SIMBOL-SIMBOL KULTURAL DALAM FILM THEEB, KARYA NAJI ABU NOWAR: ANALISIS IDEOLOGI ALTHUSSER

Abdur Rosyid Rizaldi

Universitas Gadjah Mada

abdurrosyidrizaldi@gmail.com

 

Received  :  01-08-2022

Accepted  :  10-08-2022

Published  : 25-08-2022

Abstract

Keywords:

 theeb, symbol, cultural ideology, Althusser . ideology

Introduction: Film is an audio-visual communication medium that is used to convey a message to the audience. The development of films in various countries has developed, including in Middle Eastern countries. Objective: This research is motivated by the presence of an Arabic film entitled Theeb which has won various awards at international film festivals. In the film, Theeb is thick with the cultural ideology of middle eastern society. Methods: This study used a descriptive-analytic qualitative method. Analytical descriptive method is a method that describes facts and then analyzes them. Results: This research is an analysis in this study found that the symbol of cultural ideology depicted in Theeb's film is ethnic fanaticism and glorifies guests. According to Althusser, individuals as subjects must submit to this ideology, in Theeb's film it is described that members of the tribe must submit to the prevailing culture even if it is dangerous. Conclusion: the conclusion of this research is that the cultural ideology contained in Theeb's film is symbolized in glorifying guests and tribal fanatics. According to Althusser's view, the individual as the subject, in this case the Bedouin group, must be submissive and obedient to the prevailing culture at that time even though it may threaten their own safety.

Abstrak

Kata kunci:

theeb, simbol, ideologi kultural, ideologi Althusser

Pendahuluan: Film merupakan sebuah media komunikasi audio visual yang digunakan untuk menyampaikan suatu pesan kepada penontonnya. Perkembangan film diberbagai Negara mengalami perkembangan tak terkecuali di Negara-Negara Timur Tengah. Tujuan: Penelitian ini adalah dilatar belakangi oleh hadirnya film berbahasa Arab berjudul Theeb yang berhasil meraih berbagai penghargaan diajang festival film internasional. Dalam cerita film Theeb kental dengan ideologi kultural masyarakat timur tengah. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif analitik. Metode deskriptif analitik adalah metode yang menggambarkan fakta dan kemudian menganalisisnya. Hasil: penelitian ini adalah analisis dalam penelitian ini menemukan bahwa simbol ideologi kultural yang tergambar dari film Theeb ialah fanatik kesukuan dan memuliakan tamu. Menurut Althusser individu sebagai subjek harus tunduk terhadap ideologi tersebut, dalam film Theeb tersebut digambarkan bahwa anggota suku harus tunduk terhadap kultur yang berlaku sekalipun itu membahayakan. Kesimpulan: maka kesimpulan penelitian ini adalah, ideologi kultural yang terkandung dalam film Theeb disimbolkan dalam memuliakan tamu dan fanatik kesukuan. Menurut pandangan Althusser individu sebagai subjek dalam hal ini kelompok Badui harus tunduk dan patuh terhadap kultural yang berlaku saat itu tersebut sekalipun itu dapat mengancam keselamatan diri.

Corresponding Author: Abdur Rosyid Rizaldi 

E-mail: abdurrosyidrizaldi@gmail.com

 

PENDAHULUAN

Film menjadi suatu hal yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Kini untuk bisa menonton sebuah film layar lebar tidak hanya bisa disaksikan di bioskop, perkembangan teknologi sudah merubah berbagai hal termasuk menonton film layar lebar yang kini bisa disaksikan dimanapun dengan menggunakan platform bioskop online (Zoebazary, 2013). Film menjadi semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Ada banyak alasan seseorang atau sekolompok orang menonton film mulai dari hanya sekedar mencari hiburan karena sudah lelah bekerja, ada juga yang sengaja menonton film untuk mendapatkan nilai dan makna yang terkandung dalam film tersebut.

Film bukan hanya sekedar tontonan atau hiburan yang bisa mengaduk emosi penontonnya. Film adalah sebuah media komunikasi berupa audio visual untuk menyampaikan suatu pesan kepada penontonnya (Santoso, Andryani, Nastain, & Budianto, 2017). Film juga bisa menjadi sebuah komunikasi massa yang efektif kepada masa yang menjadi sasarannya. Film yang bersifat audio visual membuat film bisa bercerita banyak hal dalam durasi yang relatif singkat (GORAN, 2021). Ketika menonton sebuah film penonton seakan-akan diajak untuk menembus ruang dan waktu yang dapat menceritakan kehidupan dan bahkan dapat mempengaruhinya (Stranley, 2012).

