PENGARUH MODAL KERJA DAN PENJUALAN TERHADAP LABA BERSIH PADA PT MULIA INDUSTRINDO TBK JAKARTA

 

Andi Silvan

STIE Manajemen Bisnis

[email protected]

 

Keywords

Abstract

Working Capital, Sales Net Profit, Net Profit Tbk.

Limited Liability Company is a legal entity which is a capital partnership, established based on an agreement, conducting business activities with initial capital which is entirely divided into shares and fulfills the requirements stipulated in the Law and its implementing regulations. The research method used is a qualitative method. The sampling technique used in this study is nonprobability sampling. During the analysis period, working capital tends to be negative because the cost of goods sold associated with material prices continues to increase and the company eventually increases trade payables to suppliers. So that with negative working capital it causes negative current year profit or suffers a loss. The third hypothesis (H3) is H03 rejected and Ha3 accepted, which means that there is a relationship and influence between working capital and sales variables simultaneously on net income. The conclusion from the influence test in this study shows that working capital and sales variables simultaneously have an effect of 51.1% on net income. The results of this study are expected to provide knowledge in development efforts and become a reference for researchers.

Kata Kunci

Abstrak

Modal Kerja, Penjualan Laba Bersih, Laba Bersih Tbk.

Perseroan Terbatas adalah suatu badan hukum yang merupakan persekutuan modal, berdiri berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal awal yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang serta peraturan pelaksanaannya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah nonprobability sampling. Selama periode analisis, modal kerja cenderung negatif dikarenakan beban pokok penjualan yang terkait harga bahan terus meningkat dan perusahaan akhirnya meningkatkan utang usaha kepada pemasok. Sehingga dengan modal kerja yang negatif menyebabkan laba tahun berjalan negatif atau menderita kerugian. Hipotesis ketiga (H3) adalah H03 ditolak dan Ha3 diterima, yang berarti terdapat hubungan dan pengaruh antara variabel modal kerja dan penjualan secara simultan terhadap laba bersih. Kesimpulan dari uji pengaruh dalam penelitian ini menunjukkan variabel modal kerja dan penjualan secara simultan berpengaruh sebesar 51,1% terhadap laba bersih. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dalam upaya pengembangan dan menjadi referensi untuk peneliti.

Corresponding Author: Andi Silvan�

E-mail: [email protected]

 


 

PENDAHULUAN

Berdasarkan Pasal 1 UUPT No.40 Tahun 2007 pengertian PT adalah suatu badan hukum yang merupakan persekutuan modal, berdiri berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal awal yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang serta peraturan pelaksanaannya. Dalam menjalankan Perseroan Terbatas modal saham yang dimiliki bisa dijual kepada pihak lain yang artinya sangat memungkinkan terjadi perubahan organisasi atau kepemilikan perusahaan tanpa harus membubarkan dan mendirikan perusahaan Kembali (Arikunto, 2016). Setiap orang dapat memiliki lebih dari satu saham yang menjadi bukti kepemilikan perusahaan.

Perseroan terbatas dibentuk berdasarkan kesepakatan, maka pendiri perseroan terbatas didirikan dengan minimal 2 orang, sebelum didirikannya perseroan terbatas maka dilakukan� perjanjian antara dua belah pihak yang bersangkutan dan harus diketahui oleh notaris dan dibuat akta untuk mendapat pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi� Manusia sebelum resmi menjadi Perseroan Terbatas, untuk mendapat izin dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, harus memenuhi syarat yaitu Perseroan tidak bertentangan dengan ketertiban umum dan kesusilaan, akta pendiri yang memenuhi syarat yang ditetapkan Undang-Undang dan paling sedikit modal untuk disetor adalah 25% dari modal dasar sesuai UU No. 40 Tahun 2007 (Wijoyo, 2021).

Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan sistem juga sarana untuk mempertemukan penawaran jual dan beli efek dari pihak-pihak lain yang ingin memperdagangkan Efek tersebut (Putra, 2023). Dengan tersedianya sarana atau sistem yang baik para anggota Bursa Efek dapat melakukan penawaran jual dan beli Efek secara teratur, wajar, dan efisien.

