HUBUNGAN KEKERASAN VERBAL ORANG TUA DENGAN KEPERCAYAAN DIRI REMAJA AWAL DI SMK MUHAMMADIYAH 9 JAKARTA

Laura Oktania1, Lita Patricia Lunanta2, Amalia Adhandayani3, Aldian Yusup4

Universitas Esa Unggul Jakarta1,2,3

Institut Pendidikan dan Bahasa INVADA, Cirebon4

[email protected]1, [email protected]2, [email protected]3, [email protected]4

 

Received:14-07-2022

Accepted:23-07-2022

Published: 27-07-2022

Abstract

Keywords:

Verbal Violence, Self Confidence, Early Teens

 

Introduction: Verbal violence is violent behavior that can offend and hurt feelings so that it will have an emotional wound for those who experience it in the form of harsh, threatening, scary, insulting, insinuating, cursing, comparing or exaggerating other people's mistakes. The impact of this verbal violence makes teenagers tend to lack self-confidence. Objective: The purpose of this study was to determine the relationship between verbal violence and self-confidence in early adolescents at SMK Muhammadiyah 9 Jakarta. Methods: This research is a correlation research with random sampling technique as many as 171 early teenage students of SMK Muhammadiyah 9 in Jakarta. Verbal violence measuring instrument used consisted of 20 valid items with reliability (α) = 0.933, and the self-confidence scale consisted of 23 valid items with reliability (α) = 0.889. The measuring instrument used is the verbal violence scale. Results: The results showed that there was a negative relationship between verbal violence and self-confidence in early adolescents at SMK Muhammadiyah 9 Jakarta, with a correlation value of - 0.387 and sig p 0.000. Thus, the higher the early teens at SMK Muhammadiyah 9 get verbal abuse from their parents, the lower their self-confidence. Conclusion: Early adolescent students at Muhammadiyah 9 Vocational High School experienced more verbal violence (53.8%) and had low self-confidence (55.6%). Ages 16 and 17 years, boys, children in the first and second order experienced higher levels of verbal violence. While the age of 17 years, women, the order of the third, fourth and fifth children have more high self-confidence

Abstrak

Kata kunci:

Kekerasan Verbal, Kepercayaan Diri, Remaja Awal

 

Pendahuluan: Kekerasan verbal merupakan perilaku kekerasan yang dapat menyinggung dan menyakitkan perasaan sehingga akan berdampak luka batin bagi yang mengalaminya berupa dengan kata-kata berujar kasar, mengancam, menakutkan, menghina, menyindir, memaki, membandingkan atau membesar-besarkan kesalahan orang lain. Dampak dari kekerasan verbal ini membuat remaja cenderung kurang memiliki rasa yang percaya diri. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kekerasan verbal dengan kepercayaan diri remaja awal di SMK Muhammadiyah 9 Jakarta. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian korelasi dengan teknik random sampling sebanyak 171 siswa remaja awal SMK Muhammadiyah 9 di Jakarta. Alat ukur kekerasan verbal yang digunakan terdiri dari 20 item valid dengan reliabilitas (α) = 0,933, dan skala kepercayaan diri terdiri dari 23 item valid dengan reliabilitas (α) = 0,889. Alat ukur yang digunakan adalah skala kekerasan verbal. Hasil: Hasil penelitian menunjukan ada hubungan negatif antara kekerasan verbal dengan kepercayaan diri pada remaja awal di SMK Muhammadiyah 9 Jakarta, dengan nilai korelasi - 0,387 dan sig p 0,000. Dengan demikian jika semakin tinggi remaja awal di SMK Muhammadiyah 9 mendapatkan kekerasan verbal dari orang tua, maka semakin rendah kepercayaan dirinya. Kesimpulan: Siswa remaja awal di SMK Muhammadiyah 9 lebih banyak mengalami kekerasan verbal tinggi (53,8%) dan memilki kepercayaan diri yang rendah (55,6%). Usia 16 dan 17 tahun, laki-laki, anak urutan pertama dan kedua lebih banyak mengalami kekerasan verbal tinggi. Sedangkan usia 17 tahun, perempuan, urutan anak ke tiga, empat dan lima lebih banyak memilki kepercayaan diri tinggi

Corresponding Author: Laura Oktania

E-mail: [email protected]

https://jurnal.syntax-idea.co.id/public/site/images/idea/88x31.png

 

PENDAHULUAN

Remaja merupakan masa dimana seseorang masih mencari jati diri atau identitas yang sebenarnya. Menurut Hurlock dalam (Widyaningtyas & Farid, 2014) masa remaja merupakan fase terjadinya ketidakstabilan emosi dengan kata lain sikapnya yang mudah berubah-ubah, akibat perkembangan psikis dan fisik. Di fase remaja membutuhkan rasa pengakuan dan diterima oleh orang � orang disekitarnya. Dengan adanya penerimaan sosial, akan menjamin rasa aman dan rasa percaya diri, sebab penerimaan dari orang � orang disekitarnya tersebut dirinya menganggap bahwa itu sebagai dukungan dan perhatian dari orang � orang disekitarnya (Irena, 2019). Dengan demikian hal ini menunjukkan perilaku remaja yang masih disebut sebagai menuju proses kematangan ke tahap dewasa, jika adanya pengakuan dari lingkungan sekitarnya perilaku tersebut akan meningkatkan rasa yakin terhadap dirinya sendiri.

Remaja mulai berpikir mengenai keinginannya, mulai membedakan dirinya dengan orang lain, dan mulai menguji dan memecahkan masalah yang dihadapinya sendiri.Sejalan dengan itu menurut Sarwono dalam (Nidya, 2014) remaja sangat membutuhkan dorongan atau motivasi dari lingkungan sekitarnya, harus memulai pola hidup yang mandiri, kemampuan untuk memiliki serta mencapai sesuatu yang diinginkannya, serta diharapkan dapat tertanam rasa percaya dirinya untuk mengarahkan dirinya dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa masa remaja merupakan tahap perkembangan yang sangat membutuhkan arahan dari orang � orang disekitarnya, agar sikap yang dilakukannya kelak tumbuh ke arah yang positif dan percaya diri meniti masa depannya.

Hal tersebut juga sangat diharapkan oleh Kepala Sekolah, para guru dan orang tua murid di SMK Muhammadiyah 9 yaitu menjadi siswa yang disiplin, unggul, menunjukkan prestasi dan mengharumkan nama sekolahnya. SMK Muhammadiyah 9 Jakarta adalah SMK swasta yang berorientasi pada nilai � nilai religiusitas, dengan menerapkan peraturannya yang ketat, yang mewajibkan seluru siswa perempuan untuk memakai hijab dan siswa laki � laki berpakaian sopan dan rapih. Selain itu, dalam system pembelajaran yang digunakan oleh SMK tersebut tidak hanya kurikulum sekolah pada umumnya, tetapi juga menambah mata pelajaran yang berkaitan dengan agama islam, yakni ilmu fiqih, hadist dengan membuka empat jurusan yakni, akuntansi, dan masing-masing dua kelas pada jurusan perkantoran dan multimedia. Karena sekolah ini dikelola pihak swasta. Maka biaya operasional sekolah bergantung pada jumlah penerimaan siswa. Karena sekolah ini dikelola pihak swasta, maka biaya operasional sekolah bergantung pada jumlah penerimaan siswa. Para siswa disekolah ini wajib membayar uang yang cukup besar perbulannya yaitu 500 ribu rupiah. Uang pembayaran sekolah ini dirasakan cukup memberatkan bagi beberapa orang tua seperti yang diceritakan oleh siswa R (Laki � laki) berusia 17 tahun berikut ini

setiap aku minta uang spp sama orang tua aku, aku ngerasa aku ngomongnya baik � baik aja, aku gatau setiap aku minta uang buat sekolah, orang tua aku selalu marahi aku, kadang aku dibilang gapernah ngertiin orang tua aku, kadang aku sampe dibilang �nyusahin aja jadi anak� dan pernah ngomong juga ke aku kalo dia nyesel ngelahirin aku, karena aku minta uang spp terus, semenjak dari kalimat orang tua aku itu ngebuat aku jadi sakit hati sampai sekarang kak, atau karena aku anak pertama jadi aku diharusin buat nyari duit atau gimana ya kak, kadang aku suka bingung, kadang kalau udah sampe sekolah kalo ngeliat temen � temen yang ekonominya lancar aja, aku ngerasa minder, dari situ aku suka ga berani mau ngapa ngapain, aku pernah dipanggil guru BK karena prestasi aku menurun,aku gapernah ikut kegiatan sekolah walaupun itu wajib, jadi lebih banyak diem aja disekolah, kadang pernah pura � pura sakit biar dapet izin untuk pulang, biar aku bisa main, ngeluapin semuanya sama temen � temen aku gitu kak, karena dari situ aku ngerasa lebih baik�.

