PENGUATAN NILAI KEMANDIRIAN DALAM
PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS KELUARGA PADA SAAT PANDEMI COVID-19
Putri Wulandari1, Muhammad Soleh
Hapudin2
Universitas Esa Unggul,
Jakarta.
[email protected]1, [email protected]2
|
Keywords |
Abstract |
|
Character Education, Value of Independence,
Role of parents, Pandemic COVID-19 |
In an emergency
situation, where all countries including Indonesia are struggling against the
outbreak or the COVID-19 virus. All aspects of life are disrupted including
the education sector. In the world of education, the education system that
takes place changes over to online implementation (in the network). This
requires strong cooperation from all components of education, namely
teachers, students and parents. This study aims to find out how the role of
parents in strengthening the value of independence of elementary school
children. This research was conducted on parents who have elementary
school-age children in the Permatadalam area, Tegal Alur. The method used in
this research is descriptive qualitative with a case study type. The results
of this study indicate that the role of parents, especially the mother's
gender, is a major factor in providing guidance to their children during
online learning at home such as: a) parents as teachers; b) parents as
facilitators; c) parents as a motivator. The difficulties faced by parents in
online learning at Jl Permata in Rt.006/Rw.015 are a) educational background
which can affect the level of difficulty in educating elementary school
children; b) Low socioeconomic status affects parents in terms of meeting children's
online learning needs or facilities; and c) The difficulty of dividing time
in accompanying children to study by taking care of homework. |
|
Kata Kunci |
Abstrak |
|
Pendidikan
Karakter, Nilai Kemandirian, Peran orang tua, Pandemi COVID-19 |
Dalam
kondisi darurat, dimana seluruh negara termasuk Indonesia sedang berjuang
melawan wabah atau virus COVID-19. Seluruh aspek kehidupan terganggu termasuk
sektor pendidikan. Dalam dunia pendidikan, sistem pendidikan yang berlangsung
berganti alih menjadi penerapan daring (dalam jaringan). Hal tersebut membutuhkan
kerjasama yang kuat dari seluruh komponen pendidikan yaitu guru, peserta
didik dan orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana
peran orang tua dalam penguatan nilai kemandirian anak sekolah dasar. Penelitian
ini dilakukan pada orang tua yang memiliki anak usia sekolah dasar di wilayah
Permata dalam, Tegal Alur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian studi kasus (case study). Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa peran orang tua terutama gender
ibu, menjadi faktor utama dalam memberikan bimbingan kepada anaknya selama
pembelajaran daring di rumah seperti: a) orang tua sebagai guru; b) orang tua
sebagai fasilitator; c) orang tua sebagai motivator.� Kesulitan yang dihadapi orang tua dalam
pembelajaran daring di jl permata dalam Rt.006/Rw.015 yaitu a)� Latar belakang pendidikan yang dapat
memengaruhi tingkat kesulitan dalam mendidik anak sekolah dasar; b) Status
sosial ekonomi yang rendah memengaruhi orang tua dalam hal memenuhi kebutuhan
atau fasilitas pembelajaran daring anak; dan c) Sulitnya membagi waktu dalam
mendampingi anak belajar dengan mengurus pekerjaan rumah. |
Corresponding Author: Putri Wulandari�
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Berdasarkan
keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan Surat Edaran No 3
tahun 2020. Surat Edaran Sekjen Kemendikbud No 36603/A.A5/OT/2020
pada tanggal 15 Maret 2020. Kebijakan ini diberlakukan mulai tanggal 16 Maret
2020. Menanggapi surat edaran tersebut banyak instansi pemerintah terutama
sekolah-sekolah memutuskan untuk melaksanakan pembelajaran dari rumah atau
pembelajaran secara daring. Pada akhir tahun 2019 dunia telah digemparkan oleh
datangnya wabah penyakit yang memilukan. Diketahui penyebaran sebelumnya
terjadi di Wuhan, Cina pada bulan Desember 2019. Virus yang mewabah tersebut
adalah Covid-19 (Corona Virus Deaseases-19) namun tidak sedikit korban yang
terinveksi virus tersebut. Termasuk di indonesia sendiri tercatat pada awal
maret tahun 2020 terdapat 2 orang yang terkonfirmasi positif Covid-19. Virus
Corona merupakan kelompok virus yang menyebabkan berbagai macam penyakit
menular, mulai dari flu biasa hingga penyakit dengan gejala yang cukup serius seperti
MERS dan SARS. Pemerintah membuat kebijakan bagaimana proses pembelajaran agar
tetap terlaksana yaitu dengan menerapkan proses pembelajaran secara daring.
Pemerintah menganjurkan untuk tetap belajar dari rumah dan mematuhi protocol
kesehatan agar tidak tertular dan menularkan orang lain (Satgas
Covid-19, 2022).
Pendidikan
pada dasarnya mampu meningkatkan kemampuan sumber daya manusia menjadi manusia
berkarakter untuk dapat hidup mandiri dan mampu mengembangkan bakat serta
potensi dirinya dalam menambah wawasan, pengetahuan dan keterampilan yang
dimilikinya. Pendidikan karakter adalah proses pemberi arahan kepada peserta
didik untuk menjadi manusia berkarakter yang dapat memaknai pendidikan sebagai
sebuah nilai, budi pekerti, akhlak dan moral bangsa dengan tujuan mampu
mengembangkan kemampuan peserta didik berfikir kritis sehingga menjadi pribadi
yang lebih baik (Pratiwi,
2020). Sebuah proses penilaian karakter bukan hanya mengajarkan
salah atau benar akan tetapi dimulai dengan melakukan pembiasaan yang baik,
dalam memahami, merasakan, dan mau melakukan hal yang lebih baik. Pembiasaan
karakter yang patut ditanamkan oleh anak sekolah dasar yaitu mencintai Allah
SWT, belajar mandiri, sopan santun, hormat dan peduli serta percaya diri,
rendah hati, toleransi, jujur, disiplin, tanggung jawab, tidak mudah menyerah,
kerja keras, dan kreatif. Adapun pembiasaan dalam diri yang merupakan akhlak
manusia yang didorong secara sadar untuk dapat mencerminkan perbuatan yang
baik. Sehingga karakter-karakter yang tertanam pada peserta didik merupakan
akhlak yang mulia dalam mencerminkan perilaku peserta didik di kehidupan
sehari-hari.
Pada
masa pandemi Covid-19 Menurut peneliti
pembelajaran daring merupakan pemanfaatan jaringan internet dalam proses
pembelajaran (Isman,
2017). Sehingga dalam pembelajaran daring ini mampu merubah tatanan
pembelajaran secara drastis dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi.
Pelaksanaan pembelajaran pada masa Pandemi Covid-19 ini harus tetap berjalan
dengan tujuan pendidikan nasional dapat terpenuhi begitupula dengan penguatan
nilai kemandirian belajar peserta didik harus tetap berjalan maka dibutuhkan
peran pendampingan orang tua dan seorang guru dalam pelaksanaannya. Selama
pelaksanaan pembelajaran secara daring, anak dan guru sangat memerlukan bantuan
alat teknologi seperti handphone, laptop, atau pun komputer. Selain alat
teknologi tersebut diperlukan juga kuota internet yang memadai untuk mengakses
materi atau tugas-tugas yang diberikan guru. Guru memiliki peran penting untuk
membuat anak tertarik dalam mengikuti pembelajaran daring ini (Syofyan,
Harlinda; Ratnawati Susanto; M. Bahrul Alam; Ratih & Haikal, 2021). Hal itu dilaksanakan sebagai langkah
yang tepat dalam mencegah dan menekan penularan virus Covid-19.
Menurut
peneliti pembelajaran
daring dapat dijadikan solusi pembelajaran jarak jauh ketika terjadi bencana
alam (Syarifudin, 2020). Untuk saat ini hampir seluruh jenjang pendidikan di
Indonesia melaksanakan pembelajaran secara daring. Hal ini juga berlaku di
wilayah Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat. Anak diminta untuk belajar dari
rumah dengan memanfaatkan teknologi digital seperti whatsApp grub, google
classroom, zoom meeting, rumah belajar, telepon atau live chat dan lainnya.
