KRITIK PADA NOVEL TRAUMA KARYA BOY CANDRA PENDEKATAN PSIKOLOGIS

 

Shabrina Amelia Mubiina Ah

Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA

shabrinaalhadiid@gmail.com

 

Received  :  04-07-2022

Accepted  :  12-07-2022

Published  : 20-07-2022

Abstract

Keywords:

Authors should provide appropriate and short keywords. The maximum number of keywords is 5

Novel is a form of literary work in the form of prose which is a shadow or picture of human life created by the author. The author of the novel has a soul, so his taking was inspired by the phenomena that exist in the surrounding reality. This mentality can be used as a foundation for literary criticism. Literary criticism is assessing a literary work both its beauty and its ugliness that can be adapted to various approaches. The approach that discusses psychology is the psychological approach. Literary psychology approach is an approach that contains the problems that exist in human life. This study aims to determine the psychology of these characters so that the psychological criticism contained in the Trauma novel is revealed by using a psychological approach. The method used in this study is a qualitative descriptive method. The results obtained from this study are psychological analysis or characterizations in the Trauma novel by Boy Candra including; (1) the id in this novel is Kimara who unwittingly always accepts invitations from men who like him and likes to hurt himself, (2) the ego in this novel is when Kimara's figure longs for a father's love and accepts a declaration of love or a relationship from the men without the old approach first, and (3) the superego in this novel is when Kimara is able to come to terms with his past and Mrs. Kimara who always instills norms that make a good influence on Kimara such as saying if you are still in school you should focus on education not on romance. So the criticism of the Trauma novel is that there is Kimara's ego who hurts himself without thinking because of the trauma of his past, but it actually makes him always try to find the love of a father figure but in the wrong way

Abstrak

Kata kunci:

Penulis harus memberikan kata kunci yang tepat dan singkat. Jumlah maksimum kata kunci adalah 5.

Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra berbentuk prosa yang merupakan bayangan atau gambaran dari kehidupan manusia yang diciptakan oleh pengarang. Pengarang novel memiliki jiwa maka pengambilannya pun terinspirasi dari gejala-gejala yang ada dikenyataan sekitar. Kejiwaan tersebutlah dapat sebagai tumpuan pada kritik sastra. Kritik sastra adalah menilai sebuah karya sastra baik keindahan maupun keburukannya yang dapat disesuaikan dengan berbagai pendekatan. Pendekataan yang membahas mengenai kejiwaan yaitu pendekatan psikologi. Pendekatan psikologi sastra yaitu suatu pendekatan yang berisi mengenai masalah-masalah yang ada pada kehidupan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejiwaan pada tokoh-tokoh tersebut sehingga terungkap kritik psikologis yang terkandung dalam novel Trauma dengan menggunakan pendekatan psikologis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu analisis kejiwaan atau penokohan pada novel Trauma karya Boy Candra meliputi; (1) id pada novel ini adalah Kimara yang tanpa disadari selalu mau menerima ajakan dari para pria yang menyukainya dan suka menyakiti dirinya sendiri, (2) ego pada novel ini adalah ketika Kimara sosoknya rindu kasih sayang seorang ayah dan menerima pernyataan cinta atau menjalin hubungan dari para pria tanpa pendekatan yang lama terlebih dahulu, dan (3) superego pada novel ini adalah ketika Kimara mampu berdamai dengan masa lalunya dan Ibu Kimara yang selalu menanamkan norma yang membuat pengaruh baik terhadap Kimara seperti mengatakan jika masih sekolah harus fokus dengan pendidikan bukan pada asmara. Jadi  kritik terhadap novel Trauma yaitu terdapat pada ego tokoh Kimara yang menyakiti dirinya sendiri tanpa berfikir panjang karena trauma akan masa lalunya namun hal tersebut justru membuat ia selalu berusaha mencari kasih sayang sosok seorang ayah namun dengan cara yang salah

Corresponding Author: Shabrina Amelia Mubiina Ah

E-mail: shabrinaalhadiid@gmail.com

 