Dari hasil wawancara diatas diduga siswa R, tidak memiliki rasa percaya diri yang diakibatkan oleh ucapan yang dilontarkan orang tua yang membuat siswa tersebut terus mengingat sehingga membekas di perasaannya sehingga berdampak pada perilakunya yaitu menjadi menutup diri, merasa minder dengan orang � orang disekitarnya, prestasi nya menjadi menurun, tidak nyaman berada disekolah.

Berbeda dengan siswa SMK Muhammadiyah 9 yang memiliki rasa kepercayaan diri yang tinggi, fenomena ini diketahui berdasarkan wawancara dengan seorang siswa kelas X yang berusia 15 tahun, yang mengalami kepercayaan diri yang tinggi, dapat dilihat pada wawancara petikan berikut:

Siswa C (Perempuan) yang berusia 15 tahun�

�aku dari tiga bersaudara ka, kebetulan aku anak terakhir, aku sih ga pernah kak dikasarin kaya gitu, soalnya orang tua aku selalu ngasih kemauan aku,misalnya aku pengen sesuatu langsung dibeliin sama orang tua aku, padahal aku cuma pengen biasa aja ga kepengen banget sampe nangis gitu, kalo pas disekolah sih aku selalu ikut kegiatan yang ada di smk muhammadiyah sih kak, kaya apapun kegiatannya aku ikut karena orang tua aku suka aja sih aku ikut kegiatan apa aja, selalu dukung, orang tua aku seneng - seneng aja, kadang kalau aku abis pulang dari kegiatan sekolah tiba - tiba orang tua aku ngasih makanan lah, coklat gitu deh kak, terus selama disekolah aku suka ikut osis gitu gitu sih kak, kaya jadi panitia ketua kegiatan gitu kak�

Dari hasil wawancara diatas, diduga siswa C memiliki rasa percaya diri yang tinggi, hal tersebut dilihat dari pengakuan subjek dengan selalu diberikan dukungan, motivasi dan penghargaan oleh orang tuanya, tidak memiliki konflik terhadap orang tuanya, sehingga membuat subjek memiliki rasa percaya diri. Pada kegiatan sekolah perilaku subjek selalu aktif yakni, mengikuti berbagai kegiatan di sekolah dan merasa senang apa yang dilakukannya tanpa ada tuntutan dari orang tua, karena orang tua nya selalu mendukungnya. Selanjutnya hal ini juga dialami pada siswa T (Perempuan) yang berusia 16 tahun, yaitu sebagai petikan berikut

aku dari dua bersaudara, aku anak pertama ka, aku mulai aja ya kak, aku sih begini, semenjak orang tua aku selalu marah � marah ke aku terus, kadang kalau mereka abis balik kerja tiba � tiba aku ga ngerasa salah ada aja yang buat aku salah sampe aku dimarahi, kalau aku dapat nilai jelek, orang tua aku selalu maksain aku harus dapet nilai yang bagus kalau engga, kadang aku di katain kasar lah, dibentak, kadang sering banget aku sampe dibandingin sama tetangga yang anaknya pinter, dari situ aku ngerasa sampe saat ini aku jadi takut kalau dikeramaian, takut berinteraksi gitu kak sama yang lain, kalau diajak ikut kegiatan sekolah aku gaberani buatikut, aku takut direndahin, kaya gapunya rasa percaya diri gitu kak, semenjak itu juga prestasi aku selalu menurun, bahkan sampe aku pernah cabut dari sekolah, kabur, ngelanggar peraturan disekolah, karena aku mau nenangin pikiran aku gitu kak biar tenang, karena aku sempet bingung sama diri aku sendiri kaya yang salah dari diri aku apa gitu kak, sekarang yang aku rasain kaya trauma takut, seperti tertekan, dan yang ngalamin kaya gini disekolah aku cukup banyak kak, biasanya yang aku tau karena biaya spp sih, mungkin karna efek corona apa gimana ya kak�.

Dari hasil wawancara diatas, diduga siswa T tidak memiliki rasa percaya diri yang diakibatkan atas perlakuan orang tuanya yang bersikap negatif. Hal tersebut dilihat dari pengakuan siswa ketika sulit untuk menjalin relasi dengan orang lain dan lebih menutup diri dari relasi sosial dan tidak memiliki ketertarikan untuk berpartisipasi dengan aktivitas di lingkungannya, serta tidak mampu mengekspresikan dirinya, prestasi menjadi menurun, sehingga juga berdampak ia sempat melanggar peraturan sekolah seperti membolos, cabut dari sekolah karena untuk menenangkan pikirannya, dan bahkan sampai saat ini merasakan rasa trauma yang mendalam.

Berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada artikel Anna (2020) selama pandemi covid kekerasan pada anak cenderung meningkat sebanyak 33,8 % yang mengalami kekerasan verbal yang dilakukan orang tua. Adapun kekerasan verbal yang dilakukan, antara lain berbicara kasar, melampiaskan kekecewaan kepada anak, menyudutkan dan merendahkan anak. Ujaran negatif yang dilontarkan oleh orang tua, akan berpengaruh pada rendah kepercayaan diri pada anak. Sejalan dengan (Ervi Laily Mujitabah Putri, 2015)menambahkan krisis kepercayaan diri lebih banyak terjadi pada usia remaja 13 � 17 tahun, dengan persentase sebesar 50,2%. Data ini menunjukkan bahwa kekerasan verbal yang dilakukan orang tua terhadap remaja memiliki hubungan dengan kepercayaan diri.

Begitu pula artikel yang ditulis Prawira (2018) menunjukkan bahwa berkisar 56 % remaja di Indonesia mengalami tingkat kategori kepercayaan diri yang rendah. Sejalan dengan itu menurut (Hazrina Syahirah Putri & Sugandi, 2021)krisis kepercayaan diri salah satunya diakibatkan oleh kekerasan verbal yang dilakukan oleh orang tua, menurut badan statistika (Hazrina Syahirah Putri & Sugandi, 2021) bahwa kelompok usia remaja yang berusia 13 � 17 tahun memiliki kasus terbanyak pada kekerasan verbal yang dilakukan oleh orang tua. Pada KPAI tercatat kekerasan verbal pada anak tahun 2011-2018 disebut sebagai kekerasan verbal yang dilakukan oleh orang tua tertinggi yang berada di DKI Jakarta, hal ini menunjukkan remaja awal sangat memiliki pengaruh terhadap krisis kepercayaan diri.

Kekerasan verbal yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak ketika anak tumbuh remaja memiliki pengaruh yang penting, sebab kekerasan yang berbentuk ucapan dan kata-kata yang bersifat negatif akan diingat oleh anak dalam memorinya, sehingga akan berdampak pada perilakunya hingga ia tumbuh remaja. Ucapan menyakitkan di masa anak ini juga akan terinternalisasi ke dalam diri anak, menanamkan pemikiran bahwa apa yang diucapkan orang tuanya benar, sehingga di masa remaja anak akan membentuk perilaku seperti mudah cemas, dan tidak percaya diri (Choirunnisa dalam Fitriani & Erniawati, 2020; Lestari dalam Livana & Anggraeni, 2018; Wulandari & Nurwati, 2018). Dengan demikian hal tersebut mengakibatkan remaja mengalami rasa luka batin sehingga memicu adanya rasa takut atau minder akan kejadian negatif di masa lalunya, sehingga menganggap dirinya rendah.

Selanjutnya menurut Lestari (2016) mengatakan remaja yang mengalami kekerasan verbal yang dilakukan orang tua akan menimbulkan dampak luka yang lebih dalam pada kehidupan perasaan anak, diantaranya, anak menjadi tidak peka terhadap perasaan orang lain, mengganggu perkembangan anak, anak menjadi agresif, adanya gangguan emosi yang mudah meledak-ledak, hubungan sosial menjadi terganggu, kepribadian sociopath atau antisocial personality disorder, menciptakan lingkaran setan dalam keluarga, rendahnya motivasi belajar, bahkan sampai bunuh diri. Dengan demikian akan hal ini menunjukkan bahwa dampak dari kekerasan verbal sangat membahayakan karena sangat merugikan diri sendiri bahkan nyawa.

