PENGUATAN NILAI KEMANDIRIAN DALAM PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS KELUARGA PADA SAAT PANDEMI COVID-19

Putri Wulandari1, Muhammad Soleh Hapudin2

Universitas Esa Unggul, Jakarta.

[email protected]1, [email protected]2

 

Keywords

Abstract

Character Education, Value of Independence, Role of parents, Pandemic COVID-19

In an emergency situation, where all countries including Indonesia are struggling against the outbreak or the COVID-19 virus. All aspects of life are disrupted including the education sector. In the world of education, the education system that takes place changes over to online implementation (in the network). This requires strong cooperation from all components of education, namely teachers, students and parents. This study aims to find out how the role of parents in strengthening the value of independence of elementary school children. This research was conducted on parents who have elementary school-age children in the Permatadalam area, Tegal Alur. The method used in this research is descriptive qualitative with a case study type. The results of this study indicate that the role of parents, especially the mother's gender, is a major factor in providing guidance to their children during online learning at home such as: a) parents as teachers; b) parents as facilitators; c) parents as a motivator. The difficulties faced by parents in online learning at Jl Permata in Rt.006/Rw.015 are a) educational background which can affect the level of difficulty in educating elementary school children; b) Low socioeconomic status affects parents in terms of meeting children's online learning needs or facilities; and c) The difficulty of dividing time in accompanying children to study by taking care of homework.

Kata Kunci

Abstrak

Pendidikan Karakter, Nilai Kemandirian, Peran orang tua, Pandemi COVID-19

Dalam kondisi darurat, dimana seluruh negara termasuk Indonesia sedang berjuang melawan wabah atau virus COVID-19. Seluruh aspek kehidupan terganggu termasuk sektor pendidikan. Dalam dunia pendidikan, sistem pendidikan yang berlangsung berganti alih menjadi penerapan daring (dalam jaringan). Hal tersebut membutuhkan kerjasama yang kuat dari seluruh komponen pendidikan yaitu guru, peserta didik dan orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran orang tua dalam penguatan nilai kemandirian anak sekolah dasar. Penelitian ini dilakukan pada orang tua yang memiliki anak usia sekolah dasar di wilayah Permata dalam, Tegal Alur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian studi kasus (case study). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran orang tua terutama gender ibu, menjadi faktor utama dalam memberikan bimbingan kepada anaknya selama pembelajaran daring di rumah seperti: a) orang tua sebagai guru; b) orang tua sebagai fasilitator; c) orang tua sebagai motivator.� Kesulitan yang dihadapi orang tua dalam pembelajaran daring di jl permata dalam Rt.006/Rw.015 yaitu a)� Latar belakang pendidikan yang dapat memengaruhi tingkat kesulitan dalam mendidik anak sekolah dasar; b) Status sosial ekonomi yang rendah memengaruhi orang tua dalam hal memenuhi kebutuhan atau fasilitas pembelajaran daring anak; dan c) Sulitnya membagi waktu dalam mendampingi anak belajar dengan mengurus pekerjaan rumah.

Corresponding Author: Putri Wulandari�

E-mail: [email protected]

 

 

PENDAHULUAN

Berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan Surat Edaran No 3 tahun 2020. Surat Edaran Sekjen Kemendikbud No 36603/A.A5/OT/2020 pada tanggal 15 Maret 2020. Kebijakan ini diberlakukan mulai tanggal 16 Maret 2020. Menanggapi surat edaran tersebut banyak instansi pemerintah terutama sekolah-sekolah memutuskan untuk melaksanakan pembelajaran dari rumah atau pembelajaran secara daring. Pada akhir tahun 2019 dunia telah digemparkan oleh datangnya wabah penyakit yang memilukan. Diketahui penyebaran sebelumnya terjadi di Wuhan, Cina pada bulan Desember 2019. Virus yang mewabah tersebut adalah Covid-19 (Corona Virus Deaseases-19) namun tidak sedikit korban yang terinveksi virus tersebut. Termasuk di indonesia sendiri tercatat pada awal maret tahun 2020 terdapat 2 orang yang terkonfirmasi positif Covid-19. Virus Corona merupakan kelompok virus yang menyebabkan berbagai macam penyakit menular, mulai dari flu biasa hingga penyakit dengan gejala yang cukup serius seperti MERS dan SARS. Pemerintah membuat kebijakan bagaimana proses pembelajaran agar tetap terlaksana yaitu dengan menerapkan proses pembelajaran secara daring. Pemerintah menganjurkan untuk tetap belajar dari rumah dan mematuhi protocol kesehatan agar tidak tertular dan menularkan orang lain (Satgas Covid-19, 2022).

Pendidikan pada dasarnya mampu meningkatkan kemampuan sumber daya manusia menjadi manusia berkarakter untuk dapat hidup mandiri dan mampu mengembangkan bakat serta potensi dirinya dalam menambah wawasan, pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Pendidikan karakter adalah proses pemberi arahan kepada peserta didik untuk menjadi manusia berkarakter yang dapat memaknai pendidikan sebagai sebuah nilai, budi pekerti, akhlak dan moral bangsa dengan tujuan mampu mengembangkan kemampuan peserta didik berfikir kritis sehingga menjadi pribadi yang lebih baik (Pratiwi, 2020). Sebuah proses penilaian karakter bukan hanya mengajarkan salah atau benar akan tetapi dimulai dengan melakukan pembiasaan yang baik, dalam memahami, merasakan, dan mau melakukan hal yang lebih baik. Pembiasaan karakter yang patut ditanamkan oleh anak sekolah dasar yaitu mencintai Allah SWT, belajar mandiri, sopan santun, hormat dan peduli serta percaya diri, rendah hati, toleransi, jujur, disiplin, tanggung jawab, tidak mudah menyerah, kerja keras, dan kreatif. Adapun pembiasaan dalam diri yang merupakan akhlak manusia yang didorong secara sadar untuk dapat mencerminkan perbuatan yang baik. Sehingga karakter-karakter yang tertanam pada peserta didik merupakan akhlak yang mulia dalam mencerminkan perilaku peserta didik di kehidupan sehari-hari.

Pada masa pandemi Covid-19 Menurut peneliti pembelajaran daring merupakan pemanfaatan jaringan internet dalam proses pembelajaran (Isman, 2017). Sehingga dalam pembelajaran daring ini mampu merubah tatanan pembelajaran secara drastis dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Pelaksanaan pembelajaran pada masa Pandemi Covid-19 ini harus tetap berjalan dengan tujuan pendidikan nasional dapat terpenuhi begitupula dengan penguatan nilai kemandirian belajar peserta didik harus tetap berjalan maka dibutuhkan peran pendampingan orang tua dan seorang guru dalam pelaksanaannya. Selama pelaksanaan pembelajaran secara daring, anak dan guru sangat memerlukan bantuan alat teknologi seperti handphone, laptop, atau pun komputer. Selain alat teknologi tersebut diperlukan juga kuota internet yang memadai untuk mengakses materi atau tugas-tugas yang diberikan guru. Guru memiliki peran penting untuk membuat anak tertarik dalam mengikuti pembelajaran daring ini (Syofyan, Harlinda; Ratnawati Susanto; M. Bahrul Alam; Ratih & Haikal, 2021). Hal itu dilaksanakan sebagai langkah yang tepat dalam mencegah dan menekan penularan virus Covid-19.

