). Kekurangan gizi pada masa ini dapat
menyebabkan gangguan tumbuh kembang secara fisik, mental, sosial dan
intelektual yang sifatnya menetap dan bibawa terus sampai dewasa. Masa anak
usia 12 – 59 bulan (balita) adalah masa anak-anak yang tergantung pada
perawatan dan pengasuhan ibunya. Oleh karena itu pengasuh kesehatan dan makanan
pada tahun pertama kehidupan sangat penting untuk perkembangan anak (Herlina,
2019).
Masa
balita, juga dikenal sebagai "masa emas" dalam kehidupan seseorang,
membutuhkan perhatian ekstra dari orang tua. Pola asuh orang tua sangat
penting, terutama dalam hal pemberian gizi seimbang untuk membangun dasar
pertumbuhan anak yang optimal (Maranay,
2021). Gizi yang seimbang akan menentukan kualitas sumber daya
manusia yang akan datang. Oleh karena itu, untuk membentuk generasi yang baik
sejak dini, pola asuh harus lebih diperhatikan dan tidak dapat diabaikan (Nurjanah,
2017).
Secara
global, ada 6,9 % balita kurus (wasting), 2,1% balita sangat kurus (severe
wasting), dan 5,6% balita gizi lebih (overweight). Secara nasional, proporsi
status gizi kurus dan sangat kurus pada balita turun dari 12,1% pada tahun 2013
menjadi 10,2% pada tahun 2018. Proporsi status gizi lebih pada balita juga
turun dari 11,8% pada tahun 2013 menjadi 8% pada tahun 2018.
evaluasi
status nutrisi remaja Turki berhubungan dengan jenis kelamin dan status
sosioekonomi, ditemukan bahwa remaja dari kelompok ekonomi menengah dan tinggi
lebih kurus dan lebih pendek dibandingkan dengan remaja dari kelompok ekonomi
menengah dan tinggi (Prawirohartono,
2021). Selain itu, hasil pengukuran antropometri remaja dari
kelompok ekonomi menengah sama dengan remaja dari kelompok ekonomi tinggi.
anak-anak prasekolah yang berasal dari keluarga berpenghasilan rendah lebih
cenderung mengalami obesitas dan kelebihan berat badan (Banjarnahor
et al., 2022).
Penelitian
terdahulu “Hubungan Pendapatan Keluarga Dengan Kejadian Stunting” menjelaskan bahwa
terdapat hubungan yang signifikan antara pendapatan keluarga dan kejadian
stunting pada balita. Sebagian besar keluarga yang memiliki balita stunting
memiliki pendapatan di bawah Upah Minimum Regional (UMR), sementara keluarga
yang balitanya tidak mengalami stunting cenderung memiliki pendapatan di atas
UMR. Hal ini menyoroti peran pendapatan keluarga sebagai faktor penting dalam
mencegah stunting, dengan implikasi bahwa ketidakcukupan ekonomi dapat menjadi
penyebab utama terjadinya stunting pada anak. Dengan mengetahui keterkaitan
ini, langkah-langkah intervensi dan kebijakan dapat diarahkan untuk
meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga dan secara efektif mengurangi
risiko stunting pada balita (Agustin
& Rahmawati, 2021).
Penelitian
terdahulu Penelitian mengenai pola asuh gizi dan status gizi anak usia sekolah
pada anak buruh migran di Desa Sumbersalak, Kabupaten Jember, menyimpulkan
bahwa mayoritas anak tersebut memiliki status gizi normal, meskipun sebagian
kecil mengalami stunting. Pola asuh gizi yang diterapkan oleh pengasuh sebagian
besar baik, namun masih terdapat beberapa aspek yang tidak sesuai, seperti
pemberian menu sesuai visual piring makanku, pemberian jajanan bergizi, dan
kebiasaan mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan anak. Analisis menunjukkan
adanya hubungan antara pola asuh gizi yang kurang dengan kejadian stunting,
dengan odds ratio sebesar 8,00, menunjukkan bahwa anak dengan pola asuh gizi
yang kurang memiliki risiko 8,00 kali lebih tinggi mengalami stunting
dibandingkan dengan anak yang mendapatkan pola asuh yang baik (Marpaung
et al., 2021).
