USIA
DAN LAMA KERJA BERESIKO KELELAHAN SERTA KECELAKAAN PADA TENAGA KERJA BONGKAR
MUAT (TKBM) DI PELABUHAN BITUNG�
Agus Rokot1, Vianney
Assah2, Marlyn Pandean 3, Anselmus Kabuhung4, Bongakaraeng
5
Politeknik Kesehatan
Kemenkes Manado, Indonesia
[email protected],
[email protected] �
|
Keywords |
Abstract |
|
Age, Length of Work,
Work Fatigue |
Age and length of work have an impact on fatigue and decreased work productivity, as well as various other impacts on health. Health effects of prolonged work fatigue include: anxiety, heart disease, diabetes, high blood pressure, digestive disorders, decreased fertility and depression. The aim of this research is to determine the age and length of work at risk of fatigue and accidents among loading and unloading workers (TKBM) at Bitung port. |
|
Kata Kunci |
Abstrak |
|
Usia,
Lama Kerja, Kelelahan Kerja |
Usia
dan lama kerja berdampak kelelahan dan menurunnya produktivitas kerja, serta
berbagai dampak lainya pada Kesehatan. Efek Kesehatan jika kelelahan kerja
berkepanjangan meliputi: kekhawatiran, penyakit jantung, diabetes, tekanan
darah tinggi, gangguan pencernaan, penurunan kesuburan dan depresi. Tujuan penelitian
ini untuk mengetahui usia dan lama kerja beresiko kelelahan serta kecelakaan
pada tenaga kerja bongkar muat (TKBM) di pelabuhan Bitung. Jenis Penelitian
observasional analitik dengan metode pendekatan cross sectional.�� Dilakukan bulan juni 2023 pada Tenaga
kerja bongkar muat di Pelabuhan Bitung dengan populasi 175 Responden, Sampel
dengan rumus Slovin, dengan standart error 0,1 %, tingkat kesalahan 10%,
probability sampling diperoleh 63 responden, Pengambilan data penelitian
dilakukan dengan alat ukur Reaction timer pada tanggal 5 s/d 23 juni 2023
saat responden beraktifitas, Analisis data menggunakan statistik uji
chi-square. Hasil penelitian menunjukan tenaga kerja bongkar muat dengan usia
>40 tahun beresiko sebanyak 30 responden (47,6%), lama kerja tenaga kerja
bongkar muat yang beresiko >8 jam 21 responden (33,3%), kelelahan normal 7
responden (11,1%) kelelahan ringan 53 responden (84,1%) kelelahan sedang 3
orang (4,%). Hasil uji analisis bivariat menunjukkan usia dengan kelelahan
kerja p=0,176 (p>0,05), lama kerja dengan kelelahan p=0,851 (p>0,05),
dengan nilai p value dengan alfa disimpulkan: tidak ada hubungan usia dan
lama kerja dengan kelelahan kerja tenaga bongkar muat di Pelabuhan bitung. |
Corresponding Author: Agus Rokot
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Kelelahan
kerja merupakan salah-satu masalah yang penting untuk ditanggulangi, karena
kelelahan kerja dapat mengakibatkan kondisi kesehatan menurun mengakibatkan
turunnya produktivitas kerja serta dapat terjadinya kecelakaan kerja (Kahpi,
2020). Beberapa risiko kesehatan yang dapat timbul akibat
kelelahan kerja yang berkepanjangan meliputi anxiety, penyakit jantung,
diabetes, tekanan darah tinggi, gangguan gastrointestinal, penurunan kesuburan
dan depresi (Dwiyanti,
2019). Kelelahan kerja merupakan salah satu dari gangguan
kesehatan yang dialami oleh pekerja akibat dari pekerjaan yang dilakukan.
Kelelahan karena aktivitas kerja berulang dapat memunculkan risiko cedera
tubuh. Energi yang tidak sesuai dengan yang dilakukan akan mempercepat
seseorang merasa lelah (Hermawan
et al., 2017).
Menurut
perkiraan Organisasi Perburuhan Internasional tahun 2017, sebanyak 2,78 juta
pekerja meninggal setiap tahun karena kecelakaan kerja dan 3 penyakit akibat
kerja yang disebabkan oleh kelelahan kerja. Sekitar 2,4 juta (86,3 %) dari
kematian dikarenakan penyakit akibat kerja. Sementara lebih dari 380.000 (13,7
%) dikarenakan kecelakaan kerja. Setiap tahun ada hampir seribu kali lebih
banyak kecelakaan kerja non-fatal dibandingkan kecelakaan kerja fatal dan
salah-satu faktor terbesar kejadian kecelakaan kerja adalah kelelahan (Tanjung
et al., 2022).