Bursa Efek Indonesia merupakan Bursa hasil penggabungan dari Bursa Efek Jakarta (BEJ) dengan Bursa Efek Surabaya (BES), Demi efektivitas operasional dan transaksi, pemerintah memutuskan untuk menggabungkan Bursa Efek Jakarta sebagai pasar saham dengan Bursa Efek Surabaya sebagai pasar obligasi dan derivatif menjadi BEI, Bursa hasil penggabungan ini mulai beroperasi pada 1 Desember 2007 (Dewi & Markeling, 2020).

Berdasarkan kegiatan utama jenis perusahaan dapat digolongkan menjadi perusahaan jasa, perusahaan dagang dan perusahaan manufaktur. Dari beberapa jenis perusahaan, ada beberapa perusahaan yang laporan keuangannya tergolong terbuka atau transparan dan menjual sahamnya kepada masyarakat melalui pasar modal, jadi sahamnya ditawarkan kepada umum dan diperjualbelikan melalui bursa saham.

Setiap perusahaan pada dasarnya mendirikan perusahaan bertujuan untuk memberikan keuntungan (laba) yang maksimal bagi pemiliknya (Ismanto, 2021.). Laba bagi perusahaan menggambarkan tentang pertumbuhan perusahaan, selain itu laba juga sebagai pengukur kinerja keuangan perusahaan. Perusahaan yang memiliki kinerja keuangan yang baik akan berdampak bagi perusahaan dalam menarik investor baru maupun mempertahankan investor yang lama, dengan tujuan untuk meningkatkan investasi pada modal kerja dalam aktiva lancar. Laba salah satu tujuan penting bagi perusahaan dalam meningkatkan pertumbuhan perusahaan. Laba dapat diartikan sebagai kelebihan dari hasil penghasilan atas biaya yang dikeluarkan selama satu periode akuntansi. Informasi tersebut berguna bagi pihak internal dan pihak eksternal perusahaan (Darminto, 2019).

Laba bagi pihak internal perusahaan salah satunya sebagai penambahan modal untuk mendapatkan kesempatan berinvestasi semakin tinggi (Fauzi, 2019). Laba bagi pihak eksternal perusahaan sebagai daya tarik bagi pihak yang ingin menanamkan modalnya dan juga sebagai alat ukur dalam pengambilan suatu keputusan bagi investor maupun bagi peminjam modal. Untuk mencapai tujuan perusahaan tersebut perlu pengetahuan yang baik tentang akuntansi untuk membantu pihak perusahaan dalam mengelola keuangan perusahaan, dimana keuangan perusahaan merupakan aspek penting dalam kelangsungan pertumbuhan perusahaan (Keempat., 2018).�

Untuk menghasilkan laba perusahaan pihak manajemen perlu mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi laba. Perusahaan perlu memperhatikan pendapatan yang diterima dan pengeluaran yang dilakukan selama kegiatan operasi berlangsung, agar perusahaan dapat menghasilkan laba yang diinginkan demi keberlangsungan usahanya (Jakarta:, 2017). Jika pendapatan lebih besar dari beban maka perusahaan akan memperoleh laba atau disebut laba bersih dan sebaliknya jika pendapatan lebih kecil dari biaya yang dikeluarkan maka perusahaan akan mengalami kerugiaan atau rugi bersih.

Laba bersih menurut peneliti, merupakan laba yang telah dikurangi biaya-biaya yang merupakan beban perusahaan dalam suatu periode tertentu termasuk pajak (Kasmir, 2021). Sehingga beberapa faktor yang dapat mempengaruhi laba bersih antara lain naik turunnya harga jual produk/ barang yang dijual, naik turunnya harga pokok penjualan, naik turunnya biaya usaha yang dipengaruhi jumlah barang produk/ barang yang dijual, naik turunnya pos penghasilan atau biaya non operasional, naik turunnya pajak perseroan, dan juga adanya perubahan dalam metode akuntansi (Suryani, 2021).

