HUBUNGAN KEKERASAN VERBAL ORANG TUA
DENGAN KEPERCAYAAN DIRI REMAJA AWAL DI SMK MUHAMMADIYAH 9 JAKARTA
Laura Oktania1, Lita
Patricia Lunanta2, Amalia Adhandayani3, Aldian
Yusup4
Universitas
Esa Unggul Jakarta1,2,3
Institut
Pendidikan dan Bahasa INVADA, Cirebon4
[email protected]1, [email protected]2, [email protected]3,
[email protected]4
|
Received�
:� 14-07-2022 |
Accepted�
:� 23-07-2022 |
Published� : 27-07-2022 |
|
|
Abstract |
|||
|
Keywords: Verbal Violence, Self Confidence, Early Teens |
Introduction: Verbal violence is violent behavior that
can offend and hurt feelings so that it will have an emotional wound for
those who experience it in the form of harsh, threatening, scary, insulting,
insinuating, cursing, comparing or exaggerating other people's mistakes. The
impact of this verbal violence makes teenagers tend to lack self-confidence. Objective: The purpose of this study
was to determine the relationship between verbal violence and self-confidence
in early adolescents at SMK Muhammadiyah 9 Jakarta. Methods: This research is a correlation research with random
sampling technique as many as 171 early teenage students of SMK Muhammadiyah
9 in Jakarta. Verbal violence measuring instrument used consisted of 20 valid
items with reliability (α) = 0.933, and the self-confidence scale
consisted of 23 valid items with reliability (α) = 0.889. The measuring
instrument used is the verbal violence scale. Results: The results showed that there was a negative
relationship between verbal violence and self-confidence in early adolescents
at SMK Muhammadiyah 9 Jakarta, with a correlation value of - 0.387 and sig p
0.000. Thus, the higher the early teens at SMK Muhammadiyah 9 get verbal
abuse from their parents, the lower their self-confidence. Conclusion: Early adolescent students
at Muhammadiyah 9 Vocational High School experienced more verbal violence
(53.8%) and had low self-confidence (55.6%). Ages 16 and 17 years, boys,
children in the first and second order experienced higher levels of verbal
violence. While the age of 17 years, women, the order of the third, fourth
and fifth children have more high self-confidence |
||
|
Abstrak |
|||
|
Kata kunci: Kekerasan Verbal, Kepercayaan Diri, Remaja Awal |
Pendahuluan: Kekerasan
verbal merupakan perilaku kekerasan yang dapat menyinggung dan menyakitkan
perasaan sehingga akan berdampak luka batin bagi yang mengalaminya berupa
dengan kata-kata berujar kasar, mengancam, menakutkan, menghina, menyindir,
memaki, membandingkan atau membesar-besarkan kesalahan orang lain. Dampak
dari kekerasan verbal ini membuat remaja cenderung kurang memiliki rasa yang
percaya diri. Tujuan: Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kekerasan verbal dengan
kepercayaan diri remaja awal di SMK Muhammadiyah 9 Jakarta. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian
korelasi dengan teknik random sampling sebanyak
171 siswa remaja awal SMK Muhammadiyah 9 di Jakarta. Alat ukur kekerasan
verbal yang digunakan terdiri dari 20 item valid dengan reliabilitas (α)
= 0,933, dan skala kepercayaan diri terdiri dari 23 item valid dengan
reliabilitas (α) = 0,889. Alat ukur yang digunakan adalah skala
kekerasan verbal. Hasil: Hasil
penelitian menunjukan ada hubungan negatif antara kekerasan verbal dengan
kepercayaan diri pada remaja awal di SMK Muhammadiyah 9 Jakarta, dengan nilai
korelasi - 0,387 dan sig p 0,000. Dengan demikian jika semakin tinggi remaja
awal di SMK Muhammadiyah 9 mendapatkan kekerasan verbal dari orang tua, maka
semakin rendah kepercayaan dirinya. Kesimpulan:
Siswa remaja awal di SMK Muhammadiyah 9 lebih banyak mengalami kekerasan
verbal tinggi (53,8%) dan memilki kepercayaan diri yang rendah (55,6%). Usia
16 dan 17 tahun, laki-laki, anak urutan pertama dan kedua lebih banyak
mengalami kekerasan verbal tinggi. Sedangkan usia 17 tahun, perempuan, urutan
anak ke tiga, empat dan lima lebih banyak memilki kepercayaan diri tinggi |
||
Corresponding
Author: Laura Oktania
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Remaja merupakan masa dimana seseorang
masih mencari jati diri atau identitas yang sebenarnya. Menurut Hurlock dalam (Widyaningtyas
& Farid, 2014) masa remaja merupakan fase terjadinya ketidakstabilan emosi
dengan kata lain sikapnya yang mudah berubah-ubah, akibat perkembangan psikis
dan fisik. Di fase remaja membutuhkan rasa pengakuan dan diterima oleh orang �
orang disekitarnya. Dengan adanya penerimaan sosial, akan menjamin rasa aman
dan rasa percaya diri, sebab penerimaan dari orang � orang disekitarnya
tersebut dirinya menganggap bahwa itu sebagai dukungan dan perhatian dari orang
� orang disekitarnya (Irena, 2019). Dengan demikian hal ini menunjukkan
perilaku remaja yang masih disebut sebagai menuju proses kematangan ke tahap
dewasa, jika adanya pengakuan dari lingkungan sekitarnya perilaku tersebut akan
meningkatkan rasa yakin terhadap dirinya sendiri.
Remaja mulai berpikir mengenai
keinginannya, mulai membedakan dirinya dengan orang lain, dan mulai menguji dan
memecahkan masalah yang dihadapinya sendiri.�
Sejalan dengan itu menurut Sarwono dalam (Nidya, 2014) remaja sangat membutuhkan dorongan
atau motivasi dari lingkungan sekitarnya, harus memulai pola hidup yang
mandiri, kemampuan untuk memiliki serta mencapai sesuatu yang diinginkannya,
serta diharapkan dapat tertanam rasa percaya dirinya untuk mengarahkan dirinya
dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa masa remaja merupakan tahap perkembangan
yang sangat membutuhkan arahan dari orang � orang disekitarnya, agar sikap yang
dilakukannya kelak tumbuh ke arah yang positif dan percaya diri meniti masa
depannya.
Hal tersebut juga sangat diharapkan
oleh Kepala Sekolah, para guru dan orang tua murid di SMK Muhammadiyah 9 yaitu
menjadi siswa yang disiplin, unggul, menunjukkan prestasi dan mengharumkan nama
sekolahnya. SMK Muhammadiyah 9 Jakarta adalah SMK swasta yang berorientasi pada
nilai � nilai religiusitas, dengan menerapkan peraturannya yang ketat, yang
mewajibkan seluru siswa perempuan untuk memakai hijab dan siswa laki � laki
berpakaian sopan dan rapih. Selain itu, dalam system pembelajaran yang
digunakan oleh SMK tersebut tidak hanya kurikulum sekolah pada umumnya, tetapi
juga menambah mata pelajaran yang berkaitan dengan agama islam, yakni ilmu
fiqih, hadist dengan membuka empat jurusan yakni, akuntansi, dan masing-masing
dua kelas pada jurusan perkantoran dan multimedia. Karena sekolah ini dikelola
pihak swasta. Maka biaya operasional sekolah bergantung pada jumlah penerimaan
siswa. Karena sekolah ini dikelola pihak swasta, maka biaya operasional sekolah
bergantung pada jumlah penerimaan siswa. Para siswa disekolah ini wajib
membayar uang yang cukup besar perbulannya yaitu 500 ribu rupiah. Uang
pembayaran sekolah ini dirasakan cukup memberatkan bagi beberapa orang tua
seperti yang diceritakan oleh siswa R (Laki � laki) berusia 17 tahun berikut
ini
�
setiap aku minta uang spp sama orang tua aku, aku ngerasa aku ngomongnya baik �
baik aja, aku gatau setiap aku minta uang buat sekolah, orang tua aku selalu
marahi aku, kadang aku dibilang gapernah ngertiin orang tua aku, kadang aku
sampe dibilang �nyusahin aja jadi anak� dan pernah ngomong juga ke aku kalo dia
nyesel ngelahirin aku, karena aku minta uang spp terus, semenjak dari kalimat
orang tua aku itu ngebuat aku jadi sakit hati sampai sekarang kak, atau karena
aku anak pertama jadi aku diharusin buat nyari duit atau gimana ya kak, kadang
aku suka bingung, kadang kalau udah sampe sekolah kalo ngeliat temen � temen
yang ekonominya lancar aja, aku ngerasa minder, dari situ aku suka ga berani
mau ngapa ngapain, aku pernah dipanggil guru BK karena prestasi aku menurun,aku
gapernah ikut kegiatan sekolah walaupun itu wajib, jadi lebih banyak diem aja
disekolah, kadang pernah pura � pura sakit biar dapet izin untuk pulang, biar
aku bisa main, ngeluapin semuanya sama temen � temen aku gitu kak, karena dari
situ aku ngerasa lebih baik�.
