Cass Alexander Rasnino1,
Didi Nuryadin2, Sri Suharsih3
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UPN Veteran Yogyakarta,
Yogyakarta, Indonesia
[email protected],
[email protected], [email protected]
|
|
Abstract |
|
|
Received: |
26-02-2022 |
Introduction: Development is the basis
for improving people's welfare. One indicator to see development is economic
growth. Purpose: This study aims to analyze the effect of life
expectancy, average length of schooling and household consumption on economic
growth in the Regency / City of Lampung Province in 2014-2019. Methods:
This study uses quantitative methods. The type of data used is secondary with
panel data cross section 15 districts / cities. The analytical tool used is
cointegration of panel data with software using Stata 16. Results: The
results show that life expectancy has a positive and insignificant effect on
economic growth, the average length of schooling has a positive and
significant effect on economic growth and household consumption has a
positive and significant effect on economic growth. significant to economic
growth. Conclusion: This study can be concluded that life expectancy
has a positive and insignificant effect on economic growth, the average
length of schooling has a positive and significant effect on economic growth
and household consumption has a positive and significant effect on economic
growth. |
|
Accepted: |
28-02-2022 |
|
|
Published: |
20-03-2022 |
|
|
Keywords: |
life
expectancy, economic growth, panel data cointegration |
|
|
|
Abstrak |
|
|
Kata kunci: |
angka harapan hidup, pertumbuhan ekonomi,
kointegrasi data panel |
Pendahuluan: Pembangunan merupakan dasar untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu indikator untuk melihat
pembangunan adalah pertumbuhan ekonomi. Tujuan: Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh angka harapan hidup, rata-rata lama
sekolah dan konsumsi rumah tangga terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten /
Kota Provinsi Lampung tahun 2014-2019. Metode: Penelitian ini
menggunakan metode kuantitatif. Jenis data yang digunakan adalah sekunder
dengan data panel cross section 15 Kabupaten / Kota. Alat analisis yang
digunakan adalah kointegrasi data panel dengan software menggunakan Stata
16. Hasil: Hasil menujukkan bahwa angka harapan hidup berpengaruh
positif dan tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, rata-rata lama
sekolah berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan
konsumsi rumah tangga berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan
ekonomi. Kesimpulan: Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa angka
harapan hidup berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap pertumbuhan
ekonomi, rata-rata lama sekolah berpengaruh positif dan signifikan terhadap
pertumbuhan ekonomi dan konsumsi rumah tangga berpengaruh positif dan
signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. |
Corresponding Author: Cass Alexander Rasnino
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Pembangunan
merupakan dasar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu
indikator untuk melihat pembangunan adalah pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan
ekonomi yang positif menunjukkan adanya peningkatan kegiatan ekonomi,
sebaliknya pertumbuhan ekonomi yang negatif menunjukkan adanya penurunan dalam kegiatan
ekonomi (Maqin, 2011).
Pertumbuhan ekonomi adalah perkembangan kegiatan ekonomi yang mengarah pada peningkatan
barang dan jasa yang diproduksikan dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran
masyarakat meningkat. Masalah pertumbuhan ekonomi dapat dilihat sebagai masalah
ekonomi makro dalam jangka panjang. Dari waktu ke waktu, kemampuan suatu negara
dalam memproduksi barang dan jasa akan meningkat. Peningkatan kapasitas ini disebabkan
karena faktor-faktor produksi yang akan selalu mengalami peningkatan kuantitas
dan kualitas (Sukirno, 2021).
Suatu
perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan atau perkembangan ketika tingkat
kegiatan ekonomi lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi
menunjukkan sejauh mana kegiatan ekonomi menghasilkan tambahan pendapatan
masyarakat pada suatu periode tertentu. Karena kegiatan ekonomi pada dasarnya
adalah proses penggunaan faktor-faktor produksi untuk memproduksinya, proses
ini mengarah pada aliran balas jasa atas faktor-faktor produksi yang dimiliki
oleh masyarakat. Dengan adanya pertumbuhan ekonomi, pendapatan masyarakat
sebagai pemilik faktor produksi diharapkan meningkatan (Sukirno,
2021).

