TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG
INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK) DI DESA SIBOLANGIT
Indah Sherbina Br Tarigan1,
Ade Indra Mukti2, OK Yulizal3
Universitas Prima Indonesia
Medan, Indonesia
|
Keywords |
Abstract |
|
Knowledge Level, Urinary Tract Infection
(UTI), Pregnant Women |
This research was conducted
to understand the level of knowledge of pregnant women regarding Urinary
Tract Infections (UTI) in Sibolangit Village, a deep need considering the
serious impact of UTI on maternal and neonatal health. The research location
was chosen in Sibolangit Village to get a representative picture of pregnant
women's knowledge regarding UTI in a rural environment. It is hoped that this
data can become the basis for planning more effective and targeted public
health intervention programs to increase knowledge of pregnant women, prevent
the risk of UTIs, and improve the health of mothers and babies in Sibolangit
Village. The aim of this research is to determine the level of knowledge of
pregnant women about UTI in Sibolangit Village, using quantitative research
and a cross-sectional approach. The research results showed that the majority
of pregnant women in Sibolangit Village were aged 20-30 years with a
sufficient level of knowledge about UTI of 64.6%. The chi-square test showed
there was no significant relationship between age and level of knowledge of
UTI, while the level of education and employment of pregnant women showed a
significant relationship with level of knowledge. This research highlights
the risk of UTI at the age of 21-28 years, in contrast to the healthy
reproductive age theory. Education and employment factors play an important
role, with low levels of education being associated with less UTI knowledge.
These findings emphasize the need for special attention to formal education
and employment status to increase pregnant women's knowledge about UTI in
Sibolangit Village, in order to improve maternal and neonatal health. |
|
Kata Kunci |
Abstrak |
|
Tingkat
Pengetahuan, Infeksi Saluran Kemih (ISK), Ibu Hamil |
Penelitian
ini dilakukan untuk memahami tingkat pengetahuan ibu hamil terkait Infeksi
Saluran Kemih (ISK) di Desa Sibolangit, sebuah kebutuhan mendalam mengingat
dampak serius ISK pada kesehatan maternal dan neonatal. Lokasi penelitian
dipilih di Desa Sibolangit untuk mendapatkan gambaran representatif mengenai
pengetahuan ibu hamil terkait ISK di lingkungan pedesaan. Data ini diharapkan
dapat menjadi dasar untuk perencanaan program intervensi kesehatan masyarakat
yang lebih efektif dan terarah guna meningkatkan pengetahuan ibu hamil,
mencegah risiko ISK, serta meningkatkan kesehatan ibu dan bayi di Desa
Sibolangit. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat pengetahuan ibu
hamil tentang ISK di Desa Sibolangit, dengan menggunakan penelitian
kuantitatif dan pendekatan cross-sectional. Hasil penelitian menunjukkan
sebagian besar ibu hamil di Desa Sibolangit berusia 20-30 tahun dengan
tingkat pengetahuan cukup tentang ISK sebesar 64.6%. Uji chi-square
menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara usia dan tingkat pengetahuan
ISK, sementara tingkat pendidikan dan pekerjaan ibu hamil menunjukkan
hubungan yang signifikan dengan tingkat pengetahuan. Penelitian ini menyoroti
risiko ISK pada usia 21-28 tahun, berbeda dengan teori usia reproduktif
sehat. Faktor pendidikan dan pekerjaan memainkan peran penting, dengan
tingkat pendidikan rendah dikaitkan dengan pengetahuan ISK yang kurang.
Temuan ini menekankan perlunya perhatian khusus terhadap pendidikan formal
dan status pekerjaan untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang ISK di
Desa Sibolangit, guna meningkatkan kesehatan maternal dan neonatal. |
Corresponding Author: OK Yulizal
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Penyakit
infeksi membunuh lebih dari 10 juta penduduk di negara berkembang setiap
tahunnya. Banyak di antara mereka meninggal karena penanganan yang buruk yang
menyebabkan masalah kesehatan atau kegagalan awal untuk mencegah infeksi. Ini
dapat terjadi karena mikroorganisme menyerang jaringan pejamu atau karena
mikroorganisme mempengaruhi permukaan mukosa (SYAFFIRA,
2021).
