GAMBARAN
TINGKAT STRES MASYARAKAT TERHADAP PENYAKIT COVID-19
Connie M. Sianiper, Hotmaria
Br Gurning
Program Studi D3 Keperawatan STIKes Santa Elisabeth Medan, Indonesia
[email protected], [email protected]
|
|
Abstract |
|
|
Received: |
02-02-2022 |
Stress is a state of tension, when a
person faces a problem or challenge and cannot find a way out, so it could be
because when he starts looking for solutions, many other thoughts are
disturbing, here there is an imbalance between guidance and the ability to
overcome them. The purpose of this study was to describe the level of public
stress on the Covid-19 disease in Simangalam
Village, Labuhan Batu Utara District, Kualuh Selatan Regency in 2021. This study used a
descriptive research design. The population in this study was the Simangalam Village community, Labuhan
Batu Utara District and the researchers examined as many as 51 respondents. The
sampling technique in this study used a proportional sampling technique. The
measurement instrument in this study used a questionnaire. Based on the
results of the study, it was concluded that the community had the highest
level of stress related to Covid-19 disease, with 26 respondents responding
to mild stress (88.2%) and the lowest responding to moderate stress level 6
(11.2%). |
|
Accepted: |
02-02-2022 |
|
|
Published: |
20-02-2022 |
|
|
Keywords: |
stress
level; public; covid-19 |
|
|
|
Abstrak |
|
|
Kata kunci: |
tingkat stress; masyarakat;
covid-19 |
Stres adalah
suatu keadaan ketegangan, ketika seseorang menghadapi suatu masalah atau tantangan dan tidak dapat menemukan
jalan keluarnya, sehingga bisa jadi karena ketika
ia mulai mencari solusi, banyak pikiran lain yang mengganggu, di sini terdapat ketidakseimbangan antara bimbingan dan kemampuan mengatasinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat stres masyarakat terhadap penyakit Covid-19 di Desa Simangalam
Kecamatan Labuhan Batu
Utara Kabupaten Kualuh
Selatan tahun 2021. Penelitian
ini menggunakan desain penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat
Desa Simangalam Kecamatan
Labuhan Batu Utara dan peneliti
meneliti sebanyak 51 responden. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik proporsional sampling. Instrumen
pengukuran dalam penelitian ini menggunakan kuesioner. Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa masyarakat memiliki tingkat stres tertinggi terkait penyakit Covid-19, dengan responden merespon stres tingkat ringan 26 responden (88,2%) dan terendah merespon stres tingkat sedang 6 responden (11,2%). |
Corresponding Author: Connie M. Sianiper
E-mail:
[email protected]
PENDAHULUAN
Covid-19
merupakan bencana non alam yang berdampak pada masyarakat luas. Kondisi ini memberikan
dampak fisik dan psikis bagi setiap
individu, terutama masyarakat yang mengalami isolasi atau karantina
akibat Covid-19. Masyarakat harus
tinggal di rumah sakit khusus karantina
karena dianggap tidak bisa melakukan
karantina mandiri di rumah dan berpotensi menyebarkan Covid-19. Hal ini dapat menimbulkan gangguan emosional berupa stres yang berlebihan akibat respon dari masyarakat
sekitar (Handayani, Ayubi,
& Anshari, 2020).
Virus
Corona 2019 atau Covid-19 merupakan
virus Corona jenis baru, selain berdampak terhadap fisik juga dapat berdampak serius pada kesehatan mental seseorang (Huang & Zhao,
2020), berbagai
gangguan psikologis telah dilaporkan dan dipublikasikan selama mewabahnya Covid-19 di China, baik
di tingkat individu, komunitas, nasional, maupun internasional. Pada tingkat individu, orang lebih cenderung mengalami ketakutan akan infeksi dan mengalami gejala yang parah atau sekarat,
merasa tidak berdaya, dan membuat stereotip orang lain. Pandemi bahkan menyebabkan krisis psikologis seperti stres berkepanjangan,
kecemasan, depresi dan
trauma (Xiang et al., 2020).
