FAKTOR PEMANFAATAN KLINIK KESEHATAN
ASY-SYIFA OLEH PEGAWAI PEMERINTAHAN DIKANTOR DPR ACEH
TAHUN 2021
Lilis Suriani Aceh
Universitas
Muhammadiyah Aceh, Indonesia
|
Received
:
14-07-2022 |
Accepted
: 23-07-2022 |
Published : 27-07-2022 |
|
|
Abstract |
|||
|
Keywords: Utilization of health services, facilities, health care workers,
patient satisfaction |
Introduction: Utilization of health services is services
obtained from health service providers or places, in general health services
refer to all efforts and activities to prevent and treat disease. Objectives: Factors in the
Utilization of the Asy-Syifa Health Clinic by
Government Employees at the Aceh DPR office. Asy-Syifa
health clinic data shows that DPRD office employees who conducted health
checks at the Asy-Syifa clinic for the last 7
months only had 13 patients because Acehnese DPR government employees with
facilities, services for health workers were not friendly and made patients
reluctant to seek treatment at the Asy-Syifa health
clinic. Syifa. Methods:
This research is a quantitative study with a cross-sectional approach or
research conducted by measuring the dependent variable and the independent
variable at one time. Results: The
results of statistical tests can be concluded that there is a relationship
between facilities (p-value = 0.008), health care workers (p-value = 0.002),
patient satisfaction (p-value = 0.008) and the utilization of the Asy-Syifa health clinic by government employees at the
office. Aceh House of Representatives. Conclusion:
To the health clinics in order to improve the quality of services and
facilities needed to provide health services to all patients who use the Asy-Syifa health clinic at the Aceh DPR office in 2021 |
||
|
Abstrak |
|||
|
Kata kunci: Pemanfaatan pelayanan kesehatan, fasilitas, pelayanan petugas kesehatan, kepuasan pasien. |
Pendahuluan: Pemanfaatan
pelayanan kesehatan adalah pelayanan yang diperoleh dari penyedia atau tempat pelayanan kesehatan, secara umum pelayanan kesehatan mengacu pada segala upaya dan kegiatan pencegahan dan pengobatan penyakit. Tujuan: faktor-faktor
Pemanfaatan Klinik
Kesehatan Asy-Syifa oleh Pegawai Pemerintahan di kantor DPR Aceh.
Data klinik kesehatan Asy-Syifa bahwasanya pegawai kantor DPRD yang melakukan pemeriksaan kesehatan diklinik Asy-Syifa selama 7 bulan terakhir hanya 13 pasien di karenakan pegawai pemerintahan DPR Aceh dengan fasilitas, pelayanan petugas kesehatan yang kurang ramah dan membuat pasien enggan
berobat di klinik kesehatan Asy-Syifa. Metode: Penelitian
ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional atau
penelitian yang dilakukan
dengan pengukuran variabel dependent dan variabel
independent pada satu waktu.
Hasil: Hasil uji statistik
dapat disimpulkan ada hubungan antara fasilitas (p-value = 0.008), pelayanan
petugas kesehatan (p-value = 0.002), kepuasan
pasien (p-value
= 0.008) dengan pemanfaatan
klinik kesehatan Asy-Syifa oleh pegawai pemerintahan dikantor DPR Aceh.
Kesimpulan: Kepada
pihak klinik kesehatan agar dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan fasilitas yang dibutuhkan untuk melakukan pelayanan kesehatan kepada semua pasien yang memanfaatkan klinik kesehatan Asy-Syifa di kantor DPR Aceh tahun 2021. |
||
Corresponding
Author: Lilis Suriani
Aceh
E-mail: lilissuriani148@gmail.com
PENDAHULUAN
Pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah pelayanan yang diperoleh dari penyedia atau tempat
pelayanan kesehatan, sedangkan pelayanan kesehatan itu sendiri
adalah segala upaya yang dilakukan dalam organisasi untuk memelihara, meningkatkan kesehatan, mencegah dan mengobati penyakit, serta memulihkan kesehatan individu, kelompok, keluarga dan masyarakat (Tawil et al., 2017). Secara umum pelayanan kesehatan mengacu pada segala upaya dan kegiatan pencegahan dan pengobatan penyakit. Segala upaya dan kegiatan untuk meningkatkan dan memulihkan kesehatan dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk mewujudkan masyarakat yang sehat. Penggunaan.layanan kesehatan