Film merupakan salah satu bentuk komunikasi massa berupa sebuah karya cipta seni dan budaya serta dibuat berdasarkan asas sinematografi yang direkam menggunakan pita seluloid, video, maupun hasil penemuan teknologi lainnya dengan ataupun tanpa suara dan dapat dipertunjukkan pada khalayak (ARIA, 2015). Dengan film, karya sastra tidak hanya bisa muncul dalam bentuk kata-kata. Perubahannya dilakukan untuk membawa kegembiraan dan kepuasan batin kepada penonton sehingga pesan moral dan unsur cerita dapat lebih mudah tersampaikan (Aidil, 2017).

Film yang disajikan kepada para penonton merupakan hasil dari kontribusi bidang seni lainnya salah satunya sastra. Dengan memahami film berarti memahami bahasa sebagai ekspresi sastra, begitupun sebaliknya bahasa eksperesi dari karya sastra juga banyak dipengaruhi oleh film (Ardianto, 2014). Karya sastra adalah karya imajinatif yang dianggap memiliki makna lebih luas daripada fiksi (Wellek & Warren, 1989). Karena karya imajinatif pengarang, karya sastra dapat berfungsi sebagai hiburan yang menyenangkan sekaligus wahana hiburan penonton yang dapat menambah pengalaman batin. Selain sebagai karya imajinatif, karya sastra juga merupakan penggambaran kondisi politik, sosial dan budaya.

Karya sastra yang dapat dijadikan sebagai ungkapan kritik dan harapan dapat ditemukan pada karya sastra tertentu seperti roman, drama, dan puisi. Selanjutnya, film adalah karya sastra yang memiliki unsur yang sama dengan teater (Muhri, 2019). Film adalah sebuah karya yang dihasilkan oleh seorang penulis yang mengambil naskah dan menempatkannya di layar lebar ataupun media lain yang mendukung film tersebut ditayangkan. Konteks pembuatan sebuah adegan film dapat dipengaruhi oleh kondisi sosial, politik, dan kultur yang ada atau dipengaruhi oleh suatu kejadian pada suatu waktu atau kejadian dalam suatu masyarakat. Kejadian tersebut merupakan unsur ekstrinsik dari sebuah karya sastra.

Munculnya film sebagai salah satu jenis sastra mendorong hubungan antara sastra dan masyarakat. Di era globalisasi ini, peran sastra sangatlah penting. Menurut Tutoli (1990) sastra berperan dalam: (a) mendorong dan menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan yang positif seperti tolong menolong, berbuat baik, beriman, berakhlak mulia, dan takwa; (b) mengabdi kepada penikmat sastra, dalam hal ini penonton sebagai penikmat film menyampaikan pesan yang memungkinkan hal-hal positif yang terkandung dalam sastra dapat diterapkan dalam kehidupan, cinta damai, keadilan, kebenaran, dan kejujuran; (c) mengajak orang untuk bekerja keras demi kebaikan mereka sendiri dan masyarakat; (d) menginspirasi munculnya kepribadian tangguh.

Film juga dianggap sebagai pengungkapan yang sempurna melalui adegan-adegan, asimilasi kisah nyata, atau imajinasi manusia yang terdalam. Dalam keberadaan kehidupan dan tempat, sastra dan masyarakat merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Karena karya sastra selalu dikaitkan dengan nilai-nilai sosiokultural tertentu, karya sastra seringkali hidup berdampingan dengan nilai-nilai yang berlaku pada waktu dan tempat tertentu.

