REPRESENTASI KASIH SAYANG ANAK KEPADA ORANG TUA BERDASARKAN FILM PERTARUHAN

Geraldo Aldatya Prakoso1, Ester Krisnawati2, Seto Herwandito3

Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Indonesia

[email protected]1

[email protected]2

[email protected]3

 

Keywords

Abstract

Affection, Film, John Fiske�s Semiotics

Love first emerges from a family that comes from the love of parents for their children. However, most of us do not see from the opposite perspective, namely the love of children for their parents. Based on the exposure of the movie Pertaruhan which tells the form of children's affection for their parents, this research was made with the aim of seeing the representation of children's affection for their parents in the movie entitled Pertaruhan. The basis of this research is to make people know that children's love for parents cannot be underestimated, children's love for parents is as great as parents' love for their own children. The type of research used is descriptive qualitative with John Fiske's television semiotics method which consists of three levels, namely the level of reality, the level of representation and the level of ideology. By using John Fiske's television semiotics method, the researcher found that children's love has two forms in it, namely love in the form of prosocial and empathy. Prosocial is how a child has behavior that benefits or makes other people's physical or psychological conditions better and this is done on a voluntary basis without expecting a reward. While empathy makes children more sensitive to the situation so that they can bring up their feelings and concern for a problem that occurs.

Kata Kunci

Abstrak

Kasih sayang, Film, Semiotika John Fiske

Kasih sayang pertama kali muncul dari sebuah keluarga yang berasal dari kasih orang tua kepada anaknya. Namun, sebagian besar dari kita tidak melihat dari sudut pandang sebaliknya yaitu kasih sayang anak kepada orang tuanya. Berdasarkan dari paparan film Pertaruhan yang menceritakan bentuk kasih sayang anak kepada orang tua maka, penelitian ini dibuat dengan tujuan untuk melihat representasi kasih sayang anak kepada orang tua pada Film yang berjudul Pertaruhan. Dasar dari dibuatnya penelitian ini adalah untuk membuat masyarakat tahu bahwa kasih sayang anak kepada orang tua tidak bisa dianggap remeh begitu saja, kasih anak kepada orang tua sama besarnya dengan kasih orang tua kepada anaknya sendiri. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode semiotika televisi John Fiske yang terdiri dari tiga level, yaitu level realitas, level representasi dan level ideologi. Dengan menggunakan metode semiotika televisi John Fiske, peneliti menemukan hasil penelitian bahwa kasih sayang anak memilki dua bentuk didalamnya yaitu kasih yang berbentuk prososial dan empati. Prososial bagaimana seorang anak memiliki tingkah laku yang menguntungkan atau membuat kondisi fisik atau psikis orang lain lebih baik dan hal ini dilakukan atas dasar sukarela tanpa mengharapkan imbalan. Sedangkan empati membuat anak menjadi lebih peka terhadap keadaan sehingga dapat memunculkan perasaan serta kepeduliannya atas suatu permasalahan yang terjadi.

Corresponding Author: Geraldo Aldatya Prakoso

E-mail: [email protected]

Description: https://jurnal.syntax-idea.co.id/public/site/images/idea/88x31.png

 

PENDAHULUAN

Keluarga adalah kesatuan unit sosial terkecil di dunia yang bersifat luas atau universal. Dalam pengertian psikologis, keluarga adalah kumpulan dari individu yang tinggal dan hidup ditempat yang sama dan setiap individu yang ada didalamnya dapat merasakan kasih sayang. Kasih sayang yang muncul berupa perhatian, keperdulian, dan saling mempengaruhi satu individu dengan individu lainnya. Lalu secara pengertian pedagogis keluarga adalah �satu� kumpulan yang dilandasi dengan adanya kasih sayang antara dua gender yaitu laki-laki dan perempuan yang dipersatukan oleh tali pernikahan yang memiliki tujuan untuk melengkapi dan mengasihi satu sama lain. Hal tersebut mengandung tujuan untuk mewujudkan tugas dan posisi nantinya sebagai orangtua (Fimansyah, 2019). Dalam lingkungan keluarga orang tua sebagai institusi yang pertama sebagai dasar dalam pembentukan moral dan spiritual sebagai tumbuh kembang anak (Boiliu, 2020). Dasar ini perlu dan penting bagi tumbuh kembang anak karena seorang anak adalah peniru yang hebat, jadi jika orang tua tidak memberikan contoh yang baik secara moral dan spiritual maka besar kemungkinan jika anak tersebut tidak memiliki karakter yang baik. Keluarga pada dasarnya terdiri dari ayah, ibu dan anak. Dalam berkeluarga, keluarga bisa menjadi sebuah keluarga yang nyaman, baik, dan serasi jika didalamnya terdapat hubungan timbal balik yang seimbang antar semua pihak didalamnya. Maka dari itu, suasana hidup dalam keluarga sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak yang nantinya akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak pada fase kehidupan selanjutnya (Manumpahi et al., 2016). Seorang anak akan memandang Ayah dan Ibu nya sebagai sosok yang ia kasihi dan hormati. Namun kadang kala keadaan tersebut tidak bisa terlaksana dengan semestinya, dikarenakan bahwa sewaktu-waktu dalam keluarga sudah tidak memiliki anggota yang utuh didalamnya, bisa disebabkan karena perceraian ataupun kematian.

Selain perceraian, penyebab dari terjadinya keluarga yang tidak utuh yaitu karena kematian. Setiap dari kita manusia pasti akan mengalami hal yang disebut dengan kematian atau meninggal dunia. Kematian bisa terjadi karena insiden kecelakaan, sakit, dibunuh ataupun bunuh diri. Saat salah satu orang tua mengalami kematian atau meninggal maka orang tua yang masih hidup akan disebut sebagai single parent karena sudah ditinggal oleh pasangan hidupnya. maka segala ikatan perkawinan dengan sendirinya akan lenyap dan menyandang status baru sebagai seorang single parent (Aulia & Nurdibyanandaru, 2020). Tanggungan atau peran dari kedua orang tua begitu penting untuk perkembangan dan pertumbuhan anak, karena anak akan memandang kedua orang tuanya sebagai seseorang yang akan ia anut. Sosok figur ayah maupun ibu sama-sama memiliki peranan dan tanggung jawab yang sangat penting dan memiliki bobot yang sama. Sehingga orang tua perlu memiliki sinergi atau kerja sama dalam membimbing anak-anaknya. Oleh karena itu jika salah satu peran tersebut tidak ada atau hilang, maka dapat menimbulkan dampak bagi seorang anak (Heri et al., 2021). Seorang anak yang mendapati sebuah kemelut atau kecaburan didalam rumahnya yang dimana dalam hal ini adalah posisi anak yang tinggal mempunyai satu sosok orang tua saja, besar kemungkinan anak tersebut akan mendapatkan tekanan dan ujian baik secara psikologis ataupun dilingkungan sekitarnya dan tidak menutup kemungkinan juga anak tersebut akan mengalami perubahan tingkah laku. Seorang anak yang dirawat oleh satu orang tua saja berpotensi bisa memiliki perilaku yang tidak wajar hingga bisa menuju kearah menyimpang seperti suka menyendiri, melamun, emosinal atau pemarah. Penyimpangan perilaku anak ini dikarenakan oleh keadaan keluarga anak itu sendiri dan karena lingkungan sosial sehari-hari anak tersebut yang memberikan dampak buruk sehingga muncul penyimpangan perilaku didalam diri anak tersebut, sama seperti yang tertulis dalam penelitian Hashi Setyo. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa anak yang dibesarkan oleh Single Parent menjadi seorang yang pemberani dan mandiri karena dapat menerima keadaan keluarganya dengan baik. Ketegangan-ketegangan yang muncul sebagai akibat dari lingkungan keluarga akan menunjukan konflik pada anak dalam membentuk kepribadiannya (Fujianto, 2018).

