PENGARUH BUDAYA ORGANISASI DAN KEPEMIMPINAN SITUASIONAL TERHADAP KINERJA KARYAWAN MELALUI KEPUASAN KERJA SEBAGAI VARIABEL INTERVENING
Harmay Adhiguna1, Arif Hartono2
Universitas Islam
Indonesia
[email protected]1, [email protected]2
|
Keywords |
Abstract |
|
Organizational
Culture, Situational Leadership, Job Satisfaction, Employee Performance |
This
study aims to examine and analyze the influence of Organizational Culture and
Situational Leadership on Employee Performance which is mediated by Job
Satisfaction for Employees of the Land Office of Sleman Regency. This study
used quantitative methods, data were collected using questionnaire techniques
and additional research fact-finding using interview methods. The method is
used to be a reference to the hypothesis that is not proven. The respondents
of this study were 197 employees at the Sleman District Land Office. This
study has seven hypotheses with SEM analysis and uses the PLS analysis
method. In this study, researchers discussed the relationship between the
influence of Organizational Culture and Situational Leadership on Performance
mediated by Job Satisfaction at the Sleman District Land Office. The results
of the analysis of this study are the first hypothesis is accepted, the
second hypothesis is rejected, the third hypothesis is rejected, the fourth
hypothesis is accepted, the fifth hypothesis is accepted, the sixth
hypothesis is accepted and the seventh hypothesis is rejected. |
|
Kata Kunci |
Abstrak |
|
Budaya Organisasi,
Kepemimpinan Situasional, Kepuasan Kerja, Kinerja Karyawan. |
Setiap
organisasi harus mengetahui
dan memahami budaya organisasinya secara spesifik, karena setiap budaya
organisasi memiliki keunikan yang berbeda satu sama lain. Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk menguji dan
menganalisis pengaruh Budaya
Organisasi dan Kepemimpinan Situasional Terhadap Kinerja Karyawan yang
dimediasi oleh Kepuasan Kerja pada Pegawai Kantor Pertanahan Kabupaten
Sleman. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, data yang dikumpulkan
dengan teknik kuesioner dan tambahan penemuan fakta penelitian dengan
menggunakan metode wawancara. Metode tersebut digunakan untuk menjadi
referensi pada hipotesis yang tidak terbukti. Responden penelitian ini adalah
sebanyak 197 pegawai di Kantor Pertanahan Kabupaten Sleman. Penelitian ini
memiliki tujuh hipotesis dengan analisis SEM dan menggunakan metode analisis
PLS. Pada penelitian ini peneliti membahas
terkait hubungan antara pengaruh Budaya Organisasi dan Kepemimpinan
Situasional terhadap Kinerja yang dimediasi oleh Kepuasan Kerja pada Kantor
Pertanahan Kabupaten Sleman. Hasil analisis dari penelitian ini adalah hipotesis
pertama diterima, hipotesis kedua ditolak, hipotesis ketiga ditolak,
hipotesis keempat diterima, hipotesis kelima diterima, hipotesis keenam
diterima dan hipotesis ketujuh ditolak. |
Corresponding
Author: Harmay Adhiguna
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Dalam era globalisasi yang sangat sarat dengan
perubahan, perubahan sering terjadi begitu cepat dan sangat sulit diprediksi
namun sangat besar dampaknya bagi masa depan organisasi, kehadiran budaya
organisasi yang fleksibel menjadi semakin relevan. Oleh karena itu penting bagi
setiap organisasi mengetahui dan memahami budaya organisasinya secara spesifik,
karena setiap budaya organisasi memiliki keunikan yang berbeda satu sama lain.
Penelitian
sebelumnya menunjukkan bahwa prestasi kerja dipengaruhi oleh budaya organisasi (Pujiono et al., 2020). Hal ini juga didukung oleh
penelitian lain yang menemukan bahwa ada korelasi positif dan signifikan antara
budaya organisasi dengan kinerja karyawan (Soomro & Shah, 2019).
Selain budaya organisasi, kepemimpinan juga
mempunyai peran yang sangat penting untuk memenuhi berbagai kebutuhan dan
menciptakan lingkungan kerja yang baik. Pada penelitian sebelumnya menemukan
bahwa perilaku kepemimpinan karismatik, direktif, dan partisipatif memberikan
kontribusi positif terhadap kinerja karyawan (Ngarawula & Rozikin, 2021). Hal ini juga didukung oleh
penelitian lain yang menemukan bahwa Kinerja karyawan dipengaruhi positif oleh
kepemimpinan situasional, tetapi tidak signifikan (Wuryani et al., 2021).
Untuk bisa mendapatkan kinerja yang berkualitas
yang dicapai oleh organisasi sangat penting bagi karyawan untuk memiliki
kepuasan kerja dari tempat mereka bekerja hal ini supaya bisa memberikan
pekerjaan yang optimal bagi diri sendiri dan organisasi. Pada penelitian
sebelumnya menemukan bahwa penelitiannya mendukung teori yang dimana
teori tersebut percaya bahwa jika kepuasan kerja tinggi, maka karyawan akan
bekerja dengan baik dan memberikan kinerja yang baik (Hendri, 2019). Kemudian penelitian lain juga menemukan bahwa kepuasan
kerja mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja (Hazriyanto et al., 2019).
Dalam setiap organisasi pasti memiliki budaya
yang berbeda-beda antara organisasi satu dengan yang lainnya sehingga pemimpin
harus memahami budaya organisasi di tempat mereka bekerja. Dalam jangka waktu
yang lama berdasarkan nilai-nilai inti, norma dan harapan yang memengaruhi
individu maupun organisasi budaya organisasi telah mengalami perkembangan.