Kepercayaan diri yang tinggi terbentuk dari adanya pengakuan dan penerimaan dari orang � orang disekitarnya, selalu mendapatkan dukungan dan support dari orang sekitarnya terutama pada orang tuanya dengan membimbing anaknya dengan memberikan perhatian dan kasih sayang yang baik, dan dukungan yang bersifat positif. (Faridah & Aeni, 2016) mengemukakan bahwa kepercayaan diri merupakan sikap yakin terhadap diri sendiri, bahwa dirinya mampu dan bisa untuk mengembangkan kemampuannya dengan maksimal, mampu memiliki kemampuan untuk mencapai tujuan yang ingin ia capai, seperti mendapatkan prestasi di sekolah, mewujudkan cita-citanya, dan lain sebagainya. Menurut (De Vega, Hapidin, & Karnadi, 2019) mengatakan seseorang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi, cenderung memiliki perasaan yang positif terhadap dirinya, seperti memiliki dorongan dan motivasi untuk sukses. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan diri yang tinggi dapat mengubah perilaku seseorang ke hal yang positif, yakni seperti mampu bersikap optimis terhadap suatu hal yang akan dihadapinya.

Sedangkan terbentuknya kepercayaan diri yang rendah disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya dipengaruhi oleh pengalaman negatif remaja di masa kecil. Pengalaman remaja di masa kecil akan membekas pada kenangannya. Kenangan negatif tersebut akan memicu rasa trauma pada remaja, salah satunya pada aspek kepercayaan diri.Menurut (Fiorentika, Santoso, & Simon, 2016) rendahnya kepercayaan diri pada remaja akan berdampak pada perilakunya yakni seperti, tidak ingin mencoba suatu hal yang baru, merasa tidak dicintai dan tidak diinginkan dari orang-orang sekitarnya, melempar kesalahan pada orang lain, menyembunyikan perasaannya, mudah mengalami frustasi dan tertekan, dan tidak yakin terhadap kemampuannya. Sehingga menunjukkan semakin tinggi rasa traumatis yang dialami pada remaja, membuat kepercayaan diri remaja cenderung menjadi rendah.

Menurut Taylor (dalam Wahyuni, 2013) kepercayaan diri merupakan salah satu aspek kepribadian yang penting dalam perkembangan remaja. Kepercayaan diri yang dimiliki remaja berfungsi untuk menghargai dirinya sendiri dan mampu memberikan penghargaan terhadap kemampuannya. Menurut Hakim dalam (Pratiwi & Laksmiwati, 2016) kepercayaan diri merupakan keyakinan yang menjadikan individu mempunyai penilaian positif terhadap dirinya untuk melakukan suatu tujuan yang diharapkannya. Individu yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi mampu mengembangkan pikiran yang positif, tanpa harus bergantung pada orang lain. Dengan kata lain kepercayaan diri merupakan suatu kemampuan yang dimiliki pada seseorang akan dan yakin dengan kemampuannya sendiri untuk melakukan suatu tindakan yang diinginkannya.

Menurut Hurlock (dalam Hidayati & Farid, 2016) remaja dibagi dalam dua tipe, yaitu remaja awal yang berusia 13-17 tahun dan remaja akhir yang berusia 1718 tahun. Pada fase remaja awal lebih rentan mengalami risiko pada tindakan kekerasan salah satunya yaitu kekerasan komunikasi yang tidak efektif pada orang tua, sebab pada fase remaja awal cenderung mengalami berbagai masalah baik internal atau eksternal, dalam segi emosi dan perasaan yang masih belum stabil, dan masa remaja awal merupakan masalah kritis, mempunyai banyak masalah, lebih emosional, mulai mengembangkan pikiran baru, mudah gelisah, suka berkhayal, menyendiri dan mulai timbulnya rasa kurang percaya diri Gunarsa, dkk (dalam Saputro, 2017). Berdasarkan data ini menunjukkan bahwa dalam fase remaja awal memiliki resiko yang tinggi terhadap rasa percaya dirinya.

Remaja sangat diharapkan dapat mengontrol dirinya, dan mengetahui baik buruknya dampak dari kegiatan bersosialisasi atau berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, remaja dituntut untuk bias memilih lingkungan yang besifat positif, agar perilakunya pun menjadi lebih positif ke depannya. Namun, jika remaja memilih lingkungan negatif seperti tidak adanya penerimaan dan pengakuan terhadap dirinya, ia akan cenderung merasa dirinya minder. Selain itu, remaja harus selalu waspada dan mengantisipasi terjadinya perilaku orang lain yang tidak menyenangkan atau kekerasan. Dengan kata lain perilaku remaja sangat dipengaruhi orang- orang terdekatnya. Salah satu contoh public figure berusia remaja yang memiliki rasa kepercayaan diri yang tinggi, yaitu Cinta Rahmania Putri Khairunnisa atau bisa disebut dengan Cinta Kuya. Ia merupakan anak dari seorang aktor bernama Surya Utama atau yang dikenal dengan sebutan Uya Kuya. Cinta Kuya merupakan seorang remaja yang baru menginjak usia 17 tahun, akan tetapi untuk anak seusianya ia termasuk remaja yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi, sebab dari sejak kecil sampai sejak dini orang tuanya selalu mengarahkan hal yang positif, seperti selalu memberikan dukungan dan motivasi dalam kondisi apapun kepada anaknya, tanpa harus melakukan tindakan kekerasan atau paksaan. Dari kepercayaan dirinya yang tinggi terlihat sejak kecil ia sudah mendapatkan prestasi berupa penghargaan sebagai pesulap tingkat nasional hingga di kancah internasional, menciptakan lagu bahkan penyanyi tanah air yang cukup terkenal, dan terpilih disalah satu sekolah di New York (Rifa, 2011). Hal ini menunjukkan bahwa anak yang mendapatkan dukungan positif dari orang � orang disekitarnya terutama dari orang tua, rasa percaya dirinya akan meningkat.

Berdasarkan wawancara yang dipaparkan di atas bahwa faktor eksternal salah satunya yaitu faktor ekonomi yang rendah dapat memicu orang tua melontarkan ucapan yang negatif pada remaja, yang menyebabkan kepercayaan diri pada remaja menjadi menurun, yang disertai dengan kemarahan atau kekecewaan karena ketidakberdayaan dalam mengatasi masalah ekonomi menyebabkan orang tua mudah sekali melimpahkan emosi kepada orang sekitarnya, terutama pada anak, sehingga ketika orang tua sedang dilanda kekurangan ekonomi, biasanya ia cenderung melampiaskan seluruh emosinya kepada anak, walaupun anak tidak mempunyai salah, tanpa melihat dampak yang akan terjadi pada perilaku anak nantinya, Soetjiningsih dalam (Fitriana, Pratiwi, & Sutanto, 2015)

Menurut (Komara, 2016) kepercayaan diri dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Pada faktor internal, kepercayaan diri dipengaruhi oleh konsep diri yang tertanam pada diri individu sebagai motivasi untuk melakukan suatu perubahan sehingga terlihat dalam tingkah lakunya. Selanjutnya pada faktor eksternal terjadi berdasarkan pengalaman dari perilaku orang - orang disekitarnya, yaitu dapat berasal dari lingkungan sekolah maupun lingkungan keluarga. Pada faktor eksternal kalangan remaja lebih banyak mengalami krisis kepercayaan diri, sebab dari lingkungan terdekatnya remaja lebih banyak bersosialisasi pada keluarga, saudara, guru dan teman sebaya, sehingga akan membentuk tingkah laku yang dialami berdasarkan pengalaman remaja tersebut. Berdasarkan hasil yang dijelaskan bahwa faktor eksternal memiliki pengaruh yang tinggi, sebab interaksi sosial dan relasi interpersonal yang dimiliki remaja mampu mempengaruhi tingkat kepercayaan dirinya.

Menurut Afiatin & Andayani (1996) pada usia remaja seringkali individu mengalami perubahan mental yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Hal ini dipengaruhi oleh interaksi sosial yang dilakukan pada lingkungan. Saat interaksi sosial menghasilkan umpan balik yang positif, kepercayaan diri pada remaja meningkat. Sebaliknya, saat interaksi sosial menghasilkan umpan balik yang negatif, maka kepercayaan diri akan turun. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan diri remaja bergantung pada interaksi sosialnya, terutama dengan lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga merupakan lingkungan sosial pertama pada individu, karena lingkungan keluarga merupakan wadah utama untuk berinteraksi salah satunya yang berdampak pada aspek kepercayaan diri. Data ini menunjukkan lingkungan keluarga memiliki pengaruh yang kuat pada kepercayaan diri.

