STIMULASI PENGEMBANGAN KONSEP DIRI PADA ANAK USIA DINI

 

Dina Kusuma Wardhani

Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang-Banten�

[email protected]

 

Keywords

Abstract

Early Childhood,

Self-Concept, Sensitive Period.

Early age is a sensitive period for children. During this period, the first foundations were laid for the development of physical, cognitive, linguistic, social-emotional skills, self-image, discipline, independence, and artistic, moral, and religious values. Self-concept determines the attitude of the child's behavior. In early childhood, self-concept is a perception formed through a child's personal experience, and one of the first steps in learning a child's self-concept is the child's self-awareness. The purpose of this search is to provide insight into a child's self-image which will certainly change when he goes to elementary school. The method used is data collection techniques through literature studies and journal reviews. The results of the research are in the form of the golden age of children, where the development and growth of children is currently very rapid, and now is considered a very appropriate time to realize all of the child's potential. various areas of child development. By knowing the child's self-image, the teacher or educator can plan learning according to the development and characteristics of these students. Have fun while learning, students understand something from all sides. Finally, this will make students more confident when facing other interesting activities.

Kata Kunci

Abstrak

Anak Usia Dini, Konsep Diri, Masa Peka

 

Usia dini merupakan masa yang sensitif bagi anak. Selama periode ini, landasan pertama diletakkan untuk pengembangan fisik, kognitif, linguistik, keterampilan sosial-emosional, citra diri, disiplin, kemandirian, dan nilai-nilai seni, moral, dan agama. Konsep diri menentukan sikap perilaku anak. Pada masa kanak-kanak awal, konsep diri adalah persepsi yang terbentuk melalui pengalaman pribadi anak, dan salah satu langkah awal dalam pembelajaran konsep diri anak adalah kesadaran diri anak. Tujuan dari pencarian ini adalah untuk memberikan wawasan tentang citra diri anak yang tentunya akan berubah saat ia beranjak ke sekolah dasar. Metode yang digunakan adalah teknik pengumpulan data melalui studi literatur dan review jurnal. Hasil penelitian berupa masa keemasan anak, dimana perkembangan dan pertumbuhan anak saat ini sangat pesat, dan saat ini dianggap sebagai waktu yang sangat tepat untuk mewujudkan seluruh potensi anak. sebagai berbagai bidang perkembangan anak. Dengan mengetahui citra diri anak, maka guru atau pendidik dapat merencanakan pembelajaran sesuai dengan perkembangan dan karakteristik anak didik tersebut. Bersenang-senang sambil belajar, siswa memahami sesuatu dari semua sisi. Akhirnya, hal ini akan membuat siswa lebih percaya diri saat menghadapi kegiatan menarik lainnya.

Corresponding Author: Dina Kusuma Wardhani

E-mail: [email protected]

Description: https://jurnal.syntax-idea.co.id/public/site/images/idea/88x31.png

 

 

 

PENDAHULUAN

Masa kanak-kanak merupakan masa yang penting dalam perkembangan anak. Hasil penelitian ilmu saraf menunjukkan bahwa saat lahir, otak bayi memiliki potensi sekitar 100 miliar, dalam proses selanjutnya sel-sel otak berkembang sangat cepat dengan menciptakan triliunan hasil koneksi antar neuron. Untuk perkembangan yang optimal, asosiasi ini harus diperkuat dengan berbagai rangsangan psikososial, karena asosiasi yang tidak diperkuat menyusut dan rusak. (Subarkah, 2019). Anak usia dini merupakan masa peka bagi anak. Anak mulai sensitif untuk menerima berbagai upaya perkembangan seluruh potensi anak.

Masa peka adalah masa terjadinya pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan. Masa ini merupakan masa untuk meletakkan dasar pertama dalam mengembangkan kemampuan fisik, kognitif, bahasa, sosial emosional, konsep diri, disiplin, kemandirian, seni, moral, dan nilai-nilai agama. Oleh sebab itu dibutuhkan kondisi dan stimulasi yang sesuai dengan kebutuhan anak agar pertumbuhan dan perkembangan anak tercapai secara optimal. Konsep diri merupakan penentu sikap seorang anak dalam bertingkah laku (Hakim, 2023). Pada anak usia dini, konsep diri ini merupakan persepsi yang dimunculkan melalui pengalaman pribadi yang dialami seorang anak dan salah satu langkah pertama ketika seorang anak mempelajari konsep dirinya adalah kesadaran anak terhadap dirinya sendiri.

