Jurnal Impresi Indonesia (JII)
Vol.1, No. 3, Maret 2022
p-ISSN: 2828-1284 e-ISSN: 2810-062x
website: https://rivierapublishing.id/JII/index.php/jii/index
Doi: 10.36418/jii.v1i3.30 288
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMBANGUNAN DESA WISATA
(Studi Kasus Kecamatan Jenawi Kabupaten Karanganyar)
Dio Ariza Kelana1, Agung Wibowo2, Dwiningtyas Padmaningrum3
Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Indonesia
dioariza@student.uns.ac.id, agungwibowo@staff.uns.ac.id, dwiningtyas_p@staff.uns.ac.id
Abstract
Received:
28-02-2022
Introduction: The development of a tourist village in
its development has a vital thing that needs to be
involved, namely management that involves the
community. Efforts to develop the potential of tourism
villages must involve the community and other
important groups. Tourism that places the community
as the main actor in it is called community-based
tourism. The success and sustainability of tourism
village development comes from the government's role
in designing regulations, community participation in
development and development, the role of stakeholders
in exploring the potential of tourist sites, as well as the
role of pokdarwis and village institutions who always
provide ideas and input for the development of tourist
areas. Purpose: This study aims to determine
community participation in the development of tourist
villages in Jenawi District. Methods: The researcher
uses a qualitative method with a case study approach
to see phenomena that actually occur in the field.
Results: The results showed that the participation of
the people of Jenawi District was very high to develop
their territory, such as by utilizing the existing natural
tourism potential such as Cetho Temple and Kethek
Temple, as well as building fruit picking agro-tourism
and education to attract tourists to visit Jenawi
District. The community and the government cooperate
in the development of a tourist village in Jenawi.
Conclusion: Community participation in Jenawi
District in the development of tourist villages in Jenawi
District is very active. The impact arising from the
development of a tourist village area in Jenawi District
in the economic, socio-cultural, and environmental
fields is very positive.
Accepted:
01-03-2022
Published:
20-03-2022
Keywords:
tourist village,
jenawi district,
temple
Abstrak
Kata
kunci:
desa wisata,
kecamatan
jenawi, candi
Pendahuluan: Pembangunan desa wisata dalam
pengembangannya memiliki hal vital yang perlu
dilibatkan yaitu pengelolaan yang melibatkan
masyarakat. Upaya pengembangan potensi desa wisata
harus melibatkan masyarakat dan kelompok penting
yang lainnya. Pariwisata yang menempatkan
masyarakat sebagai pelaku utama didalamnya
dinamakan pariwisata berbasis masyarakat.
Keberhasilan dan keberlanjutan pengembangan Desa
Wisata berasal dari peran pemerintah dalam merancang
peraturan, partisipasi masyarakat dalam pembangunan
Dio Ariza Kelana, Agung Wibowo, Dwiningtyas Padmaningrum
Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Desa Wisata (Studi Kasus Kecamatan Jenawi
Kabupaten Karanganyar)
Jurnal Impresi Indonesia (JII) Vol. 1, No. 3, Maret 2022 289
dan pengembangan, peran stakeholder dalam menggali
potensi lokasi wisata, serta peran pokdarwis dan
kelembagaan desa yang selalu memberikan ide dan
masukan untuk pengembangan kawasan wisata.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa
wisata di Kecamatan Jenawi. Metode: Peneliti
menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan
studi kasus untuk melihat fenomena yang terjadi
sebenarnya di lapang. Hasil: Hasil penelitian
menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat Kecamatan
Jenawi sangat tinggi untuk mengembangkan
wilayahnya, seperti dengan memanfaatkan potensi
wisata alam yang ada seperti Candi Cetho dan Candi
Kethek, serta membangun agrowisata petik buah dan
edukasi untuk menarik perhatian wisatawan agar
berkunjung ke Kecamatan Jenawi. Masyarakat dan
pemerintah bekerjasama dalam pembangunan desa
wisata di Jenawi. Kesimpulan: Partisipasi masyarakat
Kecamatan Jenawi dalam pembangunan desa wisata di
Kecamatan Jenawi tergolong sangat aktif. Dampak yang
timbul dengan adanya pembangunan kawasan desa
wisata di Kecamatan Jenawi di bidang ekonomi, sosial
budaya, dan lingkungan sangat positif.
Corresponding Author: Dio Ariza Kelana
E-mail: dioariza@student.uns.ac.id
PENDAHULUAN
Menurut Undang-undang No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, yang dimaksud
dengan pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata yang didukung oleh berbagai
fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, pemerintah dan pemerintah
daerah (Oktaviarni, 2018). Pariwisata di Indonesia dibagi ke dalam beberapa wilayah karena
Indonesia sendiri memiliki potensi yang luas dan beraneka warna, baik yang merupakan
atraksi tidak bergerak seperti keindahan alam, monumen, candi, dan sebagainya maupun
atraksi bergerak seperti kesenian, adat-istiadat, seremoni, perayaan, pekan raya dan
sebagainya (Frensya Latuasan, 2019).
