UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN  AKTIVITAS BELAJAR PESERTA DIDIK MELALUI METODE INQUIRY  

 

Mochamad Hafizh Restiyanto

STKIP Nahdlatul Ulama Indramayu

Email mochamadhafizhrestiyanto20@gmail.com1

Keywords

Abstract

Guided inquiry method; learning outcomes; learning activities

 

Education is a long-term asset that is useful for the national development process. National development, in line with the rapid development of education and technology, development in Indonesia is based on the availability of knowledgeable, broad-minded and highly skilled human resources. This research aims to determine learning activities and improvement in learning outcomes after applying the inquiry method to class IV students at MI Salafiyah Cirebon. The research method used in this research is the classroom action research method. The population in this study was class IV students consisting of 483 people. Based on the analysis of the calculation results, it was found that in cycle I the students' learning completeness was 71.43% in the good category, and whereas in the second cycle the students' learning completeness increased to 92.86%, this percentage was in the very good category. Based on analysis of observational data, it is proven that using the guided inquiry method can increase student activity in the science learning process for class IVA MI Salafiyah Cirebon for the 2021/2022 academic year. The conclusion from this research is that the use of the guided inquiry method is known to improve learning outcomes in science lessons in class IV semester II.

Kata Kunci

Abstrak

Metode inquiry terbimbing; hasil belajar; aktivitas belajar

 

Pendidikan merupakan asset jangka panjang yang berguna untuk proses pembangunan nasional. Pembangunan nasional, sejalan dengan berkembang pesatnya pendidikan dan teknologi, pembangunan di Indonesia berdasarkan ketersediannya sumber daya manusia yang berpengetahuan, wawasan luas dan berketerampilan tinggi.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas belajar dan peningkatan hasil belajar setelah diterapkan metode inquiry pada peserta didik kelas IV MI Salafiyah Cirebon. Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas. Populasi pada penelitian ini adalah peserta didik kelas IV yang terdiri dari 483 orang. Berdasarkan analisis hasil perhitungan, diperoleh pada siklus I ketuntasan belajar peserta didik 71,43% masuk dalam kategori baik, dan sedangkan pada siklus II ketuntasan belajar peserta didik meningkat menjadi 92,86% pada presentase ini masuk kategori sangat baik. Berdasarkan analisis data hasil observasi, terbukti bahwa menggunakan metode Inquiry terbimbing dapat meningkatkan keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran IPA kelas IVA MI Salafiyah Cirebon Tahun Pelajaran 2021/2022. Kesimpulan dari penelitian ini penggunaan metode Inquiry terbimbing diketahui dapat meningkatkan hasil belajar pada pelajaran IPA  kelas IV  semester II.

Corresponding Author: Mochamad Hafizh Restiyanto

E-mail: mochamadhafizhrestiyanto20@gmail.com

Description: https://jurnal.syntax-idea.co.id/public/site/images/idea/88x31.png

 

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan asset jangka panjang yang berguna untuk proses pembangunan nasional. Pembangunan nasional, sejalan dengan berkembang pesatnya pendidikan dan teknologi, pembangunan di Indonesia berdasarkan ketersediannya sumber daya manusia yang berpengetahuan, wawasan luas dan berketerampilan tinggi (Misrah, 2023). Tanggung jawab untuk menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas salah satunya tercantum dalam Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 pasal 3 tahun 2003 (Dalam Sisdiknas, 2022), yaitu:

Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan potensi Pelajar dengan karakter Pancasila agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, mandiri, berilmu dan bernalar kritis, berkebinekaan, bergotong royong, dan kreatif. Dalam pendidikan terdapat peranan penting bagi pendidik, Peranan pendidik dalam pembelajaran tercantum dalam UU No. 14 tahun 2005 (dalam Hasnah, 2021) tentang guru dan dosen pasal 1 ayat 1 yang berbunyi : Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (Syahputra et al., 2018).

