HUBUNGAN
TINGKAT PREEKLAMSIA DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) DI RSIA
SITTI KHADIJAH 1 MUHAMMADIYAH
Muhammad Arief
Kusuma1, Dewi Setiawati2, Nadyah Haruna3
UIN Alauddin Makassar123
Email: [email protected]1, [email protected]2, [email protected]3
|
Received�
:�
14-07-2022 |
Accepted�
:� 19-07-2022 |
Published� : 27-07-2022 |
|
|
Abstract |
|||
|
Keywords: Preeclampsia, Low BirthWeight
(LBW). |
Introduction: Preeclampsia is hypertension in pregnancy which is
characterized by blood pressure 140/90 mmHg after 20 weeks of gestation,
accompanied by proteinuria 300 mg/24 hours. Low birth weight (LBW) babies are
newborns whose body weight at birth is <2,500 grams regardless of
gestational age. One of the factors causing LBW is maternal disease. In South
Sulawesi, the maternal mortality rate (MMR) in 2016 was 153 people or
103/100,000 live births. According to the district/city profile, the number
of live births is 149,929, live births are around 120,293 with the number of
LBW being 9,783 cases (8,13%). the highest was in Makassar City with 690
cases, Gowa Regency 342 cases, Luwu
Regency 288 cases, and the lowest was Barru Regency
27 cases, Bantaeng Regency 47 cases and Tana Toraja Regency 65 cases. Objective: This study aims to determine the relationship between
preeclampsia and the incidence of low birth weight (LBW) infants at RSIA Sitti Khadijah 1 Muhammadiyah. Methods: This research is a quantitative
research with a cross sectional approach. Results: The results of this study indicate that preeclampsia has
a significant relationship to the incidence of LBW with a value (P = 0.002). Conclusion: from this study there is
a relationship between preeclampsia and the incidence of low birth weight
(LBW) infants. |
||
|
Abstrak |
|||
|
Kata kunci: Preeklampsia, BBLR |
Pendahuluan: Preeklampsia
adalah hipertensi pada kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah ≥ 140/90 mmHg setelah
umur kehamilan 20 minggu, disertai dengan proteinuria ≥ 300 mg/24 jam. Bayi berat
lahir rendah (BBLR) adalah bayi baru
lahir yang berat tubuhnya saat lahir <2.500 gram tanpa melihat masa gestasi. Salah satu faktor penyebab BBLR adalah penyakit ibu. Disulawesi Selatan angka kematian ibu (AKI) pada tahun 2016 adalah 153 orang atau 103 /
100.000 kelahiran hidup. Menurut profil kabupaten / kota, jumlah kelahiran hidup adalah 149.929, kelahiran hidup berkisar 120.293 dengan jumlah BBLR yaitu 9.783 kasus (8,13%). yang tertinggi adalah di Kota Makassar dengan
690 kasus, Kabupaten Gowa 342 kasus, Kabupaten Luwu 288 kasus, dan terendah adalah kabupaten Barru 27 kasus, Kabupaten Bantaeng 47 kasus dan Kabupaten Tana Toraja 65 kasus. Tujuan: Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui hubungan preekalampsia dengan kejadian bayi berat lahir
rendah (BBLR) di RSIA Sitti
Khadijah 1 Muhammadiyah. Metode: penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa preeklampsia memiliki hubungan yang bermakna terhadap kejadian BBLR dengan nilai (P=0,002). Kesimpulan:
dari penelitian ini adalah adanya
hubungan preeklampsia dengan kejadian bayi berat lahir
rendah (BBLR). |
||
Corresponding
Author: Muhammad Arief
Kusuma
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Preeklampsia adalah hipertensi
pada kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah ≥ 140/90 mmHg setelah
umur kehamilan 20 minggu, disertai dengan proteinuria ≥ 300 mg/24 jam (Saraswati
& Mardiana, 2016). Penyakit ini dikarakteristikkan
dengan hipertensi yang baru terjadi serta proteinuria, bila tidak ditemukan
proteinuria, hipertensi yang baru terjadi disertai dengan salah satu dari
kelainan berikut : trombositopenia, insufisiensi ginjal, kelainan fungsi hati,
edema paru, atau gejala serebral maupun gejala penglihatan (Kasnur,
2019)
Prevalensi preeklampsia di negara-negara
maju adalah 1,3% - 6%, sedangkan di negara-negara berkembang adalah 1,8% - 18%.
Ini didukung oleh temuan preeklampsia di Inggris sekitar 3 juta ibu dan di
Amerika sekitar 15 juta. Insidensi preeklampsia di Indonesia adalah 128.273 per
tahun atau sekitar 5,3% (Fitriyah, 2018)
Menurut
penelitian Vata pada tahun 2015,
sepuluh juta wanita diseluruh dunia mengalami preeklampsia setiap tahun. Dari
kasus tersebut, 76.000 wanita hamil meninggal setiap tahun akibat preeklampsia
dan gangguan hipertensi terkait. Selain itu, jumlah bayi yang meninggal karena
gangguan ini diperkirakan berjumlah 500.000 bayi per tahun (Vata, Chauhan, Nallathambi, & Hussein, 2015)
Penelitian
Arun Jayebala di USA menyebutkan adanya hubungan preeklampsia terhadap janin
dan neonatus. Sekitar 12 - 25% mengakibatkan terbatasnya pertumbuhan janin dan
kecil untuk usia kehamilan serta kelahiran prematur. Sehingga dapat meningkatkan morbiditas
dan mortalitas neonatal (Jeyabalan, 2013)
Kelainan
plasenta menurut Davis pada tahun 2012, pada awal kehamilan diduga sebagai penyebab gangguan perkembangan pada
preeklampsia. Pertumbuhan plasenta normal ditandai dengan invasi
oleh sitotrofoblas janin ke dalam arteri spiralis ibu yang kemudian akan
berubah menjadi pembuluh darah berdiameter besar yang memiliki resistensi
rendah untuk mempertahankan pertumbuhan janin sehingga nutrisi dan oksigen
cukup. Pada preeklampsia, perubahan struktur arteri spiralis sehingga aliran
darah ke rahim akan berkurang sebanyak 50% dan menyebabkan plasenta iskemik
kronis, dan plasenta yang iskemik akan melepaskan ROS (Reactive Oxygen Species) dan sitokin yang memicu sistem oksidatif
dan inflamasi (Davis et al., 2012)
Preeklampsia
adalah salah satu faktor penyebab BBLR, karena seperti yang telah dijelaskan
pada paragraf sebelumnya, preeklampsia terjadi pada plasenta abnormal, iskemia
plasenta kronis, spasme pembuluh darah, dan penurunan perfusi uteroplasenta,
maka sirkulasi darah ke janin akan berkurang sehingga janin mengalami penurunan