Stres
adalah reaksi normal terhadap situasi yang mengancam dan tidak terduga seperti pandemi virus corona. Kemungkinan
reaksi terkait stres dalam menanggapi
pandemi Coronavirus dapat mencakup perubahan konsentrasi, cepat marah, kecemasan, insomnia, penurunan produktivitas, dan konflik interpersonal, terutama berlaku untuk kelompok
yang terkena dampak langsung.� Terlepas dari ancaman
yang ditimbulkan oleh virus itu
sendiri, tidak diragukan lagi bahwa tindakan karantina yang diterapkan di banyak negara memiliki efek psikologis yang negatif, yang semakin meningkatkan gejala stres. Ketidakpastian umum, ancaman terhadap
kesehatan individu dan tindakan karantina dapat memperburuk kondisi yang sudah ada sebelumnya seperti depresi, kecemasan, dan gangguan stres pascatrauma. Selain itu, risiko penularan
penyakit dapat meningkatkan kontaminasi pada pasien dengan gangguan
obsesif-kompulsif dan hipokondria,
atau individu dengan ide paranoid. Meskipun tindakan karantina melindungi dari penyebaran virus corona, tindakan
tersebut membutuhkan isolasi dan kesepian yang menciptakan stres psikososial utama dan dapat memperburuk penyakit mental (Vahia et al., 2020).
Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Jiwa Indonesia (PDSKJI) melakukan
survei kesehatan jiwa melalui pemeriksaan
mandiri secara online. Pemeriksaan dilakukan terhadap 1.552 responden mengenai tiga masalah
psikologis, yaitu kecemasan, depresi, dan trauma. Responden terbanyak adalah perempuan (76,1%) dengan usia minimal 14 tahun dan maksimal 71 tahun. Responden terbanyak berasal dari Jawa Barat 23,4%, DKI Jakarta 16,9%, Jawa Tengah
15,5%, dan Jawa Timur 12,8% (PDSKJI, 2020). Hasil survei
menunjukkan 63% responden mengalami kecemasan dan 66% responden mengalami depresi akibat pandemi Covid-19.
Selanjutnya sebanyak 80% responden
memiliki gejala stres pasca trauma. Psikologis karena mengalami atau menyaksikan peristiwa tidak menyenangkan terkait Covid-19. Gejala stres psikologis pasca trauma berat dialami oleh 46% responden, gejala stres psikologis
pasca trauma sedang dialami oleh 33% responden, gejala stres psikologis
pasca trauma ringan dialami oleh 2% responden, sedangkan 19% tidak ada. gejala. Gejala
stres pasca trauma yang menonjol adalah stres perasaan jauh dan terpisah dari orang lain serta perasaan selalu waspada, hati-hati, dan waspada. Sementara itu, pemeriksaan lanjutan yang dilakukan terhadap 2.364 responden di 34 provinsi menyatakan, hasilnya tidak jauh berbeda dengan
pemeriksaan sebelumnya. Sebanyak 69% responden mengalami masalah psikologis. Sebanyak 68% mengalami kecemasan, 67% mengalami depresi, dan 77% mengalami trauma psikologis. Sebanyak 49% responden yang depresi malah memikirkan
kematian (PDSKJI, 2020). Data tersebut
menggambarkan bahwa masalah kesehatan mental, seperti kecemasan, depresi, trauma akibat pandemi Covid-19 dirasakan masyarakat Indonesia saat ini.
Berdasarkan penelitian (Sulis, 2020) sebanyak 63% responden mengalami kecemasan dan 66% responden mengalami depresi akibat pandemi Covid-19. Gejala utama kecemasan adalah khawatir akan terjadi sesuatu
yang buruk, terlalu khawatir, mudah tersinggung, dan sulit bersantai. Sedangkan gejala utama depresi
yang muncul adalah gangguan tidur, kurang percaya diri, kelelahan, kurang energi, dan kehilangan minat. Selanjutnya, sebanyak 80% responden memiliki gejala stres psikologis
pasca trauma akibat mengalami dan menyaksikan kejadian yang tidak menyenangkan terkait Covid-19. Gejala stres psikologis
pasca trauma berat dialami oleh 46% responden, gejala stres psikologis
pasca trauma sedang dialami oleh 33% responden, gejala stres psikologis
pasca trauma ringan dialami oleh 2% responden, sedangkan 19% tidak ada gejala. Gejala
stres pasca trauma yang menonjol adalah perasaan jauh dan terpisah dari orang lain dan perasaan selalu waspada, hati-hati, dan waspada. Sementara itu, pemeriksaan lanjutan yang dilakukan terhadap 2.364 responden di 34 provinsi menyatakan, hasilnya tidak jauh berbeda dengan
pemeriksaan sebelumnya. Sebanyak 69% responden mengalami masalah psikologis. Sebanyak 68% mengalami kecemasan, 67% mengalami depresi, dan 77% mengalami trauma psikologis. Sebanyak 49% responden memikirkan kematian. Data tersebut menggambarkan bahwa gangguan jiwa akibat kecemasan,
depresi, trauma akibat pandemi Covid-19 dirasakan masyarakat Indonesia saat ini
Masalah
kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, dan trauma akibat Covid-19 dirasakan sebagian besar masyarakat Indonesia. Beberapa faktor risiko utama
adalah jarak sosial dan isolasi, resesi ekonomi, stres dan trauma pada masyarakat
dan diskriminasi. Terhadap
stigma tersebut, pemerintah
meluncurkan bakti sosial untuk membantu
menghadapi ancaman psikologis masyarakat akibat pandemi Covid-19 (Thakur & Jain,
2020).
