KRITIK PADA NOVEL TRAUMA KARYA BOY
CANDRA PENDEKATAN PSIKOLOGIS
Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA
Corresponding
Author: Shabrina Amelia Mubiina Ah
E-mail: shabrinaalhadiid@gmail.com
PENDAHULUAN
Sastra dapat bermanfaat
sebagai penambah pengetahuan dan wawasan. Tak hanya itu,
sastra juga dapat memberikan
pelajaran untuk kehidupan karena banyak pesan yang dapat diambil dari
ceritanya. Karya sastra terlahir dan berkembang sesuai dengan zamannya
sehingga mengikuti perkembangan zaman.(Sita,
Jamal, & Hartati, 2021). Karya
sastra merupakan daya cipta dari manusia
yang terbuka dengan melihat dari lingkungan
sosial jadi sesuai dengan kenyataan
yang ada dimasyarakat.
Sastra dapat mengungkapkan rancangan yang tersusun di dalam pikiran maupun
perasaan, ide, komentar,
dan perkiraan tentang kehidupan yang bersifat imajinasi. (Oktiana,
2015). Karya sastra mengikuti perkembangan zaman sesuai dengan pandangan manusia itu sendiri.
Sastra dapat dijadikan landasan bagi kehidupan
manusia sebab manusia juga yang membuatnya. Dalam karya memiliki
berbagai macam bentuk karya. Karya
sastra merupakan ekspresi batin seseorang melalui cara penggambaran
terhadap wawasan pengarang dengan berkaitan hidup dan tidak dengan kenyataan
hidup. (Hidayati,
Wardiah, & Ardiansyah, 2021). Bentuk karya sastra memiliki jenis yang beragam yaitu puisi, prosa,
fiksi, cerita pendek, roman, dan novel. Salah satu
bentuk karya sastra yang banyak diminati oleh seluruh kalangan yaitu novel.
Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra berbentuk prosa yang merupakan bayangan atau gambaran dari
kehidupan manusia.
Novel bersifat
menyerupai kebenaran dan peniruan, yang berkembang dari bentuk-bentuk naratif non fiksi dan secara stilistika menekankan pentingnya kejelasan secara mendalam (Windari,
2019). Novel tercipta sesuai dengan keinginan
si pengarang sehingga selalu adanya rekayasa agar semakin menarik. (Prawira,
2018). Menggunakan berbagai tokoh-tokoh dengan sifat yang bermacam-macam diberi unsur keindahan
agar semakin menarik. Novel
hadir dalam cerita yang beragam, disajikan bermacam-macam yang disesuaikan dengan ciri khas keahlian
para pengarang. Berbagai jenis dan bentuk novel pun sudah banyak tersebar
di pasaran(Wirna,
2012). Tema dalam novel terdapat beberapam macam, yaitu persahabatan, pendidikan dan percintaan. Hal ini bertujuan untuk memberikan kesenangan dan manfaat untuk para pencinta novel. Pengarang novel memiliki jiwa maka pengambilannya
pun terinspirasi dari gejala-gejala yang ada dikenyataan sekitar. Kejiwaan tersebutlah dapat sebagai tumpuan
pada kritik sastra. Kritik
sastra adalah menilai sebuah karya sastra baik keindahan maupun keburukannya yang dapat disesuaikan dengan berbagai pendekatan.