paling erat kaitannya dengan kapan seseorang
membutuhkan layanan kesehatan dan pemanfaatan layanan tersebut (Martiani & Ernawati, 2015)
Peningkatan pelayanan kesehatan yang dimaksud merupakan upaya memberikan pelayanan yang cepat, tepat, dan ramah. Upaya reformasi penting dilakukan karena suatu negara akan mampu berkembang dengan baik dengan dukungan masyarakat yang sehat
(Benyamin, 2013)
Awal tahun 2014 merupakan
momentum awal dilaksanakannya
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh badan penyelenggara
jaminan sosial (BPJS)
Kesehatan. Program jaminan kesehatan
dalam JKN(Misnaniarti et al., 2017). Diselenggarakan
melalui mekanisme asuransi kesehatan sosial yang bersifat wajib (mandatory), dikembangkan dengan konsep untuk
menjamin kesehatan seluruh penduduk secara universal. Cakupan
universal ini dilaksanakan secara bertahap hingga tercapai pada tahun 2019 (Yustina & Yohanes Budisarwo, 2020)
Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 9 Tahun
2014 tentang klinik, klinik adalah fasilitas
pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan yang menyediakan pelayanan medik dan spesialistik. Pada tahun 2020, terdapat 11.347 klinik di Indonesia baik dimiliki oleh pemerintah maupun masyarakat, terdiri atas 10.238 klinik pratama dan 1.109 klinik utama. Provinsi
dengan jumlah klinik pratama yang dimiliki pemerintah provinsi terbanyak yaitu Sumatera Utara dengan jumlah 1.491 , Jawa Tengah 1.375,
Jawa Barat 1.088, Banten 953, Jawa
Timur 850, DKI Jakarta 786, Lampung 408, Sumatera Selatan 395, Kepulauan Riau 292, Kalimantan Timur 279, Bali 237,
Sumatera Barat 225, Sulawesi Selatan 220, DI Yogyakarta 193, Kalimantan Tengah
189, Riau 160, Jambi 157, Aceh 117, Papua 104, Nusa Tenggara Timur 98,
Kalimantan Barat 96, Nusa Tenggara Barat 95, Kepulauan
Bangka Belitung 78, Sulawesi Tenggara 59, Bengkulu 59, Sulawesi Tengah 50,
Kalimantan Selatan 40, Maluku 38, Gorontalo 35, Papua Barat 33, Sulawesi utara 23, Kalimantan Utara 10, Maluku Utara 3, Sulawesi
Barat 2. Sedangkan Jumlah Klinik utama yang dimiliki pemerintah Provinsi terbanyak yaitu DKI Jakarta dengan jumlah 282,Jawa Barat 175, Jawa
Tengah 142, Sumatera Utara 74, Sulawesi Selatan 67, Jawa
Timur 45, Bali 42, Banten 32, Nusa Tenggara Barat 26,DI Yogyakarta 22, Kepulauan Riau 19, Sumatra Barat 19,Kalimantan Tengah 18,
Sumatra Selatan 16, Riau 16, Kepulauan Bangka
Belitung 16, Sulawesi Tengah 16, Lampung 13, Jambi 10, Kalimantan Barat 8,
Kalimantan Timur 6, Papua 6, Sulawesi Tenggara 6, Bengkulu 6, Kalimantan
Selatan 6, Aceh 4, Nusa Tenggara Timur 4, Maluku 4, Gorontalo 3, Papua Barat
3,Sulawesi Utara 3, dan 3 provinsi yang tidak memiliki klinik utama yaitu
Kalimantan utara, Maluku utara,
Sulawesi barat (Depkes, 2014)
Pemerintah Aceh memiliki peran sentral dalam pengalokasian
sumber daya di bidang kesehatan, peran pembinaan agar sesuai dengan arah
pembangunan, serta peran pengaturan dan pengawasan aktifitas–aktifitas bidang kesehatan tidak hanya sector public tetapi juga sektor swasta, sehingga diperlukan data dan informasi mengenai faktor yang berpengaruh terhadap pemanfaatan klinik kesehatan agar pemerintah aceh dapat membuat kebijakan
yang dapat menjaga keserasian dan kesinambungan upaya kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan
para pegawai pemerintah (SITUMEANG, 2022)
DPR Aceh merupakan lembaga
Perwakilan Rakyat Aceh yang berkedudukan
sebagai unsur penyelenggara pemerintah Aceh (Zr & Ubaidullah, 2019). Sebagai
salah satu lembaga yang
sangat penting dalam melaksanakan sistem demokrasi, maka DPR Aceh mengembangkan kelembagaan sebagai salah satu wadah untuk melaksanakan
musyawarah atau mufakat berdasarkan demokrasi Pancasila dan Undang–Undang Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh dan semangat
MoU Helsinki tanggal 15 Agustus
2005. DPR Aceh memiliki pegawai yang berjumlah 139 orang, yang mana saat ini kantor DPR Aceh memiliki
Klinik Kesehatan Pribadi.