Walaupun banyak faktor yang akan memberikan dampak kepada anak, rasa kasih sayang anak tidaklah hilang hanya karena keluarganya tidak utuh lagi. Menurut peneliti kasih sayang yaitu dua kata yang saling berhubungan dan setiap kata memiliki arti tersendiri namun tetap berdampingan dan akan selalu terpasang bersama (ARIFIN et al., 2015). Kasih adalah sifat alami manusia yang sudah ada sejak kecil, sifat ini akan muncul ketika seseorang mempunyai rasa memiliki dan menyayangi. Kemudian sayang adalah bentuk atau rasa ketika seseorang takut atau tidak mau kehilangan pada orang yang ia sayangi. Perbedaan antara kasih sayang dengan cinta adalah dimana kasih sayang memiliki sifat yang lebih abadi. Pada saat seseorang sudah memiliki kasih sayang didalamnya maka rasa yang muncul adalah takut kehilangan akan orang yang ia sayangi. Namun berbeda dengan cinta, cinta bisa berubah menjadi benci karena cinta bisa membuat orang menjadi ingin menguasai seperti contoh cinta uang. Kasih sayang membuat seseorang ingin dimiliki dan tentu memiliki. Dengan adanya kasih sayang dapat melahirkan kebaikan seperti kesabaran, rajin, teliti, perhatian, menghilangkan sikap capek, jenuh, marah dan jijik pada suatu objek tertentu.

Kasih sayang yang pertama muncul dari keluarga yang berasal dari kasih orang tua kepada anaknya, Namun, sebagian besar dari kita tidak melihat dari sudut pandang sebaliknya yaitu kasih sayang anak kepada orang tuanya. Kasih anak kepada orang tua tidak semata-mata hal yang bisa dibilang mudah, seperti yang telah dijabarkan di atas tentang keluarga yang sudah tidak utuh dapat mengganggu psikologis anak. Menurut para peneliti, Dibandingkan dengan anak yang memiliki dua orang tua yang tinggal di dalam satu rumah (Adawiah, 2017). Anak-anak dengan single parent cenderung rentan mengalami kondisi finansial dan edukasi yang lebih buruk. Maka dari itu kasih sayang dari anak kepada orang tuanya tidak bisa dianggap hal yang mudah untuk dilakukan terutama bagi anak-anak yang tinggal memiliki satu orang tua saja karena beban atau tekanan yang terjadi didalam diri seorang anak sangat berpengaruh bagi dirinya.

Kasih sayang anak kepada orang tua adalah perilaku prososial dan empati yang ada pada anak. Perilaku prososial didefinisikan sebagai tindakan sukarela yang dimaksudkan untuk membantu atau memberi keuntungan pada individu atau sekelompok individu (Eisenberg & Mussen, 1989). Sedangkan empati didefinisikan sebagai keadaan emosi disaat seseorang ikut merasakan oleh apa yang dirasakan oleh orang lain seperti ia sedang melihat dirinya sedang mengalami hal tersebut sendiri. Maka apa yang dirasakan akan sama dengan kondisi dan perasaan orang yang bersangkutan. Bisa dibilang bahwa empati memiliki keterkaitan dengan perilaku prososial. Nilai kasih sayang daripada anak ke orang tua dapat dilihat dari sikap kesopanan, kepatuhan, dan rasa rela berkorban guna untuk menyenangkan hati orang tua. Secara tidak langsung empati berkaitan dengan perilaku prososial. Nilai kasih sayang anak kepada orang tua dapat dilihat melalui sikap kepatuhan, kesopanan, dan perasaan rela untuk menyenangkan hati orang tua. Pada pembahasan ini penulis lebih memfokuskan dimana seorang anak yang hidup bersama ayahnya saja atau Single Dad. Seorang ayah memiliki peran yang berbeda dengan seorang ibu dalam kehidupan mendidik anak. Kasih ayah condong pada hal yang sifatnya kualitatif dan melekat pada performance anak. Adanya ikatan emosional yang kuat antara anak dengan ayah akan menciptakan perasaan dicintai dan dipedulikan, sehingga muncul rasa aman secara emosional. Rasa aman inilah yang nanti dapat menjadikan anak bisa mengatasi depresi guna untuk menahan anak akan stress dan rasa gelisah atau khawatir. Dengan ayah yang terlibat dalam mengasuh anak maka dapat memberikan dampak positif untuk perkembangan anak antara lain emosi, sosial, kognitif, kesehatan fisik dan kesejahteraan psikologis. Dengan anak yang hidup hanya bersama ayahnya, maka anak akan terdidik menjadi pribadi yang mandiri, tegar, dan optimis (Siswanto, 2020).

Pada era sekarang, dapat dilihat bahwa perkembangan industri film di negara Indonesia sudah bertumbuh kembang dengan sangat pesat. Hal tersebut telah dibuktikan dengan munculnya film-film dan series yang telah meramaikan perfilman di negara Indonesia itu sendiri. Tidak hanya sebagai media hiburan yang hanya menampilkan gambar dan suara tanpa makna, film memiliki tujuan menyampaikan informasi melalui pesan � pesan bermakna yang ingin disampaikan kepada audience massa. Dalam sebuah film sebuah pesan biasanya disampaikan melalui cerita kehidupan. Hal inilah yang menyebabkan film menjadi media hiburan yang popular di masyarakat karena memiliki realitas yang dekat dengan kehidupan manusia. Pesan dalam sebuah cerita biasanya terkandung dalam tanda�tanda tertentu seperti dialog, adegan dan setting cerita. Dari hasil data jumlah penonton film di Indonesia tahun 2022, menunjukan bahwa film bergenre horror, laga, dan keluarga adalah film yang terlaris di pasar. Ini juga menjadi alasan penulis mengapa mengangkat penelitian film yang bergenre action dan keluarga didalamnya. Namun, pada kesempatan ini peneliti akan lebih memfokuskan tanda kasih sayang yang terdapat pada keluarga. Seperti yang akan peneliti angkat yaitu tentang film berjudul Pertaruhan, Menceritakan tentang kehidupan 4 bersaudara laki-laki, Ibra (Adipati Dolken), Elzan (Jefri Nichol), Amar (Aliando Syarief), dan si bungsu Ical (Giulio Parengkuan). Mereka hidup dengan penuh kesederhana bersama ayah mereka, Pak Musa (Tio Pakusadewo) yang bekerja sebagai satpam bank. Ayah atau pak musa adalah seorang yang pekerja keras guna untuk membiayai keluarganya karena didalam keluarga mereka sudah kehilangan sosok ibu sejak Ical dilahirkan. Ditinggal oleh sang istri yang biasanya mengurus rumah dan mengurus anak-anak membuat pak musa penuh kecemasan dalam membesarkan dan merawat anak-anaknya. Akibatnya membuat hubungan harmonis ayah dan anak antara dirinya dan anak-anaknya sering kali terjadi perbedaan pendapat dan pertengkaran diantara mereka.

