PENINGKATAN
KOMPETENSI GURU DALAM MERANCANG MODEL PROJECT BASED LEARNING MELALUI WORKSHOP
Elya Pitri
Madrasah Aliyah Negeri 2
Tebo
elya.pitri72@gmail.com
|
Keywords |
Abstract |
|
teacher competency; PJBP; workshops |
Education is a very
important aspect in the development of a country. In this era of
globalization, demands for quality education are increasing, and the role of
teachers is the main key in achieving better quality education. Teachers are
not only leaders in the learning process in the classroom, but must also be
able to facilitate adequate and relevant learning experiences for students.
One learning approach that can help achieve this goal is Project-Based
Learning. The research was carried out in two cycles and each cycle consisted
of four stages, namely: planning, implementation, observation and reflection.
The subject of this research is the Madrasah Aliyah Negeri 2 Tebo Teacher and
the object of the research is the ability of the Madrasah Aliyah Negeri 2
Tebo Teacher in designing the Project Based Learning Model. From the results
of the analysis, information was obtained that there had been an increase in
the ability of Madrasah Aliyah Negeri 2 Tebo teachers in designing Project
Based Learning Models. Other information shows that teachers' responses in
participating in the workshop process in order to design the Project Based
Learning Model were 67% responding very well and 33% responding well. This
shows that Madrasah Aliyah Negeri 2 Tebo teachers really hope for workshops
to improve their competence. |
|
Kata Kunci |
Abstrak |
|
kompetensi
guru; PJBP; workshop |
Pendidikan
merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam pembangunan suatu
negara. Dalam era globalisasi ini, tuntutan akan kualitas pendidikan semakin
meningkat, dan peran guru menjadi kunci utama dalam mencapai kualitas
pendidikan yang lebih baik. Guru bukan hanya menjadi pemimpin dalam proses
pembelajaran di kelas, tetapi juga harus mampu memfasilitasi pengalaman
belajar yang memadai dan relevan bagi siswa. Salah satu pendekatan
pembelajaran yang dapat membantu mencapai tujuan ini adalah Project-Based
Learning. Penelitian
dilakukan dengan dua siklus dan masing-masing siklus terdiri atas empat
tahapan, yakni: perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Subyek
penelitian ini adalah Guru Madrasah Aliyah Negeri 2 Tebo dan obyek
penelitiannya adalah kemampuan Guru Madrasah Aliyah Negeri 2 Tebo dalam
merancang Model Porject Based Learning. Dari hasil analisis diperoleh informasi
bahwa terjadi peningkatan kemampuan Guru Madrasah Aliyah Negeri 2 Tebo dalam
merancang Model Porject Based Learning. Informasi lain
menunjukkan bahwa respon Guru dalam mengikuti proses workshop dalam rangka
merancang Model Porject Based Learning 67% merespon sangat baik dan 33%
merespon baik. Ini menunjukkan bahwa Guru Madrasah Aliyah Negeri 2 Tebo
sangat mengharapkan adanya workshop dalam meningkatkan kompetensi mereka. |
Corresponding Author: Elya Pitri
E-mail: elya.pitri72@gmail.com
PENDAHULUAN
Proses
pembelajaran harus menyentuh tiga ranah, yaitu sikap (attitude), keterampilan
(skill), dan pengetahuan (knowledge) (Asyafiq,
2016). Dalam proses pembelajaran berbasis saintifik, ranah sikap
menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar
siswa tahu tentang mengapa. Ranah keterampilan mengambil transformasi substansi
atau materi ajar agar siswa tahu tentang bagaimana (Haqq,
2017). Ranah pengetahuan mengambil transformasi
substansi atau materi ajar agar siswa tahu tentang apa. Hasil akhirnya
adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang
baik (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk
hidup secara layak (hard skills) dari siswa
yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan dan pengetahuan (Zekri et
al., 2020).
Sementara itu pembelajaran sebagai usaha
sadar yang sistematis selalu bertolak dari landasan dan mengindahkan sejumlah
asas-asas tertentu. Landasan dan asas tersebut sangat penting karena pembelajaran
merupakan pilar utama terhadap pengembangan manusia dan masyarakat.
Keberhasilan proses pembelajaran sebagai proses di suatu Madrasah dipengaruhi
oleh banyak factor (Kholik,
2019). Faktor yang dimaksud antara lain: guru, siswa, lingkungan
belajar, lingkungan sosial dan lain-lain. Namun dari faktor
itu guru dan siswa termasuk faktor penting.
Di sisi lain, inti belajar dan
pembelajaran adalah perubahan dan kemampuan untuk berubah pada diri seseorang
saat melakukan interaksi social.
Manusia merupakan subjek pembelajaran dan pada saat yang sama
manusia juga merupakan objek pembelajaran. Dalam ungkapan lain diungkapkan
bahwa manusia merupakan subjek pendidikan dan objek pendidikan, karena itu
manusia memiliki sikap untuk dididik dan siap untuk mendidik (Saihu,
2019).
Perubahan dan kemampuan untuk berubah
merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar. Disebabkan oleh kemampuan berubah karena
belajarlah, maka manusia dapat berkembang lebih jauh dari pada makhluk-makhluk
lainnya, sehingga ia terbebas dari kemandegan
fungsinya sebagai khalifah Tuhan di muka bumi. Boleh jadi,
karena kemampuan berkembang melalui belajar itu pula manusia secara bebas dapat
mengeksplorasi, memilih dan menetapakn keputusan-keputusan penting untuk
kehidupannya. Belajar juga memainkan peran penting dalam mempertahankan
kehidupan sekelompok umat manusia (bangsa) di tengah-tengah persaingan yang
semakin ketat di antara bangsa-bangsa lainnya yang lebih dahulu maju karena
belajar (Arifin,
2017).
Sedangkan
pembelajaran berkaitan dengan bagaimana membelajarkan siswa atau bagaimana
membuat siswa dapat belajar dengan mudah dan dorongan oleh kemauannya sendiri
untuk mempelajari apa yang teraktualisasikan dalam
kurikulum sebagai kebutuhan peserta didik. Oleh karena itu
pembelajaran berupaya menjabarkan nilai-nilai yang terkandung dalam kurikulum
dengan menganalisis tujuan pembelajaran dan karakteristik isi bidang studi yang
terkandung dalam kurikulum. Selanjutnya kegiatan untuk memilih,
menerapkan dan mengembangkan cara-cara (metode dan strategi pembelajaran yang
tepat untuk mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan sesuai dengan kondisi
yang ada agar kurikulum dapat diaktualisasikan dalam proses pembelajaran)(Santoso,
2017).
Perubahan
cara pandang terhadap siswa sebagai objek menjadi
subjek dalam proses pembelajaran menjadi titik tolak banyak ditemukannya
berbagai pendekatan pembelajaran yang inovatif. (Angkasa
et al., 2019) mengemukakan bahwa
salah satu kecenderungan yang sering dilupakan adalah melupakan bahwa hakekat
pembelajaran adalah belajarnya siswa dan bukan mengajarnya guru.
Belajar pada hakekatnya adalah membaca,
membaca teks, membaca keadaan, membaca kondisi, membaca permasalahan, membaca
pengalaman dan sekaligus mencari jalan keluar dari pengalaman dan permasalahan
yang dihadapi. Membaca merupakan pilar utama dalam belajar. Guru dituntut
dapat memiliki beberapa model pembelajaran yang dapat memacu semangat setiap
siswa untuk secara aktif ikut terlibat dalam pengalaman belajarnya, termasuk
pembelajaran berbasis proyek (Hurint et
al., 2021).
Pembelajaran berbasis proyek atau tugas
adalah metode belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam
pengumpulan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya
dalam beraktivitas secara nyata.
Pembelajaran berbasis proyek/tugas (projectbased/task
learning) membutuhkan suatu pendekatan Pendidikan komprehensif di mana
lingkungan belajar siswa didesain agar siswa dapat melakukan penyelidikan
terhadap masalah-masalah autentik termasuk pendalaman materi dari suatu topik,
dan melaksanakan tugas bermakna lainnya.