Berdasarkan
Undang-Undang No.11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja (UU Cipta Kerja). Dalam
Undang-undang tersebut, ada 2 (dua) skema jam kerja yang berlaku di perusahaan
yang ada di Indonesia, yakni 7 jam dalam sehari atau 40 jam dalam seminggu yang
berlaku untuk 6 hari kerja dengan ketentuan libur 1 hari, dan 8 jam kerja dalam
sehari atau 40 jam dalam satu minggu yang berlaku untuk 5 hari kerja dengan
ketentuan libur 2 hari.
Hasil
penelitian oleh (Simanjuntak,
2021) tentang analisis faktor risiko kelelahan pada TKBM di
Pelabuhan Belawan untuk faktor usia (p value =0,047), durasi kerja (p
value=0,021) dan beban kerja (p value=0,005) terhadap kelelahan pada TKBM di
Pelabuhan Belawan. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah faktor risiko secara
signifikan penyebab kelelahan pada TKBM�
di Pelabuhan Belawan antara lain usia, durasi kerja, dan beban kerja.
Perlu dilakukan upaya adanya Safety Talk tentang kelelahan, penyebab
kelelahan, dan akibat dari kelelahan pada tenaga kerja bongkar muat di
Pelabuhan Belawan agar para pekerja dapat memperoleh pengetahuan dalam menjaga
kesehatan tubuh mereka (Gaghiwu
et al., 2018).
Hasil
uji statistik menunjukkan terdapat hubungan antara umur, masa kerja dan status
perkawinan dengan kelelahan kerja (p < 0,05). sedangkan yang tidak
berhubungan ialah asupan energi, asupan protein, kebiasaan merokok dan
kebiasaan mengkonsumsi alkohol (p > 0,05). Secara multivariat, faktor yang
paling berhubungan dengan kelelahan kerja ialah masa kerja (p < 0,05 dan
beta = 0,492).
Berdasarkan
survei awal yang dilakukan oleh peneliti data tenaga kerja bongkar muat di
pelabuhan Bitung berjumlah 175 orang. Ada 5 orang yang telah dilakukan
wawancara awal pada pekerja bongkar muat dengan umur mulai dari 35 tahun sampai
56 tahun. Mereka bekerja tidak tetap waktu karena tergantung jumlah kapal yang
masuk dan pemuatan (SITORUS
& ANJANGSANA, 2019). Para tenaga kerja bongkar muat mereka
bekerja setiap hari di mulai dari pukul 07:00 pagi sampai pukul 17.00 sore
tergantung pemuatan atau pembongkaran barang yang ada di dalam kapal.
Jenis-jenis barang yang sering mereka angkat yaitu kopra, beras, minyak kelapa,
semen, keramik dan lain-lain. Rata-rata berat barang yang mereka angkat
40-80kg. jarak kapal ke dermaga sekitar 5m-10m. Adapun keluhan kesehatan yang
sering mereka alami yaitu sakit punggung, nyeri otot, tremor di tangan, kaku
dibahu sehabis mengangkat barang dan itu di rasakan setiap hari setelah
sehabis� bekerja (Ihsania,
n.d.).�����
Pada
penelitian terdahulu� sebelumnya mengidentifikasi
faktor risiko seperti usia, durasi kerja, dan beban kerja. Namun, survei awal
di Pelabuhan Bitung menyebutkan adanya keluhan kesehatan seperti sakit
punggung, nyeri otot, dan tremor di tangan. Oleh karena itu, perlu dilakukan
penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi faktor risiko tambahan yang
mungkin berkontribusi terhadap kelelahan kerja di Pelabuhan Bitung yang tidak
diidentifikasi dalam penelitian sebelumnya (Rizqiah,
2017). Penelitian ini berjudul�
Usia Dan Lama Kerja Beresiko Kelelahan Serta Kecelakaan Pada Tenaga
Kerja Bongkar Muat (Tkbm) Di Pelabuhan Bitung.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui usia dan
lama kerja beresiko kelelahan serta kecelakaan pada tenaga kerja bongkar muat
(TKBM) di pelabuhan Bitung (Medianto, 2017). Manfaat penelitian ini mencakup pemahaman mendalam tentang
faktor-faktor yang memengaruhi kelelahan kerja pada tenaga kerja bongkar muat
di Pelabuhan Bitung (Faradilla, 2023). penelitian ini tidak hanya memberikan pemahaman yang lebih
baik tentang kondisi kerja di Pelabuhan Bitung tetapi juga menyumbang pada
upaya keselamatan kerja, kesejahteraan pekerja, dan pengembangan pengetahuan di
bidang ini (Karso, 2021).