Menurut para peneliti selain konteks pengasuhan, perkembangan adaptif anak-anak berusia muda (younger children) dipengaruhi oleh konteks yang lebih luas seperti kemiskinan, keterpaparan pada kekerasan, pendidikan orang tua rendah, dan keterbatasan dukungan social (Harmaini et al., 2015). Ketika orang tua hidup terpisah atau sendiri ada beberapa proses dan kegiatan yang akan rusak, terutama hilangnya sumber daya ekonomi orang tua dan komunitas (Fitri & Yarni, 2022). Berdasarkan Data dari BPS menunjukkan bahwa pada tahun 2018 tercatat 10,3 Juta rumah tangga dengan 15,7 % perempuan sebagai kepala keluarga dan paling rentan terhadap masalah ekonomi dan jumlahnya dari tahun ke tahunnya terus mengalami peningkatan (Tokan, 2021). Anak yang hanya memiliki orang tua tunggal cenderung kurang mampu mengerjakan sesuatu dengan baik dibandingkan dengan anak yang berasal dari keluarga yang orang tuanya utuh (Astuti, 2017).

Film ini memiliki keterkaitan dengan masyarakat karena terdapat masalah didalamnya yang sering ditemui disekitar kita. Di dalam Film Pertaruhan ini menceritakan tentang seorang Single Father yang dimana memiliki didikan yang keras kepada anak-anaknya sehingga menimbulkan sifat memberontak dan liar pada diri anak-anaknya. Namun, walaupun didikan dari sang Ayah keras serta tidak segan untuk memukul, sang anak tetap memiliki rasa hormat kepada ayahnya. Hal ini di tunjukkan saat sang Ayah mengalami penyakit yang parah di suatu hari dan membuat keempat bersaudara tersebut beruapaya semaksimal mungkin untuk kesembuhan Ayahnya. Dari Film ini juga terdapat keterkaitan lainnya di masyarakat sekitar yaitu keluarga yang sudah tidak utuh pasti akan memiliki masalah utama yaitu finansial yang menyebabkan terjadi kemiskinan. Di Indonesia sendiri keluarga miskin memiliki faktor utama dari permasalahnya adalah pendidikan dan kesehatan, pada saat anak berangkat untuk bersekolah membuat keluarga miskin harus memangkas pendapatannya, oleh sebab itu tidak jarang keluarga miskin menyuruh anaknya untuk bekerja sebagai sambilan untuk menambah pendapatan biaya sekolah. Dilihat dari kondisi tersebut tentu sangat memilukan, lebih-lebih hal ini masih terjadi di Indonesia yang terdapat di kota-kota besar. Bertahan dikondisi miskin dapat berakibat seseorang tinggal dilingkungan yang tidak layak dan tentu edukasi akan pentingnya kesehatan akan sangat kurang, sehingga dapat mengakibatkan keluarga miskin menjadi rentan terkena penyakit (Amalia, 2020).Film ini sangat menarik untuk diteliti karena berhasil mengumpulkan isu-isu sosial yang hangat di masyarakat seperti kemiskinan dan bagaimana seseorang anak tetap mencintai orang tuanya walaupun tidak ada keharmonisan di dalam keluarganya. Peneliti tertarik untuk meneliti film ini karena banyak tanda kasih sayang anak ke orang tua yang direpresentasikan dalam setiap scene-scene yang akan di teliti. Menurut peneliti representasi memperlihatkan suatu proses di mana arti (meaning) diproduksi dengan menggunakan bahasa (language) dan dipertukarkan oleh antar anggota kelompok dalam sebuah kebudayaan (culture) (Surahman, 2014). Representasi menghubungkan antara konsep (concept) dalam benak kita dengan menggunakan bahasa yang memungkinkan kita untuk mengartikan benda, orang, kejadian yang nyata (real), dan dunia imajinasi dari objek, orang, benda, dan kejadian yang tidak nyata (fictional). Representasi bisa disebut juga bagaimana kita pada saat berbahasa untuk digunakan sebagai alat penyampaian pesan yang memiliki arti bagi orang lain.

Representasi dari kasih sayang anak kepada orang tua ini akan di kaji kembali menggunakan teori Semiotika dari John Fiske yang menyebutkan bahwa ada dua poin penting didalamnya yang adalah hubungan antara tanda dan makan, setelah itu dikombinasikan untuk menjadi sebuah kode. Dua perhatian utama yaitu hubungan tanda dan maknanya, kemudian pengkombinasian tanda menjadi sebuah kode. Berdasarkan analisa John Fiske, semiotika merupakan ilmu tentang petanda dan makna dari sistem tanda, semiotika mengandung sistem tanda yang merupakan studi untuk membahas tanda dari segala rumpun media yang ada dimasyarakat yang akan dikombinasikan menjadi sebuah makna. Ilmu tentang media atau studi tentang bagaimana tanda dari jenis karya apapun dalam masyarakat yang mengkomunikasikan makna. Batasan penelitian dari penelitian ini memfokuskan penelitian ini pada elemen-elemen pengambilan gambar, setting, dialog, perilaku pada film �Pertaruhan�. Sebagai metode analisis data maka semiotika akan dibatasi pada pembahasan tentang tanda dan hubungan antara tanda dan maknanya. Teori Semiotika John Fiske akan digunakan pada penelitian ini untuk membahas mengenai representasi tanda dan makna kasih sayang anak kepada orang tua tunggal. Berdasarkan dari latar belakang yang sudah dijelaskan diatas maka peneliti tertarik untuk meneliti film �Pertaruhan� karya Krishto D. Alam karena masih banyak anak anak muda diluar sana yang masih kurang memiliki kesadaran akan menyayangi orang tuanya dan menyesal di ahkir ketika sudah ditinggalkan oleh orang tuanya. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk melihat representasi kasih sayang anak kepada orang tua. Karena sebagian besar masyarakat tidak pernah melihat kasih sayang yang anak tunjukkan untuk orang tuanya sekaliagus membuat masyarakat tahu bahwa kasih sayang anak kepada orang tua tidak bisa dianggap remeh begitu saja, kasih anak kepada orang tua sama besarnya dengan kasih orang tua kepada anaknya sendiri. Secara manfaat teoritis, penelitian ini diharapkan mampu menambah pengetahuan logis keilmuan mengenai teori komunikasi analisis semiotika, terutama teori semiotika analisis semiotika kajian John Fiske dengan mencoba mengkaji mengenai representasi kasih sayang anak kepada orang tua yang ditampilkan pada film pertaruhan. Sedangkan di manfaat praktis peneliti berharap penelitian ini mampu menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya yang menggunakan tema ataupun metode yang sama agar dapat menambah wawasan pada penelitian berikutnya. Kemudian diharapkan juga penelitian ini dapat memberikan referensi bagi sineas perfilman tanah air mengenai penggunaan tanda-tanda pada film yang akan mendatang. Peneliti berharap bahwa dalam penelitian ini dapat meningkatkan rasa cinta dan hormat kita kepada orang tua terkhusus bagi kita yang tinggal memiliki satu orang tua saja. Kasih sayang tidak hanya dilihat dari perbuatan saja melainkan bisa melalui perkataan juga. Berdasarkan konteks yang telah dijabarkan sebelumnya karakter dari keempat bersaudara ini yaitu memiliki sifat yang liar dan keras namun masih tetap memiliki rasa hormat serta kasih yang tinggi kepada orang tuanya. Maka dari itu peneliti ingin menganalisis representasi atau penggambaran tentang kasih sayang anak kepada orang tua yang terdapat di dalam film �Pertaruhan�.