PENDAHULUAN

Sastra dapat bermanfaat sebagai penambah pengetahuan dan wawasan. Tak hanya itu, sastra juga dapat memberikan pelajaran untuk kehidupan karena banyak pesan yang dapat diambil dari ceritanya. Karya sastra terlahir dan berkembang sesuai dengan zamannya sehingga mengikuti perkembangan zaman.(Sita, Jamal, & Hartati, 2021). Karya sastra merupakan daya cipta dari manusia yang terbuka dengan melihat dari lingkungan sosial jadi sesuai dengan kenyataan yang ada dimasyarakat. Sastra dapat mengungkapkan rancangan yang tersusun di dalam pikiran maupun perasaan, ide, komentar, dan perkiraan tentang kehidupan yang bersifat imajinasi. (Oktiana, 2015). Karya sastra mengikuti perkembangan zaman sesuai dengan pandangan manusia itu sendiri. Sastra dapat dijadikan landasan bagi kehidupan manusia sebab manusia juga yang membuatnya. Dalam karya memiliki berbagai macam bentuk karya. Karya sastra merupakan ekspresi batin seseorang melalui cara penggambaran terhadap wawasan pengarang dengan berkaitan hidup dan tidak dengan kenyataan hidup. (Hidayati, Wardiah, & Ardiansyah, 2021). Bentuk karya sastra memiliki jenis yang beragam yaitu puisi, prosa, fiksi, cerita pendek, roman, dan novel. Salah satu bentuk karya sastra yang banyak diminati oleh seluruh kalangan yaitu novel.

Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra berbentuk prosa yang merupakan bayangan atau gambaran dari kehidupan manusia. Novel  bersifat menyerupai kebenaran dan peniruan,  yang  berkembang  dari bentuk-bentuk  naratif  non  fiksi  dan  secara  stilistika  menekankan  pentingnya kejelasan secara mendalam (Windari, 2019). Novel tercipta sesuai dengan keinginan si pengarang sehingga selalu adanya rekayasa agar semakin menarik. (Prawira, 2018). Menggunakan berbagai tokoh-tokoh dengan sifat yang bermacam-macam diberi unsur keindahan agar semakin menarik. Novel hadir dalam cerita yang beragam, disajikan bermacam-macam yang disesuaikan dengan ciri khas keahlian para pengarang. Berbagai jenis dan bentuk novel pun sudah banyak tersebar di pasaran(Wirna, 2012).  Tema dalam novel terdapat beberapam macam, yaitu persahabatan, pendidikan dan percintaan. Hal ini bertujuan untuk memberikan kesenangan dan manfaat untuk para pencinta novel. Pengarang novel memiliki jiwa maka pengambilannya pun terinspirasi dari gejala-gejala yang ada dikenyataan sekitar. Kejiwaan tersebutlah dapat sebagai tumpuan pada kritik sastra. Kritik sastra adalah menilai sebuah karya sastra baik keindahan maupun keburukannya yang dapat disesuaikan dengan berbagai pendekatan.

Salah satu pendekatan kritik sastra yaitu pendekatan psikologis. kritik sastra psikologis adalah sebuah perkembangan baru dalam pemikiran sastra. Jiwa seseorang mengalami perubahan karena manusia terus tumbuh dan berkembang setiap tahunnya(Gasong, 2018). Kritik sastra psikologis harus bisa memperkirakan polemik penting, apakah yang telah disampaikan pengarang karena gambaran dari batinnya sebagai ekspresi batin atau hanya sekedar obsesi saja. Maka dari itu pendekatan psikologi sastra yaitu suatu pendekatan yang berisi mengenai masalah-masalah yang ada pada kehidupan manusia. Dalam mengkritik sebuah karya sastra maka seorang kritikus dapat menggunakan beberapa pendekatan yang bertujuan untuk menjadi bahan acuan kritikus dalam mengkritik, adapun pendekatan-pendekatan yang dapat digunakan dalam mengkritik sebuah karya sastra adalah pendekatan mimesis, pendekatan pragmatis, pendekatan ekspresif, pendekatan objektif, pendekatan semiotik, pendekatan sosiologis, pendekatan psikologis, dan pendekatan moral Pendekatan yang berkaitan dengan kejiwaan seseorang yaitu pendekatan psikologis. (Siti, Afaf, & Selma, 2018).