suplai nutrisi dan oksigen. Hal ini dapat menyebabkan pertumbuhan janin
terhambat (PJT) yang merupakan salah satu manifestasi dari BBLR (Nurliawati, 2015)
Bayi
berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir yang berat tubuhnya saat lahir
<2.500 gram tanpa melihat masa gestasi (Kosim, Yunanto, Dewi, Sarosa, & Usman, 2014). Salah
satu faktor penyebab BBLR adalah penyakit ibu. Penyakit yang berhubungan
langsung dengan kehamilan seperti preeklampsia / eklampsia, hiperemesis
gravidarum, pendarahan antepartum, dan infeksi selama kehamilan (infeksi
kandung kemih dan ginjal) (Proverawati & Ismawati, 2010)
Berdasarkan
data dari World Health Rangkingsh tahun 2014 dari 172 negara di dunia,
Indonesia menempati urutan ke 70 yang memiliki presentase kematian akibat BBLR
tertinggi yaitu sebesar 10,69%. Tingkat kelahiran di Indonesia pada tahun 2010
sebesar 4.371.800 dengan kejadian BBLR sebesar 15,5 per 100 kelahiran hidup
atau 675.700 kasus prematur dalam 1 tahun (Hartiningrum & Fitriyah, 2018)
Angka kematian
bayi dan ibu di dunia dan di Indonesia masih merupakan masalah serius karena
merupakan indikator kesehatan nasional. Angka kematian bayi dunia menurut WHO pada 2015 mencapai 75% dari semua
kematian balita. Risiko tertinggi kematian seorang anak sebelum menyelesaikan
tahun pertama kehidupan di Afrika adalah sekitar 55 per 1.000 kelahiran hidup,
yang lima kali lebih tinggi daripada Eropa, yang hanya sekitar 10 per 1.000
kelahiran hidup (WHO, 2016)
Angka
kematian neonatal menurut WHO pada tahun 2015 adalah sekitar 2,7 juta kematian
atau sekitar 45% dari semua kematian balita. Dari jumlah tersebut, hampir satu
juta kematian neonatal terjadi saat lahir dan dua juta meninggal pada minggu
pertama kehidupan. Menurut data WHO, proporsi kematian anak yang terjadi pada
periode neonatal telah meningkat di seluruh dunia selama 25 tahun terakhir (WHO, 2016)
Dalam
pola SDKI 2007 (Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia), lebih dari tiga
perempat dari semua kematian balita terjadi pada tahun pertama kehidupan anak
dan sebagian besar kematian bayi terjadi pada periode neonatal. Angka kematian
bayi turun lebih lambat pada tahun terakhir, seperti yang biasa terjadi pada
populasi dengan mortalitas rendah. Kematian anak telah menurun dari 44 kematian
per 1.000 kelahiran hidup di SDKI 2007 menjadi 40 kematian per 1.000 kelahiran
hidup di SDKI 2012 (Statistik, 2019)
Berdasarkan
hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017 menunjukkan
angka kematian neonatal (AKN) sebesar 15 per 1.000 kelahiran hidup, AKB 24 per
1.000 kelahiran, dan AKABA 32 per 1.000 kelahiran hidup (Ri, 2018)
Statistik
menunjukkan bahwa angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih merupakan salah
satu yang tertinggi di Asia Tenggara. Secara umum terjadi penurunan kematian
ibu dari 390 menjadi 305 per 100.000 kelahiran hidup. Tiga penyebab utama
kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan (30%), eklampsia (25%), dan infeksi
(12%). Proporsi dari ketiga penyebab kematian ini telah berubah, di mana
perdarahan dan infeksi telah menurun, sementara hipertensi pada kehamilan telah
meningkat (Ri, 2018)
Di
Sulawesi Selatan angka kematian ibu (AKI) pada tahun 2016 adalah 153 orang atau
103 / 100.000 kelahiran hidup. Angka ini telah meningkat dari tahun sebelumnya
pada tahun 2014 dan 2015, berjumlah 138 dan 149 orang (DinKes Prov. SulSel,
2017).
Menurut
profil kabupaten / kota, jumlah kelahiran hidup adalah 149.929, kelahiran hidup
berkisar 120.293 dengan jumlah BBLR yaitu 9.783 kasus (8,13%). Dan yang
tertinggi adalah di Kota Makassar dengan 690 kasus, Kabupaten Gowa 342 kasus,
Kabupaten Luwu 288 kasus, dan terendah adalah kabupaten Barru 27 kasus,
Kabupaten Bantaeng 47 kasus dan Kabupaten Tana Toraja 65 kasus. (ProKes Prov.
SulSel, 2017)
Berdasarkan
latar belakang diatas, peneliti tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui
�Hubungan Preeklampsia dengan kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) di RSIA
Sitti Khadijah 1 Muhammadiyah Makassar Periode Januari � Desember 2018)�
Selain
dalam bidang sains dan kedokteran betapa pentingnya kita mengingat ajaran Islam
yang diturunkan melalui Al-Quran bahwa kegiatan atau perbuatan yang
mendatangkan ketentraman di hati akan merasa puas ketika merasa bahwa Allah
adalah pelindung dan penolongnya, dijelaskan pula dalam Al-Quran Surah An-Nahl
/16:78
وَٱللَّهُ
أَخۡرَجَكُم
مِّنۢ
بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمۡ
لَا
تَعۡلَمُونَ
شَيۡٔٗا
وَجَعَلَ
لَكُمُ
ٱلسَّمۡعَ
وَٱلۡأَبۡصَٰرَ
وَٱلۡأَفِۡٔدَةَ
لَعَلَّكُمۡ
تَشۡكُرُونَ� ٧٨
Artinya :
�Dan
Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu
dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran,
penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur�
Allah menjadikan ayat ini sebagai contoh
paparan sederhana dari proses awal kehidupan maunsia yang mampu diketahuinya. Manusia memang mengetahui tahapan-tahapan pertumbuhan janin, tetapi hal itu
adalah ghoib sejauh manusia belum mengetahui detail perkembangannya.
Ayat ini juga membuktikan
suatu kuasa Allah dalam hal menghidupkan
dan mematikan makhluk. Tidak ada sesuatu
yang sulit bagi Allah utnuk melakukan hal semacam itu.
Pendahuluan urutan kata pendengaran
atas penglihatan sungguh tepat karena
berdasarkan ilmu kedokteran modern, indera pendengaran memang berfungsi lebih dulu dari pada indera penglihatan. Adapun fungsi hati (akal
dan mata hati) yang membedakan baik dan buruk berfungsi jauh sesudah kedua
indera tersebut. (Bin JarirAth-Thabari, 2009)
Surah Ar-Rad /13:8
ٱللَّهُ
يَعۡلَمُ مَا
تَحۡمِلُ
كُلُّ أُنثَىٰ
وَمَا
تَغِيضُ
ٱلۡأَرۡحَامُ
وَمَا
تَزۡدَادُۚ
وَكُلُّ
شَيۡءٍ
عِندَهُۥ
بِمِقۡدَارٍ� ٨
Artinya :
Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan Rahim yang kurang sempurna. Dan segala sesuatu pada sisiNYA ada ukurannya.