 

METODE PENELITIAN

Dalam Penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Kualitatif juga merupakan metode yang mempunyai penelitian yang menghasilkan data deskriptif, berdasarkan peninjauan terhadapa kehidupan sosial, berdasarkan peninjauan terhadap kehidupan sosial, termasuk perilaku keseharian manusia yang ditampilkan melalui film sebagai sarana penyampaian pesan.

Dalam kode ini Fiske juga memberikan 3 tahapan didalamnya, Pada tahap pertama adalah Level Realitas, yakni peristiwa yang ditandakan (encoded) sebagai realitas tampilan, pakaian, perilaku, lingkungan, percakapan dan sebagainya. Kemudian pada tahap kedua yakni Level Representasi, yakni realitas yang terkode dalam encoded electronically harus ditampilkan pada technical codes seperti kamera, lighting, scoring, dan sebagainya. Kemudian pada tahap terakhir yaitu Level Ideologi yaki semua elemen diorganisasikan dan dikategorikan dalam kode-kode. Dalam penelitian ini yang menjadi unit adalah representasi kasih sayang anak ke orang tua pada film "Pertaruhan" dengan analisis Semiotika John Fiske.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini menunjukan bahwa tokoh keempat bersaudara atau anak-anak dari Pak Musa pada Film �Pertaruhan� tergambarkan sebagai sosok yang mengasihi orang tuanya. Ibra, Elzan, Amar, dan Ical dalam film ini memperlihatkan bahwa dengan segala macam usaha dan bentuk keterbatasan masih dapat membantu dan menolong orang tuanya yang sedang dalam kesusahan. Kasih sayang anak kepada orang tua ini dibuktikan dengan dua bentuk kasih sayang didalamnya yaitu kasih sayang prososial dan empati. Setiap scene yang terpilih selalu menggambarkan bentuk kasih sayang prososial dan empati didalamnya. Hal ini terlihat ketika anak-anak dari Pak Musa melakukan segalanya untuk dirinya dilakukan dengan penuh sukarela dan tulus hati, kasih sayang yang ditunjukan begitu dalam karena sama seperti dengan judul film ini, mereka rela mempertaruhan segalanya bahkan nyawa sekalipun asal dapat melihat bapaknya sehat kembali. Dari penelitian ini juga menunjukan sekalipun ada ketidak harmonisan di dalam keluarga tidak menjadikan itu sebagai alasan untuk tidak mengasihi dan menghormati orang tua karena bagaimanapun orang tualah yang menghidupi dan mendidik kita sejak dini. Ada banyak bentuk kasih sayang prososial dan empati anak kepada orang tua yang bisa diberikan. Bentuk kasih sayang anak kepada orang tua yang terkandung pada film �Pertaruhan� ini yaitu kasih sayang itu bisa melalui perbuatan dan perkataan, kasih sayang perbuatan bisa melalui bantuan nyata dalam hal ini membantu biaya operasi, sentuhan fisik seperti menggenggam tangan sebagai bentuk memberi ketenangan dan kehangatan, serta memberi pelayanan dengan penuh kesabaran dan lemah lembut seperti pada waktu merawat orang tua yang sedang sakit. Sedangkan kasih sayang perkataan bisa berupa memberi doa dan kalimat membangun guna untuk memberi semangat.

 

A. Analisis Kasih Sayang Anak Kepada Orang Tua Berdasarkan Teori

 

 

Gambar 1. Scene Ical Membantu Bapak Yang Hampir Terjatuh

 

Pak Musa mengantar Ical berangkat sekolah dengan jalan kaki. Tapi di perjalanan Pak Musa batuk terus menerus dan hampir jatuh, Kemudian Ical ingin membantu Pak Musa yang hampir jatuh pada saat berjalan. Pak Musa hampir jatuh karena kondisinya yang sakit namun harus tetap berangkat bekerja demi kebutuhan sekolah Ical.

 

Level Realitas. Ical memakai baju seragam sekolah berwarna putih biru dongker sekaligus tas ransel dipundaknya dan Pak Musa menggunakan seragam satpam berwarna hijau army. Dilihat dari bentuk atribut dan pakaian menggambarkan bahwa pada scene ini dilatar waktu pagi hari dimana suasana sedang panas sejuk. Scene ini menggambarkan suasana pagi hari dimana Pak Musa mengantar Ical pergi berangkat sekolah. Pada scene tersebut mereka sedang berjalan dengan santai melewati gang yang lumayan sempit. Gang tersebut terlihat sedikit gambar vandalisme dan sepi, Menunjukan bahwa lingkungan di daerah tersebut merupakan gang kampung dan jarang dilewati orang. Ekspresi yang ditunjukan Ical pada saat membantu Pak Musa terlihat panik dan takut sedangkan ekspresi Pak Musa terlihat lemas dan berusaha untuk kuat. Namun sayangnya Bantuan Ical tidak mendapat respon yang baik karena Pak Musa tidak ingin dibantu karena merasa kuat.

 

Level Representasi. Pada Scene ini terdapat teknik pengambilan gambar Long Shot untuk memperlihatkan porsi background lebih banyak. Scene ini memakai teknik pengambilan gambar long shoot guna untuk menyampaikan interaksi satu subjek ke subjek yang lain serta bertujuan untuk menyampaikan lingkungan sekitar. Sementara itu pencahayaan pada scene ini cukup terang karena melihat situasi yang dimana sedang pagi hari. Untuk musik pada scene ini sendiri menggunakan musik instrumen untuk menemani aktivitas Ical dan Pak Musa serta suara kendaraan lewat guna menambahkan noice untuk menciptakan kesan nyata disuasana jalan raya.