METODE PENELITIAN
Pada penelitian ini, Jenis penelitian
yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional
Penelitian
dilakukan pada tanggal 5 sampai 23 juni di pelabuhan Bitung. Jam pengukuran
kelelahan yaitu pada saat para Tenaga kerja bongkar muat bekerja yaitu pada jam
12.00 � 17.30 Selesai. Variabel dalam penelitian ini yaitu,
Variabel Bebas (Independen) yaitu Umur, lama kerja Variabel Terikat (Dependen)
pada peneitian ini adalah kelelahan kerja. Populasi dari penelitian ini adalah
seluruh Tenaga kerja bongkar muat yang bekerja di pelabuhan bitung berjumalah
175. Sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus Slovin untuk menentukan
jumlah sampel.�
�![]()
![]()
![]()
![]()
Hasil perhitungan sampel dari total 175
populasi didapati sebanyak� 63 sampel.
Ket :
n = Jumlah Sampel
N = Total Populasi
e = Standar Eror 0,1 dengan Tingkat
kesalahan 10%
�����
Sampel dalam penelitian ini akan
ditentukan menggunakan menggunakan Probability
Sampling dimana setiap item dalam populasi memiliki peluang yang sama untuk
menjadi sampel.
����� Pengukuran menggunakan metode uji psikomotor test dengan menggunakan reaction timer tipe L-77. Pengukuran
yang dilakukan terhadap waktu reaksi tenaga kerja pemberian rangsangan cahaya
sampai kepada suatu kesadaran atau sampai tenaga kerja menekan tombol subjek.
Adapun langkah-langkah pengukuran :
1. Melakukan briefing cara penggunaan alat kepada calon responden
2. Periksa alat, hubungkan alat
dengan sumber tenaga (listrik)
3. Cek lampu indicator respon
dapat berfungsi dengan baik
4. Hidupkan alat dengan menekan
tombol ON/OFF pada posisi ON
5. Pastikan angka 0,000 pada
alat jika angka belum menunjukkan angka 0,000 maka tekan tombol NOL untuk
me-reset
6. Pilih rangsangan suara atau
cahaya dengan menekan tombil �suara/cahaya�
7. Instrukturkan kepada
responden yang ingin diperiksa untuk menekan tombol subyek dan meminta agar
menekan tombol subyek setelah melihat cahaya atau mendengar bunyi rangsang
8. Pemeriksa menekan tombol
untuk memberikan rangsangan kepada responden
9. Setelah memberikan rangsang,
responden menekan tombol maka pada layar pemeriksa akan terligat angka waktu
reaksi dengan satuan mili detik
10. Lakukan pemeriksaan sebanyak
20 kali baik rangsangan suara maupun rangsangan cahaya
Catat hasil pemeriksaan pada lembar data reaction timer
Matikan alat dengan menekan
tombol �ON/OFF� dan lepaskan alat dari sumber tenaga listrik
Penelitian ini dilakukan dalam
beberapa� tahap
1. Melakukan Survei awal Survei awal di
lakukan di Pelabuhan Bitung untuk mengetahui kondisi pada
tenaga kerja bongkar muat dengan melakukan wawancara awal
2. Mendapatkan Surat Izin Penelitian Dari
Poltekkes Kemenkes Manado Jurusan Kesehatan Lingkungan.
��
3. Melakukan pengumpulan data pada
responden, setelah terkumpul peneliti melakukan pemeriksaan kelengkapan data.
��
4. Tahap penyelesaian peneliti
menyusun hasil dengan konsultasi hasil penelitian pada pembimbing.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pelabuhan Bitung atau Port of Bitung
adalah pelabuhan alam di kota Bitung, yang terletak di Jalan D.S Sumolang, Kota
Bitung, Sulawesi Utara, merupakan pelabuhan terbesar dan satu-satunya pelabuhan
di Sulawesi Utara yang disinggahi kapal-kapal penumpang antar kota besar di
Indonesia (Katiandagho et al., 2019). Keberadaan
Pelabuhan Bitung menjadi salah satu faktor penting yang mendorong pertumbuhan
ekonomi dan perkembangan kota Bitung, selain dari kegiatan perkebunan,
pertanian dan perikanan (Tumewu et al., 2021). Pelabuhan Bitung
kedalamannya mencapai 10 meter ketika pasang, dan 8 meter ketika air Selat
Lembeh tengah surut.
