HUBUNGAN PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN
DEMAM TIFOID DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR. FAUZIAH BIREUEN
Ghina Salsabila1, Refit
Sulistiasari2
Universities Islam Sumatera
Utara
|
Keywords |
Abstract |
|
Personal hygiene, Typhoid fever |
Typhoid fever is an
infectious disease by the bacterium Salmonella typhi which is still common
and common. Indonesia is an endemic country for typhoid fever, it is
estimated that there are 800 sufferers per 100,000 populations every year.
Aceh is the province with the highest prevalence of typhoid fever at 7.0%.
Risk factors for typhoid fever are personal hygiene such as nail hygiene,
hand washing, snacking behavior, and others. The purpose of this study was to
determine the relationship between personal hygiene and the incidence of
typhoid fever at the dr. Faustian Breen. This research uses descriptive
analytic method with cross sectional approach. This study used an instrument
in the form of a questionnaire. The data obtained were analyzed using the
Chi-square test. The results showed that the age of the most subjects was >25
years (45.8%), with the more vulnerable sex being female (51.0%), unemployed
(19.8%) and with secondary education level (39.6 %). The bivariate test's
findings demonstrated a connection between the habits of washing hands using
soap after defecation with a p-value of 0.002 at the Regional General
Hospital dr. Faustian Breen with p-value 0.017. There is no relationship
between the habit of washing hands with soap before eating, the habit of
washing raw food ingredients, and a history of direct contact with typhoid
fever sufferers with the incidence of typhoid fever at the Regional General
Hospital dr. Faustian Breen. |
|
Kata Kunai |
Abstract |
|
Kebersihan
prepaid, Demand tifoid |
Demam
tifoid
Adela penyakit infers oleh bacteria Salmonella typhi yang masih sering dan
umum terjadi. Indonesia merupakan negara endemik demam tifoid, diperkirakan
terdapat 800 penderita per 100.000 penduduk setiap tahunnya. Aceh merupakan
provinsi dengan prevalensi demam tifoid tertinggi yaitu sebesar 7,0%. Faktor
risiko terjadinya demam tifoid adalah personal hygiene seperti kebersihan
kuku, mencuci tangan, perilaku jajan, dan lain-lain. Tujuan dari penelitian
ini adalah untuk mengetahui bagaimana personal hygiene mempengaruhi jumlah
kasus demam tifoid di rumah sakit. Umum Daerah dr. Fauziah Bireuen.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan cross
sectional. Penelitian ini menggunakan instrumen berupa kuesioner. Data yang
diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa usia subjek terbanyak adalah >25 tahun (45,8%), dengan
jenis kelamin yang lebih rentan adalah perempuan (51,0%), tidak bekerja
(19,8%) dan dengan tingkat pendidikan menengah (39,6%). Hasil uji bivariat
didapatkan adanya hubungan antara kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun
setelah BAB dengan p- value 0,002 di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Fauziah
Bireuen dengan p- value 0,017. Di Rumah
Sakit Umum Daerah
Dr. Fauziah Bireuen terdapat hubungan antara frekuensi demam tifoid
dengan Kebiasaan mencuci makanan mentah dengan sabun sebelum makan, riwayat
kontak langsung dengan penderita tifus, dan cuci tangan sebelum makan. |
Corresponding Author: Ghina Salsabila
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Demam
tifoid ialah sebuah penyakit yang dapat menular. Penyakit ini datang dengan
menyerang aliran pencernaan-pencernaan
yang disebabkan oleh Salmonella typhi yang menyebar melalui saluran cerna dan
masuk kedalam tubuh manusia bersama makanan atau minuman yang telah tercemar.
Ketika bakteri masuk ke dalam saluran pencernaan manusia, sebagian bakteri mati
oleh asam
lambung, sisanya masuk ke dalam usus halus. Bakteri yang masuk ke dalam usus
halus beraksi hingga melampaui usus halus, masuk ke dalam kelenjar getah
bening, pembuluh darah, dan ke seluruh tubuh (Zulfian
& Rafie, 2014). Demam tifoid merupakan penyakit endemik
di Indonesia. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang tercantum dalam
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1962 tentang wabah. Penyakit menular ini dapat
menyerang banyak orang, sehingga bisa menimbulkan wabah. Demam tifoid dapat
menyerang semua usia, mulai dari anak sampai orang dewasa. Penularan demam tifoid
dapat terjadi melalui kontak langsung jari tangan yang terkontaminasi tinja,
urin, atau saluran nafas penderita yang terinfeksi (Suraya
& Atikasari, 2019). Menurut data World Health Organization
(WHO) tahun 2018, diperkirakan setiap tahunnya 21 juta orang sakit akibat demam
tifoid dan 222.000 orang meninggal di setiap tahunnya. Kematian tersebut
sebagian besar terjadi di negara-negara berkembang. Sebanyak 80% kematian
terjadi di Asia dengan prevalensi sekitar 900/10.000 penduduk pertahun. Demam tifoid
menyerang semua usia, namun golongan terbesar tetap pada usia kurang dari 20
tahun (SAPURO,
2016; Sjahrian, 2015).
