GERAKAN MAHASISWA DALAM UPAYA KEJATUHAN
PEMERINTAH SOEHARTO 1998
Fakultas Adab dan Humaniora,
Universitas Islam Negeri Jakarta (UIN), Indonesia
|
|
Abstract |
|
|
Received: |
18-01-2022 |
The 1998 Student Movement in Indonesia had a very significant
role. Because this movement can carry out political reforms. When Soeharto took the lead, precisely in 1997, the monetary
crisis in Asia and Indonesia experienced the impact of the crisis, including
many layoffs and the high cost of basic necessities. This research reveals
that the student movement was originally to criticize the government for the
economic conditions experienced by the community. The results of this study
indicate that the 1998 student movement demanded improvement in economic
conditions. In addition, this article provides an overview of the movement
carried out by student in Jakarta to demand Soeharto
to risign from the position of President |
|
Accepted: |
18-01-2022 |
|
|
Published: |
20-02-2022 |
|
|
Keywords: |
economy;
soeharto; students |
|
|
|
Abstrak |
|
|
Kata kunci: |
ekonomi; soeharto;
mahasiswa |
Gerakan Mahasiswa
1998 di Indonesia memiliki peran
yang sangat signifikan. Karena gerakan
ini dapat melakukan reformasi politik.
Ketika Soeharto memimpin tepatnya pada tahun 1997 terjadinya krisis moneter di Asia dan Indonesia mengalami
dampak terjadi krisis tersebut diantaranya banyak terjadinya PHK, serta mahalnya kebutuhan pokok. Penelitian ini mengungkapkan Gerakan mahasiswa awalnya untuk melakukan suatu kritik kepada pemerintah terhadap kondisi ekonomi yang dialami oleh masyarakat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa 1998 tersebut menuntut perbaikan kondisi ekonomi selain itu artikel
ini memberikan gambaran gerakan yang dilakukan oleh mahasiswa di
Jakarta untuk menuntut Soeharto untuk mundur dari jabatan
Presiden |
Corresponding
Author: Supriyanto
E-mail:
supriyanto@mhs.uinjkt.ac.id
PENDAHULUAN
Gerakan mahasiswa Indonesia pada 1998 adalah
puncak dari suatu gerakan Mahasiswa
pendukung demokrasi pada akhir dasarwasa 1990-an di
Indonesia. Gerakan ini menjadi
momentum karena dianggap berhasil memaksa Soeharto berhenti dari jabatan Presiden
Indonesia pada 21 Mei 1998, setelah 32 tahun menduduki jabatan tersebut. Gerakan ini mendapat momentum saat krisis moneter
Asia melanda sejak pertengahan tahun 1997. Soeharto kembali dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik
Indonesia untuk ketujuh kalinya, dengan B.J Habibie sebagai wakil Presiden. Namun sejumlah pihak, termasuk mahasiswa menuntut adanya reformasi dalam sistem pemerintah pemerintah Indonesia. Agenda reformasi yang menjadi tuntutan para mahasiswa mencakup beberapa hal, seperti
mengadili Soeharto dan kroni-kroniknya. Sepanjang pengetahuan
penulis, penelitian tentang politik era Orde Baru sudah banyak
dilakukan namun belum terdapat secara khusus menggambarkan
gerakan mahasiswa 1998 khususnya di Jakarta oleh karena itu artikel ini
memiliki ciri khusus bagaimana gerakan mahasiswa 1998 dalam upaya kejatuhan
pemerintah Soeharto 1998.
Di antara penelitian tersebut ialah yang dilakukan oleh Rizal
Al Hamid. Moral Politik Gerakan Mahasiswa
Dalam Perspektif Tinjauan Filosofis Hukum Islam. Jurnal
Syariah dan Hukum Islam Vol 4. No.2 Desember
2019. Artikel ini
membahas mengenai pergerakan moral mengacu pada nilai-nilai yang telah, digariskan pada Islam. Artikel ini
membahas mengenai pergerakan mahasiswa adalah kekuatan moral dan bukannya kekuatan politik (Al-Hamid, 2019).
Selain itu terdapat artikel Layla Septy Puspita.
2019. Gerakan Protes Mahasiswa Surabaya Terhadap Kekuasaan Orde Baru pada Mei tahun 1998 Di
Surabaya. Volume 7. No. 1 Tahun 2019. Gerakan mahasiswa Surabaya sebagai gerakan solidaritas mahasiswa Indonesia dianggap sebagai salah satu pergerak kemajuan suatu bangsa hingga
berpengaruh terhadap sejarah perkembangan bangsa mahasiswa Surabaya melakukan suatu aksi demontrasi, turun ke jalan.
Hal ini menjadi tradisi gerakan mahasiswa aksi damai juga didukung oleh sivitas akademika di
masing-masing kampus. Aksi bentrokan
dengan mahasiswa sudah menjadi hal
yang wajar namun tidak sampai terdapat
korban jiwa bahkan aksi yang dilakukan di Surabaya sudah sepakat untuk
melakukan aksi damai dalam berbagai
aksi yang dilakukannya. Begitu pula dengan masyarakat Surabaya yang juga sepakat
melakukan aksi damai menuntut reformasi hingga Presiden Soeharto lengser (Puspita &
Liana, 2018).