Menurut peneliti pembelajaran daring dapat dijadikan solusi pembelajaran jarak jauh ketika terjadi bencana alam (Syarifudin, 2020). Untuk saat ini hampir seluruh jenjang pendidikan di Indonesia melaksanakan pembelajaran secara daring. Hal ini juga berlaku di wilayah Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat. Anak diminta untuk belajar dari rumah dengan memanfaatkan teknologi digital seperti whatsApp grub, google classroom, zoom meeting, rumah belajar, telepon atau live chat dan lainnya. Oleh karena itu menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua dalam penguatan nilai kemandirian pendidikan karakter anak sekolah dasar berbasis keluarga di tengah pandemi Covid-19.�

Penguatan nilai kemandirian dalam pendidikan karakter harus dimulai sejak usia dini. Dalam penguatan pendidikan karakter terdapat nilai kemandirian dari hasil proses belajar, pembiasaan dan pengalaman. Kemandirian dalam belajar akan menjadi pondasi yang kuat untuk membangun kepribadian peserta didik pada jenjang pendidikan selanjutnya dan juga pada kehidupan bermasyarakat pada umumnya. Salah satu aspek kepribadian yang penting pada peserta didik adalah kemandirian, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional di indonesia yang tercantum dalam UU Sisdiknas Bab II Pasal 3 yaitu membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang mandiri (�Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional,� 2003)

Kemandirian pada seseorang memiliki nilai tanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan tidak dapat bergantung pada orang lain. Setiap manusia dapat mengembangkan kemandirian dan bertanggung jawab sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya. Kemandirian pada seseorang dapat dilihat dari bagaimana kemampuan mengontrol tingkah laku, tanggung jawab, mampu menahan diri, membuat keputusan sendiri, serta mampu mengatasi masalah tanpa ada pengaruh dari orang lain. Peran orang tua memiliki peranan yang sangat penting untuk mencapai keberhasilan dalam penguatan nilai kemandirian.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa penguatan nilai kemandirian dalam pendidikan karakter berbasis keluarga di tengah pandemi Covid-19 ini merupakan pola pembiasaan yang dapat membantu individu dalam memahami nilai-nilai perilaku disiplin, mandiri, kreatif dan berinovatif. Dari penguatan nilai kemandirian belajar peserta didik diharapkan mampu menjadi generasi penerus bangsa yang bermartabat, berintegrasi dan memiliki nilai tambah bagi keluarga, sekolah dan masyarakat. Sehingga mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain secara global.

Melalui pendidikan karakter berbasis keluarga diharapkan peserta didik di SD akan menjadi lebih baik dalam bersikap, dan berperilaku baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat. Mengingat saat ini telah terjadi pandemi Covid-19 mengakibatkan proses belajar mengajar berlangsung secara daring yang dilakukan secara mandiri di rumah masing-masing. Kurangnya pamantauan oleh guru membuat peserta didik belum mampu menyelesaikan tugasnya secara mandiri. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penguatan nilai kemandirian dalam pendidikan karakter berbasis keluarga di tengah pandemi Covid-19. Dengan mengarahkan kemandirian peserta didik agar menjadi anak yang mandiri dan memiliki kepribadian atau karakter yang bermoral baik, bernilai luhur pada bangsa serta beragama.

Peran orang tua juga merupakan hal yang sangat penting agar tercapainya tujuan dalam pembelajaran, hal itu dilakukan dengan mendampingi anak saat proses pembelajaran daring berlangsung. Tidak hanya itu bimbingan setiap harinya juga tidak kalah penting untuk dilakukan karena hal itu memberikan dampak yang sangat besar dalam penguatan nilai kemandirian kepada anak Sekolah Dasar. Namum banyak faktor-faktor dari orang tua yang tidak maksimal dalam mendampingi putra-putrinya belajar dari rumah, karena harus bekerja dan hanya memiliki satu buah handphone untuk bergantian digunakan kakak beradik selama pembelajaran daring. Sehingga peran orang tua sangat diperlukan dalam memberikan edukasi kepada anak bahwa saat ini telah terjadi wabah pandemi khususnya di Indonesia.

Dengan kemajuan teknologi di era digital saat ini sangat berkembang pesat yang dapat dengan mudahnya dinikmati anak-anak di usia sekolah dasar. Perkembangan teknologi saat ini mempunyai dampak positif dan dampak negatif. Fakta tersebut dibuktikan dengan maraknya pemberitaan tentang munculnya banyak kasus bullying di sosial media maupun secara langsung pada anak sekolah dasar dengan terjadi kasus-kasus kekerasan tersebut pada anak usia dibawah umur menunjukkan bahwa karakter anak bangsa yang lemah. Sehingga dibutuhkan pendampingan orang tua dalam membentuk karakter anak sejak dini untuk dapat menumbuhkan budaya karakter bangsa yang baik (Putri, 2018).

Hal ini dapat dilihat dari permasalahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari antara lain adalah anak masih ragu pada kemampuannya sendiri, belum mampu belajar mandiri, anak minta diarahkan guru secara terus menerus dalam kegiatan belajar, anak membutuhkan dukungan dari orang lain yang berlebihan dalam menyelesaikan masalah sendiri, anak melakukan kegiatan masih atas perintah orang lain, anak sering menyontek pekerjaan temannya saat ada tugas adapun anak yang mengerjakan atas bantuan dari guru bimbingan belajar, sehingga anak tidak mampu bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan oleh guru disekolah. Permasalahan tersebut menggambarkan bahwa nilai kemandirian dalam diri anak belum berkembang secara optimal. Apabila keadaan yang seperti ini tidak segera ditangani, dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap prestasi dan motivasi belajar anak di sekolah. Sehingga perlu adanya upaya yang dilakukan untuk mendorong kemandirian anak dalam belajar.

 

Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter penting bagi pendidikan di Indonesia, karena pendidikan karakter akan menjadi basic atau dasar dalam pembentukan karakter yang berkualitas, yang tidak mengabaikan nilai-nilai sosial seperti toleransi, kebersamaan, gotong-royong, saling membantu dan menghormati dan sebagainya (Syofyan, 2017). Masalah moral dalam kehidupan bermasyarakat sampai saat ini masih saja terus terjadi, oleh karena itulah membuat pendidikan karakter tidak saja penting untuk membuat peserta didik secara umum terhindar dari perilaku tercela ataupun yang dilarang agama maupun hukum negara. Pendidikan yang merupakan pusat kegiatan yang unggul dalam mempersiapkan karakter (Ilahi, 2018).

Pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru dalam membentuk karakter peserta didik agar mampu menjadi pribadi yang lebih baik. Serta� mampu memberikan penguatan� kebiasaan tentang hal mana yang baik atau buruk sehingga peserta didik menjadi paham tentang mana yang benar dan tidak benar, sehingga mampu merasakan nilai yang baik dan terbiasa melakukannya. Pada masa anak sekolah dasar, metode yang dilakukan guru untuk mengembangkan karakter adalah pengarahan, pembiasaan, keteladanan, pengetahuan, hukuman. Nilai-nilai karakter yang bisa digali dalam pembelajaran seperti religius, jujur, kerja keras, disiplin rasa tanggung jawab, cinta tanah air, peduli terhadap lingkungan sekitar, jiwa sosial yang kuat (Nikmatuzaroh, 2019).

