REPRESENTASI KRITIK SOSIAL MASYARAKAT MESIR DALAM KOMIK (KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA PADA KOMIK QAHERA THE SUPERHERO)

 

Moch. Safieqni Hananta Putra

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

hanantasafieqni@gmail.com

 

 

Abstract

Received:

27-01-2023

Purpose: to present a picture of the social life of the Egyptian people as well as the social criticism conveyed by comic artists through their works. Comics are a medium that can not only be used to describe phenomena and issues that occur in society, but also as a forum for criticism of social problems. Qahera The Superhero is a comic series with the story of the role of a female superhero which contains criticism of the social conditions of Egyptian society. Method: This research is a descriptive qualitative research using a sociology of literature study approach. The comic series Qahera the Superhero is the object of this study and consists of 10 episodes full of social criticism of the social conditions of Egyptian society. Results: The results of the research are various social criticisms in Egyptian society which are depicted in comics, including sexism and misogyny, sexual harassment, crimes against women, and social inequality for women in freedom. Conclusion: In this study, many social inequalities were found, especially for women in Egyptian society. Various social criticisms in Egyptian society that are depicted in the comic series Qahera The Superhero are sexism and misogyny, sexual harassment, crimes against women, and social inequality for women in freedom.

Accepted:

06-02-2023

Published:

27-02-2023

 

Keywords:

comic; social criticism; egyptian society; sociology of literature

 

Abstrak

Kata Kunci:

komik; kritik social; masyarakat mesir; sosiologi sastra

Tujuan: untuk menyajikan gambaran kehidupan sosial masyarakat Mesir serta kritik sosial yang disampaikan komikus melalui karyanya. Komik merupakan media yang tak hanya dapat digunakan untuk menggambarkan fenomena dan isu yang terjadi di masyarakat, namun juga sebagai wadah kritik terhadap permasalahan sosial. Qahera The Superhero merupakan serial komik dengan kisah peranan superhero perempuan yang berisi kritik akan kondisi sosial masyarakat Mesir. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dengan menggunakan pendekatan kajian sosiologi sastra. Serial komik Qahera the Superhero merupakan objek dalam penelitian ini dan terdiri dari 10 episode yang sarat akan kritik sosial terhadap kondisi sosial masyarakat Mesir. Hasil: Hasil penelitian berupa berbagai kritik sosial dalam masyarakat Mesir yang digambarkan dalam komik antara lain seksisme dan misogini, pelecehan seksual, kejahatan terhadap perempuan, dan ketimpangan sosial bagi perempuan dalam kebebasan. Kesimpulan: Dalam penelitian ini, ditemukan banyak ketimpangan sosial khususnya pada perempuan dalam masyarakat Mesir. Berbagai kritik sosial dalam masyarakat Mesir yang digambarkan dalam serial komik Qahera The Superhero adalah seksisme dan misogini, pelecehan seksual, kejahatan terhadap perempuan, dan ketimpangan sosial bagi perempuan dalam kebebasan.

Corresponding Author: Moch. Safieqni Hananta Putra 

E-mail: hanantasafieqni@gmail.com

https://jurnal.syntax-idea.co.id/public/site/images/idea/88x31.png

PENDAHULUAN

Banyak pelajaran berharga yang dapat dipetik dari sebuah karya sastra. Karya sastra sendiri merupakan karya seni yang mengungkapkan kehidupan serta realitas hubungan yang terjadi antara manusia dengan kondisi sosial yang menyertainya (Wonmaly, 2019). Sebagaimana dinyatakan dalam bukunya Teori Kesusasteraan yang diindonesiakan oleh Melani Budianta, sastra adalah produk dari kegiatan kreatif atau seni (Ismayani, 2017). Karya sastra tercipta dari proses kreatif dan seni dari pengarangnya. Proses kreatif tersebut dilakukan oleh pengarang dengan bermediakan karya sastra guna mengungkapkan ide dan gagasan.

