STUDI PERBANDINGAN FLEXIBEL PAVEMENT ANTARA METODE AASHTO DENGAN METODE BINA MARGA 2017

Aris Krisdiyanto

Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

[email protected]

 

Keywords

Abstract

Bina Marga 2017, AASHTO 1993, Comparison, Thickness, Budget Plan

Jalan Bts. Kab. Magelang � Kaliangkrik Bts. Kab Wonosobo (DAK)� is a provincial road that connects two regencies, namely Magelang Regency and Wonosobo Regency, with a road length of 5,040 meters, width of 7 meters are often passed, and a shoulder of a road of 1 meter with 2/2 UD. From the description above, the road section of Bts. Kab. Magelang � Kaliangkrik Bts. Kab Wonosobo (DAK) is carried out with a comparative planning analysis with two flexible pavement methods, namely with the Bina Marga 2017 method� and AASHTO 1993 along 5,040 km, the planning includes a comparison of the calculation of the thickness of the flexible pavement layer and the cost budget plan. After conducting a comparative planning analysis, it is expected to be a solution in the use of calculation methods.

Kata Kunci

Abstrak

Bina Marga 2017, AASHTO 1993, Perbandingan, Tebal, RAB

Jalan Bts. Kab. Magelang � Kaliangkrik Bts. Kab Wonosobo (DAK) adalah jalan provinsi dengan konstruksi perkerasan lentur yang menghubungkan dua Kabupaten, yaitu Kabupaten Magelang dan Kabupaten Wonosobo, dengan panjang jalan 5.040 meter, lebar badan jalan 7 meter dan bahu jalan 1 meter dengan 2/2 UD. Dari uraian diatas, maka ruas jalan Bts. Kab. Magelang � Kaliangkrik Bts. Kab Wonosobo (DAK) dilakukan analisa perbandingan perencanaan dengan dua metode perkerasan lentur yaitu dengan metode Bina Marga 2017 dan AASHTO 1993 sepanjang 5.040 km, perencanaan tersebut meliputi perbandingan perhitungan tebal lapisan perkerasan lentur dan rencana anggaran biaya. Setelah melakukan analisa perbandingan perencanaan, diharapkan dapat menjadi solusi dalam penggunaan metode perhitungan.

Corresponding Author: Aris Krisdiyanto�

E-mail: [email protected]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENDAHULUAN

Jalan merupakan salah satu prasarana perhubungan darat yang mempunyai peranan penting bagi pertumbuhan perekonomian ,sosial budaya, pengembangan wilayah pariwisata, dan pertahanan keamanan untuk menunjang pembangunan nasional.

Konstruksi perkerasan lentur adalah perkerasan yang pada umumnya menggunakan bahan campuran beraspal sebagai lapisan permukaan serta bahan berbutir sebagai lapisan dibawahnya (Dinata et al., 2017). Konstruksi lapisan perkerasan ini akan melindungi jalan dari kerusakan akibat air dan beban lalu lintas (Muaya et al., 2015). Perhitungan perkerasan jalan secara umum meliputi tebal dan lebar perkerasan. Tebal lapisan perkerasan tersebut dapat dihitung dengan berbagai cara. Oleh karena banyaknya metode yang ada, maka saya mencoba untuk membuat suatu perbandingan perhitungan tebal lapisan perkerasan lentur dan rencana anggaran biaya antara metode AASHTO dengan metode Bina Marga 2017 pada ruas jalan Bts. Kab. Magelang � Kaliangkrik Bts. Kab Wonosobo (DAK) (KM. MGL.1+460 � KM.MGL.6+500).

Tujuan Studi Perbandingan ini adalah� membandingkan Perkerasan Lentur dari segi tebal maupun Anggaran Biaya antara metode AASHTO dengan metode Bina Marga 2017 pada ruas jalan Bts. Kab. Magelang � Kaliangkrik Bts. Kab Wonosobo (DAK) ( KM. MGL. 1+460 � KM.MGL.6+500.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan 2 metode yaitu metode AASHTO dan metode Bina Marga. Metode AASHTO 1993 mengadopsi dari konsep �The Corps of Engineer�s concept� dimana menggunakan konsep mechanistic empirical dengan memperhitungkan tegangan, regangan dan deformasi pada pelat beton secara empirik berdasarkan statistik (Pasaribu et al., n.d.).

