ANALISIS EKONOMI KOMODITAS UNGGULAN PERIKANAN TANGKAP DI KABUPATEN SIMEULUE, INDONESIA

Agus Naufal1, Makwiyah A Chaliluddin2, Rahdi Mudia3

Universitas Abulyatama, Aceh, Aceh Besar, Indonesia1 & 3

Universitas Syiah Kuala, Aceh, Banda Aceh2

naufal.agus@abulyatama.ac.id,

 

Received  :  01-07-2022

Accepted  :  26-07-2022

Published  : 27-07-2022

Abstract

Keywords:

superior commodities, fisheries, location quotient, simeulue district

Introduction: The implementation of regional development by empowering regional potential will run if the regional superior sector can be optimized, where this leading sector is important to determine the priority scale in development. Objective: This study aims to determine the superior commodities of capture fisheries and their contribution to the economy in Simeulue Regency, Indonesia. Methods: The analytical method used is Location Quotient (LQ) analysis which compares the magnitude of the role of the Simeulue fisheries sector with the role of the Aceh fisheries sector and the role of each type of fish on the total number of fish in Simeulue to Simeulue's Gross Regional Domestic Product. Results: The results showed that the leading commodities of Simeulue Regency which had an LQ>1 value were sea cucumbers 10.86; lobsters 7.54; fish chair 2.83; grouper 2.62; fish kuwe 1.97; pestle 1.55; squid 1.47; snapper 1.43; and mackerel 1.12. The capture fisheries sub-sector in Simeulue Regency has an LQ value of 2.68 in 2014. Conclusion: the capture fisheries sector is a basic sector that is very influential on the contribution of the regional economy in Simeulue Regency.

Abstrak

Kata kunci:

komoditas unggulan, perikanan, location quotient, kabupaten simeulue

Pendahuluan: Pelaksanaan pembangunan daerah dengan pemberdayaan potensi daerah akan berjalan apabila sektor unggulan daerah dapat dioptimalkan, dimana sektor unggulan ini penting untuk menentukan skala prioritas dalam pembangunan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komoditas unggulan perikanan tangkap dan kontribusinya terhadap perekonomian di Kabupaten Simeulue, Indonesia. Metode: Metode analisis yang digunakan adalah analisis Location Quotient (LQ) yang membandingkan besarnya peranan sektor perikanan Simeulue dengan peranan sektor perikanan Aceh serta peranan masing-masing jenis ikan terhadap jumlah ikan total Simeulue terhadap Produk Domestik Regional Bruto Simeulue. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa komoditas unggulan Kabupaten Simeulue yang memiliki nilai LQ>1 adalah teripang 10,86; lobster 7,54; ikan kurisi 2,83; ikan kerapu 2,62; ikan kuwe 1,97; ikan alu-alu 1,55; cumi-cumi 1,47; ikan kakap 1,43; dan ikan tenggiri 1,12. Subsektor perikanan tangkap di Kabupaten Simeulue memiliki nilai LQ sebesar 2,68 pada tahun 2014. Kesimpulan: sektor perikanan tangkap merupakan sektor basis yang sangat berpengaruh terhadap kontribusi perekonomian daerah di Kabupaten Simeulue

Corresponding Author: Agus Naufal 

E-mail: naufal.agus@abulyatama.ac.id  

 

 

 

PENDAHULUAN

Keberlanjutan sumber daya dapat terganggu oleh eksploitasi sumber daya yang berlebihan (Naufal, 2019). Oleh karena itu, perlu dicari komoditas unggulan daerah dalam pembangunan ekonomi. Komoditi unggulan merupakan jenis komoditi yang paling diminati dan memiliki nilai jual yang tinggi serta diharapkan mampu memberikan pendapatan yang besar dibandingkan dengan jenis lainnya. Dari jenis kegiatan pemasarannya dapat dibedakan menjadi komoditas unggulan lokal dan komoditas unggulan ekspor. Adanya komoditas ekspor unggulan diharapkan dapat meningkatkan devisa negara dari sektor non migas dan juga dapat meningkatkan pendapatan daerah (Winarti, 2007). Jika suatu daerah memiliki komoditas unggulan, berarti suatu daerah mampu menghasilkan produk dengan atribut-atribut yang khas, yang beberapa di antaranya disebabkan oleh adanya faktor sumber daya dalam negeri. Penyediaan produk yang berkualitas harus dilakukan diikuti dengan peningkatan produktivitas dan efisiensi agar komoditas tersebut memiliki daya saing yang tinggi (Sembiring, 2009).