Tak hanya berlandaskan pada imajinasi dari seorang pengarang, ide yang melatarbelakangi karya sastra juga tak luput dari refleksi realitas baik berupa pandangan kehidupan ideal maupun kondisi lingkungan suatu masyarakat yang terjadi di sekitarnya. Karya sastra dapat menjadi media yang berisi refleksi dari kondisi sosial yang ada di masyarakat. Hal itu karena sastra sarat akan pemahaman atas kondisi sosial, ideologi, serta harapan suatu masyarakat yang mencerminkan situasi sosial budaya. Dengan demikian, karya sastra merupakan karya cipta manusia yang tak dapat terpisahkan dengan masalah yang ada pada suatu masyarakat (Marliana et al., 2020).

Selain sebagai hiburan, karya sastra memiliki fungsi yakni media untuk menyampaikan pendapat dan menggambarkan kehidupan serta keadaan suatu masyarakat. Tugas sastra adalah sebagai pelopor pembaharuan maupun pemberi pengakuan terhadap fenomena atau gejala yang terjadi di masyarakat (Arifin et al., 2020). Nilai-nilai kemanusiaan pun mampu disampaikan melalui karya sastra sehingga berdasarkan fungsi, peranan, serta tugas tersebut, karya sastra memiliki kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat.

Dalam karya sastra, tak sedikit ditemukan kritik di dalamnya. Karya sastra yang berisi kritik disebut dengan karya kritik (Limbong & SUPARMAN, 2018). Karya sastra tersebut sarat akan kritik sosial, yang berarti di dalamnya mencakup ungkapan tentang berbagai penyimpangan yang terjadi pada kehidupan sosial masyarakat. Kritik sosial berupa tanggapan dan atau sindiran adalah bentuk representasi sosial yang ditujukan pada fenomena yang terjadi di masyarakat. Dengan demikian, kritik sosial dalam karya sastra merupakan upaya yang dilakukan oleh pengarang dalam memberikan tanggapan terkait persoalan masyarakat (Sriwahyuni & Asri, 2020).

Sejalan dengan kritik terkait masalah sosial dalam karya sastra, sebuah karya sastra dapat ditinjau dengan kajian sosiologi sastra. Sosiologi sastra merupakan telaah ilmiah serta objektif mengenai manusia dalam suatu masyarakat yang mengandung kajian sosiologi komunikasi sastra dan penafsiran teks secara sosiologis (Rahmawati, 2012). Pendekatannya berkaitan dengan situasi sosial yang direpresentasikan dalam karya sastra dan tentu mempertimbangkan berbagai segi kemasyarakatan seperti sistem politik, ekonomi, hukum, dan lain sebagainya.

Realitas sosial sebagaimana dijelaskan dapat dilihat dalam karya sastra. Terdapat berbagai bentuk karya sastra seperti novel, cerpen, puisi, dan lain sebagainya. Karya sastra lainnya yang juga dapat menjadi media dalam penggambaran realitas sosial adalah komik. Komik melalui kata-kata yang ada di dalamnya merupakan karya sastra yang digabungkan dengan seni yakni berupa ilustrasi gambar. Bahkan dewasa ini, karya sastra telah menggunakan teknologi informasi dan komunikasi sehingga muncul istilah sastra cyber. Menurut Widyasari dkk (2022, p. 52), sastra cyber adalah bentuk aktivitas sastra yang memanfaatkan media computer atau internet. Proses distribusi sebuah karya sastra semakin mudah dengan kemunculan sastra jenis ini (Pratama & Wati, 2022).

Sebagaimana dijelaskan di atas, kritik sosial dapat direpresentasikan melalui berbagai bentuk karya sastra. Selain novel, komik juga digunakan oleh pengarangnya untuk dapat menggambarkan kehidupan sosial pada suatu masyarakat. Dalam komik sebagai karya sastra, pembaca dihadapkan dengan episode atau karakter tokoh yang menggambarkan sesuatu atau pesan tertentu. Tak sedikit di dalamnya mengandung kritik baik berbentuk humor, ironi, sindiran, maupun sarkasme yang menggambarkan suatu fenomena (Khamdamovna, 2020).