Manfaat penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan, bagi akademisi Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dalam upaya pengembangan dan menjadi referensi untuk peneliti selanjutnya dengan memodifikasi, menambah ataupun mengembangkan variabel serta sekaligus menambahkan koleksi perpustakaan mengenai pengaruh Modal kerja dan Penjualan terhadap Laba bersih.

 

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dan pengaruh antara dua variabel atau lebih. Dengan penelitian ini, dapat dibangun suatu teori yang dapat berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan dan mengontrol suatu gejala (Sinambela, 2022).

Teknik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah nonprobability sampling. Secara khusus bagian dari nonprobability sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah Purposive Sampling. Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian, serta tempat penelitian berada di PT Mulia Industrindo Tbk, Jakarta. Sehingga objek penelitian dalam penelitian ini adalah seluruh variabel yang akan diteliti yaitu modal kerja dan penjualan sebagai variabel bebas serta laba bersih sebagai variabel terikat.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Koefisien Korelasi

Koefisien Korelasi Parsial

Berikut hasil uji metode analisis koefisien korelasi secara parsial yang diperoleh dari hasil pengolahan SPSS.

Tabel 1. Hasil Koefisien Korelasi Parsial

Correlations

 

Modal Kerja

Penjualan

Laba Bersih

Modal Kerja

Pearson Correlation

1

-,280

,723**

Sig. (2-tailed)

 

121

,000

N

32

32

32

Penjualan

Pearson Correlation

-,280

1

-,067

Sig. (2-tailed)

�,121

 

,714

N

32

32

32

Laba Bersih

Pearson Correlation

,723**

-,067

1

Sig. (2-tailed)

,000

,714

 

N

32

32

32

Sumber: Hasil Output SPSS 26

Berdasarkan Tabel 1. menunjukkan hasil nilai koefisien korelasi antara variabel modal kerja (X1) terhadap variabel laba bersih (Y) adalah sebesar 0,723 dengan hasil nilai yang positif. Dan hasil nilai koefisien korelasi antara variabel penjualan (X2) dengan variabel laba bersih (Y) adalah sebesar -0,067 dengan hasil yang negatif.

Koefisien Korelasi Simultan

Berikut hasil uji metode analisis koefisien korelasi secara simultan yang diperoleh dari hasil pengolahan SPSS.

Tabel 2. Hasil Koefisien Korelasi Simultan

Model Summaryb

Model

R

R Square

Adjusted R Square

Std, Error of the Estimate

1

,736a

,542

,511

73022056.04

a.       Predictors: (Constant), Penjualan, Modal Kerja

b.      Dependent Variabel: Laba Bersih

Sumber: Hasil Output SPSS 26

Berdasarkan Tabel 2. menunjukkan bahwa hasil koefisien korelasi (R) antara variabel modal kerja (X1) dan variabel penjualan (X2) secara simultan dengan variabel laba bersih (Y) sebesar 0,736 dengan hasil nilai yang kuat dan positif.

Uji Koefisien Determinasi

Koefisien Determinasi Parsial

Berikut hasil uji metode koefisien determinasi secara parsial antara variabel modal kerja (X1) terhadap variabel laba bersih (Y).

Tabel 3. Hasil Uji Koefisien Determinasi Parsial (Modal kerja)

Model Summaryb

Model

R

R Square

Adjusted R Square

Std, Error of the Estimate

1

,723a

,523

,507

73329400.35

a.       Predictors: (Constant), Modal Kerja

Sumber: Hasil Output SPSS 26

Berdasarkan Tabel 3. menunjukkan bahwa hasil koefisien determinasi secara parsial (R square) antara variabel modal kerja (X1) terhadap laba bersih (Y) adalah sebesar 0,523. Sedangkan hasil uji metode koefisien determinasi secara parsial antara variabel penjualan (X2) terhadap variabel laba bersih (Y) adalah sebagai berikut:

Tabel 4. Hasil Uji Koefisien Determinasi Parsial (Penjualan)

Model Summary

Model

R

R Square

Adjusted R Square

Std, Error of the Estimate

1

,067a

,005

-,029

105890319.9

a.       Predictors: (Constant), Penjualan

Sumber: Hasil Output SPSS 26

Berdasarkan Tabel 4. menunjukkan bahwa hasil koefisien determinasi secara parsial (R square) antara variabel penjualan (X2) terhadap variabel laba bersih (Y) adalah sebesar 0,005.