Selain itu, salah satu tugas perkembangan pada masa kanak-kanak adalah citra diri anak. Anak bereaksi terhadap lingkungan menurut persepsinya sendiri. Konsep diri yang terbentuk pada anak juga mempengaruhi prestasi sekolahnya. Anak dengan citra diri positif: Ketika anak mendapat nilai buruk, anak merasa termotivasi untuk belajar lebih giat dan berusaha mendapatkan hasil yang lebih baik pada ulangan berikutnya, sedangkan anak dengan citra diri negatif, mudah putus asa, berpikir bahwa dia bodoh atau tidak memiliki kemampuan untuk berkembang. Anak-anak dengan citra diri positif lebih optimis terhadap kegagalan daripada anak-anak dengan citra diri negatif. Selain itu, anak dengan citra diri yang positif memiliki kepribadian yang stabil dan mampu menerima dirinya apa adanya.

Jika orang tua memahami apa yang dibutuhkan anak, maka anak akan tumbuh dengan baik. Jika guru mengetahui kendala yang menghalangi anak untuk bersekolah, ia dapat segera mengatasi kendala tersebut dan menawarkan pencegahan kepadanya. Tujuan dari tunjangan anak adalah menghilangkan hambatan yang muncul sedini mungkin. Untuk masalah ini, peneliti tertarik pada analisis lebih lanjut tentang deteksi dini dan melihat perlunya memberikan insentif yang sesuai untuk merawat anak dengan hambatan khusus untuk memastikan pertumbuhan.

 

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka yang berfungsi sebagai tuntunan dalam mengkaji suatu masalah penelitian (review of research). Pada penelitian kajian pustaka ini digunakan jurnal internasional dan jurnal nasional yang telah dianalisa.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

�Diri� atau self adalah sebuah system tentang persepsi yang terus berubah yang dibentuk dan dipertahankan dalam komunikasi dengan orang lain dan dengan diri kita sendiri (Mukarom, 2020). Pengertian ini menekankan bahwa self adalah proses. Peneliti menyebutkan juga bahwa dalam proses komunikasi dengan orang lain yang memberitahu siapa kita, apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan, betapa berharganya kita, dan apa yang diharapkan dari kita (Mukarom, 2020). Pada saat kita menginternalisasi perspektif orang lain, kita menjadi bisa melihat diri kita sendiri melalui mata mereka. Salah satu cara komunikasi membentuk self adalah melalui self fulfilling prophecies, yakni pengharapan atau penilaian dari diri kita sendiri yang kita bawa sepanjang kita melakukan tindakan kita. Hal inilah yang membentuk konsep diri kita. Peneliti mendeskripsikan konsep diri sebagai �totalitas dari pikiran dan perasaan seseorang dengan acuan kepada dirinya sebagai objek� dengan kata lain bahwa konsep diri adalah apa yang kita lihat pada saat kita melihat kembali ke diri kita sendiri seperti �gambar� diri kita (Putri, 2012). Tentu saja �gambar� ini akan berubah-ubah seiring waktu dalam setiap situasi, konsep diri merupakan sebuah proses, bukan sesuatu yang tetap namun pada tahap tertentu gambar yang terbentuk akan stabil sepanjang waktu dan dalam berbagai situasi. Pada dasarnya konsep diri terbentuk dari lingkungan pertama yang paling dekat dengan individu, yaitu lingkungan keluarga, tetapi lama kelamaan konsep diri inividu akan berkembang melalui interkasi dengan lingkungan yang lebih luas, seperti teman sebaya, guru, dan masyarakat. Hasil interkasi antara individu dengan lingkungan di luar keluarga akan lebih mempengaruhi konsep diri individu, terutama pengaruh dari teman sebaya (Erlisnawati & Marhadi, 2015). Konsep diri ini penting untuk menentukan jenjang karir siswa, yaitu dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri maka bisa dipilih alternatif karir yang tepat bagi diri siswa. Selain itu informasi konsep diri ini penting bagi sekolah untuk memotivasi belajar siswa yang tepat.