Salah satu pendekatan
kritik sastra yaitu pendekatan psikologis. kritik sastra psikologis
adalah sebuah perkembangan baru dalam pemikiran sastra. Jiwa seseorang mengalami perubahan karena manusia terus tumbuh
dan berkembang setiap tahunnya(Gasong,
2018). Kritik sastra psikologis
harus bisa memperkirakan polemik penting, apakah yang telah disampaikan pengarang karena gambaran dari batinnya
sebagai ekspresi batin atau hanya
sekedar obsesi saja. Maka dari itu pendekatan psikologi sastra yaitu suatu pendekatan
yang berisi mengenai masalah-masalah yang ada pada kehidupan manusia. Dalam mengkritik sebuah karya sastra maka seorang kritikus
dapat menggunakan beberapa pendekatan yang bertujuan untuk menjadi bahan acuan
kritikus dalam mengkritik, adapun pendekatan-pendekatan yang dapat digunakan dalam mengkritik sebuah karya sastra adalah pendekatan mimesis, pendekatan pragmatis, pendekatan ekspresif, pendekatan objektif, pendekatan semiotik, pendekatan sosiologis, pendekatan psikologis, dan pendekatan moral Pendekatan yang berkaitan dengan kejiwaan seseorang yaitu pendekatan psikologis. (Siti,
Afaf, & Selma, 2018).
Pendekatan psikologis sangat dekat dengan kejiwaan tokoh yang terdapat dalam novel. Setiap manusia memiliki masalah dan kejiwaan yang berbeda-beda. Maka terjadi reaksi yang berdampak baik maupun buruk tergantung
dari orang tersebut apakah diterima oleh lingkungannya. (Aliasar,
2021). Salah satu novel yang memiliki kejiwaan yang begitu melekat yaitu novel Trauma karya Boy Candra yang merupakan
salah satu novel bertema seorang gadis yang selalu mendapatkan kesakitan dalam sebuah hubungan
dalam keluarga maupun percintaan. Novel ini diterbitkan tahun 2020 mengenai kisah seorang gadis bernama Kimara yang berlatar belakang dari keluarga broken home jadi tidak pernah
merasakan kasih sayang dari seorang
ayah sebab ayahnya telah lama bercerai dengan ibunya. Ayahnya selalu datang dan pergi seenaknya, hal tersebut membuat Kimara takut menjalin
hubungan dengan pria namun pada semasa ia sekolah
baik semasa SMA hingga menjadi penulis pun selalu berusaha membuka hati tetapi ternyata
selalu kepada pria yang salah. Padahal ketika sedang pacaran
dia seolah dapat merasakan kasih sayang dari
sosok ayah. Dalam novel ini, banyak polemik
mengenai kejiwaan atau perasaan yang mendalam tentang pahitnya seseorang menerima kenyataan yang ada pada hidupnya.
Hal ini sebagaimana
seperti penelitian yang dilakukan oleh Aswandi dalam skripsi yang berjudul Kajian Psikologi Tokoh Utama Dalam Novel Jangan Pernah Putus
Asa. Hasil dari penelitian
menunjukkan bahwa terdapat analisis mengenai id, ego, dan superego yang dimiliki
oleh tokoh utama yaitu Nadia. Adapun perbedaan dengan penelitian sebelumnya, yaitu pada penelitian ini penulis melakukan kritik terhadap novel Trauma karya Boy Candra dengan pendekatan psikologis sehingga menilai keburukan dan kebaikan yang ada pada novel tersebut.
Teori psikologis menurut Freud adalah tentang kedasaran dan ketidaksadaran yang
dianggap sebagai aspek kepribadian dan tentang insting dan kecemasan. Menurut Freud (via FAOZIAH,
2016) kehidupan psikis mengandung dua bagian, yaitu kesadaran
dan ketidaksadaran. Bagian kesadaran
bagaikan permukaan gunung es yang nampak, merupakan bagian kecil dari kepribadian,
sedangkan permukaan air ialah bagian ketidaksadaran
sehingga mengandung naluri-naluri yang mendorong semua perilaku manusia. Jadi Freud mengembangkan
konsep tersebut meliputi id, ego, dan superego(Angriani,
2017).
