STRATEGI PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU (PPDB) SMPIT IBNU KHALDUN PANAMBANGAN  DENGAN MENGGUNAKAN BLUE OCEAN STRATEGY

 

Ita Lailasari

Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon, Jawa Barat, Indonesia

Italailasari082@gmail.com

 

 

Abstract

Received:

11-01-2022

This paper is motivated by the problem of an unprecedented educational emergency, the coronavirus-19 pandemic has caused the impact of school closures which puts 9.7 million children at risk of permanently dropping out of school, based on UNESCO data which shows that in April 2020 1, 6 billion students were dismissed from schools and universities due to measures to suppress the spread of Covid-19. This figure represents about 90% of the entire student population in the world. This has caused many schools to go bankrupt, for that there needs to be a transformation, one of which is the New Student Admission (PPDB) to save the continuity of education and to increase access to quality education without discrimination.

The purpose of this study was to determine the analysis of the internal environment, the external environment and to find out how the implementation of the blue ocean strategy principle in the New Student Admission (PPDB) SMPIT Ibnu Khaldun Panambangan.

This study uses qualitative methode primary data sources and secondary data sources from the PPDB SMPIT Ibnu Khaldun Panambangan New Student Admission activities. Data were collected using field study techniques. Data analysis was carried out with data reduction stages through code analysis, data presentation, verification and conclusions.

The results of this study provide information that the analysis of the internal and external environment produces a Grand Strategy Matrix that is in accordance with the strategy canvas in the formulation of the blue ocean tool.

The conclusion obtained is that the implementation of the blue ocean strategy at SMPIT Ibnu Khaldun is able to overcome obstacles and even exceed the demand and make SMPIT Ibnu Khaldun Panambangan have a high number of student enthusn iasts and even exceed the predetermined quota of 100 (one hundred) student.

Accepted:

11-01-2022

Published:

20-01-2022

Keywords:

strategy; PPDB; blue ocean strategy

 

Abstrak

Kata kunci:

strategi; PPDB; blue ocean strategy

Skripsi ini dilatarbelakangi oleh adanya problematik mengenai darurat pendidikan yang belum pernah terjadi sebelumnya, pandemi virus corona-19 telah menyebabkan dampak penutupan sekolah yang berisiko 9,7 juta anak mengalami putus sekolah secara permanen, berdasarkan data UNESCO yang menunjukkan bahwa pada bulan April 2020 1,6  miliar pelajar diliburkan dari sekolah dan universitas karena langkah-langkah untuk menekan penyebaran Covid-19. Angka tersebut merupakan sekitar 90% dari seluruh populasi siswa didunia. Hal ini membuat banyak sekolah-sekolah mengalami kebangkrutan, untuk itu perlu adanya transformasi salah satunya dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) untuk menyelamatkan keberlangsungan pendidikan dan untuk meningkatkan akses pendidikan yang berkualitas tanpa diskriminasi.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui analisis lingkungan internal, lingkungan eksternal dan mengetahui bagaimana penerapan prinsip blue ocean strategy dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMPIT Ibnu Khaldun Panambangan.

Penelitian ini menggunakan meode kulitatif dengan sumber data primer dan sumber data sekunder dari kegiatan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMPIT Ibnu Khaldun Panambagan. Data dikumpulkan dengan teknik studi lapangan. Analisis data dilakukan dengan tahapan reduksi data melalui analisis kode, penyajian data, verifikasi dan kesimpulan.

Hasil penelitian ini memberikan informasi bahwa analisis lingkungan internal dan eksternal menghasilkan Matrix Grand Strategy yang sesuai dengan kanvas strategi pada perumusan alat blue ocean.

Kesimpulan yang diperoleh adalah penerapan blue ocean strategy pada SMPIT Ibnu Khaldun mampu mengatasi hambatan bahkan menjangkau melampuai permintaan yang ada dan mejadikan SMPIT Ibnu Khaldun Panambangan memiliki jumlah peminat siswa yang tinggi bahkan melebihi kuota yang sudah ditentukan yaitu sebanyak 100 (seratus) siswa.