Sumber:
Badan Pusat Statistik, 2020
Gambar 1. PDRB
Atas Harga Konstan di Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung Tahun 2019 (dalam
milyar rupiah)
Berdasarkan
gambar 1. dapat dilihat bahwa PDRB di Provinsi Lampung tahun 2019 sangat
bervariasi. Kabupaten Pesisir Barat menjadi salah satu Kabupaten dengan
penyumbang PDRB terendah yang ada di Provinsi Lampung tahun 2019 yaitu sebesar
Rp3.104.32. Berbeda dengan Kabupaten Lampung Tengah yang menjadi salah satu
Kabupaten penyumbang PDRB tertinggi di Provinsi Lampung tahun 2019 yaitu
sebesar Rp47.937.7. Capaian PDRB di masing-masing Kabupaten/Kota di Provinsi
Lampung menunjukan nilai yang bervariasi hal ini dikarenakan adanya perbedaan
potensi wilayah mencakup perbedaan sumber daya alam antar wilayah, perbedaan
kondisi geografis, perbedaan tingkat kelancaran perdagangan antar daerah serta
perbedaan pengembangan sumber daya manusia.
Menurut (Todaro & Smith,
2013) pengembangan
sumber daya manusia dapat dicapai dengan meningkatkan modal manusia. Modal
manusia merupakan salah satu faktor terpenting dalam proses pertumbuhan
ekonomi. Modal manusia dapat merujuk pada pendidikan, tetapi juga digunakan
untuk mewakili jenis lain dari investasi manusia, populasi yang sehat,
investasi yang mengarah pada kesehatan populasi yang sehat yaitu kesehatan.
Pendidikan dan kesehatan merupakan tujuan dasar pembangunan. Kesehatan
merupakan kesejahteraan, sedangkan pendidikan merupakan hal pokok untuk
menggapai kehidupan yang memuaskan dan bermanfaat. Keduanya merupakan yang
penting untuk membentuk kapabilitas manusia yang lebih luas yang berada pada
inti makna pembangunan.
Tabel 1. Data
Angka Harapan Hidup, Rata-rata Lama Sekolah dan Konsumsi Rumah Tangga di
Provinsi Lampung tahun 2015 � 2019
|
Tahun |
Angka Harapan Hidup
(Tahun) |
Rata-rata Lama
Sekolah (Tahun) |
Konsumsi Rumah
Tangga (Juta Rupiah) |
|
2014 |
69.66 |
7.48 |
112.289.848 |
|
2015 |
69.9 |
7.56 |
118.564.094 |
|
2016 |
69.94 |
7.63 |
125.342.981 |
|
2017 |
69.95 |
7.79 |
132.290.331 |
|
2018 |
70.18 |
7.82 |
139.801.875 |
|
2019 |
70.51 |
7.92 |
147.695.550 |
Sumber: Badan Pusat
Statistik, 2021
Dari tabel
1 diatas dapat dilihat bahwa angka harapan hidup, rata-rata lama sekolah dan
konsumsi rumah tangga di Provinsi Lampung tahun 2014-2019 mengalami peningkatan
setiap tahunnya. Kesadaran masyarakat akan masalah kesehatan dan ketersediaan layanan
Kesehatan merupakan faktor kunci dalam meningkatkan harapan hidup di suatu
wilayah. Peningkatan angka harapan hidup di Provinsi Lampung didorong oleh
kemampuan masyarakat untuk mengakses fasilitas kesehatan yang telah disediakan
oleh pemerintah daerah. Akses ini dipermudah dengan tersedianya jaminan
kesehatan, selain itu ketersediaan fasilitas kesehatan di Provinsi Lampung dari
polindes dan klinik hingga rumah sakit cukup memadai (Bappeda Lampung,
2021). Kesehatan
merupakan kebutuhan mendasar bagi semua manusia, karena tanpa kesehatan
masyarakat tidak dapat menghasilkan suatu produktivitas bagi negara. Kegiatan
ekonomi suatu negara akan berjalan ketika ada jaminan kesehatan bagi setiap
penduduknya.