Sejalan dengan yang tercantum pada Undang-undang No. 10 Tahun 2009 tentang
Kepariwisataan yang menyatakan bahwa penyelenggaraan kepariwisataan ditujukan untuk
meningkatkan pendapatan nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan
kemakmuran rakyat, memperluas dan memeratakan kesempatan berusaha dan lapangan
kerja, mendorong pembangunan daerah, memperkenalkan dan mendayagunakan objek dan
daya tarik wisata di Indonesia serta memupuk rasa cinta tanah air dan mempererat
persahabatan antar bangsa (Romi Saputra, 2018).
Desa wisata merupakan salah satu bentuk penerapan pembangunan pariwisata berbasis
masyarakat dan berkelanjutan (Sidiq & Resnawaty, 2017). Melalui pengembangan desa wisata
diharapkan terjadi pemerataan yang sesuai dengan konsep pembangunan pariwisata yang
berkesinambungan. Keberadaan desa wisata menjadikan produk wisata lebih bernilai
sehingga pengembangan desa wisata bernilai budaya tanpa merusaknya (Dewi, 2013).
Salah satu destinasi wisata yang sangat berpotensi untuk terus dikembangkan di daerah
Kabupaten Karanganyar adalah Pembangunan Desa Wisata yang berada di Kecamatan
Jenawi, dimana Kecamatan Jenawi memiliki beberapa desa yang sudah menjadi kawasan
Desa Wisata yaitu Desa Gumeng, Desa Anggrasmanis dan Desa Menjing yang memiliki
Dio Ariza Kelana, Agung Wibowo, Dwiningtyas Padmaningrum
Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Desa Wisata (Studi Kasus Kecamatan Jenawi
Kabupaten Karanganyar)
Jurnal Impresi Indonesia (JII) Vol. 1, No. 3, Maret 2022 290
beragam potensi wisata yang dapat dikembangakan dan telah banyak dikunjungi wisatawan
lokal maupun wisatawan asing dari berbagai negara (DA, 2020).
Kabupaten Karanganyar dijuluki sebagai kota wisata, sesuai dengan slogan di tugu
selamat datang yang ada di jalan raya Karanganyar-Sragen (Widyahusada, Sukarno, & Nurati,
2016). Karanganyar identik dengan udara yang sejuk dan kuliner yang nikmat. Tempat wisata
di Karanganyar lebih banyak menonjolkan keindahan alam. Karanganyar memiliki wilayah
pegunungan dan perbukitan dengan pemandangan hijau yang cantik dan mampu
memanjakan mata para wisatawan yang datang. Khususnya di wilayah Kecamatan Jenawi,
Kabupaten Karanganyar yang terletak pada geografi perbukitan dan pegunungan yang indah
dan memiliki pemandangan yang asri.
Pengembangan Desa Wisata di Kecamatan Jenawi menghadapi beberapa tantangan,
terutama tantangan untuk mengembangkan sumber daya manusia yang sadar wisata.
Pengembangan desa wisata mengharuskan adanya sumber daya yang trampil dalam
mengembangakan dan mempromosikan potensi wisata yang ada di daerahnya agar lebih
diminati (Pangestuti, 2020). Potensi yang ada harus terus dikembangkan agar Desa Wisata di
Kecamatan Jenawi selalu menjadi tujuan wisata bagi para wisatawan. Adapun tujuan yang
ingin dicapai dari penelitian yang akan dilakukan adalah untuk mengetahui pemberdayaan
masyarakat, partisipasi masyarakat serta dampak bagi masyarakat terhadap pembangunan
desa wisata.
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan kualitatif.
Pendekatan kualitatif yang dimaksud peneliti disini merupakan suatu bentuk penelitian yang
mendeskripsikan peristiwa atau kejadian, perilaku orang atau suatu keadaan pada tempat
tertentu secara rinci dan mendalam dalam bentuk narasi. Peneliti ingin menganalisis tentang
Partisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan Desa Wisata (Studi Kasus Kecamatan Jenawi,
Kabupaten Karanganyar). Data kualitatif yang diperoleh disini merupakan keseluruhan
bahan, keterangan data fakta-fakta yang tidak dapat diukur dan dihitung secara matematis,
tetapi hanya berwujud keterangan naratif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pembangunan Desa Wisata di Kecamatan Jenawi
Pembangunan desa wisata memiliki syarat dan ketentuan bagi suatu tempat untuk
menjadi kawasan wisata. Kecamatan Jenawi harus memiliki syarat untuk menjadi kawasan
wisata. Dalam keberjalanan pembangunan dan pengembangan wisata di Kecamatan Jenawi
ini telah terdapat beberapa syarat untuk menjadi desa wisata (Permadi, Asmony, Widiana, &
Hilmiati, 2018). Berikut merupakan syarat yang sudah terpenuhi oleh Kecamatan Jenawi
sebagai kawasan wisata:
Tabel 1. Syarat Desa Wisata di Kecamatan Jenawi dengan paramater Desa
Wisata
No
Persyaratan
Desa Wisata
Keadaan di Lapang
1.