Menurut penelit pendidikan karakter merupakan sebagai upaya yang sungguh-sungguh untuk membantu seseorang dalam memahami, peduli, dan bertindak dengan landasan nilai-nilai etis (Kosim, 2011). Kata karakter diambil dari bahasa Inggris character, yang juga berasal dari bahasa Yunani character. Secara umum istilah character digunakan untuk mengartikan hal yang berbeda antara satu hal dan yang lainnya, dan akhirnya juga digunakan untuk menyebut kesamaan kualitas pada tiap orang yang membedakan dengan kualitas lainnya (FatchulnMu�in, 2019). Bahwa karakter juga merupakan kebiasaan baik seseorang sebagai cerminan dari jati dirinya. Pendidikan karakter bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu, pendidikan karakter penguatan kebiasaan tentang hal mana yang baik sehingga peserta didik menjadi paham dan terbiasa melakukannya.Pendidik perlu mempersiapakan peserta didik yang mampu berfikir kreatif, inovatif, dan memiliki daya juang yang berkualitas. Sehingga pemangku kebijakan maupun praktisi pendidikan dalam pelaksanaannya mampu mengelola dengan baik, sehingga implementasi pendidikan nasional dapat tercapai secara optimal. Menurut peneliti keberhasilan pendidikan karakter ditunjang dengan usaha memberikan lingkungan pendidikan serta sosialisasi yang baik dan menyenangkan bagi anak (Sahroni, 2017). Dengan demikian pendidikan karakter saat ini dapat mengintegrasikan dalam mengoptimalkan perkembangan seluruh dimensi anak (kognitif, fisik, sosial�emosi, kreativitas, dan spiritual). yang mampu penguatannilai-nilai karakter baik pada anak, sehingga anak tidak hanya tau moral knowing, tetapi mampu melaksanakan moral action yang menjadi tujuan utama pendidikan karakter. Tujuan Pendidikan Karakter merupakan penerus bangsa yang mempunyai akhlak dan moral yang baik, untuk menciptakan kehidupan berbangsa yang adil, aman dan makmur. Tujuan Pendidikan Nasional di Indonesia sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu:

�������������� �Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi anak agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang bertanggungjawab� (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2017).

Pendidikan dan pembentukan karakter sangat erat kaitannya dan harus dikelola dengan baik agar tujuan pendidikan tersebut dapat tercapai. Pendidikan merupakan jalan utama pembentuk sumber daya manusia yang berkualitas, beriman, dan bertakwa serta cakap terampil dalam pendidikan yang bertujuan membentuk karakter peserta didik sebagai generasi penerus bangsa.

Pendidikan merupakan sebuah proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang untuk menjadi lebih baik melalui pengajaran dan pelatihan. Pendidikan di Indonesia dengan tujuan unuk mencetak generasi yang berwawasan luas melalui implementasi pendidikan karakter yang membentuk manusia mandiri, kreatif, beriman, berakhlak mulia, sehat jasmani dan rohani, serta bertanggung jawab. Namun saat budaya barat masuk ke Indonesia, sebagian masyarakat tidak mampu memfilterisasi budaya luar yang kontradiksi terhadap nilai-nilai budaya yang ada di Indonesia. Hal tersebut berpengaruh negatif terhadap sikap dan perilaku peserta didik. Keluarga menjadi kiblat perjalanan dari dalam kandungan sampai tumbuh menjadi dewasa dan berlanjut di kemudian hari. Lingkungan keluarga di masa pandemi Covid-19 saat ini memiliki peran sangat besar dalam pembentukan karakter anak. Namun peran guru juga tidak hanya sekedar sebagai pendidik semata, tetapi juga sebagai pendidik karakter, moral dan budaya bagi anaknya (Putri, 2018).

Berdasarkan pendapat para ahli mengenai pendidikan karakter dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah sebuah proses pembelajaran dalam membentuk karakter peserta didik agar mampu menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan melakukan pembiasaan berulang-ulang secara rutin hingga menjadi suatu kebiasaan, yang akhirnya tidak hanya menjadi suatu kebiasaan tapi menjadi sebuah karakter yang mandiri. Sehingga tujuan dalam pendidikan tersebut dapat tercapai dan membentuk sumber daya manusia yang berkualitas, beriman, dan bertakwa serta cakap terampil dalam pendidikan yang bertujuan membentuk karakter mandiri peserta didik sebagai generasi penerus bangsa.

 

Karakteristik Peserta Didik Sekolah Dasar

Karakteristik pada anak sekolah dasar memiliki rentang usia antara 7-12 tahun. Menurut Seifert dan Haffung, perkembangan anak usia sekolah dasar terbagi menjadi tiga jenis yaitu:

1)       Perkembangan fisik anak

a.       Memiliki pertumbuhan yang lambat.

b.      Berat badan anak laki-laki dan perempuan dalam usia 9 tahun kurang lebih sama.

c.       Pada umumnya anak perempuan mulai mengalami pelonjakan pertumbuhan dengan cepat.

d.      Pada saat kelas tinggi , rata-rata anak perempuan mengalami puncak tertinggi masa pertumbuhan yang dikenal sebagai masa pubertas

2)      Perkembangan kognitif

Pada perkembangan kognitif anak usia sekolah dasar mengalami proses perkembangan kongkrit dan memadai

3)      Perkembangan sosial

Dalam fase anak usia sekolah dasar mereka akan mulai senang berada dalam kelompok, sehingga munculah sikap kepemimpinan dalam diri. Pada fase ini anak cenderung memilih pertemanan yang sejenis.

 

Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) merupakan tanggung jawab setiap lembaga pendidikan dalam memperkuat karakter melalui harmonisasi olah rasa (estetis), olah hati (etik), olah pikir (literasi) dan olah raga (kinestetik) dengan dukungan serta meelibatkan publik untuk kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat (Budhiman, 2017).� Terdapat Perpes Nomor 87 Tahun 2017 tentang Program Penguatan Pendidikan Karakter yang memiliki 5 nilai utama yaitu sebagai berikut:

1.       Religius, adalah seseorang yang berbakti dan beriman kepada Tuhan yang maha Esa.

2.      Integritas, adalah seseorang yang dapat dipercaya menjadikan individu yang����������������������������������� mampu berbuat baik dalam perkataan, perbuatan, dan pekerjaannya.

3.      Nasionalis, dapat menjadikan nasional dan bangsa di atas kepentingan pribadi.

4.      Mandiri, yaitu mampu berusaha agar tidak bergantung kepada orang lain.

5.      Gotong royong, merupakan sikap semangat saat bekerja sama dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.

Nilai utama pendidikan karakter tersebut tidak dapat dipisahkan bukanlah nilai yang berkembang secara terpisah atau berdiri sendiri, melainkan nilai-nilai saling terintegrasi satu sama lainnya agar dapat berkembang dan membentuk keutuhan diri. Nilai-nilai tersebut masuk dalam Permendikbud No. 20 Tahun 2018 pasal 2 ayat 2 merupakan perwujudan dari 5 nilai utama yang saling berkaitan, yaitu religiusitas, nasionalisme, kemandirian, gotong-royong, dan integritas, yang terintegrasi dalam kurikulum (Kemendikbud, 2018).

Dari pengertian tersebut dapat dijelaskan bahwa pemahaman atas karakteristik peserta didik dimaksud untuk mengenali ciri-ciri dari setiap peserta didik yang nantinya akan menghasilkan informasi penting dalam menentukan berbagai model yang optimal dalam proses belajar mengajar. Karakteristik peserta didik terdapat banyak ragam yaitu: etnik, kultural, status sosial, minat, perkembangan kognitif, kemampuan awal, gaya belajar, motivasi, perkembangan emosi, perkembangan sosial dan perkembangan moral dan spiritual, dan perkembangan motorik. Menurut Jean Piaget anak usia 7-12 tahun mengalami tingkat perkembangan Operasinal konkret. Tingkat ini merupakan permulaan berpikir rasional yang artinya anak memiliki operasi-operasi logis yang dapat diterapkannya pada masalah-masala yang konkret. Pada zaman digital, anak usia sekolah dasar sudah bisa mengoperasikan barang-barang teknologi seperti ponsel, komputer, video game dan lain-lain.

