TRADISI TOLAK BALAK PANDEMI CORONA DI DESA POJOK KABUPATEN BLITAR

Hesti Yan Asma’ul Khusna

Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

hestian2604@gmail.com

 

Received  :  14-07-2022

Accepted  :  19-07-2022

Published  : 27-07-2022

Abstract

Keywords:

Pageblug, Corona, Jawa

Introduction: The tradition of rejecting logs carried out in Pojok Village was motivated by the corona virus which caused many people to die. Corona virus itself is a large family of a virus outbreak that can cause diseases that attack humans. Objective: Rejection of balance itself cannot be separated from its connection with pageblug, pagelug is an event that causes many victims due to the statement about pageblug that made various responses among the Javanese people. Methods: data collection techniques that are applied in this study are observation, interviews. Results: The results of this study contain that people in Pojok village still believe that the tradition of rejecting balance can repel the corna virus in the ritual procession and also contains many meanings of each component, for example in the ambengan tradition. Conclusion: In this case, of course, the presence of the corona pageblug makes people feel miserable starting from any sector experiencing problems besides the knowledge and experience left by their ancestors, causing the people of Pojok Village to imitate their previous ancestors, such as re-installing a bucket filled with water in front of the house. to wash hands and feet to return to the house in a clean state

Abstrak

Kata kunci:

Pageblug, Corona, Jawa

Pendahuluan: Tardisi tolak balak yang dilakukan di Desa Pojok dilatar belakangi adanya virus corona yang membuat banyak orang meninggal. Corona virus sendiri merupakan keluarga besar dari sebuah wabah virus yang dapat mengakibatkan terjadinya penyakit yang menyerang pada diri manusia. Tujuan: Tolak balak sendiri tidak bisa lepas kaitannya dengan pageblug, pagelug adalah peristiwa yang menyebabkan banyak korban akibat adanya pernyataan tentang pageblug itu membuat berbagai respon di kalangan masyarakat Jawa. Metode: teknik pengumpulan data yang aplikasikan dalam penelitian ini yaitu Observasi, wawancara. Hasil: Hasil penelitian ini berisikan bawa masyarakat di desa Pojok masih percaya adanya tradisi tolak balak dapat mengusir virus corna dalam prosesi ritual juga banyak terkandung makna makna dari setiap komponen contohnya pada tradisi ambengan. Kesimpulan: adanya pageblug corona membuat msyarakat merasa sengsara mulai dari sektor manapun mengalami masalah, selain itu adanya sebuah pengetahuan dan pengalaman yang ditinggalkan oleh nenek moyang terdahulu menyebabkan masyarakat Desa Pojok meniru nenek moyang terdahulu seperti kembali memasang timba yang berisi air didepan rumah untuk membasuh tangan dan kaki agar kembali masuk ke rumah dengan keadaan bersih.

Corresponding Author: Hesti Yan Asma’ul Khusna

E-mail: hestian2604@gmail.com

PENDAHULUAN

Dekade terakhir tahun 2019 seluruh dunia digemparkan dengan Corona Virus Disease berasal dari Kota Wuhan Cina yang menyebar di beberapa negara, termasuk Indonesia. Permasalahan ini menjadi suatu diskursus pelik dalam dunia medis, karena peningkatan orangyang terinfeksi covid-19 sangat pesat. Pada 18 Oktober 2020 masyarakat yang teridentifikasi Covid-19 mencapai 64.032 (17,689%) jumlah kasus aktif, 4.105 penambahan kasus positif corona, 285.324 (78,85%) jiwa yang dinyatakan sembuh, dan 12.511 (3,46) jumlah kasus meninggal (WHO) Indonesia World Health Organization, 2020). Adapun dalam hal ini, upaya perentasan Covid-19 juga dilakukan melalui strategi kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintahan (Yuliana Yuliana, 2020) upaya perentasan Covid-19 juga dilakukan melalui strategi kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintahan.

Sistem Lock-Down merupakan salah satu kebijakan yang diterapkan. Pada dasarnya strategi tersebut justru menyebabkan masyarakat terjerumus pada kondisi dan situasi ketakutan (panik). Keresahan masyarakat tersebut berimplikasi pada kiat-kiat yang harus dibangun oleh individu untuk kesejahteraan jiwa saat terdapat kondisi mendesak (Covid-19) Selain itu pemerintah juga melakukan social distancing dan physical distancing, semua peraturan tersebut terangkum dalam protokol kesehatan yang ditetapkan (Ramon et al., 2019). Akan tetapi berbagai penanganan juga dilakukan oleh masing-masing daerah untuk merentaskan rantai Covid-19 baik di desa maupun di Kota. Peraturan daerah pun turut andil dalam penanganan Covid-19 yang cenderung menggunakan kearifan lokal setempat.