Memiliki
persyaratan
sebagai sebuah
destinasi
pariwisata.
Kecamatan Jenawi memiliki daya tarik wisata,
fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesibilitas,
serta masyarakat yang saling terkait dan
melengkapi terwujudnya kepariwisataan
2.
Kegiatan
pariwisata berbasis
pada sumber daya
perdesaan
Dalam pelaksanaannya sudah berbasis sumber
daya manusia, komoditas pertanian, sumber
daya alam, kelembagaan, aset sosial, spiritual
budaya, finansial, fisik infrastruktur, sumber
daya informasi dan jaringan.
3.
Menyediakan akses
yang memadai
Akses jalan sudah memadai akan tetapi untuk
keselamatan wisatawan di perjalanan harus
Dio Ariza Kelana, Agung Wibowo, Dwiningtyas Padmaningrum
Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Desa Wisata (Studi Kasus Kecamatan Jenawi
Kabupaten Karanganyar)
Jurnal Impresi Indonesia (JII) Vol. 1, No. 3, Maret 2022 291
diperhatikan, disebabkan banyaknya tanjakan,
turunan dan tikungan tajam karena Kecamatan
Jenawi adalah daerah dengan kelerengan yang
cukup curam karena letaknya di lereng Gunung
Lawu.
4.
Kegiatan aktif
penduduk desa dan
wisatawan
Kawasan Wisata Kecamatan Jenawi mampu
menciptakan interaksi antara para wisatawan
dengan penduduk lokal. Sehingga kegiatan
pertanian, perkebunan dan peternakan yang
dalam keseharian menjadi aktivitas penduduk
desa menjadi atraksi wisata yang menarik.
5.
Akomodasi yang
memadai
Kecamatan Jenawi memiliki homestay
memadai di masing-masing objek wisatanya.
Homestay yang tersedia sudah memadai, rapi,
bersih, memiliki kamar mandi yang sehat dan
sumber air yang memadai serta pemilik
homestay yang ramah.
6.
Mengutamakan
masyarakat lokal
Semua objek wisata yang ada di Kecamatan
Jenawi melibatkan putra daerah. Masyarakat
menyediakan penginapan, gaet/ pramuwisata
dan para pedagang merupakan masyarakat lokal
Kecamatan Jenawi
7.
Memiliki
komunitas yang
peduli pada
pariwisata.
Kecamatan Jenawi memiliki komunitas-
komunitas yang sadar akan wisata yang biasanya
disebut dengan POKDARWIS yang berada di
desa Gumeng, Desa Menjing dan kelompok
pemuda hindu dimana mereka telah berhasil
mengajak masyarakat untuk sadar wisata dan
mengelola daerah mereka menjadi daerah
ramah wisatawan.
Pembangunan desa wisata membutuhkan kolaborasi antara masyarakat dengan
pemerintah sekitar. Keberadaan desa wisata nantinya akan membuka lapangan pekerjaan
baru bagi masyarakat. Peraturan yang dibuat oleh pemerintah harus bertujuan untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di Kecamatan Jenawi. Berdasarkan
penelitian yang dilakukan pemerintah Kecamatan Jenawi selalu membuat regulasi dengan
memperhatikan aspirasi dari masyarakat sekitar. Masyarakat Kecamatan Jenawi mendukung
dan merasakan dampak positif pembangunan desa wisata.
Pemberdayaan Masyarakat di Kecamatan Jenawi
Pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan desa wisata di Kecamatan Jenawi
mampu membuat masyarakat berdaya atau dapat sejahtera untuk memenuhi kebutuhan
keluarganya melalui pemanfaatan potensi wilayah yang dimiliki oleh kawasan sekitar tempat
tinggal mereka, dalam hal ini menjadi kawasan objek wisata yang dapat mendatangkan
pengunjung. Menurut (Barnett & Weidenfeller, 2016) tentang tahap pemberdayaan yang
terencana yang sesuai dengan masyarakat Kecamatan Jenawi, planed change merinci tahapan
kegiatan pembangunan berbasis masyarakat ke dalam 7 tujuh kegiatan pokok, yaitu:
Tabel 2. Tahap Pemberdayaan di Kecamatan Jenawi
Kegiatan
Pokok
Pemberdayaan
Aktivitas di Lapang
Impact
Penyadaran
Melakukan kegiatan untuk menyadarkan
masyarakat tentang “keberdayaannya”,
deangan keberdayaan individu, kelompok
Masyarakat menjadi
sadar akan
pentingnya
Dio Ariza Kelana, Agung Wibowo, Dwiningtyas Padmaningrum
Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Desa Wisata (Studi Kasus Kecamatan Jenawi
Kabupaten Karanganyar)
Jurnal Impresi Indonesia (JII) Vol. 1, No. 3, Maret 2022 292
dan kelembagaan. Penyadaran dimulai
dari individu, dilanjutkan dengan
pembentukan pokdarwis dan kemudian
penyadarana kelembagaan melalui
BUMDES yang ada di Kecamatan Jenawi.
perubahan kearah
yang lebih baik
Menunjukkan
adanya masalah
Wilayah pedesaan di Kecamatan Jenawi
sebenarnya memiliki potensi yang bagus
untuk menjadi kawasan pariwisata.
