STRATEGI
PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU (PPDB) SMPIT IBNU KHALDUN PANAMBANGAN� DENGAN MENGGUNAKAN BLUE OCEAN STRATEGY
Ita Lailasari
Institut Agama Islam Bunga
Bangsa Cirebon, Jawa Barat, Indonesia
|
|
Abstract |
|
|
Received: |
11-01-2022 |
This paper is motivated by the problem
of an unprecedented educational emergency, the coronavirus-19 pandemic has
caused the impact of school closures which puts 9.7 million children at risk
of permanently dropping out of school, based on UNESCO data which shows that
in April 2020 1, 6 billion students were dismissed from schools and
universities due to measures to suppress the spread of Covid-19. This figure
represents about 90% of the entire student population in the world. This has
caused many schools to go bankrupt, for that there needs to be a
transformation, one of which is the New Student Admission (PPDB) to save the
continuity of education and to increase access to quality education without
discrimination. The purpose of this study was to
determine the analysis of the internal environment, the external environment
and to find out how the implementation of the blue ocean strategy principle
in the New Student Admission (PPDB) SMPIT Ibnu Khaldun Panambangan. This study uses qualitative methode
primary data sources and secondary data sources from the PPDB SMPIT Ibnu
Khaldun Panambangan New Student Admission activities. Data were collected
using field study techniques. Data analysis was carried out with data
reduction stages through code analysis, data presentation, verification and
conclusions. The results of this study provide
information that the analysis of the internal and external environment
produces a Grand Strategy Matrix that is in accordance with the strategy
canvas in the formulation of the blue ocean tool. The conclusion obtained is that the
implementation of the blue ocean strategy at SMPIT Ibnu Khaldun is able to
overcome obstacles and even exceed the demand and make SMPIT Ibnu Khaldun
Panambangan have a high number of student enthusn iasts and even exceed the
predetermined quota of 100 (one hundred) student. |
|
Accepted: |
11-01-2022 |
|
|
Published: |
20-01-2022 |
|
|
Keywords: |
strategy; PPDB; blue
ocean strategy |
|
|
|
Abstrak |
|
|
Kata kunci: |
strategi; PPDB; blue ocean strategy |
Skripsi ini dilatarbelakangi oleh
adanya problematik mengenai darurat pendidikan yang belum pernah terjadi
sebelumnya, pandemi virus corona-19 telah menyebabkan dampak penutupan
sekolah yang berisiko 9,7 juta anak mengalami putus sekolah secara permanen,
berdasarkan data UNESCO yang menunjukkan bahwa pada bulan April 2020 1,6� miliar pelajar diliburkan dari sekolah dan
universitas karena langkah-langkah untuk menekan penyebaran Covid-19. Angka
tersebut merupakan sekitar 90% dari seluruh populasi siswa didunia. Hal ini
membuat banyak sekolah-sekolah mengalami kebangkrutan, untuk itu perlu adanya
transformasi salah satunya dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) untuk
menyelamatkan keberlangsungan pendidikan dan untuk meningkatkan akses
pendidikan yang berkualitas tanpa diskriminasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui analisis lingkungan internal, lingkungan eksternal dan mengetahui
bagaimana penerapan prinsip blue ocean
strategy dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMPIT Ibnu Khaldun
Panambangan. Penelitian ini menggunakan meode
kulitatif dengan sumber data primer dan sumber data sekunder dari kegiatan
Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMPIT Ibnu Khaldun Panambagan. Data
dikumpulkan dengan teknik studi lapangan. Analisis data dilakukan dengan
tahapan reduksi data melalui analisis kode, penyajian data, verifikasi dan
kesimpulan. Hasil penelitian ini memberikan
informasi bahwa analisis lingkungan internal dan eksternal menghasilkan
Matrix Grand Strategy yang sesuai dengan kanvas strategi pada perumusan alat
blue ocean. Kesimpulan yang diperoleh adalah
penerapan blue ocean strategy pada
SMPIT Ibnu Khaldun mampu mengatasi hambatan bahkan menjangkau melampuai
permintaan yang ada dan mejadikan SMPIT Ibnu Khaldun Panambangan memiliki
jumlah peminat siswa yang tinggi bahkan melebihi kuota yang sudah ditentukan
yaitu sebanyak 100 (seratus) siswa. |
Corresponding Author: Ita Lailasari
E-mail: [email protected]
�
PENDAHULUAN
Menurut Survei
Pendidikan Dunia, Indonesia berada pada peringkat 72 (tujuh puluh dua) dari 77
(tujuh puluh tujuh) negara. International
Student Assessment Program (PISA) merilis Student Abilities Survey di Paris pada Selasa (12 Maret 2019),
menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-72 (tujuh puluh dua) dari 77
(tujuh puluh tujuh) negara. Data ini menempatkan Indonesia di peringkat enam
terbawah, masih jauh di bawah negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei
Darussalam. Survei PISA menjadi acuan untuk menilai kualitas pendidikan di
dunia yang menilai keterampilan membaca, matematika, dan sains. Peringkat PISA
dari Organization for Economic
Cooperation and Development (OECD) menunjukkan kualitas pendidikan dunia.
