PENGARUH FRAUD PENTAGON TERHADAP
KECURANGAN LAPORAN KEUANGAN DENGAN MENGGUNAKAN BENEISH M-SCORE MODEL (Studi Empiris Pada Perusahaan Sektor Pertambangan yang Terdaftar di BEI Tahun 2018-2020)
Serenandika Devita Milania1, Triyono2
Universitas Muhammadiyah Surakarta, Jawa
Tengah, Indonesia
[email protected], [email protected]
|
|
Abstract |
|
|
Received: |
24-02-2022 |
Introduction: Financial statement fraud
is one type of fraud that is generally often carried out by companies in the
form of communication between company owners and company managers. The
purpose of financial statements is to provide information about the financial
position, financial performance, and cash flows of companies that are useful
for investors and users of financial statements. Purpose: The purpose
of this study is to determine and analyze the effect of financial stability,
change in auditor, effective monitoring, change in director, and arrogance on
the occurrence of fraudulent financial statements in mining sector companies
listed on the Indonesia Stock Exchange in 2018-2020. Methods: The data
used in this study is secondary data in the form of annual financial reports
that are used as samples for this study. The method used in sampling in this
study is purposive sampling technique and obtained as many as 35 companies in
a period of 3 years and obtained as many as 105 total company financial statements.
The research hypotheses were tested using logistic regression analysis with
SPSS software. Results: The results show that there is one variable,
namely financial stability that has an effect on fraudulent financial
statements. While the other four variables, namely change in auditor, change
in director, effective monitoring and arrogance have no effect on financial
statement fraud. Conclusion: This study can be concluded that the
financial stability variable has an effect on financial statement fraud. For
other variables, namely change in auditor, effective monitoring, change in
director and arrogance have no effect on financial statement fraud. |
|
Accepted: |
25-02-2022 |
|
|
Published: |
20-03-2022 |
|
|
Keywords: |
fraud
pentagon, financial statement fraud, financial stability, effective
monitoring, arrogance |
|
|
|
Abstrak |
|
|
Kata kunci: |
fraud pentagon, financial statement
fraud, financial stability, effective monitoring, arrogance |
Pendahuluan: Kecurangan laporan
keuangan merupakan salah satu jenis fraud yang pada umumnya sering dilakukan oleh perusahaan dalam bentuk komunikasi antara pemilik perusahaan dengan pengelola perusahaan. Tujuan dari laporan
keuangan adalah untuk memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas perusahaan yang bermanfaat bagi investor dan pengguna laporan keuangan. Tujuan:
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh financial stability, change in auditor,
effective monitoring, change in director, dan arrogance
terhadap terjadinya kecurangan laporan keuangan pada perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia pada tahun 2018-2020. Metode:
Data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah data sekunder berupa laporan keuangan tahunan yang dijadikan sebagai sampel penelitian ini. Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah teknik
purposive sampling dan diperoleh sebanyak 35 perusahaan dalam kurun waktu 3 tahun dan didapat sebanyak 105 total laporan keuangan perusahaan. Hipotesis penelitian diuji menggunakan analisis regresi logistik dengan software SPSS. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat satu variabel yaitu financial
stability berpengaruh terhadap
kecurangan laporan keuangan. Sementara keempat variabel lainnya yaitu change in auditor, change in director,
effective monitoring dan arrogance tidak berpengaruh terhadap kecurangan laporan keuangan. Kesimpulan: Penelitian
ini dapat disimpulkan bahwa variabel financial
stability berpengaruh terhadap
kecurangan laporan keuangan. Untuk variabel lainnya yaitu change in
auditor, effective monitoring, change in director dan arrogance tidak berpengaruh terhadap kecurangan laporan keuangan. |
Corresponding Author: Serenandika Devita Milania
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Laporan keuangan merupakan salah satu bagian terpenting dalam suatu perusahaan
yang berupa hasil akhir dari sebuah
proses akuntansi. Laporan keuangan berisi informasi yang disajikan selama periode waktu tertentu sebagai bentuk tanggung jawab manajemen untuk mengambil keputusan kepada pihak yang berkepentingan. Sesuai dengan yang tercantum dalam PSAK No. (IAI, 2017). Tujuan laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi tentang kondisi keuangan perusahaan, kinerja, dan perubahan kondisi keuangan perusahaan, untuk memudahkan pengambilan keputusan oleh pengguna laporan keuangan selama periode waktu tertentu.
Penyusunan laporan keuangan perusahaan harus mencerminkan seluruh proses akuntansi yang berlangsung di dalam perusahaan dan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No 1 yang terdiri
dari 5 komponen antara lain Laporan Laba Rugi, Laporan
Arus Kas, Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan Posisi Keuangan dan Catatan atas Laporan Keuangan
(IAI, 2017). Laporan keuangan yang dapat menghasilkan keputusan berupa keputusan investasi yang baik dan sehat dapat menarik
para investor untuk melakukan
investasi pada perusahaan serta keputusan ekonomi mengenai strategi perusahaan yang akan dilakukan selanjutnya. Hasil laporan keuangan menunjukkan hasil yang positif, yang secara langsung akan mempengaruhi
peningkatan kepercayaan
investor terhadap perusahaan,
dan sebaliknya hasil laporan keuangan menunjukkan hasil negatif yang akan menyebabkan kepercayaan investor terhadap perusahaan menjadi rendah.
Oleh karena itu, manajemen
berusaha untuk menghasilkan laporan keuangan sebanyak mungkin yang menunjukkan kinerja positif agar menarik dan memberikan gambaran seberapa baik dan sehat laporan keuangan perusahaan di mata stakeholders. Hal ini
dilakukan agar tidak menurunkan nilai perusahaan dan kepercayaan
investor, harga saham perusahaan merupakan cerminan dari nilai
perusahaan. Akibatnya, manajemen perusahaan dipaksa untuk memanipulasi
atau memanipulasi laporan keuangan dengan menunjukkan data yang tidak relevan untuk
memberikan informasi laporan keuangan yang menunjukkan perusahaan baik-baik saja, sebagai bagian dari penipuan. Menurut (Dorris, 2018), fraud adalah suatu bentuk kejahatan
berupa penipuan atau kesalahan yang disengaja oleh individu atau kelompok yang dapat menimbulkan kerugian bagi pihak
lain. Menurut Fraud Survey
yang dilakukan pada tahun
2016 oleh (Indonesia, 2017), persentase yang termasuk penyalahgunaan aset atau kekayaan
nasional dan perusahaan adalah 19%, kecurangan yang terjadi pada laporan keuangan diperoleh persentase sebesar 4% dengan dampak yang tergolong kecil karena persentase yang rendah akan tetapi
dapat mengakibatkan kerugian diatas 10 miliar, sedangkan di indonesia terdapat fraud yang
paling merugikan karena korupsi yang diperoleh persentase sebesar 77%.
