Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
|
Received : 03-08-2022 |
Accepted : 15-08-2022 |
Published : 26-08-2022 |
|
|
Abstract |
|||
|
Keywords: Work Engagement Exploration, flourishing, health workers |
The hospital is a health institution
that provides health services to improve the health status of the community.
In carrying out its function as a public health service, the main service of
the hospital is to provide health services in the form of inpatient,
outpatient and emergency services. The
purpose of this study was to identify and explore work engagement of health workers at PKU Muhammadiyah Sruweng Hospital. This research is a
qualitative research with a case study approachtohealth workers, tracing to
explore and understand a problem. The results of the research analysis show
that there are two findings in this study. The first finding relates to the
factors that influence the non-optimal work engagement of health workers at
PKU Muhammadiyah Sruweng Hospital. The internal
evaluation shows that the evaluation control of the SOP is good, but requires
integration in the process. While the external evaluation of patients who
have complaints at this time shows that they are quite satisfied with the
service and follow-up to the complaints they convey, but there are some
service facilities that they consider to be lacking. |
||
|
Abstrak |
|||
|
Kata kunci: Eksplorasi Work Engagement, flourishing, tenaga kesehatan |
Rumah Sakit
merupakan instansi kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan jasa kesehatan untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Dalam menjalankan fungsi sebagai
pelayanan kesehatan masyarakat, pelayanan utama Rumah Sakit adalah
menyediakan pelayanan kesehatan berupa rawat inap, rawat jalan dan gawat
darurat. Tujuan
dari penelitian ini adalah Mengetahui dan mengeksplorasi work
engagement tenaga kesehatan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng.
Penelitian ini merupakan penelitian
kualitatif dengan pendekatan studi kasus (case study) pada tenaga kesehatan, penelusuran untuk mendalami dan memahami suatu
permasalahan. Hasil analisis
penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua temuan dalam penelitian ini. Temuan
pertama berkaitan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi belum optimalnya
keterikatan kerja tenaga kesehatan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng. Evaluasi
internal menunjukkan kontrol
evaluasi terhadap SOP sudah baik, tetapi
memerlukan keterpaduan
pada prosesnya. Sedangkan
evaluasi eksternal pasien yang memiliki komplain saat ini menunjukkan sudah cukup merasa
puas dengan pelayanan dan tindaklanjut komplain yang mereka sampaikan, akan tetapi ada beberapa
fasilitas pelayanan yang mereka anggap masih kurang. |
||
Corresponding
Author: Rahmat
Marwanto
E-mail: drg.rahmatmarwanto@gmail.com
PENDAHULUAN
Rumah Sakit merupakan instansi kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan jasa kesehatan untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat (Ivana, Widjasena, & Jayanti, 2014). Menjalankan fungsi
sebagai pelayanan kesehatan masyarakat, pelayanan utama Rumah Sakit adalah
menyediakan pelayanan kesehatan berupa rawat inap, rawat jalan dan gawat
darurat.
Sebagai seorang tenaga kesehatan dalam sebuah organisasi rumah sakit, tentu
menginginkan kesejahteraan dalam hidupnya. Kesejahteraan tenaga kesehatan dalam menangani pasien akan membawa dampak
positif pada tenaga kesehatan itu sendiri
maupun pada rumah sakit secara keseluruhan.
Kesejahteraan tenaga kesehatan juga merupakan indikator kesuksesan sebuah rumah sakit.
Ukuran kesejahteraan ini, dapat ditinjau
dari adanya faktor eksternal (lingkungan rumah sakit) dan faktor internal (dari tenaga kesehatan
sendiri). Tanpa mengabaikan
faktor yang lain, salah satu faktor yang penting untuk diperhatikan adalah
faktor internal tenaga kesehatan yaitu keadaan emosi / psikologisnya
yang di dalamnya termasuk keterikatan kerja (work engagement) (Maatisya & Santoso, 2022).
Kesejahteraan dalam organisasi dapat diukur dengan
konsep Psikologi Positif, sehingga dapat diukur kesehatan
organisasi secara keseluruhan. Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan terhadap
kinerja tenaga kesehatan. Perasaan terikat (engaged) pada tenaga kesehatan sangat berpengaruh bagi kinerja tenaga kesehatan yang dihasilkan. Jika tenaga kesehatan sudah terikat
(engaged) dengan suatu rumah sakit, maka tenaga kesehatan akan memiliki perilaku yang menunjukkan kesadaran
terhadap visi misi rumah sakit seperti, fokus dalam
menyelesaikan pekerjaannya, mampu dan
tidak merasakan sebuah tekanan dan juga
mampu untuk menyukseskan kegiatan dan program rumah sakit dimana mereka
bekerja (Setyawan & Supriyanto, 2020).
Tenaga kesehatan
yang memiliki psikologi positif, cenderung melakukan pekerjaan dengan senang, situasi yang nyaman untuk bekerja, dengan demikian dapat bekerja secara
optimal. Pendekatan psikologi
positif dalam rumah sakit menjadi
penting untuk mengoptimalkan kontribusi individu, tim, dan pemimpin dalam rumah sakit sehingga
pengembangan rumah sakit juga lebih optimal (Debra dkk, 2017). Rumah sakit berkembang dengan baik jika
tenaga kesehatannya mengalami kesejahteraan atau dalam Psikologi
Positif adalah flourishing.
Dalam psikologi positif istilah Flourishing memiliki
arti yaitu dimana seseorang atau suatu kelompok menunjukkan perkembangan yang
optimal dan fungsi - fungsinya
telah berjalan dengan sangat baik (Rosadi, 2021). Berkembang
penuhnya pribadi seseorang tersebut karena telah menjalani
hidup yang baik. Konsep ini sepintas
mirip dengan konsep aktualisasi diri, tetapi flourishing merupakan konsep yang lebih dapat diukur.
Salah satu aspek yang membentuk flourishing
adalah Engagement (keterikatan).
Engagement (keterikatan) didefinisikan sebagai perasaan seseorang untuk bertanggung
jawab dan peduli terhadap performansi pekerjaannya (Suryadi, 2020). Work engagement (keterikatan
kerja) penting dimiliki setiap tenaga kesehatan dalam sebuah rumah sakit (Muhadi & Izzati, 2020).
Tujuan dari penelitian ini adalah Mengetahui dan mengeksplorasi work engagement tenaga kesehatan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng. Mengeksplorasi Fluorishing pada tenaga
kesehatan di Rumah Sakit. Mengeksplorasi work
engagement.
Menganalisis hambatan work engagement dalam meningkatkan fluorishing.
Work engagement erat kaitannya dengan
kinerja tenaga kesehatan (Schaufeli & Bakker, 2018) dan juga kepuasan pasien (Salanova, Agut & Peiro 2015). Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa work
engagement penting bagi rumah sakit. Berdasarkan konsep yang
dijelaskan oleh Kahn (2019) bahwa employee
engagement sebagai keadaan dimana anggota dari sebuah rumah sakit melaksanakan peran kerjanya, bekerja dan mengekspresikan
dirinya secara fisik (energi yang dikeluarkan pegawai ketika melaksanakan
pekerjaannya), kognitif (keinginan yang dimiliki pegawai mengenai rumah sakit, pemimpin, dan kondisi kerja dalam rumah sakit) dan emosional (meliputi perasaan pegawai terhadap rumah sakit dan pemimpinnya) selama menunjukkan kinerja mereka (Rich, 2017).
