UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN
AKTIVITAS BELAJAR PESERTA DIDIK MELALUI METODE INQUIRY
Mochamad Hafizh Restiyanto
STKIP Nahdlatul Ulama
Indramayu
Email mochamadhafizhrestiyanto20@gmail.com1
|
Keywords |
Abstract |
|
Guided inquiry method; learning outcomes; learning
activities |
Education is a
long-term asset that is useful for the national development process. National
development, in line with the rapid development of education and technology,
development in Indonesia is based on the availability of knowledgeable,
broad-minded and highly skilled human resources. This research aims to
determine learning activities and improvement in learning outcomes after
applying the inquiry method to class IV students at MI Salafiyah Cirebon. The
research method used in this research is the classroom action research
method. The population in this study was class IV students consisting of 483
people. Based on the analysis of the calculation results, it was found that
in cycle I the students' learning completeness was 71.43% in the good
category, and whereas in the second cycle the students' learning completeness
increased to 92.86%, this percentage was in the very good category. Based on
analysis of observational data, it is proven that using the guided inquiry
method can increase student activity in the science learning process for
class IVA MI Salafiyah Cirebon for the 2021/2022 academic year. The
conclusion from this research is that the use of the guided inquiry method is
known to improve learning outcomes in science lessons in class IV semester
II. |
|
Kata Kunci |
Abstrak |
|
Metode
inquiry terbimbing; hasil belajar; aktivitas belajar |
Pendidikan merupakan asset jangka
panjang yang berguna untuk proses pembangunan nasional. Pembangunan nasional,
sejalan dengan berkembang pesatnya pendidikan dan teknologi, pembangunan di
Indonesia berdasarkan ketersediannya sumber daya manusia yang berpengetahuan,
wawasan luas dan berketerampilan tinggi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas belajar dan peningkatan
hasil belajar setelah diterapkan metode inquiry pada peserta didik kelas IV
MI Salafiyah Cirebon. Metode
Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian
tindakan kelas. Populasi pada penelitian ini adalah peserta didik kelas IV
yang terdiri dari 483 orang. Berdasarkan analisis hasil perhitungan,
diperoleh pada siklus I ketuntasan belajar peserta didik 71,43% masuk dalam
kategori baik, dan sedangkan pada siklus II ketuntasan belajar peserta didik
meningkat menjadi 92,86% pada presentase ini masuk kategori sangat baik.
Berdasarkan analisis data hasil observasi, terbukti bahwa menggunakan metode
Inquiry terbimbing dapat meningkatkan keaktifan peserta didik dalam proses
pembelajaran IPA kelas IVA MI Salafiyah Cirebon Tahun Pelajaran 2021/2022.
Kesimpulan dari penelitian ini penggunaan metode Inquiry terbimbing diketahui
dapat meningkatkan hasil belajar pada pelajaran IPA kelas IV
semester II. |
Corresponding Author: Mochamad Hafizh
Restiyanto
E-mail:
mochamadhafizhrestiyanto20@gmail.com
PENDAHULUAN
Pendidikan
merupakan asset jangka panjang yang berguna untuk proses pembangunan nasional.
Pembangunan nasional, sejalan dengan berkembang pesatnya pendidikan dan
teknologi, pembangunan di Indonesia berdasarkan ketersediannya sumber daya
manusia yang berpengetahuan, wawasan luas dan berketerampilan tinggi (Misrah,
2023). Tanggung jawab untuk menyiapkan sumber daya manusia yang
berkualitas salah satunya tercantum dalam Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional
No.20 pasal 3 tahun 2003 (Dalam Sisdiknas, 2022), yaitu:
Pendidikan
nasional berfungsi untuk mengembangkan potensi Pelajar dengan karakter
Pancasila agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia, mandiri, berilmu dan bernalar kritis, berkebinekaan,
bergotong royong, dan kreatif. Dalam pendidikan terdapat peranan penting bagi
pendidik, Peranan pendidik dalam pembelajaran tercantum dalam UU No. 14 tahun 2005
(dalam Hasnah, 2021) tentang guru dan dosen pasal 1 ayat 1 yang berbunyi : Guru
adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan
anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan
menengah (Syahputra
et al., 2018).
