ANALISIS TINGKAT
KERAWANAN BENCANA TANAH LONGSOR PADA KECAMATAN CISARUA DAN KECAMATAN NGAMPRAH
Aprilana1, Celvin Edvan Satria2
Institut
Teknolgi Nasional Bandung, Indonesia
aprilana1958@gmail.com1, evan32.ce@gmail.com2
|
Keywords |
Abstract |
|
Conflict management;
Social; Gold Mine |
Cisarua
District and Ngamprah District are areas with landslide potential. This is
evidenced by several landslide incidents in these districts, which have
caused damage to buildings in some villages. This research is conducted to
analyze and map the potential of landslide disasters. The objectives of this
research are: Identifying the factors contributing to the vulnerability of
landslides, including geological, hydrological, land use, climate, and
socio-economic aspects in Cisarua District and Ngamprah District. Measuring
the level of landslide vulnerability in the area through mapping and ranking
vulnerability based on identified factors. Developing concrete and effective
disaster mitigation recommendations to reduce the risk of landslides in both
districts, which can be utilized by local government and policymakers. The
analysis of landslide vulnerability in Cisarua and Ngamprah Districts
utilizes scoring and weighting methods with parameters modified from BNPB
2013 and BBSDLP 2009, including rainfall, rock type, land use type, distance
from fault lines, and slope steepness. The results of this research include a
map showing the levels of landslide vulnerability in Cisarua and Ngamprah
Districts, classified into three categories: low vulnerability covering an
area of 1084.54 hectares or 12.60%, medium vulnerability covering an area of
5063.99 hectares or 58.85%, and high vulnerability covering an area of
2457.04 hectares or 28.55% of the total district area. |
|
Kata Kunci |
Abstrak |
|
Penanganan
konflik; Sosial; Tambang Emas |
Kecamatan
Cisarua dan Kecamatan Ngamprah termasuk wilayah yang memiliki potensi
longsor. Hal ini dibuktikan dengan beberapa kejadian tanah longsor di
kecamatan tersebut, serta telah menimbulkan kerusakan bangunan di beberapa
desa. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis dan memetakan potensi bencana
tanah longsor. Tujuan penelitian ini adalah:Mengidentifikasi faktor-faktor
penyebab kerawanan terhadap tanah longsor, termasuk aspek geologi, hidrologi,
tata guna lahan, iklim, dan faktor sosial-ekonomi di Kecamatan Cisarua dan
Kecamatan Ngamprah. Mengukur tingkat kerawanan tanah longsor di wilayah
tersebut melalui pemetaan dan peringkatan kerawanan berdasarkan faktor-faktor
yang diidentifikasi. Mengembangkan rekomendasi mitigasi bencana yang konkret
dan efektif untuk mengurangi risiko tanah longsor di kedua kecamatan, yang
dapat digunakan oleh pemerintah dan pemangku kebijakan setempat. Analisis
tingkat kerawanan tanah longsor pada Kecamatan Cisarua dan Ngamprah
menggunakan metode skoring dan pembobotan dengan menggunakan parameter yang
mengacu dari hasil modifikasi BNPB 2013 dan BBSDLP 2009 yaitu curah hujan,
jenis batuan, jenis penggunaan lahan, jarak terhadap sesar dan kemiringan
lereng. Hasil dari penelitian ini berupa peta yang menunjukan tingkat
kerawanan bencana tanah longsor pada Kecamatan Cisarua dan Ngamprah yang
terbagi menjadi tiga klasifikasi yaitu tingkat kerawanan rendah dengan luas
1084,54 ha atau 12,60%, tingkat kerawanan sedang dengan luas 5063,99 ha atau
58,85%, dan tingkat kerawanan tinggi dengan luas 2457,04 ha atau 28,55% dari luas
total kecamatan. |
Corresponding Author: Aprilana
E-mail: aprilana1958@gmail.com
PENDAHULUAN
Kejadian
tanah longsor menghasilkan kerugian yang lebih besar dibandingkan dengan
bencana lainnya. Setiap tahun, kasus tanah longsor semakin meningkat, terutama
selama musim hujan, terutama di daerah-daerah perbukitan yang curam
(Syah et al., 2020).
Berdasarkan data, terdapat 809 kejadian tanah longsor yang tercatat di seluruh
wilayah Indonesia, menyebabkan kematian 2484 orang. Potensi terjadinya bencana alam pada dasarnya
mencerminkan fenomena alam yang unik, terutama bagi Indonesia yang memiliki
karakteristik geografis yang rumit (Rahmadani et al., 2022). Indonesia
berlokasi secara strategis di antara tiga lempeng tektonik besar dunia, yaitu
lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik
(Adinata et al., 2021).
