UJI DAYA HASIL BENIH PENJENIS BERBAGAI
VARIETAS KEDELAI PADA LAHAN SAWAH TADAH HUJAN
Dwi yadi Nurhuda Madani1,
Syarif Husen2, Aniek Iriany3, Erny Ishartati4,
Muhidin5
Universitas Muhammadiyah
Malang Indonesia
|
Keywords |
Abstract |
|
Rainfed Rice Fields; Soybeans; Yield Power
Test. |
The need for an
in-depth understanding of the productivity and potential of soybean farming
in Kemantren Village, Kedungtuban District, Blora Regency, Central Java,
especially in rainfed rice fields. Soybeans (Glycine max L.) have a strategic
role in food security and agricultural sustainability. Different soybean
varieties can show varying responses to environmental conditions, including
rainfed rice fields which have their own characteristics. Therefore, it is
important to test the yield of seeds of various types of soybeans in these
locations in order to optimize soybean production and increase the food
security of local communities. Through this research, it is hoped that
relevant information can be obtained for the development of soybean farming
in the region as well as contributing to increasing overall agricultural
productivity. The aim of this research aims to determine the growth and yield
tests of several varieties of soybean plants planted on rainfed rice fields
that were used as rice planting areas. This research method uses various
tools such as hoes, water hoses, pipettes, plastic tubs, calipers, capsule bottles,
and others, as well as materials such as various varieties of soybean seeds,
soil, fertilizer, fungicides, vegetable insecticides, herbicides, Rizhobium
fertilizer, and water. . The research stage involves seed preparation, land
preparation with raised bed plots, planting by soaking the seeds in water,
maintenance through fertilization and irrigation, controlling weeds, pests
and diseases, replanting, as well as harvesting and post-harvest. The
experimental design used a randomized block design with variations in soybean
varieties, and the analysis method involved a two-way test of variance with a
confidence level of 95%, accompanied by a DMRT follow-up test if necessary to
determine the best treatment. The results of this research changed breeder seeds
into focal seeds in studying soybean plants, using a Randomized Block Design
(RAK) consisting of 3 replicate groups of soybean planting. |
|
Kata Kunci |
Abstrak |
|
Sawah
Tadah Hujan; Kedelai; Uji Daya Hasil. |
kebutuhan
akan pemahaman mendalam terkait produktivitas dan potensi pertanian kedelai
di Desa Kemantren, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, Jawa Tengah,
khususnya pada lahan sawah tadah hujan. Kedelai (Glycine max L.) memiliki
peran strategis dalam ketahanan pangan dan keberlanjutan pertanian. Varietas
kedelai yang berbeda dapat menunjukkan respons yang beragam terhadap kondisi
lingkungan, termasuk lahan sawah tadah hujan yang memiliki karakteristik
tersendiri. Oleh karena itu, penting untuk menguji daya hasil benih penjenis
dari berbagai varietas kedelai di lokasi tersebut guna mengoptimalkan
produksi kedelai dan meningkatkan ketahanan pangan masyarakat setempat.
Melalui penelitian ini, diharapkan dapat diperoleh informasi yang relevan
untuk pengembangan pertanian kedelai di wilayah tersebut serta kontribusi
terhadap peningkatan produktivitas pertanian secara keseluruhan. Tujuan dari Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui uji pertumbuhan dan daya hasil beberapa varietas tanaman kedelai
yang ditanam pada lahan sawah tadah hujan bekas lahan tanam tanaman padi. Metode
Penelitian ini menggunakan berbagai alat seperti cangkul, selang air, pipet,
bak plastik, jangka sorong, botol kapsul, dan lainnya, serta bahan seperti
berbagai varietas benih kedelai, tanah, pupuk, fungisida, insektisida nabati,
herbisida, pupuk Rizhobium, dan air. Tahap penelitian melibatkan persiapan
benih, persiapan lahan dengan plot bedengan, penanaman dengan perlakuan benih
direndam dalam air, pemeliharaan melalui pemupukan dan pengairan,
pengendalian gulma, hama, dan penyakit, penyulaman, serta panen dan pasca
panen. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan variasi
varietas kedelai, dan metode analisis melibatkan uji ragam dua jalur dengan
taraf kepercayaan 95%, disertai uji lanjut DMRT jika diperlukan untuk
menentukan perlakuan terbaik. Hasil Penelitian ini mengubah benih penangkar
menjadi benih tumpuan dalam mempelajari tanaman kedelai, dengan menggunakan
Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 3 kelompok ulangan tanam
kedelai. |
Corresponding Author: Dwi yadi Nurhuda
Madani�
E-mail: [email protected] �
PENDAHULUAN
Kedelai
(Glycine max L.) merupakan salah satu komoditas tanaman pangan utama setelah
padi dan jagung. Kebutuhan kedelai dari tahun ke tahun terus mengalami
peningkatan. Sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk maka permintan kedelai
semakin meningkat. Kedelai di Indonesia sampai saat ini sebagian masih impor,
karena produksi di Indonesia belum mencukupi. Sehingga dibutuhkan strategi yang
efektif dalam memenuhi kebutuhan tersebut (Rusdiana
& Maesya, 2017). Produksi kedelai di Indonesia belum
mencukupi kebutuhan permintaan karena adanya penyempitan lahan produksi akibat
alih fungsi lahan pertanian (Sunanto,
n.d.).
Meningkatnya
kebutuhan kedelai sepanjang tahun menyebabkan produksi kedelai harus
ditingkatkan. Cara untuk meningkatkan produksi kedelai adalah dengan pemuliaan
tanaman yang bertujuan menghasilkan varietas unggul (Sa�diyah
et al., 2016). Penggunaan dan pengembangan varietas
kedelai unggul bermutu dengan menggunakan teknologi dan syistem budidaya yang
tepat merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan produksi kedelai nasional (Heryanto,
2016).
Di
Jawa Tengah produktivitas kedelai rata-rata mencapai 1,8 ton/ha di atas
rata-rata nasional yang hanya mencapai 1,57 ton/ha. Sedangkan di Jawa Tengah,
produktivitas kedelai mencapai 2,3 ton/ha di atas rata-rata Jawa Tengah,
sehingga untuk memenuhi kebutuhan kedelai dalam negeri pemerintah berupaya
melakukan impor kedelai dari berbagai produsen luar negeri (Hafif,
2016).
