ADAPTASI PERILAKU
BERBELANJA DARING GENERASI X DI MASA PANDEMI
Fransisca
Paramitha1,
Patricia Editha Adrijanto2
Perbanas Institute
[email protected]1, [email protected]2
|
Keywords |
Abstract |
|
|
Generation X,
Consumer Behavior, E-commerce, Online Shopping |
The
pandemic affects all generations and creates many changes from various
aspects of life, especially in shopping activities. Generation X, which
consists of individuals born between 1965 and 1980, is one of the important
consumer groups in this context. One of the main changes
that occurred was a significant increase in online shopping activities or
e-commerce as the main method of shopping. This problem is an interesting
phenomenon to research, especially related to the behavior of this
generation. The purpose of the study was to identify the behavior of
Generation X in the online shopping process during the pandemic. This
research uses qualitative methods by collecting data through in-depth
interviews with a number of Generation X informants. The results of this
study are expected to provide new insights and help practitioners or
marketers in developing the right marketing program for Generation X. |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Kata Kunci |
Abstrak |
|
|
Generasi X, Perilaku
Konsumen, E-commerce, Belanja Daring |
Adanya pandemi mempengaruhi
seluruh lapisan generasi dan menciptakan banyak perubahan dari berbagai sisi
kehidupan, khususnya pada aktivitas berbelanja. Generasi X yang
terdiri dari individu yang lahir antara tahun 1965 hingga 1980 merupakan
salah satu kelompok konsumen yang penting dalam konteks ini. Salah satu perubahan utama yang
terjadi adalah adanya peningkatan yang signifikan dalam melakukan aktivitas
berbelanja secara daring atau e-commerce sebagai metode utama berbelanja.
Masalah ini merupakan fenomena menarik untuk diteliti, khususnya terkait
dengan perilaku generasi ini. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi perilaku Generasi X dalam proses
berbelanja secara daring selama pandemi.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mengumpulkan data melalui
wawancara mendalam dengan sejumlah informan Generasi X. Hasil penelitian ini
diharapkan dapat memberikan wawasan baru serta membantu para praktisi atau
marketer dalam menyusun program pemasaran yang tepat bagi Generasi X. |
|
Corresponding Author: Fransisca Paramitha
E-mail:
c[email protected]
PENDAHULUAN
Pandemi COVID-19 telah membawa
perubahan signifikan dalam perilaku konsumen di seluruh dunia. Salah satu
perubahan utama yang terjadi adalah adanya peningkatan yang signifikan dalam
melakukan aktivitas berbelanja secara daring atau e-commerce sebagai
metode utama berbelanja yang mempengaruhi seluruh lapisan generasi, tidak
terkecuali Generasi X. Generasi X yang terdiri dari individu yang lahir antara
tahun 1965 hingga 1980
Dalam
rangka memahami adaptasi perilaku berbelanja daring Generasi X di era digital,
kami menemukan beberapa temuan menarik. Meskipun Generasi X tumbuh dalam era
kemajuan teknologi dan digitalisasi, mereka pada dasarnya juga menemukan
tantangan tersendiri dalam proses transisi dari model bisnis tradisional ke
digital. Pandemi COVID-19 menjadi pendorong utama dalam percepatan peralihan
ini. Dengan pembatasan sosial dan penguncian, memaksa banyak orang termasuk
Generasi X untuk beralih ke belanja daring sebagai opsi yang aman dan
memungkinkan. Meskipun demikian, kami menemukan bahwa Generasi X seringkali
tidak menjadi target utama para marketer digital, yang lebih cenderung
memfokuskan upaya pemasaran pada Generasi Y dan Z.
Berkaitan
dengan hal tersebut, penelitian yang dilakukan oleh
Tidak berhenti disitu, kami menemukan hal
menarik dari Laporan Perilaku Konsumen E-Commerce Indonesia


Grafik 1. Proporsi
jumlah transaksi berdasarkan kelompok umur
Sumber:
Riset ini memvalidasi keistimewaan
kemampuan beradaptasi Generasi X karena ternyata di tengah dominasi Generasi
Milenial sebagai konsumen e-commerce, kelompok Generasi X justru
mengalami peningkatan jumlah transaksi. Fakta menarik ini bertolak belakang
dengan penelitian
Sejalan
dengan pernyataan diatas, Generasi X yang berada dalam usia produktif dan cenderung memiliki penghasilan
rata-rata melakukan 12-13 transaksi dalam setahun dimana lebih tinggi dari
generasi lainnya.