Berdasarkan
penelitian terdahulu Penelitian kali ini berhubungan Antara Pendapatan Keluarga
Dan Pola Asuh Gizi Dengan Status Gizi Anak Balita di Tk Negeri Pembina Tebing
Tinggi.
Studi
literatur yang mengeksplorasi hubungan antara pola asuh dan status gizi pada
balita memberikan wawasan yang penting terkait pertumbuhan dan perkembangan
anak pada tahap awal kehidupan. Dalam konteks ini, penelitian menunjukkan bahwa
pola asuh gizi, termasuk kebiasaan makan dan sanitasi rumah tangga, memainkan
peran kunci dalam menentukan status gizi anak. Faktor-faktor seperti pendidikan
orang tua, tingkat ekonomi keluarga, dan intervensi gizi yang melibatkan
pendidikan orang tua juga diidentifikasi sebagai elemen penting yang
berkontribusi terhadap pemahaman dan implementasi praktik gizi yang baik.
Selain itu, penelitian menyoroti dampak lingkungan sosial dan ekonomi terhadap
kemampuan keluarga dalam memberikan makanan bergizi kepada anak, menekankan
perlunya pendekatan holistik dalam meningkatkan gizi anak di berbagai lapisan
masyarakat. Implikasinya, studi literatur ini dapat membantu merancang strategi
intervensi yang lebih terarah, termasuk program pendidikan dan pemberdayaan
masyarakat, guna meningkatkan pola asuh gizi dan kesehatan anak pada tingkat
global.
Berdasarkan
uraian diatas dapat dilihat bahwa pemberian nutrisi yang baik kepada balita
untuk mencapai gizi seimbang perlu menjadi perhatian khusus bagi semua
kalangan. Pemberian nutrisi yang baik dipengaruhi oleh beberapa faktor
diantaranya tingkat pendapatan keluarga dan pola asuh gizi. Oleh karena itu,
peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai hubungan tingkat
pendapatan dan pola asuh gizi dengan status gizi balita di TK Negeri Pembina
Tebing Tinggi.
Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan tingkat pendapatan dan pola asuh gizi
dengan status gizi balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi. Dari hasil penelitian
ini dapat digunakan sebagai literatur mengenai hubungan tingkat pendapatan dan
pola asuh gizi dengan status gizi balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi.
Manfaat
dari Penelitian ini mengenai hubungan antara pendapatan keluarga, pola asuh
gizi, dan status gizi anak balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi memberikan
manfaat signifikan dalam perbaikan kesehatan anak, pengembangan kebijakan
kesehatan, peningkatan kesadaran masyarakat, pengembangan riset lanjutan,
peningkatan kualitas pendidikan, dan optimalisasi sumber daya. Temuan ini dapat
membantu merancang intervensi kesehatan yang lebih efektif, mendukung
pengembangan kebijakan kesehatan yang terarah, meningkatkan kesadaran orang
tua, memotivasi perubahan perilaku positif, dan memberikan dasar bagi
penelitian lanjutan yang lebih mendalam. Dengan demikian, hasil penelitian
memiliki dampak positif yang luas terhadap kesejahteraan anak balita dan
pembangunan masyarakat di masa depan.
