DETERMINASI YANG BERHUBUNGAN DENGAN ISPA PADA BALITA DI FKTP SANGGAMARA KODIM 0101/BS KESDAM IM BANDA ACEH TAHUN 2021

Miswarti1, Nadhifah Salsabila Awaliah2 Muhammad Saied3 Nila Atikah4 Maulina Nabila5

Universitas Muhammadiyah Aceh 1, Universitas Gunung Jati Cirebon2 politeknik TEDC Bandung3 Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon4 Institute Pendidikan dan Bahasa Invada5

[email protected]1, [email protected]2, [email protected]3, [email protected]4, [email protected]5

 

Received:� 14-07-2022

Accepted:� 26-07-2022

Published: 28-07-2022

Abstract

Keywords:

Toddlers, Determinants, Health Facilities, ARI

First Level Health Facility (FKTP) Sanggamara KODIM 0101/BS KESDAM Iskandar Muda Banda Aceh City is located in the Kuta Alam District, Banda Aceh City, occupying the 4th highest position in cases of Acute Respiratory Infection (ARI) out of 9 sub-districts in Banda Aceh City. Of the 10 outpatient diseases, FKTP Sanggamara KODIM 0101/BS KESDAM Iskandar Muda, ARI took the first place with 127 cases compared to 9 other diseases. The purpose of this study was to analyze the determinants associated with ARI in Toddlers at the First Level Health Facility (FKTP) Sanggamara Kodim 0101/BS Kesdam Iskandar Muda Banda Aceh City. The method used in this research is descriptive analysis with Cross Sectional Design. The results of this study are the age of toddlers with P-Value: 0.001, gender of toddlers with P-Value: 0.008 personal hygiene with P-Value: 0.001, mother's occupation with P-Value: 0.034, Mother's knowledge with P-Value: 0.032, Ventilation room with P-Value 0.001, humidity of room with P-Value: 0.000, Occupancy density with P-Value 0.001, and use of pesticides with P-Value: 0.021, mother's education with P-Value: 0.113, type of house floor with P-Value: 0.149, type of house wall with P-Value 0.105 and cooking fuel with P-Value: 0.520

Abstrak

Kata kunci:

Balita, Determinan, Faskes, ISPA

Pendahuluan: Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Sanggamara KODIM 0101/BS KESDAM Iskandar Muda Kota Banda Aceh terletak di wilayah Kecamatan Kuta Alam Kota Banda Aceh, menempati posisi ke 4 tertinggi kasus Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dari 9 Kecamatan yang ada di Kota Banda Aceh. Dari 10 penyakit penyakit rawat jalan FKTP Sanggamara KODIM 0101/BS KESDAM Iskandar Muda tersebut penyakit ISPA menempati posisi pertama sebanyak 127 kasus dibandingkan 9 penyakit lainnya. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis determinan yang berhubungan dengan ISPA pada Balita di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Sanggamara Kodim 0101/BS Kesdam Iskandar Muda Kota Banda Aceh. Metode: Adapun metode yang digunakan penelitian adalah analisis deskriptif dengan Desain Cross Sectional. Hasil: Hasil Penelitian ini adalah umur balita dengan P-Value: 0,001, jenis kelamin balita dengan P-Value: 0,008 personal hygiene dengan P-Value: 0,001, pekerjaan ibu dengan P-Value: 0,034, pengetahuan Ibu dengan P-Value: 0,032, Ventilasi kamar dengan P-Value 0,001, kelembaban kamar dengan P-Value: 0,000, Kepadatan Hunian dengan P-Value 0,001, dan pemakaian pestisida dengan P-Value: 0,021, pendidikan ibu dengan P-Value: 0,113, jenis lantai rumah dengan P-Value: 0,149, jenis dinding rumah dengan P-Value 0,105 dan bahan bakar masak dengan P-Value: 0,520.

Corresponding Author: Miswarti

E-mail: Universitas Muhammadiyah Aceh

PENDAHULUAN

Menurut World Health Organization (WHO) (2013) menyebutkan bahwa Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) didefinisikan sebagai penyakit saluran pernafasan akut yang disebabkan oleh agen infeksius yang ditularkan dari manusia. Menurut Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (2014) menyebutkan bahwa ISPA adalah penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari aliran pernafasan mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya seperti sinus, rongga, telinga tengah dan pleura (Kemenkes RI, 2014).

Faktor yang mempengaruhi kejadian ISPA baik secara langsung maupun tidak langsung. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya ISPA dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu faktor instrinsik meliputi umur, jenis kelamin, pemberian ASI, status gizi, berat badan lahir rendah, status imunisasi, dan pemberian makanan yang terlalu dini (Depkes RI, 2008). Sedangkan faktor ekstrinsik meliputi umur ibu, pengetahuan ibu, faktor pedidikan ibu, kepadatan hunian, kondisi fisik rumah, ventilasi rumah, sosial ekonomi, dan pekerjaan (Departemen Kesehatan RI, 2008).

Selanjutnya menurut WHO (2015) menegaskan bahwa ISPA adalah penyakit yang ditularkan melalui udara. Berdasarkan hal tersebut, balita yang memiliki area ventilasi rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan berisiko terkena ISPA. Untuk menghindari risiko tersebut, orang tua balita yang area ventilasi rumahnya tidak memenuhi syarat kesehatan perlu menambah area ventilasi rumahnya (WHO, 2015). Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian (Juniartha, Hadi, & Notes, 2014)menunjukkan bahwa jika luas ventilasi rumah berkaitan dengan kejadian ISPA pada anak balita. Pertukaran udara di kamar balita dengan area yang berventilasi baik akan terjaga dengan baik (Juniartha et al., 2014)

Selain dari ventilasi rumah, kepadatan hunian juga berpengaruh terdapat kejadian ISPA, hal ini dikuatkan oleh hasil penelitian Ningrum (2015) yang menyatakan bahwa kepadatan hunian akan mempengaruhi balita yang mengalami ISPA, karena kepadatan hunian yang tinggi akan meningkatkan suhu dan kelembaban ruangan akibat panas yang dikeluarkan dari pernafasan penghuni. Kelembaban yang tinggi akan menjadi media yang mendukung penyebaran kuman penyebab ISPA dan mempercepat penyebaran ISPA (Ningrum, 2015). Selanjutnya menurut penelitian Ningrum (2015), menyebutkan bahwa karena pernafasan penghuni mengeluarkan panas, kepadatan penghuni yang tinggi akan meningkatkan suhu dan kelembaban ruangan.