Kejadian
demam tifoid di Indonesia pada tahun 2017 menunjukkan angka kejadian sekitar
433 kasus dalam 100.000 populasi dengan angka kematian sebesar 2%. Kasus
tersebut tersebar di semua provinsi di Indonesia dengan insiden 1,3%. Demam tifoid
menempati urutan ke-2 dari 10 penyakit terbanyak pasien rawat inap sakit di
Indonesia. Sementara itu, jumlah demam tifoid di provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam (NAD) berada pada prevalensi tertinggi, yaitu 2,96% (Riandita,
Arkhaesi, & Hardian, 2012)(Mauliza
& Fitriany, 2018). Menurut data Dinas Kesehatan Kabupaten
Aceh Utara (2019), menunjukkan bahwa Aceh merupakan provinsi dengan prevalensi
demam tifoid tertinggi yang berjumlah 1.640 atau sebesar 7,0%. Hal ini kembali
diperjelas melalui hasil data awal yang didapatkan di Rumah Sakit Umum Daerah
dr. Fauziah Bireuen tahun 2019 yang menunjukkan bahwa terdapat angka kejadian
demam tifoid sebesar 445 kasus. Tahun 2020 terdapat 236 kasus pasien demam tifoid
dan tahun 2021 terdapat 87 kasus dari bulan Januari sampai dengan bulan April.
Kejadian demam tifoid berkaitan dengan personal hygiene (praktik penggunaan
sabun cuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar) masih sedikit, dan
sekitarnya merupakan daerah kumuh dengan sanitasi air yang buruk, pembuangan
sampah dan kotoran manusia yang tidak benar, kebersihan tempat yang kurang, dan
perilaku masyarakat yang tidak mendukung hidup sehat(Seran,
Palandeng, & Kallo, 2015). Personal hygiene merupakan tindakan
memelihara kebersihan dan kesehatan perorangan yang bertujuan untuk mencegah
penyakit pada diri sendiri baik secara fisik maupun psikis. Personal hygiene
mencakup perawatan kebersihan kepala dan rambut, mata, hidung, telinga, kuku kaki
dan tangan, kulit, area genital. Personal hygiene yang buruk dapat menyebabkan
penyakit yang berhubungan dengan perilaku sehat seperti diare, infeksi saluran
pernafasan akut (ISPA), cacingan, campak, cacar air, dan demam berdarah dengue (SAPURO,
2016). Meningkatkan kesehatan, menjaga kebersihan, meningkatkan
kebersihan, mencegah penyakit, meningkatkan harga diri, dan menciptakan
kecantikan adalah tujuan dari kebersihan pribadi. Tingkat kebersihan individu
pada dasarnya menentukan kesehatannya. Menurut pendapat peneliti orang
yang sering terserang penyakit, sebenarnya kebersihannya kurang terjaga
sehingga sumber penyakit mudah untuk masuk ke dalam tubuhnya (Andriyani,
2019). Latar belakang penelitian yang telah diuraikan di atas
memotivasi peneliti, Kajian tentang hubungan personal hygiene dengan kejadian
demam tifoid di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Fauziah Bireuen. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui bagaimana personal hygiene mempengaruhi jumlah kasus demam tifoid di
rumah sakit.
METODE PENELITIAN
Metode
yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasional deskriptif analitik
dengan pendekatan potong lintang (cross sectional).� Populasi pada penelitian ini adalah pasien
dewasa dengan demam tifoid berdasarkan data seluruh pasien demam tifoid yang terdaftar
di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Fauziah Bireuen berjumlah 96 orang. Sampel
didalam penulisan ini ialah setiap adanya diagnosa demam tifoid dapat mencapai
syarat inklusi yang mungkin bisa digunakan sebagai contoh penelitian. Contoh penulisan ini yaitu
sebanyak 96 responden yang menggunakan metode contoh purposive.
Adapun
beberapa macam mengenai eksklusi dan inklusi adalah:
1. inklusi
a. Pasien yang telah didiagnosa demam tifoid
oleh dokter berdasarkan klinis dan/atau laboratoris yang dirawat inap bangsal
RSU dr. Fauziah bireuen.
b. Pasien usia 17 � 65 tahun.
c. Pasien yang besedia menjadi responden 3.