Kenyataan
ini seperti halnya menunjukkan bahwa kedudukan dan fungsi pendidik dalam
pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) masih mendominasi. Pendidik
memberitahukan fakta, konsep, prinsip, sedangkan peserta didik diantaranya
adalah bersikap pasif peserta didik dalam proses belajar mengajar, kurangnya
kontribusi keterlibatan peserta didik selama proses pembelajaran, materi
terbatas konsep sehingga peserta didik sulit memahami materi pembelajaran,
proses pembelajaran yang terlalumonoton dan kurang bervariasi, masih diterapkan
budaya menghafal dari pada memahami didalam proses pembelajaran (Gani,
2018).
Jika
pendidikan diyakini sepenuhnya sebagai kunci untuk kemajuan bangsa, maka para
penyelenggara negara harus mampu untuk menyelesaikan sejumlah masalah
pendidikan di Indonesia (Ridwan
& Sumirat, 2021). Rendahnya mutu pendidikan di Indonesia
bukanlah sesuatu masalah yang bisa dianggap remeh. Perlu adanya peningkatan
kualitas pada pendidikan, rendahnya mutu
pendidikan disebabkan pada proses mengajar pembelajaran yang belum memperoleh
perhatian secara optimal, masih ada para pendidik yang pembelajarannya
menggunakan cara kuno dalam proses belajar-mengajar (Ariska,
2018). Bahwa, pengetahuan
dialihkan dari pendidik kepeserta didik sehingga pendidik lebih aktif dalam
menyampaikan informasi, sedangkan peserta didik hanya mendengar dan mencatat (Cucum et
al., 2018). Hal ini merupakan ciri pembelajaran yang monoton.
Pembelajaran yang dibutuhkan pada saat
ini dikurikulum 2013 yaitu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta
didik (Wardinur
& Mutawally, 2019).
Kecenderungan
pembelajaran yang demikian menyebabkan aktifitas peserta didik dalam proses
belajar-mengajar menjadi kurang, sehingga gagal melahirkan peserta didik yang
mandiri dalam belajar, kreatif dalam menghadapi suatu permasalahan dan memiliki
kemampuan bekerja sama dalam kelompok, berpikir secara kritis dan
analitis, maka muncul perasaan tegang
dan membosankan terhadap pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) (Syaparuddin
et al., 2020). Selain itu, perhatian terhadap hasil
belajar peserta didik dalam Ilmu Pengetahuan Alam harus terus ditingkatkan,
karena secara umum hasil belajar peserta didik dalam Ilmu Pengetahuan Alam
masih rendah (Hisbullah
& Firman, 2019).
Permasalahan
rendahnya tingkat aktifitas dan hasil belajar peserta didik ini harus perlu
disikapi dengan serius melalui berbagai upaya atau cara kearah perbaikan
terhadap desain strategi, metode serta model pembelajaran Ilmu Pengetahuan
Alam. Oleh sebabitu, hendaknya seorang pendidik dapat menguasai dan memiliki
metode pengajaran yang cocok dengan topik yang akan diajarkan sehingga dapat
mencapai tujuan yang diharapkan secara maksimal (Hasibuan
et al., 2022).
Untuk
tahap awal, pembelajaran yang berhasil ditunjukkan dengan dikuasainya materi
pelajaran oleh peserta didik. Tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi
pembelajaran biasanya dinyatakan dengan nilai hasil belajar (Widyawati,
2021). Namun demikian, kenyataan yang muncul di lapangan
berdasarkan analisis dan refeleksi hasil tes formatif materi pada Tema 9
Kayanya Negeriku Subtema 3 Sumber energi, perubahan bentuk energi dan sumber
energi alternatif ( angin, air, matahari, panas bumi, bahan bakar organik dan
nuklir ) dalam kehidupan sehari-hari pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam
kelas IV di MI Salafiyah Cirebon menunjukan rendahnya hasil belajar peserta
didik terhadap materi pelajaran tersebut, hanya 7 orang dari 28 peserta didik
dengan KKM mencapai 70.
Penelitian
ini bertujuan untuk memastikan bahwa peserta didik memiliki pemahaman yang
lebih baik tentang materi pelajaran. Dengan menggunakan metode inquiry, mereka
diharapkan dapat lebih aktif terlibat dalam proses pembelajaran, sehingga
pemahaman mereka terhadap konsep-konsep yang diajarkan meningkat.