�


Grafik 2. Rata-rata
transaksi dalam setahun berdasarkan kelompok umur
Sumber:
Fakta bahwa jumlah transaksi Generasi X
terus meningkat dibandingkan Generasi Y
dan Generasi Z menjadi daya tarik tersendiri bagi kami untuk melihat lebih
dalam tentang bagaimana adaptasi aktivitas berbelanja yang dilakukan oleh
kelompok Generasi X.
Merujuk
pada kemampuan perilaku konsumen, kami mendapat referensi penelitian terdahulu
mengenai Generasi X. Dari beberapa penelitian yang kami temukan, umumnya
penelitan yang dilakukan bersifat kuantitatif
Adapun
gap penelitian yang dimaksud adalah belum ditemukannya pembahasan lebih
dalam yang bersifat
kualitatif terkait perilaku pembelian.
Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi perilaku Generasi X
dalam proses berbelanja secara daring selama pandemi.Peneliti memakai dua
penelitian yang dijadikan sebagai bahan acuan penelitian dan dua penelitian
yang bertolak belakang, peneliti merasa hal ini penting demi menemukan gap
riset sekaligus gap fenomena bisnis demi mencapai tujuan penelitian. Penelitian
pertama dilakukan oleh
Acuan penelitian kedua berjudul
�Keputusan Pembelian Generasi X pada Aplikasi Belanja Online� dari
Namun berbeda dengan 2 penelitian yang
sebelumnya telah dijabarkan, penelitian dari
Begitu pula berdasarkan thesis
Persamaan dari penelitian ini,
mengharapkan penelitian selanjutnya dapat menjawab keterbatasan penelitian yang
dialami penelitian sebelumnya untuk menemukan faktor-faktor yang mempengaruhi
perilaku konsumen pada Generasi X
melalui metode generic qualitative research (penelitian kualitatif dasar)
sehingga hasil diperoleh secara komprehensif.
Menurut
Disisi
lain, walaupun dikenal sebagai pribadi yang pemberontak kelompok generasi ini
mampu membuktikan kesuksesannya di usia mereka yang sudah semakin tua. Saat
semakin berumur, mereka mampu menjadi pribadi yang aktif, bahagia, serta
mencapai keseimbangan kerja dan kehidupan
Adapun
karakteristik umum yang terkait dengan Generasi X adalah sebagai berikut:
1.
Pragmatis: Generasi X dikenal sebagai generasi
yang lebih pragmatis dan realistis. Mereka tumbuh dalam era yang melihat
perubahan sosial yang signifikan, termasuk perubahan ekonomi dan perkembangan
teknologi. Hal ini membentuk pandangan hidup mereka yang lebih berorientasi
pada mencari solusi konkret dan menghadapi tantangan dengan sikap yang praktis.
2.
Kemandirian: Generasi X cenderung menjadi
individu yang mandiri. Mereka seringkali tumbuh dengan kedua orang tua yang
bekerja dan memiliki tanggung jawab yang lebih besar dalam mengurus diri
sendiri. Hal ini membuat mereka menjadi pribadi yang mandiri secara finansial,
dan mampu mengatasi hambatan dengan kemampuan diri mereka sendiri.
3.
Adaptif: Generasi X tumbuh dalam lingkungan yang
mengalami perubahan cepat. Mereka telah menghadapi perubahan sosial, ekonomi,
dan teknologi yang signifikan, termasuk transisi dari model bisnis tradisional
ke digital. Oleh karena itu, mereka memiliki kemampuan yang baik dalam
menyesuaikan diri dengan perubahan dan menghadapi tantangan yang ada.
4.
Nilai Keluarga dan Keseimbangan Hidup: Generasi
X seringkali memiliki nilai-nilai keluarga yang kuat. Mereka tumbuh dalam era
di mana banyak orang tua mereka sibuk bekerja, sehingga mereka menghargai waktu
berkualitas dengan keluarga dan mencari keseimbangan antara pekerjaan dan
kehidupan pribadi.