Sehingga evaluasi terhadap budaya organisasi dibutuhkan untuk mengembangkan dan
meningkatkan kualitas individu maupun organisasi agar menjadi lebih baik namun
hal tersebut tidak mudah serta membutuhkan usaha dan waktu. Karena pentingnya
peran dari budaya organisasi yang dapat memengaruhi kepuasan dan kinerja
karyawan di dalam sebuah organisasi peneliti mempunyai pandangan bahwa budaya
organisi merupakan variabel yang tidak pernah termakan oleh jaman karena setiap
organisasi memiliki karakter budaya yang berbeda-beda antara satu organisasi
dengan organisasi yang lainnya, termasuk budaya organisasi yang ada di dalam
Kantor Pertanahan Kabupaten Sleman. Selain itu Kantor Pertanahan Kabupaten
Sleman merupakan organisasi yang ada di bawah Kementerian Agraria dan Tata
Ruang atau organisasi pemerintah sehingga membuat peneliti tertarik untuk
mengetahui pengaruh dari budaya organisasi terhadap kinerja para pegawai yang
ada di dalam organisasi tersebut. Berlandaskan pada era reformasi seperti
sekarang ini masyarakat menginginkan segala pengurusan lebih cepat, efektif dan
efisien. Itu sebabnya pelaksanaan pelayanan publik dituntut untuk dapat
memberikan layanan yang prima. Untuk mewujudkan hal tersebut pemerintah
dituntut untuk berbenah sebagai salah satu bentuk tanggung jawab terhadap
masyarakatnya. Karena peningkatan kualitas pelayanan publik adalah salah satu
isu yang sangat penting. Sehingga penelitian ini berfokus pada budaya
organisasi dan kepemimpinan situasional terhadap kinerja karyawan dengan
kepuasan kerja karena variabel-variabel tersebut merupakan hal yang penting dan
tidak bisa dipisahkan untuk sebuah organisasi.
Peran dari budaya organisasi dan kepemimpinan
situasional sangat diperlukan untuk meningkatkan kepuasan kerja guna
menghasilkan kinerja karyawan yang dapat berdampak pada pelayanan yang
diberikan. Dengan adanya kepuasan kerja yang baik, maka karyawan dapat bekerja
semaksimal mungkin sehingga masyarakat yang dilayani akan merasa lebih puas.
Berdasarkan fenomena yang ada dan berbagai teori serta adanya penelitian
sebelumnya sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang lebih
mendalam mengenai masalah tersebut.
Dalam penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa prestasi kerja
dipengaruhi oleh budaya organisasi (Arifin, 2017). Hal ini juga didukung
oleh penelitian lain yang menemukan bahwa ada korelasi positif dan
signifikan antara budaya organisasi dengan kinerja karyawan (Muis et al., 2018). Selain budaya organisasi,
Kepemimpinan juga mempunyai peran yang sangat penting untuk memenuhi berbagai
kebutuhan dan menciptakan lingkungan kerja yang baik. Peneliti sebelumnya
menemukan bahwa perilaku kepemimpinan karismatik, direktif, dan partisipatif
memberikan kontribusi positif terhadap kinerja karyawan (Hasyim, 2022). Hal ini juga didukung
oleh penelitian lain yang menemukan bahwa Kinerja karyawan dipengaruhi positif
oleh kepemimpinan situasional, tetapi tidak signifikan (Al�asqolaini & Sukiman, 2016). Untuk bisa mendapatkan
kinerja yang berkualitas yang dicapai oleh organisasi sangat penting bagi
karyawan untuk memiliki kepuasan kerja dari tempat mereka bekerja hal ini
supaya bisa memberikan pekerjaan yang optimal bagi diri sendiri dan organisasi.
KERANGKA TEORI
1.
Budaya Organisasi
Peneliti mendefinisikan budaya
organisasi merupakan sekumpulan prinsip-prinsip dasar, nilai-nilai dan
keyakinan yang menjadi landasan bagi praktek manajemen dan sistem serta mengacu
pada perilaku yang meningkatkan dan menguatkan prinsip-prinsip tersebut. Budaya
perusahaan memiliki karakteristik-karakteristik yang dapat dijadikan dimensi
dan indikator apakah budaya perusahaan itu kuat atau lemah. Dimensi yang
digunakan dalam penelitian ini yaitu: Mission
Dimension (Dimensi Misi), Involvement
Dimension (Dimensi Keterlibatan), Adaptability
Dimension (Dimensi Adaptasi), Consistency
Dimension (Dimensi Konsistensi).
2.
Kepemimpinan
Situasional
Gaya kepemimpinan
yang menyesuaikan situasi dikenal dengan Kepemimpinan Situasional. Dalam
menerapkan kepemimpinan situasional, pemimpin harus mampu membangun hubungan
yang baik antara pemimpin dan karyawan. Dimensi yang digunakan dalam penelitian
ini yaitu:
Delegation Style,
Participating Style, Selling Style, Telling Style.
3.
Kepuasan Kerja
Menurut penelitian
kepuasan
kerja adalah perasaan positif yang dihasilkan dari penilaian karyawan terhadap
pekerjaan mereka berdasarkan seberapa baik mereka melihat pekerjaan mereka,
yang menunjukkan bahwa apa yang mereka lakukan di tempat kerja sudah memenuhi
standar yang dianggap penting. Peneliti menyatakan terdapat lima
dimensi yaitu: pekerjaan itu sendiri, upah, kesempatan promosi, pengawasan, rekan kerja.