Ayat diatas menjelaskan
tentang cakupan ilmu Allah swt yang merata dan luas termasuk proses penciptaan manusia dan segala yang terjadi di dalam kandungan. Seperti, penyusutan, kandungannya rusak atau mengecil.
Bila anak itu lahir dalam
keadan sempurna ataupun lahir dalam
keadaan cacat maka sesungguhnya jauh sebelum itu
Allah swt sudah mengetahui dan menentukan takdir dari anak
tersebut. (Abdullah bin Muhammad dkk,
2009)
Surah
Luqman /31:14
وَوَصَّيۡنَا
ٱلۡإِنسَٰنَ
بِوَٰلِدَيۡهِ
حَمَلَتۡهُ
أُمُّهُۥ
وَهۡنًا
عَلَىٰ وَهۡنٖ
وَفِصَٰلُهُۥ
فِي عَامَيۡنِ
أَنِ ٱشۡكُرۡ
لِي
وَلِوَٰلِدَيۡكَ
إِلَيَّ
ٱلۡمَصِيرُ� ١٤
Artinya:
Dan
kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua
orang tuanya. Ibunya yang telah mengandungnya dalam keadaan lemah
yang bertambah-tambah dan menyapihnya
dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepadakulah kembalimu.
Berdasarkan ayat di atas dapat
kita pahami bahwa Allah telah mewajibkan kepada setiap anak untuk
menaati serta berbuat baik kepada
kedua orang tuanya dan bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah dengan cara melakukan
apa yang dia perintahkan dan menjauhi larangannya. Ayat di atas juga menekankan bagaimana proses kehamilan yang dialami oleh seorang ibu yakni
dalam keadaan sensara dan semakin sensara, karena terus merasakan penderitaan mulai dari sejak hamil
sampai melahirkan yakni rasa sakit yang sangat perih. Setelah itu anak tersebut
disusui selama 2 tahun lamanya. (Abdullah bin
Muhammad dkk, 2009)
Surah
Al-Ahqaf /46:15
وَوَصَّيۡنَا
ٱلۡإِنسَٰنَ
بِوَٰلِدَيۡهِ
إِحۡسَٰنًاۖ
حَمَلَتۡهُ
أُمُّهُۥ
كُرۡهٗا
وَوَضَعَتۡهُ
كُرۡهٗاۖ
وَحَمۡلُهُۥ
وَفِصَٰلُهُۥ
ثَلَٰثُونَ
شَهۡرًاۚ
حَتَّىٰٓ
إِذَا بَلَغَ
أَشُدَّهُۥ
وَبَلَغَ
أَرۡبَعِينَ
سَنَةٗ قَالَ
رَبِّ
أَوۡزِعۡنِيٓ
أَنۡ أَشۡكُرَ
نِعۡمَتَكَ
ٱلَّتِيٓ
أَنۡعَمۡتَ
عَلَيَّ
وَعَلَىٰ
وَٰلِدَيَّ
وَأَنۡ
أَعۡمَلَ
صَٰلِحٗا
تَرۡضَىٰهُ
وَأَصۡلِحۡ
لِي فِي
ذُرِّيَّتِيٓۖ
إِنِّي تُبۡتُ
إِلَيۡكَ
وَإِنِّي
مِنَ
ٱلۡمُسۡلِمِينَ� ١٥
Artinya
:
Kami
perintahkan kepada manusia untuk berbuat
baik kepada kedua orangtuanya, ibunya mengandungnya dengan susah payah,
dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan,
sehingga apabila ia telah dewasa
dan umurnya sampai empat puluh tahun
ia berdoa �Ya Rabbku, tunjukilah
aku untuk mensyukuri nikmatmu yang telah engkau berikan
kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku berbuat
amal yang shalih yang engkau ridhoi, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku.
Sesungguhnya aku bertaubat kepadaMu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah
diri.
Senada dengan ayat sebelumnya, ayat ini juga menekankan
tentang pentingnya berbakti kepada kedua orangtua mengingat peranan orangtua khususnya Ibu yang mengandung, melahirkan, menyusui dan membesarkan seorang anak. Selanjutnya,
dapat pula kita pahami bahwa dalam
perjalanan hidup manusia akan mengalami
puncak kekuatan dan kematangan akal yakni diusia empat
puluh tahun. Maka, saat itu
kita diperintahkan bersyukur dan tetap senantiasa berbakti kepada kedua orangtua.
(FATIKHATUN, 2018)
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif, dimana penelitian ini berlandaskan pada pengujian teori-teori yang telah ada dengan melakukan
pengukuran variable-variabel
dengan angka, kemudian menganalisis data dengan prosedur analitik.
Variabel dalam penelitian ini terdiri dari
dua variabel, yaitu satu variabel
independen (bebas) dan variabel dependen (tergantung).
1.
Variabel independen dalam penelitian ini adalah preeklampsia,
baik preeklampsia maupun preeklampsia berat.
2.
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kejadian
BBLR.
Data
yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder
diperoleh melalui rekam medik di RSIA Sitti Khadijah 1 Muhammadiyah Cabang
Makassar Periode Januari-Desember 2018. Pengumpulan data sebagai kebutuhan
utama dalam penelitian ini dilakukan dengan melakukan pengajuan surat
permohonan kepada pihak RSIA Sitti Khadijah 1 Muhammadiyah Makassar, kemudian
setelah mendapat izin dan surat pengantar ke bagian rekam medik. Setelah itu
barulah dilakukan pengamatan dan pencatatan data ke dalam tabel observasi
berdasarkan data dari rekam medik.
Variabel
adalah karakteristik yang berubah dari satu penelitian ke penelitian lainnya.
Variabel juga dapat diartikan sebagai konsep yang mempunyai bermacam-macam
nilai (Notoatmodjo, 2012). Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
variabel tergantung dan variabel bebas. Variabel tergantung yaitu variabel yang
dipengharui oleh variabel bebas. Variabel tergantung dari penelitian ini adalah
bayi berat lahir rendah (BBLR). Variabel bebas adalah obyek yang mempengharui
variabel tergantung. Pada penelitian ini variabel bebas adalah preeklampsia
baik preeklampsia maupun preeklampsia berat.