Pemeringkatan ini dipandang memungkinkan pendidik dan pembuat kebijakan untuk
belajar dari kebijakan dan praktik yang diterapkan di negara/kawasan lain. OECD
mulai melaksanakan tes ini pada tahun 2000, dan sebagian besar negara berpenghasilan
menengah dan tinggi telah berpartisipasi di dalamnya. Tes PISA menjadi
indikator penting untuk mengukur tingkat pendidikan karena memberikan
perspektif yang berbeda dari ujian nasional.
Pendidikan
merupakan satu komoditi yang selalu harus menjadi bahan perbincangan dan
dibutuhkan bagi setiap lapisan masyarakat. Yang menjadi permasalahan adalah
berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk hal
ini,berdampak bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Terlihat jelas bahwa
pendidikan merupakan saham yang besar dalam rangka perbaikan kualitas manusia
Indonesia di masa mendatang. Ukuran kualitas mengarah pada upaya perbaikan dan
peningkatan terhadap kualitas sumber daya manusia yang beriman berilmu, cerdas,
terampil dan mampu menghadapi berbagai masalah dan tantangan hidup di masa
sekarang dan yang akan datang (Muslimah,
Aziz, & Rapiko, 2021).
Masalah ini
menyebabkan masyarakat yang dirasa tidak mampu tidak dapat mengenyam pendidikan
di lembaga pendidikan yang berkualitas sehingga masyarakat kurang mampu hanya
dapat mengenyam pendidikan yang kurang berkualitas di lembaga pendidikan biasa.
Seharusnya pendidikan yang berkualitas di Indonesia itu berlaku untuk seluruh
warga negara tanpa terkecuali bukan hanya golongan-golongan atas saja, padahal
pendidikan di Indonesia merupakan hak asasi yang harus dipenuhi dari lembaga
atau institusi yang menyelenggarakan pendidikan yang diberikan secara merata.
Mengingat pentingnya pendidikan untuk semua warga, sehingga posisinya sebagai
salah satu bidang yang mendapat perhatian serius dalam konstitusi Negara kita,
dan menjadi salah satu tujuan didirikannya Negara Republik Indonesia.
SMPIT Ibnu
Khaldun juga merupakan salah satu sekolah yang berhasil merekrut siswa barunya pada
Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran pertamanya yaitu 2021/2022
dengan jumlah siswa sebanyak 100 (seratus) siswa. Hal ini dibuktikan dengan
wawancara peneliti kepada Kepala Bidang SMP dan Koordinator Pengawas Dinas
Pendidikan Kabupaten Cirebon yang membenarkan bahwa dalam dalam hal ini SMPIT
Ibnu Khaldun memiliki capaian yang luar biasa dengan jumlah 100 (seratus)
siswa, selain SMPIT Ibnu Khaldun keberhasilan dalam capaian 100 siswa juga
pernah dilakukan oleh salah satu SMP/MTs yang tergabung dalam pondok pesantren,
namun itu juga sangat jarang sekali dan bahkan hanya 1-2 sekolah, selebihnya
sangat jarang sekali dan bahkan tidak ada pencapaian maksimal pada penerimaan
peserta didik baru awal.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini
menggunakan sebuah pendekatan yang dikenal dengan pendekatan kualitatif
deskriptif. Sebagaimana menurut Wina Sanjaya, penelitian deskriptif kualitatif
adalah metode penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan secara utuh dan
mendalam tentang realitas sosial dan berbagai fenomena yang terjadi di
masyarakat yang menjadi subjek penelitian sehingga tergambar ciri, karakter,
sifat, dan model dari fenomena tersebut. Metode kualitatif adalah metode
penelitian yang bersifat induktif dimana posisi peneliti sebagai instrumen penelitian
dan subjektivitas berdasarkan interpretasi peneliti. Penelitian ini bertujuan
untuk mendeskripsikan segala sesuatu yang berkaitan dengan strategi penerimaan
peserta didik baru di SMPIT Ibnu Khaldun. Hal ini berdasarkan pada teori (Miles & Huberman, 1984), yang
mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara
interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya
jenuh. Ukuran kejenuhan data ditandai dengan tidak diperolehnya lagi data atau
informasi baru.