Koefisien Determinasi Simultan

Berikut hasil Uji metode koefisien determinasi secara simultan yang diperoleh dari hasil pengolahan SPSS.

Tabel 5. Hasil Uji Koefisien Determinasi Simultan

Model Summaryb

Model

R

R Square

Adjusted R Square

Std, Error of the Estimate

1

,736a

,542

,511

73022056.04

a.       Predictors: (Constant), Penjualan, Modal Kerja

b.      Dependent Variable: Laba Bersih

Sumber: Hasil Output SPSS 26

Berdasarkan Tabel 5. menunjukkan nilai koefisien determinasi (Adjusted R square) antara variabel modal kerja (X1) dan variabel penjualan (X2) secara simultan terhadap variabel laba bersih (Y) adalah sebesar 0,511. Nilai tersebut menunjukkan bahwa kemampuan kombinasi variabel modal kerja (X1) dan variabel penjualan (X2) secara simultan dalam mempengaruhi variabel laba bersih (Y) adalah sebesar 51,1% dan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Regresi Linier Berganda

Berikut hasil analisis regresi linier berganda yang diperoleh dari hasil pengolahan SPSS.

Tabel 6. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda

Coefficientsa

 

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

 

B

Std. Error

Beta

t

Sig

1

(Constant)

-40581389.5

70332998.19

 

-577

568

Modal Kerja

203

035

764

5.838

000

Penjualan

060

054

146

1.119

272

a.       Dependent Variable: Laba Bersih

Sumber: Hasil Output SPSS 26

Berdasarkan analisis Tabel 6. dapat diperoleh persamaan regresi linier berganda dalam penelitian ini yaitu:

���������������������������� Y ���������� = 𝞪 +𝛃1.X1 + 𝛃2.X2 + e

���������������������������� Y����������� = -40,581,389.5+ 0,203X1 + 0,060X2 + e

Dimana:����������� Y����������� = Laba bersih

���������������������������� �𝞪��������� = Konstanta��������������������������������� = -40,581,389.5

���������������������������� 𝛃1��������� = Koefisien Regresi X1������������� = 0,203

���������������������������� 𝛃2��������� = Koefisien Regresi X2������������ = 0,060

���������������������������� X1��������� = Modal kerja

���������������������������� X2��������� = Penjualan

���������������������������� e����������� = Error

Persamaan regresi linier berganda tersebut dapat dinyatakan bahwa nilai konstanta variabel laba bersih (Y) yang diperoleh sebesar -40,581,389.5 dan nilai koefisien regresi untuk variabel modal kerja (X1) sebesar 0,203 serta nilai koefisien regresi untuk variabel penjualan (X2) sebesar 0,060.

Uji Hipotesis

Uji Statistik t

Berikut hasil uji hipotesis menggunakan uji t yang diperoleh dari hasil pengolahan SPSS.

Tabel 7. Hasil Uji Hipotesis (Uji t)

Coefficientsa

 

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

 

B

Std. Error

Beta

t

Sig

1

(Constant)

-40581389.5

70332998.19

 

-577

568

Modal Kerja

203

035

764

5.838

000

Penjualan

060

054

146

1.119

272

a.       Dependent Variable: Laba Bersih

Sumber: Hasil Output SPSS 26

Untuk pengujian hipotesis dengan menggunakan Uji t, diperlukan nilai t-tabel pada tabel distribusi t dengan taraf signifikansi 5% dengan jumlah N (sample) = 32 serta jumlah variabel bebas (k) = 2 atau df (degree of freedom) = 29 (df = N � k � 1 = 29) yaitu sebesar 2,045. Berdasarkan jumlah variabel bebas dan rumusan hipotesis pada butir 2.6, pengujian hipotesis dengan uji t akan dibagi menjadi 2 yaitu:

Uji Hipotesis Pertama

Rumusan hipotesis yang pertama dalam penelitian ini adalah �terdapat hubungan dan pengaruh antara variabel modal kerja (X1) terhadap variabel laba bersih (Y)�. berdasarkan tabel 4.15 diperoleh nilai t-hitung dari variabel modal kerja (X1) sebesar 5,838 dengan taraf signifikan 0,00. Maka nilai t-hitung 5,838 > 2,045 atau nilai taraf signifikansi 0,00 < 0,05. Sehingga hasil uji hipotesis pertama adalah H01 ditolak dan Ha1 diterima, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara variabel modal kerja (X1) dengan variabel laba bersih (Y).

Uji Hipotesis Kedua

Rumusan hipotesis kedua dalam penelitian ini adalah �terdapat hubungan dan pengaruh antara variabel penjualan (X2) terhadap variabel laba bersih (Y)�. berdasarkan tabel 4.15 diperoleh nilai t-hitung variabel penjualan (X2) sebesar 1,119 dengan taraf signifikan 0,272. Maka nilai t-hitung 1,119 < t-tabel 2,045 atau taraf signifikansi 0,272 > 0,05. Sehingga hasil uji hipotesis kedua adalah H02 diterima dan Ha2 ditolak, yang artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel penjualan (X2) dengan variabel laba bersih (Y).

Uji Statistik F

Berikut hasil uji hipotesis menggunakan uji F yang diperoleh dari hasil pengolahan SPSS.

Tabel 8. Hasil Uji Hipotesis (Uji F)

ANOVAa

 

Model

B

Std. Error

Beta

F

Sig

1

Regression

1.833E+17

2

9.164E+16

17.186

000b

Residual

1.546E+17

29

5.332E+15

 

 

Total

3.379E+17

31

 

 

 

a.       Dependent Variable: Laba Bersih

b.      Predictors: (Constant), Penjualan, Model Kerja

 

Sumber: Hasil Output SPSS 26

Pengujian hipotesis dengan menggunakan Uji F adalah rumusan hipotesis yang ketiga dalam penelitian ini yaitu �terdapat hubungan dan pengaruh antara variabel modal kerja (X1) dan variabel penjualan (X2) secara simultan terhadap variabel laba bersih (Y)�. untuk menguji rumusan hipotesis tersebut, diperlukan nilai F-tabel pada tabel distribusi F dengan taraf signifikansi 5% pada df = 29 (df = N � k � 1 = 29) dan pada df pembilang = 2 yaitu sebesar 3,33. Berdasarkan Tabel 4.15 diperoleh nilai F-hitung = 17,186 > F-tabel = 3,33 atau taraf nilai signifikansi 0,00 < 0,05. Sehingga hasil uji hipotesis ketiga adalah H03 ditolak dan Ha3 diterima, yang artinya terdapat hubungan dan pengaruh yang signifikan antara variabel modal kerja (X1) dan variabel penjualan (X2) secara simultan terhadap variabel laba bersih (Y).

 

PEMBAHASAN

Koefisien Korelasi

Koefisien Korelasi Parsial

Berdasarkan Tabel 1. menunjukkan hasil nilai koefisien korelasi antara variabel modal kerja (X1) dengan variabel laba bersih (Y) sebesar 0,723 dengan hasil nilai yang positif. Selama periode analisis, modal kerja cenderung negatif dikarenakan beban pokok penjualan yang terkait harga bahan terus meningkat dan perusahaan akhirnya meningkatkan utang usaha kepada pemasok. Sehingga dengan modal kerja yang negatif menyebabkan laba tahun berjalan negatif atau menderita kerugian. Dan hasil nilai koefisien korelasi antara variabel penjualan (X2) dengan variabel laba bersih (Y) sebesar -0,067 dengan hasil nilai yang negatif. Di sisi lain, pendapatan yang cenderung meningkat tetap tidak bisa berbanding lurus dengan laba tahun berjalan karena hasil laba kotor yang belum maksimal akibat peningkatan Beban Pokok Penjualan. Laba Kotor yang positif namun nilainya tidak signifikan akhirnya terkikis oleh beban-beban operasional usaha, sehingga pendapatan meningkat namun laba tahun berjalan justru menurun.