Menurut WHO (2013) kasus ISPA di seluruh dunia sebanyak 18,8 miliar dan kematian sebanyak 4 juta orang per tahun. Kasus ISPA di Indonesia pada tahun 2015 menempati urutan pertama sebanyak 25.000 jiwa se-Asia Tenggara pada tahun 2015 (WHO, 2016). ISPA merupakan penyakit yang banyak terjadi di negara berkembang serta menjadi salah satu penyebab kunjungan pasien ke Puskesmas (40%-60%) dan rumah sakit (15%-30%) (Kemenkes RI, 2018).

Gambar 1. 1 Prevalensi ISPA Pada Balita di Indonesia dan Provinsi Aceh

Sumber: Profil Kesehatan Indonesia, 2018.

Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat bahwa untuk tingkat prevalensi ISPA atau Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada balita di Indonesia yang terdapat pada periode tahun 2016 tercatat sebanyak 65,27%, kemudian data tersebut terjadi penurunan prevalensi pada periode tahun 2017 tercatat sebanyak 51,19%, Kemudian, tetapi terjadi kenaikan atau pertambahan pada periode tahun 2018 tercatat menjadi sebanyak 56,51% (Kemenkes RI, 2018). Demikian juga terjadi pada Provinsi Aceh, pada tahun 2016 prevalensi ISPA pada balita sebanyak 10,7%, terjadi penurunan sedikit pada tahun 2017 menjadi 9,91%, dan terjadi kenaikan pada tahun 2018 menjadi 12,59% (Kemenkes RI, 2018).

No.

Kecamatan

Tahun

Decrease/Increase

2016

2017

2018

2016-2018

1

Meuraxa

3,263

4,262

3,915

652

2

Jaya Baru

2,202

2,547

2,866

664

3

Banda Raya

407

450

437

30

4

Lueng Bata

1,537

1,284

945

(592)

5

Baiturrahman

3,486

4,094

4,232

746

6

Kuta Raja

1,109

708

633

(476)

7

Kuta Alam

2,292

2,371

2,697

405

8

Syiah Kuala

3,479

2,09

2,275

(1,204)

9

Ulee Kareng

710

794

593

(117)

Jumlah

18485

18602

18593

108

�Tabel 1. 1 Kasus ISPA Pada Balita Per Kecamatan Kota Banda Aceh

Sumber: Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, 2018

�� Berdasarkan Tabel 1.1 di atas dapat dilihat bahwa ada 5 Kecamatan yang mengalami kenaikan kasus ISPA dari 2016 s/d 2018 di seluruh kecamatan di Kota Banda Aceh. Kasus yang tertinggi di Kecamatan Baiturrahman sebanyak 746 kasus, disusul Kecamatan Jaya Baru sebanyak 664 kasus dan selanjutnya Kecamatan Meuraxa sebanyak 652, kemudian Kecamatan Kuta Alam dan terakhir Kecamatan Banda Raya sebanyak 30 kasus.

Gambar 1. 2 Grafik Persentase ISPA 5 Kecamatan di Kota Banda Aceh

Sumber: Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, 2021

 

Berdasarkan Gambar 1.2 di atas dapat dilihat bahwa pada kurun waktu 2016 s/d 2018, Kecamatan Jaya Baru mengalami persentase kenaikan tertinggi ISPA sebanyak 30,15%, selanjutnya Kecamatan Baiturrahman sebanyak 21,40% dan Kecamatan Meuraxa sebanyak 19,98%. Kecamatan Kuta alam menempati posisi ke-4 persentase tertinggi sebanyak 17,67% dan terakhir Kecamatan Banda Raya sebanyak 7,37%. (Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, 2018). Lokasi penelitian adalah Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Sanggamara KODIM 0101/BS KESDAM Iskandar Muda Kota Banda Aceh terletak di wilayah Kecamatan Kuta Alam Kota Banda Aceh, berdasarkan data di atas, menempati posisi ke 4 tertinggi dari 9 Kecamatan yang ada di Kota Banda Aceh.

Tabel 1. 2

Rekapitulasi 10 Besar Penyakit Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJPT)

Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Sanggamara KODIM 0101/BS

KESDAM Iskandar Muda, Kecamatan Kuta Alam Kota Banda Aceh,

Bulan Oktober 2020

No

Kode Diagnosa

Nama Penyakit

Jumlah

1

J06.9

Acute Upper Respiratory Infection

127

2

K03.2

Erosion Of Teeth

42

3

L20.8

Other Atopic Dermatitis

36

4

K02.8

Other Dental Caries

26

5

M00

Pyogenic Arthritis

21

6

K30

Dyspepsia

17

7

H60

Otitis Externa

15

8

H10

Conjuctivitis

13

9

E11

Non Insulin Dependent Diabetes Melitus

11

10

K05.0

Acute Gingivitis

11

Jumlah

319

Sumber: FKTP Sanggamara KODIM 0101/BS KESDAM Kota Banda Aceh, 2020

Berdasarkan Tabel 1.2 di atas dapat dilihat dari 10 penyakit penyakit rawat jalan FKTP Sanggamara KODIM 0101/BS KESDAM Iskandar Muda, penyakit ISPA menempati posisi pertama sebanyak 127 kasus dibandingkan 9 penyakit lainnya berdasarkan data Bulan Oktober 2020.

Fasilitas kesehatan FKTP Sanggamara KODIM 0101/BS KESDAM Iskandar Muda Kota Banda Aceh adalah salah satu fasilitas kesehatan yang ada di Kecamatan Kuta Alam Kota Banda Aceh. Berdasarkan hasil pengambilan data awal, peneliti menemukan bahwa penyakit ISPA adalah penyakit yang terbanyak berdasarkan diagnosa kunjungan pasien di Bulan Oktober 2020. Selain itu, secara observasi saat pengambilan data awal peneliti melihat banyak pasien balita dan lansia yang menunggu giliran untuk berobat pada fasilitas kesehatan tersebut dengan kondisi kesehatan yang kurang baik seperti batuk, pilek, dan demam. Selanjutnya, peneliti juga mewawancarai pasien ibu yang membawa anaknya berobat pada FKTP Sanggamara KODIM 0101/BS KESDAM Iskandar Muda Kota Banda Aceh, dari 10 orang yang diwawancarai 7 di antaranya balita mengalami ISPA.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini adalah penelitian yang bersifat deskriptif dengan Desain Cross Sectional, keduanya diukur pada saat yang bersamaan yaitu di masa sekarang. Jadi penelitian ini lebih merupakan potret pada suatu waktu dari yang diamati. Variabel bebas dan terikat diteliti pada saat yang bersamaan saat penelitian dilakukan, yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan dengan penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada balita di FKTP Sanggamara KODIM 0101/BS KESDAM Iskandar Muda Kota Banda Aceh Tahun 2021.

Teknik pengambilan sampel menggunakan probably sampling dengan simple random sampling yaitu pengambilan sampel secara acak dari populasi karena populasi dianggap homogen. Sesuai dengan pendapat ahli, Sugiyono (2017) menyebutkan bahwa Teknik simple random sampling adalah teknik yang sederhana karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa melihat dan memperhatikan kesamaan atau starata yang ada dalam populasi. Cara ini digunakan apabila anggota populasi dianggap homogen.