Oleh karena itu menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua dalam penguatan
nilai kemandirian pendidikan karakter anak sekolah dasar berbasis keluarga di
tengah pandemi Covid-19.�
Penguatan
nilai kemandirian dalam pendidikan karakter harus dimulai sejak usia dini.
Dalam penguatan pendidikan karakter terdapat nilai kemandirian dari hasil
proses belajar, pembiasaan dan pengalaman. Kemandirian dalam belajar akan
menjadi pondasi yang kuat untuk membangun kepribadian peserta didik pada
jenjang pendidikan selanjutnya dan juga pada kehidupan bermasyarakat pada
umumnya. Salah satu aspek kepribadian yang penting pada peserta didik adalah
kemandirian, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional di indonesia yang
tercantum dalam UU Sisdiknas Bab II Pasal 3 yaitu membangun landasan bagi
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang mandiri (�Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional,�
2003)
Kemandirian
pada seseorang memiliki nilai tanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan tidak
dapat bergantung pada orang lain. Setiap manusia dapat mengembangkan
kemandirian dan bertanggung jawab sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya.
Kemandirian pada seseorang dapat dilihat dari bagaimana kemampuan mengontrol
tingkah laku, tanggung jawab, mampu menahan diri, membuat keputusan sendiri,
serta mampu mengatasi masalah tanpa ada pengaruh dari orang lain. Peran orang
tua memiliki peranan yang sangat penting untuk mencapai keberhasilan dalam
penguatan nilai kemandirian.
Berdasarkan
penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa penguatan nilai kemandirian dalam
pendidikan karakter berbasis keluarga di tengah pandemi Covid-19 ini merupakan
pola pembiasaan yang dapat membantu individu dalam memahami nilai-nilai
perilaku disiplin, mandiri, kreatif dan berinovatif. Dari penguatan nilai
kemandirian belajar peserta didik diharapkan mampu menjadi generasi penerus
bangsa yang bermartabat, berintegrasi dan memiliki nilai tambah bagi keluarga,
sekolah dan masyarakat. Sehingga mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain
secara global.
Melalui
pendidikan karakter berbasis keluarga diharapkan peserta didik di SD akan
menjadi lebih baik dalam bersikap, dan berperilaku baik di lingkungan sekolah,
keluarga, maupun masyarakat. Mengingat saat ini telah terjadi pandemi Covid-19
mengakibatkan proses belajar mengajar berlangsung secara daring yang dilakukan
secara mandiri di rumah masing-masing. Kurangnya pamantauan oleh guru membuat
peserta didik belum mampu menyelesaikan tugasnya secara mandiri. Oleh karena
itu penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penguatan nilai kemandirian
dalam pendidikan karakter berbasis keluarga di tengah pandemi Covid-19. Dengan
mengarahkan kemandirian peserta didik agar menjadi anak yang mandiri dan
memiliki kepribadian atau karakter yang bermoral baik, bernilai luhur pada
bangsa serta beragama.
Peran
orang tua juga merupakan hal yang sangat penting agar tercapainya tujuan dalam
pembelajaran, hal itu dilakukan dengan mendampingi anak saat proses
pembelajaran daring berlangsung. Tidak hanya itu bimbingan setiap harinya juga
tidak kalah penting untuk dilakukan karena hal itu memberikan dampak yang
sangat besar dalam penguatan nilai kemandirian kepada anak Sekolah Dasar. Namum
banyak faktor-faktor dari orang tua yang tidak maksimal dalam mendampingi
putra-putrinya belajar dari rumah, karena harus bekerja dan hanya memiliki satu
buah handphone untuk bergantian digunakan kakak beradik selama pembelajaran
daring. Sehingga peran orang tua sangat diperlukan dalam memberikan edukasi
kepada anak bahwa saat ini telah terjadi wabah pandemi khususnya di Indonesia.
Dengan
kemajuan teknologi di era digital saat ini sangat berkembang pesat yang dapat
dengan mudahnya dinikmati anak-anak di usia sekolah dasar. Perkembangan
teknologi saat ini mempunyai dampak positif dan dampak negatif. Fakta tersebut
dibuktikan dengan maraknya pemberitaan tentang munculnya banyak kasus bullying
di sosial media maupun secara langsung pada anak sekolah dasar dengan terjadi
kasus-kasus kekerasan tersebut pada anak usia dibawah umur menunjukkan bahwa
karakter anak bangsa yang lemah. Sehingga dibutuhkan pendampingan orang tua
dalam membentuk karakter anak sejak dini untuk dapat menumbuhkan budaya
karakter bangsa yang baik (Putri, 2018).
Hal
ini dapat dilihat dari permasalahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari
antara lain adalah anak masih ragu pada kemampuannya sendiri, belum mampu
belajar mandiri, anak minta diarahkan guru secara terus menerus dalam kegiatan
belajar, anak membutuhkan dukungan dari orang lain yang berlebihan dalam
menyelesaikan masalah sendiri, anak melakukan kegiatan masih atas perintah
orang lain, anak sering menyontek pekerjaan temannya saat ada tugas adapun anak
yang mengerjakan atas bantuan dari guru bimbingan belajar, sehingga anak tidak
mampu bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan oleh guru disekolah.
Permasalahan tersebut menggambarkan bahwa nilai kemandirian dalam diri anak
belum berkembang secara optimal. Apabila keadaan yang seperti ini tidak segera
ditangani, dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap prestasi dan motivasi
belajar anak di sekolah. Sehingga perlu adanya upaya yang dilakukan untuk
mendorong kemandirian anak dalam belajar.
Pendidikan Karakter
Pendidikan
karakter penting bagi pendidikan di Indonesia, karena pendidikan karakter akan
menjadi basic atau dasar dalam
pembentukan karakter yang berkualitas, yang tidak mengabaikan nilai-nilai
sosial seperti toleransi, kebersamaan, gotong-royong, saling membantu dan
menghormati dan sebagainya (Syofyan,
2017). Masalah moral dalam kehidupan bermasyarakat sampai saat
ini masih saja terus terjadi, oleh karena itulah membuat pendidikan karakter
tidak saja penting untuk membuat peserta didik secara umum terhindar dari
perilaku tercela ataupun yang dilarang agama maupun hukum negara. Pendidikan
yang merupakan pusat kegiatan yang unggul dalam mempersiapkan karakter (Ilahi,
2018).
Pendidikan
karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru dalam membentuk karakter
peserta didik agar mampu menjadi pribadi yang lebih baik. Serta� mampu memberikan penguatan� kebiasaan tentang hal mana yang baik atau
buruk sehingga peserta didik menjadi paham tentang mana yang benar dan tidak
benar, sehingga mampu merasakan nilai yang baik dan terbiasa melakukannya. Pada
masa anak sekolah dasar, metode yang dilakukan guru untuk mengembangkan
karakter adalah pengarahan, pembiasaan, keteladanan, pengetahuan, hukuman.
Nilai-nilai karakter yang bisa digali dalam pembelajaran seperti religius,
jujur, kerja keras, disiplin rasa tanggung jawab, cinta tanah air, peduli
terhadap lingkungan sekitar, jiwa sosial yang kuat (Nikmatuzaroh,
2019).