Kedelai
memiliki peranan yaitu sebagai sumber protein nabati yang sangat penting bagi
kesehatan dan aman bagi tubuh manusia. Kedelai dapat diolah menjadi berbagai
olahan, seperti tempe & tahu. Kedelai juga dapat diolah menjadi bahan
industry sebagai olahan pangan seperti kecap, snack dan sebagainya. Kedelai
juga dapat diolah menjadi bahan industry campuran pakan ternak.
Upaya
peningkatan produksi benih kedelai yaitu dengan penggunaan benih unggul yang
memiliki potensi hasil tinggi dan dapat beradaptasi dengan berbagai kondisi
lingkungan (Risnawati
& Yusuf, 2019). Perlu untuk mengetahui jenis varietas
kedelai yang memiliki pertumbuhan dan hasil benih yang baik di daerah lahan
sawah tadah hujan.
Penelitian
terdahulu telah dilakukan untuk meningkatkan produksi tanaman padi melalui
Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) di sawah. PTT menyediakan komponen teknologi
dasar, seperti penggunaan varietas padi unggul, benih bermutu, pemupukan
spesifik lokasi, dan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) sesuai Organisme Pengganggu
Tanaman (OPT).
Selain
itu penelitian sebelumnya, komponen teknologi pilihan, seperti populasi dan
cara tanam, penggunaan bibit muda, bahan organik, irigasi berselang, pupuk
makro, pengolahan tanah, pengendalian gulma, dan penanganan panen dan pasca
panen, juga diterapkan. Salah satu kendala teknis dalam peningkatan produksi
padi adalah pengaturan jumlah bibit. Jumlah bibit per lubang tanam perlu
dipertimbangkan secara efektif, mengingat kerapatan tanaman yang terlalu tinggi
dapat menyebabkan kompetisi yang berlebihan dalam pemenuhan makanan dan sumber
cahaya. Tingginya tingkat kompetisi dapat menghambat proses fotosintesis dan
mengurangi hasil produksi padi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi strategi pengaturan jumlah bibit yang optimal guna
meningkatkan efisiensi produksi tanaman padi dalam konteks PTT.
METODE PENELITIAN
Alat dan Bahan
Alat
yang digunakan untuk penelitian ini antara lain cangkul, selang air, pipet, bak
plastik (ember), jangka sorong, botol kap, toples, alat pelubang, timbangan
analitik, tisu, plastic bening, oven pengering, gelas ukur 50 Ml, alat tulis,
alat dokumentasi.
Bahan
yang digunakan yaitu benih kedelai Detam-1, benih kedelai Argomulyo, benih
kedelai varietas Denasa (1 dan 2), benih kedelai varietas Deja (1 dan 2), benih
kedelai varietas Dena-1, benih kedelai varietas Detap-1, benih kedelai varietas
Devon-1, tanah, pupuk NPK, fungisida, insektisida nabati, herbisida, pupuk
Rizhobium dan air.
Tahap Penelitian
Persiapan benih
Benih
yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih kedelai BS (Benih Sumber)
varietas Detam-1, varietas Argomulyo, varietas Denasa (1 dan 2), varietas Deja
(1 dan 2), varietas Detap-1, varietas Dena-1, dan varietas Devon-1. Kemudian
benih tersebut direndam kedalam air selama 30 menit.
Persiapan Lahan
Tanah
bekas pertanian padi tidak perlu diolah (Tanpa Olah Tanah = TOT). Kemudian
membuat plot-plot bedengan. Jarak antar plot 50 cm, kedalaman saluran 25-30 cm,
luas plot 100 cm x 500 cm, dan jarak antar tanaman 20 cm x 20 cm. Saluaran
Berfungsi untuk mengurangi kelebihan air disetiap plot bedengan sekaligus
sebagai saluran irigasi pada saat tidak hujan.
Penanaman
Benih
kedelai yang telah diberi perlakuan ditanam pada lubang tanam dengan cara tugal
pada kedalaman 2-3 cm, jarak tanam 20 cm x 20 cm, 2-3 biji/lubang dan dilakukan
penjarangan sekaligus penyulaman tanaman pada umur 1-2 minggu dengan
menyisakan2 tanaman/rumpun.
Pemupukan
dilakukan dua kali yaitu pada saat tanaman umur 14 hst dan tanaman umur 56 hst
dengan menggunakan pupuk NPK (16-16-16) dosis 3 gr/tanaman, pupuk organik
Rizhobium cair dengan dosis 50 Ml/tanaman.
Pengairan
dilakukan sebelum tanam, kemudian dilakukan ketika awal pertumbuhan, umur 15-21
hst, saat berbunga (umur 25- 35 hst), dan saat pengisisn polong (umur 55-70
hst) dilakukan dengancara dialirkan melalui parit/irigasi yang sudah dibuat.
Jika cuaca hujan maka apabila media masih basah tidak perlu melakukan
pengairan.
Pengendalian
gulma dilakukan dilakukan secara kimia dengan herbisida jenis kontak yang dapat
dilakukan sebelum seminggu sebelum penanaman. Pengendalian gulma ketika sudah
dilakukan penanaman dan tanaman sudah tumbuh maka pengendaliannya dengan cara
di arit juga bias dengan cara dicabut gulmanya.
Pengendalian
hama dilakukan dengan memberikan furadan pada setiap lubang tanam saat tanam.
Pencegahan terhadap serangan penyakit dilakukan dengan pemeliharaan yang
intensif. Pengendalian hama dan penyakit sebaiknya menggunakan teknik budidaya,
seperti penggunaan variatas tanaman yang tahan hama dan penyakit, sanitasi lah
yang benar, penggiliran tanam dan serentak. Tanaman yang terkena hama dan
penyakit dikendalikan menggunakan pestisida nabati dan agen hayati yang tidak
mengganggu musuh alami, ramah lingkungan dan keseimbangan ekosistem terjaga.
Penggunaan pestisida sintetis hanya dilakukan bila terjadi kelimpahan serangan
hama dan penyakit. Pemilihan pestisida disesuaikan dengan hama dan penyakit
yang yang menyerang pada tanaman.
Penyulaman
dilakukan ketika tanaman (umur 7-14 hst) pada benih yang tidak tumbuh.
Panen
tanaman setelah masak, atau 95% polong dan daun berwarna coklat mengering.
Pemanenan dilakukan dengan cara memetik polong disetiap tandan dan menebas
pohon yang sudah daunnya mengering secara keseluruhan kemudian mengumpulkan
sesuai dengan lebel nomor pada tanaman. Biji kedelai kemudian dikeringkan
hingga kadar 12%, kemudian biji/benih dipilah dengan memperhatikan pemilihan
benih yang menjadi calon benih unngul.