Alasan menggunakan teknik ini karena yang menjadi populasi dalam penelitian ini hanya pasien rawat jalan yang berasal dari Kota Banda Aceh yang terbagi ke dalam 9 Kecamatan. Kecamatan dapat terwakili, maka sampel diambil dari masing-masing kecamatan dengan proporsi sama. Prosedur pengambilan sampel adalah dengan cara undian. Alasan menggunakan undian adalah bagi peneliti cukup sederhana dan memungkinkan ketidakadilan dapat dihindari (Wardani & Poniali, 2021).

Data penelitian adalah suatu fakta (kenyataan-kenyataan) atau informasi yang didapatkan dari hasil pengukuran sesuatu, bisa dalam bentuk angka-angka atau kata-kata, yang akan digunakan sebagai bahan analisis sebuah penelitian. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Penelitian dilakukan dengan wawancara secara langsung dengan menggunakan kuesioner yang disediakan. Berhubung kondisi Pandemi Covid-19 saat ini, peneliti wawancara langsung dengan mengikuti protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Responden yang dijadikan sampel pada penelitian ini adalah ibu dengan balita di wilayah kerja Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Sanggamara KODIM 0101/BS KESDAM Iskandar Muda Kota Banda Aceh sebanyak 177 responden. Berdasarkan pengolahan data hasil observasi serta wawancara dengan responden, peneliti mendapatkan bahwa terdapat ibu yang memiliki anak yang berumur di bawah 2 tahun sebanyak 35 orang, yang berumur 2-3 tahun sebanyak 49 orang dan yang berumur 3-5 tahun sebanyak 93 orang. Selanjutnya, dari 177 responden terdapat sebanyak 107 orang anak berjenis kelamin laki-laki dan 70 anak berjenis kelamin perempuan. Kemudian, dari 177 responden didapatkan Ibu dengan pendidikan rendah (SD-SMP) sebanyak 15 orang, berpendidikan menengah (SMA) sebanyak 84 orang dan berpendidikan tinggi (S1/S2) sebanyak 68 orang. Selain itu, peneliti juga menemukan bahwa ibu yang bekerja sebanyak 100 orang dan tidak bekerja sebanyak 77 orang.

A.      Analisis Univariat Variabel Penelitian

Analisis univariat dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi dan besar persentase dari masing-masing variabel penelitian yaitu variabel dependen (terikat) yaitu ISPA pada balita dan variabel independent (bebas) yaitu umur balita, jenis kelamin balita, personal hygiene, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pengetahuan ibu, ventilasi kamar, kelembaban kamar, kepadatan hunian, jenis lantai rumah, jenis dinding rumah, bahan bakar masak dan pemakaian pestisida pada responden di wilayah kerja Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) SANGGAMARA KODIM 0101/BS KESDAM Iskandar Muda Kota Banda Aceh.

B.      ISPA Pada Balita

Tabel distribusi frekuensi responden berdasarkan ISPA pada balita terdiri dari kategori ISPA, jumlah dan persentase ISPA pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Sanggamara KODIM 0101/BS KESDAM Iskandar Muda Kota Banda Aceh, dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 5. 1

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan ISPA Pada Balita di Fasilitas

Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Sanggamara Kodim 0101/BS Kesdam

Iskandar Muda Kota Banda Aceh.

No

ISPA Pada Balita

Responden

f

%

1

ISPA

92

52

2

Tidak ISPA

85

48

Jumlah

 

177

100

 

 

 

 

 

 

Sumber : Data Primer, 2022.

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui distribusi frekuensi responden berdasarkan ISPA pada balita dari 177 responden terdapat balita yang terkena ISPA sebanyak 92 anak (52%), sedangkan balita yang tidak terkena ISPA sebanyak 85 anak (48%).

C.      Umur

Tabel distribusi frekuensi responden berdasarkan umur merupakan matrik yang terdiri dari kategori umur, jumlah dan persentase umur pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Sanggamara KODIM 0101/BS KESDAM Iskandar Muda Kota Banda Aceh, dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 5. 2

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan umur di Fasilitas

KesehatanTingkat Pertama (FKTP) Sanggamara Kodim 0101/BS

Kesdam IskandarMuda Kota Banda Aceh.

No

Umur

Responden

f

%

1

Baduta (Bawah dua tahun)

35

19,8

2

Batita (Bawah tiga tahun)

49

27,7

3

Balita (Bawah lima tahun)

93

52,5

Jumlah

 

177

100

Sumber : Data Primer, 2022.

�Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui distribusi frekuensi responden berdasarkan umur dari 177 responden terdapat anak dengan umur di bawah dua tahun (baduta) sebanyak 25 orang (19,8%), anak dengan umur di bawah tiga tahun (batita) sebanyak 49 orang (27,7%) dan anak dengan kategori di bawah lima tahun (balita) sebanyak 93 orang (52,5%).

D.      Jenis Kelamin

Tabel distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin merupakan matrik yang terdiri dari kategori jenis kelamin, jumlah dan persentase jenis kelamin pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Sanggamara KODIM 0101/BS KESDAM Iskandar Muda Kota Banda Aceh, dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 5. 3

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Sanggamara Kodim 0101/BS

Kesdam Iskandar Muda Kota Banda Aceh..

No

Jenis Kelamin

Responden

f

%

1

Laki-Laki

107

60,5

2

Perempuan

70

39,5

Jumlah

 

177

100

Sumber : Data Primer, 2022.

�Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin dari 177 responden terdapat anak berjenis kelamin laki-laki sebanyak 107 orang (60,5%), anak berjenis kelamin perempuan sebanyak 70 orang (39,5%).

E.       Personal hygiene

�Tabel distribusi frekuensi responden berdasarkan Personal hygiene merupakan matrik yang terdiri dari kategori Personal hygiene, jumlah dan persentase Personal hygiene pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) SANGGAMARA KODIM 0101/BS KESDAM Iskandar Muda Kota Banda Aceh, dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 5. 4

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Personal hygiene di Fasilitas

KesehatanTingkat Pertama (FKTP) Sanggamara Kodim 0101/BS

Kesdam Iskandar Muda Kota Banda Aceh..

No

Personal hygiene

Responden

f

%

1

Tidak Baik

84

47,5

2

Baik

93

52,5

Jumlah

 

177

100

 

 

Sumber : Data Primer, 2022.

�Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui distribusi frekuensi responden berdasarkan personal hygiene dari 177 responden terdapat personal hygiene yang tidak baik sebanyak 84 orang (47,5%), dan personal hygiene yang baik sebanyak 93 orang (52,5%).