Berdasarkan artikel dari Anna (2020) juga menunjukkan bahwa lingkungan keluarga terutama pada hubungan orang tua dengan remaja, memiliki relasi yang cukup intens, sehingga berpengaruh pada aspek kepercayaan diri, yang diperoleh melalui proses interaksi sosial pada remaja. Interaksi sosial yang tidak sempurna seperti halnya dengan membentak anak, berujar nada yang tinggi, membandingkan anak, merendahkan anak, menghina anak, meremehkan anak, berkata tidak sewajarnya pada anak. Ucapan�ucapan negatif yang dilontarkan orang tua terhadap anak dapat dikategorikan sebagai bentuk kekerasan verbal. Menurut reporter Rifa (2020) menambahkan bahwa jumlah anak yang mengalami kekerasan verbal oleh orang tuanya sebanyak 49,2 juta jiwa. Hal ini menunjukkan rendahnya dukungan sosial yang didapatkan remaja dari lingkungan keluarganya, sehingga berpengaruh pada menurunnya kepercayaan diri (Afiatin & Andayani, 1998). Sebab itu faktor kekerasan verbal yang dilakukan orang tua menurunkan kepercayaan diri pada remaja.

Berdasarkan fenomena yang sudah dibahas diatas terlihat bahwa kepercayaan diri adalah faktor yang penting dalam perkembangan dan pertumbuhan pada remaja, karena faktor dari lingkungan sekitar khususnya dari lingkungan keluarga berpengaruh pada kepercayaan diri remaja untuk kedepannya. Selanjutnya, bagaimana seorang remaja itu bisa memiliki kepercayaan diri yang baik sangat berkaitan dengan lingkungan yang paling dekat yaitu keluarga khususnya orang tua. Peneliti juga menduga bahwa remaja yang sering mendapatkan perlakuan kekerasan verbal dari lingkungan terdekat khususnya orang tua, akan mempengaruhi kepercayaan dirinya sehingga, semakin tinggi kekerasan verbal maka kepercayaan diri semakin menurun, maka sebaliknya jika semakin rendah kekerasan verbal maka kepercayaan diri semakin tinggi. Mempertimbangkan pentingnya kepercayaan diri untuk perkembangan remaja serta kontribusi lingkungan sekitar dalam pembentukannya terutama pada lingkungan keluarga khususnya orang tua, sehingga peneliti memutuskan untuk melakukan penelitian untuk mengkaji hubungan antara kekerasan verbal yang dilakukan orang tua terhadap remaja.

 

METODE PENELITIAN

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode kuantitatif yang bersifat non experimental, alasan peneliti menggunakan rancangan penelitian tersebut karena ingin mengetahui hubungan tinggi dan rendah antara kekerasan verbal dengan kepercayaan diri pada remaja awal di SMK Muhammadiyah 9 Jakarta. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMK Muhammadiyah 9 Jakarta dari tingkatan kelas X, XI dan XII, dengan jumlah total sebanyak 171 siswa, dengan menggunakan teknik random sampling. Jumlah sampel didapat dari rumus Isaac Michael (Sugiyono, 2011).

Peneliti memodifikasi kisi � kisi alat ukur yang mengacu pada kekerasan verbal untuk disesuaikan dengan karakteristik partisipan (Siregar, 2020) yaitu tidak sayang dan dingin, intimidasi, mengucilkan atau mempermalukan, mengkambing hitamkan, dan hukum ekstrem. Terdapat 10 aitem gugur dari 30 aitem dan memperoleh reliabilitas sebesar 0,933. Selanjutnya peneliti juga memodifikasi kisi � kisi alat ukur kepercayaan diri yaitu sikap ambisi, kemandirian, optimism, perasaan aman, toleransi, dan keyakinan akan diri sendiri. Terdapat 11 aitem yang gugur dari 34 aitem dan memperoleh reliabilitas sebesar 0,889. Peneliti menggunakan validitas kontruk (construct) dengan teknik korelasi Pearson Product Moment. Reliabilitas alat ukur pada penelitian ini akan diuji dengan teknik internal consistency dua kali putaran dengan rumus Alpha Cronbach ≤ 0,7 (Sugiyono 2016).Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah frekuensi, kategorisasi, dan tabulasi silang.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.      Gambaran Responden Penelitian

1.       Usia

Tabel 1

Gambaran Subjek Berdasarkan Usia

 

Usia

Frekuensi

Presentase

15 Tahun

46

26.9%

16 Tahun

69

40.4%

17 Tahun

56

32.7%

Total

171

100%

 

 

 

 

 

Berdasarkan data yang diperoleh pada tabel 1 dapat dilihat bahwa responden paling banyak dengan usia 16 tahun berjumlah 69 responden (40,4%), usia 17 tahun berjumlah 56 responden (32,7%), dan yang paling sedikit dengan usia 15 tahun yang berjumlah 46 responden (26,9%).

 

2.       Tingkatan Kelas

Tabel 2

Gambaran Subjek Berdasarkan Tingkatan Kelas

Tingkatan Kelas

Frekuensi

Presentase

X (sepuluh)

55

32.2%

XI (Sebelas)

70

40.9%

XII (Dua Belas)

46

26.9%

Total

171

100%

 

Berdasarkan data yang diperoleh pada tabel 2 dapat dilihat bahwa responden paling banyak dengan tingkatan kelas XI (Sebelas) yang berjumlah 70 responden (40,9%), kemudian pada tingkatan kelas X (Sepuluh) berjumlah 55 responden (32,2%), dan yang paling sedikit dengan tingkatan kelas XII (Dua Belas) yang berjumlah 46 responden (26,9%).

3.       Jenis Kelamin

Tabel 3

Gambaran Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin

Frekuensi

Presentase

Laki-laki

87

50.9%

Perempuan

84

49.1%

Total

171

100%

 

Berdasarkan data yang diperoleh pada tabel 3 dapat dilihat bahwa responden paling banyak dengan berjenis kelamin laki � laki yaitu 87 responden (50,9%), dan jenis kelamin perempuan yaitu 84 responden (49,1) %.

 

4.       Jurusan

Tabel 4

Gambaran Subjek Berdasarkan Jurusan

Jurusan

Frekuensi

Presentase

Multimedia

92

53.8%

Akuntansi

49

28.7%

Perkantoran

30

17.5%

Total

171

100%

 

Berdasarkan data yang diperoleh pada tabel 4 dapat dilihat bahwa responden paling banyak dengan jurusan multimedia yang berjumlah 92 responden (53,8%), kemudian pada jurusan akuntansi berjumlah 49 responden (28,7%), dan yang paling sedikit pada jurusan perkantoran berjumlah 30 responden (17,5%).

 

5.       Urutan Kelahiran

Tabel 5

Gambaran Subjek Berdasarkan Urutan Kelahiran

Urutan Kelahiran

Frekuensi

Presentasi

Pertama

87

50.9%

Kedua

45

26.3%

Ketiga

29

17.0%

Keempat

7

4.1%

Kelima

1

0.6%

Keenam

1

0.6%

Lain Sebagainya

1

0.6%

Total

171

100%

 

Berdasarkan data yang diperoleh pada table 5 dapat dilihat bahwa responden urutan kelahiran anak pertama menempati posisi paling banyak yaitu 87 orang (50,9%), diikuti pada anak kedua yang berjumlah 45 orang (26,3%), anak ketiga berjumlah 29 orang (17,0%), anak keempat berjumlah 7 orang (4,1%), dan yang paling sedikit berada diposisi anak keenam berjumlah 1 orang (0,6%), anak kelima berjumlah 1 orang (0,6%) dan lain sebagainya yang berjumlah 1 orang (0,6%).

 

B.   Uji Validitas Dan Reliabilitas

Skala kekerasan verbal ini terdapat 30 aitem ketika sebelum uji coba. Kemudian setelah dilakukan uji coba terdapat 10 aitem yang gugur, diantaranya adalah aitem 5, 8, 11, 12, 13, 15, 17, 22, 28, 29 sehingga tersisa 20 aitem yang valid. Adapun hasil uji reliabilitasnya sebesar 0,893 sebelum uji coba dan setelah beberapa aitem yang tidak valid dieliminasi menunjukan nilai sebesar 0,933 yang berarti menunjukan skala kekerasan verbal ini sangat reliabel.