Terdapat masyarakat yang mendukung
pembangunan desa wisata dan ada yang
tidak mendukung.
Masyarakat sekitar
mengetahui potensi
yang selama ini
dimiliki dari
keberadaan potensi
wisata
Membantu
Pemecahan
Masalah
Masalah yang dimiliki adalah masalah
pemanfaatan potensi wisata alam yang
ada. Masyarakat dipersiapkan untuk
kemajuan pembangunan desa wisata yang
ada di Kecamatan Jenawi.
Masyarakat
menganggap potensi
sebagai sesuatu yang
harus dimanfaatkan
Menunjukkan
pentingnya
perubahan
Masyarakat di Kecamatan Jenawi
menyadari pentingnya perubahan,
masyarakat mempersiapkan diri untuk
mengantisipasi perubahan - perubahan
tersebut melalui kegiatan “perubahan yang
terencana”, seperti masyarakat harus siap
karena wilayah mereka akan ramai di
kunjungi wisatawan
Masyarakat
menginginkan
perubahan yang
baik bagi
kehidupannya
dengan
memanfaatkan
potensi wisata
Melakukan
pengujian
Para pemuda desa yang ada di Kecamatan
Jenawi terlibat dalam kegiatan pariwisata
desa dengan menjadi pemandu wisata
ataupun menjadi pekerja di kawasan
wisata tersebut. Ada yang menjadi
tukang parkir, dan ada yang menjadi
pekerja kebersihan di kawasan wisata.
Pemanfaatan
langsung potensi
wisata oleh
masyarakat dengan
berjualan ataupun
menjadi pekerja
lepas di sekitar
kawasan wisata
Memproduksi
dan Publikasi
Informasi
Memfasilitasi dan menyalurkan
informasi serta mempromosikan
Kecamatan Jenawi sebagai salah satu
kawasan wisata di Kabupaten
Karanganyar
Masyarakat ikut
membantu
menyebarkan
informasi tentang
wisata yang ada di
tempat mereka
Pembangunan
berbasis
masyarakat
Pembangunan melibatkan masyarakat
lokal mulai dari tahap perencanaan
hingga tahap implementasinya.
Kesejahteraan
masyarakat menjadi
tujuan utama dalam
pembangunan desa
wisata
Pemberdayaan masyarakat yang dilakukan dalam penelitian ini bertujuan untuk
meningkatkan kemampuan masyarakat guna menganalisa kondisi dan potensi serta masalah-
masalah yang dihadapi dalam pembangunan desa wisata. Didalam melakukan pemberdayaan
di Kecamatan Jenawi keterlibatan masyarakat yang akan diberdayakan sangatlah penting
sehingga tujuan dari pemberdayaan tercapai secara maksimal. Masyarakat menjadi aktor
utama untuk dapat mengembangkan potensi wilayah mereka, serta memperoleh keuntungan
dari pembanguna desa wisata di Kecamatan Jenawi.
Jenis dan Tahap Partisipasi Masyarakat di Kecamatan Jenawi
1. Partisipasi uang dan harta benda
Partisipasi uang/harta benda merupakan patisipasi yang diberikan oleh partisipan
dalam kegiatan pembangunan, pengembangan, perbaikan, pertolongan bagi orang lain
Dio Ariza Kelana, Agung Wibowo, Dwiningtyas Padmaningrum
Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Desa Wisata (Studi Kasus Kecamatan Jenawi
Kabupaten Karanganyar)
Jurnal Impresi Indonesia (JII) Vol. 1, No. 3, Maret 2022 293
yang di berikan berupa uang, makanan, peralatan-peralatan yang menunjang
keberjalanan kegiatan (Evan Saputra, 2019). Adapun partisipasi yang dapat di berikan
oleh sebagian masyarakat di kawasan wisata Kecamatan Jenawi dalam pembangunan
kawasan wisata mereka terlihat dari dengan menyediakan makanan, minuman seperti
buah-buahan, kue-kue, teh, kopi, es, rokok, peralatan-peralatan yang berkaitan dengan
kegiatan tersebut sebagai penunjang dan sebagai pemicu kelancaran dan keberhasilan
kegiatan yang dilakukan.
2. Partisipasi oleh pemerintah dan stakeholder
Pemerintah desa yang ada di Kecamatan Jenawi memiliki semangat dalam
menjalankan pariwisata, karena sektor pariwisata sangat diminati oleh masyarakat yang
mengetahui benar bahwa sektor ini mampu mensejahterakan masyarakat dan juga
melibatkan masyarakat dalam setiap pengelolaan yang ada di kawasan desa wisata
Kecamatan Jenawi. Perekonomian masyarakat yang sebelumnya menengah kebawah
diyakini akan mampu menambah sedikit kenaikan apabila mengembangkan desa wisata.