Infeksi
organ urogenitalia adalah salah satu penyakit infeksi yang sering dilihat
sehari-hari, mulai dari infeksi ringan yang baru diketahui saat pemeriksaan
urin hingga infeksi berat yang dapat mengancam jiwa (Wa Ode
Asriyani et al., 2016). Infeksi ini biasanya dimulai dengan
infeksi saluran kemih (ISK), yang kemudian menyebar ke organ reproduksi, bahkan
ke ginjal (SIMBOLON,
2019). Reaksi inflamasi sel-sel urotelium yang melapisi saluran
kemih dikenal sebagai infeksi saluran kemih. Infeksi saluran kemih akut terbagi
menjadi dua kategori umum berdasarkan lokasi anatomi: infeksi saluran bawah
(uretritis, sistitis, dan prostatitis) dan infeksi saluran atas (pielonefritis
akut, abses intrarenal, dan perinefrik). Infeksi dapat terjadi di tempat-tempat
ini secara bersamaan atau secara terpisah, dan dapat tidak menunjukkan gejala
apa pun atau tidak sama sekali. Beberapa faktor yang dapat memengaruhi patogenitas
infeksi saluran kemih antara lain jenis kelamin, aktivitas seksual, sumbatan,
disfungsi neurogenik kandung kemih, refluks vesikoureteral, serta kehamilan (Isselbach
et al, 2014).
Perempuan
lebih rentan terhadap infeksi saluran kemih dibandingkan pria karena uretra
wanita lebih pendek dibandingkan pria karena perubahan fisiologis dan anatomis
yang terjadi pada tubuh mereka selama kehamilan. Infeksi saluran kemih terjadi
pada 20% wanita hamil (Angrainy
& Nurba, 2022). Deteksi dini terhadap komplikasi
kehamilan merupakan suatu upaya penjaringan yang dilakukan untuk menemukan
penyimpangan-penyimpangan yang terjadi selama kehamilan (Rinata,
2019).
Wanita
hamil yang mengalami ISK dapat meningkatkan risiko� terjadinya persalinan prematur, preeklampsia,
hipertensi, gangguan pertumbuhan janin dalam rahim/Intra� Uterine Grow Restriction (IUGR) dan
persalinan secara seksiosesar pada�
pasien hamil yang mengalami Infeksi Saluran Kemih (Hotmauli
et al., 2021). Sekitar 15% wanita mengalami�� paling sedikit satu kali serangan akut
infeksi saluran kemih selama hidupnya. Dan infeksi ini dapat mengakibatkan� masalah pada ibu dan� janin (Maesaroh
& Fatmala, 2017). Pada masa kehamilan khususnya pada
trisemester I dan III, kebiasaan ibu hamil untuk menahan air kencing, buang air
kecil tidak tuntas dan akibat kebiasaan ibu kurang tepat dalam membersihkan
area genital menjadi penyebab tumbuhnya bakteri. Ada berbagai macam bakteri
diantaranya E-coli, klebsiella sp,�
proteus sp, providensiac, citrobacter, P-aeruginosa, acinetobacter,
enterococu faecali, dan staphylococcus saprophyticus, namun sekitar 90%
terjadinya� ISK� secara�
umum� disebabkan� oleh�
E-coli (Sari,
2016).
Banyak
jenis bakteri yang hidup di dalam usus dan area genital, salah satunya bakteri
E-coli. Bakteri E-coli yang secara tidak sengaja masuk kedalam sistem saluran
kemih dapat memicu infeksi saluran kemih. Penyebaran bakteri ini menjadi alasan
utama dokter menyarankan bagi� wanita
untuk menyeka dari depan kebelakang setelah buang air besar atau� kecil. Hal ini dapat mengurangi penyebaran
bakteri dari usus besar yang� keluar
melalui anus masuk kedalam uretra. Bakteri melakukan perjalanan melalui uretra
ke kandung kemih, tempat� infeksi dapat
terjadi (Angrainy
& Nurba, 2022).
Tingginya
angka infeksi saluran kemih selama kehamilan menjadi perhatian penting. Insiden
infeksi saluran kemih selama kehamilan semakin meningkat seiring bertambahnya
usia kehamilan. 58% kejadian infeksi saluran kemih meningkat selama kehamilan,
terutama setelah� kehamilan 30� minggu (Angrainy
& Nurba, 2022).