METODE PENELITIAN
Penelitian
ini menggunakan pendekatan analitik observasional dan desain cross-sectional,
yang merupakan jenis penelitian kuantitatif. Fokus penelitian adalah pada waktu
pengukuran atau pengamatan data pada satu waktu atau periode yang sama untuk
variabel bebas dan terikat. Lokasi penelitian adalah TK Negeri Pembina Tebing
Tinggi di Jl. Sutomo No. 3A, kel. Tebing Tinggi Lama, Kec. Tebing Tinggi Kota,
Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara 20623. Waktu penelitian dimulai pada bulan
Januari 2023 dengan pembuatan proposal, dan pengambilan data akan dilakukan pada
bulan Februari-Mei 2023. Analisis data akan dilakukan menggunakan sistem
komputer, yaitu SPSS (System Paket Sosial Science), yang melibatkan analisis
univariat dan analisis bivariat. Analisis univariat, atau analisis persentase,
digunakan untuk menjelaskan distribusi frekuensi masing-masing dari variabel
bebas dan terikat. Peneliti menggunakan distribusi variabel untuk melakukan
analisis ini. Sementara itu, analisis bivariat akan membahas interaksi antara
variabel independen dan variabel dependen. Variabel independen melibatkan
pendapatan keluarga dan pola asuh, termasuk praktik pemberian makanan,
rangsangan psikososial, praktik kebersihan, sanitasi lingkungan, dan
pemanfaatan layanan kesehatan. Status gizi balita merupakan variabel dependen.
Uji statistik Chi-Square dalam SPSS akan digunakan untuk menentukan hubungan
antara data dan nilai total, dengan nilai p signifikan ditetapkan pada 0.05.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel
1 Distribusi
Karakteristik Sampel
Berdasarkan
Jenis Kelamin
|
Jenis
Kelamin |
n |
% |
|
Laki-Laki |
23 |
44,2 |
|
Perempuan |
29 |
55,8 |
|
Total |
52 |
100 |
Sumber : Data
Primer diolah 2023
Tabel
2 Distribusi
Karakteristik
Sampel
Berdasarkan Usia
|
Usia |
n |
% |
|
40 – 50 Bulan |
10 |
19,2 |
|
51 – 60 Bulan |
40 |
76,9 |
|
>60 Bulan |
2 |
3,8 |
|
Total |
52 |
100 |
Sumber : Data
Primer diolah 2023
Tabel
3 Distribusi
Karakteristik Sampel
Berdasarkan
Berat Badan (BB)
|
Berat
Badan (BB) |
n |
% |
|
10 Kg – 20 Kg |
39 |
75 |
|
21 Kg – 30 Kg |
13 |
25 |
|
Total |
52 |
100 |
Sumber : Data
Primer diolah 2023
Distribusi Karakteristik Sampel Berdasarkan Tinggi Badan
(TB)
Tabel
4 Distribusi
Karakteristik Sampel
Berdasarkan
Tinggi Badan (TB)
|
Tinggi
Badan (TB) |
n |
% |
|
0.50 – 1 m |
7 |
13,5 |
|
> 1 m |
45 |
86,5 |
|
Total |
52 |
100 |
Sumber : Data
Primer diolah 2023
Tabel
5 Distribusi
Karakteristik Sampel
Berdasarkan
Lingkar Kepala
|
Lingkar
Kepala |
n |
% |
|
40 – 50 Cm |
45 |
86,5 |
|
> 50 Cm |
7 |
13,5 |
|
Total |
52 |
100 |
Sumber : Data
Primer diolah 2023
Tabel 6 Asupan Nutrisi
|
Nutrisi |
Mean |
SD |
Min |
Max |
|
Energi (kkal) |
1439,67 |
113,244 |
1128 |
1799 |
|
Protein (gr) |
26,71 |
7,516 |
17 |
57 |
|
Karbohidrat (gr) |
230,75 |
25,055 |
198 |
319 |
|
Lemak (gr) |
54,04 |
9,858 |
38 |
90 |
Sumber : Data
Primer diolah 2023