Klinik Asy-Syifa Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Aceh merupakan Klinik pelayanan kesehatan yang khususkan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dan keluarga
serta seluruh karyawan/karyawati di lingkungan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. Klinik Asy-Syifa beroperasional sejak tanggal 25 Agustus 2006 dengan melakukan pelayanan kesehatan seperti pemeriksaan umum, penyuluhan kesehatan perorangan/berkelompok di tempat pelayanan, penyediaan obat–obatan, melakukan pelayanan kesehatan setiap hari kerja,
memberikan pelayanan kesehatan di luar jam kerja pada kegiatan–kegiatan yang diselenggarakan
oleh kantor Sekretariat
Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. Klinik
Asy-Syifa mempunyai 12
orang tenaga kesehatan yaitu Dokter Umum
2 orang, Dokter Gigi 1 orang, Perawat
4 orang, Tenaga Teknik Kefarmasian 3 orang, Perawat Gigi 1 orang, Administrasi
1 orang. Jumlah kunjungan dari tahun 2018 - 2020 sebanyak 3.535 pasien, sedangkan pegawai kantor DPRA yang melakukan pemeriksaan kesehatan di klinik Asy-Syifa selama 7 bulan terakhir hanya 13 pasien dikarenakan pegawai pemerintahan di kantor DPR Aceh dengan fasilitas, pelayanan petugas kesehatan yang kurang ramah dan membuat pasien dengan pelayanan klinik kesehatan Asy-Syifa .
Hal ini sejalan
dengan hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh (Apriani et al., 2019) dengan judul analisis minat mahasiswa Universitas Diponegoro terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan Klinik Pratama Undip. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui niat mahasiswa Universitas Diponegoro dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan Klinik Pratama Undip melalui persepsi
jenis pelayanan kesehatan,akses pelayanan kesehatan, informasi pelayanan kesehatan dan harga pelayanan kesehatan. Dengan melakukan Pendekatan cross sectional yang mana sampel diambil dari 100 orang mahasiswa S1 dan
S1 Universitas Diponegoro. Hasil penelitian
menunjukkan 52% menyatakan niat dan 48% menyatakan tidak setuju. Analisis
bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara persepsi jenis pelayanan kesehatan (p value
0,047) , persepsi informasi pelayanan kesehatan (p value 0,000) dan persepsi
harga pelayanan kesehatan (p value 0,009). Sedangkan
variabel yang tidaK memiliki korelasi adalah persepsi terhadap akses pelayanan kesehatan (p value 0,466). Disarankan
ke Klinik Pratama Undip untuk
mengoptimalkan promosi pelayanan melalui kerjasama dengan acara kampus dan roadshow ke
masing-masing fakultas di Universitas Diponegoro.
Berdasarkan hasil observasi awal pada tahun 2021 terdapat 75% pasien yang melakukan pemeriksaan kesehatan (Medical Check Up) pegawai
yang berasal dari luar seperti pegawai
kantor Gubernur yang memanfaatkan klinik Asy-Syifa tersebut sedangkan pegawai kantor DPRA lebih memilih berobat di klinik lain dikarenakan kurangnya pelayanan petugas kesehatan sehingga pegawai DPRA enggan berobat di klinik kesehatan Asy-Syifa. Oleh sebab itu penulis ingin
mengetahui faktor-faktor Pemanfaatan Klinik Kesehatan Asy-Syifa oleh Pegawai Pemerintahan di kantor DPR Aceh.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini adalah penelitian
kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional
atau penelitian yang dilakukan dengan pengukuran variabel dependent dan
variabel independent pada satu
waktu (Nursalam, 2014). Dengan tujuan untuk melihat
hubungan variabel
independent (Fasilitas, pelayanan
petugas kesehatan, dan kepuasan pasien) dengan variabel dependent (Pemanfaatan klinik kesehatan Asy-Syifa) oleh pegawai pemerintahan di kantor DPR Aceh Tahun 2021.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pengumpulan data di Klinik Kesehatan Asy-Syifa yang dimulai dari tanggal
27 Desember 2021 sampai dengan 5 Januari 2022. Dengan jumlah sampel
sebanyak 103 responden yaitu pegawai pemerintahan
di kantor DPR Aceh, maka diperoleh hasil sebagai berikut :
Analisis univariat merupakan analisis yang dilakukan untuk melihat besaran
suatu masalah dengan tabel distribusi
frekuensi. Pada bagian ini akan di analisis
mengenai karakteristik responden (Christy, 2014).