Gaya pendidikan juga memiliki pengaruh penting terhadap pembentukan citra diri pada anak usia dini. Anak menghabiskan sebagian besar waktunya dengan orang tuanya (misalnya ibu kandung), terutama dengan orang tua yang tidak bekerja di luar rumah. Namun, kebanyakan ibu memiliki peran ganda; H. mereka juga bekerja di luar rumah, sehingga anaknya tinggal bersama kakek neneknya atau menjadi pembantu rumah tangga. Keadaan ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak pada umumnya dan citra diri pada khususnya. Kehidupan keluarga yang saling mencintai, menghargai, dan peduli membantu menciptakan suasana keluarga yang hangat dan akrab. Konsep diri mempengaruhi anak-anak tidak hanya secara akademis tetapi juga secara sosial dan fisik. Ketika seseorang memiliki self-esteem yang positif, maka berkembanglah self-esteem yang tinggi atau dikatakan memiliki self-esteem yang tinggi. Jadi jika dia memiliki citra diri yang positif, yang diterjemahkan menjadi harga diri yang tinggi, seluruh perilakunya akan berorientasi pada kesuksesan. Para peneliti percaya bahwa konsep diri merupakan inti dari pola perkembangan kepribadian manusia dan mempengaruhi bentuk karakter yang berbeda. Jika citra diri positif, anak mengembangkan kualitas seperti rasa percaya diri, rasa percaya diri dan kemampuan untuk melihat dirinya secara realistis, sehingga mengembangkan kemampuan beradaptasi yang baik (Solihatun et al., 2020).

Sebaliknya, jika citra diri negatif dapat menimbulkan kepribadian yang sakit pada diri anak, seperti B. harga diri rendah, rasa tidak aman, rasa malu, kesombongan, teman yang mengganggu, keributan, pertengkaran. Citra diri adalah bagian terpenting dari konsep diri untuk kesuksesan diri. Karena pengembangan diri mempercepat kemajuan seseorang. Citra diri atau self-image, biasa dikenal dengan self-image, adalah perilaku fisik seorang individu terhadap dirinya sendiri, baik disadari maupun tidak disadari. Komponen citra diri meliputi persepsi atau respon masa lalu dan sekarang yang berkaitan dengan ukuran tubuh, bentuk dan kemampuan (fisik). Cara seseorang melihat dan berpikir tentang dirinya sendiri. Citra diri adalah cermin dari diri Anda sendiri. Sederhananya, "Apa pendapat Anda tentang diri Anda sendiri?" Apakah itu terlihat cerdas, percaya diri, malas, menarik, dll.? Ketika seseorang melihat diri mereka percaya diri, mereka bertindak percaya diri. Jika seseorang berpikir dia malas, dia bertindak malas. Dan seterusnya, tergantung sudut pandang Anda sendiri. Kesiapan sosial-emosional seorang anak merupakan faktor penting dalam keberhasilan perkembangan anak prasekolah, keberhasilan tahun-tahun awal sekolah (di kelas satu dan dua sekolah dasar), dan keberhasilan anak di masa depan. Para peneliti telah menemukan bahwa anak-anak yang mengikuti prasekolah lebih dapat menyesuaikan diri secara sosial daripada anak-anak yang tidak mengikuti prasekolah (Susanto, 2021). Pendidikan anak usia dini memiliki peran penting sebagai wahana dalam mengoptimalkan tumbuh kembang anak yang mencakup aspek nilai agama dan moral, fisik (motorik kasar halus), sosial, emosional, kognitif, bahasa, dan seni.

 

Prinsip Perkembangan Anak Usia Dini

Prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini berbeda dengan prinsip-prinsip perkembangan fase kanak-kanak akhir dan seterusnya. Adapun prinsip-prinsip perkembangan �anak usia dini menurut Peneliti adalah sebagai berikut (Shunhaji & Fadiyah, 2020).

1.       Aspek perkembangan fisik, sosial, emosional dan kognitif anak saling terkait dan saling mempengaruhi.

2.      Perkembangan fisik/motorik, emosional, sosial, bahasa dan kognitif anak mengikuti urutan yang spesifik dan relatif dapat diprediksi.