Sedangkan Metode Bina Marga 2002 mengadopsi dari peraturan AUSTROADS Pavement Design �A Guide to the Structural Design of Pavements 1992� dimana peraturan ini menggunakan konsep pembatasan regangan vertikal pada subgrade yaitu prosedur perencanaan perkerasan beton semen didasarkan atas dua model kerusakan yaitu : retak fatik lelah tarik lentur pada pelat, dan erosi pada pondasi bawah atau tanah dasar yang diakibatkan oleh lendutan berulang pada sambungan dan tempat retak yang direncanakan (Pasaribu et al., n.d.).

Perlu diingat bahwa setiap metode memiliki asumsi, parameter, dan pedoman yang berbeda sesuai dengan kondisi dan praktik teknis yang berlaku di negara masing-masing (Siyoto & Sodik, 2015).

 

 

Gambar 2. Diagram Alir Analisa

HASIL DAN PEMBAHASAN

Jalan Bts. Kab. Magelang � Kaliangkrik Bts. Kab Wonosobo (DAK) ( KM. MGL. 1+460 � KM.MGL.6+500 ) merupakan jalan provinsi. Analisa data lalu-lintas diperhitungkan dengan mengikuti rencana jalan 20 tahun, sehingga dalam 20 tahun kedepan setelah jalan dibangun masih dapat melayani lalu-lintas dengan lancer (Wuryanta, 2020).

Data LHR yang dijadikan sebagai analisa perbandingan adalah data LHR yang bersumber dari DPU Bina Marga dan Cipta Karya Provinsi Jawa Tengah tahun 2020 (Fatma et al., 2022).

 

Tabel 1. Lalu Lintas Harian Rata � Rata Rencana Tahun 2020

 


 

Jalan Bts. Kab. Magelang � Kaliangkrik Bts. Kab Wonosobo (DAK) ( KM. MGL. 1+460 � KM.MGL.6+500 ) merupakan jalan provinsi dengan eksisting perkerasan aspal. Maka dari itu penulis menggunakan ruas jalan tersebut untuk digunakan dalam analisa perbandingan perhitungan tebal lapisan perkerasan lentur dan rencana anggaran biaya antara metode AASHTO dengan metode Bina Marga 2017 (Zariah, 2023).

�

Berdasarkan bagan alir dari Metode Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Bina Marga 2017 dapat dibuat langkah � langkah perencanaan dan perhitungan sebagai berikut:

 

Menentukan Umur Rencana

Umur Rencana (UR) adalah jumlah tahun dari saat jalan tersebut dibuka untuk lalu lintas kendaraan sampai diperlukan perbaikan yang bersifat struktural (overlay lapisan perkerasan) (Masykur & Kurniawan, 2017). Selama umur rencana tersebut pemeliharaan perkerasan jalan tetap harus dilakukan seperti pelapisan nonstruktural yang berfungsi sebagai lapis aus.dalam Analisa perbandingan ini, penulis menggunakan umur rencana 20 Tahun (Pattipeilohy et al., 2019).

 

Menghitung Faktor Pertumbuhan Lalu Lintas

Faktor pertumbuhan lalu lintas dinyatakan dalam persen per tahun (%/tahun). Dengan menggunakan rumus dibawah ini didapatkan presentasi pertumbuhan lalu lintas pada umur 20 tahun sebesar

 

�

R = 21,31 %

 

Menentukan Faktor Distribusi Lajur

Faktor distribusi lajur untuk kendaraan niaga ditetapkan dalam Tabel 2. Beban desain pada setiap lajur tidak boleh melampaui kapasitas lajur pada setiap tahun selama umur rencana (Sutanto, 2019).