Pendekatan ini memperkenankan siswa untuk
bekerja secara mandiri dalam mengkostruksikannya dalam produk nyata. Dalam pembelajaran berbasis proyek,
siswa diberikan tugas atau proyek yang
kompleks, cukup sulit, lengkap, tetapi realistik dan kemudian diberikan bantuan
secukupnya agar mereka dapat menyelesaikan tugas (MUSTAIN,
2021). Di samping itu, penerapan strategi
pembelajaran berbasis proyek/tugas ini mendorong tumbuhnya kompetensi nurturant
seperti kreativitas, kemandirian, tanggung jawab, kepercayaan diri, dan
berpikir kritis dan analitis.
Pembelajaran berbasis proyek (project
based learning) adalah model pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan
sebagai tujuannya.
Pembelajaran berbasis proyek (PBP) memfokuskan pada aktivitas siswa yang berupa
pengumpulan informasi dan pemanfaatannya untuk menghsikan sesuatu yang
bermanfaat bagi kehidupan siswa itu sendiri ataupun bagi orang lain, namun tetap terkait dengan KD dalam kurikulum.
Sama halnya dengan pembelajaran diskoveri
ataupun PBM, MPBL pun menggunakan masalah sebagai langkah awal pembelajaran. Hanya saja masalah yang dimaksud berupa
pertanyaan yang mengarah pada kebutuhan siswa akan
kegiatan ataupun barang tertentu. Kebutuhan itulah yang kemudian dijadikan
sebagai proyek, sesuatu yang harus digarap, diperbuat, atau dihasilkan siswa
melalui proses pembelajaran. Dengan demikian, akhir dari
pembelajaran ini berupa suatu produk, entah itu berupa kegiatan ataupun
berwujud karya.
Adapun
contoh permasalahan yang mungkin diajukan siswa terkait dengan kegiatan yang
akan dijalaninya itu sebagai berikutl Surat apa yang harus dibuat ketika
menyampaikan permohonan bantuan barang kepada kepala Madrasah?. Masalah semacam itu mungkin muncul dari
para siswa ketika mengikuti Mata Pelajaran Bahasa Indonesia, terkait dengan KD
memproduksi teks eksposisi. Pertanyaan itumuncul
ketika guru dan siswa memperdalam materi ke masalah-masalah yang dihadapi siswa
terkait dengan kebermanfaatan teks eksposisi dalam keperluan sehari-hari siswa,
misalnya dalam surat-menyurat.
1. Berdasarkan uraian di atas penulis merasa
pelu untuk melakukan penelitian tindakan Madrasah (PTM) dengan judul
"Peningkatan Kompetensi Guru Madrasah Aliyah Negeri 2 Tebo dalam Merancang
Model Project Based Learning (MPBL) Melalui Workshop pada Semester Gasal Tahun
Pelajaran 2021/2022" memiliki rumusan masalah yang terdiri dari dua
pertanyaan pokok. Pertama, bagaimana kemampuan Guru Madrasah Aliyah Negeri 2
Tebo dalam merancang Model Project Based Learning (MPBL) pada Semester Gasal
Tahun Pelajaran 2021/2022? Kedua, apakah melalui Workshop dapat meningkatkan
kemampuan Guru Madrasah Aliyah Negeri 2 Tebo dalam merancang Model Project
Based Learning (MPBL) pada Semester Gasal Tahun Pelajaran 2021/2022? Untuk
menjawab kedua pertanyaan tersebut, penelitian ini akan
melakukan pemecahan masalah yang relevan.
2. Pemecahan Masalah
Berbagai
upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kinerja guru dalam menyusun model
pembelajaran, antara lain memperdalam pengetahuan bidang studi yang harus
dikuasi guru, memperdalam pengetahuan tentang model pembelajaran dan
syarat-syarat pembuatan startegi/model pembelajaran dan lain sebagainya. Namun fokus perbaikan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah
meningkatkan kinerja Guru Madrasah Aliyah Negeri 2 Tebo dalam merancang Model
Porject Based Learning (MPBL) dengan kegiatan Workshop. Melalui Workshop
ini akan diberikan pembekalan dan bimbingan teknis
pembuatan Model Porject Based Learning (MPBL) untuk Guru Madrasah Aliyah Negeri
2 Tebo.
Permasalahan yang muncul adalah lemahnya
kompetensi para Guru Madrasah Aliyah Negeri 2 Tebo dalam merancang Model
Porject Based Learning (MPBL).
Untuk mengatasi kelemahan tersebut penulis ingin mengadakan
kegiatan pelatihan bagi para Guru Madrasah Aliyah Negeri 2 Tebo yang dikemas
dalam bentuk workshop bersambung. Kegiatan workshop ini akan dilakukan beberapa kali (siklus) sehingga para Guru
Madrasah Aliyah Negeri 2 Tebo benar-benar mampu merancang Model Porject Based
Learning (MPBL) dengan benar.
Peserta workshop adalah semua Guru
Madrasah Aliyah Negeri 2 Tebo.
Sedangkan tindakan yang akan penulis lakukan adalah
memberikan bimbingan dan pelatihan secara intensif kepada para Guru Madrasah
Aliyah Negeri 2 Tebo dengan memberikan latihan-latihan soal dan latihan
tindakan (action) melakukan analisis butir soal di bawah bimbingan penulis.
Tindakan pelatihan yang dikemas dalam bentuk workshop ini akan
dilakukan pada bulan September sampai dengan bulan November 2021.
Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui bagaimanakah kemampuan Guru Madrasah Aliyah Negeri 2 Tebo dalam
merancang Model Porject Based Learning (MPBL) pada Semester Gasal Tahun
Pelajaran 2021/2022. Untuk mengetahui apakah melalui Workshop dapat meningkatkan
kemampuan Guru Madrasah Aliyah Negeri 2 Tebo dalam merancang Model Porject
Based Learning (MPBL) pada Semester Gasal Tahun Pelajaran 2021/2022.
Manfaat
Penelitian ini untuk Guru, diharapkan dapat meningkat kemampuannya dalam
merancang Model Porject Based Learning (MPBL) setelah mengikuti workshop (Rerung et
al., 2017). Madrasah, sebagai penentu kebijakan
dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa. Kepala
madrasah, sebagai pertimbangan penilaian kinerja guru. Pengawas madrasah, untuk penilaian dan pembinaan sekaligus
merekomendasikan tentang kemampuan guru.
METODE PENELITIAN
Penelitian
tindakan kelas ini dilakukan dalam waktu 3 (tiga) bulan, mulai bulan September
sampai dengan bulan November pada semester gasal tahun pelajaran 2021/2022,
mulai dari observasi awal, perencanaan, pelaksanaan siklus I, pelaksanaan
siklus II, dan penyusunan laporan. Penelitian ini dilaksankan
di Madrasah Aliyah Negeri 2 Tebo pada semester gasal tahun pelajaran 2021/2022.
Dengan alamat: Jl. Lintas Tebo-Bungo, K.M 1,5 Muara
Tebo Provinsi Jambi. Subjek penelitian ini adalah Guru
Madrasah Aliyah Negeri 2 Tebo. Sedangkan yang menjadi
objek penelitian adalah kemampuan guru dalam merancang Model Porject Based
Learning. Metode penelitian ini dalam bentuk
penelitian tindakan kepengawasan. Ada empat kegiatan utama yang ada pada
setiap siklus pada penelitian tindakan ini, yaitu: perencanaan (planning),
pelaksanaan (action), pengatmatan (observation) dan refleksi (reflection).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari
hasil pengamatan hampir semua guru ditemukan kurang paham semua aspek yang ada
dalam merancang Model Porject Based Learning (MPBL). Kesalahan umum yang tampak adalah: (1)
guru belum mampu menyusun tujuan pembelajaran, (2) guru belum mampu menguraikan
materi ajar dengan baik, (3) guru belum mampu membuat langkah-langkah
pembelajaran sesuai dengan Model Porject Based Learning (MPBL), (4) guru belum
mampu membuat penilaian sesuai dengan model yang digunakan, dan (5) guru belum
mampu memanejemen waktu baik dalam kegiatan awal, inti dan penutup. Dengan kondisi awal seperti ini perlu adanya tindakan nyata yang
diharapkan mampu meningkatkan kinerja guru dalam menyusun Model Porject Based
Learning (MPBL), yang dikemas dalam bentuk workshop.
B. Hasil
Penelitian
a.