Dalam penelitian ini, serial komik digital (webcomic) Qahera The Superhero dipilih untuk diteliti sebagai representasi dari gambaran sosial masyarakat Mesir. Qahera merupakan webcomic dwibahasa dengan bahasa Inggris dan bahasa Arab yang terdiri dari 10 episode dan dipublikasikan di laman https://qaherathesuperhero.com. Komik ini diciptakan pada tahun 2013 oleh Deena Mohamed, seorang ilustrator asal Mesir yang pertama kali membuat tokoh superhero berhijab di Mesir. Sesuai dengan nama komiknya, superhero berhijab tersebut bernama Qahera yang berasal dari bahasa Arab yang berarti menang atau penakluk. Qahera juga diambil dari nama ibukota Mesir,  القاهرة(Cairo) dalam bahasa Arab sebagaimana disebutkan dalam lamannya bahwa Qahera merupakan webcomic atau karya fiksi, dan bukan merupakan nama kota (Dubbati, 2017).

Sejak dipublikasikan secara daring, Qahera mendapat tanggapan yang antusias dari para cendekiawan, jurnalis, dan pembaca. Ulasan menggambarkannya sebagai seorang yang dinamis, bijaksana, dan juga jenaka (Dubbati, 2017). Dikutip dari Dubbati (2017), Qahera sangat populer di kalangan pembaca dan telah dibagikan oleh puluhan ribu pengguna dan menerima lebih dari setengah juta klik dalam setahun sejak publikasinya. Keberhasilan Qahera dalam mencuri perhatian masyarakat mengantarkan komik ini meraih penghargaan Best Digital Comic pada Cairo Comix Festival tahun 2015.

Dalam website pribadinya (https://deenadraws.art), Deena memaparkan alasan dibuatnya komik Qahera berawal dari dimulainya lelucon yang diunggah di platform Tumblr dan juga ditampilkan di berbagai media Barat baik lokal maupun internasional. Sebagaimana dikutip dalam Demdarsh (2013), ia termotivasi untuk membuat Qahera karena kurangnya representasi wanita berjilbab di media dan komik. Ia juga menjelaskan bahwa komik ini dibuat sebagai bentuk respon atas masalah sosial yang ada di masyarakat.

Penelitian tentang serial komik Qahera The Superhero telah dilakukan sebelumnya berjudul “The Woman in Hijab as a Freak: Super(Muslim)woman in Deena Mohamed’s Webcomic Qahera” (Dubbati, 2017). Penelitian tersebut berfokus pada tokoh komik pahlawan wanita yang disebut aneh karena menggunakan hijab. Teori yang digunakan adalah teori gender dan studi subaltern. Berbeda dengan penelitian ini, pendekatan yang digunakan adalah teori kritik sosial yang bertujuan untuk menggambarkan kondisi masyarakat Mesir khususnya perempuan yang digambarkan dalam serial komik Qahera The Superhero.

Penelitian ini mendeskripsikan tentang bagaimana kritik sosial yang ada pada masyarakat Mesir direpresentasikan oleh komikus dalam serial komik Qahera The Superhero dengan menggunakan kacamata teori sosiologi sastra yang merupakan suatu telaah dalam karya sastra yang bersifat objektif dan ilmiah tentang fenomena sosial di masyarakat tersebut (Rahmawati, 2012). Pendekatan sosiologi sastra diaplikasikan sebagai pendekatan utama penelitian ini bertujuan untuk dapat menganalisis pesan berupa kritik pada kondisi sosial masyarakat Mesir terhadap perempuan yang terkandung dalam komik Qahera The Superhero.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan teori sosiologi sastra yang bertujuan untuk menjelaskan kritik sosial dalam komik yang disajikan oleh komikusnya. Metode kualitatif digunakan dengan melakukan pengamatan secara rinci dan mendalam serta melakukan pengumpulan data secara detail untuk dapat menjelaskan fenomena dengan jelas (Luviani & Delliana, 2020). Sebagai riset kualitatif deskriptif dengan menggunakan metode studi pustaka, penelitian ini memiliki tiga tahapan yaitu penyediaan atau pengumpulan data, analisis data, dan penyajian hasil dari penelitian (Adlini et al., 2022).

Mengacu pada peneliti menggunakan metode simak dalam proses pengumpulan data dengan teknik dasar berupa teknik simak pada seluruh teks dari sumber data (Kurniasari, 2017), kemudian dilanjutkan dengan teknik catat sebagaimana dijelaskan oleh Zaim (2014). Dalam menganalisis data, mengacu pada (Nasution, 2021), langkah-langkah yang dilakukan peneliti dalam proses analisis data adalah kondensasi data, penyajian data, dan verifikasi atau penarikan kesimpulan.