Rancangan Percobaan
Penelitian
ini menggunakan benih sumber yang mau di uji untuk menghasilkan benih yang baik
dan diturunkan kebenih penjenis. Percobaan penelitian ini menggunakan rancangan
RAK (Rancanag Acak Kelompok) dan perlakuan diulang 3 (Tiga) kali, dimana
terdiri dari perlakuan dari beberapa varietas kedelai terdiri dari: V1 =
Denasa-1, V2 = Denasa-2, V3 = Deja-1, V4 = Deja-2, V5 = Argomulyo, V6 =
Detam-1, V7 = Dena-1, V8 = Detap, dan V9 = Devon-1.
Metode Analisis
Metode
yang digunakan dalam penelitian ini yaiutu uji Ragam dua jalur dengan
taraf kepercayaan 95% (α 5%). Apabila hasil analisa variasi menunjukkan perbedaan antara
perlakuan, maka dilakukan uji lanjut dengan menggunakan uji perbandingan DMRT (Duncan
Multiple Range Test) pada taraf 5% untuk mengetahui perlakuan paling baik.
HASIL DAN PEMBAHASAN
����������� Berdasarkan hasil analisis ragam
menunjukkan varietas tanam kedelai yang ditanaman dilahan sawah tadah hujan
berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman kedelai diantaranya saat tanaman
berumur 14, 56, dan 70 hst. Varietas yang tidak berpengaruh nyata terhadap
tinggi tanaman diantaranya saat tanaman berumur 28 dan 42 hst. Uji rata � rata
tinggi tanaman tiap beberapa varietas tanaman kedelai seperti disajikan pada
tabel 1.
Tabel 1 Rata � Rata
Tinggi Tanaman Kedelai
|
Varietas |
Rata-rata Tinggi Tanaman (cm) Pada
Umur (hst) |
||||
|
14 |
28 |
42 |
56 |
70 |
|
|
Denasa 1 |
20,00 c |
21,66 a |
37,66 a |
46,33 b |
51,33 b |
|
Denasa 2 |
13,66 a |
20,33 a |
32,66 a |
34,00 a |
37,66 a |
|
Deja 1 |
17,66 b |
28,00 a |
48,00 a |
63,66 c |
76,66 e |
|
Deja 2 |
22,66 d |
26,00 a |
55,33 a |
61,33 c |
65,33 d |
|
Argomulyo |
19,66 bc |
25,00 a |
41,33 a |
46,00 b |
48,00 b |
|
Detam 1 |
24,33 d |
29,66 a |
51,66 a |
54,33 bc |
60,00 c |
|
Dena 1 |
18,33 b |
27,33 a |
46,66 a |
61,33 c |
64,66 d |
|
Detap |
23,00 d |
27,33 a |
50,66 a |
46,00 b |
60,00 c |
|
Devon 1 |
13,33 a |
20,66 a |
48,33 a |
51,33 b |
57,66 c |
Keterangan: angka pada kolom yang sama
diikuti oleh huruf yang sama, berbeda tidak nyata menurut uji DMRT pada taraf
5%.
Berdasarkan
tabel 1 tinggi tanaman varietas Detam 1 menunjukkan nilai paling tinggi
dibanding dengan varietas lain pada umur 14 dan umur 28 hst. Varietas Deja 2
menunjukkan nilai paling tinggi dibandingkan dengan varietas lain pada umur 43
hst. Varietas Deja 1 menunjukkan nilai paling tinggi dibandingkan dengan
varietas yang lainnya pada umur 56 sampai 70 hst. Perbedaan yang nyata dan
tidak nyata antara varietas kedelai disebabkan oleh karakter varietas yang
ditanam.
Pengamatan
tinggi tanaman pada tabel 1 menggunakan beberapa varietas kedelai, setelah
dilakukan pengamatan selama 70 hari berpengaruh nyata dan tidak berpengaruh
nyata terhadap hasil pertumbuhan tanaman kedelai. Tanaman kedelai yang memiliki
tinggi tanaman paling tinggi yaitu 76,66 cm pada varietas Deja-1, tanaman
kedelai yang tinggi tanamannya paling pendek yaitu 37,66 cm pada varietas
Denasa-2. Tinggi tanaman merupakan parameter yang dapat digunakan untuk mengetahui
pertumbuhan fase generatif. Perkembangan tinggi tanaman masing � masing
varietas tanaman disebabkan oleh pengaruh lingkungan pada saat tanam.
Berdasarkan
hasil analisis ragam menunjukkan varietas tanaman kedelai yang ditanam dilahan
sawah tadah hujan berpengaruh tidak nyata terhadap diameter batang tanaman
kedelai diantaranya saat tanaman berumur 28 sampai 70 hst. Beberapa varietas
tanaman kedelai yang ditanam dilahan sawah tadah hujan berpengaruh nyata
terhadap diameter batang tanaman kedelai diantaranya saat tanaman berumur 14
hst. Uji rata � rata diameter batang tanaman tiap beberapa varietas tanaman
kedelai seperti disajikan pada tabel 2.
Tabel 2 Rata � Rata
Diameter Tanaman Kedelai.
|
Varietas |
Rata-rata Diameter Tanaman (mm)
Pada Umur (hst) |
||||
|
14 |
28 |
42 |
56 |
70 |
|
|
Denasa 1 |
2,73 b |
3,66 a |
6,30 a |
7,20 a |
9,76 a |
|
Denasa 2 |
2,30 b |
2,70 a |
4,10 a |
4,83 a |
6,30 a |
|
Deja 1 |
2,03 b |
3,26 a |
6,20 a |
7,93 a |
8,83 a |
|
Deja 2 |
1,03 a |
2,70 a |
5,00 a |
6,60 a |
7,46 a |
|
Argomulyo |
1,50 ab |
2,76 a |
4,86 a |
5,26 a |
5,96 a |
|
Detam 1 |
2,16 c |
3,73 a |
6,20 a |
6,83 a |
8,13 a |
|
Dena 1 |
2,80 b |
3,36 a |
5,33 a |
5,80 a |
7,00 a |
|
Detap |
3,76 c |
4,63 a |
5,23 a |
6,36 a |
6,76 a |
|
Devon 1 |
2,13 b |
2,40 a |
4,40 a |
5,33 a |
6,20 a |
Keterangan:
angka pada kolom yang sama diikuti oleh huruf yang sama, berbeda tidak nyata menurut
uji DMRT pada taraf 5%.
Berdasarkan
tabel 2 diameter batang varietas Dena 1 menunjukkan nilai paling tinggi
disbanding dengan varietas lain pada umur 14 hst. Varietas Detap menunjukkan
nilai paling tinggi dibandingkan dengan varietas lain pada umur 28 hst.