Pelabuhan
Bitung memiliki 4 dermaga:
1.
Dermaga Samudra, panjang 607 meter dengan kedalaman sekitar 5 meter.
2.
Dermaga Nusantara, panjang 652 meter dengan kedalaman sekitar 6 meter.
3.
Dermaga Kontainer
4.
Dermaga VIII panjang 182 m, kedalaman 20 m
5.
Dermaga IX, panjang 60 m, kedalaman 10 m
Univariat
Responden
Hasil Analisis Univariat Karakteristik Responden.
Berdasarkan
hasil dan pengolahan data karakteristik responden meliputi umur, lama kerja,
kelelahan kerja dan jenis kelamin dapat di uarikan sebagai berikut:
a.
Golongan umur responden
Tabel
1 Distribusi golongan umur pada tenaga kerja bongkar
muat
di pelabuhan bitung Tahun 2023
|
Umur |
N |
% |
|
>40 Tahun (beresiko) |
30 |
47,6 |
|
< 40 Tahun (tidak beresiko) |
33 |
52,4 |
|
Total |
63 |
100 |
����
Berdasarkan hasil uji statistik pada
tabel 1 data untuk golongan umur responden yaitu beresiko pada umur > 40
tahun sebanyak 30 orang (47,6%) dan yang tidak beresiko pada umur <40
tahun sebanyak 33 orang ( 52,4%).
b. Karakteristik
Responden Berdasarkan Lama Kerja
Tabel 2 Distribusi frekuensi lama kerja
pada tenaga kerja
bongkar muat di pelabuhan bitung 2023
|
Lama Kerja |
N |
% |
|
�>8 jam (beresiko) |
21 |
33,3 |
|
<8 jam (tidak beresiko) |
42 |
66,7 |
|
Total |
63 |
100 |
Berdasarkan
hasil statistik pada tabel 2 data untuk golongan frekunesi lama kerja responden
yaitu yang beresiko > 8 jam ada 21 orang (33,3%), dan yang tidak beresiko <
8 jam ada 42 orang (66,7%).
c. Kelelahan
Kerja Responden
Tabel 3 Distribusi frekuensi kelelahan
kerja
pada tenaga kerja bongkar muat di
pelabuhan bitung 2023
|
Kelelahan Kerja |
N |
% |
|
Normal |
7 |
11,1 |
|
Ringan |
53 |
84,1 |
|
Sedang |
3 |
4,8 |
|
Total |
63 |
100 |
�����������
Berdasarkan hasil uji statistik pada
tabel 3 dapat dilahat bahwa sebanyak� 7
responden (11,1%) yang mengalami kelelahan kerja normal, 53 responden
(84,1%)� yang megalami kelelahan kerja
ringan. Dan 3 responden (4,8 %) mengalami kelelahan kerja sedang serta tidak
ada responden yang mengalami kelelahan kerja berat.
d. Karakteristik
Jenis Kelamin Responden
����
Berdasarkan hasil penelitian data yang diperoleh untuk jenis kelamin
responden semuanya adalah laki-laki dengan jumlah 63 orang (100%).
1.
Hasil Analisis Bivariat
� Hasil
Analisis Bivariat yang digunakan dalam penelitian adalah untuk mengetahui hubungan
dua variabel diantara umur dengan kelelahan kerja, dan lama kerja dengan
kelelahan kerja (Darmayanti et al., 2021). Analisis yang digunakan dalam
penelitian ini ada uji Chi-Square dengan pengolahan data yang diuraikan
sebagai berikut
a. Analisis
Hubungan Umur dengan Kelelahan Kerja
Uji Statistik
Hubungan Jam Kerja Terhadap Kelelahan Kerja
Tabel
4 Hubungan Umur dengan Kelelahan Kerja
Pada
Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) di Pelabuhan Bitung
|
Umur |
Kelelahan
Kerja |
||||||||
|
Normal |
% |
Ringan |
% |
Sedang |
% |
N |
% |
p |
|
|
>40
Tahun |
3 |
4,8 |
24 |
38,1 |
3 |
4,8 |
30 |
47,6 |
0,176 |
|
<
�40 tahun |
4 |
6,3 |
29 |
46,0 |
0 |
0 |
33 |
52,4 |
|
|
Total |
7 |
11,1 |
53 |
84,1 |
3 |
4,8 |
63 |
100 |
|
Berdasarkan hasil uji analisis bivariat
pada tabel 4 dari 63 pekerja pada tenaga kerja bongkar muat, terdapat 3 pekerja
(4,8%) termaksud dalam kategori normal, 24 pekerja (38,1%) kategori ringan dan
kategori sedang 3 pekerja (4,8%) pada umur >40 tahun, dan pada umur <
40 tahun terdapat 4 pekerja dengan kategori normal (6,3%), 29 pekerja dengan
kategori ringan (46,0%) dan 0 pekerja dengan kategori sedang (0%). Hasil uji chi-square
diperoleh nilai p-value > 0,05 yaitu sebesar 0,176 maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa tidak ada hubungan antara umur dengan kelelahan kerja pada
tenaga kerja bongkar muat di Pelabuhan Bitung.