Istilah Pagebluk kini sering menjadi perbincangan, seiring dengan merebaknya kasus Covid-19 hingga membuat banyak orang meninggal dunia. Fenomena Pageblug sudah pernah terjadi pada zaman dahulu dengan kasus penyakit seperti gundik, influenza, dan tuberkolosis. Ada beberapa sumber yang menrangkan tentang pageblug di Tanah Jawa bahwa pernah terjadi pageblug di masa lampau. Membuat banyak masyarakat khususnya di tanah Jawa menganggap bahwa Pageblug sudah terjadi maka dari itu kepercayaan masyarakat tentang pageblug sangat melekat, dan sekarang mulai tahun 2020-2021 adanya kasus wabah corona. (Rumilah, Nafisah, Arizamroni, Hikam, & Damayanti, 2021)

Corona virus sendiri merupakan keluarga besar dari sebuah wabah virus yang dapat mengakibatkan terjadinya penyakit yang menyerang pada diri manusia. Pada manusia sendiri biasanya dapat menimbulkan sebuah penyakit yang bisa menjangkit di saluran pernafasan, mulai.dari.flu biasa hingga.penyakit yang bisa dikatakan serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Sindrom Pernafasa Akut Berat/ Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) (Y Yuliana, 2020).

Anggapan manusia Jawa, bahwa alam itu memiliki kekuatan gaib dan natural, kekuatan gaib sendiri berasal dari roh-roh yang menunggu tempat tempat sakral selain itu juga berasal. Zaman dahulu kala manusia Jawa mempunyai sebuah anggapan bahwa manusia yang sudah tidak ada, terutama orang orang yang dianggap berpengaruh dan terkemuka, arwahnya akan menyatu dengan alam sehingga dapat mengaktifkan alam sehingga bergerak kearah yang menuju kebajikan yang berdampak baik kepada orang orang seperti meruahkan panen padi maupun ikan yang bisa dinilai bagus serta dapat menyembuhkan penyakit.

Roh-roh dapat dipercaya mempunyai kuasa untuk memunculkan banyak bencana untuk manusia biasnya bencana itu di nampakkan seperti banjir, gunung meletus, gempa bumu. Oleh karena itu manusia Jawa selalu dengan teratur melaksanakan tradisi-tradisi meliputi sedekah bumi, sedekah laut, labuhan. Tradisi-tradisi diperuntukkan sebagai makna yaitu rasa manusia untuk senantiasa bersyukur karena memberikan hasil yang bermanfaat bagi hidupnya (Umah, 2020).

Selain tradisi untuk mendapatkan limpahan rahmat jaman dahulu kala ada tradisi yang diberlakukan ketika ada bencana yang dianngap berisi roh roh jahat mengancam masyarakat yaitu bernama tolak bala, yaitu untuk menangkal dan melawan kekuatan roh jahat agar alam semesta terjaga keseimbangannya, membasmi penyakit dan pageblug ini, (Hendro, 2020). Manusia manusia yang dianngap mempunyai kelebihan seperti dukun, para bangsawan juga mnejadi amat besar peranannya untuk menyembuhkan penyakit.

Model pewarisan nilai budaya bagi masyarakat desa disosialisasi menjadi tiga bentuk tradisi yakni nilai budaya, dalam tradisis dan kepercayaan, ritual keagamaan dan tradisi sikulus hidup manusia, sebagai upaya dalam menyikapi suatu diskursusu sosial di lingkungannya. Dampak terjadinya berita hoaks yang saya amati di dalam masyarakat yaitu seperti enggan pergi ke rumah sakit karena adanya berita yang melebih lebihkan tentang Corona, ada juga yang tidak percaya adanya Corona (Rosa, Ruja, & Idris, 2020).

Ritual menjadi sarana mediasi bagi masyarakat untuk melakukan komunikasi terhadap Tuhan dan kekuatan ghaib sebagai bentuk permohonan perlindungan dan pertolongan terhadap penyebaran  virus  Covid-19.

Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengtaui respon masyrakat tentang adanya pageblug dan cara mengatasinya dengan kearifan lokal untuk memperoleh pengetahuan atau penemuan baru. Sebagai pembuktian atau pengujian tentang kebenaran dari pengetahuan yang sudah ada. Sebagai pengembangan pengetahuan suatu bidang keilmuan yang sudah ada. Manfaat dari penelitian untuk menambah wawasan untuk para pembaca.