Adanya work engagement yang tinggi pada tenaga kesehatan akan membuat tenaga kesehatan terhindar dari perilaku-perilaku negatif, misalnya mengabaikan pekerjaan sehingga meninggalkan jam
kerja, membolos, telat masuk kerja, telat mengumpulkan laporan kerja dan lain
sebagainya. Sehingga diharapkan bahwa sebuah rumah sakit, para tenaga kesehatannya mempunyai work engagement (keterikatan kerja)
yang tinggi, karena selain terhindar perilaku negatif terhadap pekerjaan, tenaga kesehatan tersebut juga harus bersedia bekerja secara maksimal.
Dengan adanya engagement akan menciptakan kesuksesan bagi rumah sakit melalui hal-hal yang berkaitan dengan kinerja tenaga kesehatan, kepuasan pasien, produktivitas hingga profitabilitas. Kinerja tenaga kesehatan menjadi salah satu hal yang menjadi akibat dari
terciptanya work engagement yang tinggi. Hal ini diungkapkan pula oleh
Robinson et al (dikutip oleh Little, 2006) yang menyatakan bahwa tenaga kesehatan yang memiliki keterikkatan yang kuat dengan rumah sakit meningkatkan performansi
untuk keuntungan rumah sakit tersebut. (Ramadhan & Sembiring, 2017).
Hanya saja, kenyataan yang terjadi di sebuah rumah sakit bahwa tidak semua
tenaga kesehatan mempunyai work engagement yang tinggi seperti
yang terjadi di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng, bahwa telah ada indikasi-indikasi kalau engagement
di antara tenaga kesehatannya rendah. Indikasi rendahnya engagement dapat
digambarkan dengan adanya catatan dari atasan bahwa tenaga kesehatannya yang mulai
sering mengabaikan pekerjaan sehingga meninggalkan jam kerja, terlambat masuk
kerja, telat mengumpulkan laporan kerja, ada yang membolos dan lain sebagainya.
Sehingga dapat dikatakan bahwa tenaga kesehatan di Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Sruweng kurang bertanggung jawab dan kurang peduli terhadap pekerjaannya secara
personal dimana menunjukkan ciri kinerja yang rendah pula.
Adapun nilai rata-rata keseluruhan engagement tenaga kesehatan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng sedang-sedang saja tetapi ada juga tenaga kesehatan yang tergolong cukup, sehingga cenderung fluktuatif. Hal ini mengindikasikan bahwa kurang terdorongnya kinerja tenaga kesehatan di Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Sruweng. Fakta lain yang ditemukan penulis bahwa banyak tenaga kesehatan di Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Sruweng tidak begitu peduli dengan hasil kinerjanya dan ada tenaga kesehatan yang menganggap bahwa itu tidak penting sehingga mereka pun
tidak terlalu terikat (engaged) terhadap pekerjaannya. Akan tetapi pada proses
pelaksanaannya tidak semua engagement terdokumentasi dan terdisposisi secara baik.
Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng merupakan salah satu rumah sakit yang berada di Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah Bagian SDM Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng menerima enggamenet dengan nilai yang cukup rendah. Untuk
itu, perlu dipelajari lebih lanjut work engagement dalam
meningkatkan fluorishing
di Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Sruweng.
Dampak dari work engagement yang rendah
akan membuat buruk citra rumah
sakit dan masyarakat/pasien
akan mencari Rumah Sakit dengan pelayanan yang lebih baik.Work
engagement menjadi lebih penting tidak hanya karena dapat menjadi feedback dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan tetapi juga
akan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat pada Rumah Sakit. Setelah melihat fenomena yang dipaparkan diatas maka
peneliti tertarik untuk mengeksplorasi work engagement dalam meningkatkan fluorishing pada tenaga kesehatan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruw.
METODE
PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi
kasus (case study) pada tenaga kesehatan, penelusuran untuk
mendalami dan memahami suatu permasalahan. Penelitian dilakukan dengan
mewawancarai subjek penelitian menggunakan metode pendekatan deskriptif kualitatif yang sistematis,
faktual, akurat tentang fakta-fakta dan sifat-sifat objek atau populasi
tertentu.
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Rumah Sakit Umum St. Rafael Cancar merupakan salah satu Rumah Sakit yang berada di Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah. Pada tahun 2000 melalui Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah
No.45/1406.09/2000/1.1 mendapat izin sementara Penyelenggaraan Sarana Pelayanan Kesehatan
kepada Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng dalam bentuk sarana kesehatan “Rumah Sakit
Umum Pratama”.
Berkembangnya zaman menuntut sebuah badan usaha untuk berkembang, hal
ini juga dialami oleh Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng, yaitu dengan Izin Uji Coba
Penyelenggaraan Rumah Sakit sebagai persyaratan persiapan untuk izin tetap Rumah Sakit
dari Depkes RI dengan nomor : YM.02.04.3.5.300. yang merupakan syarat untuk mendapatkan ijin
tetap. Setelah melalui usaha dan kerja keras dan disurvey Tim Dari Dinas Kesehatan Propinsi
Jawa Tengah, Alhamdulillah pada tanggal 12 Mei 2007 telah turun surat Pemberian
Izin Penyelenggaraan Rumah Sakit (Tetap) untuk jangka waktu 5 tahun dengan nomor:
YM.02.04.3.5.2816.
Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng terus melangkah maju, untuk
mempersiapkan diri agar mendapatkan sertifikat akreditasi. Setelah dibentuk Tim Akreditasi
yang diketuai langsung oleh dr. HM. Chanifudin, MH.Kes, dan melalui proses yang
panjang akhirnya berhasil mendapatkan sertifikat Akreditasi Penuh Tingkat Dasar, dengan
Nomor YM.01.10./111/4048/2010 pada tanggal 30 Juli 2010. Pada bulan Januari 2017 RS PKU
Muhammadiyah Sruweng melaksanakan akreditasi KARS versi 2012 dengan hasil paripurna
dengan Nomor : YM. 02.04.3.5. 2816. Dan di bulan Desember 2019, RS PKU Muhamamdiyah Sruweng
melaksanakan Akreditasi SNARS edisi 1 dengan hasil paripurna dengan Nomor : KARS – SERT/1423/XII/2019.
1.
Struktur
Organisasi Rumah Sakit Umum PKU Muhammadiyah
Sruweng
Gambar 1. Struktur Organisasi
Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng
2.
Jenis Pelayanan
di Rumah Sakit Umum St.
Rafael Cancar
a.
Pelayanan Unit Gawat Darurat : 24 Jam
b.