Varietas Denasa 1 menunjukkan nilai paling tinggi dibandingkan dengan varietas
yang lainnya pada umur 42 dan 70 hst. Varietas Deja 1 menunjukkan nilai paling
tinggi dibandingkan dengan varietas yang lainnya pada umur 56 hst.
Ketersediyaan unsur hara dalam tanah menunjang pertumbuhan dan perkembngan
tanaman.
Pengamatan
diameter batang pada tabel 2 menggunakan beberapa varietas kedelai, setelah
dilakukan pengamatan selama 70 hari berpengaruh nyata dan tidak berpengaruh
nyata terhadap hasil pertumbuhan tanaman kedelai. Tanaman kedelai yang memiliki
diameter lebih besar yaitu 9,76 mm pada varietas Denasa-1, tanaman kedelai yang
memiliki diameter kecil yaitu 5,96 mm pada varietas Detam-1.
Berdasarkan
hasil analisis ragam menunjukkan varietas tanaman kedelai yang ditanam dilahan
sawah tadah hujan berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah cabang tanaman
kedelai diantaranya saat tanaman kedelai berumur 14 sampai 70 HST.. Uji rata � rata jumlah cabang tanaman kedelai tiap
varietas secara terpisah disajikan pada tabel 3.
Tabel 3 Rata � Rata
Jumlah Cabang Tanaman Kedelai.
|
Varietas |
Rata-rata Cabang Tanaman Pada Umur
(hst) |
||||
|
14 |
28 |
42 |
56 |
70 |
|
|
Denasa 1 |
5,66 a |
7,00 a |
14,00 a |
22,00 a |
32,33 a |
|
Denasa 2 |
5,33 a |
6,66 a |
13,66 a |
24,66 a |
15,33 a |
|
Deja 1 |
5,00 a |
7,33 a |
15,33 a |
27,00 a |
39,33 a |
|
Deja 2 |
5,33 a |
7,33 a |
16,33 a |
23,00 a |
46,00 a |
|
Argomulyo |
4,66 a |
7,00 a |
20,33 a |
19,33 a |
16,33 a |
|
Detam 1 |
4,33 a |
7,66 a |
20,00 a |
28,00 a |
24,33 a |
|
Dena 1 |
3,66 a |
8,00 a |
15,66 a |
23,00 a |
13,33 a |
|
Detap |
6,33 a |
7,00aa |
22,66 a |
18,33 a |
16,66 a |
|
Devon 1 |
4,00 a |
6,00 a |
14,33 a |
18,00 a |
20,00 a |
Keterangan:
angka pada kolom yang sama diikuti oleh huruf yang sama, berbeda tidak nyata menurut
uji DMRT pada taraf 5%.
Berdasarkan
tabel 3 diameter batang varietas Detap menunjukkan nilai paling tinggi
disbanding dengan varietas lain pada umur 14 hst dan 42 hst. Varietas Dena 1
menunjukkan nilai paling tinggi dibandingkan dengan varietas lain pada umur 28
hst. Varietas Detam 1 menunjukkan nilai paling tinggi dibandingkan dengan
varietas yang lainnya pada umur 56 hst. Varietas Deja 2 menunjukkan nilai
paling tinggi dibandingkan dengan varietas lain pada umur 70 hst.
Pengamatan
jumlah cabang tanaman pada tabel 3 menggunakan beberapa varietas kedelai,
setelah dilakukan pengamatan selama 70 hari berpengaruh nyata dan tidak
berpengaruh nyata terhadap hasil pertumbuhan tanaman kedelai. Tanaman yang
memiliki jumlah cabang paling banyak yaitu 46 cabang pada varietas Deja-2,
tanaman yang memiliki jumalh cabang sedikit yaitu 13,33 cabang pada varietas
Dena-1. Jumlah cabang tanaman dipengaruhi oleh jarak tanam, semakin lebar jarak
tanaman yang digunakan maka semakin banyak jumlah cabang baru yang dihasilkan (Mayani et
al., 2021).
Pengamatan
jumlah cabang tanaman pada tabel 3 menggunakan beberapa varietas kedelai,
setelah dilakukan pengamatan selama 70 hari berpengaruh nyata dan tidak
berpengaruh nyata terhadap hasil pertumbuhan tanaman kedelai. Tanaman yang
memiliki jumlah cabang paling banyak yaitu 46 cabang pada varietas Deja-2,
tanaman yang memiliki jumalh cabang sedikit yaitu 13,33 cabang pada varietas
Dena-1. Jumlah cabang tanaman dipengaruhi oleh jarak tanam, semakin lebar jarak
tanaman yang digunakan maka semakin banyak jumlah cabang baru yang dihasilkan.
Berdasarkan
hasil analisis ragam menunjukkan varietas tanaman kedelai yang ditanam dilahan
sawah tadah hujan berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun tanaman kedelai
diantaranya saat tanaman kedelai berumur 14 sampai 56 hst. Beberapa varietas
tanaman kedelai yang ditanam dilahan sawah tadah hujan bekas tanaman padi
berpengaruh nyata terhadap jumlah daun tanaman kedelai diantaranya saat tanaman
kedelai berumur 70 hst. Uji rata � rata jumlah daun pada tanaman kedelai tiap
varietas secara terpisah disajikan pada tabel 4.
Tabel 4 Rata � Rata
Jumlah Daun Tanaman Kedelai.
|
Varietas |
Rata-rata Jumlah Daun Pada Umur
(hst) |
||||
|
14 |
28 |
42 |
56 |
70 |
|
|
Denasa 1 |
12,66 a |
18,00 a |
41,33 a |
66,33 a |
81,33 b |
|
Denasa 2 |
10,33 a |
16,66 a |
39,66 a |
44,33 a |
46,33 a |
|
Deja 1 |
11,66 a |
17,66 a |
45,66 a |
91,66 a |
118,33 c |
|
Deja 2 |
13,33 a |
18,00 a |
47,33 a |
69,33 a |
72,66 b |
|
Argomulyo |
12,00 a |
17,33 a |
61,00 a |
58,66 a |
48,33 ab |
|
Detam 1 |
10,66 a |
19,66 a |
58,33 a |
84,33 a |
72,00 b |
|
Dena 1 |
7,33 a |
19,33 a |
43,33 a |
69,66 a |
35,00 a |
|
Detap |
12,66 a |
17,33 a |
68,33 a |
53,66 a |
33,00 a |
|
Devon 1 |
8,66 a |
14,66 a |
39,00 a |
53,66 a |
65,33 b |
Keterangan:
angka pada kolom yang sama diikuti oleh huruf yang sama, berbeda tidak nyata menurut
uji DMRT pada taraf 5%.