Menurut
penelit pendidikan
karakter merupakan sebagai upaya yang sungguh-sungguh untuk membantu seseorang
dalam memahami, peduli, dan bertindak dengan landasan nilai-nilai etis (Kosim, 2011). Kata karakter diambil dari bahasa Inggris character, yang juga berasal dari bahasa
Yunani character. Secara umum istilah
character digunakan untuk mengartikan
hal yang berbeda antara satu hal dan yang lainnya, dan akhirnya juga digunakan
untuk menyebut kesamaan kualitas pada tiap orang yang membedakan dengan
kualitas lainnya (FatchulnMu�in,
2019). Bahwa karakter juga merupakan kebiasaan baik seseorang
sebagai cerminan dari jati dirinya. Pendidikan karakter bukan sekedar mengajarkan
mana yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu, pendidikan karakter
penguatan kebiasaan tentang hal mana yang baik sehingga peserta didik menjadi
paham dan terbiasa melakukannya.Pendidik perlu mempersiapakan peserta didik
yang mampu berfikir kreatif, inovatif, dan memiliki daya juang yang
berkualitas. Sehingga pemangku kebijakan maupun praktisi pendidikan dalam
pelaksanaannya mampu mengelola dengan baik, sehingga implementasi pendidikan
nasional dapat tercapai secara optimal. Menurut peneliti keberhasilan pendidikan karakter
ditunjang dengan usaha memberikan lingkungan pendidikan serta sosialisasi yang
baik dan menyenangkan bagi anak (Sahroni, 2017). Dengan demikian pendidikan karakter saat ini dapat
mengintegrasikan dalam mengoptimalkan perkembangan seluruh dimensi anak
(kognitif, fisik, sosial�emosi, kreativitas, dan spiritual). yang mampu
penguatannilai-nilai karakter baik pada anak, sehingga anak tidak hanya tau
moral knowing, tetapi mampu melaksanakan moral action yang menjadi tujuan utama
pendidikan karakter. Tujuan Pendidikan Karakter merupakan penerus bangsa yang
mempunyai akhlak dan moral yang baik, untuk menciptakan kehidupan berbangsa
yang adil, aman dan makmur. Tujuan Pendidikan Nasional di Indonesia sebagaimana
tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional yaitu:
�������������� �Pendidikan Nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan
potensi anak agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi
warga negara yang bertanggungjawab� (Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2017).
Pendidikan
dan pembentukan karakter sangat erat kaitannya dan harus dikelola dengan baik
agar tujuan pendidikan tersebut dapat tercapai. Pendidikan merupakan jalan
utama pembentuk sumber daya manusia yang berkualitas, beriman, dan bertakwa
serta cakap terampil dalam pendidikan yang bertujuan membentuk karakter peserta
didik sebagai generasi penerus bangsa.
Pendidikan
merupakan sebuah proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang untuk
menjadi lebih baik melalui pengajaran dan pelatihan. Pendidikan di Indonesia
dengan tujuan unuk mencetak generasi yang berwawasan luas melalui implementasi
pendidikan karakter yang membentuk manusia mandiri, kreatif, beriman, berakhlak
mulia, sehat jasmani dan rohani, serta bertanggung jawab. Namun saat budaya
barat masuk ke Indonesia, sebagian masyarakat tidak mampu memfilterisasi budaya
luar yang kontradiksi terhadap nilai-nilai budaya yang ada di Indonesia. Hal
tersebut berpengaruh negatif terhadap sikap dan perilaku peserta didik.
Keluarga menjadi kiblat perjalanan dari dalam kandungan sampai tumbuh menjadi
dewasa dan berlanjut di kemudian hari. Lingkungan keluarga di masa pandemi
Covid-19 saat ini memiliki peran sangat besar dalam pembentukan karakter anak.
Namun peran guru juga tidak hanya sekedar sebagai pendidik semata, tetapi juga
sebagai pendidik karakter, moral dan budaya bagi anaknya (Putri,
2018).
Berdasarkan
pendapat para ahli mengenai pendidikan karakter dapat disimpulkan bahwa
pendidikan karakter adalah sebuah proses pembelajaran dalam membentuk karakter
peserta didik agar mampu menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan melakukan
pembiasaan berulang-ulang secara rutin hingga menjadi suatu kebiasaan, yang
akhirnya tidak hanya menjadi suatu kebiasaan tapi menjadi sebuah karakter yang
mandiri. Sehingga tujuan dalam pendidikan tersebut dapat tercapai dan membentuk
sumber daya manusia yang berkualitas, beriman, dan bertakwa serta cakap
terampil dalam pendidikan yang bertujuan membentuk karakter mandiri peserta
didik sebagai generasi penerus bangsa.
Karakteristik Peserta Didik Sekolah Dasar
Karakteristik
pada anak sekolah dasar memiliki rentang usia antara 7-12 tahun. Menurut Seifert dan Haffung, perkembangan anak usia sekolah dasar terbagi menjadi tiga
jenis yaitu:
1) Perkembangan fisik anak
a. Memiliki pertumbuhan yang lambat.
b. Berat badan anak laki-laki dan perempuan
dalam usia 9 tahun kurang lebih sama.
c. Pada umumnya anak perempuan mulai
mengalami pelonjakan pertumbuhan dengan cepat.
d. Pada saat kelas tinggi , rata-rata anak
perempuan mengalami puncak tertinggi masa pertumbuhan yang dikenal sebagai masa
pubertas
2) Perkembangan kognitif
Pada
perkembangan kognitif anak usia sekolah dasar mengalami proses perkembangan
kongkrit dan memadai
3) Perkembangan sosial
Dalam
fase anak usia sekolah dasar mereka akan mulai senang berada dalam kelompok,
sehingga munculah sikap kepemimpinan dalam diri. Pada fase ini anak cenderung
memilih pertemanan yang sejenis.
Penguatan
Pendidikan Karakter (PPK) merupakan tanggung jawab setiap lembaga pendidikan
dalam memperkuat karakter melalui harmonisasi olah rasa (estetis), olah hati
(etik), olah pikir (literasi) dan olah raga (kinestetik) dengan dukungan serta
meelibatkan publik untuk kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat (Budhiman,
2017).� Terdapat Perpes
Nomor 87 Tahun 2017 tentang Program Penguatan Pendidikan Karakter yang memiliki
5 nilai utama yaitu sebagai berikut:
1. Religius, adalah seseorang yang berbakti
dan beriman kepada Tuhan yang maha Esa.
2. Integritas, adalah seseorang yang dapat
dipercaya menjadikan individu yang����������������������������������� mampu
berbuat baik dalam perkataan, perbuatan, dan pekerjaannya.
3. Nasionalis, dapat menjadikan nasional dan
bangsa di atas kepentingan pribadi.
4. Mandiri, yaitu mampu berusaha agar tidak
bergantung kepada orang lain.
5. Gotong royong, merupakan sikap semangat
saat bekerja sama dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.
Nilai
utama pendidikan karakter tersebut tidak dapat dipisahkan bukanlah nilai yang
berkembang secara terpisah atau berdiri sendiri, melainkan nilai-nilai saling
terintegrasi satu sama lainnya agar dapat berkembang dan membentuk keutuhan
diri. Nilai-nilai tersebut masuk dalam Permendikbud No. 20 Tahun 2018 pasal 2
ayat 2 merupakan perwujudan dari 5 nilai utama yang saling berkaitan, yaitu
religiusitas, nasionalisme, kemandirian, gotong-royong, dan integritas, yang
terintegrasi dalam kurikulum (Kemendikbud,
2018).
Dari
pengertian tersebut dapat dijelaskan bahwa pemahaman atas karakteristik peserta
didik dimaksud untuk mengenali ciri-ciri dari setiap peserta didik yang
nantinya akan menghasilkan informasi penting dalam menentukan berbagai model
yang optimal dalam proses belajar mengajar. Karakteristik peserta didik
terdapat banyak ragam yaitu: etnik, kultural, status sosial, minat,
perkembangan kognitif, kemampuan awal, gaya belajar, motivasi, perkembangan
emosi, perkembangan sosial dan perkembangan moral dan spiritual, dan
perkembangan motorik. Menurut Jean Piaget anak usia 7-12 tahun mengalami
tingkat perkembangan Operasinal konkret. Tingkat ini merupakan permulaan
berpikir rasional yang artinya anak memiliki operasi-operasi logis yang dapat
diterapkannya pada masalah-masala yang konkret. Pada zaman digital, anak usia
sekolah dasar sudah bisa mengoperasikan barang-barang teknologi seperti ponsel,
komputer, video game dan lain-lain.
