PENGARUH EKUITAS DAN BEBAN USAHA TERHADAP LABA BERSIH PADA PT. WIJAYA KARYA (PERSERO) TBK, JAKARTA TAHUN 2023

Andi Silvan

STIE Manajemen Bisnis Indonesia

[email protected]

Keywords

Abstract

Equity; Operating Expenses; Net Profit

According to Law Number 40 of 2007 on Limited Liability Companies, it states that a Limited Liability Company (LLC) is a legal entity also known as a capital alliance, formed based on an agreement and conducts its business activities with a total capital divided into shares. Working capital plays a crucial role in the operational activities of a company because the availability of working capital is used to facilitate operational activities with the level of profit obtained by the company. The maximum duration of current liabilities is one year. Based on the research background, the topic of net profit was chosen, and it is suspected that equity and operating expenses have a dominant influence on net profit, with the title "The Influence of Equity and Operating Expenses on Net Profit at PT Wijaya Karya (Persero) Tbk." The research objective is to obtain a deeper understanding of the relationship and the partial and simultaneous influence of equity and operating expenses on net profit. Also, to determine the extent of the influence of equity and operating expenses on net profit. The research data consists of secondary data with a sample size of 32, sourced from quarterly and annual financial reports during the period from 2015 to 2022. Based on the results of the correlation coefficient test, an R value of 0.649 was obtained, indicating a very strong simultaneous relationship between equity and operating expenses with net profit. The hypothesis testing results show that there is a significant partial relationship between equity and net profit, with a t-statistic value of 4.224 > t-table = 2.04523 at a significance level of 0.000 > 0.05.

Kata Kunci

Abstrak

Ekuitas; Beban Usaha; Laba Bersih

Menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, mengatakan bahwa perusahaan berjenis Perseroan Terbatas adalah suatu badan usaha yang terbentuk hukum yang disebut juga dengan persekutuan modal dan didirikan berdasarkan perjanjian dan melakukan kegiatan usahanya dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham. Modal kerja memiliki peranan yang penting dalam kegiatan operasional perusahaan karena dengan tersedianya modal kerja yang digunakan dalam melancarkan kegiatan operasional dengan tingkat laba yang diperoleh perusahaan. Jangka waktu utang lancar adalah maksimal dari satu tahun. Berdasarkan Latar Belakang Penelitian dipilihlah topik laba bersih dan diduga yang berpengaruh dominan terhadap laba bersih adalah ekuitas dan beban usaha, dengan judul "Pengaruh Ekuitas dan Beban Usaha terhadap Laba Bersih pada PT Wijaya Karya (Persero) Tbk." Tujuan penelitian adalah memperoleh informasi lebih dalam tentang hubungan dan pengaruh ekuitas dan beban usaha terhadap laba bersih secara parsial maupun secara simultan. Serta seberapa besar pengaruh ekuitas dan beban usaha dengan laba bersih. Adapun data penelitian berupa data sekunder dengan jumlah sampel sebanyak 32 yang bersumber dari laporan keuangan triwulan dan tahunan selama periode tahun 2015-2022. Berdasarkan hasil uji koefisien korelasi diperoleh nilai R = 0,649 yang menyatakan bahwa secara simultan terdapat hubungan yang sangat kuat antara ekuitas dan beban usaha dengan laba bersih. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa secara parsial terbukti terdapat hubungan yang signifikan antara ekuitas terhadap laba bersih dengan nilai t-hitung = 4,224 > t-tabel = 2,04523 pada nilai sig 0,000 > 0,05.

Corresponding Author: Andi Silvan ��

E-mail: [email protected]

Description: https://jurnal.syntax-idea.co.id/public/site/images/idea/88x31.png

PENDAHULUAN

Menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, mengatakan bahwa perusahaan berjenis Perseroan Terbatas adalah suatu badan usaha yang terbentuk hukum yang disebut juga dengan persekutuan modal dan didirikan berdasarkan perjanjian dan melakukan kegiatan usahanya dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham (Haikal, 2021).

Untuk menjalankan kegiatan operasionalnya setiap badan usaha membutuhkan modal. Menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, modal PT terbagi menjadi tiga bagian, pertama modal dasar, pada awalnya Undang-Undang menentukan modal dasar Perseroan Terbatas minimal berjumlah Rp 50.000.000,- (lima puluh juta Rupiah) namun pada Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2021 tentang Modal Dasar Perseroan Serta Pendaftaran Pendirian, Perubahan, dan Pembubaran Perseroan yang Memenuhi Kriteria untuk Usaha Mikro dan Kecil, modal ditentukan berdasarkan keputusan pendiri perusahaan. Kedua modal yang ditempatkan, modal ini mengacu pada jumlah modal yang akan diberikan oleh para pemegang saham perusahaan (Nurnaningsih & Solihin, 2020). Modal dasar yang sudah ditentukan harus ditempatkan paling sedikit 25% dari modal dasar (Sinaga, 2017). Ketiga modal yang disetorkan, berupa modal yang disetorkan oleh para pemegang saham, besaran modal yang disetorkan sama dengan modal yang ditempatkan oleh pemegang saham (Aditya, 2022).

Perseroan Terbatas pada praktiknya terdapat beberapa klasifikasi, salah satunya Perseroan Terbuka. Perseroan Terbatas Terbuka merupakan perusahaan yang modal dan jumlah pemegang sahamnya memenuhi kriteria tertentu atau perseroan yang melakukan penawaran umum, sesuai dengan perundang-undangan di bidang pasar modal (Nurnaningsih & Solihin, 2020). Menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, mendefinisikan Perseroan Terbuka sebagai Perseroan Publik atau Perseroan yang melakukan penawaran saham sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan menurut pasar modal (Hartanto, 2020). Menurut Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 11/POJK.04/2017 tentang Laporan Kepemilikan atau Setiap Perubahan Kepemilikan Saham Perseroan Terbuka, Perusahaan Terbuka adalah Emiten yang telah melakukan penawaran umum efek bersifat ekuitas atau Perusahaan Publik.