Dari hasil wawancara diatas diduga
siswa R, tidak memiliki rasa percaya diri yang diakibatkan oleh ucapan yang
dilontarkan orang tua yang membuat siswa tersebut terus mengingat sehingga
membekas di perasaannya sehingga berdampak pada perilakunya yaitu menjadi
menutup diri, merasa minder dengan orang � orang disekitarnya, prestasi nya
menjadi menurun, tidak nyaman berada disekolah.
Berbeda dengan siswa SMK Muhammadiyah
9 yang memiliki rasa kepercayaan diri yang tinggi, fenomena ini diketahui
berdasarkan wawancara dengan seorang siswa kelas X yang berusia 15 tahun, yang
mengalami kepercayaan diri yang tinggi, dapat dilihat pada wawancara petikan
berikut:
Siswa C (Perempuan) yang berusia 15
tahun�
�aku
dari tiga bersaudara ka, kebetulan aku anak terakhir, aku sih ga pernah kak
dikasarin kaya gitu, soalnya orang tua aku selalu ngasih kemauan aku,� misalnya aku pengen sesuatu langsung dibeliin
sama orang tua aku, padahal aku cuma pengen biasa aja ga kepengen banget sampe
nangis gitu, kalo pas disekolah sih aku selalu ikut kegiatan yang ada di smk
muhammadiyah sih kak, kaya apapun kegiatannya aku ikut karena orang tua aku
suka aja sih aku ikut kegiatan apa aja, selalu dukung, orang tua aku seneng -
seneng aja, kadang kalau aku abis pulang dari kegiatan sekolah tiba - tiba
orang tua aku ngasih makanan lah, coklat gitu deh kak, terus selama disekolah
aku suka ikut osis gitu gitu sih kak, kaya jadi panitia ketua kegiatan gitu
kak�
Dari hasil wawancara diatas, diduga
siswa C memiliki rasa percaya diri yang tinggi, hal tersebut dilihat dari
pengakuan subjek dengan selalu diberikan dukungan, motivasi dan penghargaan
oleh orang tuanya, tidak memiliki konflik terhadap orang tuanya, sehingga
membuat subjek memiliki rasa percaya diri. Pada kegiatan sekolah perilaku
subjek selalu aktif yakni, mengikuti berbagai kegiatan di sekolah dan merasa
senang apa yang dilakukannya tanpa ada tuntutan dari orang tua, karena orang
tua nya selalu mendukungnya. Selanjutnya hal ini juga dialami pada siswa T
(Perempuan) yang berusia 16 tahun, yaitu sebagai petikan berikut
�
aku dari dua bersaudara, aku anak pertama ka, aku mulai aja ya kak, aku sih begini, semenjak orang tua aku
selalu marah � marah ke aku terus, kadang kalau mereka abis balik kerja tiba �
tiba aku ga ngerasa salah ada aja yang buat aku salah sampe aku dimarahi, kalau
aku dapat nilai jelek, orang tua aku selalu maksain aku harus dapet nilai yang
bagus kalau engga, kadang aku di katain kasar lah, dibentak, kadang sering
banget aku sampe dibandingin sama tetangga yang anaknya pinter, dari situ aku
ngerasa sampe saat ini aku jadi takut kalau dikeramaian, takut berinteraksi
gitu kak sama yang lain, kalau diajak ikut kegiatan sekolah aku gaberani buat� ikut, aku takut direndahin, kaya gapunya rasa
percaya diri gitu kak, semenjak itu juga prestasi aku selalu menurun, bahkan
sampe aku pernah cabut dari sekolah, kabur, ngelanggar peraturan disekolah,
karena aku mau nenangin pikiran aku gitu kak biar tenang, karena aku sempet
bingung sama diri aku sendiri kaya yang salah dari diri aku apa gitu kak,
sekarang yang aku rasain kaya trauma takut, seperti tertekan, dan yang ngalamin
kaya gini disekolah aku cukup banyak kak, biasanya yang aku tau karena biaya
spp sih, mungkin karna efek corona apa gimana ya kak�.
Dari hasil wawancara diatas, diduga
siswa T tidak memiliki rasa percaya diri yang diakibatkan atas perlakuan orang
tuanya yang bersikap negatif. Hal tersebut dilihat dari pengakuan siswa ketika
sulit untuk menjalin relasi dengan orang lain dan lebih menutup diri dari
relasi sosial dan tidak memiliki ketertarikan untuk berpartisipasi dengan
aktivitas di lingkungannya, serta tidak mampu mengekspresikan dirinya, prestasi
menjadi menurun, sehingga juga berdampak ia sempat melanggar peraturan sekolah
seperti membolos, cabut dari sekolah karena untuk menenangkan pikirannya, dan
bahkan sampai saat ini merasakan rasa trauma yang mendalam.
Berdasarkan data Kementerian
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada artikel Anna (2020) selama
pandemi covid kekerasan pada anak cenderung meningkat sebanyak 33,8 % yang
mengalami kekerasan verbal yang dilakukan orang tua. Adapun kekerasan verbal
yang dilakukan, antara lain berbicara kasar, melampiaskan kekecewaan kepada
anak, menyudutkan dan merendahkan anak. Ujaran negatif yang dilontarkan oleh
orang tua, akan berpengaruh pada rendah kepercayaan diri pada anak. Sejalan
dengan (Ervi Laily Mujitabah Putri, 2015)menambahkan krisis kepercayaan diri
lebih banyak terjadi pada usia remaja 13 � 17 tahun, dengan persentase sebesar
50,2%. Data ini menunjukkan bahwa kekerasan verbal yang dilakukan orang tua
terhadap remaja memiliki hubungan dengan kepercayaan diri.
Begitu pula artikel yang ditulis
Prawira (2018) menunjukkan bahwa berkisar 56 % remaja di Indonesia mengalami
tingkat kategori kepercayaan diri yang rendah. Sejalan dengan itu menurut (Hazrina Syahirah Putri & Sugandi, 2021)krisis kepercayaan diri salah satunya
diakibatkan oleh kekerasan verbal yang dilakukan oleh orang tua, menurut badan
statistika (Hazrina Syahirah Putri & Sugandi, 2021) bahwa kelompok usia remaja yang
berusia 13 � 17 tahun memiliki kasus terbanyak pada kekerasan verbal yang
dilakukan oleh orang tua. Pada KPAI tercatat kekerasan verbal pada anak tahun
2011-2018 disebut sebagai kekerasan verbal yang dilakukan oleh orang tua
tertinggi yang berada di DKI Jakarta, hal ini menunjukkan remaja awal sangat
memiliki pengaruh terhadap krisis kepercayaan diri.
Kekerasan verbal yang dilakukan oleh
orang tua terhadap anak ketika anak tumbuh remaja memiliki pengaruh yang
penting, sebab kekerasan yang berbentuk ucapan dan kata-kata yang bersifat
negatif akan diingat oleh anak dalam memorinya, sehingga akan berdampak pada
perilakunya hingga ia tumbuh remaja. Ucapan menyakitkan di masa anak ini juga
akan terinternalisasi ke dalam diri anak, menanamkan pemikiran bahwa apa yang
diucapkan orang tuanya benar, sehingga di masa remaja anak akan membentuk
perilaku seperti mudah cemas, dan tidak percaya diri (Choirunnisa dalam
Fitriani & Erniawati, 2020; Lestari dalam Livana & Anggraeni, 2018;
Wulandari & Nurwati, 2018). Dengan demikian hal tersebut mengakibatkan
remaja mengalami rasa luka batin sehingga memicu adanya rasa takut atau minder
akan kejadian negatif di masa lalunya, sehingga menganggap dirinya rendah.
Selanjutnya menurut Lestari (2016)
mengatakan remaja yang mengalami kekerasan verbal yang dilakukan orang tua akan
menimbulkan dampak luka yang lebih dalam pada kehidupan perasaan anak,
diantaranya, anak menjadi tidak peka terhadap perasaan orang lain, mengganggu
perkembangan anak, anak menjadi agresif, adanya gangguan emosi yang mudah
meledak-ledak, hubungan sosial menjadi terganggu, kepribadian sociopath atau antisocial personality disorder, menciptakan lingkaran setan dalam
keluarga, rendahnya motivasi belajar, bahkan sampai bunuh diri. Dengan demikian
akan hal ini menunjukkan bahwa dampak dari kekerasan verbal sangat membahayakan
karena sangat merugikan diri sendiri bahkan nyawa.