Corresponding Author: Ita Lailasari

E-mail: italailasari082@gmail.com

 

PENDAHULUAN

Menurut Survei Pendidikan Dunia, Indonesia berada pada peringkat 72 (tujuh puluh dua) dari 77 (tujuh puluh tujuh) negara. International Student Assessment Program (PISA) merilis Student Abilities Survey di Paris pada Selasa (12 Maret 2019), menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-72 (tujuh puluh dua) dari 77 (tujuh puluh tujuh) negara. Data ini menempatkan Indonesia di peringkat enam terbawah, masih jauh di bawah negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam. Survei PISA menjadi acuan untuk menilai kualitas pendidikan di dunia yang menilai keterampilan membaca, matematika, dan sains. Peringkat PISA dari Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) menunjukkan kualitas pendidikan dunia. Pemeringkatan ini dipandang memungkinkan pendidik dan pembuat kebijakan untuk belajar dari kebijakan dan praktik yang diterapkan di negara/kawasan lain. OECD mulai melaksanakan tes ini pada tahun 2000, dan sebagian besar negara berpenghasilan menengah dan tinggi telah berpartisipasi di dalamnya. Tes PISA menjadi indikator penting untuk mengukur tingkat pendidikan karena memberikan perspektif yang berbeda dari ujian nasional.

Pendidikan merupakan satu komoditi yang selalu harus menjadi bahan perbincangan dan dibutuhkan bagi setiap lapisan masyarakat. Yang menjadi permasalahan adalah berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk hal ini,berdampak bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Terlihat jelas bahwa pendidikan merupakan saham yang besar dalam rangka perbaikan kualitas manusia Indonesia di masa mendatang. Ukuran kualitas mengarah pada upaya perbaikan dan peningkatan terhadap kualitas sumber daya manusia yang beriman berilmu, cerdas, terampil dan mampu menghadapi berbagai masalah dan tantangan hidup di masa sekarang dan yang akan datang (Muslimah, Aziz, & Rapiko, 2021).

Masalah ini menyebabkan masyarakat yang dirasa tidak mampu tidak dapat mengenyam pendidikan di lembaga pendidikan yang berkualitas sehingga masyarakat kurang mampu hanya dapat mengenyam pendidikan yang kurang berkualitas di lembaga pendidikan biasa. Seharusnya pendidikan yang berkualitas di Indonesia itu berlaku untuk seluruh warga negara tanpa terkecuali bukan hanya golongan-golongan atas saja, padahal pendidikan di Indonesia merupakan hak asasi yang harus dipenuhi dari lembaga atau institusi yang menyelenggarakan pendidikan yang diberikan secara merata. Mengingat pentingnya pendidikan untuk semua warga, sehingga posisinya sebagai salah satu bidang yang mendapat perhatian serius dalam konstitusi Negara kita, dan menjadi salah satu tujuan didirikannya Negara Republik Indonesia.

SMPIT Ibnu Khaldun juga merupakan salah satu sekolah yang berhasil merekrut siswa barunya pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran pertamanya yaitu 2021/2022 dengan jumlah siswa sebanyak 100 (seratus) siswa. Hal ini dibuktikan dengan wawancara peneliti kepada Kepala Bidang SMP dan Koordinator Pengawas Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon yang membenarkan bahwa dalam dalam hal ini SMPIT Ibnu Khaldun memiliki capaian yang luar biasa dengan jumlah 100 (seratus) siswa, selain SMPIT Ibnu Khaldun keberhasilan dalam capaian 100 siswa juga pernah dilakukan oleh salah satu SMP/MTs yang tergabung dalam pondok pesantren, namun itu juga sangat jarang sekali dan bahkan hanya 1-2 sekolah, selebihnya sangat jarang sekali dan bahkan tidak ada pencapaian maksimal pada penerimaan peserta didik baru awal.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan sebuah pendekatan yang dikenal dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Sebagaimana menurut Wina Sanjaya, penelitian deskriptif kualitatif adalah metode penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan secara utuh dan mendalam tentang realitas sosial dan berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat yang menjadi subjek penelitian sehingga tergambar ciri, karakter, sifat, dan model dari fenomena tersebut. Metode kualitatif adalah metode penelitian yang bersifat induktif dimana posisi peneliti sebagai instrumen penelitian dan subjektivitas berdasarkan interpretasi peneliti. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan segala sesuatu yang berkaitan dengan strategi penerimaan peserta didik baru di SMPIT Ibnu Khaldun. Hal ini berdasarkan pada teori (Miles & Huberman, 1984), yang mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya jenuh. Ukuran kejenuhan data ditandai dengan tidak diperolehnya lagi data atau informasi baru.