Berdasarkan
tabel 4 jumlah daun varietas Deja 2 menunjukkan nilai paling tinggi dibanding
dengan varietas lain pada umur 14 hst. Varietas Detam 1 menunjukkan nilai
paling tinggi dibandingkan dengan varietas lain pada umur 28 hst. Varietas
Argomulyo menunjukkan nilai paling tinggi dibandingkan dengan varietas yang
lainnya pada umur 42 hst. Varietas Deja 1 menunjukkan nilai paling tinggi disbanding
varietas lain pada umur 56 sampai 70 hst. Dalam fase pertumbuhan tanaman, daun
merupakan tempat untuk penyerapan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman
melalui meristem daun.
Pengamatan
jumlah daun tanaman pada tabel 4 menggunakan beberapa varietas kedelai, setelah
dilakukan pengamatan selama 70 hari berpengaruh nyata dan tidak berpengaruh
nyata terhadap hasil pertumbuhan tanaman kedelai. Tanaman yang memiliki jumlah
helai daun paling banyak yaitu 118,33 helai pada varietas Deja-1, sedangkan tanaman
yang memiliki jumlah helai daun paling sedikit yaitu 33 dan 35 helai pada
varietas Dena-1 dan Detap. Daun merupakan tempat untuk penyerapan unsur hara
yang dibutuhkan oleh tanaman. Unsur hara berpengaruh dalam pembelahan sel pada
jaringan, sehingga mampu mempengaruhi proses pertumbuhan (Hasmeda
et al., 2021)
Berdasarkan
hasil analisis ragam menunjukkan bahwasannya beberapa varietas berpengaruh
nyata terhadap persentase pertumbuhan tanaman kedelai. Uji rata � rata
persentase tumbuh tanaman kedelai tiap varietas secara terpisah disajikan pada
tabel 5
Tabel 5 Rata � Rata Persentase Tumbuh
Tanaman Kedelai.
|
Varietas |
Pertumbuhan (%) |
|
Denasa 1 |
66 a |
|
Denasa 2 |
75 a |
|
Deja 1 |
95 a |
|
Deja 2 |
95 a |
|
Argomulyo |
95 a |
|
Detam 1 |
93 a |
|
Dena 1 |
95 a |
|
Detap |
�95 a |
|
Devon 1 |
95 a |
Keterangan:
angka pada kolom yang sama diikuti oleh huruf yang sama, berbeda tidak nyata menurut
uji DMRT pada taraf 5%.
Berdasarkan
tabel 5 pertumbuhan pada tanaman kedelai tidak memiliki perbedaan yang
siknifikan. Tanaman yang hidup dikarenakan beberapa varietas ada yang memiliki
toleransi yang baik. Varietas tanaman kedelai yang memiliki pertumbuhan yang
baik diantaranya Deja 1, Deja 2, Argomulyo, Dena 1, Detap, dan Devon 1
selebihnya memiliki pertumbuhan yang kurang baik.
Pengamatan
persentase pertumbuhan tanaman pada tabel 5 menggunakan beberapa varietas
kedelai, setelah dilakukan pengamatan hingga panen berpengaruh nyata terhadap
hasil pertumbuhan serta hasil tanaman kedelai. Tanaman yang memiliki presentasi
pertumbuhan tanaman kedelai yang memiliki nilai presntasi tertimggi yaitu 95%
terdapat pada tanaman (Deja-1, Deja-2, Argomulyo, Dena-1, Detap serta Devon-1).
Tanaman yang memiliki presentasi pertumbuhan tanaman kedelai yang memiliki
nilai presntasi terrendah yaitu 66% terdapat pada tanaman Denasa-1.
Berdasarkan
hasil analisis ragam menunjukkan bahwasannya beberapa varietas berpengaruh
tidak nyata terhadap hasil tanaman kedelai. Uji rata � rata jumlah polong
pertanaman kedelai tiap varietas secara terpisah disajikan pada tabel 6.
Tabel 6 Rata � Rata Jumlah Polong Pada
Tanaman Kedelai.
|
Varietas |
Polong Pertanaman |
|
Denasa 1 |
32,96 a |
|
Denasa 2 |
34,63 a |
|
Deja 1 |
47,96 a |
|
Deja 2 |
49,96 a |
|
Argomulyo |
41,30 a |
|
Detam 1 |
59,63 a |
|
Dena 1 |
72,30 a |
|
Detap |
58,96 a |
|
Devon 1 |
44,86 a |
Keterangan: angka pada kolom yang sama
diikuti oleh huruf yang sama, berbeda tidak nyata menurut uji DMRT pada taraf
5%.
Berdasarkan
tabel 6 jumlah polong pada tanaman kedelai memiliki perbedaan yang siknifikan,
dikarenakan beberapa varietas ada yang memiliki jumlah polong sedikit. Varietas
tanaman kedelai yang memiliki jumlah polong banyak diantaranya varietas Dena 1
selebihnya memiliki jumlah polong kurang lebih 60 polong.
Pengamatan
jumlah polong pada tanaman kedelai tabel 6 menggunakan beberapa varietas
kedelai, setelah dilakukan pengamatan hingga panen berpengaruh tidak nyata
terhadap hasil pertumbuhan serta hasil tanaman kedelai. Tanaman yang memiliki
jumlah polong paling banyak ketika setelah pemanenan dan pengeringan yaitu 72,3
helai buku pada kedelai varietas Dena-1, tanaman kedelai yang memiliki jumlah
polong sedikit yaitu 32,96 helai buku terdapat pada varietas Denasa-1. Semakin
banyak jumlah cabang tanaman yang dihasilkan maka akan meningkat juga jumlah
polong yang dihasilkan (Ratmawati, 2017).
Berdasarkan
hasil analisis ragam jumlah biji pertanaman dan berat biji pertanaman varietas
tanaman yang ditanam dilahan sawah tadah hujan berpengaruh tidak nyata terhadap
hasil tanaman kedelai. Hasil analisis ragam berat 100 biji, hasil perpetak dan
hasil perhektar bahwasannya varietas tanaman kedelai nyang ditanam dilahan
sawah tadah hujan bekas tanaman padi berpengaruh nyata terhadap hasil tanaman
kedelai. Uji rata � rata jumlah dan berat biji pada tanaman kedelai yang
diamati setiap varietas secara terpisah disajikan pada tabel 7.