Alasan penelitian ini mengkritik novel Trauma karya Boy
Candra dengan menggunakan pendekatan psikologis antara lain karena novel ini termasuk buku
best seller ditahun 2020, untuk
menjelaskan dan mengungkapkan
id, ego, superego pada novel Trauma karya Boy Candra,
dan untuk mengungkapkan dan
menjelaskan kritik sastra psikologis pada novel Trauma karya
Boy Candra. Berdasarkan latar
belakang di atas, maka rumusan masalah
yang akan diteliti yaitu bagaimana analisis id, ego, dan superego pada novel Trauma karya Boy Candra dan bagaimana kritik psikologis terhadap novel Trauma karya Boy
Candra. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejiwaan pada tokoh-tokoh tersebut sehingga terungkap kritik psikologis yang terkandung dalam novel Trauma dengan menggunakan pendekatan psikologis..
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Dengan adanya pendeskripsian data-data berupa analisis psikologis (id, ego, dan superego) dan menilai
atau mengkritik terhadap novel Trauma. Objek pada
penelitian ini adalah novel Trauma karya Boy
Candra yang terbit tahun
2020 dan diterbitkan oleh mediakata.
Data penelitian ini yakni meliputi kata-kata, kalimat, dan paragraf dalam novel Trauma. Teknik pengumpulan
data yang digunakan berwujud
teknik Pustaka, simak, dan catat. Teknik analisis data yang digunakan dengan pembacaan hermeneutik, karena dapat lebih
memahami suatu karya sastra. Adapun langlah-langkah
yang digunakan untuk menganalisis data adalah: (1) membaca secara keseluruhan novel dengan berulang-ulang agar mendapatkan pengetahuan dan kesan tentang isi novel, (2) membuat sinopsis novel, (3) menganalisis id, ego, dan superego pada novel, (4) membaca lebih dalam
peristiwa yang ada dalam novel Trauma, (5) mengkritik
struktural sesuai dengan data yang telah diklasifikasikan, serta (6) menyimpulkan dari hasil analisis data.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil dan pembahasan yang ditemukan oleh peneliti pada novel Trauma karya
Boy Candra dengan pendekatan
psikologis yaitu terdapat tiga struktur
elemen yang sesuai dengan teori Freud, meliputi id, ego, dan superego.
A.
Analisis Struktur Elemen Psikologis dalam novel Trauma karya Boy Candra
Id adalah suatu komponen kepribadian terpenting yang biasanya muncul sejak lahir.
Id hanya berlandaskan kesenangan sehingga yang muncul hanya mengenai
semua keinginan, keinginan, dan kebutuhan. Berarti hanya mengutamakan
keinginan yang harus terpenuhi terlebih dahulu. Id berusaha untuk mengatur ketegangan yang diciptakan (Rika Endri Astuti, Yant Mujiyanto, 2017). Jadi id merupakan bagian
kepribadian yang bersifat naluri dan secara tidak sadar mau
berbuat suatu hal karena seperti
ada dorongan. Tetapi jika keinginan
tersebut tidak terpenuhi maka emosionalnya akan menjadi cemas, marah, dan tegang. Kekuatan yang berkaitan dengan id mencakup insting seksual yang berarti naluri sejak lahir seperti
makan, minum, dan seks. Sedangkan, insting agresif bersifat merusak diri sendiri seperti
menyakiti diri, bunuh diri, dan lain sebagainya. (Suwandi Endraswara, 2013).
Id dalam novel ini
yang mencakup insting seksual adalah ketika Kimara memiliki
naluri minum. Dapat dibuktikan dengan kalimat Aku mengangguk, memberi isyarat untuk menambah
satu gelas kopi lagi, seperti yang ku pesan sebelumnya.
Kopi hitam dan paling pahit.
(Candra: 2020 hal.5).
Pada kalimat tersebut
menunjukkan bahwa naluri dari Kimara
yang ingin minum kopi kedua kalinya tanpa
paksaan dari siapapun melainkan memang dari kemauannya
untuk minum.