Beberapa contoh kasus penipuan tingkat tinggi adalah kasus Penipuan
Laporan Keuangan Nissan.
Nissan adalah perusahaan multinasional dari Jepang, perusahaan yang bergerak di bidang otomotif, kecurangan yang dilakukan oleh perusahaan terindikasi pada tahun 2018 dengan cara melakukan
manipulasi ketika melakukan penyusunan laporan keuangan, Perusahaan menunjukkan kecurangan pada tahun 2018 dengan memanipulasi penyusunan laporan keuangannya, yang mana berkomitmen untuk meminimalkan pajak perusahaan dengan memberikan pendapatan yang seharusnya tidak terjadi (Amarakamini & Suryani, 2019). Sebagai contoh kasus penipuan
terakhir yang terjadi, kasus penipuan laporan keuangan PT. Garuda
Indonesia (Persero), Tbk. Dimana perseroan
mengaku telah mencatatkan hasil keuangannya untuk tahun 2018, namun dua komisaris perseroan
menolak menandatangani laporan keuangan tersebut dengan alasan mereka mencurigai
adanya penyimpangan dalam pencatatan transaksi untuk memperbaiki laporan keuangan 2018 dan membuat laporan keuangan laba bersih menjadi
baik (Nurhayat, 2020). Dengan maraknya kasus penipuan laporan keuangan di luar negeri maupun di Indonesia dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi para pemangku kepentingan. Oleh karena itu, auditor memiliki peran yang sangat penting dalam mendeteksi
apakah terdapat aktivitas yang dapat mengarah pada kecurangan laporan keuangan, sehingga kasus kecurangan laporan keuangan tidak terulang kembali. Teori yang digunakan untuk mendeteksi kecurangan dalam laporan keuangan, teori pertama adalah
teori segitiga penipuan, dan kemudian berkembang menjadi teori pentagon penipuan. Menurut teori segitiga
penipuan dalam (Subagio, 2013), ada 3 faktor yang menyebabkan seseorang melakukan penipuan, yaitu tekanan, rasionalisasi dan peluang. Dan menurut (Marks, 2014) pengembangan kecurangan laporan�keuangan
adalah hal yang diperlukan untuk menyesuaikan keseimbangan situasi saat ini.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan
referensi jurnal terdahulu dari penelitian sebelumnya antara lain dengan penelitian pertama dari (Yesiariani & Rahayu, 2017), yang menggunakan
analisis fraud
diamond dalam mendeteksi
financial statement fraud. Penelitian ini menggunakan 9 variabel independen yaitu variabel financial
stability, financial target, external pressure, personal financial need, nature
of industry, rationalization, ineffective monitoring, change in auditor,
capability. Variabel dependen
yang digunakan adalah financial statement fraud yang diproksikan...dengan earning
management. Sampel penelitian
yang digunakan adalah perusahaan go public
di BEI dalam indeks LQ-45
pada tahun 2010-2014. Metode
analisis data yang digunakan
adalah analisis regresi berganda. Hasil penelitian variabel external pressure, rationalization berpengaruh positif terhadap financial
statement fraud. Sedangkan variabel financial stability, financial target berpengaruh
negatif terhadap financial statement fraud. Kemudian variabel personal financial need, nature of industry,
ineffective monitoring, change in auditor, capability tidak
berpengaruh terhadap financial statement fraud.
Penelitian kedua dilakukan oleh (Puspitadewi & Sormin, 2018), yang menggunakan
analisis fraud diamond
untuk mendeteksi financial statement fraud. Penelitian ini menggunakan 4 variabel bebas yaitu total aset akrual, financial target, ineffective
monitoring dan pergantian direktur.
Sedangkan variabel terikat yang digunakan adalah financial
statement fraud yang diproksikan dengan earning
management. Metode analisis
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan
manufaktur yang terdaftar
di Bursa Efek Indonesia tahun
2014-2016. Temuan variabel total
aset akrual berpengaruh positif terhadap financial
statement fraud. Kemudian variabel
financial target, ineffective monitoring
dan pergantian direktur tidak berpengaruh terhadap financial statement fraud.
Penelitian ketiga dilakukan oleh (Rahmayuni, 2018), yang menggunakan
analisis fraud
diamond untuk mendeteksi
kecurangan laporan keuangan. Penelitian ini menggunakan 6 variabel independen yaitu tekanan eksternal,
target keuangan, stabilitas
keuangan, pergantian
auditor, nature of industry, kapabilitas. Sementara itu, variabel dependen
yang digunakan penelitian adalah kecurangan laporan keuangan yang diproksikan dengan earning management. Sampel
yang digunakan penelitian adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI
pada tahun 2013-2016. Metode
analisis data yang digunakan
adalah analisis regresi berganda. Hasil penelitian variabel stabilitas keuangan, pergantian auditor berpengaruh positif dalam mendeteksi
kecurangan laporan keuangan. Kemudian tekanan eksternal, target keuangan, nature of
industry, kapabilitas berpengaruh
negatif dalam mendeteksi keuangan laporan keuangan.
Penelitian yang keempat dilakukan oleh (Novita, 2019), dimana penelitian tersebut telah menggunakan 5 variabel bebas diantaranya adalah pressure, opportunity, rationalization,
capability, arrogance.� Variabel terikat dari penelitian tersebut adalah deteksi kecurangan pelaporan keuangan yang diproksikan dengan capability dan arrogance. Sampel penelitian
yang digunakan adalah pada seluruh perusahaan publik non keuangan dan perbankan di indonesia pada periode 2013-2016. Hasil penelitian
ini membuktikan bahwa variabel pressure dan rationalization yang dapat menjelaskan adanya peluang terjadinya kecurangan pada laporan keuangan. Kemudian variabel capability,
opportunity dan arrogance tidak terbukti dapat menjelaskan adanya peluang terjadinya kecurangan pada laporan keuangan.
Penelitian kelima yang dilakukan oleh (Ayem & Astuti, 2019), yang menggunakan
analisis fraud
diamond dalam mendeteksi
financial statement fraud. Penelitian ini menggunakan 4 variabel independen yaitu variabel pressure,
opportunity, capability, rationalization. Sementara
itu, variabel dependen penelitian adalah financial
statement fraud yang diproksikan dengan rasio total akrual. Metode data analisis yang digunakan adalah analisis data regresi linear berganda diantaranya terdiri dari analisis deskriptif
dan uji asumsi klasik. Sampel yang digunakan adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI
pada tahun 2014-2018. Hasil penelitian
variabel pressure,
opportunity berpengaruh positif
terhadap financial
statement fraud. Sedangkan variabel
capability berpengaruh
negatif terhadap financial statement fraud. Kemudian variabel rationalization tidak
berpengaruh terhadap financial statement fraud.