Angka harapan
hidup adalah perkiraan tingkat usia rata-rata yang akan dicapai oleh penduduk
dalam periode waktu tertentu. Angka harapan hidup adalah perkiraan tingkat usia
rata-rata yang akan dicapai oleh penduduk dalam periode waktu tertentu. (Ranis & Stewart,
2019) menyatakan bahwa
peningkatan usia harapan hidup menggambarkan perbaikan gizi dan kesadaran
masyarakat akan kesehatan dan lingkungan sehingga akan berdampak pada
peningkatan produktitivitas penduduk yang akan berdampak positif pada laju
pertumbuhan ekonomi. Studi yang dilakukan (Dinar et al., 2019) menyatakan
bahwa angka harapan hidup berpengaruh positif dan siginfikan terhadap
pertumbuhan ekonomi. Berbeda dengan studi yang dilakukan oleh (Ari et al., 2021) menyatakan bahwa angka harapan hidup secara
parsial berpengaruh tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.� Hal ini diduga karena tingginya angka harapan
hidup, namun tidak diimbangi dengan peningkatan keterampilan.
Selain
kesehatan, keberhasilan pengembangan sumber daya manusia juga dapat dilihat
melalui tingkat keberhasilan pendidikan disuatu daerah. Rata-rata lama sekolah
menunjukan jenjang pendidikan yang pernah atau sedang di duduki oleh seseorang,
selain itu semakin tinggi angka rata-rata lama sekolah maka semakin lama atau
tinggi jenjang pendidikan yang diselesaikan (Badan Pusat
statistik, 2021).
Pendidikan merupakan salah satu investasi modal manusia yang bisa menghasilkan
sumber daya manusia menjadi lebih layak sehingga sumber daya manusia merupakan
faktor yang sangat kuat bagi pertumbuhan ekonomi, selain itu sumber daya
manusia merupakan salah satu penentu utama untuk pertumbuhan ekonomi suatu
wilayah. Studi yang dilakukan oleh (Ari et al.,
2021) menyatakan bahwa rata-rata lama sekolah
berpengaruh positif signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Berbeda dengan
studi yang dilakukan oleh (Dinar et
al., 2019) menyatakan bahwa rata-rata lama sekolah
tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Ditemukan bahwa
tidak adanya pengaruh rata-rata lama sekolah terhadap pertumbuhan ekonomi
menunjukkan bahwa peningkatan rata-rata lama sekolah kurang berdampak pada
tingkat produktivitas.
Selain itu
konsumsi rumah tangga merupakan elemen yang sangat penting untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi. Banyak alasan yang menyatakan analisis makro ekonomi perlu
memperhatikan tentang konsumsi rumah tangga secara mendalam. Alasan pertama,
konsumsi rumah tangga memberikan masukan kepada pendapatan nasional. Alasan
kedua, konsumsi rumah tangga mempunyai dampak dalam menentukan fluktuasi
kegiatan ekonomi dari satu waktu ke waktu lainnya. Konsumsi seseorang
berbanding lurus dengan pendapatannya (Sukirno,
2012). Terjadinya peningkatan perkembangan
konsumsi berarti telah terjadinya peningkatan terhadap barang dan jasa.
Peningkatan produksi barang dan jasa akan menyebabkan peningkatan terhadap
pertumbuhan ekonomi. Hal ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh (N. Prawoto &
Tri Basuki, 2020)
menyimpulkan bahwa peningkatan konsumsi akan mendorong peningkatan permintaan
barang dan jasa dan peningkatan permintaan barang dan jasa akan mendorong
peningkatan produksi barang. Peningkatan permintaan akan mendorong peningkatan
investasi dan pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Dari penjabaran
latar belakang di atas maka peneliti akan meneliti tentang �Pengaruh Angka
Harapan Hidup, Rata-rata Lama Sekolah dan Konsumsi Rumah Tangga terhadap
Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten/Kota Provinsi Lampung tahun 2014-2019�. Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh angka harapan hidup, rata-rata lama
sekolah dan konsumsi rumah tangga terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten /
Kota Provinsi Lampung tahun 2014-2019
METODE
PENELITIAN
Data yang digunakan dalam penelitian adalah data sekunder meliputi
15 Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung tahun 2014-2019. Data dalam penelitian
ini berbentuk data panel sehingga untuk mengetahui hubungan dan pengaruh antar
variabel digunakan uji regresi panel koinetegrasi. Uji ini digunakan untuk
memperkirakan hubungan kointegrasi dalam data panel yang dianalisis dengan Fixed
Effect Model. Sumber data dalam penelitian ini adalah Badan Pusat
Statistik. Perangkat yang digunakan adalah Stata 16.
1. Definisi dan Pengukuran Variabel
Pertumbuhan ekonomi (Y) sebagai proksi dari variabel terikat
digunakan Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan. Variabel
bebas, meliputi angka harapan hidup (X1), rata-rata lama sekolah (X2), dan
konsumsi rumah tangga (X3).