Menonton sebuah film sudah menjadi hal yang biasa seperti masyarakat umum di Negara-Negara lain. Dalam empat tahun terakhir Arab Saudi telah mencapai pencapaian besar dengan penjualan tiket box office lebih dari 30,8 juta (Tim Okezone, 2022). Timur tengah khususnya Arab Saudi dikenal dengan sastrawan kenamaan yang karyanya dikenal hampir diseluruh penjuru dunia. Diantaranya Nizar Qobbani, Nazek Al-Malaika, Khalil Gibran yang sudah tidak asing lagi ditelinga masyarakat Indonesia, dan sederet sastrawan Arab kenamaan lainnya. Hasil karya-karyanya sudah banyak yang diangkat ke film layar lebar dibeberapa Negara termasuk Negara Arab sendiri. Pada tahun 2014 lalu seorang sutradara Naji Abu Nowar memproduksi sebuah film thriller berbahasa Arab Yordania yang dirilis pada Maret tahun 2015 berjudul Theeb. Film ini berhasil memikat penonton dan meraih berbagai penghargaan, masuk nominasi sebagai film berbahasa asing terbaik di Academy Awards (Piala Oscar) ke-88, dan juga sebagai nominasi film Yordania pertama yang pernah ada di acara tersebut. Pada Penghargaan Film Akademi Inggris ke-69, Theeb dinominasikan sebagai Film Terbaik berbahasa non Inggris, di mana Naji Abu Nowar dan Rupert Lloyd memenangkan debut luar biasa oleh penulis, sutradara, dan produser asal Inggris.

Film Theeb (Arab: dhīb [ðiːb], "serigala") adalah sebuah film thriller drama periode produksi internasional tahun 2014 yang ditulis dan disutradarai oleh Naji Abu Nowar. Film ini adalah kisah dewasa tentang seorang bocah Badui, Theeb, yang harus bertahan hidup di gurun Wadi Rum yang sangat luas. Film ini berlatar belakang teater Timur Tengah pada Perang Dunia I, setelah pemberontakan besar Arab melawan Kekaisaran Ottoman yang berkuasa. Film ini menggunakan aktor non-profesional dari komunitas Badui di selatan Yordania, dan dianggap sebagai "Badui Barat". Film ini ditayangkan perdana di bagian Horizons di Festival Film Internasional Venesia ke-71 pada 4 September 2014.

Cerita film Theeb kental dengan ideologi kultural masyarakat timur tengah. Ideologi dalam sebuah film pada prinsipnya adalah representasi dari realitas atau kenyataan dalam kehidupan. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam film Theeb dari sisi ideologi kultural menurut pandangan Althusser. Dalam artikel ini penulis akan menguraikan ideologi kultural yang ada pada film Theeb berdasarkan sudut pandang ideologi Althusser.

 

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif analitik. Metode kualitatif adalah metode untuk menafsirkan kata-kata dengan cara mendeskripsikan. Metode deskriptif analitik adalah metode yang menggambarkan fakta dan kemudian menganalisisnya (Ratna, 2006).

Sumber data penelitian kualitatif dalam sebuah sastra adalah karya, naskah, dan data penelitian. Data formal berupa kata, kalimat, dan ujaran. Oleh karena itu, sumber data penelitian ini adalah film Theeb karya Naji Abu Nowar. Sedangkan data formalnya berupa kata, kalimat, dan ujaran dalam film tersebut yang mengandung ideologi.

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.   Biografi Naji Abu Nowar

Naji Abu Nowar merupakan seorang sutradara film, penulis dan juga produser film. Naji Abu Nowar lahir di Oxford, Inggirs pada tahun 1981, dia lahir dari keluarga militer Jordania. Ia menyelesaikan pendidikannya di King’s Collage London.

Naji Abu Nowar memulai karirnya sebagai seorang filmmaking ketika dia diterima di lab penulisan skenario RAWI pada tahun 2005 yang tengah bekerjasama dengan institute Sundance dimana ia mengembangkan skenario pertamanya yaitu Shakoush (Hammer).  Pada tahun 2009 Naji Abu Nowar menulis scenario dan sekalgius menyutradarai sebuah film pendek yang berjudul death of the boxer yang diputar di festival film internasional di Dubai, Palm springs international shortsfest, festival film pendek Miami dan festival film Prancis-Arab. Pada tahun 2014 Naji Abu Nowar mengadaptasi sebuah skenario menjadi sebuah dengan judul Theeb dan berhasil meraih masuk berbagai nominasi penghargaan dan memenangkan beberapa ajang penghargaan film.