Sumber data primer pada penelitian ini adalah seluruh isi serial komik Qahera The Superhero yang terdiri dari 10 episode yang dipublikasikan di laman qaherathesuperhero.com dengan menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Arab. Baik komik berbahasa Inggris maupun berbahasa Arab, Qahera the Superhero tidak memiliki perbedaan apapun dari segi konteks, gambar, maupun alur cerita. Pembeda dari keduanya hanyalah bahasa yang digunakan dalam penulisan teks dalam komik. Data yang digunakan dalam penelitian adalah episode Qahera the Superhero berbahasa Inggris dengan menggunakan delapan episode sebagai sampel dari penelitian.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Komik Qahera The Superhero dibuat pertama kali pada tahun 2013 oleh Deena Mohamed, seorang ilustrator asal Mesir yang karyanya dapat dilihat melalui https://deenadraws.art. Dalam karyanya, ia menciptakan tokoh superhero berhijab di Mesir dalam komik yang publikasikan melalui website atau laman https://qaherathesuperhero.com.

 

Gambar 1. Tampilan laman https://qaherathesuperhero.com

Webcomic dwibahasa ini terdiri 10 episode dengan bahasa Inggris dan bahasa Arab dengan mengangkat tema permasalahan sosial di Mesir. Berikut adalah tema-tema dalam serial komik Qahera the Superhero beserta tanggal rilisnya:

 

 

 

Tabel 1. Tema dan Edisi Serial Komik Qahera The Superhero Bahasa Arab

Tema

Edisi

-

-

-

-

عن التحرش

05 September 2013

عن المظاهرات

30 November 2013

عن الموسيقى، نوع ما

04 Januari 2014

عن الوطنية والإنسانية

29 Juli 2014

عن اختيارات الستات

29 Juli 2015

عن القوات الخارقة

26 Agustus 2015

عن الاشياء التي تزعجنا

18 Februari 2019

عن الأساسيات

10 April 2019

Sumber: diolah oleh peneliti

 

Tabel 2. Tema dan Edisi Serial Komik Qahera The Superhero Bahasa Inggris

Tema

Edisi

Brainstorm

30 Juni 2013

On Femen

20 Juli 2013

On Sexual Harrasment

02 September 2013

On Protests

25 November 2013

On Music (Sort of)

06 Januari 2014

On Accountability

29 Juli 2014

On Women’s Choices

28 Juli 2015

On Flight

25 Agustus 2015

On Things We Have to Worry About

18 Februari 2019

On Basic Equality and Such

10 April 2019

Sumber: diolah oleh peneliti

Berbagai bentuk penyimpangan sosial terjadi di antara kehidupan sosial masyarakat Mesir. Pada bagian ini, peneliti akan memaparkan hasil analisis tentang representasi kritik sosial kondisi masyarakat Mesir yang digambarkan oleh Deena Mohamed dalam serial webcomic-nya yakni Qahera The Superhero. Berdasarkan hasil analisis, peneliti menemukan kritik sosial masyarakat Mesir yang direpresentasikan melalui komik, yaitu seksisme dan misogini, pelecehan seksual, kejahatan terhadap perempuan, dan kebebasan perempuan,

 

Seksisme dan Misogini

Seksisme merupakan ideologi yang mempertahankan status quo, yakni mendukung subordinasi dan penaklukan perempuan (Martinez-Pecino & Durán, 2019). Dalam bukunya The Logic of Misogyny berpendapat bahwa misogini adalah suatu upaya untuk menegakkan patriarki yang merupakan bagian dari sistem dominasi, sehingga dalam konsekuensi sosialnya akan sangat merugikan kelas perempuan.

Menurut KBBI Daring Kemdikbud 2016, seksisme berarti penggunaan kata atau frasa yang meremehkan atau menghina berkenaan dengan kelompok, gender, ataupun individual. Sedangkan misogini merupakan kata nomina yang berarti kebencian terhadap wanita. Dilansir dari laman www.komnasham.go.id, seksisme merupakan bentuk diskriminasi berdasarkan gender maupun pemikiran yang mempercayai bahwa dibandingkan perempuan, laki-laki lebih superior. Sedangkan misogini berarti bentuk diskriminasi terhadap perempuan yang melibatkan unsur kebencian. Dalam hal ini, seksisme dan misogini sama-sama bermakna menomorduakan perempuan. Gender perempuan dianggap pihak yang pantas untuk ditindas dan dieksploitasi.