1. Definisi Operasional Variabel
|
Variabel |
Definisi operasional |
Kategori |
Alat ukur |
Skala ukur |
|
Preeklampsia |
Preeklampsia
merupakan kondisi spesifik pada kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu
dimana ditandai dengan adanya disfungsi plasenta dan respon maternal terhadap
inflamasi sistemik yang mengaktivasi endotel pembuluh darah atau vaskuler
sehingga terjadi vasospasme, akibatnya terjadi penurunan perfusi organ dan
pengaktifan endotel serta menimbulkan hipertensi, edema nondependen, dan
dijumpai proteinuria dengan nilai sangat fluktuatif saat pengambilan urin
sewaktu (Brooks, 2011; Cunningham, 2010) |
Preeklampsia: Timbul Hipertensi (TD >140/90 mmHg) dan Proteinuria akibat kehamilan Tidak Preeklampsia: Tidak Hipertensi (TD <140/90
mmHg) tidak ada
proteinuria. |
Berkas rekam
medik |
Ordinal |
|
Bayi berat
lahir rendah (BBLR) |
Bayi berat
lahir rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir yang berat badan pada saat
kelahiran < 2.500 gram tanpa memandang masa gestasi. (Sholeh dkk, 2008) |
Ya atau
Tidak |
Berkas
rekam medik |
Nominal |
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di RSIA
Sitti Khadijah 1 Muhammadiyah Cabang Makassar untuk periode Januari
� Desember 2018, didapatkan
jumlah ibu yang melakukan persalinan ialah 2594 orang. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yang memenuhi kriteria inklusi yakni 107 sampel yang secara purposive
sampling.
1.
Uji Univariat
Analisis univariat
untuk mengetahui karakteristik responden, diperoleh hasil analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi sebagai berikut :
Tabel 1 Distribusi
Frekuensi Sampel Penelitian��������� �����������
|
|
||||||
|
Variabel |
BBLR |
Tidak BBLR |
Total |
|||
|
N |
% |
N |
% |
N |
% |
|
|
Umur < 20 Tahun 20-35 Tahun >= 35 Tahun Jumlah |
7 22 8 37 |
31,8 39,3 27,6 34,6 |
15 34 21 70 |
68,2 60,7 72,4 65,4 |
22 56 29 107 |
100 100 100 100 |
|
Paritas Primigravida Multigravida Jumlah |
14 23 37 |
35,0 34,3 34,6 |
26 44 70 |
65 65,7 65,4 |
40 67 107 |
100 100 100 |
|
Preeklamsia Tidak Preeklamsia Preeklamsia Jumlah |
10 27 37 |
19,6 48,2 34,6 |
41 29 70 |
80,4 51,8 65,4 |
51 56 107 |
100 100 100 |
|
Berat Badan Bayi |
37 |
34,6 |
70 |
65,4 |
107 |
100 |
Sumber: Data Sekunder
Pada tabel 1 menunjukkan bahwa dari total 107 sampel, distribusi sampel berdasarkan umur ibu pada kelompok
< 20 tahun dengan BBLR sebanyak 7 orang (31,8%) dan ibu
< 20 tidak dengan BBLR sebanyak 15 orang (68,2%). Umur
20 � 35 tahun dengan BBLR sebanyak 22 orang (39,3%) dan ibu
20 � 35 tahun dengan tidak BBLR sebanyak 34 orang
(60,7%). Umur > 35 tahun
dengan BBLR sebanyak 8
orang (27,6%) dan ibu > 35 tahun
dengan tidak BBLR sebanyak 21 orang (72,4%).
Distribusi sampel berdasarkan paritas ibu untuk primigravida dengan BBLR sebanyak 14 orang
(35,0%) dan ibu primigravida dengan
tidak BBLR sebanyak 26
orang (65,0%). Ibu dengan multigravida dengan BBLR sebanyak 23 orang
(34,3%), ibu dengan multigravida
dengan tidak BBLR sebanyak 44 orang (65,7%). Selain
itu,distribusi sampel berdasarkan preeklampsia ibu yang tidak preeklampsia dan melahirkan bayi BBLR sebanyak 10 orang (19,6%), dan ibu
yang tidak preeklampsia dengan tidak BBLR sebanyak 41 orang (80,4%). Ibu yang preekalmpsia
dengan BBLR sebanyak 27
orang (48,2%) dan ibu yang preeklampsia
dengan tidak BBLR sebanyak 29 orang (51,8%).
2.
Uji Bivariat
Uji Bivariat ini digunakan untuk
mengetahui hubungan antara variabel bebas dengan variabel
terikat. Diperoleh hasil uji bivariat menggunakan uji chi
square sebagai berikut : Analisa
Hubungan Preeklampsia dengan Kejadian BBLR
Tabel 2 Hubungan Preeklampsia
dengan kejadian BBLR
|
Variabel |
BBLR |
Tidak BBLR |
Total |
P |
||||
|
N |
% |
N |
% |
N |
% |
|||
|
Preeklampsia |
27 |
48,20 |
29 |
51,80 |
56 |
100 |
0,002 |
|
|
Tidak Preeklampsia |
10 |
19,60 |
41 |
80,40 |
51 |
100 |
||
Sumber: Data Sekunder
Berdasarkan tabel 2 dapat kita ketahui
bahwa dari jumlah sampel 107, jumlah ibu dengan
preeklampsia yang melahirkan
bayi BBLR sebanyak 27 orang
(48,2%), ibu dengan preeklampsia yang tidak melahirkan bayi BBLR sebanyak 29 orang (51,8%). Ibu yang tidak
preeklampsia yang melahirkan
bayi BBLR sebanyak 10 orang
(19,6%), ibu dengan tidak preeklampsia yang tidak melahirkan bayi BBLR sebanyak 41 orang
(80,4%).
PEMBAHASAN
Analisa Hubungan Preeklamsia
Dengan Kejadian berat Badan Lahir Rendah
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil analisis signifikan bahwa ada hubungan antara
preeklampsia dengan bayi berat lahir
rendah (BBLR) di RSIA Sitti
Khadijah 1 Muhammadiyah Cabang Makassar, sehingga dapat disimpulkan bahwa ibu yang mengalami preeklampsia beresiko mengalami bayi berat lahir
rendah (BBLR) dengan nilai (P= 0,002).
Hasil ini sesuai
dengan penelitian Mukhsin (2018) bahwa ibu yang mengalami preeklampsia lebih banyak yang melahirkan BBLR sebanyak 66,7% dibandingkan dengan ibu tanpa
preeklampsia sebanyak 3,4%.
Demikian juga dengan preeklampsia lebih sedikit yang melahirkan bayi yang tidak BBLR sebanyak 33,3% dibandingkan dengan ibu tanpa
preeklampsia sebanyak 61,6%
(nilai p= 0,001)
Hasil penelitian ini
juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Fauzia (2019), yang menyatakan bahwa
ada hubungan tingkat preeklampsia dengan bayi berat
lahir rendah (BBLR) di RSUD
DR. H. Abdul Moeloek tahun
2019, ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan
resiko untuk lahirnya BBLR pada ibu yang mengalami preeklampsia.