Berdasarkan
hasil penelitian Edy Fakhrizal (2017) yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah
Arifin Achmad Provinsi Riau Kota Pekanbaru, sebanyak 27 pasien (36,5%)
mengalami infeksi saluran kemih selama kehamilan.� Hasil ini lebih besar daripada yang ditemukan
oleh Lee et al. yang menyatakan bahwa perempuan hamil memiliki risiko ISK
sebesar 2-10%. Pendidikan, pekerjaan, pengahasilan, usia kehamilan, kebiasaan
menahan BAK, jumlah minum per hari, dan riwayat ISK sebelumnya.
Menurut
teori, wanita yang berpendidikan tinggi mempunyai resiko ISK yang lebih rendah
dibandingkan dengan yang berpendidikan rendah, Hal ini bisa disebabkan oleh
kurangnya sumber informasi sehingga berdampak pada kurangnya pengetahuan ibu
hamil. Teori menyebutkan kurangnya pengetahuan berhubungan dengan
misinterpretasi informasi dan tidak mengenal sumber-sumber informasi. Tingkat
pendidikan menunjukkan seberapa banyak subjek memahami tentang perilaku hidup
bersih dan sehat, terutama tentang cara menjaga kebersihan diri dengan
berkemih. Subjek dengan tingkat pendidikan lebih tinggi dianggap lebih memahami
tentang perilaku hidup bersih dan sehat (Muchrom
Ilham Affandi, 2019).
Solusi
untuk mengatasi kejadian infeksi pada ibu hamil, maka diperlukan upaya
peningkatan pengetahuan ibu hamil tentang infeksi saluran kemih yang akibat
dari infeksi ini dapat mengakibatkan masalah pada ibu dan janin. Penting bagi
wanita hamil untuk mengetahui ISK dan pencegahan perlu dilakukan supaya infeksi
saluran kemih ini tidak terus bertambah dikalangan ibu hamil dan komplikasi
dalam kehamilan juga dapat diatasi. Penelitian ini penting untuk dilakukan
karena melihat realitas di masyarakat saat ini banyak sekali ibu hamil yang
tidak melakukan skrining tes untuk mendeteksi adanya infeksi bakteri khususnya
infeksi saluran kemih. Berdasarkan uraian latar belakang tersebut maka rumusan
msalah dalam penelitian ini yaitu �Bagaimana Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil
Tentang Infeksi Saluran Kemih (ISK) di desa Sibolangit�. Penelitian ini
bertujuan Untuk mengetahui Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Infeksi
Saluran Kemih (ISK) di desa Sibolangit.
Teori Pengetahuan dan Pencegahan Infeksi
Saluran Kemih (ISK) pada Ibu Hamil di Desa Sibolangit
Teori
ini menyoroti kompleksitas masalah infeksi saluran kemih (ISK) pada ibu hamil
di Desa Sibolangit. Faktor-faktor penyebab ISK, termasuk perubahan fisiologis
tubuh selama kehamilan, seperti peningkatan risiko akibat uretra wanita yang
lebih pendek, serta kebiasaan dan kurangnya pengetahuan ibu hamil dalam menjaga
kebersihan diri, menjadi titik fokus utama. Terdapat pula poin krusial terkait
risiko komplikasi pada kehamilan, seperti persalinan prematur, preeklampsia,
hipertensi, gangguan pertumbuhan janin, dan persalinan secara seksiosefar, yang
dapat dipicu oleh ISK.
Teori
ini juga mengakui peran bakteri, khususnya E-coli, sebagai pemicu utama ISK dan
mempertimbangkan solusi pencegahan, termasuk praktik kebersihan pribadi yang
benar. Dalam konteks ini, tingkat pendidikan ibu hamil menjadi faktor kunci
yang dapat mempengaruhi pengetahuan mereka tentang ISK. Wanita dengan tingkat
pendidikan yang lebih tinggi cenderung memiliki pengetahuan yang lebih baik,
sementara kurangnya pengetahuan dihubungkan dengan ketidakpahaman informasi dan
kurangnya sumber informasi.
Dengan
demikian, teori ini mengusulkan bahwa peningkatan tingkat pengetahuan melalui
pendidikan formal dan pemberian informasi yang tepat dapat menjadi solusi
efektif untuk mengurangi insiden ISK pada ibu hamil di Desa Sibolangit.
Peningkatan pengetahuan ini diharapkan dapat mengubah perilaku dan praktik
kebersihan, mengurangi risiko ISK, serta mengurangi dampak negatifnya pada
kesehatan ibu dan bayi.
METODE PENELITIAN
Jenis
penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kuantitatif.