Id dalam novel ini
yang mencakup insting agresif adalah sosok Kimara yang senang menyakiti diri. Karena tumbuh dari keluarga yang tidak utuh atau
tidak pernah merasakan kasih sayang dari sosok
ayah karena sang Ayah pergi
meninggalkannya bahkan selalu datang dan pergi seenaknya hingga Ibunya memutukan
bercerai. Kepahitan yang dirasakan oleh seorang anak membuat perubahan
emosi yang cepat berubah-ubah. (Hatta, 2015). Hal tersebut memunculkan rasa trauma atau ketidakpercayaan terhadap laki-laki namun ia berusaha
meyakinkan diri untuk menerima pria dihatinya.
Menyakiti
diri dapat dibuktikan dalam kalimat:
Barangkali di kepala
Ibu, patah hatiku hanya soal biasa.
Ia tidak sadar, selama ini
aku tumbuh dari pengalaman-pengalaman yang membuatku menyimpulkan satu hal: tidak
ada laki-laki baik di bumi. Lalu bagaimana aku akan
merasa tenang jika menikah?Aku
bahkan tidak percaya pada satu lelaki pun. Pada kalimat tersebut menunjukan sosok Kimara menyakiti dirinya sendiri karena ia tidak
dapat percaya
dengan pria manapun dan tidak lapang dada atas apa yang terjadi pada dirinya.
Dengan
wajah gugup, tapi terlihat berusaha
tenang, tiba-tiba dia menarik lenganku.
ikut denganku,bisiknya.Tanpa
aku bisa bertanya banyak, dia bergerak sangat cepat. Aku yang masih kebingungan hanya bisa menurut. Pada kutipan tersebut
menunjukkan bahwa Kimara menyakiti dirinya sebab dia
selalu menurut ajakan dari pria.
Sehingga seolah selalu mau padahal
karena sikap yang tidak bisa menolak
permintaan atau tidak bisa berkata
tidak (people pleaser). Berakibat
hanya tahu keinginan dari orang lain tetapi tidak tahu
apa yang dirinya inginkan.
Tanpa sadar air mataku jatuh tak
tertahan. Rasanya hancur sekali. Aku berdiri dengan sisa tenaga dan berlari ke dalam
kamar. Aku melempar kaca ke dalam
badanku. Pada kutipan tersebut menunjukkan bahwa Kimara menyakiti
dirinya sendiri dengan melempar kaca ke dalam
badannya.
Ego adalah kepribadian
yang bersifat bertanggung jawab dalam mengatasi
kenyataan yang ada dari id serta dapat
dinyatakan pada cara yang bisa diterima oleh dunia nyata. Mengontrol segala tindakan, pikiran, dan berkata ketika dalam keadaan
marah atau emosi. (Diana, 2016). Menurut freud, Ego sadar akan realitas
sehingga menyebutnya sebagai prinsip realitas.(Suwandi Endraswara, 2013). Ego menyesuaikan diri
dengan kenyataan yang ada. Ego berupaya dengan kenyataan yang ada seperti, memberhentikan
kepuasaan atau melanjutkan sesuai dengan keinginannya sehingga menimbang-nimbang jadi hasil keputusannya
dalam bertindak tergantung dari pribadi masing-masing.
Ego dalam novel ini dapat dibuktikan dalam kalimat :
Sungguh aku tidak pernah menyangka
Ardi mendadak menyatakan perasaannya padaku. Aku masih diam, saat Ardi mengulangi
permintaanyaa. Akhinya Aku mengacungkan jari kelingking. Mulai hari itu kami resmi
berpacaran. Pada kalimat tersebut menunjukkan bahwa Kimara ingin
mendapatkan kasih sayang yang membuatnya cepat menerima orang baru atau menjalin
hubungan dari para pria tanpa pendekatan
yang lama. Seperti pada id yang menunjukkan
Kimara selalu menuirut kepada pria yang mengajaknya begitupun dalam egonya Kimara cepat
menerima orang baru dikarenakan mencari sosok kasih sayang.
Aku berdiri dengan sisa tenaga dan berlari ke dalam
kamar. Aku melempar kaca ke dalam
badanku. Hal bodoh yang ku lakukan saat
tidak bisa lagi menahan diriku
dari rasa marah yang tak jelas begini.