2. Ekslusi
Orang
yang memiliki catatan diagnosis sekunder yang berhubungan dengan demam seperti
TB paru positif, malaria dieksklusikan langsung.
Penelitian
ini menggunakan analisis data univariat dan bivariat. Penelitian ini
menggunakan analisis univariat. dilakukan secara deskriptif dengan presentase
data yang terkumpul dalam bentuk tabel distribusi frekuensi variabel independen dan variabel
dependen. Analisis bivariat dalam penelitian ini bertujuan untuk menghubungkan
personal hygiene dengan kejadian demam tifoid di Rumah Sakit Umum dr. Fauziah
Bireuen. Analisis bivariat yang dilakukan terhadap uji dua variabel yang diduga
berhubungan dilakukan pengujian menggunakan uji Chi-Square. Dalam hal ini
adanya peningkatan yang signifikan yaitu 5% (a=0,05). Jenis kuesioner yang
dipergunakan adalah skala guttman. Dalam penulisan ini sudah memiliki
kesetujuan oleh komisi etik penelitian fakultas kedokteran universitas islam sumatera
utara nomor 174/ec/kepk.uisu/xi/2021.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian Di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Fauziah bireuen dilaksanakan pada bulan Juni sampai
Desember 2021. Dengan menggunakan kuesioner, diperoleh karakteristik responden,
dan yang menjadi sampel pada penelitian ini sebanyak 96 orang yang memenuhi
kriteria inklusi dan eksklusi.
49
responden (47,5%) memiliki rutinitas cuci tangan pakai sabun sebelum makan pada
responden yang memiliki hasil pemeriksaan tubex positif (4). Terdapat 11 responden
(atau 12,5%) dengan hasil pemeriksaan tubex negatif (4). Uji Chi-Square
menunjukkan adanya continuity correction memiliki hasil p 0,436 juga
menunjukkan bahwa tidak memiliki hubungan antara kebiasaan cuci tangan pakai
sabun sebelum makan dengan kejadian demam tifoid.
Tabel 1. Hubungan kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dengan kejadian demam tifoid di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Fauziah
Bireuen
|
Kebiasaan Mencuci Tangan
Sebelum Makan Menggunakan Sabun |
Kejadian
Demam Typhoid |
|
P � Value |
|||
|
(+)
|
(-) |
Ratio Prevalance |
||||
|
n |
% |
n |
% |
|
||
|
Tidak |
27 |
28,5% |
9 |
7,5% |
0,673 |
0,436 |
|
Ya |
49 |
47,5% |
11 |
12,5% |
|
|
|
Total |
76 |
76,0% |
20 |
20,0% |
|
|
Tabel
2. Hubungan kebiasaan mencuci tangan setelah BAB dengan kejadian
demam tifoid
di Rumah Sakit Umum
Daerah dr. Fauziah Bireuen
|
Kebiasaan Mencuci Tangan
Menggunakan Sabun Setelah BAB |
Kejadian
Demam Typhoid |
|
P � Value |
|||
|
(+) |
(-) |
Ratio Prevalance |
||||
|
n |
% |
n |
% |
|
||
|
Tidak |
67 |
47,5% |
9 |
7,5% |
6,091 |
0,002 |
|
Ya |
9 |
28,5% |
11 |
12,5% |
|
|
|
Total |
76 |
76,0% |
20 |
20,0% |
|
|
Presentase
yang memiliki respon dengan adanya pencucian tangan menggunakan sabun setelah
BAB maupun buang air kecil memiliki hasil pemeriksaan tubex positif (4)
yaitu 9 responden atau sebesar (28,5%) dan pada pasien yang memiliki hasil pemeriksaan tubex negatif
(<4) yaitu 11 responden atau sebesar (12,5%). Koreksi (continuity
correction) dengan p-value 0,002 menunjukkan berdasarkan hasil uji Chi-Square
terdapat hubungan antara frekuensi demam tifoid di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Fauziah
Bireuen dan praktik cuci tangan pakai sabun setelah buang air besar.
Tabel 3. Hubungan kebiasaan jajan atau makan diluar rumah
yang mengakibatkan demam tifoid pada Rumah Sakit Umum Daerah dr. Fauziah
Bireuen
|
Kebiasaan Makan/Jajan di
Luar Rumah |
Kejadian
Demam Typhoid |
|
P � Value |
|||
|
(+)
|
(-) |
Ratio Prevalance |
||||
|
n |
% |
n |
% |
|
||
|
Tidak Sering |
34 |
37,2% |
13 |
9,8% |
0,436 |
0,017 |
|
Sering |
42 |
38,8% |
17 |
10,2% |
|
|
|
Total |
76 |
76,0% |
20 |
20,0% |
|
|
Terdapat
42 responden (38,8%) yang memiliki hasil pemeriksaan tubex (+4) yang memiliki
kebiasaan makan atau jajan di luar rumah. Terdapat 17 responden (10,2%) yang
hasil pemeriksaan tubexnya negatif (4). Koreksi (continuity correction) dengan p-value
0,017 menunjukkan bahwa ada hubungan antara kejadian demam tifoid di Rumah
Sakit Umum Daerah dr. Fauziah Bireuen, yang ditentukan dari hasil uji
Chi-Square.