 

Level Ideologi, Dari scene ini ideologi yang ditampilkan yaitu altruisme, moralisme dan individualisme. Tindakan yang dilakukan oleh Ical menunjukan bahwa ia memiliki sifat altruisme dan moralisme dalam dirinya. Altruisme sendiri memiliki pengertian yaitu hasrat untuk menolong orang lain dengan rasa sukarela dan tampa pamrih. Hal ini terlihat dimana Ical langsung membantu Pak Musa yang sempoyongan berjalan karena sedang sakit. Sedangkan moralisme menitikberatkan pada moral dan nilai kesusilaan sebagai tingkat paling tertinggi yang dimana terlihat juga di scene Ical membantu Pak Musa yang sempoyongan berjalan karena sedang sakit. Selain itu, ideologi yang dimunculkan Pak Musa justru individualisme karena ia menolak bantuan dari Ical karena merasa dirinya mampu dan kuat tidak perlu bantuan dari orang lain.

 

Gambar 2. Scene Ical Merawat Pak Musa yang Sedang Sakit

 

Ical merawat Pak Musa yang sedang sakit dengan meminumkan obat dan membersihkan obat yang keluar di mulut Pak Musa karena batuk sehingga tersedak. Pak Musa dirawat dirumah dan dilayani oleh Ical karena keluarga mereka tidak mampu membayar biaya rumah sakit.

 

Level Realitas. Ical memakai kaos berwarna merah muda dengan corak daun berwarna putih dan Pak Musa menggunakan baju polo berwarna abu-abu. Dilihat dari bentuk atribut dan pakaian, menggambarkan bahwa pada scene ini dilatar waktu itu sedang di suhu yang normal. Scene Ini hanya menggambarkan suasana di rumah tepatnya di kamar Pak Musa yang sangat sederhana dan sempit. Ekspresi yang ditunjukan ketika Ical merawat bapaknya yang sedang lemah yaitu penuh dengan perhatian dan kesabaran. Sedangkan ekspresi Pak Musa terlihat pucat dan lemas.

Level Representasi. Pada Scene ini menggunakan teknik pengambilan gambar medium close up untuk menunjukan atau mempertegas dari aktivitas Ical dan Pak Musa berada. Untuk pengambilan gambar pada Scene ini juga memakai teknik pengambilan gambar mid shot yang bertujuan untuk menunjukan bahasa tubuh dan interaksi satu subjek ke subjek yang lain. Sementara itu pencahayaan pada scene ini cukup terang namun penerangan dibantu dari sinar matahari yang masuk dari jendela dan lampu kamar yang tidak nampak pada scene ini. Dari sisi backsound musik pada scene ini sendiri tidak menggunakan efek suara apapun tetapi hanya memakai ambience dari suara yang dihasilkan dari aktivitas yang dilakukan oleh Ical seperti gelas yang berbunyi karena tersenggol sendok dan suara batuk dari Pak Musa.

Level Ideologi, Pada scene ini level ideologi yang ditampilkan yaitu altruisme dan moralisme. Tindakan yang dilakukan oleh Ical menunjukan bahwa ia sedang memberikan perhatiannya untuk sang bapak yang sedang mengalami sakit, melayani apa yang ia bisa dengan penuh kesabaran serta suka rela, hal ini merupakan ideologi dari altruisme. Selain itu juga terdapat ideologi moralisme yang ada dari Ical dengan melayani Pak Musa yang sedang sakit hal ini diperkuat dengan gerak tubuh atau gestur yang ditampilkan Ical pada saat meminumkan obat dan mengelap mulut dari Pak Musa.

 

 

Gambar 3. Scene Ibra meminta maaf kepada Pak Musa Ibra bertekuk lutut meminta maaf kepada Pak Musa. Pak Musa marah karena sebagai anak tertua seharusnya Ibra bisa menjaga martabat dan nama baik dari bapaknya.

 

Level Realitas, Pakaian yang pakai Ibra sama dengan saat scene dirumah sakit yaitu memakai baju kaos polos yang berwarna hitam namun jaket yang dipakainya sudah tidak dikenakan lagi dan tidak lupa ada aksesoris gelang di tangan kirinya. Serta baju Pak Musa menggunakan kemeja berwarna putih lusuh. Scene tersebut menampilkan Ibra yang sedang berekspresi menyesal dan sedih serta Pak Musa yang berekspresi marah. Cara berbicara Pak Musa menjadi keras dan sedikit membentak sedangkan Ibra berbicara dengan nada yang lembut.

Level Representasi, Pada Scene ini terdapat teknik pengambilan gambar medium close up dan long shoot sambil memakai sudut pandang kamera yang berbeda, teknik ini bertujuan untuk membawa penonton masuk kecerita serta meningkatkan fokus juga untuk penonton karena scene ini sangat emosional dimana Ibra meminta maaf kepada Pak Musa hingga berlutut. Untuk set latar tempat disesuaikan dengan kegiatan yang sedang dilakukan yaitu kondisi baru saja tiba kerumah sehabis pergi. Scene ini memperlihatkan kekonsistenan untuk memberi kesamaan dari kegiatan dan set tempat yang relistis. Pada pencahayaan sedikit terang karena keadaan sudah malam hari dan rumah dari keluarga mereka memiliki penerangan yang kurang. Tidak ada backsound musik pada scene ini, hanya suara ambience yang muncul dari hasil kegiatan yang dilakukan oleh Ibra dan Pak Musa seperti kursi tergeser dan kain baju yang tergesek.

Level Ideologi, tindakan yang dilakukan oleh Ibra dan Pak Musa menunjukan ideologi antagonisme dan moralisme. Antagonisme sendiri memiliki pengertian pertentangan antara dua paham yang berlawanan, hal ini ditunjukan dalam scene ini ketika Ibra dan Pak Musa sedang berselisih paham akibat terjadi dua pandangan yang berbeda. Pak Musa berpikir hal yang dilakukan Ibra telah mencoreng nama baiknya dan nama baik keluarga. Ibra sempat memberi pembelaan atas tindakan yang ia lakukan, ia melakukan ini karena semua demi Pak Musa karena Ibra merasa Pak Musa layak mendapatkan bantuan dari tempat ia bekerja karena Pak Musa sudah mengabdi selama 20 tahun ditempat Pak Musa bekerja. Sedangkan ideologi moralisme adalah ketika Ibra menggunakan kata-kata yang baik dan lebih halus. Hal ini ditunjukan ketika Ibra mengaku salah dan bertekuk lutut kepada Pak Musa sambil meminta maaf menggunakan bahasa yang lembut. Tindakan yang dilakukan Ibra menunjukan bahwa Ia menyesal telah membuat bapaknya marah, maka dari itu Ibra sampai bertekuk lutut untuk meminta maaf dan menunjukan sikap hormatnya kepada Pak Musa. Karakter yang ditunjukan Ibra yaitu menyesal dan tulus. Hal ini diperkuat dengan narasi Ibra, dari cara berbicara serta gestur tubuh yang dimiliki oleh Ibra. Sedangkan karakter Pak Musa tegas dan emosional.

 

Gambar 4. Scene Ibra mengangkat Pak Musa yang habis terjatuh

 

Pada saat hendak tidur Ibra mendengar suara barang terjatuh dari kamar Pak Musa, ternyata Ibra menemui Pak Musa yang sedang buang air di celana dan terjatuh dilantai. Ibra seketika langsung menopang Pak Musa untuk membantunya berjalan ke kamar mandi.