Tabel 5 Distribusi Hubungan Jam Kerja
Pengendara
Motor Ojek Online Terhadap
Tingkat Kelelahan Kerja Dengan Rangsangan Suara
|
|
|
Jam Kerja |
|
|
||
|
Rangsangan Suara |
Normal |
Tidak normal |
Total |
P Value |
||
|
|
n |
% |
N |
% |
|
|
|
Lelah |
8 |
12,7 |
29 |
46.0 |
37 |
|
|
Tidak Lelah |
13 |
20,6 |
13 |
20,6 |
26 |
0.03 |
|
Total |
21 |
|
42 |
|
63 |
|
Berdasarkan�
tabel di atas hasil pemeriksaan jam kerja terhadap tingkat kelelahan
rangsangan suara pada Pengendara Ojek Online didapatkan� P Value 0,03. 29 responden dalam
kategori lelah pada jam kerja tidak normal (46,0%), 8 responden dalam kategori
lelah pada jam kerja normal (12,7 %), 13 responden dalam kategori tidak lelah
pada jam kerja normal (20,6%), dan 13 responden dalam kategori tidak lelah pada
jam kerja tidak normal (20,6%).
Tabel 6 Hubungan Lama Kerja dengan
Kelelahan Kerja
Pada Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM)
di Pelabuhan Bitung
|
Lama Kerja |
Kelelahan
Kerja |
||||||||
|
Normal |
% |
Ringan |
% |
Sedang |
% |
N |
% |
p |
|
|
>
8 jam |
3 |
4,8 |
17 |
27,0 |
1 |
1,6 |
21 |
33,3 |
0,851 |
|
< 8
jam |
4 |
6,3 |
36 |
57,1 |
2 |
3,2 |
42 |
66,7 |
|
|
Total |
7 |
11,1 |
53 |
84,1 |
3 |
4,8 |
63 |
100 |
|
Berdasarkan hasil uji analisis bivariat
pada tabel 5 dari 63 pekerja pada tenaga kerja bongkar muat, terdapat 3 pekerja
(4,8%) termaksud dalam kategori normal,�
kategori ringan terdapat 17 pekerja (27,0) dan kategori sedang 1 pekerja
(1,6%) pada lama kerja > 8 jam, dan pada lama kerja < 8 jam
terdapat 4 pekerja dengan kategori normal (6,3%), 36 pekerja dengan kategori
ringan (57,1%) dan 2 pekerja dengan kategori sedang (3,2%). Hasil uji chi-square
diperoleh nilai p-value > 0,05 yaitu sebesar 0,851 maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa tidak ada hubungan antara lama kerja dengan kelelahan kerja
pada tenaga kerja bongkar muat di Pelabuhan Bitung.
Pembahasan
Hubungan Umur dengan Kelelahan Kerja
pada Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) di Pelabuhan BitungBerdasarkan hasil
pengolahan data analisis hubungan umur dengan kelelahan kerja menggunakan Chi-Square
yaitu tidak ada hubungan antara umur dengan kelelahan kerja pada tenaga kerja
bongkar muat yang memperoleh nilai p = 0,176. Faktor Umur dapat
berpengaruh terhadap waktu reaksi dan perasaan lelah. Pekerja yang berumur
lebih tua akan terjadi penurunan kekuatan otot (Medianto, 2017). Namun keadaan ini
diimbangi menggunakan stabilitas emosi yang lebih baik dibandingkan dengan
pekerja yang berumur muda, sebagai akibatnya bisa mengakibatkan positif pada
melakukan pekerjaan (Setyowati et al., 2017).
Berdasarkan
hasil uji analisis univariat statistik pada tabel 1. Data untuk golongan umur
responden yaitu beresiko pada umur > 40 tahun sebanyak 30 orang (47,6%) dan
yang tidak beresiko pada umur <40 tahun sebanyak 33 orang ( 52,4%).