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diKantor DPR Aceh, berikut ini distribusi frekuensi pemanfaatan klinik kesehatan Asy-Syifa dikantor DPR Aceh seperti terlihat pada tabel 1
Tabel 1
Distribusi frekuensi pemanfaatan klinik kesehatan
Asy-syifa DPR aceh tahun 2021
|
No |
Pemanfaatan Klinik Kesehatan Asy-Syifa |
N |
% |
|
1 |
Dimanfaatkan |
32 |
31.1 |
|
2 |
Kurang dimanfaatkan |
71 |
68.9 |
|
Jumlah |
103 |
100.0 |
|
Sumber : Data Primer (diolah tahun 2021)
Berdasarkan tabel 6.1 di atas menunjukkan bahwa proporsi responden yang tidak memanfaatkan klinik kesehatan Asy-Syifa sebesar 68.9% sedangkan proporsi responden yang memanfaatkan klinik kesehatan Asy-Syifa hanya 31.1%.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di klinik kesehatan Asy-Syifa, berikut ini distribusi
frekuensi fasilitas di klinik kesehatan Asy-Syifa di kantor
DPR Aceh seperti yang terlihat
pada tabel 2
Tabel 2
Distribusi frekuensi fasilitas
diklinik kesehatan Asy-syifa DPR aceh tahun 2021
|
No |
Fasilitas |
n |
% |
|
1 |
Memadai |
42 |
40.8 |
|
2 |
Kurang Memadai |
61 |
59.2 |
|
Jumlah |
103 |
100.0 |
|
Sumber : Data Primer (diolah
Tahun 2021)
Berdasarkan tabel 6.2 di atas menunjukkan bahwa proporsi responden yang menjawab fasilitas kurang memadai sebesar 59.2% sedangkan proporsi responden yang menjawab fasilitas memadai hanya 40.8%.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di klinik kesehatan Asy-Syifa, berikut ini distribusi
frekuensi pelayanan petugas kesehatan di klinik kesehatan Asy-Syifa di kantor
DPR Aceh seperti yang terlihat
pada tabel 3
Tabel 3
Distribusi frekuensi pelayanan petugas kesehatan
diklinik kesehatan Asy-syifa DPR aceh tahun 2021
|
No |
Pelayanan Petugas
Kesehatan |
n |
% |
|
1 |
Baik |
71 |
68.9 |
|
2 |
Kurang Baik |
32 |
31.1 |
|
Jumlah |
103 |
100.0 |
|
Sumber : Data Primer (diolah
Tahun 2021)
Berdasarkan tabel 6.3 di atas menunjukan bahwa proporsi responden yang menjawab pelayanan petugas kesehatan baik sebesar 68.9% sedangkan proporsi responden yang menjawab pelayanan petugas kesehatan kurang baik hanya
31.1%.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di klinik kesehatan Asy-Syifa, berikut ini distribusi
frekuensi kepuasan pasien di klinik kesehatan Asy-Syifa di kantor DPR Aceh seperti yang terlihat pada tabel 4
Tabel 4
Distribusi frekuensi kepuasan pasien
diklinik kesehatan Asy-syifa DPR aceh tahun 2021
|
No |
Kepuasan Pasien |
n |
% |
|
1 |
Puas |
9 |
8.7 |
|
2 |
Kurang Puas |
94 |
91.3 |
|
Jumlah |
103 |
100.0 |
|
Sumber : Data Primer (diolah
Tahun 2021)
Berdasarkan tabel 4 di atas menunjukkan bahwa proporsi responden kurang puas sebesar 91.3% sedangkan proporsi responden yang puas hanya 8.7%.
Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara 2 variabel yaitu variabel dependen (Pemanfaatan Klinik Kesehatan Asy-Syifa), dengan variabel independen (Fasilitas,Pelayanan Petugas Kesehatan, Kepuasan Pasien)(Latif et al., 2021).