Kenyataan ini seperti halnya menunjukkan bahwa kedudukan dan fungsi pendidik dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) masih mendominasi. Pendidik memberitahukan fakta, konsep, prinsip, sedangkan peserta didik diantaranya adalah bersikap pasif peserta didik dalam proses belajar mengajar, kurangnya kontribusi keterlibatan peserta didik selama proses pembelajaran, materi terbatas konsep sehingga peserta didik sulit memahami materi pembelajaran, proses pembelajaran yang terlalumonoton dan kurang bervariasi, masih diterapkan budaya menghafal dari pada memahami didalam proses pembelajaran (Gani, 2018).

Jika pendidikan diyakini sepenuhnya sebagai kunci untuk kemajuan bangsa, maka para penyelenggara negara harus mampu untuk menyelesaikan sejumlah masalah pendidikan di Indonesia (Ridwan & Sumirat, 2021). Rendahnya mutu pendidikan di Indonesia bukanlah sesuatu masalah yang bisa dianggap remeh. Perlu adanya peningkatan kualitas pada pendidikan,  rendahnya mutu pendidikan disebabkan pada proses mengajar pembelajaran yang belum memperoleh perhatian secara optimal, masih ada para pendidik yang pembelajarannya menggunakan cara kuno dalam proses belajar-mengajar (Ariska, 2018). Bahwa,  pengetahuan dialihkan dari pendidik kepeserta didik sehingga pendidik lebih aktif dalam menyampaikan informasi, sedangkan peserta didik hanya mendengar dan mencatat (Cucum et al., 2018). Hal ini merupakan ciri pembelajaran yang monoton. Pembelajaran yang dibutuhkan  pada saat ini dikurikulum 2013 yaitu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta didik (Wardinur & Mutawally, 2019).

Kecenderungan pembelajaran yang demikian menyebabkan aktifitas peserta didik dalam proses belajar-mengajar menjadi kurang, sehingga gagal melahirkan peserta didik yang mandiri dalam belajar, kreatif dalam menghadapi suatu permasalahan dan memiliki kemampuan bekerja sama dalam kelompok, berpikir secara kritis dan analitis,  maka muncul perasaan tegang dan membosankan terhadap pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) (Syaparuddin et al., 2020). Selain itu, perhatian terhadap hasil belajar peserta didik dalam Ilmu Pengetahuan Alam harus terus ditingkatkan, karena secara umum hasil belajar peserta didik dalam Ilmu Pengetahuan Alam masih rendah (Hisbullah & Firman, 2019).

Permasalahan rendahnya tingkat aktifitas dan hasil belajar peserta didik ini harus perlu disikapi dengan serius melalui berbagai upaya atau cara kearah perbaikan terhadap desain strategi, metode serta model pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Oleh sebabitu, hendaknya seorang pendidik dapat menguasai dan memiliki metode pengajaran yang cocok dengan topik yang akan diajarkan sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan secara maksimal (Hasibuan et al., 2022).

Untuk tahap awal, pembelajaran yang berhasil ditunjukkan dengan dikuasainya materi pelajaran oleh peserta didik. Tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi pembelajaran biasanya dinyatakan dengan nilai hasil belajar (Widyawati, 2021). Namun demikian, kenyataan yang muncul di lapangan berdasarkan analisis dan refeleksi hasil tes formatif materi pada Tema 9 Kayanya Negeriku Subtema 3 Sumber energi, perubahan bentuk energi dan sumber energi alternatif ( angin, air, matahari, panas bumi, bahan bakar organik dan nuklir ) dalam kehidupan sehari-hari pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam kelas IV di MI Salafiyah Cirebon menunjukan rendahnya hasil belajar peserta didik terhadap materi pelajaran tersebut, hanya 7 orang dari 28 peserta didik dengan KKM  mencapai 70.

Penelitian ini bertujuan untuk memastikan bahwa peserta didik memiliki pemahaman yang lebih baik tentang materi pelajaran. Dengan menggunakan metode inquiry, mereka diharapkan dapat lebih aktif terlibat dalam proses pembelajaran, sehingga pemahaman mereka terhadap konsep-konsep yang diajarkan meningkat.