 

Pendidikan Karakter Berbasis Keluarga

Pada dasarnya pendidikan di Indonesia dalam lingkungan keluarga didasari oleh pendidikan yang mengajarkan moral pada proses pembelajaran yang menjadikan kepribadian anak menjadi lebih dewasa dimasa depan. Di dalam lingkungan keluarga anak mendapatkan pendidikan pertama. Dalam berbicara mengucapkan kata Ibu saja tidak bisa jika tidak diajarkan ibu berbicara. Oleh karena itu dalam perkembangan karakter keluarga sangat berperan bagi anak dalam penguatan moral sebagai fondasi kepribadian anak. Sehingga keluarga turut berperan mendidik anaknya dan juga memantau perkembangan karakter anak mulai dari hal yang boleh dilakukan dan hal yang tidak boleh dilakukan. Tanggung jawab sekolah dalam mendidik peserta didiknya saat anak berada di sekolah saja, demikian keluarga juga bertanggung jawab atas anak-anaknya baik di rumah maupun di sekolah.

Keluarga adalah unit kehidupan masyarakat yang terkecil dan paling mendasar. Menurut peneliti menyatakan bahwa di dalam keluarga terjadi pendidikan individual dan pendidikan kemasyarakatan (Bariyah, 2019). Di dalam dunia pendidikan keluarga, sekolah dan masyarakat merupakan tri pusat pendidikan. Ketiga lembaga tersebut memiliki peranan yang sangat penting dalam mengantarkan manusia menjadi makhluk yang berbudaya dan berkaraker. Di dalam rumah tangga atau keluarga pola asuh orang tua dalam proses pendidikan secara ilmiah dan aktualisasi nilai-nilai dalam proses pembelajaran atau ajaran secara efektif menjadi dasar dalam pengembangan pendidikan di lingkungan keluarga (Acetylena, 2018).

Pendidikan di keluarga adalah dasar pendidikan di lingkungan keluarga yang perlu disadari bahwa pendidikan keluarga tidak hanya sebatas wadah untuk mendidik anak. Kita sebagai orang tua juga harus berpendidikan. Perhatian orang tua tak tergantikan oleh apa pun. Kedekatan hubungan antara orang tua dan anak tentu saja akan berpengaruh secara emosional. Anak akan merasa dirinya berharga apabila orang tua memberika perhatiannya kepada anak. Orang tua merupakan motivasi terbesar bagi anak. Oleh karena itu, kualitas dan kuantitas pertemuan antar anggota keluarga perlu ditingkatkan dengan tujuan untuk membangun keutuhan hubungan orang tua dan anak.

Membentuk kepribadian anak lingkungan keluarga adalah tempat dasar pembentukan pendidikan utama dimana ibu dan ayah serta orang-orang terdekat memiliki kontribusi yang sangat tinggi terhadap perkembangan anak di masa yang akan datang. Dengan demikian, para orang tua sebagai penanggung jawab utama pendidikan seorang anak harus sadar apa yang dapat dan harus mereka lakukan untuk membuat anak menikmati dan banyak mendapat manfaat dalam setiap tahap perkembangannya dan juga memiliki ilmu mendidik yang baik. Namun demikian, pelatihan parenting masih sangat minim dilakukan masyarakat, baik secara kuantitas maupun kualitas. Sosok dan peran ibu sangat penting bagi perkembangan dan pertumbuhan anak. Orang tua, terutama ibu, harus bijak dalam memberi arahan dan menasehati anak. Saat ini pada umumnya, para orang tua cenderung lalai mendidik anak. Orang tua sibuk bekerja dan memilih menitipkan anak pada sekolah dan guru-guru mereka. Namun saat pandemi Covid-19 pekerjaan orang tua yang semula di kantor kini bekerja dari rumah atau biasa disebut dengan WFH (work from home). Orang �tua terutama ibu bisa mendampingi anaknya dalam pembelajaran daring. Hal ini dapat dijabarkan bahwa orang tua juga harus diajak mereview seberapa dalam perhatian mereka pada anak-anak, seberapa sering orang tua berdoa untuk anak-anak padahal tantangan dan ancaman kehidupan anak-anak saat ini sungguh sangat besar. Perhatian dan doa orang tua adalah kunci kebaikan dunia akhirat bagi anak-anak (Acetylena, 2018).

Dalam pedoman sikap dan perilaku anak dimulai dengan melakukan pembiasaan yang diterapkan sejak dini dalam keluarga sehingga diharapkan dapat memberikan arahan yang baik dalam bersikap dan berperilaku sebagaimana mestinya (Setiardi & Mubarok, 2017). Hal ini didasari oleh realistis hubungan orang tua dengan anak, yaitu sebagai berikut:

1.       Keluarga merupakan tempat awal anak mendapatkan pendidikan untuk pertama kalinya.

2.      Keluarga adalah tempat berkumpul dalam menghabiskan waktu.

3.      Hubungan orang tua dengan anak saling terkait oleh ikatan emotional.

 

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi Pendidikan Karakter di Lingkungan Keluarga, di antaranya sebagai berikut:

a)      Pihak sekolah

b)      Pihak guru

c)      Pihak wali murid/Orang tua

d)     Pihak anak

 

Nilai-nilai Dasar Pendidikan Karakter

Peraturan Presiden Nomor 87 tahun 2017 (Presiden Republik Indonesia, 2017) menjelaskan terdapat lima nilai karakter utama yang bersumber dari Pancasila, yang menjadi prioritas pengembangan gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), diantaranya yaitu religius, nasionalisme, integritas, kemandirian, dan gotong-royong. Nilai-nilai tersebut tidak dapat berdiri melainkan saling keterkaitan satu sama lain.

a.       Religius

Nilai karakter religius mencerminkan keimanan kepada Tuhan yang Maha Esa, yang terdapat dalam prilaku ajaran agama dan kepercayaan yang dianut, saling menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi sikap saling toleransi terhadap kepercayaan masing-masing, hidup rukun dan damai dengan kepercayaan agama lain. Terdapat implementasi pada nilai karakter religius ditunjukan dalam sikap toleransi, cinta damai, menghargai perbedaan agama dan kepercayaan, anti bullying, percaya diri, teguh pendirian, kerjasama atar pemeluk agama dan kepercayaan, anti perundungan dan kekerasan, mencintai lingkungan, ketulusan, kesabaran, dan tidak memaksakan kehendak.

b.      Mandiri

Mandiri merupakan sikap dan perilaku seseorang yang tidak bergantung kepada orang lain. Nilai-nilai tersebut menjadi etos kerja (kerja keras) seseorang yang profesional, tidak mudah putus asa, pembelajar, dan kreatif.

c.       Gotong Royong

Gotong royong merupakan tindakkan yang mncerminkan semangat kerja sama dengan saling menghargai dan memberikan pertolongan kepada orang yang saling membutuhkan. Berikut terdapat nila-nilai gotong royong yaitu saling menghargai, kerja sama, komitmen terhadap keputusan bersama, musyawarah mufakat, saling tolong menolong dan solidaritas.�

d.      Nasionalis

Nilai karakter nasionalis merupakan cara berpikir dan bersikap dalam menunjukkan kesetiaan, kepedulian dan penghargaan terhadap bahasa, lingkungan, sosial, budaya, dan ekonomi bangsa. Membuat kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelonpoknya. Nilai nasionalis ditunjukkan melalui sikap apresiasi budaya bangsa sendiri dengan menjaga kekayaan budaya bangsa sendiri, menghormati keberagaman budaya, suku dan agama serta menjaga lingkungan, cinta tanah air, taat hukum, rela berkorban, unggul, dan berprestasi.

e.       Integritas

Integritas merupakan dasar perilaku yang menjadikan seseorang dapat dipercaya. Nilai-nilai integritas tersebut meliputi nilai keadilan, kejujuran, anti korupsi,� dan tanggung jawab.