Penelitian keenam yang dilakukan oleh (Prayoga & Sudarmaji, 2019), yang menggunakan
analisis fraud
diamond dalam mendeteksi
kecurangan laporan keuangan. Penelitian ini menggunakan 4 variabel bebas yaitu variabel tekanan, kesempatan, rasionalisasi, kapabilitas. Sementara itu, variabel terikat yang digunakan adalah kecurangan laporan keuangan yang diproksikan RSST accrual dan financial performance. Sampel yang digunakan dalam penelitian adalah perusahaan sub sektor transportasi di BEI pada tahun
2015-2017. Metode data analisis
yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian variabel tekanan, kesempatan berpengaruh terhadap kecenderungan kecurangan laporan keuangan. Kemudian variabel rasionalisasi, kapabilitas tidak berpengaruh terhadap kecenderungan kecurangan laporan keuangan.
Penelitian ketujuh yang dilakukan oleh (Pribadi & Nuryatno, 2019), yang menggunakan
analisis fraud
diamond dalam mendeteksi
financial statement fraud. Penelitian ini menggunakan 6 variabel independen yaitu financial target, nature of industry,
financial stability, external pressure, rationalization, capability. Sementara itu, variabel dependen adalah financial
statement fraud yang diproksikan dengan earning
management. Metode analisis
data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda. Sampel yang digunakan adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI pada tahun
2015-2016. Hasil penelitian variabel
nature of industry berpengaruh terhadap financial statement fraud. Kemudian variabel financial target, financial stability,
external pressure, rationalization, capability tidak
terbukti berpengaruh terhadap financial
statement fraud.
Penelitian kedelapan yang dilakukan oleh (Rachmi, Supatmoko, & Maharani, 2020), yang menggunakan
analisis Beneish M-SCORE dalam mendeteksi financial statement fraud. Penelitian ini menggunakan 8 variabel bebas yaitu DSRI, AQI, GMI, SGI,
DEPI, SGAI, LVGI, TATA. Sementara itu
variabel terikat yang digunakan adalah financial statement fraud yang diproksikan dengan earning management. Sampel
yang digunakan penelitian ini adalah perusahaan
pertambangan yang terdaftar
di BEI pada tahun 2014-2017. Metode
analisis data yang digunakan
adalah kuantitatif dengan analisis diskriminan. Hasil penelitian variabel DSRI, GMI, SGI, TATA mampu
membedakan antara laporan keuangan yang diduga dimanipulasi dan tidak dimanipulasi. Sedangkan variabel AQI, DEPI,
SGAI, LVGI tidak mampu membedakan antara laporan keuangan yang diduga dimanipulasi dan tidak dimanipulasi.
Penelitian kesembilan yang dilakukan oleh (Nuha, Ambarwati, & Lysandra, 2021), analisis regresi model panel dalam mendeteksi financial
statement fraud. Penelitian ini
menggunakan 5 variabel independen yaitu financial stability, external pressure,
nature of industry, change in auditor, pergantian
direksi. Sementara variabel dependennya adalah financial statemnet fraud yang diproksikan
dengan RSST Accrual
dan financial performance. Sampel yang digunakan penelitian adalah perusahaan go public
yang telah terdaftar di
Bursa Efek Indonesia pada tahun
2017-2019. Metode analisis
data yang digunakan adalah statistik deskriptif dan pengujian model data panel. Hasil penelitian
variabel financial
stability berpengaruh positif
terhadap financial
statement fraud. Sedangkan variabel
external pressure, nature of industry,
change in auditor, pergantian direksi
tidak berpengaruh terhadap financial
statement fraud.
Penelitian yang kesepuluh dilakukan oleh (Firdausi & Triyanto, 2021), dimana penelitian tersebut telah menggunakan 6 variabel bebas diantaranya adalah external pressure, financial target, nature
of industry, ineffective monitoring, rationalization, capability. Variabel terikat dari penelitian tersebut adalah deteksi kecurangan laporan keuangan yang diproksikan dengan RSST accrual dan financial performance. Sampel penelitian yang digunakan adalah pada perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
pada periode 2016-2019. Hasil penelitian
ini membuktikan bahwa variabel external pressure, financial target,
ineffective monitoring, rationalization, dan capability secara simultan
berpengaruh signifikan terhadap deteksi kecurangan laporan keuangan. Kemudian variabel nature of
industry berpengaruh negatif
terhadap deteksi kecurangan laporan keuangan.
Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, terdapat kontradiksi dalam hasil yang diperoleh dari variable penelitian, serta dengan berbagai kasus kecurangan pelaporan keuangan yang menyebabkan kesulitan bagi Indonesia. Oleh karena itu, peneliti melakukan
pengujian ulang untuk mengetahui posisi konsisten hasil penelitian dengan menggunakan teori fraud pentagon.
Dalam penelitian ini, proksi digunakan
oleh peneliti untuk mengukur kecurangan pelaporan keuangan dengan menggunakan model Beneish M-Score. Subyek
yang digunakan peneliti untuk melakukan penelitian ini diperoleh dari laporan keuangan tahunan� perusahaan� pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
dari tahun 2018 sampai dengan tahun
2020.
�Pekerjaan peneliti Pertimbangan dalam memilih perusahaan
pertambangan adalah karena di Indonesia terdapat banyak sekali sumber
daya alam, terutama bahan tambang yang berbeda yang diambil dari deposit mineral berharga dan nilai ekonomi baik dari
kerak bumi, di atas permukaan bumi dan di bawah permukaan bumi, dan air. Keluaran dari kegiatan
pertambangan tersebut antara lain minyak dan gas bumi, batubara, bijih timah, pasir
besi, bijih bauksit, bijih emas, bijih nikel,
bijih tembaga, bijih perak, dan bijih makanan. Oleh karena itu, hal
ini dapat membuat investor dalam dan luar negeri tertarik untuk berinvestasi di perusahaan pertambangan. Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini berjudul �Pengaruh
Fraud Pentagon Terhadap Kecurangan
Laporan Keuangan� Menggunakan
Beneish M-Score (Studi Empiris� Perusahaan
di Sektor Pertambangan). pertambangan yang terdaftar di
BEI Tahun 2018-2020)�.
Hipotesis
H1:
Financial stability berpengaruh terhadap kecurangan laporan keuangan.
H2:
Change in Auditor berpengaruh
terhadap kecurangan laporan keuangan.