Initial Public Offering (IPO) didefinisikan sebagai: �a company�s first public sale of stock; the first offering of an issuer�s equity securities to the public through a registration statement�. Dalam IPO, perusahaan akan memperoleh dana dari masyarakat yang membeli efek yang diterbitkan oleh perusahaan. Sementara itu, masyarakat akan menjadi pemegang saham perusahaan (Gadeng et al., 2023).

Bapepam adalah singkatan dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, yaitu pihak yang berwenang melakukan pembinaan, pengaturan, dan pengawasan kegiatan sehari-hari di pasar modal. Bapepam dibentuk oleh pemerintah berdasarkan hasil Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 53 Tahun 1990. Beberapa manfaat perencanaan adalah: Membantu para manajer untuk memiliki pemikiran yang visioner, mampu melihat masalah-masalah dan peluang-peluang yang mungkin akan terjadi dan yang akan dihadapi di waktu mendatang. Membantu meningkatkan koordinasi dalam pengambilan keputusan. Membantu memantapkan konsistensi kegiatan anggota organisasi agar sesuai dengan tujuan organisasi (Ismawanti, 2021). Mengarahkan kegiatan organisasi yang meliputi penggunaan sumber daya dan penggunaannya untuk mencapai tujuan organisasi. Memonitor kemajuan organisasi, jika organisasi berjalan menyimpang dari tujuan yang telah ditetapkan, dapat dilakukan pengendalian (Tyas et al., 2022).

Berdasarkan latar belakang penelitian, maka dilakukan Identifikasi Masalah untuk lebih memahami masalah yang diangkat yaitu apakah ekuitas berhubungan dan berpengaruh terhadap laba bersih, apakah beban usaha berhubungan dan berpengaruh terhadap laba bersih, apakah modal kerja berhubungan dan berpengaruh terhadap laba bersih.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi berupa penjelasan lebih dalam mengenai hubungan dan pengaruh ekuitas terhadap laba bersih. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dalam upaya pengembangan ilmu dan menjadi referensi untuk peneliti selanjutnya dengan memodifikasi, menambah ataupun mengembangkan variabel-variabelnya serta sekaligus menambah koleksi tambahan perpustakaan khususnya mengenai pengaruh ekuitas dan beban usaha terhadap laba bersih (Poli, 2020).

 

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan adalah metode pengaruh. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dan verifikatif. Bentuk penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif. Di dalam penelitian ini akan dijelaskan tentang hubungan kausal dan pengaruh antara variabel bebas yaitu ekuitas dan beban usaha dengan variabel terikat yaitu laba bersih. Dalam penelitian ini populasi yang akan diteliti adalah laporan keuangan PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk. Jakarta. Penelitian ini menggunakan teknik non probability sampling, yaitu populasi yang dipilih tidak memiliki peluang atau kesempatan yang sama. Dalam hal ini yang mejadi sampel adalah ekuitas, beban usaha, dan laba bersih yang diolah dari laporan posisi keuangan dan laporan laba rugi pada PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk. Jakarta, dari tahun 2018 sampai dengan 2022. Subjek dalam penelitian ini adalah laporan keuangan pada PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk. Jakarta dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2022 sebagai sumber informasi untuk penelitian ini. Objek yang akan diteliti adalah variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dari penelitian ini adalah ekuitas (X1) dan beban usaha (X2) dan variabel terikat dari penelitian ini adalah laba bersih (Y). Teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan dalam penelitian adalah penelusuran data sekunder. Data sekunder atau dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan mengmpulkan data-data dari laporan keuangan perusahaan yang telah tercatat milik PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk. Jakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis data kuantitatif dengan menggunakan program SPSS (Statistical Package for Social Science) versi 26 untuk menguji variabel ekuitas dan beban usaha terhadap laba bersih pada PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk. Jakarta.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Diskripsi Data

��������� Berdasarkan data laporan keuangan (lampiran 1), dapat disajikan data keuangan seperti Tabel 1 sampai dengan Tabel 4 berikut.

Tabel 1

Ekuitas Tahun 2015-2022 (Rp 000)

Tahun

Triwulan

Ekuitas

Per Triwulan

Rata-Rata Ekuitas Per Triwulan

2014

IV

4.978.758.224

 

2015

I

4.958.942.123

4.968.850.174

II

4.989.191.878

4.974.067.001

III

5.156.586.804

5.072.889.341

IV

5.438.101.365

5.297.344.085

2016

I

5.532.282.188

5.485.191.777

II

5.599.802.501

5.566.042.345

III

5.706.446.586

5.653.124.544

IV

12.675.327.642

9.190.887.114

2017

I

12.763.894.360

12.719.611.001

II

12.854.525.241

12.809.209.801

III

13.175.333.982

13.014.929.612

IV

14.631.824.613

13.903.579.298

2018

I

14.733.813.114

14.682.818.864

II

14.972.628.376

14.853.220.745

III

15.384.920.484

15.178.774.430

IV

17.215.314.565

16.300.117.525

2019

I

17.556.658.272

17.385.986.419

II

17.807.618.423

17.682.138.348

III

18.344.123.685

18.075.871.054

IV

19.215.732.987

18.779.928.336

2020

I

16.791.770.681

18.003.751.834

II

16.223.892.679

16.507.831.680

III

16.169.896.448

16.196.894.564

IV

16.657.425.071

16.413.660.760

2021

I

16.762.539.242

16.709.982.157

II

16.786.847.209

16.774.693.226

III

17.980.009.548

17.383.428.379

IV

17.435.077.712

17.707.543.630

2022

I

17.447.139.029

17.441.108.371

II

17.433.956.201

17.440.547.615

III

17.427.140.992

17.430.548.597

IV

17.493.206.188

17.460.173.590

Lanjutan Tabel 4.1

 
Sumber: Diolah, 2023

Tabel 2

Sumber: Diolah, 2023

 
Beban Usaha Tahun 2015-2022 (Rp 000)