Selanjutnya untuk skala kepercayaan diri terdapat 34 aitem ketika sebelum uji coba. Kemudian setelah dilakukan uji coba terdapat 11 aitem yang gugur, diantaranya adalah aitem 1, 5, 6, 8, 9, 14, 16, 17, 20, 26, 32 sehingga tersisa 23 aitem yang valid. Adapun hasil uji reliabilitasnya sebesar 0,854 sebelum uji coba dan setelah beberapa aitem yang tidakvalid dieliminasi menunjukan nilai sebesar 0,889 yang berarti menunjukan skala kepercayaan diri ini sangat reliabel.

 

C.  Uji Normalitas

Tabel 6

Uji Normalitas Kekerasan Verbal dan Kepercayaan Diri

 

Kekerasan

Verbal

Kepercayaan

Diri

Asymp. Sig. (2-tailed)

0.100

0.213

N

171

171

 

Dari table 6 dapat disimpulkan bahwa Nilai signifikansi uji normalitas dengan pendekatan Monte Carlo pada variabel kekerasan verbal adalah 0,100 (sig > 0,05) dan pada variabel kepercayaan diri adalah 0,213 (sig>0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel kekerasan verbal dan kepercayaan diri berdistribusi normal.

 

D.  Hasil Uji Hubungan Kekerasan Verbal dan Kepercayaan Diri

Tabel 7

Hasil Uji Hubungan Kekerasan Verbal dan Kepercayaan Diri

 

Kekerasan

Verbal

Kepercayaan

Diri

Pearson Correlation

-0.387*

-0.387*

Sig. (2-tailed)

0.000

0.000

N

171

171

Berdasarkan table 7 diatas dapat dilihat Berdasarkan hasil uji korelasi Pearson Product Moment kekerasan verbal dan kepercayaan diri diperoleh sig.(p) = 0,000 (p < 0,05), artinya terdapat hubungan yang signifikan antara kekerasan verbal dengan kepercayaan diri. Hasil koefisien korelasi (r) menunjukkan angka -0,387 menunjukkan arah hubungan yang negatif rendah antara kekerasan verbal dengan kepercayaan diri.

 

E. Hasil Kategorisasi Kekerasan Verbal

Tabel 8

Hasil Kategorisasi Kekerasan Verbal

Minimum

Maximum

Mean

Std.Deviation

23

75

41.65

10.469

 

 

 

Berdasarkan data dari table 8 dapat hasil kategorisasi variabel Kekerasan Verbal didapat hasil mean 41,65 selanjutnya dikategorisasikan menjadi 2 jenjang kategori yaitu tinggi dan rendah yang akan dijelaskan pada tabel 9.

Tabel 9

Hasil Kategorisasi Kekerasan Verbal

Batasan Skor

Skor

Kategorisasi

Jumlah

Persentase

X < �

X ≥ 41.65

 

Tinggi

 

92

53.8%

X < �

X < 41.65

 

Rendah

79

46.2%

Total

 

 

171

100%

Dari tabel 9 dapat dilihat bahwa skor total kekerasan verbal yang dikategorisasikan tinggi memiliki skor total lebih besar dari mean 41,65. Diperoleh hasil responden terbanyak pada kategorisasi tinggi pada kekerasan verbal sejumlah 92 orang (53,8%) dan responden pada kategorisasi rendah sejumlah 79 orang (46,2%). Dapat disimpulkan bahwa kekerasan verbal lebih banyak mengalami remaja awal di SMK Muhammadiyah 9 Jakarta (53%).

F.       Hasil Kategorisasi Kepercayaan Diri

Tabel 10

Hasil Kategorisasi Kepercayaan Diri

Minimum

Maximum

Mean

Std.Deviation

41

87

65.05

9.6763

Berdasarkan hasil kategorisasi variabel Kepercayaan Diri didapat hasil mean 65,05 selanjutnya dikategorisasikan menjadi 2 jenjang kategori yaitu tinggi dan rendah yang akan dijelaskan pada tabel 11.

Tabel 11

Hasil Kategorisasi Kepercayaan Diri

Batasan Skor

Skor

Kategorisasi

Jumlah

Persentase

X < �

X ≥ 65.05

 

Tinggi

 

76

44.4%

X < �

X < 65.05

 

Rendah

95

55.6%

Total

 

 

171

100%

Dari tabel 11 diperoleh hasil responden terbanyak pada kategorisasi rendah pada kepercayaan diri sejumlah 95 orang (55,6%) dan responden pada kategorisasi tinggi sejumlah 76 orang (44,4%). Dapat disimpulkan bahwa siswa remaja awal SMK Muhammadiyah 9 Jakarta banyak tidak memiliki rasa percaya diri (55%).

G.     Hasil Kategorisasi Kekerasan Verbal Berdasarkan Data Penunjang

Tabel 12

Hasil Kategorisasi Kekerasan Verbal Berdasarkan Usia

 

Usia

Kekerasan Verbal

Presentase

 

Tinggi

Rendah

15 Tahun

21(45,7%)

25 (54.3%)

16 Tahun

39 (56.5%)

30 (43.5%)

17 Tahun

32 (57.1%)

24 (49.2%)

Total

92 (53.8%)

79 (46.2%)

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan tabeldiatas siswa usia 15 tahun lebih banyak mengalami kekerasan verbal rendah 25 orang ( 54,3%) dari yang tinggi 21 orang ( 45,7%), dan usia 16 lebih banyak mengalami kerasan verbal tinggi sebanyak 39 orang (56,5%) dari yang rendah 30 orang (43,5%). Sedangkan usia 17 tahun juga lebih banyak mengalami kekerasan verbal tinggi 32 orang ( 53,8%) dari yang rendah 24 orang ( 49,2%), Jadi dapat disimpulkan bahwa pada usia 16 dan 17 tahun pada remaja awal lebih banyak mengalami kekerasan verbaltinggi dariorang tuanya.

Tabel 13

Hasil Kategorisasi Kekerasan Verbal Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin

Kekerasan

Verbal

 

 

Tinggi

Rendah

Laki-laki

51 (58,6%)

36(41,4%)

Perempuan

41(48,8%)

43(51,2%)

Total

92 (53,8%)

79(46,2%)

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa pada jenis kelamis Laki � laki lebih banyak mengalami kekrasan verbal tinggi sebanyak 51 orang (58,6%) dari yang rendah 36 orang ( 41,4%). Kemudian pada perempuan lebih banyak mengalami kekerasan verbal rendah 43 orang ( 51,2%) dari yang tinggi 41 orang (48,8%) Berdasarkan pemaparan diatas menunjukkan bahwa laki � laki mengalami kekerasan verbal lebih banyak dibandingkan dengan perempuan.

 

Tabel 14

Hasil Kategorisasi Kekerasan Verbal Berdasarkan Urutan Kelahiran

Urutan Kelahiran

 

 

 

 

 

 

tinggi

Rendah

Pertama

51 (58,6%)

36 (41,4%)

Kedua

25 (55,6%)

20 (44,4%)

Ketiga

12 (41,4%)

17 (58,6%)

Keempat

3 (42,9%)

4 (57,1%)

Kelima

0 (0,0%)

1 (100,0%)

Keenam

0 (0,0%)

1 (100,0%)

Lain Sebagainya

1 (100,0%)

0 (0,0%)

Total

92 (53,8%)

79 (46,2%)��

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa pada urutan kelahiran anak pertama dan kedua lebih banyak mengalami kekerasan verbal tinggi ( 58,6 % dan 55,6%)dari yang rendah. Sedangkan urutan ketiga sampai ke lima lebih banyak mengalami kekerasan verbal rendah ( 58,6 %, 57,1%, 100% dan 100%).