Kepercayaan diri yang tinggi terbentuk
dari adanya pengakuan dan penerimaan dari orang � orang disekitarnya, selalu
mendapatkan dukungan dan support dari orang sekitarnya terutama pada orang
tuanya dengan membimbing anaknya dengan memberikan perhatian dan kasih sayang
yang baik, dan dukungan yang bersifat positif. (Faridah & Aeni, 2016) mengemukakan bahwa kepercayaan diri
merupakan sikap yakin terhadap diri sendiri, bahwa dirinya mampu dan bisa untuk
mengembangkan kemampuannya dengan maksimal, mampu memiliki kemampuan untuk
mencapai tujuan yang ingin ia capai, seperti mendapatkan prestasi di sekolah,
mewujudkan cita-citanya, dan lain sebagainya. Menurut (De Vega, Hapidin, & Karnadi, 2019) mengatakan seseorang yang memiliki
kepercayaan diri yang tinggi, cenderung memiliki perasaan yang positif terhadap
dirinya, seperti memiliki dorongan dan motivasi untuk sukses. Hal ini
menunjukkan bahwa kepercayaan diri yang tinggi dapat mengubah perilaku
seseorang ke hal yang positif, yakni seperti mampu bersikap optimis terhadap
suatu hal yang akan dihadapinya.
Sedangkan terbentuknya kepercayaan
diri yang rendah disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya dipengaruhi
oleh pengalaman negatif remaja di masa kecil. Pengalaman remaja di masa kecil
akan membekas pada kenangannya. Kenangan negatif tersebut akan memicu rasa
trauma pada remaja, salah satunya pada aspek kepercayaan diri.� Menurut (Fiorentika, Santoso, & Simon, 2016) rendahnya kepercayaan diri pada
remaja akan berdampak pada perilakunya yakni seperti, tidak ingin mencoba suatu
hal yang baru, merasa tidak dicintai dan tidak diinginkan dari orang-orang
sekitarnya, melempar kesalahan pada orang lain, menyembunyikan perasaannya,
mudah mengalami frustasi dan tertekan, dan tidak yakin terhadap kemampuannya.
Sehingga menunjukkan semakin tinggi rasa traumatis yang dialami pada remaja,
membuat kepercayaan diri remaja cenderung menjadi rendah.
Menurut Taylor (dalam Wahyuni, 2013)
kepercayaan diri merupakan salah satu aspek kepribadian yang penting dalam
perkembangan remaja. Kepercayaan diri yang dimiliki remaja berfungsi untuk
menghargai dirinya sendiri dan mampu memberikan penghargaan terhadap
kemampuannya. Menurut Hakim dalam (Pratiwi & Laksmiwati, 2016) kepercayaan diri merupakan keyakinan
yang menjadikan individu mempunyai penilaian positif terhadap dirinya untuk
melakukan suatu tujuan yang diharapkannya. Individu yang memiliki tingkat
kepercayaan diri yang tinggi mampu mengembangkan pikiran yang positif, tanpa
harus bergantung pada orang lain. Dengan kata lain kepercayaan diri merupakan
suatu kemampuan yang dimiliki pada seseorang akan dan yakin dengan kemampuannya
sendiri untuk melakukan suatu tindakan yang diinginkannya.
Menurut Hurlock (dalam Hidayati & Farid, 2016) remaja dibagi dalam dua tipe, yaitu
remaja awal yang berusia 13-17 tahun dan remaja akhir yang berusia 1718 tahun.
Pada fase remaja awal lebih rentan mengalami risiko pada tindakan kekerasan
salah satunya yaitu kekerasan komunikasi yang tidak efektif pada orang tua,
sebab pada fase remaja awal cenderung mengalami berbagai masalah baik internal
atau eksternal, dalam segi emosi dan perasaan yang masih belum stabil, dan masa
remaja awal merupakan masalah kritis, mempunyai banyak masalah, lebih
emosional, mulai mengembangkan pikiran baru, mudah gelisah, suka berkhayal,
menyendiri dan mulai timbulnya rasa kurang percaya diri Gunarsa, dkk (dalam
Saputro, 2017). Berdasarkan data ini menunjukkan bahwa dalam fase remaja awal
memiliki resiko yang tinggi terhadap rasa percaya dirinya.
Remaja sangat diharapkan dapat
mengontrol dirinya, dan mengetahui baik buruknya dampak dari kegiatan
bersosialisasi atau berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Oleh karena itu,
remaja dituntut untuk bias memilih lingkungan yang besifat positif, agar
perilakunya pun menjadi lebih positif ke depannya. Namun, jika remaja memilih
lingkungan negatif seperti tidak adanya penerimaan dan pengakuan terhadap
dirinya, ia akan cenderung merasa dirinya minder. Selain itu, remaja harus
selalu waspada dan mengantisipasi terjadinya perilaku orang lain yang tidak
menyenangkan atau kekerasan. Dengan kata lain perilaku remaja sangat
dipengaruhi orang- orang terdekatnya. Salah satu contoh public figure berusia
remaja yang memiliki rasa kepercayaan diri yang tinggi, yaitu Cinta Rahmania
Putri Khairunnisa atau bisa disebut dengan Cinta Kuya. Ia merupakan anak dari
seorang aktor bernama Surya Utama atau yang dikenal dengan sebutan Uya Kuya.
Cinta Kuya merupakan seorang remaja yang baru menginjak usia 17 tahun, akan
tetapi untuk anak seusianya ia termasuk remaja yang memiliki kepercayaan diri
yang tinggi, sebab dari sejak kecil sampai sejak dini orang tuanya selalu
mengarahkan hal yang positif, seperti selalu memberikan dukungan dan motivasi
dalam kondisi apapun kepada anaknya, tanpa harus melakukan tindakan kekerasan
atau paksaan. Dari kepercayaan dirinya yang tinggi terlihat sejak kecil ia
sudah mendapatkan prestasi berupa penghargaan sebagai pesulap tingkat nasional
hingga di kancah internasional, menciptakan lagu bahkan penyanyi tanah air yang
cukup terkenal, dan terpilih disalah satu sekolah di New York (Rifa, 2011). Hal ini menunjukkan bahwa anak yang
mendapatkan dukungan positif dari orang � orang disekitarnya terutama dari
orang tua, rasa percaya dirinya akan meningkat.
Berdasarkan wawancara yang dipaparkan
di atas bahwa faktor eksternal salah satunya yaitu faktor ekonomi yang rendah
dapat memicu orang tua melontarkan ucapan yang negatif pada remaja, yang
menyebabkan kepercayaan diri pada remaja menjadi menurun, yang disertai dengan
kemarahan atau kekecewaan karena ketidakberdayaan dalam mengatasi masalah
ekonomi menyebabkan orang tua mudah sekali melimpahkan emosi kepada orang
sekitarnya, terutama pada anak, sehingga ketika orang tua sedang dilanda
kekurangan ekonomi, biasanya ia cenderung melampiaskan seluruh emosinya kepada
anak, walaupun anak tidak mempunyai salah, tanpa melihat dampak yang akan
terjadi pada perilaku anak nantinya, Soetjiningsih dalam (Fitriana, Pratiwi, & Sutanto, 2015)
Menurut (Komara, 2016) kepercayaan diri dipengaruhi oleh
faktor internal dan eksternal. Pada faktor internal, kepercayaan diri
dipengaruhi oleh konsep diri yang tertanam pada diri individu sebagai motivasi
untuk melakukan suatu perubahan sehingga terlihat dalam tingkah lakunya. Selanjutnya
pada faktor eksternal terjadi berdasarkan pengalaman dari perilaku orang -
orang disekitarnya, yaitu dapat berasal dari lingkungan sekolah maupun
lingkungan keluarga. Pada faktor eksternal kalangan remaja lebih banyak
mengalami krisis kepercayaan diri, sebab dari lingkungan terdekatnya remaja
lebih banyak bersosialisasi pada keluarga, saudara, guru dan teman sebaya,
sehingga akan membentuk tingkah laku yang dialami berdasarkan pengalaman remaja
tersebut. Berdasarkan hasil yang dijelaskan bahwa faktor eksternal memiliki
pengaruh yang tinggi, sebab interaksi sosial dan relasi interpersonal yang
dimiliki remaja mampu mempengaruhi tingkat kepercayaan dirinya.
Menurut Afiatin & Andayani (1996)
pada usia remaja seringkali individu mengalami perubahan mental yang
dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Hal ini dipengaruhi oleh interaksi sosial
yang dilakukan pada lingkungan. Saat interaksi sosial menghasilkan umpan balik
yang positif, kepercayaan diri pada remaja meningkat. Sebaliknya, saat
interaksi sosial menghasilkan umpan balik yang negatif, maka kepercayaan diri
akan turun. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan diri remaja bergantung pada
interaksi sosialnya, terutama dengan lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga
merupakan lingkungan sosial pertama pada individu, karena lingkungan keluarga
merupakan wadah utama untuk berinteraksi salah satunya yang berdampak pada
aspek kepercayaan diri. Data ini menunjukkan lingkungan keluarga memiliki
pengaruh yang kuat pada kepercayaan diri.