 

METODE PENELITIAN

Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas. Populasi pada penelitian ini adalah peserta didik MI Salafiyah Cirebon tahun ajaran 2021/2022 kelas IV yang terdiri dari 483 orang yang terdiri dari 253 peserta didik laki laki dan 230 peserta didik perempuan. sampel diambil dari kelas IV A dengan jumlah sebanyak 28 peserta didik yang dijadikan sebagai objek atau subjek penelitian. Untuk mengumpulkan data penelitian ini menggunakan tes yang digunakan untuk mengukur hasil belajar peserta didik berupa tes yang terdiri dari kalimat soal pertanyaan yang berdasarkan materi pembahasan dan non tes yang digunakan yakni observasi.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

  Pada siklus I di kelas IVA diberi perlakuan belum sepenuhnya yaitu pembelajaran IPA materi sumber energi alternatif dengan menggunakan metode inqury terbimbing dan dibarengkan dengan metode ceramah. Sedangkan di siklus II diberi perlakuan sepenunhnya dengan menggunakan metode inquiry terbimbing pada pembelajaran IPA. Adapun teknik pelaksanaan metode inquiry terbimbing dalam penelitan ini ialah bekerja secara berkelompok dengan temean sebangku yang bertugas sebagai pembaca dan pendengar untuk mengamati teks bacaan materi sumber energi alternatif dengan mengungkapkan hasil pengamatannya melalui lembar kerja yang harus diiisi telah diberikan oleh guru. Setelah diisinya lembar kerja peserta didik hasilnya disampaikan secara terbuka agar diberikan tanggapan oleh guru dan peserta didik lainnya.

Setelah selesai guru memberikan pertanyaan terkait materi sumber anergi alternatif kepada seluruh peserta didik, pertanyaannya berupa : 1. Apakah energi alternatif masih di gunakan dalam kehidupan saat ini ?, 2. Apa saja energi alternatif yang digunakan saat ini ?, bagaimana pendapat kalian jika energi selain alternatif  yang digunakan saat ini mulai langka atau susah di dapat seperti minyak bumi, gas elpiji dan lainnya?. Dari pertanyaan yang diberikan oleh guru dijawab oleh peserta didik berdasarkan pemahaman yang telah diperoleh dari hasil membaca dan pengamatan teks materi sumber energi alternatif. Dilanjutkan diskusi dngan mengarahkan peserta didik untuk memikir manfaat dari penggunaan sumber  energi alternatif dan guru memberikan contoh gambaran pemikiran berupa pakaian yang sudah di cuci setelah itu di jemurkan, guru meminta pada peserta didik untuk berpikir dan mengamati maksud dari guru tersebut.Selanjutnya, guru memberikan waktu kepada semua peserta didik untuk mengajukan pertanyaan yang terkait fenomena yang diamati.

Setelah itu peneliti melakukan penelitian dengan memberikan soal uji coba instrument tes dengan teknik tes ini supaya mendapatkan hasil studi lapangan atau hasil data, yang bertujuan untuk mnegetahui pengaruh menggunakan metode inquiry terbimbing terhadap hasil belajar dan aktivitas belajara peserta didik. Kegiatan penelitian ini dilakukan di MI Salafiyah Cirebon. Peneliti melakukan analisis data secara kuantitatif.

 

Pelaksanaan penelitian persiklus

Peneliti pada tahap ini, peneliti pertama menyusun RPP, penulis menentukan media dan instrument pembelajaran seperti LKS dan soal-soal evaluasi. Pada siklus I dilakukan 3 kali pertemuan, pada siklus ini dilaksanakan empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi, dengan waktu pelaksanaan seperti pada tabel berikut:

 

Tabel 1 Jadwal Pelaksanaan Siklus I

No

Hari/Tanggal

Jam Ke

Kegiatan

1

Kamis, 04 Agustus 2022

6-7 (11.00-12.10)

Siklus I (pertemuan 1)

2

Selasa, 09 Agustus 2022

3-4 (08.45-09.55)

Siklus I (pertemuan 2)

3

Kamis, 11Agustus 2022

6-7 (11.35-12.10)

Tes Hasil Belajar Siklus I

Tes berupa pilihan ganda (objektif) yang berjumlah 10 butir, pada hari Kamis, tanggal 11 Agustus 2022, berikut dapat dilihat pada tabel 3.