Pendidikan
Karakter Berbasis Keluarga
Pada dasarnya pendidikan di Indonesia
dalam lingkungan keluarga didasari oleh pendidikan yang mengajarkan moral pada
proses pembelajaran yang menjadikan kepribadian anak menjadi lebih dewasa
dimasa depan. Di dalam lingkungan keluarga anak mendapatkan pendidikan pertama.
Dalam berbicara mengucapkan kata Ibu saja tidak bisa jika tidak diajarkan ibu
berbicara. Oleh karena itu
dalam perkembangan karakter keluarga sangat berperan bagi anak dalam penguatan
moral sebagai fondasi kepribadian anak. Sehingga keluarga turut berperan
mendidik anaknya dan juga memantau perkembangan karakter anak mulai dari hal
yang boleh dilakukan dan hal yang tidak boleh dilakukan. Tanggung jawab sekolah
dalam mendidik peserta didiknya saat anak berada di sekolah saja, demikian
keluarga juga bertanggung jawab atas anak-anaknya baik di rumah maupun di
sekolah.
Keluarga
adalah unit kehidupan masyarakat yang terkecil dan paling mendasar. Menurut peneliti menyatakan bahwa di dalam keluarga
terjadi pendidikan individual dan pendidikan kemasyarakatan (Bariyah, 2019). Di dalam dunia pendidikan keluarga, sekolah dan masyarakat
merupakan tri pusat pendidikan. Ketiga lembaga tersebut memiliki peranan yang
sangat penting dalam mengantarkan manusia menjadi makhluk yang berbudaya dan
berkaraker. Di dalam rumah tangga atau keluarga pola asuh orang tua dalam
proses pendidikan secara ilmiah dan aktualisasi nilai-nilai dalam proses
pembelajaran atau ajaran secara efektif menjadi dasar dalam pengembangan
pendidikan di lingkungan keluarga (Acetylena,
2018).
Pendidikan
di keluarga adalah dasar pendidikan di lingkungan keluarga yang perlu disadari
bahwa pendidikan keluarga tidak hanya sebatas wadah untuk mendidik anak. Kita
sebagai orang tua juga harus berpendidikan. Perhatian orang tua tak tergantikan
oleh apa pun. Kedekatan hubungan antara orang tua dan anak tentu saja akan
berpengaruh secara emosional. Anak akan merasa dirinya berharga apabila orang
tua memberika perhatiannya kepada anak. Orang tua merupakan motivasi terbesar
bagi anak. Oleh karena itu, kualitas dan kuantitas pertemuan antar anggota
keluarga perlu ditingkatkan dengan tujuan untuk membangun keutuhan hubungan
orang tua dan anak.
Membentuk
kepribadian anak lingkungan keluarga adalah tempat dasar pembentukan pendidikan
utama dimana ibu dan ayah serta orang-orang terdekat memiliki kontribusi yang
sangat tinggi terhadap perkembangan anak di masa yang akan datang. Dengan
demikian, para orang tua sebagai penanggung jawab utama pendidikan seorang anak
harus sadar apa yang dapat dan harus mereka lakukan untuk membuat anak
menikmati dan banyak mendapat manfaat dalam setiap tahap perkembangannya dan
juga memiliki ilmu mendidik yang baik. Namun demikian, pelatihan parenting
masih sangat minim dilakukan masyarakat, baik secara kuantitas maupun kualitas.
Sosok dan peran ibu sangat penting bagi perkembangan dan pertumbuhan anak.
Orang tua, terutama ibu, harus bijak dalam memberi arahan dan menasehati anak.
Saat ini pada umumnya, para orang tua cenderung lalai mendidik anak. Orang tua
sibuk bekerja dan memilih menitipkan anak pada sekolah dan guru-guru mereka.
Namun saat pandemi Covid-19 pekerjaan orang tua yang semula di kantor kini
bekerja dari rumah atau biasa disebut dengan WFH (work from home). Orang �tua terutama
ibu bisa mendampingi anaknya dalam pembelajaran daring. Hal ini dapat
dijabarkan bahwa orang tua juga harus diajak mereview seberapa dalam perhatian
mereka pada anak-anak, seberapa sering orang tua berdoa untuk anak-anak padahal
tantangan dan ancaman kehidupan anak-anak saat ini sungguh sangat besar.
Perhatian dan doa orang tua adalah kunci kebaikan dunia akhirat bagi anak-anak (Acetylena,
2018).
Dalam
pedoman sikap dan perilaku anak dimulai dengan melakukan pembiasaan yang
diterapkan sejak dini dalam keluarga sehingga diharapkan dapat memberikan
arahan yang baik dalam bersikap dan berperilaku sebagaimana mestinya (Setiardi & Mubarok, 2017). Hal ini didasari oleh realistis hubungan orang tua dengan
anak, yaitu sebagai berikut:
1. Keluarga merupakan tempat awal anak
mendapatkan pendidikan untuk pertama kalinya.
2. Keluarga adalah tempat berkumpul dalam
menghabiskan waktu.
3. Hubungan orang tua dengan anak saling
terkait oleh ikatan emotional.
Terdapat
beberapa faktor yang mempengaruhi Pendidikan Karakter di Lingkungan Keluarga,
di antaranya sebagai berikut:
a) Pihak sekolah
b) Pihak guru
c) Pihak wali murid/Orang tua
d) Pihak anak
Nilai-nilai Dasar Pendidikan Karakter
Peraturan
Presiden Nomor 87 tahun 2017 (Presiden Republik Indonesia, 2017) menjelaskan
terdapat lima nilai karakter utama yang bersumber dari Pancasila, yang menjadi
prioritas pengembangan gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), diantaranya
yaitu religius, nasionalisme, integritas, kemandirian, dan gotong-royong. Nilai-nilai
tersebut tidak dapat berdiri melainkan saling keterkaitan satu sama lain.
a. Religius
Nilai
karakter religius mencerminkan keimanan kepada Tuhan yang Maha Esa, yang
terdapat dalam prilaku ajaran agama dan kepercayaan yang dianut, saling
menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi sikap saling toleransi terhadap
kepercayaan masing-masing, hidup rukun dan damai dengan kepercayaan agama lain.
Terdapat implementasi pada nilai karakter religius ditunjukan dalam sikap
toleransi, cinta damai, menghargai perbedaan agama dan kepercayaan, anti
bullying, percaya diri, teguh pendirian, kerjasama atar pemeluk agama dan
kepercayaan, anti perundungan dan kekerasan, mencintai lingkungan, ketulusan,
kesabaran, dan tidak memaksakan kehendak.
b. Mandiri
Mandiri
merupakan sikap dan perilaku seseorang yang tidak bergantung kepada orang lain.
Nilai-nilai tersebut menjadi etos kerja (kerja keras) seseorang yang
profesional, tidak mudah putus asa, pembelajar, dan kreatif.
c. Gotong Royong
Gotong
royong merupakan tindakkan yang mncerminkan semangat kerja sama dengan saling
menghargai dan memberikan pertolongan kepada orang yang saling membutuhkan.
Berikut terdapat nila-nilai gotong royong yaitu saling menghargai, kerja sama,
komitmen terhadap keputusan bersama, musyawarah mufakat, saling tolong menolong
dan solidaritas.�
d. Nasionalis
Nilai
karakter nasionalis merupakan cara berpikir dan bersikap dalam menunjukkan
kesetiaan, kepedulian dan penghargaan terhadap bahasa, lingkungan, sosial,
budaya, dan ekonomi bangsa. Membuat kepentingan bangsa dan negara di atas
kepentingan diri dan kelonpoknya. Nilai nasionalis ditunjukkan melalui sikap
apresiasi budaya bangsa sendiri dengan menjaga kekayaan budaya bangsa sendiri,
menghormati keberagaman budaya, suku dan agama serta menjaga lingkungan, cinta
tanah air, taat hukum, rela berkorban, unggul, dan berprestasi.
e. Integritas
Integritas
merupakan dasar perilaku yang menjadikan seseorang dapat dipercaya. Nilai-nilai
integritas tersebut meliputi nilai keadilan, kejujuran, anti korupsi,� dan tanggung jawab.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Kemandirian
Ada
beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kemandirian seorang anak, menurut
Asrori (Ali &
Asrori, 2016), kemandirian bukan semata pembawaan
seseorang sejak lahir, perkembangannya juga dipengaruhi oleh lingkungan, selain
potensi yang dimiliki sebagai keturunan dari orang tua, diantaranya:
1. Gen atau Keturunan Orang tua
Sifat
kemandirian pada orang tua akan menurun pada anaknya, namun tidak langsung
diturunkan menjadi sifat bawaan anak sejak lahir akan tetapi sifat kemandirian
pada anak akan muncul berdasarkan cara bagaimana orang tua mengasuh dan
mendidik anaknya.