Hasil uji analisis bivariat pada tabel
4. dari 63 tenaga kerja bongkar muat, terdapat 3 pekerja (4,8%) termaksud dalam
kategori normal, 24 pekerja (38,1%) kategori ringan dan kategori sedang 3
pekerja (4,8%) pada umur >40 tahun, dan pada umur < 40 tahun
terdapat 4 pekerja dengan kategori normal (6,3%), 29 pekerja dengan kategori
ringan (46,0%) dan 0 pekerja dengan kategori sedang (0%). Hasil uji chi-square
diperoleh nilai p-value > 0,05 yaitu sebesar 0,176
Hasil
penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Chesnal 2015
dengan menggunakan uji chi-square didapatkan hasil bahwa tidak ada
hubungan usia terhadap kelelahan kerja pada karyaawan bagian produksi PT. Putra
Karangetang Popontolen Minahasa Selatan (p=0,807).
Hasil penelitian ini sejalan dengan
hasil penelitian yang dilakukan oleh malik, 2021 dengan menggunakan uji chi-square
didapatkan hasil bahwa tidak ada hubungan antara umur dengan kelelahan kerja (p-value=0,008).
Hal ini dapat terjadi dikarenakan rata-rata usia tenaga kerja bongkar muat
dibawah <40 tahun, sehingga variasi data kelelahan pada kelompok
tersebut juga tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan. Penelitian ini
juga menunjukkan bahwa bukan hanya tenaga kerja bongkar muat yang berusia tua
yang mengalami kelelahan kerja, akan tetapi tenaga kerja bongkar muat yang
berusia muda juga dapat mengalami kelelahan kerja. Kelelahan tersebut bisa
terjadi dikarenakan pola hidup. Kondisi pola hidup yang belum teratur dan juga
ada pekerjaan sampingan yang dapat menyita waktu dan tenaga, serta menghabiskan
waktu hngga larut malam setelah pulang bekerja, namun dapat juga dikarenakan
oleh status gizi yang dirasakan tenaga keja bongkar muat, pekerja yang berusia
tua juga tidak menutup kemungkinan mengalami kelelahan tingkat rendah karena
pengalaman kerja yang dimiliki sehingga tidak�
dapat mengalami kelelahan tinggi.
Umur dan pengalaman kerja berpengaruh
besar pada pekerja untuk melakukan tindakan aman dan tindakan tidak aman serta
pengusaan untuk mengatur keselamatan diri sendiri di lapangan. Hal ini menjadi
sangat penting untuk diperhatikan karena umur adalah variabel yang selalu harus
diperhatikan di dalam penyelidikan-penyelidikan suatu masalah kesehatan
Angka-angka kelelahan, kesakitan maupun kematian di dalam hampir semua keadaan
menunjukkan hubungan dengan umur.
2)
Hubungan Lama Kerja dengan Kelelahan Kerja Pada Tenaga Kerja Bongkar Muat di
Pelabuhan Bitung. Berdasarkan hasil uji analisis univariat pada tabel 2 data
untuk golongan frekunesi lama kerja responden yaitu yang beresiko > 8 jam
ada 21 orang (33,3%), dan yang tidak beresiko < 8 jam ada 42 orang
(66,7%).
Berdasarkan hasil uji analisis bivariat
pada tabel 5 dari 63 pekerja pada tenaga kerja bongkar muat, terdapat 3 pekerja
(4,8%) termaksud dalam kategori normal,�
kategori ringan terdapat 17 pekerja (27,0%) dan kategori sedang 1
pekerja (1,6%) pada lama kerja > 8 jam, dan pada lama kerja < 8
jam terdapat 4 pekerja dengan kategori normal (6,3%), 36 pekerja dengan
kategori ringan (57,1%) dan 2 pekerja dengan kategori sedang (3,2%). Hasil uji
chi-square diperoleh nilai p-value > 0,05 yaitu sebesar 0,851. maka
dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak ada hubungan antara lama kerja dengan
kelelahan kerja pada tenaga kerja bongkar muat di Pelabuhan Bitung.
Hasil penelitian yang sama ini juga
sejalan dengan yang dilakukan oleh Datu 2019 Terdapat hubungan antara lama kerja dengan kelelahan kerja
pada pengendara ojek online Komunitas Manguni Rider Online Sario, dengan nilai
p dibawah 0,05 yaitu 0,023. Hasil penelitian yang sama ini juga
sejalan dengan yang dilakukan oleh Dyah 2015 mengenai hubungan lama kerja
dengan kelelahan kerja pada pekerja konstruksi di PT Nusa Raya Cipta Semarang
yang menyatakan adanya hubungan lama kerja dengan kelelahan kerja dengan nilai p=0.002
(p=>0.05).