Tabel 4. Hubungan kebiasaan mencuci bahan makanan mentah sebelum dimasak dengan kejadian demam tifoid di Rumah Sakit Umum Daerah
dr. Fauziah Bireuen
|
Kebiasaan Makan/Jajan di Luar Rumah |
Kejadian
Demam Typhoid |
|
P � Value |
|||
|
(+) |
(-) |
Ratio Prevalance |
||||
|
n |
% |
n |
% |
|
||
|
Tidak Sering |
34 |
32,5% |
7 |
8,5% |
1,503 |
0,433 |
|
Sering |
42 |
43,5% |
20 |
11,5% |
|
|
|
Total |
76 |
76,0% |
20 |
20,0% |
|
|
proporsi
responden yang rutin mencuci makanan mentah sebelum dimasak responden yang
memiliki hasil pemeriksaan tubex (+) 4 sebanyak 42 responden atau
sebesar 43,5%, lebih besar dari responden yang memiliki hasil pemeriksaan tubex
<4 yaitu sebanyak 20 responden atau sebesar 11,5%. Continuity correction
P-value 0,433 menunjukkan Praktik mencuci makanan mentah sebelum dimasak tidak
ada hubungannya dengan prevalensi demam tifoid. Berdasarkan temuan di Rumah
Sakit Umum Daerah dr. Fauziah Bireuen�
uji Chi-Square.
Tabel 5. Hubungan riwayat kontak langsung dengan pasien dengan kejadian demam tifoid di Rumah Sakit Umum Daerah
dr. Fauziah Bireuen
|
Riwayat kontak langsung
Dengan pasien |
Kejadian
Demam Typhoid |
|
P � Value |
|||
|
(+)
|
(-) |
Ratio Prevalance |
||||
|
n |
% |
n |
% |
|
||
|
Tidak |
33 |
30,9% |
6 |
8,1% |
1,791 |
0,277 |
|
Ya |
43 |
45,1% |
14 |
11,9% |
|
|
|
Total |
65 |
100% |
31 |
100% |
|
|
45,1%
atau 43 responden
mempunyai riwayat kontak langsung dengan penderita demam tifoid dan memiliki
hasil pemeriksaan tubex positif (+4). Presentase ini lebih tinggi dibandingkan 14,9% responden yang memiliki hasil pemeriksaan tubex negatif
(4). Berdasarkan hasil uji Chi-Square, koreksi (continuity correction) dengan
nilai P sebesar 0,277 menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara kejadian
demam tifoid dengan riwayat kontak langsung dengan pasien di Rumah Sakit Umum
Daerah dr. Fauziah Bireuen.
Diskusi
1. Karakteristik Umur Responden
Hasil
penelitian karakteristik umur dari 96 responden disertai demam tifoid di Rumah
Sakit Umum Daerah dr. Fauziah Bireuen didapatkan kategori usia terbanyak 17-25
tahun. Pada usia ini, orang cenderung aktif secara fisik atau sibuk dengan
pekerjaan dan tidak
memperhatikan pola makannya (Rosa Nian
Shakila, 2020). Pola makan yang dimaksud dalam
penelitian ini adalah suatu cara atau usaha dalam pengaturan jumlah dan jenis
makanan dengan maksud tertentu, seperti mempertahankan kesehatan, status
nutrisi, mencegah atau membantu kesembuhan penyakit. Pola makan sehari-hari
merupakan pola makan seseorang yang berhubungan dengan kebiasaan makan setiap
harinya. Kejadian tifoid seringkali dikaitkan dengan pola makan yang buruk. Penyakit ini terutama disebabkan oleh
masalah kebersihan lingkungan dan kebersihan makanan. Karena kebersihan
lingkungan yang buruk dan kebiasaan makan yang tidak menentu, banyak orang
mengalami gangguan pencernaan seperti gastritis, tipus, dan lain-lain (Gunawan,
Ni Made Yeni Suranti, 2020).