Perencanaan
Perencanaan terdiri atas: (1) melaporkan
kegiatan penelitian kepada Kepala Kantor Kementerian Agama, (2) berkoordinasi
dengan Pengawas, dengan minta masukan tentang masalah yang ada sekaligus
membicarakan tentang masalah teknis, waktu pelaksanaan penelitian dan hal-hal
yang terkait dengan penelitian dan atau workshop yang dilaksanakan, (3) bersama
pengawas memberikan pengarahan tentang workshop menyusun Model Porject Based
Learning (MPBL), (4) menelaah konsep Model Porject Based Learning (MPBL) (6)
mendiskusikan langkah-langkah Model Porject Based Learning (MPBL) dan
presentasi kelompok, dan (8) menghasilkan tindakan menyusun Model Porject Based
Learning (MPBL). Di samping perencanaan umum, dilakukan juga perecanaan teknis pelaksanaan kegiatan seperti: (1) mengumpulkan
guru melalui undangan, (2) menyusun jadual workshop: hari, tanggal, jam dan
tempat, (3) menyiapkan materi workshop, pengarahan kepala madrasah, pemaparan
materi Model Porject Based Learning (MPBL), (4) menyiapkan konsumsi untuk
workshop dan (7) menyuruh guru membawa laptop.
b.
Pelaksanaan
Pada tahap ini dilakukan beberapa
langkah, yakni: (1) absensi peserta, (2)
pengarahan kepala madrasah, (3) penjelasan umum kepada seluruh peserta, (4)
peserta diajak mereview Model Porject
Based Learning (MPBL), (4) guru mengkaji langah-langkah menyusun Model Porject Based Learning (MPBL), (5)
guru melakukan persiapan Model Porject
Based Learning (MPBL), dan (6) presentasi visual dalam menyusun Model Porject Based Learning (MPBL).
c.
Pengamatan
Pada tahap ini dilakukan
pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan, yaitu menitikberatkan pada kompetensi
guru dalam menyusun Model Porject Based
Learning (MPBL) sebagai akibat diterapkannya workshop. Tujuan dilaksanakan
pengamatan adalah untuk mengetahui kegiatan yang mana patut dipertahankan,
diperbaiki, atau dihilangkan sehingga kegitan pembinaan melalui workshop
benar-benar berjalan sesuai dengan tujuan yang ada dan mampu meningkatkan
kinerja peserta dalam menyusun Model
Porject Based Learning (MPBL). Kegiatan peserta juga diobservasi,
baik menyangkut kesiapan mental dan fisik guru, kesiapan bahan-bahan yang
dibawa guru pada waktu workshop, kesiapan laptop, pengetahuan dasar tentang Model Porject Based Learning (MPBL), dan
kemampuan menyusun Model Porject Based
Learning (MPBL). Dari hasil pengamatan terhadap aktivitas
peserta yang berjumlah 30 orang dengan menggunakan lembar observasi yang telah
disiapkan, dan diperoleh data sebagai berikut.
Tabel
1 Kesiapan Peserta Mengikuti
Workshop Siklus I
|
No |
Aspek yang diamati |
Jumlah (%) |
Keterangan |
|
|
S |
TS |
|||
|
1 |
Kesiapan
fifik dan mental |
8 |
22 |
Belum |
|
27% |
73% |
tercapai |
||
|
2 |
Kesiapan
bahan |
6 |
24 |
Belum |
|
20% |
80% |
tercapai |
||
|
3 |
Kesiapan
laptop |
6 |
24 |
Belum |
|
20% |
80% |
tercapai |
||
Keterangan:
S = Siap
TS =
Tidak Siap
Dari
Tabel 1 di atas, tampak bahwa: pada
aspek kesiapan mental dan fisik, 22 orang guru atau 73% peserta siap dan 8
orang guru atau 33% tergolong belum siap. Pada aspek kesiapan bahan, tampak
bahwa 24 orang guru atau 80% siap dan 6 orang atau 20% belum siap. Pada aspek
kesiapan laptop tampak bahwa 24 orang guru atau 80% siap dan 6 orang guru atau
20% belum siap. Berdasarkan dekripsi ini tampaknya kesiapan
guru dalam mengikuti worksop belum memenuhi kriteria keberhasilan untuk semua
aspek. Kesiapan guru dalam mengikuti workshop pada siklus I dapat
ditunjukkan pada gambar berikut:

Gambar 1 Kesipan Peserta
Mengikuti Workshop Siklus I
Dari hasil evaluasi terhadap pengetahuan
guru tentang Model Porject Based Learning
(MPBL) terhadap 30 orang guru setelah diadakan workshop pada tahap awal
(siklus I) diperoleh data seperti tampak pada Tabel 2 berikut.
Tabel 2 Pengetahuan Peserta Tentang MPBL Siklus I
|
No |
Aspek yang diamati |
Jumlah |
Keterangan |
|
|
( % ) |
||||
|
T |
TT |
|||
|
1 |
Pengetahuan
tentang Model Porject Based Learning (MPBL) |
6 |
24 |
Belum |
|
20% |
80% |
tercapai |
||
|
2 |
Pengetahuan
tentang karakteristik MPBL |
6 |
24 |
Belum |
|
20% |
80% |
tercapai |
||
|
3 |
Pengetahuan tentang kesulitan dalam MPBL |
6 |
24 |
Belum |
|
20% |
80% |
tercapai |
||
|
4 |
Pengetahuan
tentang tujuan MPBL |
8 |
22 |
Belum |
|
27% |
73% |
tercapai |
||
|
5 |
Pengetahuan tentang langkah-langkah dalam MPBL |
8 |
22 |
Belum |
|
27% |
73% |
tercapai |
||
|
6 |
Pengetahuan tentang kegiatan siswa dalam MPBL |
6 |
24 |
Belum |
|
20% |
80% |
tercapai |
||
|
7 |
Pengetahuan
tentang penyelesaian proyek dalam MPBL |
6 |
24 |
Belum |
|
20% |
80% |
tercapai |
||
|
8 |
Pengetahuan
tentang penyampaian hasil dalam MPBL |
6 |
24 |
Belum |
|
20% |
80% |
tercapai |
||
Keterangan:
T = Tahu
TT =
Tidak Tahu
Dari
Tabel 2 di atas diperoleh gambaran bahwa:
1) 6 orang guru
atau 20% mengetahui Model Porject Based Learning (MPBL) dan 24 orang
guru atau 80% orang guru tidak tahu.
2) 6 orang guru
atau 20% tahu tentang karakteristik Model Porject Based Learning (MPBL)
dan 24 orang guru atau 80% orang guru tidak tahu.
3) 6 orang guru
atau 20% tahu tentang kesulitan dalam Model Porject Based Learning (MPBL)
dan 24 orang guru atau 80% orang guru tidak tahu.
4) 8 orang guru
atau 27% tahu tentang tujuan Model Porject Based Learning (MPBL)
dan 24 orang guru atau 73% orang guru tidak tahu.
5) 8 orang guru
atau 27% tahu tentang langkah-langkah dalam Model Porject Based Learning (MPBL),
dan 24 orang guru atau 73% orang guru tidak tahu.
6) 6 orang guru
atau 20% mengetahui tentang kegiatan siswa dalam Model Porject Based
Learning (MPBL) dan 24 orang guru atau 80% orang guru tidak tahu.
7) 6 orang guru
atau 20% mengetahui tentang penyelesaian proyek dalam Model Porject Based
Learning (MPBL) dan 24 orang guru atau 80% orang guru tidak tahu.
8) 6 orang guru
atau 20% mengetahui tentang penyampaian hasil dalam Model Porject Based
Learning (MPBL) dan 24 orang guru atau 80% orang guru tidak tahu.
Pengetahuan guru tentang Model
Porject Based Learning (MPBL) pada siklus I dapat dilihat
pada gambar berikut:
Gambar 1 Pengetahuan Peserta
Tentang MPBL Siklus I
Sedangkan dari hasil evaluasi terhadap
kemampuan guru dalam merancang Model
Porject Based Learning (MPBL) secara umum diperoleh data seperti tampak
pada Tabel 3 berikut.