Level Realitas. Ibra sedang memakai baju tak berlengan berwarna abu-abu dan Pak Musa menggunakan kaos putih polos. Dilihat dari bentuk atribut dan pakaian, menggambarkan bahwa keadaan saat itu sedang malam hari dimana pakaian mereka tampak santai untuk tidur. Scene Ini menggambarkan suasana di kamar Pak Musa yang sangat sederhana, sempit dan gelap. Ekspresi yang ditunjukan Ibra yaitu panik dan kasihan ketika membantu Pak Musa berdiri karena sehabis jatuh. Sedangkan ekspresi Pak Musa terlihat pucat dan lemas.

Level Representasi. Pada Scene ini terdapat teknik pengambilan gambar teknik pengambilan gambar medium close up untuk memperlihatkan atau mempertegas ekspresi wajah subjek berada. Sementara itu pencahayaan pada scene ini sedikit ada penerangan yang masuk karena suasana rumah yang sudah gelap karena malam hari. Untuk bagian backsound musik pada scene ini menggunakan musik instrumen lembut untuk menemani aktivitas dari Ibra dan Pak Musa serta juga hanya suara ambience dari hasil kegiatan yang dilakukan oleh Ibra dan Pak Musa seperti suara sandal jepit dan suara batuk dari Pak Musa.

Level Ideologi, tindakan yang dilakukan oleh Ibra dan Pak Musa menunjukan ideologi alruisme dan moralisme. Ekspresi dari Ibra menunjukan bahwa ia kaget melihat bapaknya yang terjatuh sehingga dengan cepat ia membantu bapaknya untuk berdiri. Secara pengertian altruisme yaitu hasrat untuk menolong orang lain dengan rasa sukarela dan tampa pamrih dan hal ini terlihat ketika Ibra membantu menopang Pak Musa. Sedangkan tindakan moralisme yang ada pada scene ini ditunjukan ketika seorang anak yang melihat bapaknya terjatuh lemas maka muncul rasa ingin membantu menopang bapaknya dari jatuh. Sikat. Karakter yang ditunjukan Ibra yaitu panik, penuh perhatian, dan lemah lembut. Hal ini diperkuat dengan gerak tubuh atau gestur yang ditampilkan Ibra.

 

 

Gambar 5. Scene Ibra membersihkan kaki Pak Musa

Sehabis membantu Pak Musa berjalan sampai kamar mandi Ibra kemudian melayani Pak Musa yang sedang sakit dengan mencuci kakinya yang habis terkena kotoran. Level Realitas Ibra memakai baju singlet yang berwarna abu-abu Ia juga memakai gelang ditangan kirinya Serta Pak Musa menggunakan anduk merah sebagai atasan dan dengan bawahan sarung berwarna biru. Dilihat dari bentuk atribut dan pakaian, menggambarkan bahwa keadaan pada waktu sama dengan scene sebelumnya yaitu malam hari dimana yang membedakan hanya latar tempat berubah ke kamar mandi. Scene ini menggambarkan kegiatan Ibra melayani Pak Musa yang dimana sedang mencuci kaki dari Pak Musa. Scene tersebut menampilkan Ibra yang berkarakter penuh dengan kesabaran dan tulus. Sedangkan karakter Pak Musa masih pucat lemas karena sedang sakit.

Level Representasi. Pada Scene ini terdapat teknik pengambilan gambar close up untuk memperjelas dari kegiatan Ibra yang dimana saat Ibra mencuci kaki Pak Musa serta Long Shot untuk memfokuskan pada lingkungan sekitar sehingga objek terlihat kecil atau jauh gunanya untuk memperlihatkan keadaan sekitar yang dimana bisa melihat kamar mandi yang begitu kecil dan sempit. Untuk backsound music pada scene ini memakai efek suara biola dan piano sebagai bentuk dramatis agar penonton bisa terbawa oleh suasana di scene tersebut. Ambience dalam scene ini antara lain suara air dan toa dari masjid.

Level Ideologi, tindakan yang dilakukan oleh Ibra menunjukan bahwa ideologi yang muncul berupa altruisme dan moralisme. Altruisme ketika Ibra menunjukan baktinya kepada sang bapak dengan merawat dan melayani dengan tindakan sukarela. Hal ini menunjukan adanya kasih sayang akan bapaknya. Bentuk kasih sayang yang ditunjukan terlihat jelas di scene ini yaitu Ibra merawat bapaknya dengan mencuci kakinya dengan rasa sukarela dan moralisme berupa kepedulian dari Ibra untuk melayani karena melihat bapaknya sedang lemas tak berdaya dan sedang tidak bisa untuk merawat dirinya sendiri.

 

 

Gambar 6. Scene Ical dan Amar mendoakan Pak Musa dengan membaca Ayat suci

 

Ical dan Amar berdoa kepada Tuhan agar bapaknya segera diberi kesembuhan, mereka berdoa dengan membacakan ayat-ayat. Amar yang tidak bisa membaca ayat tersebut kemudian dibantu oleh Ical.

Level Realitas. Ical dan Amar menggunakan pakaian koko berwarna putih ditambah dengan peci berwarna putih dan hitam sedangkan Pak Musa terbaring di kasur mengggunakan kaos biru dengan sarung sebagai bawahan. Dilihat dari bentuk atribut dan pakaian, menggambarkan bahwa keluarga mereka beragama muslim dan anak-anak dari pak Musa sedang mendoakannya di dalam kamarnya juga sekaligus. Scene tersebut menampilkan Ical dan Amar sedang berekspresi serius, pasrah dan emosian.

Level Representasi. Pada Scene ini terdapat teknik pengambilan gambar medium close up untuk memperjelas atau mempertegas dari kegiatan yang dilakukan Ical dan Amar, dimana semua subjek masuk dalam satu frame dan memberikan kesan dramatis karena posisi sang anak yang duduk dibawah sedang mendoakan bapaknya yang sedang terbaring lemas di kasur. Lalu pencahayaan pada scene ini cukup sedikit penerangan karena keadaan sudah malam hari dan hanya ada lampu meja yang kecil. Untuk backsound music pada scene ini memakai efek suara biola sebagai bentuk dramatis agar penonton bisa terbawa oleh suasana di scene tersebut. Ambience dalam scene ini yaitu suara lantunan ayat yang keluar dari suara Ical dan Amar.

Level Ideologi, dalam scene ini menunjukan ideologi yang berupa spritualisme dan altruisme. Spiritualisme adalah suatu tindakan atau sikap yang mengutamakan pada kerohanian, tindakan yang dilakukan oleh Ical dan Amar adalah pasrah hanya kepada yang mahakuasa untuk meminta pertolongan dari Tuhan demi kesembuhan bapaknya karena mereka sudah dititik yang tidak tahu harus berbuat apa karena buntu dalam membantu biaya pengobatan untuk bapaknya. Bentuk kasih sayang yang muncul pada scene ini adalah memberi kekuatan dengan cara berdoa agar memberikan kelegaan dan semangat bagi bapaknya yang sedang sakit. Tindakan ini merupakan tanda kasih sayang anak kepada orang tua juga karena memberikan kasih sayang tidak hanya dalam bentuk perlakuan saja namun bisa melalui perkataan yang salah satunya adalah doa.