Peneliti mengambil survey data masyarakat di Desa Simangalam Kecamatan Kualuh Selatan Kabupaten Labuhan Batu Utara ada 756 orang sehingga saya tertarik untuk
mengidentifikasi gambaran Stres Masyarakat terhadap
Covid-19 di Desa Simangalam Kecamatan
Kualuh Selatan Labuhan Batu
Utara Daerah.
Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui gambaran tingkat stres masyarakat
terhadap penyakit Covid-19
di Desa Simangalam Kecamatan
Labuhan Batu Utara Kabupaten
Kualuh Selatan tahun 2021. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif.
METODE PENELITIAN
Rancangan penelitian desskriptif,
penelitian ini dilakukan di Desa Simangalam Kecamatan Kualuh Kabupaten Labuhan Batu Utara.
Total sampel dalam penelitian ini adalah masyarakat desa simangalam kecamatan labuhan batu utara sebanyak 51 orang responden kriteria responden tidak dalam keadaaan sakit dan bersedia menjadi responden yang dengan teknik pengambilan
sampel proportional sampling.�
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel
1. Distribusi Frekuensi Responden Tingkat Stress Masyarakat Terhadap
Covid-19
|
Karakteristik |
F |
% |
|
Umur 30-40 41-50 >50 |
26 15 10 |
51,0 29,4 35,3 |
|
Total |
51 |
100 |
|
Jenis kelamin Laki-laki Perempuan |
25 26 |
49,0 51,0 |
|
Total |
51 |
100 |
|
Pendidikan SMA DII S1 |
35 6 10 |
68,6 11,8 19,6 |
|
Total |
51 |
100 |
|
Pekerjaan Petani Buruh kebun Petani PNS IRT |
15 16 5 11 4 |
29,4 31,4 9,8 21,6 7,8 |
|
Total |
51 |
100 |
|
Agama Katolik Protestan Islam |
18 22 11 |
35,3 43,1 21,6 |
|
Total |
51 |
100 |
Berdasarkan kategori
umur responden sebagian besar berusia 30-40 tahun yaitu 26 orang (51,0%) Berdasarkan
jenis kelamin, sebagian besar adalah perempuan, 26 orang (51,0%). Berdasarkan pendidikan terakhir responden sebagian besar tamatan SMA sebanyak 35 orang (68,6%). Berdasarkan
pekerjaan sebagian besar pekerja kebun
yaitu sebanyak 16 orang
(31,4%). Berdasarkan agama responden
sebagian besar beragama Protestan yaitu 22 orang (43,1%).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti di Desa Simangalam, Kecamatan Kualuh Selatan, Kabupaten Labuhan Batu Utara.
Gambaran tingkat stres masyarakat terhadap Covid-19 di
Desa Simangalam Kecamatan Kualuh Selatan Kabupaten Labuhan Batu Utara tahun 2021 dengan tingkat stres ringan sebanyak
45 orang (88,2%) dan tingkat stres
sedang sebanyak 6 orang
(11,8%). Dapat disimpulkan bahwa tingkat stres
masyarakat terhadap penyakit Covid-19 di Desa Simangalam
Kecamatan Kualuh Selatan Kabupaten Labuhan Batu Utara berada pada kategori ringan.
Tabel
2. Distribusi Frekuensi
Tingkat Stres Responden Terhadap Gambaran Tingkat Stress Masyarakat Terhadap Covid-19
|
Kategori |
F |
% |
|
Normal Ringan Sedang Berat |
0 45 6 0 |
0 88,2 11,8 0 |
|
Total |
51 |
100 |
Berdasarkan tabel
2 di atas diketahui bahwa jumlah responden
dengan tingkat stres ringan adalah
45 orang (88,2%) dan 6 orang dengan tingkat stres sedang
(11,8%).
