TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK) DI DESA SIBOLANGIT

Indah Sherbina Br Tarigan1, Ade Indra Mukti2, OK Yulizal3

Universitas Prima Indonesia Medan, Indonesia

[email protected]2

 

Keywords

Abstract

Knowledge Level, Urinary Tract Infection (UTI), Pregnant Women

 

This research was conducted to understand the level of knowledge of pregnant women regarding Urinary Tract Infections (UTI) in Sibolangit Village, a deep need considering the serious impact of UTI on maternal and neonatal health. The research location was chosen in Sibolangit Village to get a representative picture of pregnant women's knowledge regarding UTI in a rural environment. It is hoped that this data can become the basis for planning more effective and targeted public health intervention programs to increase knowledge of pregnant women, prevent the risk of UTIs, and improve the health of mothers and babies in Sibolangit Village. The aim of this research is to determine the level of knowledge of pregnant women about UTI in Sibolangit Village, using quantitative research and a cross-sectional approach. The research results showed that the majority of pregnant women in Sibolangit Village were aged 20-30 years with a sufficient level of knowledge about UTI of 64.6%. The chi-square test showed there was no significant relationship between age and level of knowledge of UTI, while the level of education and employment of pregnant women showed a significant relationship with level of knowledge. This research highlights the risk of UTI at the age of 21-28 years, in contrast to the healthy reproductive age theory. Education and employment factors play an important role, with low levels of education being associated with less UTI knowledge. These findings emphasize the need for special attention to formal education and employment status to increase pregnant women's knowledge about UTI in Sibolangit Village, in order to improve maternal and neonatal health.

 

Kata Kunci

Abstrak

Tingkat Pengetahuan, Infeksi Saluran Kemih (ISK), Ibu Hamil

Penelitian ini dilakukan untuk memahami tingkat pengetahuan ibu hamil terkait Infeksi Saluran Kemih (ISK) di Desa Sibolangit, sebuah kebutuhan mendalam mengingat dampak serius ISK pada kesehatan maternal dan neonatal. Lokasi penelitian dipilih di Desa Sibolangit untuk mendapatkan gambaran representatif mengenai pengetahuan ibu hamil terkait ISK di lingkungan pedesaan. Data ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk perencanaan program intervensi kesehatan masyarakat yang lebih efektif dan terarah guna meningkatkan pengetahuan ibu hamil, mencegah risiko ISK, serta meningkatkan kesehatan ibu dan bayi di Desa Sibolangit. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil tentang ISK di Desa Sibolangit, dengan menggunakan penelitian kuantitatif dan pendekatan cross-sectional. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar ibu hamil di Desa Sibolangit berusia 20-30 tahun dengan tingkat pengetahuan cukup tentang ISK sebesar 64.6%. Uji chi-square menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara usia dan tingkat pengetahuan ISK, sementara tingkat pendidikan dan pekerjaan ibu hamil menunjukkan hubungan yang signifikan dengan tingkat pengetahuan. Penelitian ini menyoroti risiko ISK pada usia 21-28 tahun, berbeda dengan teori usia reproduktif sehat. Faktor pendidikan dan pekerjaan memainkan peran penting, dengan tingkat pendidikan rendah dikaitkan dengan pengetahuan ISK yang kurang. Temuan ini menekankan perlunya perhatian khusus terhadap pendidikan formal dan status pekerjaan untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang ISK di Desa Sibolangit, guna meningkatkan kesehatan maternal dan neonatal.

Corresponding Author: OK Yulizal

E-mail: [email protected]

 

Description: https://jurnal.syntax-idea.co.id/public/site/images/idea/88x31.png

 

 

PENDAHULUAN

Penyakit infeksi membunuh lebih dari 10 juta penduduk di negara berkembang setiap tahunnya. Banyak di antara mereka meninggal karena penanganan yang buruk yang menyebabkan masalah kesehatan atau kegagalan awal untuk mencegah infeksi. Ini dapat terjadi karena mikroorganisme menyerang jaringan pejamu atau karena mikroorganisme mempengaruhi permukaan mukosa (SYAFFIRA, 2021).