Keresahan masyarakat akan
kenaikan harga-harga sembilan bahan kebutuhan pokok (sembako) dan ancaman putus kuliah serta
masa depan yang suram dikalangan mayoritas mahasiswa, menjadi faktor penggerak tersendiri bagi kalangan kampus, mahasiswa dan sivitas akademik untuk menyatakan keprihatinanya. Aksi mimbar bebas dan keprihatinan di kampus menyerukan tuntutan penurunan harga-harga terutama sembako, diikuti oleh tuntutan yang berkaitan dengan krisis ekonomi lainnya yakni agar penimbunan barang ditindak, agar masalah pengangguran yang semakin luas agar cepat untuk ditangani, dan tuntutan kebijakan ekonomi lebih berpihak
pada kepentingan mayoritas rakyat.
Keadaan
Indonesia yang semakin tidak
terkendali mengakibatkan mahasiswa menyatakan sikap melalui gerakan
mahasiswa tahun 1998.
Gerakan ini dikenal dengan gerakan reformasi yang berarti mengembalikan Indonesia kepada keadaan dimana Presiden menjalankan pemerintahan yang demokratis. Rakyat menuntut diadakannya reformasi total, selain
dalam bidang ekonomi, juga terutama dalam bidang politik
dan hukum. Krisis ekonomi Indonesia bukan hanya disebabkan oleh merosotnya nilai rupiah, tetapi juga oleh tatanan politik yang tidak demokratis, yang terlampau diabadikan kepada kekuasaan yang otoriter, sehingga tidak mendatangkan keadilan yang sebenarnya. Ketika pemerintah dinilai tidak mampu
memulihkan ekonomi, kepercayaan rakyat terhadap pemerintahan Soehartopun menghilang. Oleh karena itu rakyat
maupun mahasiswa menuntut agar Presiden Soeharto mundur dari jabatannya sebagai Presiden Indonesia.
Peristiwa mundurnya Soeharto
sebagai pemimpin yang otoriter, salah satu upaya Gerakan mahasiswa 1998 yang
menuntut Soeharto mundur pada 21 Mei 1998. Dengan tumbang Soeharto maka iklim demokrasi
di lebih baik dan dampak rakyat dapat
memilih secara langsung pada sistem pemilu baik pilihan
secara eksekutif maupun legislatif. Oleh karena itu apabila
adanya kelompok yang menginkan pemilu yang dengan sistem perwakilan
maka akan menimbulkan sikap otoriter.
Peristiwa
mundurnya Soeharto sebagai pemimpin yang otoriter, salah satu upaya Gerakan mahasiswa 1998 yang
menuntut Soeharto mundur pada 21 Mei 1998. Dengan tumbang Soeharto maka iklim demokrasi
di lebih baik dan dampak rakyat dapat
memilih secara langsung pada sistem pemilu baik pilihan
secara eksekutif maupun legislatif. Oleh karena itu apabila
adanya kelompok yang menginkan pemilu yang dengan sistem perwakilan
maka akan menimbulkan sikap otoriter.
Pada penelitian
saya menggambarkan gerakan mahasiswa yang terdapat di Jakarta. Berawal dari peristiwa mahasiswa Trisakti yang menjadi korban. Mereka tertembak, sehingga menimbulkan amarah mahasiswa di Jakarta bahkan di luar Jakarta. Gerakan ini menimbulkan amarah dari masyarakat sekitar Jakarta dengan melakukan aksi dengan menjarah pertokoan atau pusat perbelanjaan di Jakarta.
Gerakan mahasiswa di Jakarta menginkan
agar Soeharto untuk lengser dari jabatan
Presiden.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian
historis yaitu metode yang menerangkan kejadian masa lampau. Penelitian
historis digunakan untuk pemecahan permasalahan yang menggunakan data masa lalu
baik untuk memahami kejadian atau suatu keadaan yang berlangsung pada masa lalu
maupun terlepas dari keadaan masa sekarang dalam hubungannya dengan peristiwa
masa lalu (Daliman, 2012).
Penelitian
ini adalah penelitian sejarah mengenai Gerakan Mahasiswa 1998
Dalam kejatuhan Pemerintah Soeharto. Untuk itu, diperlukan langkah-langkah penelitian yang perlu dijelaskan dibawah ini. Pertama,
masalah pengumpulan sumber atau heuristik
peneliti menggunakan sumber sekunder (Madjid &
Wahyudhi, 2014).
Untuk mendukung penelitian maka peneliti menggunakan sumber-sumber sekunder yang relevan seperti majalah dan koran yang terbit pada tahun 1998. Peneliti memperoleh buku yang sangat relevan di perpustakaan Nasional. Peneliti memperoleh buku penunjang, berupa buku dan artikel di perpustakaan UIN Jakarta.