Rancangan penelitian ini adalah deskriptif dengan pedekatan cross-sectional
yang merupakan penelitian ditujukan untuk menggambarkan suatu keadaan secara
objektif. Adapun pengambilan sampel ditentukan menggunakan rumus besar sampel
untuk uji hipotesis analitik korelatif menurut adalah sebagai berikut:
![]()
![]()
Keterangan:
n
= Jumlah sampel yang diperlukan
α
= Deviat baku α (tingkat kesalahan tipe I) = 5%, maka Zα = 1,96
β
= Deviat baku β (tingkat kesalahan tipe II) = 20%, maka Zβ = 0,842.
Penulis
menggunakan tehnik yaitu Purposive Sampeling. Purposive Sampling adalah teknik
penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Variabel dalam penelitian ini
adalah pengetauan ibu hamil tentang infeksi saluran kemih.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik
Responden
Tabel 1 Distribusi Frekuensi Responden
Berdasarkan Karakteristik Respoden
|
Karakteristik |
Frekuensi
(f) |
Presentase
(%) |
|
Usia |
|
|
|
<20
Tahun |
8 |
12.3 |
|
20-30
Tahun |
48 |
73.8 |
|
>30
Tahun |
9 |
13.8 |
|
Pendidikan |
|
|
|
SD |
4 |
6.2 |
|
SMP |
18 |
27.7 |
|
SMA |
32 |
49.2 |
|
Perguruan
Tinggi |
11 |
16.9 |
|
Pekerjaan |
|
|
|
Tidak
Bekerja |
40 |
61.5 |
|
Bekerja |
25 |
38.5 |
|
Paritas |
|
|
|
Primipara |
27 |
41.5 |
|
Multipara |
38 |
58.8 |
|
Total |
65 |
100.0 |
Berdasarkan
tabel 1 diatas menunjukan karakteristik responden berdasarkan usia sebagian
besar usia responden yaitu kelompok 20-30 tahun sebanyak 48 orang (73.8%), karakteristik
responden berdasarkan pendidikan sebagian besar responden berpendidikan tingkat
SMA sebanyak 32 orang (49.2%), karakteristik responden berdasarkan pekerjaan
sebagian besar responden tidak bekerja sebanyak 40 orang (61.5%), karakteristik
responden berdasarkan paritas sebagian besar responden degan multipara sebanyak
38 orang (58.5%).
Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang
Infeksi Saluran Kemih
Tabel 2 Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil
Tentang Infeksi Saluran Kemih
|
Tingkat Pengetahuan |
Frekuensi (f) |
Presentase (%) |
|
Baik |
21 |
32.3 |
|
Cukup |
37 |
56.9 |
|
Kurag |
7 |
10.8 |
|
Total |
65 |
100.0 |
Berdasarkan
tabel 2 diatas menunjukan distribusi frekuensi tingkat pengetahuan ibu hamil
tentang infeksi saluran kemih didapatkan sebagian besar responden dalam kategor
pengetahuan cukup yaitu sebanyak 37 orang (56.9%).
Hubungan
Karakteristik Responden Berdasarkan Usia, Pendidikan, Pekerjaan dan Paritas
dengan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Infeksi Saluran Kemih
Tabel 3 Hubungan Karakteristik Responden
Berdasarkan Usia, Pendidikan, Pekerjaan dan Paritas dengan Tingkat Pengetahuan
Ibu Hamil Tentang Infeksi Saluran Kemih (ISK)
|
Karakteristik
Responden |
Tingkat
Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Infeksi Saluran Kemih (ISK) |
Total n |
p-value |
|||||
|
Kurang |
% |
Cukup |
% |
Baik |
% |
|
||
|
Usia |
|
|
|
|
|
|
|
0.119 0.000 0.007 0.286 |
|
<20
Tahun |
3 |
62.5 |
5 |
37.5 |
0 |
0.0 |
8 |
|
|
20-30
Tahun |
16 |
25.0 |
27 |
64.6 |
5 |
10.4 |
48 |
|
|
>30
Tahun |
3 |
44.4 |
5 |
33.3 |
1 |
22.2 |
9 |
|
|
Pendidikan |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
SD |
2 |
50 |
2 |
50 |
0 |
0.0 |
4 |
|
|
SMP |
6 |
77.8 |
10 |
22.2 |
2 |
0.0 |
18 |
|
|
SMA |
10 |
9.4 |
18 |
87.5 |
4 |
3.1 |
32 |
|
|
Perguruan
Tinggi |
4 |
0.0 |
6 |
45.5 |
1 |
54.2 |
11 |
|
|
Pekerjaan |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Tidak
Bekerja |
13 |
42.5 |
23 |
55 |
4 |
2.5 |
40 |
|
|
Bekerja |
8 |
16 |
14 |
60 |
3 |
24 |
25 |
|
|
Paritas |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Primipara |