Penelitian
kualitatif mengkaji perspektif partisipan dengan strategi-strategi yang
bersifat interaktif dan fleksibel. Penelitian kualitatif ditujukan untuk
memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut pandang partisipan (Hermawan, 2019). Dalam
penelitian kualitatif peneliti menjadi instrumen utama dalam proses pengumpulan
data di lapangan. Tidak ada alat yang paling elastik untuk mengungkapkan data
kualitatif kecuali peneliti itu sendiri, artinya manusia sebagai instrumen
kunci adalah peneliti sebagai pengumpul data utama. Maka dari itu bacaan yang
luas dan up to date merupakan syarat mutlak yang perlu dilakukan seorang
peneliti guna mendalami teori yang relevan dengan permasalahan yang hendak dipecahkan,
menganalisis, dan mengkonstruksi objek yang diteliti menjadi lebih jelas.
Teknik
pengumpulan data adalah cara yang dilakukan oleh untuk mendapatkan data-data
dari sekelompok individu, organisasi, atau masyarakat yang akan digunakan untuk
menjawab permasalahan penelitian. Pengumpulan data tidak lain adalah suatu
proses penyediaan data untuk keperluan penelitian (Kebudayaan, 2007).
1. Wawancara
Wawancara
merupakan salah satu teknik yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data
penelitian. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa wawancara adalah suatu
kejadian atau proses interaksi antara pewawancara dan sumber infromasi atau
orang yang diwawancarai melalui komunikasi langsung. Dapat pula dikatakan bahwa
wawancara merupakan percakapan tatap muka antara pewawancara dengan sumber
informasi, dimana pewawancara bertanya langsung tentang suatu objek yang
diteliti dan telah dirancang sebelumnya (Yusuf, 2016).
2. Observasi
Observasi adalah
teknik pengumpulan data yang mengharuskan untuk turun ke lapangan mengamati
hal-hal yang berkaitan dengan ruang, tempat, pelaku, kegiatan, waktu, peristiwa
tujuan dan perasaan.
3. Studi dokumentasi
Gottschalk
menyatakan bahwa dokumen (dokumentasi) dalam pengertian yang lebih luas berupa
setiap proses pembuktian yang didasarkan atas jenis sumber apapun, baik yang
bersifat tulisan, seperti; catatan harian, life histories, ceritera, biografi,
peraturan, kebijakan, dan lainnya. Atau berbentuk tulisan, seperti; foto,
gambar hidup, sketsa, dan lainnya. Bentuk karya, seperti; karya seni berupa
gambar, patung, film, dan lainnya. Data dalam penelitian kualitatif sebagian
besar diperoleh dari sumber manusia atau human resources, melalui observasi dan
wawancara. Akan tetapi ada pula sumber bukan manusia (non human resources) diantaranya dokumen, foto dan bahan statistik (Nilamsari, 2014). Studi
dokumentasi dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan dokumen-dokumen
berupa foto/gambar yang berkenaan dengan kegiatan proses penerimaan peserta
didik baru di SMPIT Ibnu Khaldun.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Analisis Lingkungan Internal SMPIT Ibnu Khaldun
SMPIT
Ibnu Khaldun adalah salah satu sekolah yang berada di Desa Panambangan
Kecamatan Sedong Kabupaten Cirebon. SMPIT
Ibnu Khaldun ini berdiri pada tahun 2020 yang didirikan oleh Yayasan Mansyur Al
- Makki dan dikelola oleh perusahaan CV. Syntax Corporation Indonesia. CV.
Syntax Corporation Indonesia ini merupakan perusahaan yang bergerak dibidang
pengembangan pendidikan, Pendiri CV. Syntax Corporation Indonesia juga
merupakan ketua yayasan Mansyur Al - Makki, selain sebagai seorang pebisnis
ketua yayasan juga merupakan pakar dalam bidang pendidikan. Dengan demikian
SMPIT Ibnu Khaldun dikelola oleh lembaga dan individu yang memiliki kompetensi
dalam bidang pendidikan, sehingga pengelolaannya akan dilakukan secara
profesional.