Pelayanan
Rawat Jalan : 07.00 – 14.00 WITA
1)
Klinik Penyakit Dalam
2)
Klinik Bedah
3)
Klinik Obsgyn
4)
Klinik Mata
5)
Klinik Gigi
6)
Klinik Umum
7)
Fisioterapi
c. Pelayanan Persalinan dan
Perinatologi
d. Pelayanan Rawat Inap
1)
Rawat Inap VIP
2) Rawat Inap Kelas :
I, II, III dan Isolasi
e. Pelayanan Operasi
Pembedahan Elektif dan Cito (Bedah Umum dan
Obsgyn)
f. Pelayanan Penunjang
1)
Pelayanan Farmasi :
24 Jam
2)
Pelayanan Radiologi : 07.00 –
14.00 WITA
3)
Pelayanan Laboratorium : 24 Jam
4)
Pelayanan Gizi : 05.00 – 21.00
WITA
5)
Pelayanan Laundry : 07.00 –
14.00 WITA
6)
Pelayanan Transfusi Darah
7)
Pelayanan Ambulance : 24 Jam
8)
Pelayanan Rekam Medis : 24 Jam
g. Pelayanan Umum
1)
Administrasi dan
Manajemen
2)
Jumlah Tempat Tidur : 60 TT
Hasil Penelitian
1.
Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di
Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Sruweng pada tanggal 22 Februari – 26 Februari 2022. Penelitian ini menggunakan data primer yang bersumber dari
hasil wawancara secara mendalam kepada tiga informan dengan karakteristik sebagai
berikut:
Tabel 1. Karakteristik
Informan
|
No. |
Jabatan |
Jenis Kelamin |
Pendidikan |
Masa Bakti |
Masa Jabatan |
|
1. |
Direksi Pelayanan |
Perempuan |
Profesi Dokter |
15 Tahun |
3 Tahun |
|
2. |
Dokter |
Perempuan |
Profesi Dokter |
16 Tahun |
2 Tahun |
|
3. |
Perawat |
Perempuan |
Profesi Ners |
16 Tahun |
2 Tahun |
Selain melalui wawancara secara mendalam, data yang dianalisis juga dikumpulkan melalui metode observasi dokumen dan lapangan.
|
Tujuan |
Pertanyaan |
|
Mengetahui
makna work engagement tenaga
kesehatan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng berdasarkan keterlibatannya
dalam tugas-tugas kerumah sakitan. |
Sebagai tenaga
kesehatan di Rumah sakit PKU Muhammadiyah Sruweng, seberapa besar peran
saudara dalam tugas-tugas kerumahsakitan? |
|
Mengapa saudara
menilai demikian? |
|
|
Mengatahui
makna work engagement bagi tenaga kesehatan di Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Sruweng berdasarkan asumsi kepentingan pekerjaannya |
Sebagai tenaga
kesehatan di Rumah sakit PKU Muhammadiyah Sruweng, seberapa penting pekerjaan
anda saat ini? |
|
Mengetahui
latar belakang work engagement
tenaga kesehatan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng |
Dalam hitungan
jam kerja rumah sakit. Berapa lama waktu yang saudara butuhkan untuk fokus
mengerjakan tugas-tugas anda? |
|
Mengapa saudara
membutuhkan waktu selama itu? |
|
|
Hal – hal apa
yang membuat saudara terlibat dalam pekerjaan ini? |
Tabel 2. Pertanyaan dalam
Kuesioner Terbuka “Fluorishing”
|
Pertanyaan |
Jawaban |
|
Saya menjalani hidup dengan maksud tertentu dan bermakna |
|
|
Hubungan sosial saya sangat mendukung dan bermakna |
|
|
Saya terlibat dan tertarik dengan aktifitas keseharian saya |
|
|
Saya secara aktif berkontribusi pada happiness
(kebahagiaan) dan well
being (kesejahteraan) orang lain |
|
|
Saya kompeten dan mampu dalam kegiatan
yang penting bagi saya |
|
|
Saya adalah orang baik dan menjalankan kehidupan yang baik |
|
|
Kehidupan materi saya (pendapatan, tugas rumah tangga, dll) cukup untuk
kebutuhan saya |
|
|
Saya umumnya percaya pada orang lain dan merasa
menjadi bagian dari komunitas saya |
|
|
Saya puas dengan kehidupan religius dan spiritualitas saya |
|
|
Saya optimis terkait masa depan |
|
|
Saya tidak memiliki kecanduan, seperti narkoba, alkohol, dan perjudian |
|
|
Orang lain respek terhadap saya |
|
Tabel 3. Jawaban dalam Wawancara
|
Pertanyaan |
Jawaban |
|
Sebagai tenaga
kesehatan di Rumah sakit PKU Muhammadiyah Sruweng, seberapa besar peran
saudara dalam tugas-tugas kerumahsakitan? |
|
|
Mengapa saudara
menilai demikian? |
|
|
Sebagai tenaga
kesehatan di Rumah sakit PKU Muhammadiyah Sruweng, seberapa penting pekerjaan
anda saat ini? |
|
|
Dalam hitungan
jam kerja rumah sakit. Berapa lama waktu yang saudara butuhkan untuk fokus
mengerjakan tugas-tugas anda? |
|
|
Mengapa saudara
membutuhkan waktu selama itu? |
|
|
Hal – hal apa
yang membuat saudara terlibat dalam pekerjaan ini? |
|
2.
Hasil Wawancara
Tabel 4. Fluorishing
|
No. |
Pertanyaan |
Informan 1 |
Informan 2 |
Informan 3 |
|
1. |
Apakah saudara memilihi harapan besar untuk mengevaluasi memperbaiki diri sendiri? Bagaimana cara saudara meraihnya? (Self Acceptance) |
Ya, Memahami dan menerima kekurangan diri sendiri |
Ya, Tidak merasa tertekan ketika mengalami kegagalan |
Ya, Tidak iri dengan pencapaian dan prestasi kerja nakes
lain. |
|
2. |
Bagaimana saudara mencapai ikatan hubungan yang baik dalam suatau
pekerjaan? (Positive
Relationship) |
Melihat sesama
profesi kesehatan adalah saudara tidak hanya rekan kerja |
Merasa empati
melihat orang sakit |
Biasanya
perawat-perawat di IGD |
|
3. |
Bagaimana langkah saudara dalam menghadapai tantangan didalam pekerjaan? (Personal Growth) |
Beradaptasi dengan kebijakan baru |
Tetap memberikan pelayanan terbaik meskipun sedang Pandemi Covid-19. |
Sabar dalam menghadapi pasien yang heterogen |
|
4. |
Apa langkah saudara dalammengupayakan visi misi rumah sakit? (Purpose of Life) |
Memiliki
struktur organisasi dan job desk yang jelas serta mendalami tentang nakes dirumah sakit |
Selalu berupaya memberikan pelayanan prima dan profesional |
Ramah dalam memberikan pelayanan |
|
5. |
Bagaimana langkah saudara untuk menciptakan lingkungan kerja tetap baik? (Environmental Mastery) |
Memanfaatkan informasi untuk berkembang |
Berusaha membuat lingkungan yang kondusif |
Tetap tenang ketika dihadapkan dengan berbagai masalah dirumah sakit |
|
6. |
Bagaimana cara
saudara dalam mempererat hubungan silaturahmi dengan karyawan lain? (Positive Relationship) |
Senang untuk
berinteraksi dengan rekan kerja mereka meskipun hal tersebut diluar pekerjaan
mereka |
Saling
mendengarkan cerita satu sama lain dan peduli apabila terdapat masalah yang
menimpa pada sesama nakes |
|
|
7. |
Bagaimana
langkah inisiatif saudara dalam partisipasi menyelesaikan pekerjaan di rumah
sakit? (Autonomy) |
Berinisiatif menyelesaikan masalah sesuai kapasitas |
Datang tepat waktu ketika
pergantian shift jaga |
Berusaha tidak merepotkan perawat lain ketika sedang menangani pasien |
Tabel 5. Work
Engagement
|
No. |
Pertanyaan |
Informan 1 |
Informan 2 |
Informan 3 |
|
1.