METODE PENELITIAN
Metode
Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian
tindakan kelas. Populasi
pada penelitian ini adalah peserta didik MI Salafiyah Cirebon tahun
ajaran 2021/2022 kelas IV yang terdiri dari 483 orang yang terdiri dari 253
peserta didik laki laki dan 230 peserta didik perempuan. sampel diambil dari kelas IV A dengan jumlah sebanyak 28 peserta
didik yang dijadikan sebagai objek atau subjek penelitian. Untuk mengumpulkan data
penelitian ini menggunakan tes yang digunakan untuk mengukur hasil belajar
peserta didik berupa tes yang terdiri dari kalimat soal pertanyaan yang
berdasarkan materi pembahasan dan non tes yang digunakan yakni observasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada
siklus I di kelas IVA diberi perlakuan belum sepenuhnya yaitu pembelajaran IPA
materi sumber energi alternatif dengan menggunakan metode inqury terbimbing dan
dibarengkan dengan metode ceramah. Sedangkan di siklus II diberi perlakuan
sepenunhnya dengan menggunakan metode inquiry terbimbing pada pembelajaran IPA. Adapun
teknik pelaksanaan metode inquiry terbimbing dalam penelitan ini ialah bekerja
secara berkelompok dengan temean sebangku yang bertugas sebagai pembaca dan pendengar
untuk mengamati teks bacaan materi sumber energi alternatif dengan
mengungkapkan hasil pengamatannya melalui lembar kerja yang harus diiisi telah
diberikan oleh guru. Setelah diisinya lembar kerja peserta didik hasilnya
disampaikan secara terbuka agar diberikan tanggapan oleh guru dan peserta didik
lainnya.
Setelah
selesai guru memberikan pertanyaan terkait materi sumber anergi alternatif
kepada seluruh peserta didik, pertanyaannya berupa : 1. Apakah energi
alternatif masih di gunakan dalam kehidupan saat ini ?, 2. Apa saja energi
alternatif yang digunakan saat ini ?, bagaimana pendapat kalian jika energi
selain alternatif yang digunakan saat
ini mulai langka atau susah di dapat seperti minyak bumi, gas elpiji dan
lainnya?. Dari pertanyaan yang diberikan oleh guru dijawab oleh peserta didik
berdasarkan pemahaman yang telah diperoleh dari hasil membaca dan pengamatan
teks materi sumber energi alternatif. Dilanjutkan diskusi dngan mengarahkan
peserta didik untuk memikir manfaat dari penggunaan sumber energi alternatif dan guru memberikan contoh
gambaran pemikiran berupa pakaian yang sudah di cuci setelah itu di jemurkan,
guru meminta pada peserta didik untuk berpikir dan mengamati maksud dari guru
tersebut.Selanjutnya, guru memberikan waktu kepada semua peserta didik untuk
mengajukan pertanyaan yang terkait fenomena yang diamati.
Setelah
itu peneliti melakukan penelitian dengan memberikan soal uji coba instrument
tes dengan teknik tes ini supaya mendapatkan hasil studi lapangan atau hasil
data, yang bertujuan untuk mnegetahui pengaruh menggunakan metode inquiry
terbimbing terhadap hasil belajar dan aktivitas belajara peserta didik.
Kegiatan penelitian ini dilakukan di MI Salafiyah Cirebon. Peneliti melakukan
analisis data secara kuantitatif.