Tabel 7 Jumlah dan Berat Biji Pada
Kedelai.
|
Varietas |
Jumlah Biji Pertanaman (Butir) |
Berat Biji Pertanaman (gram) |
Berat 100 Biji (gram) |
Hasil Perpetak (kg) |
Hasil Perhektar (Ton) |
|
|
Denasa 1 |
82,63 a |
13,80 a |
19,23 g |
0,59 a |
1,18 a |
|
|
Denasa 2 |
73,53 a |
9,36 a |
15,80 f |
1,51 b |
3,02 b |
|
|
Deja 1 |
114,53 a |
13,26 a |
12,80 c |
1,66 b |
1,32 a |
|
|
Deja 2 |
106,73 a |
13.53 a |
12,26 b |
1,65 b |
3,30 c |
|
|
Argomulyo |
99,63 a |
13,90 a |
15,06 e |
1,49 b |
2,98 b |
|
|
Detam 1 |
129,06 a |
14,56 a |
13,56 d |
1,70 b |
3,40 c |
|
|
Dena 1 |
141,50 a |
18,60 a |
15,20 ef |
1,50 b |
3,00 b |
|
|
Detap |
120,86 a |
14,63 a |
13,80 d |
1,55 b |
3,10 b |
|
|
Devon 1 |
87,10 a |
8,13 a |
10,36 a |
1,56 b |
3,13 b |
Keterangan:
angka pada kolom yang sama diikuti oleh huruf yang sama, berbeda tidak nyata menurut
uji DMRT pada taraf 5%.
Berdasarkan
tabel 7 jumlah dan berat biji pada tanaman kedelai memiliki perbedaan yang
siknifikan, dikarenakan beberapa varietas ada yang memiliki jumlah biji dan
berat berbeda. Varietas tanaman kedelai yang memiliki jumlah biji banyak
diantaranya� varietas Deja 1, varietas
Deja 2, varietas Detam 1, varietas Dena 1 dan varietas Detap selebihnya memiliki
jumlah biji kurang lebih 100 biji. Berat biji pertanaman yang paling tinggi
nilainya terdapat pada varietas Dena 1. Berat 100 biji pada benih kedelai yang
memiliki nilai tinggi terdapat pada varietas Denasa 1. Berat biji perpetak pada
benih kedelai yang memiliki nilai tertinggi terdapat pada varietas Detam 1.
Berata biji perhektar pada benih kedelai yang memiliki nilai tinggi terdapat
pada varietas Deja 2.
Pengamatan
jumlah dan berat biji pada tanaman kedelai tabel 7 menggunakan beberapa
varietas kedelai, setelah dilakukan pengamatan hingga panen yang berpengaruh
tidak nyata terhadap hasil pertumbuhan serta hasil tanaman kedelai terdapat
pada parameter jumlah biji pertanaman dan berat biji pertanaman. Pengamatan
hingga panen yang berpengaruh nyata terhadap hasil pertumbuhan serta hasil tanaman
kedelai terdapat pada parameter berat 100 biji, hasil perpetak dan hasil
perhektar.
����������� Tanaman yang memiliki nilai rata �
rata jumlah biji dan berat biji pertanaman terbanyak terdapat pada varietas
Dena-1 yaitu (141,5 butir, 18,6 gram), sedangkan yang memiliki nilai jumlah
pertanaman sedikit terdapat pada varietas Denasa-2 yaitu 73,53 butir dan berat
biji pertanaman sedikit terdapat pada varietas Devon-1 yaitu 8,13 gram. Pada
rerata berat 100 biji yang memiliki nilai paling berat yaitu varietas Denasa-1 dengan
nilai 19,23 gram, sedangkan yang memiliki nilai paling sedikit/enteng yaitu
pada varietas Devon-1 dengan nilai 10,36 gram. Hasil petak tertinggi terdapat
pada varietas Detam-1 dengan nilai rata � rata 1,7 kg, sedangkan hasil terendah
terdapat pada varietas Denasa-1 dengan nilai 0,59 kg. Pada hasil perhitungan
rerata hasil perhektar didapatkan nilai tertinggi terdapat pada varietas
Detam-1, sedangkan nilai rata � rata hasil perhektar dengan nilai terendah
terdapat pada varietas Denasa-1. Produksi hasil tanaman kedelai tercapai dengan
populasi tinggi, dikarenakan tercapainya sebuah tanaman menyerap cahaya secara
maksimal diawal pertumbuhan akantetapi diakhir pertumbuhan tanaman secara
individu mengalami penurunan karena persaingan penyerapan cahaya (Murtilaksono
et al., 2023).
Berdasarkan
hasil analisis ragam menunjukkan varietas berpengaruh nyata terhadap hasil uji
kadar air benih kedelai. Uji rata � rata uji kadar air benih kedelai tiap
varietas secara terpisah disajikan pada tabel 8.
Tabel
8 Reta � Rata Uji Kadar Air Pada Benih Kedelai.
|
Varietas |
Kadar Air (%) |
|
Denasa 1 |
21,00 b |
|
Denasa 2 |
16,00 a |
|
Deja 1 |
19,33 ab |
|
Deja 2 |
19,00 a |
|
Argomulyo |
17,33 a |
|
Detam 1 |
26,33 c |
|
Dena 1 |
18,66 a |
|
Detap |
29,66 cd |
|
Devon 1 |
15,33 a |
Keterangan:
angka pada kolom yang sama diikuti oleh huruf yang sama, berbeda tidak nyata menurut
uji DMRT pada taraf 5%.
Kadar
air pada benih merupakan salah satu kriteria dimana penting dalam standart
kelulusan benih. Berdasarkan standart pengujian laboratorium benih kedeleai
yang dikeluarkan oleh Ditjen Tanaman Pangan (2018), kadar air minimal untuk
semua kelas benih kedelai adalah 12 %. Denagn Demikian, menurut rerata data
yang didapatkan ketika melakukan pengujian pada kadar air benih kedelai
beberapa sudah memenuhi syarat kelulusan benih untuk kriteria kadar air. Benih
Kedelai Yang belum memenuhi syarat diantaranya varietas Denasa 1, varietas Deja
1, varietas Deja 2 dan varietas Dena 1. Benih yang tidak lulus dikarenakan
benih tersebut masih banyak menyimpan cadangan air (kurang pengeringan) dan
benih tersebut cadangan airnya sedikit (terlalu kering).
Berdasarkan
tabel 8 uji kadar air pada tanaman kedelai memiliki perbedaan yang siknifikan,
dikarenakan beberapa varietas memiliki kadar air berbeda. Varietas yang
memiliki kadar air tinggi terdapat pada varietas Detap.