 

Tabel 2. Faktor Distribusi Lajur

 

�

Menentukan Nilai VDF

Jenis kendaraan selalu mempunyai angka ekuivalen atau VDF (Vehicle Damage Factor) yang merupakan akumulasi angka ekuivalen dari sumbu depan dan sumbu belakang (NURFAHMY, 2022). Pada analisa perbandingan ini digunakan VDF pada kendaraan Jenis 6a2, 6b1,2, 7a1.

 

Menentukan Nilai Traffic Multiplier (TM)

Nilai Traffic Multiplier (TM) untuk kondisi pembebanan berlebih di Indonesia adalah sekitar 1,8-2. Digunakan nilai TM 2 untuk desain (MAHMUDDIN, 2020).

 

Menghitung Beban Sumbu Standar Kumulatif

Beban sumbu standar kumulatif atau Cumulative Equivalent Single Axle Load (CESA) merupakan jumlah kumulatif beban sumbu lalu lintas desain pada lajur desain selama umur rencana (Mantiri et al., 2019).

�

�

 

Pemilihan Jenis Perkerasan

Perhitungan tebal perkerasan untuk perkerasan lentur dihitung berdasarkan nilai CESAL umur rencana kemudian tebal struktur perkerasan menggunakan bagan Desain 3 pada Bina Marga 2017 yang disajikan pada Tabel 4.12. Solusi perkerasan ini dipilih berdasarkan pada pembebanan dan pertimbangan biaya terkecil.

Pemilihan jenis perkerasan dilihat dari nilai ESA 20 tahun (juta) yang disajikan pada Tabel 3. Sehingga didapatkan jenis perkerasan yang dipilih untuk nilai ESA 20 tahun sebesar 12.079.466,95 adalah dengan struktur perkerasan AC-WC modifikasi atau SMA modifikasi dengan CTB (pangkat 5) dan dengan menggunakan Desain 3.

 

Tabel 3. Pemilihan Jenis Perkerasan

 

Tebal lapis perkerasan lentur diperoleh dari nilai CESA5 sebesar 24.158.933,90 ESAL. Berikut adalah tebal masing-masing lapis perkerasan yang dapat disajikan pada Tabel 4. sesuai dengan Bagan Desain 3 dari Bina Marga 2017.

�

Tabel 4. Desain-3

 

�

Dari tabel di atas maka didapatkan tebal lapis perkerasan lentur yang disajikan pada Gambar 2. berikut.

1.AC-WC������������� = 40 mm

2.AC-BC = 60 mm

3.AC Base����������� = 75 mm

4.CTB������������������� = 150 mm

5.LPA kelas A���� = 150 mm

Jadi, susunan perkerasan lentur metode Bina Marga 2017 pada proyek Jalan Bts. Kab. Magelang � Kaliangkrik Bts. Kab Wonosobo (DAK) (KM. MGL.1+460 � KM.MGL.6+500) adalah sebagai berikut:

�

Gambar 3. Lapisan Perkerasan

�

Berdasarkan bagan alir dari Metode Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur AASHTO 1993 dapat dibuat langkah � langkah perencanaan dan perhitungan sebagai berikut :

 

Menentukan Angka Ekivalen

 

 

 

 

Tabel 5. Angka Ekivalen

 

 

Menghitung Lintas Ekivalen K umulatif (W18)

�

�

Menentukan Tebal Perkerasan

Material yang digunakan :

LP����������� : Laston (MS 744) = a1= 0,40

LPA�������� : Agregat klas A (CBR 100%) = a2 = 0,14

LPB�������� : Sirtu klas B (CBR 70%) = a3 = 0,13

 

Menentukan Tingkat Reliabilitas (R)

 

Tabel 6. Reliabilitas (R)

 

�

Fungsi jalan kolektor: R = 80 %

Menentukan Simpangan Baku (So)

Simpangan baku (So) yang sesuai dengan ketentuan perkerasan lentur AASHTO di tetapkan: So = 0,45.