Infeksi organ urogenitalia adalah salah satu penyakit infeksi yang sering dilihat sehari-hari, mulai dari infeksi ringan yang baru diketahui saat pemeriksaan urin hingga infeksi berat yang dapat mengancam jiwa (Wa Ode Asriyani et al., 2016). Infeksi ini biasanya dimulai dengan infeksi saluran kemih (ISK), yang kemudian menyebar ke organ reproduksi, bahkan ke ginjal (SIMBOLON, 2019). Reaksi inflamasi sel-sel urotelium yang melapisi saluran kemih dikenal sebagai infeksi saluran kemih. Infeksi saluran kemih akut terbagi menjadi dua kategori umum berdasarkan lokasi anatomi: infeksi saluran bawah (uretritis, sistitis, dan prostatitis) dan infeksi saluran atas (pielonefritis akut, abses intrarenal, dan perinefrik). Infeksi dapat terjadi di tempat-tempat ini secara bersamaan atau secara terpisah, dan dapat tidak menunjukkan gejala apa pun atau tidak sama sekali. Beberapa faktor yang dapat memengaruhi patogenitas infeksi saluran kemih antara lain jenis kelamin, aktivitas seksual, sumbatan, disfungsi neurogenik kandung kemih, refluks vesikoureteral, serta kehamilan (Isselbach et al, 2014).

Perempuan lebih rentan terhadap infeksi saluran kemih dibandingkan pria karena uretra wanita lebih pendek dibandingkan pria karena perubahan fisiologis dan anatomis yang terjadi pada tubuh mereka selama kehamilan. Infeksi saluran kemih terjadi pada 20% wanita hamil (Angrainy & Nurba, 2022). Deteksi dini terhadap komplikasi kehamilan merupakan suatu upaya penjaringan yang dilakukan untuk menemukan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi selama kehamilan (Rinata, 2019).

Wanita hamil yang mengalami ISK dapat meningkatkan risikoterjadinya persalinan prematur, preeklampsia, hipertensi, gangguan pertumbuhan janin dalam rahim/IntraUterine Grow Restriction (IUGR) dan persalinan secara seksiosesar padapasien hamil yang mengalami Infeksi Saluran Kemih (Hotmauli et al., 2021). Sekitar 15% wanita mengalami�� paling sedikit satu kali serangan akut infeksi saluran kemih selama hidupnya. Dan infeksi ini dapat mengakibatkanmasalah pada ibu danjanin (Maesaroh & Fatmala, 2017). Pada masa kehamilan khususnya pada trisemester I dan III, kebiasaan ibu hamil untuk menahan air kencing, buang air kecil tidak tuntas dan akibat kebiasaan ibu kurang tepat dalam membersihkan area genital menjadi penyebab tumbuhnya bakteri. Ada berbagai macam bakteri diantaranya E-coli, klebsiella sp,proteus sp, providensiac, citrobacter, P-aeruginosa, acinetobacter, enterococu faecali, dan staphylococcus saprophyticus, namun sekitar 90% terjadinyaISKsecaraumumdisebabkanolehE-coli (Sari, 2016).

Banyak jenis bakteri yang hidup di dalam usus dan area genital, salah satunya bakteri E-coli. Bakteri E-coli yang secara tidak sengaja masuk kedalam sistem saluran kemih dapat memicu infeksi saluran kemih. Penyebaran bakteri ini menjadi alasan utama dokter menyarankan bagiwanita untuk menyeka dari depan kebelakang setelah buang air besar ataukecil. Hal ini dapat mengurangi penyebaran bakteri dari usus besar yangkeluar melalui anus masuk kedalam uretra. Bakteri melakukan perjalanan melalui uretra ke kandung kemih, tempatinfeksi dapat terjadi (Angrainy & Nurba, 2022).

Tingginya angka infeksi saluran kemih selama kehamilan menjadi perhatian penting. Insiden infeksi saluran kemih selama kehamilan semakin meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan. 58% kejadian infeksi saluran kemih meningkat selama kehamilan, terutama setelahkehamilan 30minggu (Angrainy & Nurba, 2022).