Aceh merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki kontribusi subsektor perikanan, pertanian dan kehutanan yang besar. Pada tahun 2001 kontribusi ketiga subsektor tersebut mencapai 23,53 persen (Naufal, 2019). Sama halnya dengan Simeulue yang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Aceh. Simeulue memiliki potensi perikanan tangkap yang sangat tinggi, meskipun pengelolaan perikanan tangkap yang berkelanjutan masih belum optimal (Carles, 2014). Hal ini disebabkan karena skala usaha perikanan masih didominasi oleh nelayan dengan armada skala kecil dan kurangnya pengetahuan nelayan dalam menentukan jenis komoditas unggulan perikanan tangkap. Pengolahan perikanan tangkap di Simeulue masih dilakukan dengan menggunakan alat tangkap perikanan tradisional. Peluang pengembangan perikanan tangkap di Simeulue masih terbuka lebar namun belum dilakukan secara optimal, oleh karena itu perlu dilihat tingkat kontribusi PDRB perikanan tangkap terhadap perekonomian di Kabupaten Simeulue (BPS, 2016). Oleh karena itu penelitian ini mengkaji tentang analisis ekonomi komoditas unggulan perikanan tangkap dan kontribusinya terhadap perekonomian di Kabupaten Simeulue, Indonesia.

Pengertian sektor unggulan biasanya berkaitan dengan suatu perbandingan, baik itu perbandingan regional, nasional maupun internasional. Suatu sektor dikatakan unggul apabila sektor tersebut mampu bersaing dengan sektor yang sama dengan negara lain. Sementara itu, dalam ruang lingkup Kabupaten Simeulue, suatu sektor dapat dikategorikan sebagai sektor unggulan apabila sektor tersebut di suatu daerah mampu bersaing dengan sektor yang sama yang dihasilkan oleh daerah lain, baik di pasar nasional maupun dalam negeri. Suatu daerah memiliki sektor unggulan apabila daerah tersebut dapat memenangkan persaingan di sektor yang sama dengan daerah lain sehingga dapat menghasilkan ekspor (Suyatno, 2000).

Penetapan sektor unggulan menjadi penting sebagai dasar perencanaan pembangunan daerah sesuai dengan era otonomi daerah saat ini, dimana daerah memiliki kesempatan dan kewenangan untuk membuat kebijakan yang sesuai dengan potensi daerah dalam rangka percepatan pembangunan ekonomi daerah. Kriteria sektor unggulan adalah: pertama, sektor unggulan memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, kedua sektor unggulan tersebut memiliki tingkat penyerapan tenaga kerja yang relatif besar, ketiga sektor unggulan tersebut memiliki keterkaitan yang tinggi antar sektor baik ke depan maupun ke belakang, dan sektor keempat adalah sektor unggulan. mampu menciptakan nilai tambah yang tinggi (Usya, 2006).

 

 

 

METODE PENELITIAN

Penelitian dilakukan di Kabupaten Simeulue pada bulan Oktober-November 2018. Jenis data yang dikumpulkan adalah data sekunder dari Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh dan Badan Pusat Statistik Aceh. Data tersebut meliputi data total produksi hasil tangkapan ikan Simeulue, data total produksi hasil tangkapan Aceh, data PDRB Simeulue, dan data PDRB Aceh. Seperti halnya sektor ekonomi lainnya, perikanan merupakan salah satu kegiatan yang memberikan kontribusi bagi kesejahteraan suatu bangsa (Naufal, 2014). Salah satu cara untuk melihat besarnya kontribusi sektor tersebut adalah dengan menggunakan analisis Location Quotation. Analisis ini diolah dengan menggunakan software Microsoft excel yang digunakan untuk menentukan komoditas unggulan perikanan tangkap di Kabupaten Simeulue. Teknik analisis ini membandingkan besarnya peranan suatu komoditas di suatu wilayah terhadap wilayah yang lebih luas untuk memperoleh derajat spesialisasi relatif suatu komoditas (Tarigan, 2005). Kemudian didapatkan nilai LQ dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