Pelaksanaan
penelitian persiklus
Peneliti
pada tahap ini, peneliti pertama menyusun RPP, penulis menentukan media dan
instrument pembelajaran seperti LKS dan soal-soal evaluasi. Pada siklus I
dilakukan 3 kali pertemuan, pada siklus ini dilaksanakan empat tahapan yaitu
perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi, dengan waktu pelaksanaan
seperti pada tabel berikut:
Tabel 1 Jadwal Pelaksanaan Siklus I
|
No |
Hari/Tanggal |
Jam Ke |
Kegiatan |
|
1 |
Kamis,
04 Agustus 2022 |
6-7 (11.00-12.10) |
Siklus I
(pertemuan 1) |
|
2 |
Selasa,
09 Agustus 2022 |
3-4 (08.45-09.55) |
Siklus I
(pertemuan 2) |
|
3 |
Kamis,
11Agustus 2022 |
6-7 (11.35-12.10) |
Tes
Hasil Belajar Siklus I |
Tes
berupa pilihan ganda (objektif) yang berjumlah 10 butir, pada hari Kamis,
tanggal 11 Agustus 2022, berikut dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 2 Rekap Hasil Belajar Peserta Didik
Siklus I
|
Keterangan |
Skor |
|
Jumlah Total nilai |
1990 |
|
Rata-Rata (Mean) |
71.07 |
|
KKM (Kriteria
Ketuntasan Minimal) |
70 |
|
Nilai Tertinggi |
90 |
|
Nilai Terendah |
40 |
|
Jumlah Peserta Didik
yang Mesti Diremidial |
8 |
|
Jumlah Siswa yang
Perlu Diberi Pengayaan |
20 |
|
Presentase Ketuntasan
Belajar |
71.43% |
Refleksi
merupakan kajian secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan berdasarkan
data yang telah terkumpul, kemudian dilakukan evaluasi guna penyempurnaan
tindakan. Refleksi menyangkut analisis, sintesis, dan penilaian terhadap hasil
pengamatan atas tindakan yang dilakukan. Berdasarkan hasil belajar peserta
didik untuk siklus I rata-rata persentase yang diperoleh yaitu 71,07% dengan
kriteria hasil belajar peserta didik persentase berada pada 61% - 80% termasuk
katagori baik. Dengan tingkat presentase ketuntasan belajar mencapai 71,43%
Hasil yang dicapai pada siklus I belum mencapai kondisi ideal, Karena masih ada
8 peserta didik yang memperoleh nilai di bawah KKM 70. Dan tingkat ketuntasan
belajar secara klaksikal belum mencapai ≥ 80%.
Berdasarkan
hasil refleksi siklus I, maka untuk siklus II disusun rencana perbaikan.
Sebagai upaya perbaikan tindakan untuk siklus II. Perbaikan yang dilaksanakan
untuk mengatasi kendala pada siklus I adalah meningkatkan bimbingan terhadap
peserta didik yang masih bermasalah dalam mengerjakan tugasnya. Waktu
pelaksanaan siklus II seperti pada tabel berikut:
Tabel 3 Jadwal Pelaksanaan Siklus II
|
No |
Hari/Tanggal |
Jam Ke |
Kegiatan |
|
1 |
Kamis,
18 Agustus 2022 |
6-7 (11.00-12.10) |
Siklus
II (pertemuan 1) |
|
2 |
Selasa,
23 Agustus 2022 |
3-4 (08.45-09.55) |
Siklus
II (pertemuan 2) |
|
3 |
Kamis,
25Agustus 2022 |
6-7 (11.35-12.10) |
Tes
Hasil Belajar Siklus II |
Dengan
demikian evaluasi yang digunakan pada siklus II adalah butir soal objektif
berjumlah 10 butir yang harus dijawab oleh peserta didik dengan hasil sebagai
berikut:
Tabel 4 Rekap Hasil Belajar Peserta Didik
Siklus II
|
Keterangan |
Skor |
|
Jumlah Total Nilai |
2230 |
|
Rata- Rata (Mean) |
79.64 |
|
KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) |
70 |
|
Nilai
Tertinggi |
100 |
|
Nilai
Terendah |
60 |
|
Jumlah
Peserta Didik yang mesti diremedial |
2 |
|
Jumlah
Siswa yang perlu diberi penngayaan |
26 |
|
Presentase
Ketuntas Belajar |
92.86% |
Rata-rata
persentase hasil belajar yang diperoleh yaitu 79,64% termasuk kedalam kriteria
sangat baik dengan memperoleh tingkat presentase ketuntasan belajar 92,86%.
Peningkatan ini disebabkan peserta didik sudah terbiasa dengan penggunaan
metode pembelajaran Inquiri terbimbing. Sedangkan ada 2 peserta didik yang
nilainya belum mencapai KKM dikarenakan peserta didik kurang terfokus pada
pembelajaran, senang mengobrol dengan peserta didik lain dan menjawab
pertanyaan kurang tepat.
Peningkatan
data hasil belajar peserta didik pada refleksi awal, siklus I, dan siklus II
dapat digambarkan dalam bentuk grafik seperti pada gambar dibawah ini.

Gambar 1 Presentase Hasil Belajar Peserta
Didik,
pada Siklus I dan II
Dilihat
dari hasil refleksi siklus I terlihat adanya berbagai kendala-kendala yang
muncul dalam proses pelaksanaan pembelajaran. Kendala tersebut disebabkan oleh
yaitu:
1. Peserta didik belum terbiasa dengan
pembelajaran menggunakan metode Inquiri terbimbing
2. Masih adanya kelompok peserta didik yang
belum menyelesaikan tugas dengan waktu yang ditentukan
3. Diskusi antar peserta didik belum
maksimal
4. Kegiatan
pembelajaran sering didominasi oleh peserta didik yang pintar
5. Waktu belajar kurang efektif sehingga
pembelajaran tidak optimal.