Berdasarkan hasil penelitian Edy Fakhrizal (2017) yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Arifin Achmad Provinsi Riau Kota Pekanbaru, sebanyak 27 pasien (36,5%) mengalami infeksi saluran kemih selama kehamilan.Hasil ini lebih besar daripada yang ditemukan oleh Lee et al. yang menyatakan bahwa perempuan hamil memiliki risiko ISK sebesar 2-10%. Pendidikan, pekerjaan, pengahasilan, usia kehamilan, kebiasaan menahan BAK, jumlah minum per hari, dan riwayat ISK sebelumnya.

Menurut teori, wanita yang berpendidikan tinggi mempunyai resiko ISK yang lebih rendah dibandingkan dengan yang berpendidikan rendah, Hal ini bisa disebabkan oleh kurangnya sumber informasi sehingga berdampak pada kurangnya pengetahuan ibu hamil. Teori menyebutkan kurangnya pengetahuan berhubungan dengan misinterpretasi informasi dan tidak mengenal sumber-sumber informasi. Tingkat pendidikan menunjukkan seberapa banyak subjek memahami tentang perilaku hidup bersih dan sehat, terutama tentang cara menjaga kebersihan diri dengan berkemih. Subjek dengan tingkat pendidikan lebih tinggi dianggap lebih memahami tentang perilaku hidup bersih dan sehat (Muchrom Ilham Affandi, 2019).

Solusi untuk mengatasi kejadian infeksi pada ibu hamil, maka diperlukan upaya peningkatan pengetahuan ibu hamil tentang infeksi saluran kemih yang akibat dari infeksi ini dapat mengakibatkan masalah pada ibu dan janin. Penting bagi wanita hamil untuk mengetahui ISK dan pencegahan perlu dilakukan supaya infeksi saluran kemih ini tidak terus bertambah dikalangan ibu hamil dan komplikasi dalam kehamilan juga dapat diatasi. Penelitian ini penting untuk dilakukan karena melihat realitas di masyarakat saat ini banyak sekali ibu hamil yang tidak melakukan skrining tes untuk mendeteksi adanya infeksi bakteri khususnya infeksi saluran kemih. Berdasarkan uraian latar belakang tersebut maka rumusan msalah dalam penelitian ini yaitu �Bagaimana Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Infeksi Saluran Kemih (ISK) di desa Sibolangit�. Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Infeksi Saluran Kemih (ISK) di desa Sibolangit.

Teori Pengetahuan dan Pencegahan Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada Ibu Hamil di Desa Sibolangit

Teori ini menyoroti kompleksitas masalah infeksi saluran kemih (ISK) pada ibu hamil di Desa Sibolangit. Faktor-faktor penyebab ISK, termasuk perubahan fisiologis tubuh selama kehamilan, seperti peningkatan risiko akibat uretra wanita yang lebih pendek, serta kebiasaan dan kurangnya pengetahuan ibu hamil dalam menjaga kebersihan diri, menjadi titik fokus utama. Terdapat pula poin krusial terkait risiko komplikasi pada kehamilan, seperti persalinan prematur, preeklampsia, hipertensi, gangguan pertumbuhan janin, dan persalinan secara seksiosefar, yang dapat dipicu oleh ISK.

Teori ini juga mengakui peran bakteri, khususnya E-coli, sebagai pemicu utama ISK dan mempertimbangkan solusi pencegahan, termasuk praktik kebersihan pribadi yang benar. Dalam konteks ini, tingkat pendidikan ibu hamil menjadi faktor kunci yang dapat mempengaruhi pengetahuan mereka tentang ISK. Wanita dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung memiliki pengetahuan yang lebih baik, sementara kurangnya pengetahuan dihubungkan dengan ketidakpahaman informasi dan kurangnya sumber informasi.