F.       Pengetahuan Ibu

�Tabel distribusi frekuensi responden berdasarkan Pengetahuan Ibu merupakan matrik yang terdiri dari kategori Pengetahuan Ibu, jumlah dan persentase Pengetahuan Ibu pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) SANGGAMARA KODIM 0101/BS KESDAM Iskandar Muda Kota Banda Aceh, dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 5. 5

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengetahuan Ibu di Fasilitas Kesehatan

Tingkat Pertama (FKTP) Sanggamara Kodim 0101/BS

Kesdam Iskandar Muda Kota Banda Aceh.

No

Pengetahuan Ibu

Responden

f

%

1

Tidak baik

96

54,2

2

Baik

81

45,8

Jumlah

 

177

100

Sumber : Data Primer, 2022.

�Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui distribusi frekuensi responden berdasarkan Pengetahuan Ibu dari 177 responden didapatkan bahwa Ibu yang pengetahuan tidak baik sebanyak 96 orang (54,2%), dan ibu yang pengetahuannya baik sebanyak 81 orang (45,8%).

G.      Ventilasi

�Tabel distribusi frekuensi responden berdasarkan Ventilasi merupakan matrik yang terdiri dari kategori ventilasi, jumlah dan persentase Ventilasi pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) SANGGAMARA KODIM 0101/BS KESDAM Iskandar Muda Kota Banda Aceh, dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 5. 6

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Ventilasi di Fasilitas Kesehatan

Tingkat Pertama (FKTP) Sanggamara Kodim 0101/BS

Kesdam Iskandar Muda Kota Banda Aceh..

No

Ventilasi

Responden

f

%

1

Tidak Memenuhi Syarat

87

49,2

2

Memenuhi Syarat

90

50,8

Jumlah

 

177

100

Sumber : Data Primer, 2022.

�Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui distribusi frekuensi responden berdasarkan Ventilasi dari 177 responden didapatkan responden yang memiliki kamar dengan ventilasi tidak memenuhi syarat kesehatan sebanyak 87 orang (49,2%), dan responden yang memiliki kamar dengan ventilasi memenuhi syarat kesehatan sebanyak 90 orang (50,8%).

H.      Kelembaban

�Tabel distribusi frekuensi responden berdasarkan Kelembaban merupakan matrik yang terdiri dari kategori Kelembaban, jumlah dan persentase Kelembaban pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) SANGGAMARA KODIM 0101/BS KESDAM Iskandar Muda Kota Banda Aceh, dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 5. 7

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kelembaban di Fasilitas Kesehatan

Tingkat Pertama (FKTP) Sanggamara Kodim 0101/BS

Kesdam Iskandar Muda Kota Banda Aceh..

No

Kelembaban

Responden

f

%

1

Tidak Memenuhi Syarat

65

36,7

2

Memenuhi Syarat

112

63,3

Jumlah

 

177

100

Sumber : Data Primer, 2022.

�Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui distribusi frekuensi responden berdasarkan Kelembaban dari 177 responden didapatkan responden yang memiliki kamar dengan kelembaban tidak memenuhi syarat kesehatan sebanyak 65 orang (36,7%), dan responden yang memiliki kamar dengan kelembaban memenuhi syarat kesehatan sebanyak 112 orang (63,3%).

I.        Kepadatan Hunian

�Tabel distribusi frekuensi responden berdasarkan Kepadatan hunian merupakan matrik yang terdiri dari kategori Kepadatan hunian, jumlah dan persentase Kepadatan hunian pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) SANGGAMARA KODIM 0101/BS KESDAM Iskandar Muda Kota Banda Aceh, dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 5. 8

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kepadatan hunian di Fasilitas Kesehatan

Tingkat Pertama (FKTP) SANGGAMARA KODIM 0101/BS

KESDAM Iskandar Muda Kota Banda Aceh.

No

Kepadatan hunian

Responden

f

%

1

Tidak Memenuhi Syarat

71

40,1

2

Memenuhi Syarat

106

59,9

���� Jumlah

 

177

100

 

 

 

 

 

 

Sumber : Data Primer, 2022.

�Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui distribusi frekuensi responden berdasarkan Kepadatan hunian dari 177 responden didapatkan kamar yang kepadatan huniannya tidak memenuhi syarat kesehatan sebanyak 71 orang (40,1%), dan kamar yang kepadatan huniannya memenuhi syarat kesehatan sebanyak 106 orang (59,9%).

J.        Jenis Lantai Rumah

�Tabel distribusi frekuensi responden berdasarkan Jenis lantai rumah merupakan matrik yang terdiri dari kategori Jenis lantai rumah, jumlah dan persentase Jenis lantai rumah pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) SANGGAMARA KODIM 0101/BS KESDAM Iskandar Muda Kota Banda Aceh, dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 5. 9

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis lantai rumah di Fasilitas KesehatanTingkat Pertama (FKTP) Sanggamara Kodim 0101/BS

No

Jenis lantai rumah

Responden

f

���� %

1

Tanah

9

5,1

2

Semen

58

32,8

3

Keramik

110

62,1

Jumlah

177

100

Kesdam Iskandar Muda Kota Banda Aceh..

Sumber : Data Primer, 2022.

�Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui distribusi frekuensi responden berdasarkan Jenis lantai rumah dari 177 responden didapatkan responden yang memiliki lantai rumah terbuat dari tanah sebanyak 9 responden (5,1%), responden yang memiliki lantai rumah terbuat dari semen sebanyak 58 responden (32,8%), dan responden yang memiliki lantai rumah terbuat dari keramik sebanyak 110 responden (62,1%).

K.      Jenis Dinding Rumah

�Tabel distribusi frekuensi responden berdasarkan Jenis dinding rumah merupakan matrik yang terdiri dari kategori Jenis dinding rumah, jumlah dan persentase Jenis dinding rumah pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) SANGGAMARA KODIM 0101/BS KESDAM Iskandar Muda Kota Banda Aceh, dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 5. 10

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis dinding rumah di Fasilitas

Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Sanggamara Kodim 0101/BS

Kesdam Iskandar Muda Kota Banda Aceh..

No

Jenis dinding rumah

Responden

f

%

1

Kayu

20

11,3

2

Beton

91

51,4

3

Keramik

66

37,3

Jumlah

 

177

100

Sumber : Data Primer, 2022.

�Berdasarkan tabel di atas, maka dapat diketahui bahwa distribusi frekuensi dari responden yang dihitung berdasarkan Jenis dinding rumah responden dari 177 responden secara keseluruhan, maka� didapatkan bahwa responden yang memiliki dinding rumah terbuat dari kayu sebanyak 20 responden (11,3%), responden yang memiliki dinding rumah terbuat dari beton sebanyak 91 responden (51,4%), dan responden yang memiliki dinding rumah terbuat dari keramik sebanyak 66 responden (37,3%).