 

 

Dimana :

vi = Produksi total ikan jenis i di tingkat Kabupaten Simeulue

vt = Produksi total perikanan tangkap di tingkat Kabupaten Simeulue

Vi = Produksi total jenis ikan i di tingkat Provinsi Aceh

Vt = Produksi total perikanan tangkap di tingkat Provinsi Aceh

LQ>1, ikan jenis i merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Simeulue

LQ<1, ikan jenis i bukan merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Simeulue

 

Analisis LQ memiliki rumus yang sederhana dan bila digunakan dalam bentuk one shot analysis manfaatnya tidak begitu besar yaitu hanya melihat apakah LQ diatas 1 atau tidak. Namun, analisis LQ menjadi lebih menarik jika dilakukan dalam bentuk time series/trend, artinya dianalisis untuk jangka waktu tertentu. Dalam hal ini, perkembangan LQ dapat dilihat untuk suatu sektor tertentu pada waktu yang berbeda, apakah terjadi penurunan atau peningkatan. Hal ini memungkinkan analisis lebih lanjut, misalnya jika naik, melihat faktor-faktor yang membuat daerah tumbuh lebih cepat dari rata-rata nasional (Tarigan, 2005).

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sektor perikanan merupakan sektor basis di Simeulue. Terlihat bahwa nilai LQ lebih besar dari 1 setiap tahunnya (Tabel 1). Nilai LQ terbesar terlihat pada tahun 2014 yaitu sebesar 2,68 sedangkan nilai LQ terendah terjadi pada tahun 2015 yaitu sebesar 2,60. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa subsektor perikanan tangkap Kabupaten Simeulue merupakan sektor basis yang mempengaruhi besarnya PDRB subsektor perikanan tangkap Provinsi Aceh.

 

Tabel 1. Analisis LQ PDRB Subsektor Perikanan Kabupaten Simeulue

dan Aceh Berdasarkan Harga Konstan Tahun 2000 (dalam jutaan rupiah)

Tahun

Simeulue

Aceh

LQ

Basis/ Non Basis

Perikanan (vi)

Total (vt)

Perikanan (Vi)

Total (Vt)

2012

140.067

1.180.151

4.936.639

108.914.897

2,61

Basis

2013

147.155

1.235.543

5.034.492

111.755.826

2,64

Basis

2014

153.409

1.292.864

5.017.774

113.487.799

2,68

Basis

2015

160.572

1.353.913

5.122.984

112.672.440

2,60

Basis

 

Tabel 2 menunjukkan bahwa komoditas perikanan tangkap Kabupaten Simeulue yang mempunyai nilai LQ positif (LQ 1) sekaligus menjadi komoditas unggulan antara lain teripang 10,86; lobster 7,54; ikan kurisi 2,83; ikan kerapu 2,62; ikan kuwe 1,97; ikan alu-alu 1,55; cumi-cumi 1,47; ikan kakap 1,43; ikan tenggiri 1,12; dan ikan-ikan lainnya dibawah 0,67 maka tidak termasuk ikan komoditas unggulan.

Tabel 2. Komoditas Perikanan Tangkap Kabupaten Simeulue

Berdasarkan Analisis LQ Tahun 2012-2015

No

Jenis Ikan

Jumlah Nilai Produksi (Ton) Perikanan Tangkap

LQ

Simeulue

Aceh

1

Teripang

301

689

10,86

2

Lobster

225

742

7,54

3

Kurisi

1000

8778

2,83

4

Kerapu

935

8879

2,62

5

Kuwe

1925

24299

1,97

6

Alu-alu

321

5154

1,55

7

Cumi-cumi

287

4847

1,47

8

Kakap

769

13402

1,43

9

Tenggiri

737

16373

1,12

10

Tongkol

1234

36765

0,83

11

Selar

650

24286

0,67

12

Pari

24

1065

0,56

13

Kembung

851

51418

0,41

14

Lemuru

24

1475

0,40

15

Teri

338

24088

0,35

16

Tuna

292

23215

0,31

17

Kepiting

0

901

0,00

 

Sebagai negara kepulauan, Simeulue memiliki kekayaan sumber daya kelautan, termasuk perikanan. Produksi perikanan tangkap laut dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, dapat dilihat pada Gambar 1 di bawah ini menunjukkan bahwa peningkatan produksi perikanan tangkap laut di kabupaten Simeulue setiap tahunnya. Pada tahun 2012 produksi perikanan laut sebesar 8.562 ton.