2. Spesifikasi Model
Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah data panel
dengan menggunakan model logaritma natural yang dapat digambarkan sebagai
berikut:
Log
(Yit) = 𝛽o
+ log(X1it)
+ log(X2it)
+ log(X3it)
+ eit
Keterangan:
Y��������� : Pertumbuhan Ekonomi
𝛽��������� :
Koefisien
Log X1: Angka Harapan Hidup
Log X2: Rata-rata Lama Sekolah
Log X3: Konsumsi Rumah Tangga
i���������� :
Jumlah observasi (15 Kabupaten/Kota)
t���������� :
Jumlah tahun (2014-2019)
�������� : error term
3. Uji
Stasioner
Uji stasioneritas bertujuan untuk
mengetahui apakah data sudah stasioner atau tidak stasioner akibat adanya unsur
trend (random walk. Uji unit root dalam penelitian ini menggunakan test
type Fisher, data dikatakan stasioner ketika nilai probabilitas lebih kecil
dari 0,05%.
4. Uji Kointegrasi
(Cointegration Test)
Setelah data dianyatakan stasioner
maka selanjutnya dilakukan uji kointegrasi pada data panel untuk mengetahui
apakah data yang diamati memiliki keseimbangan jangka panjang antar varibel.
Dalam penelitian ini, uji kointegrasi data panel yang dapat digunakan meliputi
Uji Kao, Uji Pedroni dan Uji Westerlund. Dalam uji kointegrasi untuk pengambilan keputusan
dapat dilakukan jika nilai p-value ADF < dari nilai kritis 0.05% maka
terdapat kointegrasi diantara variabel, namun jika p-value ADF > dari 0.05%
maka tidak ada kointegrasi dari setiap variabel.
5.
Estimasi Model Data Panel
Analisis
data yang dilakukan dengan estimasi regresi untuk melakukan estimasi
menggunakan data panel terdapat 3 model yang dapat dilakukan yaitu dengan
Common Effect Model, Fixed Effect Model dan Random Effect Model (Widarjono, 2013).
6. Pemilihan
Model Data Panel
Dari
tiga model yang akan diuji pada penelitian ini antara Common Effect, Fixed
Effect dan Random Effect maka dipilih model yang paling baik dimana
model Common Effect dan Fixed Effect diuji dengan uji chow.
Sedangkan model fixed effect dengan Random Effect diuji dengan uji hausman.
Kemudian Random Effect dengan Common Effect akan diuji dengan uji
Lagrange Multiplier (LM test).
1.
Uji Chow
Uji
chow digunakan untuk mengetahui dan menentukan apakah Common Effect Model
atau Fixed Effect Model yang paling tepat untuk digunakan dalam estimasi
data panel.
Jika
probabilitas Cross Section F lebih dari 0,05 maka model yang dipilih
adalah Common Effect model dan jika probabilitas Cross Section F
yang diperoleh kurang dari 0,05 maka model yang sebaiknya digunakan adalah Fixed
Effect model.
2.
Uji Hausman
Uji
hausman harus dilakukan ketika yang terpilih pada uji chow adalah Fixed
Effct model, karena uji hausman ini digunakan untuk membandingkan model
yang terbaik antara Fixed Effect model dan Random Effect. Jika
probabilitas Chi-Square yang diperoleh pada uji hausman lebih besar
dari 0,05 maka H0 diterima dan Ha ditolak, artinya model
terbaik yang digunakan dalam penelitian ini adalah Random Effect model,
dan apabila probabilitas Chi-Square yang diperoleh kurang dari 0,05 maka
H0 ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa model yang
terbaik untuk digunakan dalam penelitian ini adalah Fixed Effect model.
7. Uji
Asumsi Klasik
Berikut ini uji asumsi klasik yang akan
digunakan dalam penelitian ini:
a. Uji Normalitas
Uji normalitas pada dasarnya tidak
merupakan syarat BLUE (Best Linier Unbias Estimator) dan beberapa
pendapat tidak mengharuskan syarat ini sebagai sesuatu yang wajib dipenuhi. Uji
normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi panel
variabel-variabelnya berdistribusi normal atau tidak.
b. Uji Multikolinieritas
Uji multikolinieritas perlu dilakukan
pada saat regresi linier menggunakan dari satu variabel bebas. Uji
multikolinieritas yang bertujuan untuk menguji apakah pada model regresi
ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen).
c. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas biasanya terjadi
pada data cross section, dimana data panel lebih dekat ke ciri data cross
section dibandingkan time series. Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji
apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual
suatu pengamatan ke pengamatan yang lain.
d.� Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk melihat
apakah dalam model regresi linier ada korelasi antara kesalahan penggangu pada
periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya) (A. T. B. N. Prawoto,
2016).