Pendekatan psikologis sangat dekat dengan kejiwaan tokoh yang terdapat dalam novel. Setiap manusia memiliki masalah dan kejiwaan yang berbeda-beda. Maka terjadi reaksi yang berdampak baik maupun buruk tergantung dari orang tersebut apakah diterima oleh lingkungannya. (Aliasar, 2021). Salah satu novel yang memiliki kejiwaan yang begitu melekat yaitu novel Trauma karya Boy Candra yang merupakan salah satu novel bertema seorang gadis yang selalu mendapatkan kesakitan dalam sebuah hubungan dalam keluarga maupun percintaan. Novel ini diterbitkan tahun 2020 mengenai kisah seorang gadis bernama Kimara yang berlatar belakang dari keluarga broken home jadi tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ayah sebab ayahnya telah lama bercerai dengan ibunya. Ayahnya selalu datang dan pergi seenaknya, hal tersebut membuat Kimara takut menjalin hubungan dengan pria namun pada semasa ia sekolah baik semasa SMA hingga menjadi penulis pun selalu berusaha membuka hati tetapi ternyata selalu kepada pria yang salah. Padahal ketika sedang pacaran dia seolah dapat merasakan kasih sayang dari sosok ayah. Dalam novel ini, banyak polemik mengenai kejiwaan atau perasaan yang mendalam tentang pahitnya seseorang menerima kenyataan yang ada pada hidupnya.

Hal ini sebagaimana seperti penelitian yang dilakukan oleh Aswandi dalam skripsi yang berjudul “Kajian Psikologi Tokoh Utama Dalam Novel Jangan Pernah Putus Asa”. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa terdapat analisis mengenai id, ego, dan superego yang dimiliki oleh tokoh utama yaitu Nadia. Adapun perbedaan dengan penelitian sebelumnya, yaitu pada penelitian ini penulis melakukan kritik terhadap novel Trauma karya Boy Candra dengan pendekatan psikologis sehingga menilai keburukan dan kebaikan yang ada pada novel tersebut.

Teori psikologis menurut Freud adalah tentang kedasaran dan ketidaksadaran yang dianggap sebagai aspek kepribadian dan tentang insting dan kecemasan. Menurut Freud (via FAOZIAH, 2016) kehidupan psikis mengandung dua bagian, yaitu kesadaran dan ketidaksadaran. Bagian kesadaran bagaikan permukaan gunung es yang nampak, merupakan bagian kecil dari kepribadian, sedangkan permukaan air ialah bagian ketidaksadaran sehingga mengandung naluri-naluri yang mendorong semua perilaku manusia. Jadi Freud mengembangkan konsep tersebut meliputi id, ego, dan superego(Angriani, 2017).

Alasan penelitian ini mengkritik novel Trauma karya Boy Candra dengan menggunakan pendekatan psikologis antara lain karena novel ini termasuk buku best seller ditahun 2020, untuk menjelaskan dan mengungkapkan id, ego, superego pada novel Trauma karya Boy Candra, dan untuk mengungkapkan dan menjelaskan kritik sastra psikologis pada novel Trauma karya Boy Candra. Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan diteliti yaitu bagaimana analisis id, ego, dan superego pada novel Trauma karya Boy Candra dan bagaimana kritik psikologis terhadap novel Trauma karya Boy Candra. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejiwaan pada tokoh-tokoh tersebut sehingga terungkap kritik psikologis yang terkandung dalam novel Trauma dengan menggunakan pendekatan psikologis.”.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Dengan adanya pendeskripsian data-data berupa analisis psikologis (id, ego, dan superego) dan menilai atau mengkritik terhadap novel Trauma. Objek pada penelitian ini adalah novel Trauma karya Boy Candra yang terbit tahun 2020 dan diterbitkan oleh mediakata. Data penelitian ini yakni meliputi kata-kata, kalimat, dan paragraf dalam novel Trauma. Teknik pengumpulan data yang digunakan berwujud teknik Pustaka, simak, dan catat. Teknik analisis data yang digunakan dengan pembacaan hermeneutik, karena dapat lebih memahami suatu karya sastra. Adapun langlah-langkah yang digunakan untuk menganalisis data adalah: (1) membaca secara keseluruhan novel dengan berulang-ulang agar mendapatkan pengetahuan dan kesan tentang isi novel, (2) membuat sinopsis novel, (3) menganalisis id, ego, dan superego pada novel, (4) membaca lebih dalam peristiwa yang ada dalam novel Trauma, (5) mengkritik struktural sesuai dengan data yang telah diklasifikasikan, serta (6) menyimpulkan dari hasil analisis data.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil dan pembahasan yang ditemukan oleh peneliti pada novel Trauma karya Boy Candra dengan pendekatan psikologis yaitu terdapat tiga struktur elemen yang sesuai dengan teori Freud, meliputi id, ego, dan superego.