Tahun

Triwulan

Beban Usaha

Komulatif

2015

I

82.278.337

II

184.384.455

III

288.407.005

IV

429.157.646

2016

I

86.993.331

II

227.458.208

III

333.932.937

IV

526.935.753

2017

I

117.851.829

II

305.178.549

III

494.819.633

IV

676.672.875

2018

I

165.278.002

II

401.383.786

III

638.853.189

IV

892.227.411

2019

I

172.866.778

II

438.532.064

III

635.559.366

IV

968.255.356

2020

I

194.675.588

II

523.005.776

III

744.471.792

IV

3.128.491.241

2021

I

184.890.251

II

375.257.930

III

1.338.617.824

IV

1.848.867.783

 

I

394.222.278

II

741.065.641

III

1.173.263.009

IV

2.044.526.336

 

Tabel 3

Laba Bersih Tahun 2015-2022 (Rp 000)

Tahun

Triwulan

Laba Bersih

Komulatif

Laba Bersih Per Triwulan

2015

I

66.594.118

66.594.118

II

219.880.627

153.286.509

III

420.939.555

201.058.928

IV

703.005.054

282.065.499

2016

I

94.180.823

94.180.823

II

305.516.529

211.335.706

III

470.788.619

165.272.090

IV

1.198.619.573

727.830.954

2017

I

265.179.055

265.179.055

II

486.521.712

221.342.657

III

762.933.508

276.411.796

IV

1.356.115.489

593.181.981

2018

I

215.424.134

215.424.134

II

632.523.258

417.099.124

III

1.057.160.710

424.637.452

IV

2.073.299.864

1.016.139.154

2019

I

341.343.707

341.343.707

II

1.015.047.924

673.704.217

III

1.567.917.706

552.869.782

IV

2.621.015.140

1.053.097.434

2020

I

152.369.984

152.369.984

II

324.746.005

172.376.021

III

140.940.105

-183.805.900

IV

322.342.513

181.402.408

2021

I

105.114.171

105.114.171

II

136.098.461

30.984.290

III

185.952.591

49.854.130

IV

214.424.794

28.472.203

2022

I

9.479.170

9.479.170

II

12.353.015

2.873.845

III

5.537.806

-6.815.209

IV

12.586.435

7.048.629

Sumber: Diolah, 2023

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 4

Data Untuk Diolah (X1, X2, Y) (Rp 000)

Tahun

Triwulan

Rata-Rata Ekuitas

(X1)

Beban Usaha

Per Triwulan

(X2)

Laba Bersih Per Triwulan

(Y)

2015

I

4.968.850.174

82.278.337

66.594.118

II

4.974.067.001

184.384.455

153.286.509

III

5.072.889.341

288.407.005

201.058.928

IV

5.297.344.085

429.157.646

282.065.499

2016

I

5.485.191.777

86.993.331

94.180.823

II

5.566.042.345

227.458.208

211.335.706

III

5.653.124.544

333.932.937

165.272.090

IV

9.190.887.114

526.935.753

727.830.954

2017

I

4.968.850.174

117.851.829

265.179.055

II

4.974.067.001

305.178.549

221.342.657

III

5.072.889.341

494.819.633

276.411.796

IV

5.297.344.085

676.672.875

593.181.981

2018

I

14.682.818.864

165.278.002

215.424.134

II

14.853.220.745

401.383.786

417.099.124

III

15.178.774.430

638.853.189

424.637.452

IV

16.300.117.525

892.227.411

1.016.139.154

2019

I

17.385.986.419

172.866.778

341.343.707

II

17.682.138.348

438.532.064

673.704.217

III

18.075.871.054

635.559.366

552.869.782

IV

18.779.928.336

968.255.356

1.053.097.434

2020

I

18.003.751.834

194.675.588

152.369.984

II

16.507.831.680

523.005.776

172.376.021

III

16.196.894.564

744.471.792

-183.805.900

IV

16.413.660.760

3.128.491.241

181.402.408

2021

I

16.709.982.157

184.890.251

105.114.171

II

16.774.693.226

375.257.930

30.984.290

III

17.383.428.379

1.338.617.824

49.854.130

IV

17.707.543.630

1.848.867.783

28.472.203

2022

I

17.441.108.371

394.222.278

9.479.170

II

17.440.547.615

741.065.641

2.873.845

III

17.430.548.597

1.173.263.009

-6.815.209

IV

17.460.173.590

2.044.526.336

7.048.629

Sumber: Diolah, 2023

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hasil Olahan

Uji Normalitas Data

��������� Berikut hasil uji normalitas data yang diperoleh dari hasil pengolahan SPSS dan dapat dilihat pada Grafik 1 dan Tabel 5

Grafik 1

Hasil Uji Normalitas Grafik P-Plot

Sumber: Hasil output SPSS 26

��������� Grafik 1 menunjukan bahwa sebagian titik-titik pada diagram plot menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonalnya, ini menandakan bahwa data yang diolah merupakan data yang berditribusi secara normal. Untuk mendukung hasil uji normalitas dengan grafik plot, berikut hasil uji normalitas dengan menggunakan one sample Kolmogorov-smirnov test.

Tabel 5

Hasil Uji Normalitas Kolmogorov Smirnov

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

 

Unstandardized Residual

N

32

Normal Parametersa,b

Mean

.0000000

Std. Deviation

220327832.62595630

Most Extreme Differences

Absolute

.148

Positive

.148

Negative

-.098

Test Statistic

.148

Asymp. Sig. (2-tailed)

.071c

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

c. Lilliefors Significance Correction.