Berdasarkan artikel dari Anna (2020)
juga menunjukkan bahwa lingkungan keluarga terutama pada hubungan orang tua
dengan remaja, memiliki relasi yang cukup intens, sehingga berpengaruh pada
aspek kepercayaan diri, yang diperoleh melalui proses interaksi sosial pada
remaja. Interaksi sosial yang tidak sempurna seperti halnya dengan membentak
anak, berujar nada yang tinggi, membandingkan anak, merendahkan anak, menghina
anak, meremehkan anak, berkata tidak sewajarnya pada anak. Ucapan�ucapan
negatif yang dilontarkan orang tua terhadap anak dapat dikategorikan sebagai
bentuk kekerasan verbal. Menurut reporter Rifa (2020) menambahkan bahwa jumlah
anak yang mengalami kekerasan verbal oleh orang tuanya sebanyak 49,2 juta jiwa.
Hal ini menunjukkan rendahnya dukungan sosial yang didapatkan remaja dari
lingkungan keluarganya, sehingga berpengaruh pada menurunnya kepercayaan diri
(Afiatin & Andayani, 1998). Sebab itu faktor kekerasan verbal yang
dilakukan orang tua menurunkan kepercayaan diri pada remaja.
Berdasarkan fenomena yang sudah
dibahas diatas terlihat bahwa kepercayaan diri adalah faktor yang penting dalam
perkembangan dan pertumbuhan pada remaja, karena faktor dari lingkungan sekitar
khususnya dari lingkungan keluarga berpengaruh pada kepercayaan diri remaja
untuk kedepannya. Selanjutnya, bagaimana seorang remaja itu bisa memiliki
kepercayaan diri yang baik sangat berkaitan dengan lingkungan yang paling dekat
yaitu keluarga khususnya orang tua. Peneliti juga menduga bahwa remaja yang
sering mendapatkan perlakuan kekerasan verbal dari lingkungan terdekat
khususnya orang tua, akan mempengaruhi kepercayaan dirinya sehingga, semakin
tinggi kekerasan verbal maka kepercayaan diri semakin menurun, maka sebaliknya
jika semakin rendah kekerasan verbal maka kepercayaan diri semakin tinggi.
Mempertimbangkan pentingnya kepercayaan diri untuk perkembangan remaja serta
kontribusi lingkungan sekitar dalam pembentukannya terutama pada lingkungan
keluarga khususnya orang tua, sehingga peneliti memutuskan untuk melakukan
penelitian untuk mengkaji hubungan antara kekerasan verbal yang dilakukan orang
tua terhadap remaja.
METODE
PENELITIAN
Dalam penelitian ini peneliti
menggunakan metode kuantitatif yang bersifat non experimental, alasan peneliti
menggunakan rancangan penelitian tersebut karena ingin mengetahui hubungan
tinggi dan rendah antara kekerasan verbal dengan kepercayaan diri pada remaja
awal di SMK Muhammadiyah 9 Jakarta. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa
SMK Muhammadiyah 9 Jakarta dari tingkatan kelas X, XI dan XII, dengan jumlah
total sebanyak 171 siswa, dengan menggunakan teknik random sampling. Jumlah
sampel didapat dari rumus Isaac Michael (Sugiyono, 2011).
Peneliti memodifikasi kisi � kisi alat
ukur yang mengacu pada kekerasan verbal untuk disesuaikan dengan karakteristik
partisipan (Siregar, 2020) yaitu tidak sayang dan dingin, intimidasi,
mengucilkan atau mempermalukan, mengkambing hitamkan, dan hukum ekstrem.
Terdapat 10 aitem gugur dari 30 aitem dan memperoleh reliabilitas sebesar
0,933. Selanjutnya peneliti juga memodifikasi kisi � kisi alat ukur kepercayaan
diri yaitu sikap ambisi, kemandirian, optimism, perasaan aman, toleransi, dan
keyakinan akan diri sendiri. Terdapat 11 aitem yang gugur dari 34 aitem dan
memperoleh reliabilitas sebesar 0,889. Peneliti menggunakan validitas kontruk
(construct) dengan teknik korelasi Pearson Product Moment. Reliabilitas alat
ukur pada penelitian ini akan diuji dengan teknik internal consistency dua kali
putaran dengan rumus Alpha Cronbach ≤ 0,7 (Sugiyono 2016).� Teknik analisis data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah frekuensi, kategorisasi, dan tabulasi silang.
HASIL DAN
PEMBAHASAN
A.
Gambaran Responden Penelitian
1.
Usia
Tabel 1
Gambaran
Subjek Berdasarkan Usia
|
Usia |
Frekuensi |
Presentase |
|
15 Tahun |
46 |
26.9% |
|
16 Tahun |
69 |
40.4% |
|
17 Tahun |
56 |
32.7% |
|
Total |
171 |
100% |
�
Berdasarkan
data yang diperoleh pada tabel 1 dapat dilihat bahwa responden paling banyak
dengan usia 16 tahun berjumlah 69 responden (40,4%), usia 17 tahun berjumlah 56
responden (32,7%), dan yang paling sedikit dengan usia 15 tahun yang berjumlah
46 responden (26,9%).
2.
Tingkatan
Kelas
Tabel 2
Gambaran Subjek Berdasarkan
Tingkatan Kelas
|
Tingkatan
Kelas |
Frekuensi |
Presentase |
|
X
(sepuluh) |
55 |
32.2% |
|
XI
(Sebelas) |
70 |
40.9% |
|
XII
(Dua Belas) |
46 |
26.9% |
|
Total |
171 |
100% |
Berdasarkan
data yang diperoleh pada tabel 2 dapat dilihat bahwa responden paling banyak
dengan tingkatan kelas XI (Sebelas) yang berjumlah 70 responden (40,9%),
kemudian pada tingkatan kelas X (Sepuluh) berjumlah 55 responden (32,2%), dan
yang paling sedikit dengan tingkatan kelas XII (Dua Belas) yang berjumlah 46
responden (26,9%).
3.
Jenis
Kelamin
Tabel 3
Gambaran Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin
|
Jenis Kelamin |
Frekuensi |
Presentase |
|
Laki-laki |
87 |
50.9% |
|
Perempuan |
84 |
49.1% |
|
Total |
171 |
100% |
Berdasarkan
data yang diperoleh pada tabel 3 dapat dilihat bahwa responden paling banyak
dengan berjenis kelamin laki � laki yaitu 87 responden (50,9%), dan jenis
kelamin perempuan yaitu 84 responden (49,1) %.
4.
Jurusan
Tabel 4
Gambaran Subjek Berdasarkan Jurusan
|
Jurusan |
Frekuensi |
Presentase |
|
Multimedia |
92 |
53.8% |
|
Akuntansi |
49 |
28.7% |
|
Perkantoran |
30 |
17.5% |
|
Total |
171 |
100% |
Berdasarkan
data yang diperoleh pada tabel 4 dapat dilihat bahwa responden paling banyak
dengan jurusan multimedia yang berjumlah 92 responden (53,8%), kemudian pada
jurusan akuntansi berjumlah 49 responden (28,7%), dan yang paling sedikit pada
jurusan perkantoran berjumlah 30 responden (17,5%).
5.
Urutan
Kelahiran
Tabel 5
Gambaran Subjek Berdasarkan Urutan Kelahiran
|
Urutan Kelahiran |
Frekuensi |
Presentasi |
|
Pertama |
87 |
50.9% |
|
Kedua |
45 |
26.3% |
|
Ketiga |
29 |
17.0% |
|
Keempat |
7 |
4.1% |
|
Kelima |
1 |
0.6% |
|
Keenam |
1 |
0.6% |
|
Lain Sebagainya |
1 |
0.6% |
|
Total |
171 |
100% |
Berdasarkan
data yang diperoleh pada table 5 dapat dilihat bahwa responden urutan kelahiran
anak pertama menempati posisi paling banyak yaitu 87 orang (50,9%), diikuti
pada anak kedua yang berjumlah 45 orang (26,3%), anak ketiga berjumlah 29 orang
(17,0%), anak keempat berjumlah 7 orang (4,1%), dan yang paling sedikit berada
diposisi anak keenam berjumlah 1 orang (0,6%), anak kelima berjumlah 1 orang
(0,6%) dan lain sebagainya yang berjumlah 1 orang (0,6%).
B. Uji
Validitas Dan Reliabilitas
Skala
kekerasan verbal ini terdapat 30
aitem ketika sebelum uji coba. Kemudian setelah dilakukan uji coba terdapat 10
aitem yang gugur, diantaranya adalah aitem 5, 8, 11, 12, 13, 15, 17, 22, 28, 29
sehingga tersisa 20 aitem yang valid. Adapun hasil uji reliabilitasnya sebesar
0,893 sebelum uji coba dan setelah beberapa aitem yang tidak valid dieliminasi
menunjukan nilai sebesar 0,933 yang berarti menunjukan skala kekerasan verbal
ini sangat reliabel.�
Selanjutnya
untuk skala kepercayaan diri terdapat 34 aitem ketika sebelum uji coba.