3.      Perkembangan terjadi dalam lingkup variabel yang bervariasi dari anak ke anak dan interval perkembangan dari setiap fungsi.

4.      Pengalaman awal seorang anak memiliki efek kumulatif dan tertunda pada perkembangannya.

5.      Perkembangan anak berjalan ke arah yang semakin kompleks, spesifik, terorganisasi dan terinternalisasi.

6.      Perkembangan dan pembelajaran anak berlangsung dan dipengaruhi oleh konteks sosial budaya yang multinilai.

7.       Anak adalah pembelajar aktif yang berusaha mengembangkan pemahamannya tentang lingkungannya berdasarkan keterampilan fisik, sosial, dan sosial yang diperolehnya.

8.      Perkembangan dan pembelajaran adalah interaksi kematangan biologis dan lingkungan fisik dan sosial.

9.      Bermain merupakan sarana yang penting bagi perkembangan sosial, emosional dan kognitif anak serta menggambarkan perkembangan anak.

10.   Perkembangan dipercepat ketika anak memiliki kesempatan untuk mempraktekkan berbagai keterampilan yang dipelajari dan mengalami tantangan pada tingkat yang lebih tinggi dari apa yang telah mereka pelajari.

11.    Anak-anak memiliki cara yang berbeda (baik itu visual, auditori, kinestetik atau kombinasi dari semuanya) dalam mengetahui sesuatu, sehingga mereka dapat mempelajari berbagai hal dengan menunjukkan apa yang mereka ketahui.

12.   Kondisi terbaik untuk perkembangan dan pembelajaran seorang anak dalam komunitas yang menghargai mereka, memenuhi kebutuhan fisik mereka dan aman secara fisik dan fisiologis.�

 

Prinsip Kegiatan Pengembangan Anak Usia Dini

1.       Pengembangan Kognitif

Peneliti mendeskripsikan bahwa pengembangan kognitif seorang anak yang telah berusia lebih dari satu tahun dapat dilakukan dengan memberikan kesempatan pada anak untuk ���berbicara prinsip-prinsip pengembangan kognitif sebagai berikut (Shunhaji & Fadiyah, 2020):

a)       Menyediakan banyak kesempatan bagi anak untuk mempelajari ketrampilan.

b)      Memberikan dukungan dan semangat ketika anak memerlukannya.

c)       Katakan kepada anak apa yang terjadi dan bantu mereka merencanakan aktivitas .

Menurut Piaget tahapan perkembangan anak terdiri dari empat tahap yaitu:

�         Tahap sensorimotor: dari lahir hingga 2 tahun (anak mengalami dunianya melalui gerak dan inderanya serta mempelajari permanensi obyek)

�         Tahap pra-operasional: dari 2 hingga 7 tahun (mulai memiliki kecakapan motorik)

�         Tahap operasional konkrit: dari 7 hingga 11 tahun (anak mulai berpikir secara logis �tentang kejadian-kejadian konkrit)

�         Tahap operasional formal: setelah usia 11 tahun (perkembangan penalaran abstrak)

 

2.      Prinsip Pengembangan Bahasa

Prinsip pengembangan bahasa antara lain;

a.     Berbicaralah dengan melibatkan anak

b.     Bacakan bacaan bercerita

c.     Semangati anak menceritakan pengalamannya

d.     Kunjungi perpustakaan secara teratur

Menurut peneliti perkembangan bahasa anak usia dini dapat diklasifikasikan ke dalam dua tahap (sebagai kelanjutan dari dua tahap sebelumnya) yaitu sebagai berikut (Nabilah et al., 2019).

a.     Masa ketiga (2,0-2,6) yang bercirikan:

�         Anak mulai membentuk kalimat tunggal yang lengkap.

�         Anak memahami perbandingan, misalnya burung pipit lebih kecil dari merpati kayu, anjing lebih besar dari kucing.

�         Anak banyak bertanya tentang nama dan tempat: apa, dimana dan dimana.

�         Anak sudah menggunakan banyak kata yang diawali dan diakhiri.

b.     Masa keempat (2,6-6,0) yang bercirikan:

�         Anak sudah dapat menggunakan kalimat majemuk beserta kalimatnya.