H3:
Effective monitoring berpengaruh terhadap kecurangan laporan keuangan.
H4:
Change in director berpengaruh terhadap kecurangan laporan keuangan.
H5:
Arrogance berpengaruh
terhadap kecurangan laporan keuangan.
METODE
PENELITIAN
Populasi, Sampel, dan
Data Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis data sekunder yaitu buku tahunan perusahaan.
Populasi yang digunakan penelitian ini adalah laporan keuangan pada perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di dalam Bursa Efek Indonesia tahun 2018 sampai 2020. Perusahaan sektor pertambangan dengan produksi komoditas penting seperti batu bara, tembaga, emas, timah, bauksit dan nikel. Metode penentuan
sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
purposive sampling, dimana sampel yang diambil sesuai dengan kriteria yang sudah ditentukan. Kriteria sampel pada tabel 1 sebagai berikut:
Tabel 1. Proses
Seleksi Sampel Penelitian
|
Kriteria |
Jumlah |
|
Perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia selama 2018-2020. |
49 |
|
Perusahaan sektor pertambangan yang melakukan delisting atau pindak sektor selama tahun 2018-2020 |
(2) |
|
Perusahaan sektor pertambangan yang laporan keuangan tahunannya tidak lengkap dan tidak terkait dengan variabel penelitian. |
(10) |
|
Perusahaan sektor pertambangan yang tidak mempublikasikan laporan keuangan tahun 2018 |
(2) |
|
Jumlah sampel penelitian
yang memenuhi kriteria |
35 |
|
Tahun |
3 |
|
Total sampel penelitian |
105 |
Variabel Penelitian
1.
Variabel dependen
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kecurangan
laporan keuangan (fraudulent financial statement). Proksi yang digunakan untuk mengukur kecurangan pelaporan keuangan dalam penelitian ini adalah Beneish M-Score.
Ada beberapa rasio keuangan yang digunakan dalam pendeteksian M-Score, yaitu
DSRI, GMI, AQI, SGI, DEPI, SGAI, LVGI dan TATA. Model dari
rumus M-Score
adalah sebagai berikut:
M-Score=4.840+0.920(DSRI)+0.528(GMI)+0.404(AQI)+0.892(SGI)
+0.115(DEPI)-0.172(SGAI)-0.327(LVGI)+4.697(TATA)
Perusahaan
dapat dikatakan manipulatif jika M-Score > 2.22. Hasil M-Score kemudian
ditransformasikan menjadi variabel dummy dimana nilai 1 berarti perusahaan melakukan manipulasi, sedangkan nilai 0 berarti perusahaan tidak melakukan manipulasi. Perhitungan rasio keuangan di M-Score adalah sebagai berikut:
Day�s sales in receivable index (DSRI)
Rasio yang digunakan untuk mengukur hasil penjualan atas dasar piutang pada tahun pertama operasi
dibagi dengan tahun sebelum tahun
pertama, dinyatakan dalam tahun t dibagi
tahun t-1. Peningkatan DSRI
dapat menunjukkan bahwa perusahaan mungkin menggelembungkan pendapatan secara berlebihan dalam laporan keuangannya, sehingga berpotensi memanipulasi pendapatan yang lebih tinggi.

Gross Margin Index (GMI)
Rasio yang digunakan untuk mengukur margin kotor tahun sebelumnya dibagi dengan margin kotor tahun pertama,
dinyatakan sebagai tahun t-1 dibagi tahun t, jika GMI > 1 maka hasil margin laba kotor akan
berkurang. Penurunan GMI menunjukkan bahwa perusahaan berada di tempat yang buruk, jadi ada lebih
banyak ruang untuk� manipulasi pendapatan.

Asset Quality Index (AQI)
Rasio yang digunakan untuk mengukur aset jangka
panjang selain aset tetap terhadap
total aset, juga mengukur proporsi total aset yang akan digunakan di masa yang akan datang. Jika AQI > 1, hal ini menunjukkan
bahwa perusahaan memiliki potensi penyesuaian ke atas dalam pendapatan
terkait dengan penangguhan biaya.

Sales Growth Index (SGI)
Rasio yang digunakan untuk membandingkan penjualan tahun pertama dengan
penjualan tahun pertama sebelum tahun pertama, dihitung sebagai tahun t dibagi tahun t-1. Pertumbuhan penjualan itu wajar,
tetapi berpeluang untuk memanipulasi keuntungan juga� lebih tinggi.
![]()
Depreciation Index (DEPI)
Rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat depresiasi tahun sebelum tahun pertama� dibandingkan
dengan tingkat depresiasi tahun pertama, yang diberikan oleh tahun t-1 dibagi dengan tahun t. jika DEPI > 1, ada kemungkinan perusahaan memanipulasi laba menjadi lebih tinggi
karena dapat memperlambat penyusutan aset dengan menyesuaikan
taksiran masa manfaat aset dan menggunakan metode baru� dapat meningkatkan pendapatan.

Sales, General, and Administrative Expense (SGAI)
Rasio yang digunakan untuk mengukur beban penjualan, beban umum dan beban administrasi terhadap penjualan pada tahun pertama dibagi tahun sebelum tahun
pertama, yang ditunjukkan dengan tahun t dibagi tahun t-1. Ada kemungkinan� perusahaan memanipulasi pasar karena ketidakseimbangan pendapatan,
yang memberikan sinyal negatif terhadap prospek� masa depan perusahaan.

Leverage Index (LVGI)
Rasio yang digunakan untuk menghitung total hutang terhadap total aset pada tahun 1 selama tahun sebelum tahun
1, diberikan sebagai tahun t dibagi dengan tahun t-1. Jika hasil LVGI > 1, maka perusahaan lebih cenderung manipulatif karena hal ini
menunjukkan peningkatan
leverage terkait dengan
motif bertahan hidup dari pengaturan hutang.

Total Accrual to Total Assets (TATA)
Rasio yang digunakan untuk menghitung total akrual sebagai perubahan dalam akun modal kerja selain uang tunai yang dikurangi depresiasi. Perusahaan lebih manipulatif jika hasil TATA menunjukkan keuntungan yang lebih tinggi dan hubungan positif antara akumulasi kewajiban (kurang kas).
![]()
2.
Variabel independen
Variabel independen dalam penelitian ini bertujuan untuk
menguji adanya pengaruh terhadap variabel dependen, variabel independen yang digunakan untuk memprediksi pengaruh pada variabel dependen adalah sebagai berikut:
Financial Stability
Proksi yang digunakan finacial stability untuk
mengukur stabilitas keuangan menggunakan tingkat perubahan total aset (FSP) dalam persamaan berikut:
![]()
Change in
Auditor
Proksi yang digunakan untuk mengukur perubahan auditor secara voluntary adalah
AUDCHANGE, yang menggunakan variabel
dummy. Jika, angka
1 berarti terdapat perubahan KAP periode 2018-2020,
dan jika, tidak ada perubahan pada KAP periode 2018-2020 akan diberikan� angka 0.