Kemudian setelah dilakukan uji coba terdapat 11 aitem yang gugur, diantaranya
adalah aitem 1, 5, 6, 8, 9, 14, 16, 17, 20, 26, 32 sehingga tersisa 23 aitem
yang valid. Adapun hasil uji reliabilitasnya sebesar 0,854 sebelum uji coba dan
setelah beberapa aitem yang tidak� valid
dieliminasi menunjukan nilai sebesar 0,889 yang berarti menunjukan skala
kepercayaan diri ini sangat reliabel.
C. Uji
Normalitas
Tabel 6
Uji
Normalitas Kekerasan Verbal dan Kepercayaan Diri
|
|
Kekerasan Verbal |
Kepercayaan Diri |
|
Asymp.
Sig. (2-tailed) |
0.100 |
0.213 |
|
N |
171 |
171 |
Dari
table 6 dapat disimpulkan bahwa Nilai signifikansi uji normalitas dengan
pendekatan Monte Carlo pada variabel
kekerasan verbal adalah 0,100 (sig
> 0,05) dan pada variabel kepercayaan diri adalah 0,213 (sig>0,05) sehingga dapat disimpulkan
bahwa variabel kekerasan verbal dan kepercayaan diri berdistribusi normal.
D. Hasil
Uji Hubungan Kekerasan Verbal dan Kepercayaan Diri
Tabel 7
Hasil Uji Hubungan Kekerasan Verbal dan Kepercayaan Diri
|
|
Kekerasan Verbal |
Kepercayaan Diri |
|
Pearson
Correlation |
-0.387* |
-0.387* |
|
Sig.
(2-tailed) |
0.000 |
0.000 |
|
N |
171 |
171 |
�
Berdasarkan
table 7 diatas dapat dilihat Berdasarkan hasil uji korelasi Pearson Product Moment kekerasan verbal
dan kepercayaan diri diperoleh sig.(p) = 0,000 (p < 0,05), artinya terdapat
hubungan yang signifikan antara kekerasan verbal dengan kepercayaan diri. Hasil
koefisien korelasi (r) menunjukkan
angka -0,387 menunjukkan arah hubungan yang negatif rendah antara kekerasan
verbal dengan kepercayaan diri.
E.
Hasil Kategorisasi Kekerasan Verbal
Tabel 8
Hasil Kategorisasi Kekerasan Verbal
|
Minimum |
Maximum |
Mean |
Std.Deviation |
|
23 |
75 |
41.65 |
10.469 |
Berdasarkan
data dari table 8 dapat hasil kategorisasi variabel Kekerasan Verbal didapat
hasil mean 41,65 selanjutnya dikategorisasikan menjadi 2 jenjang kategori yaitu
tinggi dan rendah yang akan dijelaskan pada tabel 9.
Tabel
9
Hasil Kategorisasi Kekerasan
Verbal
|
Batasan
Skor |
Skor |
Kategorisasi |
Jumlah |
Persentase |
|
X < � |
|
Tinggi |
92 |
53.8% |
|
X < � |
X < 41.65 |
Rendah |
79 |
46.2% |
|
Total |
|
|
171 |
100% |
Dari
tabel 9 dapat dilihat bahwa skor total kekerasan verbal yang dikategorisasikan
tinggi memiliki skor total lebih besar dari mean 41,65. Diperoleh hasil
responden terbanyak pada kategorisasi tinggi pada kekerasan verbal sejumlah 92
orang (53,8%) dan responden pada kategorisasi rendah sejumlah 79 orang (46,2%).
Dapat disimpulkan bahwa kekerasan verbal lebih banyak mengalami remaja awal di
SMK Muhammadiyah 9 Jakarta (53%).
F. Hasil
Kategorisasi Kepercayaan Diri
Tabel
10
Hasil Kategorisasi Kepercayaan
Diri
|
Minimum |
Maximum |
Mean |
Std.Deviation |
|
41 |
87 |
65.05 |
9.6763 |
Berdasarkan
hasil kategorisasi variabel Kepercayaan Diri didapat hasil mean 65,05
selanjutnya dikategorisasikan menjadi 2 jenjang kategori yaitu tinggi dan
rendah yang akan dijelaskan pada tabel 11.
Tabel
11
Hasil Kategorisasi Kepercayaan
Diri
|
Batasan
Skor |
Skor |
Kategorisasi |
Jumlah |
Persentase |
|
X < � |
Tinggi |
76 |
44.4% |
|
|
X < � |
X < 65.05 |
Rendah |
95 |
55.6% |
|
Total |
|
|
171 |
100% |
Dari
tabel 11 diperoleh hasil responden terbanyak pada kategorisasi rendah pada
kepercayaan diri sejumlah 95 orang (55,6%) dan responden pada kategorisasi
tinggi sejumlah 76 orang (44,4%). Dapat disimpulkan bahwa siswa remaja awal SMK
Muhammadiyah 9 Jakarta banyak tidak memiliki rasa percaya diri (55%).
G. Hasil
Kategorisasi Kekerasan Verbal Berdasarkan Data Penunjang
Tabel
12
Hasil Kategorisasi Kekerasan Verbal Berdasarkan Usia
|
Usia |
Kekerasan Verbal |
Presentase |
|
|
Tinggi |
Rendah |
|
15 Tahun |
21(45,7%) |
25 (54.3%) |
|
16 Tahun |
39 (56.5%) |
30 (43.5%) |
|
17 Tahun |
32 (57.1%) |
24 (49.2%) |
|
Total |
92 (53.8%) |
79 (46.2%) |
Berdasarkan
tabel� diatas siswa usia 15 tahun lebih
banyak mengalami kekerasan verbal rendah 25 orang ( 54,3%) dari yang tinggi 21
orang ( 45,7%), dan usia 16 lebih banyak mengalami kerasan verbal tinggi
sebanyak 39 orang (56,5%) dari yang rendah 30 orang (43,5%). Sedangkan usia 17
tahun juga lebih banyak mengalami kekerasan verbal tinggi 32 orang ( 53,8%)
dari yang rendah 24 orang ( 49,2%), Jadi dapat disimpulkan bahwa pada usia 16
dan 17 tahun pada remaja awal lebih banyak mengalami kekerasan verbal� tinggi dari�
orang tuanya.
Tabel
13
Hasil Kategorisasi Kekerasan Verbal Berdasarkan Jenis Kelamin
|
Jenis Kelamin |
Kekerasan Verbal |
|
|
|
Tinggi |
Rendah |
|
Laki-laki |
51 (58,6%) |
36(41,4%)� |
|
Perempuan |
41(48,8%) |
43(51,2%) |
|
Total |
92 (53,8%) |
79(46,2%) |
Berdasarkan
tabel di atas dapat dilihat bahwa pada jenis kelamis Laki � laki lebih banyak
mengalami kekrasan verbal tinggi sebanyak 51 orang (58,6%) dari yang rendah 36
orang ( 41,4%). Kemudian pada perempuan lebih banyak mengalami kekerasan verbal
rendah 43 orang ( 51,2%) dari yang tinggi 41 orang (48,8%) Berdasarkan
pemaparan diatas menunjukkan bahwa laki � laki mengalami kekerasan verbal lebih
banyak dibandingkan dengan perempuan.
Tabel
14
Hasil Kategorisasi Kekerasan Verbal Berdasarkan Urutan Kelahiran
|
Urutan Kelahiran |
|
|
|
|
|
|
|
|
tinggi |
Rendah |
|
Pertama |
51 (58,6%) |
36 (41,4%) |
|
Kedua |
25 (55,6%) |
20 (44,4%) |
|
Ketiga |
12 (41,4%) |
17 (58,6%) |
|
Keempat |
3 (42,9%) |
4 (57,1%) |
|
Kelima |
0 (0,0%) |
1 (100,0%) |
|
Keenam |
0 (0,0%) |
1 (100,0%) |
|
Lain Sebagainya |
1 (100,0%) |
0 (0,0%) |
|
Total |
92 (53,8%) |
79 (46,2%)�� |
Berdasarkan
tabel di atas dapat dilihat bahwa pada urutan kelahiran anak pertama dan kedua
lebih banyak mengalami kekerasan verbal tinggi ( 58,6 % dan 55,6%)� dari yang rendah. Sedangkan urutan ketiga
sampai ke lima lebih banyak mengalami kekerasan verbal rendah ( 58,6 %, 57,1%,
100% dan 100%).