Tabel 7 Distribusi Pendapatan Keluarga
|
Pendapatan |
Keterangan |
n |
% |
|
< Rp. 1.500.000 |
Rendah |
10 |
19,2 |
|
Rp. 1.500.000 – Rp. 2.500.000 |
Sedang |
25 |
48,1 |
|
> Rp. 2.500.000 |
Tinggi |
17 |
32,7 |
|
Total |
|
52 |
100 |
Sumber : Data
Primer diolah 2023
Tabel
8 Distribusi
Karakteristik Sampel
Berdasarkan
Pola Asuh Gizi
|
Pola Asuh
Gizi |
n |
% |
|
Baik |
33 |
63,5 |
|
Sedang |
19 |
36,5 |
|
Total |
52 |
100 |
Sumber
: Data Primer diolah 2023
Tabel
9 Distribusi
Karakteristik Sampel
Berdasarkan
Status Gizi Anak
|
Status
Gizi Anak |
n |
% |
|
Gizi Kurang |
44 |
84,6 |
|
Gizi Normal |
8 |
15,4 |
|
Total |
52 |
100 |
Sumber : Data
Primer diolah 2023
|
Pendapatan Keluarga |
Status
Gizi Anak |
Total |
Keterangan |
||||
|
Gizi Kurang |
Gizi
Normal |
||||||
|
n |
% |
n |
% |
n |
% |
||
|
< Rp. 1.500.000 |
9 |
17,3 |
1 |
1,9 |
10 |
19,2 |
P= 0,862 |
|
Rp. 1.500.000 – Rp. 2.500.000 |
21 |
40,4 |
4 |
7,7 |
25 |
48,1 |
|
|
Rp. > 2.500.000 |
14 |
26,9 |
3 |
5,8 |
17 |
32,7 |
|
|
Total |
44 |
84,6 |
8 |
15,4 |
52 |
100 |
|
Sumber : Data
Primer diolah 2023
Tabel 10 menjelaskan tentang hubungan tingkat pendapatan
keluarga dengan status gizi anak balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi,
dari hasil tabel silang dapat dilihat bahwa jika pendapatan keluarga < Rp. 1.500.000
status gizi anak yang kurang sebanyak 9 orang dengan persentase sebesar 17,3%
dan gizi anak yang normal sebanyak 1 orang dengan persentase sebesar 1,9%, jika
pendapatan keluarga Rp. 1.500.000 – Rp. 2.500.000 status gizi anak yang kurang
sebanyak 21 orang dengan persentase sebesar 10,4% dan gizi anak yang normal
sebanyak 4 orang dengan persentase sebesar 7,7%, dan jika pendapatan keluarga
> Rp. 2.500.000 status gizi anak yang kurang sebanyak 14 orang dengan
persentase sebesar 26,9% dan gizi anak yang normal sebanyak 3 orang dengan
persentase sebesar 5,8%.
Dari hasil uji chi-square didapatkan hasil nilai p-value sebesar 0,862 > 0,05 yang
berarti tidak ada hubungan tingkat pendapatan keluarga dengan
status gizi anak balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi.
|
Pola Asuh Gizi |
Status
Gizi Anak |
Total |
Keterangan |
||||
|
Gizi
Kurang |
Gizi
Normal |
||||||
|
n |
% |
n |
% |
n |
% |
||
|
Baik |
25 |
48,1 |
8 |
15,4 |
33 |
63,5 |
P= 0,020 |
|
Sedang |
19 |
36,5 |
0 |
0 |
19 |
36,5 |
|
|
Total |
44 |
84,6 |
8 |
15,4 |
52 |
100 |
|
Tabel 11 menjelaskan tentang hubungan pola asuh gizi dengan
status gizi anak balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi, dari hasil tabel
silang dapat dilihat bahwa jika pola asuh gizi pada anak baik maka status gizi anak
yang kurang sebanyak 25 orang dengan persentase sebesar 48,1% dan status gizi
anak yang normal sebanyak 8 orang dengan persentase sebesar 15,4%, dan jika
pola asuh gizi pada anak sedang maka status gizi anak yang kurang sebanyak 19
orang dengan persentase sebesar 36,5% dan tidak ada anak dengan status gizi
normal.