Kedua kritik internal melakukan uji kredibilitas peneliti harus menentukan kebenaran suatu sumber sejarah
yang digunakan. Untuk menguji kebenaran informasi yang digunakan, maka peneliti membandingkan
dengan informasi atau buku lainnya
yang masih relevan terkait tema penelitian
tersebut. Sehingga peneliti mengetahui kebenaran dari data yang digunakan untuk menulis. Sedangkan kritik eksternal dilakukan oleh peneliti untuk mengetahui keaslian sumber yang digunakan dalam meneliti. Kritik eksternal adalah cara melakukan
pengujian terhadap aspek luar dari
sumber sejarah (Sulasman, 2014).
Ketiga
melakukan penafsiran diperlukan sebagai bukti sejarah merupakan
sebagai saksi peristiwa sejarah. Fakta sejarah tidak dapat
berbicara sendiri mengenai apa yang disaksikannya dari realita masa lampau (Helius, 2007).
Untuk mengungkapkan fakta tersebut membutuhkan data relevan yang diperoleh dari buku lainnya terkait
dengan tema penelitian tersebut. Peneliti memberikan penafsiran melakukan suatu rekontruksi peristiwa masa lampau. Penafsiran sejarah sebagai bukti pada masa sekarang, bahwa peristiwa masa lampau pernah ada dan terjadi suatu peristiwa.
Sehingga membentuk suatu rangkaian makna yang logis dari peristiwa masa lampau.
Keempat
setelah proses diatas sudah dilalui kemudian
dilakukan penulisan sejarah (historiografi). Peneliti adalah melakukan penulisan dari penyusunan hasil interpretasi dan merekontruksi fakta dari sumber-sumber yang diperoleh dan merangkai suatu peristiwa menjadi sejarah yang sistematis dan kronologis secara tertulis. Hasil penelitian direkontruksikan secara berturut-turut mulai dari krisis
ekonomi yang terjadi di
Asia Tenggara yang berdampak bagi
Indonesia yang menimbulkan kesulitan
ekonomi bagi masyarakat sehingga direspon oleh mahasiswa untuk melakukan kritik terhadap pemerintah Soeharto sehingga gerakan Mahasiswa secara masif dapat menjatuhkan
pemerintah Orde Baru. Peran
mahasiswa 1998 sebagai agen perubahan dikalangan masyarakat harus terus memperjuangkan
nilai-nilai terutama demokrasi, karena adanya anggapan pemilu berlangsung dipilih hanya melalui
Tap MPR itu dapat menimbulkan pemimpin yang otoriter. Oleh karena itu perjuangan mahasiswa 1998 untuk menurunkan pemerintah otoriter dan membuka alur Demokrasi harus selalu dikenang
dan menjadi titik kebangkitan demokrasi di
Indonesia.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Peran
mahasiswa 1998 sebagai agen perubahan dikalangan masyarakat harus terus memperjuangkan
nilai-nilai terutama demokrasi, karena adanya anggapan pemilu berlangsung dipilih hanya melalui
Tap MPR itu dapat menimbulkan pemimpin yang otoriter. Oleh karena itu perjuangan mahasiswa 1998 untuk menurunkan pemerintah otoriter dan membuka alur Demokrasi harus selalu dikenang
dan menjadi titik kebangkitan demokrasi di
Indonesia. Menimbulkan kesulitan
ekonomi bagi masyarakat sehingga direspon oleh mahasiswa untuk melakukan kritik terhadap pemerintah Soeharto sehingga gerakan Mahasiswa secara masif dapat menjatuhkan
pemerintah Orde Baru. Peran
mahasiswa 1998 sebagai agen perubahan dikalangan masyarakat harus terus memperjuangkan
nilai-nilai terutama demokrasi, karena adanya anggapan pemilu berlangsung dipilih hanya melalui
Tap MPR itu dapat menimbulkan pemimpin yang otoriter. Oleh karena itu perjuangan mahasiswa 1998 untuk menurunkan pemerintah otoriter dan membuka alur Demokrasi harus selalu dikenang
dan menjadi titik kebangkitan demokrasi di
Indonesia.
Gerakan
Mahasiswa 1998
Morat–maritnya perekonomian Indonesia, melambung tingginya harga barang, meningkatnya
pemutusan hubungan kerja (PHK) dan menyempitnya kesempatan kerja, memancing mahasiswa untuk mengadakan aksi keprihatinan. Pada awalnya aksi keprihatinan
mahasiswa itu digelar di dalam kampus saja dan itupun hanya melibatkan
segelintir mahasiswa. Sukses ekonomi yang selama 30 tahun terakhir ini menjadi
semacam legitimasi bagi Presiden Soeharto
untuk terus memerintah, berubah menjadi krisis ekonomi yang berkepanjangan. Ketidakmampuan mengatasi krisis ekonomi itu menjadikan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah runtuh. Perlahan tetapi pasti, rakyat mulai
memalingkan dari Soeharto (Luhulima, 2001).