Tabel 3 Kompetensi Peserta Merancang MPBL
Siklus I
|
No |
Aspek yang dinilai |
Jumlah |
Keterangan |
|
|
( % ) |
||||
|
M |
TM |
|||
|
1 |
Penentuan dan
Perencanaan Proyek |
6 |
24 |
belum |
|
20% |
80% |
tercapai |
||
|
2 |
Penyusunan
Jadwal Proyek |
8 |
22 |
belum |
|
27% |
73% |
tercapai |
||
|
3 |
Penyelesaian
Proyek |
8 |
22 |
belum |
|
27% |
73% |
tercapai |
||
|
4 |
Penyampaian
Hasil |
6 |
24 |
belum |
|
20% |
80% |
tercapai |
||
|
5 |
Evaluasi
Hasil Kegiatan |
5 |
25 |
belum |
|
17% |
83% |
tercapai |
||
Keterangan:
M = Mampu
TM =
Tidak Mampu
Dari Tabel 3 di atas diperoleh gambaran bahwa:
1) 6 orang guru
atau 20% mampu menyusun karakteristik Model Porject Based Learning (MPBL)
dan 24 orang guru atau 80% orang guru tidak mampu.
2) 8 orang guru
atau 27% mampu menyebutkan kendala dalam Model Porject Based Learning (MPBL)
dan 22 orang guru atau 73% orang guru tidak mampu.
3) 8 orang guru
atau 27% mampu menyebutkan tujuan dari Model Porject Based Learning (MPBL)
dan 22 orang guru atau 73% orang guru tidak mampu.
4) 6 orang guru
atau 20% mampu menyebutkan langkah-langkah dalam Model Porject Based
Learning (MPBL) dan 24 orang guru atau 80% orang guru tidak mampu.
5) 5 orang guru
atau 17% mampu membuat rancangan dalam Model Porject Based Learning (MPBL)
dan 25 orang guru atau 83% orang guru tidak
mampu.
Secara grafis, kompetensi guru dalam
menyusun Model Porject Based Learning (MPBL) pada siklus I dapat
ditunjukkan pada gambar berikut:
Gambar 2 Kompetensi Peserta Merancang MPBL
Siklus I
Sementara
kemampuan guru dalam merancang Model
Porject Based Learning (MPBL) secara individu ditunjukkan pada tabel 4
sebagai berikut:
Tabel 4 Kompetensi Individu Peserta Merancang MPBL Siklus I
|
No |
Nama Guru |
Skor kompetensi dalam merancang Project Based Learning (MPBL) |
||||||||
|
Pen Per |
Jadwal |
Penyel |
Peny Hsil |
Eval |
Total |
% |
Ket |
|||
|
1 |
Ardianto,
S.Pd |
2 |
3 |
2 |
2 |
2 |
11 |
44% |
Blm Tercapai |
|
|
2 |
Ardisal,
S.Pd |
4 |
3 |
3 |
2 |
2 |
14 |
56% |
Blm Tercapai |
|
|
3 |
Ade
Musthafa, S.Pd.I, M.Pd |
3 |
3 |
3 |
2 |
3 |
14 |
56% |
Blm Tercapai |
|
|
4 |
Kartika
Sari, S.Pd |
2 |
3 |
2 |
3 |
4 |
14 |
56% |
Blm Tercapai |
|
|
5 |
Saji
Suryanto, S.Pd.I |
2 |
2 |
3 |
2 |
4 |
13 |
52% |
Blm Tercapai |
|
|
6 |
Dwi
Asri Wilujeng, S.Si |
3 |
3 |
3 |
2 |
2 |
13 |
52% |
Blm Tercapai |
|
|
7 |
Elza
Haryani, S.Ag, M.Pd |
2 |
3 |
2 |
2 |
2 |
11 |
44% |
Blm Tercapai |
|
|
8 |
Dina Rahmana, S.Pd.I |
4 |
3 |
3 |
2 |
2 |
14 |
56% |
Blm Tercapai |
|
|
9 |
Sri
Rezeki, S.Pd |
3 |
3 |
3 |
2 |
3 |
14 |
56% |
Blm Tercapai |
|
|
10 |
Etty
Ekariani, S.Pd |
4 |
3 |
3 |
2 |
2 |
14 |
56% |
Blm Tercapai |
|
|
11 |
Kiki
Detriyani, S.Pd |
3 |
3 |
3 |
2 |
3 |
14 |
56% |
Blm Tercapai |
|
|
12 |
Lukman
Hakim, M.Pd |
2 |
3 |
2 |
3 |
4 |
14 |
56% |
Blm Tercapai |
|
|
13 |
Nursamia,
S.Pd |
2 |
2 |
3 |
2 |
4 |
13 |
52% |
Blm Tercapai |
|
|
14 |
Melva
Gustina, S.Pd |
3 |
3 |
3 |
2 |
2 |
13 |
52% |
Blm Tercapai |
|
|
15 |
Nopita
Yanti, S.Pd |
4 |
3 |
3 |
3 |
3 |
16 |
64% |
Blm Tercapai |
|
|
16 |
Wenni
Rossalina, S.Pd |
4 |
3 |
4 |
2 |
4 |
17 |
68% |
Blm Tercapai |
|
|
17 |
Akmal Hafis, S.Pd.I |
2 |
3 |
2 |
2 |
2 |
11 |
44% |
Blm Tercapai |
|
|
18 |
Herlina, S.Pd, M.Pd |
4 |
3 |
3 |
2 |
2 |
14 |
56% |
Blm Tercapai |
|
|
19 |
Dian
Kurniawan, S.Pd |
3 |
3 |
3 |
2 |
3 |
14 |
56% |
Blm Tercapai |
|
|
20 |
Lastriana,
S.Pd.I |
2 |
3 |
2 |
3 |
4 |
14 |
56% |
Blm Tercapai |
|
|
21 |
Sri Handayani, S.Pd, M.Pd |
2 |
2 |
3 |
2 |
4 |
13 |
52% |
Blm Tercapai |
|
|
22 |
Rita
Fialisna, S.Pd |
3 |
3 |
3 |
2 |
2 |
13 |
52% |
Blm Tercapai |
|
|
23 |
Wahyuni,
S.Pd.I |
4 |
3 |
3 |
3 |
3 |
16 |
64% |
Blm Tercapai |
|
|
24 |
Eri Sakti, S.Pd, M.Pd |
4 |
3 |
4 |
2 |
4 |
17 |
68% |
Blm Tercapai |
|
|
25 |
Elda Sasrika, S.Pd.I |
2 |
3 |
2 |
2 |
2 |
11 |
44% |
Blm Tercapai |
|
|
26 |
Yuli Puspita Sari, S.Pd.I |
4 |
3 |
3 |
2 |
2 |
14 |
56% |
Blm Tercapai |
|
|
27 |
Juhesmi
Khairani, M.Pd.I |
3 |
3 |
3 |
2 |
3 |
14 |
56% |
Blm Tercapai |
|
|
28 |
Holmawati,
S.Pd.I |
2 |
3 |
2 |
3 |
4 |
14 |
56% |
Blm Tercapai |
|
|
29 |
Sosi
Oktarina, S.Pd |
4 |
3 |
3 |
3 |
3 |
16 |
64% |
Blm Tercapai |
|
|
30 |
Zakiyani
Dewi, SE |
4 |
3 |
4 |
2 |
4 |
17 |
68% |
Blm Tercapai |
|
Berdasarkan dekripsi pada tabel 1, 2, 3
dan 4 nampak bahwa kesiapan guru masih kurang, pengetahuan dan kemampuan dalam
meyususn Model Porject Based Learning (MPBL) juga belum memenuhi indikator yang
telah ditetapkan, baik secara kelompok maupun secara individu.
d.
Refleksi
Dari hasil yang
diperoleh menunjukkan bahwa guru dalam merancang Model Porject Based Learning (MPBL) pada siklus I belum menunjukkan
hasil yang sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan. Setelah diadakan
refleksi terhadap hasil yang diperoleh, diputuskan untuk memperbaiki dari segi
kegiatan workshop terutama memperjelas tentang aspek-aspek yang belum sesuai
dengan indikator yang telah ditetapkan. Dari hasil
tersebut tampaknya secara umum bahwa guru dalam merancang Model Porject Based Learning (MPBL) belum memenuhi kriteria yang
telah ditetapkan. Terkait dengan kesiapan guru,
ditemukan bahwa guru belum menyadari bahwa pentingnya kemampuan merancang Model Porject Based Learning (MPBL).