Berdasarkan hasil penelitian,
tingkat stres masyarakat terhadap penyakit Covid-19 di Desa Simangalam,
Kecamatan Kualuh Selatan, Kabupaten Labuhan Batu Utara, dari 51 responden penelitian, 45 orang (88,2%) memiliki tingkat stres ringan dan 6 orang (11,8%) memiliki tingkat stres sedang. Dari data yang diperoleh, gambaran tingkat stres masyarakat
terhadap COVID-19 di Desa Simangalam
Kecamatan Kualuh Selatan Kabupaten Labuhan Batu Utara tingkat stres dalam
kategori ringan. Penelitian ini di dukung oleh (Suhamdani,
Wiguna, Hardiansah, Husen, & Apriani, 2020)
kecemasan atau gejala Stres sangat umum terjadi di kalangan tenaga kesehatan khususnya perawat yang sedang menangani pasien dalam menghadapi pandemi Covid-19 (Pappa et al., 2020).
Sumber stres utama bagi perawat
saat menghadapi pandemi COVID-19 adalah ketika mereka sadar
akan rasa takut tertular atau menulari
orang lain, termasuk kurangnya
alat pelindung diri (Mo et al., 2020). Hasil
penelitian ini didominasi oleh tingkat stres rendah sebanyak
30 orang atau 57% perawat
yang memiliki gejala stres ringan, sedangkan
perawat yang memiliki tingkat stres tinggi
sebanyak 23 orang atau 43%.
Menurut
(Atkinson, Lilley,
& Urwin, 2013),
stres terjadi ketika ada suatu
peristiwa yang kemudian akan menjadi sesuatu
yang dianggap berbahaya bagi individu, yang darinya individu akan bereaksi, baik secara fisik
maupun psikologis. Lebih lanjut, Lazarus (2013) dalam (Nursalim, 2013)
mengatakan bahwa stres adalah suatu
peristiwa fisik atau psikologis yang dirasakan sebagai ancaman potensial terhadap gangguan fisik dan psikologis. Ahli lain,
Kartono dan Gulo (2009) dalam (Triantoro &
Nofrans, 2009)
menambahkan bahwa pengertian stres adalah suatu kondisi
ketegangan fisik dan psikologis yang disebabkan oleh persepsi ketakutan dan ancaman.
(Triantoro
& Nofrans, 2009) memberikan
pernyataan berikut tentang stres melalui
pendekatan pertama, dilihat dari respon
stres, pengertian stres terkait dengan
tekanan yang membuat seseorang tidak berdaya dan berdampak negatif, misalnya pusing, lekas marah,
sedih. sulit berkonsentrasi, sulit tidur. Kedua, stres
berkaitan dengan sistem stresor (sumber stres), dalam hal ini
stres digambarkan sebagai suatu kekuatan
yang menimbulkan tekanan dalam diri seseorang.
Helmi dalam (Triantoro
& Nofrans, 2009) menyatakan
bahwa stres muncul ketika tekanan
yang dihadapi melebihi batas optimum setiap individu. Selanjutnya, pendekatan ketiga adalah pendekatan interaksionis yang berfokus pada definisi stres dengan transaksi antara tekanan eksternal dan karakteristik individu yang menentukan apakah tekanan tersebut menyebabkan stres atau tidak.
Hasil
penelitian yang dilakukan peneliti tentang gambaran tingkat stres masyarakat terhadap Covid-19 di Desa Simangalam
Kecamatan Kualuh Selatan Kabupaten Labuhan Batu Utara, dari 51 responden penelitian, 45 orang (88,2%) memiliki tingkat stres ringan. dan 6 orang (11,8%)
tingkat stres sedang. Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan
oleh Eka Raisa dkk, (2014) berdasarkan
hasil penelitian dapat diketahui bahwa pada kelompok yang mengatakan tidak takut dengan perasaannya
sendiri tentang persalinan mengalami tingkat stres 1 orang (9,1%), tingkat stres sedang
2 orang (18,2%), dan tingkat stres
ringan 8 orang (72,7%). Pada kelompok
yang mengaku takut dengan perasaannya sendiri tentang persalinan, 6 orang mengalami tingkat stres berat
(19,4%), 12 orang mengalami stres
sedang (38,7%), dan 13 orang mengalami
tingkat stres ringan (41,9%). Pada kelompok
yang menyatakan sangat takut
dengan perasaannya sendiri tentang persalinan, mengalami tingkat stres ringan
0 orang (0%), kecemasan tingkat
sedang sebanyak 0 orang
(0%), dan tingkat stres berat. sebanyak 1 orang (100%).