2. Karakteristik Jenis Kelamin Responden
Hasil
penelitian karakteristik jenis kelamin dari 96 responden menunjukkan 49
responden melaporkan mengalami demam tifoid, menjadikan mereka kelompok yang
paling terkena dampaknya (51,0%). Hal ini dikarenakan adanya perbedaan
frekuensi kejadian penyakit menurut jenis kelamin terhadap penggunaan sarana
kesehatan yang tersedia. Pelayanan kesehatan primer banyak dikunjungi oleh
wanita dan anak-anak dibandingkan pria, sehingga kemungkinan angka penyakit
yang tercatat akan berbeda menurut jenis kelamin (Andayani
& Fibriana, 2018; Mauliza & Fitriany, 2018).
3. Karakteristik Pendidikan Responden
Hasil
penelitian karakteristik pendidikan dari 96 responden didapatkan kategori
pendidikan pondasi SMA merupakan kelompok pendidikan terbanyak dengan 38
responden (39,6%). Dalam hal ini adanya hasil bahwa memiliki peningkatan
pendidikan yang dapat dipengaruhi oleh pengetahuan dan perbuatan pada
seseorang. Pengetahuan yang ada mempengaruhi persepsi individu tentang konsep
kesehatan, dan penyakit pada akhirnya mempengaruhi kebiasaan gaya hidup sehat
individu dan keluarga.
4. Karakteristik Pekerjaan Responden
Hasil
penelitian karakteristik pekerjaan dari 96 responden didapatkan responden tidak
bekerja sebanyak 19 responden (19,8%) dan yang bekerja sebagai petani sebanyak
17 responden (17,7%). Pekerjaan lebih banyak dilihat dari kemungkinan
keterpaparan khusus dan derajat keterpaparan tersebut. Setiap pekerjaan
mempunyai risiko dan karena itulah macam-macam penyakit akan berbeda pula.
Hubungannya dengan kemungkinan terjadinya suatu penyakit, pekerjaan dapat
berpengaruh langsung maupun tidak langsung (Suhaemi,
2010). Hasil penelitian didapatkan sejalan dengan penelitian lain di mana responden terbanyak tidak bekerja
sebanyak 26 orang (37,1%) (Khalifah,
2019). Hal ini menunjukkan bahwa status sosial responden dapat
dilihat dari pekerjaan dan penghasilan responden. Dalam hal ini menunjukkan
bahwa pekerjaan seseorang berpengaruh pada gaya hidup yang dipilih (Khalifah,
2019).
5. Karakteristik Demam Tifoid
Demam
tifoid merupakan salah satu penyakit yang mudah menular dan dapat menyerang banyak
orang, sehingga dapat menimbulkan wabah. Demam tifoid diketahui juga dapat
menyerang semua usia, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Penyakit demam tifoid
dapat ditularkan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh bakteri
Salmonella typhi. Penularan demam tifoid dapat juga terjadi dengan jalur yang
langsung maupun dengan pernasapasan atau dengan cara terkontaminasi nanah
akibat dari pasien yang terinfeksi (Suraya
& Atikasari, 2019).
6. Kebiasaan Mencuci Tangan Menggunakan Sabun
Setelah BAB
Analisis
bivariat menunjukkan adanya hubungan antara prevalensi demam tifoid dengan
praktik mencuci kedua tangan pakai pembersih disaat setelah BAB. Korelasi
antara prevalensi adanya demam tifoid di praktek dokter juga praktek memiliki
nilai p 0,002. Dalam hal ini dapat terjadi karena adanya patogen suatu virus
yang berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan makanan
ataupun tangan yang kotor atau terkontaminasi. Dengan secara teratur mencuci
tangan menggunakan pembersih dan juga menggosok menggunakan air yang mengalir
akan dapat menghilangkan beberapa kotoran yang banyak mengandung
mikororganisme, tetapi kebersihan pada tangan juga sering diabaikan. (Maghfiroh
& Siwiendrayanti, 2016).
Wujud
dari penulisan sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti di
Rumah Sakit Umum Daerah Meuraxa Kota Banda Aceh yang meneliti hubungan personal
hygiene dan sanitasi lingkungan terhadap prevalensi terjadinya demam tifoid,
diperoleh temuan hubungan
yang signifikan antar peristiwa demam tifoid dengan variabel kebiasaan cuci
tangan setelah BAB (Lingkungan
& Rsud, 2018). Mencuci tangan setelah buang air besar
dan sebelum memegang makanan atau minuman adalah salah satu cara untuk mencegah
infeksi tifus.