Berdasarkan
hasil pengamatan pengujian benih pada tanaman kedelai terdiri dari pengujian
kadar air; uji kemurnian benih; serta uji daya perkecambahan benih. Pengujian
mutu benihdiperlukan untuk mengevaluasi mutu benih yang meliputi mutu fisik
(penetapan kadar air dan analisis kemurnian) dan mutu fisiologis (pengujian/analisis
daya berkecambahan) serta pengujian khusus (kesehatan benih) yang dilakukan
terhadap setiap kelompok benih. Setelah dilakukan pengamatan pengujian kadar
air berpengaruh tidak nyata terhadap benih kedelai. Kadar air yang memiliki
nilai tertinggi saat dilakukan pengujian yaitu 29,66% pada benih kedelai
varietas Detap, sedangkan benih kedelai yang memiliki kadar air nilai terendah
yaitu 15,33% pada benih Devon-1. Nilai kadar air yang standar minimal untuk
semua kelas benih kedelai yaitu 12%. Benih yang masih tinggi nilai kadar air
ketika dilakukan pengujian dikarenakan masih banyak penyimpanan cadanagan air
pada benih tersebut karena kurangnya pengeringan yang dilakukan (Ayu et
al., 2023). Pada tabel 8 perubahan kadar air dikarenakan adanya
penurunan maupun kenaikan nilai kadar air pada benih, maka dari itu penyimpanan
dan pengemasan menggunakan bahan yang kedap udara seperti plastic sehingga
benih tidak mengalami pertukaran udara (Anang et
al., 2018)
Berdasarkan
hasil analisis ragam menunjukkan varietas berpengaruh tidak nyata terhadap
kemurnian benih kedelai. Uji rata � rata daya berkecambah benih kedelai tiap
varietas secara terpisah disajikan pada tabel 9.
Tabel 9 Rata � Rata Uji Kemurnian Benih
Pada Benih Kedelai.
|
Varietas |
Kemurnian Benih (%) |
|
Denasa 1 |
100 a |
|
Denasa 2 |
100 a |
|
Deja 1 |
100 a |
|
Deja 2 |
100 a |
|
Argomulyo |
100 a |
|
Detam 1 |
100 a |
|
Dena 1 |
100 a |
|
Detap |
100 a |
|
Devon 1 |
100 a |
Keterangan:
angka pada kolom yang sama diikuti oleh huruf yang sama, berbeda tidak nyata menurut
uji DMRT pada taraf 5%.
Ditjen
Tanaman Pangan (2018) mengenai syarat kelulusan benih menentukan standart
pengujian laboratorium kedelai dalam sertifikasi tingkat kemurnian benih.
Minimal kemurnian benih kedelai kelas benih sebar adalah kisaran 95%. Dengan
demikian menurut rerata hasil pengamatan dan penyortiran benih pada tabel 9, benih
kedelai sudah memenuhi standar pengujian untuk benih tanaman kedelai yaitu
dalam rerata hamper keseluruhan memiliki rerata 100%.
Tabel
9 menunjukkan uji daya berkecambah pada benih kedelai tidak terdapat perbedaan
yang siknifikan. Kemurnian benih sangat dibutuhkan untuk mendapatkan benih yang
bermutu dan tahan terhadap ketahanan benih. Kemurnian benih merupakan pengujian
untuk menghasilkan benih berkualitas tinggi secara fisik, selain itu digunakan
untuk pengujian � pengujian benih lainnya.
Pengujian
kemurnian benih pada tabel 9 menggunakan beberapa varietas kedelai, setelah
dilakukan pengamatan hingga panen berpengaruh tidak nyata terhadap hasil
pertumbuhan serta hasil tanaman kedelai. Nilai uji kemurnian benih kedelai
memiliki nilai 100% pada keseluruhan beberapa benih varietas kedelai yang
diteliti. Sebelum melakukan pengujian benih terlebih dahulu sudah dilakukan
sortasi dan pemilihan, maka dari itu nilai uji yang dilakukan memiliki nilai
100%. Syarat kelulusan standarisasi benih kedelai dalam srtifikasi kemurnian
benih, minimal kemurnian benih kelas benih sumber kisaran 95% �(Ni Wayan
Sri Suliartini et al., 2020). Kemurnian benih merupakan pengujian
untuk menghasilkan benih berkualitas secara fisik (Setiana
et al., 2023).
Berdasarkan
hasil analisis ragam menunjukkan varietas berpengaruh tidak nyata terhadap daya
perkecambahan tanaman kedelai. Uji rata � rata daya berkecambah benih kedelai
tiap varietas secara terpisah disajikan pada tabel 10.
Tabel 10 Rata � Rata Uji Daya Berkecambah
Pada Benih Kedelai.
|
Varietas |
Daya Perkecambahan (%) |
|
Denasa 1 |
80,00 a |
|
Denasa 2 |
86,66 a |
|
Deja 1 |
80,00 a |
|
Deja 2 |
86,66 a |
|
Argomulyo |
93,33 a |
|
Detam 1 |
86,66 a |
|
Dena 1 |
93,33 a |
|
Detap |
93,33 a |
|
Devon 1 |
93,33 a |
Keterangan:
angka pada kolom yang sama diikuti oleh huruf yang sama, berbeda tidak nyata menurut
uji DMRT pada taraf 5%.
Uji
daya berkecambah merupakan tolak ukur viabilitas potensial yang yang merupakan
simulasi dari kemampuan benih untuk tumbuh dan berproduksi normal dalam kondisi
yang optimal. Menurut (Copeland, d.k.k., 2001) menyatakan bahwa perkecambahan
benih secara fisiologi muncul dan berkembangnya struktur � struktur dari embrio
benih sampai dengan akar menembus kulit biji. Perkecambahan benih di pengaruhi
oleh factor internal dan eksternal. Faktor internal yang berpengaruh terhadap
uji daya bekecambah diantaranya pengaruh tingkat kemasakan benih, berat pada
benih dan pengaruh ukuran benih Dormansi Inhibitor Gen Hormon. Faktor eksternal
yang bepengaruh terhadap uji daya berkecambah diantaranya pengaruh air,
pengaruh suhu, pengaruh tingkat oksigen, pengaruh cahaya dan pengaruh media
perkecambahan.