 

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemandirian

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kemandirian seorang anak, menurut Asrori (Ali & Asrori, 2016), kemandirian bukan semata pembawaan seseorang sejak lahir, perkembangannya juga dipengaruhi oleh lingkungan, selain potensi yang dimiliki sebagai keturunan dari orang tua, diantaranya:

1.       Gen atau Keturunan Orang tua

Sifat kemandirian pada orang tua akan menurun pada anaknya, namun tidak langsung diturunkan menjadi sifat bawaan anak sejak lahir akan tetapi sifat kemandirian pada anak akan muncul berdasarkan cara bagaimana orang tua mengasuh dan mendidik anaknya.

2.      Pola Asuh Orang tua

Dalam tahap perkembangan pola asuh orang tua dapat dipengaruhi oleh bagaimana cara orang tua mengasuh dan mendidik anak. Pola asuh orang tua yang baik dapat mendorong perkembangan kemandirian anak sehingga perkembangannya akan optimal, sedangkan pola asuh orang tua yang tidak baik akan dapat menghambat perkembangan kemandirian anak.

3.      Sistem Pendidikan di Sekolah

Dalam sistem pendidikan di sekolah proses pendidikan yang terjadi di sekolah juga dapat berpengaruh pada perkembangan kemandirian anak. Serta terlaksananya proses pendidikan yang demokratis di lingkungan sekitar anak sehingga dapat merangsang dan mendorong bahkan menghambat proses perkembangan kemandirian anak.

Berdasarkan penjelasan diatas bahwa faktor yang dapat mempengaruhi kemandirian belajar anak yaitu faktor keturunan orang tua, pola asuh orang tua, sistem pendidikan di sekolah, dan kehidupan di masyarakat. Sehingga dari faktor-faktor tersebut perlu diperhatikan agar kemandirian belajar pada setiap anak dapat berkembang dengan maksimal.

 


 

Pentingnya Kemandirian bagi Peserta Didik

Pengaruh kompleksitas kehidupan terhadap peserta didik terlihat dari berbagai fenomena yang sangat membutuhkan perhatian dunia pendidikan, seperti makin hari makin mencuat, kekerasan dan bullying, ujaran kebencian, makian, dan terlalu ingin tahu urusan orang lain serta berbagai tingkah laku lainnya yang menjadi pemicu keboborakan moral yang semakin tidak terkendali. Dalam konteks proses belajar, terlihat adanya fenomena peserta didik yang kurang mandiri dalam belajar, yang dapat menimbulkan gangguan mental setelah memasuki pendidikan lanjutan, kebiasaan yang kurang baik (seperti tidak betah belajar lama atau belajar hanya menjelang ujian, membolos, menyontek, dan mencari bocoran soal-soal ujian). Oleh karena itu kemandirian belajar merupakan hal penting yang harus dimiliki peserta didik dalam proses pembelajaran.

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang sangat cepat dan telah membawa dampak begitu besar dalam kehidupan manusia secara keseluruhan. Tak terkecuali dalam sistem pendidikan, yang telah mendorong aktivitas pembelajaran beradaptasi, agar dapat menyesuaikan dengan program-progam yang berbasis internet. Apabila sebelumnya lebih banyak berorientasi pada sistem konvensional yang tatap muka, maka pelan tapi pasti bergeser ke arah pendidikan dalam jaringan atau online yang menggunakan teknologi informasi dan komunikasi canggih (Industri et al., 2020)

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan pendekatan studi kasus (case study) yang berfokus pada penguatan nilai kemandirian anak sekolah dasar dalam pendidikan karakter berbasis keluarga.

Subjek penelitian yang digunakan adalah orang tua anak sekolah dasar. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Waktu penelitian selama 1 bulan, dengan subjek penelitian berjumlah 4 orang yaitu orang tua yang memiliki anak usia sekolah dasar di daerah Jl. Permata dalam Rt.006 Rw.015 Kelurahan Tegal Alur, Kecamatan Kalideres Jakarta Barat. Penelitian ini dimulai dengan mengumpulkan data berupa data lisan dari hasil wawancara kepada orang tua di Jl. Permata dalam Rt.006 Rw.015 Kelurahan Tegal Alur.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pembahasan dalam penelitian ini adalah berusaha menjelaskan secara terperinci terkait bagaimana peran orang tua dalam penguatan nilai kemandirian anak sekolah dasar di Jalan Permata Dalam RT.006/RW015 dan kesulitan orang tua dalam penguatan nilai kemandirian anak sekolah dasar di wilayah Tegal Alur. Berikut adalah hasil penelitian yang diperoleh peneliti di Jalan Permata Dalam, Tegal Alur, Jakarta Barat.

 

1.     Penguatan Nilai Kemandirian Anak SD dalam Pendidikan Karakter Berbasis Keluarga.

Dalam penguatan kemandirian belajar yang dilakukan oleh individu dengan kebebasannya tanpa bergantung pada bantuan orang lain, hal tersebut termasuk sebagai suatu peningkatan dalam hal pengetahuan, keterampilan, atau pengembangan prestasi, yang meliputi: menentukan dan mengelola sendiri waktu, tempat, dan memanfaatkan berbagai sumber belajar yang diperlukan. Sehingga penguatan nilai kemandirian adalah sebuah pola pembiasaan hidup mandiri yang dilakukan sejak dini. Adapun ciri-ciri kemandirian belajar pada setiap siswa yang dapat diamati dengan perubahan sikap yang muncul melalui pola tingkah laku antara lain mempunyai tanggung jawab, memiliki keyakinan akan kemampuan yang dimilikinya serta dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin untuk belajar.

Orang tua juga merupakan pondasi utama dalam proses perkembangan anak terutama dalam hal pendidikannya. Dalam hal pendidikan orang tua memegang kendali besar untuk membimbing, mendidik, mengarahkan, dan mendampingi anak. Hal tersebut selaras dengan penelitian yang telah dilakukan oleh (Rida Fironika Kusumadewi, Sari Yustiana, n.d.) bahwa Menumbuhkan Kemandirian Anak Selama Pembelajaran Daring Sebagai Dampak Covid-19 di SD. Namun, hal tersebut tidak menjadi hambatan bagi guru dalam mengimplementasikan pendidikan karakter saat anaknya di rumah. Karakter yang tepat saat pembelajaran daring adalah karakter mandiri, yang mana anak diharuskan mampu mengerjakan kewajiban maupun tugasnya secara mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. �Menurut (Winingsih, 2020) terdapat empat peran orang tua selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yaitu: 1) orang tua memiliki peran sebagai guru dari rumah, 2) Orang tua memiliki peran sebagai fasilitator anak, yaitu orang tua sebagai sarana dan prasarana bagi anaknya dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh, 3) Orang tua sebagai motivator, yaitu orang tua dapat memberikan semangat serta dukungan kepada anaknya dalam melaksanakan pembelajaran, sehingga anak memiliki semangat serta dukungan kepada anaknya dalam melaksanakan pembelajaran, sehingga anak memiliki semangat untuk belajar, serta dukungan kepada anaknya dalam melaksanakan pembelajaran, sehingga anak memiliki semangat untuk belajar, serta memperoleh prestasi yang baik.

 

2.    Peran Orang Tua dalam Penguatan Nilai Kemandirian Anak Sekolah Dasar di Wilayah Tegal Alur, Jakarta Barat di Tengah Pandemi Covid-19.

Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan bahwa orang tua merasa bahwa pembelajaran dari rumah selama masa pandemi sangat baik, namun bukan berarti pembelajaran di sekolah selama ini tidak baik. Hal itu dikarenakan selama pembelajaran dari rumah anak cenderung mendapatkan tugas sehingga dalam pengerjaannya bisa dibantu oleh orang tua di rumah khususnya.

Dari pendapat orang tua bahwa dilaksanakannya pembelajaran dari rumah dapat mempererat hubungannya dengan anak. Namun ada beberapa orang tua yang mengungkapkan hal sebaliknya, yaitu lebih baik jika anak belajar di sekolah, karena banyak anak yang tidak mau mendengarkan dan lebih suka bermain, sehingga tujuan pembelajaran tidak terlaksana dengan baik.

Motivasi yang diberikan oleh orang tua selama masa pandemi yang menuntut anak belajar dari rumah sudah sangat baik. Namun, tidak sedikit orang tua yang meluangkan waktunya sebagai guru dirumah demi untuk membantu mendampingi proses belajar daring anak selama di rumah. Orang tua setuju jika selama pembelajaran di rumah orang tua juga ikut membantu anak dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, walaupun tidak sedikit juga yang menganggap hal ini sebagai tambahan pekerjaan orang tua selain mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan utamanya.

Banyak orang tua berpendapat bahwa dengan dilaksanakannya pembelajaran dari rumah dapat mempererat hubungan antara orang tua dengan anak. Anak juga dinilai dapat melaksanakan pembelajaran di rumah dengan sangat baik. Sehingga banyak orang tua yang mencoba hal-hal kreatif agar anak tidak merasa jenuh dalam belajar. Namun ada beberapa orang tua yang mengungkapkan hal sebaliknya, yakni lebih baik jika anak belajar di sekolah, karena banyak anak yang tidak mau mendengarkan dan lebih suka bermain, sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai dengan baik.

Pembelajaran dari rumah dapat mendekatkan orang tua dengan anak. Sehingga orang tua dapat merasakan dan melihat langsung perkembangan anaknya dalam belajar dan juga orang tua dapat memahami kemampuan anaknya. Karena hakikatnya orang tua adalah madrasah pertama bagi anak sebelum adanya pembelajaran di sekolah. Adanya pembelajaran daring selama masa pandemi Covid-19 ini membuat orang tua sadar bahwa peran orang tua sangat berpengaruh pada kemandirian anak dalam belajar.

Pada lingkungan keluarga, orang tua merupakan pemegang kendali besar yaitu bertanggung jawab serta berkewajiban dalam mendidik anak-anak mereka. Salah satu kewajiban orang tua adalah berperan sebagai guru di lingkungan keluarga. Orang tua berperan sebagai guru dirumah yaitu mampu memberikan pendampingan, bimbingan, pengarahan, serta mendidik anak terutama selama proses pendidikan berlangsung. Dalam kondisi saat ini dimana pembelajaran dialihkan menjadi belajar dari rumah, maka keberhasilan suatu pembelajaran bergantung pada keterlibatan orang tua sebagai guru di rumah.

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan responden yaitu ibu N mengatakan �Orang tua merupakan pondasi dari keberhasilan pendidikan karakter dalam pembelajaran daring saat ini.� Selama pelaksanaan pembelajaran daring, peran orang tua menjadi hal yang lebih dominan berperan jika dibandingkan dengan guru. Hal tersebut dikarenakan orang tua yang membangun interaksi secara langsung dengan anak di rumah bukan guru.

Berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi di Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat. Dapat peneliti simpulkan, bahwa penguatan nilai kemandirian dalam pendidikan karakter berbasis keluarga di tengah pandemi Covid-19 di Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat terbagi menjadi beberapa bagian penting, yaitu:

 

a.    Orang Tua Sebagai Guru

�� Peneliti mengatakan bahwa peran orang tua adalah suatu proses dimana para orang tua menggunakan segala kemampuannya, guna keuntungannya sendiri dan anak-anaknya, serta program pembiasaan yang dijalankan itu sendiri (Elihami & Ekawati, 2020). Peneliti mengatakan bahwa keterlibatan orang tua dalam mendidik anak sangat dibutuhkan dan sangat penting dari dahulu sampai sekarang, meningkatkan tindakan positif, meningkatkan tingkat presentase kehadiran anak, meningkatkan relasi antara orang tua dan anak, dan mendukung kemajuan pendidikan secara holistic (Valeza, 2017).

Orang tua sebagai pendamping akademik juga memerlukan pemahaman terkait materi-materi pembelajaran anak sekolah dasar sehingga komunikasi orang tua dan guru harus lebih intensif. Selain komunikasi dengan guru yang tak kalah pentingnya juga yaitu penguasaan orang tua terhadap media pembelajaran daring seperti whatsApp, zoom, google classroom, google meet dan beberapa media pembelajaran lainnya. Selama proses pembelajaran daring tidak sedikit anak merasa kesulitan dalam menyelesaikan tugas-tugas, serta kesulitan dalam memahami materi pelajaran. Hal tersebut adalah tanggung jawab orang tua dalam memberikan arahan, pendampingan dan bantuan terhadap anak agar anak dapat melalui kesulitannya. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, data menyatakan bahwa sebagian orang tua sudah melaksanakan tanggung jawabnya sebagai guru bagi anak dirumah. Pendampingan yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya mulai dari membantu mengerjakan tugas, membantu memberikan pemahaman terkait materi pembelajaran, serta membantu anak dalam memahami perintah-perintah yang diberikan oleh guru di sekolah.

Hasil penelitian ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Dwiyanti dan Febrianti (Dwiyanti & Febrianti, 2021) yang berjudul �Keterlibatan Orang Tua Dalam Pembelajaran Daring di Kaliabang Tengah Bekasi Utara�. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kesulitan yang dihadapi orang tua dalam pembelajaran daring di Kaliabang Tengah Bekasi Utara yaitu: a) latar belakang pendidikan orang tua memengaruhi tingkat kesulitan dalam hal mendidik anak, b) tingkat sosial ekonomi orang tua memengaruhi dalam hal pemenuh kebutuhan atau memfasilitasi anak selama pembelajaran daring di rumah, c) kesulitan dalam membagi waktu pendampingan belajar anak di rumah karena faktor pekerjaan.

Orang tua sebagai guru bagi anak yang dimaksud adalah orang tua terlibat dalam mendampingi anak belajar memberikan penjelasan terkait materi pelajaran anak. Jika orang tua tidak perduli terhadap pembelajaran daring, maka pelaksanaan pembelajaran daring tidak akan berjalan efektif. Melalui penguatan nilai kemandirian anak sekolah dasar peran orang tua sebagai guru dapat membantu anak dalam memberikan gambaran hal-hal yang harus dilakukan selama pelaksanaan pembelajaran daring di rumah. Sehingga memberikan kemudahan bagi anak selama belajar, dan meminimalisisr tingkat kebosanan anak karena orang tua mendampingi serta membimbing.

Berdasarkan hasil data penelitian menyatakan bahwa orang tua di Jalan Permata dalam telah menjalankan tanggung jawabnya sebagai guru bagi anaknya di rumah melalui pendampingan selama pembelajaran daring berlangsung.

 


 

Orang Tua Sebagai Fasilitator

Orang tua sebagai fasilitator saat pembelajaran online bervariasi yakni orang tua sebagai pembimbing bagi anak, orang tua sebagai jembatan antara anak dan guru, dan orang tua sebagai penyedia fasilitas pembelajaran. Peran orang tua sebagai pembimbing anak yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung (Anggraeni et al., 2021).