Pada komik Qahera The Superhero, ditemukan bentuk kritik sosial yang mengandung makna menentang seksisme dan misogini pada bagian pertama dan kedua (Rahmansyah et al., 2022). Bagian pertama berjudul ‘Brainstorm dan bagian kedua berjudul ‘On Femen’ merupakan ilustrasi yang berisi kritik pengarang terhadap seksisme dan misogini yang berkaitan dengan kondisi sosial perempuan Mesir. Qahera berusaha untuk selalu melawan siapa saja yang berusaha melemahkan dan menyudutkan perempuan atau mengontrol konstruksi citra dan pilihan perempuan.

Qahera mengambarkan yang pendengarannya sangat peka terhadap penindasan perempuan (Hosein, 2020). Kritik dalam komik berupa bentuk ketidaksetujuannya terhadap wacana yang mengarah kepada patriarki atau budaya palosentrime. Pada bagian pertama, seorang ulama menyampaikan pada jamaahnya bahwa seorang istri yang baik adalah istri yang patuh. Perempuan hendaknya harus selalu berada di dalam rumah. Bagi Qahera, hal ini merupakan pernyataan misoginis Arab sampah karena berisi diskriminasi terhadap perempuan. Seksisme juga erat kaitannya dengan tema ini karena mengandung narasi bahwa laki-laki lebih superior daripada perempuan.

 

Gambar 2. Pandangan misogini Arab terhadap perempuan (Hosein, 2020)

Pada komik bagian kedua, pengarang membuat ilustrasi atas dasar keresahan terhadap aksi pengunjuk rasa komunitas Femen yang melakukan protes tanpa mengenakan busana atau bertelanjang dada di depan masjid Agung di Paris pada April 2013. Mengilustrasikan tokoh komik Qahera yang sedang melawan para pengunjuk rasa yang bersikeras untuk menyerukan bahwa perempuan Muslim hendaknya diselamatkan agar terbebas dari doktrin penindasan pakaian (Hosein, 2020).

 

Gambar 3. Femen ingin menyelamatkan perempuan Mesir (Hosein, 2020)

Femen dalam protesnya menggunakan ungkapan berupa penghinaan perempuan yang mengenakan gamis dan cadar. Mereka menuntut kebebasan berpakaian dan menganggap bahwa pakaian yang telah menjadi pilihan para perempuan Muslim sebagai sesuatu yang bersifat menindas. Ilustrasi Qahera menentang aksi Femen merupakan bentuk kritik terhadap feminisme Barat yakni Femen yang menyerukan bahwa perempuan Muslim telah memaku tubuhnya dengan pakaian yang menindas kebebasan mereka (Dubbati, 2017).

Pada serial komik bagian kesembilan, menyinggung kembali tentang doktrin yang mengekang kebebasan perempuan (Hosein, 2020). Dalam ilustrasinya, perempuan tidak perlu peka terhadap kondisi sekitar, perempuan hendaknya hanya berada di sisi suami. Superioritas laki-laki kembali digambarkan, yang berarti perempuan menjadi objek yang dinomorduakan. Berikut adalah ilustrasinya:

 

Gambar 4. Peraturan sosial tentang perempuan (Hosein, 2020)

Pelecehan Seksual

Pelecehan seksual merupakan bentuk kekerasan yang banyak terjadi sehari-hari pada wanita dan anak perempuan bahkan di ruang publik sekalipun (Ceccato & Loukaitou-Sideris, 2022). Women (2017, p. 1) melaporkan bahwa ketakutan akan menjadi korban pelecehan seksual dapat menghalangi perempuan untuk dapat berpartisipasi dalam kegiatan sekolah, pekerjaan, dan kegiatan di lingkup publi, serta membatasi berbagai peluang dalam kehidupan mereka.  

Salah satu tema yang sangat ditonjolkan dalam komik Qahera The Superhero adalah kritik sosial tentang pelecehan seksual. Komikus menyatakan di dalam bagian ketiga komiknya bahwa sebagian besar cerita bertemakan kejahatan seksual dilandasi oleh kejadian nyata yang terjadi di Mesir. Komik Qahera merepresentasikan gambaran pelecehan seksual yang nyata terjadi di jalanan Mesir.