5.
Nilai Pengalaman dan Autentisitas: Generasi X
cenderung lebih fokus pada nilai-nilai pengalaman dan autentisitas. Mereka
mencari pengalaman yang bermakna dan memiliki kecenderungan untuk memilih merek
atau produk yang menggambarkan identitas mereka dengan jujur dan otentik.
Berdasarkan
atas penjabaran karakteristik diatas untuk dapat dikaitkan dengan perilaku
konsumen, maka penting untuk menjadikan Generasi X sebagai fokus kajian. Dengan
memanfaatkan pengetahuan ini, para marketer dapat lebih efektif dalam membangun
hubungan dengan Generasi X dan menghadirkan solusi belanja daring yang sesuai
dengan preferensi dan kebutuhan mereka.
Berdasarkan penafsiran
Pada dasarnya, ketika seorang konsumen
telah mengambil sebuah keputusan untuk membeli barang atau jasa, mereka pasti
akan melalui beberapa tahapan dalam proses berpikir. Adapun beberapa unsur yang
menjadi sebuah bahan pertimbangan itu meliputi harga, model, bentuk, kemasan,
kualitas, hingga fungsi atau kegunaan barang atau jasa tersebut
Berkaitan dengan hal tersebut, sebagai
seorang pemasar fokus utama yang ada justru mempelajari seluruh proses
pembelian itu berjalan daripada hanya sebatas bagaimana konsumen memiliki
keputusan untuk membeli.
METODE PENELITIAN
Desain
penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan paradigma interpretivis. �Dalam menjalankan penelitian kualitatif, ada
beberapa aspek penting yang harus dipertimbangkan, diantaranya metode
pengambilan sampel, pengumpulan data, analisis data, keterpercayaan, dan etika
penelitian.
Dari
hasil pengambilan sampel yang sudah dilakukan, kami mendapati bahwa informan
yang masuk dalam kelompok Generasi X ini memiliki karakteristik yang unik.
Kelompook generasi ini pada akhirnya mampu untuk terus beradaptasi dan nyaman
dalam melakukan aktifitas pembelian secara daring. Sejalan dengan karakteristik
mereka yang disebut sebagai kelompok generasi yang adaptif, mereka menyukai
bekerja secara smart yakni melakukan pekerjaan atau kegiatan secara efisien
terutama dari segi waktu untuk mencapai hasil yang maksimal.
Hal
ini dikarenakan peneliti lebih berfokus kepada banyaknya informasi yang didapat
dari hasil wawancara daripada kesesuaian dengan populasi.
Data
primer yang penulis dapat diperoleh dari hasil wawancara lima informan untuk
mengetahui bagaimana keterlibatan mereka dalam melakukan aktivitas berbelanja
daring pada e-commerce pada masa pandemi. Wawancara dilakukan dengan wawancara
terbuka dan informal.