Dengan demikian, teori ini mengusulkan bahwa peningkatan tingkat pengetahuan melalui pendidikan formal dan pemberian informasi yang tepat dapat menjadi solusi efektif untuk mengurangi insiden ISK pada ibu hamil di Desa Sibolangit. Peningkatan pengetahuan ini diharapkan dapat mengubah perilaku dan praktik kebersihan, mengurangi risiko ISK, serta mengurangi dampak negatifnya pada kesehatan ibu dan bayi.

 

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif dengan pedekatan cross-sectional yang merupakan penelitian ditujukan untuk menggambarkan suatu keadaan secara objektif. Adapun pengambilan sampel ditentukan menggunakan rumus besar sampel untuk uji hipotesis analitik korelatif menurut adalah sebagai berikut:

Keterangan:

n = Jumlah sampel yang diperlukan

α = Deviat baku α (tingkat kesalahan tipe I) = 5%, maka Zα = 1,96

β = Deviat baku β (tingkat kesalahan tipe II) = 20%, maka Zβ = 0,842.

 

Penulis menggunakan tehnik yaitu Purposive Sampeling. Purposive Sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Variabel dalam penelitian ini adalah pengetauan ibu hamil tentang infeksi saluran kemih.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Responden

 

Tabel 1 Distribusi Frekuensi Responden

Berdasarkan Karakteristik Respoden

Karakteristik

Frekuensi (f)

Presentase (%)

Usia

 

 

<20 Tahun

8

12.3

20-30 Tahun

48

73.8

>30 Tahun

9

13.8

Pendidikan

 

 

SD

4

6.2

SMP

18

27.7

SMA

32

49.2

Perguruan Tinggi

11

16.9

Pekerjaan

 

 

Tidak Bekerja

40

61.5

Bekerja

25

38.5

Paritas

 

 

Primipara

27

41.5

Multipara

38

58.8

Total

65

100.0

 

Berdasarkan tabel 1 diatas menunjukan karakteristik responden berdasarkan usia sebagian besar usia responden yaitu kelompok 20-30 tahun sebanyak 48 orang (73.8%), karakteristik responden berdasarkan pendidikan sebagian besar responden berpendidikan tingkat SMA sebanyak 32 orang (49.2%), karakteristik responden berdasarkan pekerjaan sebagian besar responden tidak bekerja sebanyak 40 orang (61.5%), karakteristik responden berdasarkan paritas sebagian besar responden degan multipara sebanyak 38 orang (58.5%).

Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Infeksi Saluran Kemih

 

Tabel 2 Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil

Tentang Infeksi Saluran Kemih

Tingkat Pengetahuan

Frekuensi (f)

Presentase (%)

Baik

21

32.3

Cukup

37

56.9

Kurag

7

10.8

Total

65

100.0

 

Berdasarkan tabel 2 diatas menunjukan distribusi frekuensi tingkat pengetahuan ibu hamil tentang infeksi saluran kemih didapatkan sebagian besar responden dalam kategor pengetahuan cukup yaitu sebanyak 37 orang (56.9%).

 

Hubungan Karakteristik Responden Berdasarkan Usia, Pendidikan, Pekerjaan dan Paritas dengan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Infeksi Saluran Kemih

 

Tabel 3 Hubungan Karakteristik Responden Berdasarkan Usia, Pendidikan, Pekerjaan dan Paritas dengan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Infeksi Saluran Kemih (ISK)

Karakteristik Responden

Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Infeksi Saluran Kemih (ISK)

Total n

 

p-value

Kurang

%

Cukup

%

Baik

%

 

Usia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0.119

 

 

 

0.000

 

 

 

0.007

 

 

0.286

<20 Tahun

3

62.5

5

37.5

0

0.0

8

20-30 Tahun

16

25.0

27

64.6

5

10.4

48

>30 Tahun

3

44.4

5

33.3

1

22.2

9

Pendidikan

 

 

 

 

 

 

 

SD

2

50

2

50

0

0.0

4

SMP

6

77.8

10

22.2

2

0.0

18

SMA

10

9.4

18

87.5

4

3.1

32

Perguruan Tinggi

4

0.0

6

45.5

1

54.2

11

Pekerjaan

 

 

 

 

 

 

 