Sesuai dengan kesadaran masyarakat yang telah mampu menjadikan Kecamatan Jenawi
menjadi kawasan desa wisata, dimana merupakan suatu langkah maju yang didapatkan
oleh pemerintah desa dalam menggerakan masyarakat untuk ikut bersama-sama
memajukan desa ini.
3. Partisipasi dalam pengambilan keputusan
Partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan merupakan upaya tukar
pikiran melalui musyawarah yang dilakukan oleh kepala desa melibatkan perangkat desa,
dan kelompok sadar wisata (Dita, Kusumawati, & Sos, 2021). Masyarakat yang
berpartisipasi dalam pengambilan keputusan di Kecamatan Jenawi ikut berfikir dan
memberikan ide-ide mengenai bagaimana kawasan desa mereka bisa menjadi menarik
bagi wisatawan sehingga bisa menjadi Desa Wisata. Hal ini ditunjukkan pada kegiatan
musyawarah atau rapat-rapat dalam proses perencanaan dengan tujuan agar masyarakat
dapat berperan penting dan berperan aktif dalam kegiatan, dapat menyampaikan aspirasi
di dalam musyawarah mengenai ide-ide dan gagasan kegiatan.
4. Partisipasi dalam pelaksanaan
Dalam pembangunan Desa Wisata di Kecamatan Jenawi, masyarakat kecamatan
Jenawi khususnya pemuda-pemuda desa terlibat dalam kegiatan pariwisata desa dengan
menjadi pemandu wisata ataupun menjadi pekerja di kawasan wisata tersebut. Ada
yang menjadi pemandu untuk naik gunung, ada yang menjadi tukang parkir, dan
ada yang menjadi pekerja kebersihan di kawasan wisata. Pekerjaan tersebut mereka
jadikan sebagai pekerjaan sampingan setelah beraktivitas setiap hari terhadap pekerjaan
diluar desa maupun di desa itu sendiri dan juga bagi masyarakat yang beraktivitas
sebagai anak sekolah. Kemudian sebagian masyarakat desa terlibat dalam mengelola dan
menata lingkungan desa seperti membersihkan desa dari sampah-sampah yang
berserakan di sekitar kawasan wisata.
Hambatan Pembangunan Desa Wisata di Kecamatan Jenawi
Pada kenyataanya, tidak semua anggota masyarakat mau berpartisipasi, dengan
berbagai macam alasan yang ada. Hal ini terjadi karena adanya beberapa faktor yang mungkin
membuat mereka terdorong maupun tidak terdorong untuk berpartisipasi. Menurut
(Widayuni, 2019) faktor yang dapat menghambat partisipasi masyarakat antara lain: a. Sifat
malas, apatis, masa bodoh dan tidak mau melakukan perubahan ditingkat anggota
masyarakat b. Kurangnya pembuktian c. Pesimis terhadap wilayah d. Tingkat SDM rendah e.
Keadaan ekonomi masyarakat yang tertinggal.
Tabel 3. Hambatan Pembangunan Desa Wisata di Kecamatan Jenawi
No.
Hambatan dalam
Pembangunan
Deskripsi
1.
Masih ada sedikit
keraguan dan tidak
adanya waktu untuk
Selama pembangunan desa wisata di
Kecamatan Jenawi pasti terdapat pro dan
kontra. Salah satu kontra yang ada pada
Dio Ariza Kelana, Agung Wibowo, Dwiningtyas Padmaningrum
Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Desa Wisata (Studi Kasus Kecamatan Jenawi
Kabupaten Karanganyar)
Jurnal Impresi Indonesia (JII) Vol. 1, No. 3, Maret 2022 294
berpartisipasi dari
beberapa
masyarakat.
masyarakat Kecamatan Jenawi yaitu masih
adanya keraguan kinerja dari pihak
pemerintah, dan masih ada masyarakat yang
pesimis terhadap pembangunan desa wisata
serta tidak memiliki waktu untuk
berpartisipasi.
2.
Banyaknya pesaing
wisata alam lain di
Kabupaten
Karanganyar
Kawasan desa wisata di Kecamatan Jenawi
memiliki banyak persaingan dari wilayah
kecamatan lainnya di Kabupaten
Karanganyar. Pemerintah desa dan
masyarakat dituntut harus berinovasi dan
membuat wilayah mereka menjadi menarik,
agar wisatawan tetap memilih desa mereka
sebagai destinasi wisata.