 

Tabel 2 Rekap Hasil Belajar Peserta Didik Siklus I

Keterangan

Skor

Jumlah Total  nilai

1990

Rata-Rata (Mean)

71.07

KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal)

70

Nilai Tertinggi

90

Nilai Terendah

40

Jumlah Peserta Didik yang Mesti Diremidial

8

Jumlah Siswa yang Perlu Diberi Pengayaan

20

Presentase Ketuntasan Belajar

71.43%

 

Refleksi merupakan kajian secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan berdasarkan data yang telah terkumpul, kemudian dilakukan evaluasi guna penyempurnaan tindakan. Refleksi menyangkut analisis, sintesis, dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan. Berdasarkan hasil belajar peserta didik untuk siklus I rata-rata persentase yang diperoleh yaitu 71,07% dengan kriteria hasil belajar peserta didik persentase berada pada 61% - 80% termasuk katagori baik. Dengan tingkat presentase ketuntasan belajar mencapai 71,43% Hasil yang dicapai pada siklus I belum mencapai kondisi ideal, Karena masih ada 8 peserta didik yang memperoleh nilai di bawah KKM 70. Dan tingkat ketuntasan belajar secara klaksikal belum mencapai ≥ 80%.

Berdasarkan hasil refleksi siklus I, maka untuk siklus II disusun rencana perbaikan. Sebagai upaya perbaikan tindakan untuk siklus II. Perbaikan yang dilaksanakan untuk mengatasi kendala pada siklus I adalah meningkatkan bimbingan terhadap peserta didik yang masih bermasalah dalam mengerjakan tugasnya. Waktu pelaksanaan siklus II seperti pada tabel berikut:

 

Tabel 3 Jadwal Pelaksanaan Siklus II

No

Hari/Tanggal

Jam Ke

Kegiatan

1

Kamis, 18 Agustus 2022

6-7 (11.00-12.10)

Siklus II (pertemuan 1)

2

Selasa, 23 Agustus 2022

3-4 (08.45-09.55)

Siklus II (pertemuan 2)

3

Kamis, 25Agustus 2022

6-7 (11.35-12.10)

Tes Hasil Belajar Siklus II

 

Dengan demikian evaluasi yang digunakan pada siklus II adalah butir soal objektif berjumlah 10 butir yang harus dijawab oleh peserta didik dengan hasil sebagai berikut:

 

Tabel 4 Rekap Hasil Belajar Peserta Didik Siklus II

Keterangan

Skor

Jumlah Total Nilai

2230

Rata- Rata (Mean)

79.64

KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal)

70

Nilai Tertinggi

100

Nilai Terendah

60

Jumlah Peserta Didik yang mesti diremedial

2

Jumlah Siswa yang perlu diberi penngayaan

26

Presentase Ketuntas Belajar

92.86%

 

Rata-rata persentase hasil belajar yang diperoleh yaitu 79,64% termasuk kedalam kriteria sangat baik dengan memperoleh tingkat presentase ketuntasan belajar 92,86%. Peningkatan ini disebabkan peserta didik sudah terbiasa dengan penggunaan metode pembelajaran Inquiri terbimbing. Sedangkan ada 2 peserta didik yang nilainya belum mencapai KKM dikarenakan peserta didik kurang terfokus pada pembelajaran, senang mengobrol dengan peserta didik lain dan menjawab pertanyaan kurang tepat.

Peningkatan data hasil belajar peserta didik pada refleksi awal, siklus I, dan siklus II dapat digambarkan dalam bentuk grafik seperti pada gambar dibawah ini.