Tabel
10 menunjukkan uji daya berkecambah pada benih kedelai tidak terdapat perbedaan
yang siknifikan. Tanaman yang hidup dikarenakan beberapa varietas memiliki
toleransi yang baik. Daya perkecambahan tertinggi terdapat pada varietas
Argomulyo, varietas Dena 1, varietas Detap, dan varietas Devon 1. Lama proses
perkecambahan benih dipengaruhi oleh penyerapan air oleh benih. Proses
penyerapan air oleh benih terdiri dari 3 fase diantaranya: fase I (penyerapan
air secara cepat); fase II (penyerapan air berlangsung lambat); fase III
(penyerapan air kembali naik) (Girolamo dan Barbanti, 2012).
Pengujian
daya perkecambahan benih pada tabel 10 menggunakan beberapa varietas kedelai,
setelah dilakukan pengujian benih kedelai berpengaruh tidak nyata terhadap
benih kedelai. Nilai uji daya perkecambahan paling tinggi yaitu 93,33% terdapat
pada benih (Argomulyo, Dena-1, Detap serta Devon-1), nilai uji daya
perkecambahan terkecil yaitu 80% terdapat pada benih (Denasa-1 dan Deja-1). Uji
perkecambahan merupakan tolak ukur viabilitas petensial yang merupakan simulasi
dari kemampuan benih untuk tumbuh dan berproduksi normal dalam kondisi yang
optimal. Perkecambahan benih secara fisiologis muncul dan berkembangnya
struktur embrio benih sampai denagn akar menembus kulit biji (Copeland, 2001).
KESIMPULAN
Pertumbuhan
beberapa Varietas tanaman kedelai yang ditanam di lahan sawah tadah hujan
berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman saat umur 14, 56, dan 70 HST; jumlah
daun pertanaman umur 70 Hst. Pertumbuhan beberapa Varietas tanaman kedelai yang
ditanam di lahan sawah tadah hujan berpengaruh tidak nyata terhadap tingi
tanaman umur 28, dan 42 HST; diameter tanaman umur 14, 28, 42, 56 dan 70 HST;
jumlah daun pertanaman umur 14, 28, 42, dan 56 HST.
Variabel
hasil yang memiliki pengaruh nyata pada tanaman diantaranya berat 100 biji,
berat biji perpetak dan berat biji perhektar. Variabel hasil yang tidak
memiliki pengaruh nyata pada tanaman diantaranya polong pertanaman dan jumlah
biji pertanaman. Hasil tanaman kedelai di lahan sawah tadah hujan hasil
tertinggi terdapat pada varietas Deja 2 rata � rata nilai 3,3 ton/hektar dan
pada varietas Detam 1 rata � rata nilai 3,4 ton/hektar. Hasil tanaman kedelai
di lahan sawah tadah hujan yang memiliki hasil sedikit terdapat pada varietas
Denasa 1 rata � rata nilai 1,18 ton/hektar dan pada varietas Deja 1 rata � rata
nilai 1,32 ton/hektar. Tanaman yang memiliki respon terbaik pada lahan sawah
tadah hujan terdapat pada Varietsa Detam 1 dan Deja 2, sedangkan tanaman yang
tidak memiliki respon baik terdapat pada varietas Denasa 1 dan Deja 1.
BIBLIOGRAFI
Anang, L., Argo, B. D., & Aringtyas, D.
(2018). Efek Pengemasan Vakum Pada Kualitas Benih Kedelai (Glycine max, L) Varietas
Anjasmoro Selama Penyimpanan. Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis Dan
Biosistem, 4(2), 87�93.
Ayu, E. K., Fatimah,
T., & Salim, A. (2023). Pengaruh Lama Penyimpanan Menggunakan Media Arang
Sekam Padi Terhadap Perkecambahan Benih Kakao Hibrida. Agropross: National
Conference Proceedings of Agriculture, 424�432.
Hafif, B. (2016). Optimasi
potensi lahan kering untuk pencapaian target peningkatan produksi padi satu
juta ton di Provinsi Lampung.
Hasmeda, M., Sari, I.
Y., Munandar, M., Ammar, M., & Gustiar, F. (2021). Respon Pertumbuhan dan
Hasil pada Tanaman Bayam (Amaranthus sp) terhadap Biofortifikasi Unsur Hara
Kalsium (Ca) dan Besi (Fe) dengan Sistem Hidroponik DFT (Deep Flow Technique). Seminar
Nasional Lahan Suboptimal, 9(2021), 721�733.
Heryanto, R. (2016).
Potensi dan Strategi Pengembangan Kedelai Mendukung Swasembada Berkelanjutan di
Sulawesi Barat. Jurnal Pertanian Agros, 18(1), 24�32.
Mayani, N., Jumini,
J., & Maulidan, D. A. (2021). Respon Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kedelai
(Glycine max L. Merrill) Pada Berbagai Dosis Pupuk Vermikompos dan Jarak Tanam.
Jurnal Agrium, 18(2).
Murtilaksono, A.,
Amarullah, A., Rahim, A., Chairiyah, N., Hasanah, F., & Dulima, D. (2023).
Identification of Weeds in Horticultural Plant Cultivation Land in West
Tarakan. International Conference On Indigenous Knowledge For Sustainable
Agriculture.
Ni Wayan Sri
Suliartini, N. W. S. S., Suprayanti Martia Dewi, S. M. D., & Mi�raz Nur
Indraeni, M. N. I. (2020). Kapita Selekta Produksi Benih Dan Bibit Tanaman
Pangan. LPPM UNRAM PRESS.
Risnawati, R., &
Yusuf, M. (2019). Pertumbuhan dan Kualitas Produksi Dua Varietas Kedelai Hitam
akibat Pemupukan SP-36. AGRIUM: Jurnal Ilmu Pertanian, 22(1),
45�51.
Rusdiana, S., &
Maesya, A. (2017). Pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan pangan di Indonesia. Agriekonomika,
6(1), 12�25.
Sa�diyah, N.,
Zulkarnain, J., & Barmawi, M. (2016). Uji Daya Hasil Beberapa Galur Kedelai
(Glycine Max [l.] Merrill) Hasil Persilangan Wilis Dan Mlg 2521. Jurnal
Agrotek Tropika, 4(2).
Setiana, N. R., Dewi,
T. K., & Nugroho, C. (2023). Hubungan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Perilaku Terapis Gigi Dan Mulut Dengan Kepatuhan Penggunaan APD Untuk
Pencegahan Penyakit Akibat Kerja. Jurnal Ilmiah Keperawatan Gigi, 4(1),
31�43.
Sunanto, S. (n.d.). Kajian
Sebaran Lahan Pertanian Tanaman Pangan Berkelanjutan Di Kabupaten Grobogan. Journal
of Rural and Development, 4(1).