Temuan
pada hasil penelusuran oleh peneliti akan melakukan di lokasi Puskesmas Upai Kota Kotamobagu untuk mengetahui
hubungan pola hidup bersih dan sehat dengan kejadian demam tifoid (�Hubungan
Antara Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Dengan Kejadian Demam Tifoid Di Wilayah
Kerja Puskesmas Upai Kota Kotamobagu Tahun 2015,� 2016). Temuan
penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian lain yang tidak menemukan hubungan antara
kebiasaan cuci tangan setelah buang air besar dengan prevalensi demam tifoid (Seran et
al., 2015). Hal ini dapat terjadi jika feses mereka tidak mengandung
Salmonella typhi karena sudah mati, jika masih ada Salmonella typhi tetapi
dalam jumlah yang tidak cukup untuk menginfeksi, atau jika ada Salmonella typhi
tetapi tidak benar-benar masuk melalui tubuh (Seran et
al., 2015).
Berdasarkan
wawancara dengan responden, sebagian dari mereka telah menggunakan sabun untuk
mencuci tangan tetapi, dengan banyaknya orang yang tidak mengetahui bagaimana
cara buang air kecil yang benar membuat mereka
lupa menjaga kebersihan.
Kebersihan tangan penting karena tangan adalah tempat penyebaran demam tifoid.
7. Kebiasaan jajan di luar rumah
Uji
Chi-square menunjukkan Ada hubungan antara makan dan ngemil di luar rumah
dengan penyebaran demam tifoid p 0,017. Demam tifoid dapat menyebar di mana
saja dan kapan saja, biasanya melalui konsumsi makanan atau minuman di luar
rumah atau di tempat umum jika tidak dijaga kebersihannya. Demam tifoid
merupakan salah satu penyakit yang dapat disebabkan oleh kebersihan makanan
yang kurang baik oleh pedagang makanan ringan dan pengecer makanan.
Penelitian
ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh para peneliti mengenai kebiasaan jajan makanan di luar
rumah menjadi faktor risiko utama terjadinya demam tifoid (Rosa Nian
Shakila, 2020). Penularan demam tifoid dapat terjadi
ketika seseorang makan di tempat umum dan makanan yang disajikan oleh penderita
typhus laten (tersembunyi) yang kurang menjaga saat memasak yang mengakibatkan
penularan bakteri Salmonella typhi pada pelanggannya. Makan di tempat-tempat
umum biasanya terdapat banyak lalat yang hinggap di makanan. Lalat tersebut dapat menularkan
Salmonella typhi dengan cara yang sebelumnya hinggap di feses kemudian hinggap
di makanan yang akan dikonsumsi (�Hubungan
Antara Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Dengan Kejadian Demam Tifoid Di Wilayah
Kerja Puskesmas Upai Kota Kotamobagu Tahun 2015,� 2016).
Menurut hasil wawancara, mayoritas responden terbiasa makan di luar
rumah di tempat-tempat seperti sekolah, restoran, dan pedagang keliling. makanan yang sering dimakan antara lain
gorengan, siomay, dan es batu. Makanan ini populer, murah, dan terjangkau
untuk semua orang. Pedagang pinggir jalan menjual makanan atau jajanan dalam
keadaan terbuka, sehingga mudah bagi serangga untuk mendarat dimakanan. Salmonella typhi adalah bakteri yang dibawa
oleh lalat yang mengakibatkan
pencemaran pada makanan yang telah terinfeksi, membuat orang yang mengkonsumsinya
berisiko terkena hay fever tifus
(Afifah
& Pawenang, 2019).
8. Kebiasaan mencuci tangan menggunakan
sabun sebelum makan
Uji
Chi-square didapatkan nilai p value sebesar 0,436 yang menunjukkan bahwa tidak
ada hubungan antara kebiasaan cuci tangan pakai sabun sebelum makan dengan
kejadian demam tifoid. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap penularan
penyakit saluran pencernaan adalah kurangnya kebersihan pribadi, khususnya
melalui penggunaan tangan yang telah terkontaminasi mikroorganisme yang dapat
menyebabkan penyakit. Seseorang dapat menghindari penyebaran penyakit dengan
mencuci tangan setelah buang air kecil dan sebelum makan. Penelitian menunjukkan
bahwa bakteri dan virus patogen dapat ditularkan dari tubuh, feses, atau sumber
lain ke makanan melalui tangan yang kotor atau terkontaminasi (Ulfa
& Handayani, 2018). Kebersihan tangan harus menjadi
prioritas utama. Kotoran yang banyak mengandung mikroorganisme dapat
dihilangkan dari tangan dengan mencuci tangan dengan sabun dan air bersih,
menggosoknya di antara jari-jari, dan membilasnya di bawah air mengalir. (Rosa Nian
Shakila, 2020).
Penelitian
ini sejalan dengan investigasi di Puskesmas Kare wilayah kerja Kabupaten Madiun
yang menemukan adanya hubungan antara kejadian demam tifoid dengan personal
hygiene dan riwayat kontak tifus (Khalifah,
2019). Menurut penelitian, jumlah responden yang
berpraktik hampir sama yaitu mencuci tangan sebelum makan dan mereka
yang tidak melakukannya sama-sama menderita demam tifoid (Khalifah,
2019).