Hasil penelitian ini
sesuai dengan penelitian Makburi 2015, yang mengatakan bahwa preeklampsia berhubungan dengan kejadian BBLR (P=0,000). Selain itu, penelitian
ini juga sejalan dengan penelitian Handayani di RSUD DR. H. Moch
Ansari Saleh Banjarmasin bahwa ibu
yang mengalami preeklampsia
selama kehamilan memiliki resiko lebih besar untuk
melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) dibandingkan ibu yang tidak menderita preeklampsia.
Wanita yang memiliki tekanan
darah tinggi selama kehamilan memiliki resiko lebih tinggi untuk
mengalami komplikasi kehamilan, kelahiran, dan dalam masa nifas. Peningkatan resiko tersebut berlaku untuk ibu dan janin.
Preeklampsia dapat berakibat buruk pada ibu maupun janin
yang dikandungnya. Tanpa perawatan yang tepat, preeklampsia dapat menimbulkan komplikasi serius yaitu persalinan
preterm dan kematian ibu.
Hal ini sejalan
menurut Lalage dan zerlina
(2015) hipertensi pada kehamilan
banyak terjadi pada usia ibu hamil
dibawah 20 tahun atau di atas 40 tahun dan menimpa 8-10% kehamilan. Kebanyakan wanita hamil yang mengalami hipertensi memiliki kondisi hipertensi primer yang sudah ada sebelumnya. Tekanan darah tinggi
pada kehamilan dapat menjadi tanda awal
dari preeklampsia, suatu kondisi yang mucul yang sudah melewati pertengahan kehamilan, dan beberapa minggu setelah melahirkan. Penyakit hipertensi pada umumnya sering menyerang orang yang sudah berusia di atas 30 tahun dan yang memiliki pola makan
serta pola hidup tidak sehat.
Lindheimer taler menyatakan bahwa preeklampsia paling tepat digambarkan bahwa preeklampsia paling tepat digambarkan sebagai sindrom khusus kehamilan yang dapat mengenai setiap sistem organ. Meskipun preeklampsia lebih dari sekedar hipertensi
gestasional sederhana ditambah proteinuria. Timbulnya
proteinuria tetap merupakan
kriteria diagnostik objektif yang penting.
Proteinuria didefinisikan sebagai
ekskresi protein dalam urin yang melebihi 300 per 24
jam, rasio protein: Adanya
protein sebanyak 30 mg/dL dalam
sampel acak urin menetap.
Angka kejadian BBLR berhubungan
dengan penanganan kasus preeklampsia dan eklampsia yang gawat memerlukan tindakan aktif, yaitu terminasi
kehamilan segera tanpa memandang usia kehamilan dan perkiraan berat badan janin sehingga dapat melahirkan bayi dengan berat
badan lahir rendah. Oleh sebab itu, sangat diperlukan pemantauan oleh tenaga kesehatan terhadap ibu-ibu yang mengalami komplikasi dalam kehamilannya terutama yang memiliki tekanan darah tinggi
dalam kehamilannya agar dapat ditangani secara dini dan dilakukan perawatan konservatif sehingga kejadian BBLR dapat dicegah.
Untuk pencegahan preeklampsia, satu-satunya terapi efektif yang saat ini diketahui adalah
dosis rendah aspirin. Beberapa pedoman internasional, termasuk dari Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO), telah melaporkan bahwa, dari 12 minggu kehamilan sampai kelahiran, dosis 75-100 mg aspirin harus diresepkan. Penetalaksanaan preeklampsia ringan dimaksudkan untuk mencegah evolusi menjadi preeklampsia berat, untuk menetapkan
waktu persalinan, dan untuk mengevaluasi perkembangan paru janin. Dalam kasus
preeklampsia berat, tujuannya adalah pencegahan eclampsia (kejang), kontrol tekanan darah yang ketat, dan perencanaan persalinan (Astrisa Faadhillah, 2018).
Pada wanita dengan
onset terjadinya preeklampsia
dengan usia kehamilan di bawah 24 minggu akan menunjukkan
hasil yang buruk apabila dilakukan manajemen konservatif. Dua puluh lima hingga enam puluh
tiga persen dari wanita dengan
manajemen konservatif pada usia kehamilan pada trimester ke dua akan
mengalami komplikasi yang serius seperti sindrom HELLP (Hemolysis, Elevated Liver, enzymes, low
platelet count), insufisiensi renal, solusio plasenta, edema pulmonal,
dan eclampsia. Angka survival pada neonates dengan usia kehamilan 25 minggu mencapai 70% (Astrisa Faadhillah, 2018).
Pasien preeklampsia dengan usia gestasi < 34 minggu menunjukkan bahwa manajemen konseervatif memiliki hubungan dengan peningkatan kondisi perinatal tanpa meningkatkan resiko terhadap ibu. Namun, manajemen
konservatif ini dapat dilakukan hanya ketika tekanan
darah relatif mudah di kontrol dengan obat antihipertensi
dan kondsi maternal yang tidak
membutuhkan magnesium sulfat.
Kelahiran dilakukan segera ketika terjadi
eklampsia, disfungsi multi
organ, IUGR (Intra Uterine Growth Restriction), atau hasil tes fetal yang abnormal. Meskipun persalinan adalah hal terbaik
untuk ibu, tetapi mungkin bukan yang terbaik untuk janin yang sangat prematur. Keputusan antara kelahiran dan manajemen konservatif tergantung pada usia kehamilan janin, status janin, dan tingkat keparahan kondisi ibu pada saat penilaian (Astrisa Faadhillah, 2018).
Menurut peneliti preeklampsia dapat terjadi karena
beberapa faktor pemicu diantaranya faktor genetik, jika ibu memiliki
riwayat preeklampsia, maka akan beresiko
mengalami preeklampsia saat hamil, faktor
yang kedua adanya kelainan pembuluh darah. Penyempitan pembuluh darah bias mengakibatkan suplai darah ke organ-organ vital. Faktor psikologis saat kehamilan yang mempengharui tekanan darah yaitu berasal
dari pengaruh perubahan hormonal yang terjadi selama kehamilan. Perubahan hormon yang berlangsung selama kehamilan juga berperan dalam perubahan emosi, membuat perasaan jadi tidak
menentu, konsentrasi berkurang dan sering pusing. Hal ini menyebabkan ibu merasa tidak nyaman
selama kehamilan dan memicu timbulnya stress yang tindai ibu sering
murung, hal ini menyebabkan tekanan darah tinggi.