L.       Pemakaian Pestisida

�Tabel distribusi frekuensi responden berdasarkan pemakaian pestisida adalah merupakan matrik yang terdiri dari kategori dari variabel pemakaian pestisida, dan jumlah serta persentase dari pemakaian pestisida pada rumah tangga yang terdapat pada wilayah kerja Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) SANGGAMARA KODIM 0101/BS KESDAM Iskandar Muda Kota Banda Aceh, dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 5. 11

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pemakaian pestisida di Fasilitas KesehatanTingkat Pertama (FKTP) Sanggamara Kodim 0101/BS\

Kesdam Iskandar Muda Kota Banda Aceh..

No

Pemakaian pestisida

Responden

f

%

1

Tidak Baik

95

53,7

2

Baik

82

46,3

Jumlah

 

177

100

 

�

 

 

 

 

Sumber : Data Primer, 2022.

�Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui distribusi frekuensi responden berdasarkan Pemakaian pestisida dari 177 responden didapatkan responden yang memakai pestisida dengan tidak baik sebanyak 95 responden (53,7%), dan responden yang memakai pestisida dengan baik sebanyak 82 responden (46,3%).

 

Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada hubungan bermakna antara umur dengan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Pada Balita di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Sanggamara Kodim 0101/BS Kesdam Iskandar Muda Kota Banda Aceh dengan nilai P-Value sebesar 0,001. Hasil uji bivarat yang telah dilakukan pada penelitian ini, dapat dilihat bahwa balita dengan kategori umur di bawah dua tahun lebih banyak yang tidak terkena penyakit ISPA (25 responden) dibandingkan dengan yang terkena ISPA (10 responden). Sedangkan anak yang berumur di bawah tiga tahun lebih banyak yang terkena ISPA (34 responden) dibandingkan dengan yang tidak terkena ISPA (15 responden). Demikian juga dengan anak yang berumur di bawah lima tahun lebih banyak yang terkena ISPA (48 responden) dibandingkan dengan yang tidak terkena ISPA (45 responden).

Hasil observasi peneliti saat melakukan penelitian, peneliti menemukan bahwa ibu lebih memberikan perhatian khusus untuk anak-anak yang berusia di bawah dua tahun. Hal ini lebih disebabkan kategori umur tersebut merupakan usia anak yang masih perlu perawatan dan pengawasan secara intens, sehingga ketergantungan dengan ibu sangat mutlak diperlukan, dibandingkan umur anak di atas dua tahun. Anak pada usia di bawah usia 2 tahun imunitasnya belum sempurna, sehingga semakin rendah umur anak, maka semakin rentan anak tersebut terkena penyakit ISPA. Hal ini bukan saja berlaku pada penyakit ISPA saja, bahkan berlaku dibeberapa penyakit lain. Selain itu, asupan gizi pada balita juga mempengaruhi terserang ISPA karena dengan gizi yang kurang daya tahan tubuh juga akan kurang.

Berdasarkan hal tersebut di atas maka peneliti dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa umur memiliki pengaruh terhadap keterjangkitan anak terhadap penyakit ISPA. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang mendapatkan hasil bahwa terdapat hubungan umur dan jenis kelamin terhadap kejadian ISPA pada bayi dengan nilai P = 0,047 dan OR = 1,389. Oleh karena itu, setiap orang tua yang memiliki anak yang berisiko terkena ISPA seperti usia 2-3 tahun dan harus lebih memperhatikan kegiatan mereka, baik dari segi permainan, aktivitas sehari-hari maupun pola makannya (Sari & Ardianti, 2017).

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada hubungan bermakna antara jenis kelamin balita dengan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Pada Balita di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Sanggamara Kodim 0101/BS Kesdam Iskandar Muda Kota Banda Aceh dengan nilai P-Value sebesar 0,008. Berdasarkan hasil uji bivarat yang telah dilakukan pada penelitian ini, dapat dilihat bahwa balita berkenis kelamin laki-laki lenih banyak yang terkena ISPA (60 responden) dibandingkan dengan yang tidak terkena penyakit ISPA. Kemudian, balita yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak yang tidak terkena penyakit ISPA (45 responden) dibandingkan dengan yang terkena ISPA (25 responden).

Hasil observasi peneliti saat melakukan penelitian, peneliti menemukan bahwa umumnya balita berjenis kelamin laki-laki lebih banyak aktifitas bermain dibandingkan dengan balita berjenis kelamin perempuan. Balita berjenis kelamin laki-laki lebih aktif bermain dan lebih banyak berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Selain itu, ibu balita juga umumnya lebih banyak fokus dalam menjaga balita berjenis kelamin perempuan, hal ini kemungkinan disebabkan ibu menganggap bahwa perempuan lebih lemah, sehingga perlu pengawasan dan penanganan yang ekstra.

Berdasarkan hal tersebut di atas maka peneliti dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa jenis kelamin dengan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Pada Balita di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Sanggamara Kodim 0101/BS Kesdam Iskandar Muda Kota Banda Aceh. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelian yang menunjukkan sebagian besar (57,7%) berjenis kelamin perempuan dan sebagian besar (53,8%) memiliki kebiasaan jajan yang kurang baik dan hampir sebagian (46,2%) jarang terjadinya ISPA dengan nilai ρ= 0,020 yang bermakna bahwa ada hubungan jenis kelamin dengan terjadinya ISPA di TK Dharma Wanita Persatuan Sidoklumpuk Sidoarjo. Balilta yang jenis kelamin kelamin perempuan yang paling sering mengkonsumsi makanan dengan warna yang mencolok, penampilan yang menarik, rasa manis dan gurih yang ada di sekitar sekolah maka akan terjadi ISPA (Putri, 2016).

Selanjutnya hasil penelitian lain juga menjelaskan bahwa: The results of statistical tests show the value of ρ = 0,635 (ρ >α > 0,05) for nutritional status and ρ = 0,432 (ρ >α > 0,05) for gender. In conclusion, there is no relationship between between nutritional status and gender with the incidence of ARI in toddlers in the work area of the Martapura 1 Public Health Center, Banjar Regency in 2020, hal ini bermakna bahwa hasil uji statistik menunjukkan nilai = 0,635 (ρ >α > 0,05) untuk status gizi dan = 0,432 (ρ >α > 0,05) untuk jenis kelamin. Kesimpulannya, tidak ada hubungan antara status gizi dan jenis kelamin dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Martapura 1 Kabupaten Banjar tahun 2020 (Sari et al, 2021).