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian
ini dengan sampel 51 responden tentang gambaran tingkat stres masyarakat
terhadap covid-19 di desa simangalam kecamatan kualuh selatan kabupaten labuhan batu utara tahun 2021:
1. Tingkat stres
masyarakat terhadap penyakit Covid-19 di Desa Simangalam,
Kecamatan Kualuh Selatan, Kabupaten Labuhan Batu Utara tahun 2021, tingkat stres masyarakat tertinggi adalah tingkat stres ringan
sebanyak 26 orang (88,2%)
2. Tingkat stres
masyarakat terhadap penyakit Covid-19 di desa simangalam kecamatan kualuh selatan kabupaten labuhan batu utara tahun 2021 tingkat stres masyarakat
terendah adalah tingkat stres sedang
sebanyak 6 orang (11,8%)
3. Tingkat stres
masyarakat tertinggi terhadap penyakit Covid-19, responden menjawab tingkat stres ringan
sebanyak 26 orang (88,2%) dan terendah
menjawab tingkat stres sedang sebanyak
6 orang (11,2%)
BIBLIOGRAFI
Atkinson, Nicky J.,
Lilley, Catherine J., & Urwin, Peter E. (2013). Identification of genes
involved in the response of Arabidopsis to simultaneous biotic and abiotic
stresses. Plant Physiology, 162(4), 2028�2041. Google Scholar
Handayani, Trisni,
Ayubi, Dian, & Anshari, Dien. (2020). Literasi Kesehatan Mental Orang
Dewasa dan Penggunaan Pelayanan Kesehatan Mental. Perilaku Dan Promosi
Kesehatan: Indonesian Journal of Health Promotion and Behavior, 2(1),
9�17. Google Scholar
Huang, Yeen, &
Zhao, Ning. (2020). Generalized anxiety disorder, depressive symptoms and sleep
quality during COVID-19 outbreak in China: a web-based cross-sectional survey. Psychiatry
Research, 288, 112954. Google Scholar
Mo, Yuanyuan, Deng,
Lan, Zhang, Liyan, Lang, Qiuyan, Liao, Chunyan, Wang, Nannan, Qin, Mingqin,
& Huang, Huiqiao. (2020). Work stress among Chinese nurses to support Wuhan
in fighting against COVID‐19 epidemic. Journal
of Nursing Management, 28(5), 1002�1009. Google Scholar
Nursalim, Mochamad.
(2013). Strategi dan intervensi konseling. Jakarta: Akademia Permata. Google Scholar
Pappa, Sofia, Ntella,
Vasiliki, Giannakas, Timoleon, Giannakoulis, Vassilis G., Papoutsi, Eleni,
& Katsaounou, Paraskevi. (2020). Prevalence of depression, anxiety, and
insomnia among healthcare workers during the COVID-19 pandemic: A systematic
review and meta-analysis. Brain, Behavior, and Immunity, 88,
901�907. Google Scholar
Suhamdani, Haris,
Wiguna, Reza Indra, Hardiansah, Yayan, Husen, Lalu Muhammad Sadam, &
Apriani, Lia Arian. (2020). Hubungan Efikasi Diri dengan Tingkat Kecemasan
Perawat pada Masa Pandemi Covid-19 di Provinsi Nusa Tenggara Barat:
Relationship between Self Effication and Nurse Anxiety During The Covid-19
Pandemic in West Nusa Tenggara Province. Bali Medika Jurnal, 7(2),
215�223. Google Scholar
Sulis, Winurini.
(2020). Permasalahan Kesehatan Mental Akibat Pandemi Covid-19. Diakses. Google Scholar
Thakur, Vikram, &
Jain, Anu. (2020). COVID 2019-suicides: A global psychological pandemic. Brain,
Behavior, and Immunity, 88, 952. Google Scholar
Triantoro, Safaria,
& Nofrans, Eka. (2009). Manajemen Emosi. Jakarta: PT Bumi Aksara. Google Scholar
Vahia, Ipsit V,
Blazer, Dan G., Smith, Gwenn S., Karp, Jordan F., Steffens, David C., Forester,
Brent P., Tampi, Rajesh, Agronin, Marc, Jeste, Dilip V, & Reynolds, Charles
F. (2020). COVID-19, mental health and aging: a need for new knowledge to
bridge science and service. The American Journal of Geriatric Psychiatry,
28(7), 695�697. Google Scholar
Xiang, Yu Tao, Yang,
Yuan, Li, Wen, Zhang, Ling, Zhang, Qinge, Cheung, Teris, & Ng, Chee H.
(2020). Timely mental health care for the 2019 novel coronavirus outbreak is
urgently needed. The Lancet Psychiatry, 7(3), 228�229. Google Scholar