Effective Monitoring
Proksi yang digunakan untuk mengukur effective monitoring yaitu
dengan menggunakan rasio jumlah dewan komisaris independen (EMO) dengan rumus:
![]()
Change in
Director
Proksi yang digunakan untuk mengukur change in director adalah
dengan menggunakan pergantian dewan direksi secara voluntary yaitu DCHANGE dengan menggunakan dummy
variable, dimana angka
1 diberikan apabila pada perusahaan terdapat pergantian dewan direksi selama periode 2018-2020 dan angka 0 diberikan apabila pada perusahaan tidak terdapat pergantian dewan direksi selama periode 2018-2020.
Arrogance
Proksi yang digunakan untuk mengukur arrogance yaitu
CEOPIC dengan menghitung jumlah foto CEO yang tampil dalam buku
tahunan selama periode 2018-2020.
Teknik Analisis Data
Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif memberikan gambaran tentang data dan ringkasan data
yang dikumpulkan dengan memberikan hasil berupa mean, standar deviasi, minimum, dan maksimum.
Hasil penjelasan akan membantu membuat informasi yang disajikan jelas dan mudah dipahami.
Analisis Regresi Logistik
Regresi logistik digunakan sebagai metode analisis untuk pengujian hipotesis untuk menentukan apakah variabel independen mempengaruhi variabel dependen ketika variabel dependen dari regresi logistik
adalah biner.�
Model regresi logistik untuk penelitian ini memiliki persamaan
sebagai berikut:
FRAUD=α+β1FSP+β2AUDCHANGE+β3EMO+β4DCHANGE+
β5CEOPIC+ε
Keterangan:
FRAUD�������������� = Kecurangan
Laporan Keuangan
������������������������ = Koefisien
Regresi Konstanta
β1,
β2, β3, β4, β5 = Koefisien Regresi masing-masing proksi
FSP��������������������� = Perubahan
Aset selama tiga tahun
AUDCHANGE��� = Pergantian KAP dalam perusahaan
EMO������������������� = Rasio
Dewan Komisaris Independen
DCHANGE�������� = Pergantian Direksi dalam perusahaan
CEOPIC������������� = Jumlah
gambar CEO dalam buku tahunan perusahaan
������������������������� = Error
Uji t
Untuk melihat seberapa besar variabel independen mempengaruhi variabel dependen, peneliti harus menguji koefisien
regresi. Uji t dapat dilakukan dengan membandingkan t hitung dengan t tabel atau dengan membandingkan
tingkat signifikansi t hitung. Tingkat signifikansi yang
digunakan dalam penelitian ini adalah 5%.
Hipotesis ditolak,
jika nilai sig > 5%, maka tidak terdapat
pengaruh variabel X terhadap variabel Y
Hipotesis diterima,
jika nilai sig < 5%, maka terdapat pengaruh
variabel X terhadap variabel Y.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Perusahaan pertambangan yang telah menerbitkan laporan keuangan lengkap dan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sesuai kriteria sampel periode 2018-2020 telah mencapai 35 atau 105 laporan keuangan. Namun, setelah uji regresi logistik, tiga sampel adalah
outlier, sehingga hanya 102
laporan keuangan lengkap perusahaan yang digunakan untuk pengujian lebih lanjut (tabel 1).
Jika nilai ini lebih besar dari
0,05, maka hasil uji model dengan menggunakan uji Hosmer and Lemeshow�s..Goodness of Fit
Test adalah 0,730. Hal ini
menunjukkan bahwa uji kecocokan Hosmer and Lemeshow�s..Goodness of Fit Test memiliki statistik sebesar 5,253 dan probabilitas signifikansi 0,730, jauh di atas 0,05. Kita dapat menyimpulkan bahwa model dapat memprediksi pengamatan. Atau, model dapat diterima karena cocok dengan
pengamatan. Hasil ini didukung oleh nilai 2LogL di blok 1. Hal ini menunjukkan bahwa nilai� tersebut berkurang dibandingkan dengan nilai 2LogL pada blok 2. Nilai 2LogL untuk blok 2 menunjukkan 126.253, sedangkan nilai 2LogL untuk blok 1 adalah
134.701, menunjukkan penurunan
sebesar 8.448. Penurunan nilai 2LogL menunjukkan bahwa model regresi lebih baik dengan
memasukkan semua variabel bebas. Dengan kata lain, ini menunjukkan bahwa model hipotetis sesuai dengan data. Nilai R2 dari Nagelkerke adalah 0,108. Hal ini dikarenakan hanya 10,8% variasi variabel terikat yang dapat dijelaskan oleh variabel bebas, sedangkan� sisanya
89,2% merupakan variabel
lain dari proksi teori Pentagon atau� variabel lain yang tidak termasuk dalam teori Pentagon.
Berikut ini adalah hasil dari statistik
deskriptif pada tabel 2:
Tabel 2. Hasil Statistik
deskriptif
|
Descriptive Statistics |
|||||
|
|
N |
Minimum |
Maximum |
Mean |
Std. Deviation |
|
FSP |
102 |
-.52 |
.47 |
.0475 |
.15306 |
|
AUDCHANGE |
102 |
0 |
1 |
.40 |
.493 |
|
EMO |
102 |
.20 |
.67 |
.3931 |
.09122 |
|
DCHANGE |
102 |
0 |
1 |
.52 |
.502 |
|
CEOPIC |
102 |
1 |
6 |
2.39 |
.924 |
|
M SCORE |
102 |
0 |
1 |
.37 |
.486 |
|
Valid N (listwise) |
102 |
|
|
|
|
Sumber
: Data diolah, 2022
Hasil statistik deskriptif
diatas adalah data yang diolah setelah melakukan outlier dari jumlah data sebanyak 105 menjadi 102 dikarenakan terdapat data yang harus dioutlier.
Financial stability yang diukur menggunakan.persentase
perubahan total aset selama 3 tahun..terjadinya
kecurangan. Nilai mean sebesar
0.0475 yang berarti terjadi.perubahan
total aset sebesar 4.75% selama 3 tahun. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa rata-rata.dari perubahan total aset selama 3 tahun masuk dalam kategori
tidak stabil. Sementara itu, nilai standar deviasi.sebesar
0.15306 menunjukkan bahwa variasi data..bersifat heterogen, karena nilai standar�deviasi
sebesar 15.306% lebih besar dibandingkan dengan nilai mean sebesar 4.75%. Nilai terendah
yang dimiliki financial
stability yaitu sebesar
-0.52. Sedangkan nilai tertinggi yang dimiliki financial stability yaitu
sebesar 0.47.