�         Tingkat berpikir anak sudah lebih maju, anak banyak menanyakan soal waktu, sebab akibat melalui pertanyaan-pertanyaan: kapan, kemana, mengapa, dan bagaimana.

�         Perkembangan bahasa anak merupakan proses biologis dan psikologis, karena melibatkan proses pertumbuhan alami dan perkembangan psikologis sebagai akibat interaksi anak dengan lingkungan. Kecepatan anak dalam berbicara (bahasa pertama) merupakan salah satu keajaiban alam dan menjadi bukti kuat dari dasar biologis untuk pemerolehan bahasa.

 

3.      Prinsip Pengembangan Seni Prinsip pengembangan seni antara lain:

�         Terimalah anak sesuai dengan tingkat perkembangan

�         Sediakan lingkungan yang nyaman bagi anak

�         Sediakan peralatan yang layak dengan usia anak

�         Jadilah sebagai fasilitator

 

4.      Prinsip Pengembangan Fisik/Motorik Prinsip pengembangan fisik antara lain;

�         Rencanakan aktivitas fisik anak setiap hari

�         Ciptakan aktivitas harian yang mencakup banyak kesempatan untuk mengembangkan potensi anak

�         Siapkan lingkungan outdoor

�         Siapkan beragam peralatan

 

Tujuan dari model program pengembangan keterampilan motorik sejak usia dini adalah pengembangan keterampilan motorik dan keterampilan motorik halus.

Pengembangan keterampilan motorik kasar:

� Dapat meningkatkan keterampilan bisnis.

� Dapat memelihara dan meningkatkan kondisi fisik

� Mampu menyampaikan rasa percaya diri

� Bersedia bekerja sama

� Mampu berperilaku disiplin, jujur ​​dan sportif

� Pengembangan keterampilan motorik halus

� Bisa menggunakan otot kecil seperti gerakan jari.

� Dapat mengkoordinasikan kecepatan tangan dengan mata.

� Bisa mengendalikan emosi�

 

Komunikasi memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Komunikasi adalah sarana penting untuk pelatihan atau pengembangan pribadi dalam hubungan sosial. Melalui komunikasi kita tumbuh dan belajar, kita menemukan diri kita sendiri dan orang lain, kita bergaul, kita berteman, kita menyukai atau mencintai orang lain, dll. Sebagai hasil dari komunikasi kita dengan orang lain, kita menghasilkan ide, bertukar informasi, pengalaman, menambah pengetahuan, dan banyak lagi. Secara umum, komunikasi interpersonal diartikan sebagai proses pertukaran makna antara orang-orang yang berkomunikasi satu sama lain. Komunikasi terjadi secara langsung antara dua atau lebih individu, secara terorganisir atau dalam kerumunan� (Iskandar, 2020). Selama komunikasi antarpribadi berlangsung, maka aspek psikologis turut berperan.

Unsur pendidikan dalam proses pembentukan konsep diri melalui proses pembelajaran, baik dalam bidang akademik maupun non akademik. Dalam bidang akademik ini anak-anak belajar dari kurikulum yang diberikan oleh sekolah, sedangkan dalam bidang non-akademik berasal dari pengalaman yang mereka miliki sejak kecil hingga dewasa. Oleh karena itu, permainan yang dipelajari di PAUD perlu dipersiapkan secara matang karena sekolah merupakan tempat kedua setelah keluarga inti. Pembentukan konsep diri positif atau negatif pada anak juga dipengaruhi oleh pola asuh. Peneliti mendefinisikan konsep diri sebagai pemikiran, keyakinan, dan kesan seseorang tentang sifat dan karakteristiknya, keterbatasan dan kemampuannya, serta kewajiban dan kekuatannya (NURFAJARNI, 2022). Konsep diri juga digambarkan sebagai identitas diri seseorang sebagai sebuah skema dasar yang terdiri dari kumpulan keyakinan dan sikao terhadao diri sendiri yang terorganisasi (NURFAJARNI, 2022). Setiap individu memiliki potensi yang relatif tak terbatas untuk mengembangkan konsep diri yang positif dan realistis. Potensi ini dapat dipengaruhi oleh lingkungan seperti orang, tempat, kebijakan, program, dan proses yang sengaja dirancang untuk mengundang realisasi potensi ini. Konsep diri juga diartikan sebagai elemen dominan dalam pola kepribadian, hal itu mengatur reaksi karakteristik individu terhadap orang dan situasi dan menentukan kualitas perilakunya (Nurfajarni, 2022). Konsep diri dapat dipahami sebagai persepsi yang dimiliki setiap manusia dari dirinya sendiri. Ini adalah komponen pengembangan kepribadian dan menunjukkan siapa kita dan bagaimana kita masuk ke dunia (Sitepu & Sitepu, 2021).