Dari hasil uji chi-square didapatkan hasil nilai p-value sebesar 0,020 < 0,05 yang
berarti ada hubungan pola asuh gizi dengan status gizi
anak balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi.
Pembahasan
Hasil
penelitian tentang hubungan tingkat
pendapatan keluarga dengan status gizi anak balita di TK Negeri Pembina Tebing
Tinggi menunjukkan
pendapatan keluarga <Rp. 1.500.000 sebanyak 10 orang dengan persentase
sebesar 19,2%, sampel dengan pendapatan keluarga Rp. 1.500.000 – Rp. 2.500.000
sebanyak 25 orang dengan persentase sebesar 48,1% dan sampel dengan pendapatan
keluarga > Rp, 2.500.000 sebanyak 17 orang dengan persentase sebesar 32,7%
dari total seluruh sampel sebanyak 52 orang. Dari hasil ini terlihat bahwa
mayoritas pendapatan keluarga dalam penelitian ini sebanyak Rp. 1.500.000 – Rp.
2.500.000.
Dari hasil tabel
silang dapat dilihat bahwa jika pendapatan keluarga < Rp. 1.500.000 status gizi
anak yang kurang sebanyak 9 orang dengan persentase sebesar 17,3% dan gizi anak
yang normal sebanyak 1 orang dengan persentase sebesar 1,9%, jika pendapatan
keluarga Rp. 1.500.000 – Rp. 2.500.000 status gizi anak yang kurang sebanyak 21
orang dengan persentase sebesar 10,4% dan gizi anak yang normal sebanyak 4
orang dengan persentase sebesar 7,7%, dan jika pendapatan keluarga > Rp.
2.500.000 status gizi anak yang kurang sebanyak 14 orang dengan persentase
sebesar 26,9% dan gizi anak yang normal sebanyak 3 orang dengan persentase
sebesar 5,8%.
Dari hasil uji chi-square didapatkan hasil nilai p-value sebesar 0,862 > 0,05 yang
berarti tidak ada hubungan tingkat pendapatan keluarga dengan
status gizi anak balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang
dilakukan Adelya (2022) yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara
pendapatan keluarga dengan status gizi pada anak SD Negeri 120 Kabupaten
Bengkulu Utara. Namun hasil yang berbeda pada penelitian yang dilakukan Erma
(2020) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara pendapatan keluarga
dengan status balita di desa Tambang wilayah kerja Puskesmas Tambang Kabupaten
Kampar.
Tingkat
pendapatan merupakan faktor yang menentukan kualitas dan kuantitas makanan yan
dikonsumsi. Kemampuan keluarga untuk membeli bahan makanan tergantung pada
besar kecilnya pendapatan, keluarga dengan pendapatan terbatas kemungkinan
besar akan kurang dapat memenuhi kebutuhan makananya terutama untuk memenuhi
kebutuhan zat gizi dalam tubuh. Umumnya
jika pendapatan naik, jumlah dan jenis makanan cenderung ikut bervariasi.
Tingkat penghasilan ikut menentukan jenis pangan apa yang akan dibeli dengan
adanya tambahan uang. Semakin tinggi penghasilan, semakin besar pula persentase
dari penghasilan tersebut dipergunakan untuk membeli buah, sayur mayur dan
berbagai jenis bahan pangan lainnya. jadi penghasilan merupakan factor penting
bagi kualitas dan kuantitas antara penghasilan dan gizi jelas ada hubungan yang
menguntungkan. Pengaruh peningkatan penghasilan terhadap perbaikan kesehatan
dan kondisi keluarga lain yang mengadakan interaksi dengan status gizi yang
berlawanan hampir universal (Kasumayanti
& Zurrahmi, 2020). Pendapatan
yang rendah dapat mempengaruhi banyak hal seperti pola konsumsi makanan kurang
bergizi, pemeliharaan kesehatan dan lainnya. Keluarga
dengan pendapatan rendah akan memilih jenis pangan yang kurang mutu dan
keragaman pangan yang mengakibatkan kebutuhan asupan
zat gizi didalam tubuh kurang sehingga dapat mempengaruh keadaan gizi anak.