Berdasarkan interpretasi Tabel 2. nilai koefisien korelasi antara variabel modal kerja (X1) dengan variabel laba bersih (Y) berada di antara interval 0,60 � 0,799 dengan interpretasi tingkat hubungan yang kuat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hubungan variabel modal kerja (X1) terhadap variabel laba bersih (Y) menghasilkan hubungan yang positif dengan tingkat hubungan yang kuat. Hubungan yang positif dapat diartikan sebagai hubungan variabel bebas yang berjalan searah dengan variabel terikat. Atau dapat diinterpretasikan jika variabel modal kerja (X1) mengalami kenaikan maka variabel laba bersih akan mengalami peningkatan dan sebaliknya, jika variabel modal kerja (X1) mengalami penurunan maka variabel laba bersih (Y) akan mengalami penurunan juga.

Sedangkan nilai koefisien korelasi antara variabel penjualan (X2) dengan variabel laba bersih (Y) berada di antara interval 0,00 � 0,199 dengan interpretasi tingkat hubungan yang sangat lemah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hubungan variabel penjualan (X2) terhadap laba bersih (Y) menghasilkan hubungan yang negatif dengan tingkat hubungan yang sangat lemah.

Koefisien Korelasi Simultan

Berdasarkan Tabel 3. nilai analisis koefisien korelasi (R) antara variabel modal kerja (X1) dan variabel penjualan (X2) secara simultan dengan variabel laba bersih (Y) sebesar 0,723 dengan hasil nilai yang positif. Dan dari Tabel 3.2 nilai tersebut berada diantara interval 0,60 � 0,799 dengan interpretasi tingkat hubungan yang kuat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hubungan variabel modal kerja (X1) dan penjualan (X2) secara simultan dengan variabel laba bersih (Y) menghasilkan hubungan yang positif dengan arah hubungan yang searah dan tingkat hubungan yang sedang (Schroeder, 2020).

Uji Koefisien Determinasi

Koefisien Determinasi Parsial

Berdasarkan hasil uji metode koefisien determinasi secara parsial pada Tabel 4. dan Tabel 3. diperoleh nilai (R square) antara variabel modal kerja (X1) terhadap variabel laba bersih (Y) sebesar 0,523 dan nilai (R square) antara variabel penjualan (X2) terhadap laba bersih (Y) sebesar 0,005. Dengan demikian nilai koefisien determinasi (KD) atau besaran persentase kemampuan variabel modal kerja (X1) secara parsial dalam mempengaruhi variabel laba bersih (Y) 52,3% dan nilai koefisien determinasi (KD) atau besaran persentase kemampuan variabel penjualan secara parsial dalam mempengaruhi variabel laba bersih hanya sebesar 0,5%.

Koefisien Determinasi Simultan

Berdasarkan Tabel 5. diperoleh nilai Adjusted R square sebesar 0,511. Adapun nilai koefisien determinasi (KD) atau besaran persentase kemampuan kombinasi variabel modal kerja (X1) dan variabel penjualan (X2) secara simultan dalam mempengaruhi variabel laba bersih (Y) diperlukan perhitungan sebagai berikut:

���������������������������� KD������� = Adjusted R2 x 100%

������������������������������������������ = 0,511 x 100%

������������������������������������������ = 51,1%

Artinya nilai koefisien determinasi (KD) atau persentase kemampuan yang diberikan oleh kombinasi variabel modal kerja (X1) dan variabel penjualan (X2) secara simultan dalam mempengaruhi variabel laba bersih sebesar 51,1% dan sisanya sebesar 48,9% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Persamaan Regresi