Masyarakat
resah dengan naiknya harga sembako
(Sembilan bahan kebutuhan pokok). Demonstrasi yang berlanjut, ancaman putus kuliah dan masa depan yang suram di kalangan mayoritas mahasiswa menjadi faktor penggerak tersendiri kalangan kampus mahasiswa dan civitas akademika untuk menyatakan keprihatinannya. Aksi mimbar bebas dan keprihatinan dikampus menyerukan tuntutan penurunan harga sembako, penimbunan barang dan kebijakan ekonomi yang berpihak pada kepentingan rakyat. Kalangan aktivitas kampus dari organisasi
“resmi semacam SMPT (Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi) dan Badan Eksekutif
Mahasiswa (BEM). Fakultas-fakultas
menyebut gerakan mereka sebagai gerakan moral dengan format aksi keprihatinan di dalam kampus muncul
dan meluas di dukung para staf pengajar dan pimpinan perguruan tinggi. Tampak di antara para mahasiswa, mantan Rektor UI Prof. Dr. Mahar Mardjono, Dr. Sri Edi-Swasono,
Prof. Dr. Selo Soemardjan, Prof. Dr. Emil Salim (UI),
Prof. Dr. Oetomo (IPB), Prof. Dr. Ichlasul
Amal (UGM), Dr. Pruhito (Unair),
dan Prof. Dr. Iskandar Alisyahbana (ITB) para guru besar ini menandatangani
pernyataan bersama, yang mengajak seluruh perguruan tinggi, para cendikiawan, kelompok profesional, dan organisasi masyarakat untuk mendukung gerakan reformasi yang dimotori oleh mahasiswa (Arismunandar,
2005). Aksi keprihatinan ini dilanjutkan pada keesokan harinya oleh ribuan mahasiswa di kampus UI, Depok.
Garis besar dari tema yang di tuntutan mahasiswa dalam aksi–aksinya di kampus-kampus di berbagai kota adalah turunkan
harga-harga, khususnya harga sembilan bahan pokok, hapuskan
monopoli dan korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) serta suksesi kepimpinan
nasional. Merasa aksi-aksi tidak mendapatkan tanggapan yang semestinya dari pemerintah, mulailah mahasiswa di berbagai kota mengadakan aksi hingga ke
luar kampus. Kendati untuk itu
para mahasiswa harus berhadapan langsung dengan aparat keamanan
yang berjaga-jaga di depan pintu gerbang kampus.
Akibatnya, bentrokan antara mahasiswa dan aparat keamanan terjadi hampir setiap hari dan korban luka-luka pun mulai berjatuhan.
Pada
9 Febuari 1998, Senat Mahasiswa UI mengeluarkan semacam himbauan yang isinya menyangkut keadaan bahan-bahan kebutuhan pokok sehari-hari yang semakin tipis
dan menuju kritis. Pada 26 Februari ikatan alumni UI juga mengeluarkan pernyataan keprihatinan mereka secara resmi di kampus Salemba, sementara pada 5 Maret 1998, Reformasi mulai
ditunjukkan bentuknya melalui sejumlah 20 mahasiswa, yang berasal dari wakil-wakil mahasiswa
Universitas Indonesia, menyampaikan konsep tersebut kepada Fraksi ABRI di MPR. isinya menyangkut upaya melakukan reformasi politik dan ekonomi Indonesia. Utusan itu diterima
oleh ketua F-ABRI Letjen
Yunus Yosiah, di dampingi oleh ketua
F-ABRI Letjen Hari Sabarno,
kapuspen ABRI Brigjen Abdul
Wahab Mokodongan, dan dua anggota F-ABRI Mayjen Imam Utomo dan Mayjen Sugiarto mereka menolak pertanggung jawaban Presiden di MPR.
Tewasnya
empat mahasiswa Universitas
Trisakti ini Heri Hartono,
Elang Mulya, Hendrawan Lesmana,
dan Hafidin Royan – Kian meningkatkan
opini publik nasional yang anti pemerintah. Pernyataan solidaritas masyarakat mengalir dari seluruh penjuru
tanah air. Kecamaan, kesedihan dan caci maki spontan emosional muncul di berbagai media massa cetak dan elektronik tertuju pada rezim Orde Baru. Kampus Universitas Trisakti menjadi perhatian pada 13 Mei
1999. Para tokoh politik seperti Megawati Soekarno, Amien
Rais dan kaum intelektual berdatangan ke kampus Universitas Trisakti menyatakan solidaritas dan mengancam kekerasaan yang dilakukan aparat keamanan. Reaksi yang demikan luas itu
memancing publik pada suasana emosional (Kasenda, 2013).
Pemakaman
ke empat mahasiswa itu dihadiri
mahasiswa dan masyarakat untuk memberikan penghormatan terakhir. Secara spontan apresiasi publik mengusulkan keempat mahasiswa itu dianugerahi
gelar pahlawan reformasi. Tewasnya empat mahasiswa Universitas Trisakti segera diikuti kerusahan massa di pusat-pusat kegiatan ekonomi di Jakarta. Massa yang terkesan
terorganisir bergerak menuju pusat-pusat keramaian membuat provokasi terhadap massa setempat untuk melakukan kekerasaan, menjarah, membakar dan pemerkosaan terhadap warga etnis Tionghoa. Lokasi dan waktu kerusuhan Mei 1998 di
Jakarta dimulai di sekitar kampus Universitas Trisakti kawasan Grogol pada 13 Mei 1998 pagi
hari. Ribuan orang berkumpul di depan kampus Universitas Trisakti untuk menyampaikan duka cita atas
tewasnya empat orang mahasiswa.