|
Bagaimana langkah upaya saudara dalam menghadapai kesulitan didalam pekerjaan? (Vigor) |
Datang tepat waktu. |
Tidak mudah menyerah ketika dihadapkan dengan situasi yang sulit. |
Tetap bersemangat dalam menangani pasien. |
|
2.
|
Bagaimana langkah upaya saudara dalam menghadapai kesulitan didalam pekerjaan? (Vigor) |
Berusaha melebihi target kerja yang sudah seharusnya dicapai |
Berusaha mencari alternatif lain ketika menemui suatu masalah |
Tidak datang terlambat ketika sudah waktunya pergantian shift jaga |
|
3. |
Bagaimana
langkah antisias saudara selama berkarya di RS PKU Muhammadiyah Sruweng? (Dedication) |
Tidak merasa keberatan ketika menyelesaikan tugas-tugas yang berat |
Merasa antusias ketika menemui hal baru
selama menangani pasien |
Tidak menyalahkan antar tenaga kesehatan |
|
4. |
Apakah saudara
merasa bangga menjadi bagian dari RS PKU Muhammadiyah Sruweng? Dalam bentuk
apa perasaan bangga tersebut? (Dedication) |
Ya, Merasa bahagia atas pencapaian yang diraih |
Ya, Berpartisipasi atif dan memberikan ide-ide ketika rapat. |
Ya, Tidak merasa rendah diri mengenai
kinerja yang sudah dihasilkan karena telah dikerjakan dengan maksimal |
|
5. |
Bagaimana
langkah saudara agar tetap fokus dalam menyelesaikan sebuah pekerjaan? (Absorption) |
Fokus terhadap tupoksi dan tidak menganggap sebagai beban pekerjaan |
Tidak ambil pusing mengenai hal-hal diluar pekerjaannya |
Tidak merasa bosan dalam menangani pasien |
|
6. |
Apakah saudara
merasa berkenan ketika mendapat pekerjaan tambahan? (Absorption) |
Ya, Terkadang merasa lupa mengenai waktu kerja |
Tidak, Kurang bersedia
lembur |
Tidak, Kurang bersedia
lembur |
|
7. |
Bagaimana
menurut pendapat saudara agar tercipata suatu hubungan kekeluargaan dalam
suatu pekerjaan? (Personal Resources) |
Memiliki keyakinan dalam mengontrol dan mempengaruhi lingkungan sekitarnya |
Menjalin hubungan baik dengan sejawat
tenaga kesehatan |
Menjalin hubungan baik dengan sejawat
tenaga kesehatan |
Gambar 2.
Peta Konsep
Hasil analisis penelitian
menunjukkan bahwa terdapat dua temuan dalam penelitian ini. Temuan pertama
berkaitan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi belum optimalnya keterikatan
kerja tenaga kesehatan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng.
Adapun faktor tersebut
terdiri dari
a.
faktor budaya,
b.
indikator kesuksesan,
c.
penetapan prioritas,
d.
komunikasi,
e.
inovasi,
f.
akuisisi talenta,
g.
peningkatan talenta dan
h.
siklus pelanggan atau
bisnis.
Pada faktor budaya
organisasi. Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Sruweng sangat dipengaruhi oleh budaya masyarakat jawa. Salah satu
budaya yang dijunjung tinggi yakni budaya yang bersifat komunal dan gotong
royong justru menjadikan budaya organisasi menjadi budaya yang kurang
kompetitif. Hal itu menjadikan keterikatan kerja sulit diwujudkan di Rumah
Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng.
Selanjutnya pada faktor
Indikator Kesuksesan, dapat dilihat dari ukuran kesuksesan tenaga kesehatan
Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng yakni apabila tenaga kesehatan yang
bersangkutan telah mengerjakan job description atau job desc-nya atau belum.
Untuk menilai apakah jobdesc tersebut telah dilaksanakan dengan baik,
masing-masing tenaga kesehatan diberikan Key
Performance Indicator (KPI). Fungsi KPI seperti raport pada anak sekolah. Namun
belum semua tenaga kesehatan dapat mencapai hal-hal yang telah digariskan dalam
KPI-nya.
Pada faktor penetapan
prioritas, tenaga kesehatan yang bisa bekerja dengan baik adalah tenaga
kesehatan yang bisa menetapkan prioritas. Artinya pekerjaan yang
penting-penting didahulukan, sedang yang kurang penting dijadwalkan
pengerjaannya, bukan ditinggalkan. Membuat prioritas bukan berarti meninggalkan
pekerjaan yang kurang penting, tetapi pekerjaan yang penting diprioritaskan
pengerjaannya lebih dahulu. Jika semua pekerjaan dianggap penting, tenaga
kesehatan akan kesulitan menyusun prioritas sehingga hasil pekerjaan kurang
memuaskan.
Selanjutnya pada faktor
komunikasi, ditemukan bahwa tenaga kesehatan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah
Sruweng belum dapat membangun komunikasi yang baik satu sama lain. Sebagai
contoh pada proses pelaporan bahan habis pakai, dibutuhkan rangkaian komunikasi antara tenaga kesehatan, tenaga kesehatan pembelian dan tenaga kesehatan keuangan. Begitu juga dengan laporan keuangan
merupakan rangkaian komunikasi antara tenaga kesehatan Rumah Sakit Bagian Keuangan dengan
seluruh stakeholder internal Rumah Sakit PKU MUhammadiyah Sruweng maupun dengan
stakeholder eksternal di luar Rumah Sakit PKU MUhammadiyah Sruweng yang membutuhkan
laporan keuangan itu.