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di kantor DPR Aceh, berikut adalah tabulasi silang hubungan fasilitas dengan pemanfaatan klinik kesehatan Asy-Syifa di kantor DPR Aceh yang
terlihat pada tabel 5
Tabel 5
Tabulasi silang hubungan fasilitas dengan pemanfaatan
Klinik kesehatan Asy-syifa DPR aceh tahun 2021
|
No |
Fasilitas |
Pemanfaatan Klinik Kesehatan |
Total |
p-value |
||||
|
Dimanfaatkan |
Kurang dimanfaatkan |
|||||||
|
N |
% |
n |
% |
n |
% |
|||
|
1 |
Memadai |
15 |
35.7 |
27 |
64.3 |
42 |
100.0 |
0.008 |
|
2 |
Kurang Memadai |
17 |
27.9 |
44 |
72.1 |
61 |
100.0 |
|
|
Total |
32 |
31.1 |
71 |
68.9 |
103 |
100.0 |
||
Sumber : Data Primer (diolah
Tahun 2021)
Berdasarkan tabel 6.5 menunjukkan bahwa proporsi responden yang tidak memanfaatkan klinik kesehatan Asy-Syifa dengan fasilitas kurang memadai sebesar 72.1% sedangkan responden yang tidak memanfaatkan klinik kesehatan dengan fasilitas memadai hanya 64.3%. Sebaliknya proporsi responden yang memanfaatkan klinik kesehatan Asy-Syifa dengan fasilitas memadai sebesar 35.7% sedangkan responden yang tidak memanfaatkan klinik kesehatan dengan fasilitas kurang memadai hanya 27.9%. Hasil uji statistik di dapatkan nilai p-value 0.008 yang artinya terdapat hubungan bermakna antara fasilitas dengan pemanfaatan klinik kesehatan Asy-Syifa di kantor DPR Aceh.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di kantor DPR Aceh, berikut adalah tabulasi silang hubungan pelayanan petugas kesehatan dengan pemanfaatan klinik kesehatan Asy-Syifa di kantor DPR Aceh yang
terlihat pada tabel 6
Tabel 6
Tabulasi Silang Hubungan
Pelayanan Petugas Kesehatan
Dengan Pemanfaatan Klinik Kesehatan
Asy-syifa DPR aceh tahun 2021
|
No |
Pelayanan Petugas
Kesehatan |
Pemanfaatan Klinik
Kesehatan |
Total |
p-value |
||||
|
Dimanfaatkan |
Kurang dimanfaatkan |
|||||||
|
N |
% |
N |
% |
n |
% |
|||
|
1 |
Baik |
24 |
33.8 |
47 |
66.2 |
71 |
100.0 |
0.002 |
|
2 |
Kurang Baik |
8 |
25.0 |
24 |
75.0 |
32 |
100.0 |
|
|
Total |
32 |
31.1 |
71 |
68.9 |
103 |
100.0 |
||
Sumber : Data Primer (diolah
Tahun 2021)
Berdasarkan tabel 6.6 menunjukkan bahwa proporsi responden yang tidak memanfaatkan klinik kesehatan dengan pelayanan petugas kesehatan kurang baik sebesar
75.0% sedangkan responden
yang tidak memanfaatkan klinik kesehatan Asy-Syifa dengan pelayanan petugas kesehatan baik hanya 66.2%. Sebaliknya proporsi responden yang memanfaatkan klinik kesehatan dengan pelayanan petugas kesehatan baik sebesar 33.8% sedangkan responden yang tidak memanfaatkan klinik kesehatan dengan pelayanan petugas kesehatan kurang baik hanya 25.0%. Hasil uji statistik di dapatkan nilai p-value 0.002 yang artinya terdapat hubungan bermakna antara pelayanan petugas kesehatan dengan pemanfaatan klinik kesehatan Asy-Syifa di kantor DPR Aceh.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di kantor DPR Aceh, berikut adalah tabulasi silang hubungan kepuasan pasien dengan pemanfaatan
klinik kesehatan Asy-Syifa di kantor DPR Aceh yang
terlihat pada tabel 7
Tabel 6
Tabulasi silang hubungan kepuasan pasien dengan pemanfaatan
Klinik kesehatan Asy-syifa DPR aceh tahun 2021
|
No |
Kepuasan Pasien |
Pemanfaatan Klinik Kesehatan |
Total |
p-value |
||||
|
Dimanfaatkan |
Kurang dimanfaatkan |
|||||||
|
N |
% |
N |
% |
n |
% |
|||
|
1 |
Puas |
3 |
33.3 |
6 |
66.7 |
9 |
100.0 |
0.008 |
|
2 |
Kurang Puas |
29 |
30.9 |
65 |
69.1 |
94 |
100.0 |
|
|
Total |
32 |
31.1 |
71 |
68.9 |
103 |
100.0 |
||
Sumber : Data Primer (diolah
Tahun 2021)
Berdasarkan tabel 6.7 menunjukkan bahwa proporsi responden yang tidak memanfaatkan klinik kesehatan dengan kepuasan pasien yang kurang puas sebesar 69.1% sedangkan responden yang tidak memanfaatkan klinik kesehatan Asy-Syifa dengan kepuasan pasien yang puas hanya 66.7%. Sebaliknya proporsi responden yang memanfaatkan klinik kesehatan dengan kepuasan pasien yang puas sebesar 33.3% sedangkan responden yang tidak memanfaatkan klinik kesehatan dengan kepuasan pasien yang kurang puas hanya
30.9%. Hasil uji statistik di dapatkan
nilai p-value 0.008 yang artinya
terdapat hubungan bermakna antara kepuasan pasien dengan pemanfaatan klinik kesehatan Asy-Syifa di kantor DPR Aceh.