A.      Analisis Struktur Elemen Psikologis dalam novel Trauma karya Boy Candra

Id adalah suatu komponen kepribadian terpenting yang biasanya muncul sejak lahir. Id hanya berlandaskan kesenangan sehingga yang muncul hanya mengenai semua keinginan, keinginan, dan kebutuhan. Berarti hanya mengutamakan keinginan yang harus terpenuhi terlebih dahulu. Id berusaha untuk mengatur ketegangan yang diciptakan (Rika Endri Astuti, Yant Mujiyanto, 2017). Jadi id merupakan bagian kepribadian yang bersifat naluri dan secara tidak sadar mau berbuat suatu hal karena seperti ada dorongan. Tetapi jika keinginan tersebut tidak terpenuhi maka emosionalnya akan menjadi cemas, marah, dan tegang. Kekuatan yang berkaitan dengan id mencakup insting seksual yang berarti naluri sejak lahir seperti makan, minum, dan seks. Sedangkan, insting agresif bersifat merusak diri sendiri seperti menyakiti diri, bunuh diri, dan lain sebagainya. (Suwandi Endraswara, 2013).

Id dalam novel ini yang mencakup insting seksual adalah ketika Kimara memiliki naluri minum. Dapat dibuktikan dengan kalimat “Aku mengangguk, memberi isyarat untuk menambah satu gelas kopi lagi, seperti yang ku pesan sebelumnya. Kopi hitam dan paling pahit.” (Candra: 2020 hal.5).

Pada kalimat tersebut menunjukkan bahwa naluri dari Kimara yang ingin minum kopi kedua kalinya tanpa paksaan dari siapapun melainkan memang dari kemauannya untuk minum.

Id dalam novel ini yang mencakup insting agresif adalah sosok Kimara yang senang menyakiti diri. Karena tumbuh dari keluarga yang tidak utuh atau tidak pernah merasakan kasih sayang dari sosok ayah karena sang Ayah pergi meninggalkannya bahkan selalu datang dan pergi seenaknya hingga Ibunya memutukan bercerai. Kepahitan yang dirasakan oleh seorang anak membuat perubahan emosi yang cepat berubah-ubah. (Hatta, 2015). Hal tersebut memunculkan rasa trauma atau ketidakpercayaan terhadap laki-laki namun ia berusaha meyakinkan diri untuk menerima pria dihatinya.

    Menyakiti diri dapat dibuktikan dalam kalimat: “

“Barangkali di kepala Ibu, patah hatiku hanya soal biasa. Ia tidak sadar, selama ini aku tumbuh dari pengalaman-pengalaman yang membuatku menyimpulkan satu hal: tidak ada laki-laki baik di bumi. Lalu bagaimana aku akan merasa tenang jika menikah?Aku bahkan tidak percaya pada satu lelaki pun.” Pada kalimat tersebut menunjukan sosok Kimara menyakiti dirinya sendiri karena ia tidak d”apat percaya dengan pria manapun dan tidak lapang dada atas apa yang terjadi pada dirinya.

“Dengan wajah gugup, tapi terlihat berusaha tenang, tiba-tiba dia menarik lenganku. ikut dengankubisiknya.Tanpa aku bisa bertanya banyak, dia bergerak sangat cepat. Aku yang masih kebingungan hanya bisa menurut.” Pada kutipan tersebut menunjukkan bahwa Kimara menyakiti dirinya sebab dia selalu menurut ajakan dari pria. Sehingga seolah selalu mau padahal karena sikap yang tidak bisa menolak permintaan atau tidak bisa berkata tidak (people pleaser). Berakibat hanya tahu keinginan dari orang lain tetapi tidak tahu apa yang dirinya inginkan.

“Tanpa sadar air mataku jatuh tak tertahan. Rasanya hancur sekali. Aku berdiri dengan sisa tenaga dan berlari ke dalam kamar. Aku melempar kaca ke dalam badanku.” Pada kutipan tersebut menunjukkan bahwa Kimara menyakiti dirinya sendiri dengan melempar kaca ke dalam badannya.