Saat lahir, anak-anak tidak memiliki konsep diri, pengetahuan diri, harapan diri sendiri, dan penilaian diri. Lambat laun, hari demi hari selama tahun pertama kehidupan, anak mulai membedakan antara "aku dan bukan aku". Anak mulai mengetahui bahwa yang dihisap adalah ibu jarinya. Saat panca indera diperkuat, anak mulai membentuk gagasan tentang hubungan antara "aku dan bukan aku". Ketika bahasa berkembang sekitar usia satu tahun, bayi mulai memahami apa yang dikatakan orang tua dan orang lain sehingga mereka mendapatkan lebih banyak informasi tentang diri mereka sendiri. Yang mulai digeneralisasi oleh anak-anak adalah konsep �Saya kecil, saya baik, saya bisa berpakaian sendiri, dan lain-lain (Sitepu & Sitepu, 2021). Konsep diri berkembang melalui evaluasi diri yang konstan pada berbagai macam situasi, dimana usia anak-anak dan remaja akan terus bertanya pada diri mereka sendiri. Mereka akan mengukur reaksi verbal dan non verbal dari orang-orang yang berpengaruh bagi diri mereka sendiri seperti orangtua dan anggota keluarga lainnya, teman-teman, teman sekelas, dan guru ketika anak sudah sekolah. Anak kecil cenderung membuat penilaian konsep diri berdasarkan kemajuannya sendiri dari waktu ke waktu. konsep diri akan terus berlangsung hingga dewasa, dan konsep diri anak akan mempangaruhi bagaimana anak mengatasi masalahnya sendiri (Sitepu & Sitepu, 2021). Konsep diri pada anak-anak kurang realistis akibat adanya perbandingan sosial dan dukungan dari orangtua� dan sekitarnya.

Komunikasi memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Komunikasi merupakan sarana� penting bagi pembentukan atau pengembangan pribadi dalam kontak sosial. Melalui Komunikasi kita tumbuh dan belajar, menemukan pribadi kita dan orang lain, bergaul, bersahabat, mencintai atau mengasihi orang lain, dan sebagainya. Hasil dari komunikasi kita dengan orang lain akan menghasilkan ide, pertukaran informasi, pengalaman, menambah pengetahuan, dan sebagainya. Secara umum komunikasi antarpribadi diartikan sebagai suatu proses pertukaran makna antara orang-orang yang saling berkomunikasi. Komunikasi terjadi secara tatap muka (face to face) antara dua individu atau lebih, baik secara terorganisasi maupun pada kerumunan orang (Iskandar, 2020). Selama komunikasi antarpribadi berlangsung, maka aspek psikologis turut berperan.