Penelitian kualitatif mengkaji perspektif partisipan dengan strategi-strategi yang bersifat interaktif dan fleksibel. Penelitian kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut pandang partisipan (Hermawan, 2019). Dalam penelitian kualitatif peneliti menjadi instrumen utama dalam proses pengumpulan data di lapangan. Tidak ada alat yang paling elastik untuk mengungkapkan data kualitatif kecuali peneliti itu sendiri, artinya manusia sebagai instrumen kunci adalah peneliti sebagai pengumpul data utama. Maka dari itu bacaan yang luas dan up to date merupakan syarat mutlak yang perlu dilakukan seorang peneliti guna mendalami teori yang relevan dengan permasalahan yang hendak dipecahkan, menganalisis, dan mengkonstruksi objek yang diteliti menjadi lebih jelas.

Teknik pengumpulan data adalah cara yang dilakukan oleh untuk mendapatkan data-data dari sekelompok individu, organisasi, atau masyarakat yang akan digunakan untuk menjawab permasalahan penelitian. Pengumpulan data tidak lain adalah suatu proses penyediaan data untuk keperluan penelitian (Kebudayaan, 2007).

1.       Wawancara

Wawancara merupakan salah satu teknik yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data penelitian. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa wawancara adalah suatu kejadian atau proses interaksi antara pewawancara dan sumber infromasi atau orang yang diwawancarai melalui komunikasi langsung. Dapat pula dikatakan bahwa wawancara merupakan percakapan tatap muka antara pewawancara dengan sumber informasi, dimana pewawancara bertanya langsung tentang suatu objek yang diteliti dan telah dirancang sebelumnya (Yusuf, 2016).

2.      Observasi

Observasi adalah teknik pengumpulan data yang mengharuskan untuk turun ke lapangan mengamati hal-hal yang berkaitan dengan ruang, tempat, pelaku, kegiatan, waktu, peristiwa tujuan dan perasaan.

3.      Studi dokumentasi

Gottschalk menyatakan bahwa dokumen (dokumentasi) dalam pengertian yang lebih luas berupa setiap proses pembuktian yang didasarkan atas jenis sumber apapun, baik yang bersifat tulisan, seperti; catatan harian, life histories, ceritera, biografi, peraturan, kebijakan, dan lainnya. Atau berbentuk tulisan, seperti; foto, gambar hidup, sketsa, dan lainnya. Bentuk karya, seperti; karya seni berupa gambar, patung, film, dan lainnya. Data dalam penelitian kualitatif sebagian besar diperoleh dari sumber manusia atau human resources, melalui observasi dan wawancara. Akan tetapi ada pula sumber bukan manusia (non human resources) diantaranya dokumen, foto dan bahan statistik (Nilamsari, 2014). Studi dokumentasi dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan dokumen-dokumen berupa foto/gambar yang berkenaan dengan kegiatan proses penerimaan peserta didik baru di SMPIT Ibnu Khaldun.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Analisis Lingkungan Internal SMPIT Ibnu Khaldun

SMPIT Ibnu Khaldun adalah salah satu sekolah yang berada di Desa Panambangan Kecamatan Sedong Kabupaten Cirebon. SMPIT Ibnu Khaldun ini berdiri pada tahun 2020 yang didirikan oleh Yayasan Mansyur Al - Makki dan dikelola oleh perusahaan CV. Syntax Corporation Indonesia. CV. Syntax Corporation Indonesia ini merupakan perusahaan yang bergerak dibidang pengembangan pendidikan, Pendiri CV. Syntax Corporation Indonesia juga merupakan ketua yayasan Mansyur Al - Makki, selain sebagai seorang pebisnis ketua yayasan juga merupakan pakar dalam bidang pendidikan. Dengan demikian SMPIT Ibnu Khaldun dikelola oleh lembaga dan individu yang memiliki kompetensi dalam bidang pendidikan, sehingga pengelolaannya akan dilakukan secara profesional.