Terkait dengan kesiapan laptop, guru masih banyak yang belum memiliki,
alternatif solusinya adalah meminjam pada madrasah lain atau memanfaatkan
komputer yang ada di madrasah.
Berdasarkan
hasil refleksi itu, diputuskan untuk memantapkan kegiatan pembinaan lebih
memfokuskan pada aspek-aspek yang belum memenuhi indikator yang telah
ditetapkan. Dari masalah tersebut, diputuskan untuk memperbaiki beberapa
langkah dalam siklus I, yakni memfokuskan pada penjelasan tentang format dan
aspek penilaian dalam kaitannya dengan mrancang Model Porject Based Learning (MPBL).
Langkah-langkah ini dijalankan pada siklus II dengan tetap mempertahankan
kegiatan yang lain yang sudah dianggap baik. Untuk meningkatkan kesiapan guru, fasilitator memberikan kesadaran
bahwa betapa penting kemampuan merancang Model Porject Based Learning (MPBL)
bagi guru sebagai kompetensi yang harus dimiliki oleh guru.
a.
Perencanaan
Seperti pada siklus I, maka pada siklus
II ini mencakup perencanaan terdiri atas: (1) melaporkan kegiatan penelitian
kepada Kepala Kantor Kementerian Agama, (2) berkoordinasi dengan Pengawas,
dengan minta masukan tentang masalah yang ada sekaligus membicarakan tentang masalah
teknis, waktu pelaksanaan penelitian dan hal-hal yang terkait dengan penelitian
dan atau workshop yang dilaksanakan, (3) bersama pengawas memberikan pengarahan
tentang workshop menyusun Model Porject
Based Learning (MPBL), (4) menelaah konsep Model Porject Based Learning (MPBL), (5) mendiskusikan
langkah-langkah Model Porject Based
Learning (MPBL) dan presentasi kelompok, dan (6) menghasilkan tindakan
menyusun Model Porject Based Learning (MPBL).
Di samping perencanaan umum, dilakukan juga perenanaan teknis pelaksanaan kegiatan seperti: (1)
mengumpulkan guru melalui undangan kepala madrasah, (2) menyusun jadual
workshop: hari, tanggal, jam dan tempat, (3) menyiapkan materi workshop,
pengarahan kepala madrasah, pemaparan materi strategi/model pembelajaran, (4)
menyiapkan konsumsi untuk workshop, dan (5) menyuruh guru membawa laptop.
b.
Pelaksanaan
Pada tahap ini dilakukan beberapa
langkah, yakni: (1) absensi peserta, (2)
pengarahan kepala madrasah, (3) penjelasan umum kepada seluruh peserta, (4)
peserta diajak mereview Model Porject Based Learning (MPBL), (5) guru mengkaji
langah-langkah menyusun Model Porject Based Learning (MPBL), (6) guru melakukan
persiapan Model Porject Based Learning (MPBL), dan (7) presentasi visual dalam
menyusun Model Porject Based Learning (MPBL).
c.
Pengamatan
Pada tahap ini dilakukan pengamatan
terhadap pelaksanaan tindakan, yaitu menitikberatkan pada kompetensi guru dalam
menyusun Model Porject Based Learning (MPBL) sebagai akibat diterapkannya
workshop. Tujuan dilaksanakan pengamatan adalah untuk mengetahui kegiatan
yang mana patut dipertahankan, diperbaiki, atau dihilangkan sehingga kegitan
pembinaan melalui workshop benar-benar berjalan sesuai dengan tujuan yang ada
dan mampu meningkatkan kinerja peserta dalam menyusun Model Porject Based
Learning (MPBL).
Pada siklus II ini, langkah-langkah yang
diambil sesuai dengan refleksi hasil siklus I, mengikuti langlah-langkah
seperti siklus I dengan memfokuskan pada penjelasan aspek-aspek yang belum
dipahami guru dalam menyusun Model Porject Based Learning (MPBL) lebih
menitikberatkan pada aspek pembimbingan secara individu. Dari 30 orang guru
semua dilibatkan dalam siklus II untuk memperdalam pengetahuan tentang
penyusunan Model Porject Based Learning (MPBL). Setelah siklus II dijalankan
yang mengacu pada refleksi dan pemecahan masalah pada sikuls I diperoleh data
tentang seperti tampak pada Tabel 5 berikut:
Tabel 5 Kesiapan
Peserta Mengikuti Workshop Siklus II
|
No |
Aspek yang diamati |
Jumlah (%) |
Keterangan |
|
|
T |
TS |
|||
|
1 |
Kesiapan
fifik dan mental |
30 |
0 |
tercapai |
|
100% |
0% |
|||
|
2 |
Kesiapan
bahan |
30 |
0 |
tercapai |
|
100% |
0% |
|||
|
3 |
Kesiapan
laptop |
30 |
0 |
tercapai |
|
100% |
0% |
|||
Keterangan:
S = siap
TS =
tidak siap
Kesiapam
guru dalam mengikuti workshop tentang Model
Porject Based Learning (MPBL) pada siklus II dapat dilihat pada gambar
berikut:
Gambar 3 Kesiapan Peserta
Mengikuti Workshop Siklus II
Dari hasil evaluasi terhadap pengetahuan
guru tentang strategi/model pembelajaran dari 30 orang guru setelah diadakan
workshop pada tahap kedua (siklus II) diperoleh data seperti tampak pada Tabel 6
berikut.
Tabel
6 Pengetahuan Peserta Tentang MPBL Siklus II
|
No |
Aspek yang diamati |
Jumlah |
Keterangan |
|
|
( % ) |
||||
|
T |
TT |
|||
|
1 |
Pengetahuan
tentang Model Porject Based Learning (MPBL) |
30 |
0 |
tercapai |
|
100% |
0% |
|||
|
2 |
Pengetahuan
tentang karakteristik PBP |
30 |
0 |
tercapai |
|
100% |
0 |
|||
|
3 |
Pengetahuan tentang kesulitan dalam PBP |
30 |
0 |
tercapai |
|
100% |
0% |
|||
|
4 |
Pengetahuan
tentang tujuan PBP |
30 |
0 |
tercapai |
|
100% |
0% |
|||
|
5 |
Pengetahuan tentang langkah-langkah dalam PBP |
30 |
0 |
tercapai |
|
100% |
0% |
|||
|
6 |
Pengetahuan tentang kegiatan siswa dalam PBP |
30 |
0 |
tercapai |
|
100% |
0% |
|||
|
7 |
Pengetahuan
tentang penyelesaian proyek dalam PBP |
30 |
0 |
tercapai |
|
100% |
0% |
|||
|
8 |
Pengetahuan
tentang penyampaian hasil dalam PBP |
30 |
0 |
tercapai |
|
100% |
0% |
|||
Keterangan:
T = Tahu
TT =
Tidak Tahu
Dari
Tabel 6 di atas diperoleh gambaran bahwa:
1) 30 orang
guru atau 100% mengetahui Model Porject Based Learning (MPBL) dan tidak
ada guru yang tidak tahu.
2) 30 orang
guru atau 100% tahu tentang karakteristik Model Porject Based Learning (MPBL)
dan tidak ada guru yang tidak tahu.
3) 30 orang
guru atau 100% tahu tentang kesulitan dalam Model Porject Based Learning (MPBL)
dan tidak ada guru yang tidak tahu.
4) 30 orang
guru atau 100% tahu tentang tujuan Model Porject Based Learning (MPBL)
dan tidak ada guru yang tidak tahu.
5) 30 orang
guru atau 100% tahu tentang langkah-langkah dalam Model Porject Based
Learning (MPBL) tidak ada guru yang tidak tahu.
6) 30 orang
guru atau 100% mengetahui tentang kegiatan siswa dalam Model Porject Based
Learning (MPBL) tidak ada guru yang tidak tahu.
7) 30 orang
guru atau 100% mengetahui tentang penyelesaian proyek dalam Model Porject
Based Learning (MPBL) dan tidak ada guru yang tidak tahu.
8) 30 orang
guru atau 100% mengetahui tentang penyampaian hasil dalam Model Porject
Based Learning (MPBL) dan tidak ada guru yang tidak tahu.