Pada kalimat tersebut menunjukkan bahwa ego Kimara yang tidak bisa menahan dirinya
ketika marah hingga berani melukai
dirinya sendiri.
Rasanya seperti tidak dianggap anak. Meski sejujurnya
dalam hati kecilku, aku sering
rindu pada Ayah. Aku marah
pada semua hal, tapi disaat yang sama, aku merindukan
hal itu. Pada kalimat tersebut menunjukkan bahwa ego Kimara yang kesal terhadap sikap sang ayah, namun ia tetap
rindu akan kasih sayangnya .
Seperti pada id maupun egonya Kimara yang menyakiti dirinya sendiri hanya karena
benci dengan tindakan ayahnya yang datang dan pergi sesukanya. Padahal di hati kecilnya ia
merindukan sosok seorang Ayah.
Superego adalah moral yang didasarkan
oleh norma atau aturan dari orang tua yang ada di dalam masyarakat mengenai tentang suatu tindakan dan nilai salah atau benar. (Dr. Suwandi Endraswara, 2013). Superego dapat mengembangkan kepribadian yang positif maupun negatif. Jadi dapat dikatakan superego ialah nilai moral dari orangtua dan lingkungan sekitar agar manusia berpikir mana yang baik dan buruk untuk dirinya.
Superego pada tokoh Kimara
dapat dibuktikan dalam kalimat :
Air mataku jatuh begitu saja. Ada hal besar yang selama ini kutolak.
Namun kini kusadari,
mereka adalah kebahagiaan yang tak pernah ku ajak
berdamai. Aku merasa lega. Meski disisi
lain, berat sekali rasanya memaaafkan ayah.
Aku datang bersama
Ibu, Amira, dan Lusia. Ayah entah
kemana. Aku semakin jarang bertemu dengannya, apalagi sejak aku ngekos
dan dia bolak-balik kerja keluar kota.
Namun, aku berusaha tidak kecewa lagi padanya.
Meski seharusnya, dia melihat apa
yang telah aku capai . Hanya saja aku
menyadari; semakin aku menanam harapan,
semakin dekat kecewa itu padaku.[1] Pada kedua kalimat tersebut menunjukkan bahwa Kimara mulai berdamai
dengan kekecewaan masa lalunya. Ia sadar
serta mampu memaafkan dan menghilangkan rasa benci terhadap sang ayah dengan tidak menanamkan
harapan. Jadi Kimara pun dapat mengembangkan kepribadian yang positif.
Superego pada tokoh Ibu dapat dibuktikan dalam kalimat :
Memang bukan hal buruk. Kamu
masih sangat muda. Seharusnya, kamu fokus belajar dululah.
Jangan mikirin hal lain dulu. Semua ada waktunya.
Sekarang, kamu seharusnya lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar,
bukan pacarana. Pada kalimat
tersebut menunjukkan bahwa pemberian nilai moral dari tokoh Ibu, jika masih sekolah hendaknya
lebih fokus memikirkan pendidikan bukan asmara. Hal tersebut sangat berpengaruh positif terhadap Kimara karena dengan
pemberian norma atau aturan membuat
Kimara sukses dalam berkarir menjadi seorang penulis.
Manusia memang bisa berubah. Tapi, kita tidak seharusnya
membenci dan dendam padanya. Ibu tidak pernah menyesal atas apapun yang sudah Ibu terima. Sesedihnya hidup, kini Ibu masih memilikimu. ( Candra: 2020 hal}. Pada kalimat tersebut menunjukkan bahwa Sang Ibu tidak ingin jika Kimara
mempunyai sifat dendam kepada siapapun
orang yang telah menyakitinya.
Sebab ibunya pun pernah mengalami kepahitan dalam cinta maka dari
itu ia selalu
memberikan arahan kepada Kimara.
B.