H. Hasil
Kategorisasi Kepercayaan Diri Berdasarkan Data Penunjang
Tabel
15
Hasil Kategorisasi Kepercayaan Diri Berdasarkan Usia
|
Usia |
Kepercayaan Diri |
|
|
|
Tinggi |
Rendah |
|
15 Tahun |
22(47,8%) |
24
(52,2%) |
|
16 Tahun |
24
(34,8%) |
45
(65,2%) |
|
17 Tahun |
30
(53,6%) |
26
(46,4%) |
|
Total |
76
(44,4%) |
95
(55,6%) |
�
Berdasarkan
tabel di atas dapat dilihat bahwa pada usia 15 tahun lebih banyak memilki
kepercayaan diri rendah sebanyak 24 orang (52,2%) dari yang tinggi 22 orang (
47,8%),� dan� usia 16 tahun juga lebih banyak� mengalami kepercayaan diri pada tingkat yang
rendah sebanyak 45 orang (65,2%) dari yang tinggi 24 orang (34,8%).� Sedangkan�
pada usia 17 tahun lebih banyak kepercayaan diri tinggi sebanyak 30 orang
( 53,6%) dari yang rendah 26 orang ( 45,4%) sebanyak 26 orang (46,4%).
�Tabel 16
Hasil Kategorisasi Kepercayaan Diri Berdasarkan Jenis Kelamin
|
Jenis Kelamin |
Kekerasan Verbal |
|
|
|
Tinggi |
Rendah |
|
Laki-laki |
31 (35,6%) |
56 (64,4%)�� |
|
Perempuan |
45 (53,8%) |
39 (46,4%) |
|
Total |
76 (44,4%) |
95 (55,6%) |
Berdasarkan
tabel di atas dapat dilihat bahwa pada jenis kelamis Laki � laki lebih banyak
kepercayaan diri rendah sebanyak 56 orang (64,4%) dari yang tinggi 31 orang (
35,6%). Kemudian pada perempuan lebih banyak memilki kepercayaan diri tinggi 45
orang ( 53,8%) dari yang rendah� 39 orang
(46,4%). Berdasarkan pemaparan diatas menunjukkan bahwa laki � laki lebih
banyak mengalami kepercayaan diri yang rendah dan perempuan kepercayaan diri
yang tinggi.
Tabel
17
Hasil Kategorisasi Kepercayaan Diri Berdasarkan Urutan Kelahiran
|
Urutan Kelahiran |
Kepercayaan Diri |
|
|
|
|
|
|
|
tinggi |
Rendah |
|
Pertama |
30 (34,5%) |
57 (65,5%) |
|
Kedua |
22 (48,9%) |
23 (51,1%) |
|
Ketiga |
17 (58,6%) |
12 (41,4%) |
|
Keempat |
5 (71,4%) |
2 (28,6%) |
|
Kelima |
1 (100,0%) |
0 (0,0%) |
|
Keenam |
1 (100,0%) |
0 (0,0%) |
|
Lain Sebagainya |
0 (0,0%) |
1 (100,0%) |
|
Total |
76 (44,4%) |
95 (55,6%)�� |
Berdasarkan
tabel di atas dapat dilihat bahwa pada jenis kelamis Laki � laki lebih banyak
kepercayaan diri rendah sebanyak 56 orang (64,4%) dari yang tinggi 31 orang (
35,6%). Kemudian pada perempuan lebih banyak memilki kepercayaan diri tinggi 45
orang ( 53,8%) dari yang rendah� 39 orang
(46,4%). Berdasarkan pemaparan diatas menunjukkan bahwa laki � laki lebih banyak
mengalami kepercayaan diri yang rendah dan perempuan kepercayaan diri yang
tinggi.
Pembahasan
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan negatif antara
kekerasan verbal dengan kepercayaan diri pada remaja. Berdasarkan hasil uji
korelasi Pearson Product Moment kekerasan
verbal dan kepercayaan diri diperoleh sig.(p) = 0,000 (p < 0,05) hipotesis
penelitian diterima, yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara
kekerasan verbal dengan kepercayaan diri, dengan nilai koefisien korelasi
sebesar r = -0,387 yang artinya terdapat hubungan negatif antara kedua
variabel. Jika kekerasan verbal yang dilakukan orang tua pada remaja tinggi,
maka kepercayaan dirinya menjadi rendah. Begitu juga sebaliknya, jika kekerasan
verbal yang dilakukan orang tua pada remaja rendah, maka kepercayaan dirinya
menjadi tinggi. Hasil penelitian ini juga didukung oleh penelitian sebelumnya
yang dilakukan oleh Ulfatimah (2019) dan (Nidya,
2014) yaitu adanya hubungan negatif
dan signifikan antara kekerasan verbal dan kepercayaan diri.
Menurut
(Juniawati
& Zaly, 2021) memang difase remaja awal
berada difase masalah yang kritis, dikarenakan ia masih belum memiliki
kestabilan emosi yang baik, dari hal ini para orang tua sangat berperan penting
untuk membimbing anak dengan positif, tetapi sayangnya masih banyak orang tua
yang tidak mengetahui dan tidak sadar mengenai bahwa perlakuan dari orang tua
dapat mempengaruhi perilaku anak dan memiliki dampak yang tidak baik. Ketika
orang tua melakukan suatu perilaku berupa ujaran negatif atau bisa disebut
sebagai kekerasan verbal yakni seperti berujar kasar, meremehkan kemampuan
anak, membandingkan anak, melampiaskan amarahnya terhadap anak, dan lain
sebagainya, akan membentuk anak menjadi tidak memiliki rasa percaya diri hal
ini disebabkan karena ia merasa dirinya tidak dihargai dan tidak diakui
sehingga ia selalu menganggap bahwa ucapan dari orang tuanya tersebut benar.
Selanjutnya sangat berbeda dengan orang tua yang selalu mendukung, memotivasi
dan memberikan arahan kepada anaknya dengan baik, hal itu akan membentuk anak menjadi
dihargai dan merasa bahwa dirinya diakui dan berharga sehingga munculnya rasa
percaya diri.
Tercermin dari hasil uji kategorisasi yang ditunjukkan pada
tabel 9 bahwa SMK Muhammadiyah 9 di Jakarta memiliki tingkat yang tinggi pada
remaja awal SMK Muhammadiyah 9 yang mengalami kekerasan verbal yang dilakukan
oleh orang tuanya, yaitu sebanyak (53,8%) dan memiliki kepercayaan diri yang
rendah sebanyak (55,6%). Hasil ini kemungkinan bisa dipengaruhi oleh faktor
ekonomi yang dinyakatan melalui hasil studi awal dari beberapa responden SMK
Muhammadiyah 9. Kemudian turut mendukung kekerasan verbal yang dibuktikan
dengan hasil wawancara yang menyatakan bahwa orang tua terbebani dengan biaya
SPP yang mahal. Untuk biaya sekolah di SMK Muhammadiyah 9, setiap bulannya
diwajibkan setiap siswa untuk membayar SPP yang dapat disebut cukup banyak
berkisar lebih dari 500 ribu, masih terdapat beberapa orang tua yang memiliki
hambatan untuk membayar uang SPP tersebut. Selanjutnya menurut Soetjiningsih
dalam (Fitriana
et al., 2015) menekankan bahwa faktor ekonomi
merupakan salah satu yang dapat mempengaruhi orang tua dalam melakukan
kekerasan verbal terhadap remaja, yang disertai dengan kemarahan atau
kekecewaan karena ketidakberdayaan dalam mengatasi masalah ekonomi menyebabkan
orang tua mudah sekali melimpahkan emosi kepada orang sekitarnya. Menurut Ahmed
(dalam Septhevian,
2014)jika dibandingkan dengan sekolah
lain terutama pada sekolah negeri salah satu yang berada di Jakarta ditemukan
bahwa kekerasan verbal yang dilakukan oleh orang tua cenderung rendah, hal itu
disebabkan salah satunya pada faktor ekonomi orang tua, yang dimana pada
pengeluaran biaya sekolah negeri ditanggung oleh pemerintah, dari hal ini
membuat orang tua dalam segi ekonomi merasa aman, karena pendapatan yang
dihasilkannya dapat digunakan untuk kebutuhan yang lain, berbeda dengan sekolah
swasta salah satunya pada SMK Muhammadiyah 9 yang sepenuhnya dibiayai oleh
perorangan, sehingga orang tua diwajibkan untuk membayar keperluan sekolah,
hingga biaya ujian semester dan lain sebagainya sampai tahap akhir kelulusan.
Hal ini menunjukkan bahwa orang tua siswa SMK Muhammadiyah 9 memiliki
tanggungan lebih banyak dibandingkan dengan sekolah negeri.
Selanjutnya
pada penelitian (Farhan,
Suharta, & Ratnasari, 2018) menambahkan bahwa dari faktor
ekonomi orang tua dapat mempengaruhi kekerasan verbal pada remaja, terutama di
masa pandemi saat ini, banyak yang mengalami krisis kesulitan dalam ekonominya,
hal ini akan membuat seseorang merasakan kekecewaan yang berlebihan terutama
yang sudah memiliki keluarga, orang tua berkewajiban untuk mencari nafkah,
membiayai kebutuhan keluarganya, dan lain sebagainya. Sehingga hal ini tuntutan
yang dilakukan pada orang tua sangat banyak, ketika pendapatan ekonomi pada
orang tua tidak terpenuhi, dampaknya akan membuat orang tua tersebut
melampiaskan emosi, kekecewaan dan kemarahannya tersebut pada anaknya. Hal ini
menunjukkan bahwa faktor ekonomi memiliki pengaruh terhadap emosional orang
tua.