Pelaksanaan pembelajaran daring tidak dapat berjalan lancar apabila fasilitas pendukungnya tidak terpenuhi. Salah satu fasilitas pendukung dalam pembelajaran daring adalah smartphone dan kouta internet. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, seluruh orang tua sudah melaksanakan perannya sebagai fasilitator bagi anak di rumah. Meskipun dalam pemenuhannya orang tua harus bekerja tambahan namun orang tua tetap berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan anak terutama selama pembelajaran daring saat ini.

Media smartphone dan kouta internet menjadi kebutuhan selama keberlangsungan pembelajaran daring. Kedua fasilitas tersebut saling dibutuhkan demi kelancaran pelaksanaan pembelajaran daring anak di rumah. Selain kedua fasilitas tersebut, orang tua juga bertanggung jawab dalam memberikan lingkungan belajar yang nyaman di rumah. Hal ini dilakukan untuk memberikan kenyamanan anak selama belajar daring, serta meminimalisir kejenuhan anak selama proses pembelajaran di rumah.

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa peran orang tua dalam pembelajaran daring di Jalan Permata, Tegal Alur memiliki peran besar dalam menyukseskan keberhasilan kemandirian anak sekolah dasar. Peran orang tua dalam memberikan pendampingan, motivasi, serta penyediaan fasilitas kepada anak sangat memengaruhi pelaksanaan pembelajaran daring, dalam kata lain orang tua memegang kendali besar terhadap keberhasilan pendidikan anak terutama dalam pembelajaran daring saat ini.

 

b.    Orang Tua Sebagai Motivator

Orang tua sebagai motivator bagi anak yang dimaksud adalah seseorang yang dapat memberikan motivasi kepada orang lain. Motivasi adalah daya penggerak dalam diri seseorang yang berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi seseorang melakukan sesuatu karena motivasi. Dengan adanya usaha yang tekun dan didasari motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan prestasi yang baik, intensitas motivasi seseorang siswa akan menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya. Dalam kaca mata seorang anak, orang tua merupakan figur panutan atau teladan yang dapat menginspirasi bagi anak. Hal itu menjadi bagian yang penting sebagai tanggung jawab orang tua kepada anaknya, seperti saat melaksanakan pembelajaran dari rumah dimana anak sangat membutuhkan semangat yang besar, dan dukungan dari keluarga terutama kedua orang tuannya. Hal tersebut dapat menjadikan orang tua berperan sebagai guru anaknya di rumah

Berdasarkan hasil data yang terjadi di lapangan kasus yang terjadi banyak orang tua yang masih belum membiasakan anaknya untuk belajar mandiri dan menyadari perannya dalam mendidik anak termasuk dengan motivasi belajar anak. Orang tua yang tidak tahu peran mereka dalam membantu anaknya sehingga terkadang orang tua hanya mengetahui dan bertanggung jawab sekedar menyekolahkan anaknya tetapi mengabaikan pendidikan, termasuk dorongan dan kemandirian belajar bagi anak tersebut. Padahal seperti yang diketahui bahwa pendidikan yang pertama kali dikenal oleh anak adalah dari keluarga dan orang tua yang memiliki peran penting di dalamnya. Melalui semangat yang diberikan orang tua akan menghasilkan sebuah energi pendorong bagi anak dalam melakukan sesuatu hal. Pemberian semangat tersebut menjadi pengaruh besar bagi anak dalam menyelesaikan masalahnya. Sehingga melalui semangat dari orang tua anak akan termotivasi untuk bangkit dan semangat saat melakukan kegiatannya.

Hasil penelitian peran orang tua dalam penguatan nilai kemandirian anak terbagi menjadi tiga peran, pertama peran orang tua sebagai pembimbing, kedua peran orang tua sebagai motivator, ketiga peran orang tua sebagai fasilitator. Orang tua sebagai pembimbing, pada masa anak-anak atau usia sekolah dasar lebih banyak membutuhkan bimbingan, perhatian dan kasih sayang, maka para orang tua tidak dapat menyerahkan kepercayaan seluruhnya kepada guru di sekolah, artinya orang tua harus banyak berkomunikasi dengan guru. Orang tua mendidik anaknya di rumah, dan di sekolah untuk mendidik anak diserahkan kepada pihak sekolah atau guru.

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa orang tua sebagai motivasi bagi anaknya dapat mempengaruhi energi semangat belajar anak sekolah dasar untuk bisa menyelesaikan kesulitan-kesulitan selama proses pelaksanaan pembelajaran daring.

 

3.    Kesulitan Orang Tua dalam Penguatan Nilai Kemandirian anak sekolah dasar di wilayah Tegal Alur, Jakarta Barat di Tengah Pandemi Covid-19.

Berdasarkan hasil penelitian yang disimpulkan dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi terkait faktor penghambat pada penelitian ini yaitu orang tua yang berperan sebagai guru di rumah dalam mendampingi pembelajaran daring di Jalan Permata RT.006/015, Tegal Alur, Jakarta Barat. Terdapat kesulitan yang dihadapi orang tua dalam penguatan nilai kemandirian anak sekolah dasar, yaitu:

Pertama, orang tua kesulitan dalam memberikan penjelasan materi pelajaran. Hal tersebut dibuktikan dari hasil wawancara yang dilakukan dengan Ibu M yang merasa kesulitan dengan adanya pembelajaran daring ini. Karena ibu M hanya mengenyam pendidikan tamatan SD saja sehingga perbedaan materi zaman dahulu sampai saat ini yang menjadi salah satu faktor kesulitan ibu M dalam mendampingi anaknya selama pembelajaran daring tersebut. Adapun Kesulitan lainnya adalah ketersediaan jaringan internet juga sering menjadi kendala. Solusi yang dilakukan orang tua terkait kesulitan tersebut adalah dengan menyiapkan kouta internet untuk anaknya bisa mengikuti proses pembelajaran daring dan Ibu M dibantu anak laki-lakinya untuk menyelesaikan tugas adik-adiknya.�

Kedua, kesulitan lain yang juga dialami orang tua selama pelaksanaan pembelajaran daring adalah sulitnya membagi waktu sama pekerjaan rumah. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa orang tua merasa kesulitan dalam membagi waktu, karena selain pekerjaan ibu rumah tangga kadang sering kesulitan untuk menjawab soal-soal yang tidak ada jawabannya dibuku, karena engga paham. Kadang suka salah ngerjain tugas mba, antara guru dengan siswa kadang sering tidak nyambung komunikasinya. Udah dikerjain tugas halaman ini ternyata kata gurunya salah.

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, seluruh orang tua merasa keteteran dalam membagi waktu untuk mengatur pendampingan belajar anak dan pekerjaan rumah. Pengalihan pembelajaran daring ini, mengakibatkan orang tua menerima alih fungsi dari guru di sekolah. Tidak sedikit orang tua mengeluh lelah dalam memberikan pendampingan anak selama pembelajaran daring. Hal tersebut menimbulkan stress pada diri orang tua terutama gender ibu. Data menunjukkan bahwa gender ayah jarang terlibat, bahkan ada yang tidak sama sekali terlibat dalam memberikan pendampingan belajar anak di rumah. Hal ini yang menjadi salah satu penyebab peran ibu merasa keteteran dalam membagi waktu untuk memberikan pendampingan anak belajar daring.