Namun demikian tidak menutup kemungkinan bahwa keluarga yang berpenghasilan
rendah dapat mengkonsumsi makanan yang mempunyai nilai gizi baik (Nurida & Maritasari, 2022).
Hasil penelitian tentang hubungan pola asuh gizi dengan status gizi
anak balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi menunjukkan pola asuh gizi
baik sebanyak 33 orang dengan persentase sebesar 63,5% dan sampel dengan pola
asuh gizi sedang sebanyak 19 orang dengan persentase sebesar 36,5% dari total
seluruh sampel sebanyak 52 orang. Dari hasil ini terlihat bahwa mayoritas pola
asuh pada anak baik.
Dari hasil tabel
silang dapat dilihat bahwa jika pola asuh gizi pada anak baik maka status gizi anak
yang kurang sebanyak 25 orang dengan persentase sebesar 48,1% dan status gizi
anak yang normal sebanyak 8 orang dengan persentase sebesar 15,4%, dan jika
pola asuh gizi pada anak sedang maka status gizi anak yang kurang sebanyak 19
orang dengan persentase sebesar 36,5% dan tidak ada anak dengan status gizi
normal.
Dari hasil uji chi-square didapatkan hasil nilai p-value sebesar 0,020 < 0,05 yang
berarti ada hubungan pola asuh gizi dengan status gizi
anak balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang
dilakukan Yunita (2021) yang mengatakan bahwa pola asuh ibu berhubungan dengan status gizi balita di
Kampung Tarung Kota Waikabubak Kabupaten Sumba Barat, tetapi hasil ini
tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan Sitti (2022) yang hasil
penelitiannya menunjukkan bahwa tidak
terdapat hubungan pola asuh orang tua dengan status gizi balita.
Pola
asuh adalah jenis interaksi antara orang tua dan anaknya yang mencakup
bagaimana orangtua memenuhi kebutuhan anak seperti makanan dan perawatan
psikologis, serta bagaimana anak dapat bersosialisasi dengan lingkungan dan
mengikuti norma masyarakat. Selain itu, interaksi antara orangtua dan anak juga
menentukan pendidikan karakter anak (Salimar et al., 2011). Menurut Putri
(2019), pola asuh dipengaruhi oleh usia kedua orang tua, pendidikan, pekerjaan,
dan jumlah anak. Orang tua menggunakan banyak variasi dan model dalam mendidik
dan mengasuh anak mereka, yang menghasilkan pola perilaku dan sikap yang berpengaruh
pada pertumbuhan dan perkembangan anak. Anak-anak yang menerima pengasuhan
berkualitas tinggi mengalami status gizi yang lebih baik dan mengalami
kesakitan yang lebih rendah (Arisman, 2010).
Penelitian
mengenai hubungan antara pendapatan keluarga, pola asuh gizi, dan status gizi
anak balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi memiliki implikasi penting untuk
pengembangan ilmu terkait dan masyarakat. Secara ilmiah, penelitian ini
memberikan kontribusi pada pemahaman tentang keterkaitan faktor-faktor tersebut,
memperkaya literatur mengenai gizi balita, dan menjadi dasar bagi penelitian
lebih lanjut dalam mengidentifikasi variabel-variabel yang dapat mempengaruhi
status gizi anak. Bagi masyarakat, penelitian ini memberikan wawasan mengenai
pentingnya peran pendapatan keluarga dan pola asuh gizi dalam menjaga kesehatan
anak balita. Implikasi praktisnya mencakup potensi perbaikan kebijakan
kesehatan dan pelayanan gizi di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi serta upaya
pencegahan untuk meningkatkan status gizi anak balita. Melalui pemahaman lebih
mendalam dari penelitian ini, diharapkan dapat diterapkan langkah-langkah
konkret dalam meningkatkan kesehatan dan gizi anak balita di tingkat sekolah
dan masyarakat luas.