Proses
ini kami melakukan analisis data untuk mentransformasi hasil wawancara menjadi
informasi yang dapat dipahami dan memiliki arti.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1. Matriks Pengkodean Teori
|
Matriks
Pengkodean |
|
|
Teori |
Pengkodean |
|
1. Need Recognition |
1.1
Bagaimana anda menyadari suatu kebutuhan sebelum memutuskan
membeli sesuatu? (NR 1.1) Erwin:� Kebutuhan
itu ada yang sifatnya kan utama ada juga yang sifatnya kan keinginan harus
dibedakan dulu kalau yang memang betul-betul dibutuhkan yaitu prioritas tapi
kalau sifatnya hanya karena keinginan ya kalau tidak mendesak kenapa harus
dibeli. Dion: Kalau dari saya sendiri kalau membeli suatu barang
atau kebutuhan itu berdasarkan dari barang tersebut akan berfungsi dalam
hidup saya atau tidak. Ratih:� Contoh
simple misalnya hari Minggu besok saya mau reuni atau mau ada acara apa gitu,
oh saya butuh baju berarti saya harus beli, jadi ketika merencanakan mau
memakai sesuatu dan nggak baru beli, selain itu misalnya mau bikin cake dan
ternyata belum punya loyang yang kayak gini, oh berarti saya harus beli gitu. Esther: Ya pastinya kalau misalkan
nanti sebagai seorang ibu ya kalau mau membeli sesuatu, pastikan memikirkan
ini termasuk kebutuhan yang memang mendesak atau masih bisa ditunda gitu. Teguh:�
Butuh sesuatu itu biasanya pertama adalah ya tentunya pasti ya
barang-barang yang secara spesifik kita butuhkan ya waduh misalnya
membutuhkan gadget baru, pasti akan langsung cari kan di terutama memang
kalau saya mencari/membeli sesuatu pasti saya adalah online dulu nih baik
spesifikasi maupun price-nya. 1.2
Apakah datang rangsangan tersebut
datang dari dalam atau luar diri anda? (NR 1.2) Dion: Terkadang saya juga tergiur oleh
salah satu barang yang menurut saya kurang penting. Tapi saya juga ikut
membeli karena tergiur oleh teman atau saudara saya yang membeli barang
tersebut. Erwin:�
Dua-duanya sih dari diri saya juga ada pasti ya karena saya tahu kebutuhan
saya tapi kadang-kadang begitu melihat orang lain pakai atau beli ternyata
ada gunanya juga. Tapi lebih dominan ke internal sih. Esther:
Jadi lebih kearah karena pengaruh internal sih kalau saya. Teguh: Ada dua kemungkinan sih
dua-duanya Mungkin ya yang dari dalam sendiri karena memang misalnya
kebutuhan misalnya saya butuh HP karena hp saya sudah harus upgrade atau
karena rusak tapi lebih atau ada kebutuhan lain yang memang aduh kayaknya
keren juga ya kalau pakai itu ya gitu nah tapi balik lagi sih kalau saya
secara personal lihat apakah saya sudah membutuhkan hal itu gitu ya ketika
dirasa membutuhkan ya saya beli tapi kalau kira-kira itu masih digantikan
oleh alat yang ada atau kalau saya nggak perlu beli alat itu ternyata masih
pekerjaan saya masih bisa ya udah saya biasa nggak akan beli. |
|
2. Information search |
2.1
Bagaimana cara anda dalam
mencari informasi? (IS
2.1) Ratih: Biasanya pertama lewat online
shop, kira-kira kerudung dengan model yang dimau berapa harganya gitu atau
misalnya saya mau satu merek tertentu, misalnya merek Zoya atau merek Zaskia
Mecca, saya lihat dulu komparasi harganya, kalau setelah lihat aku suka, baru
aku akan memutuskan untuk membeli. Esther: Contohnya kayak kemarin Kamika
mau ada acara kelulusan gitu ya tante sama om kan datang nih nah baru cari
bajunya, akhirnya searching tuh di Shopee. Dion: Sebagai pencinta otomotif, adanya
iklan yang muncul di Shopee tidak terlalu berpengaruh buat saya, namun saya
terkadang sering terpengaruh untuk membeli suatu barang melalui media sosial
yang saya lihat seperti Instagram karena disitu banyak sekali barang baru dan
menarik dan dari situ muncul rasa ingin membeli. 2.2
Melalui saluran informasi apa saja?