2. Pola Asuh Orang tua
Dalam
tahap perkembangan pola asuh orang tua dapat dipengaruhi oleh bagaimana cara
orang tua mengasuh dan mendidik anak. Pola asuh orang tua yang baik dapat
mendorong perkembangan kemandirian anak sehingga perkembangannya akan optimal,
sedangkan pola asuh orang tua yang tidak baik akan dapat menghambat
perkembangan kemandirian anak.
3. Sistem Pendidikan di Sekolah
Dalam
sistem pendidikan di sekolah proses pendidikan yang terjadi di sekolah juga
dapat berpengaruh pada perkembangan kemandirian anak. Serta terlaksananya
proses pendidikan yang demokratis di lingkungan sekitar anak sehingga dapat
merangsang dan mendorong bahkan menghambat proses perkembangan kemandirian
anak.
Berdasarkan
penjelasan diatas bahwa faktor yang dapat mempengaruhi kemandirian belajar anak
yaitu faktor keturunan orang tua, pola asuh orang tua, sistem pendidikan di
sekolah, dan kehidupan di masyarakat. Sehingga dari faktor-faktor tersebut
perlu diperhatikan agar kemandirian belajar pada setiap anak dapat berkembang
dengan maksimal.
Pentingnya Kemandirian bagi Peserta Didik
Pengaruh
kompleksitas kehidupan terhadap peserta didik terlihat dari berbagai fenomena
yang sangat membutuhkan perhatian dunia pendidikan, seperti makin hari makin
mencuat, kekerasan dan bullying, ujaran kebencian, makian, dan terlalu ingin
tahu urusan orang lain serta berbagai tingkah laku lainnya yang menjadi pemicu
keboborakan moral yang semakin tidak terkendali. Dalam konteks proses belajar,
terlihat adanya fenomena peserta didik yang kurang mandiri dalam belajar, yang
dapat menimbulkan gangguan mental setelah memasuki pendidikan lanjutan,
kebiasaan yang kurang baik (seperti tidak betah belajar lama atau belajar hanya
menjelang ujian, membolos, menyontek, dan mencari bocoran soal-soal ujian).
Oleh karena itu kemandirian belajar merupakan hal penting yang harus dimiliki
peserta didik dalam proses pembelajaran.
Teknologi
Informasi dan Komunikasi (TIK) yang sangat cepat dan telah membawa dampak
begitu besar dalam kehidupan manusia secara keseluruhan. Tak terkecuali dalam
sistem pendidikan, yang telah mendorong aktivitas pembelajaran beradaptasi,
agar dapat menyesuaikan dengan program-progam yang berbasis internet. Apabila
sebelumnya lebih banyak berorientasi pada sistem konvensional yang tatap muka,
maka pelan tapi pasti bergeser ke arah pendidikan dalam jaringan atau online
yang menggunakan teknologi informasi dan komunikasi canggih (Industri
et al., 2020)
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode
kualitatif deskriptif, dengan
pendekatan studi kasus (case study)
yang berfokus pada penguatan nilai kemandirian anak sekolah dasar dalam pendidikan karakter berbasis keluarga.
Subjek penelitian yang digunakan adalah
orang tua anak sekolah dasar. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini
melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Waktu penelitian selama 1 bulan,
dengan subjek penelitian berjumlah 4 orang yaitu orang tua yang memiliki anak
usia sekolah dasar di daerah Jl. Permata dalam Rt.006 Rw.015 Kelurahan Tegal
Alur, Kecamatan Kalideres Jakarta Barat. Penelitian ini dimulai dengan
mengumpulkan data berupa data lisan dari hasil wawancara kepada orang tua di
Jl. Permata dalam Rt.006 Rw.015 Kelurahan Tegal Alur.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pembahasan
dalam penelitian ini adalah berusaha menjelaskan secara terperinci terkait bagaimana
peran orang tua dalam penguatan nilai kemandirian anak sekolah dasar di Jalan
Permata Dalam RT.006/RW015 dan kesulitan orang tua dalam penguatan nilai kemandirian
anak sekolah dasar di wilayah Tegal Alur. Berikut adalah hasil penelitian yang
diperoleh peneliti di Jalan Permata Dalam, Tegal Alur, Jakarta Barat.
1.
Penguatan Nilai Kemandirian Anak SD dalam
Pendidikan Karakter Berbasis Keluarga.
Dalam
penguatan kemandirian belajar yang dilakukan oleh individu dengan kebebasannya
tanpa bergantung pada bantuan orang lain, hal tersebut termasuk sebagai suatu
peningkatan dalam hal pengetahuan, keterampilan, atau pengembangan prestasi,
yang meliputi: menentukan dan mengelola sendiri waktu, tempat, dan memanfaatkan
berbagai sumber belajar yang diperlukan. Sehingga penguatan nilai kemandirian
adalah sebuah pola pembiasaan hidup mandiri yang dilakukan sejak dini. Adapun
ciri-ciri kemandirian belajar pada setiap siswa yang dapat diamati dengan
perubahan sikap yang muncul melalui pola tingkah laku antara lain mempunyai
tanggung jawab, memiliki keyakinan akan kemampuan yang dimilikinya serta dapat
memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin untuk belajar.
Orang
tua juga merupakan pondasi utama dalam proses perkembangan anak terutama dalam
hal pendidikannya. Dalam hal pendidikan orang tua memegang kendali besar untuk
membimbing, mendidik, mengarahkan, dan mendampingi anak. Hal tersebut selaras
dengan penelitian yang telah dilakukan oleh (Rida
Fironika Kusumadewi, Sari Yustiana, n.d.) bahwa Menumbuhkan Kemandirian Anak
Selama Pembelajaran Daring Sebagai Dampak Covid-19
di SD. Namun, hal
tersebut tidak menjadi hambatan bagi guru dalam mengimplementasikan pendidikan
karakter saat anaknya di rumah. Karakter yang tepat saat pembelajaran daring
adalah karakter mandiri, yang mana anak diharuskan mampu mengerjakan kewajiban
maupun tugasnya secara mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. �Menurut (Winingsih,
2020) terdapat empat peran orang tua selama Pembelajaran Jarak
Jauh (PJJ) yaitu: 1) orang tua memiliki peran sebagai guru dari rumah, 2) Orang
tua memiliki peran sebagai fasilitator anak, yaitu orang tua sebagai sarana dan
prasarana bagi anaknya dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh, 3) Orang tua
sebagai motivator, yaitu orang tua dapat memberikan semangat serta dukungan
kepada anaknya dalam melaksanakan pembelajaran, sehingga anak memiliki semangat
serta dukungan kepada anaknya dalam melaksanakan pembelajaran, sehingga anak memiliki
semangat untuk belajar, serta dukungan kepada anaknya dalam melaksanakan
pembelajaran, sehingga anak memiliki semangat untuk belajar, serta memperoleh
prestasi yang baik.
2.
Peran Orang Tua dalam Penguatan Nilai Kemandirian
Anak Sekolah Dasar di Wilayah Tegal Alur, Jakarta Barat di Tengah Pandemi
Covid-19.