KESIMPULAN
Hasil
penelitian mengenai keterkaitan antara pendapatan keluarga, pola asuh gizi, dan
status gizi anak balita di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi menyimpulkan
beberapa hal penting. Mayoritas sampel dalam penelitian ini adalah perempuan
dengan rentang usia 51-60 bulan. Analisis asupan nutrisi pada anak balita di TK
Negeri Pembina Tebing Tinggi menunjukkan rata-rata energi sebesar 1439,69
kkal/hr, protein 26,71 gr/hr, karbohidrat 230,7 gr/hr, dan lemak 55,04 gr/hr. Pendapatan
keluarga pada sampel mayoritas berada di kisaran Rp. 1.500.000 – Rp. 2.500.000.
Meskipun mayoritas pola asuh gizi anak balita di TK Negeri Pembina Tebing
Tinggi dikategorikan baik, status gizi anak-anak tersebut berdasarkan indeks
massa tubuh (IMT) menunjukkan kategori gizi kurang. Analisis statistik
menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara pendapatan keluarga
dan status gizi anak balita (p > 0,05). Namun, terdapat hubungan yang
signifikan antara pola asuh gizi dengan status gizi anak balita (p < 0,05)
di TK Negeri Pembina Tebing Tinggi. Temuan ini memberikan wawasan penting
terkait faktor-faktor yang memengaruhi status gizi anak balita di lingkungan TK
tersebut, dengan potensi implikasi pada perbaikan kebijakan kesehatan dan
pelayanan gizi di masa mendatang. Pengembangan prospek kedepan juga memerlukan
pendekatan berkelanjutan. Pengimplementasian langkah-langkah di atas harus
disertai dengan sistem monitoring dan evaluasi yang baik untuk mengukur
dampaknya dan melakukan penyesuaian sesuai kebutuhan.
BIBLIOGRAFI
Agustin, L., & Rahmawati, D. (2021).
Hubungan Pendapatan Keluarga dengan Kejadian Stunting. Indonesian Journal of
Midwifery (IJM), 4(1), 30.
Banjarnahor, R. O.,
Banurea, F. F., Panjaitan, J. O., Pasaribu, R. S. P., & Hafni, I. (2022).
Faktor-faktor risiko penyebab kelebihan berat badan dan obesitas pada anak dan
remaja: Studi literatur. Tropical Public Health Journal, 2(1),
35–45.
Dewi Taurisiawati, R.,
& Yona Desni, S. (2019). Pola makan dan pendapatan keluarga dengan kejadian
kekurangan energi kronik (KEK) pada ibu hamil trimester II. Holistik: Jurnal
Kesehatan, 13(1), 7–18.
Dini, J. (2022).
Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Status Gizi pada Anak Usia Dini. Jurnal
Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 6(4), 3024–3033.
Goma, E. I., Sunimbar,
S., & Angin, I. S. (2022). Analisis Geologi Kejadian Longsor Di Desa
Wolotolo Kecamatan Detusoku Kabupaten Ende. JPG (Jurnal Pendidikan Geografi),
9(2).
Hanum, N. (2018).
Pengaruh pendapatan, jumlah tanggungan keluarga dan pendidikan terhadap pola
konsumsi rumah tangga nelayan di Desa Seuneubok Rambong Aceh Timur. Jurnal
Samudra Ekonomika, 2(1), 75–84.
Herlina, S. (2019).
Hubungan lingkungan pengasuhan dan pekerjaan ibu terhadap perkembangan bayi
6-12 bulan. Jurnal Kesmas Asclepius, 1(2), 136–145.