(ISD 2.2) Ratih:
�e-commerce, karena media
sosial agak kapok
karena pernah ada pengalaman tidak menyenangkan. �� 2.3
Apakah dari rekan, iklan,
social media, atau berdasarkan ulasan pengguna barang? (ISD 2.3) Teguh:�
Dari Google misalnya kan kita kan udah tahu ya apa aja di HP juga ada
beberapa aplikasi e-commerce ya ada Tokopedia, Shopee. Jarang cari di
media sosial, karena kurang detail informasinya. Erwin: Kalau katalog produknya tentu
carinya di e-commerce tapi kalau sebelum kita paham barang itu dan takut
salah beli lebih enak nonton YouTube-nya (review) dulu. Ratih: Aku selalu membiasakan diri
membaca review dari orang-orang, itu awal ketika memutuskan mau membeli
barang itu, ketika aku mau masukin ke keranjang. aku lihat dulu nih review
kalau misalnya memang banyak yang bagus, aku akan beli. |
|
3. Evaluation of alternatives |
3.1
Unsur apa saja yang
dipikirkan ketika berbelanja? (EOA 3.1) Dion:
Kalau untuk keperluan pemenuhan hobi, ketika saya membeli suatu barang itu
lebih kepada mengejar fungsi dan tampilan. Erwin: Ini bukan urut ya ini yang aja
ya pertama harga karena kita juga nggak mungkin tidak punya budgetnya mau
berapa jadi harus sesuai dengan budget. Kedua fungsionalnya, fungsional itu
jadi kegunaannya. Ketiga lebih kepada reputasi brandnya,
kurang memiliki kekuatan kita mesti banyak riset dulu tapi kalau brand sudah
terkenal dan memang orang tahu kualitasnya, bandelnya. Teguh:
Tadi disebutkan fungsi, harga, tren ya. 3.2
Dari berbagai alternatif,
bagaimana memilihnya? (EOA
3.2) Ratih:�
Menurut aku yang cocok di dia belum tentu cocok di aku, jadi aku bukan
tipe orang yang followers ya terhadap model, karena aku punya style yang
menurut aku bagus, belum tentu menurut Bu Ning enggak atau menurut Pak Teguh
biasa aja, tapi saya lebih percaya ketika saya nyaman makenya, ya saya akan
beli barang itu. Tapi kalau terpengaruh dari temanku itu, bukan baju ya
misalnya HP, saya akan konsul dengan teman yang paham baru saya beli, tapi
kalau untuk mode atau gaya, engga. Erwin: Saya biasanya membuat tabel
perbandingan, dan pilihannya mengecil Jadi dua opsi nih produk A dan B, nah
berarti saya akan coba bandingkan range harga yang hampir sama, mana yang
punya value lebih dilihat dari nilai plusnya yang mana yang lebih banyak. Teguh: Biasanya sih saya tuh membeli
sesuatu itu agak-agak jelimet (rumit) karena harus baca dan lihat berbagai
macam reviewer, memperhatikan secara spek kemudian baru saya memutuskan. |
|
4. Purchase decision |
4.1
Dari unsur yang sudah
dipertimbangkan, alasan apa yang pada akhirnya memicu anda untuk
membeli barang tersebut? (PD 4.1) Erwin:
kita harus bikin keputusan sendiri ya cuman bedanya sama di zaman dulu itu
kita tuh harus datengin produknya cukup sudah pegang kita coba nah Karena
sekarang sudah ada yang memudahkan jadi itu menggantikan kayak user
experience kemudian feelnya bagaimana, kita bisa lihat yang sudah pegang jadi
kita enggak usah harus sampai melakukan itu. Tapi pada akhirnya kita sendiri
yang membuat keputusan, jadi walau kata orang enak kalau ternyata engga ya
artinya engga, jangan termakan oleh kata-katanyalah. Teguh: Low price ya, artinya bukan
hanya sekedar harga murah ya Tapi tetap membandingkan secara spek sama terus
secara review sama gitu. Oh, ini ternyata lebih murah pasti saya pilih yang
paling murah misalnya potongan sekitar Rp20.000 atau di suatu e-commerce
memberikan free ongkir. 4.2
Mana yang lebih besar,
kemungkinan pengaruh opini/sikap orang lain terhadap pilihan anda atau
kejadian yang tidak terduga? (PD 4.2) Teguh:
�Pasti iklan di sosial
media ada pengaruhnya tapi memang nggak besar, kalau saya secara pribadi
menekankan pada fungsi penggunaan barangnya ya dan berdasarkan review ya.
Tapi kalau istri dirumah mudah sekali terpengaruh dengan iklan, begitu lihat
langsung beli. |
|
5. Post purchase behaviour |
5.1
Apakah produk yang telah
anda beli dapat memenuhi harapan? Atau bahkan melebihi harapan? (PPB 5.1) Ratih: Kalau melebihi harapan sih tidak, rata-rata memenuhi harapan aja.