Sumber: Hasil output SPSS 26

��������� Berdasarkan Tabel 5 hasil uji normalitas dengan metode one sample Kolmogorov-smirnov test diperoleh nilai taraf signifikansi (asymp.sig) sebesar 0,071. Maka dari hasil uji normalitas tersebut, dapat diartikan bahwa data berdistribusi secara normal karena memiliki nilai signifikansi lebih dari 0,05.

Uji Klasik

Uji Multikolinieritas

��������� Berikut hasil uji multikolinieritas yang diperoleh dari hasil pengolahan SPSS.

Tabel 6

Hasil Uji Multikolinieritas

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

Collinearity Statistics

B

Std. Error

Beta

Tolerance

VIF

1

(Constant)

-132543809.845

139676804.311

 

-.949

.350

 

 

Ekuitas

.067

.016

1.131

4.224

.000

.278

3.594

Beban Usaha

-.054

.012

-1.217

-4.544

.000

.278

3.594

a. Dependent Variable: Laba Bersih

Sumber: Hasil output SPSS 26

Tabel 6 menunjukan hasil nilai Tolerance variabel Ekuitas (X1) dan variabel Beban Usaha (X2) sebesar 0,278 dengan nilai VIF sebesar 3,594. Dengan demikian kedua variabel tersebut memiliki nilai Tolerance lebih besar dari 0,10 dan nilai VIF lebih kecil dari 10,00. Maka dapat dijelaskan bahwa data kedua variabel tidak terjadi gejala multikolinieritas dalam model regresi.

Uji Heteroskedastisitas

Berikut hasil uji Heteroskedastisitas yang diperoleh dari hasil pengolahan SPSS.

Grafik 2

Hasil Uji Heteroskedastisitas

Sumber: Hasil output SPSS 26

��������� Berdasarkan Grafik 2 terlihat bahwa titik-titik tidak membentuk pola yang jelas dan titik-titik menyebar secara acak baik diatas maupun dibawah angka 0 (nol) pada sumbu Y. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa model regresi tidak terdapat gejala heteroskedastisitas.

Uji Autokorelasi

��������� Berikut hasil uji autokorelasi yang diperoleh dari hasil pengolahan menggunakan SPSS

Tabel 7

Hasil Uji Autokorelasi

Model Summaryb

Model

R

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

Durbin-Watson

1

.649a

.421

.382

227798683.711

1.753

a. Predictors: (Constant), Beban Usaha, Ekuitas

b. Dependent Variable: Laba Bersih

Sumber: Hasil output SPSS 26

Tabel 7 menunjukkan hasil nilai Durbin Watson (DW) dari uji autokorelasi sebesar 1,753. Dan berdasarkan tabel Durbin Watson untuk K=2 dengan N=32 diperoleh nilai batas bawah (dl) sebesar 1,100 dan nilai batas atas (du) sebesar 1,351. Sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan sebelumnya, maka DW hitung sebesar 1,753 masuk dalam kriteria -2 ≤ DW ≤ 2. Sehingga dapat dijelaskan bahwa data penelitian terbebas dari gejala autokorelasi.

Uji Metode

Koefisien Korelasi

Koefisien Korelasi Parsial

��������� Berikut hasil uji metode analisi koefisien korelasi secara parsial yang diperoleh dari hasil pengolahan SPSS.

Tabel 8

Hasil Analisis Koefisien Korelasi Parsial

Correlations

 

Ekuitas

Beban Usaha

Laba Bersih

Ekuitas

Pearson Correlation

1

.850**

.098

Sig. (2-tailed)

 

.000

.595

N

32

32

32

Beban Usaha

Pearson Correlation

.850**

1

-.256

Sig. (2-tailed)

.000

 

.158

N

32

41

32

Laba Bersih

Pearson Correlation

.098

-.256

1

Sig. (2-tailed)

.595

.158

 

N

32

32

32

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Sumber: Hasil output SPSS 26

��������� Tabel 8 menunjukan hasil nilai koefisien korelasi antara variabel ekuitas (X1) dengan variabel laba bersih (Y) adalah sebesar 0,098 dengan hasil nilai yang positif. Dan hasil nilai koefisien korelasi antara variabel beban usaha (X2) dengan variabel laba bersih (Y) adalah sebesar -0,256 dengan hasil nilai yang negatif.

Koefisien Korelasi Simultan

��������� Berikut hasil uji metode analisis koefisien korelasi secara simultan yang diperoleh dari hasil pengolahan SPSS.


Tabel 9

Hasil Analisis Koefisien Korelasi Simultan

Model Summaryb

Model

R

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1

.649a

.421

.382

227798683.711

a. Predictors: (Constant), Beban Usaha, Ekuitas

b. Dependent Variable: Laba Bersih

Sumber: Hasil output SPSS 26

��������� Tabel 9 menunjukan bahwa hasil koefisien korelasi (R) antara variabel ekuitas (X1) dan variabel beban usaha (X2) secara simultan dengan variabel laba bersih (Y) sebesar 0,649 dengan hasil nilai yang positif.

Koefisien Determinasi

Koefisien Determinasi Parsial

��������� Berikut hasil uji metode koefisien determinasi secara parsial antara variabel ekuitas (X1) terhadap variabel laba bersih (Y).

Tabel 10

Hasil Uji Koefisien Determinasi Parsial (Ekuitas)

Model Summary

Model

R

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1

.098a

.010

-.023

293041477.126

a. Predictors: (Constant), Ekuitas

Sumber: Hasil output SPSS 26

Tabel 10 menunjukan bahwa hasil koefisien determinasi parsial (R Square) antara variabel ekuitas (X1) terhadap variabel laba bersih (Y) adalah sebesar 0,010. Sedangkan hasil uji metode koefisien determinasi secara parsial antara variabel beban usaha (X2) terhadap variabel laba bersih (Y) adalah sebagai berikut.