Berdasarkan
hasil penelitian yang didapatkan bahwa orang tua merasa bahwa pembelajaran dari
rumah selama masa pandemi sangat baik, namun bukan berarti pembelajaran di
sekolah selama ini tidak baik. Hal itu dikarenakan selama pembelajaran dari
rumah anak cenderung mendapatkan tugas sehingga dalam pengerjaannya bisa
dibantu oleh orang tua di rumah khususnya.
Dari
pendapat orang tua bahwa dilaksanakannya pembelajaran dari rumah dapat
mempererat hubungannya dengan anak. Namun ada beberapa orang tua yang
mengungkapkan hal sebaliknya, yaitu lebih baik jika anak belajar di sekolah,
karena banyak anak yang tidak mau mendengarkan dan lebih suka bermain, sehingga
tujuan pembelajaran tidak terlaksana dengan baik.
Motivasi
yang diberikan oleh orang tua selama masa pandemi yang menuntut anak belajar
dari rumah sudah sangat baik. Namun, tidak sedikit orang tua yang meluangkan
waktunya sebagai guru dirumah demi untuk membantu mendampingi proses belajar
daring anak selama di rumah. Orang tua setuju jika selama pembelajaran di rumah
orang tua juga ikut membantu anak dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh
guru, walaupun tidak sedikit juga yang menganggap hal ini sebagai tambahan
pekerjaan orang tua selain mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan
utamanya.
Banyak
orang tua berpendapat bahwa dengan dilaksanakannya pembelajaran dari rumah
dapat mempererat hubungan antara orang tua dengan anak. Anak juga dinilai dapat
melaksanakan pembelajaran di rumah dengan sangat baik. Sehingga banyak orang
tua yang mencoba hal-hal kreatif agar anak tidak merasa jenuh dalam belajar.
Namun ada beberapa orang tua yang mengungkapkan hal sebaliknya, yakni lebih
baik jika anak belajar di sekolah, karena banyak anak yang tidak mau mendengarkan
dan lebih suka bermain, sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai dengan
baik.
Pembelajaran
dari rumah dapat mendekatkan orang tua dengan anak. Sehingga orang tua dapat
merasakan dan melihat langsung perkembangan anaknya dalam belajar dan juga
orang tua dapat memahami kemampuan anaknya. Karena hakikatnya orang tua adalah
madrasah pertama bagi anak sebelum adanya pembelajaran di sekolah. Adanya
pembelajaran daring selama masa pandemi Covid-19 ini membuat orang tua sadar
bahwa peran orang tua sangat berpengaruh pada kemandirian anak dalam belajar.
Pada
lingkungan keluarga, orang tua merupakan pemegang kendali besar yaitu
bertanggung jawab serta berkewajiban dalam mendidik anak-anak mereka. Salah
satu kewajiban orang tua adalah berperan sebagai guru di lingkungan keluarga.
Orang tua berperan sebagai guru dirumah yaitu mampu memberikan pendampingan,
bimbingan, pengarahan, serta mendidik anak terutama selama proses pendidikan
berlangsung. Dalam kondisi saat ini dimana pembelajaran dialihkan menjadi belajar
dari rumah, maka keberhasilan suatu pembelajaran bergantung pada keterlibatan
orang tua sebagai guru di rumah.
Berdasarkan
hasil wawancara peneliti dengan responden yaitu ibu N mengatakan �Orang tua
merupakan pondasi dari keberhasilan pendidikan karakter dalam pembelajaran
daring saat ini.� Selama pelaksanaan pembelajaran daring, peran orang tua
menjadi hal yang lebih dominan berperan jika dibandingkan dengan guru. Hal
tersebut dikarenakan orang tua yang membangun interaksi secara langsung dengan anak
di rumah bukan guru.
Berdasarkan
hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi di Tegal Alur, Kalideres, Jakarta
Barat. Dapat peneliti simpulkan, bahwa penguatan nilai kemandirian dalam
pendidikan karakter berbasis keluarga di tengah pandemi Covid-19 di Tegal Alur,
Kalideres, Jakarta Barat terbagi menjadi beberapa bagian penting, yaitu:
a.
Orang Tua Sebagai Guru
�� Peneliti
mengatakan bahwa peran orang tua adalah suatu proses dimana para orang tua
menggunakan segala kemampuannya, guna keuntungannya sendiri dan anak-anaknya,
serta program pembiasaan yang dijalankan itu sendiri (Elihami & Ekawati, 2020). Peneliti
mengatakan bahwa keterlibatan orang tua dalam mendidik anak sangat dibutuhkan
dan sangat penting dari dahulu sampai sekarang, meningkatkan tindakan positif,
meningkatkan tingkat presentase kehadiran anak, meningkatkan relasi antara
orang tua dan anak, dan mendukung kemajuan pendidikan secara holistic (Valeza, 2017).
Orang
tua sebagai pendamping akademik juga memerlukan pemahaman terkait materi-materi
pembelajaran anak sekolah dasar sehingga komunikasi orang tua dan guru harus
lebih intensif. Selain komunikasi dengan guru yang tak kalah pentingnya juga
yaitu penguasaan orang tua terhadap media pembelajaran daring seperti whatsApp,
zoom, google classroom, google meet dan beberapa media pembelajaran lainnya.
Selama proses pembelajaran daring tidak sedikit anak merasa kesulitan dalam
menyelesaikan tugas-tugas, serta kesulitan dalam memahami materi pelajaran. Hal
tersebut adalah tanggung jawab orang tua dalam memberikan arahan, pendampingan
dan bantuan terhadap anak agar anak dapat melalui kesulitannya. Berdasarkan
hasil penelitian yang diperoleh, data menyatakan bahwa sebagian orang tua sudah
melaksanakan tanggung jawabnya sebagai guru bagi anak dirumah. Pendampingan
yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya mulai dari membantu mengerjakan
tugas, membantu memberikan pemahaman terkait materi pembelajaran, serta
membantu anak dalam memahami perintah-perintah yang diberikan oleh guru di
sekolah.
Hasil
penelitian ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Dwiyanti dan
Febrianti (Dwiyanti
& Febrianti, 2021) yang berjudul �Keterlibatan Orang Tua
Dalam Pembelajaran Daring di Kaliabang Tengah Bekasi Utara�. Hasil penelitian
tersebut menunjukkan bahwa kesulitan yang dihadapi orang tua dalam pembelajaran
daring di Kaliabang Tengah Bekasi Utara yaitu: a) latar belakang pendidikan
orang tua memengaruhi tingkat kesulitan dalam hal mendidik anak, b) tingkat
sosial ekonomi orang tua memengaruhi dalam hal pemenuh kebutuhan atau
memfasilitasi anak selama pembelajaran daring di rumah, c) kesulitan dalam
membagi waktu pendampingan belajar anak di rumah karena faktor pekerjaan.
Orang
tua sebagai guru bagi anak yang dimaksud adalah orang tua terlibat dalam
mendampingi anak belajar memberikan penjelasan terkait materi pelajaran anak.
Jika orang tua tidak perduli terhadap pembelajaran daring, maka pelaksanaan
pembelajaran daring tidak akan berjalan efektif. Melalui penguatan nilai
kemandirian anak sekolah dasar peran orang tua sebagai guru dapat membantu anak
dalam memberikan gambaran hal-hal yang harus dilakukan selama pelaksanaan
pembelajaran daring di rumah. Sehingga memberikan kemudahan bagi anak selama
belajar, dan meminimalisisr tingkat kebosanan anak karena orang tua mendampingi
serta membimbing.
Berdasarkan
hasil data penelitian menyatakan bahwa orang tua di Jalan Permata dalam telah
menjalankan tanggung jawabnya sebagai guru bagi anaknya di rumah melalui
pendampingan selama pembelajaran daring berlangsung.
Orang Tua Sebagai Fasilitator
Orang
tua sebagai fasilitator saat pembelajaran online bervariasi yakni orang tua
sebagai pembimbing bagi anak, orang tua sebagai jembatan antara anak dan guru,
dan orang tua sebagai penyedia fasilitas pembelajaran. Peran orang tua sebagai
pembimbing anak yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung (Anggraeni
et al., 2021).