Hipertensi adalah naiknya tekanan darah, baik yang disebabkan gangguan hormon ataupun kerusakan pada pembuluh darah jantung. Hipertensi dalam kehamilan merupakan gangguan
multifactorial. Beberapa faktor
risiko dari hipertensi dalam kehamilan yaitu usia maternal, primigravida, riwayat
keluarga, riwayat hipertensi, tingginya indeks massa tubuh,
gangguan ginjal.
Menurut Mitayani (2015) faktor-faktor resiko terjadinya preeklampsia pada ibu hamil itu, antara
lain edema pada kaki, gangguan sistem
vaskuler, fungsi ginjal terganggu, kejang, muncul sindrom HELLP (Hemolysis, Elevated Liver Enzimes and Low Platelet Count) atau
hemolysis, peningkatan enzim
hati, dan jumlah trombosit yang rendah menyebabkan kematian.
Menurut Lalage
dan Zerlina (2015) hipertensi atau
tekanan darah tinggi yang menimpa ibu hamil atau
Pregnancy induced hypertension (PIH) adalah suatu bentuk
tekanan darah tinggi salama kehamilan
pertama, kehamilan kembar, atau pada seorang wanita yang menderita masalah kesehatan lainnya seperti diabetes, hipertensi kronis dan lainnya.
Hasil penelitian ini
juga mendukung tentang teori aliran darah
ke plasenta melalui arteri spiralis yang merupakan cabang arteri uterine. Pada awal kehamilan, sel sitotroblas menginvasi dinding plasenta, merobek endotelium dan tunica
media arteri spiralis. Dinding
arteri spiralis mengalami
remodeling, dimana terjadi transformasi dari aliran darah pelan
dengan resisten tinggi menjadi aliran darah cepat
dengan resistensi rendah pada kehamilan normal.
Remodeling arteri spiralis terjadi
lengkap setelah 18-20 minggu. Pada preeklampsia, invasi sitotrofoblas pada miometrium terganggu: arteri spiralis tetap dangkal dan aliran darah ke fetus terhambat. Pada preeklampsia terjadi disfungsi endotel maternal sehingga terjadi iskemia plasenta dan menyebabkan sirkulasi plasenta terganggu serta berkurang, kemudian menyebabkan bayi tidak mendapatkan pasokan nutrisi serta oksigen yang cukup sehingga menimbulkan BBLR (Sulistyorini,
2018).
Hasil dari penelitian
ini tidak sejalan dengan penelitian Lestari (2016) yang mengatakan
bahwa preeklampsia tidak berhubungan dengan kejadian BBLR (P=0,539).
Hasil dari penelitian ini juga tidak sejalan dari hasil
penelitian Suryati (2016) bahwa riwayat penyakit
yang diderita ibu selama hamil seperti
preeklampsia tidak berpengaruh terhadap kejadian BBLR (P=0,745). Hasil peneltian
Putra (2015) juga menunjukkan hasil
berbeda dengan penelitian ini. Pada penelitian tersebut tidak terdapat hubungan antara preeklampsia dengan kejadian BBLR (P=0,555). Hal ini mungkin dikarenakan perbedaan jumlah sampel dan perbedaan metode penelitian yang digunakan oleh peneliti. Hasil
pada penelitian ini juga menunjukkan bahwa kejadian BBLR juga terjadi pada ibu bersalin yang tidak menderita preeklampsia di RSUD Wates Tahun
2017 adalah sebanyak 33 subjek (25,6%). Hal ini menunjukkan bahwa kemungkinan ada faktor lain yang dimiliki oleh ibu yang tidak menderita preeklampsia saat hamil dan dapat menyebabkan BBLR yang pada penelitian ini tidak diteliti oleh peneliti.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa preeklampsia mempunyai peluang 2,645 kali lebih besar untuk terjadinya
BBLR dari pada ibu yang tidak preeklampsia saat hamil dan sesuai dengan penelitian
Triana (2017) dengan hasil penelitian bahwa ibu yang memiliki preeklampsia P-Value
(0,0001) dan berisiko 8 kali menyebabkan
BBLR dibandingkan ibu yang tidak preeklampsia (OR 7,731 CI
95% (4,664-12,815). Hal ini sesuai
dengan teori yang dikemukakan oleh Prawirohardjo
(2017), bahwa ibu dengan preeklampsia mengalami perubahan fisiologi patologi diantaranya perubahan pada plasenta dan uterus yaitu menurunnya aliran darah ke plasenta
yang mengakibatkan gangguan
fungsi plasenta, yang jika berlangsung lama pertumbuhan janin akan terganggu (Mukhsin, 2018). Hasil ini juga sesuai dengan penelitian
Primasari (2017) bahwa ada hubungan yang signifikan antara preeklampsia dengan kejadian BBLR (nilai P= 0,040) dengan OR= 3,680 (95% CI: 1,145-11,824) (Primisari, 2017). Penelitian di dapatkan bahwa kasus preeklampsia lebih banyak ditemukan
pada usia ibu hamil dengan umur
20-35 tahun sebanyak 64,61%
(Manuaba, 2018). Kasus preeklampsia lebih banyak terjadi pada usia 20-35 tahun dengan 68,8% (Khuzaiyah, 2018). Penelitian tersebut mendukung riset yang dilakukan penelitian dimana terdapat kasus preeklampsia terbanyak dengan umur 20-35 tahun. Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan Montolalu pada tahun 2014 dimana hasil preeklampsia
terbanyak pada umur <20 tahun dengan 56,5%.
Umur merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan kesehatan ibu hamil. Akan tetapi pada kasus preeklampsia umur tidak menjadi satu-satunya
faktor resiko kemunculan preeklampsia, melainkan ada faktor
lainnya seperti multipara, kehamilan ganda, obesitas, riwayat penyakit, genetik dan preeklampsia pada kehamilan sebelumnya (Cunningham, 2014). Berdasarkan
hasil penelitian, faktor lain yang dapat memicu preeklampsia yaitu hipertensi, diabetes melitus, dan usia pernikahan (Tessema et al, 2017).
Pada penelitian terjadinya preeklampsia merupakan faktor utama kematian
pada janin (Quaker et al, 2015).
Pada penelitian ini
juga dihasilkan bahwa preeklampsia mempunyai peluang 3,636 kali terhadap kejadian bayi berat
lahir rendah dibandingkan dengan ibu yang tidak menderita preeklampsia saat hamil. Penelitian
lain yang sejalan dengan penelitian ini adalah hasil penelitian
Sulistyorini (2018) bahwa ada hubungan antara
preeklampsia berat dengan kejadian BBLR dengan nilai P-Value 0,007. Pada penelitian tersebut dihasilkan nilai OR 2,166 berarti preeklampsia berat mempunyai peluang 2,166 kali terhadap kejadian bayi berat
lahir rendah dari pada ibu normal. Terdapatnya insufiensi plasenta pada preeklampsia, sehingga menyebabkan pertumbuhan janin kurang sempurna. Pada preeklampsia terjadi disfungsi endotel maternal sehingga terjadi iskemia plasenta dan menyebabkan sirkulasi plasenta terganggu serta berkurang kemudian menyebabkan bayi tidak mendapatkan
pasokan nutrisi serta oksigen yang cukup sehingga menimbulkan BBLR (Sulistyorini,
2018).