Pada faktor inovasi,
bahwa tenaga kesehatan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng dituntut harus bisa
berinovasi dalam melaksankan pekerjaannya. Hanya saja banyak tenaga kesehatan
yang tidak mau berinovasi karena inovasi membutuhkan kreativitas dan
keberanian, sedangkan banyak tenaga kesehatan yang memilih bekerja secara aman
aman saja. Pada umumnya tenaga kesehatan yang memiliki inovasi merasakan belum
mendapatkan penghargaan memadai. Jadi seolah-olah bekerja dengan kreativitas
dan inovasi tinggi penilaiannya sama saja. Hal inilah yang menyebabkan akhirnya
tenaga kesehatan memilih bekerja biasa-biasa saja, kalau hasil penilaiannya
seperti sama saja.
Selanjutnya pada faktor
akuisi talenta, ditemukan bahwa akuisisi talenta belum sepenuhnya dijalankan di
Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng. Pada umumnya para tenaga kesehatan berpendapat untuk
dapat bekerja di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng memerlukan koneksi dan
rekomendasi terutama dari koneksi dan relasi terkait. Selanjutnya dalam penilaian kinerja pun tidak
mencerminkan adanya akuisisi talenta. tenaga kesehatan -tenaga kesehatan yang dekat dengan atasan, yang dekat dengan pimpinan,
yang bisa ABS (Asal Bapak Senang) akan dinilai baik dan akan dipermudah
kenaikan pangkatnya. Sebaliknya tenaga kesehatan yang tidak bisa ABS meskipun berprestasi,
kreatif dan berinovasi, tetap saja mendapat penilain yang biasa-biasa saja.
Pada faktor selanjutnya yakni faktor peningkatan talenta, para tenaga kesehatan di Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Sruweng berpendapat bekerja di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah
Sruweng tidak harus meningkatkan talentanya. Mengingat bekerja dengan
biasa-biasa saja di sini, kesempatan naik pangkat dan kenaikan gaji sama saja
dengan tenaga kesehatan berprestasi. Di
sisi lain ada tenaga kesehatan yang tidak
berprestasi, namun karena faktor “X”, kenaikan pangkatnya cepat luar biasa, dan
gajinyapun ikut meroket. Sehingga anggapan tidak perlu mengembangkan talenta di
Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng semakin berkembang. Selanjutnya pada
faktor siklus pasien, hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk mendapat pasien Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Sruweng tidak perlu bersaing dengan rumah sakit lainnya. Jadi
tanpa bersaingpun Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng akan didatangi
masyarakat menengah ke bawah yang membutuhkan pelayanan kesehatan dengan biaya
terjangkau. Sedangkan masyarakat menengah atas tentunya akan lebih memilih
rumah sakit swasta dengan kualitas pelayanan lebih tinggi. Hasil penelitian
kedua berkaitan dengan identifikasi model upaya meningkatkan keterlibatan tenaga kesehatan Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Sruweng. Adapun upaya yang dilakukan untuk meningkatkan work engagement tenaga kesehatan yakni dengan
memperhatikan aspek lingkungan kerja, aspek kepemimpinan, aspek hubungan tim
dan rekan kerja, aspek pelatihan dan pengembangan karir, aspek kompensasi,
aspek kebijakan, prosedur, struktur dan sistem organisasi, serta aspek kesejahteraan
di tempat kerja.
Pembahasan
Hal ini juga
membuktikan bahwa antara work engagement dengan fluorishing ini memiliki hubungan yang searah, dengan kata lain, apabila semakin tinggi work engagement dari
tenaga kesehatan, maka semakin tinggi
pula tingkat fluorishing
yang pada tenaga kesehatan tersebut. Begitu pun sebaliknya, apabila semakin rendah work
engagement, maka akan semakin rendah juga fluorishing yang dirasakan.
Gambar 3. Flourishing
Berdasarkan hasil hubungan yang positif tersebut menunjukkan bahwa, semakin kuatnya keyakinan teanga kesehatan mengenai kapasitas dirinya sendiri ketika bekerja menangani pasien, maka akan
semakin tinggi juga keinginannya untuk terikat dalam perkerjaannya
di rumah sakit. Hal tersebut dikarenakan tenaga kesehatan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng ini memiliki
kepuasan dan
rasa bersyukur terhadap
dirinya sendiri, memiliki tujuan hidup, sehingga mereka mengerti mengapa mereka harus berkerja saat ini, dan mereka
juga memiliki kemauan untuk berkembang, Oleh sebab itu, dari
kesadaran diri tersebutlah membuat tenaga kesehatan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng ini lebih
bersemangat dan terpacu dalam pekerjaannya dalam merawat pasien(BASSANG, 2013).
Pada masa pandemi
Covid-19 seperti saat ini membuat tenaga
kesehatan merasa khawatir terhadap kesehatan dan keamanannya saat menangani pasien, namun hal
tersebut tidak berpengaruh pada tanggung jawab dan semangat para tenaga kesehatan terhadap pekerjaannya(Findyartini, Soemantri, Greviana, Hidayat, &
Claramita, 2020). Tenaga kesehatan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng ini tetap berkerja
dan menikmati pekerjaannya meskipun pada masa pandemi Covid-19,
dengan tetap melakukan SOP yang disesuaikan
dan protokol kesehatan sesuai dengan panduan
dari pemerintah secara seksama(Khaqiqi, Normawati, & Islami, 2020). Hal seperti
ini dapat dikatakan sebagai keterikatan kerja.
Keterikatan kerja menurut (Loscalzo & Giannini, 2019) yaitu terdapat perasaan positif, puas dan memiliki perasaan afektif, termotivasi maupun sejahtera terhadap pekerjaannya. Tenaga kesehatan
yang memiliki perasaan positif maupun puas terhadap pekerjaannya
akan meningkatkan produktivitasnya dalam berkerja, mereka juga tidak akan mengeluh
mengenai pekerjaannya karena mereka memiliki
perasaan afektif, termotivasi dan sejahtera terhadap pekerjaannya saat ini. Keterikatan
kerja yang dimiliki tenaga kesehatan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng dapat dilihat dari
data yang telah diperoleh berdasarkan teori dimensi atau aspek
Keterikatan Kerja menurut (Gera, Sharma, & Saini, 2019) yaitu Vigor,
Dedication dan Absorption.
Vigor merupakan kondisi dimana individu memiliki kekuatan yang besar, mental yang kuat, berupaya dan gigih ketika sedang mengalami
kesulitan (Gera et al., 2019). Meskipun dalam keadaan pandemi
Covid-19, semangat yang dihadirkan
oleh tenaga kesehatan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng ini pun tidak berkurang. Mereka tidak datang
terlambat untuk berkerja, tidak pernah menyerah meskipun dihadapkan dengan kondisi yang sulit, dan tetap bersemangat dalam menyelesaikan menangani pasien secara maksimal
dengan mencari alternatif lain ketika berada dalam masalah,
serta berusaha untuk melebihi target kerja yang seharusnya mereka capai.