 

         Sumber: Badan Pusat Statistik, 2018

Gambar 1. Grafik Produksi Perikanan Kabupaten Simeulue Tahun 2012-2015

Pada tahun 2013 produksi perikanan meningkat tajam masing-masing mencapai 12.539 ton dan 12.696 ton dan 13.966 ton pada tahun 2014 dan 2015. Total produksi ikan yang berhasil ditangkap nelayan dengan alat tangkap sederhana. Jumlah tangkapan ikan di Kabupaten Simeulue selama 4 tahun terakhir menunjukkan bahwa sebagian besar hasil tangkapan ikan berbanding lurus dengan usaha penangkapan yang dilakukan. Semakin banyak upaya penangkapan yang dilakukan, semakin besar hasil tangkapan yang diperoleh. Hal ini menunjukkan besarnya potensi dan kontribusi sektor perikanan terhadap perekonomian.

 

KESIMPULAN

Nilai LQ yang lebih besar dari satu menunjukkan bahwa sektor perikanan Simeulue merupakan sektor basis sehingga layak menjadi sektor prioritas pembangunan. Berdasarkan nilai LQ yang memiliki nilai LQ>1 adalah Teripang 10,86; Lobster 7,54; Kurisi 2,83; Kerapu 2,62; Kuwe 1,97; Alu-alu 1,55; Cumi-cumi 1,47; Kakap 1,43; dan Tenggiri 1,12. Sektor perikanan tangkap di Kabupaten Simeulue memiliki nilai LQ sebesar 2,68 pada tahun 2014, hal ini menunjukkan bahwa sektor perikanan tangkap merupakan sektor basis yang sangat berpengaruh terhadap kontribusi perekonomian daerah di Kabupaten Simeulue.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BIBLIOGRAFI

 

Carles, C., Wiyono, E. S., Wisudo, S. H., & Soeboer, D. A. (2014). Karakteristik Perikanan Tangkap Di Perairan Laut Kabupaten Simeulue (Characteristics of Capture Fisheries in Simeulue Districts Sea Waters Area). Marine Fisheries, 5(1), 91-99.

 

[BPS] Badan Pusat Statistik 2016. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Simeulue Dalam Angka 2015, Simeulue, 2016.

 

Naufal, A. (2014). Analisis kebijakan pengelolaan optimal perikanan cakalang di pesisir utara Aceh.

 

Naufal, A., & Rindayati, W. (2019, December). Analysis of Fisheries, Agriculture and Forestry Sector Contributions to Aceh's Economic Growth. In Prosiding SEMDI-UNAYA (Seminar Nasional Multi Disiplin Ilmu UNAYA) (Vol. 3, No. 1, pp. 124-131).

 

Naufal, A., Fahrudin, A., & Kusumastanto, T. (2019, March). The best bio economic estimation of the optimal Katsuwonus pelamis fisheries on the North Coast of Aceh. In IOP Conference Series: Earth and Environmental Science (Vol. 241, No. 1, p. 012029). IOP Publishing.

 

Sembiring, E. 2009. Kajian Peluang Bisnis Bagi Sepuluh Komoditas Unggulan di Sumatera Utara. Tim Peneliti Bidang Ekonomi dan Pembangunan Balitbang Provinsi Sumatera Utara.

 

Suyatno, S. (2007). Analisa Economic Base Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah Tingkat Ii Wonogiri: Menghadapiimplementasi Uu No. 22/1999 Dan Uu No. 5/1999. Jurnal Ekonomi Pembangunan: Kajian Masalah Ekonomi dan Pembangunan, 1(2), 144-159.

 

Tarigan, D. (2005). Robinson. Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi.

 

Usya, N. (2006). Analisis Struktur Ekonomi dan Identifikasi Sektor Unggulan di Kabupaten Subang.

 

Winarti, R. (2007). Analisis Komoditas Unggulan Perikanan Laut terhadap Perekonomian Wilayah di Kabupaten Cilacap. Skripsi). Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Diponegoro. Tidak di Publikasikan.