Tidak Bekerja

13

42.5

23

55

4

2.5

40

Bekerja

8

16

14

60

3

24

25

Paritas

 

 

 

 

 

 

 

Primipara

9

37

15

59.3

3

3.7

27

Multipara

12

28,9

22

55.3

4

15.8

38

 

Berdasarkan tabel 3 menunjukan bahwa karakreristik usia responden paling banyak berusia 20-30 tahun mayoritas memiliki pengetahuan yang cukup (64.6%), hasil uji chi-square diperoleh nilai p-value = 0.119 >a artinya tidak ada hubungan antara usia dengan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang ISK. Karakreristik Pendidikan responden paling banyak berpendidikan SMA mayoritas memiliki pengetahuan yang cukup (87.5%), hasil uji chi-square diperoleh nilai p-value = 0.000 <a artinya ada hubungan antara pendidikan dengan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang ISK. Karakreristik pekerjaan responden paling banyak tidak bekerja mayoritas memiliki pengetahuan yang cukup (55%), hasil uji chi-square diperoleh nilai p-value = 0.007 >a artinya ada hubungan antara pekerjaan dengan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang ISK. Karakreristik primipara responden paling banyak multipara mayoritas memiliki pengetahuan yang cukup (55.3%), hasil uji chi-square diperoleh nilai p-value = 0.286 >a artinya tidak ada hubungan antara paritas dengan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang ISK.

Pembahasan

Hubungan Karateristik dengan Tingkat Pengetahuan Infeksi Saluran Kemih (ISK)

Secara umum kemungkinan terjadi ISK bisa pada usia berapa pun ibu tersebut hamil. Usia reproduksi yang sehat bagi seorang wanita untuk hamil dan melahirkan yaitu 20 -35 tahun, karena pada usia ini alat-alat reproduksi sudah cukup matang dan siap untuk proses kehamilan dan persalinan.pada umur ibu yang kurang dari 20 tahun merupakan resiko tinggi karena selain alat reproduksi belum siap untuk menerima hasil konsepsi, secara psikologis belum cukup dewasa untuk menjadi seorang ibu, sedangkan pada umur di atas 35 tahun merupakan umur resiko tinggi karena alat-alat reproduksi telah mengalami kemunduran fungsinya berupa elastisitas otot-otot panggul dan sekitar organ- organ reproduksi lainnya (Indarti 2011).

Hasil penelitian Kandou Manado menunjukkan bahwa pasien ibu hamil berusia 40 tahun ke atas mengalami tingkat ISK yang lebih tinggi (Darsono et al., 2016). Ini berbeda dengan penelitian saya karena disebutkan dalam teori bahwa usia reproduktif ibu hamil adalah dari 20-35 tahun, dan dalam penelitian saya ditemukan bahwa 32% responden dengan usia 21-28 tahun mengalami ISK. Salah satu perubahan fisik yang dialami ibu hamil adalah kandung kemih yang tertekan, yang dapat menyebabkan infeksi saluran kemih. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan pada usia 21-28 tahun.

Pendidikan ibu adalah pendidikan formal untuk ibu yang terakhir yang telah menyelesaikan sekolah dasar, SMP (menengah), SMA (atas), dan perguruan tinggi. Responden yang menerima pendidikan SD adalah 10 (33,3 %), 13 (43,3%), dan 7 (23,3%). Notoatmodjo (2012) menyatakan bahwa tingkat pendidikan sangat erat terkait dengan penggunaan pelayanan kesehatan, yang berarti bahwa kondisi kesehatan seseorang lebih baik.

Hasil Penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati (2008), berjudul Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ISK pada ibu hamil, menemukan bahwa 43,3% dari responden memiliki tingkat pendidikan rendah. Artinya, tingkat pendidikan hanya mencapai SLTP/sederajat atau bahkan lebih rendah. Menurut peneliti, kurangnya pendidikan ibu hamil di wilayah kerja puskesmas pekauman banjarmasin disebabkan oleh status ekonomi keluarga yang buruk dan keyakinan bahwa pendidikan SLTP sudah cukup (Sri Antik, 2018).