Gambar 4. Kerangka Kerja untuk
Keterlibatan Karyawan
Keterikatan kerja yang dimiliki oleh tenaga kesehatan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng ini juga dapat dilihat dari
dimensi Dedication, yaitu
memiliki perasaan ingin terlibat kedalam suatu pekerjaaan
secara tinggi serta merasakan antusias, tertantang, bangga, dan memiliki bermacam gagasan (Gera et al., 2019). Dimana para tenaga
kesehatan merasakan antusias ketika menemui hal-hal baru selama ia
berkerja, tertarik ketika terdapat permasalahan yang ada pada pekerjaan, sehingga tidak keberatan untuk menyelesaikan pekerjaan yang berat sekalipun. Hal ini selaras dengan yang ada di latar belakang
bahwa jika terdapat permasalahan yang ada di rumah sakit
dalam menangani pasien, para tenaga kesehatan akan saling bantu untuk
memecahkan masalah dan mencari alternatif lain untuk menyelesaikan masalah tersebut. Tidak hanya menyalahkan
satu sama lain dan tidak berbuat apa-apa.
Selain itu, mereka juga senang dan bangga mengenai pencapaian kinerja mereka, sehingga mereka tidak perlu
merasa rendah diri mengenai kinerja
yang sudah dihasilkan karena pekerjaan tersebut telah dikerjakan secara maksimal meskipun terdapat juga beberapa tenaga kesehatan yang masih merasa biasa
saja dengan hasil kinerja mereka.
Pada dimensi
Absorption dari Keterikatan
kerja menurut (Gera et al., 2019) yang merupakan
adanya perasaan secara penuh fokus
dan bahagia dalam sebuah pekerjaan dimana membuat seseorang susah untuk lepas dari
pekerjaannya. Berdasarkan
data yang telah diperoleh, menunjukkan keterikatan kerja yang dimiliki oleh tenaga kesehatan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng sesuai dengan dimensi absorption.
Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa para tenaga kesehatan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng fokus dalam
pekerjaannya, mereka tidak ambil pusing
mengenai hal-hal lain selain pekerjaannya. Mereka juga menikmati pekerjaannya sebaik mungkin sehingga tidak merasa bosan
mengenai pekerjaan itu sendiri. Sukacita
yang dirasakan oleh tenaga kesehatan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng saat melakukan pekerjaan ini membuat
mereka merasa lupa mengenai waktu
kerja mereka, dalam artian mereka
ikut terserap dalam pekerjaan dan tidak sadar jika
waktu berkerja mereka telah habis,
sehingga hal ini sesuai dengan
apa yang ada pada latar belakang bahwa tenaga kesehatan
Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Sruweng menikmati
waktu kerja mereka, namun terdapat
dari mereka yang kurang bersedia untuk berkerja diluar jam kerja atau kurang bersedia
untuk lembur. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian yang dihasilkan oleh (Yasintasari & Mulyana, 2019) dimana seseorang yang memiliki keterikatan kerja adalah mereka yang memiliki motivasi dari dalam dirinya,
memiliki inisiatif, dan lebih aktif ketika
berkerja.
Keterikatan kerja yang dimiliki oleh seseorang dipengaruhi adanya beberapa faktor. Menurut (Bakker & van Wingerden, 2021) seperti, Job
Demand Resources, Personal Resources, dan yang terakhir
adalah Salience of Job resources. Dimana pada penelitian ini lebih memfokuskan pada Personal
Resources dari masing-masing tenaga
kesehatan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng. Personal
Resources sendiri merupakan
penilaian diri yang bersifat positif yang juga akan berpengaruh pada keyakinan dari individu mengenai kemampuan yang ia miliki dalam mengontrol
dan mempengaruhi lingkungan
sekitarnya (Bakker & van Wingerden, 2021). Hal tersebut
sesuai dengan definisi dari Fluorishing
menurut (Jankowski et al., 2020) yaitu potensi individu untuk berdamai dengan kemampuan terbaik maupun terburuk yang ada pada dirinya, serta bagaimana individu menerima diri sendiri, menjalin
hubungan penuh kasih sayang dengan
orang lain, memiliki perkembangan
dalam kepribadiannya, yakin terhadap tujuan yang ada pada hidupnya, mandiri serta mampu untuk
menguasai lingkungan yang ada disekitarnya.
Gambar 5. Kerangka Kerja untuk
Fluorishing Karyawan
Pada tenaga kesehatan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng diketahui berdasarkan data yang telah diperoleh bahwa fluorishing yang
mereka miliki tidak terganggu meskipun dalam kondisi pandemi Covid-19. Dimana kita tahu bahwa
pada pandemi Covid-19 seperti
ini dapat menimbulkan perasaan panik, tegang, maupun cemas yang dialami oleh seseorang (Zulva, 2020). Namun berdasarkan hasil dari data yang telah diperoleh, fluorishing yang
diperlihatkan oleh tenaga kesehatan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng ini sesuai dengan
dimensi-dimensi dari teori dari Ryff
dkk (2020), yang pertama adalah self acceptance yaitu kondisi dimana
kita mampu untuk memahami perilaku, motivasi dan perasaan kita sendiri
dan memiliki harga diri yang positif. Berdasarkan data menunjukkan bahwa tenaga kesehatan
Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Sruweng ini memiliki kemampuan untuk menerima bagaimana keadaan dirinya sendiri, mereka dapat menerima
kekurangan yang ada dan tidak ingin untuk
menjadi orang lain. Mereka
juga tidak terlalu keras dalam menghukum
diri sendiri ketika terjadi kesalahan yang mereka perbuat, meskipun ada beberapa dari
mereka yang masih tertekan dalam hal tersebut.
Selain itu, pada dimensi positive
relationship with others, adanya hubungan interpersonal yang didasari
oleh kasih sayang, cinta, dan perasaan yang hangat pada orang lain. Selain itu memiliki perasaan
empati yang kuat untuk mencapai ikatan yang erat dengan orang yang ada disekitar (Ryff dkk., 2020). Pada penelitian ini berdasarkan data yang telah diperoleh, menunjukkan kesesuaian dengan teori dimensi
yang telah dipaparkan oleh Ryff dkk. (2020), dimana hubungan interpersonal
para tenaga kesehatan
sangat jelas nampak. Seperti yang telah dijelaskan pada latar belakang, hasil perolehan data juga menunjukkan bahwa hubungan interpersonal antar tenaga kesehatan
Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Sruweng ini berjalan sangat baik. Diketahui bahwa tenaga kesehatan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng bersedia membantu apabila rekan mereka membutuhkan
bantuan, mereka juga senang untuk berinteraksi
dengan rekan kerja mereka meskipun
hal tersebut diluar pekerjaan mereka. Mereka saling mendengarkan cerita satu sama
lain dan perduli apabila terdapat masalah yang menimpa pada sesama rekan kerja. Hal tersebut menunjukkan bagaimana hubungan yang baik antar rekan
kerja yang dapat juga menimbulkan kondisi atau suasana kerja
yang nyaman dan hangat, serta dapat menimbulkan
dorongan yang tinggi juga untuk berkerja.