Pendidikan
berkualitas terkenal dengan pendidikan yang mahal, misalnya salah satu sekolah
TK yang ada di Jakarta, mampu merogoh biaya yang fantasitis dikisaran 400 juta
per tahun, ini baru setingkat taman kanak-kanak, kemudian setingkat sekolah
dasar sampai menengah keatas bisa lebih dari itu biayanya.
SMPIT
Ibnu Khaldun hadir sebagai jawaban atas kebutuhan pendidikan modern dan
membuktikan bahwa sekolah berkualitas itu tidak perlu mahal. Sekolah yang
berada di bawah naungan Yayasan Mansyur Al Makki ini yang dikelola penuh oleh
Syntax Corporation Indonesia, perusahaan pengembangan pendidikan dan IT mampu
menghadirkan fasilitas yang terbaik, di dalamnya terdapat fasilitas yang modern
dan representatif, diantaranya gedung dua tingkat, lab komputer, wifi, halaman
parkir yang luas, tenaga pendidik dan kependidikan yang kompeten dibidangnya
dan tentunya masih banyak lagi fasilitas lainnya, bahkan untuk Penerimaan
Peserta Didik Baru (PPDB) tahun pertama SMPIT Ibnu Khaldun memberikan beasiswa
sepenuhnya sampai 115 siswa. Berdasarkan wawancara dengan Ketua Yayasan dan
Pengelola Sekolah maka didapatkan analisis internal sebagai berikut:
a. Kekuatan (Strenght)
SMP IT Ibnu Khaldun memiliki
beberapa kekuatan antara lain :
1)
Satu-satunya sekolah yang
dikelola oleh perusahaan di Kecamatan Sedong
2)
Satu-satunya sekolah dengan visi
sesuai dengan perkembangan zaman pencetak digital moeslim Generation.
3)
Tenaga pendidik dan kependidikan
profesional dan ahli di bidangnya dengan jumlah yang memadai.
4)
Memiliki organisasi dan manajemen
yang dinamis terbuka dan partisipasif
5)
Memiliki sarana dan prasarana
modern dan representatif
6)
Biaya gratis
b. Kelemahan (Weakness)
SMP IT Ibnu Khaldun masih
memiliki beberapa kelemahan yang perlu untuk diperbaiki kelemahan tersebut
antara lain :
1)
Sekolah berada di wilayah yang
kurang strategis dengan jalan masuk kurang lebar
2)
Pembangunan fasilitas masih
dilakukan secara bertahap
2. Analisis Lingkungan Eksternal SMPIT Ibnu Khaldun
Faktor eksternal adalah semua
kejadian diluar sekolah yang memiliki potensi untuk mempengaruhi sekolah adalah
:
a. Sosial
Pengaruh sosial dilingkungan
tidak terlepas dari interaksi dengan masyarakat sekitar. Masyarakat merupakan
salah satu faktor pendukung yang sangat penting dalam kemajuan suatu suatu
lembaga pendidikan. Hal ini dibuktikan dengan tingginya antusias masyarakat
untuk mendaftar di SMPIT Ibnu Khaldun yaitu sebanyak 115 siswa.
b. Pemerintah
Pemerintah masih bersekala kepala
lingkungan setempat untuk memberikan izin dalam pengoperasian lembaga
pendidikan, adanya hubungan baik dengan lingkungan sosial dan pemerintah
setempat membuat suatu lembaga pendidikan berjalan dengan sangat baik, yaitu dalam
mendirikan SMPIT Ibnu Khaldun ini mendapatkan dukungan dari Desa, Kecamatan dan
Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon.
c. Teknologi
Kemajuan teknologi memberikan
manfaat bagi kemajuan lembaga pendidikan dalam memasarkan dan memperkenalkan
sekolahnya dengan segmen pasar yang lebih luas. Sehingga SMPIT Ibnu Khaldun
mampu menjaring dari tiga wilayah kecamatan yang ada di sekitar bahkan ada
saslah satu siswa yang bersal dari Jawa Timur.
d.
Lembaga Pendidikan di Wilayah
sekitar
Adanya dukungan dari lembaga
pendidikan di wiayah sekitar adalah untuk keberlangsungan lembaga itu sendiri,
SMPIT Ibnu Khladun sendiri sudah mendapatkan dukungan dari lembag pendiidkan
sekitar dan organisasi profinsi yang ada di kecamatan.