B.    Sinopsis Film Theeb

Menganalisis lebih jauh mengenai isi film Theeb dari sudut pandang ideologi kultural berdasarkan pandangan Louis Althusser, pada poin ini akan dipaparkan terlebih dahulu mengenai sinopsis film Theeb. Pada tahun 1916 suku Badui tinggal di suatu sudut wilayah yang hampir terlupakan oleh kekaisaran Ottoman. Mereka tidak menyadari bahwa perang dunia I sedang berlangsung dan dengan cepat mendekati kelompok mereka. Suku tersebut menderita setelah kematian misterius yang dialami oleh Syekh atau pemimpin kelompok mereka. Syeikh tersebut meninggalkan tiga orang anak laki-laki yang bernama Hmound, Hussein, dan Theeb. Sebagai anak tertua Hmaound mengambil alih tugas sang Ayah untuk mengemban tanggung jawab sebagai Syeikh. Thee banak paling kecil diantara tiga saudaranya merasa menemukan sosok ayah dalam diri Hussein sang kakak.

Hidup mereka terganggu dengan kedatangan orang asing bernama Edward dan pemandunya Marji. Edward seorang perwira Angkatan Darat Inggris. Theeb yang belum pernah melihat orang asing sebelumnya dan penampilan Edward yang menurutnya aneh karena berbeda dari suku mereka, menimbulkan rasa kaingin tahuan Theeb. Suku tersebut menawarkan keramahan ala adat Badui kepada pendatang seperti Edward. Theeb tertuju pada kotak yang dibawa oleh Edward dan selalu dijaga ketat olehnya.

Memberikan penjelasan yang jelas terkait tujuan kedatangan Edward dan Marji, mereka meminta pemandu dari suku Badui untuk mengantarkannya ke sumur air kuno di rute lama menuju ke Mekah. Hmound sebagai Syaikh dalam kelompok tersebut mencoba menolak karena potensi bahaya untuk sampai ke sumur tersebut. Kreta yang menuju kearah sana semakin berkurang, tentara bayaran, dan perampok adalah kemungkinan bahaya yang harus siap dihadapi. Marji terus mencoba untuk meminta pemandu menuju sumur tersebut hingga ia berkata reputasi seorang Syaikh yang telah meninggal sebagai tantangan bagi kehormatannya. Untuk melindungi nama baik sang ayah akhirnya Hmound menunjuk saudaranya Hussein untuk menemani Marji dan Edward menuju sumur kuno.

Theeb tidak ingin pisah dengan Hussein meminta ikut namun ditolak oleh Hussein karena dia yang masih kecil. Theeb yang merasa tidak ingin pisah dengan Hussein mengejar Hussein, Edward dan Marji secara diam-diam melintasi gurun-gurun. Theeb yang berusia masih kecil belum memiliki pengalaman perjalanan jauh dia tersesat dan harus menghadapi berbagai ancaman bahaya sendiri. Saat malam hari Theeb melihat api unggun dan diyakini itu merupakan Hussein bersama Edward dan Marji kemudian dia menghampiri mereka. Edward menolak jika harus menunda perjalanan mereka demi mengembalikan Theeb ke suku mereka. Hussein harus membawa Theeb bersama mereka atau malu karena menelantarkan tamu-tamunya yang seharusnya dilindunginya. Jika menelantarkan Edward dan Marji akan membuat malu suku mereka terlebih nama baik sang Ayah. Akhirya mereka tetap melanjutkan perjalanan dengan membawa Theeb.

C.    Simbol Ideologi Kultural Dalam Film Theeb Berdasarkan Ideologi Althusser

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui simbol-simbol ideologi kultural yang terdapat dalam film Theeb. Untuk lebih memudahkan dalam memahami isi simbol ideologi kultural pada film Theeb, maka penulis terlebih dahulu melakukan analisa dua unsur film yakni unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik, setelah itu dipaparkan pembahasan mengenai simbil ideologi kultural berdasarkan pandangan Althusser yang terdapat dalam film Theeb.

Unsur instrinsik film menurut Nurgiyantoro (1955) secara langsung ikut serta dalam membangun cerita. Bahkan unsur instrinsik film adalah unsur-unsur utama yang membangun keutuhan suatu film. Unsur instrinsik terdiri dari peristiwa, penokohan, tema, alur, latar, sudut pandang dan amanat. Sedangkan unsur ekstrinsik dalam film menurut Nurgiyantoro (1955) adalah unsur-unsur yang keberadaannya diluar karya fiksi namun sangat berpengaruh terhadap lahirnya sebuah karya, tetapi tidak menjadikan bagian di dalam karya itu sendiri. Unsur ekstrinsik film terdiri dari perilaku, sikap hidup, pola pikir, etika, serta kondisi sosial budaya yang berkembang pada saat itu.