HASIL
DAN PEMBAHASAN
1.
Uji Stasioner
Tahap pertama dalam regresi panel kointegrasi adalah menguji apakah data
yang digunakan memilki akar unit atau tidak. Untuk mengetahui data tersebut
stasioner atau tidak maka kita dapat melihat nilai p-value dari Fisher,
dimana ketika nilai p-value < dari nilai kritis 0.05% maka data dianggap
stasioner namun jika nilai p-value > dari nilai kritis 0.05% maka data
dianggap tidak stasioner. Berdasarkan hasil pengujian akar unit dengan Fisher
didapatkan hasil bahwa seluruh variabel stasioner pada tingkat level.
Tabel 2. Hasil Uji Stasioner
|
Variabel |
Tingkat Level |
|||
|
Augemented
Dickey-Fuller (ADF) |
Phillips-Perron |
|||
|
Statistic |
p-value |
Statistic |
p-value |
|
|
PE |
50.0192 |
0.0123 |
122.5134 |
0.0000 |
|
AHH |
143.0756 |
0.0000 |
603.8865 |
0.0000 |
|
RLS |
82.0406 |
0.0000 |
146.0141 |
0.0000 |
|
KRT |
78.9009 |
0.0000 |
117.7818 |
0.0000 |
*stasioner pada nilai kritis 5%
Sumber: Hasil
Olahan Stata 16
2.
Uji Kointegrasi
Jika
semua variabel telah lolos uji unit root, maka selanjutnya melakukan uji
kointegrasi.
Tabel
3. Uji Kointegrasi Data Panel
|
Cointegration
Test |
Test
Statistic |
P-value |
|
Kao Test |
||
|
Modified Dickey-Fuller t |
2.5636 |
0.0052* |
|
Dickey-fuller t |
1.9844 |
0.0236** |
|
Augmented Dickey-Fuller t |
3.9102 |
0.0000* |
|
Unadjusted modified Dickey-Fuller t |
1.6059 |
� 0.0541*** |
|
Unadjusted Dickey-Fuller t |
0.6580 |
0.2553 |
|
Pedroni Test |
||
|
Modified Phillips-Perron t |
6.0456 |
0.0000* |
|
Phillips-Perron t |
-22.6240 |
0.0000* |
|
Augmented Dickey-Fuller t |
-68.8029 |
0.0000* |
|
Westerlund Test |
||
|
Variance Ratio |
7.5912 |
0.0000* |
*kointegrasi terpenuhi (nilai Prob. < Nilai
kritis 1%)
**kointegrasi terpenuhi (nilai Prob. < Nilai
kritis 5%)
***kointegrasi terpenuhi (nilai Prob. < Nilai
kritis 10%)
Sumber: Hasil Olahan Stata 16
Dari
tiga test type dalam uji kointegrasi dapat disimpulkan bahwa pengujian
menggunakan uji kao, uji pedroni dan uji westerlund terdapat hubungan
kointegrasi atau hubungan pada jangka panjang. Selanjutnya jika masing-masing
variabel terkointegrasi, maka dapat dikatakan bahwa dalam jangka pendek semua
variabel disesuaikan untuk mencapai keseimbangan jangka panjang.
3. Hasil
Uji Pemilihan Model
Berdasarkan
hasil pengujian chow test diketahui bahwa nilai croos section F
sebesar 78.00 dengan nilai probabilitas sebesar 0.0000 < 𝛼 = 0,05 maka artinya menerima Ha
atau menolak H0 sehingga hasil tersebut menunjukkan bahwa
model terbaik yang dapat digunakan untuk menguji hipotesis adalah Fixed
effect model lalu akan dilanjukan ke tahap berikutnya yaitu dengan uji Hausman
untuk menguji Fixed Effect model dan Random Effect model.