 

Gambar 7. Scene Ibra & Ical memegang tangan pak Musa yang akan segera di Operasi

 

Ibra dan Ical menggenggam tangan Pak Musa yang akan di operasi. Begitu biaya pengobatan sudah terkumpul Ibra dan Ical segera membawa Pak Musa pergi ke rumah sakit agar kondisi Pak Musa tidak kian memburuk dan bisa segera sembuh.

Level Realitas. Ibra memakai baju panjang berwarna ditambah dengan aksesoris banyak gelang ditangan krinya dan Ical menggunakan kaos biru ditambah aksesoris satu gelang ditangan kirinya sedangkan Pak Musa menggunakan kaos polo berwarna kuning muda dengan bawahan sarung. Scene ini menggambarkan suasana siang hari dilorong rumah sakit dimana Pak Musa tidur di kasur roda pasien dan didorong menuju ke ruang operasi.

Level Representasi. Pada Scene ini terdapat teknik pengambilan gambar medium close up untuk memperjelas dari kegiatan yang dilakukan Ibra dan Ical yang dimana disini memperlihatkan tangan dari Ibra, Ical dan Pak Musa. Untuk musik pada scene ini sendiri menggunakan musik instrumen piano dan ambience dari suara yang dihasilkan dari dorongan kasur roda pasien sebagai efek dramatis.

Level Ideologi, tindakan yang dilakukan oleh Ibra dan Ical pada scene ini menunjukan ideologi altruisme dan moralisme. Altruisme dari scene ini ialah dalam bentuk sentuhan fisik yaitu dengan memberi ketenangan kepada Pak Musa dengan menggenggam tangannya. Genggaman tangan ini tentu meningkatkan ikatan emosional anak dan orang tua, dari genggaman tangan inilah dapat mengurangi rasa takut dan khawatir serta memunculkan rasa aman dan hangat. Tindakan kasih sayang yang muncul dari scene ini yaitu sentuhan fisik yang menimbulkan ketenangan. Moralisme pada scene ini adalah bentuk empati yang muncul pada saat Ibra dan Ical merasakan apa yang dirasakan oleh Pak Musa karena tau rasanya menahan sakit dan takut akan segera di operasi sehingga mereka memberi kekuatan dengan cara menggengam tangan Pak Musa dan setia menemani dalam perjalanan menuju ruang operasi.

 

Gambar 8. Scene Elzan & Amar memeluk Pak Musa yang sudah sembuh

 

�� Elzan dan Amar merasa terharu sedih melihat Pak Musa sudah pulih dan ahkirnya dapat bertemu kembali dengan Pak Musa karena mereka sedang masuk didalam penjara sehingga ahkirnya mereka memeluk Pak Musa.

Level Realitas. Elzan dan Amar memakai baju berwarna oren yang menunjukan bahwa itu adalah seragam penjara dan Pak Musa memakai hem berwarna coklat muda. Berdasarkan pakaian dan atribut yang dipakai, tergambar bahwa sedang berada didalam penjara yang posisi dimana Pak Musa sedang menjenguk anak-anaknya. Scene Ini menggambarkan suasana di penjara yang kecil, polos dan sedikit gelap. Ekspresi yang ditunjukan Elzan dan Amar yaitu sedih dan lega karena melihat bapaknya sudah sehat sedangkan Pak Musa sedih dan penuh penyesalan melihat anak-anaknya masuk kedalam penjara demi kesembuhan dirinya.

Level Representasi. Pada Scene ini terdapat teknik pengambilan gambar mid shot yang memperlihatkan dari atas kepala hingga pinggang yang gunanya untuk memperlihatkan gerak tubuh dan keadaan sekitar. Sementara itu pencahayaan pada scene ini sedikit adanya penerangan yang masuk karena suasana penjara yang gelap dan sunyi. Untuk musik pada scene ini sendiri menggunakan musik instrumen piano sebagai efek dramatisasi dan tidak ada ambience sama sekali pada scene ini.

Level Ideologi, ideologi yang mucul pada scene ini yaitu altruisme dan humanisme, altruisme memiliki pengertian hasrat untuk menolong orang lain dengan rasa sukarela dan tanpa pamrih. Dalam hal ini menolong sukarela yang maksud adalah kasih sayang Elzan dan Amar yang rela masuk kedalam penjara karena sehabis merampok bank hanya demi bisa membiayai pengobatan dari Pak Musa. Kemudian ideologi lainnya yaitu sisi humanisme dari Pak Musa yang datang menjenguk Elzan dan Amar untuk memberi semangat dengan pelukan. gerak tubuh atau gestur yang ditampilkan oleh Elzan dan Amar sangat menunjukan bahwa mereka sedih, lega dan emosional karena dapat melihat dan memeluk Pak Musa.

 

B. Representasi Kasih Sayang Anak Kepada Orang Tua

 

Bentuk representasi kasih sayang anak kepada orang tua dalam pembahasan ini juga memberikan hasil bahwa terdapat tiga bentuk kasih sayang yang anak berikan kepada orang tua, yaitu kasih sayang yang bersifat sukarela, toleransi dan empati terhadap orang yang disayangi. Sukarela atau rela hati sendiri disini memiliki makna yaitu perilaku atau karakter yang dapat berguna atau bermanfaat untuk seseorang menjadi lebih baik tanpa mengharapkan imbalan. Tindakan sukarela ini berasal dari dalam diri seseorang atau kehendak dari diri sendiri untuk menolong orang yang ia sayang. Secara umum perilaku sukarela memiliki arti bahwa kegiatan dalam bentuk apapun yang tujuannya ialah memberi bantuan kepada orang lain tanpa meminta imbalan atau melihat kondisi dari pada orang yang dibantu, baik secara internal ataupun eksternal. Sedangkan toleransi dari kasih sayang anak kepada orang tua memilki maksud bahwa sikap menahan diri dan sabar. Menahan diri dan sabar disini yaitu perasaan perhatian terhadap orang tua. Sikap toleransi ini membuat individu menjadi lebih peka terhadap lingkungannya. Toleransi erat kaitannya dengan empati. Seseorang bisa untuk menghilangkan sementara idealisme dalam dirinya sendiri dan justru bergabung kedalam sudut pandang orang lain. Kemudian bisa menunjukan sikap toleransi terhadap suatu kondisi yang sedang dialami oleh orang lain serta dapat menunjukan juga sikap kepedulian atas kondisi permasalahan dari orang lain. Empati sendiri memiliki arti bahwa kepedulian kepada orang lain, terkhusus bagaimana seseorang berbagi pengalaman atau ikut langsung merasakan penderitaan apa yang orang lain alami.