Dimasa
pandemi, remaja mengalami kekerasan verbal kian meningkat hal itu disebabkan
karena anak secara terus menerus selalu berinteraksi di rumah tanpa melakukan
kegiatan di sekolah seperti biasanya (Anna, 2020). Selanjutnya diperkuat
menurut Fahrika (2020) mengatakan bahwa virus pandemi covid telah membuat
Indonesia khususnya di Jakarta mengalami krisis terhadap faktor perekonomian.
Dampak terhadap ekonomi diperkirakan akan besar dan dapat menyebabkan
perekonomian jatuh ke dalam jurang kemiskinan, karena semakin banyaknya
pengangguran akibat pandemi ini. Hal ini sering ditemukannya para pekerja
khususnya orang tua yang mencari nafkah untuk keluarganya, selalu mengeluh
karena faktor ekonominya yang semakin menurun, sehingga perilakunya menjadi
mudah emosi dengan meledak - ledak, akibat kasus ini banyak sekali orang tua melampiaskan
amarahnya terhadap anak saat dirumah (Sakroni,
2021).
Ketika
anak mendapatkan perlakuan kekerasan verbal oleh orang tuanya, akan membentuk
kepercayaan diri yang rendah, hal ini diawali oleh pengalaman negatif remaja di
masa kecil, anak akan mengalami luka batin yang akan melekat di perasaannya,
sehingga disaat tumbuh remaja dari kenangan tersebut akan membentuk rasa trauma
yang dialami remaja. Menurut (Fiorentika
et al., 2016) menyatakan rendahnya
kepercayaan diri pada remaja akan berdampak pada perilakunya yakni seperti,
tidak ingin mencoba suatu hal yang baru, merasa tidak dicintai dan tidak diinginkan
dari orang-orang sekitarnya, melempar kesalahan pada orang lain, menyembunyikan
perasaannya, mudah mengalami frustasi dan tertekan, dan tidak yakin terhadap
kemampuan. Sehingga menunjukkan semakin tinggi rasa traumatis yang dialami pada
remaja, membuat kepercayaan diri remaja cenderung menjadi rendah.
Menurut
penelitian (Payer,
2018) menambahkan krisis kepercayaan
diri yang rendah disebabkan karena adanya ucapan yang tidak baik dari orang tua
dapat disebut dengan perlakuan kekerasan verbal, ketika orang tua melakukan
tindakan kekerasan verbal seperti memarahi anak dengan kata - kata yang kasar,
seperti merendahkan, mencela, dan lain sebagainya, ketika anak berada di tahap
remaja bahkan sampai di fase dewasa nantinya,�
lebih rentan beresiko stress hingga tidak memiliki rasa percaya diri,
hal ini disebabkan remaja mengakibatkan rasa trauma yang membekas pada
memorinya, sehingga ketika remaja berada dirumah maupun di lingkungan
sekitarnya, ia lebih memilih untuk mencari kesenangannya sendiri. Pada
penelitian Ulfah (2021) mengungkapkan bahwa kekerasan verbal orang tua memiliki
pengaruh terhadap pendidikan dan proses belajar pada remaja. Yang kita ketahui
bahwa di lingkungan sekolah tentunya remaja diharuskan untuk mengembangkan pola
belajar, meningkatkan prestasi, bersosialisasi pada teman sebaya, guru, dan
lingkungan disekitar sekolah, ketika remaja memiliki kepercayaan diri yang
rendah, remaja lebih memilih untuk mengasingkan diri, merasa takut dihadapan
orang banyak. Pada hal ini sangat terlihat bahwa kepercayaan diri yang rendah
disebabkan oleh tingkah laku orang tua melakukan kekerasan verbal.
Berdasarkan
tabel 11 dan didukung dari hasil studi awal penelitian menunjukkan adanya
kepercayaan diri yang rendah sebanyak 95 orang (55,6%) yang dialami pada remaja
awal SMK Muhammadiyah 9. Menurut Hasmayni (2014) terbentuknya kepercayaan diri
yang rendah dipengaruhi melalui tahap - tahap penting dalam keluarga dan
disekolah, karena dari tahap itu lah akan membentuk tingkah laku pada remaja.
Terlihat dari� studi awal bahwa
kepercayaan diri yang rendah disebabkan karena kurangnya motivasi dan reward dari orang tuanya, sehingga
subjek merasa dirinya tidak memiliki kemampuan, tidak berdaya, memilih
menghindar di kerumunan orang banyak, sulit untuk mengambil keputusan, dan
masih ketergantungan terhadap orang lain, dari hal ini terlihat ketika di
sekolah remaja merasa tidak nyaman mengikuti kegiatan sekolah, lebih memilih
untuk bolos, hingga melanggar peraturan sekolah, dan selalu merasa tidak mampu
untuk melakukan tuntutan yang ada. Pada hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan
diri yang rendah dapat mempengaruhi psikis pada remaja.
Begitupun
sebaliknya berdasarkan hasil dari studi awal terdapat salah satu siswa yang
mempunyai kepercayaan diri yang tinggi. Pada hal ini menunjukkan tingginya
kepercayaan diri salah satunya dipengaruhi atas perlakuan orang tuanya, yang
dimana orang tua subjek selalu memberikan dukungan dan motivasi terhadapnya,
bahkan selalu memberikan penghargaan ketika subjek selesai bersekolah, dari hal
ini membuat subjek merasa senang dan sangat dihargai oleh orang sekitarnya.
Dari perlakuan orang tuanya tersebut membuat subjek menjadi lebih aktif di
sekolah, selalu melakukan kegiatan yang berada di sekolah, hingga prestasi subjek
menjadi lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa rendahnya kekerasan verbal yang
dilakukan oleh orang tuanya membuat remaja menjadi percaya diri.
Hasil
dari tabel 12 menunjukkan bahwa pada usia remaja awal di SMK Muhammadiyah 9
lebih banyak mengalami kekerasan verbal pada usia 16 tahun yang berjumlah 39
(56,5%). Berdasarkan penelitian Nafisah (2021) menunjukkan bahwa remaja yang
berusia 16 - 17 tahun lebih rentan mengalami kekerasan verbal yang didapatkan
dari orang tuanya, yang menyebabkan remaja cenderung lebih memilih mengurung
diri dibandingkan berada di lingkungan yang ramai. Selanjutnya diperkuat
menurut Nova & Sari (2021) bahwa remaja yang berusia 16 tahun keatas
merupakan fase menuju kematangan di tahap dewasa, yang dimana terlihat orang
tua sering melakukan kekerasan verbal pada remaja diawali dari usia 16 - 17
tahun. Hal ini disebabkan karena di usianya tersebut remaja sudah mulai
membentuk karakternya seperti sulit untuk diatur, timbulnya rasa egois, ingin
memperoleh kebebasan, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, sehingga ketika
remaja melakukan hal tersebut, orang tua secara tidak sadar memberikan hukuman
kepada remaja dengan tindakan kekerasan yang berupa kekerasan verbal. Hal ini
menunjukkan bahwa masih banyak orang tua menganggap bahwa kekerasan verbal
merupakan tindakan yang wajar untuk dilakukan, tanpa berpikir akan dampak yang
dihasilkannya, yang terutama akan berpengaruh terhadap aspek kepercayaan diri
remaja cenderung menjadi rendah.
Salah
satu faktor yang mempengaruhi kepercayaan diri yang rendah terdapat pada jenis
kelamin. Berdasarkan tabel 16 menunjukkan pada gender remaja awal laki - laki
di SMK Muhammadiyah 9 memiliki kepercayaan diri yang rendah sebanyak 56 (64,4%)
sedangkan pada gender perempuan sebesar 39 (46,4%). Selanjutnya pada perbedaan
konsep sumber rasa percaya diri pada gender dipengaruhi oleh faktor eksternal,
menurut (Sarwono,
2011) menambahkan laki - laki dan
perempuan mengalami perkembangan fisik dan kematangan yang berbeda, pada
perubahan fisik inilah akan memberi pengaruh terhadap perkembangan jiwa seorang
remaja, terutama pada tinggi dan rendahnya kepercayaan diri. Diperkuat menurut
Hakim (dalam Putri, 2018) laki - laki dan perempuan memiliki rasa percaya diri
yang berbeda. Bagi perempuan rentan mengalami kepercayaan diri yang tinggi hal
ini dikarenakan bahwa perempuan merupakan sosok yang sensitif yang dimana
ketika sedang mengalami masalah biasanya perempuan lebih banyak menceritakan
dengan melampiaskan kesedihan atau kemarahannya pada orang � orang terdekatnya
seperti dari teman � temannya, kerabatnya, pada hal ini ia akan membuat
perasaaannya akan lebih lapang, selanjutnya dari hal itu tentunya akan adanya
dukungan, support dari orang terdekatnya, yang akan membuatnya merasa diakui
dan dihargai sehingga ketika ia mengalami masalah ia tidak memendam perasaannya
(Adawiyah,
2020). Bagi laki - laki, lebih rentan
mengalami kepercayaan diri yang rendah, hal ini dikarenakan laki � laki lebih
sering memendam masalah yang dialaminya sendiri, dan ingin selalu terlihat
bahwa dirinya bukan seseorang yang lemah, oleh karena itu apapun masalah yang
dialaminya ia lebih memilih mengasingkan diri, dibandingkan bercerita pada
orang - orang disekitarnya, sehingga banyak sekali ditemukan bahwa laki - laki
lebih banyak mengalami aksi bunuh diri. Berdasarkan dari studi awal juga telah
dijelaskan bahwa remaja awal di SMK Muhammadiyah 9, lebih banyak mengalami
krisis kekerasan verbal sehingga menyebabkan kepercayaan diri pada laki � laki
memiliki kepercayaan diri yang rendah.