Kritik Pendekatan Psikologis
Dalam Novel Trauma
Pada novel ini dijelaskan
bahwa ego tokoh Kimara yang sangat ingin mendapatkan kasih sayang dari Sang Ayah. Tetapi, ia salah dalam bertindak karena mencari kasih sayangnya dengan cara mencari
kepada laki-laki lain. Kimara menerima
semua pria yang menyatakan perasaan kepadanya tanpa pendekatan yang lama, sehingga membuat dirinya selalu mendapatkan kesakitan dan laki-laki yang
salah. Pada saat mengalami kekesalan, kekecewan, dan marah yang memuncak sosok Kimara suka
menyakiti dirinya sendiri dengan melemparkan kaca ke dalam tubuhnya.
Jadi ego kimara sangat merindukan
kasih sayang dari sang ayah namun ia mencari kasih
sayang tersebut dengan cara yang salah. Keinginan yang dilakukan Kimara itu positif
namun tindakannya negatif. Hal tersebut membuat bertentangan dengan psikologi sebab tindakan yang dilakukan melukai diri sendiri dengan
melemparkan kaca ke dalam tubuhnya.
Seharusnya yang dilakukan Kimara itu fokus
pada hal penting, berusaha menerima perasaan yang muncul dengan tidak melakukan
tindakkan melukai diri, dan selalu berfikir dampak yang akan terjadi jika
sampai melukai diri sendiri. Walaupun
pada superego tokoh Kimara mampu memaafkan dan berdamai dengan dirinya sendiri akan segala kepahitan
dimasa lalu karena ia tersadar
untuk tidak mengharapkan apapun kepada manusia terkhusus pada ayahnya. Hal tersebut juga karena adanya penanaman aturan yang diberikan Sang Ibu seperti harus berfokus
pada pendidikan lalu harus dapat memaafkan
orang yang telah menyakiti membuat Kimara memiliki perkembangan dalam kepribadian yang positif.
KESIMPULAN
Analisis struktur elemen dalam novel Trauma karya Boy
Candra yaitu (1) id pada novel ini
memiliki dua id berdasarkan instring seksual dan agresig adalah ketika Kimara
ingin meminum kopi hitam dan ketika Kimara yang tanpa disadari selalu mau menerima ajakan
dari para pria yang menyukainya dan suka menyakiti dirinya sendiri, (2) ego pada novel ini adalah ketika Kimara
sosoknya rindu kasih sayang seorang
ayah dan menerima pernyataan
cinta atau menjalin hubungan dari para pria tanpa pendekatan yang lama terlebih dahulu, dan (3) superego
pada novel ini adalah ketika Kimara mampu
berdamai dengan masa lalunya dan Ibu Kimara yang selalu menanamkan norma yang membuat pengaruh baik terhadap
Kimara seperti mengatakan jika masih sekolah harus
fokus dengan pendidikan bukan pada asmara. Adapun kritik terhadap novel Trauma yaitu terdapat pada ego tokoh Kimara yang menyakiti dirinya sendiri tanpa berfikir
panjang karena trauma akan masa lalunya namun hal tersebut
justru membuat ia selalu berusaha
mencari kasih sayang sosok seorang
ayah namun dengan cara yang salah. Walaupun pada
superego Kimara memiliki perkembangan yang lebih positif karena penanaman nilai dari Sang Ibu.
BIBLIOGRAFI
Aliasar, Sonny A. B. (2021). Raksi
Formasi Ego Tokoh Zahrana Dalam Novel Cinta Suci Zahrana
Karya Habiburrahman EL-Shirazy :
Kajian Psikoanalisis Sigmund Freud. Bapala, 8(5), 1927. Retrieved from https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/bapala/article/view/41147/35484
Angriani, Nurul. (2017). Analisis
Psikologis Tokoh Naskah Drama Eyang Sukro Karya Suyadi
San.
CANDRA, BOY. (2020). TRAUMA (Pertama). Jakarta: Media Kita.