Maksudnya tidak sampai over ekspektasi gitu. Kadang kalau mau beli
barang-barang tertentu yang dan merasa harus yakin, kadang aku beli secara
offline. Erwin: Kalau dari pengalaman kalau kita
beli itu sudah dengan perhitungan yang matang biasanya sih tidak akan di luar
ekspektasi. biasanya akan sesuai dengan yang saya harapkan, jarang juga dapat
yang di atas ekspektasi, artinya saya tidak menduga barangnya akan sebagus
itu. Tapi kalau di bawah ekspektasi itu juga enggak karena masa ga tahu kalau
barangnya sejelek. Dion:�
Pernah saya membeli suatu barang karena tergiur dari iklan media
sosial, ternyata setelah digunakan kualitasnya tidak sesuai dengan harga yang
sudah saya keluarkan. Barang tersebut tidak bertahan lama ketika digunakan
untuk pergi jauh dan saya paham bahwa itu salah satu resiko yang muncul
ketika berbelanja secara online. Teguh: Pada umumnya sih sesuai harapan,
kalau melebihi ada tapi memang nggak banyak ya. Kalau sesuai harapan karena
ya itu tadi bener-bener saya speknya sesuai ini saya review dari YouTube dari
ini kira-kira secara fisik apa kekurangannya apa baru saya memutuskan. Saya
nggak mudah untuk membeli sesuatu. 5.2
Bagaimana sikap anda
selanjutnya?
(PPB 5.2) Ratih:
�Pertama kecewa, tapi aku
bukan tipe orang yang menghina ketika barang kurang, lebih memberi nilai
contoh 2 bintang, tapi aku tidak mau memberi komentar yang buruk. Seandainya
barangnya sudah terlanjur dibeli dan kurang bagus, ya aku akan memberikan ke
orang rumah, jadi tidak dipakai pribadi. Erwin: Bisa jadi, jaman sekarang kan
orang menggunakan segala cara untuk mencari informasi ya jadi kalau dia bisa
dapat info dari review saya gitu supaya dia juga tidak mengalami hal seperti
saya ya, saya akan lakukan itu. Walaupun mungkin bagi si pemilik merek, dia
akan jadi nggak laku gitu ya risiko dia kenapa bikin barangnya nggak bagus. Dion: Ya yang bisa saya lakukan sejauh
ini adalah memberikan informasi yang sesuai jika dimintakan rekomendasi atas
barang tersebut agar mereka juga bisa dapat informasi cukup atas barang
tersebut. Teguh: Ada beberapa kali beli dan tidak
sesuai, klo misalnya harganya lumayan ya pasti saya kembalikan karena kan ada
fitur terima barang, disitu saya tidak setuju kemudian komplain dulu dan
dikembalikan gitu, tapi kalau kira-kira harganya ya ga seberapa buat apa?
Maksudnya return walaupun gratis kita butuh effort dan buang waktu, jadi ya
sudahlah nggak perlu dipakai barangnya. |
a. Kategorisasi
Dalam konteks perilaku keputusan pembelian Generasi X selama
pandemi, terdapat hubungan logis antara berbagai kategori dan sub-kategori
sebagai berikut:
1.
Kategori Rangsangan (Stimulitation)
-
Internal Stimuli:
Penting bagi informan untuk
mengetahui sejauh mana kebutuhan yang timbul dari dalam diri mereka.
-
Eksternal Stimuli:
Tidak menutup kemungkinan bagi
informan pada akhirnya tergiur oleh teman atau saudara untuk membeli barang
tersebut diluar kebutuhan mereka.
2.
Kategori Pencarian Informasi
-
Public Search:
Pencarian informasi dimulai dari online
search dan peer reviews
-
Experiental Sources:
Pencarian informasi yang dilakukan
oleh informan dapat melalui hasil pengujian kualitas (examining) atas
penggunaan produk atas pengalaman orang lain.
3.
Kategori Evaluasi Alternatif
-
Harga:
Informan menentukan pembelian dengan
melakukan komparasi harga dari berbagai pilihan yang ada sesuai dengan
kebutuhan mereka.
-
Kualitas Barang:
Selain faktor harga dalam penentuan
pembelian suatu barang, informan juga melihat kualitas barang tersebut
berdasarkan dari informasi yang didapat sebelumnya atas pengalaman orang lain.
Mereka cenderung memilih barang dengan kualitas yang baik agar dapat bertahan
lama.
4.