 

Menentukan Nilai Modulus Material Lapisan Perkerasan

�

Menentukan Nilai Service Ability

 

Menentukan Simpangan Baku Zr

 

Tabel 7. Standart Normal Deviation ( ZR)

 

�

Simpangan Baku dengan Reliabilitas 80 % = -0,841

 

Menentukan Nilai SN

Dalam perhitungan ini tidak dapat menggunakan diagram perencanaan SN, karena tingkat Reliabilitas yang kecil. Sehingga menggunakan rumus :

�

 

 

�

 

 

Gambar 4. Lapisan Perkerasan

 

4.3. Perhitungan Drainase

�Dalam perhitungan drainase, data yang diperlukan adalah data intensitas curah hujan pada daerah tersebut (Mulyono, 2014). Berikut adalah data intensitas curah hujan pada daerah Kab. Magelang:

 

Data Curah Hujan

 

Tabel 8. Intensitas Curah Hujan

 

�

Menghitung Debit Rencana dengan Metode Rasional

Menghitung debit rencana dengan metode rasional mempunyai rumus seperti dibawah:

Qr�������� = 0,278 x Cw x I x A

Sehingga didapat nilai Qr :

Qr�������� =0,278 x Cw x I x A

= 0,278x0,638x1,59x10-5x37.800

= 0,107 m3/dt

 

Menghitung Dimensi Saluran

Menentukan dimensi saluran digunakan saluran persegi dengan ukuran sebagai berikut :

b = 0,6 m

h = 0,8 m

dengan dimensi diatas, maka didapatkan nilai dari debit maksimum saluran sebesar:

Q = A x V

�� = 0,48 x 0,600

�� = 0,288 m3/dt

Checking Debit yang Terjadi

Debit Rencana�� = 0,107 m3/dt

Debit Saluran���� = 0,288 m3/dt����������������������������

Qr < Q (Oke)

 

�

Gambar 5. Dimensi Drainase

 

V. Rencana Anggaran Biaya

�Untuk mengetahui biaya yang dibutuhkan dalam pembuatan jalan diperlukan analisa biaya yang meliputi analisa biaya teknis maupun non teknis serta biaya � biaya yang dibutuhkan (Sari, 2019). Analisa biaya ini berguna untuk mengetahui batas penawaran yang akan dikeluarkan oleh pemilik serta dapat mengetahui batas penawaran yang akan dikeluarkan oleh kontraktor (penyedia jasa).

 

�

 

KESIMPULAN

Dari hasil analisa perbandingan perhitungan dengan metode Perkerasan Lentur Bina Marga 2017 dan Perkerasan Lentur AASTHO 1993 pada ruas Jalan Bts. Kab. Magelang � Kaliangkrik Bts. Kab Wonosobo (DAK) (KM. MGL.1+460�KM.MGL.6+500), ternyata memiliki tebal perkerasan yang berbeda. Dari hasil perhitungan didapatkan tebal lapis perkerasan lentur dengan metode Bina Marga 2017 yaitu : AC-WC 4 cm, AC-BC 6 cm, AC Base 7,5 cm, CTB 15 cm, dan LPA Kelas A 15 cm.Dari hasil perhitungan didapatkan tebal lapis perkerasan lentur dengan metode AASTHO 1993 yaitu : Lapis permukaan (Laston MS 744) 10 cm, Lapis pondasi atas (Agregat kelas A CBR 100) 15 cm, Lapis pondasi bawah (Sirtu kelas A CBR 70 %) 15 cm.biaya pelaksanaan lapis perkerasan lentur metode Bina Marga 2017 adalah Rp 27,333,935,000.00 dan untuk perkerasan lentur metode AASHTO 1993 adalah Rp24,296,724,000.00 Dari segi rencana anggaran biaya biaya lapis perkerasan dengan metode AASHTO 1993 memiliki harga lebih murah dari metode Bina Marga 2017 dengan selisih harga Rp3,037,211,000.00 Untuk metode perkerasan yang dipakai untuk ruas jalan ini adalah perkerasan lentur metode AASHTO 1993 dikarenakan lebih murah dari segi biaya dan mudah dari segi pengerjaannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BIBLIOGRAFI

 

Dinata, D. I., Rahmawati, A., & Setiawan, D. (2017). Evaluasi tebal perkerasan lentur dengan metode analisa komponen dari Bina Marga 1987 dan metode AASHTO 1993 menggunakan program KENPAVE (studi kasus: jalan karangmojo-semin sta 0+ 000 sampai sta 4+ 050). Semesta Teknika, 20(1), 8�19.