4.
Kinerja Karyawan
Kinerja karyawan
adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh karyawan dalam mengemban
pekerjaannya yang didasarkan atas kuantitas, kualitas, ketepatan waktu,
kehadiran, dan kemampuan bekerja sama. Studi ini menggunakan dimensi sebagai
berikut: Kuantitas, Kualitas, Ketepatan, Kehadiran, Kemampuan Bekerjasama.
Gambar Kerangka
Teori
(XI) (Z) (Y) (X2) H3 H6 H7 H5 H4 H1 H2
Budaya
Organisasi
Kepuasan
Kerja
Kinerja
Kepemimpinan
situasional
METODE PENELITIAN
Penelitian ini berlokasi di Kantor Pertanahan
Kabupaten Sleman yang terletak di Jl. Dr. Radjimin, Paten, Kelurahan Tridadi,
Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Survei
penelitian dilakukan pada awal bulan Agustus 2022 (� 1 bulan). Penelitian ini dilakukan untuk
menjelaskan hubungan tiga variabel yaitu variabel bebas yang meliputi Budaya
Organisasi (X1) dan Kepemimpinan Situasional (X2). Variabel intervening Kepuasan
Kerja (Z) dengan variabel terikat yaitu Kinerja Karyawan (Y). Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, dalam
penelitian ini penulis menggunakan dua sumber data, yaitu data primer dan data
sekunder, metode pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan kuesioner. Dalam
penelitian ini, populasinya adalah semua Pegawai Kantor Pertanahan Kabupaten
Sleman, yang totalnya berjumlah 197 orang. Terdiri dari 98 Pegawai Negeri
Sipil, 61 Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri dan 38 Asisten Surveior
Kadastral. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode sensus. Sehingga
populasi sebanyak 197 pegawai di Kantor Pertanahan Kabupaten Sleman dipilih
untuk menjadi responden. Instrumen penelitian yang digunakan oleh
peneliti yaitu dengan menggunakan 6 skala likert
sebagai skala pengukurannya untuk memudahkan responden
dalam menjawab maupun pada saat proses analisis data. Pada penelitian ini digunakan metode analisis jalur atau
path untuk analisis data menggunakan software Smart PLS 4.0.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Pada penelitian
ini, peneliti melakukan uji model dan hipotesis dengan menggunakan teknik PLS.
Analisis dengan menggunakan PLS (Partial Least Square) terdiri dari dua
bagian, yaitu evaluasi outer model dan evaluasi inner model.
1.
Outer Model
Evaluasi outer model bertujuan untuk mengetahui validitas
dan reliabilitas instrument pengukuran pada model penelitian. Hal ini dilakukan
untuk mengetahui seberapa baik item kuesioner mengukur sifat dan konsep
variabel yang diukur dan mengetahui konsistensi item kuesioner dalam mengukur
variabel yang sama dalam waktu dan tempat yang berbeda. Analisis outer model
dapat dilihat dari nilai converget validity, construct validity, discriminant
validity, dan composite reliability. Adapun outer model ditampilkan sebagai
berikut.
Gambar 1
a)
Validitas
Konvergensi (convergent validity)
Tabel 1 Loading Factor
|
Indikator |
Loading Faktor |
Validitas |
|
BO1 |
0.850 |
Valid |
|
BO2 |
0.726 |
Valid |
|
BO3 |
0.922 |
Valid |
|
BO4 |
0.814 |
Valid |
|
BO5 |
0.797 |
Valid |
|
BO6 |
0.730 |
Valid |
|
BO7 |
0.913 |
Valid |
|
BO8 |
0.882 |
Valid |
|
BO9 |
0.756 |
Valid |
|
K1 |
0.909 |
Valid |
|
K10 |
0.912 |
Valid |
|
K11 |
0.783 |
Valid |
|
K12 |
0.910 |
Valid |
|
K13 |
0.781 |
Valid |
|
K2 |
0.905 |
Valid |
|
K3 |
0.771 |
Valid |
|
K4 |
0.815 |
Valid |
|
K5 |
0.782 |
Valid |
|
K6 |
0.707 |
Valid |
|
K7 |
0.845 |
Valid |
|
K8 |
0.837 |
Valid |
|
K9 |
0.727 |
Valid |
|
KK1 |
0.884 |
Valid |
|
KK10 |
0.891 |
Valid |
|
KK11 |
0.764 |
Valid |
|
KK12 |
0.733 |
Valid |
|
KK13 |
0.480 |
Tidak
Valid |
|
KK14 |
0.876 |
Valid |
|
KK15 |
0.798 |
Valid |
|
KK16 |
0.790 |
Valid |
|
KK17 |
0.740 |
Valid |
|
KK18 |
0.890 |
Valid |
|
KK19 |
0.875 |
Valid |
|
KK2 |
0.497 |
Tidak
Valid |
|
KK20 |
0.745 |
Valid |
|
KK3 |
0.493 |
Tidak
Valid |
|
KK4 |
0.882 |
Valid |
|
KK5 |
0.871 |
Valid |
|
KK6 |
0.896 |
Valid |
|
KK7 |
0.791 |
Valid |
|
KK8 |
0.740 |
Valid |
|
KK9 |
0.896 |
Valid |
|
KS1 |
0.955 |
Valid |
|
KS2 |
0.903 |
Valid |
|
KS3 |
0.877 |
Valid |
|
KS4 |
0.978 |
Valid |
|
KS5 |
0.902 |
Valid |
|
KS6 |
0.978 |
Valid |
|
KS7 |
0.975 |
Valid |
|
KS8 |
0.821 |
Valid |
|
KS9 |
0.977 |
Valid |
Sumber:
Data Primer Diolah, 2022
Tabel 1 telah
menunjukkan bahwa nilai loading factor untuk setiap indikator mempunyai nilai
lebih besar dari 0,7 kecuali KK2, KK3 dan KK13 sehingga harus di drop dari
penelitian. Berikut adalah nilai loading factor setelah indikator yang tidak
valid di drop.