Penelitian terdahulu yang menjelaskan bahwa, selain faktor iklim dan geotektonik,
aktivitas manusia seperti penggunaan lahan yang tidak tepat di lereng juga
berperan dalam terjadinya tanah longsor (Isnaini, 2019). Tanah
longsor, atau pergerakan massa batuan dan tanah, sering terjadi di Indonesia
dan berdampak besar baik dari segi kerugian materi maupun non-materi
(Bayuaji et al., 2016). di
Indonesia tercatat 1.681 kasus bencana alam yang merenggut nyawa 259 jiwa,
sebagian besar di antaranya adalah korban bencana tanah longsor. Bencana tanah
longsor dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik alamiah maupun faktor-faktor
sosial dalam masyarakat (Goma et al., 2022).
Tanah
longsor adalah peristiwa alam di mana massa satu lapisan tanah atau batuan
tergelincir ke lapisan lainnya, akibat dari ketidakmampuan lapisan tersebut
untuk menahan perubahan massa tersebut (Tenriola, 2022). Terjadinya tanah longsor disebabkan oleh gangguan
terhadap stabilitas tanah atau batuan di lereng. Gangguan ini dapat
dikendalikan oleh faktor-faktor seperti kemiringan lereng, kondisi hidrologi,
dan jenis tanah atau batuan pembentuk lereng tersebut
(Sinaga, 2019).
Gerakan tanah
terjadi ketika terdapat ketidakseimbangan yang menyebabkan sebagian dari lereng
bergerak akibat gaya gravitasi, akhirnya mengakibatkan longsor. Wilayah dengan
lereng curam, seperti daerah perbukitan dan pegunungan, memiliki risiko tinggi
terjadinya gerakan tanah. Seiring dengan itu, jenis tanah yang ada dan kondisi
geologi juga sangat memengaruhi terjadinya tanah longsor (Botjing & Halawa,
2023). Khususnya, tanah dengan kandungan mineral lempung yang jenuh air cenderung
sangat tidak stabil, sehingga meningkatkan risiko terjadinya tanah longsor
(Pentawan, 2017).
Penelitian ini
berbeda dari penelitian terdahulu di mana Pengaruh Perubahan Iklim: Menilai dampak perubahan iklim terhadap kerawanan tanah
longsor di wilayah tersebut. Ini dapat melibatkan analisis data cuaca historis
dan model perubahan iklim di masa depan. Kecamatan Cisarua dan Kecamatan Ngamprah yang secara
geografis terletak pada wilayah Bandung Barat bagian utara
Bencana longsor terjadi di 3 kecamatan
yaitu Cisarua, Padalarang, dan Ngamprah Kabupaten Bandung Barat pada tanggal 15
Juli 2022. Akibat hujan dengan
intensitas tinggi disertai struktur tanah yang labil di wilayah Bandung barat,
menyebabkan terjadinya tanah longsor (Darman,
2018). Dampak yang
ditimbulkan dari terjadinya tanah longsor tersebut yaitu terputusnya jalan
penghubung Kecamatan Ngamprah-Cisarua, kemudian 1 bangunan yayasan anak
berkebutuhan khusus diterjang longsoran tebing setinggi lebih dari 25 meter
mengakibatkan bangunan rusak sedang, dan 4 rumah di Desa Cimanggu dan Margajaya
rusak sedang dan parah
Berdasarkan uraian yang disebutkan,
maka dilakukan penelitian untuk menganalisis tingkat kerawanann bencana tanah
longsor yang berguna sebagai salah satu upaya dalam memberikan sebuah informasi
berupa tingkat kerawanann bencana tanah longsor kepada pihak-pihak seperti
pemerintahan daerah yaitu, Pemerintah Kecamatan Cisarua dan Kecamatan Ngamprah
dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Perancanaan Pembangunan
Daerah (BAPPEDA) dan juga masyarakat setempat. Kemudian, penelitian ini berguna
sebagai salah satu upaya mitigasi bencana tanah longsor di Kecamatan Cisarua
dan Kecamatan Ngamprah
(Yunarto
et al., 2019).