Berdasarkan
implementasi rancangan pada siklus II yang merupakan perbaikan tindakan siklus
I, memberikan peningkatan hasil yang signifikan dilihat dari peningkatan
persentase hasil belajar. Hal tersebut disebabkan karena peserta didik sudah
terbiasa mengikuti pembelajaran dengan menggunakan metode Inquiri terbimbing.
Pembelajaran dengan menggunakan metode Inquiri terbimbing melatih peserta didik
untuk menjawab dan menemukan sendiri pemecahan masalah yang mereka hadapi
dengan bimbingan guru.
Dari
paparan di atas selain hasil belajar yang di teliti, peneliti juga meneliti
aktivitas belajar peserta didik dalam pembelajaran berlangsung. Bedasarkan
hasil observasi aktivitas belajar peserta didik di kelas IVA yang telah di
lakukan sebelum di terapkan metode Inquiry terbimbing dan sesudah diterapkannya
metode Inquiry terbimbing, pengamatan observasi ini dilakukan 1 kali persiklus.
Berikut Hasil observasi aktivitas belajar peserta didik beberapa aspek yang
dinilai dapat dilihat pada tabel.
Tabel 5 Rekap Aktivitas Belajar Peserta
Didik Siklus I dan II
|
Keterangan |
Siklus |
|
|
I |
II |
|
|
Skor Total |
21 |
35 |
|
Skor Maksimal |
44 |
44 |
|
Rata-rata |
32,50 |
39,50 |
|
Presentase keseluruhan |
47,73% |
79,55% |
Dari
data hasil yang telah di peroleh dari analisis data terdapat pada siklus I
pertemuan 1 aktivitas peserta didik termasuk katagori kurang. Dengan hasil
rata-rata 32,50 dengan presentase 47,73%, yang dimana aktivitas peserta didik
masih didominasi bermain dan mengobrol belum terfokus pada pembelajaran. Tahap
selanjutnya pada siklus II adanya peningkatan aktivitas belajar peserta didik
pada pertemuan 2 dengan meningkatnya hasil rata-rata 39,50 dengan presentase
79,55% di kategorikan masuk kedalam baik dan dalam pembelajaran sudah
menggunakan metode Inquiry terbimbing untuk membiasakan peserta didik.
1. Analisis Data
Untuk menghitung ketuntasan belajar
persiklus digunakan rumus sebagai berikut: Analisis hasil belajar siklus I
a. Data nilai presentase belajar siklus I
diperoleh meggunakan rumus:
Nilai =
x
100 %
=
%
b. Data rata-rata nilai siswa diperoleh
menggunakan rumus :
Me =
= ![]()
c. Menghitung ketuntasan belajar peserta didik
digunakan rumus sebagai berikut :
(KB )
100%
= ![]()
Berdasarkan
analisis data hasil belajar IPA peserta didik, diperoleh persentase rata-rata
hasil belajar pada siklus I sebesar
%. Setelah dikonversikan pada criteria hasilbelajar
IPA ternyata berada pada rentang 61% - 80% termasuk kriteria hasil belajar
baik. Ketuntasan belajar peserta didik hanya mencapai
Dari 28 orang peserta didik hanya 20 orang
peserta didik yang tuntas dan 8 orang peserta didik belum tuntas atau belum mencapai nilai sesuai
dengan KKM yang ditetapkan yaitu 70 untuk pelajaran IPA.
2. Analisis hasil belajar siklus II
a. Data nilai presentase belajar siklus II
diperoleh meggunakan rumus:
Nilai
=
x
100 %
=
%
b. Data rata-rata nilai siswa diperoleh
menggunakan rumus:
Me = ![]()
=
![]()
c. Menghitung ketuntasan belajar peserta
didik digunakan rumus sebagai berikut :
(KB )
100%
=
![]()
Berdasarkan
hasil analisis data hasil belajar IPA peserta didik, diperoleh persentase
rata-rata hasil belajar pada siklus II meningkat sebesar
%. Setelah dikonversikan pada kriteria
hasil belajar IPA ternyata berada pada rentang 81-100% termasuk kriteria hasil
belajar sangat baik. Ketuntasan belajar peserta didik hanya mencapai
dari 28 orang peserta didik hanya 26
orang peserta didik yang tuntas dan 2
orang peserta didik belum tuntas atau
belum mencapai nilai sesuai dengan KKM yang ditetapkan yaitu 70 untuk
pelajaran IPA.