Pengetahuan guru tentang Model
Porject Based Learning (MPBL) pada siklus II dapat dilihat pada gambar
berikut:

Gambar 4 Pengetahuan Peserta Tentang MPBL Siklus II
Sedangkan dari hasil evaluasi terhadap
kemampuan guru dalam merancang Model
Porject Based Learning (MPBL) diperoleh data seperti tampak pada Tabel 7
berikut.
Tabel
7 Kompetensi Peserta Merancang MPBL Siklus II
|
No |
Aspek yang dinilai |
Jumlah |
Keterangan |
|
|
( % ) |
||||
|
M |
TM |
|||
|
1 |
Penentuan dan
Perencanaan Proyek |
30 |
0 |
tercapai |
|
100% |
0% |
|||
|
2 |
Penyusunan Jadwal
Proyek |
30 |
0 |
tercapai |
|
100% |
0% |
|||
|
3 |
Penyelesaian
Proyek |
30 |
0 |
tercapai |
|
100% |
0% |
|||
|
4 |
Penyampaian
Hasil |
30 |
0 |
tercapai |
|
100% |
0% |
|||
|
5 |
Evaluasi
Hasil Kegiatan |
30 |
0 |
tercapai |
|
100% |
0% |
|||
Keterangan:
M = Mampu
TM =
Tidak Mampu
Dari
Tabel 7 di atas diperoleh gambaran bahwa:
1) 30 orang guru atau 100% mampu menyusun
karakteristik Model Porject Based
Learning (MPBL) dan tidak ada guru yang tidak mampu.
2) 30 orang
guru atau 100% mampu menyebutkan kendala dalam Model Porject Based Learning
(MPBL) dan tidak ada guru yang tidak mampu.
3) 30 orang
guru atau 100% mampu menyebutkan tujuan dari Model Porject Based Learning (MPBL)
dan tidak ada guru yang tidak mampu.
4) 30 orang
guru atau 100% mampu menyebutkan langkah-langkah dalam Model Porject Based
Learning (MPBL) dan tidak ada guru yang tidak mampu.
5) 30 orang
guru atau 100% mampu membuat rancangan dalam Model Porject Based Learning (MPBL)
dan tidak ada guru yang tidak mampu.
Secara
grafis, pencapaian kompetensi guru dalam menyusun Model Porject Based Learning (MPBL) pada siklus II dapat ditunjukkan
pada gambar berikut:

Gambar 5 Kompetensi Peserta Merancang MPBL Siklus II
Sementara
kemampuan guru dalam menyusun Model
Porject Based Learning (MPBL) secara individu ditunjukkan pada tabel 4.8,
sebagai berikut:
Tabel 8 Kompetensi Individu Merancang MPBL Siklus II
|
No |
Nama Guru PAI |
Skor kompetensi dalam merancang Project Based Learning
(MPBL) |
||||||||
|
Pen Per |
Jadwal |
Penyel |
Peny Hsil |
Eval |
Total |
% |
Ket |
|||
|
1 |
Ardianto, S.Pd |
4 |
5 |
5 |
4 |
5 |
23 |
92% |
Tercapai |
|
|
2 |
Ardisal, S.Pd |
5 |
5 |
5 |
5 |
5 |
25 |
100% |
Tercapai |
|
|
3 |
Ade Musthafa, S.Pd.I, M.Pd |
5 |
5 |
5 |
5 |
5 |
25 |
100% |
Tercapai |
|
|
4 |
Kartika Sari, S.Pd |
5 |
5 |
5 |
4 |
5 |
24 |
96% |
Tercapai |
|
|
5 |
Saji Suryanto, S.Pd.I |
5 |
4 |
5 |
5 |
5 |
24 |
96% |
Tercapai |
|
|
6 |
Dwi Asri Wilujeng, S.Si |
5 |
5 |
4 |
4 |
5 |
23 |
92% |
Tercapai |
|
|
7 |
Elza Haryani, S.Ag, M.Pd |
5 |
5 |
4 |
5 |
4 |
23 |
92% |
Tercapai |
|
|
8 |
Dina Rahmana, S.Pd.I |
5 |
5 |
5 |
5 |
5 |
25 |
100% |
Tercapai |
|
|
9 |
Sri Rezeki, S.Pd |
5 |
4 |
5 |
5 |
5 |
24 |
96% |
Tercapai |
|
|
10 |
Etty Ekariani, S.Pd |
5 |
5 |
5 |
5 |
5 |
25 |
100% |
Tercapai |
|
|
11 |
Kiki Detriyani, S.Pd |
5 |
4 |
5 |
5 |
5 |
24 |
96% |
Tercapai |
|
|
12 |
Lukman Hakim, M.Pd |
5 |
4 |
5 |
5 |
5 |
24 |
96% |
Tercapai |
|
|
13 |
Nursamia, S.Pd |
5 |
4 |
5 |
5 |
5 |
24 |
96% |
Tercapai |
|
|
14 |
Melva Gustina, S.Pd |
5 |
4 |
4 |
5 |
5 |
23 |
92% |
Tercapai |
|
|
15 |
Nopita Yanti, S.Pd |
5 |
4 |
5 |
5 |
5 |
24 |
96% |
Tercapai |
|
|
16 |
Wenni Rossalina, S.Pd |
5 |
5 |
4 |
5 |
5 |
24 |
96% |
Tercapai |
|
|
17 |
Akmal Hafis, S.Pd.I |
5 |
4 |
5 |
4 |
5 |
23 |
92% |
Tercapai |
|
|
18 |
Herlina, S.Pd, M.Pd |
5 |
5 |
5 |
4 |
4 |
23 |
92% |
Tercapai |
|
|
19 |
Dian Kurniawan, S.Pd |
5 |
5 |
5 |
4 |
5 |
24 |
96% |
Tercapai |
|
|
20 |
Lastriana, S.Pd.I |
5 |
4 |
5 |
4 |
5 |
23 |
92% |
Tercapai |
|
|
21 |
Sri Handayani, S.Pd, M.Pd |
5 |
4 |
4 |
4 |
5 |
22 |
88% |
Tercapai |
|
|
22 |
Rita Fialisna, S.Pd |
5 |
4 |
5 |
4 |
5 |
23 |
92% |
Tercapai |
|
|
23 |
Wahyuni, S.Pd.I |
5 |
4 |
5 |
4 |
4 |
22 |
88% |
Tercapai |
|
|
24 |
Eri Sakti, S.Pd, M.Pd |
5 |
4 |
5 |
4 |
5 |
23 |
92% |
Tercapai |
|
|
25 |
Elda Sasrika, S.Pd.I |
4 |
4 |
5 |
4 |
5 |
22 |
88% |
Tercapai |
|
|
26 |
Yuli Puspita Sari, S.Pd.I |
5 |
4 |
5 |
4 |
5 |
23 |
92% |
Tercapai |
|
|
27 |
Juhesmi Khairani, M.Pd.I |
4 |
5 |
5 |
4 |
5 |
23 |
92% |
Tercapai |
|
|
28 |
Holmawati, S.Pd.I |
5 |
4 |
4 |
4 |
5 |
22 |
88% |
Tercapai |
|
|
29 |
Sosi Oktarina, S.Pd |
5 |
4 |
5 |
5 |
5 |
24 |
96% |
Tercapai |
|
|
30 |
Zakiyani Dewi, SE |
5 |
5 |
4 |
4 |
5 |
23 |
92% |
Tercapai |
|
Berdasarkan
dekripsi pada tabel 5, 6, 7 dan 8 tampaknya kemampuan guru dalam merancang
Model Porject Based Learning (MPBL) sudah memenuhi indikator kinerja yang telah
ditetapkan pada semua aspek, baik menyangkut kesiapan, pengetahuan maupun
kemampuan dalam menyusun Model Porject Based Learning (MPBL). Dengan hasil seperti itu, berarti tindakan yang diberikan efektif
dalam meningkatkan kinerja guru dalam menyusun Model Porject Based Learning (MPBL).
d. Refleksi
Dari
hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa guru dalam merancang Model Porject Based Learning (MPBL) pada
siklus I sudah menunjukkan hasil yang sesuai dengan indikator yang telah
ditetapkan. Setelah diadakan refleksi terhadap hasil yang diperoleh, diputuskan
untuk tidak melanjutkan pada siklus berikutnya Dari hasil tersebut tampaknya
secara umum bahwa guru dalam merancang Model
Porject Based Learning (MPBL) sudah memenuhi kriteria yang telah
ditetapkan.