PEMBAHASAN
Pembahasan dalam penelitian ini disajikan dalam
bentuk narasi berdasarkan hasil yang di peroleh, penjabaran dari pembahasan sesuai dengan tujuan
dari penelitian yang terdiri dari faktor-faktor
yang berhubungan dengan pemanfaatan Klinik Kesehatan Asy-Syifa oleh Pegawai Pemerintahan di Kantor DPR Aceh Tahun
2021.
Hasil penelitian ini diperoleh bahwa
sebagian besar responden mengatakan bahwa fasilitas termasuk kategori memadai yaitu hanya
40.8%, sedangkan yang mengatakan
bahwa fasilitas kurang memadai sebesar 59.2%. Bila dikaitkan dengan pemanfaatan klinik kesehatan Asy-Syifa diperoleh 42 responden mengatakan bahwa yang memanfaatkan fasilitas klinik kesehatan Asy-Syifa yaitu 35.7%, sedangkan dari dari 61 responden yang mengatakan bahwa fasilitas klinik kesehatan Asy-Syifa kurang dimanfaatkan yaitu 72.1%
Fasilitas telah terbukti memberikan kontribusi terhadap pemanfaatan tempat-tempat pelayanan kesehatan. Hasil yang di peroleh dalam penelitian ini dimana ada
hubungan yang bermakna antara fasilitas dengan pemanfaatan klinik kesehatan Asy-Syifa di kantor DPR Aceh dengan nilai P-value (0.008).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin memadai
fasilitas klinik kesehatan Asy-Syifa semakin banyak pegawai pemerintahan DPR Aceh
yang memanfaatkan klinik kesehatan Asy-Syifa, sebaliknya semakin kurang memadai klinik kesehatan Asy-Syifa semakin kurang pula pegawai pemerintahan DPR Aceh yang memanfaatkan
klinik kesehatan Asy-Syifa.
Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan
oleh Rahayu tahun 2015 bahwa sebagian besar masyarakat yang memanfaatkan pelayanan kesehatan yaitu sebanyak 81% mengatakan bahwa fasilitas pelayanan yang ada di puskesmas termasuk kategori lengkap, selain itu hasil
penelitian ini diperoleh bahwa fasilitas pelayanan kesehatan memberikan konribusi kepada pemanfaatan pelayanan kesehatan, dengan fasilitas yang lengkap maka minat masyarakat
untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan semakin besar.
Menurut hasil observasi peneliti yang dilakukan di Klinik Kesehatan Asy-Syifa, fasilitas yang tersedia kurang memadai sehingga pegawai pemerintahan DPR Aceh kurang memanfaatkan klinik kesehatan Asy-Syifa dan lebih memilih medical chekup di klinik lain yang fasilitas nya lebih
memadai.
Adapun
fungsi fasilitas pelayanan tersebut antara lain: 1). mempercepat
proses pelaksanaan pekerjaan, sehingga dapat menghemat waktu. 2). Meningkatkan prodktivitas, baik barang atau
jasa. 3). Kualitas produk yang lebih baik/terjamin. 4). Ketetapan susunan dan stabilitas ukuran terjamin. 5). Lebih mudah/sederhana dalam gerak para pelakunya. 6).Menimbulkan rasa kenyamanan bagi orang-orang yang berkepentingan. 7). Menimbulkan
rasa puas pada orang-orang yang berkepentingan
seingga dapat mengurangi sifat emosional mereka.
Hasil penelitian ini diperoleh bahwa
sebagian besar responden mengatakan pelayanan petugas kesehatan termasuk kategori baik sebesar
68.9%, sedangkan yang mengatakan
bahwa pelayanan petugas kesehatan kurang baik hanya
31.1%. Bila dikaitkan dengan pemanfaatan klinik kesehatan Asy-Syifa diperoleh 71 responden mengatakan bahwa yang memanfaatkan pelayanan petugas kesehatan di klinik kesehatan Asy-Syifa yaitu 33.8%, sedangkan dari dari 32 responden
yang mengatakan bahwa pelayanan petugas kesehatan di klinik kesehatan Asy-Syifa kurang dimanfaatkan yaitu 75.0%
Pelayanan petugas kesehatan telah terbukti memberikan kontribusi terhadap pemanfaatan tempat-tempat pelayanan kesehatan. Hasil yang sama juga
di peroleh dalam penelitian ini dimana ada hubungan
yang bermakna antara pelayanan petugas kesehatan dengan pemanfaatan klinik kesehatan Asy-Syifa di kantor DPR Aceh dengan nilai P-value 0.002.