Diana,
Ani. (2016). Analisis Konflik
Batin Tokoh Utama Dalam Novel Wanita Di Lautan Sunyi Karya Nurul Asmayani. Jurnal Pesona, 2(1), 4352.
Dr. Suwandi Endraswara, M. Hu.
(2013). TEORI KRITIK SASTRA (Cetakan Pe; Tri Admojo, Ed.). Yogyakarta: CAPS.
FAOZIAH,
FAOZIAH. (2016). PSIKOLOGI TOKOH TRIMO DALAM NOVEL SANG PENAKLUK ANGIN
KARYA NOVANKA RAJA BERDASARKAN TEORI SIGMUND FREUD DAN KAITANNYA DENGAN
PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH. Universitas Mataram.
Gasong, Dina. (2018). Bahan
Ajar Mata Kuliah Kritik Sastra.
Deepublish.
Hatta, Kusmawati. (2015). Peran Orangtua
Dalam Proses Pemulihan
Trauma Anak. Gender Equality: Internasional
Journal of Child and Gender Studies, 1(2), 5774.
Hidayati, Eka Suci, Wardiah, Dessy, & Ardiansyah, Arif. (2021). Klasifikasi Emosi Tokoh Dalam Novel Titian Takdir Karya W Sujani ( Kajian Psikologi Sastra ). Jurnal
Pendidikan Tambusai, 5, 20052017.
Oktiana, Eko. (2015). Konflik Psikis pada Tokoh-Tokoh Wanita dalam Novel Kunarpa Tan Bisa Kandha Karangan Suparto Brata (tinjauan psikologi sastra). Prodi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Jawa UMP, 06(04), 5361. Retrieved from
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=326320&val=616&title=Konflik
Psikis pada Tokoh-Tokoh Wanita dalam
Novel Kunarpa Tan Bisa Kandha
Karangan Suparto Brata (Tinjauan Psikologi Sastra)
Prawira, Sophian Djaka. (2018). Karakter Tokoh Utama Pada Novel Entrok Karya Okky Madasari
(Kajian Psikologi Sastra). Jurnal
Ilmiah FONEMA : Jurnal Edukasi Bahasa Dan Sastra
Indonesia, 1(1), 1. https://doi.org/10.25139/fn.v1i1.1092
Rika Endri Astuti, Yant
Mujiyanto, Muhammad Rohmadi.
(2017). ANALISIS PSIKOLOGI SASTRA DAN NILAI PENDIDIKAN DALAM NOVEL ENTROK KARYA
OKKY MADASARI SERTA RELEVANSINYA SEBAGAI MATERI PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH
MENENGAH ATAS. Jurnal Penelitian
Bahasa, Sastra Indonesia Dan Pengajarannya, 4(August),
175187.
Sita, Firdauzi Nur, Jamal, Hana Septiana,
& Hartati, Dian. (2021). KAJIAN SASTRA BANDINGAN
NOVEL SALAH ASUHAN DENGAN NOVEL LAYLA MAJNUN: Pendekatan
Psikologi Sastra. Lingua Franca:Jurnal Bahasa, Sastra, Dan Pengajarannya,
5(2), 131. https://doi.org/10.30651/lf.v5i2.8663
Siti, Upi, Afaf, Sulefa,
& Selma, Gina. (2018). KRITIK CERPEN SEPERTI GERIMIS YANG MERUNCING MERAH
KARYA TRIYANTO TRIWIKOMO DENGAN PENDEKATAN PSIKOLOGI Upi.
Prosiding Pekan Seminar Nasional (Pesona) 2018, 110121.
Windari, Retno. (2019). Analisis kepribadian tokoh utama novel gumam tebing menorah karya Siwi Nurdiani
kajian: Carl Gustav Jung.
Wirna, Ika. (2012). Analisis Gaya Bahasa Novel Laskar
Pelangi Kary A Andrea Hirata Serta Implikasinya
Dalam Pembelajaran Bahasa
Dan Sastra Indonesia Di Sma.