 

H.     Hasil Kategorisasi Kepercayaan Diri Berdasarkan Data Penunjang

Tabel 15

Hasil Kategorisasi Kepercayaan Diri Berdasarkan Usia

 

Usia

Kepercayaan Diri

 

 

Tinggi

Rendah

15 Tahun

22(47,8%)

24 (52,2%)

16 Tahun

24 (34,8%)

45 (65,2%)

17 Tahun

30 (53,6%)

26 (46,4%)

Total

76 (44,4%)

95 (55,6%)

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa pada usia 15 tahun lebih banyak memilki kepercayaan diri rendah sebanyak 24 orang (52,2%) dari yang tinggi 22 orang ( 47,8%),danusia 16 tahun juga lebih banyakmengalami kepercayaan diri pada tingkat yang rendah sebanyak 45 orang (65,2%) dari yang tinggi 24 orang (34,8%).Sedangkanpada usia 17 tahun lebih banyak kepercayaan diri tinggi sebanyak 30 orang ( 53,6%) dari yang rendah 26 orang ( 45,4%) sebanyak 26 orang (46,4%).

 

Tabel 16

Hasil Kategorisasi Kepercayaan Diri Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin

Kekerasan

Verbal

 

 

Tinggi

Rendah

Laki-laki

31 (35,6%)

56 (64,4%)��

Perempuan

45 (53,8%)

39 (46,4%)

Total

76 (44,4%)

95 (55,6%)

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa pada jenis kelamis Laki � laki lebih banyak kepercayaan diri rendah sebanyak 56 orang (64,4%) dari yang tinggi 31 orang ( 35,6%). Kemudian pada perempuan lebih banyak memilki kepercayaan diri tinggi 45 orang ( 53,8%) dari yang rendah39 orang (46,4%). Berdasarkan pemaparan diatas menunjukkan bahwa laki � laki lebih banyak mengalami kepercayaan diri yang rendah dan perempuan kepercayaan diri yang tinggi.

 

Tabel 17

Hasil Kategorisasi Kepercayaan Diri Berdasarkan Urutan Kelahiran

Urutan Kelahiran

Kepercayaan Diri

 

 

 

 

 

tinggi

Rendah

Pertama

30 (34,5%)

57 (65,5%)

Kedua

22 (48,9%)

23 (51,1%)

Ketiga

17 (58,6%)

12 (41,4%)

Keempat

5 (71,4%)

2 (28,6%)

Kelima

1 (100,0%)

0 (0,0%)

Keenam

1 (100,0%)

0 (0,0%)

Lain Sebagainya

0 (0,0%)

1 (100,0%)

Total

76 (44,4%)

95 (55,6%)��

 

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa pada jenis kelamis Laki � laki lebih banyak kepercayaan diri rendah sebanyak 56 orang (64,4%) dari yang tinggi 31 orang ( 35,6%). Kemudian pada perempuan lebih banyak memilki kepercayaan diri tinggi 45 orang ( 53,8%) dari yang rendah39 orang (46,4%). Berdasarkan pemaparan diatas menunjukkan bahwa laki � laki lebih banyak mengalami kepercayaan diri yang rendah dan perempuan kepercayaan diri yang tinggi.

 

Pembahasan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan negatif antara kekerasan verbal dengan kepercayaan diri pada remaja. Berdasarkan hasil uji korelasi Pearson Product Moment kekerasan verbal dan kepercayaan diri diperoleh sig.(p) = 0,000 (p < 0,05) hipotesis penelitian diterima, yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara kekerasan verbal dengan kepercayaan diri, dengan nilai koefisien korelasi sebesar r = -0,387 yang artinya terdapat hubungan negatif antara kedua variabel. Jika kekerasan verbal yang dilakukan orang tua pada remaja tinggi, maka kepercayaan dirinya menjadi rendah. Begitu juga sebaliknya, jika kekerasan verbal yang dilakukan orang tua pada remaja rendah, maka kepercayaan dirinya menjadi tinggi. Hasil penelitian ini juga didukung oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Ulfatimah (2019) dan (Nidya, 2014) yaitu adanya hubungan negatif dan signifikan antara kekerasan verbal dan kepercayaan diri.

Menurut (Juniawati & Zaly, 2021) memang difase remaja awal berada difase masalah yang kritis, dikarenakan ia masih belum memiliki kestabilan emosi yang baik, dari hal ini para orang tua sangat berperan penting untuk membimbing anak dengan positif, tetapi sayangnya masih banyak orang tua yang tidak mengetahui dan tidak sadar mengenai bahwa perlakuan dari orang tua dapat mempengaruhi perilaku anak dan memiliki dampak yang tidak baik. Ketika orang tua melakukan suatu perilaku berupa ujaran negatif atau bisa disebut sebagai kekerasan verbal yakni seperti berujar kasar, meremehkan kemampuan anak, membandingkan anak, melampiaskan amarahnya terhadap anak, dan lain sebagainya, akan membentuk anak menjadi tidak memiliki rasa percaya diri hal ini disebabkan karena ia merasa dirinya tidak dihargai dan tidak diakui sehingga ia selalu menganggap bahwa ucapan dari orang tuanya tersebut benar. Selanjutnya sangat berbeda dengan orang tua yang selalu mendukung, memotivasi dan memberikan arahan kepada anaknya dengan baik, hal itu akan membentuk anak menjadi dihargai dan merasa bahwa dirinya diakui dan berharga sehingga munculnya rasa percaya diri.

Tercermin dari hasil uji kategorisasi yang ditunjukkan pada tabel 9 bahwa SMK Muhammadiyah 9 di Jakarta memiliki tingkat yang tinggi pada remaja awal SMK Muhammadiyah 9 yang mengalami kekerasan verbal yang dilakukan oleh orang tuanya, yaitu sebanyak (53,8%) dan memiliki kepercayaan diri yang rendah sebanyak (55,6%). Hasil ini kemungkinan bisa dipengaruhi oleh faktor ekonomi yang dinyakatan melalui hasil studi awal dari beberapa responden SMK Muhammadiyah 9. Kemudian turut mendukung kekerasan verbal yang dibuktikan dengan hasil wawancara yang menyatakan bahwa orang tua terbebani dengan biaya SPP yang mahal. Untuk biaya sekolah di SMK Muhammadiyah 9, setiap bulannya diwajibkan setiap siswa untuk membayar SPP yang dapat disebut cukup banyak berkisar lebih dari 500 ribu, masih terdapat beberapa orang tua yang memiliki hambatan untuk membayar uang SPP tersebut. Selanjutnya menurut Soetjiningsih dalam (Fitriana et al., 2015) menekankan bahwa faktor ekonomi merupakan salah satu yang dapat mempengaruhi orang tua dalam melakukan kekerasan verbal terhadap remaja, yang disertai dengan kemarahan atau kekecewaan karena ketidakberdayaan dalam mengatasi masalah ekonomi menyebabkan orang tua mudah sekali melimpahkan emosi kepada orang sekitarnya. Menurut Ahmed (dalam Septhevian, 2014)jika dibandingkan dengan sekolah lain terutama pada sekolah negeri salah satu yang berada di Jakarta ditemukan bahwa kekerasan verbal yang dilakukan oleh orang tua cenderung rendah, hal itu disebabkan salah satunya pada faktor ekonomi orang tua, yang dimana pada pengeluaran biaya sekolah negeri ditanggung oleh pemerintah, dari hal ini membuat orang tua dalam segi ekonomi merasa aman, karena pendapatan yang dihasilkannya dapat digunakan untuk kebutuhan yang lain, berbeda dengan sekolah swasta salah satunya pada SMK Muhammadiyah 9 yang sepenuhnya dibiayai oleh perorangan, sehingga orang tua diwajibkan untuk membayar keperluan sekolah, hingga biaya ujian semester dan lain sebagainya sampai tahap akhir kelulusan. Hal ini menunjukkan bahwa orang tua siswa SMK Muhammadiyah 9 memiliki tanggungan lebih banyak dibandingkan dengan sekolah negeri.

Selanjutnya pada penelitian (Farhan, Suharta, & Ratnasari, 2018) menambahkan bahwa dari faktor ekonomi orang tua dapat mempengaruhi kekerasan verbal pada remaja, terutama di masa pandemi saat ini, banyak yang mengalami krisis kesulitan dalam ekonominya, hal ini akan membuat seseorang merasakan kekecewaan yang berlebihan terutama yang sudah memiliki keluarga, orang tua berkewajiban untuk mencari nafkah, membiayai kebutuhan keluarganya, dan lain sebagainya. Sehingga hal ini tuntutan yang dilakukan pada orang tua sangat banyak, ketika pendapatan ekonomi pada orang tua tidak terpenuhi, dampaknya akan membuat orang tua tersebut melampiaskan emosi, kekecewaan dan kemarahannya tersebut pada anaknya. Hal ini menunjukkan bahwa faktor ekonomi memiliki pengaruh terhadap emosional orang tua.