Tabel 11

Hasil Uji Koefisien Determinasi Parsial (Beban Usaha)

Model Summary

Model

R

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1

.256a

.065

.034

284659365.718

a. Predictors: (Constant), Beban Usaha

Sumber: Hasil output SPSS 26

�� Tabel 11 menunjukkan bahwa hasil koefisien determinasi secara parsial (R square) antara variabel beban usaha (X2) terhadap variabel laba bersih (Y) adalah sebesar 0,065.

Koefisien Determinasi Simultan

��������� Berikut hasil uji metode koefisien determinasi secara simultan yang diperoleh dari hasil pengolahan SPSS.

Tabel 12

Hasil Uji Koefisien Determinasi Simultan

Model Summary

Model

R

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1

.649a

.421

.382

227798683.711

a. Predictors: (Constant), Beban Usaha, Ekuitas

Sumber: Hasil output SPSS 26

Tabel 12 menunjukkan nilai koefisien determinasi (Adjusted R Square) antara variabel ekuitas (X1) dan variabel beban usaha (X2) secara simultan terhadap variabel laba bersih (Y) adalah sebesar 0,382. Nilai tersebut berarti bahwa kemampuan kombinasi variabel ekuitas (X1) dan variabel beban usaha (X2) secara simultan dalam mempengaruhi variabel laba bersih (Y) (Koeswardhana, 2020).

Regresi Linear Berganda

Berikut hasil analisis regresi linear berganda yang diperoleh dari hasil pengelolaan SPSS.

Tabel 13

Hasil Analisis Regresi Linear Berganda

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

-132543809.845

139676804.311

 

-.949

.350

Ekuitas

.067

.016

1.131

4.224

.000

Beban Usaha

-.054

.012

-1.217

-4.544

.000

a. Dependent Variable: Laba Bersih

Sumber: Hasil output SPSS 26

Berdasarkan analisis Tabel 13 dapat diperoleh persamaan regresi linear berganda dalam penelitian ini yaitu :

Y���� =α + β1X1 + β2X2 + e

Y���� =-132543809,845 + 0,067X1 + (-0,054X2) + e

Dimana:��������������� Y���� =Laba Bersih

��� =Konstanta�������������������� =-132.543.810

β1��� =Koefisien Regresi X1�� =0,067

β2�� =Koefisien Regresi X2�� =-0,054

X1�� =Ekuitas

X2�� =Beban Usaha

e���� =Error

��������� Persamaan regresi linear berganda tersebut dapat dinyatakan bahwa nilai konstanta variabel laba bersih (Y) yang diperoleh adalah sebesar -132543809,845 dan nilai koefisien regresi untuk variabel ekuitas (X1) adalah sebesar 0,067 serta nilai koefisien regresi untuk variabel beban usaha (X2) adalah sebesar -0,054.

 

 

 

 

 

 

 

 

Uji Hipotesis

Uji t

��������� Berikut hasil uji hipotesis menggunakan uji t yang diperoleh dari hasil pengelolaan SPSS.

Tabel 14

Hasil Uji Hipotesis (Uji t)

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

-132543809.845

139676804.311

 

-.949

.350

Ekuitas

.067

.016

1.131

4.224

.000

Beban Usaha

-.054

.012

-1.217

-4.544

.000

a. Dependent Variable: Laba Bersih

Sumber: Hasil output SPSS 26

��������� Untuk pengujian hipotesis dengan menggunakan uji t, ditentukan nilai t-tabel pada tabel distribusi t dengan taraf signifikansi 0,05 dan jumlah N (sampel) = 32 serta jumlah variabel bebas (k) = 2 atau df (degree of freedom) = 29 (df = N � (k-1) = 29) yaitu sebesar +- 2,045. Berdasarkan variabel bebas dan rumusan hipotesis pada butir 2.6, pengujian hipotesis dengan uji t akan dibagi menjadi 2 (dua) yaitu:

1.              Uji Hipotesis Pertama

Rumusan hipotesis yang pertama dalam penelitian ini adalah �terdapat hubungan dan pengaruh antara variabel ekuitas (X1) dengan variable laba bersih (Y)�. Berdasarkan Tabel 14 diperoleh nilai t-hitung dari variabel ekuitas (X1) sebesar 4,224 dengan taraf signifikansi 0,000. Maka nilai t-hitung= 4,224 > t-tabel = 2,045 atau nilai taraf signifikansi 0,000 < 0,05. Sehingga hasil uji hipotesis pertama adalah H01 ditolak dan Ha1 diterima, yang berarti terdapat hubungan dan pengaruh yang signifikan antara variable ekuitas (X1) dengan variabel laba bersih (Y) (Ganar, 2018).

2.        Uji Hipotesis Kedua

Rumusan hipotesis yang kedua dalam penelitian ini adalah �terdapat hubungan dan pengaruh antara variabel beban usaha (X2) dengan variable laba bersih (Y)�. Berdasarkan Tabel 14 diperoleh nilai t-hitung dari variabel beban usaha (X2) sebesar -4,544 dengan taraf signifikansi 0,000. Maka nilai t-hitung= -4,544 > t-tabel = -2,045 atau nilai taraf signifikasnsi 0,000 < 0,05. Sehingga hasil uji hipotesis pertama adalah H02 ditolak dan Ha2 diterima, yang berarti terdapat hubungan dan pengaruh yang signifikan antara variable beban usaha (X2) dengan variabel laba bersih (Y).

Uji F

Berikut hasil uji hipotesis menggunakan uji F yang diperoleh dari hasil pengolahan SPSS.

Tabel 15

Hasil Uji Hipotesis (Uji F)

ANOVAa

Model

Sum of Squares

df

Mean Square

F

Sig.