Menurut hasil observasi peneliti yang dilakukan di klinik kesehatan Asy-Syifa ini menunjukkan
bahwa pelayanan petugas kesehatan yang kurang baik sehingga
pegawai pemerintahan DPR
Aceh tidak berkenan untuk medical chekup di klinik kesehatan Asy-Syifa. Padahal semakin baik pelayanan petugas kesehatan terhadap pasien, maka semakin banyak
pegawai pemerintahan DPR Aceh
yang memanfaatkan pelayanan
kesehatan di klinik kesehatan Asy-Syifa sebaliknya semakin kurang baik pelayanan
petugas di klinik kesehatan Asy-Syifa semakin kurang pula pegawai pemerintahan DPR Aceh
yang memanfaatkan pelayanan
kesehatan di klinik kesehatan Asy-Syifa.
Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan
oleh Rahayu tahun 2005, mengatakan bahwa sebanyak 90% masyarakat yang berobat ke puskesmas
mengatakan bahwa pelayanan petugas kesehatan termasuk kategori baik, selain itu diperoleh bahwa ada hubungan pelayanan petugas kesehatan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan, bila pelayanan petugas kesehatan baik maka masyarakat akan tertarik untuk
melakukan pengobatan di tempat pelayanan kesehatan tersebut, sebaliknya bila pelayanan petugas kesehatan tidak baik maka masyarakat
tidak tertarik untuk melakukan pengobatan di tempat pelayanan kesehatan tersebut.
Pelayan petugas kesehatan berkaitan dengan interaksi antara petugas kesehatan dan pasien. Hubungan antara manusia yang baik menanamkan kepercayaan dan kredibilitas dengan cara menghargai
yang dapat dilihat melalui penerimaan kepercayaan, empati, menjaga rahasia dan menghormati responsive serta memberikan perhatian terhadap pasien (Mutmainnah & Ahri, 2021).
Hasil penelitian ini diperoleh bahwa
sebagian besar responden mengatakan kepuasan pasien termasuk kategori puas hanya 8.7%, sedangkan yang mengatakan bahwa kepuasan pasien kurang puas
sebesar 91.3%. Bila dikaitkan dengan pemanfaatan klinik kesehatan Asy-Syifa diperoleh 9 responden mengatakan bahwa kepuasan pasien yang memanfaatkan klinik kesehatan Asy-Syifa yaitu 33.3%, sedangkan dari 94 responden yang mengatakan bahwa kepuasan pasien di klinik kesehatan Asy-Syifa kurang dimanfaatkan yaitu 69.1%.
Kepuasan pasien telah terbukti
memberikan kontribusi terhadap pemanfaatan tempat-tempat pelayanan kesehatan. Hasil yang sama juga
di peroleh dalam penelitian ini dimana ada hubungan
yang bermakna antara kepuasan pasien dengan pemanfaatan klinik kesehatan Asy-Syifa di kantor DPR Aceh dengan nilai P-value 0.008.
Menurut hasil observasi peneliti yang dilakukan di Klinik Kesehatan Asy-Syifa, kepuasan pasien terhadapat klinik kesehatan Asy-Syifa kurang puas dikarenakan
pelayanan petugas kesehatannya kurang baik sehingga pegawai
pemerintahan DPR Aceh memilih
klinik kesehatan lainnya.
Penelitian yang dilakukan oleh (Aulia et al., 2017)dalam penelitiannya membuktikan bahwa pasien yang puas dengan pelayanan
yang diterima disebuah layanan kesehatan cenderung akan menggunakkan layanan kesehatan itu kembali.
(Arifin et al., 2019) hasil dari penelitiannya menyatakan ada hubungan positif bermakna antara kepuasan pasien dengan minat pemanfaatan
ulang pelayanan pengobatan di Puskesmas, dilihat dari persepsi
pasien terhadap kualitas pelayanan di Puskesmas yang baik sehingga membuat pasien puas akan
pelayanan yang diberikan.
Kepuasan pasien tergantung dari kualitas pelayanan
kesehatan yang didapatnya. Ketidakpuasan pasien dapat diasumsikan sama dengan keluhan
pasien terhadap pelayanan klinik. Dengan demikian Klinik Terpadu Poltekes Kemenkes Tanjungkarang harus meningkatkan pelayanan kepada pasien.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan klinik kesehatan Asy-Syifa oleh pegawai pemerintahan di kantor DPR Aceh. Berdasarkan fasilitas, pelayanan petugas kesehatan, kepuasan pasien. Maka peneliti
menarik kesimpulan sebagai berikut: Ada hubungan yang bermakna antara fasilitas dengan pemanfaatan klinik kesehatan Asy-Syifa oleh pegawai pemerintahan di kantor DPR Aceh dengan nilai p-value 0.008. Ada hubungan yang bermakna antara pelayanan petugas kesehatan dengan pemanfaatan klinik kesehatan Asy-Syifa oleh pegawai pemerintahan di kantor DPR Aceh dengan nilai p-value 0.002. Ada hubungan yang bermakna antara kepuasan pasien dengan pemanfaatan
klinik kesehatan Asy-Syifa oleh pegawai pemerintahan di kantor DPR Aceh dengan nilai p-value 0.008.