Banyak penelitian mengenai tradisi yang berkaitan dengan pageblug contohnya tradisi wayang kulit di Semarang yang ditulis oleh Nugroho Trisnu Batra berisi bahwa jika tidak melakukan tradisi tersbut akan terjadi pageblug. Sedangkam dalam penelitian ini memfokuskan tentang adanya tradisi tolak balak untuk menghilangkan pageblug corona yang ada di desa Pojok Blitar yang menyiratkan makna tersendiri jadi penelitian ini masih tergolong baru karena wabah pageblug corona masih terjadi.

               

METODE PENELITIAN

Disini peneliti menggunakan penelitian deskriptif merupakan adanya metode yang penelitiannya menggunakan data kualitatif yang dijabarkan secara deskriptif. Jenis penelitian deskriptif ini sering dipergunakan untuk analisis sebuah sebuah kejadian, fenomena keadaan sosial. Teknik untuk mendapatkan data dengan melakukan wawancara, observasi dan dokumentasi. Deskripsi kualitatif merupakan salah satu penelitian yang cocok untuk penelitian tentang pageblug. Pada penelitian kualtitatif jenis deskripsi, deskripsi sifatnya untuk mencatat semua peristiwa yang dialami. Instrumen yang utama dalam penelitian adalah subyek peneliti itu sendiri. Data yang diambil dari pengamatan itu sendiri diambil dari wawancara observasi serta dokumentasi (Hasbiansyah, 2008).

Peneliti menggunakan pendekatan fenomenologi karena pendekatan fenomenologi dapat menggambaran suatu struktur pengalaman kesadaran. Fenomena Pageblug sudah pernah terjadi pada zaman dahulu dengan kasus penyakit seperti gundik, influenza, dan tuberkolosis. Ada beberapa sumber yang menerangkan tentang pageblug di Tanah Jawa bahwa pernah terjadi pageblug di masa lampau. Membuat banyak masyarakat khususnya di tanah Jawa menganggap bahwa Pageblug sudah terjadi maka dari itu kepercayaan masyarakat tentang pageblug sangat melekat.Mulai tahun 2020-2021 adanya kasus wabah corona (Nuryana, Pawito, & Utari, 2019).

 Fenomenologi sediri berusaha mengungkap dan mempelajari fenomena yang berciri khas dan unik yang dialami seorang individu itu sendir. Dengan demikian itu juga haruslah berlandasan dengan sudut pandang keyakinan yang berada dalam individu. Pendekatan Fenomenologi sendiri berhubungan erat dengan adanya sebuah pemahaman tentang kehidupan  sehari hari dan dunia kehidupan partisipan(Andriani, 2021). Makna berisi hal hal  penting yang menunjuk dari pengalaman manusia dalam keadaan sadar. Untuk mendalami kualitas yang esensial dari pengalaman sadar dari manusia dilakukan secara mendalam dan harus teliti.

Dalam teori interaksionisme simbolik Blumer menyatakan bahwa segala perilaku dan tindakan yang dilakukan oleh masyarakat memiliki makna dan simbol tersendiri untuk memberikan isyarat maupun komunikasi dengan masyarakat lainnya. pagebluk Covid-19 memiliki multi tafsir dalam merepresentasikan arti ataupun makna dari keberadaannya. Wabah pagebluk covid-19 djadikana sebagai pola interkasi dan komunikasi antara Tuhan dan kekuatan adikodrati kepada manusia. Penyakit yang marak di tengah kehidupan masyarakat merupakan suau simbol, bahwa pada hakikatnya manusia harus tetap berada dalam keadaan taat dan iman, dengan melakukan pekerjaan di luar rumah secara wajar, dan kembali lagi untuk mengatarkan dirinya menghadap pencipta (Tuhan).

Penelitian berfokus pada sebuah adanya sesuatu yang dialami dalam keadaan sadar intensionalitas (intentionality), digambarkan dengan adanya hubungan antara proses yang terjadi dalam rasa yang secara sadar dengan suatu adanya sebuah obyek yang menjadi pusat perhataian pada proses itu sendiri. Dalam fenomenologi, kesadaran dan pengalaman melihat sesuatu, menilai, mengingat. Menilai sesuatu sesuatu itu adalah suatu obyek kesadran yang distimulisai oleh pesepsi dari adanya obyek yang bersifatnyata”.

Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi  didukung dengan adanya  oleh  fakta  bahwa data penelitian ini data yang laten, yang berarti fakta dan data yang tampak dipermukaan, termasuk dengan adanya pola perilaku keseharian orang orang (perilaku dalam berinteraksi antar indivdu) penelitian ini diguanakan untuk mengungkap adanya respon dan pengalaman orang orang  dan fokus penelitian ini melihat adanya sebuah pengalaman orang orang sehingga dapat  membentuk respon pada masyarakat di Blitar Pojok teknik pengumpulan data yang aplikasikan dalam penelitian ini yaitu Observasi, observasi yang diaplikasikan untuk melakukan penelitian ini adalah pengamatan. Pengamatan dilakukan terhadap masyarakat di wilayah blitar khususnya di Desa pojok, wawancara dilakukan untuk hendak mengetaui memperlengkap data semakin lengakap dan valid. Dalam penelitian ini, penulis mewawancari beberapa narasumber, yang berasal dari desa tempat penelitian yaitu desa pojok agar mendapat data yang relevan dengan hal yang diteliti. Studi dokumentasi studi dokumentasi dalam penelitian kali ini digunakan sebagai untuk bukti analisis penelitian dan juga sebagai pendukung penelitian.

Akibat adanya pernyataan tentang pagebluk itu membuat membuat berbagai respon di kalangan masyarakat. Umumnya respon masayarakat terhadap peristiwa/fenomena didasarkan pada suat adanya tanggapan dari seorang individu atas adnya suatu peristiwa yang sedang dialami yang kemudian menimbulkan interpretasi positif maupun negatif sehingga tergantung pada pengalaman individu atas dampak yang terjadi dalam kehidupanya. Respon dijabarkan dengan adanya tingkah perilaku yang mencuat karena timbulnya daya rangsangan dari lingkungan. Seperti pada saat tradisi ambengan yang dilakukan untuk kegiatan tolak balak adanya banyak masyarakat desa yang berkumpul terjadilah interaksi. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetaui lebih dalam tentang tradisi yang dilakukan di desa pojok yang berkaitan dengan munculnya pageblug

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tradisi Tolak Balak Memutus Virus Corona

Tolak balak sendiri adalah penangkal dari bencana dengan berbagai cara. Orang orang Tanah Jawa yang masih memegang teguh ajaran Jawa yang turun menurun yang. Variasi sesuai kepercayaan masing masing individu antara lain, membaca mantra, menyiapkan sesajen, dan benda atau yang diaggap mepunyai simbol magiis. Tradisi tolak balak dipercayai mempunyai sumber kekuatan alam yang harus diperkokoh sehingga dapat bertahan sehingga dapat tertopang dalam adanya kehidupan agar terbias dari malapetaka dan kesialan. Dalam keimanan masyarakat tolak balak adalah sebuah kegiatan untuk penyembuhan secara masal.

Pageblug dalam Kebudayaan telah tertanam sehingga mengakar dalam waktu yang sangat lama sehingga menjadi sebuah pandangan sikap dan hidup yang harus di lakukan di mata orang Jawa. Sikap hidup itu sendiri untuk orang orang Jawa, memiliki intensitas dan karakter yang sangat mencolok dengan dasar yang berlandas dari wejangan nenek moyang sampai turun-temurun, sikap hormat antar sesama serta berbagai perlambangan dalam ungkapan Jawa. Menjadi jiwa seni dan budaya Jawa termasuk dalam menangani wabah atau pageblug, masyarakat Jawa melakukan tradisi yang dianggap dapat membuat wabah ini menghilang (Puguh, Amaruli, & Utama, 2021).

Kesadaran orang Jawa tentang pageblug sudah ada sejak dulu. Mereka melakukan ini melalui upacara dan tradisi untuk meminta keselamatan sementara pada saat yang sama menyeimbangkan dunia makro dan mikrokosmos mereka. Contohnya adalah Wilujengan Nagari Rajaweddha yaitu sebuah tradisi yang dimulai pada masa Pengging dan berlanjut pada masa Kerajaan Demak di bawah pimpinan Raden Patah. Wabah dan gangguan keamanan yang mengakibatkan kesengsaraan rakyat telah mendorong Raja, punggawa kerajaan, dan wali untuk memohon petunjuk kepada Allah SWT (Hapsah, Mufaidah, Yuliandari, & Sebayang, 2018). Hasilnya mengisyaratkan bahwa Raja harus eling lan waspada, adil paramarta (selalu ingat dan waspada dan selalu bertindak adil).

