PENGALAMAN KEMAMPUAN KONSEP SISWA TERHADAP
PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL
Lia Amalia1, Makmuri 2, Lukman El Hakim 3
Universitas Negeri Jakarta, Rawamangun, Jakarta
Timur123
[email protected]1, [email protected]2, [email protected]3
|
Received� :� 01-08-2022 |
Accepted� :� 12-08-2022 |
Published� : 26-08-2022 |
|
|
Abstract |
|||
|
Keywords: Student Mathematical Concepts, Contextual Approach, mathematics. |
Learning
mathematics with a contextual approach has an impact on students' ability to
understand mathematical concepts. Understanding mathematical concepts is very
important for students, and teachers must train and handle them properly. This
study aims to determine the ability of students' mathematical concepts and
learning with a contextual approach in 11 Private Vocational Schools in the Pesanggrahan District, South Jakarta. The experts
validated the research instrument in the form of an updated questionnaire.
Descriptive statistics are used to evaluate the results in the form of
percentages. The findings reveal that learning with a contextual approach is
still rarely used, and students' mathematical concept skills are still
lacking and need to be improved. |
||
|
Abstrak |
|||
|
Kata kunci: Konsep Matematis Siswa,
Pendekatan Kontekstual, Matematika. |
Pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual sangat berdampak pada kemampuan pemahaman konsep matematis siswa. Pemahaman konsep matematis sangat penting bagi siswa, dan guru harus melatih dan menanganinya dengan benar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan konsep matematis siswa dan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual di 11
SMK Swasta sekecamatan Pesanggrahan Jakarta Selatan. Para ahli
memvalidasi instrumen penelitian berupa angket yang diperbaharui. Statistik deskriptif digunakan untuk mengevaluasi hasil yakni dalam bentuk
persentase. Hasil temuan mengungkap bahwa pembelajaran dengan pendekatan kontekstual masih jarang digunakan, dan kemampuan konsep matematis siswa masih kurang
dan perlu ditingkatkan. |
||
Corresponding
Author: Lia Amalia�
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Pendidikan adalah
kunci kemajuan bangsa, di era globalisasi generasi muda diharapkan
dapat menerapkan dan mengembangkan ilmu yang telah diperoleh sepanjang hidupnya agar tidak ketinggalan zaman. Ini menekankan pentingnya pendidikan baik di keluarga, sekolah dan masyarakat (DARMADI & Pd, 2019). Matematika
merupakan salah satu ilmu pendidikan yang memegang peranan penting baik dalam
kehidupan sehari-hari maupun dalam perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Pentingnya peran matematika sebagai ilmu dasar
dapat dilihat dari besarnya kebutuhan
akan keterampilan matematika yang dibutuhkan terutama untuk menghadapi abad 21 (Salim Nahdi, 2019).
Adapun studi
internasional yang bertujuan
untuk mengukur prestasi siswa atau prestasi matematika
di suatu negara. TIMSS (Trends in International Math and Science) dan PISA (Programme Internationale
for Student Assesment) adalah
satu dari studi internasional yang menilai kinerja akademik siswa dalam matematika dan sains. Berdasarkan hasil TIMSS 2015, siswa matematika Indonesia memiliki nilai rata-rata hanya 44 dari 49 negara peserta, dan siswa Indonesia memiliki nilai rata-rata negara peserta
397, jauh lebih rendah dari rata-rata internasional sama dengan 550 (Mullis, Martin, Foy, & Hooper, 2016). Prestasi akademik siswa matematika Indonesia hanya 403 poin, Skor ini masih jauh di bawah
rata-rata internasional sebesar
493, jauh di bawah
negara-negara ASEAN lainnya seperti
Thailand (421), Vietnam (525) dan Singapura (556). Tahun
ini Indonesia tetap peringkat 64 dari 72 negara peserta (PISA, 2016). Hasil survei
internasional TIMSS dan PISA, dapat
disimpulkan bahwa pemahaman siswa Indonesia terhadap matematika masih rendah.
Rendahnya kemampuan matematis siswa Indonesia disebabkan oleh berbagai macam faktor. Salah satunya adalah pembelajaran konvensional yang masih sering kali diaplikasikan guru membatasi siswa untuk aktif dalam
pembelajaran, sehingga siswa hanya menerima
pengetahuan saja (Sunarto, Laa, Mahtuum, Siagian, & Afrilianto, 2021). Akibatnya siswa cenderung hanya menghafal suatu rumus atau
konsep tanpa memahami suatu konsep dengan baik.