Change in Auditor yang diukur
dengan menggunakan..variabel dummy, apabila angka 1 diberikan maka perusahaan melakukan pergantian KAP dan jika angka 0 diberikan maka perusahaan tidak melakukan pergantian KAP selama 3 tahun terjadinya kecurangan. Nilai mean sebesar
0.40 yang berarti terjadi pergantian KAP sebesar 40% selama 3 tahun. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan..bahwa rata-rata dari pergantian KAP selama 3 tahun masuk dalam
suatu aktivitas yang sering dilakukan. Sementara itu, nilai standar�deviasi
sebesar 0.493 menunjukkan bahwa variasi data bersifat heterogen karena nilai standar
deviasi sebesar 49.3% lebih besar dibandingkan
dengan nilai mean sebesar 40%. Nilai terendah yang dimiliki Change in
Auditor yaitu sebesar
0. Nilai tertinggi yang dimiliki
Change in Auditor yaitu
sebesar 1.
Effective Monitoring yang dihitung dengan membandingkan antara jumlah dewan komisaris independen dengan total dewan komisaris selama 3 tahun terjadinya kecurangan. Nilai mean sebesar
0.3931 yang berarti terjadi
perbandingan antara jumlah dewan komisaris independen dengan total dewan komisaris sebesar 39.31% selama 3 tahun. Dilihat dari hasil
tersebut dapat disimpulkan bahwa rata-rata dari perbandingan antara jumlah dewan komisaris independen dengan total dewan komisaris selama 3 tahun termasuk kedalam kategori sedang atau jarang dilakukan.
Sementara itu, nilai dari standar
deviasi sebesar 0.09122 menunjukkan bahwa variasi data bersifat homogen karena nilai standar deviasi
sebesar 9.122% lebih kecil dibandingkan dengan nilai mean sebesar 39.31%. Nilai terendah
yang dimiliki Effective Monitoring yaitu sebesar 0.20. Nilai tertinggi yang dimiliki Effective
Monitoring yaitu sebesar
0.67.
Change in Director yang diukur
dengan menggunakan variabel dummy, jika angka 1 diberikan
maka perusahaan melakukan pergantian dewan direksi dan jika angka 0 diberikan maka perusahan tidak melakukan pergantian dewan direksi selama 3 tahun terjadinya kecurangan. Nilai mean
sebesar 0.52 yang berarti terjadi pergantian dewan direksi sebesar 52% selama 3 tahun. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa mean dari pergantian dewan direksi selama 3 tahun termasuk kedalam kategori sedang atau jarang dilakukan.
Sementara itu, nilai dari standar.deviasi
sebesar 0.502 �dapat menunjukkan bahwa variasi data tersebut bersifat homogen karena nilai standar deviasi
sebesar 50.2% lebih kecil dibandingkan dengan nilai mean sebesar 52%. Nilai terendah yang dimiliki Change in
Director yaitu sebesar
0. Nilai tertinggi yang dimiliki
Change in Director yaitu sebesar
1.
Arrogance diukur dengan menggunakan jumlah gambar CEO pada suatu perusahaan dalam laporan keuangan
tahunan secara berulang-ulang selama 3 tahun terjadi kecurangan.
Nilai mean sebesar 2.39 yang berarti
terjadi jumlah foto CEO pada suatu perusahaan dalam laporan keuangan tahuanan secara berulang-ulang sebesar muncul sebanyak 2 kali. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa banyak jumlah
mean dari sejumlah foto CEO pada suatu perusahaan dalam laporan keuangan tahuanan secara berulang-ulang selama 3 tahun termasuk kedalam jumlah yang banyak. Sementara itu, nilai dari
standar.deviasi sebesar
0.924 menunjukkan bahwa variasi data bersifat homogen karena nilai standar deviasi
sebesar 92.4% lebih kecil jika dibandingkan
dengan nilai mean yang sebesar 241%. Nilai terendah yang
dimiliki Arrogance yaitu
sebesar 1. Nilai tertinggi
yang dimiliki Arrogance yaitu
sebesar 6.
Berikut ini adalah hasil dari tabel
klasifikasi pada tabel 3:
Tabel 3. Tabel Klasifikasi
|
|
Observed |
Predicted |
|||
|
|
M SCORE |
Percentage Correct |
|||
|
|
tidak melakukan Manipulasi |
melakukan Manipulasi |
|||
|
Step 1 |
M SCORE |
tidak melakukan Manipulasi |
58 |
6 |
90.6 |
|
melakukan Manipulasi |
26 |
12 |
31.6 |
||
|
Overall Percentage |
|
|
68.6 |
||
|
a. The cut value is ,500 |
|||||
Sumber : Data diolah, 2022
Dari pengelompokan klasifikasi
data diatas dapat disimpulkan bahwa prediksi secara keseluruhan dari model regresi sebesar 68.6%. Dengan persentase sebesar 90.6% dari perusahaan tidak melakukan manipulasi, sedangkan persentase sebesar 31.6% dari perusahaan telah melakukan manipulasi. Berdasarkan persentase tersebut, disimpulkan bahwa terdapat kemampuan pada model dalam memprediksi adanya variabel independen dengan persentase sebesar 31.6%.
Adanya kecurangan laporan keuangan tahunan pada perusahaan yang melakukan manipulasi yang telah diprediksi secara keseluruhan dari model regresi ini, dengan persentase
nilai sebesar 31.6%. Pada saat menggunakan model regresi ini, terdapat
sampel laporan keuangan tahunan yang telah diprediksi melakukan kecurangan laporan keuangan sebanyak 12 sampel laporan keuangan tahunan dari jumlah
sampel laporan keuangan tahunan sebanyak 26 sampel laporan keuangan tahunan. Sebaliknya, prediksi secara keseluruhan dari model regresi ini juga dapat memprediksi kemungkinan tidak terjadinya kecurangan laporan keuangan tahuanan dengan persentase sebesar 90.6%. Pada saat menggunakan model regresi ini, terdapat
sampel laporan keuangan tahunan yang telah diprediksi tidak melakukan kecurangan laporan keuangan sebanyak 58 sampel laporan keuangan tahunan dari jumlah sempel
laporan keuangan tahunan sebanyak 84 sampel laporan keuangan tahunan.