 

Gambar 1 Presentase Hasil Belajar Peserta Didik,

pada Siklus I dan II

 

Dilihat dari hasil refleksi siklus I terlihat adanya berbagai kendala-kendala yang muncul dalam proses pelaksanaan pembelajaran. Kendala tersebut disebabkan oleh yaitu:

1.       Peserta didik belum terbiasa dengan pembelajaran menggunakan metode Inquiri terbimbing

2.      Masih adanya kelompok peserta didik yang belum menyelesaikan tugas dengan waktu yang ditentukan

3.      Diskusi antar peserta didik belum maksimal

4.      Kegiatan  pembelajaran sering didominasi oleh peserta didik yang pintar

5.      Waktu belajar kurang efektif sehingga pembelajaran tidak optimal.

 

Berdasarkan implementasi rancangan pada siklus II yang merupakan perbaikan tindakan siklus I, memberikan peningkatan hasil yang signifikan dilihat dari peningkatan persentase hasil belajar. Hal tersebut disebabkan karena peserta didik sudah terbiasa mengikuti pembelajaran dengan menggunakan metode Inquiri terbimbing. Pembelajaran dengan menggunakan metode Inquiri terbimbing melatih peserta didik untuk menjawab dan menemukan sendiri pemecahan masalah yang mereka hadapi dengan bimbingan guru.

Dari paparan di atas selain hasil belajar yang di teliti, peneliti juga meneliti aktivitas belajar peserta didik dalam pembelajaran berlangsung. Bedasarkan hasil observasi aktivitas belajar peserta didik di kelas IVA yang telah di lakukan sebelum di terapkan metode Inquiry terbimbing dan sesudah diterapkannya metode Inquiry terbimbing, pengamatan observasi ini dilakukan 1 kali persiklus. Berikut Hasil observasi aktivitas belajar peserta didik beberapa aspek yang dinilai dapat dilihat pada tabel.


Tabel 5 Rekap Aktivitas Belajar Peserta Didik Siklus I dan II

Keterangan

Siklus

I

II

Skor Total

21

35

Skor Maksimal

44

44

Rata-rata

32,50

39,50

Presentase keseluruhan

47,73%

79,55%

 

Dari data hasil yang telah di peroleh dari analisis data terdapat pada siklus I pertemuan 1 aktivitas peserta didik termasuk katagori kurang. Dengan hasil rata-rata 32,50 dengan presentase 47,73%, yang dimana aktivitas peserta didik masih didominasi bermain dan mengobrol belum terfokus pada pembelajaran. Tahap selanjutnya pada siklus II adanya peningkatan aktivitas belajar peserta didik pada pertemuan 2 dengan meningkatnya hasil rata-rata 39,50 dengan presentase 79,55% di kategorikan masuk kedalam baik dan dalam pembelajaran sudah menggunakan metode Inquiry terbimbing untuk membiasakan peserta didik.

1.       Analisis Data

Untuk menghitung ketuntasan belajar persiklus digunakan rumus sebagai berikut: Analisis hasil belajar siklus I

a.      Data nilai presentase belajar siklus I diperoleh meggunakan rumus:

Nilai =     x 100 %

    = %

b.      Data rata-rata nilai siswa diperoleh menggunakan rumus :

Me = 

       =

c.       Menghitung ketuntasan belajar peserta didik digunakan rumus sebagai berikut :

(KB )100%

     =

Berdasarkan analisis data hasil belajar IPA peserta didik, diperoleh persentase rata-rata hasil belajar pada siklus I sebesar%. Setelah dikonversikan pada criteria hasilbelajar IPA ternyata berada pada rentang 61% - 80% termasuk kriteria hasil belajar baik. Ketuntasan belajar peserta didik hanya mencapai Dari 28 orang peserta didik hanya 20 orang peserta didik yang tuntas dan 8 orang peserta didik belum  tuntas atau belum mencapai nilai sesuai dengan KKM yang ditetapkan yaitu 70 untuk pelajaran IPA.

2.      Analisis hasil belajar siklus II

a.      Data nilai presentase belajar siklus II diperoleh  meggunakan rumus:

Nilai =     x 100 %

    =%

b.      Data rata-rata nilai siswa diperoleh menggunakan rumus:

Me =

  =

c.       Menghitung ketuntasan belajar peserta didik digunakan rumus sebagai berikut :

(KB )100%

  =

Berdasarkan hasil analisis data hasil belajar IPA peserta didik, diperoleh persentase rata-rata hasil belajar pada siklus II meningkat sebesar%. Setelah dikonversikan pada kriteria hasil belajar IPA ternyata berada pada rentang 81-100% termasuk kriteria hasil belajar sangat baik. Ketuntasan belajar peserta didik hanya mencapai dari 28 orang peserta didik hanya 26 orang  peserta didik yang tuntas dan 2 orang peserta didik belum tuntas atau  belum mencapai nilai sesuai dengan KKM yang ditetapkan yaitu 70 untuk pelajaran IPA.