Didukung oleh penelitian
yang dilakukan oleh (Nurdin et al., 2019) yang menemukan
bahwa salah satu rendahnya kemampuan matematis siswa disebabkan siswa tidak mampu mengingat
dan memahami konsep yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah. Hal ini menyebabkan pentingnya mengembangkan pemahaman dalam setiap kegiatan pembelajaran matematika akan mengembangkan pengetahuan matematika seseorang (Rosmaiyadi, Mariyam, & Juliyanti, 2018).
Salah satu kemampuan matematis yang penting dan wajib dimiliki oleh
siswa adalah kemampuan pemahaman konsep. Pemahaman konsep matematika adalah
kemampuan siswa untuk bersikap, berpikir, dan bertindak secara terarah dalam
memahami definisi, pemahaman, ciri khusus, sifat, dan inti/isi matematika,
serta kemampuan memilih dan menggunakan prosedur secara efisien dan tepat (Winata & Friantini, 2020). Menguasai konsep dapat membantu siswa belajar matematika lebih
bermakna (Ilyas & Basir, 2016).
Jika seorang
anak memahami suatu konsep, mereka
akan dapat menggeneralisasikannya ke banyak situasi lain yang tidak digunakan dalam situasi belajar
(Sunarto et al., 2021). Pemahaman konsep siswa dapat
diukur dengan empat cara, seperti
menanyakan: (1) Definisikan
konsepnya; (2) Mengidentifikasi
ciri-ciri konsep; (3) Menghubungkan suatu konsep dengan konsep
lain; (4) Mengidentifikasi atau
memberikan contoh konsep yang belum pernah ditemui sebelumnya (Mawaddah & Maryanti, 2016).
Hal ini dapat disimpulkan bahwa pemahaman konsep dalam pembelajaran
matematika harus dikembangkan dan dimiliki siswa dalam proses pembelajaran, siswa perlu dibiasakan untuk lebih memahami konsep
dalam memecahkan masalah, baik masalah matematis maupun masalah dalam kehidupan
sehari-hari agar siswa memperoleh pengetahuan serta keterampilan yang dimiliki
untuk menyelesaikan soal. Namun, kenyataan yang terjadi menunjukan bahwa
kemampuan pemahaman konsep siswa kurang dikembangkan dalam proses pembelajaran.
Untuk meningkatkan
pemahaman konsep matematis siswa tentunya diperlukan suatu teknik belajar
dengan benar, salah satu pendekatan pembelajaran adalah pendekatan kontekstual.
(Zakiah, Sunaryo, & Amam, 2019) mengungkapkan bahwa pendekatan kontekstual adalah pendekatan
pembelajaran yang mengaitkan materi pembelajaran dengan konteks kehidupan sehari-hari
dalam keluarga, masyarakat, lingkungan alam, dan dunia kerja, sehingga siswa
dapat menciptakan keterkaitan antara pengetahuan yang telah diperolehnya dengan
pengetahuan yang diterapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Menurut (Dini, Nuraeni, & Anita, 2018) meyatakan bahwa pendekatan kontekstual adalah konsep pembelajaran yang
membantu guru menghubungkan materi yang�
diajarkan dengan situasi aktual siswa dan mendorong siswa untuk
menghubungkan pengetahuannya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa pendekatan kontekstual adalah
konsep pembelajaran yang membantu guru menghubungkan topik dengan situasi
kehidupan nyata dan memotivasi siswa untuk menghubungkan pengetahuan dan
menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran kontekstual telah terbukti meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran matematika (Maryati, 2018).�
Hal ini diperkuat
oleh pendapat (Brinus, Makur, & Nendi, 2019) yang menyatakan
bahwa siswa harus menyadari beberapa konsep yang dipelajari dapat membantu perkembangan pribadi dan lingkungannya.
METODE
Penelitian ini merupakan studi survei yang memberikan rincian tentang fakta dan deskripsi pengalaman peserta didik di 11 SMK Swasta sekecamatan Pesanggrahan Jakarta
Selatan, mengenai kemampuan
konsep dan pembelajaran matematika menggunakan pendekatan kontekstual. Adapun populasi pada penelitian ini adalah peserta
didik seluruh SMK Swasta di Kecamatan Pesanggrahan Jakarta Selatan. Metode
pengambilan sampel didasarkan pada kenyamanan atau sesuai keinginan.
Responden sebagai sampel dalam penelitian
ini berjumlah 1125 peserta didik yang terdiri dari 579 peserta didik perempuan
dan 546 peserta didik laki-laki.