Kejatuhan Pemerintah
Soeharto
Pada bulan terakhir kekuasaannya, rezim Soeharto mengeluarkan sebuah keputusan yang kontroversial.
Pada 4 Mei 1998 pemerintah mengumumkan
pengurangan subsidi bahan bakar, yang dengan segara menyebabkan
kenaikan harga bensin sebesar 70 persen dan secara berarti berpengaruh terhadap kenaikan transportasi umum. Di bawah program IMF, Indonesia sebenarnya
diberi batas waktu sampai akhir
Oktober untuk mengurangi subsidi secara seketika, dimana ia yakin akan
bertahan pada protes rakyat. Reaksi dari keputusan tersebut terjadi secara besar dan cepat. Kerusuhan secara meluas terjadi
di Medan, dan Sumatra Utara. Penjarahan dan pembakaran, yang sebagian besar sasaranya adalah daerah keturunan
non-pribumi, terjadi selama tiga hari
dan diliput oleh stasiun televisi di Jakarta dalam waktu yang bersamaan, terjadi pula demonstrasi-demonstrasi
mahasiswa di dalam kampus maupun di kota-kota besar di pulau Jawa. Keputusan untuk menaikkan harga BBM pada tahun 1998 telah diperhitungkan Presiden Soeharto secara matang. Dengan senyum dan percaya diri yang tinggi, pada 9 Mei Presiden Soeharto memberikan keterangan di Bandara
Halim Perdana Kusuma menjelang keberangkatan
ke Cairo, Mesir untuk mengikuti Konferensi Tingkat
Tinggi (KTT) G-15, Presiden menyatakan
bahwa kenaikan harga BBM sudah tepat waktunya.
Berita menggambarkan
dari Cairo, Presiden siap untuk mengundurkan
diri jika rakyat menghendaki. Presiden Soeharto mengemukakan, kalau memang rakyat tidak
menghendaki dirinya sebagai presiden, maka ia siap
mundur. Presiden tidak akan mempertahankan
kedudukannya dengan kekuatan senjata. Soeharto akan mendekatkan
diri kepada tuhan yang Maha Esa, bersama keluarga, anak-anak dan cucu-cucu. Akan tetapi Presiden menggaris bawahi bahwa pengunduran dirinya dilakukan secara konstitusional.
Pada Hari Jumat 15 Mei 1998, Presiden Soeharto tiba dari Cairo Mesir usai lawatan resmi
kenegaraan. Ketika masih ada di Cairo, diberitakan oleh berbagai media dalam maupun luar negeri, bahwa Presiden menyatakan siap mundur secara konstitusional
jika rakyat menghendaki. Pernyataan itu kemudian diralat
oleh Menteri Penerangan Dr. Alwi Dahlan yang intinya miss understanding dikalangan
para wartawan dalam memahami kata-kata presiden.
Sabtu, 16 Mei 1998, Pimpinan DPR bersama
sekjen diterima presiden di Cendana pada pukul
11.00 WIB, sebelumnya presiden
menerima tamu delegasi dari Universitas
Indonesia yang terdiri dari
staf pengajar dan Senat Guru Besar dipimpin oleh Rektor Prof. Dr. dr. Asman Boedisantoso
yang turut mendampingi preseiden adalah wakil presiden B.J Habibie pertemuan itu membahas mengenai
pengunduran presiden Soeharto dilakukan secara konstitusional. Tepat pukul 11.00 Wib di kediaman cendana, tiba saatnya
pimpinan DPR di terima oleh
Presiden. Soeharto menyambut pimpinan DPR yang terdiri dari Harmoko
selaku ketua DPR dan para
wakil ketua yang terdiri dari Syarwan Hamid, Abdul Gafur,
Ismail Hasan. Ketua DPR menyerahkan
dokumen dan menyampaikan aspirasi rakyat yang masuk ke dewan yang berasal dari kekuatan
sosial kemasyarakatan, kelompok-kelompok mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat dan lain-lain. Ketua
DPR Harmoko meminta agar Presiden mengundurkan diri. Soeharto menanggapinya dengan demi persatuan dan kesatuan bangsa, Pancasila dan UUD 1945 akan
melaksanakan reshuffle kabinet
dan Presiden berjanji akan melakukan reformasi.
Minggu
tanggal 17 Mei 1998, aspirasi
yang menghendaki Presiden mengundurkan diri agar disampaikan ke DPR, aksi ini menimbulkan
gelombang reformasi yang digaungkan
di kampus-kampus, forum terbatas
serta demontrasi, mahasiswapun semakin bergabung datang ke gedung DPR. Sejak itu, area luas dan gedung DPR telah mendapatkan julukan massa perjuangan reformasi sebagai Rumah Rakyat.