Terkait
dengan kesiapan guru, ditemukan bahwa guru sudah menyadari betapa pentingnya
kemampuan merancang Model Porject Based
Learning (MPBL). Terkait dengan kesiapan laptop, semua guru sudah membawa laptop.
3.
Perbandingan Siklus I dan Siklus II
a.
Perbandingan Kesiapan Peserta Mengikuti
Workshop
Tabel
9 Perbandingan
Kesiapan Peserta Mengikuti Workshop
|
KESIAPAN GURU MENGIKUTI WORKSHOP |
||||
|
No. |
Aspek yang diamati |
Siklus I |
Siklus II |
Keterangan |
|
1. |
Kesiapan fifik dan mental |
27% |
100% |
Meningkat |
|
2. |
Kesiapan bahan |
20% |
100% |
Meningkat |
|
3. |
Kesiapan laptop |
20% |
100% |
Meningkat |

Gambar 6
Perbandingan Kesiapan Peserta Mengikuti Workshop
b. Perbandingan
Pengetahuan Peserta Tentang MPBL
Tabel
10 Perbandingan Pengetahuan Peserta Tentang MPBL
|
Pengetahuan Tentang Model Porject Based Learning (MPBL) |
||||
|
No. |
Aspek yang diamati |
Siklus I |
Siklus II |
Keterangan |
|
1. |
Model Porject Based Learning (MPBL) |
20% |
100% |
Meningkat |
|
2. |
Karakteristik MPBL |
20% |
100% |
Meningkat |
|
3. |
Kesulitan dalam MPBL |
20% |
100% |
Meningkat |
|
4. |
Tujuan MPBL |
27% |
100% |
Meningkat |
|
5. |
Langkah-langkah dalam MPBL |
27% |
100% |
Meningkat |
|
6. |
Kegiatan siswa dalam MPBL |
20% |
100% |
Meningkat |
|
7. |
Penyelesaian proyek dalam MPBL |
20% |
100% |
Meningkat |
|
8. |
Penyampaian hasil dalam MPBL |
20% |
100% |
Meningkat |

Gambar
7 Perbandingan Pengetahuan Peserta Tentang MPBL
c. Perbandingan
Kompetensi Peserta dalam Merancang MPBL
Tabel
11 Perbandingan Kompetensi Peserta Merancang MPBL
|
KEMAMPUAN MERANCANG PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK (PBP) |
||||
|
No. |
Aspek yang dinilai |
Siklus I |
Siklus II |
Keterangan |
|
1. |
Penentuan dan Perencanaan Proyek |
20% |
100% |
Meningkat |
|
2. |
Penyusunan Jadwal Proyek |
27% |
100% |
Meningkat |
|
3. |
Penyelesaian Proyek |
27% |
100% |
Meningkat |
|
4. |
Penyampaian Hasil |
20% |
100% |
Meningkat |
|
5. |
Evaluasi Hasil Kegiatan |
17% |
100% |
Meningkat |

Gambar 8 Perbandingan Komptensi Peserta Merancang MPBL
Selanjutnya untuk mengetahui bagaimana
perbandingan uji kompetensi guru dalam merancang Model Porject Based
Learning (MPBL) pada setiap siklus secara individu dapat ditunjukkan
seperti pada tabel berikut:
Tabel
12 Perbandingan Kompetensi Peserta Secara Individu
|
Perbandingan Kemampuan Perorangan |
||||
|
No. |
Nama Guru |
Siklus I |
Siklus II |
Keterangan |
|
1 |
Ardianto, S.Pd |
44% |
92% |
Meningkat |
|
2 |
Ardisal, S.Pd |
56% |
100% |
Meningkat |
|
3 |
Ade Musthafa, S.Pd.I, M.Pd |
56% |
100% |
Meningkat |
|
4 |
Kartika Sari, S.Pd |
56% |
96% |
Meningkat |
|
5 |
Saji Suryanto, S.Pd.I |
52% |
96% |
Meningkat |
|
6 |
Dwi Asri Wilujeng, S.Si |
52% |
92% |
Meningkat |
|
7 |
Elza Haryani, S.Ag, M.Pd |
44% |
92% |
Meningkat |
|
8 |
Dina Rahmana,
S.Pd.I |
56% |
100% |
Meningkat |
|
9 |
Sri Rezeki, S.Pd |
56% |
96% |
Meningkat |
|
10 |
Etty Ekariani, S.Pd |
56% |
100% |
Meningkat |
|
11 |
Kiki Detriyani, S.Pd |
56% |
96% |
Meningkat |
|
12 |
Lukman Hakim, M.Pd |
56% |
96% |
Meningkat |
|
13 |
Nursamia, S.Pd |
52% |
96% |
Meningkat |
|
14 |
Melva Gustina, S.Pd |
52% |
92% |
Meningkat |
|
15 |
Nopita Yanti, S.Pd |
64% |
96% |
Meningkat |
|
16 |
Wenni Rossalina, S.Pd |
68% |
96% |
Meningkat |
|
17 |
Akmal Hafis,
S.Pd.I |
44% |
92% |
Meningkat |
|
18 |
Herlina, S.Pd,
M.Pd |
56% |
92% |
Meningkat |
|
19 |
Dian Kurniawan, S.Pd |
56% |
96% |
Meningkat |
|
20 |
Lastriana, S.Pd.I |
56% |
92% |
Meningkat |
|
21 |
Sri Handayani,
S.Pd, M.Pd |
52% |
88% |
Meningkat |
|
22 |
Rita Fialisna, S.Pd |
52% |
92% |
Meningkat |
|
23 |
Wahyuni, S.Pd.I |
64% |
88% |
Meningkat |
|
24 |
Eri Sakti, S.Pd,
M.Pd |
68% |
92% |
Meningkat |
|
25 |
Elda Sasrika,
S.Pd.I |
44% |
88% |
Meningkat |
|
26 |
Yuli Puspita Sari,
S.Pd.I |
56% |
92% |
Meningkat |
|
27 |
Juhesmi Khairani, M.Pd.I |
56% |
92% |
Meningkat |
|
28 |
Holmawati, S.Pd.I |
56% |
88% |
Meningkat |
|
29 |
Sosi Oktarina, S.Pd |
64% |
96% |
Meningkat |
|
30 |
Zakiyani Dewi, SE |
68% |
92% |
Meningkat |
4. Respon
Guru terhadap Pelaksanaan Workshop Merancang MPBL
Penilaian ini penting
dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang respon guru terhadap kegiatan
workshop dalam merancang Model Porject Based Learning (MPBL). Untuk mengetahui respon guru
terhadap kegiatan workshop tentang
merancang Model Porject Based Learning (MPBL), berdasarkan
skor angket yang diperoleh, dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Respon ³ Mi + 1,5 SDi ΰ sangat baik
b. Mi + 0,5 SDi
< Respon < Mi + 1,5 SDi ΰ baik
c. Mi 0,5 SDi
< Respon < Mi + 0,5 SDi ΰ cukup baik
d. Mi 1,5 SDi
< Respon < Mi 0,5 SDi ΰ kurang baik
e. Respon <
Mi 1,5 SDi ΰ sangat kurang baik
Dan
hasil penyebaran angker diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 13 Respon Peserta Terhadap Pelaksanaan Workshop
|
RESPON GURU |
|||
|
Skor |
Respon |
f |
% |
|
> 93 |
Sangat
Baik ( SB ) |
20 |
67% |
|
91 - 92 |
Baik (
B ) |
10 |
33% |
|
89 - 90 |
Cukup
Baik ( CB ) |
0 |
0% |
|
87 - 88 |
Kurang
Baik ( KB ) |
0 |
0% |
|
< 87 |
Sangat
Kurang Baik ( SKB ) |
0 |
0% |
|
Jumlah |
30 |
100% |
|
Berdasarkan
tabel 13 di atas menunjukkan bahwa respon guru terhadap kegiatan workshop
tentang Model Porject Based Learning (MPBL)
adalah sebagai berikut: 20 orang atau 67% merespon Sangat Baik (SB), 10
orang atau 33% merespon Baik (B), dan tidak ada satu orang pun yang meresepon
Cukup Baik (CB) maupun Kurang Baik (KB) apalagi merespon sangat kurang
baik. Respon ini menunjukkan bahwa guru sangat mengharapkan
pelatihan dan pendidikan terhadap Model
Porject Based Learning (MPBL).