Hasil penelitian yang sama ini juga
sejalan dengan yang dilakukan oleh Malik 2021 Berdasarkan hasil uji chi-square
menunjukkan tidak terdapat hubungan antara lama kerja dengan dengan
kelelahan kerja. PT. Industri Kapal indonesia (Persero) Makasar divisi produksi
memiliki jam kerja <8 jam/ hari dan dari hasil penelitian menunjukkan
bahwa tidak terdapat hubungan antar lama kerjadengan kelelahan kerja hal ini
dapat disebabkan karena pekerja memanfaatkan waktu istirahat dengan baik.
Hasil ini sejalan dengan penelitian
yang dilakukan kroons 2014 berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan
uji spearman diperoleh nilai p=0,01 (p<0,05) hal ini
menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara lama kerja dengan kelelahan kerja
pada pekerja penjahit di Kompleks Gedung President pasar 45 Kota Manado.
Pada penelitian ini lama kerja dengan
kelelahan kerja tidak ada hubungan dikarenakan tenaga kerja bongkar muat yang
bekerja >8 jam sehari harus menyelesaikan muatan di kapal yang masih belum
selesai jadi para pekerja harus menyelesaikan terlebih dahulu itupun lemburnya
tidak sampai 11 atau 12 jam/hari. Waktu istirahat tenaga kerja bongkar muat
yaitu di mulai dari pukul 12.00 hingga pukul 13.00, biasanya pekerja
menggunakan waktu istirahat untuk sholat bagi yang beragama muslim kemudian
dilanjutkan untuk makan siang. Tetapi jika pekerjaan mereka sudah selesai para
tenaga kerja bongkar muat sudah dapat beristirahat atau pulang, dikarenakan
para tenaga kerja bongkar muat hanya bekerja sesuai dengan kapal yang masuk dan
berapa banyak muatan yang harus di angkut atau di kerjakan dalam sehari, hal
inilah yang menjadikan pekerja dapat meminimalisir rasa lelah yang akan timbul
saat bekerja, sehingga para tenaga kerja bongkar muat tidak merasakan lelah
yang berlebihan.
Walaupun
tidak terdapat hubungan yang signifikan antara umur dan lama kerja dengan
kelelahan kerja, mungkin ada faktor-faktor lain yang menyebabkan kelelahan
kerja seperti status gizi, kebiasaan merokok, pola hidup, sikap kerja, masa
kerja dan bisa juga karena pengaruh suhu tempat kerja.
KESIMPULAN
Kesimpulan
dari analisis data terkait Pelabuhan Bitung menunjukkan bahwa pelabuhan ini
memiliki peran sentral dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan perkembangan
kota Bitung, terutama melalui kegiatan bongkar muat kapal. Pelabuhan Bitung
memiliki struktur fisik yang mencakup dermaga Samudra, Dermaga Nusantara,
Dermaga Kontainer, Dermaga VIII, dan Dermaga IX, dengan kedalaman tertentu
sesuai dengan kondisi pasang-surut. Analisis karakteristik responden
menunjukkan bahwa mayoritas tenaga kerja bongkar muat di Pelabuhan Bitung
memiliki umur di bawah 40 tahun, mayoritas bekerja kurang dari 8 jam sehari,
dan sebagian besar mengalami tingkat kelelahan ringan. Meskipun terdapat
distribusi umur dan lama kerja yang beragam, hasil uji statistik menunjukkan
tidak adanya hubungan yang signifikan antara umur, lama kerja, dan tingkat
kelelahan kerja. Pentingnya memahami hubungan ini terkait dengan faktor-faktor
kesejahteraan dan keselamatan tenaga kerja di pelabuhan. Meskipun tidak ada
hubungan langsung antara umur dan lama kerja dengan tingkat kelelahan,
faktor-faktor lain seperti pola hidup, status gizi, dan kebiasaan merokok
mungkin memiliki peran yang signifikan. Penelitian ini memberikan pemahaman
yang lebih baik tentang kondisi tenaga kerja di Pelabuhan Bitung, namun
diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memperdalam pemahaman tentang
faktor-faktor lain yang mungkin memengaruhi kesejahteraan dan keselamatan
tenaga kerja di pelabuhan ini. Kesimpulan ini memberikan pandangan awal yang
dapat menjadi dasar untuk implementasi langkah-langkah perlindungan dan
perbaikan kondisi kerja di pelabuhan tersebut.