Manfaat dari Penelitian ini di antaranya:Peningkatan Kesadaran Masyarakat: Penelitian ini akan membantu dalam
meningkatkan kesadaran masyarakat dan pemangku kebijakan tentang tingkat
kerawanan tanah longsor di wilayah tersebut. Ini dapat membantu masyarakat
untuk lebih siap menghadapi bencana. Pengambilan Keputusan yang
Lebih Baik: Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar untuk pengambilan
keputusan yang lebih baik oleh pemerintah dan lembaga terkait dalam hal
perencanaan tata ruang, pengelolaan sumber daya alam, dan pemilihan lokasi
infrastruktur. Peningkatan Respons Bencana: Dengan pemahaman yang lebih baik tentang
kerawanan tanah longsor, pemangku kebijakan dapat merancang rencana respons
bencana yang lebih efisien dan efektif, termasuk peringatan dini, evakuasi, dan
pemulihan pasca-bencana.
Peningkatan Keselamatan dan Kualitas Hidup:
Penelitian ini pada akhirnya akan berkontribusi untuk meningkatkan keselamatan
penduduk dan kualitas hidup mereka. Dengan mengurangi risiko bencana tanah
longsor, masyarakat dapat hidup dalam lingkungan yang lebih aman dan stabil. Kontribusi pada Penelitian Selanjutnya: Hasil penelitian ini dapat
menjadi sumber referensi dan data bagi penelitian-penelitian selanjutnya
tentang topik serupa, sehingga berkontribusi pada pemahaman yang lebih mendalam
tentang masalah kerawanan bencana tanah longsor.
Tujuan Penelitian dari penelitian ini, Mengidentifikasi Faktor-Faktor Penyebab
Kerawanan Tanah Longsor: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi
faktor-faktor utama yang menyebabkan kerawanan terhadap bencana tanah longsor
di Kecamatan Cisarua dan Kecamatan Ngamprah. Ini meliputi aspek geologi,
hidrologi, tata guna lahan, iklim, dan faktor-faktor sosial-ekonomi.Mengukur Tingkat Kerawanan: Penelitian
ini bertujuan untuk mengukur tingkat kerawanan tanah longsor di wilayah
tersebut. Ini melibatkan pemetaan dan peringkatan kerawanan berdasarkan
faktor-faktor yang diidentifikasi dalam penelitian. Mengembangkan
Rekomendasi Mitigasi Bencana: Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan rekomendasi
mitigasi bencana yang konkrit dan efektif untuk mengurangi risiko tanah longsor
di kedua kecamatan. Rekomendasi ini dapat digunakan oleh pemerintah setempat
dan pemangku kebijakan untuk mengurangi kerawanan dan melindungi penduduk
setempat.
Hasil akhir dari penelitian ini
diharapkan dapat menghasilkan peta tematik tingkat kerawanann bencana tanah longsor
di Kecamatan Ngamprah dan Kecamatan Cisarua yang berguna memberikan informasi
kepada masyarakat dan pihak terkait yang berada didaerah lawan longsor.
Kemudian diharapkan dari hasil penelitian ini dapat digunakan dinas BPBD
Kabupaten Bandung barat sebagai sebuah acuan dalam upaya mitigasi bencana dan
menjadi bahan pengambilan keputusan dalam menentukan kebijakan pemaanfaatan
ruang oleh BAPPEDA pada Kecamatan Cisarua dan Kecamatan Ngamprah, Kabupaten
Bandung Barat (Deswan et al., 2020).
METODE PENELITIAN
Data yang digunakan dalam penelitian
ini merupakan data sekunder yang berformat data spasial vector dan raster, dan
juga data atribut yang bersumber dari instansi terkait. yang dapat dilihat pada
Tabel 1.
Tabel 1 Data Penelitian
|
No. |
Jenis data |
Format |
Sumber |
Tahun |
|
1 |
Data Vektor Batas Administrasi Desa Kecamatan
Cisarua dan Ngamprah Skala 1 : 25.000 |
SHP |
BIG |
2021 |
|
2 |
Data Curah Hujan Kecamatan
Cisarua dan Ngamprah Skala
1 : 25.000 |
Atribut |
BMKG |
2022 |
|
3 |
Peta Jenis Batuan Kecamatan Cisarua
dan Ngamprah Skala 1 : 25.000 |
SHP |
Pusat Survei Geologi |
2010 |
|
4 |
Peta Penggunaan Lahan Kecamatan
Cisarua dan Ngamprah Skala 1 : 25.000 |
SHP |
Bappeda Provinsi Jawa Barat |
2022 |
|
5 |
Peta Patahan Lembang Skala
1 : 25.000 |
SHP |
BMKG |
2019 |
|
6 |
DEM Nasional resolusi 0,27
Arcsecond lembar 1209-22 dan 1209-31 skala 1:25.000 |
TIFF |
BIG |
2018 |
|
7 |
Data Titik Historis Kejadian Longsor
Kabupaten Bandung Barat |
Atribut |
BPBD Provinsi Jawa Barat |
2015-2023 |
Langkah
penelitian dari kegiatan analisis dan pembuatan peta Kawasan rawan bencana di
Kecamatan Cisarua dan Nganprah antara lain adalah pada Tabel 2 berikut.