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian mengenai determinan yang berhubungan dengan penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada balita di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Sanggamara Kodim 0101/Bs Kesdam Iskandar Muda Kota Banda Aceh Tahun 2021, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Ada hubungan antara umur balita dengan penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada balita di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Sanggamara Kodim 0101/Bs Kesdam Iskandar Muda Kota Banda Aceh dengan nilai P-Value sebesar 0,001 (< 0,05). Ada hubungan antara jenis kelamin balita dengan penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada balita di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Sanggamara Kodim 0101/Bs Kesdam Iskandar Muda Kota Banda Aceh, dengan nilai P-Value sebesar 0,008 (< 0,05). Ada hubungan antara personal hygiene dengan penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada balita di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Sanggamara Kodim 0101/Bs Kesdam Iskandar Muda Kota Banda Aceh dengan nilai P-Value sebesar 0,001 (< 0,05). Tidak ada hubungan antara pendidikan ibu dengan penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada balita di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Sanggamara Kodim 0101/Bs Kesdam Iskandar Muda Kota Banda Aceh dengan nilai P-Value sebesar 0,113(>0,05).

 

BIBLIOGRAFI

 

Juniartha, Sang Ketut, Hadi, H. M. Choirul, & Notes, N. (2014). Hubungan antara luas dan posisi ventilasi rumah dengan kejadian ISPA penghuni rumah di wilayah Puskesmas Bangli Utara tahun 2012. Jurnal Kesehatan Lingkungan, 4(2), 169�174.

 

Wardani, Nila Restu, & Poniali, Akhmad. (2021). Prestasi Belar: Ditinjau Dari Pendidikan Karakter Dan Motivasi Belajar Siswa. Jurnal Penelitian Dan Pendidikan IPS, 15(1), 76�79.

 

Adha, Mustika Aulia., Gambaran Kondisi Fisik Dan Sanitasi Dasar Rumah Dalam Upaya Penyehatan Rumah Di Kelurahan Batang Arau Kecamatan Padang Selatan Tahun 2015, Karya Tulis Ilmiah, Juni 2015.

 

Akyuwen., Hubungan Kondisi Fisik Rumah Terhadap Kejadian PenyakitTuberkulosis Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Piru Kecamatan Seram BaratKabupaten Seram Bagian Barat, Skripsi Sarjana, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Sulawesi Selatan, 2012.

 

Andriani, M., & Defita, A. P. Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Ibuterhadap Kejadian ISPA Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Tigo Baleh Bukittinggi Tahun 2014. 'AFIYAH, 2(1), 2015.

 

Arikunto, Suharsimi., Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, PT Rineka Cipta: Jakarta; 2010.

 

Asriati, A., Z. Zamrud., D. F. Kalenggo. Analisis Faktor Risiko Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut pada Anak Balita. Modul a Vol 1[2], 2012.

 

Asyari, M., Hubungan Sanitasi Fisik Rumah dan Perilaku Hidup Sehat Penghuni dengan Kejadian ISPA di Asrama Polisi Detasemen Gegana Satbrimob Polda Jatim. Skripsi. Surabaya: Universitas Airlangga; 2014.

 

Ayustawati, Mengenali Keluhan Balita, Yogyakarta: Deepublish; 2013.

 

AZ, W. K. S., & Audia, M. Hubungan Jenis Lantai, Jenis Dinding, Dan Jenis Atap Rumah Dengan Kejadian Ispa Di Desa Mekar Jaya Kecamatan Bayung Lincir. Scientia Journal, 10(2), 34-39, 2021.

 

Basri KS., Erniatin S., Hubungan Pengetahuan dan Sikap Kesehatan Kerja dengan Penyakit Akibat Kerja Pada Pekerja Batu Bata. Jurnal Kesehatan Masyarakat, Agustus 2015; 1 (2): 1-6, 2015.

 

Catiyas E., Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian ISPA pada Balita di Wilayah Kecamatan Gembong Kabupaten Kebumen Jawa Tengah Tahun 2012. [Skripsi Ilmiah]. Jakarta: Universitas Indonesia; 2012.

 

Chandra E., Pengaruh Faktor Iklim, Kepadatam Penduduk dan Angka BebasJentik (ABJ) Terhadap Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Jambi. Jurnal Pembangunan Berkelanjutan.eISSN: 2622-2310 (e); 2622-2302 (p),Volume 1. no (1), 2019.

 

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, 2018.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Pedoman Program Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut Untuk Penanggulangan Pnemonia Pada Balita. Jakarta, 2008.

 

Dewi, N. S., Irawan, D. W. P., & Indraswati, D. Faktor Risiko Kejadian ISPA pada Balita di Desa Balerejo Kecamatan Balerejo Kabupaten Madiun Tahun 2015. GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN, 14(3), 2016.

 

Ernyasih, E., Fajrini, F., & Latifah A, N.Analisis Hubungan Iklim (Curah Hujan, Kelembaban, Suhu Udara dan Kecepatan Angin) dengan Kasus ISPA di DKI Jakarta Tahun 2011�2015. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 7(3), 167-173, 2018.

 

Faisal., Macam-macam Penyakit Menular dan Cara Pencegahannya, Jakarta: Kanisius; 2012.

 

Febrianti, A. Pengetahuan, Sikap Dan Pendidikan Ibu Dengan Kejadian Ispa Pada Balita Di Puskesmas 7 Ulu Kota Palembang. Jurnal Kesehatan Saelmakers Perdana (JKSP), 3(1), 133-139, 2020.

 

Fibrila, F. Hubungan usia anak, jenis kelamin dan berat badan lahir anak dengan kejadian ISPA. Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai, 8(2), 8-13, 2016.

 

FKTP Sanggamara KODIM 0101/BS KESDAM Iskandar Muda Kota Banda Aceh, Rekapitulasi 10 Besar Penyakit Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJPT). 2020.

 

Hadinegoro, S.R.S., Buku Saku Imunisasi. Jakarta: Badan Penerbit IDAI; 2015.

 

Haryani., Zurriyatun Thoyibah,, Zuhratul Hajri., Sri Hardiani., Lingkungan Fisik Rumah Pada Balita Penderita ISPA, Jurnal Ilmiah Stikes YARSI Mataram (JISYM) Vol 10 No 2, Month Juli 2020P-ISSN : 1978-8940, 2020.

 

Haryani., Zurriyatun Thoyibah., Zuhratul Hajri., Sri Hardiani., Lingkungan Fisik Rumah Pada Balita Penderita ISPA, Jurnal Ilmiah Stikes YARSI Mataram (JISYM)Vol 10 No 2, Month Juli 2020P-ISSN : 1978, 2020.

 

Herawati, C., & Sriwaty, H. Analisis Perilaku Merokok, Penggunaan Anti Nyamuk Bakar Dan Penggunaan Bahan Bakar Memasak Dengan Kejadian Ispa Pada Balita. Jurnal Kesehatan, 9(1), 34-38, 2018.