Keadaan
Jakarta yang berangsur pulih
setelah kerusuhan pada 18
Mei 1998 kemudian dimanfaatkan
oleh mahasiswa untuk mendatangi gedung MPR/DPR RI untuk meminta Soeharto
untuk turun. Ratusan mahasiswa itu mendatangi gedung DPR di Senayan untuk menemui para anggota fraksi di DPR guna menyampaikan aspirasi mereka, yakni menuntut Soeharto turun dari kursi kepresidenan
tidak seperti sebelumnya, dimana biasanya aksi mahasiswa
sangat sulit mendekati gedung DPR karena selalu dihalangi oleh aparat militer, pada hari itu mahasiswa
dengan mudah bisa masuk dan bahkan pada siang harus sudah menduduki
gedung MPR/DPR RI. Pada hari
itu tuntutan sidang istimewa dan turunkan Soeharto sangat dominan. Aksi pendudukan ini menjadi pusat
perhatian Nasional dan Internasional.
Selain mahasiswa, tokoh-tokoh
politik Nasional, tokoh
LSM, kelompok perempuan dan
berbagai lapisan masyarakat berdatangan dan menyatakan dukungan pada gerakan mahasiswa. Gerakan mahasiswa pada tahap ini dinilai sudah
menunjukan kekuatan politiknya. Macam-macam orang dan
kelompok baik yang tulus semakin banyak
yang ikut dalam gerbong reformasi yang mengerucut
pada tuntutan pengunduran diri Soeharto semakin
kuat dan dominan, sementara itu kekuasaan
politik Soeharto semakin terpojok.
Perbincangan
mengenai pengunduran diri Soeharto ini
pun serius ditanggapi oleh
DPR. Apalagi, tuntutan
reformasi juga menginginkan Soeharto
mengundurkan diri dari kursi Presiden,
itu sebabnya pimpinan DPR bersama dengan pimpinan Fraksi DPR mengadakan rapat selama lima jam dipimpim oleh Harmoko selaku ketua MPR/DPR. Pimpinan Fraksi yang hadir adalah Ketua
Fraksi Karya Pembangunan
(F-KP) DPR Irsyad Sudiro, Seketaris F-KP DPR Syamsul Mu’arif, Ketua Fraksi Persatuan Pembangunan
(F-PP) DPR Hamzah Haz, Wakil Ketua F-PP DPR Djufrie Asmodiredjo, Seketaris F-PP DPR Bachtiar Chamsyah,
ketua Fraksi ABRI (F-ABRI)
Hari Sabarno, dan Seketaris
F-PDI DPR Markus Wauran. Sikap
dari Fraksi F-PP DPR menjelaskan krisis yang dihadapi oleh bangsa Indonesia telah berkembang dari krisis moneter
menjadi krisis kepercayaan, baik dari dalam maupun
luar negeri. Sebuah pemerintah yang tidak lagi mendapatkan kepercayaan rakyatnya, menurut F-PP sama dengan kehilangan legitimasi. Pemerintah seperti itu tidak
akan bekerja secara efektif. Karenanya F-PP menegaskan, jalan satu-satunya untuk mengeluarkan bangsa Indonesia dari krisis kepercayaan yang berkepanjangan adalah melalui perubahan dan pembaruan pemerintah. F-PP mengambil sikap, akan mendukung keputusan yang diambil oleh pimpinan DPR pada tanggal 18 Mei
1998, yang mengharapkan demi persatuan
bangsa, agar Presiden Soeharto secara arif dan bijaksana sebaiknya mengundurkan diri. Setelah fraksi F-PP, rapat pleno DPR memberi kesempatan kepada fraksi F-PDI untuk menyampaikan sikapnya. Fraksi dari F-PDI mengambil sikap agar Presiden Soeharto mengundurkan diri, lengser keprabon
dengan penuh hormat dan dilaksanakan secara konstitusional (Soempeno, 2008).
Akhirnya
tuntutan Soeharto untuk turun, kemudian
juga disuarakan Harmoko.
Senin pada 18 Mei 1998, Harmoko yang ketua MPR/DPR, sekaligus ketua umum Golkar
dengan didampingi para wakilnya mengeluarkan pernyataan pers. Isinya, mencermati situasi saat itu dan tuntutan
reformasi, menyarankan sebaiknya
Soeharto segera lengser. Pada tanggal 16 Mei
1998, setelah Soeharto pulang dari Kairo, Harmoko selaku ketua MPR/DPR telah menyampaikan tuntutan agar Soeharto mundur. Soeharto yang sebelumnya sudah didatangi rektor dan beberapa dosen UI yang datang meminta hal yang sama, menjawab bahwa itu terpulang
pada keputusan fraksi di
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) (Syam, 2008). Namun beberapa opsi untuk
Soeharto disampaikan, akhirnya membuat Harmoko mempunyai dasar pijakan untuk
berani menyatakan mundur secara resmi
18 Mei 1998.
Sementara
itu Soeharto sendiri, pada 19 Mei 1998 di istana
negara berkonsultasi dengan
9 tokoh ulama dan cendikiawan.