Pendirian SMPIT Ibnu
Khaldun mendapat dukungan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon, dibuktikan
dengan adanya izin operasional SMP IT Ibnu Khaldun. Selain itu dukungan juga
diberikan oleh lembaga pendidikan sejenis berupa surat rekomendasi dari tiga
SMP terdekat. Potensi pendirian SMP IT Ibnu Khaldun cukup besar mengingat masih
jarangnya SMP di Kecamatan Sedong. Berdasarkan data Kecamatan Sedong dalam
Angka 2019, jumlah penduduk Kecamatan Sedong sebanyak 40.675 orang dengan total
luas wilayah 31,74 Km2 serta terdiri dari 10 desa. Masih berdasarkan sumber yang
sama, jumlah sekolah dasar di Kecamatan Sedong sebanyak 22 sekolah sedangkan
SMP yang ada di Kecamatan Sedong baru ada dua sekolah dan MTs yang ada di
Kecamatan Sedong juga baru ada dua sekolah, jadi total SMP/MTs nya ada 4
(empat). Sedangkan kebutuhan lulusan SD yang akan masuk ke jenjang SMP cukup
banyak. Berdasarkan data Kecamatan Sedong dalam Angka 2019, jumlah SD yang ada
di Kecamatan Sedong sebanyak 23 dengan jumlah murid mencapai 2.770. Berikut ini
tabel yang menunjukan persebaran siswa SD di Kecamatan Sedong.
Tabel 1
Data Nama
Sekolah Di Kecamatan Sedong
|
No |
Sekolah |
Jumlah Siswa |
|
1 |
SDN 1 Karangwuni |
159 |
|
2 |
SDN 2 Karangwuni |
115 |
|
3 |
SDN 3 Karangwuni |
21 |
|
4 |
SDN 1 Sedong Kidul |
123 |
|
5 |
SDN 2 Sedong Kidul |
110 |
|
6 |
SDN 3 Sedong Kidul |
81 |
|
7 |
SDN 1 Sedong Lor |
95 |
|
8 |
SDN 2 Sedong Lor |
79 |
|
9 |
SDN 3 Sedong Lor |
89 |
|
10 |
SDN 1 Windujaya |
134 |
|
11 |
SDN 2 Windujaya |
126 |
|
12 |
SDN 1 Winduhaji |
118 |
|
13 |
SDN 2 Winduhaji |
81 |
|
14 |
SDk���� Kertawangun |
90 |
|
15 |
SDN 1 Panambangan |
122 |
|
16 |
SDN 2 Panambangan |
123 |
|
17 |
SDN 1 Putat |
290 |
|
18 |
SDN 2 Putat |
175 |
|
19 |
SDN 1 Panongan |
187 |
|
20 |
SDN 2 Panongan |
104 |
|
21 |
SDN 1 Panonganlor |
186 |
|
22 |
SDN 2 Panonganlor |
132 |
|
21 |
SDIT ��Panambangan |
30 |
|
TOTAL |
2770 |
|
Sumber
: https://referensi.data.kemdikbud.go.id
Dengan demikian
pendirian SMPIT Ibnu Khaldun dapat menjadi alternatif bagi lulusan SD/MI
khususnya di Kecamatan Sedong yang ingin melanjutkan pendidikan ke SMPIT.
Peminatan siswa SD di Kecamatan Sedong yang ingin melanjutkan pada tingkat
SMPIT cukup besar. Berdasarkan wawancara dengan beberapa SD yang ada di Kecamatan
Sedong, sebanyak 60-70% lulusan SD memiliki pemintauntuk melanjutkan ke SMPIT.
Hal ini juga sesuai dengan survey yang dilakukan di beberapa SD di Kecamatan
Sedong terkait dengan peminatan melanjutkan ke SMPIT, dengan hasil sebagai
berikut:
Gambar 1
Hasil Survey
Peminatan Jenis Sekolah
Berdasarkan diagram di atas sebanyak 65% tertarik
untuk melanjutkan ke SMPIT. Dengan demikian peminatan siswa SMPIT di Kecamatan
Sedong cukup tinggi.
a)
Peluang (Oppurtunity)
Peluang yang dapat diraih oleh SMPIT Ibnu Khaldun yang
berasal dari lingkungan luar antara lain adalah
1) Tersedianya bantuan
pendidikan dari pemerintah baik pusat maupun daerah
2) Terbukanya kesempatan
Diklat bagi tenaga pendidik
3) Lembaga pusat
pengembangan dan Penataran guru (PPG) dalam pengembangan
b.
�Tantangan (Threatment)
Tantangan dari dalam dan luar yang harus dihadapi oleh
SMPIT Ibnu Khaldun antara lain Sekolah-sekolah sejenis yang ada di sekitar
melakukan reform.