Pendidikan berkualitas terkenal dengan pendidikan yang mahal, misalnya salah satu sekolah TK yang ada di Jakarta, mampu merogoh biaya yang fantasitis dikisaran 400 juta per tahun, ini baru setingkat taman kanak-kanak, kemudian setingkat sekolah dasar sampai menengah keatas bisa lebih dari itu biayanya.

SMPIT Ibnu Khaldun hadir sebagai jawaban atas kebutuhan pendidikan modern dan membuktikan bahwa sekolah berkualitas itu tidak perlu mahal. Sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Mansyur Al Makki ini yang dikelola penuh oleh Syntax Corporation Indonesia, perusahaan pengembangan pendidikan dan IT mampu menghadirkan fasilitas yang terbaik, di dalamnya terdapat fasilitas yang modern dan representatif, diantaranya gedung dua tingkat, lab komputer, wifi, halaman parkir yang luas, tenaga pendidik dan kependidikan yang kompeten dibidangnya dan tentunya masih banyak lagi fasilitas lainnya, bahkan untuk Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun pertama SMPIT Ibnu Khaldun memberikan beasiswa sepenuhnya sampai 115 siswa. Berdasarkan wawancara dengan Ketua Yayasan dan Pengelola Sekolah maka didapatkan analisis internal sebagai berikut:

 

a. Kekuatan (Strenght)

SMP IT Ibnu Khaldun memiliki beberapa kekuatan antara lain :

1)       Satu-satunya sekolah yang dikelola oleh perusahaan di Kecamatan Sedong

2)      Satu-satunya sekolah dengan visi sesuai dengan perkembangan zaman pencetak digital moeslim Generation.

3)      Tenaga pendidik dan kependidikan profesional dan ahli di bidangnya dengan jumlah yang memadai.

4)      Memiliki organisasi dan manajemen yang dinamis terbuka dan partisipasif

5)      Memiliki sarana dan prasarana modern dan representatif

6)      Biaya gratis

 

b. Kelemahan (Weakness)

SMP IT Ibnu Khaldun masih memiliki beberapa kelemahan yang perlu untuk diperbaiki kelemahan tersebut antara lain :

1)       Sekolah berada di wilayah yang kurang strategis dengan jalan masuk kurang lebar

2)      Pembangunan fasilitas masih dilakukan secara bertahap

 

2. Analisis Lingkungan Eksternal SMPIT Ibnu Khaldun

Faktor eksternal adalah semua kejadian diluar sekolah yang memiliki potensi untuk mempengaruhi sekolah adalah :

a.       Sosial

Pengaruh sosial dilingkungan tidak terlepas dari interaksi dengan masyarakat sekitar. Masyarakat merupakan salah satu faktor pendukung yang sangat penting dalam kemajuan suatu suatu lembaga pendidikan. Hal ini dibuktikan dengan tingginya antusias masyarakat untuk mendaftar di SMPIT Ibnu Khaldun yaitu sebanyak 115 siswa.

b.      Pemerintah

Pemerintah masih bersekala kepala lingkungan setempat untuk memberikan izin dalam pengoperasian lembaga pendidikan, adanya hubungan baik dengan lingkungan sosial dan pemerintah setempat membuat suatu lembaga pendidikan berjalan dengan sangat baik, yaitu dalam mendirikan SMPIT Ibnu Khaldun ini mendapatkan dukungan dari Desa, Kecamatan dan Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon.

c.       Teknologi

Kemajuan teknologi memberikan manfaat bagi kemajuan lembaga pendidikan dalam memasarkan dan memperkenalkan sekolahnya dengan segmen pasar yang lebih luas. Sehingga SMPIT Ibnu Khaldun mampu menjaring dari tiga wilayah kecamatan yang ada di sekitar bahkan ada saslah satu siswa yang bersal dari Jawa Timur.

d.      Lembaga Pendidikan di Wilayah sekitar

Adanya dukungan dari lembaga pendidikan di wiayah sekitar adalah untuk keberlangsungan lembaga itu sendiri, SMPIT Ibnu Khladun sendiri sudah mendapatkan dukungan dari lembag pendiidkan sekitar dan organisasi profinsi yang ada di kecamatan.