3. Analisis hasil observasi aktivitas
belajar peserta didik siklus I
Untuk
menghitung hasil persentase aktivitas belajar peserta didik siklus I, observasi
ini di lakukan 1 kali dalam pertemuan dengan menggunakan rumus yang digunakan
untuk observasi sebagai berikut:
Aktivitas
Belajar = ![]()
Pertemuan 1 :
Aktivitas
Belajar=
47.73%
4. Analisis hasil observasi aktivitas
belajar peserta didik siklus II
Pada observasi
aktivitas belajar siklus II untuk menghitung hasil observasinya menggunakan
cara yang sama seperti siklus I sebelumnya, perhitungan observasi ini dengan
menggunakan rumus yang digunakan untuk observasi sebagai berikut:
Aktivitas Belajar = ![]()
Pertemuan 2 :
Aktivitas Belajar =
79.55%
Berdasarkan
analisis data observasi aktivitas belajar peserta didik pada pelajaran IPA,
diperoleh persentase rata-rata hasil belajar pada siklus I dan II dari setiap
pertemuan baik pertemuan ke 1 sebesar 47,73% pada kriteria persentase observasi
aktivitas belajar pada rentang 50% ≤ AB ≤ 60% termasuk kriteria
aktivitas belajar cukup. Pada pertemuanke 2 sebesar 79,55%, Setelah
dikonversikan pada kriteria persentase observasi aktivitas belajar IPA ternyata
berada pada rentang 70% ≤ AB ≤ 80% termasuk kriteria aktivitas
belajar baik. Sangat meningkat dikarenakan telah menggunakan metode Inquiry
terbimbing dan peserta didik terbiasa dengan metode Inquiry terbimbing selisih
rata – rata hasil observasi yaitu 31,82%
Pembahasan
Peneliti
dapat dikatakan berhasil karena semua kriteria terpenuhi. Jadi, dapat
dinyatakan bahwa menggunakan metode inquiry terbimbing dapat meningkatkan hasil
belajar IPA dan aktivitas belajar peserta didik kelas IVA MI Salafiyah Cirebon,
dan dengan didapatkannya hasil pada siklus I peningkatan mencapai 71,43%, dan
pada siklus II peningkatan mencapai 92,86% dari siklus I. Dalam hal ini menurut
Ibrahim (dalam Fauziah, 2016) menerangkan guide inkuiry sebagai kegiatan
inkuiri dimana peserta didik diberikan kesempatan untuk bekerja merumuskan
prosedur, menganalisis hasil, dan mengambil kesimpulan secara mandiri,
sedangkan dalam hal menentukan topik, pertanyaan, dan bahan penunjang, guru
hanya sebagai fasilitator
Menurut
Hanafiah (dalam Fauziah, 2016) yang menyatakan bahwa: Inkuiri Terbimbing adalah
pelaksanaan discovery dan inkuiry yang dilakukan atas petunjuk dari guru.
Keduanya dimulai dari pertanyaan inti, guru melakukan pertanyaan yang melacak,
dengan tujuan untuk mengarahkan peserta didik kesimpulan yang diharapkan.
Selanjutnya, siswa melakukan percobaan untuk membuktikan pendapat yang
dikemukakannya.
Temuan
Pada
pelaksanaan kegiatan awal penelitian ini, peneliti melakukan observasi terhadap
pembelajaran IPA di kelas IVA dari observasi tersebut ditemukan bahwa masih ada
peserta didik yang kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran khususnya dalam
materi sumber energi alternatif, serta masih banyak peserta didik yang bermain
dan mengobrol saat pembelajaran berlangsung. Ketika guru memberikan pertanyaan
terkait materi tersebut kepada peserta didik, peserta didik belum bias menjawab
dengan jawaban yang benar dan ketika
diberikan tugas oleh guru masih ada banyak peserta didik yang mendapat hasil
belajar yang rendah. Menurut Wasliman (dalam Susanto, 2013) hasil belajar yang
dicapai oleh peserta didik merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor
yang mempengaruhinya, baik faktor internal maupun eksternal. Secara rinci
diuraikan sebagai berikut:
1. Faktor internal; faktor internal
merupakan faktor yang bersumber dari dalam diri peserta didik, yang
mempengaruhi kemampuan belajarnya. Faktor internal ini meliputi: kecerdasan,
minat dan perhatian, motivasi belajar, ketekunan, sikap, kebiasaan belajar,
serta kondisi fisik dan kesehatan.