Tabel 2 Alir Penelitian
|
Proses |
||
|
Analisis
Spasial Slope, Query, Clip, Overlay |
|
Klasifikasi
Tingkat Kerawanan |
![]()
|
Input |
||||
|
Peta
Curah Hujan |
Peta
Jenis Batuan |
Peta
Penggunaan Lahan |
Peta
Jarak Terhadap Sesar |
Peta
Kemiringan Lereng |
|
Output |
|
Peta Tematik Tingkat Kawasan Rawan
Bencana Tanah Longsor pada Kecamatan Cisarua dan Kecamatan
Ngamprah Kabupaten Bandung Barat |
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil dari penelitian yang
dilakukan tentang analisis dan pemetaan Kawasan rawan bencana tanah longsor di
Kecamatan Cisarua dan Ngamprah. Berdasarkan hasil pengolahan data dari lima
parameter dalam penentuan tingkat klasifikasi rawan bencana tanah longsor yaitu
curah hujan, jenis batuan, jenis penggunaan lahan, jarak terhadap sesar, dan
kemiringan lereng dengan metode pengolahan data dan skoring juga pembobotan
didapatkan tiga klasifikasi Kawasan rawan bencana tanah longsor yaitu rendah,
sedang, dan tinggi pada wilayah Kecamatan Cisarua dan Ngamprah.

Gambar 1 Peta Kawasan Rawan Bencana Tanah longsor Pada Kecamatan
Cisarua dan Ngamprah
Hasil
total skoring dan pembobotan dari parameter tersebut, bahwa pada Kecamatan
Cisarua dan Ngamprah terdapat nilai klasifikasi Kawasan rawan bencana tingkat,
sedang dan tinggi. Skor dan luas pada Kawasan rawan bencana dapat dilihat pada
Tabel 3 berikut.
Tabel 3 Alir Penelitian
|
Klasifikasi Tingkat Kerawanann |
Skor |
Luas (Ha) |
Presentase (%) |
|
Tingkat
Rendah |
1,30-2,21 |
1084,54 |
12,60 |
|
Tingkat
Sedang |
2,22-3,12 |
5063,99 |
58,85 |
|
Tingkat
Tinggi |
3,13=4,05 |
2457,04 |
28,55 |
|
Total |
|
8605,57 |
100% |
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka
dapat ditarik kesimpulan yaitu hasil sebaran tingkat kerawanan bencana tanah
longsor pada Kecamatan Cisarua dan Ngamprah memiliki tiga klasifikasi Kawasan
rawan bencana tanah longsor yaitu, Kawasan rawan bencana tingkat rendah dengan
luas wilayah sebesar 1084,54 ha atau 12,60% dari total luas wilayah pada
Kecamatan Cisarua dan Ngamprah. Kedua, pada Kawasan rawan bencana tingkat
sedang memiliki luas wilayah sebesar 5063,99 ha atau 58,85% dari total luas
wilayah pada Kecamatan Cisarua dan Ngamprah. Terakhir, pada Kawasan rawan
bencana tingkat tinggi terdapat luas wilauah seluas 2457,04 ha atau 28,55 dari
total luas wilayah pada Kecamatan Cisarua dan Ngamprah. Kemudia dengan sebaran
desa dengan presentase kerawanan bencana lebih dari 20% terdapat pada dua desa
yaitu Desa Pasirlangu dengan luas total wilayah sebesar 499,51 ha atau 20% dari
total luas wilayah tingkat kerawanan tinggi, selanjutnya yaitu Desa Tugumukti
dengan total luas wilayah 563,85 ha atau 22,94% dari total luas wilayah pada
tingkat kerawanan tinggi.