BIBLIOGRAFI
Apriani, S. G., Arso, S. P., & Fatmasari, E.
Y. (2019). Analisis Minat Mahasiswa Universitas Diponegoro Terhadap Pemanfaatan
Pelayanan Kesehatan Klinik Pratama Undip. Jurnal Kesehatan Masyarakat
(Undip), 7(4), 83–89.
Arifin, S., Rahman, A., Muhyi, R., Putri, A. O.,
& Hadianor, H. (2019). Hubungan Usia, Tingkat Pendidikan, Fasilitas
Kesehatan dengan Kepuasan Pasien di Puskesmas Muara Laung. Jurnal Publikasi
Kesehatan Masyarakat Indonesia, 6(2).
Aulia, R., Adhani, R., Taufiqurrahman, I., &
Hatta, I. (2017). Pengaruh kualitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut terhadap
kepuasan pasien BPJS di layanan primer Banjarmasin. Dentino: Jurnal
Kedokteran Gigi, 2(1), 95–100.
Benyamin, D. (2013). Pelayanan kesehatan
masyarakat di puskesmas sempaja kecamatan samarinda utara. Pelayanan Kesehatan
Masyarakat Di Puskesmas Sempaja Kecamatan Samarinda Utara (Studi Implementasi
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 741/Menkes/Per/VII/2008 Tentang Standar
Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan Di Kabupaten/Kota), 1(2),
440–452.
Christy, M. Y. (2014). Faktor yang berhubungan
dengan kejadian dehidrasi diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas
Kalijudan. Jurnal Berkala Epidemiologi, 2(3), 297–308.
Depkes, R. I. (2014). Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2014 Tentang Klinik. Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nomor, 65(879),
2004–2006.
Latif, A., Syafar, M., Yusuf, A., & Asmi, A.
S. (2021). Analisis Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kepatuhan Pengunjung Warkop
Pada Protokol Kesehatan Covid-19. Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada, 10(2),
380–389.
Martiani, R. A., & Ernawati, D. (2015). Hubungan
Antara Persepsi Mahasiswa Tentang Mutu Pelayanan Poliklinik Dian Nuswantoro
Dengan Keputusan Pemanfaatan Ulang Di Upt Poliklinik Dian Nuswantoro Semarang. Visikes:
Jurnal Kesehatan Masyarakat, 14(2).
Misnaniarti, M., Hidayat, B., Pujiyanto, P.,
Nadjib, M., Thabrany, H., Junadi, P., Besral, B., Purwoko, B., Trihono, T.,
& Yulaswati, V. (2017). Ketersediaan fasilitas dan tenaga kesehatan dalam
mendukung cakupan semesta jaminan kesehatan nasional. Jurnal Penelitian Dan
Pengembangan Pelayanan Kesehatan, 6–16.
Mutmainnah, U., & Ahri, R. A. (2021).
Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Mutu Pelayanan Kesehatan Terhadap
Kepuasan Pasien Rawat Inap Di RSUP. Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar 2020. Journal
of Muslim Community Health, 2(1), 52–74.
Nursalam, I. I. (n.d.). Metodologi Penelitian
Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis.
Situmeang, H. O. T. P. A. (2022). Peranan
Pemerintah Daerah Kota Sibolga Dalam Pembangunan Pariwisata Dengan Aspek
Lingkungan.
Tawil, M. Y., Ruru, J. M., & Londa, V. Y.
(2017). Persepsi Masyarakat Tentang Kualitas Pelayanan Kesehatan Di Rumah Sakit
Umum Daerah Kota Kotamobagu Provinsi Sulawesi Utara. Jurnal Administrasi
Publik, 3(046).
Yustina, E. W., & Yohanes Budisarwo, S. H.
(2020). Hukum Jaminan Kesehatan: Sebuah Telaah Konsep Negara Kesejahteraan
dalam Pelaksanaan Jaminan Kesehatan. SCU Knowledge Media.
Zr, I. H., & Ubaidullah, M. A. (2019). Komunikasi
Politik Gubernur Aceh Dengan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (Dpra) Dalam
Penyusunan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Aceh-Perubahan (Apba-P) Tahun
2017-2018. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik,
4(4).