D.   Unsur Instrinsik Pada Film Theeb

Berdasarkan hasil analisis pada film Theeb bahwa unsur instrinsik yang terkandung pada film Theeb meliputi:

1.    Unsur Tema

Tema adalah gagasan atau gambaran yang mendasari sebuah cerita, biasanya selalu dimunculkan secara berulang-ulang didalam sebuah cerita pada suatu film serta bersifat abstrak. Berdasarkan hasil analisis film Theeb bertama petualangan, dimana Theeb sebagai tokoh utama dari cerita ini yang masih berusia anak harus melewati proses pencarian jati diri dalam luasnya hamparan gurun pasir timur tengah.

2.    Unsur Tokoh

Dalam sebuah film terdapat penokohan setiap peran yang dimainkan. Pelaku yang mengemban peristiwa dalam film sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita disebut tokoh. Tokoh yang ada dalam film Theeb tersebut diantaranya Theeb, Hussein, Edward, Marji, Hassan, Hmoud.

3.    Unsur Plot

Plot atau alur adalah suatu rangkaian peristiwa didalam cerita yang menggambarkan terjadinya suatu sebab dan akibat yang bertujuan untuk membangkitkan suspense dan surprise pada penikmatnya. Jenis-jenis plot terdiri dari plot maju, plot mundur, plot sorot balik, plot campuran, plot erat, plot longgar, plot terbuka, plot tertutup, dan plot campuran. Berdasarkan hasil analisis, plot yang diterapkan pada film Theeb berdasarkan kriterian plot kepadatan termasuk jenis plot padat. Plot padat adalah cerita yang memiliki keterkaitan antar peristiwa dalam cerita tersebut, sehingga tidak memungkinkan apabila bagian-bagian pembentuk dari peristiwa tersebut dilenyapkan karena setiap peristiwa yang dimunculkan pada film tersebut penting. Sementara plot berdasarkan urutan waktu, berdasarkan hasil analisis film Theeb termasuk pada plot lurus atau progresif, setiap peristiwa yang dimunculkan pada film tersebut bersifat secara berurutan.

4.    Unsur Latar

Latar adalah keterangan yang menunjukkan waktu, tempat, dan suasana terjadinya suatu peristiwa dalam sebuah cerita. Berdasarkan hasil analisis latar tempat yang terjadi pada film Theeb tersebut adalah timur tengah dengan latar suasana pada perang dunia I. Latar waktu dalam film Theeb tersebut adalah sekitar tahun 1916.

5.    Unsur Sudut Pandang

Sudut pandang adalah pandangan yang berasal dari penerita atau penulis dengan tujuan agar si penerima informasi dalam hal ini penonton yang menjadi sasaran mengerti dan memahami apa yang hendak disampaikan. Sudut pandang yang digunakan pada film Theeb tersebut adalah sudut pandang orang ketiga tunggal.

6.    Unsur Gaya Bahasa

Gaya bahasa atau yang disebut juga dengan majas digunakan dalam sebuah karya sastra tulis dengan tujuan untuk membuat pembaca mendapatkan efek tertentu yang bersifat emosional. Dalam film gaya Bahasa tersebut diubah pada dialog yang diucapkan pemeran yang memerankan tokoh dalam suatu film.

E.    Unsur Ekstrinsik Pada Film Theeb

Berdasarkan hasil analisis pada film Theeb unsur-unsur eksterinstik yang terkandung pada film Theeb diantaranya adalah nilai moral. Pada suatu film banyak mengandung nilai-nilai yang ingin disampaikan oleh si pembuat film kepada penontonnya. Begitupun pada film Theeb terdapat pesan moral yang terkandung didalamnya, nilai moral yang terkandung pada film Theeb diantaranya adalah kesetiakawanan, peduli terhadap sesama, dan saling menghargai.