Dengan kata
lain, pada penelitian ini sependapat dengan teori yang menyatakan bahwa preeklampsia dapat mengganggu aliran darah ke
plasenta karena pembuluh darah plasenta menyempit. Akibatnya, asupan oksigen dan makanan yang seharusnya diberikan kepada bayi akan
terhambat. Keadaan ini dapat mengakibatkan
gangguan pertumbuhan janin, janin lahir
sebelum waktunya (prematur), kelainan pada janin, bayi lahir
dengan berat badan rendah, hingga dapat menyebabkan kemtian janin dalam
kandungan (Mukhsin, 2018).
BBLR akan mengalami resiko terjadinya permasalahan pada sistem tubuh, gangguan
pernapasan gangguan nutrisi dan juga mudah terkena infeksi karena daya tahan
tubuh yang masih lemah, kemampuan leukosit yang masih kurang dan pembentukan antibody
yang masih belum sempurna. Sehingga bayi BBLR sangat membutuhkan perhatian khusus dan perawatan intensif di rumah sakit diruang
PICU (Pediatric Intensive Care Unit)
/ NICU (Neonatal Intensive Care Unit)
untuk membantu mengembangkan fungsi optimum bayi (Kosim et al., 2014)
BBLR sangat peka terhadap perubahan suku lingkungan, kekurangan oksigen, infeksi, komponen makanan yang sesuai serta trauma (Merryana Adriani, 2016). Bulan pertama pasca persalinan
merupakan masa transisi bagi bayi baru
lahir dengan waktu yang paling kritis adalah minggu pertama
setelah lahir. Sehingga pada waktu tersebut diperlukan perhatian khusus dan asuhan yang intensif pada bayi baru lahir
pada periode tersebut.
Strategi pencegahan
dan peningkatan perawatan bagi BBLR khususnya di
negara-negara berkembang sangat diperlukan,
karena BBLR merupakan salah
satu penyebab utama terjadinya kematian perinatal dan neonatal (Merryana Adriani, 2016). Strategi tersebut
adalah mengurangi kelahiran prematur dan bayi IUGR dengan cara meningkatkan status gizi maternal dan deteksi dini serta perawatan
infeksi meaternal melalui asuhan antenatal yang berkualitas. Pada penelitian Ronoatmodjo menyatakan bahwa untuk menurunkan
BBLR perlu diupayakan melalui gizi kepada
ibu hamil yang dilaksanakan di layanan antenatal
sekaligus juga akan memonitoring terhadap hal-hal yang dapat berpengaruh terhadap BBLR seperti kenaikan berat badan ibu hamil, kondisi Hb dan penapisan ibu hamil
yang memiliki risiko yang dapat dijadikan perkiraan berat lahir bayi yang hendak dilahirkan.
Mencegah kematian pada BBLR pada saat persalinan yaitu melaksanakan standar pelayanan yang bermutu dengan mengopersionalkan NICU
(Neonatal Intensif Care Unit), perawatan
neonatal esensial pada saat
lahir dan perawatan setelah lahir. Perawatan neonatal esensial pada saat lahir berupa
kewaspadaan umum, penilaian awal, pencegahan kehilangan panas, pemotongan dan perawatan tali pusat, inisiasi menyusui dini, pencegahan perdarahan, pencegahan infeksi mata, pemberian imunisasi, pemberian identitas, anamnesis dan pemeriksaan
fisik. Sedangkan perawatan setelah lahir berupa menjaga
bayi tetap hangat dengan metode
kangguru yaitu metode transfer kehangatan dari kulit ibu
ke kulit bayi yang telah banyak dikembangkan seperti metode kangguru yaitu bayi diletakkan pada badan ibu (diantara kedua
payudara ibu) dan kemudian diberi kain atau selimut
atau baju ibu untuk menjaga kehangatan
tubuh bayi dengan menggunakan suhu tubuh ibu
dan pemeriksaan dengan menggunakan manajemen terpadu bayi muda/MTBM.
Menurut teori Endriana 2017, yang menyatakan bahwa umur ibu responden
erat kaitannya dengan berat bayi
lahir, kehamilan di bawah umur 20 tahun
merupakan kehamilan beresiko lebih tinggi melahirkan bayi dengan BBLR, karena apabila usia ibu kurang
dari 20 tahun fungsi reproduksi wanita belum berkembang
sempurna dan kesadaran serta keinginannya untuk memeriksakan kehamilannya rendah, tetapi kehamilan lebih dari umur
35 tahun ini endometrium kurang subur serta
memperbesar kemungkinan untuk menderita kelainan kongenital sehingga dapat berdampak pada perkembangan dan pertumbuhan janin dan beresiko untuk mengalami kelahiran dengan berat badan lahir rendah.
Selain berusia kurang dari 20 tahun beresiko
tinggi, usia lebih 35 tahun juga usia beresiko tinggi
disebabkan karena adanya perubahan biologis yang dikaitkan dengan penyakit degenerative.
Proses dalam tubuhnya sudah mengalami kemunduran maka hal ini akan
mempengharui keadaan Rahim,
peredaran darahnya sudah mengalami pengapuran sehingga mempengharui sirkulasi makanan ke janin.
Keadaan ini menyebabkan gangguan pertumbuhan janin, yang kelak akan melahirkan
janin dengan keadaan BBLR. (Saifuddin, 2002).
Kejadian BBLR terbanyak dialami oleh ibu dengan umur
20-35 tahun kemungkinan hal ini terjadi
terutama disebabkan oleh retardasi (penghambatan) pertumbuhan intrauterine, sedangkan
yang lainnya termasuk SMK (sesuai masa kehamilan) yang disebabkan oleh tidak sanggupnya uterus menahan janin, gangguan selama hamil, lepasnya
plasenta lebih cepat dari waktunya,
atau rangsangan yang memudahkan terjadinya kontraksi uterus sebelum cukup bulan. (Saifuddin, 2016).
Bayi berat lahir
rendah (BBLR) dipengharui
oleh beberapa faktor yaitu faktor ibu,
faktor plasenta, dan faktor janin. Faktor
ibu berupa umur, paritas, ras, infertilitas, riwayat kehamilan tidak baik, lahir
abnormal, jarak kelahiran terlalu dekat, BBLR pada anak sebelumnya, penyakit akut dan kronik, kebiasaan tidak baik seperti
merokok, dan minum alkohol serta preekalmpsia.