 

Fatma, D. A., Puspitasari, E., & Susilowati, F. (2022). Analisis Penyebab Kerusakan Jalan Terhadap Struktur Perkerasan Lentur Serta Penangannya Pada Ruas Jalan Jepara-Bangsri. Jurnal Teknik Sipil, 11(1), 55�61.

 

MAHMUDDIN, A. (2020). EVALUASI TEBAL PERKERASAN LENTUR DENGAN METODE EMPIRIK DAN METODE MEKANISTIK-EMPIRIK DENGAN PROGRAM KENPAVE PADA RUAS JALAN IMOGIRI TIMUR. Universitas Islam Indonesia.

 

Mantiri, C. C., Sendow, T. K., & Manoppo, M. R. E. (2019). Analisa Tebal Perkerasan Lentur Jalan Baru Dengan Metode Bina Marga 2017 Dibandingkan Metode Aashto 1993. Jurnal Sipil Statik, 7(10).

 

Masykur, M., & Kurniawan, S. (2017). Analisa Pengujian Dynamic Cone Penetrometer (DCP) Untuk Daya Dukung Tanah Pada Perkerasan Jalan Overlay (Studi Kasus: Ruas Jalan Metro�Tanjungkari STA 7+ 000 s/d STA 8+ 000). TAPAK (Teknologi Aplikasi Konstruksi): Jurnal Program Studi Teknik Sipil, 7(1), 52�63.

 

Muaya, G. S., Kaseke, O. H., & Manoppo, M. R. E. (2015). Pengaruh Terendamnya Perkerasan Aspal oleh Air Laut yang Ditinjau terhadap Karakteristik Marshall. Jurnal Sipil Statik, 3(8).

 

Mulyono, D. (2014). Analisis karakteristik curah hujan di wilayah Kabupaten Garut Selatan. Jurnal Konstruksi, 12(1).

 

NURFAHMY, A. (2022). ANALISIS PENGARU HMUATAN BERLEBIH (OVERLOADING) TERHADAP KINERJA JALAN DAN UMUR RENCANA PERKERASAN LENTUR (STUDI KASUS JALAN RAYA MALANGBONG�CIAWI). Universitas Siliwangi.

 

Pasaribu, R. S., Erwan, K., & Said, S. (n.d.). ANALISIS PERBANDINGAN TEBAL PERKERASAN KAKU METODE BINA MARGA 2017 DAN METODE AASHTO 1993 PADA JALAN HUSEIN HAMZAH PAL 5. JeLAST: Jurnal PWK, Laut, Sipil, Tambang, 8(3).

 

Pattipeilohy, J., Sapulette, W., & Lewaherilla, N. M. Y. (2019). Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Pada Ruas Jalan Desa Waisarisa –Kaibobu. Manumata: Jurnal Ilmu Teknik, 5(2), 56�64.

 

Sari, S. N. (2019). Evaluasi Anggaran Biaya menggunakan Batu Bata Merah dan Batu Bata Ringan Gedung Kantor Kelurahan Bareng Kecamatan Klaten Tengah Kabupaten Klaten. Jurnal Qua Teknika, 9(1), 1�10.

 

Siyoto, S., & Sodik, M. A. (2015). Dasar metodologi penelitian. literasi media publishing.

 

Sutanto, H. (2019). Perencanaan Jalan Denganperkerasan Kaku (Rigid Pavement) Pada Jalan Rawa Indah Kota Sangatta Provinsi Kalimantan Timur. Teknologi Sipil: Jurnal Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi, 2(2).

Wuryanta, S. (2020). Analisis Komparasi Pembangunan dan Perawatan Perkerasan Jalan Lentur Dengan Kaku Pada Proyek Jalan MERR Surabaya Future Value Methods. Untag Surabaya.

 

Zariah, H. A. (2023). Evaluasi Tebal Perkerasan Lentur dengan Metode Bina Marga 2017 Pada Ruas Jalan Waibangga, Nusa Tenggara Timur (STA 0+ 000�STA 10+ 000).