Instrumen penelitian menggunakan kuesioner yang dapat mengukur kemampuan konsep dan pembelajaran matematika peserta didik. Kuesioner telah diverifikasi oleh para ahli sebagai instrumen penelitian. Kuesioner dievaluasi oleh dua orang ahli penilaian dan pendidikan sebelum digunakan sebagai alat pengumpulan data. Selanjutnya, statistik deskriptif dengan persentase dan analisis jawaban dalam bentuk
deskriptif untuk mengevaluasi kemampuan konsep dan pembelajaran matematika peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk
menjelaskan informasi yang diperoleh dari kuesioner yang mengukur kemampuan konsep siswa terhadap pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual.
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Gambar 1. Kendala Belajar Siswa
Dari gambar diatas dapat dilihat
bahwa siswa mengalami kesulitan di berbagai hal seperti
memahami rumus. 59.7% siswa mengalami kesulitan memahami rumus dikarenakan terlalu banyak rumus yang sulit dipahami. Hal ini ditemukan juga pada penelitian sebelumnya yaitu penelitian yang dilakukan oleh (Mutia, 2019) yang menyatakan
bahwa di dalam penguasaan konsep, siswa masih mengalami
kesulitan dalam menggunakan rumus. Adapun selain kesulitan memahami rumus, siswa juga mengalami kesulitan dalam perhitungan yang sulit yaitu 43%, tidak mengetahui manfaat belajar matematika 21.8%, dan penjelasan
guru yag sulit dipahami 24.2%.
1. Pendekatan Kontekstual
Bagian pada pembahasan
ini bertujuan untuk mengetahui dan menelusuri pentingnya pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual berdasarkan pandangan siswa. Perhatikan tabel berikut.
Tabel 1. Persentase Pernyataan Pendekatan Kontekstual
|
No |
Pernyataan |
Sangat Setuju (%) |
Setuju (%) |
Tidak Setuju (%) |
Sangat Tidak Setuju (%) |
||
|
1 |
Saya merasa bahwa mengaitkan kehidupan sehari-hari dapat membantu saya memahami materi dalam pelajaran matematika |
8,9 |
42,8 |
38,9 |
9,4 |
|
|
|
2 |
Saya mengetahui manfaat setiap materi pembelajaran matematika dalam kehidupan sehari-hari. |
4 |
36,2 |
47 |
12,8 |
|
|
|
3 |
Guru di sekolah saya mengaitkan materi matematika dgn khdupan sehari
-hari. |
4,7 |
31,3 |
48,3 |
15,7 |
|
|
|
4 |
Saya selalu menemukan hal-hal baru dalam kehidupan
sehari-hari selama belajar matematika |
6,9 |
32,8 |
46 |
14,3 |
|
|
|
5 |
Saya membangun/menyusun pengetahuan matematika berdasarkan pengalaman. |
3,6 |
33,2 |
48,1 |
15,1 |
|
|
|
6 |
Saya merasa mengaitkan pengalaman dalam pembelajaran matematika itu penting |
11,1 |
46,6 |
31,3 |
10,9 |
|
|
Dari tabel persentase
dapat dilihat pada pernyataan 1,2,4,5 dan 6, bahwa siswa menyadari pentingnya pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual. Hal tersebut dapat dilihat besarnya persentase kesadaran anak yang setuju bahwa mengaitkan kehidupan sehari-hari dengan pembelajaran matematika sangat penting dan dapat membantu siswa untuk lebih
memahami isi materi, hal ini
sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Razi, 2018), yang menyatakan
bahwa pentingnya suatu pendekatan pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan pemahaman matematis, maka diperlukan adanya pembelajaran yang menekankan pada belajar siswa aktif dengan
berbekal kemampuan pemahaman, siswa akan menguasai matematika lebih banyak, serta mampu
memahami matematika dalam kehidupan sehari-hari, hal demikian dapat terwujud melalui pembelajaran dengan pendekatan kontekstual.� Namun pada pernyataan 3, masih banyak siswa yang belajar matematika tidak dengan menggunakan
pendekatan kontekstual. Hal
ini dikarenakan guru yang mengajar disekolah tersebut masih mengajar secara konvensional dan langung mengenalkan rumus tanpa mengaitkan hal-hal matematis yang penting ke pengalaman
siswa.
Pentingnya pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual akan berdampak besar terhadap kemampuan pemahaman konsep matematis siswa.
2.