 

Gambar 5. kejahatan seksual terhadap perempuan

yang marak di masyarakat Mesir

Senada dengan kejahatan seksual yang digambarkan dalam komik, data yang dilansir dari https://www.peacewomen.org menyebutkan bahwa sebanyak 99,3 % perempuan dewasa dan anak-anak di Mesir mengalami pelecehan seksual. Data ini didapat berdasarkan hasil wawancara terhadap lebih dari 3000 wanita dan pria berusia 10 hingga 35 tahun yang berada di 7 distrik berbeda yang termaktub dalam laporan UN Women (2013) berjudul Study on Ways and Methods to Eliminate Sexual Harassment in Egypt. Komik Qahera The Superhero bagian ketiga yang berjudul On Sexual Harassment merupakan bentuk kritik sosial atas kejahatan seksual terhadap perempuan yang sangat marak hadir di antara masyarakat Mesir.

Gambar 6. Pelecehan seksual di jalanan pada perempuan berhijab

Pada gambar di atas digambarkan seorang polisi menjelaskan kepada korban pelecehan seksual yang tidak berhijab dan berpakaian longgar bahwa perempuan hendaknya memperhatikan bagaimana seharusnya berpakaian dan tampil di publik. Padahal pada kenyataannya, meskipun telah menggunakan pakaian tertutup sekalipun –yang diilustrasikan dengan Qahera yang sedang melintasi jalanan–, perempuan tetap menjadi korban dari kejahatan seksual di jalanan. Hal ini semakin menguatkan bahwa pelaku lah yang cabul, dan inilah yang terjadi di jalanan publik Mesir.

Kritik sosial terkait kejahatan atau pelecehan seksual ditemukan dalam data lainnya. Pada serial komik bagian keempat, mengilustrasikan perempuan yang menjadi sasaran dari perilaku kejahatan seksual (Hosein, 2020). Kejahatan tersebut berupa transaksi yang menjadikan perempuan sebagai alat tukarnya. Kejahatan seksual dapat terjadi kapan saja dan bahkan pada keramaian publik, yang digambarkan pada saat terjadi unjuk rasa atau protes. Berikut adalah ilustrasinya:

 

Gambar 7. Kejahatan seksual di keramaian publik (Hosein, 2020)

 

Maraknya kejahatan seksual di jalanan Mesir menjadikan topik ini diselipkan di beberapa bagian dalam serial komik. Kritik sosial terkait pelecehan seksual yang dilakukan oleh laki-laki ditemukan juga pada serial komik Qahera bagian kesembilan yang berjudul On Things We Have to Worry About. Pada bagian ini, (Hosein, 2020) menegaskan kembali bahwa laki-laki cabul harus ditindak juga dan bukan hanya dengan menyalahkan perempuan dan atau cara berpakaiannya. Dengan demikian, pelecehan seksual yang dilakukan oleh laki-laki cabul harus menjadi perhatian utama dalam masyarakat. Berikut adalah ilustrasinya:

 

Gambar 8. Hukuman bagi laki-laki cabul (Hosein, 2020)

Kejahatan Terhadap Perempuan

Selain pelecehan seksual, perempuan juga menjadi target dari tindak kejahatan lainnya. UN Women (2017, p. 1) melaporkan bahwa pelecehan seksual dan bentuk kekerasan kejahatan lainnya terhadap perempuan hadir di ruang publik di setiap negara baik di daerah pedesaan maupun perkotaan, bahkan di ruang online sekalipun. Perempuan digambarkan sebagai perempuan lemah tak berdaya dan menjadi korban kejahatan karena ketidakmampuan dalam perlawanan.

Selaras dengan serial komik bagian keempat, (Hosein, 2020) tentang perempuan yang menjadi sasaran dari perilaku kejahatan seksual, Perempuan diilustrasikan tidak dapat melawan kejahatan yang dilakukan oleh kali-laki. Selain itu, kejahatan terhadap perempuan digambarkan dalam serial komik bagian kedelapan. Dalam komiknya, (Hosein, 2020) menceritakan tentang perempuan yang diganggu oleh dua laki-laki yang ingin merampas barang miliknya.