Faktor pendidikan dalam proses pembentukan konsep diri melalui pembelajaran, baik di lingkungan akademik maupun non akademik. Dalam bidang akademik ini anak belajar dari kurikulum yang disediakan oleh sekolah, sedangkan dalam bidang non akademik diperoleh pengalaman yang mengantarkan mereka dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Oleh karena itu, bermain di sekolah harus dipersiapkan dengan matang sejak dini, karena sekolah menempati urutan kedua setelah keluarga inti. Pola asuh anak juga mempengaruhi pembentukan citra diri negatif atau positif anak. Peneliti mendefinisikan konsep diri sebagai pikiran, keyakinan, dan kesan tentang sifat dan karakteristik seseorang, keterbatasan dan kemampuan, serta tanggung jawab dan aset. Konsep diri juga digambarkan sebagai skema dasar dari identitas diri seseorang, yang terdiri dari seperangkat keyakinan dan sikap yang terorganisasi tentang diri sendiri (Hayat, 2021). Setiap individu memiliki potensi yang relatif tak terbatas untuk mengembangkan konsep diri yang positif dan realistis. Potensi ini dapat dipengaruhi oleh lingkungan seperti orang, tempat, kebijakan, program, dan proses yang sengaja dirancang untuk mengundang realisasi potensi ini. Konsep diri juga diartikan sebagai elemen dominan dalam pola kepribadian, hal itu mengatur reaksi karakteristik individu terhadap orang dan situasi dan menentukan kualitas perilakunya. Konsep diri dapat dipahami sebagai persepsi yang dimiliki setiap manusia dari dirinya sendiri. Ini adalah komponen pengembangan kepribadian dan menunjukkan siapa kita dan bagaimana kita masuk ke dunia. Sedangkan menurut peneliti, konsep diri merupakan pengetahuan dan keyakinan individu tentang dirinya sendiri, tentang ide-ide, perasaam, sikap, dan ekspektasinya.

�������� Ketika lahir, anak belum memiliki konsep diri, tidak memiliki pengetahuan tentang diri sendiri dan tidak memiliki pengharapan bagi diri sendiri dan tidak memiliki penilaian terhadap diri sendiri (Dongoran & Boiliu, 2020). Secara perlahan, hari demi hari selama kehidupan tahun pertama anak mulai membedakan antara �aku dan bukan aku�. Anak mulai mengetahui yang dihisap adalah ibu jarinya. Ketika panca indra menguat, anak mulai membentuk gagasan tetang hubungan antara �aku dan bukan aku�. Seiring perkembangan bahasa sekitar usia satu tahun anak mulai memahami apa yang dikatakan orangtua dan orang lain padanya sehingga anak akan memperoleh informasi lebih banyak tentang dirinya. Hal yang mulai digeneralisasikan anak adalah konsep �aku kecil, aku baik, aku dapat berpakain sendiri dan sebagainya (Ranny et al., 2017). Konsep diri berkembang melalui evaluasi diri yang konstan pada berbagai macam situasi, dimana usia anak-anak dan remaja akan terus bertanya pada diri mereka sendiri. Mereka akan mengukur reaksi verbal dan non verbal dari orang-orang yang berpengaruh bagi diri mereka sendiri seperti orangtua dan anggota keluarga lainnya, teman-teman, teman sekelas, dan guru ketika anak sudah sekolah. Anak kecil cenderung membuat penilaian konsep diri berdasarkan kemajuannya sendiri dari waktu ke waktu. konsep diri akan terus berlangsung hingga dewasa, dan konsep diri anak akan mempangaruhi bagaimana anak mengatasi masalahnya sendiri. Konsep diri pada anak-anak kurang realistis akibat adanya perbandingan sosial dan dukungan dari orangtua� dan sekitarnya (Salsabila, 2019).

 

KESIMPULAN

Masa kanak-kanak sering disebut masa emas, ketika semua aspek perkembangan anak, seperti perkembangan fisik-motorik, kognitif-bahasa, dan sosio-emosional, berkembang pesat. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika potensi besar anak pada usia ini dikembangkan untuk mengasuhnya di masa depan. Potensi anak akan berkembang apabila anak mampu menyesuaikan diri terhadap setiap perubahan yang terjadi, baik perubahan dirinya sendiri maupun perubahan lingkungan, kemampuan beradaptasinya tidak lepas dari kesadarannya terhadap diri anak. Konsep diri berperan penting dalam menentukan sikap, perilaku, dan reaksi seseorang terhadap orang lain dan terhadap keadaan tertentu. Konsep diri bertindak sebagai skema dasar yang menyediakan kerangka berpikir yang mendefinisikan bagaimana seseorang memproses informasi tentang dirinya, termasuk motivasi, keadaan emosi, penilaian diri, self-efficacy, dan self-efficacy.tubuh, dll. Sebelum konsep diri terbentuk pada anak, konsep diri dibentuk terlebih dahulu. Pemahaman awal anak tidak sempurna dan seringkali anak mulai memahami dirinya sendiri dari sudut pandang fisik. Keluarga memegang peranan penting dalam pembentukan konsep diri anak, karena keluarga merupakan tempat pertama dan terpenting dalam pembentukan konsep diri anak. Perlakuan orang tua terhadap anaknya akan membekas hingga anak tersebut dewasa, dan perlakuan tersebut akan membentuk konsep diri anak. Selain keluarga, mereka yang dekat secara emosional dengan anak memiliki peran terbesar dalam pembentukan konsep diri, seperti guru, teman, dan masyarakat.

