Gede Yohanes Arygunartha, Ni Luh Putu Putri Setianingsih, Sofia Utami Putri Sunarso
Pengaruh Proses Pengolahan terhadap Sifat Fisika dan Kimia Bubuk Kedelai: Literature
Review
Jurnal Impresi Indonesia (JII) Vol.1, No. 2, Februari 2022 90
PENDAHULUAN
Kedelai (Glycine max (L) Merill) sebagai sumber pangan protein tinggi mengandung
lisin, treonin yang lebih tinggi dibandingkan kacang-kacangan (Cederroth & Nef, 2009).
Selain sumber zat gizi, kedelai juga merupakan pangan fungsional karena memiliki senyawa
bioaktif isoflavon terbesar diantara tanaman lainnya yang bersifat sebagai antioksidan
penghambat penyakit degeneratif, kontrol glikemik, dan menurunkan kadar kolesterol
dalam darah (Cederroth & Nef, 2009). Menurut United States Department of Agriculture
(USDA, 1999), tiap 100 g kedelai mentah mengandung 128.35 mg isoflavon.
Daya terima konsumen Indonesia terhadap kedelai bubuk sebelum pengolah relatif
masih rendah. Salah satu penyebab kedelai kurang disukai adalah baunya yang langu (beany
flavor), sehingga memerlukan proses pengolahan sebelum dikonsumsi. Proses pengolahan
pada komoditi pangan dapat menurunkan zat gizi dari bahan tersebut, tetapi juga dapat
meningkatkan daya cerna terhadap pangan (Palupi, Zakaria, & Prangdimurti, 2007). Prinsip
pengolahan bertujuan untuk mengawetkan, memudahkan dalam pengemasan, penyimpanan
dan distribusi pangan serta untuk meningkatkan nilai organoleptiknya. Pada kacang-
kacangan, pengolahan dapat menurunkan senyawa anti nutrisi yang terkandung di
dalamnya yaitu antitripsin, hemaglutinin, asam fitat dan oligosakarida penyebab flatulesi
(kembung) (Sukandar et al., 2010); (Shimelis & Rakshit, 2007).
Proses berbeda dalam pembuatan bubuk kedelai diduga dapat memberikan tingkat
kerusakan dan komposisi kimia yang berbeda. Selama proses perendaman dan perebusan
terjadi perpindahan massa dan peningkatan protein larut sehingga meningkatkan daya
cerna protein dan komponen lainnya. Menurut (de Lima, Kurozawa, & Ida, 2014),
perendaman kedelai pada suhu sekitar 25oC selama 1 jam tidak memberikan pengaruh yang
signifikan, akan tetapi perendaman pada suhu 55oC selama 3 jam dapat menaikkan
kandungan isoflavon aglikon.
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah dengan studi literatur
dan melakukan percobaan langsung mengenai topik. Bahan yang digunakan dalam
penelitian ini ialah biji kedelai, kemasan, dan bahan kimia penguji adalah HCl, NaOH,
H2SO4, dan selen. Peralatan yang digunakan diantaranya HPLC, labu Kjedahl, oven, gelas
ukur, pavodest, erlenmeyer dan alat gelas lainnya.
Pelaksanaan Penelitian
Biji kedelai disortir dari biji yang rusak, cacat dan benda asing. Proses kedelai tanpa
pengolahan, biji langsung dihaluskan, diayak, dan dikeringkan. Perlakuan kedelai dengan
penyangraian, biji disangrai terlebih dahulu selama 20-30 menit dengan api kecil sampai
sedang, selanjutnya dihaluskan, disaring dan dikeringkan ulang. Perlakuan kedelai dengan
pengukusan dan perebusan, dihaluskan, disaring dan dikeringkan. Proses pengeringan
dilakukan bersamaan untuk semua perlakuan. Bubuk kedelai hasil perlakuan, dilakukan
analisa yang meliputi, yaitu:
-Analisa Fisika, yaitu Densitas kamba (Kaur & Singh, 2007) dan Wettability (Schuck, Zhang,
Bhandari, & Bansal, 2013).
-Analisa Kimia, yaitu Isoflavon (metoda HPLC), Kadar air (Metoda Oven), Protein
Densitas Kamba (Kaur & Singh, 2007)
Densitas kamba adalah perbandingan bobot bahan dengan volume yang ditempatinya,
termasuk ruang kosong diantara butiran bahan (Syarief & Anis, 1999). Densitas kamba
diukur dengan cara memasukkan bubuk kedelai ke dalam gelas ukur sampai volume tertentu
tanpa dipadatkan, kemudian berat tepung ditimbang. Densitas kamba dihitung dengan cara
membagi berat tepung dengan volume ruang yang ditempati. Densitas kamba dinyatakan
dalam satuan kg/m3 atau g/mL.