Hasil
penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti lain pada
lokasi pekerjaan di puskesmas binakal bondowoso, di mana terdapat hubungan yang
signifikan antara kebiasaan responden mencuci tangan dengan sabun sebelum makan
dengan kejadian demam tifoid (Rosa Nian
Shakila, 2020). Hal ini disebabkan karena responden
telah menerapkan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir sebelum dan sesudah
Meskipun sebagian besar masyarakat masih belum mengetahui cara mencuci tangan
yang benar.
9. Kebiasaan Mencuci Bahan Makanan Mentah
Hasil
uji Chi-Square diperoleh nilai p = 0,433. Maka dapat diketahui bahwa tidak
terdapat hubungan antara prevalensi demam tifoid dan praktik mencuci makanan
mentah bersama. Mengkonsumsi sayuran mentah tidak akan menjadi masalah jika
dikonsumsi dengan cara yang benar yaitu dengan mencuci bersih sebelum
dikonsumsi untuk menghilangkan kotoran, bahan kimia seperti pestisida dan
bakteri Salmonella thypi. Penulisan yang dihasilkan oleh penulis pada lokasi
kerja puskesmas Karangmalang, yang menyatakan bahwa mencuci bahan makanan
mentah sebelum dimasak tidak secara signifikan meningkatkan risiko demam tifoid
(Andayani
& Fibriana, 2018). Penelitian di Puskesmas Kare, Kabupaten
Madiun, meneliti kebersihan pribadi dan riwayat kontak langsung dengan kejadian
demam tifoid memperkuat temuan penelitian ini (Khalifah,
2019).
Analisis
data menunjukkan bahwa mungkin ada hubungan antara praktik mencuci bahan
makanan mentah secara langsung dengan prevalensi demam tifoid di wilayah kerja
Puskesmas Tumaratas 7. Hal ini menunjukkan bahwa respon keseringan mengonsumsi
buah-buahan
contoh pisang, apel, dan jambu biji, serta sayuran seperti tomat, mentimun, dan
selada dapat membuat mereka terhindar dari demam tifoid. Saat membeli buah dan sayuran, responden
biasanya menyimpannya di lemari es tanpa mencucinya terlebih dahulu. Mereka mengklaim bahwa bahan makanan seperti sayuran,
buah-buahan, daging, telur dan ikan harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum
diolah, terutama untuk makanan yang dikonsumsi langsung atau mentah. Buah dan sayuran sering mengandung
pestisida atau pupuk, sedangkan produk hewani biasanya masih mengandung bakteri
patogen (Ulfa
& Handayani, 2018).
Hasil
uji terjadinya demam tidak berkorelasi dengan kontak riwayat langsung,
dibuktikan dengan Chi-Square dengan nilai p = 0.277. Temuan penelitian ini
tidak sesuai dengan penelitian pada lokasi puskesmas Karangmalang yang membuktikan adanya suatu hubungan
riwayat kontak dengan penderita demam tifoid (Andayani
& Fibriana, 2018). Selain itu, penelitian ini tidak
sejalan dengan penelitian di Puskesmas Kare Kabupaten Madiun yang meneliti
hubungan personal hygiene dengan riwayat kontak langsung dengan penderita demam
tifoid dengan kejadian penyakit (Khalifah,
2019). Berdasarkan hasil penelitian terdapat hubungan riwayat
kontak langsung dengan penderita demam tifoid dengan kejadian penyakit demam tifoid
di wilayah kerja Puskesmas Kare Kabupaten Madiun (Khalifah,
2019).
Riwayat
demam tifoid dalam suatu keluarga memiliki dampak yang signifikan karena jalur
penularannya akan memiliki kesamaan kemungkinan dapat
menular lebih cepat. Seseorang dapat membawa demam tifoid tanpa
menunjukkan gejala apa pun tetapi masih mampu menularkannya kepada orang lain. Setelah serangan akut, status karier dapat
terjadi. Demam tifoid menyebar terutama melalui tinja pasien (Nuruzzaman
& Syahrul, 2016).
KESIMPULAN
Gambaran
karakteristik responden yang paling banyak dalam penelitian ini memiliki
kebiasaan baik mencuci tangan sebelum makan, dan tidak rutin mencuci tangan
setelah buang air besar. Frekuensi penyakit demam tifoid berhubungan dengan
rutinitas dalam hal mencuci tangan disaat setelah BAB. Tidak ada hubungan yang
bermakna antara kebiasaan mencuci tangan setelah BAB dengan kejadian demam tifoid.