Pelaksanaan
pembelajaran daring tidak dapat berjalan lancar apabila fasilitas pendukungnya
tidak terpenuhi. Salah satu fasilitas pendukung dalam pembelajaran daring
adalah smartphone dan kouta internet. Berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan, seluruh orang tua sudah melaksanakan perannya sebagai fasilitator
bagi anak di rumah. Meskipun dalam pemenuhannya orang tua harus bekerja
tambahan namun orang tua tetap berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan anak
terutama selama pembelajaran daring saat ini.
Media
smartphone dan kouta internet menjadi kebutuhan selama keberlangsungan
pembelajaran daring. Kedua fasilitas tersebut saling dibutuhkan demi kelancaran
pelaksanaan pembelajaran daring anak di rumah. Selain kedua fasilitas tersebut,
orang tua juga bertanggung jawab dalam memberikan lingkungan belajar yang
nyaman di rumah. Hal ini dilakukan untuk memberikan kenyamanan anak selama belajar
daring, serta meminimalisir kejenuhan anak selama proses pembelajaran di rumah.
Berdasarkan
penjelasan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa peran orang tua dalam
pembelajaran daring di Jalan Permata, Tegal Alur memiliki peran besar dalam
menyukseskan keberhasilan kemandirian anak sekolah dasar. Peran orang tua dalam
memberikan pendampingan, motivasi, serta penyediaan fasilitas kepada anak
sangat memengaruhi pelaksanaan pembelajaran daring, dalam kata lain orang tua
memegang kendali besar terhadap keberhasilan pendidikan anak terutama dalam
pembelajaran daring saat ini.
b.
Orang Tua Sebagai Motivator
Orang
tua sebagai motivator bagi anak yang dimaksud adalah seseorang yang dapat
memberikan motivasi kepada orang lain. Motivasi adalah daya penggerak dalam
diri seseorang yang berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi
seseorang melakukan sesuatu karena motivasi. Dengan adanya usaha yang tekun dan
didasari motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan
prestasi yang baik, intensitas motivasi seseorang siswa akan menentukan tingkat
pencapaian prestasi belajarnya. Dalam kaca mata seorang anak, orang tua
merupakan figur panutan atau teladan yang dapat menginspirasi bagi anak. Hal
itu menjadi bagian yang penting sebagai tanggung jawab orang tua kepada
anaknya, seperti saat melaksanakan pembelajaran dari rumah dimana anak sangat
membutuhkan semangat yang besar, dan dukungan dari keluarga terutama kedua
orang tuannya. Hal tersebut dapat menjadikan orang tua berperan sebagai guru anaknya
di rumah
Berdasarkan
hasil data yang terjadi di lapangan kasus yang terjadi banyak orang tua yang
masih belum membiasakan anaknya untuk belajar mandiri dan menyadari perannya
dalam mendidik anak termasuk dengan motivasi belajar anak. Orang tua yang tidak
tahu peran mereka dalam membantu anaknya sehingga terkadang orang tua hanya
mengetahui dan bertanggung jawab sekedar menyekolahkan anaknya tetapi
mengabaikan pendidikan, termasuk dorongan dan kemandirian belajar bagi anak
tersebut. Padahal seperti yang diketahui bahwa pendidikan yang pertama kali
dikenal oleh anak adalah dari keluarga dan orang tua yang memiliki peran
penting di dalamnya. Melalui semangat yang diberikan orang tua akan
menghasilkan sebuah energi pendorong bagi anak dalam melakukan sesuatu hal.
Pemberian semangat tersebut menjadi pengaruh besar bagi anak dalam
menyelesaikan masalahnya. Sehingga melalui semangat dari orang tua anak akan
termotivasi untuk bangkit dan semangat saat melakukan kegiatannya.
Hasil
penelitian peran orang tua dalam penguatan nilai kemandirian anak terbagi
menjadi tiga peran, pertama peran orang tua sebagai pembimbing, kedua peran
orang tua sebagai motivator, ketiga peran orang tua sebagai fasilitator. Orang
tua sebagai pembimbing, pada masa anak-anak atau usia sekolah dasar lebih
banyak membutuhkan bimbingan, perhatian dan kasih sayang, maka para orang tua
tidak dapat menyerahkan kepercayaan seluruhnya kepada guru di sekolah, artinya
orang tua harus banyak berkomunikasi dengan guru. Orang tua mendidik anaknya di
rumah, dan di sekolah untuk mendidik anak diserahkan kepada pihak sekolah atau
guru.
Berdasarkan
penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa orang tua sebagai motivasi bagi
anaknya dapat mempengaruhi energi semangat belajar anak sekolah dasar untuk
bisa menyelesaikan kesulitan-kesulitan selama proses pelaksanaan pembelajaran
daring.
3. Kesulitan
Orang Tua dalam Penguatan Nilai Kemandirian anak sekolah dasar di wilayah Tegal
Alur, Jakarta Barat di Tengah Pandemi Covid-19.
Berdasarkan
hasil penelitian yang disimpulkan dari hasil observasi, wawancara, dan
dokumentasi terkait faktor penghambat pada penelitian ini yaitu orang tua yang
berperan sebagai guru di rumah dalam mendampingi pembelajaran daring di Jalan
Permata RT.006/015, Tegal Alur, Jakarta Barat. Terdapat kesulitan yang dihadapi
orang tua dalam penguatan nilai kemandirian anak sekolah dasar, yaitu:
Pertama,
orang tua kesulitan dalam memberikan penjelasan materi pelajaran. Hal tersebut
dibuktikan dari hasil wawancara yang dilakukan dengan Ibu M yang merasa
kesulitan dengan adanya pembelajaran daring ini. Karena ibu M hanya mengenyam
pendidikan tamatan SD saja sehingga perbedaan materi zaman dahulu sampai saat
ini yang menjadi salah satu faktor kesulitan ibu M dalam mendampingi anaknya
selama pembelajaran daring tersebut. Adapun Kesulitan lainnya adalah
ketersediaan jaringan internet juga sering menjadi kendala. Solusi yang
dilakukan orang tua terkait kesulitan tersebut adalah dengan menyiapkan kouta
internet untuk anaknya bisa mengikuti proses pembelajaran daring dan Ibu M
dibantu anak laki-lakinya untuk menyelesaikan tugas adik-adiknya.�
Kedua,
kesulitan lain yang juga dialami orang tua selama pelaksanaan pembelajaran
daring adalah sulitnya membagi waktu sama pekerjaan rumah. Berdasarkan hasil
penelitian menunjukkan bahwa beberapa orang tua merasa kesulitan dalam membagi
waktu, karena selain pekerjaan ibu rumah tangga kadang sering kesulitan untuk
menjawab soal-soal yang tidak ada jawabannya dibuku, karena engga paham. Kadang
suka salah ngerjain tugas mba, antara guru dengan siswa kadang sering tidak
nyambung komunikasinya. Udah dikerjain tugas halaman ini ternyata kata gurunya
salah.
Berdasarkan
hasil penelitian yang diperoleh, seluruh orang tua merasa keteteran dalam
membagi waktu untuk mengatur pendampingan belajar anak dan pekerjaan rumah.
Pengalihan pembelajaran daring ini, mengakibatkan orang tua menerima alih
fungsi dari guru di sekolah. Tidak sedikit orang tua mengeluh lelah dalam
memberikan pendampingan anak selama pembelajaran daring. Hal tersebut
menimbulkan stress pada diri orang tua terutama gender ibu. Data menunjukkan
bahwa gender ayah jarang terlibat, bahkan ada yang tidak sama sekali terlibat
dalam memberikan pendampingan belajar anak di rumah. Hal ini yang menjadi salah
satu penyebab peran ibu merasa keteteran dalam membagi waktu untuk memberikan
pendampingan anak belajar daring.
Ketiga,
kesulitan selanjutnya yang dihadapi orang tua disebabkan oleh faktor ekonomi.