b)
Validitas
Konstruk (construct validity)
Pada
tahap kedua, analisis outer model dilakukan untuk memeriksa validitas
konstruk. Validitas konstruk menunjukkan sejauh mana suatu tes mengukur
konstruk teori dasar. Indikator-indikator yang mengukur konstruk tersebut yang
nilainya lebih besar dari 0,5 dianggap signifikan (Ulum et
al., 2014).
Tabel 3 Average Variance
Extracted (AVE)
|
|
Average
Variance Extracted (AVE) |
|
Budaya
Organisasi |
0.679 |
|
Kepemimpinan
Situasional |
0.867 |
|
Kepuasan Kerja |
0.695 |
|
Kinerja |
0.680 |
Sumber:
Data Primer Diolah, 2022
Pada
tabel tersebut menunjukan bahwa nilai AVE untuk setiap variabel dalam model
analisis penelitian ini (nilai AVE lebih dari 0,5) menunjukkan nilai validitas
konstruk yang baik, seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 3.
c)
Validitas
Diskriminatif (discriminant validity)
Salah satu cara untuk mengevaluasi validitas discriminant
adalah dengan memeriksa nilai cross-loading untuk setiap variabel harus lebih
besar dari 0,7. Nilai discriminant validitas konstruk dianggap baik jika nilai
akar AVE setiap konstruk dalam model lebih besar daripada nilai korelasi antara
konstruk dengan konstruk lainnya (Ulum et
al., 2014).
Tabel 4 Cross Loading
|
|
Budaya Organisasi |
Kepemimpinan Situasional |
Kepuasan Kerja |
Kinerja |
|
BO1 |
0.850 |
0.368 |
0.888 |
0.810 |
|
BO2 |
0.726 |
0.431 |
0.695 |
0.683 |
|
BO3 |
0.923 |
0.316 |
0.910 |
0.853 |
|
BO4 |
0.814 |
0.343 |
0.803 |
0.715 |
|
BO5 |
0.796 |
0.346 |
0.791 |
0.776 |
|
BO6 |
0.730 |
0.329 |
0.743 |
0.704 |
|
BO7 |
0.914 |
0.327 |
0.901 |
0.845 |
|
BO8 |
0.883 |
0.308 |
0.863 |
0.819 |
|
BO9 |
0.755 |
0.408 |
0.753 |
0.727 |
|
K1 |
0.850 |
0.368 |
0.888 |
0.910 |
|
K10 |
0.838 |
0.367 |
0.874 |
0.912 |
|
K11 |
0.727 |
0.433 |
0.698 |
0.783 |
|
K12 |
0.847 |
0.370 |
0.886 |
0.910 |
|
K13 |
0.722 |
0.431 |
0.692 |
0.781 |
|
K2 |
0.831 |
0.363 |
0.865 |
0.905 |
|
K3 |
0.709 |
0.422 |
0.676 |
0.770 |
|
K4 |
0.811 |
0.344 |
0.803 |
0.815 |
|
K5 |
0.698 |
0.350 |
0.692 |
0.781 |
|
K6 |
0.631 |
0.331 |
0.643 |
0.707 |
|
K7 |
0.815 |
0.328 |
0.804 |
0.845 |
|
K8 |
0.799 |
0.312 |
0.785 |
0.837 |
|
K9 |
0.653 |
0.409 |
0.654 |
0.727 |
|
KK1 |
0.850 |
0.368 |
0.888 |
0.710 |
|
KK10 |
0.914 |
0.324 |
0.903 |
0.851 |
|
KK11 |
0.756 |
0.417 |
0.757 |
0.729 |
|
KK12 |
0.744 |
0.434 |
0.721 |
0.693 |
|
KK14 |
0.842 |
0.370 |
0.881 |
0.706 |
|
KK15 |
0.812 |
0.343 |
0.803 |
0.714 |
|
KK16 |
0.799 |
0.349 |
0.792 |
0.780 |
|
KK17 |
0.730 |
0.328 |
0.740 |
0.705 |
|
KK18 |
0.914 |
0.327 |
0.901 |
0.845 |
|
KK19 |
0.901 |
0.310 |
0.887 |
0.830 |
|
KK20 |
0.642 |
0.406 |
0.739 |
0.710 |
|
KK4 |
0.847 |
0.370 |
0.886 |
0.810 |
|
KK5 |
0.836 |
0.369 |
0.876 |
0.806 |
|
KK6 |
0.920 |
0.319 |
0.909 |
0.755 |
|
KK7 |
0.699 |
0.358 |
0.792 |
0.777 |
|
KK8 |
0.725 |
0.343 |
0.740 |
0.702 |
|
KK9 |
0.818 |
0.329 |
0.907 |
0.848 |
|
KS1 |
0.405 |
0.955 |
0.404 |
0.426 |
|
KS2 |
0.353 |
0.902 |
0.353 |
0.364 |
|
KS3 |
0.449 |
0.877 |
0.443 |
0.455 |
|
KS4 |
0.406 |
0.978 |
0.406 |
0.421 |
|
KS5 |
0.345 |
0.902 |
0.347 |
0.370 |
|
KS6 |
0.400 |
0.978 |
0.400 |
0.424 |
|
KS7 |
0.401 |
0.975 |
0.403 |
0.424 |
|
KS8 |
0.372 |
0.821 |
0.377 |
0.406 |
|
KS9 |
0.412 |
0.977 |
0.411 |
0.429 |
Sumber:
Data Primer Diolah, 2022
Pada
tabel tersebut, menunjukkan bahwa nilai masing-masing indikator di suatu
konstruk lebih tinggi dibandingkan dengan konstruk lain dan mengumpul pada satu
konstruk tersebut. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa dalam penelitian ini
dapat dikatakan memiliki discriminant validity yang baik.