1.
Pembahasan
Hasil Penelitian
Berdasarkan
analisis dan pembahasan seperti yang telah dipaparkan pada bagian sebelumnya,
maka dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas peserta dalam
kegiatan workshop tentang penyusunan Model Porject Based Learning (MPBL) bagi
guru (Laili,
2019). Di samping itu juga, terjadi peningkatan
kinerja guru dalam menyusun Model Porject Based Learning (MPBL) melalui
workshop. Dari siklus I ke siklus II pada
masing-masing aspek dengan target ketercapaian sesuai dengan kriteria yang
ditetapkan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
melalui workshop dapat meningkatkan kinerja guru dalam menyusun Model Porject
Based Learning (MPBL).
Sementera
dari hasil penyebaran angket tentang tanggapan peserta terhadap pelaksanan
workshop dalam menyusun Model Porject
Based Learning (PBP) adalah sebagai berikut: 67% menyatakan sangat baik dan
sangat setuju, dan 33% menyatakan baik dan sangat setuju.
Keberhasilan tindakan ini disebabkan oleh
pemahaman secara menyeluruh tentang strategi pembelajaran sangat diperlukan. Dengan pemahaman yang
baik, maka model pembelajaran dapat disusun dengan baik. Mengoptimalkan
pemahaman guru terhadap Model Porject
Based Learning (MPBL) melalui pembinaan intensif dalam bentuk
penyelenggaraan workshop menunjuk pada metode kooperatif konsultatif dimana
diharapkan para guru berdiskusi, bekerja sama dan berkonsultasi secara aktif (Anam,
2022). Aktivitas ini akan sangat
membantu mereka dalam memahami konsep-konsep dasar penyusunan model
pembelajaran yang pada akhirnya nanti mereka mampu menyusun model pembelajaran
yang lain dengan baik dan benar.
Dalam
kaitannya dengan pembinaan melalui workshop,
maka penelitian ini juga sesuai dengan apa yang dikatakan (Saneto,
2021) bahwa tujuan workshop
adalah untuk memperoleh tingkat kinerja yang diperlukan dalam pekerjaan mereka
dengan cepat dan ekonomis dan mengembangkan kinerja-kinerja yang ada sehingga
prestasi mereka pada tugas yang sekarang ditingkatkan dan mereka dipersiapkan
untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar di masa yang akan datang. (Suta,
2018) mengatakan workshop bertujuan untuk memperoleh nilai tambah seseorang yang
bersangkutan, terutama yang berhubungan dengan meningkatnya dan berkembangnya
pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang bersangkutan. Workshop dimaksudkan
untuk mempertinggi kinerja dengan mengembangkan cara-cara berpikir dan
bertindak yang tepat serta pengetahuan tentang tugas pekerjaan termasuk tugas
dalam melaksanakan evaluasi diri.
Dari
paparan di atas, menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi guru melalui kegiatan
workshop yang lebih menekankan pada
metode kolaboratif konsultatif akan memberikan
kesempatan sharing antara satu guru dengan guru lain. Dengan
demikian, pemahaman terhadap Model
Porject Based Learning (MPBL) dapat ditingkatkan baik dalam teoretisnya
maupun implementasinya.
KESIMPULAN
Setelah
melalui proses analisis dan pembahasan hasil penelitian tindakan yang telah
diterapkan pada Guru Madrasah Aliyah Negeri 2 Tebo pada semester gasal tahun
pelajaran 2020/2021, maka dapat disimpulkan bahwa: Ada peningkatan kompetensi
guru dalam merancang Model Porject Based Learning (PjBL) setealah mengikuti
workshop. Dari siklus I ke siklus II dapat mencapai target
minimal yang telah ditetapkan dalam merancang model pembelajaran pada
masing-masing aspek. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa melalui workshop dapat menintsagkatkan kompetensi guru dalam merancang
Model Porject Based Learning (PjBL). Guru Madrasah
Aliyah Negeri 2 Tebo pada semester gasal tahun pelajaran 2020/2021 memberikan
respon sangat positif terhadap kegiatan merancang Model Porject Based Learning
(PjBL) melalui workshop.
REFERENCE
Anam, K. (2022). Upaya Meningkatkan
Kompetensi Guru Madrasah Aliyah Dalam Merancang Model Problem Based Learning
Melalui Workshop. Al-Wasithoh: Jurnal Ilmu Agama Islam, 4(2),
129144.
Angkasa, A., Rusyana,
A., & Erlin, E. (2019). Penerapan model pembelajaran open ended problems
terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis. Jurnal Wahana Pendidikan,
5(2), 14.
Arifin, H. Z. (2017).
Perubahan perkembangan perilaku manusia karena belajar. SABILARRASYAD:
Jurnal Pendidikan Dan Ilmu Kependidikan, 2(1).
Asyafiq, S. (2016).
Berbagai pendekatan dalam pendidikan nilai dan pendidikan kewarganegaraan. Jurnal
Dimensi Pendidikan Dan Pembelajaran, 4(1), 2937.
Haqq, A. A. (2017).
Implementasi Challenge-Based Learning dalam Upaya Meningkatkan Kemampuan
Penalaran Matematis Siswa SMA. Jurnal THEOREMS (The Original Research of
Mathematics), 1(2).
Hurint, M. T.,
Tahulending, G., & Anas, S. (2021). Komparasi Keefektifan Penerapan Model
Pembelajaran Project Based Learning Dengan Problem Posing-Solving Dalam
Pembelajaran Matematika Berbasis Online Di SMK YPK 1 Biak. Jurnal Inovasi
Penelitian, 2(2), 339344.
Kholik, A. N. (2019).
Landasan psikologis pengembangan kurikulum abad 21. As-Salam: Jurnal Studi
Hukum Islam & Pendidikan, 8(1), 6586.
Laili, I. (2019).
Efektivitas pengembangan e-modul project based learning pada mata pelajaran
instalasi motor listrik. Jurnal Imiah Pendidikan Dan Pembelajaran, 3(3),
306315.
MUSTAIN, M. (2021). Peningkatan
Kompetensi Guru MTs Kecamatan Batealit Kabupaten Jepara Dalam Merancang Model
Project Base Learning Melalui Workshop. Academia: Jurnal Inovasi Riset
Akademik, 1(2), 193200.
Rerung, N., Sinon, I.
L. S., & Widyaningsih, S. W. (2017). Penerapan model pembelajaran problem
based learning (PBL) untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik SMA pada
materi usaha dan energi. Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika Al-Biruni, 6(1),
4755.
Saihu, S. (2019).
Konsep Manusia Dan Implementasinya Dalam Perumusan Tujuan Pendidikan Islam
Menurut Murtadha Muthahhari. Andragogi: Jurnal Pendidikan Islam Dan
Manajemen Pendidikan Islam, 1(2), 197217.
Saneto, S. P. (2021).
Meningkatkan Kinerja Guru Dalam Menyusun RPP Melalui Workshop Di SDN Wonogriyo
01 Kecamatan Tekung Kabupaten Lumajang Semester II Tahun Pelajaran 2017/2018. Jurnal
Merdeka Mengajar (JMM), 2(1), 1317.
Santoso, S. A. (2017).
Implementasi Kurikulum 2013 Dalam Kegiatan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 13 Malang. JURNAL ANNABA: STIT
Muhammadiyah Paciran Lamongan, 3(1), 15.
Suta, I. N. (2018). Upaya
Meningkatkan Kemampuan Guru Dalam Menetapkan KKM Mata Pelajaran Melalui
Workshop Pada Guru SD SE-Gugus Brigjen Anumerta I Gusti Ngurah Rai, Kecamatan
Denpasar Barat. Wahana Chitta Jurnal Pendidikan, 1(2), 117126.
Zekri, Z., Ganefri,
G., & Anwar, M. (2020). Pengembangan modul pembelajaran berbasis proyek
pada mata pelajaran simulasi dan komunikasi digital smk. Pedagogi: Jurnal
Ilmu Pendidikan, 20(1), 3342.