9 |
37 |
15 |
59.3 |
3 |
3.7 |
27 |
|
|
Multipara |
12 |
28,9 |
22 |
55.3 |
4 |
15.8 |
38 |
|
Berdasarkan
tabel 3 menunjukan bahwa karakreristik usia responden paling banyak berusia
20-30 tahun mayoritas memiliki pengetahuan yang cukup (64.6%), hasil uji
chi-square diperoleh nilai p-value = 0.119 >a artinya tidak ada hubungan
antara usia dengan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang ISK. Karakreristik
Pendidikan responden paling banyak berpendidikan SMA mayoritas memiliki
pengetahuan yang cukup (87.5%), hasil uji chi-square diperoleh nilai p-value =
0.000 <a artinya ada hubungan antara pendidikan dengan tingkat pengetahuan
ibu hamil tentang ISK. Karakreristik pekerjaan responden paling banyak tidak
bekerja mayoritas memiliki pengetahuan yang cukup (55%), hasil uji chi-square
diperoleh nilai p-value = 0.007 >a artinya ada hubungan antara pekerjaan
dengan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang ISK. Karakreristik primipara
responden paling banyak multipara mayoritas memiliki pengetahuan yang cukup
(55.3%), hasil uji chi-square diperoleh nilai p-value = 0.286 >a artinya
tidak ada hubungan antara paritas dengan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang
ISK.
Pembahasan
Hubungan Karateristik dengan Tingkat
Pengetahuan Infeksi Saluran Kemih (ISK)
Secara
umum kemungkinan terjadi ISK bisa pada usia berapa pun ibu tersebut hamil. Usia
reproduksi yang sehat bagi seorang wanita untuk hamil dan melahirkan yaitu 20
-35 tahun, karena pada usia ini alat-alat reproduksi sudah cukup matang dan
siap untuk proses kehamilan dan persalinan.pada umur ibu yang kurang dari 20
tahun merupakan resiko tinggi karena selain alat reproduksi belum siap untuk
menerima hasil konsepsi, secara psikologis belum cukup dewasa untuk menjadi
seorang ibu, sedangkan pada umur di atas 35 tahun merupakan umur resiko tinggi
karena alat-alat reproduksi telah mengalami kemunduran fungsinya berupa
elastisitas otot-otot panggul dan sekitar organ- organ reproduksi lainnya
(Indarti 2011).
Hasil
penelitian Kandou Manado menunjukkan bahwa pasien ibu hamil berusia 40 tahun ke
atas mengalami tingkat ISK yang lebih tinggi (Darsono et al., 2016). Ini berbeda dengan
penelitian saya karena disebutkan dalam teori bahwa usia reproduktif ibu hamil
adalah dari 20-35 tahun, dan dalam penelitian saya ditemukan bahwa 32%
responden dengan usia 21-28 tahun mengalami ISK. Salah satu perubahan fisik
yang dialami ibu hamil adalah kandung kemih yang tertekan, yang dapat menyebabkan
infeksi saluran kemih. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan pada usia
21-28 tahun.
Pendidikan
ibu adalah pendidikan formal untuk ibu yang terakhir yang telah menyelesaikan
sekolah dasar, SMP (menengah), SMA (atas), dan perguruan tinggi. Responden yang
menerima pendidikan SD adalah 10 (33,3 %), 13 (43,3%), dan 7 (23,3%).
Notoatmodjo (2012) menyatakan bahwa tingkat pendidikan sangat erat terkait
dengan penggunaan pelayanan kesehatan, yang berarti bahwa kondisi kesehatan
seseorang lebih baik.
Hasil
Penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati (2008), berjudul Faktor-faktor yang
berhubungan dengan kejadian ISK pada ibu hamil, menemukan bahwa 43,3% dari
responden memiliki tingkat pendidikan rendah. Artinya, tingkat pendidikan hanya
mencapai SLTP/sederajat atau bahkan lebih rendah. Menurut peneliti, kurangnya
pendidikan ibu hamil di wilayah kerja puskesmas pekauman banjarmasin disebabkan
oleh status ekonomi keluarga yang buruk dan keyakinan bahwa pendidikan SLTP
sudah cukup (Sri Antik, 2018).