 

Dalam Film Pertaruhan ini sendiri penulis menemukan banyak kasih sayang sukarela dan toleransi serta empati anak kepada orang tua yang muncul dalam setiap scene nya. Antara lain ketika anak-anak dari Pak Musa berusaha mengumpulkan pundi-pundi uang untuk biaya pengobatannya mereka rela melakukan apapun dengan sukarela asalkan dapat melihat bapaknya kembali sehat. Kemudian setiap anak-anak dari Pak Musa juga ikut merawatnya ketika sedang lemah tak berdaya akibat sakit, seperti yang muncul dalam scene yaitu mulai dari meminumkan obat, mencuci kaki, menyelimuti, dan menuntun berjalan. Tindakan ini merupakan salah satu tindakan sukarela dimana kasih sayang seorang anak yang melakukan semuanya dengan rela hati dan juga penuh dengan kesabaran serta kelemahlembutan. Selain itu, bentuk kasih sayang lainnya yang tergambar dalam scene film Pertaruhan ini yaitu toleransi. Didalam scene tersebut juga memperlihatkan tindakan toleransi yaitu ketika anak-anak sedang berdebat atau berselisih paham dengan Pak Musa maka anak-anak tetap mendengarkan perkataan dari Pak Musa sebagai seseorang yang ia hormati dan kasihi serta tidak segan untuk meminta maaf. Kemudian yang terahkir sikap empati kepada orang tua yang terdapat pada scene ketika anak-anak memberikan doa sebagai bentuk kekuatan bagi Pak Musa dalam menghadapi penyakitnya kemudian memberikan sentuhan fisik seperti menggengam tangan dari Pak Musa sebagai bentuk memberi ketenangan serta bentuk nyata dengan membantu membiayai pengobatan operasi dari Pak Musa.

 

KESIMPULAN

Penelitian ini ditinjau menggunakan metode penelitian semiotika milik John Fiske yang terdiri dari tiga level, yaitu level realitas, level representasi dan level ideologi. Menemukan hasil penelitian bahwa pada level realitas ditampilkan beberapa scene yang menunjukkan realitas dari bentuk kasih sayang anak kepada orang tua. Kemudian pada level representasi, kasih sayang anak kepada orang tua direpresentasikan dalam teknik pengambilan gambar dan teknik pencahayaan yang merepresentasikan bentuk kasih sayang anak kepada orang tua. Kemudian pada level ideologi dimunculkan bentuk-bentuk kasih sayang itu sendiri yaitu kasih sayang anak kepada orang tua yang berupa altruisme dimana merupakan hasrat seorang anak menolong orangtuanya dengan rasa sukarela dan tampa pamrih. Kemudian terdapat juga bentuk kasih sayang yang lain berupa moralisme, humanisme, dan spiritualisme. Dalam penelitian ini juga menemukan beberapa temuan yaitu kasih sayang anak kepada orang tua sendiri bisa melalui perbuatan dan perkataan, kasih sayang perbuatan bisa melalui memberi bantuan, sentuhan fisik seperti merangkul dan menggandeng tangan, serta memberi pelayanan. Sedangkan kasih sayang perkataan bisa berupa memberi doa dan kalimat membangun guna untuk memberi semangat. Dalam penelitian ini juga peneliti menemukan bahwa kasih sayang anak kepada orang tua memiliki tiga bentuk di dalamnya yaitu kasih sayang yang berupa sukarela, toleransi dan empati.

 

BIBLIOGRAFI

Adawiah, R. (2017). Pola asuh orang tua dan implikasinya terhadap pendidikan anak: Studi pada Masyarakat Dayak di Kecamatan Halong Kabupaten Balangan. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 7(1), 33�48.

 

Adlini, M. N., Dinda, A. H., Yulinda, S., Chotimah, O., & Merliyana, S. J. (2022). Metode penelitian kualitatif studi pustaka. Edumaspul: Jurnal Pendidikan, 6(1), 974�980.

 

Amalia, M. (2020). Mempererat Ukhuwah Islamiyah di Masa Pandemi Covid-19. Makmood Publishing.

 

ARIFIN, P., Syafwan, M. S., & Zubaidah, M. P. (2015). UNGKAPAN KASIH SAYANG DALAM KARYA LUKIS DEKORATIF. Serupa The Journal of Art Education, 3(2).

 

Astuti, D. (2017). Keterlibatan pengasuhan ayah sebagai orang tua tunggal dengan anak perempuannya setelah terjadinya perceraian (Studi kasus komunikasi antarpribadi di Desa Kwangsan, Kecamatan Jumapolo). Komuniti: Jurnal Komunikasi Dan Teknologi Informasi, 8(1), 19�34.

 

Aulia, R., & Nurdibyanandaru, D. (2020). Pola Pengasuhan Orang Tua Tunggal Ibu pada Mahasiswa Tunanetra. Jurnal Diversita, 6(2), 143�153.

 

Boiliu, F. M. (2020). Peran Pendidikan Agama Kristen Di Era Digital Sebagai Upaya Mengatasi Penggunaan Gadget Yang Berlebihan Pada Anak Dalam Keluarga Di Era Disrupsi 4.0. REAL DIDACHE: Journal of Christian Education, 1(1), 25�38.

 

Eisenberg, N., & Mussen, P. H. (1989). The roots of prosocial behavior in children. Cambridge University Press.

 

Fimansyah, W. (2019). Pengaruh pola asuh orang tua terhadap pembentukan karakter anak di era globalisasi. Primary Education Journal Silampari, 1(1), 1�6.

 

Fitri, R., & Yarni, L. (2022). Gambaran Kemandirian Remaja dari Keluarga Single Parent (Studi Kasus pada Remaja di RT 008 RW 003 Kelurahan Perawang). Jurnal Pendidikan Dan Konseling (JPDK), 4(5), 3467�3472.

 

Fujianto, R. K. (2018). Gambaran Kebahagiaan Pada Remaja Yang Dibesarkan Oleh Orangtua Tunggal. Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

 

Harmaini, H., Shofiah, V., & Yulianti, A. (2015). Peran ayah dalam mendidik anak. Jurnal Psikologi, 10(2), 80�85.

 

Heri, M., Purwantara, K. G. T., Astriani, N. M. D. Y., & Rismayanti, I. D. A. (2021). Sikap Orang Tua dengan Kejadian Obesitas pada Anak Usia 6-12 Tahun. Journal of Telenursing (JOTING), 3(1), 95�102.

 

Manumpahi, E., Goni, S. Y. V. I., & Pongoh, H. W. (2016). Kajian kekerasan dalam rumah tangga terhadap psikologi anak di Desa Soakonora Kecamatan Jailolo Kabupaten Halmahera Barat. Acta Diurna Komunikasi, 5(1).

 

Margareta, D. E. (2022). REPRESENTASI KARAKTER PSIKOPAT DALAM SERIAL DRAMA MOUSE (ANALISIS SEMIOTIKA JOHN FISKE).

 

Siswanto, D. (2020). Anak di Persimpangan Perceraian: Menilik Pola Asuh Anak Korban Perceraian. Airlangga University Press.

 

Surahman, S. (2014). Representasi Perempuan Metropolitan dalam Film 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita. LONTAR: Jurnal Ilmu Komunikasi, 3(1).

 

Tokan, F. B. (2021). Model Pemberdayaan Perempuan Single Parent Dalam Mengatasi Kemiskinan Di Kecamatan Witihama Kabupaten Flores Timur. Warta Governare: Jurnal Ilmu Pemerintahan, 2(2), 288�310.