Berdasarkan hasil analisis regresi berganda pada Tabel 6. maka diperoleh persamaan regresi linier berganda dalam penelitian ini yaitu:

Y��� = ��� -40,581,389.5+ 0,203X1 + 0,060X2 + e

������������� Persamaan regresi linier berganda tersebut dapat dinyatakan bahwa nilai konstanta variabel laba bersih (Y) yang diperoleh sebesar -40,581,389.5 dan nilai koefisien regresi untuk variabel modal kerja (X1) sebesar 0,203 serta nilai koefisien regresi untuk variabel penjualan (X2) sebesar 0,060. Adapun interpretasi dari persamaan regresi linier berganda tersebut adalah:

�� =���� Nilai konstanta sebesar -40,581,389.5 menyatakan bahwa jika nilai variabel�� modal kerja (X1) dan variabel penjualan (X2) tetap atau tidak ada perubahan (peningkatan/penurunan) maka nilai konsistensi variabel laba bersih tetap sebesar -40,581,389.5

β1�� =���� Nilai koefisien regresi sebesar 0,203 menyatakan bahwa jika nilai variabel modal kerja (X1) bertambah 1 (satu) poin, maka nilai konsistensi variabel laba bersih akan mengalami peningkatan sebesar 0,203 dengan asumsi nilai variabel penjualan (X2) tidak ada perubahan (konstan) atau tetap.

β2� = ��Nilai koefisien regresi sebesar 0,060 menyatakan bahwa jika nilai variabel penjualan (X2) bertambah 1 (satu) poin, maka nilai konsistensi variabel laba akan mengalami peningkatan sebesar 0,060 dengan asumsi nilai variabel modal kerja (X1) tidak ada perubahan (konstan) atau tetap.

 

������������� Dengan demikian dapat diartikan bahwa perubahan nilai variabel modal kerja (X1) dan variabel penjualan (X2) akan mempengaruhi nilai variabel laba bersih pada PT Mulia Industrindo Tbk.


 

Hasil Uji Hipotesis

Uji Statistik t

Berdasarkan jumlah variabel bebas dan rumusan hipotesis pada butir 7. pengujian hipotesis dengan uji t akan dibagi menjadi 2 yaitu:

Uji Hipotesis Pertama

Rumusan hipotesis yang pertama dalam penelitian ini adalah �terdapat hubungan dan pengaruh antara variabel modal kerja (X1) terhadap variabel laba bersih (Y)� (Kasmir, 2021). berdasarkan tabel 4.15 diperoleh nilai t-hitung dari variabel modal kerja (X1) sebesar 5,858 dengan taraf signifikan 0,00. Maka nilai t-hitung = 5,838 > 2,045 atau nilai taraf signifikansi 0,000 < 0,05. Sehingga hasil uji hipotesis pertama adalah H01 ditolak dan Ha1 diterima, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara variabel modal kerja (X1) dengan variabel laba bersih (Y) (Sujarweni, 2019).

Uji Hipotesis Kedua

Rumusan hipotesis kedua dalam penelitian ini adalah �terdapat hubungan dan pengaruh antara variabel penjualan (X2) terhadap variabel laba bersih (Y)�. berdasarkan tabel 4.15 diperoleh nilai t-hitung variabel penjualan (X2) sebesar 1,119 dengan taraf signifikan 0,272. Maka nilai t-hitung = 1,119 < t-tabel = 2,045 atau taraf signifikansi 0,272 > 0,05. Sehingga hasil uji hipotesis kedua adalah H02 diterima dan Ha2 ditolak, yang artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel penjualan (X2) dengan variabel laba bersih (Y).