Ego adalah kepribadian yang bersifat bertanggung jawab dalam mengatasi kenyataan yang ada dari id serta dapat dinyatakan pada cara yang bisa diterima oleh dunia nyata. Mengontrol segala tindakan, pikiran, dan berkata ketika dalam keadaan marah atau emosi. (Diana, 2016). Menurut freud, Ego sadar akan realitas sehingga menyebutnya sebagai prinsip realitas.(Suwandi Endraswara, 2013). Ego menyesuaikan diri dengan kenyataan yang ada. Ego berupaya dengan kenyataan yang ada seperti, memberhentikan kepuasaan atau melanjutkan sesuai dengan keinginannya sehingga menimbang-nimbang jadi hasil keputusannya dalam bertindak tergantung dari pribadi masing-masing.

Ego dalam novel ini dapat dibuktikan dalam kalimat :

“Sungguh aku tidak pernah menyangka Ardi mendadak menyatakan perasaannya padaku. Aku masih diam, saat Ardi mengulangi permintaanyaa. Akhinya Aku mengacungkan jari kelingking. Mulai hari itu kami resmi berpacaran.” Pada kalimat tersebut menunjukkan bahwa Kimara ingin mendapatkan kasih sayang yang membuatnya cepat menerima orang baru atau menjalin hubungan dari para pria tanpa pendekatan yang lama. Seperti pada id yang menunjukkan Kimara selalu menuirut kepada pria yang mengajaknya begitupun dalam egonya Kimara cepat menerima orang baru dikarenakan mencari sosok kasih sayang.

“Aku berdiri dengan sisa tenaga dan berlari ke dalam kamar. Aku melempar kaca ke dalam badanku. Hal bodoh yang ku lakukan saat tidak bisa lagi menahan diriku dari rasa marah yang tak jelas begini.” Pada kalimat tersebut menunjukkan bahwa ego Kimara yang tidak bisa menahan dirinya ketika marah hingga berani melukai dirinya sendiri.

“Rasanya seperti tidak dianggap anak. Meski sejujurnya dalam hati kecilku, aku sering rindu pada Ayah.” Aku marah pada semua hal, tapi disaat yang sama, aku merindukan hal itu.” Pada kalimat tersebut menunjukkan bahwa ego Kimara yang kesal terhadap sikap sang ayah, namun ia tetap rindu akan kasih sayangnya . Seperti pada id maupun egonya Kimara yang menyakiti dirinya sendiri hanya karena benci dengan tindakan ayahnya yang datang dan pergi sesukanya. Padahal di hati kecilnya ia merindukan sosok seorang Ayah.

Superego adalah moral yang didasarkan oleh norma atau aturan dari orang tua yang ada di dalam masyarakat mengenai tentang suatu tindakan dan nilai salah atau benar. (Dr. Suwandi Endraswara, 2013). Superego dapat mengembangkan kepribadian yang positif maupun negatif. Jadi dapat dikatakan superego ialah nilai moral dari orangtua dan lingkungan sekitar agar manusia berpikir mana yang baik dan buruk untuk dirinya.

 Superego pada tokoh Kimara dapat dibuktikan dalam kalimat :

“Air mataku jatuh begitu saja. Ada hal besar yang selama ini kutolak. Namun kini  kusadari, mereka adalah kebahagiaan yang tak pernah ku ajak berdamai. Aku merasa lega. Meski disisi lain, berat sekali rasanya memaaafkan ayah.”

Aku datang bersama Ibu, Amira, dan Lusia. Ayah entah kemana. Aku semakin jarang bertemu dengannya, apalagi sejak aku ngekos dan dia bolak-balik kerja keluar kota. Namun, aku berusaha tidak kecewa lagi padanya. Meski seharusnya, dia melihat apa yang telah aku capai . Hanya saja aku menyadari; semakin aku menanam harapan, semakin dekat kecewa itu padaku.[1]  Pada kedua kalimat tersebut menunjukkan bahwa Kimara mulai berdamai dengan kekecewaan masa lalunya. Ia sadar serta mampu memaafkan dan menghilangkan rasa benci terhadap sang ayah dengan tidak menanamkan harapan. Jadi Kimara pun dapat mengembangkan kepribadian yang positif.

Superego pada tokoh Ibu dapat dibuktikan dalam kalimat :

“Memang bukan hal buruk. Kamu masih sangat muda. Seharusnya, kamu fokus belajar dululah. Jangan mikirin hal lain dulu. Semua ada waktunya. Sekarang, kamu seharusnya lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar, bukan pacarana.” Pada kalimat tersebut menunjukkan bahwa pemberian nilai moral dari tokoh Ibu, jika masih sekolah hendaknya lebih fokus memikirkan pendidikan bukan asmara. Hal tersebut sangat berpengaruh positif terhadap Kimara karena dengan pemberian norma atau aturan membuat Kimara sukses dalam berkarir menjadi seorang penulis.