REFERENSI
Afifah, Nur Riezqiyah, &
Pawenang, Eram Tunggul. (2019). Higea Jornal of Public Health. Higea Jornal
of Public Health Research and Development, 3(2), 263�273.
Andayani, &
Fibriana, Arulita. (2018). Kejadian Demam Tifoid Di Wilayah Kerja Puskesmas
Karangmalang. HIGEIA Journal Of Public Health Research and DevelopmentJ,
2(1), 57�68.
Andriyani, Andriyani.
(2019). Kajian Literatur pada Makanan dalam Perspektif Islam dan Kesehatan. Jurnal
Kedokteran Dan Kesehatan, 15(2), 178�198.
Gunawan, Ni Made Yeni
Suranti, Fathoroni. (2020). Variations of Models and Learning Platforms for
Prospective Teachers During the COVID-19 Pandemic Period. 1(2),
75�94.
Hubungan Antara
Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Dengan Kejadian Demam Tifoid Di Wilayah Kerja
Puskesmas Upai Kota Kotamobagu Tahun 2015. (2016). Pharmacon, 5(2),
2016. https://doi.org/10.35799/pha.5.2016.12215
Khalifah, Sayyidah.
(2019). Rosdiana. 126(1), 1�7.
Lingkungan, Sanitasi,
& Rsud, Umum Daerah. (2018). Kandidat : Jurnal Riset dan Inovasi Pendidikan Hubungan Personal
Hygiene. 2018�2019.
Maghfiroh, Aziz
Etikawati, & Siwiendrayanti, Arum. (2016). Hubungan Cuci Tangan, Tempat
Sampah, Kepemilikan SPAL, Sanitasi Makanan dengan Demam Tifoid. Jurnal Pena
Medika, Vol. 6(No. 1), Hal. 34-45.
Mauliza, &
Fitriany, Julia. (2018). Typhoid fever profiles at cut meutia hospital, north
Aceh, Indonesia, in 2016-2017. Emerald Reach Proceedings Series, 1,
395�400. https://doi.org/10.1108/978-1-78756-793-1-00031
Nuruzzaman, Hilda,
& Syahrul, Fariani. (2016). Analisis Risiko Kejadian Demam Tifoid Berdasarkan
Kebersihan Diri dan Kebiasaan Jajan di Rumah. Jurnal Berkala Epidemiologi,
4(1), 74�86. https://doi.org/10.20473/jbe.v4i1.74-86
Riandita, A.,
Arkhaesi, N., & Hardian, H. (2012). Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Ibu
Tentang Demam Dengan Pengelolan Demam Pada Anak. Jurnal Kedokteran
Diponegoro, 1(1), 137413.
Rosa Nian Shakila, Ria
Rahmi Rahmawati. (2020). a Faktor Risiko Yang Memengaruhi Kejadian Demam Tifoid
Di Wilayah Kerja Puskesmas Binakal Kabupaten Bondowoso. Medical Technology
and Public Health Journal, 4(2).
https://doi.org/10.33086/mtphj.v4i2.1689
SAPURO, JAMES T.
(2016). Haslinda. Euphytica, 18(2), 22280.
Seran, E., Palandeng,
H., & Kallo, V. (2015). Hubungan Personal Hygiene Dengan Kejadian Demam Tifoid
Di Wilayah Kerja Puskesmas Tumaratas. Jurnal Keperawatan UNSRAT, 3(2),
106549.
Sjahrian, Tessa.
(2015). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Demam Tifoid Pada Anak. Jurnal
Medika Malahayati, 2(1), 1�7.
Suhaemi. (2010).
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Demam Tyfoid Di Rsud Syekh Yusuf
Kab. Gowa. Skripsi, Universitas Islam Negeri (Uin) Alauddin Makassar,
1�69.
Suraya, Citra, &
Atikasari, Atikasari. (2019). Hubungan Personal Hygiene Dan Sumber Air Bersih
Dengan Kejadian Demam Typhoid Pada Anak. Jurnal �Aisyiyah Medika, 4(3),
327�339. https://doi.org/10.36729/jam.v4i3.205
Ulfa, Farissa, &
Handayani, Oktia. Woro Kasmini. (2018). Higeia Journal of Public Health. Higeia
Journal of Public Health Research and Development, 2(2), 227�238.
Zulfian, Zulfian,
& Rafie, Rakhmi. (2014). Hubungan personal hygiene dengan kejadian demam tifoid
pada anak yang dirawat di bangsal anak RSUD Dr H Abdul Moeloek Provinsi Lampung
Tahun 2013. Jurnal Ilmu Kedokteran Dan Kesehatan, 1(4).