Pemahaman Konsep Matematis Siswa
Tabel 2. Persentase Pernyataan Pemahaman Konsep Matematis Siswa
|
No |
Pernyataan |
Sangat Setuju (%) |
Setuju (%) |
Tidak Setuju (%) |
Sangat Tidak Setuju (%) |
|
1 |
Saya mampu menjelaskan materi yang telah saya pelajari
dengan bahasa saya sendiri |
4,9 |
32,6 |
49,1 |
13,4 |
|
2 |
Saya mampu memberikan contoh dari konsep matematika
yang telah dipelajari. |
1,9 |
30.8 |
51,5 |
15,8 |
|
3 |
Saya mampu menentukan konsep apa saja yang terkandung pada persoalan matematika. |
0,3 |
27 |
58,4 |
14,3 |
|
4 |
Saya mampu mengidentifikasikan masalah berdasarkan konsep yang telah dipelajari |
4,3 |
32,5 |
47,5 |
15,7 |
|
5 |
Saya mampu menerapkan konsep matematika dalam menyelesaikan permasalahan matematika |
1,9 |
34,7 |
50,2 |
13,2 |
|
6 |
Saya mampu memilih formula/rumus matematika yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan matematika. |
3,3 |
34,5 |
46,6 |
15,7 |
|
7 |
Saya mengikuti prosedur pemecahan masalah untuk menyelesaikan sebuah soal cerita. |
5,9 |
37,9 |
43,6 |
12,6 |
|
8 |
Saya menggunakan konsep matematika dalam menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. |
1,9 |
24,7 |
55,5 |
17,9 |
���������������
Perhatikan tabel 2 diatas. Berdasarkan hasil persentase pada tabel 2, kemampuan konsep matematis siswa masih kurang. Pada pernyataan 1, dapat disimpulkan bahwa siswa masih kurang
mampu dalam menjelaskan materi yang telah dipelajar dengan bahasanya sendiri. Pada pernyataan 2, dapat disimpulkan siswa kurang mampu
memberikan contoh dari konsep matematika
yang telah dipelajari. Pada
pernyataan 3, dapat disimpulkan siswa kurang mampu untuk
menentukan konsep apa saja yang terkandung
pada sebuah persoalan matematika. Pada pernyataan 4, dapat disimpulkan siswa kurang mampu
dalam mengidentifikasikan masalah sesuai dengan konsep yg
telah dipelajari. Pada pernyataan 5, siswa kurang mampu dalam
menerapkan konsep matematika dalam menyelesaikan sebuah permasalahan matematika. Pada pernyataan 6, dapat disimpulkan bahwa siswa kurang mampu
dalam menentukan rumus yang tepat dalam menyelesaikan permasalahan matematika. Pada pernyataan 7, dapat disimpulkan siswa masih kesulitan dalam memahami prosedur dalam memecahkan masalah matematika. Pada pernyataan 8, dapat disimpulkan siswa masih kurang
menerapkan konsep matematika yang telah diajarkan kedalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan
hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Oktoviani, Widoyani, & Ferdianto, 2019), yang menyatakan
bahwa bahwa kemampuan pemahaman konsep matematis siswa masih dikategorikan
rendah, faktor yang mempengaruhi rendahnya hasil persentase pemahaman konsep matematika siswa yaitu kurangnya konsentrasi belajar siswa, kebiasaan belajar yang tidak teratur dan metode pembelajaran yang digunakan kurang menarik.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil temuan penelitian
ini, kemampuan konsep siswa di 11 SMK Swasta sekecamatan Pesanggrahan Jakarta Selatan masih
rendah dan guru perlu menerapkan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika. Guru perlu meningkatkan kesadaran siswa terhadap pentingnya mengaitkan sebuah pengalaman pada kehidupan sehari-hari kedalam pembelajaran matematika. Pengenalan konsep matematika dengan menghubungkan pengalaman siswa akan sangat membantu siswa dalam memahami akan pentingnya belajar matemtika. Hal tersebut akan diharapkan
akan meningkatkan kemampuan konsep matematis siswa 11 SMK Swasta sekecamatan Pesanggrahan Jakarta Selatan.
BILBILOGRAPHY
Brinus, Kristianti Sry
Wahyuningsih, Makur, Alberta Parinters, & Nendi, Fransiskus. (2019).
Pengaruh Model Pembelajaran Kontekstual terhadap Pemahaman Konsep Matematika
Siswa SMP. Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, 8(2). https://doi.org/10.31980/mosharafa.v8i2.439
Darmadi, D. R. Hamid, & Pd, M. (2019). Pengantar pendidikan era
globalisasi: Konsep dasar, teori, strategi dan implementasi dalam pendidikan
globalisasi. An1mage.