 

Pendirian SMPIT Ibnu Khaldun mendapat dukungan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon, dibuktikan dengan adanya izin operasional SMP IT Ibnu Khaldun. Selain itu dukungan juga diberikan oleh lembaga pendidikan sejenis berupa surat rekomendasi dari tiga SMP terdekat. Potensi pendirian SMP IT Ibnu Khaldun cukup besar mengingat masih jarangnya SMP di Kecamatan Sedong. Berdasarkan data Kecamatan Sedong dalam Angka 2019, jumlah penduduk Kecamatan Sedong sebanyak 40.675 orang dengan total luas wilayah 31,74 Km2 serta terdiri dari 10 desa. Masih berdasarkan sumber yang sama, jumlah sekolah dasar di Kecamatan Sedong sebanyak 22 sekolah sedangkan SMP yang ada di Kecamatan Sedong baru ada dua sekolah dan MTs yang ada di Kecamatan Sedong juga baru ada dua sekolah, jadi total SMP/MTs nya ada 4 (empat). Sedangkan kebutuhan lulusan SD yang akan masuk ke jenjang SMP cukup banyak. Berdasarkan data Kecamatan Sedong dalam Angka 2019, jumlah SD yang ada di Kecamatan Sedong sebanyak 23 dengan jumlah murid mencapai 2.770. Berikut ini tabel yang menunjukan persebaran siswa SD di Kecamatan Sedong.

 

Tabel 1

Data Nama Sekolah Di Kecamatan Sedong

No

Sekolah

Jumlah Siswa

1

SDN 1 Karangwuni

159

2

SDN 2 Karangwuni

115

3

SDN 3 Karangwuni

21

4

SDN 1 Sedong Kidul

123

5

SDN 2 Sedong Kidul

110

6

SDN 3 Sedong Kidul

81

7

SDN 1 Sedong Lor

95

8

SDN 2 Sedong Lor

79

9

SDN 3 Sedong Lor

89

10

SDN 1 Windujaya

134

11

SDN 2 Windujaya

126

12

SDN 1 Winduhaji

118

13

SDN 2 Winduhaji

81

14

SDk     Kertawangun

90

15

SDN 1 Panambangan

122

16

SDN 2 Panambangan

123

17

SDN 1 Putat

290

18

SDN 2 Putat

175

19

SDN 1 Panongan

187

20

SDN 2 Panongan

104

21

SDN 1 Panonganlor

186

22

SDN 2 Panonganlor

132

21

SDIT   Panambangan

30

TOTAL

2770

Sumber : https://referensi.data.kemdikbud.go.id

 

Dengan demikian pendirian SMPIT Ibnu Khaldun dapat menjadi alternatif bagi lulusan SD/MI khususnya di Kecamatan Sedong yang ingin melanjutkan pendidikan ke SMPIT. Peminatan siswa SD di Kecamatan Sedong yang ingin melanjutkan pada tingkat SMPIT cukup besar. Berdasarkan wawancara dengan beberapa SD yang ada di Kecamatan Sedong, sebanyak 60-70% lulusan SD memiliki pemintauntuk melanjutkan ke SMPIT. Hal ini juga sesuai dengan survey yang dilakukan di beberapa SD di Kecamatan Sedong terkait dengan peminatan melanjutkan ke SMPIT, dengan hasil sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 1

Hasil Survey Peminatan Jenis Sekolah

 

Berdasarkan diagram di atas sebanyak 65% tertarik untuk melanjutkan ke SMPIT. Dengan demikian peminatan siswa SMPIT di Kecamatan Sedong cukup tinggi.

a)      Peluang (Oppurtunity)

Peluang yang dapat diraih oleh SMPIT Ibnu Khaldun yang berasal dari lingkungan luar antara lain adalah

1) Tersedianya bantuan pendidikan dari pemerintah baik pusat maupun daerah

2) Terbukanya kesempatan Diklat bagi tenaga pendidik

3) Lembaga pusat pengembangan dan Penataran guru (PPG) dalam pengembangan

b.    Tantangan (Threatment)

Tantangan dari dalam dan luar yang harus dihadapi oleh SMPIT Ibnu Khaldun antara lain Sekolah-sekolah sejenis yang ada di sekitar melakukan reform.