 

Ibrahim, A., Joseph, W. B., & Malonda, N. S. Hubungan antara Kondisi Fisik Rumah dan Kepadatan Hunian dengan Kejadian ISPA Pada Anak Balita di Kelurahan Sindulang 1 Kecamatan Tuminting Kota Manado. KESMAS, 7(3). 2018.

 

Ibrahim, H., Analisis Pelaksanaan Kewaspadaan Standar Terhadap Penyakit Infeksi Nosokomial. Makassar : Alaudin University Press; 2013.

Iqbal, M. Hubungan Pengetahuan, Kebiasaan Menggunakan Obat Nyamuk Bakar, Dan Merokok Dengan Kejadian Ispa Pada Balita Di Puskesmas Kuin Raya Banjarmasin Tahun 2020 (Doctoral dissertation, Universitas Islam Kalimantan MAB), 2020.

 

Irianto., Ilmu Kesehatan Masyarakat,Bandung: Alfabeta, 2012.

 

Irmawati., Bayi dan Balita Sehat & Cerdas, Jakarta: Media Komputindo; 2015.

 

Istifaiyah., Amanatul Agus Aan Adriansyah., Dwi Handayani., Hubungan Ventilasi Dengan Kejadian Penyakit ISPA pada Santri Di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya, Departement of Public Health Sciences, Faculty of Health, University of Nahdlatul Ulama Surabaya, East Java, Indonesia, Jurnal Ikesma Volume 15 Nomor 2 September 2019.

 

Juniartha, S.K., H. M. C. Hadi., N. Notes., Hubungan antara Luas dan Posisi Ventilasi Rumah dengan Kejadian ISPA Penghuni Rumah di Wilayah Puskesmas Bangli Utara Tahun 2012. Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 4[2]:169-174, 2014.

 

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pengendalian Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2014.

 

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia, Jakarta: 2016.

 

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia, Jakarta: 2018.

 

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Provinsi Aceh, Jakarta: 2016.

 

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Provinsi Aceh, Jakarta: 2017.

 

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Provinsi Aceh, Jakarta: 2018.

 

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.������ Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit. Pedoman Penanggulangan Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut. Jakarta, 2011.

 

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.������ Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pengendalian Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut, Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Jakarta: Departemen Kesehatan RI, 2012.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.������ Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit. (2011). Pedoman Penaggulangan Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut. Jakarta: Kemenkes RI; 2011.

 

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.������ Informasi tentang ISPA pada Balita. Jakarta: Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat, 2011.

 

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Tatalaksana Pneumonia Balita, Jakarta. 2012.

 

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.Profil Kesehatan Indonesia, Jakarta: 2017.

 

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 829/MENKES/SK.VII.1999 Tentang Persyaratan Kesehatan Rumah.

 

Khaidirmuhaj., Pengertian ISPA dan Pneumonia, 2012.

 

Kozier, Berman., Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses & Praktik Volume 2. EGC : Jakarta. 2010.

 

Lestari, D. A., & Adisasmita, A. C.Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) sebagai Determinan Terjadinya ISPA pada Balita Analisis SDKI Tahun 2017. Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia, 5(1), 2021.

 

Lindawaty., Partikulat (PM10) Udara Rumah Tinggal Mempengaruhi Kejadian ISPA Pada Balita (Penelitian Di Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan Tahun 2009-2010). Tesis Fakultas Kesehatan Masyarakat UI. Depok, 2010.

 

Maryunani, Anik., Ilmu Kesehatan Anak dalam Kebidanan, Jakarta: Trans Info Media 2010.

 

Medhyna, V. Hubungan Lingkungan Fisik Rumah Dengan Kejadian Ispa Pada Bayi. Maternal Child Health Care, 1(2), 85-88, 2019.

 

Munaya, E. F., Faktor Risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut Nonpneumonia pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Magersari, Kota Magelang. Jurnal Respirologi Indonesia. Vol. 35 No. 1 Januari 2015, 2015.

 

Murti, T., Faktor Risiko Kejadian ISPA pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Sukoharjo. [Skripsi Ilmiah]. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta; 2016.

 

Ningrum, E., Hubungan Kondisi Fisik Rumah dan Jenis lantai rumah dengan Kejadian ISPA pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Sungai Pinang. Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat IndonesiaVol 2[2]:72-76, 2015.

 

Notoatmodjo., Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka Cipta; 2010.

 

Notoatmodjo., Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta; 2013.

 

Nugraheni., Kesehatan Masyarakat dalam Determinan Sosial Budaya, Yogyakarta: Deepublish; 2018.

 

NURDIYANTO, I. Hubungan Personal Hygiene Dan Penggunaan Apd Dengan Keluhan Ispa Pada Pekerja Tambang Batu Pasir Di Daerah Morbatoh Kecamatan Banyuates Sampang, 2019.

 

Nurhayati, N., & Vera, V. Hubungan Antara Kondisi Fisik Rumah Dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) Di Wilayah Puskesmas Curug Kabupaten Tangerang. In Prosiding Seminar Nasional Pakar (pp. 1-12), 2019.

 

Nurrizqi, M. A., Wardani, H. E., & Gayatri, R. W. Hubungan riwayat penyakit, APD, pendidikan, dan umur dengan keluhan ISPA pada pekerja di kawasan industri mebel Kelurahan Bukir Kecamatan Gadingrejo Kota Pasuruan. Sport Science and Health, 1(1), 39-50, 2019.

 

Nursalam., Manajemen Keperawatan: Aplikasi Dalam Praktek Keperawatan Profesional. Edisi 4. Jakarta: Salemba Medika; 2014.

 

Pangaribuan, S. Hubungan Kondisi Lingkungan Rumah dengan Kejadian ISPA pada Balita di Puskesmas Remu Kota Sorong. Journal Global Health Science, 2(1), 2017.

 

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1077/MENKES/ PER/V/2011. Tentang Pedoman Penyehatan Udara Dalam Ruang Rumah.

 

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Rumah.

 

Pramudiyani, N., G. N. Prameswari., Hubungan antara Sanitasi Rumah dan Perilaku dengan Kejadian Pneumonia Balita. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 6(2), 71-78, 2011.

 

Putri, M. D. A., & Adriyani, R. (2018). Hubungan usia balita dan sanitasi fisik rumah dengan kejadian ISPA di Desa Tumapel Kabupaten Mojokerto tahun 2017. The Indonesian Journal of Public Health, 13(1), 95-106, 2018.

 

PUTRI, R. A. Analisis Jenis Kelamin dan Kebiasaan Jajan Dengan Kejadian Ispa Pada Anak di TK Dharma Wanita Persatuan Unit Sidoklumpuk Sidoarjo. Jurnal Ilmiah Kesehatan (The Journal of Health Sciences), 9(1), 39-42, 2016.