Dapat
di simpulkan Berdasarkan analisis distribusi frekuensi responden, mayoritas ibu
hamil berusia 20-30 tahun, memiliki pendidikan tingkat SMA, tidak bekerja, dan
sebagian besar merupakan multipara. Meskipun sebagian besar responden memiliki
tingkat pengetahuan cukup tentang infeksi saluran kemih (ISK), hubungan antara
karakteristik seperti usia dan paritas dengan tingkat pengetahuan tidak
signifikan. Namun, terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan dan
pekerjaan ibu hamil dengan tingkat pengetahuan tentang ISK. Temuan ini
mengindikasikan pentingnya pendidikan formal dan status pekerjaan dalam
meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang ISK (GALUH, 2022).
Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang
Infeksi Saluran Kemih
Berdasarkan
tabel 2 diatas menunjukan distribusi frekuensi tingkat pengetahuan ibu hamil
tentang infeksi saluran kemih didapatkan sebagian besar responden dalam kategor
pengetahuan cukup yaitu sebanyak 37 orang (56.9%).
Infeksi
saluran pernafasan adalah masalah kesehatan terbesar kedua setelah penyakit
infeksi, yang merupakan masalah global yang terjadi di negara berkembang maupun
negara maju.� Wanita saat hamil lebih
beresiko�� lagi�� menderita��
infeksi�� saluran kemih�� karena��
perubahan anatomi dan fisiologis yang terjadi pada tubuhnya (Angrainy & Nurba, 2022). Infeksi Saluran
kemih disebabkan oleh adanya pertumbuhan mikroorganisme pada saluran
kemih.� Pada saat Infeksi saluran kemih
terjadi pada�� wanita hamil maka akan
menyebabkan BBLR dan kelahiran��
premature, preeclampsia, dan persalinan dengan SC (Sintawati, 2022)
pengetahuan��� seseorang dipengaruhi oleh pendidikan,� pendidikan�
merupakan seluruh proses kehid upan yang�
dimiliki� oleh� setiap�
individu� yang� berupa�
interaksi� individu� dengan�
lingkungannya (Manasikana & Anggraeni, 2018).� Baik secara formal
maupun informal yang melibatkan prilaku individu maupun kelompok.� Pendidikan berarti bimbingan yang
diberikan�� oleh�� seseorang kepada perkembangan orang
lain� untuk� menuju�
kearah cita-cita� tertentu�� untuk��
mengisi� kehidupan� sehingga�
dapat���� mencapai� kebahagiaan.
Dapat
di simpulkan Tingkat pengetahuan ibu hamil tentang infeksi saluran kemih
didominasi oleh kategori pengetahuan cukup, dengan 37 responden (56.9%).
Infeksi saluran kemih pada wanita hamil merupakan risiko kesehatan yang
signifikan, disebabkan oleh perubahan anatomi dan fisiologis tubuh. Dampaknya
meliputi risiko berat bayi lahir rendah, kelahiran prematur, preeklamsia, dan
persalinan dengan operasi caesar. Pendidikan dianggap sebagai faktor penting
yang memengaruhi pengetahuan seseorang, mencakup interaksi individu dengan
lingkungan formal dan informal. Oleh karena itu, peningkatan pengetahuan ibu
hamil tentang infeksi saluran kemih perlu diperhatikan untuk meningkatkan
kesehatan maternal dan neonatal.
KESIMPULAN
Karakteristik
responden berdasarkan usia sebagian besar kelompok 20-30 tahun (73.8%) dan
tidak ada hubungan antara usia dengan tingkat pengetahuan ISK p-value = 0.119,
karakteristik responden berdasarkan pendidikan sebagian besar SMA (49.2%) dan
ada hubungan antara Pendidikan dengan tingkat pengetahuan ISK p-value = 0.000,
karakteristik responden berdasarkan pekerjaan sebagian besar responden tidak
bekerja (61.1%) dan ada hubungan antara pekerjaan dengan tingkat pengetahuan
ISK p-value = 0.007, karakteristik responden berdasarkan paritas sebagian besar
responden degan multipara (58.5%) dan tidak ada hubungan antara paritas dengan
tingkat pengeftahuan ISK p-value = 0.286. Tingkat pengetahuan ibu hamil tentang
infeksi saluran kemih didapatkan sebagian besar responden dalam kategori
pengetahuan cukup (56.9%).