1

Regression

1096075585090477820.000

2

548037792545238910.000

10.561

.000b

Residual

1504874968719193340.000

29

51892240300661840.000

 

 

Total

2600950553809671200.000

31

 

 

 

a. Dependent Variable: Laba Bersih

b. Predictors: (Constant), Beban Usaha, Ekuitas

Sumber: Hasil output SPSS 26

Pengujian hipotesis dengan mengunakan uji F adalah rumusan hipotesis yang ketiga dalam penelitian ini yaitu �terdapat hubungan dan pengaruh variabel ekuitas (X1) dan variabel beban usaha (X2) secara simultan terhadap variabel laba bersih (Y)�. Untuk menguji rumusan hipotesis tersebut, diperlukan nilai F-tabel pada tabel distribusi F dengan taraf signifikansi 0,05 pada df = 29 (df = N � (k-1) = 29) dan pada df pembilang = 2 yaitu sebesar 3,33. Berdasarkan Tabel 4.15 diperoleh nilai F-hitung sebesar 10,561 dengan taraf signifikansi 0,000. Maka hasil nilai F-hitung= 10,561 > F-tabel= 3,33 atau nilai taraf signifikasi 0,000 < 0,05. Sehingga hasil uji hipotesis ketiga adalah H03 ditolak dan Ha3 diterima, yang berarti terdapat hubungan dan pengaruh yang signifikan antara variabel ekuitas (X1) dan variabel beban usaha (X�2) secara simultan terhadap variabel laba bersih (Y).

Pembahasan

Hasil Uji Metode

Koefisien Korelasi

Koefisien Korelasi Parsial

��������� Tabel 8 menunjukan hasil nilai koefisien korelasi antara variabel ekuitas (X1) dengan variabel laba bersih (Y) sebesar 0,098 dengan hasil nilai yang positif. Hal ini disebabkan karena sifat laba yang searah dengan ekuitas, jika laba mengalami kenaikan maka ekuitas bertambah, begitupun sebaliknya. Dan hasil nilai koefisien korelasi antara variabel beban usaha (X2) dengan variabel laba bersih (Y) sebesar -0,256 dengan hasil nilai yang negatif. Hal ini disebabkan karena sifat beban yang berbanding terbalik dengan laba, jika beban mengalami penurunan maka laba mengalami kenaikan, begitupun sebaliknya. Berdasarkan interpretasi Tabel 2 yang telah dibahas pada bab sebelumnya, nilai koefisien korelasi antara variabel ekuitas (X1) dengan variabel laba bersih (Y) berada diantara interval 0,00 � 0,199 dengan interpretasi tingkat hubungan yang sangat rendah. Nilai koefisien korelasi antara variabel beban usaha (X2) dengan variabel laba bersih (Y) berada diantara interval 0,20 � 0,399 dengan interpretasi tingkat hubungan yang rendah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hubungan variabel ekuitas dengan variabel laba bersih menghasilkan hubungan yang positif dengan tingkat hubungan yang sangat rendah. Dan hubungan variabel beban usaha dengan variabel laba bersih menghasilkan hubungan yang negatif dengan tingkat hubungan yang rendah (Handayani, 2018). Hubungan yang positif dapat diartikan hubungan variabel bebas berjalan searah dengan variabel terikat. Atau dapat diinterpretasikan jika variabel ekuitas mengalami kenaikan maka variabel laba bersih akan mengalami peningkatan dan sebaliknya, jika variabel ekuitas mengalami penurunan maka variabel laba bersih akan mengalami penurunan. Hubungan yang negatif dapat diartikan variabel bebas berjalan berlawanan dengan variabel terikat (Yuni, 2017). Atau dapat diinterpretasikan jika variabel beban usaha mengalami kenaikan maka variabel laba bersih akan mengalami penurunan dan sebaliknya, jika variabel beban usaha mengalami penurunan maka variabel laba bersih akan mengalami peningkatan.

Koefisien Korelasi Simultan

��������� Berdasarkan Tabel 9, nilai analisis koefisien korelasi (R) antara variabel ekuitas (X1) dan variabel beban usaha (X2) secara simultan dengan variabel laba bersih (Y) sebesar 0,649 dengan hasil nilai yang positif. Dan dari Tabel 2, nilai tersebut berada diantara interval 0,60 � 0,799 dengan interpretasi tingkat hubungan yang kuat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hubungan variabel ekuitas dan beban usaha secara simultan dengan variabel laba bersih menghasilkan hubungan yang positif dengan arah hubungan yang searah dan tingkat hubungan yang kuat (Wahyuni & Hafiz, 2018).

 

 

Koefisien Determinasi

Koefisien Determinasi Parsial

��������� Berdasarkan hasil uji metode koefisien determinasi secara parsial Tabel 10 dan Tabel 11, diperoleh nilai (R Square) antara variabel ekuitas (X1) dengan variabel laba bersih (Y) sebesar 0,010 dan nilai (R Square) antara variabel beban usaha (X2) dengan variabel laba bersih (Y) sebesar 0,065. Dengan demikian nilai koefisien determinasi (KD) atau besaran presentase kemampuan variabel ekuitas secara parsial dalam mempengaruhi variabel laba bersih sebesar 1% dan nilai koefisien determinasi (KD) atau besaran presentase kemampuan variabel beban usaha secara parsial dalam mempengaruhi variabel laba bersih sebesar 6,5%.

Koefisien Determinasi Simultan

��������� Berdasarkan Tabel 12, diperoleh nilai Adjusted R2 sebesar 0,382. Adapun nilai koefisien determinasi atau besaran presentasi kemampuan kombinasi variabel ekuitas (X1) dan variabel beban usaha (X2) secara simultan mempengaruhi variabel laba bersih (Y) diperlukan perhitungan sebagai berikut:

KD���� =AdjustedR2X 100%

=0,382 x 100%

=38,2%

��������� Artinya nilai koefisien determinasi atau presentase kemampuan yang diberikan oleh kombinasi variabel ekuitas dan variabel beban usaha secara simultan dalam mempengaruhi variabel laba bersih sebesar 38,2% dan sisanya sebesar 61,8% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini dan sesuai dengan yang telah diuraikan pada model penelitian ini (dapat dilihat pada Gambar 3).