Dalam pertemuan selama dua setengah jam itu, para ulama dan cendikiawan itu seperti Abdurahman Wahid,
Malik Fadjar dan lainnya menyampaikan
bahwa Soeharto untuk mundur. Tapi
sikap Soeharto tampaknya masih ingin bertahan hal ini tampak
dalam keterangan presnya di televisi, menyampaikan bahwa ia bersedia mundur
tapi apakah dengan mundur semuanya
bisa teratasi. Untuk itulah Soeharto
kemudian mengusulkan dibentuk komite Reformasi, mereshuffle kabinet melakukan pemilu secepatnya serta tidak bersedia dicalonkan lagi menjadi Presiden. Malam harinya, Soeharto memanggil Mensesneg Saadilah Mursyid dan Yusril Ihza Mahendra staf khusus seketaris
kabinet. Mereka ditugaskan menyusun daftar calon anggota reformasi. Mensesneg Saadilah Mursyid sudah menyampaikan
penjelasan kepada publik bahwa Presiden
Soeharto akan mengunakan kabinet Reformasi (Tobing, 2014).
Kelima
kubu ini bersatu melalui keputusan 14 menteri yang di tandatangani bersama, mereka adalah Ginanjar Kartasasmita, Giri Suseno,
Haryanto Dhanutirto, Justika
Nbaharsyah, Kuntoro 004Dangkusubroto,
Rachmadi, Rahadi Raelan, Subiakto Tjakawerdaya, Sanyoto Sastrowardoyo, Sumahadi, Theo Sambuaga dan Tanri Abeng.
Pada tanggal
20 Mei 1998 Harmoko kembali
didatangi oleh para mahasiswa
yang mendesak untuk menyikapi permintaan Soeharto mundur. Akhirnya karena desakan mahasiswa, Harmoko kembali mengeluarkan pernyataan pers yang
memberikan deadline atau batas waktu bagi
Soeharto, yakni kalau sampai hari
Jumat 22 Mei 1998 tidak ada
jawaban dari Presiden tentang permintaan konsultasi itu, maka pimpinan
MPR/DPR RI akan mengundang fraksi–fraksi MPR untuk membahas kemungkinan sidang istimewa MPR (Syam, 2008).
Walaupun
pukulan demi pukulan yang dilancarkan kubu koalisi Golkar terus dilancarkan, Soeharto agaknya masih tetap bertahan.
Tapi agaknya, pukulan telak terakhir
dari koalisi kelompok Habibie, Akbar Ginanjar, Hendropriyono
dan Harmoko, yang membuat Soeharto makin terdesak dan akhirnya mundur, Kelima kubu ini bersatu
melalui keputusan 14
Menteri yang ditandatangani bersama.
Mereka antara lain Ginanjar
Kartasasmita, Giri Suseno,
Haryanto Dhanurtirto, Justika
Bharsyah, Kuntoro Mangkusubroto, Rahadi Raelan (Stanley, 1999).
Ditambah
lagi cendekiawan seperti Nurcholish Madjid dan tokoh masyarakat lainnya menolak menjadi bagian dari dewan reformasi tersebut. hal ini menambah
tekanan terhadap Soeharto akhirnya dalam bulan Mei 1998, sehari setelah perayaan hari Kebangkitan
Nasional, pada tanggal 21 Mei 1998 pagi, tidak tampak
adanya kegiatan yang luar biasa. Bahkan
suasana pagi itu bisa dikatakan
sepi, mengingat hari itu adalah
hari peringatan kenaikan Isa Almasih, yang merupakan hari libur Nasional. Hari itu, waktu menunjukan pukul 09.00 pagi Wib. Presiden Soeharto,
yang mengenakan pakaian setelan sipil warna
gelap dan peci hitam, berjalan perlahan ke arah
mikrofon yang ditempatkan
di tengah-tengah Credentials Room, istana Merdeka, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta ia didampingi oleh Wakil Presiden Bachruddin Jusuf (B.J)
Habibie dan para ajudan.
Dalam acara yang disiarkan
secara langsung oleh stasiun televisi dan radio Presiden Soeharto, yang tampak tenang, nyaris tanpa ekspresi
mengeluarkan kacamata baca dan memakainya, serta mengambil naskah pidato yang sudah disiapkan sebelumnya dari bajunya, tepat pukul 09.06 wib. Presiden Soeharto mulai membacakan pidatonya dengan suara datar setelah
selesai membacakan naskah pidatonya, Habibie berjalan ke mikrofon
yang ditinggalkan oleh Soeharto,
dan di hadapan pimpinan Mahkamah Agung ia mengatakan. Bismillahirrahmanirrahim,
berdasarkan pasal 9 UUD
1945 sebelum memangku Jabatan Presiden, saya akan melaksanakan
kewajiban konstitusional saya ialah mengucapkan
sumpah sesuai dengan agama yang saya anut. dan Orde Barupun berakhir.