Kategori Keputusan Pembelian
-
Unexpected situational factors:
Informan akan melihat apakah barang
tersebut sesuai dengan budget mereka atau tidak dengan mempertimbangkan
kualitas barang tersebut.
5.
Kategori Perilaku Pasca Pembelian
-
Ekspektasi konsumen:
Biasanya, konsumen Generasi X
melakukan tahap pasca pembelian berdasarkan harapan mereka setelah melakukan
pembelian. Hal ini bergantung pada tingkat kepuasan yang dirasakan oleh
konsumen, sehingga mereka dapat memberikan rekomendasi berdasarkan pengalaman
yang mereka alami.
b. Membaca hubungan dan hirarki kategori
Hasil analisa yang kami dapat berdasarkan kategorisasi, maka
disimpulkan bahwa adanya irisan yang saling berhubungan antara data yang kami
dapatkan dengan teori. Pola yang kami temukan pada kelompok Generasi X dalam
proses pembelian secara daring dimulai dari rangsangan kebutuhan yang hadir
dari dalam diri tiap individu informan, namun tidak menutup kemungkinan
rangsangan itu muncul dari luar diri (media sosial, rekan, lingkungan).
Kemudian proses ini berlanjut ke tahap pencarian informasi dengan sub kategori public
search dalam bentuk tindakan online search dan peer review,
disisi lain experiential sources dalam bentuk hasil pengujian kualitas (examining)
atas penggunaan produk. Setelah informan mengumpulkan informasi,
ditemukanlah berbagai alternatif berdasarkan harga barang (price) serta
kualitas (performance). Adapun landasan keputusan pembelian bagi
informan mencangkup pendapatan, budget, dan kualitas barang yang juga
disebutkan dalam teori keputusan pembelian menurut
Sebuah studi harus memenuhi persyaratan validitas dan
reliabilitas. Oleh karena itu, diperlukan prosedur yang ketat. Ketatnya
prosedur merujuk pada upaya dan perhatian yang diberikan oleh peneliti untuk
memastikan bahwa studi dilakukan dengan benar
Adapun
kriteria-kriterian untuk keterpercayaan pada penelitian kualitatif adalah
sebagai berikut:
Tabel 2. Krikteria Riset
|
Kriteria
Riset Kuantitatif |
Kriteria
Riset Kualitatif |
Keterangan |
|
Obyektivitas |
Konfirmabilitas |
Sejauh
mana hasil temuan memang merupakan hasil dari penelitian, bukan dari bias
oleh peneliti. |
|
Reliabilitas |
Dependabilitas |
Sejauh mana
hasil temuan konsisten dengan data yang dikumpulkan. |
|
Validitas Internal |
Kredibilitas |
Sejauh mana
hasil temuan sesuai dengan realitas. |
|
Validitas Eksternal |
Transferabilitas |
Sejauh mana
hasil temuan dapat diterapkan pada konteks atau latar belakang yang mirip. |
Sumber:
Berdasarkan
atas kriteria dan penjabaran hasil wawancara yang sudah disampaikan pada bagian
sebelumnya, kami mendapati bahwa informasi yang disampaikan oleh informan masuk
kedalam tiga kriteria yang ada yakni yang pertama konfirmabilitas karena hasil
temuan memang merupakan hasil dari penelitian. Kedua, dependabilitas karena
hasil temuan atas lima informan yang ada konsisten dengan data yang ada.
Ketiga, kredibilitas karena hasil temuan sesuai dengan realitas.
Dengan
demikian, menurut
Kepribadian peneliti dan
praktik etika yang dijalankan merupakan hal yang terkait erat dengan masalah
etika. Kemampuan dan integritas peneliti memiliki peranan yang sangat penting
karena hasil penelitian harus memperoleh tingkat kepercayaan yang tinggi
Berdasarkan dengan konsep
etika ini, maka dalam proses wawancara kami senantiasa memperlakukan semua
informan dengan penuh rasa hormat agar pertanyaan yang kami ajukan tidak
menyinggung perasaan mereka. Proses ini kami awali dengan menanyakan kesediaan
partisipan untuk menjadi informan kami dan memberikan penjelasan tujuan dari
penelitian secara jujur untuk meyakinkan informan dan membangun kepercayaan
mereka. Pada akhir wawancara, kami melakukan proses penyampaian kembali
ringkasan hasil wawancara dan memberikan informasi bahwa data yang disampaikan
akan kami jaga kerahasiaannya.