d)
Reability
Komposit (composite reliability)
Nilai reliabilitas
komposit dan Cronbach's alpha dapat digunakan untuk menilai reliabilitas.
Menurut (Ulum et
al., 2014) menyatakan reliabilitas
sebenarnya adalah alat ukur untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan
indikator dari variabel atau konstruk. Konstruk dikatakan reliabel jika nilai
Cronbach Alpha dan Composite Reliability lebih dari 0,7 untuk penelitian
bersifat confirmatory dan nilai 0,6 � 0,7 masih dapat diterima untuk penelitian
yang bersifat explorator. Tabel 5 menunjukkan reliabilitas komposit dan nilai
Cronbach's alpha untuk masing-masing variabel dalam penelitian ini.
Tabel 5 Composite Reliability
dan Cronbach�s Alpha
|
|
Cronbach's
Alpha |
Composite
Reliability |
|
Budaya
Organisasi |
0.940 |
0.950 |
|
Kepemimpinan
Situasional |
0.980 |
0.983 |
|
Kepuasan Kerja |
0.972 |
0.975 |
|
Kinerja |
0.960 |
0.965 |
Sumber: Data Primer Diolah,
2022
Semua
konstruk yang diuji dalam penelitian ini memiliki nilai reliabilitas komposit
setidaknya ≥ 0,7 dan nilai alfa Cronbach setidaknya
≥ 0,6, sehingga dapat disimpulkan bahwa konstruk-konstruk tersebut
adalah reliabel, seperti yang ditunjukkan dalam tabel diatas. Ini menunjukkan
bahwa dalam uji reliabilitas instrumen, masing-masing konstruk model penelitian
memiliki konsistensi internal.
2.
Inner Model
Pengujian dalam
model, juga dikenal sebagai model struktural. Menurut (Ulum et
al., 2014) pengujian model struktural
dilakukan dengan melihat hubungan antar konstruk. Hubungan antar konstruk
adalah dengan melihat nilai signifikan dan nilai R-Square untuk setiap variabel
laten independen sebagai kekuatan prediksi dari model struktural. Hasil output
bootstrapping PLS dalam model penelitian ditunjukkan pada gambar 2
Gambar 2 Diagram Jalur Inner
Model PLS
Hasil
tersebut bermakna bahwa semua variabel dalam penelitian ini memiliki pengaruh
positif. Adapun besaran pengaruh dan signifikansi dari masing-masing pengaruh
dijabarkan dalam penjabaran sebagai berikut:
a)
Koefisien
Determinasi
Analisis
koefisien determinasi dilakukan untuk mengetahui seberapa baik sebuah model
menjelaskan variasi variabel dependen. Analisis koefisien determinasi dilakukan
untuk mengetahui seberapa baik sebuah model menjelaskan variasi variabel
dependen. Jika nilai R-square lebih dekat dengan satu (satu), variabel
independen sudah dapat memberikan semua informasi yang diperlukan untuk
menjelaskan dan memprediksi variabel dependen.
R-Square
|
|
R
Square |
|
Kepuasan Kerja |
0.989 |
|
Kinerja |
0.966 |
Sumber:
Data Primer Diolah, 2022
Koefisien
determinasi variabel kepuasan kerja adalah 98,9 persen, berdasarkan nilai
R-square yang ditunjukkan di tabel tersebut, dan setelah dikalikan dengan
100%. Hasil menunjukkan bahwa variabel lain dalam penelitian ini memengaruhi
variabel kepuasan kerja sebesar 98,9%, dan variabel lain di luar model
penelitian memengaruhi 1,1% terakhir. Selain itu, koefisien determinasi
variabel kinerja adalah 96,6%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa variabel
kepuasan kerja dipengaruhi oleh variabel lain pada penelitian ini sebesar
96,6%, sedangkan 3,4% sisanya dijelaskan oleh variabel lain diluar model
penelitian.
b)
Goodness of Fit
PLS juga dapat mengidentifikasi kriteria global optimization
untuk mengetahui goodness of fit model (GoF). Indeks Gof ini dihitung dari akar
kuadrat nilai average communality index dan average R-square. Nilai GoF = 0,1
berarti kecil, GoF = 0,25 berarti medium, GoF = 0,36 berarti besar (Ulum et
al., 2014).
Hasil Goodness of Fit Model
(GoF)
|
Konstruk |
R
Square |
Communality |
|
Budaya
Organisasi |
|
0.594 |
|
Kepemimpinan
Situasional |
|
0.824 |
|
Kepuasan Kerja |
0.989 |
0.646 |
|
Kinerja |
0,966 |
0.628 |
|
Average |
0,977 |
0,673 |
|
Gof |
������������������ 0.810 |
|
Sumber: Data Primer Diolah, 2022
Berdasarkan
Tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai GoF model mencapai 0,810 yang lebih
besar dari 0,36 sehingga model termasuk dalam kategori
besar. Ini menjelaskan bahwa data empiris sesuai atau cocok dengan model karena
tidak ada perbedaan antara data dan model (Ulum et
al., 2014).
c)
Q2 Predictive
Relevance
Uji
Q2 predictive relevance dilakukan untuk model struktural guna mengukur seberapa
baik nilai observasi yang dihasilkan oleh model dan juga estimasi parameternya.