Serangan wabah Covid-19 secara global terhadap masyarakat dunia saat ini menyebabkan keseimbangan hidup manusia terganggu. Keadaan ini menyebabkan terjadinya ketidakpastian kepada manusia termasuk masyarakat Jawa Wabah Covid-19 menyebabkan masyarakat Jawa kembali kepada ilmu Kejawen sehingga mereka eling kepada sang pencipta bahwa wabah penyakit terjadi atas kehendak-Nya dan ingat serta mematuhi arahan dari pemerintah bagi mencegah merebaknya jangkitan wabah Covid-19 (Puguh et al., 2021). Sekiranya mereka harus terkena jangkitan wabah, mereka akan pasrah atau nrimo apapun yang terjadi, dan menerima penyakit tersebut dengan sabar dan rila serta selalu berfikir sebagaiujian” sang pencipta. Inilah karakteristik asli masyarakat Jawa di Indonesia, di mana karakter ini akan muncul dalam kehidupan seharian mereka termasuk ketika berhadapan dengan wabah atau pageblug (Saddhono, Pertiwi, & Anggrahini, 2019).

Wujud perilaku simbolis ditunjukan oleh manusia terhadap alam sekitarnya. Keyakinan terhadap tolak balak yaitu kyakinan pada roh jahat yang memunculkan suatu petaka yang dapat menghancurkan alam semesta, roh halus yang bersifat jahat selau menyatu, berkesinambung dan dikaitkan dengan territorial yang diyakini masyarakat.

Pada era Corona ini tolak bala merupakan ritual keagamaan dan budaya yang masih dipercaya masyarakat untuk meminta keselamatan dari dampak Pandemi Covid-19 Aspek sosial yang mendasar masyarakat lintas agama berperan serta dalam penanganan dan pengawasan covid-19. Masyarakat lintas agama tersebut bergabung atas dasar kesadaran pribadi dan jiwa yang sudah tertanam sejak zaman dahulu untuk hidup berdampingan dengan tidak mempermasalahkan terkait agama yang dianut masing-masing masyarakat yang ada.

Namun, berbeda dengan golongan masyarakat tua, mereka masih mempercayai terhadap pagebluk, dan solusi yang ditempuh yakni membuat penangkal terhadap roh-roh jahat pembawa penyakit tersebut. Partisipasi tentunya datang dari pribadi, golongan, dan peranan para elit serta tokoh agama yang ada. Semua bahu membahu bertukar pendapat dalam suatu forum untuk menciptakan suasana desa Pojok agar tetap kondusif, dan masyarakat tidak panik.  Sehinga budaya menjadi pedoman utama dalam menyelesaikan kasus Covid-19 yang meresahkan masyarakat dunia.

Semangat utama untuk mengatasi era pergolakan dalam budaya Jawa adalah waspada dan waspada, yang berarti selalu ingat (eling) dan waspada (waspada). Eling berarti mengingat Yang Maha Kuasa dan mengingat kewajiban seseorang sebagai manusia. Waspada artinya selalu waspada terhadap tanda-tanda zaman dan tanda-tanda alam. Kesadaran ini tidak lepas dari ngelmu (pengetahuan). Eling dan waspada diperkenalkan oleh Ranggawarsita, seorang penulis karya Jawa yang terkenal dalam Serat Kalatidha-nya. Ia mengusulkan kedua sikap tersebut sebagai formula untuk menghadapi era kemurkaan, atau usia gila karena kerusakan moral dan hilangnya pemahaman yang baik dan yang buruk.

Dalam bahasa Islam, eling memiliki pesan yang sama dengan fafirru ilallah (berlari menuju Tuhan). Pageblug merupakan kondisi yang tidak ideal akibat rusaknya keseimbangan alam dan keseimbangan sosial. Cara paling aman untuk keluar dari situasi tersebut adalah dengan kembali ke pelukan Tuhan dan menunaikan kewajiban (dharma) sebagai hamba-Nya. 

Cara yang dipercayai dan dilakuan di Desa Pojok dengan menyalakan diang atau kayu yang dibakar yang dimulai dari sore hari menjelang Magrib sampai malam di depan rumah Diang ini juga tradisi adat istiadat. Api itu sumber kehidupan, jadi dengan api yang terus menyala dimalam hari, itu juga diyakini tolak balak energi negatif selain itu pada malam jum’at para laki laki dianjurkan untuk tidak tidur.