2. Faktor eksternal; faktor yang berasal
dari luar diri peserta didik yang mempengaruhi hasil belajar yaitu keluarga,
sekolah, dan masyarakat.
Selanjutnya,
dikemukakan oleh Wasliman (dalam Susanto, 2013) bahwa sekolah merupakan salah
satu faktor yang ikut menentukan hasil belajar siswa. “Semakin tinggi kemampuan
belajar siswa dan kualitaspengajaran di sekolah, maka semakin tinggi pula hasil
belajar siswa”. Kualitas pengajaran di sekolah sangat ditentukan oleh guru.
Guru adalah komponen yang sangat menentukan dalam implementasi suatu strategi
pembelajaran.
Dengan
demikian, dapat diketahui dengan menggunakan metode Inquiry terbimbing dapat
meningkatkan hasil belajar pada pelajaran IPA kelas IV semester II MI Salafiyah
Cirebon tahun pelajaran 2021/2022. hal ini dapat dilihat dari hasil rata-rata
siklus I 71,07%, berada pada kriteria tingkat penguasaan 61% - 80% termasuk
katagori baik. Sedangkan pada siklus II rata-rata hasil belajar IPA yaitu
81,07% dalam kategori sangat baik dan terjadi peningkatan 10% dari siklus
I. dari data ketuntasan kalsikal siklus
I yaitu 71,43% dan pada siklus II meningkat menjadi 92,86%.
Adapun
hasil dari aktivitas belajar peserta didik dari siklus I pertemuan I yaitu
47,73%. beada pada kriteria 30% - 40% termasuk kategori kurang. Untuk pertemuan
2 aktivitas peserta didik mengalami peningkatan mulai bertahap pada pertemuan
ini diperoleh dengan rata-rata persentase 79,55%. pada siklus II adanya
peningkatan aktivitas belajar peserta didik meningkatnya rata-rata persentase
dikategorikan masuk kedalam baik.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan,
maka didapat simpulan bahwa penggunaan metode Inquiry terbimbing diketahui
dapat meningkatkan hasil belajar pada pelajaran IPA kelas IV semester II MI
Salafiyah Cirebon tahun pelajaran 2021/2022. hal ini dapat dilihat dari hasil
rata-rata siklus I 71,07%, berada pada kriteria tingkat penguasaan 61% - 80%
termasuk katagori baik. Sedangkan pada siklus II rata-rata hasil belajar IPA
yaitu 81,07% dalam kategori sangat baik dan terjadi peningkatan 10% dari siklus
I. dari data ketuntasan kalsikal siklus
I yaitu 71,43% dan pada siklus II meningkat menjadi 92,86%. Hasil dari
aktivitas belajar peserta didik dari siklus I pertemuan I yaitu 47,73%. beada
pada kriteria 30% - 40% termasuk kategori kurang. Untuk pertemuan 2 aktivitas
peserta didik mengalami peningkatan mulai bertahap pada pertemuan ini diperoleh
dengan rata-rata persentase 79,55%. pada siklus II adanya peningkatan aktivitas
belajar peserta didik meningkatnya rata-rata persentase dikategorikan masuk
kedalam baik.
REFERENCES
Ariska, P. A. (2018). Peran guru sebagai
pembimbing dalam meningkatkan nilai-nilai pancasila pada siswa kelas X SMA
Negeri 1 Pakel Tulungagung Tahun Ajaran 2016-2017. Jurnal Rontal Keilmuan
Pancasila Dan Kewarganegaraan, 4(1).
Arikunto,
Suharsimi. (2007). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
CA, L. F.
(2022). Peningkatan Hasil Belajar Siswa Slow Learner Dengan Menggunakan Alat
Peraga IPA Kelas III SDN Cibunar. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 8(23),
262–273.
Cucum, C.,
Rohayat, A., Rusmana, M., & Tetep, T. (2018). Penggunaan media pembelajaran
program PowerPoint terhadap motivasi dan hasil belajar siswa pada pelajaran ipa
sekolah dasar. Teknologi Pembelajaran, 3(1).