Objek Wisata di Kecamatan Jenawi
1. Candi Cetho
Objek wisata Candi Cetho secara administratif berada di Dusun Cetho Desa
Gumeng. Candi Cetho terletak di lereng Gunung Lawu bagian Utara, dimana Candi
ini ditandai dengan sebuah gapura bentuknya punden berundak, seperti tempat
peribadatan di zaman kuno. Letak astronomisnya pada koordinat 7o35’44.07” LS dan
110o09’27.96” BT. Candi Cetho berada pada ketinggian 1496 mdpl (meter diatas
permukaan laut) yang termasuk wilayah dataran tinggi. Kompleks Candi Cetho
berbentuk memanjang ke belakang dengan panjang 190 m dan lebar 30 m. Arsitektur
dari Candi Cetho dikatakan mirip seperti peninggalan kebudayaan suku maya dan
Aztec kuno Amerika Tengah (Indrawan, 2020).
Partisipasi masyarakat sekitar Candi Cetho sangat beragam. Masyarakat ada
yang berjualan disekitar Kawasan Candi, ada yang menjadi penjaga parkir, serta ada
juga masyarakat yang menjadikan rumah mereka menjadi tempat penginapan.
Masyarakat yang berjualan umumnya menjual snack ringan dan minuman bagi
pengunjung, kemudian juga ada pedagang keliling yang menjual bakso, cilok dan
sebagainya. Untuk harga penginapan disini ditawarkan mulai harga Rp. 150.000
untuk yang paling murah, serta Rp. 400.000 untuk yang paling mahal dengan
fasilitas lengkap.
2. Candi Kethek
Objek wisata Candi Kethek secara administratif berada di Dusun Cetho Desa
Gumeng. Candi Kethek merupakan sebuah candi yang terletak di lereng Gunung
Lawu bagian utara. Candi ini terletak di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan
Jenawi, Kabupaten Karanganyar, kurang lebih sekitar 500 m di sebelah timur laut
Candi Cetho. Letak astronomisnya pada koordinat 7o35’37.93” LS dan 110o09’37.15”
BT. Candi Kethek berada pada ketinggian 1507 mdpl (meter diatas permukaan laut)
yang termasuk wilayah dataran tinggi (Purwanto, Titasari, & Sumerata, 2017). Untuk
menuju candi, harus melewati jalan setapak dari tanah yang berada di tengah hutan
pinus milik Perhutani.
Pengelola Candi Kethek dan masyarakat saling membantu dalam pembangunan
kawasan Candi dengan menyediakan sarana toilet dan air bersih, kemudian sarana
ibadah, tempat sampah, parkir yang luas serta jaringan listrik serta provider.
Masyarakat di sekitar Candi Kethek memanfaatkan dengan baik keberadaan Candi
untuk mencari rezeki. Masyarakat berpartisipasi dengan menjadi tukang parkir
untuk kawasan candi dan juga berjualan disekitar candi. Masyarakat juga membuka
warung makan untuk disinggahi oleh wisatawan yang ingin sekedar istirahat melepas
penat setelah mengunjungi Candi Kethek.
Dio Ariza Kelana, Agung Wibowo, Dwiningtyas Padmaningrum
Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Desa Wisata (Studi Kasus Kecamatan Jenawi
Kabupaten Karanganyar)
Jurnal Impresi Indonesia (JII) Vol. 1, No. 3, Maret 2022 295
3. Agrowisata Jambu AgraAsri
Objek wisata Agrowisata Jambu AgraAsri secara administratif berada di Dusun
Kadipekso Desa Gumeng. Letak astronomis agrowisata ini pada koordinat
7o35’27.15” LS dan 110o08’18.63” BT. Agrowisata Jambu Merah berada pada
ketinggian 1068 mdpl (meter diatas permukaan laut) yang termasuk wilayah dataran
tinggi di Kecamatan Jenawi.
Objek wisata Agrowisata Jambu Merah AgraAsri ini memiliki lahan yang cukup
luas. Aktifitas atau kegiatan yang dapat dilakukan di objek wisata Agrowisata Jambu
Merah dan Tanggul Asri selain untuk tujuan berwisata dan menikmati liburan, di
Agrowisata Jambu Merah dan Tanggul Asri ini juga dapat belajar mengenai budidaya
jambu merah, dan juga untuk foto- foto karena di objek wisata ini juga banyak
menyediakan spot selfie untuk pengunjung. Terdapat sekitar 5-10 masyarakat sekitar
yang bekerja di agrowisata ini, hal ini dilakukan untuk memberikan lapangan kerja
bagi masyarakat untuk mengurangi jumlah pengangguran.
4. Agrowisata Desa Menjing
Agrowisata Desa Menjing merupakan bagian dari program BUMDES (Badan
Usaha Milik Desa) unggulan yang ada didesa Menjing. Letak astronomis agrowisata
ini pada koordinat 7°32'12.5"LS dan 111°07'15.2" BT. Agrowisata Desa Menjing
berada pada ketinggian 750 mdpl (meter diatas permukaan laut).