Desa Pojok juga melakukan sesuatu untuk menolak balak yang dilakukan yaitu memasang patung patung yang didandani untuk ditaruh didepan rumah. Mereka melakukannya akarena mereka percaya hal itu dapat mecegah masuknya wabah. Ada salah satu warga berkata’’ disini banyak orang yang meninggal sehari bisa 8-10’’ jadi karena hal itu mereka melakukan tolak balak

Terpampang di depan rumah warga di Desa Pojok ada patung yang dibuat dari batok kelapa yang dibentuk kepala dan badan terbuat dari kayu terdiri dari mulai badan tangan dan kaki batok kelapa yang berbentuk kelapa itu juga diberi gambaran mata sebagai pelengkapnya patung juga dipakaikan baju warga Desa percaya bahwa patung dari kayu itu dapat menangkal pageblug roh roh yang bersifat jahat tidak bisa masuk rumah dan alhasil terperangkap di dalam patung. 

Selain memasang patung, dan menyalakan diang masyarakat disekitar juga melakukan mengadakan selametan keagamaan dengan cara ambengan, ambengan yaitu membawa tampah yang dialasi daun pisang setelah itu diisi nasi kuning, telur, ayam ingkung bumbu lodho. (1) Nasi punar, menggambar kan seorang dewi yang bernama Dewi Sri (sumber kehidupan), Dewi sri juga disebut dengan ibu kehidupan dan juga beridentik dengan kegiatan bercocok tanam jadi dikaitkan dengan adanya hasil panen dari masyarakat setempat yang mata pencahariannya sebagai petani. Dengan demikian diharapkan agar masyarakat setempat selalu mendapatkan keberkahan di tengah Corona. (2) Telur, dimaknakan dengan beban, dalam situasi ini diberikan cobaan yakni musibah Corona. Sebagai orang yang percaya adnya agama harus bersabar, berikhtiar serta bertawakal dan berserah diri kepada Tuhan. (3) Ikan dan ayam, adalah wujud dariingon-ingonatau peliharaan masyarakat desa, dan dapat diintrepretasi akan mendapati keberkahan dan kebermanfaatan yang baik.

Mantra atau bacaan yang dibacakan yaitu Allaahumma inna nasta‘iinuka wa nastaghfiruka, wa nastahdiika wa nu’minu bik wa natawakkalu 'alaik, wa nutsnii alaikal khaira kullahu nasykuruka wa laa nakfuruk, wa nakhla‘u wa natruku man yafjuruk. Allaahumma iyyaaka na‘budu, wa laka nushallii wa nasjud, wa ilaika nas‘aa wa nahfid, narjuu rahmataka wa nakhsyaa adzaabak, inna adzaabakal jidda bil kuffaari mulhaq. Allahumadfa' 'annal balaa a wal wabaa a, wal fakhsyaa a wasyadaaida wal Fitriana wal mihana mas dhoharo wamaa bathon 'an bilaadina indonesia wa saaairil buldani yaa rabbal 'alamiin. Washolallahu 'ala sayyidina muhammdin nabiyyil ummiyi wa ' ala aliihi washohbihi wa sallim." Yang mempunyai arti uhan kami, kami memohon bantuan-Mu, meminta ampunan-Mu, mengharap petunjuk-Mu, beriman kepada-Mu, bertawakkal kepada-Mu, memuji-Mu, bersyukur dan tidak mengingkari atas semua kebaikan-Mu, dan kami menarik diri serta meninggalkan mereka yang mendurhakai-Mu. Tuhan kami, hanya Kau yang kami sembah, hanya kepada-Mu kami hadapkan shalat ini dan bersujud, hanya kepada-Mu kami berjalan dan berlari. Kami mengaharapkan rahmat-Mu. Kami takut pada siksa-Mu karena siksa-Mu yang keras itu akan menimpa orang-orang kafir.” Ya Allah hindarkanlah kami dari bencana, bala', malapetaka, kekejian, kemungkaran, silang sengketa, serta kekejaman dan peperangan, (baik) yang tampak (maupun) yang tersembunyi di negeri kami khususnya dan negeri-negeri kaum muslimin pada umumnya. Sesungguhnya Engkau Maha-kuasa atas segala sesuatu.

Selain itu ada bacaan yang berbahasa Jawa yaitu Sakehing lara pan samya bali Sakeh ngama pun sami mirunda Welas asih pandulune Sakehing braja luput Kadi kapuk tibaning wesi Sakehing wisa tawa Sato galak tutut Kayu aeng lemah sangar Songing landhak guwaning Wong lemah miring Myang paki poning merak. Mugi mugi pageblug iki dang mari terus Deso iki dadi deso seng aman tentre lan kebergahan bagi wargane alfatihah arti semua penyakit pulang ke tempat asalnya semua hama menyingkir dengan pandangan kasih semua senjata tidak mengenai bagaikan kapuk jatuh ke besi segenap racun menjadi tawar, binatang buas jadi jinak.