Manusia memang bisa berubah. Tapi, kita tidak seharusnya membenci dan dendam padanya. Ibu tidak pernah menyesal atas apapun yang sudah Ibu terima. Sesedihnya hidup, kini Ibu masih memilikimu. “ ( Candra: 2020 hal}. Pada kalimat tersebut menunjukkan bahwa Sang Ibu tidak ingin jika Kimara mempunyai sifat dendam kepada siapapun orang yang telah menyakitinya. Sebab ibunya pun pernah mengalami kepahitan dalam cinta maka dari itu ia selalu memberikan arahan kepada Kimara.

 

B.      Kritik Pendekatan Psikologis Dalam Novel Trauma

Pada novel ini dijelaskan bahwa ego tokoh Kimara yang sangat ingin mendapatkan kasih sayang dari Sang Ayah. Tetapi, ia salah dalam bertindak karena mencari kasih sayangnya dengan cara mencari kepada laki-laki lain. Kimara menerima semua pria yang menyatakan perasaan kepadanya tanpa pendekatan yang lama, sehingga membuat dirinya selalu mendapatkan kesakitan dan laki-laki yang salah. Pada saat mengalami kekesalan, kekecewan, dan marah yang memuncak sosok Kimara suka menyakiti dirinya sendiri dengan melemparkan kaca ke dalam tubuhnya. Jadi ego kimara sangat merindukan kasih sayang dari sang ayah namun ia mencari kasih sayang tersebut dengan cara yang salah. Keinginan yang dilakukan Kimara itu positif namun tindakannya negatif. Hal tersebut membuat bertentangan dengan psikologi sebab tindakan yang dilakukan melukai diri sendiri dengan melemparkan kaca ke dalam tubuhnya. Seharusnya yang dilakukan Kimara itu fokus pada hal penting, berusaha menerima perasaan yang muncul dengan tidak melakukan tindakkan melukai diri, dan selalu berfikir dampak yang akan terjadi jika sampai melukai diri sendiri. Walaupun pada superego tokoh Kimara mampu memaafkan dan berdamai dengan dirinya sendiri akan segala kepahitan dimasa lalu karena ia tersadar untuk tidak mengharapkan apapun kepada manusia terkhusus pada ayahnya. Hal tersebut juga karena adanya penanaman aturan yang diberikan Sang Ibu seperti harus berfokus pada pendidikan lalu harus dapat memaafkan orang yang telah menyakiti membuat Kimara memiliki perkembangan dalam kepribadian yang positif.

 

KESIMPULAN

Analisis struktur elemen dalam novel Trauma karya Boy Candra yaitu (1) id pada novel ini memiliki dua id berdasarkan instring seksual dan agresig adalah ketika Kimara ingin meminum kopi hitam dan ketika Kimara yang tanpa disadari selalu mau menerima ajakan dari para pria yang menyukainya dan suka menyakiti dirinya sendiri, (2) ego pada novel ini adalah ketika Kimara sosoknya rindu kasih sayang seorang ayah dan menerima pernyataan cinta atau menjalin hubungan dari para pria tanpa pendekatan yang lama terlebih dahulu, dan (3) superego pada novel ini adalah ketika Kimara mampu berdamai dengan masa lalunya dan Ibu Kimara yang selalu menanamkan norma yang membuat pengaruh baik terhadap Kimara seperti mengatakan jika masih sekolah harus fokus dengan pendidikan bukan pada asmara.  Adapun kritik terhadap novel Trauma yaitu terdapat pada ego tokoh Kimara yang menyakiti dirinya sendiri tanpa berfikir panjang karena trauma akan masa lalunya namun hal tersebut justru membuat ia selalu berusaha mencari kasih sayang sosok seorang ayah namun dengan cara yang salah. Walaupun pada superego Kimara memiliki perkembangan yang lebih positif karena penanaman nilai dari Sang Ibu.