3. Penerapan Prinsip Blue Ocean Strategy SMPIT Ibnu Khaldun
a. Merekonstruksi
Batasan-Batasaan Pasar
Enam pendekatan dasar
untuk membentuk ulang batasan-batasan pasar yaitu :
1) �Mencermati industri-industri alternatif
Berdasarkan hasil dari analisis lingkungan internal
yang dilakukan oleh SMPIT Ibnu Khaldun membuktikan bahwa jumlah Sekolah
Menengah Pertama di kecamatan Sedong masih sangat minim yaitu sebanyak empat
sekolah sedangkan jumlah sekolah tingkat dasar yang tersebar di Kecamatan
Sedong sebanyak 22 (dua puluh dua) sekolah. Hal ini jelas menjadi peluang besar
untuk SMPIT Ibnu Khaldun untuk dapat menciptakan sebuah produk atau jasa
pendidikan yang memiliki bentuk berbeda, tapi menawarkan fungsi atau
utilitas/manfaat inti dan tujuan yang sama.
2) Mencermati
kelompok-kelompok strategis dalam industri
Sebagaimana samudra biru dapat diciptakan dengan
mencermati industri industri alternatif, samudra biru juga bisa dikuak dengan
mencermati kelompok-kelompok strategis, dengan pengamatan yang sudah dilakukan,
SMPIT Ibnu Khaldun juga mencermati strategi apa saja yang digunakan oleh lembaga
jasa pendidikan di sekitarnya sehingga strategi yang digunakan SMPIT Ibnu
Khaldun mampu menciptakan formula strategi baru kemudian mengoptimalkan
strategi tersebut dengan maksimal.
3) Mencermati rantai
pembeli
Dalam mencermati rantai pembeli atau peminat, hampir
semua kompetitor memiliki definisi yang sama terkait siapa sasaran mereka,
padahal nyatanya pembeli atau peminat yang terlibat secara langsung dan tidak
langsung itu berbeda, dan menghasilkan keputusan yang berbeda pula. Disaat
kompetitor disibukan oleh melakukan sehingga SMPIT Ibnu Khaldun melakukan apa
yang tidak dilakukan oleh kompetitornya dalam mengolah keputuan pembeli/peminat.
4) Mencermati penawaran
produk dan jasa pelengkap
Banyak sekali kompetitor yang tidak jeli dalam
mencermati penawaran produk dan jasa-jasa pelengkap yang beredar dimana-mana
padahal dengan adanya penawaran dan jasa pelengkap tersebut dapat mempengaruhi
nilai suatu produk tersebut. Tentunya di SMPIT Ibnu Khaldun memiliki strategi
tersendiri untuk menangani hal-hal seperti itu.
5) Mencermati daya tarik
emosional atau fungsional bagi pembeli
SMPIT Ibnu Khaldun tidak terfokus pada konsep umum
cakupan produk, melainkan memainkan perankan untuk menerapkan daya tarik yang
bersifat perasan sehingga daya tarik mereka emosional sedangkan yang dilakukan
kompetitor lainnya adalah dengan daya tarik rasional
6) Mencermati waktu
Seiring berjalannya waktu teknologi semakin hari kian
canggih, untuk itu SMPIT Ibnu Khaldun berusaha untuk terus berkembang menjadi
solusi bagi kabanyakan orang dan menjadi lembaga pendidikan yang menjawab
tantangan zaman.
b. Fokus pada Gambaran
Besar Bukan Angka
Prinsip ini merupakan
kunci yang digunakan SMPIT Ibnu Khaldun untuk mengurangi resiko perencanaan
investasi tenaga dan waktu yang terlalu besar dengan hasil hanya berupa langkah
taktis samudra merah yaitu dengan membuat kanvas strategi. Kemampuan SMPIT Ibnu
Khaldun dalam mengidentifikasi pesaing dapat dilakukan dengan adanya tim riset
kompetitor dalam perusahaan yang bertugas mengidentifikasi komptitor di
lapangan. Hasil riset tersebut digambarkan dalam skema yang dapat
memperlihatkan faktor yang dimiliki pesaing namun tidak dimiliki SMPIT Ibnu
Khaldun. Berikut adalah skema empat langkah kerja dalam memvisualisasi strategi
:
Tabel 2
Empat langkah kerja
visualisasi strategi
|
HAPUSKAN |
TINGKATKAN |
|
1. Best input 2.Fokus di satu target pasar |
1. Best process 2. Kualitas output 3. Kualitas SDM |
|
KURANGI |
CIPTAKAN |
|
1.