 

Gambar 9. Perempuan menjadi sasaran dari perilaku kejahatan seksual (Hosein, 2020)

 

Gambar 10. Perempuan menjadi sasaran dari perilaku kejahatan (Mohamed, 2015b)

Kebebasan Perempuan

Kebebasan merupakan bagian dari hak asasi manusia termasuk perempuan. Di antara kebebasan tersebut adalah kebebasan berpendapat dan mengekspreksikan diri. Dalam serial komik bagian keenam bertemakan On Accountability, mengilustrasikan kumpulan laki-laki di kafe yang mempertanyakan mengapa perempuan harus muncul di tempat publik. Mereka juga tidak menyukai perempuan yang ikut berpendapat mengenai suatu perkara –dalam hal ini adalah isu Palestina.

 

Gambar 11. Laki-laki tidak menyukai perempuan yang ikut berpendapat

Kebebasan perempuan nampaknya sangat dibatasi. Perempuan seakan tidak memiliki pilihan dan kebebasan terhadap dirinya. Perempuan dianggap harus mengikuti pemikiran umum yang telah menjadi anggapan umum publik. Sebagai contoh, dalam serial komik ketujuh, disinggung tentang kritik yang disampaikan Qahera kepada dua laki-laki yang menilai perempuan berdasarkan pakaiannya (Mohamed, On Women's Choices, 2015a).

 

Gambar 12. Protes Qahera tentang kebebasan perempuan (Mohamed, 2015a)

KESIMPULAN

Kritik sosial merupakan bentuk dari kepekaan sosial. Di dalamnya tak hanya tentang urusan pribadi, namun kaitannya pada mengajak khalayak untuk dapat melihat dan memperhatikan masalah yang ada di masyarakat. Dengan adanya kritik sosial diharapkan dapat terbentuk komunikasi mendalam yang bertujuan untuk mengendalikan suatu sistem sosial yang telah mengalami ketimpangan. Komik Qahera The Superhero merupakan wujud dari kemampuan perempuan Mesir untuk menyuarakan kekuatan untuk mengalahkan berbagai masalah yang ada pada masyarakat Mesir.

Kesenjangan adalah landasan dari kritik sosial pada suatu kondisi sosial dalam masyarakat. Dalam penelitian ini, ditemukan banyak ketimpangan sosial khususnya pada perempuan dalam masyarakat Mesir. Berbagai kritik sosial dalam masyarakat Mesir yang digambarkan dalam serial komik Qahera the Superhero adalah seksisme dan misogini, pelecehan seksual, kejahatan terhadap perempuan, dan ketimpangan sosial bagi perempuan dalam kebebasan.

Implikasi dari penelitian ini secara teoretis adalah untuk semakin memperkaya telaah karya sastra dan menginformasikan kondisi sosial kehidupan masyarakat Mesir dalam karya sastra berupa komik web. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan untuk melakukan telaah lanjutan terhadap karya sastra modern lainnya yang berbasis web dalam kurun waktu tertentu khususnya dalam tinjauan sosiologi sastra. Penelitian selanjutnya dapat berupa kajian karya sastra berbentuk komik web dari sudut pandang di luar sosiologi sastra, misalnya dengan teori feminisme dan lain sebagainya.

 

BIBLIOGRAFI

Adlini, M. N., Dinda, A. H., Yulinda, S., Chotimah, O., & Merliyana, S. J. (2022). Metode penelitian kualitatif studi pustaka. Edumaspul: Jurnal Pendidikan, 6(1), 974–980. https://doi.org/10.33487/edumaspul.v6i1.3394

 

Arifin, M. Z., Katrini, Y. E., & Hapsari, T. P. R. N. (2020). Nilai-Nilai Perjuangan Tokoh Utama dalam Novel Dunia Samin Karya Soesilo Toer: Tinjauan Sosiologi Sastra dan Implementasinya sebagai Materi Ajar Pembelajaran Sastra di SMA. Repetisi: Riset Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 3(2), 26–38. https://doi.org/10.31002/repetisi.v3i2.1028

 

Ceccato, V., & Loukaitou-Sideris, A. (2022). Fear of sexual harassment and its impact on safety perceptions in transit environments: a global perspective. Violence against Women, 28(1), 26–48. https://doi.org/10.1177/1077801221992874

 