3.      Analisis hasil observasi aktivitas belajar peserta didik siklus I

Untuk menghitung hasil persentase aktivitas belajar peserta didik siklus I, observasi ini di lakukan 1 kali dalam pertemuan dengan menggunakan rumus yang digunakan untuk observasi sebagai berikut:

Aktivitas Belajar =

Pertemuan 1 :

Aktivitas Belajar= 47.73%

4.      Analisis hasil observasi aktivitas belajar peserta didik siklus II

Pada observasi aktivitas belajar siklus II untuk menghitung hasil observasinya menggunakan cara yang sama seperti siklus I sebelumnya, perhitungan observasi ini dengan menggunakan rumus yang digunakan untuk observasi sebagai berikut:

Aktivitas Belajar =

Pertemuan 2 :

Aktivitas Belajar = 79.55%

Berdasarkan analisis data observasi aktivitas belajar peserta didik pada pelajaran IPA, diperoleh persentase rata-rata hasil belajar pada siklus I dan II dari setiap pertemuan baik pertemuan ke 1 sebesar 47,73% pada kriteria persentase observasi aktivitas belajar pada rentang 50% ≤ AB ≤ 60% termasuk kriteria aktivitas belajar cukup. Pada pertemuanke 2 sebesar 79,55%, Setelah dikonversikan pada kriteria persentase observasi aktivitas belajar IPA ternyata berada pada rentang 70% ≤ AB ≤ 80% termasuk kriteria aktivitas belajar baik. Sangat meningkat dikarenakan telah menggunakan metode Inquiry terbimbing dan peserta didik terbiasa dengan metode Inquiry terbimbing selisih rata – rata hasil observasi yaitu 31,82%

 

Pembahasan

Peneliti dapat dikatakan berhasil karena semua kriteria terpenuhi. Jadi, dapat dinyatakan bahwa menggunakan metode inquiry terbimbing dapat meningkatkan hasil belajar IPA dan aktivitas belajar peserta didik kelas IVA MI Salafiyah Cirebon, dan dengan didapatkannya hasil pada siklus I peningkatan mencapai 71,43%, dan pada siklus II peningkatan mencapai 92,86% dari siklus I. Dalam hal ini menurut Ibrahim (dalam Fauziah, 2016) menerangkan guide inkuiry sebagai kegiatan inkuiri dimana peserta didik diberikan kesempatan untuk bekerja merumuskan prosedur, menganalisis hasil, dan mengambil kesimpulan secara mandiri, sedangkan dalam hal menentukan topik, pertanyaan, dan bahan penunjang, guru hanya sebagai fasilitator

Menurut Hanafiah (dalam Fauziah, 2016) yang menyatakan bahwa: Inkuiri Terbimbing adalah pelaksanaan discovery dan inkuiry yang dilakukan atas petunjuk dari guru. Keduanya dimulai dari pertanyaan inti, guru melakukan pertanyaan yang melacak, dengan tujuan untuk mengarahkan peserta didik kesimpulan yang diharapkan. Selanjutnya, siswa melakukan percobaan untuk membuktikan pendapat yang dikemukakannya.

Temuan

Pada pelaksanaan kegiatan awal penelitian ini, peneliti melakukan observasi terhadap pembelajaran IPA di kelas IVA dari observasi tersebut ditemukan bahwa masih ada peserta didik yang kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran khususnya dalam materi sumber energi alternatif, serta masih banyak peserta didik yang bermain dan mengobrol saat pembelajaran berlangsung. Ketika guru memberikan pertanyaan terkait materi tersebut kepada peserta didik, peserta didik belum bias menjawab dengan jawaban yang benar dan  ketika diberikan tugas oleh guru masih ada banyak peserta didik yang mendapat hasil belajar yang rendah. Menurut Wasliman (dalam Susanto, 2013) hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhinya, baik faktor internal maupun eksternal. Secara rinci diuraikan sebagai berikut: 

1.       Faktor internal; faktor internal merupakan faktor yang bersumber dari dalam diri peserta didik, yang mempengaruhi kemampuan belajarnya. Faktor internal ini meliputi: kecerdasan, minat dan perhatian, motivasi belajar, ketekunan, sikap, kebiasaan belajar, serta kondisi fisik dan kesehatan. 