Berikut ini adalah hasil dari analisis
regresi logistik pada tabel 4:
Tabel 4. Hasil Analisis
Regresi Logistik
|
|
B |
S.E. |
Wald |
df |
Sig. |
Exp(B) |
|
|
Step 1a |
FSP |
3.415 |
1.558 |
4.801 |
1 |
.028 |
30.411 |
|
AUDCHANGE |
.647 |
.474 |
1.864 |
1 |
.172 |
1.911 |
|
|
EMO |
.746 |
2.434 |
.094 |
1 |
.759 |
2.109 |
|
|
DCHANGE |
.234 |
.483 |
.235 |
1 |
.628 |
1.264 |
|
|
CEOPIC |
.254 |
.237 |
1.142 |
1 |
.285 |
1.289 |
|
|
Constant |
-2.015 |
1.174 |
2.947 |
1 |
.086 |
.133 |
|
|
a. Variable(s)
entered on step 1: FSP, AUDCHANGE, EMO, DCHANGE, CEOPIC. |
|||||||
Sumber: Data diolah, 2022
Berdasarkan hasil dari
regresi logistik tersebut, dapat diperoleh persamaan sebagai berikut :
FRAUD
= -2.015 + 3.415ACHANGE + 0.647AUDCHANGE + 0.746EMO + 0.234DCHANGE +
0.254CEOPIC
Berikut ini adalah hasil dari pengujian
hipotesis penelitian pada tabel 5:
�
Tabel 5
Hasil Rekapitulasi
Uji Hipotesis
|
Variabel |
B |
Sig |
Keterangan |
|
Financial
Stability |
3.415 |
0.028 |
Diterima |
|
Change in Auditor |
0.647 |
0.172 |
Ditolak |
|
Effective
Monitoring |
0.746 |
0.759 |
Ditolak |
|
Change in
Director |
0.234 |
0.628 |
Ditolak |
|
Arrogance |
0.254 |
0.285 |
Ditolak |
Sumber : Data diolah, 2022
Hasil pengujian dari Financial
stability.berpengaruh terhadap
kecurangan laporan keuangan. Berdasarkan pada hasil rekapitulasi uji hipotesis diatas, dimana variabel financial stability menggunakan
proksi yaitu ACHANGE, nilai dari koefiesien
regresi sebesar 3.415 dan nilai dari signifikansi
sebesar 0.028. Maka dapat diketahui, 0.028 < 0.05
(lebih kecil dari 5%), maka H1 diterima, artinya financial stability berpengaruh
terhadap kecurangan laporan keuangan. Dari hasil penelitian tersebut. Penelitian ini mendukung penelitian
dari (Nuha et al., 2021) dan (Aprilia, Hardi, &
Al-Azhar, 2017). Penelitian ini mampu menunjukkan bahwa pengelolaan aset yang tepat dapat menghasilkan stabilitas keuangan yang baik dengan didukung
adanya perkembangan teknologi yang dapat diamati oleh investor.
Hasil pengujian dari Change
in auditor.berpengaruh terhadap
kecurangan laporan keuangan. Berdasarkan pada hasil rekapitulasi uji hipotesis diatas, variabel Change in
Auditor yang menggunakan proksi
yaitu AUDCHANGE, nilai dari koefisien regresi sebesar 0.647 dan nilai dari signifikansi
sebesar 0.172. Maka dapat diketahui, 0.172 > 0.05
(lebih besar dari 5%), maka H2 ditolak, artinya change in auditor tidak
berpengaruh terhadap kecurangan laporan keuangan. Penelitian ini mendukung penelitian
dari (Yesiariani & Rahayu, 2017), tetapi belum mendukung penelitian (Rahmayuni, 2018). Penelitian ini mampu menunjukkan
bahwa perubahan auditor dengan tidak meninggalkan
jejak audit pada aktivitas keuangan perusahaan sangat penting bagi perusahaan
agar dapat memberikan laporan keuangan yang dapat diamati dan dipercaya oleh investor.
Hasil pengujian dari Effective
monitoring.berpengaruh terhadap
kecurangan laporan keuangan. Berdasarkan pada hasil rekapitulasi uji hipotesis diatas, variabel Effective
monitoring menggunakan proksi
yaitu EMO, nilai dari koefisien regresi sebesar 0.746 dan nilai dari signifikansi
sebesar 0.759. Maka dapat diketahui, 0.759 > 0.05
(lebih besar dari 5%), maka H3 ditolak, artinya effective monitoring tidak
berpengaruh terhadap kecurangan laporan keuangan. Penelitian ini mendukung penelitian
dari (Herdiana & Sari,
2018) dan (Oktafiana & Sari,
2019). Penelitian ini mampu menunjukkan
bahwa jumlah dewan komisaris independen yang melakukan pengawasan manajemen bukan menjadi hal yang diperhatikan di dalam perusahaan, justru yang terpenting adalah efektivitas kinerja dewan komisaris di dalam perusahaan.
Hasil pengujian dari Change
in director.berpengaruh terhadap
kecurangan laporan keuangan. Berdasarkan pada hasil rekapitulasi uji hipotesis diatas, variabel Change in
director menggunakan proksi
yaitu DCHANGE, nilai dari koefisien regresi sebesar 0.234 dan nilai dari signifikansi
sebesar 0.628. Maka dapat diketahui, 0.628 > 0.05
(lebih besar dari 5%), maka H4 ditolak, artinya change in director tidak
berpengaruh terhadap kecurangan laporan keuangan. Penelitian ini mendukung penelitian
dari (Puspitadewi & Sormin, 2018) dan (Herdiana & Sari, 2018). Penelitian ini mampu menujukkan
bahwa perubahan dewan direksi dengan pertahanan dewan direksi dalam waktu lama dapat dikarenakan dewan direksi tersebut memiliki kemampuan untuk mempertahankan kondisi perusahaan tetap stabil dalam
menghadapi persaingan usaha yang semakin ketat.
Hasil pengujian dari Arrogance..berpengaruh terhadap kecurangan laporan keuangan. Berdasarkan pada hasil rekapitulasi uji hipotesis diatas, variabel arrogance
menggunakan proksi yaitu CEOPIC, nilai dari koefisien regresi sebesar 0.254 dan nilai dari signifikansi
sebesar 0.285. Maka dapat diketahui, 0.285 > 0.05
(lebih besar dari 5%), maka H5 ditolak, artinya arrogance tidak
berpengaruh terhadap kecurangan laporan keuangan. Penelitian ini tidak mendukung
penelitian dari (Tessa & Harto,
2016) dan (Siddiq, Achyani,
& Zulfikar, 2017). Penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat arogansi yang terdapat pada penelitian ini tidak dapat
memicu terjadinya laporan keuangan dengan adanya jumlah
foto CEO yang terpampang
pada laporan keuangan.