Berdasarkan hasil pengujian hausman diketahui bahwa nilai Cross section random
sebesar 474.69 dan nilai probabilitas Cross-section random sebesar 0.0000 < 𝛼 =0,05 dengan demikian pengambilan
keputusan model terbaik yang digunakan yaitu model Fixed Effect model.
4.
Hasil
Estimasi
Berikut hasil estimasi data panel Fixed Effect
model, Fixed Effect Robust dan estimasi data panel Error
Correction model:
Tabel 4. Hasil
Estimasi
|
Fixed Effect Model |
ECM |
|||
|
AHH |
0.642 |
0.783 |
0.000* |
|
|
(0.4442434) |
(0.4442434) |
(0.7807884) |
||
|
RLS |
0.010* |
0.029** |
0.000* |
|
|
(0.3117528) |
(0.3117528) |
(-0.3285159) |
||
|
KRT |
0.0000* |
0.0000* |
0.000* |
|
|
(0.8304469) |
(0.8304469) |
(1.097089) |
||
|
C |
0.602 |
0.761 |
0.000 |
|
|
(-1.699047) |
(-1.699407) |
(-6.015247) |
||
|
ECT |
0.000 |
|||
|
|
|
|
(1.032946) |
*signifikan (nilai prob. < nilai kritis 1%)
**signifikan (nilai prob. < nilai kritis 5%)
Sumber:
Hasil Olahan Stata 16
Dari hasil uji Fixed
Effect Model dapat ditulis rumus regresi sebagai berikut:
PE = -1.699047 + 0.4442434
AHH + 0.3117528 RLS + 0.8304469 KRT
Dari tabel 4
menunjukkan bahwa:
1.
Angka Harapan
Hidup
Berdasarkan hasil regresi pada tabel 4 diketahui bahwa nilai probabilitas angka harapan hidup yaitu sebesar 0.783
dengan koefisien 0.4442434. Artinya angka harapan hidup berpengaruh positif dan
tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Dari hasil model Error
Correction diketahui bahwa nilai probabilitas angka harapan hidup yaitu
sebesar 0.000 dengan koefisien 0.7807884. Artinya angka harapan hidup berpengaruh
positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek.
�Penelitian ini sejalan
dengan penelitian yang telah dilakukan oleh (Hepi & Zakiah, 2018) yang menyatakan bahwa angka harapan hidup
berpengaruh tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Temuan tersebut juga didukung fakta yang menyebutkan bahwa
rasio ketergantungan penduduk Provinsi Lampung pada tahun 2019 tercatat sebesar
48,79 persen. Artinya setiap 100 orang usia produktif menanggung sekitar 49
orang yang belum produktif atau sudah tidak produktif. Angka ini lebih rendah
dibandingkan tahun 2014 yaitu sebesar 49,81% persen (Badan Pusat Statistik, 2015). Semakin tinggi rasio ketergantungan maka semakin tinggi pula beban
yang harus ditanggung oleh penduduk usia produktif. Rasio
ketergantungan yang tinggi dapat menjadi faktor penghambat pertumbuhan ekonomi
serta pembangunan di suatu daerah, karena sebagian pendapatan yang dihasilkan
dari kelompok produktif, terpaksa harus dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan
kelompok yang belum atau sudah tidak produktif.
�
2.
Rata-rata Lama
Sekolah
Berdasarkan hasil regresi pada tabel 4 diketahui bahwa nilai probabilitas rata-rata lama sekolah yaitu
sebesar 0.029 dengan nilai koefisien 0.3117528. Artinya rata-rata lama sekolah
berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Perubahan
kenaikan rata-rata lama sekolah sebesar 1% akan mempengaruhi kenaikan persentase
perubahan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten/Kota Provinsi Lampung sebesar
0.3117528% cetaris paribus. Dari hasil model Error Correction diketahui
bahwa nilai probabilitas rata-rata lama sekolah yaitu sebesar 0.000 dengan
koefisien -0.3285159. Artinya rata-rata lama sekolah berpengaruh negatif dan
signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Handayani et
al., 2016) dan (Andi Kustanto, 2020)� yang menyatakan bahwa variabel rata-rata lama
sekolah berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal
ini berarti, semakin tinggi rata-rata lama sekolah suatu individu dapat
berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan ekonomi.