Dimasa pandemi, remaja mengalami kekerasan verbal kian meningkat hal itu disebabkan karena anak secara terus menerus selalu berinteraksi di rumah tanpa melakukan kegiatan di sekolah seperti biasanya (Anna, 2020). Selanjutnya diperkuat menurut Fahrika (2020) mengatakan bahwa virus pandemi covid telah membuat Indonesia khususnya di Jakarta mengalami krisis terhadap faktor perekonomian. Dampak terhadap ekonomi diperkirakan akan besar dan dapat menyebabkan perekonomian jatuh ke dalam jurang kemiskinan, karena semakin banyaknya pengangguran akibat pandemi ini. Hal ini sering ditemukannya para pekerja khususnya orang tua yang mencari nafkah untuk keluarganya, selalu mengeluh karena faktor ekonominya yang semakin menurun, sehingga perilakunya menjadi mudah emosi dengan meledak - ledak, akibat kasus ini banyak sekali orang tua melampiaskan amarahnya terhadap anak saat dirumah (Sakroni, 2021).

Ketika anak mendapatkan perlakuan kekerasan verbal oleh orang tuanya, akan membentuk kepercayaan diri yang rendah, hal ini diawali oleh pengalaman negatif remaja di masa kecil, anak akan mengalami luka batin yang akan melekat di perasaannya, sehingga disaat tumbuh remaja dari kenangan tersebut akan membentuk rasa trauma yang dialami remaja. Menurut (Fiorentika et al., 2016) menyatakan rendahnya kepercayaan diri pada remaja akan berdampak pada perilakunya yakni seperti, tidak ingin mencoba suatu hal yang baru, merasa tidak dicintai dan tidak diinginkan dari orang-orang sekitarnya, melempar kesalahan pada orang lain, menyembunyikan perasaannya, mudah mengalami frustasi dan tertekan, dan tidak yakin terhadap kemampuan. Sehingga menunjukkan semakin tinggi rasa traumatis yang dialami pada remaja, membuat kepercayaan diri remaja cenderung menjadi rendah.

Menurut penelitian (Payer, 2018) menambahkan krisis kepercayaan diri yang rendah disebabkan karena adanya ucapan yang tidak baik dari orang tua dapat disebut dengan perlakuan kekerasan verbal, ketika orang tua melakukan tindakan kekerasan verbal seperti memarahi anak dengan kata - kata yang kasar, seperti merendahkan, mencela, dan lain sebagainya, ketika anak berada di tahap remaja bahkan sampai di fase dewasa nantinya,lebih rentan beresiko stress hingga tidak memiliki rasa percaya diri, hal ini disebabkan remaja mengakibatkan rasa trauma yang membekas pada memorinya, sehingga ketika remaja berada dirumah maupun di lingkungan sekitarnya, ia lebih memilih untuk mencari kesenangannya sendiri. Pada penelitian Ulfah (2021) mengungkapkan bahwa kekerasan verbal orang tua memiliki pengaruh terhadap pendidikan dan proses belajar pada remaja. Yang kita ketahui bahwa di lingkungan sekolah tentunya remaja diharuskan untuk mengembangkan pola belajar, meningkatkan prestasi, bersosialisasi pada teman sebaya, guru, dan lingkungan disekitar sekolah, ketika remaja memiliki kepercayaan diri yang rendah, remaja lebih memilih untuk mengasingkan diri, merasa takut dihadapan orang banyak. Pada hal ini sangat terlihat bahwa kepercayaan diri yang rendah disebabkan oleh tingkah laku orang tua melakukan kekerasan verbal.

Berdasarkan tabel 11 dan didukung dari hasil studi awal penelitian menunjukkan adanya kepercayaan diri yang rendah sebanyak 95 orang (55,6%) yang dialami pada remaja awal SMK Muhammadiyah 9. Menurut Hasmayni (2014) terbentuknya kepercayaan diri yang rendah dipengaruhi melalui tahap - tahap penting dalam keluarga dan disekolah, karena dari tahap itu lah akan membentuk tingkah laku pada remaja. Terlihat daristudi awal bahwa kepercayaan diri yang rendah disebabkan karena kurangnya motivasi dan reward dari orang tuanya, sehingga subjek merasa dirinya tidak memiliki kemampuan, tidak berdaya, memilih menghindar di kerumunan orang banyak, sulit untuk mengambil keputusan, dan masih ketergantungan terhadap orang lain, dari hal ini terlihat ketika di sekolah remaja merasa tidak nyaman mengikuti kegiatan sekolah, lebih memilih untuk bolos, hingga melanggar peraturan sekolah, dan selalu merasa tidak mampu untuk melakukan tuntutan yang ada. Pada hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan diri yang rendah dapat mempengaruhi psikis pada remaja.

Begitupun sebaliknya berdasarkan hasil dari studi awal terdapat salah satu siswa yang mempunyai kepercayaan diri yang tinggi. Pada hal ini menunjukkan tingginya kepercayaan diri salah satunya dipengaruhi atas perlakuan orang tuanya, yang dimana orang tua subjek selalu memberikan dukungan dan motivasi terhadapnya, bahkan selalu memberikan penghargaan ketika subjek selesai bersekolah, dari hal ini membuat subjek merasa senang dan sangat dihargai oleh orang sekitarnya. Dari perlakuan orang tuanya tersebut membuat subjek menjadi lebih aktif di sekolah, selalu melakukan kegiatan yang berada di sekolah, hingga prestasi subjek menjadi lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa rendahnya kekerasan verbal yang dilakukan oleh orang tuanya membuat remaja menjadi percaya diri.

Hasil dari tabel 12 menunjukkan bahwa pada usia remaja awal di SMK Muhammadiyah 9 lebih banyak mengalami kekerasan verbal pada usia 16 tahun yang berjumlah 39 (56,5%). Berdasarkan penelitian Nafisah (2021) menunjukkan bahwa remaja yang berusia 16 - 17 tahun lebih rentan mengalami kekerasan verbal yang didapatkan dari orang tuanya, yang menyebabkan remaja cenderung lebih memilih mengurung diri dibandingkan berada di lingkungan yang ramai. Selanjutnya diperkuat menurut Nova & Sari (2021) bahwa remaja yang berusia 16 tahun keatas merupakan fase menuju kematangan di tahap dewasa, yang dimana terlihat orang tua sering melakukan kekerasan verbal pada remaja diawali dari usia 16 - 17 tahun. Hal ini disebabkan karena di usianya tersebut remaja sudah mulai membentuk karakternya seperti sulit untuk diatur, timbulnya rasa egois, ingin memperoleh kebebasan, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, sehingga ketika remaja melakukan hal tersebut, orang tua secara tidak sadar memberikan hukuman kepada remaja dengan tindakan kekerasan yang berupa kekerasan verbal. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak orang tua menganggap bahwa kekerasan verbal merupakan tindakan yang wajar untuk dilakukan, tanpa berpikir akan dampak yang dihasilkannya, yang terutama akan berpengaruh terhadap aspek kepercayaan diri remaja cenderung menjadi rendah.

Salah satu faktor yang mempengaruhi kepercayaan diri yang rendah terdapat pada jenis kelamin. Berdasarkan tabel 16 menunjukkan pada gender remaja awal laki - laki di SMK Muhammadiyah 9 memiliki kepercayaan diri yang rendah sebanyak 56 (64,4%) sedangkan pada gender perempuan sebesar 39 (46,4%). Selanjutnya pada perbedaan konsep sumber rasa percaya diri pada gender dipengaruhi oleh faktor eksternal, menurut (Sarwono, 2011) menambahkan laki - laki dan perempuan mengalami perkembangan fisik dan kematangan yang berbeda, pada perubahan fisik inilah akan memberi pengaruh terhadap perkembangan jiwa seorang remaja, terutama pada tinggi dan rendahnya kepercayaan diri. Diperkuat menurut Hakim (dalam Putri, 2018) laki - laki dan perempuan memiliki rasa percaya diri yang berbeda. Bagi perempuan rentan mengalami kepercayaan diri yang tinggi hal ini dikarenakan bahwa perempuan merupakan sosok yang sensitif yang dimana ketika sedang mengalami masalah biasanya perempuan lebih banyak menceritakan dengan melampiaskan kesedihan atau kemarahannya pada orang � orang terdekatnya seperti dari teman � temannya, kerabatnya, pada hal ini ia akan membuat perasaaannya akan lebih lapang, selanjutnya dari hal itu tentunya akan adanya dukungan, support dari orang terdekatnya, yang akan membuatnya merasa diakui dan dihargai sehingga ketika ia mengalami masalah ia tidak memendam perasaannya (Adawiyah, 2020). Bagi laki - laki, lebih rentan mengalami kepercayaan diri yang rendah, hal ini dikarenakan laki � laki lebih sering memendam masalah yang dialaminya sendiri, dan ingin selalu terlihat bahwa dirinya bukan seseorang yang lemah, oleh karena itu apapun masalah yang dialaminya ia lebih memilih mengasingkan diri, dibandingkan bercerita pada orang - orang disekitarnya, sehingga banyak sekali ditemukan bahwa laki - laki lebih banyak mengalami aksi bunuh diri. Berdasarkan dari studi awal juga telah dijelaskan bahwa remaja awal di SMK Muhammadiyah 9, lebih banyak mengalami krisis kekerasan verbal sehingga menyebabkan kepercayaan diri pada laki � laki memiliki kepercayaan diri yang rendah.