Dapat di simpulkan Berdasarkan analisis distribusi frekuensi responden, mayoritas ibu hamil berusia 20-30 tahun, memiliki pendidikan tingkat SMA, tidak bekerja, dan sebagian besar merupakan multipara. Meskipun sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan cukup tentang infeksi saluran kemih (ISK), hubungan antara karakteristik seperti usia dan paritas dengan tingkat pengetahuan tidak signifikan. Namun, terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan dan pekerjaan ibu hamil dengan tingkat pengetahuan tentang ISK. Temuan ini mengindikasikan pentingnya pendidikan formal dan status pekerjaan dalam meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang ISK (GALUH, 2022).

Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Infeksi Saluran Kemih

Berdasarkan tabel 2 diatas menunjukan distribusi frekuensi tingkat pengetahuan ibu hamil tentang infeksi saluran kemih didapatkan sebagian besar responden dalam kategor pengetahuan cukup yaitu sebanyak 37 orang (56.9%).

Infeksi saluran pernafasan adalah masalah kesehatan terbesar kedua setelah penyakit infeksi, yang merupakan masalah global yang terjadi di negara berkembang maupun negara maju.Wanita saat hamil lebih beresiko�� lagi�� menderita�� infeksi�� saluran kemih�� karena�� perubahan anatomi dan fisiologis yang terjadi pada tubuhnya (Angrainy & Nurba, 2022). Infeksi Saluran kemih disebabkan oleh adanya pertumbuhan mikroorganisme pada saluran kemih.Pada saat Infeksi saluran kemih terjadi pada�� wanita hamil maka akan menyebabkan BBLR dan kelahiran�� premature, preeclampsia, dan persalinan dengan SC (Sintawati, 2022)

pengetahuan��� seseorang dipengaruhi oleh pendidikan,pendidikanmerupakan seluruh proses kehid upan yangdimilikiolehsetiapindividuyangberupainteraksiindividudenganlingkungannya (Manasikana & Anggraeni, 2018).Baik secara formal maupun informal yang melibatkan prilaku individu maupun kelompok.Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan�� oleh�� seseorang kepada perkembangan orang lainuntukmenujukearah cita-citatertentu�� untuk�� mengisikehidupansehinggadapat���� mencapaikebahagiaan.

Dapat di simpulkan Tingkat pengetahuan ibu hamil tentang infeksi saluran kemih didominasi oleh kategori pengetahuan cukup, dengan 37 responden (56.9%). Infeksi saluran kemih pada wanita hamil merupakan risiko kesehatan yang signifikan, disebabkan oleh perubahan anatomi dan fisiologis tubuh. Dampaknya meliputi risiko berat bayi lahir rendah, kelahiran prematur, preeklamsia, dan persalinan dengan operasi caesar. Pendidikan dianggap sebagai faktor penting yang memengaruhi pengetahuan seseorang, mencakup interaksi individu dengan lingkungan formal dan informal. Oleh karena itu, peningkatan pengetahuan ibu hamil tentang infeksi saluran kemih perlu diperhatikan untuk meningkatkan kesehatan maternal dan neonatal.

 

KESIMPULAN

Karakteristik responden berdasarkan usia sebagian besar kelompok 20-30 tahun (73.8%) dan tidak ada hubungan antara usia dengan tingkat pengetahuan ISK p-value = 0.119, karakteristik responden berdasarkan pendidikan sebagian besar SMA (49.2%) dan ada hubungan antara Pendidikan dengan tingkat pengetahuan ISK p-value = 0.000, karakteristik responden berdasarkan pekerjaan sebagian besar responden tidak bekerja (61.1%) dan ada hubungan antara pekerjaan dengan tingkat pengetahuan ISK p-value = 0.007, karakteristik responden berdasarkan paritas sebagian besar responden degan multipara (58.5%) dan tidak ada hubungan antara paritas dengan tingkat pengeftahuan ISK p-value = 0.286. Tingkat pengetahuan ibu hamil tentang infeksi saluran kemih didapatkan sebagian besar responden dalam kategori pengetahuan cukup (56.9%).