REFERENSI
Adinata, K. M. P., Sukawana, I. W.,
Rasdini, I. G. A. A., Sukarja, I. M., & Juniari, N. M. (2021). Pendidikan
Kesehatan Melalui Whatsapp Group Meningkatkan Pengetahuan dan Sikap Karang
Taruna dalam Menghadapi Bencana Tsunami di Pesisir Pantai Tanah Lot. Jurnal
Gema Keperawatan, 14(2), 96–112.
Bayuaji, D. G.,
Nugraha, A. L., & Sukmono, A. (2016). Analisis penentuan zonasi risiko
bencana tanah longsor berbasis sistem informasi geografis (Studi kasus:
Kabupaten Banjarnegara). Jurnal Geodesi Undip, 5(1), 326–335.
Botjing, M. U., & Halawa,
G. C. M. (2023). Penentuan Zonasi Tingkat Kerawanan Gerakan Tanah Di Kecamatan
Marawola Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah. Bomba: Jurnal Pembangunan Daerah,
3(1), 25–34.
Darman, R. (2018).
Pembangunan Dashboard Lokasi Rawan Tanah Longsor di Indonesia Menggunakan
Tableau. Jurnal Teknik Informatika Dan Sistem Informasi, 4(2),
256–269.
Deswan, F., Gultom, R.
A. G., & Harsono, G. (2020). Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis Dalam
Penetuan Keseuaian Lokasi Rencana Pangkalan Tni Angkatan Laut Di Wilayah
Kabupaten Sukabumi Propinsi Jawa Barat. Teknologi Penginderaan, 2(1).
Goma, E. I., Sunimbar,
S., & Angin, I. S. (2022). Analisis Geologi Kejadian Longsor Di Desa
Wolotolo Kecamatan Detusoku Kabupaten Ende. JPG (Jurnal Pendidikan Geografi),
9(2).
Isnaini, R. (2019).
Analisis bencana tanah longsor di wilayah Jawa Tengah. Islamic Management
and Empowerment Journal, 1(2), 144–145.
Ma’mur, A., &
Solihin, D. (2021). Potret Good Government Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
Kabupaten Bandung Barat. Jurnal Hukum Media Justitia Nusantara (MJN), 11(2),
97–113.
Mala, B. K. S.,
Moniaga, I. L., & Karongkong, H. H. (2017). Perubahan Tutupan Lahan
Terhadap Potensi Bahaya Longsor Dengan Pendekatan Sistem Informasi Geografis Di
Kolonodale Kabupaten Morowali Utara. Spasial, 4(3), 155–166.
Pentawan, Y. (2017). Simulasi
Penggunaan Program Geostudio Slope/W 2007 Dalam Menganalisis Stabilitas Lereng
Dengan Jenis Tanah Lempung Berpasir Pada Kondisi Tidak Jenuh, Kondisi Jenuh
Sebagian, Dan Kondisi Jenuh.
Rahmadani, G. P.,
Wahyudi, W., & Sahari, S. (2022). Pengembangan Media Pembelajaran
Berbasis Videoscribe pada Materi IPS Pokok Bahasan Gejala Alam di Indonesia dan
Negara Tetangga Kelas Vi Sekolah Dasar. Universitas Nusantara PGRI Kediri.
Sinaga, S. (2019). Analisis
Stabilitas Lereng Menggunakan Metode Janbu (Studi Kasus: Bukit Lereng Bandar
Baru, Kabupaten Deli Serdang).
Susanti, P. D.,
Miardini, A., & Harjadi, B. (2017). Analisis kerentanan tanah longsor
sebagai dasar mitigasi di kabupaten banjarnegara (vulnerability analysis as a
basic for landslide mitigation in banjarnegara regency). Jurnal Penelitian
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Management Research),
1(1), 49–59.
Syah, A., Erfani, S.,
& Dani, I. (2020). Mitigasi bencana longsor dengan kombinasi metode kontrol
dan perkuatan di kabupaten Tanggamus. Prosiding Seminar Nasional Ilmu Teknik
Dan Aplikasi Industri Fakultas Teknik Universitas Lampung, 3.
Tenriola, A. R.
(2022). Analisis Tingkat Kerawanan Tanah Longsor dengan menggunakan metode
Frequency Ratio di Daerah Aliran Sungai Pamukkulu. Universitas Hasanuddin.
Yunarto, Y. S., Nur,
W. H., & Kumoro, Y. (2019). Pemetaan Kesiapsiagaan Rumah Tangga Dalam
Mengantisipasi Bencana Gempa Bumi Patahan Lembang. Jurnal Geografi, 11(1),
1–18.