Agrowisata Menjing dibangun dengan tujuan menjadi salah satu sarana edukasi
bagi pelajar dan masyarakat di wilayah Kabupaten Karanganyar. Agrowisata ini
sedang dalam tahap pembangunan yang sudah dimulai sejak Agustus 2020,
agrowisata ini nantinya akan memiliki luas sekitar 2 ha dengan pemanfaatan wisata
alam dan pemandangan alam yang ada. Agrowisata Desa Menjing nantinya akan
ditanami pohon alpukat, pohon durian, pohon jambu. Agrowisata ini juga akan
membangun pusat peternakan untuk menambah daya tarik bagi masyarakat.
Nantinya Agrowisata ini akan dikenakan tarif masuk sekitar Rp. 5.000-Rp. 10.000.
Dampak Pembangunan Desa Wisata di Kecamatan Jenawi
1. Dampak Ekonomi
Masyarakat memanfaatkan adanya objek wisata di Kecamatan Jenawi dengan
mengandalkan perekonomian mereka melalui pariwisata. Masyarakat membangun
warung yang diperuntukkan bagi masyarakat yang ingin beristirahat sembari menikmati
suasana alam yang asri di Kecamatan Jenawi. Melihat kenyataan bahwa penghasilan yang
diperoleh dari hasil pertanian relatif kecil dan tidak dapat terlalu diandalkan untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari, maka sebagian masyarakat lokal memutar otak
dengan menjadikan kawasan pertaniannya menjadi kawasan agrowisata. Masyarakat
yang menanam buah-buahan seperti jambu air, alpukat, jambu Kristal dan sebagainya
menjadikan tempat mereka menjadi kawasan agrowisata dengan tiket masuk berkisar Rp.
5.000 sampai Rp. 10.000. Agrowisata di Kecamatan Jenawi nantinya akan menyediakan
warung-warung kecil untuk wisatawan sekedar beristirahat serta adanya pedagang
keliling yang berjualan di kawasan wisata akan membantu perekonomian masyarakat.
2. Dampak Sosial Budaya
Diketahui bahwa dampak sosial yang terjadi selama pembangunan kawasan desa
wisata di Kecamatan Jenawi adalah masyarakat semakin kompak dan semakin akrab
karena sama-sama berpartisipasi dan mendukung pengembangan kawasan desa wisata.
Banyak masyarakat yang ikut serta berpartisipasi dalam pengembangan objek wisata
dengan menjadi penjual souvenir, tukang parkir dan pedagang makanan. Selanjutnya
dengan adanya POKDARWIS, masyarakat semakin kompak dan lebih gotong royong satu
sama lain karna silaturahmi sangat terjalin dengan baik. POKDARWIS ini juga digunakan
sebagai wadah berkomunikasi dalam menyebarkan misi pelestarian budaya, sosial dan
alam, sosial dan alam mampu ikut serta dalam melestarikan dan memberikan informasi
kepada masyarakat lain tentang pelestarian budaya.
Dio Ariza Kelana, Agung Wibowo, Dwiningtyas Padmaningrum
Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Desa Wisata (Studi Kasus Kecamatan Jenawi
Kabupaten Karanganyar)
Jurnal Impresi Indonesia (JII) Vol. 1, No. 3, Maret 2022 296
3. Dampak Lingkungan
Pembangunan kawasan desa wisata di Kecamatan Jenawi memberikan dampak
positif dan negatif terhadap lingkungan. Dampak positif yang timbul adalah masyarakat
mendapat bantuan infrastruktur perbaikan jalan dari pemerintah untuk seluruh wilayah
Kecamatan Jenawi yang menuju ke kawasan objek wisata, selain itu lingkungan juga
makin rapi dan lebih indah karena adanya penataan wilayah kawasan wisata. Dampak
negatif dalam aspek lingkungan dari pembangunan kawasan wisata adalah desa semakin
ramai sehingga mulai adanya polusi udara dari wisatawan.
KESIMPULAN
Pemberdayaan masyarakat yang ada di kawasan desa wisata Kecamatan Jenawi
dilakukan di tingkat individu, kelompok dan organisasi atau kelembagaan. Pemberdayaan
dimulai dari tahap penyadaran, menunjukkan adanya masalah, membantu pemecahan
masalah, menunjukkan pentingnya perubahan, melakukan pengujian, memproduksi dan
publikasi informasi serta pembangunan berbasis masyarakat sehingga tercapailah tujuan
pembangunan desa wisata yang ingin mensejahterakan masyarakat di Kecamatan Jenawi,
Kabupaten Karanganyar.
Partisipasi masyarakat Kecamatan Jenawi dalam pembangunan desa wisata di
Kecamatan Jenawi tergolong sangat aktif dimulai dari tahap perencanaan hingga tahap
implementasi tercermin dengan masyarakat yang membuka warung di sekitar objek wisata,
masyarakat yang menjadi tukang parkir, pedagang keliling, serta masyarakat yang
menyediakan penginapan bagi wisatawan yang membutuhkan.
Dampak yang timbul dengan adanya pembangunan kawasan desa wisata di Kecamatan
Jenawi di bidang ekonomi sangat positif karena membuka lapangan pekerjaan yang luas.