 

BIBLIOGRAFI

 

Aliasar, Sonny A. B. (2021). Raksi Formasi Ego Tokoh Zahrana Dalam Novel Cinta Suci Zahrana Karya Habiburrahman EL-Shirazy : Kajian Psikoanalisis Sigmund Freud. Bapala, 8(5), 19–27. Retrieved from https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/bapala/article/view/41147/35484

 

Angriani, Nurul. (2017). Analisis Psikologis Tokoh Naskah Drama Eyang Sukro Karya Suyadi San.

 

CANDRA, BOY. (2020). TRAUMA (Pertama). Jakarta: Media Kita.

 

Diana, Ani. (2016). Analisis Konflik Batin Tokoh Utama Dalam Novel Wanita Di Lautan Sunyi Karya Nurul Asmayani. Jurnal Pesona, 2(1), 43–52.

 

Dr. Suwandi Endraswara, M. Hu. (2013). TEORI KRITIK SASTRA (Cetakan Pe; Tri Admojo, Ed.). Yogyakarta: CAPS.

 

FAOZIAH, FAOZIAH. (2016). PSIKOLOGI TOKOH TRIMO DALAM NOVEL “SANG PENAKLUK ANGIN” KARYA NOVANKA RAJA BERDASARKAN TEORI SIGMUND FREUD DAN KAITANNYA DENGAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH. Universitas Mataram.

 

Gasong, Dina. (2018). Bahan Ajar Mata Kuliah Kritik Sastra. Deepublish.

 

Hatta, Kusmawati. (2015). Peran Orangtua Dalam Proses Pemulihan Trauma Anak. Gender Equality: Internasional Journal of Child and Gender Studies, 1(2), 57–74.

 

Hidayati, Eka Suci, Wardiah, Dessy, & Ardiansyah, Arif. (2021). Klasifikasi Emosi Tokoh Dalam Novel Titian Takdir Karya W Sujani ( Kajian Psikologi Sastra ). Jurnal Pendidikan Tambusai, 5, 2005–2017.

 

Oktiana, Eko. (2015). Konflik Psikis pada Tokoh-Tokoh Wanita dalam Novel Kunarpa Tan Bisa Kandha Karangan Suparto Brata (tinjauan psikologi sastra). Prodi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Jawa UMP, 06(04), 53–61. Retrieved from http://download.portalgaruda.org/article.php?article=326320&val=616&title=Konflik Psikis pada Tokoh-Tokoh Wanita  dalam Novel Kunarpa Tan Bisa Kandha Karangan Suparto Brata (Tinjauan Psikologi Sastra)

 

Prawira, Sophian Djaka. (2018). Karakter Tokoh Utama Pada Novel Entrok Karya Okky Madasari (Kajian Psikologi Sastra). Jurnal Ilmiah FONEMA : Jurnal Edukasi Bahasa Dan Sastra Indonesia, 1(1), 1. https://doi.org/10.25139/fn.v1i1.1092

 

Rika Endri Astuti, Yant Mujiyanto, Muhammad Rohmadi. (2017). ANALISIS PSIKOLOGI SASTRA DAN NILAI PENDIDIKAN DALAM NOVEL ENTROK KARYA OKKY MADASARI SERTA RELEVANSINYA SEBAGAI MATERI PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS. Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra Indonesia Dan Pengajarannya, 4(August), 175–187.

 

Sita, Firdauzi Nur, Jamal, Hana Septiana, & Hartati, Dian. (2021). KAJIAN SASTRA BANDINGAN NOVEL SALAH ASUHAN DENGAN NOVEL LAYLA MAJNUN: Pendekatan Psikologi Sastra. Lingua Franca:Jurnal Bahasa, Sastra, Dan Pengajarannya, 5(2), 131. https://doi.org/10.30651/lf.v5i2.8663

 

Siti, Upi, Afaf, Sulefa, & Selma, Gina. (2018). KRITIK CERPEN SEPERTI GERIMIS YANG MERUNCING MERAH KARYA TRIYANTO TRIWIKOMO DENGAN PENDEKATAN PSIKOLOGI Upi. Prosiding Pekan Seminar Nasional (Pesona) 2018, 110–121.

 

Windari, Retno. (2019). Analisis kepribadian tokoh utama novel gumam tebing menorah karya Siwi Nurdiani kajian: Carl Gustav Jung.

 

Wirna, Ika. (2012). Analisis Gaya Bahasa Novel Laskar Pelangi Kary A Andrea Hirata Serta Implikasinya Dalam Pembelajaran Bahasa Dan Sastra Indonesia Di Sma.

 



[1] Ibid, hal.140