Dimensi personal
growth, merupakan aktualisasi
dari potensi pribadi individu seperti kesehatan mental yang positif, serta adanya keterbukaan dalam pengalaman perkembangan dan pertumbuhan pada
sebuah tantangan baru dalam hidup
individu (Ryff dkk., 2020). Berdasarkan data
yang telah didapatkan, tenaga kesehatan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng pada penelitian ini menunjukkan adanya perilaku mereka yang terbuka dengan hal-hal baru, mereka tidak
takut terhadap hal-hal baru yang akan mengubah mereka,
bahkan mereka sangat antusias untuk merasakan pengalaman baru yang belum mereka rasakan sebelumnya. Selain itu, para tenaga kesehatan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng ini juga mencoba segala hal atau
cara yang dapat membuat mereka mampu untuk menyelesaikan
urusan aupun permasalahan yang sedang mereka alami, mereka
menganggap bahwa permasalahan tersebut merupakan tahap untuk menjadi lebih
maju dan berkembang.
Pada dimensi
purpose of life, yaitu keyakinan
individu mengenai tujuan dan arti dari hidupnya dengan kesengajaan dan terarah (Ryff dkk., 2020). Pada dimensi ini berdasarkan
data yang telah diperoleh menunjukkan sikap tenaga kesehatan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng yang sesuai dengan teori datas,
dimana para tenaga kesehatan berkerja dengan adanya tujuan
dan target dalam hidupnya. Tujuan tersebutlah yang membuat mereka berkerja keras untuk dapat mencapainya.
Adanya tujuan yang dimiliki oleh tenaga kesehatan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng
juga memicu mereka untuk semangat dalam berkerja, sehingga mereka juga akan tetap berusaha
dalam mengembangkan kemampuannya dan personality dari
individu masing-masing. Hal ini
sesuai dengan pernyataan dari Denning dkk., (2021) yang menyatakan bahwa fokus dari
Fluorishing adalah
mengembangkan personal growth dan kapabilitas dari individu. Namun untuk mencapai tujuan tersebut, tidak sedikit dari
mereka yang menentukan secara sistematis hal-hal apa saja
yang mampu untuk mewujudkan target atau tujuan yang telah mereka tetapkan sebelumnya. Namun, mereka memahami alasan mereka untuk
berkerja saat ini.
Pada dimensi
environmental mastery, yaitu kemampuan individu untuk memilih atau
menciptakan lingkungan yang
sesuai dengan keadaan mentalnya. Penting bagi individu
dalam berpartisipasi aktif untuk memiliki
kemampuan dalam mengubah dan menguasai lingkungan yang kompleks (Ryff dkk., 2020). Berdasarkan data yang telah didapatkan pada tenaga kesehatan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng memiliki kemampuan dalam memahami dan mengerti bagaimana lingkungan mereka dan berusaha untuk beradaptasi dengan hal tersebut. Mereka
berupaya beradaptasi dan menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman bagi mereka sendiri
Oleh karena itu, tenaga kesehatan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng tidak mengalami
kesusahan yang berlarut-larut
ketika dalam situasi pandemi seperti saat ini.
Mereka jugamemanfaatkan informasi-informasi yang ada dilingkungan mereka untuk berkembang dan memperluas wawasan yang mereka miliki dan bagaimana mereka mengambil kesempatan sebaik mungkin untuk mewujudkan tujuan maupun kepentingan
mereka.
Selain itu, pada dimensi autonomy, yaitu kondisi dimana
individu memiliki self determination, kebebasan
dan kemandirian untuk berperilaku dari dalam diri. Konsep
ini juga menekankan bahwa individu memiliki keyakinan untuk mengevaluasi dirinya sendiri daripada meminta pendapat dari orang lain (Ryff & Singer, 2008).
Data yang diperoleh pada penelitian
ini menunjukkan meskipun hubungan interpersonal dari tenaga kesehatan
Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Sruweng ini terbilang baik, akan tetapi, mereka
tetap menyelesaikan pekerjaannya semaksimal mungkin secara mandiri dan tidak merepotkan rekan kerja mereka, sehingga
mereka tidak menunggu rekan kerja yang lain untuk membantu menyelesaikan pekerjaannya. Tidak sedikit dari mereka
yang memiliki inisiatif untuk memulai atau
melakukan pekerjaannya tanpa diminta terlebih
dahulu dan tidak bermalas-malasan. Mereka juga berinisiatif untuk mencari tahu bagaimana
menyelesaikan pekerjaan
yang bermasalah maupun tidak bermasalah sesuai dengan kapasitas
yang mereka miliki. Hal ini sesuai dengan
penelitian dari Robertson
dan Cooper (2010) dimana seorang
tenaga kesehatan yang pada tempat kerja menimbulkan
emosi yang positif, serta mengerti arti maupun tujuan dari
apa yang mereka kerjakan merupakan bentuk dari kesejahteraan
psikologis dalam tempat kerja.
Tenaga kesehatan
dalam sebuah rumah sakit memerlukan
emosi yang positif mengenai dirinya sendiri dan sekitarnya untuk melakukan pekerjaan mereka. Apabila seorang tenaga kesehatan tidak memiliki emosi positif dan juga cara pandang yang positif mengenai dirinya dan sekitarnya, maka hal tersebut
akan berpengaruh terhadap bagaimana ia memandang dan memaknai pekerjaannya. Hal tersebut dapat dilihat ketika seorang tenaga kesehatan memiliki keyakinan terhadap dirinya sendiri, memiliki tujuan yang terarah, memiliki keinginan untuk dapat selalu berkembang,
serta memiliki rasa empati atau memiliki
hubungan yang baik dengan rekan kerja
dapat membuat tenaga kesehatan tersebut merasa semangat, bangga, bertanggung jawab, memiliki konsentrasi yang penuh dalam melaksanakan
pekerjaannya dan juga akan merasa terikat dalam pekerjaannya. Berbanding terbalik dengan apabila tenaga kesehatan tersebut tidak memiliki cara pandang
atau emosi yang positif mengenai dirinya, ia akan
merasa putus asa, tidak semangat
dalam melaksanakan pekerjaannya dan dapat juga berujung burnout. Hal tersebut
sesuai dengan yang disampaikan oleh Paramitta, Putra
dan Sarinah (2020) bahwa ketika individu memiliki sikap yang positif mengenai dirinya sendiri dan juga sekitarnya, maka akan tinggi juga keterikatan kerja yang ia miliki, apabila
individu memiliki sikap dan emosi yang negatif terhadap dirinya dan juga sekitarnya maka akan sulit
bagi individu tersebut untuk mengembangkan diri dan sulit dalam mengatur
perilakunya sendiri.
Dengan adanya Fluorishing yang
dimiliki oleh tenaga kesehatan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruwengini
sangat membantu mereka untuk lebih produktif
dan semangat dalam berkerja. Hasil ini sesuai dengan penelitian
yang telah dilakukan oleh
Kimberly dan Utoyo (2013) dimana
individu yang memiliki keadaan psikologis yang bagus maka ia
juga akan meyakini serta memahami kemampuan yang ada pada dirinya, sehingga akan mendorong kinerja dan penjiwaan individu tersebut terhadap apa yang sedang ia lakukan.