F.    Simbol Ideologi Kultural Pandangan Louis Althusser Dalam Film Theeb

Ideologi kultural adalah suatu bentuk keyakinan yang menjadi falsafah hidup manusia dalam melakukan kegiatan berbudayanya. Ideologi menurut Louis Althusser bukanlah akibat kesadaran seseorang, melainkan muncul akibat proses-proses relasi sosial dalam masyarakat (Pffeifer, 2015). Simbol berasal dari Bahasa Yunani yaitu symballein yang memiliki arti untuk disatukan, dan dari kata benda simbolon yang memiliki arti tanda. Menurut konsep Goethe menurut Goethe adalah dimana yang khusus mewakili yang umum (Charles Scribner’s Sons, 1968).

Ada empat aspek yang menjadi inti pandangan Althusser terhadap ideologi, yaitu:

1.    Ideologi memiliki fungsi umum untuk membentuk subjek.

2.    Ideologi sebagai pengalaman yang dijalani tidaklah palsu.

3.    Ideologi sebagai pemahaman yang keliru tentang kondisi nyata eksistensi adalah palsu.

4.    Ideologi terlibat dalam perkembangan kelompok sosial dan relasi mereka terhadap kekuasaan.

Ideologi menurut Althusser merupakan representasi dari hubungan imajiner manusia tentang realitas yang merupakan dampak internalisasi lingkungan yang kemudian menjadi dasar pengambilan keputusan secara tidak sadar.

Simbol ideologi kultural yang terkandaung dalam film Theeb berdasarkan hasil analisis penulis menemukan empat kultural yang telah menjadi ideologi. Latar film Theeb suku Bangsa Arab badui yang hidup berkelompok dan nomaden. Kultur suku Arab yang telah menjadi ideologi yang berhasil penulis analisis dari film Theeb diantaranya adalah memuliakan tamu, fanatik kesukuan, kesetiaan, dan keberanian. Seperti yang dikatakan oleh Goethe bahwa simbol yang khusus mewakili yang umum, dalam film Theeb penulis menemukan bahwa keempat ideologi kultural tersebut sebagai simbol yang mewakili kultural masyarakat Suku Badui kala itu.

Memuliakan tamu merupakan kultur suku Bangsa Arab yang telah menjadi ideologi ditengah-tengah masyarakatnya dari zaman dahulu hingga kini, termasuk yang digambarkan dalam film Theeb. Film Theeb yang mengambil latar kehidupan suku badui Arab yang hidup berkelompok ditengah gurun pasir, ditengah kehidupannya yang nonmaden dan makan dari peliharaan ternak atau binatang hasil buruan. Dalam film Theeb diceritakan pada suatu malam suku badui Arab tersebut tengah berkumpul seperti biasa dengan kelompoknya, tiba-tiba Hussein melihat ada yang mendekat kearah mereka berkumpul dan benar datanglah dua orang laki-laki. Mereka adalah Edward dan Marji, mereka berdua disambut dengan baik sebagaimana tamu diberikan minum sebagai tanda selamat datang kemudian menyembelih seorang kambing untuk dimasak dan disajikan untuk makan bersama tamu. Tidak hanya itu mereka juga dilindungi keselematannya oleh suku badui tersebut bahkan hingga tamu tersebut melakukan perjalanan, pemimpin suku tersebut mengutus salah seorang diantara mereka untuk menjadi pemandu kemana tamu tersebut akan dituju.

Fanatik kesukuan budaya yang juga melekat dengan masyarakat Bangsa Arab, dimana mereka akan membela sukunya dari ancaman apapun. Dalam film Theeb diceritakan bahwa Theeb hidup dari suku badui Arab yang tinggal nomaden, mereka dipimpin oleh seorang yang disebut Syeikh yang tak lain adalah ayah dari Theeb. Fanatik kesukuan yang tergambar dalam film tersebut terlihat ketika Marji dan Edward meminta ada seseorang dari suku badui untuk memandu perjalanan menuju sumur tua. Saat itu Hmoud yang menggantikan sang ayah sebagai Syeikh yang tak lain adalah kakak tertua dari Hussein dan Theeb, mengatakan bahwa perjalanan menuju sumur tua tersebut berbahaya karena disana ada sekumpulan bandit yang mengancam keselamatan nyawa, Hmound mencoba menolak permintaan Marji dan Edward tersebut. Namun, ketika Marji mengatakan bahwa jika mereka menolak untuk mengantarkan menuju sumur tua tersebut maka nama Syeikh mereka yang telah meninggal akan buruk. Setelah berunding akhirnya Hmound menunjuk Hussein untuk menjadi pemandu Edward dan Marji menuju sumur tua. Hal ini juga digambarkan oleh Theeb yang melihat Edward sebagai orang asing dengan pandangan aneh dan penuh rasa penasaran.