Menurut (Badan Pusat Statistik, 2020) selama periode
2010 hingga 2019 rata-rata lama sekolah penduduk usia 25 tahun ke atas di
Lampung tumbuh 0,97 persen per tahun. Pertumbuhan yang positif ini merupakan
modal penting dalam membangun kualitas manusia Lampung yang lebih baik. Pada
tahun 2019, rata-rata lama sekolah di Provinsi Lampung usia 25 tahun ke atas
mencapai 7,92 tahun, atau telah mencapai pendidikan hingga kelas VIII. Semakin
meningkatnya angka rata-rata lama sekolah setiap tahunnya menunjukkan kesadaran
masyarakat akan pentingnya pendidikan semakin membaik.
3.
Konsumsi Rumah
Tangga
Berdasarkan hasil regresi pada tabel 4 diketahui bahwa nilai probabilitas konsumsi rumah tangga yaitu
sebesar 0.000 dengan nilai koefisien 0.8304469. Artinya konsumsi rumah tangga
berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Persentase
perubahan kenaikan konsumsi rumah tangga sebesar 1% akan mempengaruhi kenaikan
persentase perubahan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten / Kota Provinsi Lampung
sebesar 0.8304469 cetaris paribus. Dari
hasil model Error Correction diketahui bahwa nilai probabilitas konsumsi
rumah tangga yaitu sebesar 0.000 dengan koefisien 1.097089. Artinya konsumsi
rumah tangga berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi
dalam jangka pendek.
Hal ini sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh (Afiftah et al.,
2019) yang menyatakan
bahwa konsumsi rumah tangga berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan
ekonomi. Tingginya konsumsi rumah tangga disebabkan oleh tingginya pendapatan
masyarakat, sehingga secara tidak langsung perekonomian meningkat yang
memberikan dampak multiplier effect terhadap pertumbuhan ekonomi.
�Menurut (Statistik, 2021)
konsumsi rumah tangga merupakan penggerak utama perekonomian Provinsi Lampung.
Dilihat dari kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi 2019 komponen utama
penggerak ekonomi Lampung, konsumsi rumah tangga masih mendominasi struktur
ekonomi Provinsi Lampung dengan pangsa sebesar 59,65 persen. Konsumsi rumah
tangga di Provinsi Lampung tumbuh cukup solid dibandingkan tahun sebelumnya.
Hal ini disebabkan oleh penyesuain konsumsi dengan disposible income membaik
seiring meningkatnya serapan penduduk bekerja secara absolut. Beberapa gerai
makanan dan minuman serta perdagangan baru sepanjang tahun 2019 sehingga
berdampak pada kenaikan yang cukup signifikan pada tingkat konsumsi, di atas
pola seasonalnya.
5.
Uji Asumsi
Klasik
1.
Uji Normalitas
Uji normalitas
dilakukan untuk menguji apakah variabel dependen dan independent dari model
regresi berdistribusi normal atau tidak. Berdasarkan uji normalitas menunjukkan
bahwa nilai prob. Jarque-Bera sebesar 0.1868 > 0,05, maka dapat disimpulkan
bahwa data variabel dependen dan independent berdistribusi normal.
2.
Uji
Multikolinieritas
Uji multikolinieritas yang bertujuan untuk menguji apakah
pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Berdasarkan uji multikolinieritas menunjukkan nilai VIF sebesar 1.49
< 10, maka dapat disimpulkan bahwa data bebas dari gejala multikolinieritas.
3.
Uji
Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi
terjadi ketidaksamaan dari residual atau pengamatan ke pengamatan lain. Model
regresi yang baik adalah homokedastisitas atau tidak terjadi
heteroskedastisitas. Berdasarkan uji heteroskedastisitas menunjukkan bahwa
nilai prob chi2 sebesar 0.1843 > 0,05, maka tidak terjadi masalah
heteroskedastisitas.
4.
Uji
Autokorelasi
Berdasarkan uji autokorelasi menunjukkan bahwa nilai Prob F sebesar
0.0000 < 0,05, maka dapat disimpulkan terjadi masalah autokorelasi. Oleh
karena itu perlu dilakukan penyembuhan/perbaikan dengan cara melakukan uji Fixed
Effect Robust. Dengan membandingkan nilai standard error Fixed
Effect Robust dan Fixed Effect. Apabila terjadi perubahan nilai
standard error artinya sudah terbebas dari gejala autokorelasi.
KESIMPULAN
1.