KESIMPULAN
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh fraud
pentagon yaitu Financial Stability, Change
in Auditor, Effective Monitoring, Change in Director, Arrogance terhadap kecurangan laporan keuangan dengan menggunakan Beneish M-Score pada perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di BEI tahun 2018-2020.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel financial
stability berpengaruh terhadap
kecurangan laporan keuangan. Untuk variabel lainnya yaitu change in
auditor, effective monitoring, change in director dan arrogance tidak berpengaruh terhadap kecurangan laporan keuangan.
Penelitian selanjutnya diharapkan menggunakan pengukuran yang lebih luas. Penelitian selanjutnya diharapkan melakukan penelitian pada sektor lain seperti pada sektor perdagangan, jasa, bangunan, real estate, dan investasi dan Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menggunakan variabel independen lain baik menggunakan yang sudah digunakan maupun dengan menambahkan
variabel lain yang terdapat
diluar pentagon theory. Seperti
financial target dan nature of industry.
BIBLIOGRAFI
Amarakamini, Ni Putu, & Suryani, Elly.
(2019). Pengaruh Fraud Pentagon Terhadap Fraudulent Financial Statement Pada
Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia (Bei) Tahun 2016
Dan 2017. Jurnal Akuntansi (Media Riset Akuntansi & Keuangan), 7(2).
Google
Scholar
Aprilia, Regina, Hardi, Hardi, &
Al-Azhar, A. (2017). Pengaruh Financial Stability, Personal Financial Need,
Ineffective Monitoring, Change in Auditor Dan Change in Director Terhadap
Financial Statement Fraud Dalam Perspektif Fraud Diamond (Studi Empiris Pada
Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efe. Riau University. Google
Scholar
Ayem, Sri, & Astuti, Astuti. (2019).
Konsep Fraud Diamond dan Financial Statement Fraud (Studi Empiris pada
Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2014-2018). Jurnal
Ilmiah Akuntansi Dan Humanika, 9(3), 235�246. Google
Scholar
Dorris, B. (2018). Report to the nations:
Global study on occupational fraud and abuse. New York, Association of
Certified Fraud Examiners.
Google Scholar
Firdausi, Annas, & Triyanto, Dedik Nur.
(2021). Analisis Fraud Diamond Dalam Mendeteksi Potensi Kecurangan Laporan
Keuangan (studi Empiris Pada Perusahaan Sektor Pertambangan Yang Terdaftar Di
Bei Periode 2016-2019). EProceedings of Management, 8(4).
Google Scholar
Herdiana, Rudi, & Sari, Shinta Permata.
(2018). Analisis Fraud Diamond Dalam Mendeteksi Financial Statement Fraud
(Studi Empiris Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Periode 2015-2017). Seminar Nasional Dan Call for Paper III Fakultas Ekonomi,
402�420. Google
Scholar
IAI, Dewan Standar Akuntansi Keuangan.
(2017). Standar Akuntansi Keuangan (SAK) No. 14: Persediaan. Jakarta: Ikatan
Akuntan Indonesia. Google
Scholar
Indonesia, ACFE. (2017). Survei Fraud
Indonesia 2016. Jakarta. ACFE Indonesia Chapter. Google
Scholar
Marks, J. T. (2014). Playing offense in a
high-risk environment. Crowe Horwath, 94 (8), 14. 0search. Ebscohost. Com.
Wam. City. Ac. Uk/Login. Aspx. Google
Scholar
Novita, Nova. (2019). Teori Fraud Pentagon
dan Deteksi Kecurangan Pelaporan Keuangan. Jurnal Akuntansi Kontemporer,
11(2), 64�73. Google
Scholar
Nuha, Nabila, Ambarwati, Sri, &
Lysandra, Shanti. (2021). Analisis Fraud Diamond Dalam Mendeteksi Financial
Statement Fraud (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Sektor Industri
Barang Konsumsi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia (BEI) TAHUN 2017-2019). JIAP:
Jurnal Ilmiah Akuntansi Pancasila, 1(1), 47�62. Google
Scholar
Nurhayat, W. (2020). Kenali Fraud
Laporan Keuangan dan Praktiknya yang Merugikan Perusahaan. Google
Scholar
Oktafiana, Nimas Frasiska, & Sari,
Shinta Permata. (2019). Analisis Fraud Laporan Keuangan Dengan Wolfe &
Hermanson�s Fraud Diamond Model Pada Perusahaan LQ45 Di Bursa Efek Indonesia. Prosiding
Seminar Nasional & Call For Paper, 246�258.
Google Scholar
Prayoga, M. Adam, & Sudarmaji, Eka.
(2019). Kecurangan laporan keuangan dalam perspektif fraud diamond theory:
Studi empiris pada perusahaan sub sektor transportasi di Bursa Efek Indonesia. Jurnal
Bisnis Dan Akuntansi, 21(1), 89�102. Google
Scholar
Pribadi, Amanda, & Nuryatno, Muhammad.
(2019). Pengaruh pressure, opportunity, rationalization dan capability terhadap
financial statement fraud. INOVASI, 15(2), 120�127. Google
Scholar
Puspitadewi, Esterine, & Sormin,
Partogian. (2018). Pengaruh fraud diamond dalam mendeteksi financial statement
fraud. Jurnal Akuntansi, 12(2), 146�162. Google
Scholar
Rachmi, Fitri Aulia, Supatmoko, Djoko,
& Maharani, Bunga. (2020). Analisis Financial Statement Fraud Menggunakan
Beneish M-Score Model Pada Perusahaan Pertambangan Yang Terdaftar Di Bursa Efek
Indonesia. E-Journal Ekonomi Bisnis Dan Akuntansi, 7(1), 7�12. Google
Scholar
Rahmayuni, Sri. (2018). Analisis Pengaruh
Fraud Diamond terhadap Kecurangan Laporan Keuangan (Studi Empiris pada
Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Tahun 2013-2016). Jurnal
Akuntansi, 6(1). Google
Scholar
Siddiq, Faiz Rahman, Achyani, Fatchan,
& Zulfikar, Z. (2017). Fraud Pentagon dalam Mendeteksi Financial
Statement Fraud. Google
Scholar
Subagio, Tjahjono. (2013). Business Crimes
and Ethics: Konsep dan Studi Kasus Fraud di Indonesia dan Global. Yogyakarta:
ANDI. Google
Scholar
Tessa, G. Chyntia, & Harto, Puji.
(2016). Fraudulent financial reporting: Pengujian teori Fraud Pentagon pada
sektor keuangan dan perbankan di Indonesia. Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Google
Scholar
Yesiariani, Merissa, & Rahayu, Isti.
(2017). Deteksi financial statement fraud: Pengujian dengan fraud diamond. Jurnal
Akuntansi Dan Auditing Indonesia, 21(1), 49. Google
Scholar