Persamaan Regresi

��������� Berdasarkan hasil analisis regresi berganda Tabel 13 maka diperoleh persamaan regresi linier berganda dalam penelitian ini, yaitu:

Y���� =-132543809,845 + 0,067X1 + (-0,054X2) + e

��������� Persamaan regresi linier berganda tersebut dapat dinyatakan bahwa nilai konstanta variabel laba bersih (Y) dengan diperoleh adalah sebesar -132543809,845 dan nilai koefisien regresi untuk variabel ekuitas (X1) adalah sebesar 0,067 serta nilai koefisien regresi untuk variabel beban usaha (X2) adalah sebesar -0,054. Adapun interpretasi dari persamaan regresi linier berganda tersebut adalah:

� =�� Nilai konstanta sebesar -132543809,845 menyatakan bahwa jika nilai variabel ekuitas dan variabel beban usaha tidak ada perubahan (peningkatan/penurunan) maka nilai konsistensi variabel laba bersih tetap sebesar -132543809,845.

β1 = ��� Nilai koefisien regresi sebesar 0,067 menyatakan bahwa jika nilai variable ekuitas bertambah 1 (satu) poin, maka nilai konsistensi variabel laba bersih akan mengalami penambahan sebesar 0,067 dengan asumsi nilai variabel beban usaha tidak ada perubahan (konstan) atau tetap.

β2 = ��� Nilai koefisien regresi sebesar -0,054 menyatakan bahwa jika nilai variabel beban usaha bertambah 1 (satu) poin, maka nilai konsistensi variabel laba bersih akan mengalami penurunan sebesar -0,054 dengan asumsi nilai variabel ekuitas tidak ada perubahan (konstan) atau tetap.

Dengan demikian dapat diartikan bahwa perubahan nilai variabel ekuitas dan variabel beban usaha akan mempengaruhi variabel laba bersih (Mufidah, 2017).

 

 

 

Hasil Uji Hipotesis

Uji t

Berdasarkan jumlah variabel bebas dan rumusan hipotesis pada butih 2.6, pengujian hipotesis dengan uji t akan dibagi menjadi 2 (dua) yaitu:

1.         Uji Hipotesis Pertama

Rumusan hipotesis yang pertama dalam penelitian ini adalah �terdapat hubungan dan pengaruh antara variabel ekuitas (X1) dengan variabel laba bersih (Y)�. Berdasarkan Tabel 4.14 diperoleh nilai t-hitung dari variabel ekuitas (X1) sebesar 4,224 dengan taraf signifikansi 0,000. Maka nilai t-hitung= 4,224 > t-tabel= 2,04523 atau nilai taraf signifikansi 0,000 < 0,05. Sehingga hasil uji hipotesis pertama adalah H01 ditolak dan Ha1 diterima, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara variabel ekuitas dengan variabel laba bersih.

2.        Uji Hipotesis Kedua

Rumusan hipotesis yang pertama dalam penelitian ini adalah �terdapat hubungan dan pengaruh antara variabel beban usaha (X2) dengan variabel laba bersih (Y)�. Berdasarkan Tabel 14 diperoleh nilai t-hitung dari variabel ekuitas (X1) sebesar -4,544 dengan taraf signifikansi 0,000. Maka nilai t-hitung= -4,544 > t-tabel = -2,04523 atau nilai taraf signifikansi 0,000 < 0,05. Sehingga hasil uji hipotesis pertama adalah H02 ditolak dan Ha2 diterima, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara variabel beban usaha dengan variabel laba bersih.

Uji F

Pengujian hipotesis dengan menggunakan Uji F adalah rumusan hipotesis ketiga dalam penelitian ini, yaitu �terdapat hubungan dan pengaruh antara variabel ekuitas (X1) dan variabel beban usaha (X2) secara simultan terhadap variabel laba bersih (Y)�. Untuk menguji rumusan hipotesis tersebut, diperlukan nilai dari F-tabel pada tabel distribusi F dengan taraf signifikansi 0,05 pada df = 29 dan pada df pembilang = 2 yaitu sebesar 3,33. Dan berdasarkan Tabel 15 diperoleh nilai F-hitung sebesar 10,561 dengan taraf signifikansi 0,000. Maka hasil F-hitung= 10,561 > F-tabel= 3,33 atau nilai taraf signifikansi 0,000 < 0,05. Sehingga hasil uji hipotesis ketiga adalah H03 ditolak dan Ha3 diterima, yang berarti terdapat hubungan dan pengaruh yang signifikan antara variabel ekuitas dan variabel beban usaha secara simultan terhadap variabel laba bersih. Dan dari hasil pengujian nilai F-hitung> nilai F-tabel, maka dapat dinyatakan model regresi layak dan dapat digunakan untuk memprediksi laba bersih.