Ketiga, kesulitan selanjutnya yang dihadapi orang tua disebabkan oleh faktor ekonomi. Berdasarkan hasil penelitian di Jalan Permata tepatnya di Rt.006/015, Tegal Alur, Jakarta Barat, hasil data menunjukkan bahwa tingkat ekonomi di daerah tersebut adalah menengah kebawah. Jadi, perlu diketahui bahwa pelaksanaan pembelajaran daring membutuhkan banyak fasilitas pendukung seperti smartphone yang mendukung, dan kuota internet yang mencukupi selama kegiatan pembelajaran daring berlangsung. Pada kenyataannya, tidak selamanya orang tua mempunyai cukup biaya untuk memberikan kebutuhan belajar anak. Hal tersebut menjadi tantangan untuk seluruh orang tua.

Berdasarkan hasil penjelasan diatas, dapat peneliti simpulkan secara umum bahwa kesulitan yang dialami orang tua dalam pelaksanaan daring di Jalan Permata, Tegal Alur, Jakarta Barat adalah:

a)      Latar belakang pendidikan yang dapat memengaruhi tingkat kesulitan dalam mendidik anak SD.

b)      Status sosial ekonomi yang rendah memengaruhi orang tua dalam hal memenuhi kebutuhan atau fasilitas pembelajaran daring anak, dan

c)      Sulitnya membagi waktu dalam mendampingi anak belajar dengan mengurus pekerjaan rumah.

 

KESIMPULAN

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran orang tua terutama gender ibu, menjadi faktor utama dalam memberikan bimbingan kepada anaknya selama pembelajaran daring di rumah seperti: a) orang tua sebagai guru; b) orang tua sebagai fasilitator; c) orang tua sebagai motivator. �Kesulitan yang dihadapi orang tua dalam pembelajaran daring di jl permata dalam Rt.006/Rw.015 yaitu a) Latar belakang pendidikan yang dapat memengaruhi tingkat kesulitan dalam mendidik anak sekolah dasar; b) Status sosial ekonomi yang rendah memengaruhi orang tua dalam hal memenuhi kebutuhan atau fasilitas pembelajaran daring anak; dan c) Sulitnya membagi waktu dalam mendampingi anak belajar dengan mengurus pekerjaan rumah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BIBLIOGRAFI

Acetylena, S. (2018). Pendidikan Karakter Ki Hadjar Dewantara (K. Sukmawati (Ed.)). Madani.

 

Ali, M., & Asrori, M. (2016). Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik, Mohammad Ali, Mohammad Asrori. Jakarta : Bumi Aksara.

 

Anggraeni, R. N., Fakhriyah, F., & Ahsin, M. N. (2021). Peran orang tua sebagai fasilitator anak dalam proses pembelajaran online di rumah. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 8(2), 105�117. http://dx.doi.org/10.30659/pendas.8.2.105-117

 

Bariyah, S. K. (2019). Peran tripusat pendidikan dalam membentuk kepribadian anak. Jurnal Kependidikan, 7(2), 228�239. https://doi.org/10.24090/jk.v7i2.3043

 

Budhiman, A. (2017). Penguatan Pendidikan Karakter: Arahan Khusus Presiden Gerakan Nasional Revolusi Mental [Strengthening Character Education: Special Presidential Directive National Mental Revolution Movement].

 

Dwiyanti, K., & Febrianti, N. (2021). Keterlibatan Orang Tua dalam Pembelajaran Daring di Kaliabang Tengah Bekasi Utara. JURNAL SYNTAX IMPERATIF: Jurnal Ilmu Sosial Dan Pendidikan, 2(4), 315�329. http://dx.doi.org/10.36418/syntax-imperatif.v2i4.95

 

Elihami, E., & Ekawati, E. (2020). Persepsi revolusi mental orang tua terhadap pendidikan anak usia dini. Jurnal Edukasi Nonformal, 1(1), 16�31.

 

FatchulnMu�in. (2019). Pendidikan Karakter Konstruksi Teoritik & Praktik (M. Sandra (Ed.); Cetakan II). AR-RUZZ MEDIA (Perpustakaan Nasional:Katalog Dalam Terbitan).

 

Ilahi, M. T. (2018). Gagalnya Pendidikan Karakter, Analisis&Solusi Pengendalian Karakter Emas Anak Didik (R. KR (Ed.); Cetakan II). AR-RUZZ MEDIA.

 

Industri, E. R. A. R., Ridhuan, S., Wahid, A., & Juwita, S. R. (2020). Pemanfaatan Disrupsi Digital Dalam Dimensi Interaksi, Komunikasi dan Flesibelitas Pembelajaran Online.

 

Isman, M. (2017). Pembelajaran Moda dalam Jaringan (Moda Daring). The Progressive and Fun Education Seminar, 586�588.

 

Kemendikbud. (2018). Permendikbud RI No 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter pada Satuan Pendidikan Formal. Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018 Tentang Penguatan Pendidikan Karakter Pada Satuan Pendidikan Formal, 8�12.

 

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2017). Peta Jalan Penguatan Pendidikan Karakter. 1�16.

 

Kosim, M. (2011). Urgensi pendidikan karakter. Karsa: Jurnal Sosial Dan Budaya Keislaman, 84�92. https://doi.org/10.19105/karsa.v19i1.78

 

Nikmatuzaroh, R. . dan N. M. (2019). Kompetensi Guru Dalam Membentuk Karakter Peserta Didik. Skripsi, 3, 39�53.

 

Pratiwi, S. I. (2020). Pengaruh Ekstrakurikuler Pramuka terhadap Karakter Disiplin Siswa Sekolah Dasar. Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, 2(1), 62�70. https://doi.org/10.31004/edukatif.v2i1.90

 

Putri, D. P. (2018). Pendidikan Karakter Pada Anak Sekolah Dasar Di Era Digital. AR-RIAYAH: Jurnal Pendidikan Dasar, 2(1), 37. https://doi.org/10.29240/jpd.v2i1.439

 

Rida Fironika Kusumadewi, Sari Yustiana, K. N. (n.d.). Menumbuhkan Kemandirian Siswa Selama Pembelajaran Daring Sebagai Dampak Covid-19 di SD. 7�13.

 

Sahroni, D. (2017). Pentingnya pendidikan karakter dalam pembelajaran. Prosiding Seminar Bimbingan Dan Konseling, 1(1), 115�124.

 

Satgas Covid-19. (2022). Surat Edaran Nomor 20 Tahun 2022 Tentang Protokol Kesehatan Pada Pelaksanaan Kegiatan Berskala Besar Dalam Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Surat Edaran Satuan Tugas Penanganan Covid-19, 78(12), 790�795.

 

Setiardi, D., & Mubarok, H. (2017). Keluarga sebagai sumber pendidikan karakter bagi anak. Tarbawi: Jurnal Pendidikan Islam, 14(2).

 

Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. ALFABETA.

 

Syarifudin, A. S. (2020). Impelementasi pembelajaran daring untuk meningkatkan mutu pendidikan sebagai dampak diterapkannya social distancing. Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia Metalingua, 5(1), 31�34.

 

Syofyan, Harlinda; Ratnawati Susanto; M. Bahrul Alam; Ratih, R., & Haikal, N. T. L. R. H. F. (2021). Pelatihan Multimedia Dalam Menunjang Pembelajaran Daring. International Journal of Community Service Learning, 5(4), 273�281.

 

Syofyan, H. (2017). Membangun Peradaban Dengan Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran Di Sekolah. Jurnal Ilmu Pendidikan, 2(2), 13.

 

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. (2003). Zitteliana, 19(8), 159�170.

 

Valeza, A. R. (2017). Peran orang tua dalam meningkatkan Prestasi anak di perum tanjung raya permai kelurahan pematang wangi kecamatan tanjung senang bandar lampung. UIN Raden Intan Lampung.

 

Winingsih, E. (2020). Peran orang tua dalam pembelajaran jarak jauh. Poskita. Co, 22�23.