Kurikulum Pembelajaran yang monoton |
1.� Garansi 2.
Kurikulum yang berfokus pada kompetensi |
c. Menjangkau Melampaui Permintaan yang Ada
Menjangkau
tiga tingkatan nonkonsumen pada SMPIT Ibnu Khaldun dilakukan dengan
memperhatikan:
1) Soon-to-be (Calon)
Nonkonsumen SMPIT Ibnu Khaldun
pada tingkat ini adalah siswa lulusan SD dan juga orang tua siswa. Hal ini
dapat dilakukan dengan terus mengedukasi siswa untuk memahami betapa pentingnya
menjadi Digital Moslem Generation . Banyak akun youtube perusahaan atau lembaga
yang telah memuat banyak konten mengenai generasi digital dan itu dimanfaatkan
oleh SMPIT Ibnu Khaldun sebagai referensi konten edukasi.
2)
Refused (Menolak)
Nonkonsumen SMPIT Ibnu Khaldun
pada tingkat ini adalah siswa yang sudah tidak termasuk ke dalam daftar target
sasaran SMPIT Ibnu Khaldun atau diluar dari kuota yang telah ditentukan.
3)
Unexplored (Belum Tereksplorasi)
SMPIT Ibnu Khaldun menekankan
pendidikan yang berbasis kompetensi dan dari awal berdirinya merupakan sekolah
yang dikelola oleh perusahaan sehingga target sasaran nonkonsumennya bukan
hanya siswa lulusan SD dan juga orang tua melainkan semua tingkat atau jenjang
pendidikan bahkan semua usia secara tidak langsung dapat tercipta pasar baru.
d. Melakukan Rangkaian Strategis Secara Benar
Rangkaian
strategis yang dilakukan SMPIT Ibnu Khaldun dapat dilihat dengan manfaat yang
ditawarkan pada pengguna jasa pendidikan dan kesejahteraan bagi internal maupun
eksternal SMPIT Ibnu Khaldun. Utilitas atau manfaat istimewa yang ditawarkan
SMPIT Ibnu Khaldun pada pengguna jasa pendidikan adalah nilai sosial dengan
menggratiskanbiaya pendidikan dan kualitas yang ekspert dibidangnya, serta
bergaransi dan rangkaian strategi ini dilakukan secara TSM (terstruktur,
sistematis, masif).
e. Mengatasi Rintangan-Rintangan Utama Organisasi
Hambatan
sumber daya pada SMPIT Ibnu Khaldun terletak pada kurangnya jumlah sumber daya manusia yang berkualitas dalam sosialisasi jasa pendidikan
SMPIT Ibnu Khaldun padahal marketing menjadi kunci dalam keberhasilan
perusahaan atau alembaga pendidikan. Untuk mengatasi hambatan motivasional,
SMPIT Ibnu Khaldun menerapkan sistem peningkatan kompetensi pada tenaga
pendidik untuk menjadi sumber daya manusia yang unggul, memiliki banyak skill
berdasarkan kinerjanya.
f.
Mengintegrasikan Eksekusi ke
dalam Strategi
SMPIT
Ibnu Khaldun tidak mengutamakan kemampuan seseorang ketika hendak merekrut
tenaga pendidik dan kependidikan baru, tetapi cenderung memperhatikan apakah
calon tenaga pendidik dan tenaga kependidikan memiliki kesamaan visi dengan
lembaganya dalam upaya meningkatkan pendidikan SMPIT Ibnu Khaldun yang
memberikan dampak sosial. Hal ini dapat dibenarkan karena setelah menjadi
tenaga pendidik dan kependidikan, mereka akan dibekali dengan marketing kit
oleh perusahaan berupa materi dan banner. Dengan begitu mereka dapat belajar bagaimana
meningkatkan jumlah siswa, dan masih banyak lagi, sehingga yang memiliki
kemampuan kurang tetap bisa belajar untuk meningkatkannya.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil
penelitian kualitatif dengan teknik observasi,�
wawancara dan dokumentasi yang dilaksanakan di SMPIT Ibnu Khaldun
Panambangan� tentang strategi penerimaan
peserta didik baru SMPIT Ibnu Khaldun Panambangan dengan menggunakan blue ocean strategy� dapat diambil beberapa kesimpulan. Kesimpulan
tersebut dipaparkan sebagai berikut:
1. Analisis lingkungan internal di SMPIT Ibnu Khaldun diantaranya
yaitu (a)Satu-satunya sekolah yang dikelola oleh perusahaan di Kecamatan Sedong
(b) Satu-satunya sekolah dengan visi sesuai dengan perkembangan zaman pencetak
digital moeslim generation (c) Tenaga pendidik dan kependidikan profesional dan
ahli di bidangnya dengan jumlah yang memadai. (d) Memiliki organisasi dan
manajemen yang dinamis terbuka dan partisipasif (e) Memiliki sarana dan
prasarana modern dan representatif (f) Biaya gratis.