Begitu
Habibie selesai mengucapkan
sumpah, Soeharto mendatangi Habibie, dan menyalaminya
tanpa mengucapkan satu kata pun. Usai menyalami
Habibie, Soeharto juga bersalaman
dengan pimpinan Mahkamah Agung. Soehartopun segera meninggalkan Credentials
Room menuju ruang Jepara untuk menemui
pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Dewan Perwakilan
Rakyat (MPR/DPR) yang menunggunya.
KESIMPULAN
Memasuki penghujung abad ke 20 yang ditandai oleh krisis moneter dan ekonomi yang berkepanjangan, situasi politik dan ekonomi internasional berubah demikian pesat berdampak pada melemahnya nilai tukar rupiah. Kepemimpinan Soehartopun berubah terutama menguatnya desakan yang dilakukan oleh mahasiswa yang menuntut desakan demokratisasi, liberalisasi ekonomi dan gerakan anti KKN terhadap rezim Soeharto. Sementara itu, gagalnya berbagai penerapan kebijakan dalam mengatasi krisis ekonomi masyarakat mulai ketidak percayaan yang semakin kuat terhadap
pemerintahan Soeharto, krisis moneter tahun 1997 yang berakibat terjadi kenaikan harga-harga kebutuhan pokok menimbulkan kekecewaan sosial. Kondisi ini memicu
kerusuhan sosial seperti penjarahan dan pembakaran yang menyebar berbagai pelosok daerah di Indonesia. Stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi yang memburuk menghilangkan kepercayaan rakyat terhadap kemampuan sistem politik Orde Baru dalam mengatasi krisis yang terjadi.
Pemerintah Orde Baru makin melemah
seiring dengan politik gerakan mahasiswa yang membesar dan mampu mengkondisikan oposisi di dalam elit-elit politik dan masyarakat. Pemerintah Orde Baru yang makin melemah tersebut makin kehilangan legitimasi ketika terjadi insiden pada tanggal 12 Mei 1998, empat mahasiswa terbunuh dalam tragedi Trisakti.
Tragedi yang menimbulkan amarah massa secara
spontan dan berupa penjarahan, pembakaran, dan pemerkosan etnis Tionghoa dalam jumlah yang sangat besar yang terjadi di pelosok kota Jakarta dan kota besar lainnya di Indonesia. Insiden Trisakti dan kerusuhan sosial yang berlangsung berturut-turut meruntuhkan legitimasi Orde Baru yang masih tersisa. Tekanan politik mahasiswa yang menduduki gedung parlemen, tuntutan fraksi-fraksi DPR/MPR, ketua
DPR/MPR, Harmoko yang menuntut
supaya Presiden Soeharto untuk mengundurkan diri, ditambah pengunduran diri 14 Menteri anggota kabinet, membuat Soeharto tidak mempunyai pilihan lain selain mundur pada tanggal 21 Mei 1998 dari jabatan Presiden.
BIBLIOGRAFI
Al-Hamid, Rizal Al
Hamid Rizal. (2019). Moral Politik Gerakan Mahasiswa dalam Perspektif Tinjauan
Filosofis Hukum Islam. Al-’Adalah: Jurnal Syariah Dan Hukum Islam, 4(2),
177–193. Google Scholar
Arismunandar, Satrio.
(2005). Bergerak!: peran pers mahasiswa dalam penumbangan rezim Soeharto.
Genta Press. Google Scholar
Daliman, Ahmad.
(2012). Metode penelitian sejarah. Penerbit Ombak. Google Scholar
Helius, Sjamsuddin.
(2007). Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak. Google Scholar
Kasenda, Peter.
(2013). Soeharto: bagaimana ia bisa melanggengkan kekuasaan selama 32 tahun?
Penerbit Buku Kompas. Google Scholar
Luhulima, James.
(2001). Hari-hari terpanjang menjelang mundurnya Presiden Soeharto dan
beberapa peristiwa terkait. Penerbit Kompas. Google Scholar
Madjid, M. Dien, &
Wahyudhi, Johan. (2014). Ilmu Sejarah: Sebuah Pengantar. Kencana. Google Scholar
Puspita, Layla Septy,
& Liana, Corry. (2018). GERAKAN PROTES MAHASISWA SURABAYA TERHADAP
KEKUASAAN ORDE BARU PADA MEI TAHUN 1998 DI SURABAYA. Avatara, 6(3).
Google Scholar
Soempeno, Femi Adi.
(2008). Mereka mengkhianati saya: sikap anak-anak emas Soeharto di
penghujung Orde Baru. Galangpress Group. Google Scholar
Stanley. (1999). Stanley,
Golkar Retak ? Jakarta: Institut
Studi Informasi. Google Scholar
Sulasman, H. (2014).
Metodologi Penelitian Sejarah, Teori, Metode, Contoh Aplikasi. Edited by
Beni Ahmad Saebani. Bandung: Pustaka Setia. Google Scholar
Syam, Firdaus. (2008).
Berhentinya Soeharto" Fakta" dan" Kesaksian" Harmoko.
PT Gria Media Prima. Google Scholar
Tobing, Fredy Buhama
Lumban. (2014). Praktik Relasi Kekuasaan Soeharto dan Krisis Ekonomi
1997-1998. Google Scholar