Dubbati, B. (2017). The Woman in Hijab as a Freak: Super (Muslim) woman in Deena Mohamed’s Webcomic Qahera. Journal of Graphic Novels and Comics, 8(5), 433–449. https://doi.org/10.1080/21504857.2017.1355830

 

Hosein, S. (2020). Veiling the superhero: A comparative analysis of Dust and Qahera. Feminist Encounters: A Journal of Critical Studies in Culture and Politics, 4(1), 1–12. https://doi.org/10.20897/femenc/7913

 

Ismayani, R. M. (2017). Kreativitas dalam pembelajaran literasi teks sastra. Semantik, 2(2), 67–86. https://doi.org/10.22460/semantik.v2i2.p67-86

 

Khamdamovna, M. U. (2020). Similarities and Differences between types of Comic. International Journal on Integrated Education, 3(9), 105–107. https://dx.doi.org/10.31149/ijie.v3i9.596

 

Kurniasari, F. (2017). Implementasi Pendekatan Saintifik Pada Penugasan Aktivitas Di Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas VII SMP Berdasarkan Kurikulum 2013. Jurnal Pendidikan Edutama, 4(1), 9–26. http://dx.doi.org/10.30734/jpe.v4i1.44

 

Limbong, J. L., & SUPARMAN, S. (2018). Kemampuan menentukan unsur intrinsik cerpen melalui model pembelajaran inkuiri siswa kelas VIII Smp Negeri 10 Kota Palopo. Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, Dan Sastra, 2(1). http://dx.doi.org/10.30605/onoma.2016.895

 

Luviani, A., & Delliana, S. (2020). Pengaruh Terpaan Tayangan Animasi Nussa Official (Cuci Tangan Yuk) Di Youtube Terhadap Perilaku Imitasi Anak. Jurnal Mutakallimin: Jurnal Ilmu Komunikasi, 3(2). http://dx.doi.org/10.31602/jm.v3i2.3726

 

Marliana, R., Afdaliah, N., & Rismawati, R. (2020). Women’s Roles in Puritan Society as reflected in Nathaniel Hawthorne’s The Scarlett Letter. ELS Journal on Interdisciplinary Studies in Humanities, 3(2), 265–270. https://doi.org/10.34050/els-jish.v3i2.10046

 

Martinez-Pecino, R., & Durán, M. (2019). I love you but I cyberbully you: The role of hostile sexism. Journal of Interpersonal Violence, 34(4), 812–825. https://doi.org/10.1177/0886260516645817

 

Nasution, L. S. (2021). Experiential and Interpersonal Meanings in Women Leader’s Discourses on Covid-19: A Case on Jacinda Ardern and Tsai Ing-wen. Utamax: Journal of Ultimate Research and Trends in Education, 3(3), 176–186. https://doi.org/10.31849/utamax.v3i3.6510

 

Pratama, P. A., & Wati, R. (2022). PENGGUGATAN KANONISASI SASTRA MELALUI MEDIA SIBER KARYAKARSA. KULTURISTIK: Jurnal Bahasa Dan Budaya, 6(1), 1–8. https://doi.org/10.22225/kulturistik.6.1.2754

 

Rahmansyah, R. A., Nabillah, N., & Nurjanah, A. S. (2022). Tindakan Hukum Terhadap Anak Sebagai Korban Pelecehan Seksual yang Dilakukan Herry Wirawan. Jurnal Indonesia Sosial Sains, 3(06), 956–964. https://doi.org/10.22225/kulturistik.6.1.2754

 

Rahmawati, R. V. (2012). Kritik sosial dalam novel tuhan, izinkan aku menjadi pelacur! karya muhidin m dahlan (sebuah tinjauan sosiologi sastra). Suluk Indo, 1(2), 132–146. https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/sulukindo/article/view/535

 

Sriwahyuni, I., & Asri, Y. (2020). Kritik sosial dalam novel nayla karya Djenar Maesa Ayu. Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 9(1), 90–96.

 

Wonmaly, W. (2019). ANALISIS STRUKTUR GENETIK DAN ASPEK PEDAGOGIS DALAM NOVEL ATHIRAH KARYA ALBERTHIENE ENDAH. Literasi: Jurnal Bahasa Dan Sastra Indonesia Serta Pembelajarannya, 3(1), 51–62. http://dx.doi.org/10.25157/literasi.v3i1.1994