 

 

3. Penerapan Prinsip Blue Ocean Strategy SMPIT Ibnu Khaldun

a.       Merekonstruksi Batasan-Batasaan Pasar

Enam pendekatan dasar untuk membentuk ulang batasan-batasan pasar yaitu :

1)  Mencermati industri-industri alternatif

Berdasarkan hasil dari analisis lingkungan internal yang dilakukan oleh SMPIT Ibnu Khaldun membuktikan bahwa jumlah Sekolah Menengah Pertama di kecamatan Sedong masih sangat minim yaitu sebanyak empat sekolah sedangkan jumlah sekolah tingkat dasar yang tersebar di Kecamatan Sedong sebanyak 22 (dua puluh dua) sekolah. Hal ini jelas menjadi peluang besar untuk SMPIT Ibnu Khaldun untuk dapat menciptakan sebuah produk atau jasa pendidikan yang memiliki bentuk berbeda, tapi menawarkan fungsi atau utilitas/manfaat inti dan tujuan yang sama.

2) Mencermati kelompok-kelompok strategis dalam industri

Sebagaimana samudra biru dapat diciptakan dengan mencermati industri industri alternatif, samudra biru juga bisa dikuak dengan mencermati kelompok-kelompok strategis, dengan pengamatan yang sudah dilakukan, SMPIT Ibnu Khaldun juga mencermati strategi apa saja yang digunakan oleh lembaga jasa pendidikan di sekitarnya sehingga strategi yang digunakan SMPIT Ibnu Khaldun mampu menciptakan formula strategi baru kemudian mengoptimalkan strategi tersebut dengan maksimal.

3) Mencermati rantai pembeli

Dalam mencermati rantai pembeli atau peminat, hampir semua kompetitor memiliki definisi yang sama terkait siapa sasaran mereka, padahal nyatanya pembeli atau peminat yang terlibat secara langsung dan tidak langsung itu berbeda, dan menghasilkan keputusan yang berbeda pula. Disaat kompetitor disibukan oleh melakukan sehingga SMPIT Ibnu Khaldun melakukan apa yang tidak dilakukan oleh kompetitornya dalam mengolah keputuan pembeli/peminat.

4) Mencermati penawaran produk dan jasa pelengkap

Banyak sekali kompetitor yang tidak jeli dalam mencermati penawaran produk dan jasa-jasa pelengkap yang beredar dimana-mana padahal dengan adanya penawaran dan jasa pelengkap tersebut dapat mempengaruhi nilai suatu produk tersebut. Tentunya di SMPIT Ibnu Khaldun memiliki strategi tersendiri untuk menangani hal-hal seperti itu.

5) Mencermati daya tarik emosional atau fungsional bagi pembeli

SMPIT Ibnu Khaldun tidak terfokus pada konsep umum cakupan produk, melainkan memainkan perankan untuk menerapkan daya tarik yang bersifat perasan sehingga daya tarik mereka emosional sedangkan yang dilakukan kompetitor lainnya adalah dengan daya tarik rasional

6) Mencermati waktu

Seiring berjalannya waktu teknologi semakin hari kian canggih, untuk itu SMPIT Ibnu Khaldun berusaha untuk terus berkembang menjadi solusi bagi kabanyakan orang dan menjadi lembaga pendidikan yang menjawab tantangan zaman.

 

b.      Fokus pada Gambaran Besar Bukan Angka

Prinsip ini merupakan kunci yang digunakan SMPIT Ibnu Khaldun untuk mengurangi resiko perencanaan investasi tenaga dan waktu yang terlalu besar dengan hasil hanya berupa langkah taktis samudra merah yaitu dengan membuat kanvas strategi. Kemampuan SMPIT Ibnu Khaldun dalam mengidentifikasi pesaing dapat dilakukan dengan adanya tim riset kompetitor dalam perusahaan yang bertugas mengidentifikasi komptitor di lapangan. Hasil riset tersebut digambarkan dalam skema yang dapat memperlihatkan faktor yang dimiliki pesaing namun tidak dimiliki SMPIT Ibnu Khaldun. Berikut adalah skema empat langkah kerja dalam memvisualisasi strategi :

 

Tabel 2

Empat langkah kerja visualisasi strategi

 

HAPUSKAN

TINGKATKAN

1. Best input

2.Fokus di satu target pasar

 

1.       Best process

2.      Kualitas output

3.      Kualitas SDM

KURANGI

CIPTAKAN

1.       Kurikulum Pembelajaran yang monoton

1.  Garansi

2.    Kurikulum yang berfokus pada kompetensi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

c.       Menjangkau Melampaui Permintaan yang Ada

Menjangkau tiga tingkatan nonkonsumen pada SMPIT Ibnu Khaldun dilakukan dengan memperhatikan:

1) Soon-to-be (Calon)

Nonkonsumen SMPIT Ibnu Khaldun pada tingkat ini adalah siswa lulusan SD dan juga orang tua siswa. Hal ini dapat dilakukan dengan terus mengedukasi siswa untuk memahami betapa pentingnya menjadi Digital Moslem Generation . Banyak akun youtube perusahaan atau lembaga yang telah memuat banyak konten mengenai generasi digital dan itu dimanfaatkan oleh SMPIT Ibnu Khaldun sebagai referensi konten edukasi.

2)      Refused (Menolak)

Nonkonsumen SMPIT Ibnu Khaldun pada tingkat ini adalah siswa yang sudah tidak termasuk ke dalam daftar target sasaran SMPIT Ibnu Khaldun atau diluar dari kuota yang telah ditentukan.

3)      Unexplored (Belum Tereksplorasi)

SMPIT Ibnu Khaldun menekankan pendidikan yang berbasis kompetensi dan dari awal berdirinya merupakan sekolah yang dikelola oleh perusahaan sehingga target sasaran nonkonsumennya bukan hanya siswa lulusan SD dan juga orang tua melainkan semua tingkat atau jenjang pendidikan bahkan semua usia secara tidak langsung dapat tercipta pasar baru.

d.      Melakukan Rangkaian Strategis Secara Benar

Rangkaian strategis yang dilakukan SMPIT Ibnu Khaldun dapat dilihat dengan manfaat yang ditawarkan pada pengguna jasa pendidikan dan kesejahteraan bagi internal maupun eksternal SMPIT Ibnu Khaldun. Utilitas atau manfaat istimewa yang ditawarkan SMPIT Ibnu Khaldun pada pengguna jasa pendidikan adalah nilai sosial dengan menggratiskanbiaya pendidikan dan kualitas yang ekspert dibidangnya, serta bergaransi dan rangkaian strategi ini dilakukan secara TSM (terstruktur, sistematis, masif).

e.       Mengatasi Rintangan-Rintangan Utama Organisasi

Hambatan sumber daya pada SMPIT Ibnu Khaldun terletak pada kurangnya jumlah sumber daya manusia yang berkualitas dalam sosialisasi jasa pendidikan SMPIT Ibnu Khaldun padahal marketing menjadi kunci dalam keberhasilan perusahaan atau alembaga pendidikan. Untuk mengatasi hambatan motivasional, SMPIT Ibnu Khaldun menerapkan sistem peningkatan kompetensi pada tenaga pendidik untuk menjadi sumber daya manusia yang unggul, memiliki banyak skill berdasarkan kinerjanya.

f.        Mengintegrasikan Eksekusi ke dalam Strategi

SMPIT Ibnu Khaldun tidak mengutamakan kemampuan seseorang ketika hendak merekrut tenaga pendidik dan kependidikan baru, tetapi cenderung memperhatikan apakah calon tenaga pendidik dan tenaga kependidikan memiliki kesamaan visi dengan lembaganya dalam upaya meningkatkan pendidikan SMPIT Ibnu Khaldun yang memberikan dampak sosial. Hal ini dapat dibenarkan karena setelah menjadi tenaga pendidik dan kependidikan, mereka akan dibekali dengan marketing kit oleh perusahaan berupa materi dan banner. Dengan begitu mereka dapat belajar bagaimana meningkatkan jumlah siswa, dan masih banyak lagi, sehingga yang memiliki kemampuan kurang tetap bisa belajar untuk meningkatkannya.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian kualitatif dengan teknik observasi,  wawancara dan dokumentasi yang dilaksanakan di SMPIT Ibnu Khaldun Panambangan  tentang strategi penerimaan peserta didik baru SMPIT Ibnu Khaldun Panambangan dengan menggunakan blue ocean strategy  dapat diambil beberapa kesimpulan. Kesimpulan tersebut dipaparkan sebagai berikut:

1.       Analisis lingkungan internal di SMPIT Ibnu Khaldun diantaranya yaitu (a)Satu-satunya sekolah yang dikelola oleh perusahaan di Kecamatan Sedong (b) Satu-satunya sekolah dengan visi sesuai dengan perkembangan zaman pencetak digital moeslim generation (c) Tenaga pendidik dan kependidikan profesional dan ahli di bidangnya dengan jumlah yang memadai. (d) Memiliki organisasi dan manajemen yang dinamis terbuka dan partisipasif (e) Memiliki sarana dan prasarana modern dan representatif (f) Biaya gratis.