Dengan memacu teori interaksionisme simbolik dalam acara ambengan ini masyarakat berkumpul dan saling berinteraksi dan mempunyai kesamaan tujuann yaitu meminta keselamatan pada yang maha kuasa. Sehingga terjadinya Covid-19, diharapkan masyarakat dapat mengambil hikmah dan manfaat adanya covid dengan peraturan dan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemeritah tidak hanya itu diharpkan juga kepada manusia manusia agar senantiasa tidak bethenti berdoa kepada Tuhan semesta alam.

Dari fenomena pageblug corona mengingatkan kita pada cerita msyarakat zaman dahulu bahwa mereka selalu menjaga kebersihan yaitu dengan cara memasang gentong yang berisi air di depan rumah yang terbuat dari tanah liat yang pada zaman dahulu digunakan untuk mencuci tangan, kaki dan muka agara kotoran dari luar rumah tidak masuk kedalam rumah, akhirnya pada saat corona ini dilakukan kembali yang diharapkan dapat memtus rantai penularan corona, selain itu masyarakat jawa juga menganjurkan di masa corona ini utuk banyak banyak menyeduh ramuan rempah rempah seperti jahe, empon empon.

Salah satu keluarga melakukan tolak balak dengan memasak sayur lodeh dalam sayur lodeh itu juga mempunyai makna, sayur lodeh 7 macam memiliki makna tersendiri yaitu terdiri 7 komponen uang setiap komponen mengandung makna tersendri yaitu kluwih: kluwargo luwiono anggone gulowentah gatekne ( kluwih: Perhatikan keluargamu), cang gleyor: cancangen awakmu ojo amen lungo ae (kacang Panjang: Jangan keluar jika tidak ada kepentingan yang mendesak), terong: terusno anggone mamembah Gusti (terong:  rajin rajin beribadah kepada tuhan), waluh: walaono ilangono ngeluh ngeresulo (jangan sering mengeluh banyak banyaklah bersyukur), kulit mlinjo ojo mek pengen ngerti jobone ning kudu  ngerti jerone ( jangan hanya melihat luarnya saja tentang pageblug tetapi juga analisislah), godong so: golong giling dongo kumpul wong sholeh sugeh kaweruh (berkumpul, berdoa dengan orang yang berilmu dan sholeh), tempe: temenono oleh depepe nyuwun pitulunge tuhan ( teruslah berdoa kepada tuhan)

Budaya Jawa begitu khas maka dari itu aspek sosial budaya jawa bisa dikatakan sangat kental. Orang Jawa memiliki tata selain itu manusia jawa juga berkiblat dalam sikap toleransi dengan tertib dalam mengatur segala tingkah laku agar selalu apik dan tertata dan kebajikan. Orang Jawa haram mempunyai sikap ingin menang sendiri (Aldrich, 2011).

Siakp yang sifatnya baik selalu dimanifestasikan dalam kehidupan orang Jawa yaitu kedamaian di dunia dan akhirat. Kedamaian. Dalam kehidupan orang Jawa kedamaian adalah hal yang mutlak dan harus elalu dijunjung ketika mau melngkah. Hal ini menjadi keistimewahan orang Jawa Kebudayaan yang selalu senantiasa menerangkan sekaligus membimbing tentang adanya kehidupan yang harmonis, kerja sama, tolong menolong (Hanif, 2016).

 

KESIMPULAN

Masyarakat menganggap bahwa virus Corona merupakan sebuah teguran dari yang diatas supaya manusia kembali mendekatkan diri kepada yang diatas. Dalam hal ini tentu dengan adanya pageblug corona membuat msyarakat merasa sengsara mulai dari sektor manapun mengalami masalah selain itu adanya sebuah pengetahuan dan pengalaman yang ditinggalkan oleh nenek moyang terdahulu menyebabkan masyarakat Desa Pojok meniru nenek moyang terdahulu seperti kembali memasang timba yang berisi air didepan rumah untuk membasuh tangan dan kaki agar kembali masuk ke rumah dengan keadaan bersih. Cara masyarakat Desa Pojok untuk memutus rantai virus Corona selain menaati protokol kesehatan mereka juga melaksanan tolak bala dengan cara memasang boneka kayu didepan rumah yang mereka harapkan dengan memasang bonek kayu di depan rumah bisa mengusir wabah yang akan masuk ke dalam rumah, selain itu juga menyalakan diang yang dimulai dari sore hari hingga malam hari, selain itu masyarakat juga melaksanakan ambengan dengan harapan tolak bala ini dapat menghilangkan wabah.