2.      Faktor eksternal; faktor yang berasal dari luar diri peserta didik yang mempengaruhi hasil belajar yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. 

Selanjutnya, dikemukakan oleh Wasliman (dalam Susanto, 2013) bahwa sekolah merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan hasil belajar siswa. “Semakin tinggi kemampuan belajar siswa dan kualitaspengajaran di sekolah, maka semakin tinggi pula hasil belajar siswa”. Kualitas pengajaran di sekolah sangat ditentukan oleh guru. Guru adalah komponen yang sangat menentukan dalam implementasi suatu strategi pembelajaran.

Dengan demikian, dapat diketahui dengan menggunakan metode Inquiry terbimbing dapat meningkatkan hasil belajar pada pelajaran IPA kelas IV semester II MI Salafiyah Cirebon tahun pelajaran 2021/2022. hal ini dapat dilihat dari hasil rata-rata siklus I 71,07%, berada pada kriteria tingkat penguasaan 61% - 80% termasuk katagori baik. Sedangkan pada siklus II rata-rata hasil belajar IPA yaitu 81,07% dalam kategori sangat baik dan terjadi peningkatan 10% dari siklus I.  dari data ketuntasan kalsikal siklus I yaitu 71,43% dan pada siklus II meningkat menjadi 92,86%.

Adapun hasil dari aktivitas belajar peserta didik dari siklus I pertemuan I yaitu 47,73%. beada pada kriteria 30% - 40% termasuk kategori kurang. Untuk pertemuan 2 aktivitas peserta didik mengalami peningkatan mulai bertahap pada pertemuan ini diperoleh dengan rata-rata persentase 79,55%. pada siklus II adanya peningkatan aktivitas belajar peserta didik meningkatnya rata-rata persentase dikategorikan masuk kedalam baik.

 

KESIMPULAN

 Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka didapat simpulan bahwa penggunaan metode Inquiry terbimbing diketahui dapat meningkatkan hasil belajar pada pelajaran IPA kelas IV semester II MI Salafiyah Cirebon tahun pelajaran 2021/2022. hal ini dapat dilihat dari hasil rata-rata siklus I 71,07%, berada pada kriteria tingkat penguasaan 61% - 80% termasuk katagori baik. Sedangkan pada siklus II rata-rata hasil belajar IPA yaitu 81,07% dalam kategori sangat baik dan terjadi peningkatan 10% dari siklus I.  dari data ketuntasan kalsikal siklus I yaitu 71,43% dan pada siklus II meningkat menjadi 92,86%. Hasil dari aktivitas belajar peserta didik dari siklus I pertemuan I yaitu 47,73%. beada pada kriteria 30% - 40% termasuk kategori kurang. Untuk pertemuan 2 aktivitas peserta didik mengalami peningkatan mulai bertahap pada pertemuan ini diperoleh dengan rata-rata persentase 79,55%. pada siklus II adanya peningkatan aktivitas belajar peserta didik meningkatnya rata-rata persentase dikategorikan masuk kedalam baik.

 


REFERENCES

Ariska, P. A. (2018). Peran guru sebagai pembimbing dalam meningkatkan nilai-nilai pancasila pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Pakel Tulungagung Tahun Ajaran 2016-2017. Jurnal Rontal Keilmuan Pancasila Dan Kewarganegaraan, 4(1).

 

Arikunto, Suharsimi. (2007). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

 

CA, L. F. (2022). Peningkatan Hasil Belajar Siswa Slow Learner Dengan Menggunakan Alat Peraga IPA Kelas III SDN Cibunar. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 8(23), 262–273.

 

Cucum, C., Rohayat, A., Rusmana, M., & Tetep, T. (2018). Penggunaan media pembelajaran program PowerPoint terhadap motivasi dan hasil belajar siswa pada pelajaran ipa sekolah dasar. Teknologi Pembelajaran, 3(1).