2.      Faktor eksternal adalah semua kejadian diluar sekolah yang memiliki potensi untuk mempengaruhi sekolah. Katagori faktor eksternal adalah (a) Sosial (b) Pemerintah (c) Teknologi (d) Lembaga Pendidikan di Wilayah sekitar.

3.      Penerapan blue ocean strategy pada pada SMPIT Ibnu Khaldun pada praktiknya mampu mengatasi hambatan bahkan menjangkau melampuai permintaan yang ada pada blue ocean strategy dan mejadikan SMPIT Ibnu Khaldun memiliki jumlah peminat siswa yang tinggi bahkan melebihi kuota yang sudah ditentukan yaitu sebanyak 100 (seratus), dengan adanya animo masyarakat yang begitu antusias terhadap SMPIT Ibnu Khaldun akhirnya membuka kuota tambahan sebanyak 15 (lima belas) siswa dan itupun sudah ditutup kembali karena dalam jangka yang singkat kuotanya sudah terpenuhi kembali.

Penelitian mengenai strategi penerimaan peserta didik baru pada SMPIT Ibnu Khaldun ini, sekolah baru yang mampu menjawab kegelisahan peneliti, dimana SMPIT Ibnu Khaldun ini merupakan sekolah baru dengan reputasi yang sangat baik yang mencakup delapan standar nasional pendidikan yang meliputi 1) standar isi; dalam standar isi ini SMPIT Ibnu Khaldun menggunakan kurikulum yang berfokus pada skill yang akan dimiliki siswa 2) standar proses; pada  prosesnya, SMPIT Ibnu Khaldun menggunakan multiple intelegent riset 3) standar kompetensi lulusan; ,untuk standar kompetensi lulusan, SMPIT Ibnu Khaldun memiliki visi untuk mencetak digital moslem generation 4) standar pendidik dan tenaga kepen- didikan; SMPIT Ibnu Khaldun memiliki tenaga pendidik dan kependidikan yang masih muda, kompeten dalam bidangnya dan mau belajar  5) standar sarana dan prasarana; fasilitas yang disediakan pada SMPIT Ibnu Khaldun salah satunya yaitu berupa gedung yang megah, 6) standar pengelolaan; manajemen yang dilakukan oleh SMPIT Ibnu Khaldun ini dikelola oleh perusahaan 7) standar pembiayaan; dalam standar pembiayaan SMPIT Ibnu Khaldun melakukan gratifikasi sampai dengan 3 tahun pada angkatan pertamanya 8) standar penilaian pendidikan. Penilaian yang dilakukan pada SMPIT Ibnu Khaldun mengikuti standar dinas pendidikan setempat dan juga memiliki ciri khas tersendiri untuk melakukan penilaian terhadap siswanya.

Dengan demikian SMPIT Ibnu Khaldun menjadi harapan baru bagi banyak masyarakat untuk menghadirkan sekolah yang memanusiakan manusia.

 

BIBLIOGRAFI

 

Hermawan, Iwan. (2019). Metode Penelitian Pendidikan: Kuantitatif, Kualitatif dan Mixed Metode. Jawa Barat: Hidayatul Qur’an Kuningan. Google Schoolar

 

Miles, Matthew B., & Huberman, A. Michael. (1984). Drawing valid meaning from qualitative data: Toward a shared craft. Educational Researcher, 13(5), 20–30. Google Schoolar

 

Muslimah, Istania, Aziz, Djisman, & Rapiko, Rapiko. (2021). EFEKTIVITAS PEMBERIAN REWARD & PUNISHMENT DALAM MENINGKATKAN KEDISIPLINAN. UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Google Schoolar

 

Nilamsari, Natalina. (2014). Memahami studi dokumen dalam penelitian kualitatif. WACANA: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi, 13(2), 177–181. Google Schoolar

 

Yusuf, A. Muri. (2016). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif & penelitian gabungan. Prenada Media. Google Schoolar