Grafik Penerimaan H0 dan Penolakan H0

Gambar 1

Daerah Penerimaan H0 dan Penolakan H0

Sumber: diolah, 2023

��������� Hasil uji hipotesis pertama (H1) adalah H01 ditolak dan Ha1 diterima, yang berarti secara parsial variabel ekuitas terdapat hubungan yang signifikan terhadap laba bersih. Hasil uji hipotesis kedua (H2) adalah H02 ditolak dan Ha2 diterima, yang berarti secara parsial variabel beban sendiri terdapat hubungan yang signifikan terhadap laba bersih. Hasil uji hipotesis ketiga (H3) adalah H03 ditolak dan Ha3 diterima, yang berarti secara simultan variabel ekuitas dan ekuitas terdapat hubungan dan pengaruh terhadap laba bersih.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan diatas maka dapat disimpulkan Nilai tersebut berarti bahwa kemampuan kombinasi variabel ekuitas (X1) dan variabel beban usaha (X2) secara simultan dalam mempengaruhi variabel laba bersih (Y).Persamaan regresi linear berganda tersebut dapat dinyatakan bahwa nilai konstanta variabel laba bersih (Y) yang diperoleh adalah sebesar -132543809,845 dan nilai koefisien regresi untuk variabel ekuitas (X1) adalah sebesar 0,067 serta nilai koefisien regresi untuk variabel beban usaha (X2) adalah sebesar -0,054. Adapun nilai koefisien determinasi atau besaran presentasi kemampuan kombinasi variabel ekuitas (X1) dan variabel beban usaha (X2) secara simultan mempengaruhi variabel laba bersih (Y) diperlukan perhitungan sebagai berikut: KD =AdjustedR2X 100% =0,382 x 100% =38,2% Artinya nilai koefisien determinasi atau presentase kemampuan yang diberikan oleh kombinasi variabel ekuitas dan variabel beban usaha secara simultan dalam mempengaruhi variabel laba bersih sebesar 38,2% dan sisanya sebesar 61,8% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini dan sesuai dengan yang telah diuraikan pada model penelitian ini (dapat dilihat pada Gambar 2.3).

Adapun interpretasi dari persamaan regresi linier berganda tersebut adalah: α = Nilai konstanta sebesar -132543809,845 menyatakan bahwa jika nilai variabel ekuitas dan variabel beban usaha tidak ada perubahan (peningkatan/penurunan) maka nilai konsistensi variabel laba bersih tetap sebesar -132543809,845. β1 = ����������� Nilai koefisien regresi sebesar 0,067 menyatakan bahwa jika nilai variable ekuitas bertambah 1 (satu) poin, maka nilai konsistensi variabel laba bersih akan mengalami penambahan sebesar 0,067 dengan asumsi nilai variabel beban usaha tidak ada perubahan (konstan) atau tetap.

 

REFERENSI

Aditya, A. (2022). Tanggung Jawab Notaris Terhadap Pembayaran Modal Disetor Pada Saat Pendirian Perseroan Terbatas. Jatiswara, 37(1), 44�53.

 

Gadeng, T., Umar, Z., & Sofia, A. (2023). Kajian Kepemilikan Keluarga pada Perusahaan Initial Public Offering Tahun 2022 di Bursa Efek Indonesia. ARBITRASE: Journal of Economics and Accounting, 4(1), 91�97.

 

Ganar, Y. B. (2018). Pengaruh Current Ratio, Net Profit Margin, Return On Equity dan Earning Per Share Terhadap Dividend Payout Ratio Pada Perusahaan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2013-2016. Jurnal Disrupsi Bisnis, 1(1), 17�35.

 

Haikal, M. H. (2021). Pandangan Hukum Positif Terhadap Pertanggungjawaban Harta Pemegang Saham Perseroan Terbatas di Indonesia. Ikatan Penulis Mahasiswa Hukum Indonesia Law Journal, 1(2), 180�193.

 

Handayani, V. (2018). Analisis Pengaruh Hutang Terhadap Laba Bersih Pada PT Kereta Api Indonesia (Persero). Jurnal Riset Akuntansi Dan Bisnis, 18(1).

 

Hartanto, R. (2020). Hubungan Hukum Para Pihak Dalam Layanan Urun Dana Melalui Penawaran Saham Berbasis Teknologi Informasi. Jurnal Hukum Ius Quia Iustum, 27(1), 151�168.

 

Ismawanti, R. (2021). Dampak Manajemen Perubahan Lingkungan Kerja Masa Pandemi Covid-19 Terhadap Pegawai PT Telkom Indonesia Tbk Divreg 3 Jawa Barat. Kebijakan: Jurnal Ilmu Administrasi, 12(1), 57�62.

 

Koeswardhana, G. (2020). Analisis Kemampuan Laba Kotor, Laba Operasi Dan Laba Bersih Dalam Memprediksi Arus Kas Di Masa Mendatang. JISAMAR (Journal of Information System, Applied, Management, Accounting and Research), 4(1), 41�48.

 

Mufidah, E. (2017). Analisis laba, Arus kas operasi dan nilai buku ekuitas terhadap harga saham. Eksis: Jurnal Riset Ekonomi Dan Bisnis, 12(1).

 

Nurnaningsih, R., & Solihin, D. (2020). Kedudukan Perseroan Terbatas (PT) Sebagai Bentuk Badan Hukum Perseroan Modal Ditinjau Menurut Undang-Undang PT dan Nieuw Burgerlijk Wetboek (NBW). JURNAL SYNTAX IMPERATIF: Jurnal Ilmu Sosial Dan Pendidikan, 1(2), 142�151.

 

Poli, D. J. (2020). Pengaruh Promosi Gadai Emas Terhadap Minat Nasabah Pada Bank Syariah Mandiri KCP Manado Kairagi. IAIN MANADO.

 

Sinaga, E. J. (2017). Upaya pemerintah dalam merealisasikan kemudahan berusaha di indonesia. Jurnal Rechts Vinding: Media Pembinaan Hukum Nasional, 6(3), 329�348.

 

Tyas, K. Z., Afifah, H., Handayani, J., Arofah, A. A., & Wirawan, N. B. (2022). Pelatihan Manajemen Usaha Dan Keuangan Karyawan Koperasi Simpan Pinjam. Perwira Journal of Community Development, 2(2), 1�6.

 

Wahyuni, S. F., & Hafiz, M. S. (2018). Pengaruh CR, DER dan ROA terhadap DPR pada perusahaan manufaktur di BEI. Jesya (Jurnal Ekonomi Dan Ekonomi Syariah), 1(2), 25�42.

 

Yuni, R. S. P. (2017). Hubungan intensitas penggunaan smartphone dengan disiplin belajar siswa. E-Societas, 6(1).