Uji Statistik F

Pengujian hipotesis dengan menggunakan Uji F adalah rumusan hipotesis yang ketiga dalam penelitian ini yaitu �terdapat hubungan dan pengaruh antara variabel modal kerja (X1) dan variabel penjualan (X2) secara simultan terhadap variabel laba bersih (Y)� (Hery, 2023). untuk menguji rumusan hipotesis tersebut, diperlukan nilai F-tabel pada tabel distribusi F dengan taraf signifikansi 5% pada df = 29 (df = N � k � 1 = 29) dan pada df pembilang = 2 yaitu sebesar 3,33. Berdasarkan Tabel 4.16 diperoleh nilai F-hitung = 17,186 > F-tabel = 3,33 atau taraf nilai signifikansi 0,00 < 0,05. Sehingga hasil uji hipotesis ketiga adalah H03 ditolak dan Ha3 diterima, yang artinya terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel modal kerja (X1) dan variabel penjualan (X2) secara simultan terhadap variabel laba bersih (Y).

 

Grafik Penerimaan H0 dan Penolakan H0

Grafik 1. Daerah Penerimaan H0 dan Penolakan H0

Sumber: Diolah, 2023

 

Hasil uji hipotesis pertama (H1) adalah H01 ditolak dan Ha1 diterima, yang berarti secara parsial terdapat hubungan dan pengaruh variabel modal kerja terhadap laba bersih. Hipotesis kedua (H2) adalah H02 diterima dan Ha2 ditolak, yang berarti secara parsial tidak terdapat hubungan dan pengaruh antara variabel penjualan terhadap laba bersih. Hipotesis ketiga (H3) adalah H03 ditolak dan Ha3 diterima, yang berarti terdapat hubungan dan pengaruh antara variabel modal kerja dan penjualan secara simultan terhadap laba bersih (Azwari, 2022).

 

KESIMPULAN

kesimpulan dari uji pengaruh dalam penelitian ini menunjukkan variabel modal kerja dan penjualan secara simultan berpengaruh sebesar 51,1% terhadap laba bersih. Sedangkan secara parsial uji pengaruh antara modal kerja terhadap laba bersih sebesar 52,3% dan penjualan terhadap laba bersih hanya sebesar 0,5%. Sehingga disarankan bagi manajemen perusahaan untuk lebih meningkatkan lagi penjualannya agar kedepannya dapat meningkatkan laba perusahaan yang lebih besar. Demikian juga untuk modal kerja agar tetap selalu positif dengan mengelola liabilitas jangka pendek untuk dapat mendanai operasional perusahaan yang berdampak pada peningkatan laba bersih sehingga meningkatkan aset lancar. Tidak lupa perusahaan harus tetap meningkatkan efisiensi pada beban usaha.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

REFERENSI

 

Arikunto, S. (2016). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik.

Jakarta:, W. (2017). Metode Penelitian Populer dan Praktis.

Sinambela, P. L. (2022). Metodologi Penelitian Kuantitatif: Teori dan Praktik. .

Azwari, P. C. (2022). Akuntansi Pengantar.

Hery, A. (2023). Memahami Laporan Keuangan dan Analisisnya.

Kasmir. (2021). Analisis Laporan Keuangan.

Schroeder, G. R. (2020). Teori Akuntansi Keuangan.

Wijoyo, H. d. ( 2021). Pengantar Bisnis.

Suryani, N. K. (2021). Pengantar Manajemen dan Bisnis.

Fauzi, F. (2019). Metode Penelitian untuk Manajemen dan Akuntansi: Aplikasi SPSS dan Eviews untuk Teknik Analisis Data.

Ismanto, H. d. (2021.). Aplikasi SPSS dan Views Dalam Analisis Data Penelitian.

Putra, I. M. (2023). Akuntansi (Sebuah Pengantar).

Sujarweni, V. W. (2019). Sistem Akuntansi.

Darminto, D. P. (2019). Analisis Laporan Keuangan (Konsep dan Aplikasi).

Keempat. (2018). Mulyadi. Sistem Akuntansi. .

Dewi, N. putu sunari, & Markeling, I. K. (2020). Peran Bursa Efek Indonesia Terhadap Pengawasan Perdagangan Waran. Kerta Semaya: Jurnal Ilmu Hukum, 1(1).