KESIMPULAN
Berdasarkan
hasil analisis secara keseluruhan dari penelitian yang dilakukan peneliti, Generasi
X telah mengalami perubahan perilaku berbelanja selama pandemi. Adapun faktor
yang menjadi pengaruh konsumen Generasi X melakukan keputusan pembelian secara
daring adalah kecenderungan mereka yang berfokus pada nilai pengalaman dan
kebenaran dalam memilih merek atau produk. Meskipun generasi ini telah
mengikuti perkembangan teknologi, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa Generasi
X masih memiliki kecenderungan untuk berbelanja secara offline. Penelitian ini
memberikan wawasan baru serta membantu para praktisi atau marketer dalam
menyusun program pemasaran yang tepat bagi Generasi X.
BIBLIOGRAFI
Bangsa, J. R. (2021). Keputusan pembelian
generasi X pada aplikasi belanja online. Jibaku: Jurnal Ilmiah Bisnis,
Manajemen Dan �, 2(1). Retrieved from http://jurnal.unw.ac.id/index.php/jibaku/article/view/1420
Firmansyah, Dr. M. Anang. (2018). Perilaku
konsumen (sikap dan pemasaran). In Jurnal Agora. DEEPUBLISH.
Jahja, Adi Susilo. (2023). Desain penelitian
generik. In Nanda Saputra (Ed.), Metode penelitian kualitatif (pp.
171�187).
Jahja, Adi Susilo, Sri Ramalu, Subramaniam,
& Razimi, Mohd. Shahril Ahmad. (2021). Generic qualitative research in
management studies. JRAK (Jurnal Riset Akuntansi Dan Bisnis), 7(1),
1�13.
John W. Creswell, Cheryl N. Poth. (2013). Qualitatif
inquiry & research design: choosing among five approaches (Third Edit;
Lauren Habib, Ed.). United States of America: SAGE.
Katadata Insight Center & Kredivo. (2022).
Perilaku konsumen e-commerce Indonesia. FinAccel, 1�120.
Kotler, Philip. (2022). Marketing 5.0:
Technology for Humanity. Wiley.
Kotler, Philip, & Armstrong, Gary. (2020).
Principles of Marketing Eighth Europe an Edition. In Pearson education ltd.
Purwaningtyas, Franindya. (2022). Informasi
dan masyarakat (M. TI. Raissa Amanda Putri, Ed.). Bandung: CV. MEDIA SAINS
INDONESIA.
Rabbani, Alethelia. (2021). Pengertian generasi
x, ciri, peninggalan, kelebihan, dan kekurangannya. Sosial79.Com.
Rizal, Jawahir Gustav. (2021). Mengenal Apa Itu
Generasi Baby Boomers, X, Y, Z, Millenials, Dan Alpha. Kompas. Com.
Sunyoto, Danang, & Saksono, Yanuar. (2022).
Perilaku Konsumen. In Magister Alfatah Kalijaga, S.T., M.T., C.G.L.
(1st ed., Vol. 978-623�48). Bojongsar-Purbalingga: EUREKA MEDIA AKSARA.
Wahab, Wirdayani. (2022a). Studi minat
berbelanja online gen x dan milenial di kota Pekanbaru. Jurnal Bisnis
Kompetitif, 1(2), 184�189.
https://doi.org/10.35446/bisniskompetif.v1i2.1093
Wijayanti, S. K. (2021). Minat belanja produk
fashion secara online: perbedaan antara generasi X, Y dan Z. Gerbang Etam,
15(2), 29�40.
Wiratama, Adi. (2022a). Perilaku belanja
online berdasarkan profil generasi. Universitas Kristen Satya Wacana.
Yoga, I. Made Sindhu, & Triami, Ni Putu
Silka. (2021a). The online shopping behavior of indonesian generation x. Journal
of Economics, Business, & Accountancy Ventura, 23(3), 41�51.
https://doi.org/10.14414/jebav.v23i3.2455