 

Rahayu, Yuyu Sri., Kejadian Ispa Pada Balita Ditinjau Dari Pengetahuan Ibu, Karakteristik Balita, Sumber Pencemar Dalam Ruang Dan Lingkungan Fisik Rumah di Wilayah Kerja Puskesmas DTP Cibeber Kabupaten Lebak Propinsi Banten Tahun 2011, skripsi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Program Sarjana Kesehatan Masyarakat Depok , 2011.

 

Rahmadani, N. Hubungan Perilaku Penghuni Tentang Personal Hygiene, Sanitasi Dasar Dan Kondisi Fisik Dengan Keluhan Kesehatan Di Beberapa Rumah Kos Kelurahan Maccini Makassar Tahun 2017. Jurnal Mitrasehat, 11(1), 45-57, 2021.

 

Retno., Survei Cepat Gambaran Kondisi Fisik Rumah Kaitannya dengan Kejadian Infeksi SaluranPernapasan Akut (ISPA) pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Kebumen 2 Kabupaten Kebumen. Vol.III/No.02/ Oktober 2014, 2014.

 

Ristanti, Ferra Felisia., Pengaruh Kondisi Sanitasi Rumah Terhadap Kejadian ISPA di Kecamatan Wiyung Kota Surabaya, 2014.

 

Safrizal, S. Hubungan ventilasi, lantai, dinding, dan atap dengan kejadian ispa pada balita di blang muko. In Prosiding Seminar Nasional IKAKESMADA �Peran Tenaga Kesehatan dalam Pelaksanaan SDGs� (pp. 41-48). Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan, 2017.

 

Safrizal, S., Hubungan Ventilasi, Lantai, Dinding dan Atap dengan Kejadian ISPA pada Balita di Blang Muko. In Prosiding Seminar Nasional IKAKESMADA �Peran Tenaga Kesehatan dalam Pelaksanaan SDGs". Yogyakarta: Universitas Achmad Dahlan; 2017.

 

Sari, E. F., Yuniarti, Y., & Hipni, R. Hubungan Antara Status Gizi Dan Jenis Kelamin Dengan Kejadian Ispa Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Martapura 1 Kabupaten Banjar Tahun 2020. Jurnal Kebidanan Bestari, 5(2), 74-85, 2021.

 

Sari, N. I., & Ardianti, A. Hubungan Umur dan Jenis Kelamin Terhadap Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Balita di Puskesmas Tembilahan Hulu. An-Nadaa: Jurnal Kesehatan Masyarakat, 4(1), 26-30, 2017.

 

SETIYONO, B. Hubungan Asupan Seng Dan Status Gizi Dengan Kejadian Ispa Pada Anak Usia 1-5 Tahun Di Uptd Puskesmas Dtp Pagaden Kabupaten Subang, 2019.

Sofia, S. Faktor Risiko Lingkungan dengan Kejadian ISPA pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar. AcTion: Aceh Nutrition Journal, 2(1), 43-50, 2017.

 

Sudirman, S., Muzayyana, M., Saleh, S. N. H., & Akbar, H. Hubungan Ventilasi Rumah dan Jenis Bahan Bakar Memasak dengan Kejadian ISPA pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Juntinyuat. MPPKI (Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia): The Indonesian Journal of Health Promotion, 3(3), 187-191, 2020.

Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif: Untuk penelitian yang bersifat: eksploratif, enterpretif, interaktif, dan konstruktif. Bandung: Alfabeta, 2017.

 

Sujarweni, V. W., Metodologi Penelitian Keperawatan. Yogyakarta: Gava Media; 2014.

 

Suryani, I., Edison, E., & Nazar, J. Hubungan Lingkungan Fisik dan Tindakan Penduduk dengan Kejadian ISPA pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk. Jurnal Kesehatan Andalas, 4(1), 2015.

 

Takoes, M. J., Kandou G. D., Kawatu P. A. T., Hubungan antara Kondisi Fisik Rumah dan Tingkat Pendapatan Keluarga dengan Kejadian ISPA pada Balita di Desa Marinsouw dan Pulisan Kabupaten Minahasa Utara. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado. Juli 2017 : 1-10, 2017.

 

Tasirah., T. Nuraeni., Kondisi Fisik Rumah dengan Kejadian ISPA pada Balita di Indramayu. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 1(3), 31-37, 2015.

 

Triandriani, V., & Hansen, H. (2019). Hubungan Lingkungan Fisik dengan Kejadian Ispa pada Balita di Wilayah Kerja PUSKESMAS Sidomulyo Kota Samarinda. Borneo Student Research (BSR), 1(1), 146-151, 2019.

 

Trisnawati., dan Khasanah., Analisis Faktor Intrinsik dan Ekstrinsik yang Berpengaruh Terhadap Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Balita Tahun 2013.

 

Umrahwati., Faktor-factor yang Berhubungan dengan Kejadian ISPA Berulang pada Balita di Puskesmas Watampone. Makasar: STIKES Nani Hasanuddin Makassar; 2013.

 

WHO, Pedoman Interim WHO: Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Yang Cenderung Menjadi Epidemi Dan Pandemi Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Trust Indonesia, Penerjemah), Geneva: WHO; 2015.

 

WHO, Pneumoniais The Leading Cause of Death in Children. Geneva: United Nations Children's Fund/World Health Organization. 2016.

 

WHO, Pocket Book Of Hospital Care For Children: Guidelines For The Management of Common Childhood Illness. Second edi. Geneva, Switzerland: WHO; 2013.

 

WHO, UNICEF. Global Action Plan for Prevention and Control of Pneumonia (GAPP) Technical Consensus Statement. Geneva: WHO and UNICEF; 2013.

 

WHO., Pencegahan dan Pengendalian ISPA di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Tahun 2007.

Wulaningsih, I., & Hastuti, W. (2018). Hubungan pengetahuan orang tua tentang ISPA dengan kejadian ISPA pada balita di desa dawungsari kecamatan pegandon kabupaten kendal. Jurnal Smart Keperawatan, 5(1), 90-101, 2018.

 

Yudarmawan, I. N., Pengaruh Faktor-Faktor Sanitasi Rumah Terhadap .Kejadian Penyakit ISPA Pada Anak Balita ( Study Dilakukan Pada Masyarakat di Desa Dangin Puri Kangin Kecamatan Denpasar Tahun 2012), Skripsi, Denpasar: Poltekkes Denpasar; 2012.

 

Yuliana, E., Analisis Pengetahuan Siswa Tentang Makanan yang Sehat dan Bergizi Terhadap Pemilihan Jajanan di Sekolah. 2017.

 

Zairinayati., Dwi Hartika Putri., Hubungan Jenis lantai rumah Dan Luas Ventilasi Dengan Kejadian Ispa Pada Rumah Susun Palembang, Indonesian Juournal For Health Sciences.Vol 4, No 2, 2020