�������
BIBLIOGRAFI
Angrainy, R., & Nurba, R. (2022).
Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Infeksi Saluran Kemih di Wilayah Kerja Puskesmas
Sidomulyo Kota Pekanbaru. Jurnal Kesehatan Maharatu, 3(1),
116�126.
Darsono, P. V.,
Mahdiyah, D., & Fahrianti, F. (2016). Gambaran karakteristik ibu hamil yang
mengalami infeksi saluran kemih (ISK) di wilayah kerja Puskesmas Pekauman
Banjarmasin. DINAMIKA KESEHATAN: JURNAL KEBIDANAN DAN KEPERAWATAN, 7(1),
150�159.
GALUH, N. D. S.
(2022). ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH PADA NY. T DENGAN DIAGNOSA MEDIS
INFEKSI SALURAN KEMIH DI RUANG JANTUNG DAN HCU JANTUNG RSPAL DR RAMELAN
SURABAYA. STIKES HANG TUAH SURABAYA.
Hotmauli, H., Fitri,
I., Irawan, M. P., & Azhari, S. F. (2021). Gambaran Leukosit pada Sedimen
Urine Ibu Hamil. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, 3(3),
541�548.
Maesaroh, S., &
Fatmala, K. (2017). HUBUNGAN ANTARA PARITAS DENGAN KEJADIAN PENYAKIT INFEKSI
SALURAN KEMIH PADA IBU HAMIL DI RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA TAHUN 2011. Jurnal
Kebidanan Indonesia, 3(1).
Manasikana, A., &
Anggraeni, C. W. (2018). Pendidikan karakter dan mutu pendidikan indonesia.
Muchrom Ilham Affandi,
M. I. A. (2019). Hubungan tingkat pendidikan dan usia terhadap sikap
keluarga dalam melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di Jorong
Koto Kociak Kab. 50 Kota tahun 209. stikes perintis padang.
Puji, L. K. R.,
Ismaya, N. A., Ratnaningtyas, T. O., Hasanah, N., & Fitriah, N. (2021).
Hubungan Antara Aktivitas Fisik, Stres Dan Pola Tidur Dengan Premenstrual
Syndrome (Pms) Pada Mahasiswi Prodi D3 Farmasi Stikes Kharisma Persada. Edu
Dharma Journal: Jurnal Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat, 5(1),
1. https://doi.org/10.52031/edj.v5i1.90
Rinata, E. (2019).
Buku Ajar Asuhan Kebidanan Pathologi I (KEHAMILAN). Umsida Press, 1�99.
Sari, R. P. (2016). Angka
Kejadian Infeksi Saluran Kemih (ISK) dan Faktor Resiko Yang Mempengaruhi Pada
Karyawan Wanita di Universitas Lampung.
SIMBOLON, L. R.
(2019). GAMBARAN SEDIMEN URINE PADA PENDERITA INFEKSI SALURAN KEMIH DI
LABORATORIUM KESEHATAN MEDAN.
Sintawati, E. (2022). Hubungan
Pre Eklampsia Dengan Persalinan Prematur. ITSKes Insan Cendekia Medika.
Sri Antik, J. (2018).
Jaya Sri Antik NIM: S. 15.1548 Gambaran kejadian kekurangan energi kronik (kek)
dan pola makan pada wanita Usia subur (wus) di wilayah kerja Puskesmas kelayan
timur Banjarmasin. KTI Akademi Kebidanan Sari Mulia.
SYAFFIRA, D. (2021). DAMPAK
PERIDONTITIS YANG TERJADI PADA RENTAN UMUR 36-45 TAHUN (STUDI PUSTAKA).
Poltekkes Tanjungkarang.
Wa Ode Asriyani, P.,
Misbah, S. R., & Darmayani, S. (2016). PERBEDAAN HASIL PEMERIKSAAN
SEDIMEN URINE YANG DIPERIKSA KURANG DARI 1 JAM DAN LEBIH DARI 1 JAM PADA PASIEN
SUSPEK INFEKSI SALURAN KEMIH DI RSUD KOTA KENDARI. Poltekkes Kemenkes
Kendari.