Berdasarkan hasil penelitian di Jalan Permata tepatnya di Rt.006/015, Tegal Alur,
Jakarta Barat, hasil data menunjukkan bahwa tingkat ekonomi di daerah tersebut
adalah menengah kebawah. Jadi, perlu diketahui bahwa pelaksanaan pembelajaran
daring membutuhkan banyak fasilitas pendukung seperti smartphone yang
mendukung, dan kuota internet yang mencukupi selama kegiatan pembelajaran
daring berlangsung. Pada kenyataannya, tidak selamanya orang tua mempunyai
cukup biaya untuk memberikan kebutuhan belajar anak. Hal tersebut menjadi
tantangan untuk seluruh orang tua.
Berdasarkan
hasil penjelasan diatas, dapat peneliti simpulkan secara umum bahwa kesulitan
yang dialami orang tua dalam pelaksanaan daring di Jalan Permata, Tegal Alur,
Jakarta Barat adalah:
a) Latar belakang pendidikan yang dapat
memengaruhi tingkat kesulitan dalam mendidik anak SD.
b) Status sosial ekonomi yang rendah
memengaruhi orang tua dalam hal memenuhi kebutuhan atau fasilitas pembelajaran
daring anak, dan
c) Sulitnya membagi waktu dalam mendampingi
anak belajar dengan mengurus pekerjaan rumah.
KESIMPULAN
Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa peran orang tua terutama gender ibu, menjadi faktor utama dalam memberikan bimbingan kepada
anaknya selama pembelajaran daring di rumah seperti: a) orang tua sebagai guru;
b) orang tua sebagai fasilitator; c) orang tua sebagai motivator. �Kesulitan yang dihadapi orang tua dalam
pembelajaran daring di jl permata dalam Rt.006/Rw.015 yaitu a) Latar belakang
pendidikan yang dapat memengaruhi tingkat kesulitan dalam mendidik anak sekolah
dasar; b) Status sosial ekonomi yang rendah memengaruhi orang tua dalam hal
memenuhi kebutuhan atau fasilitas pembelajaran daring anak; dan c) Sulitnya
membagi waktu dalam mendampingi anak belajar dengan mengurus pekerjaan rumah.
BIBLIOGRAFI
Acetylena, S. (2018). Pendidikan Karakter
Ki Hadjar Dewantara (K. Sukmawati (Ed.)). Madani.
Ali, M., & Asrori,
M. (2016). Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik, Mohammad Ali, Mohammad
Asrori. Jakarta : Bumi Aksara.
Anggraeni, R. N.,
Fakhriyah, F., & Ahsin, M. N. (2021). Peran orang tua sebagai fasilitator
anak dalam proses pembelajaran online di rumah. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar,
8(2), 105�117. http://dx.doi.org/10.30659/pendas.8.2.105-117
Bariyah, S. K. (2019).
Peran tripusat pendidikan dalam membentuk kepribadian anak. Jurnal
Kependidikan, 7(2), 228�239. https://doi.org/10.24090/jk.v7i2.3043
Budhiman, A. (2017).
Penguatan Pendidikan Karakter: Arahan Khusus Presiden Gerakan Nasional Revolusi
Mental [Strengthening Character Education: Special Presidential Directive National
Mental Revolution Movement].
Dwiyanti, K., &
Febrianti, N. (2021). Keterlibatan Orang Tua dalam Pembelajaran Daring di
Kaliabang Tengah Bekasi Utara. JURNAL SYNTAX IMPERATIF: Jurnal Ilmu Sosial Dan
Pendidikan, 2(4), 315�329. http://dx.doi.org/10.36418/syntax-imperatif.v2i4.95
Elihami, E., &
Ekawati, E. (2020). Persepsi revolusi mental orang tua terhadap pendidikan anak
usia dini. Jurnal Edukasi Nonformal, 1(1), 16�31.
FatchulnMu�in. (2019).
Pendidikan Karakter Konstruksi Teoritik & Praktik (M. Sandra (Ed.); Cetakan
II). AR-RUZZ MEDIA (Perpustakaan Nasional:Katalog Dalam Terbitan).
Ilahi, M. T. (2018).
Gagalnya Pendidikan Karakter, Analisis&Solusi Pengendalian Karakter Emas
Anak Didik (R. KR (Ed.); Cetakan II). AR-RUZZ MEDIA.
Industri, E. R. A. R.,
Ridhuan, S., Wahid, A., & Juwita, S. R. (2020). Pemanfaatan Disrupsi
Digital Dalam Dimensi Interaksi, Komunikasi dan Flesibelitas Pembelajaran
Online.
Isman, M. (2017).
Pembelajaran Moda dalam Jaringan (Moda Daring). The Progressive and Fun
Education Seminar, 586�588.
Kemendikbud. (2018).
Permendikbud RI No 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter pada
Satuan Pendidikan Formal. Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018 Tentang Penguatan
Pendidikan Karakter Pada Satuan Pendidikan Formal, 8�12.
Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2017). Peta Jalan Penguatan Pendidikan
Karakter. 1�16.
Kosim, M. (2011).
Urgensi pendidikan karakter. Karsa: Jurnal Sosial Dan Budaya Keislaman, 84�92.
https://doi.org/10.19105/karsa.v19i1.78
Nikmatuzaroh, R. . dan
N. M. (2019). Kompetensi Guru Dalam Membentuk Karakter Peserta Didik. Skripsi, 3, 39�53.
Pratiwi, S. I. (2020).
Pengaruh Ekstrakurikuler Pramuka terhadap Karakter Disiplin Siswa Sekolah
Dasar. Edukatif : Jurnal Ilmu
Pendidikan, 2(1), 62�70.
https://doi.org/10.31004/edukatif.v2i1.90
Putri, D. P. (2018).
Pendidikan Karakter Pada Anak Sekolah Dasar Di Era Digital. AR-RIAYAH : Jurnal
Pendidikan Dasar, 2(1), 37.
https://doi.org/10.29240/jpd.v2i1.439
Rida Fironika
Kusumadewi, Sari Yustiana, K. N. (n.d.). Menumbuhkan
Kemandirian Siswa Selama Pembelajaran Daring Sebagai Dampak Covid-19 di SD.
7�13.
Sahroni, D. (2017).
Pentingnya pendidikan karakter dalam pembelajaran. Prosiding Seminar Bimbingan Dan Konseling, 1(1), 115�124.
Satgas Covid-19.
(2022). Surat Edaran Nomor 20 Tahun 2022 Tentang Protokol Kesehatan Pada
Pelaksanaan Kegiatan Berskala Besar Dalam Masa Pandemi Corona Virus Disease
2019 (Covid-19). Surat Edaran Satuan
Tugas Penanganan Covid-19, 78(12),
790�795.
Setiardi, D., & Mubarok,
H. (2017). Keluarga sebagai sumber pendidikan karakter bagi anak. Tarbawi: Jurnal Pendidikan Islam, 14(2).
Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif,
dan R&D. ALFABETA.
Syarifudin, A. S.
(2020). Impelementasi pembelajaran daring untuk meningkatkan mutu pendidikan
sebagai dampak diterapkannya social distancing. Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia Metalingua, 5(1), 31�34.
Syofyan, Harlinda;
Ratnawati Susanto; M. Bahrul Alam; Ratih, R., & Haikal, N. T. L. R. H. F.
(2021). Pelatihan Multimedia Dalam Menunjang Pembelajaran Daring. International Journal of Community Service
Learning, 5(4), 273�281.
Syofyan, H. (2017).
Membangun Peradaban Dengan Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran Di Sekolah. Jurnal Ilmu Pendidikan, 2(2), 13.
Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. (2003). Zitteliana, 19(8), 159�170.
Valeza, A. R. (2017). Peran orang tua dalam meningkatkan Prestasi
anak di perum tanjung raya permai kelurahan pematang wangi kecamatan tanjung
senang bandar lampung. UIN Raden Intan Lampung.
Winingsih, E. (2020).
Peran orang tua dalam pembelajaran jarak jauh. Poskita. Co, 22�23.