 

Dwiyono, Y. (2021). Pelatihan Penyusunan Proposal dan Laporan Hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Untuk Guru SD Gugus I Kecamatan Sungai Kunjang Samarinda. Jurnal Pengabdian Kreativitas Pendidikan Mahakam (JPKPM), 1(2), 113–121.

 

Gani, A. G. (2018). e-Learning Sebagai Peran Teknologi Informasi Dalam Modernisasi Pendidikan. JSI (Jurnal Sistem Informasi) Universitas Suryadarma, 3(1), 1–19.

 

Hasibuan, A. T., Ananda, F., Mawaddah, M., Putri, R. M., & Siregar, S. R. A. (2022). Kreativitas Guru Menggunakan Metode Pembelajaran Pkn Di Sdn 010 Hutapuli. Jurnal Pendidikan Tambusai, 6(2), 9946–9956.

 

Hermanto, B. (2020). Perekayasaan sistem pendidikan nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Foundasia, 11(2).

 

Hisbullah, H., & Firman, F. (2019). Penerapan Model Pembelajaran Snowball Throwing dalam Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam di Sekolah Dasar. Cokroaminoto Journal of Primary Education, 2(2), 100–113.

 

Jumiah, J. (2021). Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Pai Materi Akhlak Terpuji Melalui Penerapan Model Pembelajaran Reading Guide Pada Siswa Kelas 4 di SD 002 Belakang Padang. ElementaRY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar, 1(1), 48–56.

 

Junistira, D. D. (2022). Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas V Mata Pelajaran IPS. JIIP-Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 5(2), 533–540.

 

Misrah, M. (2023). Potensi Pengembangan Kaum Milenial Melalui Ekonomi Kreatif Dengan Penguatan Kewirausahaan Pada SMAS Batara Kabupaten Gowa. Ejoin: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 1(8), 890–898.

 

Nasution, H. F. (2016). Instrumen penelitian dan urgensinya dalam penelitian kuantitatif. Al-Masharif: Jurnal Ilmu Ekonomi Dan Keislaman, 4(1), 59–75.

 

Rahayu, K. (2017). UPAYA Meningkatkan Prestasi Belajar Seni Budaya Pada Pokok Bahasan Menggambar Ilustrasi Dengan Metode Jigsaw Pada Siswa Kelas VIII SMPN 2 Pelaihari. Jurnal Mitra Manajemen, 1(2), 138–150.

 

Ridwan, I., & Sumirat, I. R. (2021). Kebijakan desentralisasi pendidikan di era otonomi daerah. Jurnal Pendidikan Karakter JAWARA (Jujur, Adil, Wibawa, Amanah, Religius, Akuntabel), 7(1).

 

Susilowati, D. (2018). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) solusi alternatif problematika pembelajaran. Jurnal Ilmiah Edunomika, 2(01).

 

Syahputra, F., Mesran, M., Lubis, I., & Windarto, A. P. (2018). Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Guru Berprestasi Kota Medan Menerapkan Metode Preferences Selection Index (Studi Kasus: Dinas Pendidikan Kota Medan). KOMIK (Konferensi Nasional Teknologi Informasi Dan Komputer), 2(1).

 

Syaparuddin, S., Meldianus, M., & Elihami, E. (2020). Strategi pembelajaran aktif dalam meningkatkan motivasi belajar pkn peserta didik. Mahaguru: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 1(1), 30–41.

 

Susanto,  Ahmad.  (2013).  Teori  Belajar  dan  Pembelajaran  di  Sekolah  Dasar.Kencana Prenada Media Group. Jakarta.

 

Wardinur, W., & Mutawally, F. (2019). Peningkatan Kompetensi Guru Melalui Pelatihan Pemanfaatan Teknologi sebagai Media Pendukung Pembelajaran di MAN 1 Pidie. Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi), 13(2), 167–182.

 

Widyawati, A. (2021). Peningkatan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS dengan materi pemanfaatan sumber daya alam melalui media video Kelas iv SDN karangkidul semarang. Jurnal Didaktis Indonesia, 1(1), 13–22.