Dini, Mentari, Nuraeni, Nuraeni, & Anita, Ika Wahyu. (2018).
Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Matematis Siswa SMK Menggunakan Pendekatan
Kontekstual Pada Materi SPLTV. IndoMath: Indonesia Mathematics Education,
1(1). https://doi.org/10.30738/indomath.v1i1.2218
Ilyas, M., & Basir, F. (2016). Analysis Of Student�s Conceptual
Understanding Of Mathematics On Set At Class VII SMP Frater Palopo. Prosiding
ICMSTEA 2016.
Maryati, Iyam. (2018). Peningkatan Kemampuan Penalaran Statistis Siswa
Sekolah Menengah Pertama Melalui Pembelajaran Kontekstual. Mosharafa: Jurnal
Pendidikan Matematika, 6(1).
https://doi.org/10.31980/mosharafa.v6i1.300
Mawaddah, Siti, & Maryanti, Ratih. (2016). Kemampuan pemahaman konsep
matematis siswa SMP dalam pembelajaran menggunakan model penemuan terbimbing
(discovery learning). Edu-Mat: Jurnal Pendidikan Matematika, 4(1).
Mullis, I. V. S., Martin, M. O., Foy, P., & Hooper, M. (2016). TIMSS
2015 International Results in Mathematics. Retrieved from Boston College, TIMSS
& PIRLS International Study Center. International Review of the Red
Cross, 3(30).
Mutia, Mutia. (2019). Analisis Kesulitan Belajar Matematika Siswa SMP
Kelas IX dalam Memahami Konsep Tabung dan Alternatif Pemecahannya dengan
Pendekatan Pemecahan Masalah. Jurnal Equation: Teori Dan Penelitian
Pendidikan Matematika, 2(1). https://doi.org/10.29300/equation.v2i1.2305
Nurdin, Erdawati, Ma�aruf, Aulia, Amir, Zubaidah, Risnawati, Risnawati,
Noviarni, Noviarni, & Azmi, Memen Permata. (2019). Pemanfaatan video
pembelajaran berbasis Geogebra untuk meningkatkan kemampuan pemahaman konsep
matematis siswa SMK. Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 6(1).
https://doi.org/10.21831/jrpm.v6i1.18421
Oktoviani, Vika, Widoyani, Wiris Laras, & Ferdianto, Ferry. (2019).
Analisis kemampuan pemahaman matematis siswa SMP pada materi sistem persamaan
linear dua variabel. Edumatica : Jurnal Pendidikan Matematika, 9(1).
https://doi.org/10.22437/edumatica.v9i1.6346
PISA. (2016). PISA 2015 Results in Focus. In OECD.
Razi, Zulfa. (2018). Pembelajaran Dengan Pendekatan Kontekstual Untuk
Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Matematis. In Jurnal Peluang (Vol. 6).
Rosmaiyadi, Rosmaiyadi, Mariyam, Mariyam, & Juliyanti, Juliyanti.
(2018). Pemahaman Konsep Matematis Siswa Dengan Strategi Pembelajaran Group To
Gruop Exchange Berpendekatan Kontekstual. Jurnal Penelitian Dan Pembelajaran
Matematika, 11(1). https://doi.org/10.30870/jppm.v11i1.2993
Salim Nahdi, Dede. (2019). Keterampilan Matematika Di Abad 21. Jurnal
Cakrawala Pendas, 5(2). https://doi.org/10.31949/jcp.v5i2.1386
Sunarto, Muhammad Trisapto, Laa, Sonia Putri Yesmaya Oria, Mahtuum,
Zanjabila Ar rahiiqil, Siagian, Gabriel Torang, & Afrilianto, M. (2021).
Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Matematis Siswa SMP melalui Pendekatan
Kontekstual. Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, 10(1).
https://doi.org/10.31980/mosharafa.v10i1.730
Winata, Rahmat, & Friantini, Rizki Nurhana. (2020). Kemampuan
Pemahaman Konsep Matematika Siswa Ditinjau Dari Minat Belajar Dan Gender. AlphaMath :
Journal of Mathematics Education, 6(1).
https://doi.org/10.30595/alphamath.v6i1.7385
Zakiah, Nur Eva, Sunaryo, Yoni, & Amam, Asep. (2019). Implementasi
Pendekatan Kontekstual Pada Model Pembelajaran Berbasis Masalah Berdasarkan
Langkah-Langkah Polya. Teorema: Teori Dan Riset Matematika, 4(2).
https://doi.org/10.25157/teorema.v4i2.2706