2. Faktor eksternal adalah semua kejadian diluar sekolah yang
memiliki potensi untuk mempengaruhi sekolah. Katagori faktor eksternal adalah
(a) Sosial (b) Pemerintah (c) Teknologi (d) Lembaga Pendidikan di Wilayah
sekitar.
3. Penerapan blue ocean
strategy pada pada SMPIT Ibnu Khaldun pada praktiknya mampu mengatasi
hambatan bahkan menjangkau melampuai permintaan yang ada pada blue ocean strategy dan mejadikan SMPIT
Ibnu Khaldun memiliki jumlah peminat siswa yang tinggi bahkan melebihi kuota
yang sudah ditentukan yaitu sebanyak 100 (seratus), dengan adanya animo
masyarakat yang begitu antusias terhadap SMPIT Ibnu Khaldun akhirnya membuka
kuota tambahan sebanyak 15 (lima belas) siswa dan itupun sudah ditutup kembali
karena dalam jangka yang singkat kuotanya sudah terpenuhi kembali.
Penelitian
mengenai strategi penerimaan peserta didik baru pada SMPIT Ibnu Khaldun ini,
sekolah baru yang mampu menjawab kegelisahan peneliti, dimana SMPIT Ibnu
Khaldun ini merupakan sekolah baru dengan reputasi yang sangat baik yang
mencakup delapan standar nasional pendidikan yang meliputi 1) standar isi;
dalam standar isi ini SMPIT Ibnu Khaldun menggunakan kurikulum yang berfokus
pada skill yang akan dimiliki siswa 2) standar proses; pada� prosesnya, SMPIT Ibnu Khaldun menggunakan
multiple intelegent riset 3) standar kompetensi lulusan; ,untuk standar
kompetensi lulusan, SMPIT Ibnu Khaldun memiliki visi untuk mencetak digital
moslem generation 4) standar pendidik dan tenaga kepen- didikan; SMPIT Ibnu Khaldun
memiliki tenaga pendidik dan kependidikan yang masih muda, kompeten dalam
bidangnya dan mau belajar� 5) standar
sarana dan prasarana; fasilitas yang disediakan pada SMPIT Ibnu Khaldun salah
satunya yaitu berupa gedung yang megah, 6) standar pengelolaan; manajemen yang
dilakukan oleh SMPIT Ibnu Khaldun ini dikelola oleh perusahaan 7) standar
pembiayaan; dalam standar pembiayaan SMPIT Ibnu Khaldun melakukan gratifikasi
sampai dengan 3 tahun pada angkatan pertamanya 8) standar penilaian pendidikan.
Penilaian yang dilakukan pada SMPIT Ibnu Khaldun mengikuti standar dinas
pendidikan setempat dan juga memiliki ciri khas tersendiri untuk melakukan
penilaian terhadap siswanya.
Dengan demikian
SMPIT Ibnu Khaldun menjadi harapan baru bagi banyak masyarakat untuk
menghadirkan sekolah yang memanusiakan manusia.
BIBLIOGRAFI
Hermawan, Iwan. (2019). Metode Penelitian Pendidikan:
Kuantitatif, Kualitatif dan Mixed Metode. Jawa Barat: Hidayatul Qur�an
Kuningan. Google Schoolar
Miles, Matthew B., &
Huberman, A. Michael. (1984). Drawing valid meaning from qualitative data:
Toward a shared craft. Educational Researcher, 13(5), 20�30. Google Schoolar
Muslimah, Istania, Aziz,
Djisman, & Rapiko, Rapiko. (2021). EFEKTIVITAS PEMBERIAN REWARD &
PUNISHMENT DALAM MENINGKATKAN KEDISIPLINAN. UIN Sulthan Thaha Saifuddin
Jambi. Google Schoolar
Nilamsari, Natalina. (2014).
Memahami studi dokumen dalam penelitian kualitatif. WACANA: Jurnal Ilmiah
Ilmu Komunikasi, 13(2), 177�181. Google Schoolar
Yusuf, A. Muri. (2016). Metode
penelitian kuantitatif, kualitatif & penelitian gabungan. Prenada
Media. Google Schoolar