 

BIBLIOGRAFI

 

Aldrich, M. A. (2011). Traditional Beliefs. The Search for a Vanishing Beijing, 13–34. https://doi.org/10.5790/hongkong/9789622097773.003.0017.

 

Andriani, Fitriani. (2021). No Title.

 

Hanif, Muhammad. (2016). Kesenian Dongkrek (Studi Nilai Budaya Dan Potensinya Sebagai Sumber Pendidikan Karakter). Gulawentah:Jurnal Studi Sosial, 1(2), 132. https://doi.org/10.25273/gulawentah.v1i2.1036.

 

Hapsah, Meirina, Mufaidah, Siti, Yuliandari, Inriza, & Sebayang, Susy Katikana. (2018). Studi Etnografi tentang Nilai-Nilai dan Simbolisasi Tradisi Seblang Olehsari untuk Mencegah Kerawanan Pangan. MOZAIK HUMANIORA, 18(2), 205–213.

 

Hasbiansyah, O. (2008). Pendekatan Fenomenologi: Pengantar Praktik Penelitian dalam Ilmu Sosial dan Komunikasi. Mediator: Jurnal Komunikasi, 9(1), 163–180. https://doi.org/10.29313/mediator.v9i1.1146.

 

Hendro, Eko Punto. (2020). Pageblug: Tinjauan Aspek Antropologis untuk Mendukung Penerapan Protokol Kesehatan dalam Menghadapi  Covid-19 di Jawa Tengah. Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi, 4(1), 1–11.

 

Nuryana, Arief, Pawito, Pawito, & Utari, Prahastiwi. (2019). PENGANTAR METODE PENELITIAN KEPADA SUATU PENGERTIAN YANG MENDALAM MENGENAI KONSEP FENOMENOLOGI. ENSAINS JOURNAL, 2(1). https://doi.org/10.31848/ensains.v2i1.148.

 

Puguh, Dhanang Respati, Amaruli, Rabith Jihan, & Utama, Mahendra Pudji. (2021). COVID-19 Pandemic, Javanese Rituals, and Social Solidarity. E3S Web of Conferences, 317, 1045. EDP Sciences.

 

Ramon, Agus, Ajara, Buku, Kesehatan, Epidemiologi, Fakultas, Jurnal, Kesehatan, Ilmu, & Muhammadiyah, Universitas. (n.d.). Agus Ramon.” Buku Ajara Epidemiologi Kesehatan Lingkungan”. Jurnal Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Bengkulu . 2019. 1 1. 1–19.

Rosa, AZ., Ruja, INyoman, & Idris, Idris. (2020). Tari Seblang; Sebuah Kajian Simbolik Tradisi Ritual Desa Olehsari Sebagai Kearifan Lokal Suku Osing Banyuwangi. Jurnal Sandhyakala, 1(2), 131–153.

 

Rumilah, Siti, Nafisah, Kholidah Sunni, Arizamroni, Mochammad, Hikam, Sholahudin Abinawa, & Damayanti, Sita Arum. (2021). Kearifan Lokal Masyarakat Jawa dalam Menghadapi Pandemi. SULUK: Jurnal Bahasa, Sastra, Dan Budaya, 2(2), 119–129. https://doi.org/10.15642/suluk.2020.2.2.119-129.

 

Saddhono, Kundharu, Pertiwi, Kusuma R., & Anggrahini, Dwi. (2019). Larung Sesaji Tradition: Symbolic Meaning and Ritual Value with Water Concept in Lake Ngebel Ponorogo, East Java. 1st International Conference on Life, Innovation, Change and Knowledge (ICLICK 2018), 380–385. Atlantis Press.

 

Umah, Restu Yulia Hidayatul. (2020). CHARACTER EDUCATION BASED ON LOCAL WISDOM: EXPLORING THE" DONGKREK DANCE" CULTURE AS AN EFFORT TO INTERNALIZE CHARACTER VALUES IN LEARNING ARTS IN ELEMENTARY SCHOOLS. Al-Bidayah: Jurnal Pendidikan Dasar Islam, 12(2), 283–296.

 

Yuliana, Y. (2020). Corona virus diseases (Covid-19): Sebuah tinjauan literatur. Wellness And Healthy Magazine, 2(1), 187–192. https://doi.org/10.30604/well.95212020.

 

Yuliana, Yuliana. (2020). Corona virus diseases (Covid-19): Sebuah tinjauan literatur. Wellness And Healthy Magazine, 2(1), 187–192.