�������

BIBLIOGRAFI

Angrainy, R., & Nurba, R. (2022). Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Infeksi Saluran Kemih di Wilayah Kerja Puskesmas Sidomulyo Kota Pekanbaru. Jurnal Kesehatan Maharatu, 3(1), 116�126.

 

Darsono, P. V., Mahdiyah, D., & Fahrianti, F. (2016). Gambaran karakteristik ibu hamil yang mengalami infeksi saluran kemih (ISK) di wilayah kerja Puskesmas Pekauman Banjarmasin. DINAMIKA KESEHATAN: JURNAL KEBIDANAN DAN KEPERAWATAN, 7(1), 150�159.

 

GALUH, N. D. S. (2022). ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH PADA NY. T DENGAN DIAGNOSA MEDIS INFEKSI SALURAN KEMIH DI RUANG JANTUNG DAN HCU JANTUNG RSPAL DR RAMELAN SURABAYA. STIKES HANG TUAH SURABAYA.

 

Hotmauli, H., Fitri, I., Irawan, M. P., & Azhari, S. F. (2021). Gambaran Leukosit pada Sedimen Urine Ibu Hamil. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, 3(3), 541�548.

 

Maesaroh, S., & Fatmala, K. (2017). HUBUNGAN ANTARA PARITAS DENGAN KEJADIAN PENYAKIT INFEKSI SALURAN KEMIH PADA IBU HAMIL DI RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA TAHUN 2011. Jurnal Kebidanan Indonesia, 3(1).

 

Manasikana, A., & Anggraeni, C. W. (2018). Pendidikan karakter dan mutu pendidikan indonesia.

 

Muchrom Ilham Affandi, M. I. A. (2019). Hubungan tingkat pendidikan dan usia terhadap sikap keluarga dalam melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di Jorong Koto Kociak Kab. 50 Kota tahun 209. stikes perintis padang.

 

Puji, L. K. R., Ismaya, N. A., Ratnaningtyas, T. O., Hasanah, N., & Fitriah, N. (2021). Hubungan Antara Aktivitas Fisik, Stres Dan Pola Tidur Dengan Premenstrual Syndrome (Pms) Pada Mahasiswi Prodi D3 Farmasi Stikes Kharisma Persada. Edu Dharma Journal: Jurnal Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat, 5(1), 1. https://doi.org/10.52031/edj.v5i1.90

 

Rinata, E. (2019). Buku Ajar Asuhan Kebidanan Pathologi I (KEHAMILAN). Umsida Press, 1�99.

 

Sari, R. P. (2016). Angka Kejadian Infeksi Saluran Kemih (ISK) dan Faktor Resiko Yang Mempengaruhi Pada Karyawan Wanita di Universitas Lampung.

 

SIMBOLON, L. R. (2019). GAMBARAN SEDIMEN URINE PADA PENDERITA INFEKSI SALURAN KEMIH DI LABORATORIUM KESEHATAN MEDAN.

 

Sintawati, E. (2022). Hubungan Pre Eklampsia Dengan Persalinan Prematur. ITSKes Insan Cendekia Medika.

 

Sri Antik, J. (2018). Jaya Sri Antik NIM: S. 15.1548 Gambaran kejadian kekurangan energi kronik (kek) dan pola makan pada wanita Usia subur (wus) di wilayah kerja Puskesmas kelayan timur Banjarmasin. KTI Akademi Kebidanan Sari Mulia.

 

SYAFFIRA, D. (2021). DAMPAK PERIDONTITIS YANG TERJADI PADA RENTAN UMUR 36-45 TAHUN (STUDI PUSTAKA). Poltekkes Tanjungkarang.

 

Wa Ode Asriyani, P., Misbah, S. R., & Darmayani, S. (2016). PERBEDAAN HASIL PEMERIKSAAN SEDIMEN URINE YANG DIPERIKSA KURANG DARI 1 JAM DAN LEBIH DARI 1 JAM PADA PASIEN SUSPEK INFEKSI SALURAN KEMIH DI RSUD KOTA KENDARI. Poltekkes Kemenkes Kendari.