Dampak di bidang sosial budaya ada dampak positif dan dampak negatif, dampak positif
tumbuhnya rasa untuk gotong royong dan bekerjasama yang semakin menyatukan
masyarakat, kemudian adanya perkembangan budaya serta usaha perlindungan terhadap
budaya lokal, untuk dampak negatifnya yaitu menyebabkan hilangnya kebudayaan lokal, dan
perusakan terhadap cagar budaya. Dampak yang timbul di bidang lingkungan ada positif dan
ada negatif, dampak positifnya adalah infrastruktur jalan diperbaiki dan desa menjadi lebih
tertata rapi, dampak negatifnya adalah mulai adanya pencemaran udara.
BIBLIOGRAFI
Barnett, Robert C., & Weidenfeller, Nancy. (2016). The Dynamics Of Planned Organizational
Change. Consultation For Organizational Change (Revisited), 328. Google Scholar
DA, Nur Rahmat Ardi Candra. (2020). Branding: Video-Foto Instagramable Bagi Pokdarwis
Dharma Jati & Komunitas Seni Thinthir Dalam Pengembangan Desa Wisata
“ABS”(Alam–BudayaSpiritual) Di Desa Anggrasmanis, Kabupaten Karanganyar. Abdi
Seni, 11(1), 6374. Google Scholar
Dewi, Made Heny Urmila. (2013). Pengembangan Desa Wisata Berbasis Partisipasi
Masyarakat Lokal Di Desa Wisata Jatiluwih Tabanan, Bali. Jurnal Kawistara, 3(2).
Google Scholar
Dita, Almira, Kusumawati, Andriani, & Sos, S. (2021). Implementasi Community Based
Tourism (Cbt) Dalam Mewujudkan Program Visit Sumenep 2018 Untuk Mendukung
Sustainable Tourism (Studi Pada Kelompok Sadar Wisata Gili Labak, Kabupaten
Sumenep. Universitas Brawijaya. Google Scholar
Frensya Latuasan, Windri. (2019). Pengembangan Produk Wisata Di Pantai Hunimua Desa
Liang Kabupaten Maluku Tengah. Google Scholar
Indrawan, Surya Nur. (2020). Perancangankampanye Keselamatan Pendakiandalam Gerakan
Salam Safety Di Gunung Lawu Jalur Cemoro Sewu. ISI Surakarta. Google Scholar
Oktaviarni, Firya. (2018). Perlindungan Hukum Terhadap Wisatawan Menurut Undang-
Undang Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan. Wajah Hukum, 2(2), 138145.
Google Scholar
Pangestuti, Anggun. (2020). Peran Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Kabupaten Rokan
Dio Ariza Kelana, Agung Wibowo, Dwiningtyas Padmaningrum
Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Desa Wisata (Studi Kasus Kecamatan Jenawi
Kabupaten Karanganyar)
Jurnal Impresi Indonesia (JII) Vol. 1, No. 3, Maret 2022 297
Hulu Dalam Membina Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) The Caretaker (Studi
Kasus: Pengembangan Objek Wisata Suligi Hill). Universitas Islam Negeri Sultan Syarif
Kasim Riau. Google Scholar
Permadi, Lalu Adi, Asmony, Thatok, Widiana, Harmi, & Hilmiati, Hilmiati. (2018).
Identifikasi Potensi Desa Wisata Di Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur. Jurnal
Pariwisata Terapan, 2(1), 3345. Google Scholar
Purwanto, Heri, Titasari, Coleta Palupi, & Sumerata, I. Wayan. (2017). Candi Kethek: Karakter
Dan Latar Belakang Agama. Forum Arkeologi, 30(2), 101112. Google Scholar
Saputra, Evan. (2019). Bentuk Partisipasi Masyarakat Dalam Mengembangkan Kampung
Wisata Kungkuk. JISIP: Jurnal Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, 8(4), 316324. Google
Scholar
Saputra, Romi. (2018). Pengembangan Potensi Pariwisata Berbasis Kampung Tematik Dalam
Mendukung Pembangunan Sektor Pariwisata Di Kota Bogor. Google Scholar
Sidiq, Ade Jafar, & Resnawaty, Risna. (2017). Pengembangan Desa Wisata Berbasis Partisipasi
Masyarakat Lokal Di Desa Wisata Linggarjati Kuningan, Jawa Barat. Prosiding
Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(1), 3844. Google Scholar
Widayuni, Rifqy. (2019). Partisipasi Masyarakat Dalam Pengembangan Desa Wisata Di Desa
Sidokaton Kecamatan Gisting Kabupaten Tanggamus. UIN Raden Intan Lampung.
Google Scholar
Widyahusada, Alfaridho Firdaus, Sukarno, Bedjo, & Nurati, Dian Esti. (2016). Efektivitas
Website Pememerintah Kabupaten Karanganyar Sebagai Sumber Informasi
Kepariwisataan Remaja. Transformasi, 2(29). Google Scholar