Selanjutnya berdasarkan table 14 pada urutan kelahiran perlakuan
kekerasan pada remaja awal di SMK Muhammadiyah 9, menduduki paling banyak
berada di urutan pertama yaitu berjumlah 51 (58,6%). Menurut (Rosyida,
2013) faktor yang dapat mempengaruhi
kepercayaan diri yang rendah dapat disebabkan salah satunya pada urutan
kelahiran atau dapat disebut dengan urutan anak, yang dimana peneliti
menekankan bahwa dalam sebuah keluarga setiap anak lahir dengan unsur yang
berbeda, oleh karena itu sangat penting untuk mengetahui urutan anak seperti
pada anak pertama dan seterusnya, dari hal itu anak akan menginterpretasi
situasi dengan cara yang berbeda, selain itu menurut Soetjiningsih (1998)
menambahkan bahwa dari setiap urutan anak memiliki perilaku yang berbeda - beda
dan lebih banyak ditemukan bahwa anak pertama memiliki faktor yang lebih mudah
terpengaruh terhadap tingkah lakunya terutama pada kepercayaan diri, hal itu
disebabkan anak pertama lebih banyak menanggung tanggung jawab, beban dari
orang tuanya. Selanjutnya diperkuat menurut (Juniawati
& Zaly, 2021) menunjukkan bahwa pada gambaran
kekerasan verbal anak dengan urutan pertama lebih rentan mengalami kekerasan
verbal yang dilakukan oleh orang tuanya, hal ini karena anak pertama menjadi
sumber harapan dari orang tuanya, orang tua biasanya selalu menuntut anaknya
menjadi sempurna, sehingga ketika remaja tidak dapat memenuhi ekspektasi yang
dituntut oleh orang tuanya, orang tua secara tidak sadar melampiaskan amarah
terhadap anaknya, sehingga sangat berdampak pada psikis remaja terutama pada
aspek kepercayaan diri. Sesuai berdasarkan studi awal menunjukkan bahwa anak
pertama lebih banyak mendapatkan perlakuan kekerasan verbal dari orang tuanya
yang mempengaruhi rasa percaya diri.
KESIMPULAN
Berdasarkan dari hasil penelitian yang
telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan yaitu hipotesis diterima bahwa
ada hubungan negatif signifikan (sig. p 0,000 dan r-0,387) antara kekerasan
verbal dengan kepercayaan diri remaja awal di SMK Muhammadiyah 9 Jakarta, yang
artinya semakin tinggi kekerasan verbal yang diterima oleh remaja awal di SMK
Muhammadiyah 9 dari orang tuanya, maka semakin rendah tingkat kepercayaan
dirinya . Juga semakin rendah kekerasan verbal yang diterima remaja awal di SMK
Muhammadiyah 9, maka semakin tinggi tingkat kepercayaan dirinya. Remaja awal di
SMK Muhammadiyah 9 lebih banyak mengalami kekerasan verbal tinggi (53,8%) dan
memilki kepercayaan diri yang rendah ( 55,6%). remaja awal SMK Muhammadiyah 9 usia
16 dan 17 tahun, lakilaki , anak urutan pertama dan kedua lebih banyak
mengalami kekerasan verbal tinggi. Sedangkan remaja awal di Siswa SMK
Muhammadiyah 9 usia 17 tahun, perempuan, urutan anak ke tiga, empat dan lima
lebih banyak memilki kepercayaan diri tinggi.
BIBLIOGRAFI
Adawiyah, Dwi Putri Robiatul. (2020). Pengaruh
Penggunaan Aplikasi TikTok Terhadap Kepercayaan Diri Remaja di Kabupaten
Sampang. Jurnal Komunikasi, 14(2), 135�148.
De Vega, Asla, Hapidin,
Hapidin, & Karnadi, Karnadi. (2019). Pengaruh Pola Asuh dan Kekerasan
Verbal terhadap Kepercayaan Diri (Self-Confidence). Jurnal Obsesi: Jurnal
Pendidikan Anak Usia Dini, 3(2), 433�439.
Farhan, Zahara, Suharta,
Dede, & Ratnasari, Devi. (2018). Faktor-faktor yang melatarbelakangi orang
tua melakukan verbal abuse pada anak usia sekolah 6-12 tahun di Kabupaten
Garut. Jurnal Keperawatan Malang, 3(2), 101�108.
Faridah, Nenden, & Aeni,
Ani Nur. (2016). Pendekatan open-ended untuk meningkatkan kemampuan berpikir
kreatif matematis dan kepercayaan diri siswa. Jurnal Pena Ilmiah, 1(1),
1061�1070.
Fiorentika, Kasa, Santoso,
Djoko Budi, & Simon, Irene Maya. (2016). Keefektifan teknik self-instruction
untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa SMP. Jurnal Kajian Bimbingan Dan
Konseling, 1(3), 104�111.
Fitriana, Yuni, Pratiwi,
Kurniasari, & Sutanto, Andina Vita. (2015). Faktor-faktor yang berhubungan
dengan perilaku orang tua dalam melakukan kekerasan verbal terhadap anak usia
pra-sekolah. Jurnal Psikologi Undip, 14(1), 81�93.
Hidayati, Khoirul Bariyyah,
& Farid, M. (2016). Konsep diri, adversity quotient dan penyesuaian diri
pada remaja. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia, 5(02), 137�144.
Juniawati, Devi, & Zaly,
Nedra Wati. (2021). Hubungan Kekerasan Verbal Orang Tua Terhadap Kepercayaan
Diri Pada Remaja. Buletin Kesehatan: Publikasi Ilmiah Bidang Kesehatan, 5(2),
53�63.
Komara, Indra Bangkit.
(2016). Hubungan antara kepercayaan diri dengan prestasi belajar dan
perencanaan karir siswa. Jurnal Psikopedagogia, 5(1), 33�42.
Nidya, Ninda Sekar. (2014).
Hubungan antara kekerasan verbal pada remaja dengan kepercayaan diri. Yogyakarta:
Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.
Payer, Mekhael Kevin. (2018).
Pengaruh Kekerasan Verbal Orang Tua dalam Keluarga terhadap Kepercayaan Diri
Anak Usia 6-12 Tahun di GKII Rhema Makassar. Sekolah Tinggi Theologia
Jaffray.
Pratiwi, Iffa Dian, &
Laksmiwati, Hermien. (2016). Kepercayaan Diri dan Kemandirian Belajar Pada
Siswa SMA Negeri �X. Jurnal Psikologi Teori Dan Terapan, 7(1),
43�49.
Putri, Ervi Laily Mujitabah.
(2015). Perbedaan kepercayaan diri remaja akhir ditinjau dari persepsi terhadap
pola asuh orang tua. Character: Jurnal Penelitian Psikologi., 3(3).
Putri, Hazrina Syahirah,
& Sugandi, Mohammad Syahriar. (2021). Pengaruh Kekerasan Komunikasi Verbal
Orang Tua Terhadap Kepercayaan Diri Remaja Di Provinsi Dki Jakarta. EProceedings
of Management, 8(1).
Rosyida, Imami. (2013). Perbedaan
tingkat kepercayaan diri (self confident) ditinjau dari posisi urutan kelahiran
(birthorder) mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Maliki Malang. Universitas
Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.
Sakroni, Sakroni. (2021).
Kekerasan Terhadap Anak Pada Masa Pandemi Covid-19. Sosio Informa: Kajian
Permasalahan Sosial Dan Usaha Kesejahteraan Sosial, 7(2).
Sarwono, Sarlito W. (2011).
Psikologi Remaja edisi revisi. Jakarta: Rajawali Pers.
Septhevian, Rani. (2014). Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi Keputusan Orangtua Dalam Memilih Sekolah Dasar (SD).
UAJY.