Selanjutnya berdasarkan table 14 pada urutan kelahiran perlakuan kekerasan pada remaja awal di SMK Muhammadiyah 9, menduduki paling banyak berada di urutan pertama yaitu berjumlah 51 (58,6%). Menurut (Rosyida, 2013) faktor yang dapat mempengaruhi kepercayaan diri yang rendah dapat disebabkan salah satunya pada urutan kelahiran atau dapat disebut dengan urutan anak, yang dimana peneliti menekankan bahwa dalam sebuah keluarga setiap anak lahir dengan unsur yang berbeda, oleh karena itu sangat penting untuk mengetahui urutan anak seperti pada anak pertama dan seterusnya, dari hal itu anak akan menginterpretasi situasi dengan cara yang berbeda, selain itu menurut Soetjiningsih (1998) menambahkan bahwa dari setiap urutan anak memiliki perilaku yang berbeda - beda dan lebih banyak ditemukan bahwa anak pertama memiliki faktor yang lebih mudah terpengaruh terhadap tingkah lakunya terutama pada kepercayaan diri, hal itu disebabkan anak pertama lebih banyak menanggung tanggung jawab, beban dari orang tuanya. Selanjutnya diperkuat menurut (Juniawati & Zaly, 2021) menunjukkan bahwa pada gambaran kekerasan verbal anak dengan urutan pertama lebih rentan mengalami kekerasan verbal yang dilakukan oleh orang tuanya, hal ini karena anak pertama menjadi sumber harapan dari orang tuanya, orang tua biasanya selalu menuntut anaknya menjadi sempurna, sehingga ketika remaja tidak dapat memenuhi ekspektasi yang dituntut oleh orang tuanya, orang tua secara tidak sadar melampiaskan amarah terhadap anaknya, sehingga sangat berdampak pada psikis remaja terutama pada aspek kepercayaan diri. Sesuai berdasarkan studi awal menunjukkan bahwa anak pertama lebih banyak mendapatkan perlakuan kekerasan verbal dari orang tuanya yang mempengaruhi rasa percaya diri.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan yaitu hipotesis diterima bahwa ada hubungan negatif signifikan (sig. p 0,000 dan r-0,387) antara kekerasan verbal dengan kepercayaan diri remaja awal di SMK Muhammadiyah 9 Jakarta, yang artinya semakin tinggi kekerasan verbal yang diterima oleh remaja awal di SMK Muhammadiyah 9 dari orang tuanya, maka semakin rendah tingkat kepercayaan dirinya . Juga semakin rendah kekerasan verbal yang diterima remaja awal di SMK Muhammadiyah 9, maka semakin tinggi tingkat kepercayaan dirinya. Remaja awal di SMK Muhammadiyah 9 lebih banyak mengalami kekerasan verbal tinggi (53,8%) dan memilki kepercayaan diri yang rendah ( 55,6%). remaja awal SMK Muhammadiyah 9 usia 16 dan 17 tahun, lakilaki , anak urutan pertama dan kedua lebih banyak mengalami kekerasan verbal tinggi. Sedangkan remaja awal di Siswa SMK Muhammadiyah 9 usia 17 tahun, perempuan, urutan anak ke tiga, empat dan lima lebih banyak memilki kepercayaan diri tinggi.

 

BIBLIOGRAFI

 

Adawiyah, Dwi Putri Robiatul. (2020). Pengaruh Penggunaan Aplikasi TikTok Terhadap Kepercayaan Diri Remaja di Kabupaten Sampang. Jurnal Komunikasi, 14(2), 135�148.

 

De Vega, Asla, Hapidin, Hapidin, & Karnadi, Karnadi. (2019). Pengaruh Pola Asuh dan Kekerasan Verbal terhadap Kepercayaan Diri (Self-Confidence). Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(2), 433�439.

 

Farhan, Zahara, Suharta, Dede, & Ratnasari, Devi. (2018). Faktor-faktor yang melatarbelakangi orang tua melakukan verbal abuse pada anak usia sekolah 6-12 tahun di Kabupaten Garut. Jurnal Keperawatan Malang, 3(2), 101�108.

 

Faridah, Nenden, & Aeni, Ani Nur. (2016). Pendekatan open-ended untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif matematis dan kepercayaan diri siswa. Jurnal Pena Ilmiah, 1(1), 1061�1070.

 

Fiorentika, Kasa, Santoso, Djoko Budi, & Simon, Irene Maya. (2016). Keefektifan teknik self-instruction untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa SMP. Jurnal Kajian Bimbingan Dan Konseling, 1(3), 104�111.

 

Fitriana, Yuni, Pratiwi, Kurniasari, & Sutanto, Andina Vita. (2015). Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku orang tua dalam melakukan kekerasan verbal terhadap anak usia pra-sekolah. Jurnal Psikologi Undip, 14(1), 81�93.

 

Hidayati, Khoirul Bariyyah, & Farid, M. (2016). Konsep diri, adversity quotient dan penyesuaian diri pada remaja. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia, 5(02), 137�144.

 

Juniawati, Devi, & Zaly, Nedra Wati. (2021). Hubungan Kekerasan Verbal Orang Tua Terhadap Kepercayaan Diri Pada Remaja. Buletin Kesehatan: Publikasi Ilmiah Bidang Kesehatan, 5(2), 53�63.

 

Komara, Indra Bangkit. (2016). Hubungan antara kepercayaan diri dengan prestasi belajar dan perencanaan karir siswa. Jurnal Psikopedagogia, 5(1), 33�42.

 

Nidya, Ninda Sekar. (2014). Hubungan antara kekerasan verbal pada remaja dengan kepercayaan diri. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

 

Payer, Mekhael Kevin. (2018). Pengaruh Kekerasan Verbal Orang Tua dalam Keluarga terhadap Kepercayaan Diri Anak Usia 6-12 Tahun di GKII Rhema Makassar. Sekolah Tinggi Theologia Jaffray.

 

Pratiwi, Iffa Dian, & Laksmiwati, Hermien. (2016). Kepercayaan Diri dan Kemandirian Belajar Pada Siswa SMA Negeri �X. Jurnal Psikologi Teori Dan Terapan, 7(1), 43�49.

 

Putri, Ervi Laily Mujitabah. (2015). Perbedaan kepercayaan diri remaja akhir ditinjau dari persepsi terhadap pola asuh orang tua. Character: Jurnal Penelitian Psikologi., 3(3).

 

Putri, Hazrina Syahirah, & Sugandi, Mohammad Syahriar. (2021). Pengaruh Kekerasan Komunikasi Verbal Orang Tua Terhadap Kepercayaan Diri Remaja Di Provinsi Dki Jakarta. EProceedings of Management, 8(1).

 

Rosyida, Imami. (2013). Perbedaan tingkat kepercayaan diri (self confident) ditinjau dari posisi urutan kelahiran (birthorder) mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Maliki Malang. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

 

Sakroni, Sakroni. (2021). Kekerasan Terhadap Anak Pada Masa Pandemi Covid-19. Sosio Informa: Kajian Permasalahan Sosial Dan Usaha Kesejahteraan Sosial, 7(2).

 

Sarwono, Sarlito W. (2011). Psikologi Remaja edisi revisi. Jakarta: Rajawali Pers.

 

Septhevian, Rani. (2014). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Orangtua Dalam Memilih Sekolah Dasar (SD). UAJY.