Dalam penilaiannya, nilai Q2 > 0 menunjukkan bahwa model memiliki predictive
relevance, dan apabila nilai Q2 < 0 menunjukkan bahwa model kurang memiliki
predictive relevance (Ulum et
al., 2014). Adapun hasil uji Q2
predictive relevance dapat dilihat sebagai berikut.
Nilai Q-Square
|
|
SSO |
SSE |
Q�
(=1-SSE/SSO) |
|
Kepuasan Kerja |
3.247.000 |
1.037.085 |
0.681 |
|
Kinerja |
2.483.000 |
885.581 |
0.643 |
Sumber:
Data Primer Diolah, 2022
Berdasarkan
pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa kedua variabel endogen dalam
penelitian ini memiliki nilai Q2 > 0, hal tersebut menunjukkan bahwa model
dalam penelitian ini memiliki predictive relevance yang baik.
d)
Pengujian
Hipotesis
Selanjutnya,
hipotesis diuji dengan estimasi koefisien jalur, yang dapat dinilai dengan
menggunakan nilai statistik T. Estimasi koefisien jalur menunjukkan hubungan
antar variabel laten yang diperoleh melalui metode bootstrapping. koefisien
parameter menunjukkan arah pengaruh dengan memeriksa nilai positif atau negatif
sampel awal dan jumlah pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen.
Di sisi lain, item pengukuran yang digunakan dikatakan signifikan apabila nilai
statistik T lebih besar dari 1,96 dan nilai p kurang dari 0,05 pada taraf
signifikansi 5%.
Path Coefficients
|
|
Original Sample |
T Statistics |
P Values |
|
0.993 |
256.083 |
0.000 |
|
|
Kepemimpinan
Situasional -> Kepuasan Kerja |
0.003 |
0.330 |
0.741 |
|
Budaya
Organisasi -> Kinerja |
0.073 |
0.426 |
0.670 |
|
Kepuasan Kerja
-> Kinerja |
0.895 |
5.239 |
0.000 |
|
Kepemimpinan
Situasional -> Kinerja |
0.034 |
2.056 |
0.040 |
|
Budaya
Organisasi -> Kepuasan Kerja -> Kinerja |
0.889 |
5.234 |
0.000 |
|
Kepemimpinan
Situasional -> Kepuasan Kerja -> Kinerja |
0.002 |
0.312 |
0.755 |
Sumber:
Data Primer Diolah, 2022
1. Pengaruh budaya
organisasi terhadap kepuasan kerja.
Bahwa kepuasan kerja
dipengaruhi secara positif dan signifikan oleh budaya perusahaan. Dengan nilai
statistik T 256.083 lebih dari 1,96 dan nilai p 0,000 lebih dari 0,05, pengaruh
signifikansi dapat dilihat. Menurut perhitungan statistik, hipotesis H1
menunjukkan bahwa budaya organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap
kepuasan kerja terdukung. Hal ini menunjukkan penelitian tersebut mendukung
penelitian-penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Park dan (Park & Doo, 2020), (Tran, 2021), (Soomro & Shah, 2019), (Pawirosumarto et al., 2017) dan (Al-Sada et al., 2017).
2. Pengaruh
kepemimpinan situasional terhadap kepuasan kerja.
Kepemimpinan
situasional tidak memengaruhi kepuasan kerja, seperti yang ditunjukkan dalam
Tabel diatas. Dengan nilai statistik T 0,330 lebih dari 1,96 dan nilai p 0,741
lebih dari 0,05, pengaruh signifikansi dapat dilihat. Berdasarkan perhitungan
statistik tersebut, hipotesis H2 menunjukkan bahwa kepemimpinan situasional
tidak terbukti berdampak positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja. Hal
ini menunjukkan penelitian tersebut tidak mendukung penelitian-penelitian
sebelumnya yang dilakukan oleh (Ngarawula & Rozikin, 2021), (Wuryani et al., 2021), (Pujiono et al., 2020), (Pawirosumarto et al., 2017) dan (Babalola, 2016).
3.
Pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja.
Budaya organisasi
tidak memengaruhi kinerja, seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 4.12. Dengan
nilai statistik T 0,426 lebih dari 1,96 dan nilai p 0,670 lebih dari 0,05,
pengaruh signifikansi dapat dilihat dari hasil Path Coefficient. Dengan
mempertimbangkan perhitungan statistik tersebut, hipotesis H3 menunjukkan bahwa
budaya organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja. Hal ini
menunjukkan penelitian tersebut tidak mendukung penelitian-penelitian
sebelumnya yang dilakukan oleh (Pujiono et al., 2020), Bahadur (Soomro & Shah, 2019), (Suwibawa et al., 2018), (Sihombing et al., 2018) dan (Pawirosumarto et al., 2017).
4. Pengaruh
kepemimpinan situasional terhadap kinerja.
Menurut Tabel 4.12,
kepemimpinan situasional berdampak positif dan signifikan terhadap kinerja.