BIBLIOGRAFI
Darmayanti, J. R., Handayani, P. A., &
Supriyono, M. (2021). Hubungan Usia, Jam, dan Sikap Kerja terhadap Kelelahan
Kerja Pekerja Kantor Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Jawa
Tengah. Prosiding Seminar Nasional UNIMUS, 4.
Dwiyanti, E. (2019).
Relationship between Work Climate and Physical Workload with WorkRelated
Fatigue. The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health, 8(2),
150�157.
Faradilla, S. (2023). ANALISIS
EFEKTIVITAS KINERJA BONGKAR MUAT KAPAL PADA MUATAN KARGO CLINKER DI PELABUHAN
PT SEMEN INDONESIA LOGISTIK TUBAN. Universitas Diponegoro.
Gaghiwu, L., Josephus,
J., & Rompas, R. M. (2018). Analisis beberapa faktor penyebab kelelahan
kerja pada tenaga kerja bongkar muat di pelabuhan samudera bitung. Jurnal
Kesehatan Masyarakat, 3(4), 59�70.
Hermawan, B., Haryono,
W., & Soebijanto, S. (2017). Sikap, beban kerja dan kelelahan kerja pada
pekerja pabrik produksi aluminium di Yogyakarta. Berita Kedokteran
Masyarakat, 33(4), 213�218.
Ihsania, E. (n.d.). Faktor-Faktor
Yang Berhubungan Dengan Kelelahan Kerja Subjektif Pada Kurir Pengantar Barang
Di Wilayah Tangerang Selatan, Tahun 2020. UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta-FIKES.
Kahpi, M. M. (2020). Kebisingan,
Kelelahan Kerja, Dan Stres Kerja Pengaruhnya Terhadap Produktivitas Kerja
(Studi Pada PT. Tulus Indojaya). Universitas Komputer Indonesia.
Karso, A. J. (2021). Implementasi
Kebijakan Kesyahbandaran Dan Otoritas Pelabuhan Sebagai Kepala Pemerintahan Di
Pelabuhan Guna Meningkatkan Kinerja Pelayanan Publik Secara Profesional Dan
Akuntabel Dalam Rangka Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat Dalam Lingkungan
Kepelabuhanan. Penerbit Insania.
Katiandagho, S.,
Kumenaung, A. G., & Rotinsulu, D. C. (2019). Analisis Kontribusi Sektor
Perikanan Terhadap PDRB Dan Penyerapan Tenaga Kerja Di Kota Bitung. Jurnal
Pembanguan Ekonomi Dan Keuangan Daerah Vol, 20(1).
Medianto, D. (2017). Faktor�Faktor
yang Berhubungan dengan Kelelahan Kerja pada Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM)
di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang (Studi Pada Pekerja TKBM Bagian Unit
Pengantongan Pupuk). Muhammadiyah University of Semarang.
Rizqiah, E. (2017).
Manajemen Risiko Supply Chain dengan Mempertimbangkan Kepentingan Stakeholder
Pada Industri Gula. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Setyowati, S.,
Widjasena, B., & Jayanti, S. (2017). Hubungan Beban Kerja, Postur Dan
Durasi Jam Kerja Dengan Keluhan Nyeri Leher Pada Porter Di Pelabuhan
Penyeberangan Ferry Merak-Banten. Jurnal Kesehatan Masyarakat (Undip), 5(5),
356�368.
Simanjuntak, R.
(2021). FAKTOR RISIKO KELELAHAN PADA TKBM (TENAGA KERJA BONGKAR MUAT DI
PELABUHAN BELAWAN. Journal of Borneo Holistic Health, 4(1),
36�45.
SITORUS, N., &
ANJANGSANA, R. (2019). PENGARUH KINERJA KARYAWAN TERHADAP KUALITAS PELAYANAN
PEMBUATAN DOKUMEN PERSETUJUAN KEAGENAN KAPAL ASING (PKKA) DI PT. GARUDA MAHAKAM
PRATAMA. SEKOLAH TINGGI ILMU PELAYARAN.
Tanjung, R., Syaputri,
D., Rusli, M., Sinaga, J., Manalu, S. M., Bambang, T. H. T., & Lubis, A. Z.
(2022). Analisis Faktor Kecelakaan Kerja pada Pekerja Usaha Bengkel Las. Formosa
Journal of Science and Technology, 1(5), 435�446.
Tumewu, T. J.,
Rumondor, F. S. J., Mamuaja, J. H., & Kawengian, Y. B. (2021). Konstribusi
Sub Sektor Perkebunan terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kota Bitung. Jurnal
AGROBISNIS, 3(1), 1�16.