Ideologi menurut Althusser subjek adalah ciri pembeda dari semua ideologi, seluruh ideologi berfungsi dengan mengambil individu dan menempatkannya, dalam artian menuntut individu untuk tunduk sebagai subjek di dalam kerangka ideologi. Dalam cerita pada film Theeb ini, masyarakat atau anggota kelompok suku badui harus tunduk dan patuh terhadap nilai-nilai budaya yang ada, sebagaimana menyambut tamu walaupun tamu tersebut orang asing dan belum jelas apa tujuannya tetap harus disambut dengan baik karena itu merupakan budaya yang sudah ada.

 

KESIMPULAN

Perkembangan film kini sudah hampir merata di setiap negara, kini film yang mengangkat cerita tentang masyarakat atau suku Arab disenangi oleh para penikmat film. Film Theeb yang disutradarai oleh Naji Abu Nowar berkisah tentang seorang anak yang hidup dari suku Arab Badui mendapat atensi yang baik dari para penonton. Berdasarkan hasil analisis maka kesimpulan yang bisa diambil dari hasil penelitian ini, ideologi kultural yang terkandung dalam film Theeb disimbolkan dalam memuliakan tamu dan fanatik kesukuan. Menurut pandangan Althusser individu sebagai subjek dalam hal ini kelompok Badui harus tunduk dan patuh terhadap kultural yang berlaku saat itu tersebut sekalipun itu dapat mengancam keselamatan diri.

 

 

 

 

BIBLIOGRAFI

 

Aidil, Muh. (2017). Pesan Moral Islam dalam Film Surga yang Tak Dirindukan (Analisis Semiotika Teori Umberto Eco). Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

 

Ardianto, Deny Tri. (2014). Dari Novel ke Film: Kajian Teori Adaptasi Sebagai Pendekatan dalam Penciptaan Film. Panggung, 24(1).

 

ARIA, DEWANGGA. (2015). PESAN PERSAHABATAN DALAM FILM (Analisis Isi pada Film Hobbit The Desolation of Smaug Karya Peter Jackson). University of Muhammadiyah Malang.

 

Charles Scribner’s Sons. (1968). SYMBOL AND SYMBOLISM IN LITERATURE. Dictionary of the History of Ideas, 4.

 

GORAN, WILLIAM KRISTOPHER. (2021). “Representasi Komunikasi Politik Dalam Film Lantun Rakyat”(Studi Semiotika John fiske Pada Film “LANTUN RAKYAT”). UPN Veteran Jatim.

 

Muhri, Muhri. (2019). TRADISI, KETOKOHAN, DAN KARYA SASTRA GENERASI KEDUA SASTRA MODERN BANGKALAN: STUDI SEJARAH SASTRA. Jurnal Sastra Aksara, 7(2), 149–193.

 

Nurgiyantoro, Burhan. (1955). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

 

Pffeifer, Geoff. (2015). The New Materialism; Althusser, Badiou, and Zizek. New York: Routledge.

 

Ratna, Kutha Nyoman. (2006). Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Santoso, Didik Haryadi, Andryani, Kristina, Nastain, Muhamad, & Budianto, Heri. (2017). Komunikasi, Media dan New Media dalam Pembangunan Daerah. Buku Litera.

 

Stranley, Baran J. (2012). Pengantar Komunikasi Massa Literasi Media dan Budaya. Jakarta: Salemba Humanika.

 

Tim Okezone. (2022). Wow! Penjualan Box Office Bioskop di Arab Saudi Capai 30,8 Juta Tiket.

 

Tutoli, Nani. (1990). Tanggomo : salah satu ragam sastra lisan Gorontalo. Jakarta: Intermasa.

 

Wellek, Rene, & Warren, Austin. (1989). Teori kesusasteraan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

 

Zoebazary, M. Ilham. (2013). Kamus Istilah Televisi & Film. Gramedia Pustaka Utama.