Ihsani, S. F., &
Rohman, M. F. (2022). Distribusi Pendapatan dan Kemiskinan di Indonesia: Kasus
Kebijakan Sentralisasi, Desentralisasi, dan Pandemi Covid-19. Jurnal
Ekonomi-Qu, 12(1), 1–22.
Kasumayanti, E., &
Zurrahmi, Z. R. (2020). Hubungan pendapatan keluarga dengan status gizi balita
di desa tambang wilayah kerja Puskesmas Tambang Kabupaten Kampar tahun 2019. Jurnal
Ners, 4(1), 7–12.
Manumbalang, S. T.,
Rompas, S., & Bataha, Y. B. (2017). Hubungan Pola Asuh Dengan Status Gizi
Pada Anak Di Taman Kanak-Kanak Kecamatan Pulutan Kabupaten Talaud. Jurnal
Keperawatan, 5(2).
Maranay, H. (2021). GAMBARAN
POLA ASUH, PENDIDIKAN IBU, PENGETAHUAN IBU DAN TINGGI BADAN ORANG TUA PADA ANAK
BALITA STUNTING DI WILAYAH PUSKESMAS MOTAHA, KAB. KONAWE SELATAN. Poltekkes
Kemenkes Kendari.
Marpaung, R. V. P.,
Samodra, Y. L., & Harjosuwarno, S. S. (2021). Hubungan Pola Asuh Terhadap
Status Gizi Pada Anak Tk Di Kota Yogyakarta. Jurnal Ilmiah Kesehatan Media
Husada, 10(1), 1–9.
Ngewa, H. M. (2021).
Peran Orang Tua Dalam Pengasuhan Anak. EDUCHILD (Journal of Early Childhood
Education), 1(1), 96–115.
Nurida, L., &
Maritasari, D. Y. (2022). Faktor Resiko Kejadian Gizi Kurang Pada Anak Balita. Jurnal
Ilmu Kesehatan Indonesia (JIKSI), 3(2).
Nurjanah, S. (2017). Pola
Asuh Orangtua Dalam Membentuk Karakter Anak Usia Dini di Desa Adi Karya Mulya
Kecamatan Panca Jaya Kabupaten Mesuji Tahun 2017. IAIN Metro.
Prawirohartono, E. P.
(2021). Stunting: Dari Teori Dan Bukti Ke Implementasi Di Lapangan. UGM
PRESS.
Putra, H. P., Taufiq,
A. R., & Juliani, A. (2013). Studi Hubungan antara Tingkat Pendidikan dan
Pendapatan Keluarga terhadap Sikap dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga (studi
kasus di Desa Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta). Jurnal Sains &
Teknologi Lingkungan, 5(2), 91–101.
Rochmawati, D. R.,
Hatimatunnisani, H., & Veranita, M. (2023). Mengembangkan Strategi Bisnis
di Era Transformasi Digital. Coopetition: Jurnal Ilmiah Manajemen, 14(1),
101–108.
SAMMUDRA, S. B.,
Fatonah, S., & Setiyajati, A. (2015). Hubungan Tingkat Pengetahuan Orang
Tua Tentang Gizi dengan Kejadian Kurang Energi Protein pada Anak Sekolah Usia
6-12 Tahun di SDN Bomo II Kecamatan Punung Kabupaten Pacitan. Universitas
Sahid Surakarta.
Susanti, E., &
Kholisoh, N. (2018). Konstruksi Makna Kualitas Hidup Sehat (Studi Fenomenologi
pada Anggota Komunitas Herbalife Klub Sehat Ersand di Jakarta). LUGAS Jurnal
Komunikasi, 2(1), 1–12.
Susilowati, E., &
Himawati, A. (2017). Hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang gizi balita
dengan status gizi balita di wilayah Kerja Puskesmas Gajah 1 Demak. Jurnal
Kebidanan, 6(13), 21–25.
Uce, L. (2018).
Pengaruh Asupan Makanan Terhadap Kualitas Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
Usia Dini. Bunayya: Jurnal Pendidikan Anak, 4(2), 79–92.