Menurut perhitungan statistik, hipotesis H4 menunjukkan bahwa kepemimpinan
situasional berdampak positif dan signifikan pada kinerja terdukung. Hasil Path
Coefficient menunjukkan pengaruh signifikansi dengan T-Statistics sebesar 2,056
lebih besar dari 1,96 dan p-value sebesar 0,040 lebih kecil dari 0,05. Hal ini
menunjukkan penelitian tersebut mendukung penelitian-penelitian sebelumnya yang
dilakukan oleh (Ngarawula & Rozikin, 2021), (Wuryani et al., 2021), (Pujiono et al., 2020), (Pawirosumarto et al., 2017) dan (Babalola, 2016).
5. Pengaruh kepuasan
kerja terhadap kinerja.
Kepuasan kerja berpengaruh
positif dan signifikan terhadap kinerja, seperti yang ditunjukkan dalam Tabel
4.12. Dengan nilai T statistik 5,239 lebih besar dari 1,96 dan p-value 0,000
lebih kecil dari 0,05, pengaruh signifikansi dapat dilihat. Berdasarkan
perhitungan statistik tersebut, hipotesis H5 menunjukkan bahwa kepuasan kerja
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja terdukung. Hal ini
menunjukkan penelitian tersebut mendukung penelitian-penelitian sebelumnya yang
dilakukan oleh Bahadur (Soomro & Shah, 2019), (Hendri, 2019), (Hazriyanto et al., 2019), (Octaviannand et al., 2017) dan (Valaei & Jiroudi, 2016).
6. Pengaruh budaya
organisasi terhadap kinerja yang dimediasi oleh kepuasan kerja.
Pengaruh budaya organisasi
terhadap kinerja dimediasi oleh kepuasan kerja, seperti yang ditunjukkan dalam
Tabel 4.12. Dengan nilai T statistik 5,234 lebih besar dari 1,96 dan nilai p
0,000 lebih kecil dari 0,05, pengaruh signifikansi dapat dilihat. Menurut
perhitungan statistik, hipotesis H6 menunjukkan bahwa kepuasan kerja mediasi
pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja terdukung. Hal ini menunjukkan
penelitian tersebut mendukung penelitian-penelitian sebelumnya yang dilakukan
oleh (Ratnasari et al., 2020), (Mubarok, 2019), (Soomro & Shah, 2019), (Rozanna et al., 2019) dan (Paramita et al., 2018).
7. Pengaruh
kepemimpinan situasional terhadap kinerja yang dimediasi oleh kepuasan kerja.
Pengaruh kepemimpinan
situasional terhadap kinerja tidak dimediasi oleh kepuasan kerja, seperti yang
ditunjukkan dalam Tabel 4.12. Dengan nilai statistik T 0,312 lebih besar dari
1,96 dan nilai p 0,755 lebih kecil dari 0,05, pengaruh signifikansi dapat
dilihat. Berdasarkan perhitungan statistik, hipotesis H7 menunjukkan bahwa
kepuasan kerja tidak terbukti mediasi pengaruh kepemimpinan situasional
terhadap kinerja. Hal ini menunjukkan penelitian tersebut tidak mendukung
penelitian-penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Aristhi
& Manuaba, 2020), (Mustofa
& Muafi, 2021), (Rahadiyan
et al., 2019), (Setyorini
et al., 2018) dan (Chandra,
2016).
KESIMPULAN
Pada penelitian ini peneliti membahas terkait hubungan
antara pengaruh Budaya Organisasi dan Kepemimpinan Situasional terhadap Kinerja
yang dimediasi oleh Kepuasan Kerja pada Kantor Pertanahan Kabupaten Sleman.
Hasil analisis dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Budaya organisasi berpengaruh
positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja. 2. Kepemimpinan situasional tidak
berpengaruh terhadap kepuasan kerja. 3. Budaya organisasi tidak
berpengaruh terhadap kinerja. 4. Kepemimpinan situasional
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja. 5. Kepuasan kerja berpengaruh
positif dan signifikan terhadap kinerja. 6. Kepuasan kerja mediasi
pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja. 7. Kepuasan kerja tidak mediasi
pengaruh kepemimpinan situasional terhadap kinerja.
REFERENSI
Al-Sada, M.,
Al-Esmael, B., & Faisal, M. N. (2017). Influence of organizational culture
and leadership style on employee satisfaction, commitment and motivation in the
educational sector in Qatar. EuroMed Journal of Business, 12(2),
163�188.
Al�asqolaini, M. Z.,
& Sukiman, S. (2016). Pengaruh Gaya Kepemimpinan Situasional Dan Motivasi
Terhadap Kinerja Pegawai Di Kantor Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik. Jurnal
Ekonomi Dan Kewirausahaan Kreatif, 1(1), 13�24.
Arifin, I. (2017). Kepemimpinan
pembelajaran kepala sekolah dalam menerapkan pendidikan karakter pada era
masyarakat ekonomi asean.
Aristhi, N. P. S.,
& Manuaba, I. B. S. (2020). Model Experiential Learning Berbantuan Media
Gambar Terhadap Keterampilan Menulis Puisi Siswa Sekolah Dasar. Mimbar Ilmu,
25(3), 327�337.
Babalola, S. S.
(2016). The effect of leadership style, job satisfaction and
employee-supervisor relationship on job performance and organizational
commitment. Journal of Applied Business Research (JABR), 32(3),
935�946.
Chandra, T. (2016).
The Influence of Leadership Styles, Work Environment and Job Satisfaction of
Employee Performance--Studies in the School of SMPN 10 Surabaya. International
Education Studies, 9(1), 131�140.
Hasyim, H. (2022).
Pengaruh Gaya Kepemimpinan Terhadap Kinerja Pegawai. Jurnal Mirai Management,
7(3), 710�726.