Pada penelitian ini juga diketahui bahwa tenaga kesehatan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruwengmerasa menikmati dan optimis mengenai pekerjaan mereka meskipun kondisi saat ini berbeda
dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini sejalan dengan yang dipaparkan oleh Simanullang dan Ratnaningsih (2018) bahwa kondisi psychological wellbeing dari
tenaga kesehatan dapat dikatakan baik apabila mereka
mampu menyadari kemampuan yang mereka miliki, serta mereka
memiliki emosi yang positif saat sedang
berkerja. Faktor lain yang dapat mempengaruhi keterikatan kerja seperti yang dikemukakan oleh ABC
International Inc (Meyer, 2012) yaitu, Adaptability,
Achievment Orientation, Attraction to the work, Self Efficacy, Emotional Maturity, Positive dispotion.
KESIMPULAN
Penelitian ini adalah penelitian
kualitatif yang bertujuan untuk mengeksplorasi work
engagement dalam meningkatkan
fluorishing pada tenaga
kesehatan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng, dengan hasil sebagai berikut:
Berdasarkan temuan penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan di atas, maka dapat
disimpulkan alasan keterlibatan pegawai BRSUD Kabupaten Tabanan belum optimal disebabkan oleh faktor budaya, indikator kesuksesan, penetapan prioritas, komunikasi, inovasi, akuisisi talenta, peningkatan talenta dan siklus pelanggan atau bisnis. Selain itu, disimpulkan juga identifikasi model upaya meningkatkan keterlibatan pegawai BRSUD Kabupaten Tabanan meliputi aspek lingkungan kerja, aspek kepemimpinan, aspek hubungan tim dan rekan kerja,
aspek pelatihan dan pengembangan karir, aspek kompensasi, aspek kebijakan, prosedur, struktur dan sistem organisasi, serta aspek kesejahteraan
di tempat kerja. Berdasarkan hasil pemaparan pada bagian pembahasan, dapat diketahui bahwa work
engagement yang dimiliki oleh tenaga
medis Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng adalah upaya pemenuhan
sosial, meskipun tidak terlepas dari upaya pemenuhan
individu. Hal ini dapat dilihat dari
upaya mereka dalam membantu sesama tenaga medis.
Merujuk pada tiga dimensi work engagement terdapat
banyak hal yang menunjukkan rasa tanggung jawab. Namun, hal
yang paling dominan adalah dimensi dedication.
Pengawasan dan pendokumentasian komplain pada Rumah Sakit Umum St. Rafael Cancar belum mengembangkan Sistem Informasi
Manajemen Komplain Rumah Sakit untuk efektifitas
kontrol penyelesaian komplain. Evaluasi internal menunjukkan kontrol
evaluasi terhadap SOP sudah baik, tetapi
memerlukan keterpaduan pada
prosesnya. Sedangkan evaluasi eksternal pasien yang memiliki komplain saat ini
menunjukkan sudah cukup merasa puas
dengan pelayanan dan tindaklanjut komplain yang mereka sampaikan, akan tetapi ada
beberapa fasilitas pelayanan yang mereka anggap masih kurang.
BIBLIOGRAFI
Bakker, Arnold B., &
van Wingerden, Jessica. (2021). Do personal resources and strengths use
increase work engagement? The effects of a training intervention. Journal of
Occupational Health Psychology, 26(1), 20.
Bassang, Obet. (2013). Hubungan Strategic Leadership, Budaya
Organisasi, Dan Komitmen Organisasi Dengan Kinerja Perawat Pelaksana Di Rsud
Lakipadada Tana Toraja. Universitas Hasanuddin.
Findyartini, Ardi, Soemantri, Diantha, Greviana, Nadia, Hidayat, Rachmadya
Nur, & Claramita, Mora. (2020). Buku panduan adaptasi pendidikan
kedokteran dan profesi kesehatan di era pandemi covid-19. Universitas
Indonesia Publishing.
Gera, NAVNEET, Sharma, R., & Saini, P. (2019). Absorption, vigor and
dedication: Determinants of employee engagement in B-schools. Indian Journal
of Economics and Business, 18(1), 61–70.
Ivana, Azza, Widjasena, Baju, & Jayanti, Siswi. (2014). Analisa
Komitmen Manajemen Rumah Sakit (RS) Terhadap Keselamatan Dan Kesehatan Kerja
(K3) Pada RS Prima Medika Pemalang. Jurnal Kesehatan Masyarakat (Undip),
2(1), 35–41.
Jankowski, Peter J., Sandage, Steven J., Bell, Chance A., Davis, Don E.,
Porter, Emma, Jessen, Mackenzie, Motzny, Christine L., Ross, Kaitlin V, &
Owen, Jesse. (2020). Virtue, flourishing, and positive psychology in
psychotherapy: An overview and research prospectus. Psychotherapy, 57(3),
291.
Khaqiqi, Moh Nur, Normawati, Ratna, & Islami, Nikmatun. (2020).
Analisis Efektivitas Kebijakan Di Tengah Pandemi Covid-19 Berbasis Public
Policy Evaluation. SCIENTIFIC PAPER ACADEMY (SPA) UKM-F DYCRES, 105.
Loscalzo, Yura, & Giannini, Marco. (2019). Study engagement in Italian
university students: a confirmatory factor analysis of the Utrecht Work
Engagement Scale—Student version. Social Indicators Research, 142(2),
845–854.
Maatisya, Yuki Fitia, & Santoso, Aris Prio Agus. (2022). Rekonstruksi
Kesejahteraan Sosial Bagi Tenaga Kesehatan di Rumah Sakit. JISIP (Jurnal
Ilmu Sosial Dan Pendidikan), 6(3).
Muhadi, Disya Nafisah, & Izzati, Umi Anugerah. (2020). Hubungan Antara
Psychological Well-Being Dengan Work Engagement Pada Perawat Instalasi Rawat
Inap Di Rumah Sakit X. Character: Jurnal Penelitian Psikologi., 7(3).
Rosadi, Kemas M. Raihan. (2021). Hubungan Antara Dukungan Sosial dengan
Flourishing pada Mahasiswa yang Sedang Mengerjakan Skripsi Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi. Universitas Jambi.
Setyawan, Febri Endra Budi, & Supriyanto, Stefanus. (2020). Manajemen
rumah sakit. Zifatama Jawara.
Suryadi, Shinta Febrina. (2020). Perceived Organizational Support dan
pengaruhnya Terhadap Work Engagement Pada Perawat Rumah Sakit X di Kota
SukaBumi. Jurnal Psikologi RELIABEL, 6(6), 13–26.
Yasintasari, Cevrela Fani, & Mulyana, Olievia Prabandini. (2019).
Hubungan antara karakteristik pekerjaan dengan work engagement pada karyawan
PT. X. Prosiding Seminar Nasional & Call Paper Psikologi Sosial,
311–319.
Zulva, Tarisa Novita Indana. (2020). Covid-19 dan Kecenderungan
psikosomatis. J. Chem. Inf. Model, 2(1), 1–4.