Angka
harapan hidup tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten /
Kota Provinsi Lampung tahun 2014-2019.
2.
Rata-rata
lama sekolah berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di
Kabupaten / Kota Provinsi Lampung tahun 2014-2019.
3.
Konsumsi
rumah tangga berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di
Kabupaten / Kota Provinsi Lampung tahun 2014-2019.
BIBLIOGRAFI
Afiftah, A. T., Juliprijanto, W., &
Destiningsih, R. (2019). Analisis Pengaruh Pengeluaran Konsumsi Pemerintah Dan
Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Di Indonesia
Tahun 1988-2017. Dinamic: Directory Journal of Economic, 1(1),
11�22. Google Scholar
Andi Kustanto. (2020). Pertumbuhan Ekonomi
Regional Di Indonesia: Peran Infrastruktur, Modal Manusia Dan Keterbukaan
Perdagangan. Economics Development Analysis Journal, 25(1),
22�40. Google Scholar
Ari, A. R., Wibowo, D., & Rahayu, K. D.
(2021). The Influence of Human Development Index Components on Economic Growth
in DIY. 3rd International Conference of Banking, Accounting, Management and
Economics (ICOBAME 2020), 213�216. Google Scholar
Badan Pusat statistik. (2021). Indeks
Pembangunan Manusia. Google Scholar
Badan Pusat Statistik. (2015). Proyeksi
Penduduk Kabupaten/Kota Provinsi Lampung 2010-2020. Google Scholar
Badan Pusat Statistik. (2020). Indeks Pembangunan
Manusia Provinsi Lampung (IPM) Tahun 2019. 25, 1�8. Google Scholar
Bappeda Lampung. (2021). Roadmap
Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Lampung Tahun 2015-2025. Google Scholar
Dinar, M., Hasan, M., Ihsan, M., Ahmad, S.,
& Ma�ruf, M. I. (2019). Human Development Based on Composite Indicator of
Human Development Index 1. International Journal of Scientific Development
and Research, 4(7). www.ijsdr.org Google Scholar
Handayani, N. S., Bendesa, I., &
Yuliarmi, N. (2016). Pengaruh Jumlah Penduduk, Angka Harapan Hidup, Rata-Rata
Lama Sekolah, dan PDRB Per Kapita Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi
Bali. Jurnal Ekonomi Dan Bisnis Universitas Udayana, 5(10),
3449�3474. Google Scholar
Hepi, & Zakiah, W. (2018). Pengaruh
Angka Harapan Hidup Dan Rata-Rata Lama Sekolah Terhadap PDRB Perkapita Serta
Pertumbuhan Ekonomi Di Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2011-2015. Journal
Magister Ilmu Ekonomi Universtas Palangka Raya: Growth, 4(1), 56�68.
Google Scholar
Maqin, A. (2011). Pengaruh Kondisi
Infrastruktur terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Jawa Barat (Vol. 10, Issue
1). Google Scholar
Prawoto, A. T. B. N. (2016). Analisis
Regresi dalam Penelitian Ekonomi dan Bisnis: Dilengkapi Aplikasi SPSS dan
Eviews. Rajawali Pers. Google Scholar
Prawoto, N., & Tri Basuki, A. (2020).
The influence of macroeconomic variables, processing industry, and education
services on economic growth in indonesia. Entrepreneurship and
Sustainability Issues, 8(1), 1029�1040.
https://doi.org/10.9770/jesi.2020.8.1(69) Google Scholar
Ranis, G., & Stewart, F. (2019).
Economic Growth and Human Development in Latin America 1. In Economic
Reforms, Growth and Inequality in Latin America (pp. 63�88). Routledge. Google Scholar
Statistik, B. P. (2021). Laporan
Perekonomian Provinsi Lampung 2019. Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung.
Google Scholar
Sukirno, S. (2012). Makro Ekonomi Modern:
Perkembangan Pemikiran dari Klasik dan Baru. Jakarta: Raja Perindo Persada.
Google Scholar
Sukirno, S. (2021). Pengantar teori
mikroekonomi. Google Scholar
Todaro, M., & Smith, P. (2013).
Pertumbuhan Ekonomi di Dunia Ketiga. Edisi Kedelapan. Jakarta: Erlangga.
Google Scholar
Widarjono, A. (2013). Ekonometrika : Pengantar dan Aplikasinya. Ekonosia. Google Scholar