Dwiyono, Y.
(2021). Pelatihan Penyusunan Proposal dan Laporan Hasil Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) Untuk Guru SD Gugus I Kecamatan Sungai Kunjang Samarinda. Jurnal
Pengabdian Kreativitas Pendidikan Mahakam (JPKPM), 1(2), 113–121.
Gani, A. G.
(2018). e-Learning Sebagai Peran Teknologi Informasi Dalam Modernisasi
Pendidikan. JSI (Jurnal Sistem Informasi) Universitas Suryadarma, 3(1), 1–19.
Hasibuan, A.
T., Ananda, F., Mawaddah, M., Putri, R. M., & Siregar, S. R. A. (2022).
Kreativitas Guru Menggunakan Metode Pembelajaran Pkn Di Sdn 010 Hutapuli.
Jurnal Pendidikan Tambusai, 6(2), 9946–9956.
Hermanto, B.
(2020). Perekayasaan sistem pendidikan nasional untuk mencerdaskan kehidupan
bangsa. Foundasia, 11(2).
Hisbullah, H.,
& Firman, F. (2019). Penerapan Model Pembelajaran Snowball Throwing dalam
Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam di Sekolah Dasar. Cokroaminoto
Journal of Primary Education, 2(2), 100–113.
Jumiah, J.
(2021). Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Pai Materi Akhlak Terpuji Melalui
Penerapan Model Pembelajaran Reading Guide Pada Siswa Kelas 4 di SD 002 Belakang
Padang. ElementaRY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar, 1(1), 48–56.
Junistira, D.
D. (2022). Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD untuk Meningkatkan
Hasil Belajar Siswa Kelas V Mata Pelajaran IPS. JIIP-Jurnal Ilmiah Ilmu
Pendidikan, 5(2), 533–540.
Misrah, M.
(2023). Potensi Pengembangan Kaum Milenial Melalui Ekonomi Kreatif Dengan
Penguatan Kewirausahaan Pada SMAS Batara Kabupaten Gowa. Ejoin: Jurnal
Pengabdian Masyarakat, 1(8), 890–898.
Nasution, H. F.
(2016). Instrumen penelitian dan urgensinya dalam penelitian kuantitatif.
Al-Masharif: Jurnal Ilmu Ekonomi Dan Keislaman, 4(1), 59–75.
Rahayu, K.
(2017). UPAYA Meningkatkan Prestasi Belajar Seni Budaya Pada Pokok Bahasan
Menggambar Ilustrasi Dengan Metode Jigsaw Pada Siswa Kelas VIII SMPN 2 Pelaihari.
Jurnal Mitra Manajemen, 1(2), 138–150.
Ridwan, I.,
& Sumirat, I. R. (2021). Kebijakan desentralisasi pendidikan di era otonomi
daerah. Jurnal Pendidikan Karakter JAWARA (Jujur, Adil, Wibawa, Amanah, Religius,
Akuntabel), 7(1).
Susilowati, D.
(2018). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) solusi alternatif problematika
pembelajaran. Jurnal Ilmiah Edunomika, 2(01).
Syahputra, F.,
Mesran, M., Lubis, I., & Windarto, A. P. (2018). Sistem Pendukung Keputusan
Pemilihan Guru Berprestasi Kota Medan Menerapkan Metode Preferences Selection
Index (Studi Kasus: Dinas Pendidikan Kota Medan). KOMIK (Konferensi Nasional
Teknologi Informasi Dan Komputer), 2(1).
Syaparuddin,
S., Meldianus, M., & Elihami, E. (2020). Strategi pembelajaran aktif dalam
meningkatkan motivasi belajar pkn peserta didik. Mahaguru: Jurnal Pendidikan
Guru Sekolah Dasar, 1(1), 30–41.
Susanto, Ahmad.
(2013). Teori Belajar
dan Pembelajaran di
Sekolah Dasar.Kencana Prenada
Media Group. Jakarta.
Wardinur, W.,
& Mutawally, F. (2019). Peningkatan Kompetensi Guru Melalui Pelatihan
Pemanfaatan Teknologi sebagai Media Pendukung Pembelajaran di MAN 1 Pidie.
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi), 13(2), 167–182.
Widyawati, A.
(2021). Peningkatan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS dengan materi
pemanfaatan sumber daya alam melalui media video Kelas iv SDN karangkidul
semarang. Jurnal Didaktis Indonesia, 1(1), 13–22.