Faktor plasenta berupa tumor, kehamilan ganda. Faktor janin
berupa infeksi bawaan dan kelainan kromosom.
Menurut
Cunningham 2012 bahwa salah satu
penyebab terjadinya BBLR adalah preeklampsia. Preeklampsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema,
dan proteinuria yang timbul karena
kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera
setelah persalinan. Terjadinya preeklampsia belum diketahui secara pasti, namun
terdapat teori menjelaskan dikarenakan faktor genetik yang menyebabkan implantasi plasenta dan invasi trofoblastik terjadi abnormal
pada pembuluh darah uterus.
Hal ini akan mengakibatkan arteriola spiralis uteri tidak
mengalami remodeling ekstensif
yaitu pergantian sel-sel otot dan endotel pembuluh darah karena invasi
trofoblas endovaskuler yang
fungsinya umtuk melebarkan diameter pembuluh darah (Kurniawati, 2019). Disfungsi endotel arteri spiral dapat sebabkan menurunannya NO (Nitrat Oksida) sehingga miometrium gagal dalam mempertahankan
sktruktur muskuloelastisitasnya.
Faktor resiko terjadinya preeklampsia yaitu: Preeklampsia sering ditemukan pada kelompok usia ibu yang ekstrim
yaitu lebih dari 35 tahun dan kurang dari 20 tahun. Tekanan darah cenderung meningkat seiring dengan pertambahan usia sehingga pada usia >35 tahun akan terjadi peningkatan
resiko preeklampsia (Mochtar, 2012). Pada pasien
nullipara, resiko terjadinya
preeklampsia adalah 26% dibadingkan 17% pada kelahiran (Mochtar, 2012).
Kehamilan memberikan sebuah efek perlindungan terhadap resiko preeklampsia yang mungkin memiliki secara imunologi. Ibu yang memiliki riwayat preeklampsia di kehamilan pertama diketahui lebih beresiko mengalami preeklampsia pada kehamilan berikutnya. Pasien multipara dengan riwayat preeklampsia berat adalah resiko tinggi
populasi yang harus didentifikasi pada awal kehamilan (Sulistyawati, 2018).
Resiko pada kehamilan kedua atau ketiga berhubungan
langsung dengan waktu yang lama setelah kelahiran sebelumnya. Jarak antara kelahiran 10 tahun atau lebih,
diperkirakan meningkatkan resiko terjadinya preeklampsia. Wanita dengan jarak antara kehamilan
lebih dari 59 bulan memiliki peningkatan resiko terjadinya preeklampsia dibandingkan dengan wanita dengan interval 18-23 bulan. Riwayat preeklampsia pada keluarga dikaitkan dengan empat kali lipat peningkatan resiko preeklampsia berat. Genetik merupakan faktor penting dalam terjadinya
preeklampsia dengan riwayat keluarga (Sulistyawati, 2018).
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian
yang telah dilakukan oleh peneliti di RSIA Sitti Khadijah 1
Muhammadiyah Cabang Makassar terkait Hubungan Preeklamsia dengan kejadian BBLR peneliti dapat menyimpulkan bahwa: Terdapat hubungan yang signifikan antara preeklampsia dengan kejadian BBLR di RSIA Sitti
Khadijah 1 Muhammadiyah Cabang Makassar (P:0,002).
BIBLIOGRAFI
Davis, Esther F.,
Newton, Laura, Lewandowski, Adam J., Lazdam, Merzaka, Kelly, Brenda A.,
Kyriakou, Theodosios, & Leeson, Paul. (2012). Pre-eclampsia and offspring
cardiovascular health: mechanistic insights from experimental studies. Clinical
Science, 123(2), 53�72.
FATIKHATUN, N. U. R.
UKHTI. (2018). PENERAPAN KONSEP PENDIDIKAN AKHLAK QS. LUKMAN AYAT 12-15
STUDI KASUS DI TK TAKHASUS AL-QUR�AN DESA SUNGAPAN KABUPATEN PEMALANG TAHUN
2018/2019. SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH (STIT) PEMALANG.
Fitriyah, Anif Lailatul.
(2018). Hubungan Pola Makan dengan Risiko Preeklampsia Pada Ibu Hamil
Primipara Trimester 2 dan 3 di Puskesmas Kedungkandang Kota Malang.
Universitas Brawijaya.
Hartiningrum, Indri,
& Fitriyah, Nurul. (2018). Bayi berat lahir rendah (BBLR) di Provinsi Jawa
Timur tahun 2012-2016. Jurnal Biometrika Dan Kependudukan, 7(2),
97�104.
Jeyabalan, Arun. (2013).
Epidemiology of preeclampsia: impact of obesity. Nutrition Reviews, 71(suppl_1),
S18�S25.
Kasnur, Kasnur. (2019). Manajemen
Asuhan Kebidanan Intranatal Berkelanjutan pada Ny" M" dengan
Preeklamsia Berat di RSUD Syekh Yusuf Kabupaten Gowa Tanggal 15 Oktober-21
November 2018. Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
Kosim, M. S., Yunanto,
A., Dewi, R., Sarosa, G. I., & Usman, A. (2014). Buku Ajar Neonatologi
Edisi Pertama. Jakarta: BadanPenerbit IDAI.
Merryana Adriani, S. K.
M. (2016). Peranan gizi dalam siklus kehidupan. Prenada Media.
Mochtar, Rustam. (2012).
Sinopsis Obstetric Fisiologi dan Patologi jilid 1. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Nurliawati, Enok.
(2015). Hubungan Antara Preeklampsia Berat Dengan Bayi Berat Lahir Rendah
(BBLR) di RSU Dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya Tahun 2013. Jurnal Kesehatan
Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-Ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan Dan Farmasi,
12(1), 22�27.
Proverawati, Atikah,
& Ismawati, Cahyo. (2010). BBLR (berat badan lahir rendah). Yogyakarta:
Nuha Medika, 61.
Ri, Kemenkes. (2018). profil
kesehatan indonesia 2018. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI.
Saraswati, Nuning, &
Mardiana, Mardiana. (2016). Faktor Risiko Yang Berhubungan Dengan Kejadian
Preeklampsia Pada Ibu Hamil (Studi Kasus Di Rsud Kabupaten Brebes Tahun 2014). Unnes
Journal of Public Health, 5(2), 90�99.
Statistik, Badan Pusat.
(2019). Statistik Hotel dan Tingkat Penghunian Kamar Hotel DKI Jakarta 2018. Jakarta:
BPS.
Vata, Prabhanjan Kumar,
Chauhan, Nitin M., Nallathambi, Arasumani, & Hussein, Fentaw. (2015).
Assessment of prevalence of preeclampsia from Dilla region of Ethiopia. BMC
Research Notes, 8(1), 1�6.
WHO, World Health
Organization. (2016). Global Health Observatory (GHO) data: urban population
growth.