 

 

 

 

 

 

REFERENSI

 

Dongoran, D., & Boiliu, F. M. (2020). Pergaulan teman sebaya dalam pembentukan konsep diri siswa. Jurnal Educatio FKIP Unma, 6(2), 381�388. https://doi.org/10.31949/educatio.v6i2.560

 

Erlisnawati, E., & Marhadi, H. (2015). Implementasi Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas IV SDN 169 Pekanbaru. Primary: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 4(2), 87�97. http://dx.doi.org/10.33578/jpfkip.v4i2.2942

 

Hakim, A. R. (2023). Konsep Landasan Dasar Pendidikan Karakter di Indonesia. Journal on Education, 6(1), 2361�2373. https://doi.org/10.31004/joe.v6i1.3258

 

Hayat, A. (2021). Pengaruh Metode Bimbingan Agama Terhadap Penanaman Konsep Diri pada Anak Jalanan Di Panti Sosial Bina Remaja (PSBR) Taruna Jaya 2 Dinas Sosial DKI Jakarta. Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif ï¿½.

 

Iskandar, A. M. (2020). Interaksi dan Komunikasi Dosen dan Mahasiswa dalam Proses Pendidikan. Al-Din: Jurnal Dakwah Dan Sosial Keagamaan, 5(1), 49�61. 10.35673/ajdsk.v5i1.570

 

Mukarom, Z. (2020). Teori-teori komunikasi. Bandung: Jurusan Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah Dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

 

Nabilah, I., Khoiriah, I., & Suyadi, S. (2019). Analisis perkembangan nilai agama-moral siswa usia dasar. TERAMPIL: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar, 6(2), 192�203.

 

NURFAJARNI, M. (2022). EFEKTIVITAS LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN TEKNIK ROLE PLAYING DALAM MENINGKATKAN KONSEP DIRI SISWA DI SMP NEGERI 8 KOTA JAMBI. UNIVERSITAS JAMBI.

 

Putri, D. M. (2012). Pembentukan konsep diri anak usia dini di one earth school Bali. Journal Communication Spectrum: Capturing New Perspectives in Communication, 2(1), 100�117.

 

Ranny, R., AM, R. A., Rianti, E., Amelia, S. H., Novita, M. N. N., & Lestarina, E. (2017). Konsep diri remaja dan peranan konseling. JPGI (Jurnal Penelitian Guru Indonesia), 2(2), 40�47. https://doi.org/10.29210/02233jpgi0005

 

Salsabila, A. (2019). PERBEDAAN KONSEP DIRI PADA REMAJA DITINJAU DARI ORANG TUA BERCERAI DAN TIDAK BERCERAI. UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA.

 

Shunhaji, A., & Fadiyah, N. (2020). Efektivitas alat peraga edukatif (APE) balok dalam mengembangkan kognitif anak usia dini. Alim, 2(1), 1�30.

 

Sitepu, J. M., & Sitepu, M. S. (2021). Perkembangan Konsep Diri Anak Usia Dini Di Masa Pandemic. Seminar Nasional Teknologi Edukasi Sosial Dan Humaniora, 1(1), 402�409.

 

Solihatun, S., Lestari, M., Folastri, S., & Ratnasari, D. (2020). Kontribusi Konsep Diri terhadap Perencanaan Arah Karir Siswa. Indonesian Journal of Guidance and Counseling: Theory and Application, 9(1), 52�56. https://doi.org/10.15294/ijgc.v9i1.38900

 

Subarkah, M. A. (2019). Pengaruh gadget terhadap perkembangan anak. Rausyan Fikr: Jurnal Pemikiran Dan Pencerahan, 15(1). g/10.31000/rf.v15i1.1374

 

Susanto, A. (2021). Pendidikan anak usia dini: Konsep dan teori. Bumi Aksara.