Hazriyanto, H.,
Ibrahim, B., & Silitonga, F. (2019). Organizational commitment,
satisfaction and performance of lecturer (model regression by gender of man). International
Review of Management and Marketing, 9(2), 40.
Hendri, M. I. (2019).
The mediation effect of job satisfaction and organizational commitment on the
organizational learning effect of the employee performance. International
Journal of Productivity and Performance Management, 68(7),
1208�1234.
Mubarok, E. S. (2019).
The effect of organizational culture and work motivation on employee
performance: The mediating role of job satisfaction. European Journal of
Business and Management, 11(35), 1905�2222.
Muis, M. R., Jufrizen,
J., & Fahmi, M. (2018). Pengaruh budaya organisasi dan komitmen organisasi
terhadap kinerja karyawan. Jesya (Jurnal Ekonomi Dan Ekonomi Syariah), 1(1),
9�25.
Mustofa, A., &
Muafi, M. (2021). The influence of situational leadership on employee
performance mediated by job satisfaction and Islamic organizational citizenship
behavior. International Journal of Research in Business and Social Science
(2147-4478), 10(1), 95�106.
Ngarawula, B., &
Rozikin, Z. (2021). Christian Education of Zendeling-Based at the Kalimantan
Evangelical Church (GKE): A Phenomenological-Historical Study at GKE Mandomai
Vocational High School, Kapuas Regency, Central Kalimantan Province, Indonesia.
International Journal of Research in Social Science and Humanities (IJRSS)
ISSN: 2582-6220, DOI: 10.47505/IJRSS, 2(4), 1�16.
Octaviannand, R.,
Pandjaitan, N. K., & Kuswanto, S. (2017). Effect of Job Satisfaction and
Motivation towards Employee�s Performance in XYZ Shipping Company. Journal of
Education and Practice, 8(8), 72�79.
Paramita, E.,
Lumbanraja, P., & Absah, Y. (2018). The effect of organizational culture
and commitment to performance of employees with working satisfaction as
moderation variables in Pt. Bank Mandiri (Persero) Area Medan. Global
Journal of Management and Business Research: A Administration and Management,
18(11), 25�32.
Park, S., & Doo,
M. Y. (2020). The effect of organizational culture and HR practices on female
managers� commitment and job satisfaction. European Journal of Training and
Development, 44(2/3), 105�120.
Pawirosumarto, S.,
Setyadi, A., & Khumaedi, E. (2017). The influence of organizational culture
on the performance of employees at University of Mercu Buana. International
Journal of Law and Management, 59(6), 950�963.
Pujiono, B., Setiawan,
M., & Wijayanti, R. (2020). The effect of transglobal leadership and
organizational culture on job performance-Inter-employee trust as Moderating
Variable. International Journal of Public Leadership, 16(3),
319�335.
Rahadiyan, A.,
Triatmanto, B., & Respati, H. (2019). The effect of motivation and
situational leadership style towards employee performance through work
satisfaction at developer company. International Journal of Advances in
Scientific Research and Engineering-IJASRE, 5(4), 249�256.
Ratnasari, S. L.,
Sutjahjo, G., & Adam, A. (2020). The effect of job satisfaction,
organizational culture, and leadership on employee performance. Annals of
Tropical Medicine and Health, 23, 231�329.
Rozanna, N., Adam, M.,
& Majid, M. S. A. (2019). Does job satisfaction mediate the effect of
organizational change and organizational culture on employee performance of the
Public Works and Spatial Planning Agency. IOSR Journal of Business and
Management, 21(1), 45�51.
Setyorini, R. W.,
Yuesti, A., & Landra, N. (2018). The effect of situational leadership style
and compensation to employee performance with job satisfaction as intervening
variable at PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk Denpasar Branch. International
Journal of Contemporary Research and Review, 9(08), 20974�20985.
Sihombing, S., Astuti,
E. S., Al Musadieq, M., Hamied, D., & Rahardjo, K. (2018). The effect of
servant leadership on rewards, organizational culture and its implication for
employee�s performance. International Journal of Law and Management, 60(2),
505�516.
Soomro, B. A., &
Shah, N. (2019). Determining the impact of entrepreneurial orientation and
organizational culture on job satisfaction, organizational commitment, and
employee�s performance. South Asian Journal of Business Studies, 8(3),
266�282.
Suwibawa, A., Agung,
A. A. P., & Sapta, I. K. S. (2018). Effect of organizational culture and
organizational commitment to employee performance through organizational
citizenship behavior (OCB) as intervening variables (study on Bappeda Litbang
Provinsi Bali). International Journal of Contemporary Research and Review,
9(08), 20997�21013.
Tran, Q. H. N. (2021).
Organisational culture, leadership behaviour and job satisfaction in the
Vietnam context. International Journal of Organizational Analysis, 29(1),
136�154.
Ulum, I., Ghozali, I.,
& Purwanto, A. (2014). Intellectual capital performance of Indonesian
banking sector: a modified VAIC (M-VAIC) perspective. International Journal
of Finance & Accounting, 6(2), 103�123.
Valaei, N., &
Jiroudi, S. (2016). Job satisfaction and job performance in the media industry:
A synergistic application of partial least squares path modelling. Asia
Pacific Journal of Marketing and Logistics, 28(5), 984�1014.
Wuryani, E., Rodlib,
A., Sutarsib, S., Dewib, N., & Arifb, D. (2021). Analysis of decision
support system on situational leadership styles on work motivation and employee
performance. Management Science Letters, 11(2), 365�372.